You are on page 1of 13

Abd.

Malik
10/ 307253/ PFA/994

Review: Pemisahan Preparatif dan Determinasi Matrin dari
Tumbuhan Obat China Sophora flavescens dengan Menggunakan
Sistem Moleculary Imprinted Solid-Phase Extraction
Jia-Ping Lai, Xin-Wen He, Yue Jiang, Feng Chen
Anal Bioanal Chem (2003) 375:264–269 DOI 10.1007/s00216-002-1675-2
Springer-Verlag 2002

Pendahuluan
Sophora flavescens (famili fabaceae) adalah pohon yang tersebar di
wilayah asia dan dapat tumbuh pada semua kondisi suhu. Pohon ini
mengandung

alkaloid

oxide/oksimatrin.

quinolizidine,

Matrin

(MT)

dan

yaitu

matrine

oksimatrin

dan

(OMT)

matrine

merupakan

komponen utama dari tumbuhan obat china Sophora flavescens yang aktif
secara biologis sebagai obat antifebril, nyeri, diuretik, batuk, antidotum,
tumor, antiaritmia, abiritatif, meningkatkan leukosit, dan menjaga fungsi
hati. Untuk memisahkan MT dan OMT agar lebih efektif dan efisien,
peneliti melakukan pengembangan metode ekstraksi dan determinasinya.
Metode pemisahan kedua senyawa tersebut masih sedikit dilaporkan
termasuk

metode

Performance

Liquid

counter-current

chromatography

Chromatography

(HPLC)

(CCC),
dan

High-

Thin-Layer

Chromatography (TLC). Ketiga metode tersebut belum maksimal dalam
memisahkan senyawa MT dan OMT. Sedangkan untuk determinasi
terutama digunakan HPLC dan Capillary Zone Electrophoresis (CZE)

PEMISAHAN DAN PEMURNIAN

Hal. 1

Pada penelitian ini menggunakan Molecularly imprinted microsphere (MIMs) yang disintesis dari cairan polimer micro-suspension untuk memisahkan matrin dari tumbuhan tersebut dengan matrin (MT) murni sebagai molekul templat. Metode Penelitian Pembuatan MIMs MIMs dibuat dengan terlebih dahulu melarutkan Poly (vinil alkohol) (PVA) 500 (3.Abd. MISPE adalah pengembangan dari metode solid-phase extraction (SPE) klasik dengan menggunakan fase diam Molecularly imprinted polymers (MIPs) yang sudah bersih dari pengotor.4 g) dalam 120 mL air dengan kemurnian tinggi pada suhu 9095oC. MIMs adalah suatu jenis membran yang mengandung MIPs dengan selektifitas dan afinitas yang tinggi. Malik 10/ 307253/ PFA/994 Molecularly imprinted polymers (MIPs) adalah polimer crosslinker dengan daerah binding site membentuk jalinan kopolimerisasi dengan monomer fungsional pada molekul templat. PVA adalah suatu polimer sintetis yang larut dalam air. dapat membentuk PEMISAHAN DAN PEMURNIAN Hal. 2 . hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam pembentukan polimer.

99%). Temperatur diturunkan ke 60oC untuk mendorong terjadinya polimerisasi. Sejumlah 50 mmol ethylene glycol dimethacrylate (EGDMA) sebagai copolymer crosslinker dalam reaksi radikal bebas dan 150 mg AIBN sebagai inisiator ditambahkan kedalam campuran dan larutan tersonikasi. Ekstraksi Matrin kasar dari Sophora flavescens Ait. Butiran dicuci dengan air terpurifikasi. metanol.8 L/min) sambil dialiri nitrogen (99.Abd. Malik 10/ 307253/ PFA/994 lapisan. bahan pengemulsi dan mempunyai sifat adhesif. Larutan tersebut dimasukkan dalam labu berleher tiga.0 mL amonium hidroksida 2. selanjutnya mikrosphere non-imprinted dibuat dengan cara yang sama tanpa penambahan molekul penuntun MT. Molekul penuntun MT murni (1 mmol) dan monomer fungsional methacrylic acid (MAA) (6 mmol) dicampur dalam botol gelas kemudian ditambah kloroform sebagai progen. MAA adalah komponen organik yang dapat larut dalam air panas dan pelarut organik yang lain. Proses ini dijaga selama 24 jam.0 % PEMISAHAN DAN PEMURNIAN Hal. MAA banyak digunakan untuk membentuk polimer. Ekstraksi matrin dilakukan dengan terlebih dahulu merendam Akar Sophora flavescens 5. MIMs digunakan sebagai fase diam untuk memisahkan senyawa MT dan OMT. Campuran organik disimpan dalam freezer dengan mempertahankan pada suhu 0oC selama 30 menit. dan campuran metanolasam asetat glasial (9:1 v/v).0 g dalam 10. 3 . Semua campuran dimasukkan dalam fase air pada labu berleher tiga sambil diputar pada 410 rpm dengan penurunan secara perlahan (0.

Residu dari hasil penguapan dilarutkan dalam 10. Harborne 1987. v/v) secara berturut-turut. Cartridge SPE dihubungkan dengan pompa vacuum.0 mL metanol kemudian disaring dengan membran Polymer Thick Film (PTF). 4 .Abd. Penghancuran akar dapat memudahkan penetrasi pelarut untuk menembus lapisan batas sehingga mempercepat proses ekstraksi. Kemudian akar dihancurkan dengan high-speed desintegrator. Bagian atas dibatasi dengan gelas wool. Campuran ekstrak diuapkan dengan rotavapor R-114.0 mL campuran kloroform:metanol (5:5. Filtrat digunakan untuk SPE atau analisis dengan MIMs-HPLC. menganjurkan meneteskan NH4OH pekat dan untuk mencuci endapan menggunakan NH4OH 1%. Untuk mengendapkan alkaloid Harborne 1987. Solid-Phase Extraction MIMs kering yang disuspensikan dalam campuran metanol dan 2-propanol (5:5. juga menganjurkan penarikan alkaloid dengan kloroform-etanol. mengendapkan atau memurnikan senyawa golongan alkaloid. Bahan diekstraksi tiga kali dengan 10. PTF biasanya juga digunakan untuk memisahkan protein. Amonium hidroksida adalah pelarut yang dapat digunakan untuk membasakan. PEMISAHAN DAN PEMURNIAN Hal.v/v) disonikasi dalam waterbath selama 10 menit dan ditempatkan dalam cartridge SPE yang terbuat dari polypropylene dengan poros yang besar dan mempunyai kran untuk mendukung MIMs. Malik 10/ 307253/ PFA/994 selama 4 jam. kepolaran pelarut ini tidak jauh berbeda dengan cara yang digunakan oleh peneliti. Ekstraksi sebanyak tiga kali biasanya akan lebih efektif dibandingkan dengan satukali menggunakan volume pelarut yang sama.

Selanjutnya. Aliran dikontrol setiap 0. Cartridge yang telah dicuci dikeringkan dalam vaccum.0 mL/menit. Effluent dari setiap eluasi dikumpulkan untuk dianalisis dengan MIMs-HPLC. Temperatur kolom oven dikontrol pada suhu 50oC. Faktor kapasitas dihitung berdasarkan prosedur standar kromatografi k’=(t-t0)/t0. Panjang gelombang dideteksi pada 215 nm.Abd. t dan t0 adalah waktu retensi dan waktu awal. metanol.2 mL/menit. v/v) dan metanol–asam asetat glasial (9:1. PEMISAHAN DAN PEMURNIAN Hal. Cartridge kosong juga dilakukan sesuai prosedur. Metode MIMs-HPLC Microsphere dikemas dalam kolom dengan metode basah menggunakan campuran metanol:2-propanol (5:5. Malik 10/ 307253/ PFA/994 Pengisian cartridge SPE dengan menggunakan MGAA (9:1. v/v) sebanyak 30 mL. v/v). α=k’ impr/k’ non-impr.0 mL larutan standar atau ekstrak dimasukkan melalui cartridge (berisi MIMs dan polimer kosong) dengan kecepatan 0. kemudian dijenuhkan dengan 20 mL metanol. Waktu awal (t0) telah dideterminasi dengan waktu elusi dari peak pelarut. v/v. mL). metanol–dichloromethane (8:2. Aliran disetting pada 1. v/v). modul air temperature-control dan detektor air 996 photodioda array. Faktor imprinted (α) dihitung dengan cara.0 mL MW 3:7. v/v sampai stabil. secara berturut-turut.2 mL/menit. 5. Sistem HPLC terdiri dari 2 pompa air 510. Volume injeksi 20 uL. 5 . Kolom dibilas dengan campuran MGAA 9:1. Untuk mengevaluasi perbedaan pengaruh eluen dalam mengelusi pengisian cartridge dicuci dengan 5. metanol–air (5:5.

PEMISAHAN DAN PEMURNIAN Hal.v/v. MW55). v/v. metanol–diklorometane (8:2.Abd. MGAA). Pemilihan eluen adalah hal kritis yang harus diperhatikan dalam menentukan kolom MIMs dalam proses kromatografi. 6 . Malik 10/ 307253/ PFA/994 Hasil dan Pembahasan Pemilihan pelarut pembilas dan eluen untuk MISPE Dalam sistem MISPE pelarut pembilas dengan eluen harus dibedakan. sedangkan eluen digunakan untuk mengelusi molekul target. Beberapa pelarut pembilas yang dipilih dalam prose MISPE seperti metanol:air (3:7. Pelarut pembilas digunakan untuk membersihkan pengotor. Kromatogram a adalah peak OMT dan b adalah MT yang digunakan sebagai standar. v/v. Larutan bilasan langsung dipisahkan dengan menggunakan metode MIPs-HPLC. MW37) metanol–air (5:5. methanol (M). diklorometan (DCM) dan metanol–asam asetat glasial (9:1. MDCM). v/v.

Hal ini dapat terjadi karena metanol merupakan pelarut yang mempunyai segmentasi/rentang luas dalam melarutkan senyawa dari berbagai tingkat kepolaran. berdasarkan kromatogram tersebut tidak menunjukkan adanya senyawa MT ataupun OMT. sedangkan MW55 sedikit bisa walaupun peak sangat kecil dibanding kontrol karena konsentrasi metanol ditingkatkan. Sedangkan pada kromatogram d menggunakan MW55 menunjukkan adanya sedikit peak MT maupun OMT.Abd. 7 . Hal ini menandakan bahwa MW37 merupakan campuran pelarut bersifat yang polar tidak dapat membawa MT atau OMT yang merupakan alkaloid dimana alkaloid larut dalam pelarut kurang polar. PEMISAHAN DAN PEMURNIAN Hal. Pada kromatogram e dan f menggunakan pembilas M dan MDCM menunjukkan adanya peak MT dan OMT dengan jelas. Malik 10/ 307253/ PFA/994 Pada kromatogram c dibilas dengan menggunakan pelarut MW37.

Sedangkan kromatogram h menunjukkan sedikit peak MT dengan menggunakan MGAA tetapi peak OMT tidak muncul. 30 % Konsentrasi <30 % dengan analisis kromatografik tidak dapat mengeluarkan MT sedangkan konsentrasi > 30 dapat meningkatkan pengeluaran pengotor. Malik 10/ 307253/ PFA/994 Pada kromatogram g tidak menunjukkan adanya MT atau OMT dengan menggunakan DCM. Untuk membilas MT dan OMT harus menggunakan metanol dengan konsentrasi tinggi karena pada konsentrasi rendah metanol tidak dapat membersihkan pengotor. 8 .Abd. Hal ini didukung oleh penelitian dengan menggunakan variasi konsentrasi. Pengotor juga tidak dapat dihilangkan sempurna jika penggunaan eluen dalam jumlah sedikit. Sehingga pada penelitian ini digunakan MW37 sebagai pelarut pembilas dan MGAA91 sebagai eluen untuk memisahkan MT. Pengaruh konsentrasi dan volume MISPE Ekstrak kloroform mengandung banyak pengotor sehingga perlu dibilas dengan menggunakan MW37. PEMISAHAN DAN PEMURNIAN Hal.

Ini mengindikasikan bahwa IC mengikat MT lebih kuat dibandingkan NIC. 4) Pemilihan cartridge-MIMs dan kolom Pada pengguanaan cartridge tidak ada perbedaan nyata antara imprinted cartridge (IC) dengan non-imprinted cartridge (NIC) pada pembilasan awal hal ini menunjukkkan bahwa tidak ada IC dan NIC tidak mempunyai ikatan yang spesifik. Untuk melihat efek imprinting terhadap OMT dilakukan penelitian lanjutan dengan hasil.sehingga dalam penelitian ini menggunakan metanol 30% dengan volume 25 mL yang digunakan untuk membilas pengotor dalam cartridge yang berisi MIMs.Abd. PEMISAHAN DAN PEMURNIAN Hal. Peningkatan pembilasan tampak jelas setelah volume eluen sebesar 10 mL. Malik 10/ 307253/ PFA/994 Pengeluaran MT dari cartridge-imprinted muncul jika menggunakan eluen yang banyak sampai 25 mL. (Lihat Fig. Pengeluaran IC tampak jelas pada volume 25 mL. 9 .

73. 10 .33. Leakage Load.15 dan 7. VL adalah leakage volume (mL) dari substrat. Berbeda dengan faktor kapasitas MT templat pada IC dan kolom blank kelihatan berbeda. Berdasarkan rumus tersebut. dimana LL adalah leakage load (µgg–1). dimana cs adalah concentration dari tested substrate larutan eluasi. dan W MIP (g) adalah bobot MIPs kering yang dikemas dalam cartridge.0 ug/g.0 ug/g dan IC adalah 30. Berdasarkan rumus tersebut diperoleh nilai LL MT pada NIC adalah 15. Hal ini Hal. nilai k’ adalah 12.18) dan kolom blank (4.Abd.04 dan nilai α adalah 1. Maximum load mempunyai rumus Lmax=csVs/W MIP. maximum loads (Lmax) dari MT pada NIC adalah 22. Hal ini menginformasikan bahwa untuk memisahkan MT lebih bagus dengan menggunakan IC. cL adalah konsentrasi substrat (µgmL–1). Vs adalah volume eluent. Hal ini mengindikasikan bahwa afinitas spesifik pada IC adalah MT. maximum load dan recovery cartridge Leakage load (LL) mempunyai rumus LL=cLVL/W MIP.4 µg/g PEMISAHAN DAN PEMURNIAN dan IC adalah 38.66) dengan nilai α adalah 1.7 µg/g. Malik 10/ 307253/ PFA/994 Faktor kapasitas OMT pada IC (6.

Malik 10/ 307253/ PFA/994 mengindikasikan bahwa nilai Lmax selalu lebih besar dari nilai LL.2 mL/menit. Recovery MT pada IC adalah 71. Pengisian MT dan OMT pada cartridge dielusi dengan 5.3%. Pengujian sampel extract S. 11 .0 mL extract S. Selanjutnya dilakukan penelitian tentang recovery MT dan OMT pada IC dan NIC. dengan kata lain leakage selalu terjadi sebelum adsorbsi kering tercapai. Flavescens Sejumlah 5. Flavescens.0 mL campuran MGAA91 dan dianalisis dengan MIMs-HPLC.4% sedangkan OMT 57.Abd.2 mL/menit dengan menggunakan larutan pembilas MW37 dan eluen MGAA91. 5mL) ditambahkan ke dalam ekstrak sampel (5 mL) dari S. Hal ini menunjukkan recovery MT lebih mudah dilakukan dibandingkan OMT. Larutan metanol MT dan OMT (1.0 µgmL–1. Flavescens di load ke dalam imprinted cartridge dengan kecepatan 0. PEMISAHAN DAN PEMURNIAN Hal. Campuran di run dengan kecepatan 0.

Saran dan komentar 1. 3. keberulangan. MIMs dapat digunakan untuk solid-phase extraction (SPE) dan Hight Performance Liquid Chromatografi (HPLC) untuk memisahkan Matrin (MT). karena banyak pengotor telah diremoved dari cartridge yang digunakan. Pendekatan MISPE lebih stabil. Perlu optimasi penggunaan eluen metanol–asam asetat glasial (MGAA) untuk memisahkan Matrin (MT) dengan oksimatrin (OMT). sedangkan pembanding tidak banyak terlihat. 4. teratur dan antikorosif dibanding kolom reverse-phase C18. 12 . Perbandingan efektifitas dan efisiensi MISPE dengan kolom reversephase C18. PEMISAHAN DAN PEMURNIAN Hal.Abd. Cartridge MISPE dan kolom MIMs-HPLC menunjukkan afinitas spesifik terhadap molekul templat Matrin (MT). 2. MISPE juga merupakan hal yang baru dalam pengembangan Obat Tradisional China. Flavescens. Sehingga ketika ekstrak di load ke dalam cartridge dibilas dengan 25 mL MW37 tampak jelas perbedaannya antara ekstrak MT kasar dengan MT murni. 2. Kesimpulan 1. perlu diteliti sehingga ada data ilmiah untuk memastikan kelebihan dan kekurangan kedua sistem. Malik 10/ 307253/ PFA/994 Pada kromatogram a menunjukkan banyaknya pengotor yang menandakan bahwa itu adalah ekstrak kasar dari extract S.

13 .B. Lai. Diakses Maret 2011. Technology-articles. Malik 10/ 307253/ PFA/994 PUSTAKA Harborne. Sophora Flavescens: An Asian Herb in the Spotlight for Fighting Cancer and Inflammation.P. Preparative separation and determination of matrine from the Chinese medicinal plant Sophora flavescens Ait by molecularly imprinted solid-phase extraction. 1987. Lai. Penerbit ITB. 2007. J.com. Metode Fitokimia. www. Jurnal Anal Bioanal Chem. 389(2):405-12.. et al. Suite 101. et al.P. Molecularly imprinted microspheres and nanospheres for di(2-ethylhexyl)phthalate prepared by precipitation polymerization. Diakses Maret 2011.org.Abd. 2010.. J. PEMISAHAN DAN PEMURNIAN Hal. Terjemahan Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro. Terbitan kedua. J.. 2003. Preparation of Molecularly Imprinted Membranes and Their Application Study of the Membrane Chromatography. Bandung. www.