You are on page 1of 12

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN TETRALOGY OF

FALLOT

DISUSUN OLEH:
Chaty Ari W

2012-11-006

Eka Sawitry N

2012-11-010

Finisha Putri

2012-11-012

Linda Sitorus

2012-11-018

Margareta E Solin

2012-11-020

Maria Rosalin Sea

2012-11-024

Velmi Revelin

2012-11-039

Venna

2012-11-040

Yudhit Herawati

2012-11-042

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SINT CAROLUS


JAKARTA
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkatNya sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini menyajikan tentang Asuhan
Keperawatan pada Anak dengan Tetralogy of Fallot dalam mata kuliah Keperawatan Anak.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu dalam
penyusunan makalah ini, yaitu:
1. Ibu Asnet Leo Bunga, SKp., M.Kes selaku Ketua STIK Sint Carolus
2. Ibu Ns. Justina Purwarini, MKep.,Sp.Mat selaku Ketua Program Studi S-1 Keperawatan
3. Ibu Ns. Lina Dewi A, M.Kep., Sp.Kep. An, selaku koordinator mata kuliah Keperawatan
Anak
4. Ibu Emerentia Sri Indiyah Supriyanti, S.Kp. M.Kes selaku pembimbing dan penilai
makalah kelompok kami
5. Teman-teman S-1 Keperawatan jalur A semester V
Kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna, sehingga kami
membutuhkan kritik dan masukan dari para pembaca agar kami dapat membuat makalah yang
lebih baik lagi.
Jakarta, 12 September 2014
Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Tetralogy of Fallot adalah penyakit jantung kongentinal yang merupakan suatu bentuk
penyakit kardiovaskular yang ada sejak lahir dan terjadi karena kelainan perkembangan
dengan gejala sianosis karena terdapat kelainan VSD, stenosis pulmonal, hipertrofi
ventrikel kanan, dan overriding aorta.
Tetralogy of Fallot muncul pada 3 dari angka 10.000 kelahiran. Kondisi ini
merupakan penyebab tersering dari penyakit jantung sianosis pada pasien usia neonatal
dan muncul pada 10 % dari seluruh lesi jantung kongenital. Risiko rekurensi pada
keluarga mencapai 3 %. Tetralogy of Fallot juga dikaitkan dengan konsumsi maternal
asam retinoat pada trimester pertama, diabetes yang tidak terkontrol, dan fenilketonuria
yang tidak tertangani.
Insiden Tetralogy of fallot di laporkan untuk kebanyakan penelitian dalam rentang 8
10 per 1000 kelahiran hidup. Kelainan ini lebih sering muncul pada laki laki daripada
perempuan. Dan secara khusus katup aorta bikuspid bisa menjadi tebal sesuai usia,
sehingga stenosis bisa timbul. Hal ini dapat diminimalkan dan dipulihkan dengan operasi
sejak dini. Sehingga deteksi dini penyakit ini pada anakanak sangat penting dilakukan
sebelum komplikasi yang lebih parah terjadi.
2. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini antara lain :
1. Penulisan hasil dari diskusi kelompok terkait Tetralogy of Fallot serta asuhan
2.

keperawatan untuk klien dengan penyakit Tetralogy of Fallot


Membagi ilmu bagi mahasiswa lain secara mendalam mengenai terkait teori

3.

Tetralogy of Fallot
Menjadi pembelajaran bersama untuk dasar teori dan asuhan keperawatan klien

4.

1. Definisi

dengan Tetralogy of Fallot pada tindakan nyata.


Mengetahui discharge planning pada pasien dengan Tetralogy of Fallot
BAB II
TINAJUAN TEORITIS

Tetralogy of Fallot adalah defek pada jantung dengan penurunan aliran darah ke
pulmonal. Ada empat defek yang terjadi yaitu stenosis pulmonal, hipertrofi ventrikel kiri,
Ventricel Septal Defect (VSD), dan overriding pada aorta (Ball, Bindler, & Cowen, 2012).
2. Anatomi dan Fisiologi

Aliran darah mengalir dari plasenta ke janin melalui vena umbilicus ke duktus venosus
(saluran pembuluh darah janin antara vena umbilicus dan vena cava inferior) dan masuk ke
atrium kanan pada jantung. Foramen ovale adalah pembuka antara atrium pada jantung janin,
membuat darah mengalir dari atrium kanan ke atrium kiri dan kemudian masuk ke ventrikel
kiri. Darah kemudian dipompa ke aorta dan sirkulasi sistemik.
Beberapa darah kembali dari kepala dan ekstremitas atas menuju vena cava superior dan
atrium kanan. Beberapa darah berjalan menuju ventrikel kanan dan akan dipompa ke arteri
pulmonal. Sebagian besar darah ini akan melewati duktus arteriosus (saluran pembuluh darah
antara arteri pulmonal dan aorta ke sirkulasi sistemik).
Dalam jumlah yang sedikit, darah dari arteri pulmonal akan pergi ke paru-paru janin.
Darah akhirnya kembali ke plasenta dengan melalui arteri-arteri umbilicus. Setelah tali pusar
dipotong, bayi yang baru lahir harus beradaptasi dengan cepat untuk menerima oksigen dari
paru-paru. Transisi dari janin ke sirkulasi pulmonal terjadi dalam beberapa jam setelah
kelahiran. Napas pertama mengekspansi paru-paru dan darah yang sebelumnya mengalir
melalui duktus arteriosus ke aorta akan mulai mengalir ke paru-paru. Aliran darah pulmonal
meningkat dan resistensi pembuluh darah pulmonal berkurang. Tekanan pada atrium kiri
meningkat seiring dengan peningkatan aliran darah dan kembali dari paru-paru melewati
vena-vena pulmonal.

3. Patofisiologi
a. Adanya defek septum ventrikel (VSD) yang merupakan lubang pada sekat antara dua
ventrikel dapat menyebabkan aorta menerima darah dari ventrikel kiri dan kanan karena
terjadi right left shunt sehingga darah yang rendah oksigen akan bercampur dengan darah
yang kaya oksigen dan keduanya akan masuk ke aorta dan dialirkan ke seluruh tubuh.
b. Stenosis pulmonal menyebabkan katup pulmonal menyempit dan obstruksi arteri
pulmonal akan semakin berat sehingga darah yang dari ventrikel kanan ke paru-paru
menjadi lebih sedikit.
c. Overriding aorta terjadi karena letak anatomi aorta yang abnormal sehingga
menyebabkan darah dari ventrikel kiri dan kanan masuk ke dalam aorta secara
bersamaan.
d. Hipertrofi ventrikel kanan terjadi karena ventrikel kanan memompa darah dengan usaha
yang lebih keras secara terus menerus agar dapat melewati katup pulmonal yang stenosis
sehingga terjadi perbesaran otot pada ventrikel kanan. Selain itu, ventrikel kanan juga
memompa darah yang lebih banyak karena mendapat aliran dari ventrikel kiri sebagai
akibat adanya defek septum ventrikel dan tekanan memompa ke aorta pun menjadi lebih
tinggi.
4. Etiologi dan Faktor Risiko
a. Faktor Lingkungan (eksogen)
i. Riwayat kehamilan ibu, apakah sebelumnya ikut program KB oral atau suntik,
minum obat-obatan tanpa resep dokter (jamu, thalidmide, dextroamphetamine,
aminopterin, dan amethopterin).
ii. Ibu menderita penyakit infeksi seperti penyakit rubella.
iii. Pajanan terhadap sinar X.
b. Faktor Genetik (endogen)
i. Berbagai jenis penyakit genetik ditandai dengan kelainan kromosom yang dapat juga
berhubungan dengan delesi kromosom 22 dan di George Syndrome.
ii. Anak yang lahir dengan menderita penyakit jantung congenital atau bawaan.
iii. Adanya penyakit tertentu dalam keluarga seperti diabetes melitus, hipertensi,
penyakit jantung atau kelainan bawaan.
Para ahli berpendapat bahwa penyebab endogen dan eksogen tersebut jarang terpisah
menyebabkan penyakit jantung bawaan. Diperkirakan lebih dari 90% kasus penyebab adalah
multifaktor. Apapun sebabnya, pajanan terhadap faktor penyebab harus ada sebelum akhir
bulan kedua kehamilan, oleh karena pada minggu ke delapan kehamilan pembentukan
jantung janin sudah selesai.

5. Manifestasi Klinis
Bayi dengan derajat penyumbatan aliran keluar ventrikel kanan ringan, pada mulanya
dapat datang dengan gagal jantung kongestif yang disebabkan oleh shunt dari kiri ke kanan
setinggi ventrikel. Sianosis terjadi pada saat umur 1 tahun pertama. Paling mencolok pada
membran mukosa mulut dan kuku jari kaki dan tangan.
Bayi dengan derajat obstruksi ventrikel kanan berat, sianosis tampak segera saat masa
neonatus. Pada bayi ini aliran darah pulmonal dapat tergantung pada aliran melalui duktus
arterious. Bila duktus mulai menutup pada umur beberapa jam pertama, sianosis berat dan
kolaps sirkulasi dapat terjadi. Anak yang lebih lama menderita sianosis dapat mengalami
sianosis ekstrem dengan permukaan kulit biru, sclera abu-abu dengan pembuluh darah
melebar (memberi kesan konjungtivitis ringan), terdengar suara murmur jantung, dan
clubbing finger.
Dispnea terjadi pada saat beraktivitas. Bayi dan anak yang baru mulai berjalan akan
bermain secara aktif selama waktu pendek kemudian duduk atau tiduran. Yang lebih khas,
anak menganggap posisi jongkok (squat position) melegakan dispnea karena adanya upaya
fisik. Berat badan bayi biasanya tidak bertambah dan kurang napsu makan sehingga
pertumbuhan dan perkembangan akan terhambat.
Serangan hipersianotik paroksimal (serangan hipoksik biru atau tet) terutama
merupakan masalah selama umur 2 tahun pertama. Serangan disertai dengan pengurangan
aliran darah pulmonal yang telah terganggu, yang bila terjadi dalam waktu yang lama dapat
berakibat hipoksia sistemik berat dan asidosis metabolik.
Bayi yang hanya sianosis ringan pada saat istirahat sering lebih cenderung untuk terjadi
serangan hipoksik karena pada mereka tidak terjadi mekanisme homestatik untuk
menoleransi penurunan saturasi oksigen arterial yang cepat, misalnya polisitemia.

6. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan laboratorium

Ditemukan adanya peningkatan hemoglobin dan hematokrit (Ht) akibat saturasi oksigen
yang rendah. Pada umumnya hemoglobin dipertahankan 16-18 gr/dl dan hematokrit
antara 50-65 %. Nilai GDA menunjukkan peningkatan tekanan partial karbondioksida
(PCO2), penurunan tekanan parsial oksigen (PO2) dan penurunan PH.pasien dengan Hb
dan Ht normal atau rendah mungkin menderita defisiensi besi.
b. Radiologis
Sinar X pada thoraks menunjukkan penurunan aliran darah pulmonal, tidak ada
pembesaran jantung. Gambaran khas jantung tampak apeks jantung terangkat sehingga
seperti sepatu boot (boot shaped).
c. Elektrokardiogram
Pada EKG sumbu QRS hampir selalu berdeviasi ke kanan. Gelombang T dapat positif.
Gelombang P tinggi dan runcing.
d. Ekokardiografi dua dimensi
Memberi informasi mengenai luas penumpangan aorta pada sekat, lokasi, dan derajat
penyumbatan saluran aliran keluar ventrikel kanan, ukuran cabang proksimal arteri
pulmonalis dan sisi arkus aorta. Ekokardiografi juga berguna untuk menentukan apakah
duktus arteriosus sudah paten memasok sebagian alirah darah ke pulmonal.
e. Kateterisasi
Diperlukan sebelum tindakan pembedahan untuk mengetahui defek septum ventrikel multiple,
mendeteksi kelainan arteri koronari dan mendeteksi stenosis pulmonal perifer. Mendeteksi
adanya penurunan saturasi oksigen, peningkatan tekanan ventrikel kanan, dengan tekanan
pulmonalis normal atau rendah.
7. Penatalaksanaan Medis
a. Penempatan bayi pada posisi lutut-dada (knee-chest) dan pastikan bahwa tidak ada
pakaian yang ketat
b. Pemberian oksigen
c. Injeksi morfin subkutan dengan dosis tidak melebihi 0,2 mg/kg
d. Pemberian natrium bikarbonat intravena diperlukan jika serangan sangat berat dan kurang
berespons terhadap terapi sebelumnya
e. Propanolol untuk menurunkan denyut jantung supaya serangan dapat diatasi
f. Operasi shunt Blalock-Taussig
8. Komplikasi
a. Trombosis CVA (Cerebrovascular Accident)
b. Trombosis pulmonal
c. Abses otak
d. Gagal jantung kongestif
e. Endokarditis bacterial
9. Pengkajian Keperawatan

a. Pola Persepsi Kesehatan dan Pemeliharaan Kesehatan


Riwayat kesehatan ibu saat hamil
Riwayat tumbuh kembang anak yang cenderung mengalami keterlambatan
pertumbuhan
b. Pola Nutrisi Metabolik
Kehilangan napsu makan
Edema ekstremitas bawah
c. Pola Eliminasi
Nokturia
d. Pola Aktivitas dan Latihan
Sianosis
Takikardia
Pengisian kapiler lambat
Murmur
Clubbing finger setelah usia 6 bulan
Anak akan sering squatting atau jongkok
BJ I normal sedangkan BJ II tunggal dan keras
Mudah lelah
Dispnea saat aktivitas
Takipnea
Disritmia
e. Pola Mekanisme Koping dan Stres
Gelisah
Tampak menarik diri
Ketakutan
Mudah marah
10. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan pertukaran gas b.d penurunan alian darah ke pulmonal
b. Penurunan curah jantung b.d sirkulasi yang tidak efektif sekunder dengan adanya
malformasi jantung
c. Gangguan perfusi jaringan b.d penurunan sirkulasi (serangan sianotik akut)
d. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kelelahan selama makan, peningkatan
kebutuhan kalori dan penurunan nafsu makan
e. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d tidak adekuatnya suplai oksigen dan zat
nutrisi ke jaringan
f. Intoleransi aktifitas b.d ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen
g. Koping keluarga
tidak efektif b.d kurang pengetahuan keluarga tentang
diagnosis/prognosis penyakit anak
h. Risti gangguan perfusi jaringan serebral b.d peningkatan tekanan intrakranial sekunder
abses otak, CVA trombosis

BAB III
PEMBAHASAN KASUS

1. Ilustrasi Kasus
Seorang anak perempuan A berusia 2 tahun dirawat karena mengalami infeksi saluran
pernapasan akut. Sudah 2 hari suhu anak diatas 380C dan batuk pilek. Sudah mendapat obat
penurun panas dan obat batuk dari dokter didekat rumah, namun belum menunjukan
perbaikan. A sejak usia 5 bulan dideteksi mengalami kelainan jantung jenis TOF. Menurut
ibunya ketika sedang enak badannya A suka bermain dengan kakak nya dalam posisi
berjongkok squatting position. Ketika kakaknya pergi, A berlari mengejar kakanya, tibatiba menjadi dypneu dan sianosis. A kembali ke posisi squatting dan segera bernapas dengan
nyaman dengan hanya sedikit sianosis peri oral. Orang tua tidak tahu kenapa hal tersebut
terjadi pada A. saat pengkajian kondisi pasien composmentis, kulit sekitar mulut nya sedikit
kebiruan, tetapi ia tampak kondisi nyaman, sedang bermain boneka. Frekuensi pernapasan
belum bisa di hitung karena anak sedang bermain, namun sebelumnya 28x/menit teratur
waktu tidur, nadi 110/menit. Kuku jri tangan clubbing. Berat badan 8,2 kg, panjang badan
85cm. waktu lahir berat badan 2800gram dan panjang badan 46cm. napsu makan kurang,
makan porsi kecil karena cepat kelelahan. Bila A kesal, kelelahan karena makan, menangis
akan tampak mulai sesak dan sianosis. Hasil rontgen menunjukan bentuk jantung boot-

shaped. Hasil pemeriksaan darah : Hb 12gr%, leukosit 13.500, trombosit 230.000/ul.


Sementara sedang menunggu dokter spesialis jantung untuk instruksi lebih lanjut.
2. Pengkajian Keperawatan
a. Pola Pemeliharaan Kesehatan dan Persepsi Kesehatan
Sejak 2 hari yang lalu dirawat karenan mengalami ISPA
Riwayat kelainan jantung TOF sejak usia 5 bulan
Sejak 2 hari yang lalu suhu diatas 380C dan batuk pilek
Sudah mendapat obat penurun panas dan obat batuk dari dokter didekat rumah,
namun belum menunjukan perbaikan
b. Pola Nutrisi Metabolik
Berat badan 8,2 kg, panjang badan 85 cm
Waktu lahir berat badan 2800 gram dan panjang badan 46 cm
napsu makan kurang
makan porsi kecil karena cepat kelelahan
Hasil pemeriksaan darah : Hb 12gr%, leukosit 13.500, trombosit 230.000/ul.
c. Pola Aktivitas dan latihan
Menurut ibunya ketika sedang enak badannya A suka bermain dengan kakaknya
dalam posisi berjongkok squatting position
Dispnea
Sianosis
Frekuensi pernapasan belum bisa di hitung karena anak sedang bermain, namun
sebelumnya 28x/menit teratur waktu tidur
Nadi 110/menit
Kuku jari tangan clubbing
Hasil rontgen menunjukan bentuk jantung boot-shaped
d. Pola Mekanisme Koping dan Toleransi terhadap stress
Bila pasien kesal, kelelahan karena makan, pasien akan menangis
3. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan pertukaran gas b.d penurunan alian darah ke pulmonal
b. Penurunan curah jantung b.d sirkulasi yang tidak efektif sekunder dengan adanya
malformasi jantung
c. Gangguan perfusi jaringan b.d penurunan sirkulasi (serangan sianotik akut)
d. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kelelahan selama makan, peningkatan
kebutuhan kalori dan penurunan nafsu makan
e. Intoleransi aktifitas b.d ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen
f. Koping keluarga
tidak efektif b.d kurang pengetahuan keluarga tentang
diagnosis/prognosis penyakit anak
4. Intervensi Keperawatan
a. DP 1 : Gangguan pertukaran gas b.d penurunan alian darah ke pulmonal
DS : Ibu mengatakan Ketika kakaknya pergi, A berlari mengejar kakanya, tiba-tiba
menjadi dypnea dan sianosis

DO
: 28x/menit teratur waktu tidur, nadi 110/menit
HYD : Klien tidak mengalami gangguan pertukaran gas dalam waktu 5x24 jam dengan
kriteria hasil: tidak sianosis, tidak dyspnea, TTV dalam batas normal (HR: 90
140 x/menit, RR: 25 32 x/menit, BP: 95/65 mmHg, T:35,5 39OC)
Intervensi:
1. Melakukan observasi terhadap tanda tanda vital klien
Rasional : Dari data tanda tanda vital yang di padat dari pasien melalui observasi
dapat sebagai acuan untuk menentukan tindakan yang dapat diberikan kepada pasien.
2. Kaji frekuensi, kedalaman dan kemudahan bernafas.
Rasional : Manifestasi distress pernafasan tergantung pada derajat keterlibatan paru
dan kesehatan umum.
3. Observasi warna kulit, membrane mukosa, dan kuku.
Rasional : Untuk menentukan tindakan lebih lanjut jika sianosis berkurang atau
malah bertambah parah.
4. Kolaborasi pemberian terapi oksigen dengan benar. Misalnya dengan nasal, masker
atau masker venture.
Rasional : Kebutuhan oksigen klien terpenuhi. Oksigen diberikan dengan metode
yang sesuai dengan keadaan klien.

b. DP 2: Penurunan curah jantung b.d peningkatan kerja ventrikel


DS
:
Ibu mengatakan Ketika kakaknya pergi, A berlari mengejar kakanya, tiba-tiba
menjadi dyspnea
Ibu mengatakan batuk pilek
DO
: Hasil rontgen menunjukan bentuk jantung boot-shaped, kulit sekitar mulut
nya sedikit kebiruan, saat pengkajian kondisi pasien composmentis.
HYD
: Klien tidak mengalami penurunan curah jantung dalam waktu 7x24jam dengan
kriteria hasil: tidak dyspnea, kulit sekitar mulut tidak kebiruan.
Intervensi:
1. Melakukan observasi terhadap tanda tanda vital klien.
Rasional : Dari data tanda tanda vital yang didapat dari pasien melalui observasi
dapat sebagai acuan untuk menentukan tindakan yang dapat diberikan kepada pasien.
2. Melakukan observasi ada tidaknya sianosis
Rasional: adanya sianosis menunjukkan adanya penurunan curah jantung yang
menyebabkan perfusi tidak efektif.
3. Berikan posisi knee chest pada klien.
Rasional : Dari tindakan tersebut diharapkan dapat mempermudah aliran darah
4. Sediakan waktu istirahat yang cukup bagi anak dan dampingi anak pada saat
melakukan aktivitas.
Rasional : Agar klien tidak terlalu kecapekan saat melakukan sesuatu, dan agar dapat
memantau sejauh mana klien dapat beraktivitas sebelum klien merasa lelah.

5. Kolaborasi dalam: pemeriksaan serial ECG dan foto thorax serta kolaborasi dalam
tindakan pembedahan.
Rasional : Untuk mengetahui, keadaan dan kondisi kelainan yang terdapat pada
jantung, juga untuk mengatasi masalah menurunnya cardiac output karena adanya
defeks ventrikel.