HUBUNGAN TINGKAT KESEGARAN JASMANI DAN MINAT TERHADAP MATA PELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI PADA SISWA KELAS UNGGULAN

DAN KELAS BIASA SD NEGERI TEMPELAN 2 KECAMATAN BLORA KABUPATEN BLORA TAHUN 2006 – 2007

SKRIPSI
Diajukan dalam rangka penyelesaian studi Strata 1 Untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan

Disusun Oleh : Nama NIM Jurusan Fakultas : RA. Dewi Sekar Melati : 6101403002 : Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi : Ilmu Keolahragaan

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2007

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Alasan Pemilihan Judul Pendidikan merupakan wahana pokok bagi pengembangan kualitas

sumber daya manusia, karena itu upaya peningkatan mutu pendidikan dasar perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh terutama Sekolah Dasar yang merupakan pondasi bagi seluruh jenjang pendidikan, karena di Sekolah Dasar dasar-dasar ilmu, kecakapan dan perilaku diberikan, sehingga di Sekolah Dasar perlu mendapatkan perhatian dan pembinaan yang seksama dengan senantiasa meningkatkan kualitasnya melalui suatu pola pembinaan wawasan keunggulan. Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, yang bertujuan untuk mengembangkan aspek kesehatan, kesegaran jasmani, keterampilan berfikir kritis, stabilitas emosional,

keterampilan sosial, penalaran dan tindakan moral melalui kegiatan aktivitas jasmani dan olahraga. Tidak ada pendidikan yang tidak mempunyai sasaran pedagogis, dan tidak ada pendidikan yang lengkap tanpa adanya pendidikan jasmani, karena gerak sebagai aktivitas jasmani adalah dasar bagi manusia untuk mengenal dunia dan dirinya sendiri yang secara alamiah berkembang searah dengan perkembangan zaman (Depdiknas, 2003:1) Seiring dengan majunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, setiap negara termasuk Indonesia menghadapi tantangan untuk meningkatkan dan memelihara kesegaran jasmani warga negaranya, terlebih

2

bagi negara maju, dimana manusianya dapat dikatakan sangat kurang dalam gerak jasmaninya, sehingga tidak jarang menimbulkan gangguan-gangguan dalam metabolisme tubuh, sistem otot, tulang, jantung dengan pembuluh darah dan juga sistem syarafnya. Di Indonesia pembinaan kesegaran jasmani yang diberikan pada para pelajar sudah tercantum dalam kurikulum sekolah sesuai dengan jenjang pendidikannya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menjelaskan bahwa seirama dengan derap pembangunan bangsa dan negara, masyarakat sekolah seharusnya dikondisikan secara sosial kultural, seperti misalnya dapat memberikan nilai yang tinggi dan rasional terhadap arti suatu kesegaran jasmani. Hal tersebut mengandung pengertian bahwa dalam hubungan antara pembangunan bangsa dan negara, sekolah dan kesegaran jasmani, maka yang menjadi obyek utamanya adalah anak-anak sekolah, yang kelak akan meneruskan pembangunan nasional bangsa. Pengembangan kesegaran jasmani dalam pendidikan diberikan sejak usia dini di bangku sekolah dasar melalui pendidikan jasmani. Menurut standar

kompetensi mata pelajaran pendidikan jasmani sekolah dasar, Pendidikan Jasmani adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani yang

direncanakan secara sistematik yang bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, perseptual, kognitif, dan emosional (Depdiknas, 2003:1).

3

Usaha untuk mencapai tingkat kesegaran jasmani bagi para peserta didik dengan sendirinya tidak lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktorfaktor tersebut antara lain adalah : 1. Sumber makanan dan gizi yang dikonsumsi oleh siswa. 2. Waktu tidur dan istirahat yang dilakukan. 3. Aktivitas gerak dan latihan olahraga. 4. Lingkungan dimana siswa bertempat tinggal Apabila semua faktor tersebut sudah terpenuhi pelajar akan dapat dengan mudah merespon pelajaran yang diberikan oleh guru. Sekolah Dasar Negeri Tempelan 2 Blora contohnya merupakan salah satu sekolah yang diunggulkan oleh Kabupaten Blora. Memiliki 12 kelas yang terdiri dari 3 kelas Unggulan (IV, V, VI) dan 9 kelas biasa (I.A, I.B, II.A, II.B, III.A, III.B, IV, V, VI). Adapun Kelas Unggulan menurut Suhirmanto, Kepala Sekolah SD Negeri Tempelan 2 Blora tersebut menjelaskan bahwa "Kelas Unggulan adalah suatu kelas yang diunggulkan yang terdiri dari siswa siswi pilihan yang dapat diadu kualitas akademiknya dibandingkan kelas biasa”. Kelas Unggulan ini lahir pada tahun 1997 sebagai satu-satunya sekolah dasar unggulan yang ada di Kabupaten Blora, dengan adanya prestasi yang sangat memuaskan pada masa itu dibentuknya kelas unggulan yang telah diresmikan oleh Kepala Dinas Jawa Tengah (SK. Nomor 1370 / 103.16.f / DS / 97).

4

Tabel 1 Tabel Daftar Prestasi SD Negeri Tempelan 2 Blora Setelah Kelas Unggulan Di Resmikan N 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. JUARA I II II II I II II I III I I II II II II I I II I I II III Harapan I I I I I I I I I I I TINGKAT PRESTASI Juara cerdas tangkas tingkat Kab. Blora LCC Dokter Kecil Tingkat Kab. Blora Lomba Parade Takbir Tk. SD / MTs 1998 Lomba Karaoke Tk. SD Kec. Blora 1998 LCT Matematika Tingkat Kab. Blora 1998 Karnaval HUT 54 Kab. Blora 1999 Lomba Macapat Putri Tingkat Jawa Tengah 1999 Lomba Mengarang Tingkat SD Kab. Blora 1999 Pesta Siaga Tergiat Putra Tk. Pembantu Gubernur Wilayah Pati 1999 Lomba Lukis HUT ABRI Jakarta 1999 Lomba Gerak dan Lagu Tk. SD Kab. Blora 2000 Lomba Mewarnai Gambar Tk. SD Kab. Blora 2000 Lomba Peragaan Busana Anak Berpasangan Kab. Blora 2000 Lomba Cerdas Cermat MTK 2000 Sepeda Hias Kab. Blora 2001 LCC Matematika ke 252 Tk. Kab. Blora 2001 LCC MIPA Tk. Kab. Blora 2002 LCC Matematika Tk. Kab. Blora Ke 253 2002 LCC Matematika Kab. Blora 2002 LCT Tk. SD PISO 2002 LCC Matematika TK. Kab. Blora Ke 254 2003 LCC Dokter Kecil Tk. Kab. Blora 2003 Lomba Menyanyi HARDIKNAS 2004 Paduan Suara HARDIKNAS 2004 Olimpiade Matematika Tk. Kab. Blora 2004 Olimpiade IPA Tk. Kab. Blora 2004 Lomba Mapel IPS Tk. Kab. Blora 2004 Lomba Sinopsis Dalam Rangka Lomba Mapel Tk. Kab. Blora Lomba Pengetahuan Umum Beregu Tk. Kab. Blora 2004 Lomba Macapat Tk. Kab. Blora 2004 Lomba Paduan Suara Tk. Kab. Blora 2004 Mendapat Tropi TV 24 in Lomba Tenis Lapangan Tk. Kab. Blora 2004 Lomba Tenis Meja Tk. Kab. Blora 2004

5

34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44.

I I I II I I I II III I III

Lomba Seni Tari Tk. Kab. Blora 2004 Regu Tergiat Putra Tk. Kab. Blora 2005 LCC MIPA Tk. Kab. Blora 2006 LCC Matematika Putra Tk. Kab. Blora 2006 LCC Matematika Kab. Blora 2006 Lomba Siswa Teladan Putra 2006 Lomba Siswa Teladan Putri 2006 Lomba Nyanyi Tunggal Putra 2006 Lomba Nyanyi Tunggal Putri 2006 Lomba Sekolah Sehat Tk. Kab. Blora 2006 Lomba Olimpiade Sains IPA Tk. Kab. Blora 2006

Dapat dilihat daftar prestasi SD Negeri Tempelan 2 Blora sebagian besar bahkan 80 % dari hasil prestasi menunjukkan bahwa siswa hanya meraih juara dalam prestasi akademik saja. Semua terjadi dikarenakan aktivitas fisik yang kurang dilakukan oleh siswa SD Negeri Tempelan 2 Blora. Mata pelajaran pendidikan jasmani diberikan satu kali dalam seminggu. Sedangkan

ekstrakurikuler yang diberikanpun bersifat hanya mengasah ketrampilan akademik saja dan bukan kondisi fisik yang sangat penting dilakukan untuk memperoleh kesegaran jasmani yang didibutuhkan oleh siswa. Dasar untuk mendapatkan siswa yang memiliki prestasi baik, di awal tahun pelajaran diadakan seleksi prestasi belajar siswa kelas IV (empat), pada SD Inti dan SD Imbas dalam satu gugus, dan siswa yang terpilih dikelompokkan ke kelas unggulan pada SD Inti, sedangkan siswa kelas IV pada SD Inti yang tidak terpilih menjadi siswa kelas unggulan tetap menjadi siswa sekolah pada SD Inti, sehinga SD Inti yang menyelenggarakan kelas unggulan memiliki kelas IV (empat) 2 kelas. Seleksi yang dilakukan pada anak-anak yang menunjukkan

6

prestasi tinggi sejak kelas I s.d. kelas III. Oleh karena itu dilakukan penelusuran minat dan bakat serta prestasi siswa kelas rendah. Perbedaan kelas unggulan dengan kelas biasa menurut Suhirmanto, yaitu kelas unggulan memiliki siswa pilihan dan juga memiliki jam tambahan khusus contoh jadwal wajib harian sekolah pagi masuk pukul 07.00 – 12.40 WIB, memiliki guru mata pelajaran khusus dalam setiap pelajaran yang diajarkan dan tambahan sekolah sore pukul 15.00 - 17.00 WIB serta masih ada tambahan ekstrakurikuler yang diberikan pada hari jumat dan sabtu sore. Sedangkan kelas biasa hanya memiliki kelas pagi saja masuk pukul 07.00 12.40 WIB dan hanya memiliki guru kelas saja. Dan di sore harinya siswa kelas biasa dapat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler antara lain yaitu drum band, senam lantai, simpoa, komputer dll. Dengan demikian dapat dilihat tingkat keunggulan dari segi fasilitas mengajar dan kepadatan pendidikan yang ditempuh oleh siswa unggulan dari pada siswa biasa. Dilihat dari segi kurikulum yang dipakai menurut Kepala SD Negeri Tempelan 2 menerangkan bahwa "Sistem pengajaran menggunakan gabungan antara GBPP ( Garis-garis Besar Pokok Pengajaran ) dengan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Semua ini dikarenakan penataran tentang sistem yang dipakai oleh KBK itu sendiri baru didapat bulan Maret 2005 kemarin, sedangkan pada penerapannya, sekolah harus menyesuaikan diri terlebih dahulu karena sistem KBK ini membutuhkan biaya yang cukup banyak sehingga pihak sekolah memilih jalan dalam masa peralihan dilakukan secara

7

perlahan sehingga tidak menjadikan beban terlalu berat bagi siswa yang menerima ataupun guru pengajar itu sendiri ". Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa siswa kelas unggulan memiliki kepadatan waktu yang sangat padat dalam menempuh pelajaran dibandingkan siswa kelas biasa. Walaupun segi akademik sangat mendukung tingkat kecerdasan IQ siswa, tetapi dilihat dalam segi kesegaran jasmani siswa unggulan sangat kurang dikarenakan sangat terbatasnya waktu yang diperoleh siswa untuk mengolah fisiknya. Sehingga dapat dilihat siswa siswi unggulan terkesan lemah dalam aktivitas yang melelahkan. Dengan latar belakang diatas, maka diadakan penelitian dengan judul "Hubungan Tingkat Kesegaran Jasmani Dan Minat Terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Pada Siswa Kelas Unggulan Dan Kelas Biasa SD Negeri Tempelan 2 Kecamatan Blora Kabupaten Blora Tahun 2006-2007 ".

1.2.

Permasalahan Permasalahan yang menjadi pertanyaan dalam penelitian ini adalah :

1.2.1. Bagaimana Tingkat Kesegaran Jasmani Pada Siswa Kelas Unggulan SD. Negeri Tempelan 2 Kecamatan Blora Kabupaten Blora Tahun 20062007 ? 1.2.2. Bagaimana Tingkat Kesegaran Jasmani Pada Siswa Kelas Biasa SD. Negeri Tempelan 2 Kecamatan Blora Kabupaten Blora Tahun 20062007 ?

8

1.2.3. Apakah ada Hubungan Tingkat Kesegaran Jasmani dan Minat Terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Pada Siswa Kelas Unggulan SD. Negeri Tempelan 2 Kecamatan Blora Kabupaten Blora Tahun 20062007 ? 1.2.4. Apakah ada Hubungan Tingkat Kesegaran Jasmani dan Minat Terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Pada Siswa Kelas Kelas Biasa SD. Negeri Tempelan 2 Kecamatan Blora Kabupaten Blora Tahun 20062007 ?

1.3.

Tujuan Penelitian Berdasarkan masalah penelitian, maka tujuan yang akan dicapai dalam

penelitian ini adalah : 1.3.1. Untuk mengetahui Tingkat Kesegaran Jasmani Pada Siswa Kelas Unggulan SD. Negeri Tempelan 2 Kecamatan Blora Kabupaten Blora Tahun 2006-2007. 1.3.2. Untuk mengetahui Tingkat Kesegaran Jasmani Pada Siswa Kelas Biasa SD. Negeri Tempelan 2 Kecamatan Blora Kabupaten Blora Tahun 20062007. 1.3.3. Untuk mengetahui Hubungan Tingkat Kesegaran Jasmani Dan Minat Terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Pada Siswa Kelas Unggulan SD. Negeri Tempelan 2 Kecamatan Blora Kabupaten Blora Tahun 20062007.

9

1.3.4. Untuk mengetahui Hubungan Tingkat Kesegaran Jasmani Dan Minat Terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Pada Siswa Kelas Biasa SD. Negeri Tempelan 2 Kecamatan Blora Kabupaten Blora Tahun 2006-2007.

1.4.

Kegunaan Hasil Penelitian Adapun kegunaan hasil penelitian ini adalah :

1.4.1 Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan hasil penelitian. 1.4.2. Dapat dijadikan suatu masukan bahwa dengan meningkatkan fasilitas akademik dengan menambah jam mata pelajaran yang diterima siswa dapat mempengaruhi tingkat kesegaran jasmani siswa. 1.4.3. Sebagai bahan informasi alat evaluasi terhadap guru Pendidikan Jasmani yang mengajar di SD Negeri Tempelan 2 Kecamatan Blora Kabupaten Blora. 1.4.4. Sebagai salah satu syarat mencapai kelulusan penulis, dalam

menyelesaikan Program Studi Strata 1 di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang.

10

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

Sebagai dasar pedoman acuan berfikir yang digunakan dalam pemecahan permasalahan pada landasan teori diambil beberapa pendapat dari para ahli. Maka dalam penelitian ini akan dikemukakan tentang. 2.1. Pengertian Kesegaran Jasmani Menurut Karpovich dalam (Casady, Mabes, dan Alley :1971) yang dikutip oleh Sudarno,SP (1992:9) Kesegaran Jasmani didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk melakukan satu tugas khas yang memerlukan kerja muskular dimana kecepatan dan ketahanan merupakan kriteria utama. Seseorang yang memiliki kesegaran jasmani yang baik akan mampu memenuhi tuntutan fisik tertentu. Kesegaran Jasmani dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari tanpa merasa lelah berlebihan dan masih mamiliki cadangan tenaga untuk menikmati waktu luang dan kegiatan-kegiatan yang sifatnya mendadak (“Presiden Council of Fhysical Fitnes and Sport, Physical Fitness Research Desert, series, No.1 Washington DC 1071”). (Purnomo Ananto, 2000:25) Ahli-ahli Pendidikan Jasmani menyatakan bahwa : Kesegaran jasmani adalah kapasitas fungsional total seseorang untuk melakukan suatu kerja tertentu dengan hasil baik / memuaskan dan tanpa kelelahan yang berarti. (Sudarno, 1992:9)

11

Kesegaran jasmani adalah kondisi kesegaran jasmani yang bersangkut paut dengan kemampuan dan kesanggupannya berfungsi dalam pekerjaan secara optimal dan efisien. Disadari atau tidak sebenarnya kesegaran jasmani itu merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia karena kesegaran jasmani senyawa dengan hidup manusia. Kesegaran jasmani dapat memberikan corak kualitas hidup manusia. (Depdiknas, 1995:1). Definisi yang dirumuskan dari hasil Seminar Kesegaran Jasmani Nasional yang diselenggarakan oleh Derektorat Jenderal Olahraga dan Pemuda pada tanggal 16-20 Maret 1971 di Jakarta, memaparkan bahwa physical fitness adalah kemampuan untuk melakukan pekerjaan dengan efisien tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti. Jadi Kesegaran Jasmani adalah suatu keadaan saat tubuh mampu menunaikan tugas hariannya dengan baik dan efisien, tanpa kelelahan berarti, dan tubuh masih memiliki tenaga cadangan, maupun untuk menikmati waktu senggang dengan rekreasi aktif.

2.1.1. Komponen Kesegaran Jasmani Kesegaran jasmani mencakup pengertian yang kompleks maka baru dapat dipahami jika mengetahui tentang komponen-komponen kesegaran jasmani yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain, namun masingmasing komponen memiliki ciri-ciri tersendiri yang berfungsi pokok pada kesegaran jasmani seseorang. Agar seseorang dapat dikatakan kondisi fisiknya

12

atau kesegaran jasmaninya baik, maka status setiap komponennya harus dalam kategori baik. 2.1.1.1. Menurut Purnomo Ananto, 2000:25 Komponen kesegaran jasmani yang berkaitan dengan kesehatan pada umumnya adalah : 1. Daya Tahan Jantung dan paru-paru (“cardiorespiratory endurance”) Daya tahan jantung dan paru-paru dapat diartikan sebagai kemampuan untuk melanjutkan tugas-tugas berat yang melibatkan kelompok-kelompok otot besar untuk jangka waktu yang lama. Kemampuan sistem peredaran darah pernafasan bertugas menyesuaikan dan memulihkan kesegaran fisik dari efekefek latihan atau pekerjaan keseluruhan tubuh. Tingginya kapasitas kerja fisik, yang merupakan kemampuan untuk melepaskan jumlah energi yang relatif tinggi dalam suatu jangka waktu yang lama. 2. Komposisi Tubuh (“body composition”) Komposisi tubuh mengacu pada jumlah relatif dibanding dengan jumlah jaringan aktif. 3. Kelenturan (“flexibility”) Kapasitas fungsional yang menunjukkan keleluasaan gerak dari sendisendi dan otot untuk bergerak secara penuh. 4. Kekuatan Otot (“muscular strength”) Kekuatan atau upaya maksimal yang dapat digunakan untuk melawan beban. dari lemak tubuh

13

5. Daya Tahan Otot (“muscular endurance”) Kemampuan otot untuk digunakan secara berulang-ulang atau

mempertahankan konstraksi otot selama periode waktu tertentu.

2.1.1.2. Menurut Casady, Mapes, dan Alley, 1971:8 yang dikutip oleh Sudarno,SP, 1992:9. Komponen-komponen kesegaran jasmani yang dimaksud : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Kesehatan yang baik Kekuatan Kelincahan Ketahanan muskular Kecepatan Keseimbangan Kelentukan Koordinasi Ketahanan Radiorespiratori

10. Berat badan yang sesuai 11. Kemampuan motorik umum 12. Ketangkasan Neuromuskular

2.1.1.3. Menurut Nurhasan, 2001:133 Secara umum komponen kesegaran jasmani atau unsur – unsur yang terdapat pada kesegaran jasmani ada dua yaitu :

14

Kesegaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan, meliputi : 1. Daya Tahan Jantung ( cardiovaskuler ) Daya tahan kardiofaskuler adalah kesegaran sistem jantung, paru dan pembuluh darah untuk berfungsi secara optimal pada keadaan istirahat dan kerja dalam mengambil oksigen dan menyalurkan kebagian yang aktif sehingga dapat dipergunakan pada proses metabolisme tubuh. 2. Kekuatan otot (strenght ) Kekuatan otot adalah kemampuan badan dalam menggunakan daya.

Serabut otot yang ada didalam otot akan memberikan respon / tanggapan apabila dikenakan beban atau tahanan dalam latihan. Tanggapan atau respon ini membuat otot lebih efisien dan mampu memberikan respon lebih baik kepada sistem urat syaraf pusat. 3. Daya Tahan Otot ( Ketahanan Muskular ) Daya tahan otot adalah kemampuan atau kapasitas sekelompok otot untuk melakukan kontraksi yang beruntun atau berulang–ulang terhadap suatu beban dalam jangka waktu tertentu.. jadi daya tahan otot merupakan kemampuan mengatasi kelelahan otot. 4. Kelentukan ( flexibilitas ) Kemampuan untuk melakukan gerakan persendian melalui jangkauan gerak yang luas. 5. Komposisi Tubuh Komposisi tubuh digambarkan dengan berat badan tanpa lemak dan berat lemak. Berat badan tanpa lemak terdiri atas masa otot (40–50 %), tulang (16–

15

18%) dan organ–organ tubuh (29–39%). Berat lemak dinyatakan dalam persentasenya terhadap berat badan total. Secara umum dapat dikatakan makin kecil persentase lemak makin baik kinerja seseorang. Kesegaran Jasmani yang berhubungan dengan kesegaran jasmani, meliputi : 1. Kelincahan ( agility) Kelincahan adalah kemampuan mengubah secara cepat arah tubuh atau bagian tubuh tanpa gangguan pada keseimbangan. 2. Kecepatan ( speed ) Kecepatan adalah kemampuan untuk berjalan atau bergerak dengan sangat cepat, seperti semua kemampuan biomotor kecepatan dapat dirinci menjadi dua tipe yaitu kecepatan maximal dan kecepatan terkontrol. 3. Keseimbangan Keseimbangan adalah kemampuan mempertahankan sikap tubuh atau bagian tubuh tanpa gangguan pada keseimbangan. 4. Koordinasi Koordinasi adalah kemampuan untuk melakukan gerakan dengan berbagai tingkat kesukaran dengan cepat dan dengan efisien dan penuh ketepatan. 5. Daya ledak ( power ) Daya ledak adalah kemampuan seseorang mempergunakan kekuatan maximum yang dikerahkan pada waktu yang sependek – pendeknya.

16

2.1.2. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kesegaran Jasmani Faktor – faktor yang mempengaruhi kesegaran jasmani adalah sebagai berikut : 1. Makanan dan Gizi Makanan dan gizi sangat diperlukan bagi tubuh untuk proses pertumbuhan, pergantian sel tubuh yang rusak dan untuk mempertahankan kondisi tubuh. Unsur – unsur yang diperlukan tubuh antara lain protein lemak, karbohidrat, garam – garam mineral, vitamin, dan air. 2. Faktor tidur dan Istirahat Setelah melakukan aktivitas tubuh terasa lelah, hal ini disebabkan oleh pemakaian tenaga untuk aktivitas yang bersangkutan. Untuk mengembalikan tenaga yang telah terpakai diperlukan istirahat dan tidur agar tubuh akan menyusun kembali tenaga yang hilang 3. Faktor Lingkungan Lingkungan adalah tempat dimana seseorang tinggal dalam waktu lama. Dalam hal ini menyangkut lingkungan fisik serta sosial ekonomi. Mulai dari pekerjaan, daerah tempat tinggal dan sebagainya. 4. Faktor Latihan dan Olahraga Faktor latihan dan olahraga juga bisa digunakan untuk peningkatan kesegaran jasmani. Latihan fisik adalah suatu kegiatan yang menurut cara dan aturan tertentu, yang mempunyai sasaran meningkatkan efisiensi fa’al tubuh dan sebagai hasil akhir adalah peningkatan kesegaran jasmani.

17

2.2.

Pengertian Minat Istilah minat sering didengar dalam kehidupan sehari-hari terutama

dalam dunia pendidikan. Seseorang dikatakan berminat terhadap sesuatu bila ia tertarik atau menyenangi sesuatu tersebut. Setiap individu mempunyai kecenderungan untuk menghubungkan diri dengan lingkungan melalui cara-cara tertentu. Jika seseorang individu menemukan suatu objek dan menyenangi objek tersebut maka dikatakan individu tersebut menaruh minat terhadap objek tersebut. Menurut Slameto (2003:180) Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yan menyuruh. Menurut Asep Priyatin Abdilah (1990:24) Minat adalah suatu perangkat mental yang meliputi perasaan, harapan pendirian, prasanka yang cenderung menarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu. Menurut Bimo Walgito (1981:38) Minat adalah suatu keadaan dimana seseorang menaruh perhatian terhadap sesuatu dan disertai keinginan untuk mengetahui, mempelajari dan membuktikan lebih lanjut. Tampubolon (2000:41) mendefinisikan Minat adalah perpaduan

keinginan dan kemampuan yang dapat berkembang jika ada motivasi. Sedangkan menurut Yul Iskandar (2001:9) Minat adalah usaha dan kemampuan untuk mempelajari (learning) dan mencari sesuatu. Jadi minat adalah sebagai suatu ungkapan kecenderungan tentang kegiatan yang sering dilakukan setiap hari, sehingga kegiatan itu disukainya. Minat itu dapat diekspresikan dengan pernyataan yang menunjukkan bahwa

18

seseorang itu menyukai sesuatu.

Atau dengan kata lain seseorang akan

memberikan perhatian lebih terhadap sesuatu objek yang diamati. 2.2.1. Unsur-Unsur Minat Menurut Munawar Isnaeni (2003:7) yang mengutip Bigot seseorang dikatakan berminat terhadap sesuatu bila individu itu memiliki beberapa unsur antara lain : 1. Perhatian Seseorang dikatakan berminat apabila individu disertai adanya perhatian, yaitu kreativitas jiwa yang tinggi yang semata-mata tertuju pada suatu obyek. Maka seseorang yang berminat pada sesuatu objek yang pasti perhatiannya ditujukan pada objek kegiatan tersebut. 2. Kesenangan Perasaan senang terhadap suatu obyek baik orang ataupun benda akan menimbulkan minat pada diri seseorang. Orang merasa tertarik kemudian pada gilirannya timbul keinginan yang menghendaki agar objek tersebut menjadi miliknya. Dengan demikian maka individu yang bersangkutan berusaha untuk memperhatikan objek tersebut. 3. Macam-macam minat Menurut Munawar Isnaeni (2003:8) yang mengutip Dewa Ketut Sukardi, dikemukakan bahwa ada 3 cara yang dapat digunakan untuk menentukan minat, yaitu :

19

a. Minat yang diekspresikan (expresed interest) Seseorang dapat mengungkapkan minat atau pilihannya dengan kata-kata tertentu. Misalnya : seseorang mungkin mengatakan bahwa dirinya tertarik mengikuti mata pelajaran pendidikan jasmani. b. Minat mewujudkan (manifest interest) Seseorang dapat mengungkapkan minat bukan melalui kata-kata melainkan dengan tindakan atau perbuatan yaitu ikut berperan aktif dalam suatu kegiatan. Misalnya : keiatan pramuka, mendaki dan sebagainya yang menarik minat. c. Minat yang diinventariskan (investavied interest) Seseorang menilai minatnya diukur dengan menjawab sejumlah pertanyaan tertentu atau urutan pilihannya untuk kelompok aktivitas tertentu. Petanyaan-pertanyaan untuk mengukur minat seseorang disusun dengan menggunakan angket.

2.3.

Pengertian Pendidikan Jasmani Peranan pendidikan jasmani sangat penting yakni memberikan

kesempatan pada siswa untuk terlibat langsung dalam aneka pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, bermain dan aktivitas olahraga yang dilakukan secara sistematis. Pendidikan Jasmani adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani yang direncanakan secara sistemantik yang bertujuan untuk

20

meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, perseptual, kognitif dan emosional (Depdiknas, 2003:1). Menurut Abdul Kadir Ateng (1992:5) Pendidikan jasmani merupakan aktifitas otot – otot besar hingga proses pendidikan tidak terhambat oleh gangguan kesehatan dan pertumbuhan badan. Jadi pendidikan jasmani adalah pendidikan yang dilakukan dengan menggunakan aktifitas jasmani. Pendidikan jasmani merupakan usaha mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak kearah kehidupan yang sehat jasmani dan rohani, usaha tersebut berupa kegiatan jasmani atau fisik yang diprogram secara ilmiah, terarah dan sistematis, yang disusun oleh lembaga pendidikan yang berkompeten. (Tisnowati Tamat, 2002:1,5) Menurut Toho Cholik.M dan Rusli Rutan (2001:2) Pendidikan jasmani dapat didefinisikan sebagai suatu proses pendidikan yang ditujukan untuk mencapai tujuan pendidikan melalui gerakan fisik. Jadi Pendidikan jasmani adalah suatu aktivitas yang malakukan kegiatan proses belajar dengan melibatkan gerak lokomotor siswa untuk mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan siswa itu. Tujuan pendidikan jasmani menurut Depdiknas (2003:2) adalah : 1. Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai dalam Pendidikan Jasmani. 2. Membangun landasan kepribadian yang kuat, sikap cinta damai, sikap sosial dan toleransi dalam konteks kemajemukan budaya, etnis, dan agama.

21

3. Menumbuhkan kemampuan berfikir kritis melalui pelaksanaan tugas – tugas ajar Pendidikan Jasmani. 4. Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, kerja sama, percaya diri, dan demokratis melalui aktivitas jasmani, permainan, dan olahraga. 5. Mengembangkan ketrampilan gerak dan ketrampilan berbagai macam permainan dan olahraga seperti : permainan dan olahraga, aktivitas pengembangan, uji diri/senam, aktivitas ritmik, akuatik (aktivitas air) dan pendidikan luar kelas (outdoor education). 6. Mengembangkan ketrampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga. 7. Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain. 8. Mengetahui dan memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga sebagai informasi untuk mencapai kesehatan, kebugaran, dan pola hidup sehat. 9. Mampu mengisi waktu luang dengan aktivitas jasmani yang bersifat rekreatif.

2.4.

Pengertian Kelas Unggulan dan Kelas Biasa

2.4.1. Pengertian Kelas Unggulan Menurut surat keputusan No. 1370/103.16.f/DS/97 Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kelas unggulan adalah sejumlah siswa

22

yang karena prestasinya menonjol dikelompokkan di dalam kelas tersendiri di SD inti, kemudian diberi program pengajaran yang sesuai dengan kurikulum 1994 dan adanya pendalaman materi matematika / berhitung dan IPA serta pelajaran bahasa inggris oleh guru yang mempunyai kualifikasi baik. 2.4.1.1. Maksud Pengelompokan di SD Inti Pengelompokan di SD inti dimaksud untuk memudahkan membina siswa, dalam mengembangkan kecerdasan serta ketrampilan dan kemampuan atau potensi yang ada pada siswa seoptimal mungkin sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Untuk mendapatkan sekelompok siswa yang memiliki prestasi baik, diawal tahun pelajaran diadakan seleksi prestasi belajar siswa kelas IV (empat), pada SD Inti dan SD Imbas dalam satu gugus, kemudian siswa yang terpilih dikelompokkan ke kelas unggulan pada SD Inti, sedangkan siswa kelas IV pada SD Inti yang tidak terpilih menjadi siswa kelas unggulan tetap menjadi siswa pada sekolah SD Inti, sehingga SD Inti yang menyelenggarakan kelas unggulan memiliki kelas IV dua kelas. 2.4.1.2. Cara Mendapatkan Sejumlah Siswa Yang Memiliki Prestasi Baik Untuk mendapatkan sekelompok siswa yang memiliki prestasi baik, diawal tahun pelajaran diadakan seleksi prestasi belajar siswa kelas IV (empat), pada SD Inti dan SD Imbas dalam satu gugus, kemudian siswa yang terpilih dikelompokkan ke kelas unggulan pada SD Inti, sedangkan siswa kelas IV pada SD Inti yang tidak terpilih menjadi siswa kelas unggulan tetap menjadi siswa pada sekolah SD Inti, sehingga SD Inti yang menyelenggarakan kelas unggulan memiliki kelas IV dua (2) kelas.

23

Kelas unggulan memiliki siswa pilihan dan juga memiliki jam tambahan khusus, contoh jadwal wajib harian sekolah pagi masuk pukul 07.00 – 12.40 WIB, memiliki guru mata pelajaran khusus dalam setiap pelajaran yang diajarkan dan tambahan sekolah sore pukul 15.00 - 17.00 WIB serta masih ada tambahan ekstrakurikuler yang diberikan pada hari jumat dan sabtu sore. Dengan uraian diatas maka dapat diketahui bahwa anak kelas unggulan hanya memiliki waktu istirahat selama 2 jam 20 menit yang biasa dipergunakan siswa untuk beristirahat atau menyiapkan pelajaran sore. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa anak kelas unggulan tidak dapat melakukan aktivitas fisik atau mengolah raga dalam waktu senggangnya.

2.4.2. Pengertian Kelas Biasa Kelas biasa adalah dimana kelas yang siswanya memiliki kemampuan tidak terlalu menonjol atau tidak terlalu memiliki kemampuan yang mencolok. Jadi siswa kelas biasa hanya diperuntukkan bagi siswa yang bersekolah di kelas biasa dan tidak ada jam–jam tambahan dalam kurikulum yang diberikan, statusnya tidak diistemewakan. Kelas biasa hanya memiliki kelas pagi saja masuk pukul 07.00 - 12.40 WIB dan hanya memiliki guru kelas saja. Dan di sore harinya siswa kelas biasa dapat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler antara lain yaitu drum band, senam lantai, simpoa, komputer, dll. Dengan demikian dapat dilihat waktu istirahat yang diperoleh kelas biasa lebih banyak dari pada kelas unggulan dan penggunaan waktu istirahat itupun dapat dipilih sesuka selera mereka.

24

2.4.3. Karakteristik Siswa Sekolah Dasar Agar anak bisa tumbuh dan berkembang secara optimal dan sesuai dengan potensi yang dimiliki perlu diperhatikan sifat pertumbuhan dan perkembangan yang ada pada mereka. 2.4.3.1.Pertumbuhan Siswa Sekolah Dasar Pertumbuhan menurut Sugianto dkk (1991:13) adalah proses peningkatan yang ada pada diri seseorang yang bersifat kuantitatif, atau peningkatan dalam hal ukuran. Ciri – ciri pertumbuhan anak dapat dilihat dengan melakukan

pengukuran tubuh manusia “ anthropometry “ yang meliputi : 1. Pengukuran Tinggi Badan. 2. Pengukuran Berat Badan. 3. Pengukuran Besar Penampang Bagian tubuh. (Sugianto dkk, 1991:68) 2.4.3.2.Perkembangan Siswa Sekolah Dasar Perkembangan menurut Sugianto. Dkk (1991:14) adalah Proses perubahan kapasitas fungsional atau kemampuan kerja organ–organ tubuh kearah keadaan yang makin terorganisasi dan terspesialisasi. Ciri –ciri perkembangan awal masa anak–anak adalah : a. Usia kelompok, dimana anak belajar dasar–dasar perilaku sosial untuk penyesuaian diri pada waktu mereka masuk sekolah.

25

b. Usia

menjelajah

karena

anak–anak

ingin

mengetahui

keadaan

lingkungannya, bagaimana mekanismenya, perasaannya, dan bagaimana ia bisa menjadi bagian dari lingkungan. c. Usia bertanya, salah satu cara menjelajah lingkungan adalah dengan bertanya. d. Usia meniru, yang peling menonjol dalam periode ini adalah meniru pembicaraan dan tindakan orang lain. e. Usia kreatif, anak lebih menunjukkan kreatifitas dalam bermain selama masa kanak–kanak dibandingkan masa–masa lain. (Suparwoto, 2003:60) 2.4.3.3.Aktivitas Anak Sekolah Dasar Aktivitas yang sering dilakukan anak disekolah : 1. Aktivitas fisik yang cukup, yang memerlukan penggunaan otot – otot besar, misalnya otot kaki, lengan dan bahu. 2. Permainan sederhana yang hanya memerlukan penjelasan sedikit,

pengorganisasian yang sederhana, dan tidak terlalu lama untuk setiap macam permaninan (segera beralih pada permainan yang lain setelah beberapa saat). 3. Kesempatan mencoba–coba berbuat sesuatu dan meniru gerakan–gerakan. 4. Belajar bekerja sama dan berusaha bersama dengan teman–temannya. 5. Kesempatan menggunakan sarana bermain dengan berbagai ukuran ; mulamula memainkan objek yang agak besar kemudian semakin kecil.

26

2.5.

Hipotesis Sesuai dengan landasan teori yang dikemukakan diatas maka hipotesis

dari penelitian ini adalah : 2.5.1. Tingkat Kesegaran Jasmani siswa kelas unggulan SD Negeri Tempelan 2 Blora Tahun 2006-2007 kurang dibandingkan dengan kelas biasa. 2.5.2. Tingkat Kesegaran Jasmani siswa kelas biasa SD Negeri Tempelan 2 Blora Tahun 2006-2007 lebih baik dari pada kelas unggulan. 2.5.3. Ada hubungan antara Tingkat Kesegaran Jasmani dan minat terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani pada siswa kelas unggulan SD Negeri Tempelan 2 Blora Tahun 2006-2007 2.5.4. Ada hubungan antara Tingkat Kesegaran Jasmani dan minat terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani pada siswa kelas biasa

SD Negeri Tempelan 2 Blora Tahun 2006-2007

27

BAB III METODE PENELITIAN

Dalam menentukan metode penelitian harus mengikuti langkah-langkah atau prosedur kerja, sehingga dalam pelaksanaannya diperlukan metode-metode tertentu. Penggunaan suatu metode dalam pelaksanaan penelitian harus sesuai dan diarahkan pada tujuan yang akan dicapai. Metode penelitian merupakan syarat pokok dalam sebuah penelitian serta memberikan arah yang cermat dalam mengajukan syarat-syarat yang benar. Maksudnya adalah : untuk menjaga agar pengetahuan yang dicapai dari sebuah penelitian dapat memiliki harga yang ilmiah dengan cukup tinggi. Penggunaan metode penelitian juga harus dipertanggungjawabkan sesuai dengan aturan yang berlaku, yang meliputi populasi, sampel, teknik metode pengumpulan data serta analisis data.

3.1.

Populasi Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Suharsimi Arikunto,

2006:130) dalam penelitian ini yang dijadikan populasi adalah siswa siswi kelas IV, V dan VI SD Negeri Tempelan 2 Blora. Penentuan populasi ini berdasarkan pada keberadaan kelas unggulan itu sendiri. Kelas yang dimiliki oleh kelas unggulan yaitu kelas kelas IV, V dan VI. Jadi populasi yang diambil adalah siswa siswi kelas IV, V dan VI unggulan dan siswa siswi kelas IV, V dan VI biasa dari SD Negeri Tempelan 2 Blora.

28

Adapun alasan peneliti mengambil populasi tersebut adalah : 1. Mereka adalah siswa siswi kelas IV, V dan VI kelas unggulan dan kelas biasa pada SD. Negeri Tempelan 2 Blora. 2. 3. Mereka mempunyai usia yang relatif sama. Karena populasi yang digunakan adalah siswa siswi kelas IV, V dan VI. Maka tes kesegaran jasmani yang digunakan di sesuaikan dengan usia anak kelas tersebut yaitu usia 10 – 12 tahun.

3.2.

Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dinamakan

penelitian sampel apabila kita bermaksud untuk menggeneralisasikan hasil penelitian sampel. Yang dimaksud menggeneralisasikan mengangkat

kesimpulan peneliti sebagai sesusatu yang berlaku bagi populasi (Suharsimi Arikunto 2006:131). Cara pengambilan sampel ini adalah Stratifield Proportional Random Sampling. Cara pengambilan sampel ini merupakan gabungan dari 3 teknik dalam pengambilan sampel yaitu berstrata, proporsi dan acak. Pertama sampel berstrata dilakukan karena adanya perbedaan karakteristik antara strata – strata yang ada, sedangkan perbedaan tersebut akan mempengaruhi variabel. Dalam hal ini adalah kelas IV, V dan VI. Kedua dengan sampel proporsi ditentukan besarnya proporsi yang akan diambil. Hal ini untuk menyempurnakan penggunaan teknik sampel berstrata atau wilayah. Ada kalanya banyaknya subjek yang terdapat pada setiap strata atau setiap wilayah tidak sama. Oleh

29

karena itu, untuk memperoleh sampel yang representatif, pengambilan subjek dari setiap strata atausetiap wilayah ditentukan seimbang atau sebanding dengan banyaknya subjek dalam masing – masing strata atau wilayah (Suharsimi Arikunto, 2006:138). Ketiga, sampel random (acak) ditentukan dengan mengambil sejumlah sampel dari jumlah populasi dari setiap strata dengan cara random.

Total Subyek Penelitian SD Negeri Tempelan 2 Blora

Kelas Unggulan

Kelas Biasa

IV

V

VI

IV

V

VI

Metode Pengambilan Sampel = Stratifield Proportional Random Sampling

Jumlah Sampel = 64 siswa

Jumlah Sampel = 70 siswa

Total Sampel Penelitian = 134 siswa

Gambar 1. Sistematika Pengambilan Sampel Penelitian (Sumber : Dokumen Peneliti)

30

Cara random yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : 1. Buat daftar yang berisi semua nama subyek. 2. Tulis nomor masing–masing individu dalam kertas kecil. 3. Gulung kertas tersebut sehingga nomor tidak kelihatan. 4. Masukkan gulungan kertas tersebut kedalam tempolong. 5. Lalu kocok tempolong tersebut. 6. Ambil gulungan kertas sejumlah prosentase sampel. 7. Catat nama siswa yang terpilih sebagai sampel. 8. Pemilihan dilakukan pada masing-masing populasi. Menurut Suharsimi Arikunto (2006:134) “Apabila subyek penelitian jumlahnya kurang dari seratus, maka dalam menentukan besarnya sampel lebih baik diambil semua sebagai anggota sampel, sehingga penelitian merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subyeknya besar dapat diambil 10 – 15% atau 20 – 25% atau lebih”. Dalam penentuan sampel ini diambil 50% dari masing – masing populasi (strata). Jadi sampel dari penelitian ini adalah sebagai berikut : Jumlah siswa kelas IV, V dan VI Unggulan 128 siswa, dan yang di gunakan sebagai sampel, yaitu 50 % x 128 siswa = 64 dibulatkan menjadi 64 siswa. Jumlah siswa kelas IV, V dan VI Biasa 140 siswa, dan yang digunakan sebagai sampel, yaitu 50 % x 140 siswa = 70 dibulatkan menjadi 70 siswa. Jadi jumlah sampel seluruhnya adalah 134 siswa.

31

3.3.

Variabel Penelitian Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian

suatu penelitian (Suharsimi Arikunto, 2006:118). Untuk penelitian ini menggunakan variabel interval. Variabel interval yaitu variabel yang memiliki jarak, jika dibandingkan dengan variabel lain, sedangkan jarak itu sendiri dapat diketahui dengan pasti. Jarak yang dimaksud adalah hubungan tingkat kesegaran jasmani dan minat terhadap mata pelajaran pendidikan jasmani pada siswa kelas unggulan dan kelas biasa SD Negeri Tempelan 2 Blora.

3.4.

Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data menggunakan metode tes dan angket. Metode

tes yang digunakan untuk mencari data kesegaran jasmani, siswa dengan melakukan tes ketrampilan. Setelah diketahui jumlah sampel yang akan diteliti untuk penelitian, maka langkah berikutnya melakukan tes Tingkat Kesegaran Jasmani. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Tes Kesegaran Jasmani Indonesia (TKJI) untuk anak usia 10–12 tahun. Sedangkan untuk mengetahui seberapa besar minat siswa adalah dengan membagikan angket (kuesioner) kepada sampel yang sama.

3.5.

Instrumen Penelitian

3.5.1. Tes Kesegaran Jasmani Tes menggunakan tes terstandar yaitu : Tes Kesegaran Jasmani Indonesia yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat

32

Kesegaran Jasmani tahun 1995. Tes Kesegaran Jasmani Indonesia untuk usia 10 – 12 tahun. Tes yang akan diberikan antara lain : lari 40 meter, gantung siku tekuk, baring duduk (30 detik), loncat tegak dan lari 600 meter. Hasil yang akan dicatat adalah : 1. Lari 40 meter Hasil waktu yang dicapai oleh pelari dengan jarak tempuh 40 meter dalam satuan detik. 2. Gantung siku tekuk Hasilnya waktu yang dicapai peserta dalam mempertahankan sikap gantung siku tekuk dalam satuan detik. 3. Baring duduk ( sit up ) 30 detik Hasilnya banyaknya jumlah gerakan baring duduk ( sit up ) yang dapat dilakukan dengan sempurna selama 30 detik. 4. Loncat tegak Hasil yang diambil adalah selisih antara raihan loncatan dikurangi raihan tegak.peserta melakukan 3 kali loncatan dan selisih terbesar yang diambil. 5. Lari 600 meter Hasilnya waktu yang ditempuh peserta dengan jarak 600 meter dalam satuan menit dan detik. 3.5.1.1.Petunjuk umum Peserta a. Tes ini memerlukan banyak tenaga, oleh sebab itu peserta harus benarbenar dalam keadaan siap untuk melaksanakan tes.

33

b. c. d. e.

Diharapkan sudah makan, sedikitnya 2 (dua) jam sebelumnya melakukan. Disarankan memakai pakaian olahraga dan bersepatu olahraga. Hendaknya mengerti dan memahami cara pelaksanaan tes. Diharapkan melakukan pemanasan (warming up) lebih dahulu sebelum melakukan tes.

f.

Jika tidak dapat melakukan satu jenis tes atau lebih dinyatakan gagal/tidak dapat nilai. Petugas

a.

Harap memberikan pemanasan lebih dahulu.Memberikan kesempatan pada peserta untuk mencoba gerakan-gerakan.

b.

Harap memperhatikan perpindahan pelaksanaan butir tes satu ke butir tes berikutnya secepat mungkin.

c. d.

Harap memberikan nomor dada yang jelas mudah dilihat oleh petugas. Bagi peserta yang tidak dapat melakukan satu butir tes/lebih tidak diberi nilai.

e.

Untuk mencatat hasil tes dapat menggunakan formulir tes perorangan atau gabungan.

3.5.1.2.Petunjuk Pelaksanaan Tes Kesegaran Jasmani Lari 40 meter a. Tujuan Tes ini bertujuan untuk mengukur kecepatan.

34

b.

Alat dan fasilitas 1. Lintasan lurus, datar, rata, tidak licin, berjarak 40 meter, dan masih masih mempunyai lintasan lanjutan. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Bendera start. Peluit. Stopwatch. Nomor Dada Serbuk kapur Formulir Tes Alat tulis.

c.

Petugas tes 1. 2. Juru keberangkatan. Pengukur waktu merangkap pencatat hasil.

d.

Pelaksanaan 1. Sikap permulaan. Peserta berdiri di belakang garis start. 2. Gerakan Pada aba-aba “bersedia” peserta menempatkan diri start jongkok di belakang garis start. Pada aba-aba “siap” peserta mengambil sikap siap untuk lari. Pada aba-aba “ya” peserta lari secepat mungkin menuju garis finish, menempuh jarak 40 meter. Lari masih bisa diulang apabila : - Pelari mencuri start.

35

- Pelari tidak melewati garis finish. - Pelari terganggu oleh pelari yang lain. Pengukuran waktu dilakukan saat bendera diangkat sampai pelari tepat melintas garis finish.

Tes Gantung Siku Tekuk. a. Tujuan Tes ini bertujuan untuk mengukur kekuatan dan ketahanan otot lengan dan otot bahu. b. Alat dan fasilitas 1. 2. 3. 4. 5. c. Palang tunggal yang dapat diturunkan dan dinaikan. Stopwatch. Formulir tes dan alat tulis Nomor dada. Serbuk kapur atau magnesium karbonat.

Petugas tes Pengukur waktu merangkap pencatat hasil.

d.

Pelaksanaan Palang tunggal dipasang dengan ketinggian sedikit di atas kepala peserta. 1. Sikap permulaan Peserta berdiri di bawah palang tunggal, kedua tangan berpegangan pada palang tunggal selebar bahu. Pegangan telapak tangan menghadap ke arah letak kepala.

36

2.

Gerakan Dengan bantuan tolakan kedua kaki, peserta melompat ke atas

sampai mencapai sikap bergantung siku tekuk, dagu berada di atas palang tunggal. sikap tersebut dipertahankan selama mungkin. e. Pencatatan hasil Hasil yang dicatat adalah waktu yang di capai oleh peserta untuk mempertahankan sikap tersebut di atas, dalam satuan waktu detik.

Baring Duduk 30 Detik a. Tujuan Tes ini bertujuan untuk mengukur kekuatan dan ketahanan otot perut. b. Alat dan fasilitas 1. Lantai/lapangan rumput yang rata dan bersih. 2. Stopwatch. 3. Nomor dada. 4. Formulir Tes dan Alat tulis. 5. Dan lain-lain. c. Petugas tes. 1. Pengamat waktu. 2. Penghitung gerakan merangkap pencatat hasil. d. Pelaksanaan. 1. Sikap permulaan.

37

Berbaring terlentang di lantai atau rumput, kedua lutut ditekuk dengan sudut 90 derajat, kedua tangan jari-jarinya berselang selip diletakan di belakang kepala. Petugas atau peserta lain memegang atau menekan kedua pergelangan kaki agar tidak terangkat. 2. Gerakan. Pada aba-aba “ya” peserta bergerak mengambil sikap duduk, sampai kedua sikunya menyentuh kedua paha, kemudian kembali ke sikap permulaan. Gerakan ini dilakukan berulang-ulang dengan cepat tanpa istirahat (selama 30 detik). Catatan : (1) Gerakan tidak dihitung jika tangan terlepas, sehingga jarijarinya tidak terjalin lagi. (2) Kedua siku tidak sampai menyentuh paha. (3) Mempergunakan sikinya untuk membantu menolak tubuh. e. Pencatatan hasil 1. Hasil yang dihitung dan dicatat adalah jumlah gerakan baring duduk yang dapat dilakukan dengan sempurna selama 30 detik. 2. Peserta yang tidak mampu melakukan tes baring duduk ini, hasilnya ditulis dengan angka 0 (nol).

38

Loncat Tegak. a. Tujuan. Tes ini bertujuan untuk mengukur tenaga eksplosif. b. Alat dan fasilitas. 1. Papan berskala senti meter, warna gelap, berukuran 30 x 150 cm, dipasang pada dinding atau tiang. Jarak antara lantai dengan angka 0 (nol) pada skala yaitu, 100 cm. 2. 3. 4. 5. 6. c. Serbuk kapur. Alat penghapus. Nomor dada Formulir tes. Alat tulis.

Petugas tes. Pengamat dan pencatat hasil.

d.

Pelaksanaan. 1. Sikap permulaan. Terlebih dahulu ujung jari tangan peserta diolesi dengan serbuk kapur atau magnesium karbonat. Peserta berdiri tegak dekat dinding, kaki rapat, papan skala berada di samping kiri atau kanannya. Kemudian tangan yang dekat dinding diangkat lurus ke atas telapak tangan di tempelkan pada papan berskala, sehingga meninggalkan bekas raihan jarinya.

39

2.

Gerakan. Peserta mengambil awalan dengan sikap menekukan lutut dan kedua lengan diayun ke belakang. Kemudian peserta meloncat setinggi mungkin sambil menepuk papan dengan tangan yang terdekat sehingga menimbulkan bekas. Ulangi loncatan ini sampai 3 kali berturut-turut.

e.

Pencatatan hasil. 1. 2. Selisih raihan loncatan dikurangi raihan tegak. Ketiga selisih raihan dicatat.

Lari 600 meter a. Tujuan. Tes ini bertujuan untuk mengukur daya tahan jantung, peredaran darah dan pernafasan. b. Alat dan fasilitas. 1. Lintasan lari berjarak 600 meter. 2. Stopwatch. 3. Bendera start. 4. Peluit. 5. Tiang pancang. 6. Nomor dada. 7. Formulir tes. 8. Alat tulis.

40

c.

Petugas tes. 1. Juru keberangkatan. 2. Pengukur waktu. 3. Pencatat hasil. 4. Pembantu umum.

d.

Pelaksanaan. 1. Sikap permulaan. Peserta berdiri di belakang garis start. 2. Gerakan. Pada aba-aba “SIAP” peserta mengambil sikap start berdiri, siap untuk berlari. Pada aba-aba “YA” peserta berlari menuju garis finish, menempuh jarak 600 meter.

e.

Pencatatan hasil. 1. Pengambilan waktu dilakukan dari saat bendera diangkat sampai pelari melintasi garis finish. 2. Hasil yang dicatat adalah waktu yang dicapai oleh pelari untuk menempuh jarak 600 meter. Waktu dicatat dalam satuan menit dan detik.

41

Untuk menentukan tingkat kesegaran jasmani, ikuti langkah – langkah berikut : 1. Jumlahkan nilai kelima butir tes ( I s/d V ) 2. Cocokkan hasil penjumlahan nilai tersebut dengan Norma Tes Kesegaran Jasmani Indonesia. Tabel 2 Tes Kesegaran Jasmani Indonesia Untuk Anak Usia 10 -12 Tahun Putra Lari 40 Gantung Baring Loncat tegak ( cm ) meter siku tekuk ( duduk 30 detik detik ) Sd – 6.3” 51” keatas 23 keatas 46 6.4” – 7.5” 7.6” – 8.3” 8.4” – 9.6’ 9.7” - dst 31”- 50” 15” - 30” 5” - 14” 4” - dst 18 - 22 12 - 17 4 - 11 0-3 38-45 31-37 24-30 23-dst

Nilai 5 4 3 2 1

Lari 600 meter Sd - 2’09” 2’10” -2’30” 2’31”- 2’45” 2’46”- 3’44” 3’45” - dst

( Depdikbud, 1995)

Tabel 3 Tes Kesegaran Jasmani Indonesia Untuk Anak Usia 10 –12 Tahun Putri Gantung Baring Loncat tegak siku tekuk ( duduk 30 ( cm ) detik ) detik 40” ke atas 20 ke atas 42 ke atas 20” – 39” 8” – 19” 2” – 7” 0” – 1” 14 - 19 7 - 13 2-6 0-1 34 - 41 28 - 33 21 - 27 20 - dst

Nilai 5 4 3 2 1

Lari 40 meter Sd - 6.7” 6.8” - 7.5” 7.6” - 8.3” 8.4” - 9.6” 9.7” - dst

Lari 600 meter Sd - 2’32 2’33” - 2’54” 2’55” – 3’28” 3’29” - 4’22” 4’23” - dst

( Depdikbud, 1995 )

42

Tabel 4 Norma Tes Kesegaran Jasmani Indonesia No 1. 2. 3. 4. 5. ( Depdikbud, 1995 ) Jumlah nilai 22 - 25 18 - 21 14 - 17 10 - 13 5 - 9 Baik Sekali Baik Sedang Kurang Kurang sekali Klasifikasi (BS) (B) (S) (K) (KS)

3.5.2. Pengumpulan Data Minat Siswa 3.5.2.1. Menyusun Angket Angket memiliki keuntungan dan kelemahan sebagai alat pengumpul data dalam suatu penelitian. Keuntungan angket adalah tidak memerlukan hadirnya peneliti, dapat dibagikan secara serentak kepada responden, dapat dijawab oleh responden menurut kecepatannya masing-masing menurut waktu senggang mereka, sehingga responden bebas jujur dalam memberikan jawaban. Sedangkan kelemahan angket adalah responden sering tidak teliti dalam menjawab sehingga ada pertanyaan yang terlewati tidak terjawab. Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket langsung karena angket tersebut diberikan langsung kepada responden yang ingin diminta keterangannya. Adapun isi angket terdiri dari bentuk pilihan. Bentuk pilihan dimaksudkan untuk memudahkan responden dalam memberikan jawaban. Adapun jumlah item pertanyaan yang diajukan dalam angket ini sebanyak 26 butir. Adapun kisi-kisi instrumen yang terrangkum didalamnya dapat dilihat di table di bawah ini.

43

Tabel 5 Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Konsep Variable Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. (Slameto, 2003:180) • • • • • • • Aspek 1. Intern • Indikator Kemampuan (inteligensi) Siswa Perhatiian Siswa Sikap (attitude) Siswa Bakat Siswa Motivasi Siswa Faktor Keluarga Faktor Sekolah Faktor Masyarakat

2. Ekstern

3.5.2.2.Validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument (Suharsimi Arikunto, 2006:168). Sebuah instrument dikatakan valid apabila dapat mengungkapkan data dari variable yang diteliti secara tepat. Validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur itu mengukur apa yang diukur. Sekiranya peneliti menggunakan kuesioner di dalam pengumpulan data penelitian, maka kuesioner yang disusunnya hanya mencakup apa yang ingin diukurnya. M. Singarimbun (1998:124) mengatakan validitas sebagai alat pengumpulan data digolongkan menjadi beberapa jenis, salah satunya adalah validitas isi (content validity).

44

Validitas isi suatu alat ukur ditentukan oleh sejauh mana isi alat pengukur tersebut mewakili semua aspek yang dianggap sebagai aspek kerangka konsep. Alat pengukur atau kuesioner yang disusun sudah bisa mewakili semua aspek yang akan diteliti, memiliki validitas isi yang tinggi. Tinggi rendahnya suatu validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran variable yang dimaksud. Untuk memperoleh variable yang valid, peneliti harus berhati-hati dalam penyusunannya. Suatu instrument dikatakan valid apabila dapat mengungkap data variable yang diteliti secara tepat (Suharsimi Arikunto, 2002:136). Validitas soal ditentukan dengan menggunakan teknik korelasi product moment angka kasar :

r
xy=

∑XY−(∑X )(∑Y ) {N∑X 2 −(∑X )2 }{N∑Y2 −(∑Y)2 }
N

Keterangan :

rxy
X Y N

= koefisien korelasi = skor butir = skor total = jumlah subyek

(Suharsimi Arikunto, 2002:243)

45

Berdasarkan uji validitas angket penelitian pada lampiran diperoleh hasil seperti terangkum pada table berikut : Tabel 6 Rekapitulasi Hasil Uji Coba Angket Penelitian
No

rxy
0.300 0.143 0.327 0.346 0.330 0.273 0.482 0.386 -0.064 0.422 0.372 0.347 0.507 0.282 0.349 0.507 0.234

rtabel
0.254 0.254 0.254 0.254 0.254 0.254 0.254 0.254 0.254 0.254 0.254 0.254 0.254 0.254 0.254 0.254 0.254

Keterangan

No

rxy
0.526 0.300 0.207 0.297 0.278 0.141 0.332 0.319 0.218 0.265 0.428 0.407 0.154 0.294 0.186 0.373 0.460

rtabel
0.254 0.254 0.254 0.254 0.254 0.254 0.254 0.254 0.254 0.254 0.254 0.254 0.254 0.254 0.254 0.254 0.254

Keterangan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Valid Invalid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Invalid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Invalid

18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34

Valid Valid Invalid Valid Valid Invalid Valid Valid Invalid Valid Valid Valid Invalid Valid Invalid Valid Valid

Berdasarkan hasil uji coba angket pada table diatas menunjukkan bahwa dari 34 butir pertanyaan yang diuji cobakan terdapat 26 butir angket yang valid karena memiliki harga rxy > r
table

= 0,254 untuk α = 5% dengan, N = 60 dan
table

terdapat 8 butir angket yang tidak valid karena memiliki harga rxy < r

=

0,254 untuk α = 5% dengan N = 60. Selanjutnya 26 butir soal yang Valid

46

tersebut

disusun

kembali

penomorannya

dan

dapat

digunakan

untuk

pengambilan data penelitian. 3.5.2.3.Reliabilitas Reliabilitas adalah suatu ketetapan suatu tes apabila diteskan kepada subyek yang sama, untuk mengetahui ini pada dasarnya dilihat kesejajaran hasil (Suharsimi Arikunto, 2006:178). Sedangkan M. Singarimbun, 1989:140 mengatakan bahwa Reliabilitas adalah indek yang menentukan sejauh mana suatu alat pengukur yang dapat dipercaya atau diandalkan. Jika suatu alat pengukur dipakai dua kali untuk mengukur gejala yang sama dan hasil pengukuran yang diperoleh relative konsisten, maka alat pengukur tersebut reliabel. Dengan kata lain reliabilitas yang sama, setiap alat pengukur seharusnya memiliki kemampuan untuk memberikan hasil penelitian yang konsisten. Ada dua jenis reliabilitas yaitu reliabilitas eksternal dan reliabilitas internal. Reliabilitas eksternal diperoleh dengan cara mengolah hasil pengetesan yang berbeda. Baik dari instrument yang berbeda maupun yang sama. Sedangkan reliabilitas internal diperoleh dengan cara menganalisis data dari satu kali pengetesan. Ada dua cara untuk menguji reliabilitas eksternal yaitu teknik paralel dengan dua stel instrument diujikan pada sekelompok responden hasilnya dikorelasikan. Dan yang kedua adalah teknik ulang dengan data perangkat instrument diujikan pada sekelompok responden dua kali pada waktu yang berbeda kemudian hasil keduanya dikorelasikan. Untuk mengetahui reliabilitas

47

internal ada bermacam-macam cara. Namun dalam penelitian ini menggunakan rumus K – R 21

⎛ k ⎞ ⎛ M (k − M ) ⎞ ⎟ r11 = ⎜ ⎟ ⎜1 − ⎟ k −1⎠ ⎜ k.Vt ⎝ ⎝ ⎠
Keterangan :

r11
k M Vt

= Reliabilitas Instrumen = Banyaknya butir pertanyaan = Skor Rata-Rata = Varian Total

Hasil perhitungan reliabilitas instrument diperoleh r11 = 0,667. karena harga koefisien reliabilitas yang diperoleh lebih besar dari pada harga kritiknya, r11 (0,667) > rtabel (0,254), maka dari perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa angket tersebut layak untuk digunakan atau reliabilitasnya tinggi.

3.6.

Teknik Analisis Data Untuk memperoleh suatu kesimpulan masalah yang diteliti, maka analisis

data merupakan suatu langkah yang penting dalam penelitian. Data yang sudah terkumpul tidak berarti apa-apa jika tidak diolah, karena itu perlu analisis data tersebut. Dalam penggunaan analisis data dapat dilaksanakan dengan dua jenis analisis yaitu analisis statistik dan analisis non statistik. Dalam penelitian seorang peneliti dapat memakai salah satu dari analisis tersebut. Dalam data ini

48

karena terkumpul berupa angka-angka maka penulis menggunakan analisis statistik. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutrisno Hadi (1987:221) yang mengatakan “Cara-cara ilmiah yang dipersiapkan untuk mengumpulkan data dengan menganalisa data penyelidikan yang terwujud angka-angka adalah teknik statistik”. Penelitian ini menghasilkan 2 buah variabel yang akan dicari hubungannya, setiap variabel biasanya diberi kode variabel X dan variabel Y. Dalam statistik, teknik yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua buah variabel adalah dengan menggunakan teknik koefisien korelasi. Adapun rumus koefisien korelasi adalah :

r

∑ (∑X)(∑Y) xy = {N∑X2−(∑X)2}{N∑Y2−(∑Y)2}
N XY −

Keterangan :

rxy
X Y N

= koefisien korelasi = skor angket tminat = skor tes kesegaran jasmani = jumlah subjek

49

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1.

Hasil Penelitian

4.1.1. Deskripsi Data Hasil Tes Kesegaran Jasmani Dalam pengambilan data penelitian yang dilakukan di SD Negeri Tempelan 2 Kecamatan Blora Kabupaten Blora Tahun 2006-2007 kelas IV, V dan VI antara usia 10 s/d 12 tahun dengan jumlah sampel keseluruhan 134 siswa. Kelas yang dijadikan sampel dalam penelitian ini antara lain kelas IV, V dan VI Unggulan 64 siswa dan kelas IV, V dan VI Biasa 70 siswa. Beberapa analisis data hasil penelitian yang akan dijelaskan dalam penelitian ini meliputi lima item tes yang dinilai dalam variabel penelitian. Hasil data dari kelima item tes tersebut di peroleh dari sekolah SD Negeri Tempelan 2 Blora Tahun 2006-2007 kelas IV, V,VI Unggulan dan Biasa antara usia 10 s/d 12 tahun. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel dan grafik di bawah ini. 4.1.1.1.Hasil Tes Kesegaran Jasmani Kelas IV, V, dan VI Unggulan a. Lari 40 meter Berdasarkan hasil perhitungan pada tes lari 40 meter di ketahui bahwa terdapat 7 siswa dengan hasil “Kurang Sekali”, 25 siswa dengan hasil “Kurang”, 27 siswa dengan hasil “Sedang”, 3 siswa dengan hasil “Baik” dan 2 siswa dengan hasil “Baik Sekali” .

50

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 7 Analisis Deskriptif Persentase Tes Lari 40 Meter Kelas IV, V, dan VI Unggulan SD Negeri Tempelan 2 Blora Klasifikasi Sangat Baik Baik Sedang Kurang Kurang Sekali Jumlah Frekuensi 2 3 27 25 7 64 Persentase (%) 3% 5% 42% 39% 11% 100%

Hasil tersebut diatas jika dipersentasekan maka 11% siswa memperoleh hasil “Kurang Sekali”, 39% siswa memperoleh hasil “Kurang”, 42% siswa memperoleh hasil “Sedang”, 5% siswa memperoleh hasil “Baik”, 3% siswa memperoleh hasil “Baik Sekali”. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut : Gambar 2 Grafik Analisis Deskriptif Persentase Tes Lari 40 Meter Kelas IV, V, dan VI Unggulan SD Negeri Tempelan 2 Blora

Lari 40 Meter
Sangat Kurang Kurang Sedang 42% 39% Baik Baik Sekali

5% 3%

11%

51

b. Gantung Siku Tekuk Berdasarkan hasil perhitungan pada tes gantung siku tekuk di ketahui bahwa terdapat 11 siswa dengan hasil “Kurang Sekali”, 5 siswa dengan hasil “Kurang”, 22 siswa dengan hasil “Sedang”, 15 siswa dengan hasil “Baik” dan 11 siswa dengan hasil “Baik Sekali” . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 8 Analisis Deskriptif Persentase Tes Gantung Siku Tekuk Kelas IV, V, dan VI Unggulan SD Negeri Tempelan 2 Blora Klasifikasi Sangat Baik Baik Sedang Kurang Kurang Sekali Jumlah Frekuensi 11 15 22 5 11 64 Persentase (%) 17% 23% 35% 8% 17% 100%

Hasil tersebut diatas jika dipersentasekan maka 17% siswa memperoleh hasil “Kurang Sekali”, 8% siswa memperoleh hasil “Kurang”, 35% siswa memperoleh hasil “Sedang”, 23% siswa memperoleh hasil “Baik”, 17% siswa memperoleh hasil “Baik Sekali”.

52

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut : Gambar 3 Grafik Analisis Deskriptif Persentase Tes Gantung Siku Tekuk Kelas IV, V, dan VI Unggulan SD Negeri Tempelan 2 Blora
Gantung Siku
Sangat Kurang 8% 23% 35% Kurang Sedang Baik Baik Sekali

17%

17%

c. Baring Duduk (30 detik) Berdasarkan hasil perhitungan pada tes baring duduk (30 detik) di ketahui bahwa terdapat 4 siswa dengan hasil “Kurang Sekali”, 3 siswa dengan hasil “Kurang”, 17 siswa dengan hasil “Sedang”, 37 siswa dengan hasil “Baik” dan 3 siswa dengan hasil “Sangat Baik” . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 9 Analisis Deskriptif Persentase Tes Baring Duduk (30 detik) Kelas IV, V, dan VI Unggulan SD Negeri Tempelan 2 Blora Klasifikasi Sangat Baik Baik Sedang Kurang Kurang Sekali Jumlah Frekuensi 3 37 17 3 4 64 Persentase (%) 5% 57% 27% 5% 6% 100%

53

Hasil tersebut diatas jika dipersentasekan maka 6% siswa memperoleh hasil “Kurang Sekali”, 5% siswa memperoleh hasil “Kurang”, 27% siswa memperoleh hasil “Sedang”, 57% siswa memperoleh hasil “Baik”, 5% siswa memperoleh hasil “Baik Sekali”. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut : Gambar 4 Grafik Analisis Deskriptif Persentase Tes Baring Duduk (30 detik) Kelas IV, V, dan VI Unggulan SD Negeri Tempelan 2 Blora

Baring Duduk (30 detik)
6% 5% 27% 57% Sangat Kurang Kurang Sedang Baik Baik Sekali

5%

d. Loncat Tegak Berdasarkan hasil perhitungan pada tes loncat tegak di ketahui bahwa terdapat 11 siswa dengan hasil “Kurang Sekali”, 20 siswa dengan hasil “Kurang”, 26 siswa dengan hasil “Sedang”, 6 siswa dengan hasil “Baik” dan 1 siswa dengan hasil “Sangat Baik” .

54

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 10 Analisis Deskriptif Persentase Tes Loncat Tegak Kelas IV, V, dan VI Unggulan SD Negeri Tempelan 2 Blora Klasifikasi Sangat Baik Baik Sedang Kurang Kurang Sekali Jumlah Frekuensi 1 6 26 20 11 64 Persentase (%) 2% 9% 41% 31% 17% 100%

Hasil tersebut diatas jika dipersentasekan maka 17% siswa memperoleh hasil “Kurang Sekali”, 31% siswa memperoleh hasil “Kurang”, 41% siswa memperoleh hasil “Sedang”, 9% siswa memperoleh hasil “Baik”, 2% siswa memperoleh hasil “Baik Sekali”. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram berikut : Gambar 5 Grafik Analisis Deskriptif Persentase Loncat Tegak Kelas IV, V, dan VI Unggulan SD Negeri Tempelan 2 Blora

Loncat Tegak
Sangat Kurang Kurang Sedang 41% 31% Baik Baik Sekali

9%

2%

17%

55

e. Lari 600 Meter Berdasarkan hasil perhitungan pada tes lari 600 meter di ketahui bahwa terdapat 6 siswa dengan hasil “Kurang Sekali”, 31 siswa dengan hasil “Kurang”, 14 siswa dengan hasil “Sedang”, 13 siswa dengan hasil “Baik” dan tidak ada siswa dengan hasil “Sangat Baik” . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 11 Analisis Deskriptif Persentase Tes Lari 600 Meter Kelas IV, V, dan VI Unggulan SD Negeri Tempelan 2 Blora Klasifikasi Sangat Baik Baik Sedang Kurang Kurang Sekali Jumlah Frekuensi 13 14 31 6 64 Persentase (%) 0 20% 22% 49% 9% 100%

Hasil tersebut diatas jika dipersentasekan maka 9% siswa memperoleh hasil “Kurang Sekali”, 49% siswa memperoleh hasil “Kurang”, 22% siswa memperoleh hasil “Sedang”, 20% siswa memperoleh hasil “Baik”, 0% siswa memperoleh hasil “Baik Sekali”.

56

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram berikut : Gambar 6 Grafik Analisis Deskriptif Persentase Tes Lari 600 meter Kelas IV, V, dan VI Unggulan SD Negeri Tempelan 2 Blora

Lari 600 Meter
Sangat Kurang Kurang Sedang 22% 49% Baik Baik Sekali

20%

0% 9%

Adapun analisis deskriptif persentase Tes Kesegaran Jasmani Siswa kelas IV. V dan VI Unggulan SD Negeri Tempelan 2 Blora secara keseluruhan lebih jelasnya dapat dilihat dari table dan grafik di bawah ini. Tabel 12 Analisis Deskriptif Persentase Tes Kesegaran Jasmani Siswa Kelas IV. V dan VI Unggulan SD Negeri Tempelan 2 Blora Jumlah Nilai 22 – 25 18 – 21 14 - 17 10 – 13 5-9 Klasifikasi Baik Sekali (BS) Baik (B) Sedang (S) Kurang (K) Kurang Sekali (KS) Frekuensi Persentase (%) 10 29 17 8 0% 16% 44% 27% 13%

57

Dilihat dari table diatas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Tingkat kesegaran jasmani siswa kelas IV, V dan VI Unggulan SD Negeri Tempelan 2 Blora dalam kategori Baik Sekali tidak ada. 2. Tingkat kesegaran jasmani siswa kelas IV, V dan VI Unggulan SD Negeri Tempelan 2 Blora dalam kategori Baik adalah 10 siswa, berarti 16% dari 64 siswa kelas unggulan. 3. Tingkat kesegaran jasmani siswa kelas IV, V dan VI Unggulan SD Negeri Tempelan 2 Blora dalam kategori Sedang adalah 29 siswa, berarti 44% dari 64 siswa kelas unggulan. 4. Tingkat kesegaran jasmani siswa kelas IV, V dan VI Unggulan SD Negeri Tempelan 2 Blora dalam kategori Kurang adalah 17 siswa, berarti 27% dari 64 siswa kelas unggulan. 5. Tingkat kesegaran jasmani siswa kelas IV, V dan VI Unggulan SD Negeri Tempelan 2 Blora dalam kategori Kurang Sekali adalah 8 siswa, berarti 13% dari 64 siswa kelas unggulan. Gambar 7

Grafik Analisis Deskriptif Persentase Tes Kesegaran Jasmani Kelas Unggulan
13% 0% 27% 44% 16% Baik Sekali baik Sedag Kurang Kurang Sekali

58

4.1.1.2.Hasil Tes Kesegaran Jasmani Kelas IV, V, dan VI Biasa a. Lari 40 Meter Berdasarkan hasil perhitungan pada tes lari 40 meter di ketahui bahwa terdapat 3 siswa dengan hasil “Kurang Sekali”, 26 siswa dengan hasil “Kurang”, 32 siswa dengan hasil “Sedang”, 9 siswa dengan hasil “Baik” dan tidak ada siswa dengan hasil “Baik Sekali” . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 13 Analisis Deskriptif Persentase Tes Lari 40 Meter Siswa Kelas IV. V dan VI Biasa SD Negeri Tempelan 2 Blora Klasifikasi Sangat Baik Baik Sedang Kurang Kurang Sekali Jumlah Frekuensi 9 32 26 3 70 Persentase (%) 0% 13% 46% 37% 4% 100%

Hasil tersebut diatas jika dipersentasekan maka 4% siswa memperoleh hasil “Kurang Sekali”, 37% siswa memperoleh hasil “Kurang”, 46% siswa memperoleh hasil “Sedang”, 13% siswa memperoleh hasil “Baik”, 0% siswa memperoleh hasil “Baik Sekali”.

59

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut : Gambar 8 Grafik Analisis Deskriptif Persentase Tes Lari 40 Meter Kelas IV, V, dan VI Biasa SD Negeri Tempelan 2 Blora

Lari 40 Meter
Sangat Kurang 37% 46% Kurang Sedang Baik Baik Sekali

13%

0% 4%

b. Gantung Siku Tekuk Berdasarkan hasil perhitungan pada tes gantung siku tekuk di ketahui bahwa terdapat 2 siswa dengan hasil “Kurang Sekali”, 13 siswa dengan hasil “Kurang”, 32 siswa dengan hasil “Sedang”, 17 siswa dengan hasil “Baik” dan 6 siswa dengan hasil “Baik Sekali” . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 14 Analisis Deskriptif Persentase Tes Gantung Siku Tekuk Kelas IV, V, dan VI Biasa SD Negeri Tempelan 2 Blora Klasifikasi Sangat Baik Baik Sedang Kurang Kurang Sekali Jumlah Frekuensi 6 17 32 13 2 70 Persentase (%) 9% 24% 45% 19% 3% 100%

60

Hasil tersebut diatas jika dipersentasekan maka 3% siswa memperoleh hasil “Kurang Sekali”, 19% siswa memperoleh hasil “Kurang”, 45% siswa memperoleh hasil “Sedang”, 24% siswa memperoleh hasil “Baik”, 9% siswa memperoleh hasil “Baik Sekali”. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut : Gambar 9 Grafik Analisis Deskriptif Persentase Tes Gantung Siku Tekuk Kelas IV, V, dan VI Biasa SD Negeri Tempelan 2 Blora

Gantung Siku
Sangat Kurang Kurang Sedang Baik 45% Baik Sekali

9% 24%

3%

19%

c. Baring Duduk (30 detik) Berdasarkan hasil perhitungan pada tes baring duduk (30 detik) di ketahui bahwa terdapat tidak ada siswa dengan hasil “Kurang Sekali”, 1 siswa dengan hasil “Kurang”, 23 siswa dengan hasil “Sedang”, 35 siswa dengan hasil “Baik” dan 11 siswa dengan hasil “Sangat Baik” .

61

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 15 Analisis Deskriptif Persentase Tes Baring Duduk (30 detik) Kelas IV, V, dan VI Biasa SD Negeri Tempelan 2 Blora Klasifikasi Sangat Baik Baik Sedang Kurang Kurang Sekali Jumlah Frekuensi 11 35 23 1 70 Persentase (%) 16% 50% 33% 1% 0% 100%

Hasil tersebut diatas jika dipersentasekan maka 0% siswa memperoleh hasil “Kurang Sekali”, 1% siswa memperoleh hasil “Kurang”, 33% siswa memperoleh hasil “Sedang”, 50% siswa memperoleh hasil “Baik”, 16% siswa memperoleh hasil “Baik Sekali”. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut : Gambar 10 Grafik Analisis Deskriptif Persentase Tes Baring Duduk (30 detik) Kelas IV, V, dan VI Biasa SD Negeri Tempelan 2 Blora

Baring Duduk (30 detik)
Sangat Kurang 33% Kurang Sedang 50% Baik Baik Sekali

16%

0% 1%

62

d. Loncat Tegak Berdasarkan hasil perhitungan pada tes loncat tegak di ketahui bahwa terdapat 3 siswa dengan hasil “Kurang Sekali”, 26 siswa dengan hasil “Kurang”, 28 siswa dengan hasil “Sedang”, 12 siswa dengan hasil “Baik” dan 1 siswa dengan hasil “Sangat Baik” . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 16 Analisis Deskriptif Persentase Tes Loncat Tegak Kelas IV, V, dan VI Biasa SD Negeri Tempelan 2 Blora Klasifikasi Sangat Baik Baik Sedang Kurang Kurang Sekali Jumlah Frekuensi 1 12 28 26 3 70 Persentase (%) 1% 17% 41% 37% 4% 100%

Hasil tersebut diatas jika dipersentasekan maka 4% siswa memperoleh hasil “Kurang Sekali”, 37% siswa memperoleh hasil “Kurang”, 41% siswa memperoleh hasil “Sedang”, 17% siswa memperoleh hasil “Baik”, 1% siswa memperoleh hasil “Baik Sekali”.

63

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut : Gambar 11 Grafik Analisis Deskriptif Persentase Tes Loncat Tegak Kelas IV, V, dan VI Biasa SD Negeri Tempelan 2 Blora

Loncat Tegak
Sangat Kurang 37% Kurang Sedang 41% Baik Baik Sekali

17%

1% 4%

e. Lari 600 Meter Berdasarkan hasil perhitungan pada tes lari 600 meter di ketahui bahwa terdapat 5 siswa dengan hasil “Kurang Sekali”, 33 siswa dengan hasil “Kurang”, 23 siswa dengan hasil “Sedang”, 9 siswa dengan hasil “Baik” dan tidak ada siswa dengan hasil “Sangat Baik” . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 17 Analisis Deskriptif Persentase Tes Lari 600 Meter Kelas IV, V, dan VI Biasa SD Negeri Tempelan 2 Blora Klasifikasi Sangat Baik Baik Sedang Kurang Kurang Sekali Jumlah Frekuensi 9 23 33 5 70 Persentase (%) 0% 13% 33% 47% 7% 100%

64

Hasil tersebut diatas jika dipersentasekan maka 7% siswa memperoleh hasil “Kurang Sekali”, 47% siswa memperoleh hasil “Kurang”, 33% siswa memperoleh hasil “Sedang”, 13% siswa memperoleh hasil “Baik”, 0% siswa memperoleh hasil “Baik Sekali”. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram berikut : Gambar 12 Grafik Analisis Deskriptif Persentase Tes Lari 600 meter Kelas IV, V, dan VI Biasa SD Negeri Tempelan 2 Blora

Lari 600 Meter
0% 7% Sangat Kurang Kurang Sedang 33% 47% Baik Baik Sekali

13%

Adapun analisis deskriptif persentase Tes Kesegaran Jasmani siswa kelas IV. V dan VI Biasa SD Negeri Tempelan 2 Blora secara keseluruhan lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel dan grafik di bawah ini. Tabel 18 Analisis Deskriptif Persentase Tes Kesegaran Jasmani Siswa Kelas IV. V dan VI SD Negeri Tempelan 2 Blora Jumlah Nilai 22 – 25 18 – 21 14 – 17 10 – 13 5–9 Klasifikasi Baik Sekali Baik Sedang Kurang Kurang Sekali Frekuensi 10 41 19 Persentase (%) 0% 14% 59% 27% 0%

65

Dlihat dari tabel diatas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1 Tingkat kesegaran jasmani siswa kelas IV, V dan VI SD Negeri Tempelan 2 Blora dalam kategori Baik Sekali tidak ada. 2 Tingkat kesegaran jasmani siswa kelas IV, V dan VI SD Negeri Tempelan 2 Blora dalam kategori Baik adalah 10 siswa 16% 3 Tingkat kesegaran jasmani siswa kelas IV, V dan VI SD Negeri Tempelan 2 Blora dalam kategori Sedang adalah 41 siswa 44% 4 Tingkat kesegaran jasmani siswa kelas IV, V dan VI SD Negeri Tempelan 2 Blora dalam kategori Kurang adalah 19 siswa 27% 5 Tingkat kesegaran jasmani siswa kelas IV, V dan VI SD Negeri Tempelan 2 Blora dalam kategori Kurang Sekali tidak ada. Gambar 13

Grafik Analisis Deskripsi Persentasi Tes Kesegaran Jasmani Kelas Biasa
0% 14% Baik Sekali baik Sedag 59% Kurang Kurang Sekali

27%

4.1.2. Deskripsi Data Minat Siswa Pada bagian ini akan dipaparkan seberapa besar minat siswa terhadap mata pelajaran pendidikan jasmani. Minat siswa tersebut dinilai dari 2 faktor, yaitu: faktor intern yang memiliki indikator antara lain (1) Kemampuan (intelegensi)

66

siswa, (2) Perhatian siswa, (3) Sikap siswa, (4) Bakat siswa, dan (5) Motivasi siswa. Faktor ekstern memiliki indikator antara lain (1) Faktor Keluarga, (2) Faktor sekolah, dan (3) Faktor masyarakat. Minat siswa terhadap mata pelajaran pendidikan jasmani yang dijadikan faktor penelitian, yaitu : kelas IV, V, VI unggulan dan biasa SD Negeri Tempelan 2 Kecamatan Blora. Pengolahan data hasil penelitian dari jawaban yang diperoleh dari responden terhadap pertanyaan-pertanyaan yang tertuang dalam kuesioner minat terhadap mata pelajaran pendidikan jasmani berupa data kuantitatif. Data kuantitatif adalah data yang berupa angka-angka atau bilangan-bilangan. Selanjutnya data yang bersifat kuantitatif tersebut yang berwujud angka-angka hasil perhitungan dari jawaban responden terhadap pertanyaan tentang minat terhadap mata pelajaran pendidikan jasmani, dihitung dengan menggunakan analisis data indikator dengan rumus deskriptif persentase. Hasil persentase tersebut kemudian ditafsirkan dengan kalimat yang bersifat kualitatif.

Dimaksudkan agar mempermudah dalam memahami hasil yang diperoleh.

Tabel 19 Deskripsi Frekuensi Minat Siswa Kelas IV, V dan VI Unggulan SD Negeri Tempelan 2 Blora Terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Ditinjau Dari Setiap Indikator Faktor Intern Indikator Kemampuan (intelegensi) Siswa No Item 1 2 3 Frekuensi Persentase (%) Persentase (%) Per Item Per Indikator 36 56,25 % 58 26 90,63 % 40,63 % 62,5%

67

Perhatian Siswa

4 5 6 7 8 9

59 54 26 59 64 37 49 63 36 48 54 50 46 58 44 25 32 24 33 50 64 50 54

92,19 % 84,38 % 40,63 % 92,19 % 100 % 57,81 % 76,56 % 98,44 % 56,25 % 75 % 84,38 % 78,13 % 71,18 % 90,63 % 68,75 % 39,06 % 50 % 37,5 % 51,56 % 78,13 % 100 % 78,13 % 84,38% 81,25% 76,56% 42,19% 79,68% 75% 78,13% 77,86%

Sikap (attitude) Siswa

10 11 12 13 14

Bakat Siswa Motivasi Siswa Ekstern Faktor Keluarga

15 16 17 18 19 20 21

Faktor Sekolah

22 23 24

Faktor Masyarakat

25 26

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa minat siswa kelas IV, V dan VI Unggulan SD Negeri Tempelan 2 Blora terhadap mata pelajaran pendidikan jasmani didasarkan pada faktor intern yang memiliki indikator kemampuan (intelegensi) siswa terbukti terdapat 62,5% siswa, perhatian siswa terbukti 77,86% siswa, sikap (attitude) siswa 78,13% siswa, bakat siswa 75%

68

siswa, dan motivasi siswa 79,68% siswa. Sedangkan dari faktor ekstern yang terdiri dari faktor keluarga dapat dilihat terdapat 42,19% siswa, faktor sekolah terdapat 76,56% siswa, dan faktor masyarakat 81,25% siswa. Tabel 20 Deskripsi Frekuensi Minat Siswa Kelas IV, V dan VI Biasa SD Negeri Tempelan 2 Blora Terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Ditinjau Dari Setiap Indikator Faktor Intern Indikator Kemampuan (intelegensi) Siswa Perhatian Siswa No Item 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sikap (attitude) Siswa 10 11 12 13 14 Bakat Siswa Motivasi Siswa Ekstern Faktor Keluarga 15 16 17 18 19 20 Frekuensi 56 56 36 65 57 45 67 64 39 58 63 58 54 66 63 58 56 65 32 55 Persentase (%) Per Item 80 % 80 % 51,43 % 92,86 % 81,43 % 64,29 % 95,71 % 91,43 % 55,71 % 82,86 % 92,86 % 82,86 % 83,14 % 94,29 % 90 % 82,86 % 80 % 92,86 % 45,71 % 78,51 % 57,14% 86,43% 86,43% 85,45% 80,24% Persentase (%) Per Indikator 70,48%

69

21 Faktor Sekolah 22 23 24 Faktor Masyarakat 25 26

33 39 48 57 39 50

47,14 % 55,21 % 68,57 % 81,43 % 55,71 % 71,43 % 63,57% 68,57%

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa minat siswa kelas IV, V dan VI Unggulan SD Negeri Tempelan 2 Blora terhadap mata pelajaran pendidikan jasmani didasarkan pada faktor intern yang memiliki indikator kemampuan (intelegensi) siswa terbukti terdapat 70,48% siswa, perhatian siswa terbukti 80,24% siswa, sikap (attitude) siswa 85,45% siswa, bakat siswa 86,43% siswa, dan motivasi siswa 86,43% siswa. Sedangkan dari faktor ekstern yang terdiri dari faktor keluarga dapat dilihat terdapat 57,14% siswa, faktor sekolah terdapat 68,57% siswa, dan faktor masyarakat terdapat 63,57% siswa.

4.1.3. Hubungan Tingkat Kesegaran Jasmani dan Minat Terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Kelas IV, V dan VI Unggulan SD Negeri Tempelan 2 Blora Sebagaimana dinyatakan dalam BAB II hipotesis kerja yang akan dibuktikan kebenarannya dalam penelitian ini adalah “Ada hubungan antara tingkat kesegaran jasmani dan minat terhadap mata pelajaran pendidikan jasmani pada siswa kelas unggulan SD Negeri Tempelan 2 Kecamatan Blora Kabupaten Blora Tahun 2006-2007”.

70

Untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini maka digunakan analisis koefisien korelasi dan determinasi. Hasil uji hipotesis tersebut dapat dilihat setelah dimasukkan kedalam rumus koefisien korelasi. yang berdasarkan tabel persiapan analisis korelasi di peroleh : N = X = Y = 64 1199 907 ∑X2 ∑Y2 ∑XY = = = 22815 13737 17277

Dimasukkan dalam rumus koefisien korelasi :

r
xy =

∑ XY − (∑ X )(∑ Y ) {N ∑ X 2 −(∑ X )2 }{N ∑Y 2 −(∑Y )2 }
N

=

{64 (22815
(1460160

64 (17277

) − (1199 )(907 ) { ) − (1199 )2 } 64 (13737 ) − (907 )2 }

=

1105728 − 1087493 − 1437601

)(879168

− 822649

)

=

18235 22559 x 56519

=

18235 1275012121

=

18235 35707 ,3119

= 0 ,5107

71

Berdasarkan hasil analisis di atas menunjukkan bahwa koefisien korelasi antara Tingkat Kesegaran Jasmani dan Minat Siswa Terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani sebesar 0,5107. Tetapi sebelum mencari koefisien determinasi terlebih dahulu mencari persamaan regresi yang di prediksi dalam bentuk : Ŷ = a + bX, untuk memperoleh koefisien a dan koefisien b digunakan rumus :

∑ Y ∑ X − ∑ X ∑ XY a= N ∑ X − (∑ X )
2 2 2

b=

N ∑ XY − ∑ X ∑ Y N ∑ X 2 − (∑ X )
2

Berdasarkan tabel persiapan di peroleh : N = X = Y = 64 1199 907 ∑X2 ∑Y2 ∑XY = = = 22815 13737 17277

Dimasukkan dalam rumus koefisien a dan koefisien b :

a=

(907 )(22815) − (1199)(17277) 2 64(22815) − (1199)

= −0,972
b= 64(17277 ) − (1199)(907 ) 2 64(22815) − (1199)

= 0,808
Sehingga persamaan regresinya adalah : Ŷ = -0,972 + 0,808 X

72

Berdasarkan hasil analisis persamaan regresi di atas maka, hubungan antara tingkat kesegaran jasmani dan minat siswa terhadap mata pelajaran pendidikan jasmani dapat dinyatakan Ŷ = -0,972 + 0,808 X. Dari persamaan ini dapat diprekdisikan bahwa tingkat kesegaran jasmani rata-rata akan berubah 0,808 untuk setiap unit perubahan yang terjadi pada minat siswa terhadap mata pelajaran pendidikan jasmani. Setelah memperoleh persamaan regresi barulah koefisien determinasi dapat diketahui dengan rumus :
r2 = b{N ∑ XY − ∑ X ∑ Y } N ∑ Y 2 − (∑ Y )
2

=

0,808{64(17277 ) − (1199)(907 )} 64(13737 ) − (907 )
2

= 0,2608 x100% = 26,08% Berdasarkan hasil analisis koefisien determinasi besarnya konstribusi atau sumbangan Tingkat Kesegaran Jasmani dan Minat Siswa Terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani dapat diketahui dari harga koefisien determinasi (r2) yaitu 26,08%. Dengan demikian dapat diartikan bahwa Tingkat Kesegaran Jasmani siswa kelas unggulan disebabkan oleh pengaruh Minat Siswa Terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani sebesar 26,08%, dan selebihnya yaitu 73,92% ditentukan oleh faktor-faktor lain yang tidak dikaji dalam penelitian ini.

73

Selanjutnya

koefisien

korelasi

tersebut

diuji

keberartiannya

menggunakan uji t dengan rumus :

t=

rxy n − 2
1 − r 2 xy

=

0.5107 64 − 2 1 − 0.261

= 4.677

Setelah koefisien korelasi tersebut diuji dan mendapatkan hasil maka dapat diartikan sebagai berikut “Apabila t berada pada daerah penerimaan Ho, yaitu -t(1-1/2a)(n-2) < t < t(1-1/2a)(n-2), berarti bahwa koefisien korelasi tidak signifikan”. Dan sebaliknya “apabila t berada pada daerah penolakan Ho yaitu -t(1-1/2a)(n-2) > t > t(1-1/2a)(n-2), berarti bahwa koefisien korelasi signifikan”.

Gambar 14

Grafik Daerah Penerimaan dan Penolakan Ho

Daerah penolakan Ho

Daerah penerimaan Ho

Daerah penolakan Ho

-t(1-α)(n- 2)

t(1-α)(n- 2)

74

Berdasarkan hasil penelitian di atas perhitungan uji keberartian koefisien korelasi dengan menggunakan uji t diperoleh t = 4,677, pada α = 5% dan dk = (64-2) = 62 diperoleh t(0,975)(62) = 2.00. Karena t > t(1-1/2a)(n-2) atau 4,677 > 2,00 berada pada daerah penolakan Ho, berarti bahwa koefisien korelasi ini
signifikan. Gambar 15

Garafik Uji Keberartian Koefisien Korelasi Kelas IV, V dan VI Unggulan

Daerah penolakan Ho -2.00

Daerah penerimaan Ho

Daerah penolakan Ho 2.00 4.677

4.1.4. Hubungan Tingkat Kesegaran Jasmani dan Minat Terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Kelas IV, V dan VI Biasa SD Negeri Tempelan 2 Blora

Sebagaimana seperti yang dinyatakan hipotesis kerja yang akan dibuktikan kebenarannya dalam penelitian ini adalah “Ada hubungan antara Tingkat Kesegaran Jasmani dan Minat Terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani pada siswa kelas biasa SD Negeri Tempelan 2 Kecamatan Blora Kabupaten Blora Tahun 2006-2007”. Untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini maka digunakan analisis koefisien korelasi dan determinasi. Hasil uji hipotesis tersebut dapat dilihat

75

setelah dimasukkan kedalam rumus koefisien korelasi. yang berdasarkan tabel persiapan analisis korelasi di peroleh :

N = X = Y =

70 1381 1043

∑X2 ∑Y2 ∑XY

= = =

27855 15951 20897

Dimasukkan dalam rumus koefisien korelasi :

r
xy =

∑ XY − (∑ X )(∑ Y ) {N ∑ X 2 −(∑ X )2 }{N ∑Y 2 −(∑Y )2 }
N

=

{70 (27855
(1949850

70 (20897

) − (1381 )(1043 ) { ) − (1381 )2 } 70 (15951 ) − (1043 )2 }

=

1462790 − 1440383 − 1907161

)(1116570

− 1087849

)

=

22407 42689 x 28721

=

22407 1226070769

=

22407 35015 .293

= 0 ,63992

Berdasarkan hasil analisis di atas menunjukkan bahwa koefisien korelasi antara Tingkat Kesegaran Jasmani dan Minat Siswa Terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani sebesar 0,640. Tetapi sebelum mencari koefisien

76

determinasi terlebih dahulu mencari persamaan regresi yang di prediksi dalam bentuk : Ŷ = a + bX, untuk memperoleh koefisien a dan koefisien b digunakan rumus :

a=

∑ Y ∑ X − ∑ X ∑ XY N ∑ X − (∑ X )
2 2 2

b=

N ∑ XY − ∑ X ∑ Y N ∑ X 2 − (∑ X )
2

Berdasarkan tabel persiapan di peroleh :

N = X = Y =

70 1381 1043

∑X2 ∑Y2 ∑XY

= = =

27855 15951 20897

Dimasukkan dalam rumus koefisien a dan koefisien b :

a=

(1043)(27855) − (1381)(20897 ) 2 70(27855) − (1381)

= 4.545

b=

70(20897 ) − (1381)(1043) 70(27855) − (1381)
2

= 0.525

Sehingga persamaan regresinya adalah : Ŷ = 4,545 + 0,525X Berdasarkan hasil analisis persamaan regresi di atas maka, hubungan antara tingkat kesegaran jasmani dan minat siswa terhadap mata pelajaran pendidikan jasmani dapat dinyatakan Ŷ = 4,545 + 0,525X. Dari persamaan ini

77

dapat diprekdisikan bahwa tingkat kesegaran jasmani rata-rata akan berubah 0,525 untuk setiap unit perubahan yang terjadi pada minat siswa terhadap mata pelajaran pendidikan jasmani. Setelah memperoleh persamaan regresi barulah koefisien determinasi dapat diketahui dengan rumus :
r2 = b{N ∑ XY − ∑ X ∑ Y } N ∑ Y 2 − (∑ Y )
2

=

0,525{70(20897 ) − (1381)(1043)} 70(15951) − (1043)
2

= 0,4095 x100% = 40,95% Berdasarkan hasil analisis koefisien determinasi besarnya konstribusi atau sumbangan Tingkat Kesegaran Jasmani dan Minat Siswa Terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani dapat diketahui dari harga koefisien determinasi (r2) yaitu 40,95%. Dengan demikian dapat diartikan bahwa Tingkat Kesegaran Jasmani siswa kelas biasa disebabkan oleh pengaruh Minat Siswa Terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani sebesar 40,95%, dan selebihnya yaitu 50,05% ditentukan oleh faktor-faktor lain yang tidak dikaji dalam penelitian ini. Selanjutnya koefisien korelasi tersebut diuji keberartiannya

menggunakan uji t dengan rumus :

78

t=

rxy n − 2
1 − r 2 xy

=

0.5107 64 − 2 1 − 0.261

= 6 . 867
Setelah koefisien korelasi tersebut diuji dan mendapatkan hasil maka dapat diartikan sebagai berikut “Apabila t berada pada daerah penerimaan Ho, yaitu -t(1-1/2a)(n-2) < t < t(1-1/2a)(n-2), berarti bahwa koefisien korelasi tidak signifikan”. Dan sebaliknya “Apabila t berada pada daerah penolakan Ho yaitu -t(1-1/2a)(n-2) > t > t(1-1/2a)(n-2), berarti bahwa koefisien korelasi signifikan”.
Gambar 15

Garafik Uji Keberartian Koefisien Korelasi Kelas IV, V dan VI Biasa
Daerah penolakan Ho

Daerah penolakan Ho

Daerah penerimaan Ho

-1.99

1.99

6.867

Berdasarkan hasil penelitian di atas perhitungan uji keberartian koefisien korelasi dengan menggunakan uji t diperoleh t = 6,867, pada α = 5% dan dk = (70-2) = 68 diperoleh t(0,975)(62) = 1,99 Karena t > t(1-1/2a)(n-2) atau 6,867 > 1,99 berada pada daerah penolakan Ho, berarti bahwa koefisien korelasi ini
signifikan.

79

4.2.

Pembahasan

4.2.1. Hubungan Tingkat Kesegaran Jasmani dan Minat Terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Kelas IV, V dan VI Unggulan SD Negeri Tempelan 2 Blora

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama-sama antara Tingkat Kesegaran Jasmani dan Minat Terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Kelas IV, V dan VI Unggulan SD Negeri Tempelan 2 Kecamatan Blora Kabupaten Blora Tahun 2006-2007 berhubungan secara signifikan. yang ditunjukkan dari analisis korelasi yang memperoleh koefisien korelasi (rxy) sebesar 0,5107 dan di uji keberartian koefisien korelasi dengan menggunakan uji t diperoleh t = 4,677, pada α = 5% dan dk = (64-2) = 62 diperoleh t(0,975)(62) = 2.00. Karena t > t(1-1/2a)(n-2) atau 4,677 > 2,00 berada pada daerah penolakan Ho, berarti bahwa koefisien korelasi ini signifikan. Dengan demikian menunjukkan bahwa dengan dimilikinya minat terhadap mata pelajaran pendidikan jasmani yang tinggi dari para siswa akan meningkat juga kesegaran jasmani siswa tersebut. Secara umum dapat dijelaskan bahwa minat siswa terhadap mata pelajaran pendidikan jasmani merupakan faktor batin yang memiliki fungsi menimbulkan, mendasari, dan mengarahkan perbuatan siswa dalam melakukan aktivitas yang mereka sukai. Seorang yang besar minatnya akan giat berusaha, tampak gigih, tidak mau menyerah serta giat melakukan aktivitas fisik untuk menjaga kebugaran jasmaninya. Sebaliknya siswa yang minat terhadap mata pelajaran pendidikan jamaninya rendah, tampak acuh tak acuh, mudah putus asa, perhatiannya tidak tertuju pada mata pelajaran pendidikan jasmani yang akibatnya siswa akan

80

mengalami kesulitan dalam melakukan sesuatu gerakan yang diberikan oleh guru. Minat juga dapat menggerakkan siswa mengarahkan tindakan serta memilih tujuannya untuk melakukan aktivitas dalam kehidupannya. Dengan adanya keinginan untuk mencapai kesegaran jasmani yang baik sehingga dalam proses belajar siswa dapat memiliki kondisi fisik yang prima, maka siswa akan lebih mampu melaksanakan kegiatan belajarnya tersebut secara optimal. Setinggi apapun keinginan siswa untuk belajar, jika tidak didukung oleh kondisi fisik atau tingkat kesegaran jasmani yang baik, maka keinginannya tersebut tinggallah keinginan belaka sebab sebelum menyelesaikan semua bahan yang hendak dipelajari mereka sudah kelelahan terlebih dahulu sehingga belajarnya terpaksa harus dihentikan.

4.2.2. Hubungan Tingkat Kesegaran Jasmani dan Minat Terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Kelas IV, V dan VI Biasa SD Negeri Tempelan 2 Blora

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama-sama antara Tingkat Kesegaran Jasmani dan Minat Terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Kelas IV, V dan VI Biasa SD Negeri Tempelan 2 Kecamatan Blora Kabupaten Blora Tahun 2006-2007 berhubungan secara signifikan. yang ditunjukkan dari analisis korelasi yang memperoleh koefisien korelasi (rxy) sebesar 0,640 dan di uji keberartian koefisien korelasi dengan menggunakan uji t diperoleh t = 6,867, pada α = 5% dan dk = (70-2) = 68 diperoleh t(0,975)(62) = 1,99 Karena t > t(1-1/2a)(n-2) atau 6,867 > 1,99 berada pada daerah penolakan Ho, berarti bahwa koefisien korelasi ini signifikan.

81

Dengan demikian menunjukkan bahwa dengan dimilikinya minat terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani yang tinggi dari para siswa akan mendorong mereka untuk lebih banyak melakukan aktivitas yang sifatnya mengolah tubuh sehingga kesegaran jasmani atau kondisi fisik dapat terjaga dengan baik. Seorang siswa yang mempunyai Kesegaran Jasmani yang jelek akan berpengaruh pada penampilan fisik maupun pikiran yang tidak siap atau sudah tidak sanggup untuk menerima beban kerja yang berupa aktivitas b elajar, yang merupakan kewajibannya setiap hari. Dan sebaliknya seorang peserta didikyang memiliki Kesegaran Jasmani yang baik ia akan mampu menunaikan tugas hariannya dengan baik dan efisien, tanpa kelelahan yang berarti, dan tubuh masih memiliki cadangan baik untuk mengatasi keadaan darurat yang mendadak, mampu menikmati waktu senggang dengan rekreasi yang aktif. Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat Sudarno (1992:9) yang menyatakan bahwa Kesegaran jasmani adalah kapasitas fungsional total seseorang untuk melakukan suatu kerja tertentu dengan hasil baik / memuaskan dan tanpa kelelahan yang berarti. Selain itu minat juga dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan sehingga semakin besar minat siswa terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani akan semakin besar pula kesuksesannya dalam memperoleh kesegaran jasmani yang baik. Semua itu dapat terjadi dikarenakan minat yang tumbuh akan menimbulkan rasa ingin mengetahui atau mencari informasi tentang sesuatu yang dia ingin ketahui sehingga akan menumbuhkan suatu sikap pada siswa tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Slameto (2003:189) yang menyatakan

82

bahwa Informasi merupakan kondisi pertama untuk suatu sikap. Bila berdasarkan informasi itu timbul perasaan positif atau negatif terhadap objek dan menimbulkan kecenderungan untuk bertingkah laku tertentu, terjadilah sikap.

83

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1.

Simpulan

Berdasarkan uraian Bab IV dapat dirumuskan simpulan penelitian ini sebagai berikut. 1. Hasil Tes Kesegaran Jasmani Kelas IV, V, dan VI Unggulan berdasarkan Norma Tes Kesegaran Jasmani Indonesia diketahui bahwa tidak ada siswa dalam kategori Baik Sekali, 16% siswa kelas unggulan memiliki kategori
Baik, 44% siswa kelas unggulan memiliki kategori Sedang, 27% siswa kelas

unggulan memiliki kategori Kurang, dan 13% siswa kelas unggulan memiliki kategori Kurang Sekali. 2. Hasil Tes Kesegaran Jasmani Kelas IV, V, dan VI Biasa berdasarkan Norma Tes Kesegaran Jasmani Indonesia diketahui bahwa tidak ada siswa dalam kategori Baik Sekali, 14% siswa kelas biasa memiliki kategori Baik, 59% siswa kelas biasa memiliki kategori Sedang, 27% siswa kelas biasa memiliki kategori Kurang, dan tidak ada siswa dalam kategori Kurang Sekali. 3. Berdasarkan hasil penelitian tingkat kesegaran jasmani dan minat terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani kelas unggulan terdapat hubungan yang signifikan. Yang telah dibuktikan dengan hasil perhitungan diperoleh koefisien korelasi (rxy) = 0,5107, koefisien determinasi 26,08% dan berdasarkan perhitungan uji keberartian koefisien korelasi dengan

menggunakan uji t diperoleh t = 4,677 pada α = 5% dan dk = (64-2) = 62

84

diperoleh t(0,975)(62) = 2.00. Maka dapat disimpulkan bahwa koefisien korelasi tersebut signifikan, karena t berada pada daerah penolakan Ho. 4. Berdasarkan hasil penelitian tingkat kesegaran jasmani dan minat terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani kelas unggulan terdapat hubungan yang signifikan. Yang telah dibuktikan dengan hasil perhitungan diperoleh koefisien korelasi (rxy) = 0,6399, koefisien determinasi 40,95% dan berdasarkan perhitungan uji keberartian koefisien korelasi dengan

menggunakan uji t diperoleh t = 6,867 pada α = 5% dan dk = (70-2) = 68 diperoleh t(0,975)(68) = 1,995. Karena t berada pada daerah penolakan Ho, berarti bahwa koefisien korelasi ini signifikan.

5.2.

Saran

Berdasarkan simpulan hasil penelitian diatas, maka penulis memberikan sumbangan fikiran berupa saran. Supaya Kepala Sekolah SD Negeri Tempelan 2 Blora lebih memperhatikan kebugaran siswanya khususnya kelas unggulan. Dengan memberikan tambahan waktu istirahat atau mengurangi jadwal yang sekiranya hanya menggunakan aktivitas otak saja, sehingga siswa dapat menggunakan waktu istirahat tersebut untuk mengolah tubuhnya agar memperoleh kebugaran jasmani yang dapat lebih cepat membantu siswa dalam menerima pelajaran yang diberikan.

85

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Kadir Ateng. 1992. Asas Dan Landasan Pendidikan Jasmani. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Asep Priyatna Abdillah. 1990. Bimbingan Karir. Bandung. Arrmico Bimo Walgito. 1981. Psikologi Belajar. Yogyakarta. Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada Depdiknas. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan

Jasmani Sekolah dasar dan Madarasah Ibtidaiyah. Jakarta
International Amateur Athletic Federation. 1996. Pengenalan Kepada Teori

Pelatihan. Jakarta
Kantor Menteri Negara Pemuda dan Olahraga. 1996. Petunjuk Pelaksanaan

Senam Kesegaran Jasmani, Jakarta
Ketut Natera. 1991. Tes Pengukuran dan Penilaian Olahraga. Semarang. Fakultas Pendidikan Olahraga Dan Kesehatan Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Masri Singarimbun dan Sofian Efendi. 1995. Metode Penelitian Survai. Jakarta : Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial Nurhasan. 2001. Tes dan Pengukuran Dalam Pendidikan Jasmani. Jakarta Pusat : Departemen Pendidikan Nasional Purnomo Ananto. 2000. Kesegaran Jasmani dan Kesehatan Mental. Jakarta Pusat : Departemen Pendidikan Nasional

86

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-FaktorYang Mempengaruhinya. Jakarta. Rineka Cipta Soeparwoto. dkk. 2004. Psikologi Perkembangan. Semarang : Universitas Negeri Semarang Sudarno. 1992. Pendidikan Kesegaran Jasmani. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sugiyanto, dkk. 1991. Belajar Motorik. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Suharsimi Arikunto. 2006.

Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.

Jakarta : Rineka Cipta Tampubolon. 2000. Mengembangkan minat dan kebiasaan membaca pada anak. Bandung : Angkasa Tisnowati Tamat.Hj. 2002. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jakarta : Universitas Terbuka Tulus Winarsunu. 2002. Statistik Dalam Penelitian Psikologi dan Pendidikan. Malang : Universitas Muhamadiyah Malang Toho Cholik dan Rusli Lutan. 2001. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Bandung : CV. Maulana Yul Iskandar. 2001. Tes bakat, minat, sikap dan personality MMPI-DG, Jakarta : Yayasan Dharma Graha

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful