You are on page 1of 23

TUGAS PROMOSI KESEHATAN

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS PADA LANJUT USIA


koordinator : Ii Solihah, SKp.MKM
pembimbing : Ellyanety, SKp.Mkes

TAUFIK WALHIDAYAH
P17120013071

JURUSAN KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENTRIAN KESEHATAN JAKARTA 1
TAHUN 2014

I.

Latar Belakang

Indonesia termasuk era penduduk berstruktur lanjut usia (Aging Struktured Population)
karena jumlah penduduk yang berusia 60 tahun ke atas sekitar 7,18%. Provinsi yang mempunyai
jumlah penduduk lanjut usia (Lansia)nya sebanyak 7% adalah di pulau Jawa dan Bali.
Peningkatan jumlah penduduk lansia ini antara lain disebabkan tingkat social ekonomi
masyarakat yang meningkat, kemajuan di bidang pelayanan kesehatan, dan tingkat pengetahuan
masyarakat meningkat. Oleh karenanya kebutuhan akan asuhan keperawatan meningkat terutama
didaerah perkotaan dimana lansia sekarang mayoritas berdomisili didaerah perkotaan
(Menkokesra,2008,21/4/08).
Jumlah populasi lansia yang meningkat diperkotaan mengakibatkan meningkatnya
kebutuhan akan care giver yang ditunjukan kepada lansia, sehingga lansia tetap dipertahankan
untuk produktif dalam arti mandiri dan dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia tanpa bantuan
sepenuhnya, sehingga lansia juga dapat melakukan perannya di dalam lingkungan keluarga dan
social. Jika kebutuhan akan asuhan keperawatan tidak terpenuhi, maka jumlah lansia yang
menjadi beban negara juga semakin meningkat.
II.

TUJUAN PEMBAHASAN
1. Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan pada lanjut usia
2. Mahasiswa dapat mengetahui dan memberikan asuhan keperawatan kepada komunitas
lanjut usia
3. Mahasiswa dapat mengetahui dan memberikan penyuluhan kepada keluarga pada
komunitas lanjut usia

III.

PEMBAHASAN ISI
A. Pengertian Asuhan Keperawatan Lanjut Usia

Asuhan keperawatan lanjut usia adalah suatu rangkaian kegiatan proses keperawatan
yang ditunjukan kepada usia lanjut, meliputi kegiatan pengkajian, dengan memperhatikan
kebutuhan disik, psikologis, social, dan spiritual, menganalisis masalah dan merumuskan
diagnose keperawatan, membuat perencanaan, melaksanakan implementasi dan melakukan
evaluasi. Menurut Wahyudi Nugroho,2008, Asuhan keperawatan lanjut usia (gerontik)
merupakan kegiatan yang dimaksud untuk untuk memberikan bantuan atau bimbingan serta
pengawasan, perlindungan dan pertolongan kepada lanjut usia secara individu, kelompok, seperti
di rumah atau lingkungan keluarga, Panti Werda maupun Puskesmas, yang diberikan oleh
perawat.
Gerontology adalah cabang ilmu yang mempelajari proses menua dan masalah yang
mungkin terjadi pada lanjut usia. Gerontology nursing adalah spesialis keperawatan lanjut usia
yang menjalankan perannya pada tiap peranan pelayanan dangan menggunakan pengetahuan,
keahlian, dan keterampilan merawat untuk meningkatkan fungsi optimal lanjut usia secara
komprehensif. Karena itu, perawatan lansia yang menderita penyakit dan dirawat di RS
merupakan bagian dari gerontic nursing.
Keperawatan gerontoliogy adalah suatu pelayanan professional yang berdasarkan ilmu
dan kiat/teknik keperawatan yang berbentuk bio-spiko-sosial-spiritual dan cultural yang holistic
yang ditunjukkan pada klien lanjut usia baik sehat maupun sakit pada tingkat individu, keluarga,
kelompok, dan masyarakat
B. Tujuan Asuhan Keperawatan Lansia
Usia lanjut agar mampu
1. Melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri dengan upaya promotif, preventif dan
rehabilitative.
2. Mempertahankan dan meningkatkan kesehatan, serta meningkatkan kemampuannya
dalam melakukan tindakan pencegahan dan perawatan
3. Mempertahankan serta memiliki semangat hidup yang tinggi
4. Menolong dan merawat klien yang menderita sakit
5. Merangsang petugas kesehatan agar dapat mengenal dan menegakan diagnose secara dini
6. Mempertahankan kebebasan yang maksimal tanpa perlu pertolongan pada lansia

C. Fokus Asuhan Keperawatan Lanjut Usia


Pada dasarnya fokus dari asuhan keperawatan pada lanjut usia meliputi:
1.
2.
3.
4.

Peningkatan kesehatan (Health Promotion)


Pencegahan penyakit (Preventif)
Mengoptimalkan fungsi mental
Mengatasi gangguan kesehatan yang umum

D. Fungsi Keperawatan
Fungsi keperawatan pada keperawatan akut, keperawatan waktu lama dan keperwatan di
masyarakat berbeda tergantung menurut keperluannya (Mary Ann Chris & Faith J. Honloch
1993), membaginya dalam.
a. Pada keperawatan akut (acut care)
1. Melakukan anamnesa penderita, riwayat penyakit, psikososial, dan riwayat keluarga
2. Assesement penderita
3. Menjelaskan diagnose dan pengobatan kepada penderita, keluarga, dan pembina
Asrama.
4. Bekerja sama dengan penderita, keluarga dan petugas kesehatan lainnya untuk
menyusun rencana keperawatan yang tepat.
5. Mendorong kemandirian penderita.
6. Mempertahankan hidrasi, ventilasi, makanan dan kenyamanan.
7. Menyampaikan obat dan melakukan pengobatan serta menilai reaksi penderita
8. Memberitahu kepada dokter kemajuan kondisi penderita.
9. Memberikan tindakan darurat bila diperlukan
10. Merencanakan keluarganya penderita dari panti dan mengkoordinasikan rujukan
kelembaga social masyarakat di tingkat Desa.
11. Member advokasi pada penderita
b. Pada keperawatan lama (long term care)
1. Melakukan anamnesa penderita menanyakan riwayat penyakit, spikososial dan
keluarga
2. Assessment penderita
3. Mengikut sertakan penderita, keluarga, dan Pembina Asrama dalam menyiapkan dan
melaksanakan rencana keperawatan.
4. Menciptakan iklim atmosfir interaksi klien agar punya semangat hidup
5. Menyakinkan penderita bahwa ia memperoleh perawatan medic. Gigi, dan anggota
gerak yang tepat.
6. Mempertahankan hidrasi, ventilasi, gizi dan bekerjasama dalam evaluasi

7. Menyampaikan obat dan melakukan pengobatan dan latihan rehabilitative serta


menilai reaksi penderita.
8. Memberitahu dokter, perubahan kondisi penderita
9. Memberikan pertolongan darurat bila diperlukan
10. Memberikan pelajaran dan nasehat kepada penderita dan keluarga tentang penyakit.
11. Memperkenalkan pelayanan lansia yang diberikan oleh masyarakat.
12. Member advokasi pada penderita.
c. Keperawatan di masyarakat (community care)
1. Identifikasi kebutuhan penderita, baik dari segi kesehatan, social maupun
ekonominya
2. Merujuk ke instansi yang dapat memenuhi kebutuhan penderita
3. Menjelaskan diagnose serta pengobatan kepada keluarga dan penderita
4. Menilai kepasrahan penderita dan reaksi penderita terhadap pengobatan
5. Melakukan kunjungan rumah dan menyuruh penderita agar memanfaatkan klinik
guna meningkatkan kesehatannya
6. Memberikan pelajaran dan nasehat kepada penderita dan keluarga tentang penyakit
bila hal ini dijumpai/diketemukan penyakit yang diderita klien.
7. Melakukan penilaian kemandirian penderita
8. Memberikan advokasi pada penderita.
E. Pendekatan Perawatan Lanjut Usia
1. Pendekatan fisik
Perawatan fisik secara umum bagi klien lanjut usia ada 2 bagian yaitu:
1. Klien lanjut usia yang masih aktif, yang masih mampu bergerak tanpa bantuan orang
lain
2. Klien lanjut usia yang pasif atau tidak dapat bangun yang mengalami kelumpuhan
atau sakit
2. Pendekatan psikis
Perawatan mempunyai peranan yang panjang untuk mengadakan pendekatan
edukatif pada klien lanjut usia, perawat dapat berperan sebagai supporter, interpreter
terhadap segala sesuatu yang asing, sebagai penampung rahasia dan sebagai sahabat yang
akrab.
3. Pendekatan social
Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita merupakan upaya perawatan
dalam pendekatan social. Memberikan kesempatan berkumpul bersama dengan sesame
klien lanjut usia untuk menciptakan sosialisasi mereka.

4. Pendekatan spiritual
Pendekatan harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam
hubungannya dengan Tuhan atau agama yang dianutnya, terutama jika klien dalam
keadaan sakit atau mendekati kematian.
F. Lingkup peran dan tanggung jawab
Fenomena yang menjadi bidang garap keperawatan gerontik adalah tindakan
terpenuhinya kebutuhan dasar manusia sebagai akibat proses penuaan.
Lingkup asuhan keperawatan gerontik meliputi:

Pencegahan terhadap ketidak mampuan akibat proses penuaan


Perawatan ditunjukan untuk memenuhi kebutuhan akibat proses penuaan
Pemulihan ditunjukan untuk upaya mengatasi keterbatasan akibat proses penuaan

Dalam prakteknya, perawatan gerontik melakukan peran dan fungsinya adalah sebagai
berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Sebagai care giver/pemberi asuhan keperawatan langsung


Sebagai pendidik klien lansia
Sebagai motivator
Sebagai advokasi klien
Sebagai konselor

Tanggung jawab perawat gerontik


1.
2.
3.
4.

Membantu klien lansia memperoleh kesehatan secara sosial


Membantu klien lansia memelihara kesehatan
Membantu klien lansia menerima kondisinya
Membantu klien lansia menghadapi ajal dengan diperlakukannya secara manusiawi
sampai meninggal

Sifat pelayanan gerontik


1.
2.
3.
4.

Independen
Interdependen
Humanistic
Holistic

G. KOMUNIKASI PADA LANJUT USIA


Komunikasi pada lansia membutuhkan perhatia khusus. Perawat harus waspada terhadap
perubahan fisik psikologi, emosi, dan social yang mempengaruhi pola komunikasi.
Perubahana pada telinga bagaian dalam dan telinga menghalangi proses pendengaran pada
lansia sehingga tidak toleran terhadap suara. Komunikasi yang biasa dilakukan lansia bukan
hanya sebatas tukar menukar perilaku, perasaan, pikiran dan pengalaman, tetapi juga
hubungan intim yang terapeutik.
Keterampilan komunikasi terapeutik
Keterampilan kominikasi terapeutik pada lanjut usia dapat meliputi:
1. Perawat membuka wawancara dengan memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan
dan lama wawancara.
2. Berikan waktu yang cukup kepada pasien untuk menjawab, berkaitan dengan
pemunduran kemampuan merespon verbal.
3. Gunakan kata-kata yang tidak asing bagi klien sesuai dengan latar belakang
sosikulturalnya.
4. Gunakan pertanyaan yang pendek dan jelas karena pasien lansia kesulitan dalam
berfikir abstrak.
5. Perawat dapat memperlihatkan dukungan dan perhatian dengan memberikan respon
nonverbal seperti kontak mata secara langsung, duduk dan menyentuh pasien.
6. Perawat harus cermat dalam mengidentifikasi tanda-tanda kepribadian pasien dan
distress yang ada.
7. Perawat tidak boleh berasumsi bahwa pasien memahami tujuan dari wawancara
pengkajian
8. Perawat harus memperhatikan respon pasien dengan mendengarkan dengan cermat
dan tetap mengobservasi.
9. Tempat mewawancarai diharuskan tidak pada tempat yang baru dan asing bagi
pasien.
10. Lingkungan harus dibuat nyaman
11. Perawat harus mengkonsultasikan hasil wawancara kepada keluarga pasien atau
orang yang sangat mengenal pasien
12. Memperhatikan kondisi fisik pasien pada waktu wawancara.
Respon perilaku juga harus diperhatikan, karena pengkajian perilaku merupakan dasar
yang paling penting dalam perencanaan keperawatan pada lansia.
H. PRINSIP GERONTOLOGIS UNTUK KOMUNIKASI
1. Menjaga agar tingkat kebisingan minimum
2. Menjadi pendengar yang setia, sediakan waktu untuk mengobrol.
3. Menjamin alat bantu dengan yang berfungsi dengan baik

4. Jangan berbicara dengan keras/berteriak, bicara langsung dengan telingan yang dapat
mendengar dengan lebih baik
5. Berdiri di depan klien
6. Pertahankan penggunaan kalimat yang pendek dan sederhana
7. Beri kesempatan klien untuk berpikir.
8. Berbicara pada tingkat pemahaman klien
9. Selalu menanyakan respon, terutama ketika mengerjakan suatu tugas atau keahlian.
IV.
RANGKUM
Berdasarkan makalah yang kami buat, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Fokus asuhan keperawatan lanjut usia terdiri dari :
Peningkatan kesehatan (health promotion)
Oencegahan penyakit (preventif)
Mengoptimalkan fungsi mental.
Mengatasi gangguan kesehatan yang umum.
2. Konsep asuhan keperawatan, yaitu :
Pengkajian
Tujuan :
Menentukan kemampuan klien untuk memelihara diri sendiri.
Melengkapi dasar dasar rencana perawatan individu.
Membantu menghindarkan bentuk dan penandaan klien.
Memberi waktu kepada klien untuk menjawab.
Diagnosa keperawatan, terdiri dari :
Diagnosa Fisik / Biologi
Diagnosa Psikososial
Diagnosa Spiritual
Perencanaan
Tujuan tindakan keperawatan lanjut usia diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar,
antara lain :
Pemenuhan kebutuhan nutrisi
Peningkatan keamanan dan keselaamatan.
Memelihara kebersihan diri.
Memelihara keseimbangan istirahat/tidur.
Meningkatkan hubungan interpersonal melalui komunikasi efektif.

Implementasi keperawatan, terdiri dari :


Tumbuhkan dan bina rasa saling percaya
Sediakan cukup penerangan
Tingkatkan rangsangan panca indra
Pertahankan dan latih daya orientasi nyata
Berikan perawatan sirkulasi
Berikan perawatan pernapasan
Berikan perawatan pada alat pencernaan
Berikan perawatan genitorinaria
Berikan perawatan kulit
Berikan perawatan muskuluskeletal
Berikan perawatan psikososial
Pelihara Keselamatan
Adapun saran yang dapat kelompok sampaikan bagi pembaca khususnya mahasiswa/i
Jurusan Keperawatan Singkawang, hendaknya memberikan asuhan keperawatan lansia dengan
benar dan tepat sehingga dapat sesuai dengan evaluasi yang diharapkan.

Rancangan Pembelajaran dengan Sasaran Individu


1. Pengkajian
Seorang perawat di pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) melakukan
pengkajian terhadap seorang ibu 67 tahun dengan diagnose mendis Hipertensi. Di
bawah ini disajikan sebagai data hasil pengkajian yang di dapatkan. Hasil pengkajian itu
mendukung adanya masalah tentang perilaku.
Pengkajian Faktor Predisposisi
a. Riwayat Keperawatan
Ny. A 67 tahun saat ini mengalami gejalah Hipertensi dengan ditandai sakit
kepala. Ny. A sudah 2 kali datang ke puskesmas karena sakit kepala dan langsung di
rujuk kerumah sakit. Ny. A lulusan Sekolah Dasar dan bekerja sebagai ibu rumah
tangga, ia tidak banyak tau mengenai masalah penyakit jantung dan penanganan
selama masa tersebut. Tn. R (70thn), suaminya, tidak dapat mengantar Ny. A karena
sudah tua. Ia diantar oleh anaknya Ny, L.
Ny. A mempunyai sikap tentang kesehariaanya, bahwa sebelunmnya ia sangat
suka makanan asin dan makanan berkolesterol tinggi. Saat ia diberitahu mengalami
Hipertensi dan mengeluh sakit kepala ia tidak langsung beritahu ke keluarganya.
Persepsi tersebut didapat dari kebiasaan Ny. A yang suka mandiri.
b. Keadaan Fisik
Berat badan Ny. A 47 kg dan tinggi badan 155cm. Tanda - tanda vitalnya adalah
: tekanan darah 160/90mmHg, nadi 117 kali/menit, pernapasan 25 kali/menit, suhu
37,50C, mengeluh sakit kepala dan terlihat lemas. Selain itu wajah terlihat lesu, kulit
kering.
c. Kesiapan Belajar
Ny. A mengatakan bahwa ia tertarik untuk mengetahui bagaimana cara
mengatasi Hipertenfsi dan pola sehari-hari dirumah setelah pulang agar tidak kambuh.
Pengetahuan Ny. A tentang Hipertensi masih sangat kurang karena ini masih sering lupa
dan dirumah suka sendiri dan mendapatkan informasi tentang hal tersebut dari sumber
apapun. Ia dapat berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.
d. Motivasi Belajar
Motivasi Ny. A untuk mempelajari kondisinya cukup kuat. Ia mengatakan apapun
yang harus dilakukan akan dilakasanakan.

e. Kemampuan Membaca
Ny. A mempunyai kemampuan membaca dan menulis dengan baik. Ketika di
berikan sebuah bahan bacaan leaflet tentang pola hidup sehat dan diminta
membacanya, Ny. A dapat menjelaskan kembali inti dari isi leaflet tersebut. Ia
mengatakan lebih menyukai belajar dengan cara tanya jawab dan menyukai bahan
bacaan yang bergambar karena mudah diingat.
Pengkajian Faktor Pemungkin
Di Puskesmas, khususnya di klinik bersalin, perawat yang memberikan pelayanan kesehatan
kepada pasien Hipertensi telah memiliki keterampilan memberi penyuluhan dengan baik karena
telah sering kali dilakukan pelatihan untuk hal tersebut. Alat bantu penyuluhan berupa leaflet
dan lembar balik tersedia di RS tersebut.
Rumah Ny. A cukup dekat dengan Puskesmas dan dapat di jangkau dengan berjalan kaki.
Begitu pula Pos Pelayanan Terpadu yang ada di RW 06 tempat tinggal Ny. A, setiap bulan
memberikan pelayanan kesehatan.
Pengkajian Faktor Penguat
Ny. A tinggal bersama suaminya Tn. R dan anak tertuanya Ny. L yang berpendidikan SMA. Ny.
L mempunyai cara pandang yang berbeda tentang keluhan yang di alami Ibunya, ia mempunyai
pandangan yang lebih baik terhadap keluhan istrinya sehingga dapat memberikan dukungan
moril kepada Ny. A. Ny. L juga tampaknya tidak begitu mempercayai kepercayaan keluarganya
yang berhubungan dengan keluhani bunya tersebut. Keluarga Ny. A juga mengatakan tertarik
untuk mengetahui penanganan selama keluhannyri agar penyakit Ny. A tidak kambuh lagi.
2. Diagnosis Keperawatan
Berdasarkan data hasil pengkajian yang di temukan, perawat berusaha merumuskan
diagnosa keperawatan. Adapun diagnosa keperawatan tersebut di rumuskan sebagai
berikut:
-

Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai pola hidup sehat dan


kebutuhan pengobatan berhubungan dengan
kurang pemajanan/mengingat,
kesalahan interpretasi informasi.

3. Perencanaa Tindakan Keperawatan


Tindakan keperawatan yang di tetapkan untuk menyelesaikan diagnosa
keperawatan tersebut adalah berupa pendidikan kesehatan yang ditujukan kepada Ny. A
dan Keluarga. Sebelum melaksanakan tindakan ini maka harus dibuat terlebih dahulu
Rancangan Pembelajaran. Berikut adalah rancangan pembelajaran yang di kembangkan
oleh perawat untuk diagnosa keperawatan.

Rancangan Pembelajaran Individual-1


-

Diagnosa Keperawatan: Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai pola


hidup sehat dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan
kurang
pemajanan/mengingat, kesalahan interpretasi informasi.

a. Tujuan Pembelajaran
1. Tujuan Umum
Setelah diberikan Penyeluhan diharapkan orang klien mengetahui tentang
Hipertensi
2. Tujuan Khusus
Selama menerima pendidikan kesehatan selama 1 kali 30 menit, Ny. A akan
mampu :
a.

Menyebutkan pengertian Hipertensi

b.

Menyebutkan penyebab Hipertensi

c.

Menyebutkan tanda dan gejala Hipertensi

d.

Menyebutkan kompikasi Hipertensi

e.

Menyebutkan penatalaksanaan Hipertensi

f.

Menyebutkan pencegahan Hipertensi

b. Materi Belajar
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pengertian Hipertensi
Penyebab Hipertensi
Tanda dan gejala Hipertensi
Kompikasi Hipertensi
Penatalaksanaan Hipertensi
Pencegahan Hipertensi

c. Metode Belajar
a.

Metode diskusi
Metode ini digunakan untuk menyampaikan materi di atas

d. Alat Bantu Belajar


1) Leaflet berisi gambar dan point - point tentang pengertian Hipertensi
2) Lembar balik berisi gambar dan point - point tentang penyakit Hipertensi
e. Evaluasi Belajar
Evaluasi belajar akan dilakukan selama proses belajar dan pada akhir dari proses
pendidikan kesehatan. Cara evaluasi akan di lakukan dengan mengajukan
pertanyaan lisan.
1. Apa saja penanganan selama menderita penyakit Hipertensi?
2. Apa saja obat yang diberikan klien selama dirumah?
3. Apa saja perawatan/pembekalan yang dilakukan setelah pulang ke rumah?

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN


Diagnosa Keperawatan

: Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai pola hidup


sehat dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang
pemajanan/mengingat, kesalahan interpretasi informasi.

Pokok Bahasan

: Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang Hipertensi dan


bahayanya.

Sasaran

: Ny. A

Tempat

: Di Puskesmas Sentosa

Hari/tanggal

: Senin, 20 Oktober 2014

Waktu

: + 30 menit

Pemberi Penkes

: Taufik Walhidayah
(Mahasiswa Tk. II B Jurusan Keperawan Poltekkes Jakarta 1)

a. Tujuan Pembelajaran
1. Tujuan Umum
Setelah mendapatkan pendidikan kesehatan, Ny. A dan keluarga mampu memahami pola
hidup dan penanganan keluarga pada penyakit Hipertensi.
2. Tujuan Khusus
Selama menerima pendidikan kesehatan selama 1 kali 20 menit, Ny. A akan mampu :
a.
b.
c.
d.
e.

Menjelaskan definisi penyakit Hipertensi, dalam bahasanya sendiri dengan benar.


Menguraikan proses terjadinya Hipertensi.
Menguraikan pola hidup selama dirumah.
Menyebutkan terapi obat yang biasa digunakan pada penyakit Hipertensi.
Menguraikan perawatan/pembekalan setelah klien pulang ke rumah.

b. Materi Belajar

Definisi periode penyakit Hipertensi


Proses terjadinya Hipertensi
Penatalaksanaan/penanganan selama dirumah
Terapi obat
Perawatan/pembekalan bagi keluarga

c. Metode Belajar
a. Metode diskusi
Metode ini digunakan untuk menyampaikan materi di atas
d. Alat Bantu Belajar
a. Leaflet berisi gambar dan point - point tentang Penanganan penyakit Hipertensi
b. Lembar balik berisi gambar dan point - point tentang Penanganan penyakit Hipertensi

Kegiatan Pembelajaran
No

Tahapan

Waktu

Kegiatan
Penyuluhan

1.

Fase Pra-

5 menit

Interaksi

Audience

a. Mempersiapkan diri
b. Mempersiapkan materi yang akan
disampaikan
c. Mempersiapkan media & alat yang
akan digunakan
d. Mempersiapkan ruangan
e. Mempersiapkan
Klien

2.

Fase Orientasi

5 Menit

a. Mengucapakan salam

a.

Menjawab
salam

b. Memperkenalkan diri

b.

Menyimak

c. Kontrak waktu

c.

Menyepakati

d. Menyampaikan tujuan pertemuan

d.

Menyimak

e. Meyampaikan topik yang

e.

Menyimak

penyuluhan

3.

Fase kerja

15 Menit

Menyampaikan materi dengan klien

Menyimak dan

dengan menjawab setiap point

mengikuti

materi
a. Definisi periode penyakit
Hipertensi
b. Proses terjadinya Hipertensi
c. Penatalaksanaan/penanganan

Menyimak dan
menjawab

pada saat Hipertensi kambuh


d. Terapi obat Hipertensi
e. Perawatan/pembekalan bagi
keluarga

4.

Fase
terminasi

5 Menit

a. Menyimpulkan materi bersama

Menyimak

b. Memberi evaluasi secara lisan

Menjawab

c.

Menyetujui

Klien merasa

Memberi rencana
tindakan

d. Memberi reward kepada klien jika


dapat menjawab pertanyaan
dengan benar

senang

e. Evaluasi
1. Bentuk evaluasi

: Lisan

2. Alat evaluasi

: Pertanyaan

3. Bentuk soal

: Lisan dan tanya jawab

4. Jumlah soal

: 2 soal

Butir Soal :
a.

Evaluasi subjektif

Bagaimana perasaan Bapak dan Ibu saat ini setelah saya memberikan informasi tentang
penyakit Hipertensi ?
b.

Evaluasi objektif

Apakah sudah paham dengan apa yang sudah saya jelaskan ?


2.

Terminasi Akhir

Baiklah Bapak dan Ibu, sekian penyuluhan dari saya mudah-mudahan apa yang saya sampaikan
dapat bermanfaat bagi kita semua.
Wassalamualaikum. Wr. Wb.

Materi Penyuluhan
PENYAKIT DARAH TINGGI ( HIPERTENSI )
A. Pengertian
Tekanan darah tinggi atau Hipertensi adalah suatu ganguan pada sistem pembuluh
darah yang ditandai dengan tekanan darah melebihi normal. Sering terjadi diusia pertengahan
atau lebih (usia 45 tahun atau lebih). Hipertensi menyebabkan perubahan pada pembuluh
darah yang mengakibatkan makin meningkatnya tekanan darah.
Berikut ini penggolongan tekanan darah berdasarkan angka hasil pengukuran dengan
tensimeter untuk tekanan sistolik dan diastolik:

Tekanan Darah

Sistolik (angka
pertama)

Diastolik(angka
kedua)

Darah rendah atau hipotensi

Di bawah 90

Di bawah 60

Normal

90 120

60 - 80

Pre-hipertensi

120 140

80 - 90

Darah
tinggi atau hipertensi(stadium
1)

140 160

90 - 100

Darah
tinggi atau hipertensi(stadium
2 / berbahaya)

Di atas 160

Di atas 100

Catatan : - Angka pertama (120) yaitu tekanan darah sistolik, yaitu tekanan saat
jantung berdenyut atau berdetak (sistol). Sering disebut tekanan atas.
- Angka pertama (90) yaitu tekanan darah diastolik, yaitu tekanan saat jantung
beristirahat di antara saat pemompaan. Sering disebut tekanan bawah.

B. Penyebab (etiologi)
Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan seseorang memiliki tekanan darah
tinggi. Ada faktor penyebab tekanan darah tinggi yang tidak dapat Anda kendalikan.
Ada juga yang dapat Anda kendalikan sehingga bisa mengatasi penyakit darah tinggi.
Beberapa faktor tersebut antara lain:
1.

Keturunan

Faktor ini tidak bisa dikendalikan. Jika seseorang memiliki orang-tua atau
saudara yang memiliki tekanan darah tinggi, maka kemungkinan ia menderita tekanan
darah tinggi lebih besar. Statistik menunjukkan bahwa masalah tekanan darah tinggi
lebih tinggi pada kembar identik daripada yang kembar tidak identik. Sebuah penelitian
menunjukkan bahwa ada bukti gen yang diturunkan untuk masalah tekanan darah
tinggi.
2.

Usia

Faktor ini tidak bisa dikendalikan. Penelitian menunjukkan bahwa seraya usia
seseorang bertambah, tekanan darah pun akan meningkat. Anda tidak dapat
mengharapkan bahwa tekanan darah Anda saat muda akan sama ketika Anda
bertambah tua. Namun Anda dapat mengendalikan agar jangan melewati batas atas
yang normal.
3.

Garam

Faktor ini bisa dikendalikan. Garam dapat meningkatkan tekanan darah dengan
cepat pada beberapa orang, khususnya bagi penderita diabetes, penderita hipertensi
ringan, orang dengan usia tua, dan mereka yang berkulit hitam.
4.

Kolesterol

Faktor ini bisa dikendalikan. Kandungan lemak yang berlebih dalam darah Anda,
dapat menyebabkan timbunan kolesterol pada dinding pembuluh darah. Hal ini dapat
membuat pembuluh darah menyempit dan akibatnya tekanan darah akan meningkat.
Kendalikan kolesterol Anda sedini mungkin.
5.

Obesitas / Kegemukan

Faktor ini bisa dikendalikan. Orang yang memiliki berat badan di atas 30 persen
berat badan ideal, memiliki kemungkinan lebih besar menderita tekanan darah tinggi.

6.

Stres

Faktor ini bisa dikendalikan. Stres dan kondisi emosi yang tidak stabil juga dapat
memicu tekanan darah tinggi.
7.

Rokok

Faktor ini bisa dikendalikan. Merokok juga dapat meningkatkan tekanan darah
menjadi tinggi. Kebiasan merokok dapat meningkatkan risiko diabetes, serangan
jantung dan stroke. Karena itu, kebiasaan merokok yang terus dilanjutkan ketika
memiliki tekanan darah tinggi, merupakan kombinasi yang sangat berbahaya yang akan
memicu penyakit-penyakit yang berkaitan dengan jantung dan darah.
8.

Kafein

Faktor ini dikendalikan. Kafein yang terdapat pada kopi, teh maupun minuman
cola bisa menyebabkan peningkatan tekanan darah.
9.

Alkohol

Faktor ini bisa dikendalikan. Konsumsi alkohol secara berlebihan juga


menyebabkan tekanan darah tinggi.
10. Kurang Olahraga
Faktor ini bisa dikendalikan. Kurang olahraga dan bergerak bisa menyebabkan
tekanan darah dalam tubuh meningkat. Olahraga teratur mampu menurunkan tekanan
darah tinggi Anda namun jangan melakukan olahraga yang berat jika Anda menderita
tekanan darah tinggi.
C. Tanda dan Gejala
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala, meskipun
secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan
dengan tekanan darah tinggi (padahal sebenarnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah
sakit kepala, pendarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang
bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dngan
tekanan darah normal.
Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut :
1.

Sakit kepala

2.

Kelelahan

3.

Mual

4.

Muntah

5.

Sesak napas

6.

Gelisah

7. Pandangan jadi kabur karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung,
dan ginjal
D. Komplikasi
Komplikasi / Bahaya yang dapat ditimbulkan pada penyakit hipertensi :
1. Pada mata : penyempitan pembuluh darah pada mata karena penumpukan
kolesterol dapat mengakibatkan retinopati, dan efek yang ditimbulkan
pandangan mata kabur.
2. Pada jantung : jika terjadi vasokonstriksi vaskuler pada jantung yang lama
dapat menyebabkan sakit lemah pada jantung, sehingga timbul rasa sakit dan
bahkan menyebabkan kematian yang mendadak.
3. Pada ginjal : suplai darah vaskuler pada ginjal turun menyebabkan terjadi
penumpukan produk sampah yang berlebihan dan bisa menyebabkan sakit pada
ginjal.
4. Pada otak : jika aliran darah pada otak berkurang dan suplai O2 berkurang
bisa menyebabkan pusing. Jika penyempitan pembuluh darah sudah parah
mengakibatkan pecahnya pembuluh darah pada otak ( Stroke )
E. Penatalaksanaan/perawatan
1.

Diet Makanan
Kandungan garam (Sodium/Natrium)

Seseorang yang mengidap penyakit darah tinggi sebaiknya mengontrol diri dalam
mengonsumsi asin-asinan dan garam, ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk
mengontrol diet sodium/natrium ini :
-

Jangan meletakkan garam diatas meja makan

Pilih jumlah kandungan sodium rendah saat membeli

Batasi konsumsi daging dan keju

Hindari cemilan yang asin-asin

Kurangi pemakaiaKLn saos yang umumnya memiliki kandungan sodium


Kandungan Potasium/Kalium

Suplements potasium 2-4 gram perhari dapat membantu penurunan tekanan


darah, Potasium umumnya bayak didapati pada beberapa buah-buahan dan sayuran.
Buah dan sayuran yang mengandung potasium dan baik untuk di konsumsi penderita
tekanan darah tinggi antara lain semangka, alpukat, melon, buah pare, labu siam, bligo,
labu parang/labu, mentimun, lidah buaya, seledri, bawang dan bawang putih. Selain
itu, makanan yang mengandung unsur omega-3 sagat dikenal efektif dalam membantu
penurunan tekanan darah (hipertensi).

F.

1.

Penurunan berat badan

2.

Berhenti merokok dan minuman alcohol

3.

Olah raga teratur

4.

Kontrol dan minum obat secara teratur

Pencegahan
1.

Kurangi berat badan

2.

Olah raga teratur misalnya lari pagi seminggu sekali

3.

Mengubah kebiasaan hidup misalnya kurangi kopi atau alkohol,


mengindari stress, berhenti merokok, dan berusaha hidup santai

4.

Mngirangi makanan yang banyak garam atau banyak lemak

5.

Kontrol teratur ke Puskesmas atau petugas kesehatan lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, L. 2000. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis. Edisi ke-6. Jakarta :
EGC
Leeckenotte, Annete Glesler. 1997. Pengkajian Gerontologi, Edisi ke-2. Jakarta : EGC
Nugroho, Wahjudi. 2000. Keperawatan Gerontik, Edisi ke-2. Jakarta : EGC
http://www.academia.edu/5307284/Asuhan_Keperawatan_Lansia?login=&email_was_taken=tru
e