You are on page 1of 7

SINTESIS DAN KARAKTERISASI FISIKA-KIMIA KITOSAN

(Synthesis and Physicochemical Characterization of Chitosan)


Mardiyah Kurniasih, Dwi Kartika
Program Studi Kimia, Jurusan MIPA UNSOED Purwokerto

ABSTRACT
In the last 10 years, chitosan has received much attention because of its extraordinary
properties and for its inexpensive and abundant resources. Chitosan is biodegradable,
biocompatible and non-toxic. Chitosan is the N-deacetylated derivative of chitin, although
this N-deacetylation is almost never complete. The aim of this study was to prepared and
characterize the physicochemical properties of chitosan samples. Chitosans prepared from
shrimp shells. Characterization included determination of water, ash, fat and protein degree;
moreover chitosan powder characterize with FTIR and XRD spectroscopy. The result
showed that process efficiency of chitosan from shrimp shells was 15,68%, with degree of
water, ash, fat and protein were 19.34, 0.17, 0.69 and 39.98 %, respectively.
Keywords : chitosan, N-deacetylation , characterization.
PENDAHULUAN
Udang merupakan komoditas ekspor non migas yang dapat dihandalkan dan bernilai
ekonomis tinggi. Udang di Indonesia pada umumnya diekspor dalam bentuk beku yang
telah dibuang kepala, ekor dan kulitnya. Sampai saat ini limbah tersebut belum diolah dan
dimanfaatkan secara maksimal sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan khususnya
bau dan estetika lingkungan yang buruk (Anonim, 2006).
Kulit udang mengandung protein (25-40%), kitin (15-20%) dan kalsium karbonat
(45-50%). Kitosan merupakan biopolimer yang diperoleh dari deasetilasi kitin. Akhir-akhir
ini kitosan banyak dimanfaatkan dalam beragam industri dengan alasan limbah industri
makanan laut begitu besar dan perlu untuk diolah menjadi sesuatu yang berguna selain itu
karena sifat-sifat kitosan yang tidak beracun dan biodegradable (Suhardi, 1992).
Proses utama dalam pembuatan kitosan, meliputi penghilangan protein dan
kandungan mineral melalui proses deproteinasi dan demineralisasi, yang masing-masing
dilakukan dengan menggunakan larutan basa dan asam. Selanjutnya, kitosan diperoleh
melalui proses deasetilasi dengan cara memanaskan dalam larutan basa (Tolaimatea et
al., 2003; Rege dan Lawrence, 1999).
Kitosan merupakan polimer yang tersusun dari kopolimer dari glukosamin dan Nasetilglukosamin. Struktur kitosan diilustrasikan pada Gambar 1. Kitosan disebut juga poli

Jurnal Inovasi Vol. 5 No. 1, Januari 2011: 42-48

43

(1,4)-2-amina-2-deoksi--D-glukosa. Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka dilakukan


penelitian sintesis dan karakterisasi kitosan dari kulit udang.

Gambar. 1 Struktur kitosan (Kristbergsson, 2003)

METODE PENELITIAN
Bahan yang digunakan adalah: HCl, NaOH, NaOCl, PE, Cu2SO4, H2SO4 akuades
dan akuabides. Alat yang digunakan adalah: blender, ayakan 100 mesh, gelas beker, alat
refluks, estraksi soxhlet dan destilasi, labu Kjeldahl, kertas saring Whatman 40, oven,
timbangan analitik, kurs porselin dan tanur.
Sintesis kitosan mengacu pada Tolaimatea et al. (2003). Kulit udang yang lolos 100
mesh direaksikan dengan NaOH untuk deproteinasi, demineralisasi dengan HCl, bleaching
menggunakan NaOCl dan deasetilasi sebanyak tiga kali menggunakan NaOH.
Karakterisasi kimia kitosan dilakukan dengan analisis Fourier Transform Infra-Red
Spectrophotometer (FTIR) dan X-Ray Diffractometer (difraksi sinar-X). Karakterisasi fisika
kitosan meliputi: penentuan kadar air, abu, protein dan lemak dari kitosan yang kemudian
dibandingkan dengan raw material (kulit udang).
Kadar air ditentukan dengan mengoven dan mengeringkan sampel pada suhu 100105 oC selama 3 jam. Sampel kemudian didinginkan dalam desikator dan ditimbang.
Kadar abu ditentukan dengan memijarkan sampel pada cawan kosong dalam tanur
suhu 600-650 oC sampai sampel bebas dari karbon, yang ditunjukan dengan sampel
berwarna keabu-abuan sampai putih. Sampel kemudian didinginkan semalam dalam
desikator dan ditimbang.
Kadar lemak ditentukan dengan menambahkan HCL dan akuades pada sampel yang
kemudian dididihkan. Dalam keadaan panas, sampel disaring dengan kertas saring basah.
Residu yang diperoleh dicuci dengan akuades sampai bebas dari asam dan kemudian di
keringkan dalam oven 100 oC. Residu kemudian diekstrak dengan PE. Ekstrak ditampung

Sintesis dan Karakterisasi Fisika Kimia... (M. Kurniasih & D. Kartika)

dalam labu, kemudian eter diuapkan dari ekstrak sebelum dikeringkan dalam oven 100 oC.
Setelah dingin ekstrak ditimbang sampai diperoleh berat konstan.
Kadar protein ditentukan dengan memasukkan sampel ke dalam labu Kjeldahl dan
ditambahkan Cu2SO4 dan H2SO4. Sampel didestruksi dalam lemari asam dengan panas
rendah sampai tidak berasap lagi, destruksi diteruskan dengan panas yang lebih tinggi,
hingga cairan menjadi jernih dan kemudian hasilnya didinginkan. Hasil destruksi dilarutkan
dalam akuades dan didestilasi. Destilat yang diperoleh ditampung dalam erlenmeyer yang
berisi asam borat dan indikator. Destilat kemudian ditambah NaOH

berlebih sampai

berubah warna dari jernih menjadi coklat. Hasil destilat kemudian dititrasi dengan HCl.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Sintesis kitosan
Menurut Tolaimatea et al. (2003), Rege and Lawrence (1999), Suhardi (1992) untuk
deproteinasi digunakan natrium hidroksida dan untuk demineralisasi digunakan asam
klorida dengan pertimbangan metode ini paling praktis.
Pada prinsipnya proses deproteinasi adalah memisahkan atau melepaskan ikatanikatan antara protein dan kitin. Proses ini akan melepaskan protein dengan membentuk Naproteinat yang dapat larut. Proses demineralisasi bertujuan untuk menghilangkan mineralmineral yang terdapat dalam kulit udang. Asam klorida dalam proses demineralisasi akan
melarutkan garam-garam kalsium. Reaksi pelarutan mineral yang terjadi dituliskan pada
persamaan reaksi (1) dan (2).
Ca3(PO4)2 (s) + 6HCl (aq)

3CaCl2 (aq) + 2H3PO4 (aq)

(1)

CaCO3 (s) + 2HCl (aq)

CaCl2 (aq) + CO2 (g) + H2O (l)

(2)

Berdasarkan optimasi sebelumnya, proses bleaching dapat mengurangi kemungkinan


terjadinya deasetilasi sebagian sehingga proses ini perlu dilakukan.
Pemutusan gugus asetil dari gugus N-asetil pada kitin untuk menghasilkan kitosan
disebut proses deasetilasi. Metode yang umum digunakan untuk deasetilasi kitin adalah
dengan menggunakan larutan alkali panas seperti NaOH dalam waktu yang lama. Proses
deasetilasi dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu: konsentrasi NaOH, temperatur reaksi dan
waktu reaksi (Tolaimatea et al., 2003). Champagne (2002) meneliti bahwa konsentrasi
NaOH yang tinggi dapat menghasilkan kitosan dengan derajat deasetilasi yang tinggi.
Proses deasetilasi yang dilakukan secara bertahap dapat meningkatkan derajat deasetilasi

Jurnal Inovasi Vol. 5 No. 1, Januari 2011: 42-48

45

kitosan. Oleh karena itu, proses deasetilasi dalam penelitian ini dilakukan menggunakan
NaOH 60% (b/v) pada temperatur 120 oC dan dilakukan dengan tiga tahap.
Hilangnya gugus asetil pada kitin menurut Champagne (2002) mengikuti mekanisme
reaksi yang tersaji pada Gambar 2. Kitosan dengan deasetilasi sempurna 100% jarang
terjadi karena gugus asetat yang berdekatan ke gugus hidroksil cis dapat mengalami
N-deasetilasi, tetapi gugus yang trans lebih resisten (Suhardi, 1992). Hasil yang didapatkan
dari proses deasetilasi ini berupa serbuk kitosan berwarna coklat muda sebanyak 15,68%
dari berat serbuk udang yang digunakan.

Gambar 2. Mekanisme reaksi deasetilasi kitin (Champagne, 2002)

Karakterisasi kitosan
Karakterisasi kimia kitosan dilakukan dengan analisis terhadap spektra IR untuk
mengetahui gugus fungsional dari produk yang dianalisis sehingga dapat disimpulkan
bahwa senyawa yang dimaksud merupakan senyawa yang diharapkan, yaitu kitosan.
Spektra IR dari kitosan yang diperoleh dari hasil sintesis tersaji pada Gambar 3.
Pada spektra IR kitosan muncul pita serapan pada bilangan gelombang 3440,8 cm -1
yang menunjukkan tumpang tindih serapan vibrasi rentangan gugus OH dan NH. Pita

Sintesis dan Karakterisasi Fisika Kimia... (M. Kurniasih & D. Kartika)

serapan pada bilangan gelombang 2877,6 cm -1 menunjukkan vibrasi rentangan CH pada


CH2 alifatik yang diperkuat dengan munculnya serapan vibrasi bengkokan CH2 pada
bilangan gelombang 1419,5 cm-1. Pada spektra IR kitosan hasil isolasi juga muncul pita
serapan pada bilangan gelombang 1596,9 cm-1 yang menunjukkan vibrasi bengkokan N-H
dari NH2. Pita serapan bengkokan CH3 pada bilangan gelombang 1380,9 cm-1 masih
muncul tetapi dengan intensitas yang lebih lemah, hal ini menunjukkan telah terjadinya
proses deasetilasi yang menyebabkan hilangnya sebagian besar gugus metil, CH 3. Vibrasi
rentangan CN teridentifikasi pada bilangan gelombang 1326,9 cm-1 dengan intensitas
lemah, yang menunjukkan masih adanya sedikit gugus NHCOCH3. Rentangan C-O ikatan
teridentifikasi di bilangan gelombang 1157,2 cm -1 dan 1087,8 cm-1, rentangan CO bisa
berasal dari COC atau COH.

Gambar 3 Spektra IR kitosan


Karakterisasi kedua dari kitosan adalah menggunakan teknik difraksi sinar-X. Teknik
difraksi sinar-X pada umumnya digunakan untuk karakterisasi padatan sehingga diketahui
kristalinitasnya. Pola difraksi sinar-X kitosan menunjukkan pola puncak difraksi pada
posisi 2 sekitar 10o dan 20o. Difraktogram dari kitosan disajikan pada Gambar 4.

Gambar 4 Difraktogram kitosan


Kitosan tidak larut dalam air dan beberapa pelarut organik. Ketidaklarutan kitosan
dalam air dan pelarut organik disebabkan struktur kristalnya seperti tersaji pada Gambar 5
yang tersusun oleh ikatan hidrogen intramolekuler dan intermolekuler.
Jurnal Inovasi Vol. 5 No. 1, Januari 2011: 42-48

47

Gambar 5. Ikatan hidrogen intramolekuler dan intermolekuler kitosan


(Champagne, 2002)

Karakterisasi fisika meliputi penentuan kadar air, abu, lemak dan protein dari kitosan
hasil sintesis yang kemudian dibandingkan dengan raw material (kulit udang). Hasil
karakterisasi fisika dari kitosan dan kulit udang disajikan dalam Tabel 1.
Tingginya kadar air pada kitosan memungkinkan terjadinya proses penggelembungan
(sweeling) pada kitosan, mengingat sifat kitosan yang higroskopis karena kemampuan
gugus amina kitosan mengikat molekul air.
Kadar abu bisa digunakan sebagai indikasi kandungan mineral-mineral dalam sampel.
Dari Tabel 1, bahan baku serbuk kulit udang memiliki kadar abu yang tinggi yaitu 20,23%
yang disebabkan banyaknya mineral-mineral dalam kutikula kulit udang. Kadar abu setelah
menjadi kitosan tinggal 0,17% yang berarti kandungan mineral yang tersisa sangat sedikit.
Kadar protein ditentukan dengan metode Kjeldahl, dimana jumlah N total digunakan untuk
mewakili kadar protein.
Tabel 1. Kadar air, abu, protein dan lemak serbuk udang dan kitosan
Bahan

Kadar rata-rata (%)


air

abu

lemak

protein

serbuk kulit udang

7,15

20,23

1,35

46,35

kitosan

19,34

0,17

0,69

39,98

Sintesis dan Karakterisasi Fisika Kimia... (M. Kurniasih & D. Kartika)

SIMPULAN
Kulit udang putih mengandung kitosan sebanyak 15,68%. Spektra IR kitosan
menunjukan adanya serapan NH2 yang menunjukan telah terjadinya proses deasetilasi.
Pola difraksi sinar-X kitosan menunjukkan pola puncak difraksi pada posisi 2 sekitar 10o
dan 20o. Berdasarkan hasil karakterisasi juga diperoleh kadar air, abu, lemak dan protein
dari kitosan sebesar 19,34; 0,17; 0,69 dan 39,98 %.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2006, Industri Kitin: Dari limbah menjadi bernilai tambah, Departemen Kelautan
dan Perikanan RI, http://www.dkp.go.id/content, diakses pada 25 November 2007.
Champagne, L. M., 2002, The synthesis of water soluble n-acyl chitosan derivatives for
characterization as antibacterial agents, Dissertation, B.S. Xavier University of
Louisiana.
Krisbergsson, K., 2003, Recent developments in deacetylation of chitin and possible
applications in food formulations, Publikasi Presentasi Power Point Online, diakses
tanggal 22 Juni 2007.
Rege, P. R. dan Lawrence H. B., 1999, Chitosan processing: influence of process
parameters during acidic and alkaline hydrolysis and effect of the processing
sequence on the resultant chitosans properties, Carbohydr. Res., 321, 235245.
Suhardi, 1992, Buku monograf khitin dan khitosan, PAU UGM, Yogyakarta.
Tolaimatea, A.; Desbrieresb, J.; Rhazia, M., dan Alaguic, A., 2003, Contribution to the
preparation of chitins and chitosans with controlled physico-chemical properties,
Polym. J. , 44, 79397952.

Jurnal Inovasi Vol. 5 No. 1, Januari 2011: 42-48