You are on page 1of 26

Kata Pengantar

Padi merupakan bahan pangan pokok masyarakat Indonesia yang
memegang peranan penting untuk dikembangkan. Berbagai Inovasi teknologi
telah dihasilkan untuk menunjang peningkatan produksi padi.
Salah satu upaya peningkatan produksi padi dilakukan dengan
perbaikan budidaya padi mulai dari varietas unggul, benih bermutu,
persemaian, persiapan lahan, penanaman, pengairan berselang, pemupukan,
pengendalian gulma secara terpadu, dan lain sebagainya.
Penyebaran media budidaya padi ini diharafkan dapat membantu
penyuluh dalam membimbing dan mendampingi pelaku utama guna
peningkatan kualitas hasil pertaniannya.
Media ini diharafkan dapat menjadi salah satu acuan bagi penyuluh
pertanian dalam melaksanakan pekerjaannya di lapangan.
Tujuan akhir yang ingin dicapai adalah terjadinya proses perubahan
perilaku pelaku utama dalam budidaya padi sehingga meningkatnya produksi
padi, yang berakibat pada peningkatan pendapatan petani dengan
menerapkan teknik budidaya yang berkelanjutan dan bewawasan lingkungan.
Maros, …............... Mei 2012
Penyusun,

Ir . Sampe kendek
NIP.1961102719860301012

1

Daftar Isi

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 1
DAFTAR ISI ........................................................................................................ 2
I.

PENDAHULUAN .................................................................................. 3

II.

SYARAT TUMBUH ............................................................................... 4

III.

TEHNOLOGI BUDAYA ......................................................................... 5

A. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi sawah ................................. 5
Varietas Unggul ............................................................................................................... 6
Benih bermutu....................................................................................... 6
Persemaian ................................................................................. 8

Persiapan Lahan ....................................................................... 8
Penanaman .............................................................................. 9
Pengairan Berselang............................................................... 11
Pemupukan ............................................................................ 12
Pengendalian Gulma Secara terpadu ..................................... 14
Pengendalian Hama dan Penyakit Secara Terpadu ................ 15
B. Pengolahan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Gogo ....................... 18

Penggunaan Varietas Unggul ................................................. 18
Pengolahan tanah dan cara tanam ........................................ 19
Pemupukan ............................................................................ 19
Pengendalian hama dan Penyakit .......................................... 20
IV.

PANEN DAN PASCA PANEN ............................................................. 21
Panen....................................................................................... 21
Pasca Panen .............................................................................. 21
V.
ANALISIS USAHA TANI ..................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 23
LAMPIRAN ...................................................................................................... 25

2

namun kedepan bila hanya mengandalkan padi sawah irigasi akan menghadapi banyak kendala. Disisi lain sumberdaya alam terus menurun sehingga perlu diupayakan untuk tetap menjaga kelestariannya. Artinya tiap komponen teknologi tersebut saling menunjang dan memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Selama ini produksi padi nasional masih mengandalkan sawah irigasi. baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.I. PENDAHULUAN Salah satu tantangan dalam pembangunan pertanian adalah adanya kecenderungan menurunnya produktivitas lahan. Dilain pihak lahan keringtersedia cukup luas dan pemamfaatanya untuk pertanaman padi gogo belum optimal. Salah satu strategi dalam upaya pencapaian produktivitas usahatani padi adalah penerapan inovasi teknologi yang sesuai dengan sumberdaya pertanian di suatu tempat (spesefik lokasi). 3 . Hal tersebut disebabkan banyaknya lahan sawah irigasi subur yang beralih fungsi ke penggunaan lahan non pertanian. sehingga kedepan produksi padi gogo juga dapat dijadikan andalan produksi padi. Teknologi usahatani padi spesifik lokasi tersebut dirakit dengan menggunakan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). maka teknologi yang diterapkan harus memperhatikan faktor lingkungan. PTT padi merupakan suatu pendekatan inovatif dalam upaya peningkatan efisiensi usahatani padi dengan menggabungkan komponen teknologi yang memiliki efek sinergistik. Demikian pula dalam usahatani padi. Agar usahatani padi dapat berkelanjutan. sehingga agribisnis padi dapat terlanjutkan. tingginya biaya pencetakan lahan sawah baru dan berkurangnya debit air.

600 mm/tahun. Reaksi tanah (pH) optimum berkisar antara 5. curah hujan bukan merupakan faktor pembatas tanaman padi. 4 .II.5. Padi gogo memerlukan bulan basah yang yang berurutan minimal 4 bulan. Permeabilitas pada sub horison kurang dari 0. Suhu yang optimum untuk pertumbuhan tanaman padi berkisar antara 24 – 29 “ derajat C. Saat ini hampir seluruh teknologi budidaya tanaman menggunakan konsep PTT termasuk budidaya padi sawah dan padi gogo. Padi gogo biasa ditanam pada lahan kering dataran rendah. Tanaman padi dapat tumbuh pada berbagai tipe lahan. Kriteria kesesuaian lahan dan iklim untuk tanaman padi sawah dan padi gogo dapat dilihat pada lampiran 1 dan lampiran 2. cara pengelolaan tanaman juga mempengaruhi keberlanjutan agribisnis padi.5 cm/jam.5 . Selain agroekosistem. Syarat Tumbuh Pada lahan basah (sawah irigasi). sedangkan pada areal yang lebih terjal dapat ditanam diantara tanaman keras. Bulan basah adalah bulan yang mempunyai curah hujan > 200 mm dan tersebar secara normal atau setiap minggu ada turun hujan sehingga tidak menyebabkan tanaman stress karena kekeringan. tetapi pada lahan kering tanaman padi membutuhkan curah hujan yang optimum > 1.7. Dengan menerapkan pengelolaan tanaman terpadu (PTT) keberlanjutan agribisnis padi dapat diwujudkan.

merupakan suatu pendekatan agar sumberdaya tanaman. 3. 4. Penggunaan varietas padi unggul atau varietas padi berdaya hasil tinggi dan atau bernilai ekonomi tinggi. Komponen teknologi dasar dalam PTT yaitu : 1. Benih bermutu dan berlabel. Agar komponen teknologi yang dipilih sesuai dengan kebutuhan setempat. mempeerhatikan kesesuaian teknologi dengan lingkungan fisik maupun sosial budaya dan ekonomi petani setempat. maka proses perakitannya didasarkan pada hasil KKP (Kajian Kebutuhan dan Peluang). dengan memperhatikan keterkaitan yang saling mendukung antar komponen teknologi. Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu (PHT). memamfaatkan teknologi pertanian terbaik. Sinergis : PTT. PTT menyediakan beberapa pilihan komponen teknologi. 4. Pemupukan berimbang berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah (spesifik lokasi). 2. TEKNOLOGI BUDIDAYA A. Spesifik lokasi : PTT. Dari hasil KKP dapat diketahui masalah yang dihadapi petani dan cara-cara mengatasi masalah tersebut dalam upaya meningkatkan produksi padi. Terpadu : PTT. yaitu : 1. Untuk memecahkan masalah tersebut. 3. Partisipatif : berarti petani turut berperan serta dalam memilih dan menguji teknologi yang sesuai dengan kondisi setempat dan kemampuan petani melalui proses pembelajaran dalam bentuk laboratorium lapangan. yang dibedakan menjadi komponen teknologi dasar dan komponen teknologi pilihan. tanah dan air dapat dikelola dengan sebaik-baiknya secara terpadu.III. 5 . 2. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi sawah Penerapan PTT didasarkan pada empat prinsip.

Telur diletakkan didalam air dan masukkan garam sampai telur mulai terangkat kepermukaan. Pengendalian gulma. Penanaman bibit umur muda dengan jumlah bibit terbatas yaitu antara 1 – 3 bibit perlubang. Varietas Unggul Gunakan VUB. 7. mempunyai produktivitas tinggi. (Varietas Unggul Baru) yang mampu beradaptasi dengan lingkungan untuk menjamin pertumbuhan tanaman yang baik. kemudian telur diambil dan benih dimasukkan ke dalam air garam. Ciherang. 6 . Sebagai contoh. yaitu : 1. Peningkatan populasi tanaman.Komponen Teknologi Pilihan dalam PTT. Mekongga. Saat ini telah tersedia berbagai Varietas Unggul yang dapat dipilih sesuai dengan kondisi wilayah. hsil tinggi dan kualitas baik serta rasa nasi diterima pasar. 4. varietas unggul baru yang dapat dikembangkan adalah . dan sesuai permintaan konsumen. Tanam VUB secara bergantian untuk memutus siklus hidup hama dan penyakit. Batang Piaman. Panen tepat waktu. 5. Cigeulis. Pemilihan benih bermutu dilakukan dengan cara :  Merendam benih dalam larutan garam dengan menggunakan indikator telur. Pengaturan pengairan dan pengeringan berselang. Sarinah dan Bondoyudo. 2. selanjutnya benih yang mengambang dibuang. Perontokan gabah sesegera mungkin. Benih Bermutu Benih bermutu adalah benih dengan vigor tinggi dan bersertifikat. 3. Penggunaan kompos bahan organik dan atau pupuk kandang sebagai pupuk dan pembenah tanah. 6. Ciliwung.

dan tahan hdb Ciliwung 5. kemudian di aduk-aduk dan benih yang mengambang di buang.00-7.40 116-125 Agak tahan WCK biotipe 2 – 3. HDB.7 liter air) masukkan benih ke dalam larutan garam atau pupuk ZA (volume larutan w2 kali volume benih).60 97-120 TAHAN TERHADAP Piaman PENYAKIT BIAS DAUN DAN BIAS LEHER MALAI Keterangan : WCK : Wereng Cokelat.00 117-125 Tahan wck biotipe 1. agak tahan HDB biotipe strain IV Sarinah 6.00-8.00-6.00-8.40 110-120 Tahan WCK DAN TUNGRO Batang 6.00 115-125 Tahan WCK bio tipe 2 – 3 dan HDB strain IV Bondoyudo 6.00 110-125 Agak tahan WCK bio tipe 1 agak peka bio tipe 2 . tahan tungro dan HDB Mekongga 6.00-6. ganjur.50 116-125 Tahan wck biotipe 2. 2 wh.Tabel 1.98-8. Varietas Unggul Padi sawah dan beberapa karakteristik penting : Varietas Produktivitas Umur Ketahanan Ton/Ha GKG Tanaman Terhadap Hama dan (Hari) Penyakit IR 64 5.3 Cigeulis 5.00-8.00-8.00 110-120 Tahan wck biotipe 1 agak tahan wck biotipe 3 Ciherang 6. 7 . Hawar Daun Bakteri Tekstur Nasi Pulen Pulen Pulen Pulen Pulen Pulen Pulen Pera  Dapat juga dengan cara membuat larutan garam dapur ( 30 gr garam dapur dalam 1 liter air) atau larutan pupuk ZA (1 kg pupuk ZA dalam 2.

Pada saat di tanam pindah bibit tumbuh lebih cepat. Persemaian Untuk keperluan penanaman seluas 1. selanjutnya diperam dalam karung selama 48 jam dan dijaga kelembabannya dengan cara membasahi karung dengain air. Dua minggu sebelum pengolahan tanah taburkan bahan organik secara merata diatas hamparan sawah. Jumlah tanaman optimum sehingga akan memberikan hasil yang tinggi.Keuntungan menggunakan benih bermutu : 1. 3.00 Ha benih yang dibutuhkan sebanyak kurang lebih 20 kg. Antar bedengan dibuat parit sedalam 30 cm. 2. Jika disemaikan akan menghasilkan bibit yang tegar dan sehat. serbuk kayu dan abu sebanyak 2 kg/m2. 4. Untuk benih hibrida langsung direndam dalam air dan selanjutnya diperam. Faktor yang menentukan adalah kemarau panjang. Penambahan ini memudahkan pencapbutan bibit padi sehingga kerusakan akar bisa dikurangi. benih bernas (yang tenggelam) dibilas dengan air bersih dan kemudian direndam dalam air selama 24 jam. jenis/tekstur tanah. bahan 8 . Persiapan Lahan Pengelohan tanah dapat dilakukan secara sempurna (2 kali bajak dan 1 kali garu) atau minimal atau tanpa olah tanah sesuai keperluan dan kondisi. Benih tumbuh cepat dan serempak. pola tanam. Luas persemaian sebaiknya 400 meter2/ha (4 % dari luas tanam) lebar bedengan pembibitan 1 – 2 m dan diberi campuran pupuk kandang.

Penanaman Tanam bibit muda (< 21 HSS hari setelah sebar) sebanyak 1 – 3 bibit/rumpun. Penyulaman dilakukan sebelum tanaman berumur 14 HST (Hari Setelah Tanam). Cara tanam berselang seling 2 baris tanam dan 1 baris kosong (legowo 2 : 1) atau 4 baris tanam dan satu baris kosong (legowo 4:1) seperti pada gambar 3) Gambar 3 9 . penanaman disarankan dengan sistem jejer legowo 2 : 1 atau 4 : 1 (40 x (20 x 10) cm atau (50 x (25 x `12. tanah dalam konsih jenuh air.5) cm karena populasi lebih banyak dan produksinya lebih tinggi dibanding dengan sistem jejer tegel (Tabel 2).organik yang digunakan dapat berupa pupuk kandang sebanyak 2 ton/ha atau kompos jerami sebanyak 5 ton/ha. Bibit lebih muda (14 HSS) dengan 1 bibit/rumpun akan menghasilkan anakan lebih banyak. hanya pada daerah endemis keong mas gunakan benih 18 HSS dengan 3 bibit/rumpun. Pada saat bibit ditanam.

000 150 9 Legowo 4.000 160 7 Legowo 2. 22 x 22 cm.1 10 x 20 cm 333.Pengaturan jarak tanam dilakukan dengan caplak.  Pada tahap awal areal pertanaman lebih terang sehingga kurang disenangi tikus. Sistem tanam tegel.1 12.1 10 x 20 cm 375’000 150 6 Legowo 4.333 133 5 Legowo 3.5 x 25 cm 240. Cara Tanam Populasi Tanaman tiap Ha. setelah dilakukan caplak silang dan dan membentuk tegel (20 x 20 cm atau 25 x 25 cm) pada barisan ganda yang akan membentuk jarak tanam dalam barisan hanya 10 cm.  Terdapat ruang kosong untuk pengaturan air.5 x 25 cm 256. Tabel 2 Populasi tanaman per ha. No.1 12. penyakit dan gulma lebih mudah. saluran pengumpulan keong mas atau untuk mina padi. Tegel (20 x 20 cm. kekurangan bibit untuk baris berikutnya diambilkan bibit dari persemaian.1 12.661 100 3 Tegel 25 x 25 cm 160’000 100 4 Legowo 2.  Penggunaan pupuk lebih berdaya guna.000 133 8 Legowo 3. Pada berbagai jarak tanam . 25 x 25 cm) maupun sistem tebar benih langsung.000 100 2 Tegel 22 x 22 cm 206. dengan lebar antar titik 2025 cm. Keuntungan cara tanam jejer legowo antara lain :  Rumpun tanaman yang berada pada bagian pinggir lebih banyak.5 x 25 cm 213. % terhadap populasi model tegel 1 Tegel 20 x 20 cm 250.000 160 10 . juga dapat digunakan dalam pendekatan PTT.  Pengendalian hama.1 10 x 20 cm 400.

Akar yang dalam dapat menyerap unsur hara dan air yng lebih banyak. mengurangi penyebaran hama wereng coklat dan penggerek batang serta mengurangi kerusakan tanaman padi karena hama tikus. 8. Mengurangi jumlah anakan yang tidak produktif (tidak menghasilkan malai dan gabah). Memudahkan pembenaman pupuk kedalam tanah (lapisan olah).Mempermudah pengendalian hama keong mas. 2. Mengurangi kerebahan tanaman. 6. Menghemat air irigasi segingga areal yang dapat diairi lebih luas. 11 . Tujuan Pengairan Berselang adalah : 1. 7. Mencegah penimbunan asam organik dan gas H2S yang menghambat perkembangan akar. Mencegah tmbulnya keracunan besi.Pengairan Berselang Pemberian air berselang (intermittent) adalah pengaturan kondisi sawah dalam kondisi kering dan tergenang secara bergantian. 3. Memberi kesempatan akar tanaman memperoleh udara lebih banyak sehingga dapat berkembang lebih dalam. 10. Menyeragamkan pemasakan gabah dan mempercepat waktu panen. 4. 9. Mengaktifkan jasad renik (mikroba tanah) yang bermanfaat. 5.

Pupuk awal N diberikan pada umur padi sebelum 14 HST. 12 . Pada hari ke4 lahan sawah diairi kembali dengan tinggi genangan 3 cm. Pembacaan BWD hanya dilakukan menjelang pemupukan kedua (tahap anakan aktif 21 – 28 HST) dan pemupukan ke tiga tahap primordia pada umur tanaman 35 – 40 HST. Ditentukan berdasarkan tingkat kesuburan tanah. pembacaan BWD juga dilakukan pada saat tanaman dalam kondisi keluar malai dan 10 % berbunga. Pemupukan Pemupukan beimbang. Apabila ketersediaan air selama satu musim tanam kurang mencukupi. Sejak 10 – 15 hari sebelum panen sampai saat panen tanah sawah dikeringkan. Takaran pupuk dasar N untuk padi varietas unggul baru sebanyak 50 – 75 kg Urea/ha sedangkan untuk padi tipe baru dengan takaran 100 kg Urea/ha. Namun demikian tingkat hasil yang ditetapkan juga memperhatikan daya dukung lingkungan setempat dengan melihat produktivitas padi pada tahun tahun sebelumnya. Untuk setiap ton gabah yang dihasilkan tanaman padi membutuhkan hara N sekitar 17. Khusus untuk padi hibrida dan padi tipe baru. sudah barang tentu diperlukan pupuk yang lebih banyak. yaitu pemberian berbagai unsur hara dalam bentuk pupuk untuk memenuhi kekurangan hara yang dibutuhkan tanaman berdasarkan tingkat hasil yang ingin dicapai dan hara yang tersedia dalam tanah. Agar efektif dan efisien penggunaan pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan ketersediaan hara dalam tanah. Pada sawah-sawah yang sulit dikeringkan (drainase jelek) pengairan berselang tidak perlu dipraktekkan. Pada tanah sawah berpasir dan cepat menyerap air. Mulai fase pembentukan malai sampai pengisian biji. pengairan bergilir dapat dilakukan dengan selang 5 hari. waktu pergiliran pengairan harus diperpendek. petakan sawah diairi dengan tinggi genangan 3 cm dan selama 2 hari berikutnya tidak ada penambahan air. dengan demikian jika kita ingin memperoleh hasil gabah tinggi. petakan sawah digenagi terus. Kebutuhan N tanaman dapat diketahui dengan cara mengukur tingkat kehijauan warna daun padi menggunakan bagan Warna Daun (BWD) Nilai pembacaan BWD digunakan untuk mengoreksi dosis pupuk N yang telah ditetapkan sehingga menjadi lebih tepat sesuai dengan kondisi tanaman.Cara pemberian air yaitu saat tanaman berumur 3 hari. cara ini dilakukan terus sampai fase anakan maksimal. P sebanyak 3 kg dan K sebanyak 17 kg.5 kg.

00 8. efesiensi pupuk N dapat ditingkatkan dengan memasukkan hara N ke dalam lapisan reduksi. Takaran urea susulan yang diperlukan bila warna daun di bawah nilai kritis (< 4 BWD) berdasar pengamatan tetap .  Apabila warna daun pada skala 4 BWD atau mendekati skala 5 BWD tanaman tidak perlu dipupuk N bila tingkat hasil 5 – 6 ton/ha GKG tambahkan 50 kg/Ha urea jika tingkat hasil diatas 6 ton/ha. Berdasarkan hasil penelitian. secara semi kuantitatif dengan metode kolorimetri (pewarnaan).00 BWD < 3 5. sehingga pada saat pemupukan sebaiknya saluran pemasukan dan pengeluaran air ditutup.  Jika warna daun mendekati skala 4 BWD gunakan 58 kg urea/ha bila tingkat hasil 5 ton/ha GKG. Tabel 3. Namun teknologi ini tidak mudah diterapkan petani. Selanjutnya gunakan Tabel 3 untuk menyesuaikan kebutuhan pupuk N berdasar rata-rata tingkat hasil. Respons terhadap Pupuk N Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Pembacaan BWD Rata-rata Hasil (Ton/Ha GKG) 6.5 50 75 100 1125 BWD > 4 0 0 . 13 .00 Takaran Urea yang digunakan (Kg/Ha) 75 100 125 150 BWD -. Pupuk urea merupakan pupuk yang mudah larut dalam air.Pembacaan BWD adalah sebagai berikut :  Apabila warna daun berada pada skala 3 BWD. tambahkan 25 kg urea untuk kenaikan setiap kenaikan 1 ton/ha.00 7. Pemupukan P dan K disesuaikan dengan hasil analisis status hara tanah dan kebutuhan tanaman. gunakan 75 kg urea/ha bila tingkat hasil 5 ton/ha gkg. Status hara tanah sawah dapat ditentukan langsung di lapangan dengan alat PUTS (Perangkat Uji Tanah Sawah). Tambahkan 25 kg urea untuk kenaikan setiap kenaikan 1 ton/ha.50 50 50 Cara pemberian pupuk N dilakukan dengan cara disebar merata di permukaan tanah. Prinsip kerja PUTS adalah mengukur hara P dan K tanah yang terdapat dalam bentuk tersedia.

menggunakan benih padi bersertifikat. Tabel 4. Dari masing-masing kelas status P dan K tanah sawah telah dibuatkan acuan pemupukan P (dalam bentuk SP-36) dan K (dalam bentuk KCl) yang dapat dilihat pada Tabel 4 dan Tabel 5.Pengukuran status P dan K tanah dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu rendah (R). Acuan umum pemupukan fosfor pada tanaman sawah Kelas status hara P tanah Rendah Sedang Tinggi Kadar hara terekstak HCl 25% (mg P2 O5/ 100g) Dosis acuan pemupukan P (kg SP36/ha) <20 20-40 >20 100 75 50 Tabel 5. hanya menggunakan kompos sisa tanaman dan kompos pupuk kandang. dan tinggi (T). sedang (S). 14 . mengatur air dipetakan sawah. dan menggunakan herbisida apabila infestasi gulma sudah tinggi. karena cara ini sinergis dengan pengolahan lainnya. Pengendalian gulma secara manual hanya efektif digunakan apabila kondisi air dipetakan sawah macak-macak atau tanah jenuh air. Acuan umum pemupukan kalium pada tanaman padi sawah Kelas status Hara K tanah Kadar hara tanah Terekstrak HCl 25% (mg K2 O/100g) Dosis acuan pemupukan K (kg KCl/ha) + Jerami Rendah Sedang Tinggi < 20 10-20 >20 50 0 0 - Jerami 100 50 50 Pengendalian Gulma Secara Terpadu Gulma dikendalikan dengan cara pengolahan tanah sempurna. Pengendalian gulma secara manual dengan menggunakan kosrok (landak) sangat dianjurkan.

o Berikan pupuk K untuk mengurangi kerusakan o Monitor pertanaman paling lambat 2 minggu sekali. Ambang ekonomi hama ini adalah 15 ekor per rumpun. pasang saringan pada pemasukan air. sebar benih lebih banyak untuk sulaman dan bersihkan air dari tanaman seperti kangkung. Kalimas. keringkan sawah sampai 7 HST. o Stadia vegetative : Tanam bibit yang agak tua (>21 hari) dan jumlah bibit lebih banyak. 15 . o Stadia generatif dan setelah panen: Ambil keong mas dan musnahkan. Cara pengendalian sbb: o Gunakan varietas tahan wereng coklat. atau 21 HSS benih (semai basah). umpan dengan menggunakan daun talas dan pepaya. dan gembalakan itik setelah padi panen. ambil dan musnahkan telur siput pada tanaman dan aplikasikan pestisida anorganik dan nabati seperti saponin dan rerak sebanyak 20-50 kg/ha sebelum tanam pada caren. dan Batang gadis. ambil keong mas dan musnahkan. Wereng Coklat Wereng cokelat menyukai pertanaman yang dipupuk nitrogen tinggi dengan jarak tanam rapat. PHT merupakan paduan berbagai cara pengendalian hama dan penyakit.Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu Pengendalian hama dan penyakit terpadu (PHT) merupakan pendekatan pengendalian yang memperhitungkan faktor ekologi sehingga pengendalian dilakukan agar tidak terlalu mengganggu keseimbangan alami dan tidak menimbulkan kerugian besar. Bondoyudo. PHT pada keong mas dilakukan sepanjang pertanaman dengan rincian sebagai berikut : o Pratanam : Ambil keong mas dan musnahkan sebagai cara mekanis o Persemaian : Ambil keong mas dan musnahkan. Siklus hidupnya 21-33 hari. Keong Mas Waktu kritis untuk pengendalian keong mas adalah pada saat 10 HTS pindah. Hama yang sering menyerang tanaman padi sawah adalah : a. Sintanur. b. diantaranya melakukan monitoring populasi hama dan kerusakan tanaman sehingga penggunaan teknologi pengendalian dapat lebih tepat. seperti: Ciherang. pasang ajir agar siput bertelur pada ajir.

d. sanitasi gulma pada habitat tikus. dan bila genangan air tinggi aplikasikan insektisida cair seperti dimehipo. Pada daerah endemi tikus. Lakukan gropyokan masal dengan melibatkan semua anggota kelompok tani. dilakukan secara dini. serta lakukan fumigasi sarang tikus. tanggul jalan. Bila populasi tinggi (di atas ambang ekonomi) aplikasikan insektisida. intensif dan terus menerus (berkelanjutan) dengan memamfaatkan teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Pada periode padi generatif. 4 kelompok telur per rumpun (pada vase bunting). pasang LTBS di dekat habitat utama dan dipindahkan setiap 5 hari. baik yang ada dihamparan sawah maupun disekitar sawahagar tidak digunakan sebagai sarang tikus. Ambang ekonomi penggerek batang adalah 10% anakan terserang. lakukan fumigsi asap belerang pada setiap sarang aktif tikus. Tikus Pengendalian hama tikus terpadu (PHTT) didasarkan pada pemahaman ekologi jenis tikus. dan batas sawah dengan perkampungan. Pengendalian tikus ditekankan pada awal musim tanam untuk menekan populasi awal tikus sejak awal pertanaman sebelum tikus memasuki masa reproduksi. bensulap. sanitasi gulma pada habitat utama dan pasang LTBS di dekat habitat utama secara periodik. sanitasi habitat. 16 . Siklus hidupnya 40-70 hari. pada periode padi vegetatif. o Bila populasi hama di atas ambang ekonomi gunakan insektisida kimiawi yang direkomendasi. c. Gejala kerusakan yang ditimbulkannya mengakibatkan anakan mati yang disebut sundep pada tanaman stadia vegetatif. Bila genangan air dangkal aplikasikan insekktisida butiran seperti karbofuran dan fipronil. Bila populasi tikus masih tinggi. pematang besar. lindungi persemaian dengan memasang pagar plastik dan memasang dua bubu perangkap untuk persemaian berukuran 10 m X 10 m. amitraz dan fipronil. Kegiatan tersebut meliputi gropyokmasal. Gropyokan dapat berupa pembongkarakan sarang tikus pada habitat utama seperti sepanjang tanggul irigasi. Penggerek batang Stadia tanaman yang rentan terhadap serangan penggerek batang adalah dari pembibitan sampai pembentukan malai. dan beluk (malai hampa) pada tanaman stadia generatif.o Bila populasi hama di bawah ambang ekonomi gunakan insektisida botani atau jamur ento-mopatogenik (Metarhizium annisopliae atau Beauveria bassiana). pemasangan TBS (Trap Barrier System) dan LTBS (Linier Barrier System).

o Tangkap walang sangit dengan menggunakan jaring sebelum stadia pembungaan. Kerusakan yang ditimbulkannya menyebabkan beras berubah warna dan mengapur. Fase pertumbuhan tanaman padi yang rentan terhadap serangan walang sangit adalah dari keluarnya mali sampai matang susu. f. atau dengan kotoran ayam. akan merubahleher malaiyang terinfeksi menjadi kehitamhitaman dan patah. Ambang ekonomi walang sangit adalah lebih dari 1 ekor walang sangit per dua pada masa keluar malai sampai fase pembungaan. Penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB) Penyakit HDB disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae dengan geja penyakit berupa bercak berwarna kuning sampai putih berawal dari terbentuknya garis lebam berair pada bagian tepi daun. o Gunakan benih atau bibit yang sehat. Gejala khas pada daun yaitu bercak berbentuk belah ketupat-lebar ditengah daun meruncing di kedua ujungnya.daging yang sudah rusak. Bila infeksi terjadi pada ruas batang dan leher malai (neck blask). g. serta hampa.3-0. Penyakit Blast Blast dapat menginfeksi tanaman padi pada semua stadia pertumbuhan. Walang Sangit Walang sangit merupakan hama yang umum merusak bulir padi pada fase pemasakan. o Bersihkan tanggul-tanggul dan jerami-jerami yang terinfeksi. 17 . o Lakukan penyemprotan pada pagi sekali atau sore hari ketika walang sangit berada di kanopi. o Umpan walang sangit dengan menggunakan ikan yang sudah busuk. o Apabila serangan sudah mencapai ambang ekonomi lakukan penyemprotan insektisida. mirip gejala beluk oleh penggerek batang.5 X 0. o Pupuk lahan secara merata agar pertumbuhan tanaman merata. Ukuran bercak kira-kira 1-1.5 cm berkembang menjadi berwarna abu-abu pada bagian tengahnya. Cara pengendaliannya adalah: o Kendalikan gulma di sawah dan di sekitar pertanaman. Cara pengendalian sebagai berikut: o Gunakan varietas tahan seperti conde dan angke o Gunakan pupuk nitrogen sesuai dengan kebutuhan tanaman. o Jarak tanam jangan terlalu rapat.e.

dataran rendah s/d ketinggian 500 m dpl Cocok di tanam di lahan kering atau lahan sawah 18 .Cara pengendaliannya adalah: o Gunakan varietas tahan blast secara bergantian. dan (4)Sistim tanam seperti jajar legowo dan memupuk dalam larikan untuk efisiensi pupuk. Ciri-ciri Varietas Padi Gogo Ciri-ciri/Varietas Limboto Situpatenggang Batutegi Situbagendit Umur (hari) 115-125 110-120 112-120 110-120 Potensi hasil 6. Tabel 6.0 t/ha GKG 6. o Gunakan pupuk nitrogen sesuai anjuran. o Gunakan fungisida yang berbahan aktif metil tiofanat atau fosdifen dan kasugamisin. B. Penggunaan Varietas Unggul Beberapa varietas padi gogo serta ciri-cirinya dapat dilihat pada Tabel 6.0 t/ha 6.0 t/ha Bentuk gabah Bulat besar Agak gemuk Bulat sedang Tekstur nasi Sedang Sedang aromatik Pulen Panjang ramping Pulen Anjuran tanam Cocok ditanam pada lahan kering yang subur. o Upayakan waktu tanam yang tepat.<500 m dpl Lahan tipe aluvial dan podsolik. <300 m dpl Lahan kering subur dan podsolik merah kuning.0 t/ha GKG 6. o Perlakuan benih. (3) Pemupukan berimbang sesuai rekomendasi setempat waktu pemupukan yang tepat. (2) Penambahan bahan organik tanah dan tindakan konservasi tanah. Pengolahan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Gogo Secara umum komponen utama pendekatan model PTT padi gogo adalah: (1) Penggunaan Varietas unggul (disarankan lebih dari satu varietas). agar waktu awal pembungaan tidak banyak embun dan hujan terus menerus.

Hal ini biasanyaterjadi antara akhir bulan Oktober sampai akhir bulan Nopember. Penerapan PTT di Kelurahan Mattirodeceng. Sistim tanam sebaiknya dengan sisitem jajar legowo dengan jarak tanam 30 X 20 X 10 cm dengan 4-5 butir per lubang. Berikut contoh penerapan PTT di Kelurahan Mattirodeceng Kecamatan Lau Kabupaten Maros.Pengolahan Tanah dan Cara Tanam Sebaiknya lakukan pengolahan tanah dua kali. 5 butir/lubang Pupuk kandang/kompos 2-4 ton/ha .SP-36 150 kg/ha . Karena itu pemberian bahan organik baik berupa kompos maupun pupuk kandang menjadi keharusan di lahan kering. pertama dilakukan pada awal hujan saat tanah lembab dan kedua dilakukan pada saatmenjelang tanam. Pemupukan Kunci keberhasilan dan keberlanjutan pengolahan lahan kering adalah bagaimana mempertahankan atau meningkatkan kandungan bahan organik tanah yang berfungsi menyangga air dan hara yang dibutuhkan tanaman.Urea 200 kg/ha→ 3 kali aplikasi . Pemberian bahan organik tersebut dikombinasikan dengan pemberian pupuk N. Komponen Teknologi Uraian Varietas Unggul Cara tanaman benih Pupuk Organik Pupuk kimia Limboto dan Situpatenggang Ditugal. Penanaman sebaiknya dilakukan bila curah hujan sudah mulai stabil atau mencapai 60 mm/10 hari. Tabel 7.KCl 75 kg/ha Cara aplikasi pupuk jarak tanam Dalam larikan 20 X 20 cm 19 . P dan K secara berimbang yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan ketersediaan hara di dalam tanah.

hama yang sering menyerang adalah: lalat bibit. 20 . Adapun untuk mengurangi hama yang muncul di lapangan perlu melakukan monitoring yang teratur agar keberadaan hama dan penyakit sejak dini dapat diketahui dan bila perlu dapat menggunakan pestisida yang sesuai. penggerek batang dan hama lundi. Pada pertumbuhan lebih lanjut hama penggerek batang dan penggulung daun.Pengendalian Hama dan Penyakit Organisme pengganggu tanaman (OPT) pada pertanaman padi gogo hampir sama dengan pertanaman padi di lahan irigasi. Penyakit utama yang sering menyerang adalah blast yang dapat menyebabkan tanaman puso. Pada saat pertumbuhan vegetatif. Bila tanaman sudah mulai keluar malai hama yang sering menyerang adalah hama kepik hijau dan walang sangit .

Gabah yang sudah kering dapat digiling dan disimpan. dan kadar air gabah (12-14%) 2. perlu diperhatikan waktu panen. jika akan digiling. gunakan pengering buatan pertahankan suhu pengering 500 C untuk gabah konsumsi atau 420 C untuk mengeringkan benih. Simpan gabah pada kadar air kurang 14% untuk konsumsi dan kurang dari 13% untuk benih. tetapi malai masih segar.IV. 21 . Sebelum digiling gabah yang dikeringkan tersebut diangin-anginkan terlebih dahulu untuk menghindari butir pecah. Perontokan lebih dari 2 hari menyebabkan kerusakan beras. 30-40 cm di atas permukaan tanah. Potong padi dengan sabit gerigi. Pada musim hujan. Sebaiknya panen padi dilakukan oleh kelompok pemanen dan gabah dirontokkan dengan power tresher atau pedal tresher. Simpan gabah/beras dalam wadah yang bersih dalam lumbung/gudang. 3. dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Pasca Panen Jamur gabah di atas lantai jemur dengan ketebalan 5-7 cm. Apabila panen dilakukan pada waktu pagi hari sebaiknya pada sore harinya langsung dirontokkan. PANEN DAN PASCA PANEN Panen Lakukan panen saat gabah telah menguning. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam penggilingan dan penyimpanan adalah: 1. bebas hama. Untuk mendapatkan beras kualitas tinggi. Pengeringan dilakukan sampai kadar air gabah mencapai 12-14% untuk gabah konsumsi dan 10-12% untuk benih. dikeringkan terlebih dahulu sampai kadar air 12-14%. sanitasi (kebersihan). 5. Gabah yang sudah disimpan dalam penyimpanan. lakukan pembalikan setiap 2 jam sekali. Gunakan plastik atau terpai sebagai alas tanaman padi yang baru dipotong dan ditumpuk sebelum dirontok. 4.

14 4.000 80.000 3. Bantimurung pada MK I 2007 Uraian A.000 300.900 9.000 900.513.000 294.625.000 2.57 22 . PENERIMAAN -Produksi(kg) -Harga(kg) -Nilai Hasil (Rp) R/C ratio Inbrida Hibrida Pola Petani 130.000 315.000 40.900 9.000 4.999.700 2.000 48.44 5.690 1. Analisis biaya dan pendapatan usaha tani padi sawah di Kampung Parangki Mattoangin. Analisis biaya usahatani padi Gogo 2002-2005 di Desa Tompobulu Kegiatan Biaya upah tenaga kerja Biaya bahan Biaya lain-lain Total biaya Pendapatan berdasarkan harga gabah saat panen Produksi rata-rata (t/ha) B/C ratio Rata-rata 1.000 678.000 570.300 2.980.373.09 Tabel 9.000 852.V.000 770. Analisis Usaha Tani Tabel 8.506.084.080 1.900 8. Pengeluaran Sarana Produksi -Benih -Pupuk buatan -Pupuk kandang -Pestisida Tenaga Kerja -Persiapan lahan -Penyemaian -Penanaman -Pemupukan -Penyemprotan -Panen Jumlah Pengeluaran B.000 400.023.407 1.460.000 1.000 5.000 400.700 5.000 294.000 480.000 100.000 762.000 180.000 661.000 40.000 1.281.000 5.474.000 900.900 3.000 4.000 48.000 812.000 570.000 40.000 900.000 600.000 80.235 1.

Marwan. H. J. 40 hal.. Subagyo. 2008. Badan LITBANG Pertanian. Integrated crop management experinces on low land rice in Indonesia. Kriteria kesesuaian lahan untuk komoditas pertanian. jagung. A.. September 12-14 Tabanan Bali. BPTP Lampung Departemen Pertanian. Pengelolaan tanaman terpadu (PTT) padi Gogo. Abdurahman S.. D. Indonesia Centre for Rice Research Development (ICFRD). Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. A. Modul pelatihan TOT SL-PTT padi nasional. 23 . E. I. 36p Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Indonesia. dan kedele. PUSLITTANNAK. Proceeding of international Rice of Conference 2005. Bogor. Sopandi. 2008. Jakarta. 2007. 2008. Petunjuk Teknis Lapang. Badan Litbang Pertanian. Juliardi. DEPTAN. Modul pemupukan padi sawah spesifik lokasi. Suhartatik. Barus . Laporan Akhir Tahun. S. Indonesia Agency for Research and Development.DAFTAR PUSTAKA Abdurahman. 38/07/Th. Suharta. XI: 1-10. 2000. dan D. Badan Pusat Statistik. Petunjuk Teknis Lapang. Pengolahan tanaman terpadu (PTT) padi sawah irigasi. Kasno.K Makarim. Widyantoro dan A. H. Mulyani. 2006. 2008. Pengembangan Varietas unggul dan galur harapan padi gogo secara partisipatif. dan N. Setyorini. Las dan I. Djaenuddin. A. 2005. Berita Resmi Statistik No. Produksi padi.

28p. Indrasari. BPTP Sumut. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.43p. Daradjat.R. Sudibyo TWU. M. 2008. Zulkifli Zaeni. Masalah lapang hama. Suwarno. Centre Research Institute of Agriculture. Bogor. Deskripsi Varietas padi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. BPTP Sulsel. Toha H. Baehaki. BPTP Jateng. Bogor. Indonesia. dan IRRI. 57p 24 . 1997. BPTP Kalsel. dkk. Aan A.. S. hara pada padi. 2005. 40p. H. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bambang Sutaryo. Petunjuk teknis lapang Pengolahan tanaman terpadu (PTT) padi Gogo. Petunjuk lapang pengolahan tanaman terpadu padi sawah. dan Mahyuddin Syam. BPTP NTB. I Putu Wardana. Kerja sama Balitpa. BPTP DIY. BP2TP. Satoto. BPTP kaltim. Sarlan Abdulrachman. L. Hal. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. A. Setyono. 2007. 63-71. Suprithatno B.. Satoto. Yamin. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. 2004.D. badan penelitian dan pengembangan pertanian. Jakarta. Diah WS. BPTP Jatim. Suyamto. BPTP Jabar. N. Hasil Sembiring. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Petunjuk teknis irigasi. pnenyakit.Oldeman. 78p. An agroclimate map of Java Contr. dan I Nyoman Widiarta. Jakarta. Sembiring. Petunjuk teknis lapang daerah pengembangan dan anjuran budidaya padi hibrida. 1975. Hasil program penelitian dan pengembangan tanaman pangban. Sukamandi. Jakarta. dkk. 2006. Widiarta.

F11. agak cepat ak 15-35 <18 >35 Cepat K >35 <35 <4.2-8.0-5. F43 F14. ah = agak halus. baik S 3-15 Sangat terhambat. S2 = cukup sesuai.5-8. KTK liat (Cmol) 2. F33.5 8. F45 <5 <5 5-15 5-15 15-40 15-25 >40 >25 Keterangan: Tekstur h = halus. Drainase 2. F32 F13. agak baik h. pH 4. Kejenuhan basa (%) 3.5 <0. Kriteria kesesuaian lahan untuk tanaman padi sawah Karasteristik lahan Kelas Kesesuaian Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (tc) Temperatur rata-rata (0C) 24-29 22-24 29-32 18-22 32-35 Ketersedian air (wa) Kelembaban (%) 33-90 30-33 <30.5 ≤16 34-50 5. Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (nr) 1. C-organik (%) Toksisitas (xc) Salinitas (ds/m) Sodisitas (xn) Alkalinitas/ESP (%) Bahaya sulfidik (xs) Kedalaman sulfidik (cm) Bahaya erosi (eh) 1.8 >1. s = sedang.5 0. Bahan kasar (%) 4. F24 F34. Singkapan batuan (%) agak terhambat. F41 F42. F12 F21. k = kasar. S1 = sangat sesuai. Bahaya erosi Bahaya banjir (fh) Genangan Penyiapan lahan (lp) 1. N = tidak sesuai 25 . F25 F35. F44 F15. Tekstur 3.5 >8.2 Terhambat.8-1. F23 F31. Batuan di permukaan (%) 2. Lereng (%) 2.Lampiran 1. >90 Media perakaran (rc) 1. ak = agak kasar. S3 = sesuai marginal. ah <3 >16 >50 5.5 <2 2-4 4-6 >6 <20 20-30 30-40 >40 >100 75-100 40-75 <40 <3 sr 3-5 - 5-8 - >8 >sd F0. F23.

agak terhambat h. sangat terhambat Curah hujan (mm) bulan ke-4 Kelembaban (%) Media perakaran (rc) 1. Bahan kasar 4.9 <0. Batuan di permukaan (%) 4. KTK (me/100g) 2.0-5. >90 terhambat. KB(%) 3. agak cepat.8 <2 2-4 4-6 >6 <20 20-30 30-40 >40 >75 50-75 50-30 <30 <8 8-16 sr r-sd 16-30 16-50 b >30 >50 Sb - F11 F12-F13 F13 <5 <5 5-15 5-15 15-40 15-25 >40 >25 cepat k >55 <25 Keterangan: Tekstur h = halus.5 <20 <5. S3 = sesuai mariginal.5-7. Drainase 2. Tekstur 3.s 15-35 40-50 ak 35-55 25-40 >16 >35 5. N = tidak sesuai Penyusun : Ir. k = kasar. s = sedang. Kriteria kesesuaian lahan untuk tanaman padi gogo Karasteristik lahan Kelas Kesesuaian Lahan Temperatur (tc) Temperatur rata-rata (0C) S1 S2 S3 N 24-29 22-24 29-32 18-22 32-35 <18 >35 Ketersediaan air (wa) Curah hujan (mm) bulan ke-1 50-400 400-550 550-650 Curah hujan (mm) bulan ke-2 100-400 Curah hujan (mm) bulan ke-3 100-400 75-100 400-550 75-100 550-650 50-75 550-650 50-75 550-650 <30. ah. Bahaya erosi Bahaya banjir (fh) Genangan Penyiapan lahan (lp) 3.s <15 >50 400-550<50 30-33 - h.0 >7. ak = agak kasar. ah.5 ≤16 20-35 5.8-1. S1 = sangat sesuai.agak baik.5-7.5 >1.9 0. Sampe Kendek 26 . Lereng (%) 4.Lampiran 2. ah =agak halus. Kedalam tanah (cm) Retensi hara (nr) 1. S2 = cukup sesuai. Singkapan batuan (%) >650<50 >650 <50>650 <50>650 50-400 3-90 baik. pH 4. C-organik (%) Toksisitas (xc) Salinitas (ds/m) Sodisitas (xn) Alkalinitas/ESP (%) Bahaya sulfidik (xs) Kedalaman sulfidik (cm) Bahaya erosi (eh) 3.5 7.