LP DAN ASKEP KLIEN DENGAN LIMFOMA NON HODGKIN

LIMFOMA NON HODGKIN
A. BATASAN
Limfoma maligna (LM) adalah proliferasi abnormal sistem lymfoid dan struktur yang membentuknya,
terutama menyerang kelenjar getah bening
Limfoma Non Hodgkin adalah keganasan primer berupa gangguan proliferatif tidak terkendali dari
jaringan limfoid (limfosit B dan sistem sel limfosit T).

B.

KLASIFIKASI

Limfoma Hodgkin (LH) : patologi khas LH, ada sel – sel Reed Stern berg dan/ atau sel hodgkin
Limfoma Non Hodgkin (LNH) : patologi khas non Hodgkin.

Klasifikasi
LNH dibedakan dari LH (Limfoma Hodgkin) berdasarkan variasi histopatologi. Beberapa klasifikasi LNH
yang pernah dilaporkan disampaikan antara lain oleh Rappaport (1966) didasarkan pada sitologi dan
susunan arsitektur limfosit maligna dalam kelenjar limfe dan membedakan antara tipe nodular dimana
sel-sel neoplastik berkelompok dan tipe difus. Lukes-Collins ( 1974) membagi LNH berdasarkan prinsip
imunologi dan fisiologi limfosit yang terlibat dan membedakan LNH yang berasal dari limfosit B (70%)
dan limfosit T. Klasifikasi terbaru yang dikenal sebagai formula kerja merupakan hasil kerjasama
berbagai institusi internasional yang didasarkan pada imunologi, fisiologi limfosit, morfologi serta
tingkahlaku biologi dari limfoma.Formula kerja membedakan LNH berdasarkan derajat keganasan
(median kemungkinan hidup) yang meliputi derajat keganasan rendah, sedang dan tinggi. Klasifikasi
selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Formulasi Kerja Rappaport

Lukes-Collins

Keganasan Rendah:
-Small Lymphocyte/Plasmacytoid
-Foll.Predominancy Small Cleaved Cell
-Foll.Mixed Small and Large Cell

Kiel

DLWD
Fool.LPD
Foll.MLH
SL + PL
Foll SCL

L + Lpl
Foll.CB CC*
Foll.CB.CC*
Keganasan Menengah:
-Foll.Predominancy Large Cell
-Diffuse Small Cleaved Cell
-Foll.Mixed Small and Large Cell
-Foll.Mixed Large Cell and Non-Cleaved
Foll.H
DLPD
DMLH
DH
Foll.LCl + Foll NLCl
DSCl

DLCl +DLNCl
Foll.CB CC*
DCC
DCB CC* + DLpl Pol

DCB CC** + DCC** + DCB
Keganasan Tinggi:
-Large Cell, Immmunoblastic
-Lymphoblastic
-Small Non-Cleaved Cell
DH
Dlbl
Du Dtt-Non Btt
Imb
Con L
SNCL
Imb
Lbl Con
Lbl Btt + B
Jenis Lain (Composite):
-True Histiocytic
-Unclassified
-Dll.

True Histiocytic
Unclassified

C. ETIOLOGI

Etiologi belum jelas mungkin perubahan genetik karena bahan – bahan limfogenik seperti virus, bahan
kimia, mutasi spontan, radiasi dan sebagainya

D. PATOFISIOLOGI DAN GAMBARAN KLINIS
Proliferasi abmormal tumor dapat memberi kerusakan penekanan atau penymbatan organ tubuh yang
diserrang dengan gejala yang bervariasi luas. Sering ada panas yang tak jelas sebabnya, penurunan berat
badan
Tumor dapat mulai di kelenjar getah bening (nodal) atau diluar kelenjar getah bening (ekstra nodal).
Gejalanya tergantung pada organ yang diserang, gejala sistemik adalah panas, keringat malam,
penurunan berat badan.

E.

DIAGNOSTIK

Pemeriksaan minimal :
Ø Anamnesis dan pemeriksaan fisik : ada tumor sistem limfoid, febris keringhat malam, penurunan
berat badan, limfadenopati dann hepatosplenomegali
Ø Pemeriksaan laboratorium : Hb, leukosit, LED, hapusan darah, faal hepar, faal ginjal, LDH.
Pemeriksaan Ideal
Ø Limfografi, IVP, Arteriografi. Foto organ yang diserang, bone – scan, CT – scan, biopsi sunsum tulang,
biopsi hepar, USG, endoskopi
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinik dan pemeriksaan histopatologi. Untuk LH memakai
krioteria lukes dan butler (4 jenis). Untuk LNH memakai kriteria internasional working formulation (IWF)
menjadi derajat keganasan rendah, sedang dan tinggi
Penentuan tingkat/stadium penyakit (staging)
Stadium ditentukan menurut kriteria Ann Arbor (I, II, III, IV, A, B, E)
Ada 2 macam stage : Clinical stage dan
Pathological stage
F.

DIAGNOSA BANDING

Limfadenitis Tuberculosa : Histopatologi, kultur, gejala klinik
Karsinoma metastatik ada tumor primernya, jenis PA adalah karsinoma]

Leukemia, mononukleus Infeksiosa : gambaran hematologik

G. PENATALAKSANAAN
LIMFOMA HODGKIN
Therapy Medik
Ø Konsutasi ke ahli onkologi medik (biasanya RS type A dan B)
Ø Untuk stadium II b, II E A dan B IV dan B, yherapi medik adalah therapy utama
Ø untuk stadium I B, I E A dan B terapy medik sebagai terapy anjuran
misalnya :
Ø obat minimal terus menerus tiap hari atau dosis tinggi intermittenddengan siklofosfamid
dosis :
-

Permulaan 150 mg/m 2, maintenance 50 mg, m 2 tiap hari atau

-

1000 mg/m 2 iv selang 3 – 4 minggu

Ø Obat kombinasi intermittend siklofosfamid (Cyclofosfamid), vinkistrin (oncovin), prednison (COP)
Dosis :
C : Cyclofosfamid

1000 mg/m 2 iv hari I

O : Oncovin

1,4 mg/m 2 iv hari I

P : Prednison

100 mg/m 2 po hari 1 – 5

Diulangi selang 3 minggu
Ideal :
Ø Kombinasi obat mustargen, vinkistrin (oncovin), procarbazine, prednison (MOPP)
Tidak ada formularium RSUD Dr Soetomo
Therapy Radiasi dan bedah
Ø Konsultasi dengan ahli yang bersangkutan
Ø Sebaiknya melalui tim onkology (biasanya di RS type A dan B)

hydrokso – epirubicin. IE. IIA diberi therapy medik sebagai therapy anjuran Minimal : seperti therapy LH Ideal : Obat kombinasi cyclophospamide.4 mg/ m 2 iv hari I 60 mg/m 2 po hari ke 1 – 5 Perkiraan selang waktu pemberian adalah 3 – 4 minggu Lymfoma non – hodgkin derajat keganasan tinggi (IWF) ¨ Stadium IA : kemotherapy diberikan sebagai therapy adjuvant ¨ Untuk stadium lain : kemotherapy diberikan sebagai therapy utama Minimal : kemotherapynya seperti pada LNH derajat keganasan sedang (CHOP) Ideal : diberi Pro MACE – MOPP atau MACOP – B 2. oncovin. IIIA dan B. Therapy radiasi dan bedah . prednison (CHOP) dengan dosis : C : Cyclofosfamide H : hydroxo – epirubicin O : Oncovin P : Prednison 800 mg/m 2 iv hari I 50 mg/ m 2 iv hari I 1.LYMFOMA NON HODGKIN 1. Therapy Medik Ø Konsultasi dengan ahli onkology medik ( di RS type A dan B) Limfoma non hodkin derajat keganasan rendah (IWF) ¨ Tanpa keluhan : tidak perlu therapy ¨ Bila ada keluhan dapat diberi obat tunggal siklofosfamide dengan dosis permulaan po tiap hari atau 1000 mg/m 2 iv selang 3 – 4 minggu. Bila resisten dapat diberi kombinasi obat COP. IIB. IIE A da B. terapi medik adalah sebagai terapy utama ¨ Untuk stadium I A. dengan cara pemberian seperti pada LH diatas Limfona non hodgkin derajat keganasan sedang (IWF) ¨ Untuk stadium I B.

sesuai dengan LNH Ideal : jika klafisikasi menurut REAL. meliputi : ¨ Darah tepi lengkap termasuk retikulosit dan LED ¨ Gula darah ¨ Fungsi hati termasuk y – GT. gradasi malignitas menurut International Working Formulation LANGKAH PENTAHAPAN (STAGING) Ø Pemeriksaan Laboratorium lengkap. bila perlu sitologi jarum halus (FNAB) ditempat lain yang dicurigai Ø Aspirasi dan biopsi sunsum tulang . KOMPLIKASI Ø Tranfusi leukemik Ø Superior vena cava syndrom Ø Ileus KRITERIA DIAGNOSIS LNH Ø Riwayat pembesaran kelenjar getah bening atau timbulnya massa tumor di tempat lain Ø Riwayat demam yang tidak jelas Ø Penurunan berat badan 10 % dalam waktu 6 bulan Ø Keringat malam yang banyak tanpa sebab yang sesuai Ø Pemeriksaan histopatologis tumor. selanjutnya melalui yim onkology ( di RS type A dan B) H. dan LDH ¨ Fungsi ginjal ¨ Imunoglobulin Ø Pemeriksaan biopsi kelenjar atau massa tumor untuk mengetahui sub type LNH. albumin.Konsultasi dengan ahli radiotherapy dan ahli onkology bedah.

untuk mengetahui adanya pembesaran kelenjar getah bening pada aorta abdomonal atau KGB lainnya massa tumor abdomen dan metastases ke bagian intra abdominal Ø Pencitraan thoraks (PA & lateral) untuk mengatahui pembesaran kelenjar media stinum. Setelah siklus kemotherapy keempat 2. jika dianggap perlu (cychlopospamide. radio therapy berperan untuk tujuan paliasi Ø Derajat kegansan tinggi (DKT) DKT limfoblastik (LNH – Limfoblastik) Ø Selalu diberikan pengobatan seperti leukemia lymfoblastik acut (LLA) Ø Reevaluasi hasil pengobatan dilakukan pada : 1. oncovin dan prednison) Ø Radiotherapy : low dose TOI + involved field radiotherapy atau involved field radiotherapy saja Ø Derajat keganasan menengah (DKM)/Agresif Lymfoma Ø Stadium I : kemotherapy (CHOP/CHV mp/BU) + Radiotherapy Ø Stadim II – IV : Kemotherapy parenteral kombinasi. Setelah siklusn pengobatan lengkap .Ø Ct – Scan atau USG abdomen. b/p CT scan thoraks Ø Pemeriksaan THT untuk melihat keterlibatan cincin waldeyer terlibat dilanjutkan dengan tindakan gstroskopy Ø Jika diperlukan pemeriksaamn bone scan atau bone survey untuk melihat keterlibatan tulang Ø Jika diperlukan biopsi hati ( terbimbing ) Ø Catat performance status Ø Stadium berdasarkan Aun Amor Ø Untuk ekstra nodal stadium berdasarkan kriteria yang ada THERAPY Pilihan Pengobatan Ø Derajat keganasan rendah (DKR/Indolen) : pada prinsipnya simptomatik Ø Kemo therapy : obat tunggal atau ganda (peroral).

alamat. khususnya jalan nafas. nomor regester. bisa total Ø Akibat efek samping pengobatan a. Identitas Nama. dll A.PENYULIT Ø Akibat langsung penyakitnya : a. tanggal Masuk Rumah Sakit . umur. pendidikan. Pengumpulan data a. KONSEP DASAR KEPERAWATAN Pengkajian A. Gagal ginjal akibat sisplatinum d. diagnosa medis b. Aplasi sunsum tulang b.Kluenitis akibat obat vinkristin e. Gagal jantung akibat golongan obat antrasiklin c. Keluhan Utama Keluhan yang paling dirasakan adalah nyeri telan c. pekerjaan. suku dana kebangsaan. jenis kelamin. Riwayat penyakit sekarang Ø Alasan MRS Menjelaskan riwayat penyakit yang dialami adalah pasien mengeluh nyeri telan dan sebelum MRS mengalami kesulitan bernafas. penurunan berat badan. usus dan saraf b. keringaty dimalam hari yang terlalu banyak. nafsu makan menurun nyeri telamn pada daerah lymfoma . agama . Mudah terjadi infeksi. Penekanan terhadap organ.

Data Psikologi Perlu dikaji konsep diri apakah ada gangguan dan bagaimana persepsi klien akan penyakitnya terhadap konsep dirinya Perlu dikaji karena pasien sering mengalami kecemasan terhadfap penyakit dan prosedur perawatan g. dan cemas atas penyakit yang dideritanya Ø Riwayat kesehatan Dahulu Riwayat Hypertensi dan Diabetes mielitus perlu dikaji dan riwayat pernah masuk RS dan penyakit yang pernah diderita oleh pasien d. apakah ada gangguan. terutama menyangkut dengan keluhan utama pasien yaitu kesulitan menelan Ø Istirahat tidur : dikaji kebiasaan tidur siang dan malam. ADL Ø Nutrisi : Perlu dikaji keadaan makan dan minum pasien meliputi : porsi yang dihabiskan susunan menu.Ø Keluhan waktu didata Dilakukan pada waktu melakukan pengkajian yaitu keluhan kesulitan bernafas. Riwayat kesehatan keluarga Terdapat riwayat pada keluarga dengan penyekit vaskuler : HT. gigi dan mulut. kuku dan pakaian dan kemampuan serta kemandirian dalam melakukan kebersihan diri f. dan yang terpenting adalah perubahan pola makan setelah sakit. keluhan mual dan muntah. berapa jam sehari dan apakan ada kesulitan waktu tidur dan bagaimana perunbahannya setelah sakit klien dengan LNH Ø Aktifitas : Aktifitas dirumah ataua dirumah sakit apakah ada kesenjangan yang berarti misalnya pembatasan aktifitas. penyakit metabolik :DM atau penyakit lain yang pernah diderita oleh keluarga pasien e. kebersihan badan. Ø Personal Hygiene : mengkaji kebersihan personal Hygienemeliputi mandi. warna. pada klien ini biasanya terjadi perubahan aktifitas karena adanya limfoma dan penuruna aktifitas sosial karena perubahan konsep diri Ø Eliminasi : Mengkaji kebiasaan eliminasi alvi dan uri meliputi jumlah. sebelum atau pada waktu MRS. rambut. Data Sosial Bagaimana hubungan klien dengan keluarga dan bagaiman peran klien dirumah dan dirumah sakit .

suhu dan respirasi Ø TB dan BB untuk mengetahui keadaan nutrisi Secara khusus : Dilakukan secara inspeksi. nadi. konsistensi dan adanya nyeri tekan atau terjadi pembesaran Ø Dada Abdomen Ø Genetalia Ø Muskuloskeletal Ø Dan integumen j. Rontgen thoraks serta therapy yang diperoleh klien dari dokter . palpasi. Pemeriksaan Fisik Secara umum Ø Meliputi keadaan pasien Ø Kesadaran pasien Ø Observasi tanda – tanda vital : tensi.iputi diameter (besar). perkusi dan auskultasi yamh meliputi dari chepalo kearah kauda terhadap semua organ tubuh antara lain Ø Rambut Ø Mata telinga Ø Hidung mulut Ø Tenggorokan Ø Telinga Ø Leher sangat penting untuk dikaji secara mendetail karena LNH berawal pada serangan di kelenjar lymfe di leher mel.Pada klien dengan LNH mungkin terjadi gangguan interaksi sosial karena perubahan body image sehingga pasien mungkin menarik diri h. Data Spiritual Bagaimana persepsi klien terhadap penyakit dan hubungan dengan agama yang dianut i. Pemeriksaan penunjang Laboratorium. EKG.

Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah tahap dari perumusan masalah yang menentukan masalah prioritas dari klien yang dirawat yang sekaligus menunjukkan tindakan prioritas sebagai perawat dalam mengahadapi kasus LNH. C. Analisa Data Data yang dikumpulkan dikelompokkan meliputi : data subyektif dan data obyektif kemudian dari data yang teridentifikasi masalah dan kemungkinan penyebab dapat ditentukan yang menjadi acuan untuk menentukan diagnosa keperawatan. dalam implementasi ini haruslah dicatat semua tindakan keperawatan yang dilakukan terhadap klien dan setiap melakukan tindakan harus didokumentasikan sebagai data yang menentukan saat evaluasi. Diposkan oleh abdul sahid di 05.com/2013/06/lp-dan-askep-klien-dengan-limfoma-non. Pelaksanaan merupakan realisasi dari rencana keperawatan yang merupakan bentuk riil yang dinamakan implementasi. Evaluasi Evaluasi adalaha merupakan tahapa akhir dari pelaksaan proses keperawatan dan asuhan keperawatan evaluasi ini dicatatat dalam kolom evaluasi dengana membandingkan data aterakhir dengan dengan data awal yang juga kita harus mencatat perkembangan pasien dalam kolom catatan perkembangan. Perencanaan Membuat rencana keperawatan dan menentukan pendekatan yang dugunakan untuk memecahkan masalah klien. Ada 3 tahap dalam fase perancanaan yaitu menetukan prioritas.B. menulis tujuan dan perencanan tindakan keperawatan.html .blogspot.24 http://abuzzahra1980. Pelaksanaan.

** = Large . * = Small. CC = Centrocytic. LN Cl = Large Non-Cleaved. Para pakar cenderung berpendapat bahwa terjadinya LNH disebabkan oleh pengaruh rangsangan imunologik persisten yang menimbulkan proliferasi jaringan limfoid tidak terkendali. Pl L = Plasmacytoid Lymphocyte. CB = Centrobalstic. Diduga ada hubungan dengan virus Epstein Barr terutama pada limfoma Burkitt. MLH = Mixed Lymphocytic Histiocytic. SL = Small Lymphocyte. LWD = Lymphocytic Well Differenciated.ASUHAN KEPERAWATANPADA KLIEN LIMFOMA NON HODGKIN LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN LIMFOMA NON HODGKIN KONSEP MEDIS Pengertian Penyebab Penyebab LNH belum jelas diketahui. L = Lymphoblastic. 1995). SNCl = Small Non Cleaved. LNH kemungkinan ada kaitannya dengan faktor keturunan karena ditemukan fakta bila salah satu anggota keluarga menderita LNH maka risiko anggota keluarga lainnya terjangkit tumor ini lebih besar dibanding dengan orang lain yang tidak termasuk keluarga itu (Gani. L pl = Lymphoplasmacytic/cytoid. LBl Btt = Lymphoblastic Burkitt. Foll = Follicular. Lbl = Lymphoblastic. U = Undifferencyated. L Cl = Large Cleaved. Keterangan singkatan: D = Diffuse. Imb = Immunoblastic. Con = Convoluted. H = Hystiocytic. S Cl = Small Cleaved.

Walaupun pada LNH timbul gejala-gejala konstitusional (demam.Patofisiologi Telah diketahui bahwa penjalaran penyakit LNH terjadi secara limfogen dengan melibatkan rantai kelenjar getah bening yang saling berhubungan dan merambat dari satu tempat ke tempat yang berdekatan. Antigen ↓ Sel Induk ↓ Normal ↓ ← Diferensiasi ↓ → Normal ↓ . Walaupun demikian. dapat menyerang satu atau seleuruh kelenjar limfe perifer. hematemesis dan melena. Tetapi bila sum-sum tulang terkena lebih dahulu. Ditemukan adanya limfadenopati difus tanpa rasa nyeri. berkeringat pada malam hari) insidensnya lebih rendah daripada penyakit Hodgkin. yaitu sekitar 15 % sampai 30 % (Johnson. hubungan antara kelenjar getah bening pada leher kiri dan daerah aorta pada LNH jenis folikular tidak sejelas seperti apa yang terlihat pada LNH jenis difus. Rosenberg melaporkan bahwa pada semua penderita dengan jangkitan pada sum-sum tulang juga didapati jangkitan pada kelenjar getah bening para aorta yang terjadi sebelum atau bersamaan dengan terjadinya jangkitan pada sum-sum tulang. nausea. Pada limfoma histiositik difus. Kira-kira 20 % atau lebih penderita menunjukkan adanya gejala-gejala yang berkaitan dengan pembesaran kelenjar limfe retroperitoneal atau mesentrium dan timbul bersama nyeri abdomen atau defekasi yang tidak teratur. didapatkan bahwa 25 % penderita LNH folikular tidak menunjukkan terjadinya jangkitan pada kelenjar getah bening aorta. portal dan ke organ-organ lain di bawah diafragma terjadi 80 % pada penderita dengan limfangiogram positif dan 18 % pada penderita dengan limfangiogram negatif. anoreksia. Biasanya adenopati hilus tidak ditemukan tetapi sering ditemukan adanya efusi pleura. Sering didapatkan dapat menyerang lambung dan usus halus yang ditandai dengan gejala yang mirip dengan gejala tukak lambung. limfe tonsil pada orofaring dan nasofaring (cincin Waldeyer) juga dapat terserang. penurunan berat badan. penurunan berat badan. 1988) Penyakit-penyakit susunan saraf pusat walaupun jarang terjadi tetap dapat timbul pada limfoma histisitik difus (imunoblastik sel besar). Chabner juga menunjukkan bahwa hasil limfagiogram negatif akan menyisihkan adanya jangkitan penyakit pada hati. Chabner melaporkan bahwa penyebaran ke kelenjar mesentrium.

Demam .Limfosit B1 ↓ Proliferasi (Keganasan LNH) Small Cleaved Cell ↓ pada Limfosit T ↓ ↓ Imunobals T Diferensiasi terhenti ↓ Large Cleaved Cell Limfosit T kecilKeganasan dapat terjadi semua tingkat diferensiasi sel limfosit B (70%) dan limfosit T ↓ (T-helper) Small Non Cleaved ↓ ↓ Imunitas Seluler Large Non Cleaved ↓ Imunoblas B ↓ Limfosit B2 + Sel Plasma ↓ Imunitas Humoral Gejala Sistem Limfatik: .Kelenjar getah bening Gejala Sistemik Proses Keganasan: .

Timus . limpa atau keduanya. Tersebar menyeluruh pada organ ekstra limfatik dengan atau tanpa melibatkan kelenjar limfe. radioterapi lokal atau radioterapi dengan lapangan yang luas terutama pada kasus limfoma histiositik difus..Limfa .Apendiks . Agen kemoterapeutik yang sering dipakai pada LNH adalah: Obat Pemberian Toksisitas Generik Dangang Akut Jangka Panjang .Peyer’s patch Stadium Penentuan stadium merupakan salah satu pola penting dalam manajemen LNH yang bertujuan untuk mengetahui status penyakit dan memilih pengobatan yang relevan serta memudahkan evaluasi hasil terapi. Penderita penyakit stadium II difus memerlukan kombinasi kemoterapi dan radiasi. Terapi Terapi terpilih untuk penderita dengan penyakit ekstranodal yang terbatas adalah radiasi. Klasifikasi yang populer digunakan adalah klasifikasi menurut Arnn Arborr (1971) sebagai berikut:STADIUM INTERPRETASI Stadium I Stadium II Stadium III Stadium IV Terserang satu kelenjar limfe pada daerah tertentu atau ekstra limfatik Terserang lebih dari satu kelenjar limfe di daerah di atas diafragma dengan atau tanpa ekstra limfatik Terserang kelenjar limfe diatas dan di bawah diafragma atau disertai limfoma ekstra limfatik.Keringat malam .BB↓ 10% dalam 6 bulan .Cincin Waldeyer .

cerna. nausea Flebitis lokal. miopati. psikosis. Toksisitas pada jantung dengan dosis kumulatif Neuropati perifer. nausea Gangguan saluran cerna. Alopesia. FOKUS PENGKAJIAN Riwayat Keperawatan dan Pengkajian Fisik: Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. diabetes kimiawi.Vesikel berat dengan nekrosis jaringan. retensi air Alopesia. alopesia. osteoporosis. amenorea. imunosupresi. Gangguan sal. retensi air. (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah: 1. sistitis hemo-ragik. steril pada pria. Mielosupresi. Aktivitas/istirahat: Gejala: - Kelelelahan. kelemahan atau malaise umum Kehilangan produktivitas dan penurunan tolenrasi aktivitas . miolosupresi.

anuria (obstruksi uretral. pasif-agresif Eliminasi: Gejala: - Perubahan karakteristik urine dan atau feses - Riwayat obstruksi usus.limfe retroperitoneal) Tanda: - Nyeri tekan kuadran kanan atas. Integritas ego: Gejala: Gejala-gejala stres yang berhubungan dengan ancaman kehilangan pekerjaan. prosedur diagnostik dan terapi serta masalah finansial (biaya pemeriksaan dan pengobatan. gagal ginjal) . keringat malam. bahu merossot. kehilangan pekerjaan) Tanda: 4. diaforesis. 2. disritmia - Sianosis wajah akibat obstruksi drainase vena karena pembesaran kelenjar limfe (jarang terjadi) - Ikterus sklera/umum akibat kerusakan hati dan obstruksi duktus empedu (tanda lanjut) - Pucat (anemia). perubahan peran dalam keluarga. sindrom malabsobsi (infiltrasi kelj. marah. hepatomegali - Nyeri tekan kuadran kiri atas. Sirkulasi: Gejala: - Palpitasi. jalan lamban. nyeri dada Tanda: - Takikardia. dan tan-tanda lain yang menunjukkan kelelahan. Perilaku menarik diri. splenomegali - Penurunan haluaran urine. warna lebih gelap/pekat.- Kebutuhan tidur dan istirahat lebih banyak Tanda: Penurunan kekuatan. 3.

parestesia. lumbar dan pleksus sakral - Kelemahan otot. asites (kompresi vena cava inferior oleh pembesaran kelj. leher. nyeri punggung (kompresi vertebral). menarik diri. Neurosensori: Gejala: Nyeri saraf (neuralgia) yang menunjukkan terjadinya kompresi akar saraf oleh pembesaran kelenjar limfe pada brakial. Nyeri dan Kenyamanan: Gejala: Nyeri/nyeri tekan pada nodus yang terkena misalnya pada sekitar mediastinum. Tanda: - Status mental letargi.limfe intraabdominal) 6. kompresi suplai darah terhadap batang spinal) 7. ketelibatan diskus intervertebralis. nyeri dada. Disfungsi usu dan kandung kemih (kompresi spinal cord pada gejala lanjut) Makanan dan cairan: Gejala: - Anoreksia - Disfagia (tekanan pada esofagus) Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan ≥ 10 % dalam 6 bulan tanpa upaya diet pembatasan. Paraplegia (kompresi batang spinal. Pernapasan: .5. nyeri tulang (keterlibatan tulang limfomatus) Tanda: 8. kurang minat/perhatian terhadap keadaan sekitar. Fokus pada diri sendiri. rahang. Tanda: - Pembengkakan pada wajah. perilaku hati-hati. atau ekstremitas atas (kompresi vena cava superior) Edema ekstremitas bawah.

limfe asimetris. Limfe terhadap saraf laringeal) 9. nodus aksila dan mediastinum - Pembesaran tonsil - Pruritus umum - Sbagian area kehilangan melanin (vitiligo) 10. - Integritas kulit: kemerahan. Tanda: Demam (suhu tubuh > 380C) menetap dengan etiologi yang tidak dapat dijelaskan. limfe servikal (kiri > kanan).TB. membengkak/membesar terutama kelj. stridor. Keamanan: Gejala: Riwayat infeksi (sering terjadi) karena abnormalitas sistem imun seperti infeksi herpes sistemik. - Riwayat ulkus/perforasi/perdarahan gaster. Demam Pel Ebstein (peningkatan suhu malam hari sampai beberapa minggu). Tanda: - Dipnea. diikuti demam menetap dan keringat malam tanpa menggigil.Gejala: - Dispnea pada saat aktivitas atau istirahat. penggunaan otot bantu pernapsan. tanpa gejala infeksi Kelj. toksoplasmosis atau infeksi bakterial. vitiligo (hipopigmentasi). tak nyeri. kehamilan dan penurunan libido akibat efek terapi. Seksualitas: Gejala: - Masalah fertilitas. pruritus umum. . nyeri dada. takipnea - Batuk nonproduktif Tanda-tanda distres pernapsan (frekuensi dan kedalaman pernapasan meningkat. sianosis) - Parau (paralisis laringeal akibat tekanan pembesaran kelj.

11. - Pengetahuan tentang faktor risiko lingkungan (pemajanan agen karsinogenik kimiawi) Tes Diagnostik Tes diagnostik yang dilakukan diuraikan pada tabel berikut:Jenis Pemeriksaan Hitung Darah Lengkap: -SDP -Diferensial SDP -SDM dan Hb/Ht Eritrosit: -Morfologi SDM -LED Interpretasi Hasil . Penyuluhan/pembelajaran: Gejala: - Pengetahuan tentang faktor risiko dalam keluarga.

pelvis dan area tulang nyeri tekan. ekstremitas proksimal. CT Scan dada. abdominal. vertebtara.-Kerapuhan eritrosit osmotik -Trombosit -Test Coomb Serum: -Besi serum dan TIBC -Alkalin fosfatase -Kalsium serum -Asam urat serum -BUN -Globulin Foto thoraks. tulang USG abdominal .

. Menurun Normositik. monosit. Meningkat selama tahap aktif (inflamas. Variasi normal.Biopsi sum-sum tulang Biopsi nodus limfe Mediatinoskopi. menurun atau meningkat secara nyata. basofilia dan eosinofilia mungkin ditemukan. Limfofenia sebagai gejala lanjut. reaksi negatif pada tahap lanjut. malignansi) Meningkat Menurun (sum sum tulang digantikan oleh limfoma atau hipersplenisme) Reaksi positif (anemia hemolitik). hipokromik ringan sampai sedang. Neutofilia.

abdominal dan keterlibatan tulang. . DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. invasi sum sum tulang terlihat pada tahap luas Memastikan klasifikasi diagnosa limfoma. keterlibatan hati dan ginjal) Mungkin meningkat bila ginjal terlibat. Mungkin dilakukan untuk membuktikan keterlibatan nodus mediatinal.Menurun Meningkat pada eksaserbasi Mungkin meningkat bila tulang terkena Meningkat (destruksi nukleoprotein. mediastinum. Dilakukan untuk area yang terkena dan membantu penetapan stadium penyakit. Mengevaluasi luasnya keterlibatan nodus limfe retroperitoneal Menentukan keterlibatan sum sum tulang. Pola pernapasan tidak efektif bd obstruksi trakeo bronkhial akibat pembesaran kelenjar limfe servikal. Hipogammaglobulinemia umum dapat terjadi pada penyakit lanjut. Dilakukan bila terjadi adenopati hilus dan memastikan keterlibatan nodus limfe mediatinum.

Perubahan membran mukosa oral bd efek samping agen kemoterapi dan radiasi 4. Perubahan pola seksualitas bd kelelahan. kedalaman. Gangguan konsep diri (gambaran diri) b/d perubahan bentuk/struktur tubuh (pembesaran kelenjar limfe) 10. kecemasan dan efek kemoterapi/radiasi. nausea. Perubahan proses keluarga bd perubahan situasi (perubahan peran/status ekonomi keluarga. radiasi) INTERVENSI KEPERAWATAN Dx. Kerusakan integritas kulit/jaringan b/d efek radiasi dan kemoterapi 5. penggunaan otot bantu pernapasan dan gangguan ekspansi dada. Kurang pengetahuan tentang penyakit. irama. penggunaan otot aksesori dapat mengindikasikan berlanjutnya keterlibatan kelenjar limfe mediastinal yang membutuhkan intervensi lebih lanjut. 3. dispnea. difragma. adanya dispnea. Kurang nutrisi bd anoreksia. 6. Keletihan b/d peningkatan kebutuhan metabolik (proses keganasan) dan perubahan kimiawi tubuh sebagai efek kemoterapi. prosedur diagnostik dan terapi bd kurangnya pemaparan informasi. abdomen) - Meningkatkan aerasi semua segmen paru dan membantu mobilisasi sekresi . 8. Risiko tinggi terhadap konstipasi/diare bd iritasi mukosa gastrointestinal (efek dari kemoterapi. ancaman kehilangan/perpisahan dengan anggota keluarga) 7. Risiko tinggi terhadap infeksi bd ketidakadkuatan sistem imunitas tubuh dan terapi imunosupresif (supresi sum-sum tulang belakang) 11. disfagia 9. Perubahan seperti takipnea.1 Pola pernapasan tidak efektif bd obstruksi trakeo bronkhial Intervensi dan Rasional: Kaji/awasi frekuensi pernapsan.2. Bantu perubahan posisi secara periodik - Meningkatkan aerasi semua segmen paru dan membantu mobilisasi sekresi Ajarkan teknik napas dalam (bibir.

38 http://keperawatanhaerilanwar.Kaji/awasi warna kulit.com/2012/08/asuhan-keperawatanpada-klien-limfoma. .1. stridor. nyeri kepala. istirahat menurunkan kebutuhan oksigen dan mencegah kelelahan dan dispnea. perhatikan adanya tanda pucat/sianosis) Proliferasi SDP dapat menurunkan kapasitas pembawa oksigen darah dan dapat menimbulkan hipoksemia. Anatomi dan fisiologi. Observasi distensi vena leher. Klien LNH dengan sindrom vena cava superior dan obstruksi jalan napas menunjukkan kedaruratan onkologis. lemak dan limfosit (sel darah putih) yang semuanya mengalir ke seluruh tubuh melalui pembuluh limfatik. edema preorbital. pusing. Sistem limfatik adalah bagian penting sistem kekebalan tubuh yang memainkan peran kunci dalam pertahanan alamiah tubuh melawan infeksi dan kanker.html BAB ІІ PEMBAHASAN 2. Kaji respon pernapasan terhadap aktivitas Penurunan oksigenasi seluler menurunkan toleransi aktivitas. Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Bagikan ke Pinterest Diposkan oleh haeril anwar di 19.blogspot. dispnea. Cairan limfatik adalah cairan putih mirip susu yang mengandung protein.

Yang membentuk sistem limfatik dan cairan yang mengisis pembuluh ini disebut limfe. Pembuluh limfe merupakan jalinan halus kapiler yang sangat kecil atau sebagai rongga limfe di dalam jaringan berbagai organ dalam vili usus terdapat pembuluh limfe khusus yang disebut lakteal yang dijumpai dalam vili usus. Bedanya ialah dalam cairan limfe banyak mengandung sel darah limfosit. Kelenjar limfe (nodus limfe) Kelenjar ini berbentuk bulat lonjong dengan ukuran kira-kira 10 – 25 mm. e) Sumsum Tulang 1. b. a. Susunan limfe yang melaksanakan ini ialah saluran lakteal. Komponen Sistem Limfatik antara lain : a) Pembuluh Limfe. d) Tymus. Pembuluh limfe. . Limfe disebut juga getah bening. Sepanjang pergerakan limfe sebagian mengalami tarikan oleh tekanan negatif di dalam dada. sebagian lagi didorong oleh kontraksi otot. b) Kelenjar Limfe (nodus limfe). membawa lemak yang sudah dibuat emulasi dari usus ke sirkulasi darah. menghasilkan zat antibodi untuk melindungi terhadap kelanjutan infeksi. c) Limpa. tidak terdapat karbon dioksida. merupakan cairan yang susunan isinya hampir sama dengan plasma darah dan cairan jaringan. Fisiologi kelenjar limfe hampir sama dengan komposisi kimia plasma darah dan mengandung sejumlah besar limfosit yang mengalir sepanjang pembuluh limfe untuk masuk ke dalam pembuluh darah. Fungsi pembuluh limfe mengembalikan cairan dan protein dari jaringan ke dalam sirkulasi darah. mengankut limfosit dari kelenjar limfe ke sirkulasi darah. Pembuluh limfe yang mengaliri usus disebut lakteal karena bila lemak diabsorpsi dari usus sebagian besar lemak melewati pembuluh limfe. menyaring dan menghancurkan mikroorganisme. Anatomi fisiologi sistem limfatik.

limpa banyak mengandung kapiler – kapiler darah. e. dengan demikian banyak arah yang mengalir dalam limpa. membentuk antibodi. Ada dua jenis sumsum tulang: sumsum merah(dikenal juga sebagai jaringan myeloid) dan sumsum kuning. Thymus. Pembuluh darah masuk ke dan keluar melalui hilus yang berbeda di permukaan dalam.-10. Darah dari limpa tidak langsung menuju jantung tetapi terlebih dahulu ke hati. Fungsi limpa sebagai gudang darah seperti hati. Sumsum kuning menghasilkan sel darah putih dan warnanya ditimbulkan oleh sel-sel lemak yang .dan mengandung sedikit oksigen. Cairan limfe yang berasal dari usus banyak mengandung zat lemak. Warnanya kemerah – merahan dan terdiri dari 2 lobus. sebagai tempat pengahancur eritrosit. Limpa berdekatan pada fundus dan permukaan luarnya menyentuh diafragma. Cairan limfe ini dibentuk atau berasal dari cairan jaringan melalui difusi atau filtrasi ke dalam kapiler – kapler limfe dan seterusnya akan masuk ke dalam peredaran darah melalui vena. Bone marrow / sumsum tulang. Sel darah merah. Jalinan struktur jaringan ikat di antara jalinan itu membentuk isi limpa/ pulpa yang terdiri dari jaringan limpa dan sejumlah besar sel – sel darah. pembuangan bakteri. Fungsinya diperkirakan ada sangkutnya dengan produksi antibody dan sebagai tempat berkembangnya sel darah putih. ukurannya bertambah pada masa remaja beratnya dari 30 – 40 gram dan kemudian mengkerut lagi. Pembuluh darah itu memperdarhi pulpa sehingga dan bercampur dengan unsur limpa. pembentukan limfosit. kira – kira pada ketinggian bifurkasi trakea. Sumsum tulang (Bahasa Inggris: bone marrow atau medulla ossea) adalah jaringan lunak yang ditemukan pada rongga interior tulang yang merupakan tempat produksi sebagian besarsel darah baru.-11. keping darah. dan sebagian besar sel darah putihdihasilkan dari sumsum merah. Limpa merupakan sebuah organ yang terletak di sebelah kiri abdomen di daerah hipogastrium kiri bawah iga ke-9. Fungsinya yaitu menyaring cairan limfe dari benda asing. d. Limpa. membantu reasoprbsi lemak. karena di dala limpa terdapat jaringan retikulum endotel maka limpa tersebut dapat mengancurkan eritrosit sehingga hemoglobin dapat dipisahkan dari zat besinya. c. sebagai pabrik sel darah. Kelejar timus terletak di dalam torax. mengasilkan zat antibodi. limfa dapat memproduksi leukosit dan eritrosit terutama limfosit. Limpa menerima darah dari arteri lienalis dan keluar melalui vena lienalis pada vena porta. Pada bayi baru lahir sangat kecil dan beratnya kira – kira 10 gram atau lebih sedikit.

Daerah khusus. Fisiologi sistem limfatik Fungsi Sistem limfatik sebagai berikut : a. akibat kontraksi otot-otot. dan pada bagian lunak di ujung tulang panjangfemur dan humerus. Nodus memproduksi limfosit baru untuk sirkulasi.6 kg sumsum tulang yang sekitar setengahnya adalah sumsum merah.banyak dikandungnya. semakin banyak yang berubah menjadi sumsum kuning. tulang punggung. kelenjar timus. Merupakan pembuluh untuk membawa kembali kelebihan protein didalam cairan jaringan ke dalam aliran darah. tempat terdapat banyak jaringan limfatik adalah palatin (langit mulut) dan tosil faringeal.tulang belikat. Orang dewasa memiliki rata-rata 2. agregat folikel limfatik di usus halus. terutama lemak. tengkorak. Kedua tipe sumsum tulang tersebut mengandung banyak pembuluh dan kapiler darah. dan tekanan luar ini akan mendorong cairan limfe ke depan karena adanya katup yang mencegah aliran balik . d. Nodus menyaring cairan limfe dari infeksi bakteri dan bahan-bahan berbahaya. Pembuluh limfatik mengumpulkan cairan berlebih atau cairan limfe dari jaringan sehingga memungkinkan aliran cairan segar selalu bersirkulasi dalam jaringan tubuh. tulang dada. b. Pembuluh limfatik pada organ abdomen membantu absorpsi nutrisi yang telah dicerna. apendiks dan limfa. Seiring dengan pertumbuhan. sumsum kuning dapat diubah kembali menjadi sumsum merah untuk meningkatkan produksi sel darah. 2. Pembuluh limfatik bermuara kedalam vena-vena besar yang mendekati jantung dan disini terdapat tekanan negatif akibat gaya isap ketika jantung mengembang dan juga gaya isap torak pada gerakan inspirasi. 3. Sumsum kuning ditemukan pada rongga interior bagian tengah tulang panjang. tulang rusuk. 4. Sumsum merah ditemukan terutama pada tulang pipih seperti tulang pinggul. Lokasi-lokasi nodus limfe. c. Tekanan timbul pada pembuluh limfatik. Pada keadaan sewaktu tubuh kehilangan darah yang sangat banyak. semua sumsum tulang adalah sumsum merah. seperti halnya pada vena. Mekanisme Sirkulasi Limfatik. e. Sewaktu lahir.

yaitu pembengkakan jaringan akibat adanya kelebihan caiaran yang terkumpul didalamnya. maka selain di kelenjar getah bening tempat yang paling sering terkena Limfoma adalah limpa dan sumsum tulang. Keterlibatan system saraf pusat juga sering terjadi. Apabila terdapat hambatan pada aliran cairan limfe yang melalui sistem limfatik. sumsum tulang. hati. karena vena juga berfungsi mengalirkan sebagian cairan jaringan. sedangkan yang lainnya menyebar dengan cepat (dalam beberapa bulan). Limfoma Non Hodgkin adalah keganasan primer berupa gangguan proliferatif tidak terkendali dari jaringan limfoid (limfosit B dan sistem sel limfosit T). dan sumsum tulang. Meskipun bervariasi semua bentuk limfoma mempunyai potensi untuk menyebar dari asalnya sebagai penyebaran dari satu kelenjar kekelenjar lain yang akhirnya menyebar ke limfa. Limfoma malignum non-Hodgkin atau Limfoma non-Hodgkin adalah suatu keganasan kelenjar limfoid yang bersifat padat. Jika terdapat keterlibatan umum. namun penyakit ini biasanya sudah menyebar keseluruh system limfatik sebelum pertama kali terdiagnosis. Limfoma atau Kanker Getah Bening adalah tipe kanker yang menyerang sel darah putih dan terkumpul dalam kelenjar getah bening. Limfoma nonhodgkin hanya dikenal sebagai suatu limfadenopati lokal atau generalisata yang tidak nyeri. Karena limfosit bersirkulasi ke seluruh tubuh. 2. Edema juga bisa terjadi akibat obstruksi vena. Pemberian dosis rendah pada penderita HIV-positif dianjurkan untuk mencegah terjadinya infeksi berat yang potensial mematikan. Sel tersebut cepat menggandakan diri dan tumbuh secara tidak terkontrol. infeksi merupakan masalah utama. Juga terdapat tekanan ringan dari cairan jaringan akibat ada rembesan konstan cairan segar dari kapiler-kapiler darah. Beberapa dari limfoma ini berkembang sangat lambat (dalam beberapa tahun). hati atau . Definisi Limfoma non-Hodgkin adalah suatu kelompok penyakit heterogen yang dapat didefinisikan sebagai keganasan jaringan limfoid selain penyakit Hodgkin. dan kulit. Manifestasinya sama dengan penyakit Hodgkin. Penyakit ini lebih sering terjadi dibandingkan dengan penyakit Hodgkin. Limfoma Non-Hodgkin adalah sekelompok keganasan (kanker) yang berasal dari sistem kelenjar getah bening dan biasanya menyebar ke seluruh tubuh. Limfoma Non Hodgkin sering disingkat jadi LNH.2. Apabila penyakitnya masih terlokalisasi. digunakan kombinasi kemoterapi. Seperti pada penyakit Hodgkin. Namun sekitar sepertiga dari kasus yang berasal dari tempat lain yang mengandung jaringan limfoid ( misalnya daerah orofaring. terjadilah edema.ke belakang. usus. Selain itu bisa terbentuk di perut. radiasi merupakan penanganan pilihan.

Pada penderita AIDS : semakin lama hidup semakin besar risikonya menderita limfoma. Seringkali lebih dari satu bagian tubuh terserang oleh penyakit ini. Wiskott Aldrich syndrome dan ataxia-telangiectasia. hubungan dan mekanisme EBV terhadap terjadinya limfoma Burkit belum diketahui. Karena sesuai dengan namanya. Diduga ada hubungan dengan virus Epstein Barr LNH kemungkinan ada kaitannya dengan factor keturunan karena ditemukan fakta bila salah satu anggota keluarga menderita LNH maka risiko anggota keluarga lainnya terjangkit tumor ini lebih besar disbanding dengan orang lain yang tidak termasuk keluarga itu.4. Etiologi Penyebab LNH belum jelas diketahui. namun lebih sering menyerang usia tua 65 tahun. Penyakit Limfoma dapat menyerang disegala usia. Karena tidak pada semua kasus limfoma Burkit ditemukan EBV. Limfoma non Hodgkin agresif.yang jarang sekali di otak. Terdapat beberapa fakkor resiko terjadinya LNH. 2.3.5. Limfoma non Hodgkin agresif kadangkala dikenal sebagai limfoma non Hodgkin tumbuh cepat atau level tinggi. Ada 2klasifikasi besar penyakit ini yaitu: 1. Limfoma yang berhubungan dengan kelainan-kelainan tersebut seringkali dihubugkan pula dengan Epstein Barr Virus (EBV) dan jenisnya beragam. Klasifikasi limfoma non-Hodgkin. Hal ini disebabkan adanya paparan herbisida dan pelarut organic. common variable immunodeficiency. c) Paparan lingkungan dan pekerjaan : Beberapa pekerjaan yang sering dihubugkan dengan resiko tinggi adalah peternak serta pekerja hutan dan pertanian. limfoma ini sering memberikan respon . merokok. Para pakar cenderung berpendapat bahwa terjadinya LNH disebabkan oleh pengaruh rangsangan imunologis persisten yang menimbulkan proliferasi jaringan limfoid tidak terkendali. dan yang terkena paparan UV4. d) Diet dan Paparan lsinya : Risiko LNH meningkat pada orang yang mengkonsumsi makanan tinggi lemak hewani. Meskipun nama ‘agresif’ kedengarannya sangat menakutkan. hypogammaglobulinemia. 2. Limfoma pada otak atau urat saraf tulang belakang disebut limfoma susunan saraf pusat (SSP). antara lain : a) Imunodefisiensi : 25% kelainan heredier langka yang berhubungan dengan terjadinya LNH antara lain adalah :severe combined immunodeficiency. b) Agen infeksius : EBV DNA ditemukan pada limfoma Burkit sporadic. limfoma non Hodgkin agresif ini tumbuh dengan cepat.

dan mereka sering tetap tidak terditeksi untuk beberapa saat. Secara tipikal ia pada awalnya tidak menimbulkan gejala. Dalam hal ini. 2.sering berhasil baik dengan kemoterapi dan transplantasi sel induk. Kadangkala. Dapat menyerang satu atau seluruh kelenjar limfe perifer. Patofisiologi Telah diketahui bahwa perjalan penyakit LNH terjadi secara limfogen dengan melibatkan rantai kelenjar getah bening yang saling berhubungan dan merambat dari satu tempat ketempat yang berdekatan. mereka sering ditemukan secara kebetulan.Meskipun pasien yang penyakitnya tidak berespon baik terhadap standar pengobatan lini pertama. Kira-kira 20% atau lebih penderita menunjukkan gejala-gejala yang berkaitan dengan pembesaran kelenjar limfe retroperitoneal atau mesentrium dan timbul bersama nyeri abdomen atau defekasi yang tidak teratur. . limfoma non Hodgkin indolen tumbuh hanya sangat lambat. limfoma nonHodgkin agresif lebih mungkin mengalami kesembuhan total daripada limfoma non Hodgkin indolen. dan melena.5. suatu pemeriksaan. Ditemukan adanya limfadenopati difus tanpa rasa nyeri. Sesuai dengan namanya. biasanya di leher. Meskipun demikian. Limfoma non Hodgkin indolen. hematemesis. seperti pemeriksaan darah. berkeringat pada malam hari) : namun insidennya lebih rendah dari pada penyakit Hodgkin. atau suatu sinar-X. Sering didapatkan dapat menyerang lambung dan usus halus yang ditandai dengan gejala yang mirip dengan gejala tukak lambung. mungkin menunjukkan sesuatu yang abnormal. Walaupun pada LNH timbul gejala-gejala konstitusional (demam. dada. Biasanya adenopati hilus tidak ditemukan. ketiak dan lipat paha. 2.sangat baik terhadap pengobatan. penurunan berat badan. tetapi sering ditemukan adanya efusi pleura. seperti ketika pasien mengunjungi dokter untuk sebab lainnya. Karena limfoma non Hodgkin indolen tumbuh lambat dan sering tanpa menyebabkan stadium banyak diantaranya sudah dalam stadium lanjut saat pertama terdiagnosis. hubungan antara kelenjar getah bening pada leher kiri dan daerah aorta pada LNH jenis folikular tidak sejelas seperti apa yang terlihat pada LNH jenis difus. Limfoma non Hodgkin indolen kadang-kadang dikenal sebagai limfoma non Hodgkin tumbuh lambat atau level rendah. Penyakit-penyakit susunan saraf pusat walaupun jarang terjadi tetap dapat timbul pada limfoma histisitik difus (imunoblastik sel besar). anoreksia. nausea. Gejala yang paling sering adalah pembesaran kelenjar getah bening. Tentunya. Pada kenyataannya. dokter mungkin menemukan pembesaran kelenjar getah bening pada pemeriksaan fisik rutin. Pada saat diagnosis pasien juga mungkin mempunyai gejala lain dari limfoma non Hodgkin. yang kelihatan sebagai benjolan. penurunan berat badan. kemudian diperiksa lebih lanjut dan ditemukan terjadi akibat limfoma non Hodgkin.

c. Keringat malam. 2. Penurunan berat badan 10% dalam waktu enam bulan 4. Keringat malam yang banyak tanpa sebab yang sesuai 5. Limphadenopaty. Pemeriksaan histopatologis tumor sesuai dengan LNH Manifestasi klinis.Criteria diagnosis medic LNH adalah sebagai berikut: 2. Gejala umum penderita limfoma non-Hodgkin yaitu : a. Hilangnya nafsu makan. 1. Bengkak pada wajah dan leher dan daerah-daerah nodus limfe yang terkena. g. Pembesaran kelenjar getah bening tanpa adanya rasa sakit. f. Demam. Nyeri tulang. Rasa lelah yang dirasakan terus menerus.6. Gangguan pencernaan dan nyeri perut. Riwayat pembesaran kelenjar getah bening atau timbulnya massa tumor ditempat lain. Riwayat demam yang tidak jelas 3. d. h. i.Gejala Penyebab Kemungkinan timbulnya gejala Gangguan pernafasan Pembengkakan wajah Pembesaran kelenjar getah bening di dada 20-30% Hilang nafsu makan Sembelit berat Nyeri perut atau perut kembung Pembesaran kelenjar getah bening di perut 30-40% Pembengkakan tungkai Penyumbatan pembuluh getah bening di selangkangan atau perut Penurunan berat badan 10% . b. e.

Adanya gejala tersebut biasanya menyertai penyakit diseminata. menyebabkan berkurangnya pembentukan antibody 20-30% 1. Pada 5-10% pasien. pada akhirnya bisa mencapai 100% Mudah terinfeksi oleh bakteri Penyebaran ke sumsum tulang dan kelenjar getah bening. Limfadenopati superficial. terdapat penyakit distruktur limfoid orofaringeal (cincin waldeyer) yang dapat menyebabkan timbulnya keluhan “sakit tenggorok” atau napas berbunyi atau tersumbat. 3. Dapat terjadi anemia dan infeksi dengan jenis yang ditemukan pada penyakit Hodgkin. . Gejala konstitusional.Diare Malabsorbsi Penyebaran limfoma ke usus halus 10%> Pengumpulan cairan di sekitar paru-paru (efusi pleura) Penyumbatan pembuluh getah bening di dalam dada Daerah kehitaman dan menebal di kulit yang terasa gatal 20-30% Penyebaran limfoma ke kulit 10-20% Penurunan berat badan Demam Keringat di malam hari Penyebaran limfoma ke seluruh tubuh 50-60% Anemia (berkurangnya jumlah sel darah merah) Perdarahan ke dalam saluran pencernaan Penghancuran sel darah merah oleh limpa yang membesar & terlalu aktif Penghancuran sel darah merah oleh antibodi abnormal (anemia hemolitik) Penghancuran sumsum tulang karena penyebaran limfoma Ketidakmampuan sumsum tulang untuk menghasilkan sejumlah sel darah merah karena obat atau terapi penyinaran 30%. keringat pada malam hari dan penurunan berat badan lebih jarang terjadi dibandingkan pada penyakit Hodgkin. Gangguan orofaring. 2. Sebagian besar pasien datang dengan pembesaran kelenjar getah bening asimetris yang tidak nyeri pada satu atau lebih region kelenjar getah bening perifer. Demam.

4. netropenia dengan infeksi. paru-paru. Penyakit abdomen. Anemia. otak. 2. 6. serta pada dada dan perut. d. Saluran gastrointestinal adalah lokasi ekstranodal yang paling sering terkena setelah sumsum tulang dan pasien dapat datang dengan gejala abdomen akut. Kulit. Organ lain. serta pada seluruh dada atau perut. Stadium I : Penyebaran Limfoma hanya terdapat pada satu kelompok yaitu kelenjar getah bening. b. a. Penentuan stadium merupakan salah satu pola penting dalam manajemen LNH yang bertujuan untuk mengetahui status penyakit dan memilih pengobatan yang relevan serta memudahkan evaluasi hasil terapi. atau trombositopenia dengan purpura mungkin merupakan gambaran pada penderita penyakit sumsum tulang difus. Sitopenia juga dapat disebabkan oleh autoimun. testis dan tiroid sering terkena. tetapi hanya pada satu sisi diafragma. atau otak. Hati dan limpa sering kali membesar dan kelenjar getah bening retroperitoneal atau mesenterika sering terkena. sementara stadium III dan IV dikelompokkan bersama sebagai stadium lanjut. Stadium III : Penyebaran Limfoma menyerang dua atau lebih kelompok kelenjar getah bening.7. Kulit juga secara primer terkena pada dua jenis limfoma sel T yang tidak umum dan sindrom sezary. Stadium I dan II sering dikelompokkan bersama sebagai stadium awal penyakit. 5. Stadium IV : Penyebaran Limfoma selain pada kelenjar getah bening setidaknya pada satu organ lain juga seperti sumsum tulang. c. Tahapan penyakit Penyebaran Limfoma dapat dikelompokkan dalam 4 stadium. hati. Klasifikasi yang populer digunakan adalah klasifikasi menurut Arnn Arborr (1971) sebagai berikut:STADIUM INTERPRETASI Stadium I Stadium II Stadium III . Stadium II : Penyebaran Limfoma menyerang dua atau lebih kelompok kelenjar getah bening.

albumin. Aspirasi dan biopsy sumsum tulang 9. untuk mengetahui adanya pembesaran kelenjar getah bening pada aorta abdominal atau KGB lainnya. Jika diperlukan pemeriksaan bone scan atau bone survey untuk melihat keterlibatan tulang. Immunoglobulin. Pemeriksaan laboratorium lengkap. Fungsi hati termasuk y-GT. Pencitraan toraks (PA dan lateral) untuk mengetahui pembesaran kelenjar media stinum. Fungsi ginjal 6. Jika diperlukan biopsy hati (terbimbing) 14. 2. limpa atau keduanya. 8. Gula darah 4. Pemeriksaan diagnostic.Stadium IV Terserang satu kelenjar limfe pada daerah tertentu atau ekstra limfatik Terserang lebih dari satu kelenjar limfe di daerah di atas diafragma dengan atau tanpa ekstra limfatik Terserang kelenjar limfe diatas dan di bawah diafragma atau disertai limfoma ekstra limfatik. dan LDH 5. 1. 7. massa tumor abdomen. bila perlu sitologi jarum halus (FN HB) ditempat lain yang dicurigai. Ct-Scan atau USG abdomen. Pemeriksaan biopsy kelenjar atau massa tumor untuk mengetahui subtype LNH.8. dan metastase kebagian intraabdominal. Pemeriksaan THT untuk melihat keterlibatan cincin waldeyer terlibat dilanjutkan dengan tindakan gastroskopi 12. Catat performance status . Tersebar menyeluruh pada organ ekstra limfatik dengan atau tanpa melibatkan kelenjar limfe. 10. 13. meliputi hal berikut. 2. Darah tepi lengkap termasuk retikulosit dab LED 3. 11. bila perlu CT scan toraks.

Untuk ekstra nodal stadium berdasarkan criteria yang ada.15. . dan keterlibatan tulang. Limfofenia c) Sel darah merah dan Hb/Ht Menurun Eritrosit d) Morfologi SDM Normositik. reaksi negative pada tahap lanjut. Tabel tes diagnostic dan interpretasi pada klien LNHJenis pemeriksaan Interpretasi hasil Hitung darah lengkap: a) Sel darah putih (SDP) Variasi normal. tulang Dilakukan bila terjadi adenopati hilus dan memastikan keterlibatan nodus limfe mediatinum. menurun atau meningkat secara nyata. b) Diferensial SDP sebagai gejala lanjut. Neutofilia. monosit. abdominal. vertebra. Alkalin fosfatase Mungkin meningkat bila tulang terkena Kalsium serum Meningkat pada eksaserbasi BUN Mungkin meningkat bila ginjal terlibat Globulkin Hipogammaglobulinemia umum dapat terjadi pada penyakit lanjut Foto toraks. malignansi) Trombosit Menurun (sumsum tulang digantikan oleh limfomi atau hipersplenisme) Test comb Reaksi positif (anemia hemolitik). hipokromik ringan sampai sedang e) Kerapuhan eritrosit osmotikMeningkat Laju endap darah (LED) Meningkat selam tahap aktif (inflamasi. invasi sumsum tulang terlihat pada tahap luas. dan eosinofilia mungkin ditemukan. basofilia. USG abdominal Mengevaluasi luasnya keterlibatan nodus limferetroperitoneal Biopsy sumsum tulang Menentukan keterlibatan sumsum tulang. ekstremitas proksimal serta nyeru tekan pada area pelvis Dilakukan untuk area yang terkena dan membantu penetapan stadium penyakit CT scan dada. abdominal. Stadium berdasarkan aun amor 16.

IIB.4 mg/ m 2 iv hari I 60 mg/m 2 po hari ke 1 – 5 12) Perkiraan selang waktu pemberian adalah 3 – 4 minggu 13) Lymfoma non – hodgkin derajat keganasan tinggi (IWF) 14) Stadium IA : kemotherapy diberikan sebagai therapy adjuvant 15) Untuk stadium lain : kemotherapy diberikan sebagai therapy utama 16) Minimal : kemotherapynya seperti pada LNH derajat keganasan sedang (CHOP) . IIIA dan B. Memastikan klasifikasi diagnosis limfoma Penatalaksanaan Therapy Medik. IE.Biopsy nodus limfe 2. IIE A da B. 1. dengan cara pemberian seperti pada LH diatas 3) Limfona non hodgkin derajat keganasan sedang (IWF) 4) Untuk stadium I B.Bila ada keluhan dapat diberi obat tunggal siklofosfamide dengan dosis permulaan po tiap hari atau 1000 mg/m 2 iv selang 3 – 4 minggu. prednison (CHOP) dengan dosis : 8) C : Cyclofosfamide 9) H : hydroxo – epirubicin 10) O : Oncovin 11) P : Prednison 800 mg/m 2 iv hari I 50 mg/ m 2 iv hari I 1. Limfoma non hodkin derajat keganasan rendah (IWF) 1) Tanpa keluhan : tidak perlu therapy. 2) Bila resisten dapat diberi kombinasi obat COP. oncovin. a.9. hydrokso – epirubicin. IIA diberi therapy medik sebagai therapy anjuran 6) Minimal : seperti therapy LH 7) Ideal : Obat kombinasi cyclophospamide. Konsultasi dengan ahli onkology medik ( di RS type A dan B). terapi medik adalah sebagai terapy utama 5) Untuk stadium I A.

17) Ideal : diberi Pro MACE – MOPP atau MACOP – B. nyeri dada Tanda : 1) Dipnea. Therapy radiasi dan bedah. karena itu prosedur diagnostik hanya dilakukan pada mereka yang setelah pemeriksaan fisik dan laboratorium memberi kesan masih mungkin berada pada stadium 1. Penatalaksanaan penderita LNH bergantung pada golongan histologisnya. penggunaan otot bantu pernapasan. sianosis) . takipnea 2) Batuk non produktif 3) Tanda-tanda distress pernapasan (frekuensi dan kedalaman pernapasan meningkat. Pengobatan hanya diberikan untuk menghilangkan gejala klinis akibat tumornya. Konsultasi dengan ahli radiotherapy dan ahli onkology bedah. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 1. Karenapengobatannya bersifat simptomatis maka penderita LNH derajat keganasan rendah tidak perlu ditentukan tingkat penyakitnya. Penderita LNH derajat keganasan tinggi harus diobati dengan kemoterapi apabila penyakitnya telah mencapai stadium 2 atau lebih. Prosedur diagnostik lengkap dilakukan Pada penderita LNH derajat keganasan menengah yang setelah pemeriksaan fisik dan laboratorium memberi kesan masih mungkin berada pada stadium 2. Pernapasan Gejala : dipnea pada saat aktivitas. 2. stridor. selanjutnya melalui yim onkology ( di RS type A dan B). Pengkajian a.

Neurosensori Gejala : 1) Nyeri saraf (neuralgia) yang menunjukkan terjadinya kompresi akar saraf oleh pembesaran kelenjar limfe pada brakial. diaphoresis. nyeri dada. nyeri punggung (kompresi vertebral). misalnya: pada sekitar mediastinum. perilaku hati-hati . dan keringat malam c. lumbal dan pleksus sacral 2) Kelemahan otot. keterlibatan diskus intervertebralis. kompresi suplai darah terhadap batang spinal) d. nyeri dada Tanda : 1) Takikardia. Sirkulasi Gejala : palpitasi. kurang minat/perhatian terhadap keadaan sekitar 2) Paraplegia (kompresi batang spinal. disritmia 2) Sianosis wajah akibat obstruksi drainase vena karena pembesaran kelenjar limfe (jarang terjadi) 3) Ikterus sclera/umum akibat kerusakan hati dan obstruksi duktus empedu (tanda lanjut) 4) Pucat (anemia). menarik diri. nyeri tulang (keterlibatan tulang limfomatus) Tanda : focus pada diri sendiri. parastesi Tanda : 1) Status mental letargi. Nyeri dan kenyamanan Gejala : 1) Nyeri tekan pada nodus yang terkena.4) Parau (paralisis paringeal akibat tekanan pembesaran kelenjar limfe terhadap saraf laringeal) b.

nodus aksila dan mediastinum 3) Pembesaran tonsil 4) Pruritus umum 5) Sebagian area kehilangan melanin (vitiligo) g. Keamanan Gejala : 1) Riwayat infeksi (sering terjadi) karena abnormalitas system imun seperti infeksi herpes sistemik. serta masalah financial (biaya pemeriksaan dan pengobatan. membengkak/membesar terutama kelenjar limfe servikal (kiri>kanan). Eliminasi Gejala : 1) Perubahan karakteristik urine dan/atau feses 2) Riwayat obstruksi usus. marah dan pasif agresif f. tidak ada nyeri.e. 2) Riwayat ulkus/perforasi/perdarahan gaster 3) Demam pel ebstein (peningkatan suhu malam hari sampai beberapa minggu). TB. diikuti demam menetap dan keringat malam tanpa menggigil 4) Integritas kulit: kemerahan. sindrom malabsopsi (infiltrasi kelenjar limfe retroperitoneal) . vitiligo (hipopigmentasi) Tanda : 1) Demam (suhu tubuh > 3800C) menetap dengan etiologi yang tidak dapat dijelaskan. prosedur diagnostic dan terapi. atau infeksi bacterial. toksoplasmosis. kehilangan pekerjaan) Tanda : perilaku menarik diri. perubahan peran dalam keluarga. tanpa gejala infeksi 2) Kelenjar limfe asimetris. pruritus umum. Integritas ego Gejala : 1) Gejala-gejala stress yang berhubungan dengan ancaman kehilangan pekerjaan.

atau malaise umum 2) Kehilangan produktivitas dan penurunan toleransi aktivitas 3) Kebutuhan tidur dan istirahat lebih banyak Tanda : 1) Penurunan kekuatan. Makanan dan cairan Gejala : 1) Anoreksia 2) Disfagia (tekanan pada esophagus) 3) Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan ³10% dalam 6 bulan tanpa upaya diet pembatasan Tanda : 1) Pembengkakan pada wajah. Aktivitas/istirahat Gejala : 1) Kelelahan. . splenomegali 3) Penurunan keluaran urin. rahang.Tanda : 1) Nyeri tekan kuadran kanan atas. kelemahan. hepatomegali 2) Nyeri tekan kuadran kiri atas. bahu merosot. gagal ginjal) 4) Disfungsi usus dan kandung kemih (kompresi spinal cord pada gejala lanjut) h. warna lebih gelap/pekat. anuria (obstruksi uretral. dan tanda-tanda lain yang menunjukkan kelelahan. jalan lamban. asites(kompresi vena cava inferior oleh pembesaran kelenjar limfe intradominal) i. leher. atau ekstremitas atas (kompresi vena cava superior) 2) Edema ekstremitas bawah.

peningkat produksi asam laktat jaringan local. efek sekunder pemberian agen antileukimia. mediastinum. penggunaan otot . gambaran diri yang salah. 3. Intervensi Rasional Kaji/awasi frekuensi pernapasan. Seksualitas Gejala : masalah fertilitas. 6) Kecemasan individu dan keluarga yang berhubungan dengan prognosis sakit. 5) Koping individu atau keluarga tidak efektif yang berhubungan dengan prognosis penyakit. adanya dispnea. tidak ada penggunaan ototaksesori. dipsnea. 2) Nyeri akut yang berhungan dengan kompresi saraf perifer. Tujuan : dalam waktu 1x24 jam jalan napas klien kembali efektif Criteria : secara subjektif pernyataan sesak berkurang . kehamilan.j. Intervensi keperawatanBersihan Jalan napas tidak efektif yang berhubungan dengan peningkatan secret pada jalan napas sekunder dan obstruksi trakeobronkhial akibat pembesaran kelenjar limfe servikal. 3) Resiko tinggi terhadap infeksi yang berhubungan dengan ketidakadekuatan system imunitas tubuh dan terapi imunosupresif (supresi tulang belakang). Diagnose keperawatan 1) Bersihan Jalan napas tidak efektif yang berhubungan dengan peningkatan secret pada jalan napas sekunder dan obstruksi trakeobronkhial akibat pembesaran kelenjar limfe servikal. tidak terdengar bunyi napas tambahan. penggunaan otot bantu pernapasan dan gangguan ekspansi dada. mediastinum. 4) Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolic (proses keganasan) dan perubahan kimiawi tubuh sebagai efek kemoterapi. Penyuluhan/Pembelajaran Gejala : 1) Pengetahuan tentang factor risiko dalam keluarga 2) Pengetahuan tentang factor risiko lingkungan (pemajanan agen karsinogenik kimiawi) 2. Perubahan seperti takipnea. dan penurunan libido akibat efek terapi k. RR 26-24 kali/menit. kedalaman. irama. perubahan peran. pembesaran kelenjar limfe.

pembesaran kelenjar limfe. Kaji respon pernapasan terhadap aktivitas Penurunan oksigenasi seluler menurunkan toleransi aktivitas. tidak terjadi penurunan perfusi perifer. Observasi distensi vena leher. abdomen) Meningkatkan aerasi semua segmen paru dan membantu mobilisasi sekresi. lokasi. edema preorbital. nyeri kepala. peningkat produksi asam laktat jaringan local. serta lama dan penyebarannya perilaku klien karena nyeri terjadi sebagai temuan pengkajian Variasi penampilan dan Lakukan manejemen nyeri keperawatan: f) Atur posisi fisiologis Posisi fisiologis akan meningkatkan asupan O2 ke jaringan yang mengalami nyeri sekunder dari iskemia g) Istirahatkan klien Istirahat akan menurunkan kebutuhan O2 jaringan perifer. perhatikan adanya tanda pucat/sianosis Proliferasi sel darah putih dapat menurunkan kapasitas pembawa oksigen darah dan menimbulkan hipoksemia. Nyeri akut yang berhungan dengan kompresi saraf perifer. pusing. wajah rileks. intensitas. dispnea. Kaji/awasi warna kulit. Intervensi Rasional Catat karakteristik nyeri. Ajarkan teknik napas dalam (bibir. istirahat menurunkan kebutuhan oksigen serta mencegah kelelahan dan dispnea.aksesori dapat mengindikasikan berlanjutnya keterlibatan kelenjar limfe mediastinal yang membutuhkan intervensi lebih lanjut. Tujuan: dalam waktu 3x24 jam terdapat penurunan respon nyeri Criteria: secara subjektif klien menyatakan penurunan rasa nyeri. Bantu perubahan posisi secara periodic Meningkatkan aerasi semua segmen paru dan membantu mobilisasi sekresi. stridor Klien LNH dengan sindrom vena cava superior dan obstruksi jalan napas menunjukkan kedaruratan onkologis. secara objektif didapatkan tandatanda vital dalam batas normal. diafragma. sehingga akan menurunkan kebutuhan oksigen jaringan h) Manajemen lingkungan: lingkungan tenang dan batasi pengunjung Lingkungan tenang akan menurunkan stimulus nyeri eksternal dan pembatasan pengunjung akan membantu meningkatkan kondisi O2 ruangan yang akan berkurang apabila banyak pengunjung yang berada diruangan i) Ajarkan teknik relaksasi pernapasan dalamMeningkatkan asupan O2 sehingga akan menurunkan nyeri sekunder dari iskemia jaringan . efek sekunder pemberian agen antileukimia.

atau radioterapi dengan lapangan yang luas. Penderita Resiko tinggi terhadap infeksi yang berhubungan dengan ketidakadekuatan system imunitas tubuh dan terapi imunosupresif (supresi tulang belakang). Kaji dan catat factor yang meningkatkan risiko infeksi infeksi Menjadi data dasar dan meminimalkan risiko Lakukan tindakan untuk mencegah pemajanan pada sumber yang diketahui atau potensial terhadap infeksi. Masase ringan dapat meningkatkan aliran darah dan dengan otomatis membantu suplai darah dan oksigen kearea nyeri dan menurunkan sensasi nyeri Kolaborasi pemberian terapi. .j) Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri Distraksi (pengalihan perhatian) dapat menurunkan stimulus internal dengan mekanisme peningkatan produksi endorvin dan enkefalin yang dapat memblok reseptor nyeri untuk tidak dikirimkan kekorteks serebri sehingga menurunkan persepsi nyeri k) Lakukan manajemen sentuhan Manajemen sentuhan pada saat nyeri berupa sentuhan dukungan psikologis dapat membantu menurunkan nyeri. Tujuan: dalam waktu 3x24 jam tidak terjadi infeksi Criteria: kien dan keluarga mampu mengidentifikasi factor risiko yang dapat dikurangi serta menyebutkan tanda dan gejaladini infeksi Intervensi Rasional Monitor TTV Adanya infeksi akan bermanifestasi pada perubahan TTV. Demam atau hipotermia mungkin mengindikasikan munculnya infeksi pada klien granulositopenik. b) Kemoterapi Pemberian disesuaikan dengan derajat penyakit c) Radiasi Terapi terpilih untuk penderita dengan penyakit ekstranodal yang terbatas adalah radiasi. radioterapi local. a) Analgetik Digunakan untuk mengurangi nyeri sehubungan dengan hematoma otot yang besar dan perdarahan sendi Analgetika oral non oploid diberikan menghindari ketergantungan terhadap narkotika pada nyeri kronis. terutama pada kasus limfoma histiositik difus.

meningkatkan kerentanan infeksi Kolaborasi pemberian antibiotika Menurunkan kehadiran organism endogen Pantau laboratorium sel darah putih Mengonfirmasikan keterlibatan sel darah putih terhadap infeksi Koping individu atau keluarga tidak efektif yang berhubungan dengan prognosis penyakit. atau infeksi e) Berikan hygiene parianal 2 kali sehari setiap BAB f) Batasi bunga segar dan sayur segar g) Gunakan protocol perawatan mulut Kewaspadaan meminimalkan pemajanan klien terhadap bakteri. terutama bila terjadi peningkatan suhu tubuh Jelaskan alasan kewaspadaan dan pantangan mengurangi factor risiko Pengertian klien dapat memperbaiki kepatuhan dan Yakinkan klien dan keluarganya bahwa peningkatan kerentanan pada infeksi hanya sementara Granulositopenia dapat menetap 6-12 minggu. dan pathogen jamur. mampu menyatakan atau mengkomunikasikan dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi.aupun endogen Laporkan bila ada perubahan tanda vitalPerubahan tanda-tanda vital merupakan tanda terjadinya sepsis. baik eksogen . Menentukan bantuan individual dalam menyusun rencana perawatan atau pemilihan intervensi. . Pengertian tentang sifat sementaragranulositopenia dapat membantu mencegah kecemasan klien dan keluarganya Minimalkan prosedur invasive Prosedur tertentu dapat menyebabkan trauma jaringan.a) Pertahankan isolasi protektif sesuai kebijakan institusional b) Pertahankan teknik mencuci tangan dengan cermat c) Beri hygiene yang baik d) Batasi pengunjung yang sedang demam. Tujuan: dalam waktu 1x24 jam klien atau keluarga mampu mengembangkan koping yang positif Criteria evaluasi: klien kooperatif pada setiap intervensi keperawatan. Intervensi Rasional Kaji perubahan dari gangguan persepsi dan hubungan dengan derajat ketidakmampuan. mengakui dan menggabungkan perubahan kedalam konsep diri dengan cara yang akurat tanpa harga diri yang negative. mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi. gambaran diri yang salah. virus. perubahan peran. flu.

Anjurkan klien untuk mengekspresikan perasaan termasuk permusuhan dan kemarahan Menunjukkan penerimaan. Monitor gangguan tidur peningkatan kesulitan konsentrasi. tas panjang untuk kateter. Dukung penggunaan alat-alat yang dapat mengadaptasikan klien. Membantu meningkatkan Anjurkan orang terdekat untuk mengizinkan klien melakukan sebanyak-banyaknya hal-hal untuk dirinya Menghidupkan kembali perasaan kemandirian dan membantu perkembangan harga diri serta mempengaruhi proses rehabilitasi. begitu juga untuk klien dan keluarganya. Dukung perilaku atau usaha seperti peningkatan minat dan partisipasi dalam aktivitas rehabilitasi Klien dapat beradaptasi terhadap perubahan dan pengertian tentang peran individu dimasa mendatang. tongkat. Meningkatkan kemandirian untuk membantu pemenuhan kebutuhan fisik dan menunjukkan posisi untuk lebih aktif dalam kegiatan sosial. Berikan informasi status kesehatan pada klien dan keluarga Klien dengan hemophilia sering memerlukan bantuan dalam menghadapi kondisi kronis. dan rendah diri. alat bantu jalan. Bantu dan anjurkan perawatan yang baik dan memperbaiki kebiasaan perasaan harga diri dan mengontrol lebih dari satu area kehidupan. membantu klien untuk mengenal dan mulai menyesuaikan dengan perasaan tersebut. dan kenyataan bahwa kondisi tersebut merupakan penyakit yang akan diturunkan kegenerasi berikutnya. klien dibantu untuk menerima dirinya sendiri dan penyakitnya serta mengidentifikasi aspek positif dari kehidupan mereka. Dapat mengindikasikan terjadinya depresi umumnya terjadi sebagai pengaruh dari stroke dimana memerlukan intervensi dan evaluasi lebih lanjut. Sedangkan yang lain mempunyai kesulitan membandingkan mengenal dan mengatur kekurangan. Hindari factor peningkatan stress emosional Perawat harus mengetahui pengaruh stress tersebut secara professional dan personal serta menggali semua sumber dukungan untuk mereka sendiri. Mereka harus didorong untuk merasa berarti dan tetap mandiri dengan mencegah trauma yang dapat menyebabkan episode perdarahan akut dan mengganggu kegiatan normal. Catat ketika klien menyatakan terpengaruh seperti sekarat atau mengingkari dan menyatakan inilah kematian Mendukung penolakan terhadap bagian tubuh atau perasaan negative terhadap gambaran tubuh dan kemampuan yang menunjukkan kebutuhan dan intervensi serta dukungan emosional. Dukung mekanisme koping efektif Sejak masa kanak-kanak. . keterbatasan ruang kehidupan.Identifikasi arti kehilangan atau disfungsi pada klien Beberapa klien dapat menerima dan mengatur perubahan fungsi secara efektif dengan sedikit penyesuaian diri. lethargi.

Dapat memfasilitasi Kecemasan individu dan keluarga yang berhubungan dengan prognosis sakit. Orientasikan klien terhadap prosedurrutin dan aktivitas yang diharapkan. Tingkatkan control sensasi klien Control sensasi klien (dan dalam menurunkan ketakutan) dengan cara memberikan informasi tentang keadaan klien. menurunkan kecemasan Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan ansietasnya. kooperatif terhadap tindakan.Kolaborasi: rujuk pada ahli neuro psikologi dan konseling bila ada indikasi. dan mungkin memperlambat penyebabkan. Tujuan: dalam waktu 1x24 jam kecemasan klien berkurang Criteria: klien menyatakan kecemasan berkurang. Memberi waktu untuk mengekspresikan perasaan. ketegangan terhadap kekhawatiran yang tidak dapat diekspresikan. Kolaborasi: berikan anticemas sesuai indikasi contohnya diazepam. Mulai melakukan tindakan untuk mengurangi kecemasan. menghilangkan cemas dan perilaku adaptasi. menurunkan kerja sama. serta membantu latihan relaksasi dan teknik-teknik pengalihan dan memberikan respons balik yang positif. Mengurangi ragsangan eksternal yang tidak perlu. Reaksi verbal/nonverbal dapat menunjukkan rasa agitasi. perubahan peran yang penting untuk perkembangan perasaan. mengenal perasaannya. Orientasi dapat Dapat menghilangkan Berikan privasi untuk klien dan orang terdekat. marah dan gelisah. Adanya keluarga dan teman-teman yang dipilih klien melayani aktivitas dan pengalihan (misalnya: membaca) akan menurunkan perasaan terisolasi. Intervensi Rasional Kaji tanda verbal dan non verbal kecemasan. BAB ΙΙΙ Meningkatkan relaksasi dan . dan mengidentifikasi penyebab atau factor yang mempengaruhinya. menurunkan kecemasan. Hindari konfrontasi Konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah. damping klien dan lakukan tindakan bila menunjukkan perilaku merusak. menekankan pada penghargaan terhadap sumbersumber koping (pertahankan diri) yang positif. Beri lingkungan yang tenang dan suasana penuh istirahat. wajah rileks.

DAFTAR PUSTAKA Setiawan. 3.2. Jakarta http://keperawatanhaerilanwar. Seperti pada penyakit Hodgkin.htmldiakses tanggal 20 November2012 pukul 20. EGC. Saran Diharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan dapat menjadi referensi bagi para mahasiswa keperawatan maupun pembacanya dalam pembuatan Asuhan Keperawatan tentang penyakit Limphoma Non Hodgkin.com/2012/08/asuhan-keperawatanpada-klienlimfoma. Keterlibatan system saraf pusat juga sering terjadi. Jika terdapat keterlibatan umum. Apabila penyakitnya masih terlokalisasi.3.00 WIB . Lyana. 2002. Manifestasinya sama dengan penyakit Hodgkin. namun penyakit ini biasanya sudah menyebar keseluruh system limfatik sebelum pertama kali terdiagnosis. infeksi merupakan masalah utama. Kesimpulan Limfomanon-Hodgkin adalah suatu kelompok penyakit heterogen yang dapat didefinisikan sebagai keganasan jaringan limfoid selain penyakit Hodgkin. Kapita Selekta Hematologi. radiasi merupakan penanganan pilihan.blogspot.3. Kami sebagai penyusun menyadari adanya kekurangan yang terdapat dalam makalah ini. digunakan kombinasi kemoterapi. kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembacanya bagi kami sebagai penyusun makalah ini. Pemberian dosis rendahpada penderita HIV-positif dianjurkan untuk mencegah terjadinya infeksi berat yang potensial mematikan.

wordpress. Tipe Mixed Cellularity . jadi ada LNH yang berasal dari limfosit T dan adapula yang berasal dari Limfosit B. Definisi · Penyakit limfoma Hodgkin adalah suatu jenis keganasan system kelenjar getah bening dengan gambaran histologist tertentu yang khas. sedangkan limfosit T akan berdiferensiasi menjadi bentuk aktif. 2. Klasifikasi Ø Penyakit Hodgkin dibagi menjadi 4 tipe: 1.37 http://dianalmira. · Limfoma malignum non Hodgkin atau limfoma non Hodgkin adalah suatu keganasan primer jaringan limfoid yang bersifat padat. · Limfoma non Hodgkin (LNH) adalah sekelompok penyakit heterogen.com/2013/04/askep-limfoma-non-hodgkin.html ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN LIMFOMA A.00 WIB Diposkan oleh Dian Al Mira di 20.blogspot. Konsep Medik 1.http://viozaax. sel ganas pada penyakit LNH adalah sel limfosit yang berbeda pada salah satu tingkat diferensiasinya dan berproliferasi secara banyak. (ciri histologist yang dianggap khas adalah adanya sel ReedSternberg atau variannya yang disebut sel Hodgkin dan gambaran selular getah bening yang khas). 2.com/2006/11/25/limfoma-non-hodgkin-kanker-getah-bening/diakses tanggal 20 November2012 pukul 20. Biasanya didapatkan pada anak-anak muda. Sebagaimana akan dikemukakan kemudian apabila sel limfosit dirangsang oleh antigen akan bertransformasi melalui berbagai tingkatan untuk dapat mencapai bentuk yang berfungsi sesuai dengan tugasnya. Tipe Lymprocyte Predominant Pada tipe ini gambaran patologi kelenjar getah bening terutama terdiri dari sel-sel limfosit yang dewasa. beberapa sel Sternberg Reed. Limfosit B akan berdiferensiasi menjadi sel plasma yang membentuk antibodi. Prognosisnya baik.

Sel-sel Sternberg Reed banyak sekali dan hanya ada sedikit-sedikit sel-sel jenis lain. atau produknya). 3. agen asing di lingkungan eksternal dapat berupa patogen (virus. Ahli lain menyebut sebagai pertahanan imun bawaan lahir atau imunitas alami. limfosit dan banyak didapatkan sel-sel Sternberg Reed yang merupakan penyakit yang luas dan mengenai organ-organ ekstra nodal. jaringan limfoid sekunder (nodus limfe. Limfositik. Prognosis lebih jelek. juga beberapa sel . neutrofil. Prognosis jelek. dan zat yang dilepas leukosit. bercak peyeri pada usus halus. eosinofil. jamur. atau zat kimia (obat atau polutan). Limfositik. Tipe Lymphocyte Depleted Gambar patologi mirip diffuse histocytic lymphoma. Undiferentiated Kelimanya dapat difus atau noduler. protozoa. Biasanya pada orang tua dan cenderung proses yang luas dengan gejalagejala sistemik. Jaringan limfatik dan organ tubuh membentuk sistem imun yang meliputi organ-organ limfoid primer (sumsum tulang dan kelenjar timus). Sering didapatkan pada wanita muda dan sering menyerang kelenjar mediastinum. sel-sel fagositik. Hal ini terdiri dari barier fisik. sering disertai “B symptoms”. adenoid. amandel. diferensiasi buruk 3. Tipe Nodular Sclerosis Kelenjar mengandung nodul-nodul yang dipisahkan oleh serat-serat kolagen. dan apendiks). membran mukosa. produk tumbuhan atau hewan (makanan tertentu.Gambaran patologinya pleomorfik dengan sel-sel plasma. 4. limpa. Histiositik 5. Oleh beberapa hal. Sering didapatkan sel-sel Sternberg-Reed yang atipik yang disebut sel Hodgkin. pertahanan ini dimasukkan dalam pertahanan non imun. 3. Campuran. Fisiologi Sistem Imun Pertahanan tubuh non spesifik dan sistem imun melindungi tubuh terhadap agen lingkungan yang asing bagi tubuh. serbuk sari atau rambut atau bulu binatang). Prognosis terletak antara tipe 1-2. bakteri. Sementara imunitas didapat adalah pertahanan yang spesifik yang diinduksi atau didapat melalui pajanan terhadap agens infeksius spesifik. limfositik histiositik 4. diferensiasi baik 2. Barier tersebut meliputi kulit. mekanik dan kimia sejak lahir yang melawan benda asing. Pertahanan non spesifik memberikan perlindungan umum terhadap berbagai jenis agen. Ø Limfoma non Hodgkin dibagi menjadi : 1.

· Tidak tahan dengan alcohol · Pruritus · Lemah dan berat badan menurun · Limpa dan hati mungkin membesar . penyebab asal pada sel Limfosit ini terbagi dalam limfosit T atau limfosit B dapat diketahui dari morfologi sel tersebut diperlukan pemeriksaan khusus yaitu pemeriksaan terhadap penanda (sel markers) pada dinding sel atau intrasitoplasma plasma untuk mengetahui apakah sel ganas yang berproliferasi adalah limfosit T dan limfosit B. diaksila atau inguinal. tetapi sel ini tidak memproduksi antibodi. yaitu protein pernukaan sel yang terikat membran dan analog dengan antibodi. Sel B adalah antigen spesifik yang berproliferasi untuk merespons antigen tertentu. Ada dua jenis respon imun yaitu imunitas antibodi. Biasanya dimulai pada satu kelenjar getah bening dan menyebar kesekitarnya perkontinuitatum atau melalui sistem saluran kelenjar getah bening dan kelenjar-kelenjar sekitarnya. diproduksi limfosit yang berasal dari sumsum tulang (sel-sel B) dan ditemukan dalam plasma darah. Fungsi sel : a. Sel T mengenali dan berinteraksi dengan antigen melalui reseptor sel T. Sel B berdiferensiasi menjadi sel plasma non proliferasi yang menyintesis dan mensekresi antibodi b. yaitu bergelombang. penyebab penyakit ini belum jelas. ada banyak faktor penyebab salah satu yang dicurigai adalah virus Epstein-Barr. Subtipe limfosit T berfungsi untuk membantu limfosit B merespons antigen. Limfoma Non Hodgkin. Manifestasi Klinis · Pembesaran kelenjar getah bening terutama di leher. demam selama 1-2 minggu diselingi masa tidak demam yang bervariasi. Selain itu sel T memproduksi zat aktif secara imunologis yang disebut limfokin.lain dan produk sel T. Etiologi Limfoma Hodgkin. membunuh sel-sel asing tertentu dan mengukur respons imun. Sedangkan imunitas selular diperantarai limfosit yang berasal dari timus (sel-sel T). 4. Sel T juga menunjukkan spesifisitas antigen ddan akan berproliferasi jika ada antigen. · Kelenjar teraba kenyal keras · Dapat digerakkan dari kulit dan dasarnya tidak nyeri tekan · Demam tipe Pal Ebstein. 5.

aksila. hati. Stadium II : Penyebaran Limfoma menyerang dua atau lebih kelompok kelenjar getah bening. Stadium Limfoma Penyebaran Limfoma dapat dikelompokkan dalam 4 stadium. pungsi cairan asites. pruritus dan penurunan berat badan. 1. Penatalaksanaan Medis a. Laboratorium: darah lengkap. pelvis atau iga-iga · Erupsi nodular. 3. pungsi cairan pleura dan lain-lain. Stadium I dan II sering dikelompokkan bersama sebagai stadium awal penyakit. Test Diagnostik dan Laboratorium a. d. hilus. paru – paru atau otak 7. retroperitoneal dan pelvis). serum alkali fosfatase.· Infiltrasi ke tulang dapat menimbulkan nyeri pada spina. e. Stadium I : Penyebaran Limfoma hanya terdapat pada satu kelompok yaitu kelenjar getah bening. Stadium III : Penyebaran Limfoma menyerang dua atau lebih kelompok kelenjar getah bening. laparatomi eksplorasi. Radioterapi Di berikan pada stadium 1 dan 2 yang di sinari adalah kelenjar-kelenjar getah bening sepanjang pembuluh darah dari dasar otak sampai inguinal (servikal. Anamnesis: demam. keringat malam. BMP. 6. IVP. Radiologi: foto thoraks (PA dan Lateral). b. limfografi ke dua tungkai dan foto tulang-tulang (vertebra. 4. mediastinum. serta pada seluruh dada atau perut. b. Pemeriksaan fisik: pemeriksaan kelenjar-kelenjar getah bening. c. Stadium IV : Penyebaran Limfoma selain pada kelenjar getah bening setidaknya pada satu organ lain juga seperti sumsum tulang. fungsi ginjal dan fungsi hati. paraklavikuler. 8. biopsi hati biopsi limpa. mungkin berupa “mantleradiation” atau Y terbalik dengan dosis 3500-4000 rad. Juga digunakan untuk terapi paliatif pada stadium 4. Cara pemberian tergantung daerah yang kena. serta pada dada dan perut. sementara stadium III dan IV dikelompokkan bersama sebagai stadium lanjut. tetapi hanya pada satu sisi diafragma. Biopsi kelenjar. Kemoterapi . pelvis dan extremitas bagian proksimal). limpa dan hati. 2. f.

Pola persepsi kognitif · Mengeluh nyeri pada benjolan . Satu seri adalah 14 hari kemudian istirahat 14 hari. Konsep Keperawatan 1. Pengkajian a. Paling baik selalu diberikan kemoterapi kombinasi MOPP: M = Mustard nitrogen 6mg / sqm iv hari ke 1 dan 8. P = Procarbazine 100mg / sqm per os tiap hari ke 1-14. O = Oncovin = vincristine 1. Pola aktivitas dan latihan · Cepat merasa lelah · Badan lemah · Timbul benjolan yang kenyal.Penderita-penderita dengan stadium 3-B atau 4 dan pada hal-hal khusus diatas perlu diberikan kemoterapi. ketiak atau pangkal paha · Cyanosis d. P = Prednison 40mg / sqm per os tiap hari ke 1-14. B. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan · Riwayat terpapar virus Epstain Barr · Riwayat penyakit sebelumnya · Riwayat pemakaian obat immunosupresif dalam jangka waktu lama b. Pola nutrisi metabolik · Demam berkepanjangan dengan suhu lebih dari 38oC · Sering keringat malam · Anoreksia · Mual dan muntah c. mudah digerakkan pada leher.mg / sqm iv hari ke 1 dan 8.0 – 1.

Hipertermi b. Anjurkan untuk memakaikan pasien pakaian tipis. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang. R/ Dengan pakaian tersebut diharapkan dapat mencegah evaporasi sehingga cairan tubuh menjadi seimbang. kelelahan. 4.2. prognosis. d. ditandai dengan : · Suhu 36-37o C · Acral hangat · Capilarry refill < 3 detik Intervensi: 1. dan menurunnya absorbsi zat gizi. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit. R/ kompres dapat membantu menurunkan suhu tubuh pasien secara konduksi. Hipertermi berhubungan dengan tak efektifnya termoregulasi sekunder terhadap inflamasi. 3. aksila. HYD : suhu badan kembali normal. Nyeri berhubungan dengan interupsi sel saraf c. Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan. pertukaran oksigen. . Observasi suhu tubuh pasien R/ dengan memantau suhu diharapkan diketahui keadaan sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat. perut dan lipatan paha. Anjurkan dan berikan banyak minum (sesuai kebutuhan cairan anak menurut umur) R/ dengan banyak minum diharapkan dapat membantu menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh. pengobatan dan perawatan 3. longgar dan mudah menyerap keringat. Perencanaan a. Diagnosa Keperawatan a. malnutrisi.d tak efektifnya termoregulasi sekunder terhadap inflamasi b. Berikan kompres hangat pada dahi. e. 2. meningkatnya kebutuhan metabolic.

Nyeri berhubungan dengan interupsi sel saraf HYD : nyeri berkurang sampai hilang. R/ analgetika akan mencapai pusat rasa nyeri dan menimbulkan penghilangan nyeri. perhatikan isyarat verbal dan non verbal setiap 6 jam R/ menentukan tindak lanjut intervensi. Tentukan karakteristik dan lokasi nyeri. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang. Terapkan tehnik distraksi (berbincang-bincang) R/ mengalihkan perhatian dari rasa nyeri 4. ditandai dengan : · Intensitas nyeri 2 -3 · Tidak tampak meringis · Nadi 60 -100x/menit · Pernapasan 12-20 x/menit · TD 120/80 mmHg Intervensi : 1. Ajarkan tehnik relaksasi (nafas dalam) dan sarankan untuk mengulangi bila merasa nyeri R/ relaksasi mengurangi ketegangan otot-otot sehingga mengurangi penekanan dan nyeri. nadi dan pernafasan tiap 6 jam R/ nyeri dapat menyebabkan gelisah serta tekanan darah meningkat. nadi. dan menurunnya absorbsi zat gizi. 2. Pantau tekanan darah. 5.5. . Kolaborasi dalam pemberian analgetika. R / antipiretik akan menghambat pelepasan panas oleh hipotalamus. Beri dan biarkan pasien memilih posisi yang nyaman R/ mengurangi keteganagan area nyeri 6. pernafasan meningkat 3. c. meningkatnya kebutuhan metabolik. b. Kolaborasi dalam pemberian antipiretik.

Beri makan dalam porsi kecil tapi sering R/ memberikan kesempatan untuk meningkatkan masukan kalori total 2. kelelahan. Sajikan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi R/ meningkatkan keinginan pasien untuk makan sehingga kebutuhan kalori terpenuhi 4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan. Beri HE tentang manfaat asupan nutrisi R/ makanan menyediakan kebutuhan kalori untuk tubuh dan dapat membantu proses penyembuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh d. malnutrisi.5 kg/minggu · Hb 10 -12 gr/dL Intervensi : 1. ditandai dengan : · Makanan yang disediakan habis · BB naik minimal 0. evaluasi keadequatan rencana nutrisi 3.HYD : nutrisi adekuat. Ciptakan lingkungan yang nyaman saat makan R/ suasana yang nyaman membantu pasien untuk meningkatkan keinginan untuk makan 5. ditandai dengan : · Mampu memenuhi kebutuhan ADL secara mandiri · Tidak mengeluh lelah dan letih · Pernapasan 12 – 20x/ menit · Dispnea tidak ada Intervensi : . HYD : dapat beraktivitas secara bertahap. pertukaran oksigen. Timbang BB sesuai indikasi R/ berguna untuk menentukan kebutuhan kalori.

Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan ADL R/ meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplay dan kebutuhan oksigen 3. peningkatan kelemahan/kelelahan dan perubahan tandatanda vital selama dan setelah aktivitas R/ menetapkan kemampuan/kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi 2. Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit.1. Libatkan keluarga dalam perawatan pasien R/ membantu dan memenuhi ADL pasien 4. R/ memberikan informasi kepada pasien tentang prosedur tindakan akan meningkatkan pemahaman pasien tentang tindakan yang dilakukan untuk mengatasi masalahnya 3. pengobatan dan perawatan HYD : cemas berkurang sampai hilang ditandai dengan: · Tampak rileks dan tenang · TTV terutama nadi dan pernapasan dalam keadaan normal Intervensi 1. Perkuat faktor-faktor pendukung untuk mengurangi ansiates. R/ untuk mengurangi kecemasan yang dirasakan pasien 4. R/ untuk mengurangi kecemasan yang dirasakan pasien . Beri aktivitas sesuai dengan kemampuan pasien R/ meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplay dan kebutuhan oksigen). Kaji dan pantau tanda ansietas yang terjadi R/ ketakutan dapat terjadi karena kurangnya informasi tentang prosedur yang akan dilakukan. Diskusikan ketegangan dan harapan pasien. prognosis. tidak tahu tentang penyakit dan keadaannya 2. e. Jelaskan prosedur tindakan secara sederhana sesuai tingkat pemahaman pasien.

St. Steohen J. Diagnosis & Terapi Kedokteran Penyakit Dalam Buku 2. 2007. Wilson. Jakarta : EGC. Joyce M & John Hokanson Hawks. 2005.Edisi 6. Jakarta : EGC. Pendit.DAFTAR PUSTAKA Black. 7th edition. Sherwood. 2005. Sharon L. Edisi 2. Medical Surgical Nursing : Assessment and Management of Clinical Problems Volume 2. Price. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Volume 1. Louis : Elsevier Saunders. Alih bahasa : Abdul Gofir. Alih bahasa : Brahm U. Papadakis. http://asuhankeperawatan4u. Seventh Edition. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem.html .blogspot. Sylvia A dan Lorraine M. Pendit.com/2013/02/asuhan-keperawatan-pasien-denganlimfoma_23. Alih bahasa : Brahm U. Lauralee. Lawrence M. St. Tiener. Jakarta : Salemba Medika. 2001. Medical Surgical Nursing Clinical Management for Positive Outcome. McPhee dan Maxine A. Lewis. 2003.Louis : Mosby.