Herpes simplex encephalitis

Herpes simplex encephalitis (HSE), terjadi pada kurang lebih 10 %
dari semua kasus encephalitis., dengan frekuensi sebanyak 2 kasus
tiap tahunnya. Lebih dari sebagian kasus yang tidak diterapi dapat
berakibat fatal. Sekitar 30% kasus merupakan akibat dari infeksi
sebelumnya dan kebaanyakan kasus karena reaktivasi dari infeksi
sebelumnya.
Herpes Simplex Virus type 1, yang mana menyebabkan luka dingin
pada mulut dan mata ataupun pelepuhan pada organ tersebut,
dapat menyerang pada berbagai kelompok usia namun seringkali
banyak menyerang pada kelompok usia kurang dari 20 tahun dan
lebih dari 40 tahun. Gejala yang timbul, meliputi sakit kepala,
demam samapai 5 hari, diikuti dengan perubahan tingkah laku dan
kepribadian, kejang, lumpuh setengah badan, halusinasi dan
bergai macam penurunan kesadaran. Kerusakan otak yang timbul
pada anak-anak dan dewasa biasanya terlihat di daerah lobus
frontal dan temporal.
Herpes Simplex Virus tipe 2 (herpes genital) seringkali menular
karena kontak seksual. Ibu yang terinfeksi dapat menularkan pada
bayinya pada saat persalinan melalui kontak dengan secret
kemaluan, walaupun hal ini jarang terjadi. Pada neonatus, gejalagejala seperti letargi, kejang, rewel biasanya muncul antar usia 4-11
hari setelah persalinan (4).
Pathophysiology
Masih belum jelas, ada kemungkinan
(1) Infeksi otak sering merupakan infeksi primer akibat transmisi
virus secara langsung melalui jalan neuronal dari perifer ke otak
melalui N. Trigeminus atau N. Olfactorius. Factor – factor yang
mempercepat terjadinya HSE tidak diketahui. Walaupun HSE
sering didapatkan pada penderita dengan penurunan system imun,
sebagian besar penderita tidak pernah mengalami supresi system
imun. Pada sepertiga kasus-kasus HSE merupakan komplikasi dari
infeksi primer HSV sedangkan sisanya disebabkan oleh infeksi
ulangan.
(2) Pada beberapa kasus HSE merupakan reaktivasi infeksi berupa
herpes virus laten dalam otak. HSV asimtomatik sering dijumpai
berdasarkan tingginya prevalensi antibody terhadap HSV pada
populasi. Infeksi HSV laten dalam otak merupakan bagian terbesar
dari penyakit neurologi asimptomatik. Dari hasil otopsi, HSV
dijumpai di otak pada 35 % populasi tanpa gejala neurologi hingga
penderita meninggal. (5)

pasien yang mengalami koma seringkali meninggal atau sembuh dengan gejala sisa yang berat. Pada neonatus. disfasia. pasien mengalami malise dan demam berlangsung 1-7 hari. Manifestasi ensefalitis simulai dengan sakit kepala. walaupun sudah mendapatkan terapi antivirus. Kematian biasanya terjadi dalam 2 minggu pertama. Kesadaran menurun sampai koma dan letyargi. gangguan saraf otak. Harus diingat bahwa kejang umum dapat diawali kejang fokal yang berkembang menjadi kejang umum. ikterus. gangguan sistem otonom. Kemudian pasien mangalami kejang dan penurunan kesadaran. tanda traktus piramidalis. ubun-ubun besar menonjol. Secara prktis kita harus selalu memikirkan kemungkinan EHS bila menjumpai seorang anak dengan demam. analisis PCR CSS bersifat sensitive dan spesifik untuk menegakkan diagnosis HSE. perdarahan. Bila kejang fokal sangat singkat. dan papiledema. terutama pada anak. Pemeriksaan neurologis seringkali meunjukkan afasia. renjatan. mampu menunjukkan perubahan patologis yang biasanya bilateral. Jelaslah bahwa manifestasi klinis sangatlah tidak spesifik. hilangnya lapangan pandang. muntah. temperature tidak stabil. kejang terutama kejang fokal. menunjukkan pleositosis mononuclear dengan peningkatan kadar protein sedangkan kadar glukosa normal atau menurun sedikit • PCR. • MRI. Pada fase prodromal. paresis saraf kranialis.Manifestasi Klinis EHS dapat bermanifestasi sebagai bentuk akut atau sub akut. ataxia. ataksia. perubahan kepribadian dan gangguan daya ingat yang sangat sulit dideteksi pada anak kecil. Diagnosis Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik Gangguan kesadaran. hemiparesis. Kejang dapat berupa kejang fokal maupun kejang general. dan diagnosis WHS sangat memerlukan kecurigaan klinis yang bsangat kuat. pada bagian medial lobus temporalis dan bagian inferior . Kadang-kadang manifestasi klinis menyerupai meningitis aseptik tanpa manifestasi ensefalitis yang jelas. orangtua sering tidak mengetahui. distress nafas dan lesi kulit yang khas (6). dan gejala neurologis fokal lain seperti hemiparesis atau afasia dengan penurunan keasdaran yang progresif (5). Pemeriksaan Penunjang • Analisis CNS. kejang fokal > general. demam. Koma adalah faktor prognosis yang sangat buruk. kaku kuduk dan papiledema.

penurun panas. demikian juga koma. In : Feign RD.ninds. ed. Pengobatan dini dengan asiklovir akan menurunkan mortalitas menjadi 28%. Terapi suportif lainnya.aspx 2. Daftar Pustaka 1.ambatan pengobatan yang lebih dari 4 hari memberikan prognosis buruk. Kohl S. Meningitis and encephalitis fact sheet. Adanya lesi pada lobus temporalis merupakan hal bermakna dalam dugaan HSE • EEG. 2003 . Prognosis Prognosis EHS yang tidak diobati sangat buruk dengan kematian 70-80% setelah 30 hari dan meningkat menjadi 90% dalam 6 bulan.nih. Keterl. • Biopsi otak. Herpes Simplex Encephalitis. Dr.encephalitis. NINDS. Graham. Available from : Available from : www.lobus frontalis. menunjukkan kelainan fokal abnormal. merupakan salah satu pemeriksaan definitive untuk menegakkan diagnosis HSE. April 2004.info/Info/. pasien yang mengalami koma seringkali meninggal atau sembuh sengan gejala sisa yang berat (5). oksigenasi. tergantung kadar obat dalam plasma..htm . Efek samping adalah peningkatan kadar ureum dan kreatinin. seperti obat anti kejang./TypesEncephalitis/HSE. available from : http://www.. juga nutrisi baik parenteral maupun enteral. 1992 3. Textbook of pediatric infectious disease. Post natal herpes simplex viru infection. seperti spike dan slow-wave atau pola periodic sharp-wave pada lobus temporalis. Creator. Diagnosis banding Meningitis asetik Penatalaksanaan Acylovir 10 mg/kgBB/dosis setiap 8 jam iv drip dalam 1 jam selama 10 hr. Cherry JD. Gejala sisa lebih sering ditemukan dan lebih berat pada kasus yang tidak diobati.5). Philadelphia: WB Saunders.gov/disorders/encephalitis_meningitis/det ail_encephalitis_meningitis. Pemberian secara perlahan akan mengurangi efek samping (6.

Herpes Simplex Encephalitis. Soetomo. 1999. 6. Pritz. dkk. Update : Jan 7. Surabaya .medscape. 2010. Buku Ajar Neurologi Anak.com/article/792486overview 5. Taslim. 2006. Pedoman Diagnostik dan Terapi Bag / SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD dr. Available from : http://emedicine. Tod. Jakarta. Edisi III. Soetomenggolo.4.