Presentasi kasus

“BPH”

Pembimbing : dr. Tri B., SpU
Disusun oleh :

Adrian Nugraha P.
Agustina H.

G1A211001
G1A2110085

IDENTITAS PASIEN






Nama
Umur
Jenis Kelamin
Alamat
Agama
Masuk RSMS

: Tn. S
: 82 tahun
: Laki-laki
: Karang Tengah
: Islam
: 5 Mei 2014

Anamnesis
Keluhan utama : sulit BAK
Riwayat penyakit sekarang :
• Pasien datang dengan keluhan sulit buang air kecil dan tidak lancar
sejak ± 2 bulan yang lalu. Pasien harus menunggu pada permulaan
buang air kecil, mengedan pada saat buang air kecil, alirannya
terputus-putus, pancaran air kencing lemah dan menetes pada akhir
kencing. Pasien juga merasa tidak puas setelah buang air kecil
sehingga sering kencing terutama pada malam hari terbangun untuk
kencing. Selain itu, pasien merasakan rasa nyeri pada ujung penis
dan batang penis saat buang air kecil.
• Selama ini buang air kecil pasien tidak pernah bercabang, tidak
pernah mengeluarkan batu saat kencing. Air kencing tidak pernah
dikerumuni semut. Pasien juga tidak pernah mengalami operasi
sebelumnya. Pasien juga tidak pernah mengeluarkan darah pada saat
buang air kecil, nyeri punggung tidak ada, perasaan baal/kesemutan
tidak ada, kelemahan anggota gerak bawah tidak ada, buang air besar
lancar.

Riwayat Penyakit Dahulu  Memiliki riwayat sakit darah tinggi  Riwayat sakit kencing manis disangkal  Riwayat sakit batu saluran kencing disangkal  Riwayat infeksi saluran kemih disangkal Riwayat Penyakit Keluarga  Tidak ada keluarga yang memiliki sakit sama.  Riwayat sakit kencing manis disangkal  Riwayat sakit darah tinggi disangkal  Riwayat sakit batu saluran kencing disangkal .

50 C .Pemeriksaan umum • Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum : Sedang Kesadaran : Compos Mentis Vital Sign : Tekanan Darah : 150/80 mm/Hg Nadi : 90 x/menit Respirasi : 18 x/menit Suhu : 36.

Telinga : simetris. Hidung : discharge (-/-). diameter pupil 3 mm.Status Generalisata  Kepala     : mesosefal Mata : reflek cahaya (+/+). tidak ada kelainan bentuk . sklera ikterik (-/-). pupil isokor. Mulut : sianosis (-/-). konjungtiva anemis (-/-). deviasi septum (-/-).

• Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi : iktus cordis tidak tampak : iktus cordis tidak kuat angkat : batas kiri atas SIC II LMC sinistra batas kanan atas SIC II LPS Dextra batas kiri bawah SIC V LMC sinistra batas kanan bawah SIC IV LPS Dextra Auskultasi (-) : S1 > S2 reguler. murmur (-). gallop .

ST (-/-) . Paru Inspeksi : dada kanan dan kiri simetris Palpasi : vokal fremitus kanan = kiri Perkusi : sonor di seluruh lapangan paru Auskultasi : SD dasar vesikuler (+/+).

sikatrik (-). massa (-). Palpasi : defans muskular (-). nyeri tekan (-). hepar tidak teraba. venektasi (-). limpa tidak teraba.• Abdomen Inspeksi : simetris. Perkusi : timpani Auskultasi : bising usus (+) normal • Ekstremitas: Superior dextra : Udem (-) Superior sinistra : Udem (-) Inferior dextra : Udem (-) Inferior sinistra : Udem (-) . massa (-).

produksinya ada. terpasang douwer cateter. tidak teraba massa • Perkusi : timpani Regio Genitalia Eksterna • Inspeksi : massa (-). tidak tampak pembesaran scrotum. massa (-) . tidak tampak massa • Palpasi : nyeri tekan (+). urin berwarna kuning jernih • Palpasi : nyeri tekan (-).Status Lokalis Regio Suprapubik • Inspeksi : datar.

Prostat : teraba membesar. darah (-). permukaan licin. sulcus medianus mendatar. sulcus lateralis tidak teraba.Regio Anal • Inspeksi : massa (-) • Palpasi : nyeri tekan (-) • Rectal toucher : tonus sfingter ani cukup. • Sarung tangan : feses (-). mukosa rectum licin. kenyal. ampula recti tidak kolaps. . lendir (-). pole atas tidak dapat diraba.

Pemeriksaan Penunjang  Foto rontgen :  Laboratorium darah .

• Diagnosis : BPH • Diagnosis banding : Karsinoma prostat. Ketorolac 1x1 amp Amlodipin 1x5 mg (calcium canal blocker) Operatif : prostatectomy /TURP . prostatitis • Penatalaksanaan : NonMedikamentosa : Pasang DC Medikamentosa : IVFD RL 20 tpm Inj. tumor buli.

 PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad sanantionam Quo ad fungtionam : dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam .

Definisi  Benign Prostat hyperplasia (BPH) adalah neoplasma jinak (hiperplasia) yang mengenai kelenjar prostat yang ditandai dengan pembesaran yang progresif dari kelenjar prostat yang berakibat pada obstruksi pengeluaran kandung kemih dan peningkatan kesulitan berkemih. .

Anatomi .

.

dan keturunan pertama dari pasien BPH membawa resiko relatif yang meningkat hampir 4 kali lipat. . Bentuk ini merupakan bentuk autosomal dominant. dan insidensinya berhubungan dengan bertambahnya usia. • Hampir 50% pria berumur kurang dari 60 tahun yang menjalani operasi untuk BPH memeiliki bentuk penyakit yang diwariskan.Epidemiologi • BPH merupakan tumor jinak paling sering pada laki-laki.

Faktor Risiko  Usia: BPH terjadi lebih umum pada usia lanjut > 50 tahun dan jarang terjadi pada pria dengan usia < 40 tahun.  Riwayat keluarga  Obesitas  Aktivitas fisik yang rendah .

 Teori ketidak seimbangan antara estrogen – testosteron  estrogen  jumlah reseptor androgen meningkat  sedikit kematian sel prostat.Etiologi  Teori DHT  DHT MENINGKAT  PERTUMBUHAN sel-sel kelenjar prostat masif.  Teori interaksi stroma-epitel  mediator kontrol pertumbuhan prostat .

• Berkurangnya kematian sel ( apoptosis )  kondensasi dan fragmentasi sel  apoptosis akan difagositosis oleh sel – sel di sekitarnya  didegradasi oleh enzim lisosom  penambahan jumlah sel-sel prostat baru dengan yang mati tidak seimbang  pertambahan massa prostat • Teori stem sel  tergantung hormon androgen  kadarnya menurun  apoptosis  proliferasi sel  ketidaktepatan aktivitas sel stem  produksi yang berlebihan sel stroma atau sel epitel .

Nokturia : terbangun untuk miksi pada malam hari Nokturia dan frekuensi terjadi karena pengosongan yang tidak lengkap pada tiap miksi sehingga interval antar miksi lebih pendek.Gejala Klinis Gejala iritatif • Frekuensi : sering miksi • Frekuensi terutama terjadi pada malam hari ( nokturia ) karena • • • • • hambatan normal dari korteks berkurang dan tonus sfingter dan uretra berkurang selama tidur. jika ada disebabkan oleh ketidaksatabilan detrusor sehingga terjadi kontraksi involunter. Urgensi : perasaan miksi yang sangat mendesak Disuria : nyeri pada saat miksi Urgensi dan disuria jarang terjadi. .

Terjadi karena detrusor membutuhkan waktu yang lama untuk dapat melawan resistensi uretra. Straining : harus mengedan jika miksi Intermittency: kencing terputus – putus.• • • • • • • Gejala obstuktif Pancaran melemah Rasa tidak lampias sehabis miksi Terminal dribbling : menetes setelah miksi. Hesitancy : bila mau miksi harus menunggu lama.Terminal dribbling dan rasa belum puas sehabis miksi terjadi karena jumlah residu urin yang banyak dalam buli – buli.Terjadi karena detrusor tidak dapat mengatasi resistensi uretra sampai akhir miksi Waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensio urin dan inkontinen karena overflow. .

Patofisiologi  Hiperplasia prostat terdapat pada zona transisional. sedangkan pertumbuhan karsinoma prostat berasal dari zona perifer  Pertumbuhan  hormon testosteron  metabolit aktif dihidrotestosteron (DHT) dg bantuan enzim 5α reduktase  memacu m-RNA di dalam selsel kelenjar prostat  sintesis protein growth factor  pertumbuhan kelenjar prostat  pembesaran  penyempitan lumen uretra prostatika & hambat aliran urine  peningkatan tekanan intravesikal .

sakula.  Tekanan intravesika tinggi  aliran balik urine dari buli. trabekulasi.buli ke ureter  refluks vesiko-ureter  terus-menerus  hidroureter. dan divertikel bulibuli)  keluhan saluran kemih bag bawah/lower urinary tract symptom (LUTS)/gejala prostatimus. terbentuknya selula. hidronefrosis. Untuk dapat mengeluarkan urine  buli.buli berkontraksi lebih kuat  perubahan anatomik buli-buli (hipertrofi otot detrusor.gagal ginjal .

Derajat berat hipertrofi prostat berdasarkan gambaran klinis . adakah nodul pada prostat. adakah asimetri.Penegakan Diagnosis  Anamnesis sesuai gejala LUTS  Pemeriksaan fisik : RT harus diperhatikan konsistensi pada pembesaran prostat kenyal. apakah batas atas dapat diraba dan apabila batas atas masih dapat diraba biasanya besar prostat diperkirakan <60 gr.

kultur urin. Penanda tumor PSA) Patologi Anatomi Foto polos Pemeriksaan ultrasonografi transrektal (TRUS) Sistoskopi USG transabdominal Pancaran urin/flow rate .Pemeriksaan penunjang :        Laboratorium (sedimen urin. gula darah. faal ginjal.

Diagnosis Banding .

pancaran lemah. nyeri suprapubik Retensi urine kronik –residu urin > 500ml. distensikandung kemih. buli teraba.Komplikasi • Retensi urine akut – ketidak mampuan untuk • • • • • • • mengeluarkan urin. tidak nyeri Infeksi traktus urinaria Batu buli Hematuri Inkontinensia-urgensi Hidroureter Hidronefrosis .gangguan pada fungsi ginjal .

Terapi  Watchful waiting artinya pasien tidak mendapatkan terapi apapun tetapi perkembangan penyakitnya keadaannya tetap diawasi oleh dokter. dan analgetik  Surgery artinya dilakukan pembedahan .  Conservative artinya diberikan obat hormone. IPSS sedang (8-19). antibiotik.

.wb.Terima kasih Wassalamualaikum wr.

Related Interests