Model Pembelajaran IPA

model pembelajaran inkuiri
23.04 Edit This 0 Comments »
Model Pembelajaran Inkuiri
Inkuiri dalam bahasa inggris “Inquiry” berarti pertanyaan atau pemeriksaan atau
penyelidikan. Suchman (Hilda Kanli dan Margaretha , 2002:111) mengembangkan
model pembelajaran dengan pendekatan Inkuiri. Model pembelajaran ini melatih
siswa dalam proses untuk menginvestigasi dan menjelaskan suatu fenomena yang
tidak biasa. Model pembelajaran ini mengajak siswa untuk melakukan hal yang
serupa seperti para ilmuwan dalam usaha mereka untuk mengorganisir
pengetahuan dan membuat prinsip-prinsip.
Inkuiri yang dikemukakan oleh Moh Oemar dalam bukunya Inquiry-DiscoveryProblem Solving dalam pengajaran IPS menyatakan bahwa suatu kegiatan atau cara
belajar yang bersifat mencari secara logis-kritis-analisis menuju suatu kesimpulan
yang menyakinan.
a. Menggunakan ketrampilan proses
b. Jawaban yang dicari siswa tidak diketahui terlebih dahulu
c. Siswa berhasrat untuk menemukan pemecahan masalah
d. Suatu masalah ditemukan dengan pemecahan siswa sendiri
e. Hipotesis dirumuskan oleh siswa untuk membimbing percobaan atau
eksperimen,
f.

Para

siswa

mengusulkan

cara-cara

pengumpulan

data

dengan

mengumpulkan data mengadakan pengamatan, membaca/ menggunakan
sumber lain.

h. memanipulasi objek dan system. Guru-guru ini juga harus . NSTA dalam Science teacher Preparation ini membedakan kompetensi yang harus dimiliki oleh guru IPA sekolah dasar yang memliki latar belakang IPA dan guru-guru yang memiliki latar belakang keilmuan IPA SD dan SMP. Siswa melakukan penelitian secara indivdu/kelompok untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk menguji hipotesis tersebut. Siswa mengolah data sehingga mereka sampai pada kesimpulan.g. konten sains bagi kebanyakan guru diberikan melalui metode ceramah dan kegiatan pembuktian di laboratorium. Pelatihan dan pembiasaan siswa untuk terampil berfikir dan terampil secara fisik tersebut merupakan syarat mutlak untuk mencapai tujuan pembelajaran yang lebih besar yaitu tercapainya ketrampilan proses ilmiah sekaligus terbentuknya sikap ilmiah disamping penguasaan konsep. Berdasarkan pada ciri-ciri model pembelajaran inkuiri diatas maka guru berusaha membimbing melatih dan membiasakan siswa terampil berfikir karena mereka mengalami keterlibatan secara mental maupun secara fisik seperti terampil menggunakan Alat. prinsip. terampil untuk merangkai peralatan percobaan dan sebagainya.48 Edit This 0 Comments » Sampai saat ini. belajar IPA 22. hukum dan teori. dengan sedikit fokus terhadap pemberian pengalaman dalam melakukan penelitian atau aplikasi IPA dalam konteks teknologi. NSTA merekomendasikan guru SD yang tidak memiliki latar belakang IPA untuk memiliki kompetensi dalam melangsungkan pembelajaran yang menitikberatkan pada kegiatan observasi dan mendeskripsikan kejadian. serta melakukan identifikasi terhadap pola yang ada di alam yang berhubungan dengan cakupan bidang studi IPA.

kekuatan. keterbatasan dari saintifk inkuiri. Dengan suasana kelas yang demokratis. secara berkesinambungan melakukan asesmen terhadap pemahaman siswa. yang saling membelajarkan memberi kesempatan peluang lebih besar dalam memberdayakan potensi siswa secara maksimal. mensuport pembelajaran kooperatif (cooperative learning). 3. Dampak tersebut . mendorong siswa untuk bekerjasama dengan guru sains lain dalam mengembangkan proses inkuiri model Pembelajaran Cooperative Learning Model pembelajaran cooperative learning adalah salah satu model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran (student oriented). 5.melibatkan siswa dalam memanipulasi kegiatan yang mengarahkan pada pengembangan konsep melalui kegiatan investigasi dan analisis terhadap pengalaman. (2) mengenal dan memahami hakikat IPA. (3) memahami bagaimana cara untuk menganalisis dan memproses data. data dari hal-hal yang bersifat mistis. bukti dari propaganda dan pengetahuan dari pendapat. 7. ide serta proses inkuiri. membimbing siswa dalam mengembangan saintifik inkuiri. Untuk menjadi orang yang melek sains ini diperlukan cara pengajaran yang berisfat konstruktif. lebih memahami dan merespon minat. Sedangkan untuk guru yang memiliki latar belakang IPA untuk tingkat SD dan SMP kriteria yang harus dimiliki adalah melangsungkan pembelajaran yang menekankan pada kegiatan kolaboratif melalui inkuiri yang dilangsungkan di laboratorium atau lapangan. Ciri pembelajaran yang bersifat kosntruktif ini dapat dibedakan dengan pembelajaran yang bersifat tradisional dengan ciri-ciri sebagai berikut: 1. senantiasa menyeleksi dan mengadaptasi kurikulum. memberikan bimbingan pada siswa untuk berbagai tanggung jawab dengan siswa lain. 6. namun mereka harus memiliki tamatema dan perspektif yang sama terhadap IPA. 2. berfokus pada pemahaman siswa dan menggunakan pengetahuan sains. Guru-guru yang memiliki latar belakang pendidikan dalam IPA harus memiliki pemahaman yang lebih dalam dibandingkan guru yang tidak memiliki latar belakang pendidikan IPA. Hurd (1998) yang menyatakan bahwa orang yang dinyatakan melek sains memiliki 3 ciri sebagai berikut: (1) dapat membedakan teori dari dogma. sains dari pseudo sains. kebutuhan untuk pengumpulan bukti. 4. Karena pembelajaran cooperative learning dan beberapa hasil penelitian baik pakar pendidikan dalam maupun luar negeri telah memberikan dampak luas terhadap keberhasilan dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran cooperative learning akan dapat memberikan nunasa baru di dalam pelaksanaan pembelajaran oleh semua bidang studi atau mata pelajaran yang diampu guru. pengalaman dan keperluan siswa secara individual. menyediakan kesempatan bagi siswa untuk berdiskusi dan berdebat dengan siswa lain. 8.

dan reflektif. Dari hasil penelitian tindakan pelaksanaan cooperative learning dengan diskusi kelompok ternyata mampu membuat siswa terlibat aktif dalam kegiatan belajar. Keempat. Dengan cooperative learning siswa tidak hanya dapat mengembangkan kemampuan aspek kognitif saja melainkan mampu mengembangkan aspek afektif dan psikomotor. Hal ini dikarenakan kegiatan pembelajaran ini lebih banyak berpusat pada siswa. Keenam. Disamping itu pula dapat me-latih siswa dalam me-ngembangkan perasaan empati maupun simpati pada diri siswa. dan interaksi edukatif muncul dan terlihat peran dan fungsi dari guru maupun siswa. dengan cooperative learning mampu melatih siswa dalam berkomunikasi . kreatif. Metode tersebut ternyata kurang memberi motivasi dan semangat kepada siswa untuk belajar. Terlebih lagi bila pembahasan materi yang sifatnya problematik atau yang bersifat kontroversial. organisator dan mediator terlihat jelas. Ketiga. Pertama. penggunaanya cooperative learning merupakan suatu model yang efektif untuk menge-mbangkan program pembelajaran terpadu. Berikut ini akan dikemukakan beberapa keuntungan yang diperoleh baik oleh guru maupun siswa di dalam pelaksanaan pembelajaran menggunakan model cooperative learning. Kondisi ini peran dan fungsi siswa terlihat. Dengan bekerja kelompok maka timbul adanya perasaan ingin membantu siswa lain yang mengalami kesulitan sehingga mampu me-ngembangkan sosial skill siswa. keterlibatan semua siswa akan dapat memberikan suasana aktif dan pembelajaran terkesan de-mokratis. dapat me-ngembangkan kemampuan berpikir kritis. moderator. Pemberian motivasi dari teman sebaya ternyata mampu mendorong semangat siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya. melalui cooperative learning menimbulkan suasana yang baru dalam pembelajaran. membantu guna da-lam mengidentifikasikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dan mencarikan alternatif pemecahannya. Hal ini dikarenakan sebelumnya hanya dilaksanakan model pembelajaran secara konvensional yaitu camah dan tanya jawab. Peran guru dalam pembelajaran cooperative learning sebagai fasilitator. dengan cooperative learning mampu mengembangkan kesadaran pada diri siswa terhadap permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di lingkungan sekitarya. mampu merangsang siswa mengembangkan kemampuan berpikirnya Kelima. dengan melalui cooperative learning. Dengan digunakannva model cooperative learning. dan masing-masing siswa punya peran dan akan memberikan pengalaman belajarnya kepada siswa lain. sehingga siswa diberi kesempatan untuk turut serta dalam diskusi kelompok. maka tampak suasana kelas menjadi lebih hidup dan lebih bermakna Kedua.tidak saja kepada guru akan tetapi juga pada siswa.

maupun menghargai pendapat orang lain. Semoga. Dari beberapa keuntungan dari model pembelajaran cooperative learning di atas. maka jelaslah bagi kita bahwa keberhasilan suatu proses pendidikan dan pengajaran salah satunya ditentukan oleh kemampuan dan ketera-mpilan guru dalam menggunakan strategi dan model pembelajaran yang digunakannya.*** . berani dikriik.seperti berani mengemukakan pendapat. Komunikasi interaksi yang terjadi antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa menimbulkan dialog yang akrab dan kreatif. Salah satu model yang dapat memberikan dampak terhadap keberhasilan siswa adalah melalui model pembelajaran koperatif atau cooperative learning.