01.

Anatomi Bahasa

ANATOMI BAHASA
Bahasa adalah sistim penyampaian pesan yang digunakan oleh manusia, baik lewat simbol
suara yang bisa didengar (bahasa lisan) maupun menggunakan simbol bentuk atau lambang
yang bisa dilihat atau dibaca (bahasa tulisan).
Semua bahasa manusia tersusun dari tiga komponen dasar yaitu:
1. Satuan bunyi yang disebut "huruf" atau "abjad".

‫م‬- ‫س‬- ‫ج‬- ‫د‬

Contoh:
2. Susunan huruf yang memiliki arti tertentu yang disebut "kata".
Contoh:
(= masjid)
3. Rangkaian kata yang mengandung maksud atau pikiran yang utuh yang disebut "kalimat".
Contoh:

(= saya shalat di masjid)

Dalam tata bahasa Arab, "kata" dibagi ke dalam tiga golongan besar:
1. ISIM (

) atau "kata benda". Contoh:

2. FI'IL (

) atau "kata kerja". Contoh:

3. HARF (

) atau "kata tugas". Contoh:

(= masjid)
(= saya shalat)
(= di, dalam)

Perlu diingat bahwa istilah Kata Benda, Kata Kerja dan Kata Tugas seperti yang kita kenal
dalam tata bahasa Indonesia, tidak sama persis dengan pengertian Isim, Fi'il dan Harf dalam
tata bahasa Arab.

02. Isim 'Alam

ISIM 'ALAM (Kata Benda Nama)
Dalam golongan Isim, ada yang disebut dengan Isim 'Alam yaitu Isim yang merupakan nama
diri (proper name) dari seseorang atau sesuatu.
Perhatikan perbedaan Isim 'Alam dengan Isim yang biasa di bawah ini:
Isim Biasa

(=laki-laki)

(=perempuan)

(=negeri)

(=bulan)

Isim 'Alam

(=Muhammad),

(=Umar),

(=Khadijah),

(=Maryam),


(=Makkah),
(=Ramadhan),

(=Madinah),
(=Rajab),

‫د‬

(=Sudirman)
(=Kartini)
(=Jakarta)
(=Januari)

03. Mudzakkar - Muannats

MUDZAKKAR (Laki-laki) - MUANNATS (Perempuan)
Dalam tata bahasa Arab, dikenal adanya penggolongan Isim ke dalam Mudzakkar (laki-laki)
atau Muannats (perempuan). Penggolongan ini ada yang memang sesuai dengan jenis
kelaminnya (untuk manusia dan hewan) dan adapula yang merupakan penggolongan secara
bahasa saja (untuk benda dan lain-lain).
Contoh Isim Mudzakkar

(= 'Isa)

(= putera)

(= sapi jantan)

(= laut)

Contoh Isim Muannats

(= Maryam)
(= puteri)

(= sapi betina)

(= angin)

Dari segi bentuknya, Isim Muannats biasanya ditandai dengan adanya tiga jenis huruf di
belakangnya yaitu:
a) Ta Marbuthah (
b) Alif Maqshurah (
c) Alif Mamdudah (

). Misalnya:

(=Fathimah),

‫)ى‬. Misalnya:
‫) ء‬. Misalnya: ‫ء‬

(=sekolah)

‫ى‬
(=Asma'), ‫ء‬

(=Salma),

(=manisan)
(=pirang)

Namun adapula Isim Muannats yang tidak menggunakan tanda-tanda di atas.
Misalnya:

(= angin),

(= jiwa, diri),

(= matahari)

Bahkan ada pula beberapa Isim Mudzakkar yang menggunakan Ta Marbuthah.
Contoh:

(= Hamzah),

(= Thalhah),

(= Muawiyah)

Ingat, jangan melangkah ke halaman selanjutnya sebelum mengerti pelajaran di atas dan
menghafal kosakata yang baru anda temukan!

04. Mufrad - Mutsanna - Jamak

‫د‬

-

-

MUFRAD (Tunggal) - MUTSANNA (Dual) - JAMAK
Dari segi bilangannya, bentuk-bentuk Isim dibagi tiga:
1) ISIM MUFRAD (tunggal) kata benda yang hanya satu atau sendiri.
2) ISIM MUTSANNA (dual) kata benda yang jumlahnya dua.
3) ISIM JAMAK (plural) atau kata benda yang jumlahnya lebih dari dua.
Isim Mutsanna (Dual) bentuknya selalu beraturan yakni diakhiri dengan huruf Nun Kasrah
( ), baik untuk Isim Mudzakkar maupun Isim Muannats. Contoh:

Adapun Isim Jamak, dari segi bentuknya terbagi dua macam:
1. JAMAK SALIM (

) yang bentuknya beraturan:

2. JAMAK TAKSIR (

) yang bentuknya tidak beraturan:

Isim Mufrad, Isim Mutsanna dan Isim Jamak Salim ada yang tergolong Isim Mudzakkar dan
adapula Isim Muannats. Misalnya:

(=seorang muslim) --> Mufrad Mudzakkar

(=seorang muslimah) --> Mufrad Muannats

(=dua muslim) --> Mutsanna Mudzakkar

(=dua muslimah) --> Mutsanna Muannats

(=muslimin) --> Jamak Salim Mudzakkar

(=muslimat) --> Jamak Salim Muannats

Sedangkan Isim Jamak Taksir semuanya digolongkan Isim Muannats.

05. Isim Isyarah

ISIM ISYARAH (Kata Tunjuk)
Kita telah mempelajari penggolongan Isim menurut jenisnya yaitu Mudzakkar dan Muannats
serta menurut jumlahnya yaitu Mufrad, Mutsanna dan Jamak. Penggolongan Isim ini sangat
penting dalam mempelajari kaidah-kaidah Bahasa Arab selanjutnya. Diantaranya bisa kita
lihat dalam pembahasan tentang Isim Isyarah atau Kata Tunjuk.

Pada dasarnya, ada dua macam Isim Isyarah atau Kata Tunjuk yaitu:
1.

(=ini) untuk menunjuk yang dekat. Contoh:

(= ini sebuah buku)

2.
(=itu) untuk menunjuk yang jauh. Contoh:
Bila Isim Isyarah itu menunjuk kepada Isim Muannats maka:

(= itu sebuah buku)

1.

menjadi:

(=ini). Contoh:

(= ini sebuah majalah)

2.
menjadi:
(=itu). Contoh:
(= itu sebuah majalah)
Adapun bila Isim yang ditunjuk itu adalah Mutsanna (Dual), maka:
1.

menjadi

. Contoh:

(= ini dua buku)

2.

menjadi

. Contoh:

3.

menjadi

. Contoh:

(= itu dua buku)

4.

menjadi

. Contoh:

(= itu dua majalah)

(= ini dua majalah)

Sedangkan bila Isim yang ditunjuk itu adalah Jamak (lebih dari dua):
1. Bila Isim yang ditunjuk itu benda yang tidak berakal, maka biasanya digunakan:
(=ini) untuk menunjuk yang dekat dan

(= ini buku-buku)

(= itu buku-buku)

(=itu) untuk menunjuk yang jauh. Contoh:

2. Bila Isim yang ditunjuk itu makhluk yang berakal, maka biasanya digunakan:
(=ini) untuk menunjuk yang dekat dan


‫ء‬

‫ء‬

(=itu) untuk menunjuk yang jauh. Contoh:

(= ini siswa-siswa)
(= itu siswa-siswa)

06. Isim Maushul

ISIM MAUSHUL (Kata Sambung)

Isim Maushul (Kata Sambung) adalah Isim yang berfungsi untuk menghubungkan
atau menggabungkan beberapa kalimat atau pokok pikiran menjadi satu kalimat.
Dalam bahasa Indonesia, Kata Sambung ini biasanya diwakili dengan kata: "yang".
Bentuk asal/dasar dari Isim Maushul adalah:

(=yang).

Perhatikan contoh penggunaan Isim Maushul dalam menghubungkan atau
menggabungkan dua kalimat di bawah ini:
Kalimat I:

‫ء‬

‫س‬

(= datang guru itu)

Kalimat II:

‫س‬

‫س‬

(= guru itu mengajar Fiqh)

Kalimat III:

‫س‬

‫س‬

‫ء‬

(= datang guru yang mengajar Fiqh)

Dalam contoh di atas, Kalimat III adalah gabungan dari Kalimat I dan II yang
dihubungkan dengan Isim Maushul:
Untuk Isim Muannats, Isim Maushul

‫س‬

berubah menjadi:

‫ء‬

(= datang guru (pr) yang mengajar Fiqh itu)
Bila Isim Maushul itu digunakan untuk Mutsanna (Dual) maka:
1.

menjadi:

atau

; contoh:

‫ء‬
(= datang dua orang guru (lk) yang mengajar Fiqh itu)
2.

menjadi:

atau

; contoh:

‫ء‬
(= datang dua orang guru (pr) yang mengajar Fiqh)
Bila Isim Maushul itu dipakai untuk Jamak maka:
1.

menjadi:

; contoh:

‫ء‬
(= datang guru-guru (lk) yang mengajar Fiqh itu)
2.

menjadi:

/

; contoh:

‫ء‬
(= datang guru-guru (pr) yang mengajar Fiqh itu)
Disamping

, termasuk juga dalam Isim Maushul antara lain:

(=siapa yang),

(=apa yang),

(=mana yang). Contoh:

‫ء‬

(=datang siapa yang aku mengenalnya)
(=kita telah temukan apa yang kita cari)

07. Isim Nakirah - Isim Ma'rifah

-


NAKIRAH (Sebarang) - MA'RIFAH (Tertentu)

Menurut penunjukannya, Isim dapat dibagi dua:
1. ISIM NAKIRAH atau kata benda umum atau tak tentu.
2. ISIM MA'RIFAH atau kata benda dikenal atau tertentu.
Isim Nakirah merupakan bentuk asal dari setiap Isim, biasanya ditandai dengan
tanwin (

) pada huruf akhirnya. Sedangkan Isim Ma'rifah biasanya ditandai

dengan huruf Alif-Lam (

) di awalnya. Contoh:

Coba bandingkan dan perhatikan perbedaan makna dan fungsi antara Isim Nakirah
dan Isim Ma'rifah dalam dua buah kalimat di bawah ini:
(=Itu sebuah rumah. Rumah itu baru)
(=Aku melihat seorang anak. Anak itu pintar)
Termasuk dalam kelompok Isim Ma'rifah diantaranya adalah:
1. Isim 'Alam (Nama Diri) yang sudah kita pelajari sebelumnya. Semua Isim 'Alam
merupakan Isim Ma'rifah, meskipun ada diantaranya yang menggunakan huruf tanwin
di belakangnya. Misalnya:

(=Ahmad),

(=Ali),

(=Makkah)

2. Isim Dhamir (Kata Ganti). Isim ini akan kita pelajari lebih lanjut. Contoh:
(=saya),

(=kami, kita),

(=dia)

Marilah kita melanjutkan pembahasan tentang Isim Dhamir (Kata Ganti) yang sangat
penting untuk mempelajari Fi'il (Kata Kerja) kelak.

08. Dhamir (Kata Ganti)

DHAMIR (Kata Ganti)
Dhamir atau "kata ganti" ialah Isim yang berfungsi untuk menggantikan atau mewakili
penyebutan sesuatu/seseorang ataupun sekelompok benda/orang. Seperti yang sudah kita
jelaskan di atas, Dhamir termasuk dalam golongan Isim Ma'rifah. Perhatikan contoh
penggunaan Dhamir dalam kalimat di bawah ini:

‫د‬


(=Ahmad menyayangi anak-anak)

(=Dia menyayangi mereka)

Pada kedua kalimat di atas, kita lihat bahwa:

kata

kata

Kata

(=Ahmad) diganti dengan

‫د‬

(=dia)

(=anak-anak) diganti dengan

(=dia) dan

(=mereka).

(=mereka) merupakan Dhamir atau Kata Ganti.

Menurut fungsinya dalam kalimat, ada dua golongan Dhamir yaitu:
1. DHAMIR RAFA' (
2. DHAMIR NASHAB (

) yang berfungsi sebagai Subjek.
) yang berfungsi sebagai Objek.

Dhamir Rafa' dapat berdiri sendiri sebagai satu kata, sedangkan Dhamir Nashab tidak dapat
berdiri sendiri atau harus terikat dengan kata lain.
Dalam contoh kalimat yang tadi:
(= Dia menyayangi mereka)

Kata

(=dia) adalah Dhamir Rafa'

Kata

(=mereka) adalah Dhamir Nashab.

Selanjutnya kita akan mempelajari masing-masing Dhamir tersebut.

09. Dhamir Rafa'

DHAMIR RAFA' (Kata Ganti Subjek)
Dalam Bahasa Arab dikenal duabelas bentuk Dhamir (Kata Ganti):

10. Dhamir Nashab

DHAMIR NASHAB (Kata Ganti Objek)
Dhamir Nashab adalah turunan dari Dhamir Rafa'. Dengan kata lain, setiap Dhamir Rafa'
memiliki padanan dengan Dhamir Nashab; maknanya sama tetapi bentuk dan fungsinya
berbeda.
Perhatikan tabel Dhamir Rafa' dan Dhamir Nashab berikut ini:

Perbedaan yang paling mendasar antara kedua jenis Dhamir ini adalah:
" Dhamir Rafa' berfungsi sebagai Subjek serta dapat berdiri sendiri dan terpisah dari kata lain
atau MUNFASHIL (
); sedangkan
" Dhamir Nashab berfungsi sebagai Objek/Keterangan serta tidak dapat berdiri sendiri dan
selalu terikat dengan kata lain atau MUTTASHIL (
Fi'il ataupun Harf.

), baik itu terikat dengan Isim,

1) Contoh Dhamir Nashab yang terikat dengan Isim dalam kalimat:

‫د‬
‫د‬

‫م‬

=saya seorang muslim, agamaku Islam

‫م‬

=Kami/kita orang-orang muslim, agama kami

Islam

‫د‬
‫د‬

‫م‬

=engkau (lk) seorang muslim, agamamu Islam

‫م‬

= engkau (pr) seorang muslim, agamamu Islam

2) Contoh Dhamir Nashab yang terikat dengan Fi'il dalam kalimat:

=kamu berdua adalah muslim, Allah merahmati
kamu berdua

=kalian (lk) adalah muslimun, Allah merahmati
kalian

=kalian (pr) adalah muslimat, Allah merahmati
kalian

=dia (lk) adalah muslim, Allah merahmatinya

3) Contoh Dhamir Nashab yang terikat dengan Harf dalam kalimat:

‫م‬

=dia (pr) adalah seorang muslimah, atasnya salam

‫م‬

=mereka berdua adalah muslim, atas mereka

berdua salam

‫م‬

=mereka (lk) adalah muslimin, atas mereka

salam

‫م‬

=mereka (pr) adalah muslimat, atas mereka

salam

11. Fi'il (Kata Kerja)

FI'IL (Kata Kerja)
Fi'il dibagi atas dua golongan besar menurut waktu terjadinya:
1. FI'IL MADHY (
2. FI'IL MUDHARI' (

) atau Kata Kerja Lampau.
) atau Kata Kerja Kini/Nanti.

Baik Fi'il Madhy maupun Fi'il Mudhari', senantiasa mengalami perubahan bentuk sesuai
dengan jenis Dhamir yang bertindak sebagai FA'IL (

) atau Pelaku dari pekerjaan itu.

Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui Fa'il (Pelaku) dari suatu kejadian/pekerjaan
dan Dhamir (Kata Ganti) apa yang setara dengan Fa'il tersebut.

Untuk Fi'il Madhy, perubahan bentuk tersebut terjadi di akhir kata, sedangkan untuk Fi'il
Mudhari', perubahan bentuknya terjadi di awal kata dan di akhir kata.

1) Bila Fa'il (Pelaku) dari Fi'il (Kata Kerja) itu adalah Dhamir Ghaib atau "orang ketiga"
(
) terletak sesudah Fi'il, maka bentuk Fi'il selalu Mufrad
(meskipun Fa'il-nya Mutsanna atau Jamak).





‫ = د‬muslim itu memasuki masjid
‫ = د‬muslimah itu memasuki masjid
‫ = د‬dua muslim itu memasuki masjid
‫ = د‬dua muslimah itu memasuki masjid
‫ = د‬kaum muslimin memasuki masjid
‫ = د‬kaum muslimat memasuki masjid

Contoh Jumlah Fi'liyyah dengan Fi'il Mudhari' sebelum Fa'il:

= muslim itu memasuki masjid
= muslimah itu memasuki masjid

= dua muslim itu memasuki masjid

= dua muslimah itu memasuki masjid

= kaum muslimin memasuki masjid

= kaum muslimat memasuki masjid

Pada contoh di atas, Fa'il untuk Dhamir Muannats ditandai dengan adanya huruf TA
TA'NITS (
) atau "Ta Penanda Muannats" di belakang (Fi'il Madhy) atau di depan
(pada Fi'il Mudhari').

-

-

-

-

2) Untuk Fa'il lainnya (
mengikuti pola perubahan bentuk Fi'il sebagaimana mestinya.

-

-

) tetap

12. Fi'il Amar - Fi'il Nahy

FI'IL AMAR (Kata Kerja Perintah)
FI'IL NAHY (Kata Kerja Larangan)
1) Fi'il Amar (Kata Kerja Perintah)
Fi'il Amar atau Kata Kerja Perintah adalah fi'il yang memuat pekerjaan yang dikehendaki

oleh Mutakallim (pembicara) agar dilakukan oleh Mukhathab (lawan bicara). Maka yang
menjadi Fa'il (Pelaku) dari Fi'il Amar adalah Dhamir Mukhathab (lawan bicara) atau "orang
kedua" sebagai orang yang diperintah untuk melakukan pekerjaan tersebut. Menyuruh
mengerjakan sesuatu berarti pekerjaan tersebut diharapkan akan terlaksana di waktu yang
akan datang, maka pola dasar Fi'il Amar dibentuk dari Fi'il Mudhari' dengan perubahan
seperti berikut:

Contoh dalam kalimat: dari fi'il

(= beramal, bekerja) menjadi Fi'il Amar:

= bekerjalah untuk akhiratmu (lk)
= bekerjalah untuk akhiratmu (pr)

= bekerjalah untuk akhirat kamu berdua

= bekerjalah untuk akhirat kalian (lk)

= bekerjalah untuk akhirat kalian (pr)

Disamping pola umum di atas, terdapat pula beberapa pola Fi'il Amar yang agak berbeda dari
pola di atas, karena menyesuaikan dengan bentuk dasar dari Fi'il asalnya. Perhatikan contoh
berikut:
Fi'il

(=berkata) bila dijadikan Fi'il Amar menjadi:
= katakanlah kepada kaummu!
= katakanlah kepada kaummu (pr)!

= katakanlah kepada kaum kamu berdua!

= katakanlah kepada kaum kalian!

= katakanlah kepada kaum kalian (pr)!

2) Fi'il Nahy (Kata Kerja Larangan)
Untuk membentuk Fi'il Nahy, kita tinggal menambahkan HARF LAA NAHIYAH
(=jangan) dan memasukkan huruf

di awal Fi'il Amar.

Fi'il

(=mengerjakan) bila dijadikan Fi'il Amar menjadi:

Dari fi'il

(= takut) dan fi'il

(= sedih) menjadi Fi'il Nahy:

= jangan (engkau -lk) takut dan jangan sedih

= jangan (engkau -pr) takut dan jangan sedih

= jangan (kamu berdua) takut dan jangan sedih

= jangan (kalian -lk) takut dan jangan sedih

= jangan (kalian -pr) takut dan jangan sedih

Catatan: Bila huruf akhir sebuah Fi'il adalah sukun dan bertemu dengan awalan Alif-Lam dari
sebuah Isim Ma'rifah, maka untuk pelafalannya, baris sukun dari huruf akhir fi'il amar
tersebut dibaca dengan baris kasrah. Misalnya: (

) dibaca (

)

13. Fi'il Ma'lum - Fi'il Majhul

‫م‬

-

FI'IL MA'LUM (Kata Kerja Aktif) - FI'IL MAJHUL (Kata Kerja Pasif)

Dalam tata bahasa Indonesia, dikenal istilah Kata Kerja Aktif dan Kata Kerja Pasif.
Perhatikan contoh berikut ini:
Abubakar membuka pintu. --> kata "membuka" disebut Kata Kerja Aktif.
Pintu dibuka oleh Abubakar. --> kata "dibuka" disebut Kata Kerja Pasif.
Dalam tata bahasa Arab, dikenal pula istilah Fi'il Ma'lum dan Fi'il Majhul yang fungsinya
mirip dengan Kata Kerja Aktif dan Kata Kerja Pasif.
Perhatikan dan bandingksan kedua contoh kalimat di bawah ini:

Fi'il
(=memukul) adalah Fi'il Ma'lum (Kata Kerja Aktif). Dinamakan Fi'il
Ma'lum (ma'lum artinya yang diketahui) karena Fa'il atau Pelakunya diketahui. Dalam
contoh di atas Umar bertindak selaku Fa'il atau pelaku pekerjaan yakni memukul.

Fi'il
(=dipukul) adalah Fi'il Majhul (Kata Kerja Pasif). Dinamakan Fi'il
Majhul (majhul artinya yang tidak diketahui) karena Fa'il atau Pelakunya tidak
diketahui atau tidak disebutkan. Dalam contoh di atas, Umar bukan merupakan Fa'il
(Pelaku) melainkan disebut dengan istilah Naib al-Fa'il (
Pengganti Pelaku.

) atau

Fi'il Majhul dibentuk dari Fi'il Ma'lum dengan perubahan sebagai berikut:
a) Huruf pertamanya menjadi berbaris Dhammah
b) Huruf sebelum huruf terakhirnya menjadi berbaris Kasrah untuk Fi'il Madhy dan menjadi
berbaris Fathah untuk Fi'il Mudhari'.

Fi'il Madhy

(=memerintah) menjadi Fi'il Majhul

(=diperintah):

= aku diperintah agar menyembah Allah

= kami diperintah agar menyembah Allah

= engkau (lk) diperintah agar menyembah Allah

= engkau (pr) diperintah agar menyembah Allah

= kamu berdua diperintah agar menyembah Allah

= kalian (lk) diperintah agar menyembah Allah

= kalian (pr) diperintah agar menyembah Allah

= dia (lk) diperintah agar menyembah Allah

= dia (pr) diperintah agar menyembah Allah

= mereka (2 lk) diperintah agar menyembah Allah

= mereka (2 pr) diperintah agar menyembah Allah

= mereka (lk) diperintah agar menyembah Allah

= mereka (pr) diperintah agar menyembah Allah

Fi'il Mudhari'

(=mengenal) menjadi Fi'il Majhul
= aku dikenal dari bicaraku

= kami dikenal dari bicara kami

= engkau (lk) dikenal dari bicaramu

(=dikenal):

= engkau (pr) dikenal dari bicaramu

= kamu berdua dikenal dari bicara kamu berdua

= kalian (lk) dikenal dari bicara kalian



= kalian (pr) dikenal dari bicara kalian
= dia (lk) dikenal dari bicaranya
= dia (pr) dikenal dari bicaranya

= mereka (2 lk) dikenal dari bicara mereka

= mereka (lk) dikenal dari bicara mereka


= mereka (pr) dikenal dari bicara mereka

14. Harf (Kata Tugas)

HARF (Kata Tugas)

Harf adalah semua jenis kata selain Isim dan Fi'il, yang tidak bisa berdiri sendiri dan
tidak memiliki arti yang jelas tanpa kata-kata lain dalam hubungan kalimat.
Contoh Harf:
dalam),

(=dan),
(=hingga),

(=dari),

(=dari),

(=tidak, tidak ada),

(=ke, kepada),

(=di,

(=jika), dan lain-lain.

Sekilas catatan penting tentang penggunaan beberapa macam Harf:
1. Beberapa Harf, seperti
(=dengan) di dalam kalimat kadang mempunyai arti, dan
kadang hanya sebagai tambahan yang tidak mempunyai arti. Contoh:
= aku berlindung kepada Allah
= cukuplah Allah (sebagai) saksi
2. Harf

mempunyai dua fungsi:

a) ATHAF (

) atau Kata Sambung (=dan). Contoh:
= Ahmad dan Ali telah pergi

b) QASM (

) atau Kata Sumpah (=demi). Contoh:

= demi waktu (Ashar)
Perlu dicamkan, bahwa di dalam al-Quran, Allah subhanahu wata'ala sering
bersumpah dengan nama makhluq-Nya agar manusia mengambil pelajaran dari apa
yang dijadikan sumpah tersebut. Adapun manusia, hanya boleh bersumpah dengan
nama dan sifat Allah, tidak boleh bersumpah dengan nama makhluq.
3. Harf Lam

juga mempunyai beberapa fungsi:

a) MILIK (

) atau kepunyaan.Contoh:
= kepunyaan Allah (seluruh) kerajaan langit dan

bumi
b) TA'LIL (

) atau peruntukan (=untuk). Contoh:
= saya pergi ke sekolah untuk belajar

c) AMAR (

) atau perintah (=agar, supaya, hendaklah). Contoh:
= hendaklah berinfak orang yang punya kelapangan (rezki)

d) TAUKID (

) atau penegasan (=sungguh, pasti). Contoh:
= sungguh aku akan berkata perkataan yang benar

4. NUN TAUKID (
) atau "Nun Penegasan" adalah huruf Nun Tasydid
yang melekat di belakang Fi'il Mudhari' dan berfungsi untuk menegaskan atau
memperkuat maknanya. Perhatikan contoh di bawah ini:
= sungguh aku pasti akan mengatakan perkataan yang benar
= sungguh kalian pasti akan diuji dalam (urusan) harta
kalian
5. Harf
mempunyai dua macam arti:
a) Berarti "jika". Contoh:
= jika kalian menolong (agama) Allah, Dia akan
menolong kalian.
b) Berarti "tidak", bila sesudahnya terdapat kata

(=kecuali). Contoh:

= tidak lain kalian hanyalah berdusta
6. Harf

juga ada dua macam:

a. NAFY (

) atau penidakan (=tidak, bukan, tidak ada). Contoh:
= tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah

b. NAHY (

) atau pelarangan (=jangan). Contoh:
= jangan kalian menyembah kecuali (kepada) Allah

Demikianlah sekelumit contoh penggunaan Harf dan macam-macam artinya. Carilah
contoh-contoh penggunaan Harf dalam ayat-ayat al-Quran dan al-Hadits, pelajarilah
aneka ragam fungsi dan artinya masing-masing!

15. Adawat Istifham (Kata Tanya)

‫م‬

‫د‬

ADAWAT AL-ISTIFHAM (Kata Tanya)

Di bawah ini dicantum beberapa Kata Tanya yang biasa dijumpai dalam Bahasa Arab
beserta contohnya masing-masing dalam kalimat:

Cobalah membuat sendiri kalimat-kalimat tanya dari setiap kata-kata tanya di atas!

16. Jumlah Ghairu Mufidah

JUMLAH GHAIRU MUFIDAH (KALIMAT TIDAK SEMPURNA)
Dalam Tata Bahasa Arab, rangkaian kata-kata yang membentuk kalimat terbagi dalam dua
golongan besar:
1) JUMLAH MUFIDAH (
) atau Kalimat Sempurna yaitu sebuah kalimat
yang mengandung pikiran yang jelas dan utuh.
2) JUMLAH GHAIRU MUFIDAH (
yaitu kalimat yang maksudnya belum jelas dan utuh.

) atau Kalimat Tidak Sempurna

Marilah kita pelajari Jumlah Ghairu Mufidah terlebih dahulu. Ada beberapa macam susunan
kata atau kalimat yang merupakan Jumlah Ghairu Mufidah, yaitu:
1) SHIFAT-MAUSHUF (
dinamakan NA'AT-MAN'UT (

) atau Sifat dan Yang Disifati, biasa pula
) yang artinya sama.

Kata yang pertama dinamakan MAUSHUF atau MAN'UT (Yang Disifati) sedangkan kata

selanjutnya adalah sifatnya (SHIFAT atau NA'AT).
Maushuf dan Shifatnya harus sama dalam hal Mudzakkar/ Muannats, Mufrad/ Mutsanna/
Jamak, atau Nakirah/ Ma'rifah. Jadi bila Maushuf dalam bentuk Mudzakkar, Mutsanna dan
Ma'rifah misalnya, maka Shifatnya pun harus dalam bentuk Mudzakkar, Mutsanna, Ma'rifah.
Perhatikan contoh-contoh berikut ini:
(=rumah baru)
(=dua kitab baru)
(=dua kitab baru)
(=majalah baru)
(=dua majalah baru)
(=majalah baru)

‫م‬

(=Masjidilharam)
(=Al-Quranul Karim)

2) MUDHAF-MUDHAF ILAIH (

).

Kata yang pertama dinamakan Mudhaf (umumnya Nakirah), sedang kata selanjutnya
dinamakan Mudhaf Ilaih (umumnya Ma'rifah). Rangkaian Mudhaf-Mudhaf Ilaih itu sendiri
sebagai satu kesatuan, merupakan Isim Ma'rifah. Antara Mudhaf dan Mudhaf Ilaih tidak
mesti sama dalam hal Mudzakkar/Muannats atau Mufrad/Mutsanna/Jamak.
Perhatikan contoh-contoh di bawah ini:

‫س‬
‫س‬
‫س‬

(=buku guru itu)
(=dua buku guru itu)
(=buku-buku guru itu)
(=buku) adalah Mudhaf,

‫س‬

(=guru) adalah Mudhaf Ilaih

(=puterinya Ali)
(=dua puteri Ali),
(=puteri-puteri Ali)
(=puteri) adalah Mudhaf,

(=Ali) adalah Mudhaf Ilaih

Dari kedua contoh-contoh di atas terlihat bahwa Mudhaf dalam keadaan Nakirah sedangkan

Mudhaf Ilaih adalah Isim Ma'rifah. Dan Mudhaf Ilaih tidak mesti mengikuti bentuk Mudhaf
dalam hal Mufrad, Mutsanna, Jamak ataupun Mudzakkar dan Muannats.
Pada contoh di atas terlihat pula bahwa bila Mudhaf merupakan Isim Mutsanna (Dual) maka
huruf Nun Kasrah ( ) di akhir katanya dihilangkan. Perhatikan lagi dua kalimat di atas:

‫س‬

(=dua buku guru itu) --->
(=dua puteri Ali) --->

dari kata

dari kata

Meskipun panjang dan terdiri dari banyak kata, baik kalimat Shifat-Maushuf maupun
Mudhaf-Mudhaf Ilaih, tetaplah dianggap sebagai Jumlah Ghairu Mufidah (Kalimat Tidak
Sempurna).
Perhatikan contoh kalimat-kalimat di bawah ini:
(=kunci rumah)

‫س‬

(=rumah guru/pengajar)

‫س‬

(=dosen universitas)

‫س‬

(=kunci rumah dosen)

‫س‬
‫س‬

(=rumah dosen universitas)
(=kunci rumah dosen universitas)

Semua kalimat di atas merupakan Mudhaf-Mudhaf Ilaih jadi termasuk Jumlah Ghairu
Mufidah (Kalimat Tidak Sempurna). Kata pertama dari setiap kalimat tersebut bertindak
sebagai Mudhaf sedangkan semua kata-kata di belakangnya adalah Mudhaf Ilaih (ditandai
dengan baris huruf akhirnya yang semuanya Kasrah).

17. Jumlah Mufidah

JUMLAH MUFIDAH (KALIMAT SEMPURNA)
Jumlah Mufidah atau Kalimat Sempurna, bisa dikelompokkan dalam dua golongan besar
yaitu:
1) JUMLAH ISMIYYAH (
2) JUMLAH FI'LIYYAH (
1) JUMLAH ISMIYYAH (
dimulai dengan Isim atau Kata Benda.

) atau Kalimat Nominal
) atau Kalimat Verbal
) atau Kalimat Nominal yakni kalimat yang

Sebuah Jumlah Ismiyyah harus terdiri dari dua bagian yaitu:
1. MUBTADA' (
) atau Permulaan Kalimat atau Pokok Kalimat; biasanya
merupakan Isim Ma'rifah.
2. KHABAR (
) atau Keterangan yakni penjelasan tentang keadaan Mubtada';
biasanya merupakan Isim Nakirah.

Ditinjau dari segi Khabar, ada tiga macam Jumlah Ismiyyah. Contoh:

‫س‬
2. ‫س‬
1.

(=Umar seorang pengajar)
(=Umar sedang mengajar)

3.

(=Umar di sekolah)

Ketiga kalimat di atas merupakan Jumlah Ismiyyah dengan Isim
Mubtada'. Sedangkan sebagai Khabar adalah:
1.
2.
3.

‫س‬
‫س‬

(=Umar) sebagai

(=guru) yang merupakan Isim (Nakirah).
(=mengajar) yang merupakan Fi'il (Kata Kerja).
(=di sekolah) yang merupakan SYIBHUL JUMLAH (

) atau serupa kalimat yakni kalimat yang diawali dengan Harf (Kata Tugas)
atau Zharf (Kata Keterangan).

Meskipun Mubtada' pada umumnya terletak sebelum Khabar, namun terkadang bisa saja
sebaliknya, Khabar mendahului Mubtada'. Contoh:

(=Segala pujian untuk Allah) adalah Jumlah Ismiyyah dimana
(=segala pujian) adalah Mubtada' dan

(=untuk Allah) adalah Khabar.

Kalimat tersebut bisa juga ditulis sebagai berikut:

(=Untuk Allah segala pujian) dimana
KHABAR MUQADDAM (

‫م‬

(=untuk Allah) dinamakan

) atau Khabar yang dimajukan sedangkan

(= segala pujian) dinamakan MUBTADA' MUAKHKHAR (
atau Mubtada' yang diakhirkan.

)

Demikian Jumlah Ismiyyah. Sekarang kita melangkah ke Jumlah Mufidah jenis kedua.
2) JUMLAH FI'LIYYAH (
dengan Fi'il atau Kata Kerja.

) atau Kalimat Verbal yakni kalimat yang diawali

Pada umumnya, Jumlah Fi'liyyah tersusun dari dua bagian:
1. Fi'il (Kata Kerja)
2. Fa'il (Pelaku) atau Naib Fa'il (Pengganti Pelaku)
Perhatikan dua contoh di bawah ini:

‫ء‬

‫ء‬

(=Muhammad telah datang)

(=datang) adalah Fi'il Ma'lum Madhy,

(=Muhammad) adalah Fa'il

(=Telah diutus Muhammad)
(=diutus) adalah Fi'il Majhul Madhy,

(=Muhammad) adalah Naib Fa'il

18. Isim Jamid

ISIM JAMID
Menurut asal kata dan pembentukannya, Isim atau Kata Benda terbagi dua:
1. ISIM JAMID (
2. ISIM MUSYTAQ (

) yaitu Isim yang tidak terbentuk dari kata lain.
) yaitu Isim yang dibentuk dari kata lain.

Isim Jamid terbagi dua:
a) ISIM DZAT (
Contoh:

(=orang),

b) ISIM MA'NA (
Contoh:

(=ilmu),

) atau ISIM JINS (
(=singa),

)
(=sungai)

) atau MASHDAR (
(=keadilan),

)
(=keberanian)

Mashdar adalah Isim yang menunjukkan peristiwa atau kejadian yang tidak disertai dengan
penunjukan waktu. Berbeda dengan Fi'il yang terikat dengan waktu, apakah di waktu lampau,

sekarang atau akan datang. Contoh:
(= aku ingin shalat) -->
(= aku ingin shalat) -->

(= aku shalat) : Fi'il
(= shalat) : Mashdar (Isim)

Setiap Fi'il memiliki Mashdar. Dengan kata lain, Mashdar adalah bentuk Isim dari sebuah
Fi'il. WAZAN (
) atau Timbangan (pola pembentukan) Mashdar sangat beragam.
Perhatikan contoh pembentukan Mashdar di bawah ini:

Pahamilah baik-baik nama-nama dan bentuk-bentuk Isim yang terdapat dalam pelajaran ini
sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.

19. Isim Musytaq

ISIM MUSYTAQ
Isim Musytaq ialah Isim yang dibentuk dari kata lain dan memiliki makna yang berbeda dari
kata pembentuknya. Isim Musytaq itu ada tujuh macam:
1. ISIM FA'IL (
) atau Isim Pelaku (yang melakukan pekerjaan).
Isim Fa'il ada dua wazan (pola pembentukan) yaitu:
a)

bila berasal dari Fi'il Tsulatsi (Fi'il yang terdiri dari tiga huruf)

b)

bila berasal dari Fi'il yang lebih dari tiga huruf

Disamping itu dikenal pula istilah bentuk MUBALAGHAH (
berfungsi untuk menguatkan atau menyangatkan artinya. Contoh:

) dari Isim Fa'il yang

2. SIFAT MUSYABBAHAH (
) ialah Isim yang menyerupai Isim Fa'il
tetapi lebih condong pada arti sifatnya yang tetap. Misalnya:

3. ISIM MAF'UL (

) yaitu Isim yang dikenai pekerjaan.

4. ISIM TAFDHIL (

) ialah Isim yang menunjukkan arti "lebih" atau

"paling". Wazan (pola) umum Isim Tafdhil adalah:

. Contoh:

Disamping itu, terdapat pula bentuk yang sedikit agak berbeda, seperti:

5. ISIM ZAMAN (

) yaitu Isim yang menunjukkan waktu dan ISIM MAKAN (

) yaitu Isim yang menunjukkan tempat.

6. ISIM ALAT (
) yaitu Isim yang menunjukkan alat yang digunakan untuk
melakukan suatu Fi'il atau pekerjaan.

Pahamilah baik-baik semua jenis-jenis Isim yang terdapat dalam pelajaran ini serta contohcontohnya sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.

20. Fi'il Mujarrad

‫د‬
FI'IL MUJARRAD
Menurut asal kata dan pembentukannya, Fi'il terbagi dua:
1. FI'IL MUJARRAD (

‫د‬

2. FI'IL MAZID (

) yaitu fi'il yang semua hurufnya asli.
) yaitu fi'il yang mendapat huruf tambahan.

Fi'il Mujarrad pada umumnya terdiri dari tiga huruf sehingga dinamakan pula FI'IL
MUJARRAD TSULATSI (
atau timbangan (pola huruf dan harakat) yakni:
1.

-

misalnya:

-

‫ ) د‬dan mempunyai enam wazan (
(=menolong)

)

2.
3.
4.
5.
6.

-

-

misalnya:
misalnya:
misalnya:
misalnya:

-

(=duduk)
(=membuka)
(=mengetahui)
(=menjadi banyak)

-

misalnya:

(=menghitung)

Disamping Fi'il Mujarrad Tsulatsi yang terdiri dari tiga huruf, terdapat pula Fi'il Mujarrad

‫د‬

Ruba'i (

) yang terdiri dari empat huruf. Fi'il Mujarrad Ruba'i ini

hanya mempunyai satu wazan yaitu:

-

Contoh:
waswas),

-

(=menerjemahkan),

.

‫س‬

-‫س‬

(=membisikkan

(=menggoncang-goncangkan).

Carilah sebanyak-banyaknya contoh-contoh Fi'il Mujarrad Tsulatsi dari al-Quran dan alHadits untuk setiap wazan di atas, beserta artinya masing-masing.

21. Fi'il Mazid

FI'IL MAZID
Fi'il Mazid berasal dari Fi'il Mujarrad yang mendapat tambahan huruf:
1) Fi'il Mazid dengan tambahan satu huruf. Terdiri dari beberapa wazan seperti:
a.

b.

-

-

(huruf tambahannya: Hamzah di awal kata)

(huruf tambahannya: huruf tengah yang digandakan/tasydid)

c.

-

(huruf tambahannya: Mad Alif setelah huruf pertama)

2. Fi'il Mazid dengan tambahan dua huruf. Terdiri dari beberapa wazan seperti:
a.

-

(huruf tambahannya: Alif dan Nun di awal kata).

b.

-

(huruf tambahannya: Alif di awal dan Ta di tengah)

c.

-

(huruf tambahannya: Alif di awal dan huruf ganda di akhir)

-

d.

e.

-

(huruf tambahan: Ta di awal dan Mad Alif di tengah)

(huruf tambahannya: Ta di awal dan huruf ganda di tengah)

3. Fi'il Mazid dengan tambahan tiga huruf. Wazan yang biasa ditemukan adalah:

-

(huruf tambahannya: Alif, Sin dan Ta di awal kata).

Carilah contoh-contoh Fi'il Mazid dari al-Quran dan al-Hadits dan masukkan ke dalam
wazan-wazan yang sesuai serta carilah artinya masing-masing.

22. I'rab Isim

I'RAB ISIM
I'rab ialah perubahan baris/bentuk yang terjadi di belakang sebuah kata sesuai dengan
kedudukan kata tersebut dalam susunan kalimat. Pada dasarnya, Isim bisa mengalami tiga
macam I'rab yaitu:
1. I'RAB RAFA' (

) atau Subjek; dengan tanda pokok: Dhammah (

2. I'RAB NASHAB (
3. I'RAB JARR (

)

) atau Objek; dengan tanda pokok: Fathah (
) atau Keterangan; dengan tanda pokok: Kasrah (

)
)

Perhatikan contoh dalam kalimat di bawah ini:

‫ء‬

= datang siswa-siswa
= aku melihat siswa-siswa
= aku memberi salam kepada siswa-siswa

Isim

(=siswa-siswa) pada contoh di atas mengalami tiga macam I'rab:

Alamat I'rab seperti ini dinamakan Alamat Ashliyyah (
tanda asli (pokok).

) atau tanda-

Perlu diketahui bahwa tidak semua Isim bisa mengalami I'rab atau perubahan baris/bentuk di
akhir kata. Dalam hal ini, Isim terbagi dua:
1) ISIM MU'RAB (
) yaitu Isim yang bisa mengalami I'rab. Kebanyakan Isim
adalah Isim Mu'rab artinya bisa berubah bentuk/baris akhirnya, tergantung kedudukannya
dalam kalimat.
2) ISIM MABNI (
) yaitu Isim yang tidak terkena kaidah-kaidah I'rab. Yang
termasuk Isim Mabni adalah: Isim Dhamir (Kata Ganti), Isim Isyarat (Kata Tunjuk), Isim
Maushul (Kata Sambung), Isim Istifham (Kata Tanya).

Perhatikan contoh Isim Mabni dalam kalimat-kalimat di bawah ini:

‫ء‬
‫ء‬
‫ء‬

‫ء‬

= datang (mereka) ini
= aku melihat (mereka) ini
= aku memberi salam kepada (mereka) ini

‫ء‬

Dalam contoh-contoh di atas terlihat bahwa Isim Isyarah
(=ini) tidak mengalami
I'rab atau perubahan baris/bentuk di akhir kata, meskipun kedudukannya dalam kalimat
berubah-ubah, baik sebagai Subjek, Objek maupun Keterangan. Isim Isyarah termasuk
diantara kelompok Isim Mabni.
Bila anda telah memahami baik-baik tentang pengertian I'rab dan tanda-tanda aslinya,
marilah kita melanjutkan pelajaran tentang Isim Mu'rab.

23. Isim Marfu'

ISIM MARFU'
Isim yang mengalami I'rab Rafa' dinamakan Isim Marfu' yang terdiri dari:
1) Mubtada' (Subjek) dan Khabar (Predikat) pada Jumlah Ismiyyah (Kalimat Nominal).
Perhatikan contoh-contoh Jumlah Ismiyyah di bawah ini:
= rumah itu besar
= rumah itu besar (lagi) indah
= rumah besar itu indah
= rumah besar itu indah (lagi) luas
Dalam contoh di atas terlihat bahwa semua Isim yang terdapat dalam Jumlah Ismiyyah adalah
Marfu' (mengalami I'rab Rafa'), tandanya adalah Dhammah.
2) Fa'il (Subjek Pelaku) atau Naib al-Fa'il (Pengganti Subjek Pelaku) pada Jumlah Fi'liyyah
(Kalimat Verbal). Contoh:

‫ء‬

= Muhammad datang
= Umar menang
= orang kafir itu dikalahkan

= syaitan itu dilaknat
(=Muhammad) --> Fa'il --> Marfu' dengan tanda Dhammah
(=Umar) --> Fa'il --> Marfu' dengan tanda Dhammah
(=orang kafir) --> Naib al-Fa'il --> Marfu' dengan tanda Dhammah.
(=syaitan) --> Naib al-Fa'il --> Marfu' dengan tanda Dhammah.
Pahamilah baik-baik semua kaidah-kaidah yang terdapat dalam pelajaran ini sebelum
melangkah ke pelajaran selanjutnya.

24. Isim Manshub

ISIM MANSHUB
Isim yang terkena I'rab Nashab disebut Isim Manshub. Yang menjadi Isim Manshub adalah
semua Isim selain Fa'il atau Naib al-Fa'il dalam Jumlah Fi'liyyah.
1) MAF'UL (

) yakni Isim yang dikenai pekerjaan (Objek Penderita).
= Muhammad membaca al-Quran

(= al-Quran) --> Maf'ul --> Manshub dengan tanda fathah.
2) MASHDAR (
) yakni Isim yang memiliki makna Fi'il dan berfungsi untuk
menjelaskan atau menegaskan (menguatkan) arti dari Fi'il.
= Muhammad membaca al-Quran dengan tartil (perlahanlahan)
(= perlahan-lahan) --> Mashdar --> Manshub dengan tanda fathah.
3) HAL (
) ialah Isim yang berfungsi untuk menjelaskan keadaan Fa'il atau Maf'ul
ketika berlangsungnya pekerjaan.
= Muhammad membaca al-Quran dengan khusyu'

(= orang yang khusyu') --> Hal --> Manshub dengan tanda fathah.
4) TAMYIZ (
) ialah Isim yang berfungsi menerangkan maksud dari Fi'il dalam
hubungannya dengan keadaan Fa'il atau Maf'ul.

‫د‬

= Muhammad membaca al-Quran sebagai suatu ibadah

‫د‬

(= ibadah) --> Tamyiz --> Manshub dengan tanda fathah.

5) ZHARAF ZAMAN (
(

) atau Keterangan Waktu dan ZHARAF MAKAN

) atau Keterangan Tempat.
= Muhammad membaca al-Quran pada suatu malam
(= malam) --> Zharaf Zaman --> Manshub dengan tanda fathah.

Diantara Zharaf Zaman:
hari),

‫م‬

(=pada hari),

(=pada siang hari),
(=besok),

(=pada hari ini),

(=pada pagi hari),

‫ء‬

(=pada malam
(=pada sore hari),

(=sekarang), dan sebagainya.

Diantara Zharaf Makan:
(=di atas),
antara),

‫م‬

‫م‬

(=di depan),

(=di bawah),

(=di belakang),
(=di sisi),

‫ء‬

(=di balik),

(=di sekitar),

(=di

(=di sebelah), dan sebagainya.

6) Mudhaf yang berfungsi sebagai MUNADA (

‫دى‬

) atau Seruan/Panggilan.

(=Rasul Allah) adalah Mudhaf-Mudhaf Ilaih, bila berfungsi sebagai Munada,
maka kata

(=Rasul) sebagai Mudhaf menjadi Manshub.
= Wahai Rasul Allah

Sedangkan bila Munada itu adalah Isim Mufrad yang bukan merupakan Mudhaf-Mudhaf
Ilaih, maka Isim tersebut tetap dalam bentuk Marfu'. Contoh:
= Wahai Muhammad

7) MUSTATSNA (

) atau Perkecualian ialah Isim yang terletak sesudah

ISTITSNA (

) atau Pengecuali. Contoh:
= para siswa telah hadir kecuali Zaid

(=kecuali) --> Istitsna (Pengecuali).
(=Zaid) --> Mustatsna (Perkecualian) --> Manshub dengan tanda Fathah
Kata-kata yang biasa menjadi Istitsna antara lain:

- ‫ى‬

-

-

-

-

Semuanya biasa diterjemahkan: kecuali, selain.
Isim yang berkedudukan sebagai Mustatsna tidak selalu harus Manshub. Mustatsna bisa
menjadi Marfu' dalam keadaan sebagai berikut:
a) Bila berada dalam Kalimat Negatif dan Subjek yang dikecualikan darinya disebutkan.
Maka Mustatsna boleh Manshub dan boleh Marfu'. Contoh:

‫م‬
‫م‬

= para siswa tidak berdiri kecuali Zaid
= para siswa tidak berdiri kecuali Zaid

Kalimat di atas adalah Kalimat Negatif (ada kata: tidak) dan disebutkan Subjek yang
dikecualikan darinya yaitu
boleh pula Marfu' (

atau

(=para siswa) maka Mustatsna boleh Manshub dan
).

b) Bila Mustatsna berada dalam kalimat Negatif dan Subjek yang dikecualikan darinya tidak
disebutkan sedangkan Mustatsna itu berkedudukan sebagai Fa'il maka ia harus mengikuti
kaidah I'rab yakni menjadi Marfu'. Contoh:

‫م‬

= tidak berdiri kecuali Zaid

Mustatsna menjadi Marfu' karena berkedudukan sebagai Fa'il (
) dan berada dalam
Kalimat Negatif yang tidak disebutkan Subjek yang dikecualikan darinya.

25. Isim Majrur

ISIM MAJRUR

Isim yang terkena I'rab Jarr disebut Isim Majrur yang terdiri dari:
1) Isim yang diawali dengan Harf Jarr. Yang termasuk Harf Jarr adalah:
(=untuk),
(=hingga),

(=di, dalam),
/

(=atas),

(=ke),

(=dari),

(=dengan),
(=bagai),

untuk sumpah (=demi ...).

Perhatikan contoh-contoh berikut:
= aku berlindung kepada Allah
= aku shalat di masjid
= demi masa!
pada kalimat-kalimat di atas adalah Isim Majrur karena
didahului/dimasuki oleh Harf Jarr. Tanda Majrurnya adalah Kasrah.
2) Termasuk dalam Mudhaf Ilaih adalah Isim yang mengikuti Zharaf.

‫م‬

= mereka duduk-duduk di depan rumah

‫م‬

= aku berdiri di bawah pohon

Dalam contoh di atas, Isim

(=rumah) dan Isim

(=pohon) adalah Isim

‫م‬

Majrur dengan tanda Kasrah karena terletak sesudah Zharaf
(=di depan) dan
(=di bawah). Dalam hal ini, kedua Zharaf tersebut merupakan Mudhaf sedang Isim yang
mengikutinya merupakan Mudhaf Ilaih.
3) Isim yang berkedudukan sebagai Mudhaf Ilaih. Contoh:
(=Rasul Allah) -->
(=ahlul kitab) -->

[Mudhaf],
[Mudhaf],

[Mudhaf Ilaih]
[Mudhaf Ilaih]

Mudhaf Ilaih selalu sebagai Isim Majrur, sedangkan Mudhaf (Isim di depannya) bisa dalam
bentuk Marfu', Manshub maupun Majrur, tergantung kedudukannya dalam kalimat.
Perhatikan contoh-contoh kalimat di bawah ini:
= berkata Rasul Allah
= saya mencintai Rasul Allah

= kami beriman kepada Rasul Allah
Dalam contoh-contoh di atas, Isim
merupakan Mudhaf dan bentuknya bisa Marfu'
(contoh pertama), Manshub (contoh kedua) maupun Majrur (contoh ketiga). Adapun kata
sebagai Mudhaf Ilaih selalu dalam bentuk Majrur.
Catatan Penting: Bila Mudhaf berupa Isim Mutsanna atau Jamak Mudzakkar Salim maka
huruf Nun di akhirnya dihilangkan.

26. Inna dan Kana

"INNA" DAN "KANA" SERTA "KAWAN-KAWANNYA"

Kata
(=sesungguhnya) dan
(=adalah) serta kawan-kawannya sedikit mengubah
kaidah I'rab yang telah kita pelajari sebelumnya sebagai berikut:
1) Bila Harf
(=sesungguhnya) atau kawan-kawannya memasuki sebuah Jumlah Ismiyyah
ataupun Jumlah Fi'liyyah maka Mubtada' atau Fa'il yang asalnya Isim Marfu' akan menjadi
Isim Manshub. Perhatikan contoh di bawah ini:

Yang termasuk kawan-kawan
(=bahwasanya),

antara lain:

(=seolah-olah),

(=akan tetapi),

(=agar supaya),

(=andaisaja),

(=tidak, tidak ada).

2) Bila Fi'il
(=adalah) atau kawan-kawannya memasuki sebuah Jumlah Ismiyyah maka
Khabar yang asalnya Isim Marfu' akan menjadi Isim Manshub.

Adapun yang termasuk kawan-kawan

(=adalah) antara lain:
(=menjadi),

(=senantiasa),

‫دم‬

(=selama),

(=tidak),

(=tidak).

Pahamilah baik-baik semua kaidah-kaidah yang terdapat dalam pelajaran ini sebelum
melangkah ke pelajaran selanjutnya.

27. Alamat Far'iyyah

ALAMAT FAR'IYYAH (TANDA-TANDA CABANG)
Dalam pelajaran-pelajaran yang lalu kita sudah melihat Alamat Ashliyyah atau tanda-tanda
asli (pokok) dari I'rab yaitu baris Dhammah untuk I'rab Rafa', baris Fathah untuk I'rab
Nashab, dan baris Kasrah untuk I'rab Jarr.
Diantara bentuk-bentuk Isim, ada yang menggunakan tanda-tanda yang berbeda dari Alamat
Ashliyyah untuk menunjukkan I'rab Rafa', Nashab atau Jarr tersebut, karena bentuknya yang
khas, mereka menggunakan Alamat Far'iyyah yaitu:
1) Isim Mutsanna (Kata Benda Dual).
a. I'rab Rafa' ditandai dengan huruf Alif-Nun :
b. I'rab Nashab dan I'rab Jarr ditandai dengan huruf Ya-Nun

‫ء‬

= datang dua orang lelaki

:

= aku melihat dua orang lelaki
= aku memberi salam kepada dua orang lelaki
2) Isim Jamak Mudzakkar Salim (Kata Benda Jamak Laki-laki Beraturan).
a. I'rab Rafa' ditandai dengan huruf Wau-Nun :
b. I'rab Nashab dan I'rab Jarr ditandai dengan huruf Ya-Nun

‫ء‬

:

= datang kaum muslimin
= aku melihat kaum muslimin
= aku memberi salam kepada kaum muslimin

‫ء‬

3) Al-Asma' al-Khamsah (

) atau "isim-isim yang lima" yakni:

(=ayah),
(=saudara),
(=ipar),
(=pemilik) dan
memiliki perubahan bentuk yang khas sebagai berikut:
a. I'rab Rafa' ditandai dengan huruf Wau (

) di akhirnya

b. I'rab Nashab ditandai dengan huruf Alif (
c. I'rab Jarr ditandai dengan huruf Ya (

‫ء‬

(=mulut). Isim-isim ini

) di akhirnya

) di akhirnya

= datang Abubakar
= aku melihat Abubakar
= aku memberi salam kepada Abubakar

Hafalkanlah kelompok-kelompok Isim yang mempunyai tanda-tanda I'rab yang khas ini,
sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.

28. Isim Ghairu Munawwan

ISIM GHAIRU MUNAWWAN (Isim yang Tidak Menerima Tanwin)
Dalam kaitannya tentang Alamat I'rab Far'iyyah (tanda-tanda I'rab cabang), kita harus
mempelajari golongan Isim yang huruf akhirnya tidak menerima baris tanwin maupun kasrah
(hanya menerima baris dhammah dan fathah).
Isim-isim ini dinamakan ISIM GHAIRU MUNAWWAN yang terdiri dari:

1) Semua Isim 'Alam (Nama) yang diakhiri dengan Ta Marbuthah (meskipun ia adalah
Mudzakkar). Misalnya:

(=Fatimah),

(=Muawiyah),

(=Aminah),

(=Makkah),

(=Hamzah), dan sebagainya.

2) Semua Isim 'Alam Muannats (meskipun tidak diakhiri dengan Ta Marbuthah). Misalnya:

‫د‬

(=Khadijah),
(=Saudah),
(=Damaskus), dan sebagainya.

(=Zainab),

‫د‬

‫د‬

(=Bagdad),

3) Isim 'Alam yang merupakan kata serapan atau berasal dari bahasa 'ajam (bukan Arab).
Misalnya:

(=Ibrahim),

(=Fir'aun),

‫=( د د‬Dawud),

(=Yusuf),

(=Qarun), dan sebagainya.

4) Isim 'Alam yang menggunakan wazan (pola/bentuk) Fi'il. Misalnya:
(=Ahmad),

(=Yazid),

(=Yatsrib), dan sebagainya.

5) Isim 'Alam yang menggunakan wazan

. Misalnya:

(=Zuhal),

(=Juha), dan sebagainya.
6) Semua Isim, baik Isim 'Alam maupun bukan, yang diakhiri dengan huruf Alif-Nun.
Misalnya:

(=Utsman),
(=lapar),

(=Sulaiman),

(=marah), dan sebagainya.

7) Semua Isim yang menggunakan wazan (pola/bentuk)
utama),

(=Ramadhan),

(=lebih besar),

‫د‬

. Misalnya:

(=lebih

(=hitam), dan sebagainya.

8) Isim Jamak yang mempunyai wazan yang di tengahnya terdapat Mad Alif. Misalnya:
(=surat-surat),
(=suku-suku), dan sebagainya.
9) Isim 'ADAD (

‫د‬

(=jalan-jalan),

) atau Bilangan dari satu sampai sepuluh yang menggunakan wazan

atau
. Misalnya:
(=kelompok), dan sebagainya.
10) Isim

(=nasyid-nasyid),

(=tiga),

(=empat),

(=yang lain) yang merupakan bentuk Jamak dari

‫س‬

‫ى‬

(=lima),

.

11) Isim yang huruf akhirnya berupa Alif Mamdudah (

‫ء‬

‫ء‬

). Misalnya:
(=yang berkilau),
(=teman-teman), dan sebagainya.

‫ء‬

‫د‬

) atau Alif Lurus (

(=orang-orang berilmu),

‫ء‬

Seperti dinyatakan di awal tadi, Isim-isim di atas huruf akhirnya tidak menerima baris tanwin
dan kasrah. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan I'rab, Isim Ghairu Munawwan
mempunyai alamat atau tanda-tanda I'rab sebagai berikut:
a. I'rab Rafa' dan I'rab Nashab tetap menggunakan Alamat Ashliyyah yakni baris Dhammah
untuk I'rab Rafa' dan baris Fathah untuk I'rab Nashab.
b. I'rab Jarr tidak menggunakan baris Kasrah melainkan baris Fathah.

‫ء‬

= datang Sulaiman
= aku melihat Sulaiman
= aku memberi salam kepada Sulaiman

Sebagai perkecualian, bila Isim-isim tersebut menggunakan awalan Alif-Lam Ma'rifah, maka
ia menerima baris kasrah bila terkena I'rab Jarr. Perhatikan:
= aku memberi salam kepada suku-suku
= aku memberi salam kepada suku-suku itu

‫ء‬
‫ء‬

= aku memberi salam kepada para ulama
= aku memberi salam kepada para ulama itu

Masih ada lagi kelompok Isim Ghairu Munawwan yang huruf akhirnya selalu tetap, tidak
mengalami perubahan baris apapun. Yaitu:
12) Isim-isim yang huruf akhirnya Alif Maqshurah (

‫ ى‬tanpa titik dua). Misalnya:
(=Musa),
‫=( ى‬Thuwa: nama bukit), dan sebagainya.
(

) atau Alif Bengkok
(=Isa),

‫ى‬

(=petunjuk),

Isim-isim ini huruf akhirnya tidak pernah berubah, dalam keadaan I'rab apapun.

‫ء‬

= datang Musa
= aku melihat Musa
= aku memberi salam kepada Musa

Hafalkanlah istilah-istilah tata bahasa Arab yang terdapat dalam pelajaran ini sebelum
melangkah ke pelajaran selanjutnya.

29. I'rab Fi'il Mudhari'

I'RAB FI'IL MUDHARI'
Fi'il Mudhari' juga mengalami I'rab atau perubahan baris/bentuk di akhir kata bila didahului
oleh harf-harf tertentu. Fi'il Mudhari mengenal tiga macam I'rab:
1) I'RAB RAFA' ialah bentuk asal dari Fi'il Mudhari' dengan alamat (tanda):
a. Baris Dhammah:
b. Huruf Nun:
2) I'RAB NASHAB bila dimasuki Harf Nashab. Alamatnya adalah:
a. Baris Fathah:
b. Hilangnya huruf Nun:
Adapun yang termasuk Harf Nashab ialah:
begitu),

(=supaya),

(=hingga),

(=bahwa),

(=tidak akan),

(=untuk).

Perhatikan contoh-contohnya dalam kalimat:

3) I'RAB JAZM (

‫م‬

) bila dimasuki Harf Jazm. Alamatnya ada tiga:

a. Baris Sukun:
b. Hilangnya huruf Nun:
c. Hilangnya huruf 'Illat (

) atau "huruf penyakit" yaitu

‫ى‬

Adapun yang termasuk Harf Jazm terbagi dalam dua kelompok:
1. Harf Jazm yang men-jazm-kan satu fi'il saja yaitu:

(=tidak),

(=belum),

(=kalau

untuk perintah (=hendaklah),

untuk larangan (=jangan).

Perhatikan contoh-contohnya dalam kalimat:

2. Harf Jazm yang men-jazm-kan dua fi'il yaitu:
(=jangan),
(=darimana),

(=kapan),

(=jika),

(=kapan),

(=darimana saja),

(=siapa),

(=dimana),

(=apa),
(=dimana saja),

(=bagaimana saja),

Contoh I :

‫ى‬
(=engkau mengerjakan suatu pekerjaan; engkau akan dibalas dengannya)
(=jika engkau mengerjakan suatu pekerjaan, engkau akan dibalas dengannya)
Contoh II :
(=dia beriman kepada Allah; Allah menunjuki hatinya)
(=siapa yang beriman kepada Allah, Dia akan menunjuki hatinya)
Contoh III :
(=kalian melakukan suatu kebaikan; Allah mengetahuinya)
(=kebaikan apa saja yang kalian lakukan, Allah mengetahuinya)
Contoh IV :
(=kalian bertaqwa kepada Allah; kalian beruntung)
(=kapan kalian bertaqwa kepada Allah, kalian bertuntung)
Contoh V :

(=yang mana).

(=mereka berdua pergi; mereka berdua dilayani)
(=kemana saja mereka berdua pergi, akan dilayani)
Contoh VI :
(=engkau membaca sebuah buku; engkau memperoleh manfaat darinya)
(=buku apa saja yang engkau baca, engkau akan memperoleh manfaat)
Hafalkan dan fahamkan baik-baik jenis-jenis I'rab Fi'il di atas!

30. 'Adad (Bilangan)

‫د‬
'ADAD (BILANGAN)
Mula-mula, anda harus mengafalkan sepuluh bentuk dasar dari 'Adad (Bilangan):

Dalam penggunaannya, bentuk-bentuk dasar 'Adad tersebut akan mengalami sedikit
perubahan dengan ketentuan sebagai berikut:
Bilangan 1 (
) terletak di belakang Isim Mufrad dan bilangan 2 (
) terletak di
belakang Isim Mutsanna. Bila Isim yang dibilangnya itu adalah Muannats maka bentuknya
pun menjadi Muannats.

Bilangan 3 sampai 10 terletak di depan Isim Jamak. Bila Isim Jamak tersebut adalah
Mudzakkar maka bentuk 'Adad-nya adalah Muannats, sedang bila Isim Jamak tersebut adalah
Muannats maka bentuk 'Adad-nya adalah Mudzakkar:

Adapun bilangan belasan (11 sampai 19) terletak di depan Isim Mufrad (Isim Tunggal)
meskipun jumlahnya adalah jamak (banyak). Perhatikan pola Mudzakkar dan Muannatsnya
serta tanda baris fathah di akhir setiap katanya:

Bilangan 20, 30, 40, dsb bentuknya hanya satu macam yakni Mudzakkar, meskipun terletek
di depan Isim Mudzakkar maupun Muannats. Contoh:

Angka satuan dalam bilangan puluhan, disebutkan sebelum angka puluhannya; dan
perubahan bentuk (Mudzakkar atau Muannats) angka satuan tersebut mengikuti perubahan
bentuk Isim yang dihitungnya dengan pola seperti berikut:

Bilangan ratusan dan ribuan terletak di depan puluhan dan satuannya.

Adapun bilangan bertingkat (pertama, kedua, ketiga, kesepuluh, dan seterusnya) mengalami
sedikit perubahan bentuk sebagai berikut:

Bila digunakan dalam bentuk kalimat, memiliki bentuk Mudzakkar dan Muannats yang
mengikuti Isim Mudzakkar dan Muannats yang di depannya:

Untuk bilangan bertingkat di atas 10 (kesebelas, keduapuluh, dst) maka hanya angka
satuannya saja yang mengikuti perubahan bentuk seperti di atas. Contoh:

Agar lancar menyebut angka dengan Bahasa Arab, anda harus sering membaca setiap angka
yang anda temukan dengan menggunakan Bahasa Arab.