PRAKTIKUM FARMASI FISIKA

MODUL I
PENENTUAN KERAPATAN DAN BERAT JENIS

Disusun oleh :
Nama

:

IRMA YULIANA SARI

NIM

:

K100120016

Kelompok

:

E2

Korektor

:

LABORATORIUM FARMASI FISIKA
FALKUTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2013

MODUL I

PENENTUAN KERAPATAN DAN BERAT JENIS
A. TUJUAN PERCOBAAN
Mahasiswa diharapkan mampu
1. Menjelaskan beda kerapatan dan bobot jenis
2. Menjelaskan berbagai metode penetuan kerapatan da bobot jenis zat
3. Mengukur kerapatan zat cair dan zat padat dengan alat piknometer
4. Menghitung kerapatan dan bobot jenis zat berdasarkan hasil pengukuran
5. Menganalisa hasil pengukuran
B. DASAR TEORI
Densitas (kerapatan) adalah suatu besaran turunan karena mengombinasikan
satuan massa dan volume. Densitas didefinisikan sebagai massa per satuan volume pada
suhu dan tekanan tertentu. Dalam system cgs, densitas dinyatakan sebagai gram per
sentimeter kubik (g/cm3). Dalam satuan SI, densitas dinyatakan sebagai kilogram per
meter kubik (kg/m3).
( Peter J Sinko, 2012 )
Berat jenis adalah bilangan murni tana dimensi, yang dapat diubah menjadi
kerapatan dengan menggunakan rumus yang cocok. Berat jenis didefinidikan sebagai
perbandingan kerapatan dari suatu zat terhadap kerapatan air, pada temperature yang
sama, jika tidak dengan cara lain yang khusus.
Berat jenis untuk penggunaan praktis lebih sering didefinisikan sebagai
perbandingan massa dari suatu zat terhadap massa sejumlah volume air yang sama pada
suhu 40 atau temperature lain yang tertentu.
Berat jenis dapat ditentukan dengan menggunakan berbagai tipe piknometer,
neraca Mohr-Westphal, hydrometer dan alat – alat lain.
( Martin, 1990 )
Bobot per mileter suatu zat cair adalah bobot dalam g per mL zat cair pada suhu
200 yang ditimbang di udara. Bobot per mL zat cair dalm g dihitung dengan membagi
bobot zat cair dalam g yang mengisi piknometer pada suhu 200, dengan kapasitas
piknometer dalam mL pada suhu 200. Kapasitas piknometer ditentukan dengan dasar

bobot satu liter pada suhu 200 adalah 997,18 g jika ditibang di udara. Untuk harga bobot
per mL yang dinyatakan dalam farmakope, penyimpangan kerapatan udara boleh
diabaikan.
( Anonim, 1979)
Tiga tipe kerapatan :
1. Kerapatan sesungguhnya dari bahannya sendiri tidak termasuk void – void dan pori –
pori interpartikel yang lebih besar dari dimensi molekuler atau dimensi atomic di dalam
kisi – kisi Kristal
2. Kerapatan granul seperti yang ditentukan dengan jalan pemindahan merkuri yang tidak
merembespada tekanan – tekanan biasa di dalam pori – pori yang lebih kecil dari ± 10
mikron
3. Kerapatan bulk serbuk seperti yang ditentukan dari volume bulk dan bobot dari suatu
serbuk kering di dalam gelas ukur silendris.
( Mochtar, 1990 )
C. ALAT dan BAHAN
 ALAT
1. Piknometer
2. Timbangan
3. Baskom
4. Termometer
 BAHAN
1. Aquades
2. Es batu
3. Tissue
4. Etanol
5. Kloroform
6. Parafin solid
7. Aseton
8. Peluru
D. CARA KERJA

1. Penentuan volume piknometer pada suhu percobaan
Ditimbang piknometer yang bersih dan kering dengan seksama
Diisi piknometer dengan aquades hingga penuh, dibuka tutup kapilernya
Direndam dalam air es hingga suhunya turun kira – kira 20C dibawah suhu percobaan,
ditambahkan aquades hingga piknometer kembali penuh
Diangkat dari air es, dibiarkan suhunya naik hingga suhu percobaan, kemudiaan tutup
pipa kapilernya cepat – cepat
Diusap air yang menempel, kemudian timbang dengan seksama
2. Penetapan kerapatan zat cair ( etanol, aseton, kloroform )
Ditimbang zat cair yang akan dicari kerapatannya dengan piknometer, separti
percobaan 1
Diketahui bobot zat cair tersebut = c gram
3. Penentuan kerapatan peluru ( zat padat yang kerapatannya > dari air )
Ditimbang peluru ( mis : x gram )
Dimasukkan peluru edalam piknometer yang sama, isi penuh dengan air
Dilakukan penimbangan piknometer dengan cra kerja seperti 1 ( mis : y gram )
4. Penentuan kerapatan paraffin ( zat padat yang kerapatannya lebih kecil dari air )
Dicairkan sedikit paraffin solid
Digulirkan peluru yang digunakkan pada percobaan 3 kedalam cairan paraffin
tersebut hingga rata, dibiarkan hingga dingin ( membeku )

Ditimbang berat paraffin + peluru tersebut
Dimasukkan peluru kedalam piknometer yang sama, isi penuh dengan air
Dilakukan penimbangan piknometer dengan cara kerja seperti 1
Ditentukan kerapatan prafin
5. Ditentukan berat jenis dari masing – masing zat yang telah ditentukan kerapatan
BJ zat = ρ zatρ air
6. Dibandingkan kerapatan dan berat jenis dengan literatur

E. HASIL PERCOBAAN
Suhu percobaan = 28 oC
ρair
= 0,99623 g / mL
Vpiknometer
= 49,28 mL

1
2

Air
Etanol

44,90
44,90

Bobot
Pikno +
zat
(gram)
94,00
88,40

3

Aseton

44,90

83,65

38,75

0,78632

4

44,90

117,49

72,59

1,47301

5

Klorofor
m
Peluru

44,90

94,62

0,63

63

6

Paraffin

44,90

94,58

0,13

0,76470

No
.

Zat

Bobot
PiknoKosong
(gram)

Bobot zat
(gram)

ρ (g ml-1)

BJ

49,10
43,50

0,99623
0,88271

1
0,88
6
0,78
9
1,47
8
63,2
3
0,76
7

F. PERHITUNGAN
a. Air
Bobot pikno kosong

: 44,90 g

Bobot pikno + zat

: 94,00 g

Bobot zat

: 49,10 g

 ρair

= ρ30- ρ28ρ28-ρ25 = 30-2828-25
= 0, 99567-xx-0,99707 = 23
= 2x – 1,99414 = 2,98701 – 3x
= 5x = 4,98115
= x = 0,99623 g/mL

 Vpikno = Vair = Bobot airρair
= 49,10 g0,99623 g/mL = 49,28 mL

 BJair

= ρ airρ air = 0,99623g/mL0,99623 g/mL = 1

b. Etanol
Bobot pikno kosong

: 44,90 g

Bobot pikno + zat

: 88,40 g

Bobot zat

: 43,50 g

 ρetanol

= Bobot etanolVpikno
= 43,50 g49,28 mL = 0,88271 g/mL

 BJetanol

= ρ etanolρ air = 0,88271g/mL0,99623 g/mL = 0,886

c. Aseton
Bobot pikno kosong

: 44,90 g

Bobot pikno + zat

: 83,65 g

Bobot zat

: 38,75 g

 ρaseton

= Bobot asetonVpikno
= 38,75 g49,28 mL = 0,78632 g/mL

 BJaseton

= ρ asetonρ air = 0,78632 g/mL0,99623 g/mL = 0,789

d. Kloroform
Bobot pikno kosong

: 44,90 g

Bobot pikno + zat

: 117,49 g

Bobot zat

: 72,59 g

 ρkloroform

= Bobot kloroformVpikno
= 72,59 g49,28 mL = 1,47103 g/mL

= ρ kloroformρ air = 1,47103 g/mL0,99623 g/mL

 BJkloroform
= 0,789
e. Peluru
Bobot pikno + zat + air

: 94,62 g

Bobot zat

: 0,63 g

Bobot pikno + air

: 94,62 – 0,63 = 93,99 g

Bobot air

: 93,99 – 44,90 = 49,09 g

Bobot air yang ditumpahkan oleh zat padat

: 49,10 – 49,09 = 0,01 g

Volume air yang ditumpahkan = volume zat

: 0,01 g / 0,99623 g/mL = 0,01 mL

 ρpeluru

= Bobot zatV zat
= 0,63 g0,01 mL = 63 g/mL

 BJpeluru

= ρ peluruρ air = 63 g/mL0,99623 g/mL = 63,23

f. Paraffin
Bobot pikno + peluru + zat + air

: 94,58 g

Bobot peluru + zat

: 0,76 g

Bobot zat

: 0,76 – 0,63 = 0,13

Bobot pikno + air

: 94,58 – 0,76 = 93,82 g

Bobot air

: 93,82 – 44,90 = 48,92 g

Bobot air yang ditumpahkan oleh peluru + zat : 49,10 – 48,92 = 0,18 g
Bobot air yang ditumpahkan oleh peluru (dta e) : 0,01 g
Bobot air yang ditumpahkan oleh zat

: 0,18 – 0,01 = 0,17 g

Vol air yang ditumpahkan oleh zat = volume zat

: 0,17 g / 0,99623 g/mL = 0,17

mL
 ρparaffin

= Bobot zatV zat
= 0,13 g0,17 mL = 0,76470 g/mL

 BJparaffin

= ρ praffinρ air = 0,76470 g/mL0,99623 g/mL = 0,767

 Kurva keraptan vs BJ
BJ
Kerapatan ( g/mL )
G. PEMBAHASAN
Tujuan praktikum ini adalah mampu menentukan kerapatan dan bobot jenis
berbagai zat, sehingga praktikan dapat menjelaskan metode yang digunakan dan
mengukur kerapatan zat cair dan zat padat dengan alat piknometer. Dan juga dapat
menghitung kerapatan dan bobot jenis zat berdasarkan hasil pengukuran sehingga dapat
menganalisa hasil pengukuran.
Berat jenis suatu zat adalah perbandingan antara bobot zat dibanding dengan
volume zat pada suhu tertentu (biasanya pada suhu 25ºC), sedangkan rapat jenis (specific
gravity) adalah perbandingan antara bobot zat pada suhu tertentu (dalam bidang farmasi
biasanya digunakan 25º/25º).
Berat jenis didefenisikan sebagai perbandingan kerapatan suatu zat terhadap
kerapatan air. Harga kedua zat itu ditentukan pada temperatur yang sama, jika dengan
tidak cara lain yang khusus. Oleh karena itu, dilihat dari defenisinya, istilah berat jenis
sangat lemah. Akan lebih cocok apabila dikatakan sebagai kerapatan relatif. Berat jenis
adalah perbandingan relatif antara massa jenis sebuah zat dengan massa jenis air murni.
Air murni bermassa jenis 1 g/cm³ atau 1000 kg/m³. Berat jenis merupakan bilangan murni
tanpa dimensi (Berat jenis tidak memiliki satuan), dapat diubah menjadi kerapatan
dengan menggunakan rumus yang cocok.
( Martin, 1990 )
Adapun hal – hal yang dapat mempengaruhi BJ suatu zat adalah sbb :
1. Temperature
Temperature tinggi maka senyawa dapat menguap dan dapat ditetapkan BJnya
akan tetapi jika suhu rendah maka senyawa akan membeku dan susah ditentukan
BJnya.
2. Massa

Jika massa besar maka kemungkinan BJnya juga besar
3. Volume zat
Jika volume zat besar maka BJnya tergantung dari massa, ukuran partikel, BM
dan viskositas dari zat tersebut.
4. Kerapatan zat
Kerapatan berbanding lurus dengan BJ.
Pada percobaan ini alat yang digunakan adalah piknometer. Piknometer
digunakan untuk mencari bobot jenis dan hidrometer digunakan untuk mencari rapat
jenis. Piknometer biasanya terbuat dari kaca untuk erlenmeyer kecil dengan kapasitas
antara 10 mL-50mL.
Untuk melakukan percobaan penetapan bobot jenis, piknometer dibersihkan
dengan menggunakan aquadest, kemudian dibilas dengan alkohol untuk mempercepat
pengeringan piknometer kosong tadi. Pembilasan dilakukan untuk menghilangkan sisa
dari permbersihan, karena biasanya pencucian meninggalkan tetesan pada dinding alat
yang dibersihkan, sehinggga dapat mempengaruhi hasil penimbangan piknometer
kosong, yang akhirnya juga mempengaruhi nilai bobot jenis sampel. Pemakaian alkohol
sebagai pembilas memiliki sifat-sifat yang baik seperti mudah mengalir, mudah menguap
dan bersifat antiseptikum. Jadi sisa-sisa yang tidak diinginkan dapat hilang dengan baik,
baik yang ada di luar, maupun yang ada di dalam piknometer itu sendiri. Tetapi pada
praktikum tidak dilakukan pembilasan dengan alkohol.
Piknometer kemudian dikeringkan agar tidak mempengaruhi berat zat yang akan
diukur. Kemudian piknometer ditimbang, diisi dengan larutan atau zat yang akan
dihitung kerapatan dan berat jenisnya.pengisian dilakukan dengan melewatkan sampel
pada dinding dalam piknometer agar tidak terjadi gelembung udara yang akan
mengganggu penimbangan. Kerapatan air dan volume piknometer digunakan untuk
sebagai parameter untuk menentukan kerapatan zat lainnya yang akan dtentukan
Adapun keuntungan dari penentuan bobot jenis dengan menggunakan
piknometer adalah mudah dalam pelaksanaannya. Sedangkan kerugiannya yaitu
berkaitan dengan ketelitian dalam penimbangan. Jika proses penimbangan tidak teliti
maka hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan hasil yang ditetapkan literatur. Disamping

itu penentuan bobot jenis dengan menggunakan piknometer memerlukan waktu yang
lama.
Secara teoritis, BJ air adalah 1 sedangkan aseton, etanol dan paraffin memiliki BJ
yang lebih rendah dari air, yakni kurang dari 1. Zat yang memiliki BJ lebih besar dari air
adalah peluru sebagai perwakilan dari zat padat dan kloroform. Data BJ teorotis dapat
dilihat pada tabel berikut yang dilihat dari buku Farmakope Indonesia Edisi IV.
Tabel BJ zat teoritis dan praktikum

Dari tabel data BJ diatas dapat diketahui bahwa BJ praktikum sesuai dengan BJ
teoritis, yakni aseton, etanol dan paraffin memiliki BJ yang lebih rendah dari air, yakni
kurang dari 1 dan peluru sebagai perwakilan dari zat padat dan kloroform memiliki BJ
yang lebih besar dari air.
Peluru atau manik – manik memiliki kerapatan yang lebih besar dari pada air, hal
ini disebabkan karena peluru memiliki kerapatan/struktur yang sangat kompak.
Sedangkan paraffin ada juga yang berupa padatn tetapi strukturnya kurang kompak
sehingga kerapatan paraffin < dari keraptan air.

H. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan didapat BJ teoritis sama dengan BJ praktikum, yakni aseton,
etanol dan paraffin memiliki BJ yang lebih rendah dari air (kurang dari 1) dan peluru
sebagai perwakilan dari zat padat serta kloroform memiliki BJ yang lebih besar dari air.
Kerapatan berbanding lurus dengan bobot jenis. Semakin besar kerapatannya, semakain
besar pula berat jenisnya.

I. DAFTAR PUSTAKA
Anonym, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Depkes RI, Jakarta
Martin, Alfred, 1990, Dasar-dasar Farmasi Fisik Dalam Ilmu Farmasetik, Penerbit
Universitas Indonesia, Jakarta
Moechtar, 1990, Farmasi Fisika Bagian Struktur Atom Dan Molekul Zat Padat Dan
Mikromeritika, UGM Press, Yogyakarta
Sinko, Peter, 2012, Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika Martin Edisi 5, Penerbit Buku
Kedokteran, Jakarta
J. LAMPIRAN
Hasil percobaan
Fotocopy daftar pustaka