1

Perkembangan aspek psikomotorik D. PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK PERIODE SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) 1. Perkembangan aspek psikomotorik BAB III PENUTUA. Rumusan Masalah C. Perkembangan aspek psikomotorik C. PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK PERIODE SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA). FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN B. PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK PRIODE SEKOLAH DASAR (SD) 1. Perkembangan aspek afektif 3. Perkembangan aspek afektif 3. Perkembangan aspek kognitif 2. Tujuan BAB II PEMBAHASAN A. Perkembangan aspek afektif 3.DAFTAR ISI DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Perkembangan aspek kognitif 2. Latar Belakang B. Perkembangan aspek kognitif 2. KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA 2 . 1.

Artinya perkembangan itu terjadi tidak hanya dalam aspek tertentu. Dalam Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 pada pasal 1 ayat 4 disebutkan bahwa peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur. Latar Belakang Psikologi perkembangan merupakan cabang psikologi yang mempelajari perubahan tingkah laku dan kemampuan sepanjang proses perkembangan individu dari mulai masa konsepsi sampai mati. Kerena itu.. yaitu sebagai organisme atau individu yang merupakan suatu kesatuan yang terintegasi dari keseluruhan organ fisik dan aspek spikis yang terdapat dalam dirinya.BAB I PENDAHULUAN A. Kemudian pada pasal 6 ayat 1 disebutkan bahwa setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan 3 . Holistik adalah menyeluruh. Dan pertumbuhan terbatas perubahanperubahan yang bersifat evolusi ( menuju kearah yang lebih sempurna ). dan jenis pendidikan tertentu. jenjang. Anak sebagai suatu totalitas. tinggi dan berat badan. Pertumbuhan sendiri (growth) berarti tahapan peningkatan sesuatu dalam hal jumlah. Leod. melainkan melibatkan keseluruhan aspek yang saling terjalin satu sama lain. melainkan secara keseluruhan. Keseluruhan aspek yang terdapat dalam diri anak tersebut saling terjalin satu sama lain.ukuran dan arti pentingnya. perbedaan anak dengan orang dewasa tidak hanya terjadi dalam aspek fisik atau psikis. Sedangkan pertumbuhan adalah suatu perubahan aspek jasmaniah. seperti perubahan struktur tulang. proporsi badan. Pertumbuhan juga berarti sebuah tahapan perkembangan (a stage of development) (Mc. Dan pertumbuhan bersifat kuantitatif dan terbatas pada pola perubahan fisik yang dialami individu sebagai hasil dari proses pematangan. 1989). Perkembangan (development) adalah proses atau tahapan pertumbuhan ke arah yang lebuh maju. semakin sempurnanya jaringan syaraf dan sejenisnya.

Menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan. d. dan SMA) berhak: a. Mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat. f. Bagaimana proses perkembangan peserta didik. Tujuan 4 . B. Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan (SD. Setiap peserta didik berkewajiban: a. 2. Mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. Pada pasal 12 disebutkan bahwa : 1. Mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya. SMP. kecuali bagi peserta didik yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. minat. c. Pindah ke program pendidikan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara. Mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mempu membiayai pendidikannya. b. dan kemampuannya. Ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan. e. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka muncul masalah sebagai berikut : a. dan b. C. Tahap-tahap perkembangan peserta didik. Menjaga norma-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses dan keberhasilan pendidikan.lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar (SD dan SMP). b.

pendapat yang dikemukakan oleh para ahli dapat digolongkan menjadi tiga golongan. Misalnya kalau ayahnya ahli musik maka anaknya juga akan menjadi ahli musik. Tokoh aliran ini ialah Schopenhauer dan Lombroso. Para ahli yang mengikuti paham ini biasanya menunjukkan berbagai kesamaan/kemiripan antara orangtua dengan anak-anaknya. yaitu a) Aliran Nativisme Menurut aliran ini bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh faktorfaktor yang dibawa sejak lahir (natus = lahir). Anak sejak lahir membawa sifat-sifat dan dasardasar tertentu yang dinamakan sifat pembawaan. b) Aliran Empirisme 5 . Akibatnya para ahli pengikut aliran ini berpandangan pesimistis terhadap pengaruh pendidikan. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN Secara garis besar.Untuk mengetahui perkembangan peserta didik dan tahap-tahap perkembangan peserta didik. Keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki oleh orangtua juga dimiliki oleh anaknya. Pendidikan dan lingkungan hampir-hampir tidak ada pengaruhnya terhadap perkembangan anak. BAB II PEMBAHASAN A. ayahnya seorang ahli fisika maka anaknya juga akan menjadi ahli fisika. Sifat pembawaan tersebut mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan individu.

Pribadi anak sering diabaikan dan kepentingannnya dilalaikan. Salah satu kritik ialah Stern tidak dapat dengan pasti menunjukkan perbandingan kekuatan dua pengaruh itu. akan dijadikan apa kertas itu terserah kepada yang menulisnya.Menurut aliran ini bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh faktor dari luar/lingkungan. Tokoh aliran ini ialah John Locke (1632 – 1704) yang terkenal dengan teori “Tabularasa”. sikap dan tingkah laku manusia dapat diubah oleh pendidikan. Ia mengatakan bahwa anak lahir seperti kertas putih yang belum mendapat coretan sedikitpun. Watak. Stern. Pendidikan dipandang mempunyai pengaruh yang tidak terbatas. tetapi diperlakukan semata-mata menurut keinginan orang dewasa. Manusia lahir telah membawa benih-benih tertentu dan bisa berkembang karena pengaruh lingkungan. c) Aliran Konvergensi Menurut aliran ini bahwa manusia dalam perkembangan hidupnya dipengaruhi oleh bakat/pembawaan dan lingkungan atau dasar dan ajar. Dengan demikian pendidikan harus mengusahakan agar benih-benih yang baik dapat berkembang secara optimal dan benih-benih yang jelek ditekan sekuat mungkin sehingga tidak dapat berkembang. Keburukan yang timbul dari pandangan ini adalah anak tidak diperlakukan sebagai anak. walaupun banyak juga kritik yang dilancarkan terhadap paham ini. Sedangkan pembawaan tidak memiliki peranan sama sekali. PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK PRIODE SEKOLAH DASAR (SD) 6 . B. Pada umumhnya paham inilah yang sekarang banyak diikuti oleh para ahli pendidikan dan psikologi. Aliran empirisme menimbulkan optimisme dalam bidang pendidikan. Aliran ini dipelopori oleh W. Segala sesuatu yang terdapat pada jiwa manusia dapat diubah oleh pendidikan.

Periode ini ditandai dengan kondisi yang sangat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial anak. dan usia bermain. Pada saat anak masuk ke kelas satu. Periode kelas-kelas tinggi SD. Karakteristik anak-anak yang hampir bersifat universal pada periode SD ini antara lain : a. Perubahan tubuh. nilai. usia kelompok. minat. usia peserta didik di SD berada dalam periode late childhood (akhir masa kanak-kanak). dan perilaku karena menjelang berakhirnya periode ini anak mempersiapkan diri secara fisik dan psikologis untuk memasuki masa remaja. usia tidak rapi. yaitu : 1. usia kreatif dan kritis. yaitu umur 9/10 tahun sampai 13 tahun. Masuk ke kelas satu merupakan peristiwa penting dalam kehidupan setiap anak sehingga dapat mengakibatkan perubahan dalam sikap. nilai. Dalam masa ini terjadi perubahan fisik yang menonjol yang dapat mengakibatkan perubahan dalam sikap. perubahan besar dalam kehidupan anak terjadi. Secara psikologis dalam situasi tersebut kebanyakan anak berada dalam keadaan tidak seimbang. dimana dorongan-dorongan seakan-akan mengendap (laten). kira-kira berada dalam rentan usia antara enam/tujuh tahun sampai tiba saatnya anak menjadi matang secara biologis sekitar usia tiga belas tahun. dan perilaku. ridak menggelora seperti masa-masa sebelumnya dan sesudahnya. yaitu umur 6/7 tahun sampai 9 tahun. Sigmund Freud memberi nama fase usia SD ini fase latent. Karakteristik masa akhir kanak-kanak biasa diidentikkan dengan sebutan-sebutan untuk menandai kecenderungan umum yang terjadi pada masa ini. b. Mereka dihadapkan pada suasana lingkungan baru yang menuntut mereka untuk dapat menyesuaikan diri.Dalam psikologi perkembangan. Hal yang sama juga terjadi pada setahun atau dua tahun terakhir pada masa kanak-kanak (late childhood). Periode SD ini dapat dirinci menjadi dua fase. anak mengalami gangguan emosional sehingga sulit untuk hidup dan bekerja sama. misalnya usia yang menyulitkan. Meningginya emosi yang intensitasnya sering bergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikologis. dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial untuk dimainkan dan menimbulkan masalah baru. 2. 7 . Periode kelas-kelas rendah SD. usia bertengkar. usia penyesuaian diri.

c. sintesis. afektif (perasaan). 1. d. isyarat) dalam meningkatkan bentuk logika. menyimpan informasi. maupun psikomotorik (gerak). yaitu pengetahuan/pengenalan. Perkembangan kognitif pada masa kanak-kanak terjadi melalui urutan yang berbeda. pemahaman. b. analisis. kata-kata. Tahap keempat disebut periode formal operasional (sekitar 11-15 tahun) 8 . Menurut Jean Piaget terdapat empat tahapan perkembangan kognitif pada anak-anak. Terjadi perubahan nilai-nilai dikarenakan perubahan minat dan perilakunya. Tahapan ini membantu menerangkan cara anak berfikir. antara lain : a. dan evaluasi. Tahap ketiga disebut periode konkret operasional (sekitar 7-11 tahun) Pada tahap ini anak mendapatkan struktur logika tertentu yang membuatnya dapat melaksanakan berbagai macam operasi mental. mencangkup kemampuan intelektual mulai dari kemampuan mengingat sampai dengan kemampuan memecahkan masalah. Anak melaksanakan operasi ini dalam situasi konkret. Kesemua perubahan-perubahan tersebut akhirnya berdampak pada perkembangan aspek kognitif (kecerdasan). yang merupakan tindakan terinternalisasi yang dapat dikeluarkan bila perlu. Operasi adalah hubungan-hubungan logis di antara konsep-konsep atau skema-skema. Tahap kedua disebut periode praoperasional (sekitar 2-7 tahun) Pada tahap ini anak dapat membuat penyesuaian perseptual dan motorik terhadap objek dan kejadian yang direpresentasikan dalam bentuk simbol (bayangan mental. c. penerapan. Perkembangan aspek kognitif Kemampuan kognitif berkaitan dengan kemampuan berfikir. Tahap pertama disebut periode sensorik motorik (sekitar 0-2 tahun) Pada tahap ini anak (bayi) menggunakan alat indera dan kemampuan mmotorik untuk memahami dunia sekitarnya. Kemampuan kognitif dapat dikelompokkan menjadi enam. dan beradaptasi dengan lingkungannya.

menimbang. Hal ini adalah karena mereka tidak lagi mengandalkan persepsi penglihatannta. dan mampu memahami operasi dalam sejumlah konsep. yaitu memperhatikan suatu fenomena. Kemampuan afektif ini terdiri dari yang paling sederhana. aktivitas mental anak terfokus pada objek-objek yang nyata atau pada berbagai kejadian yang pernah dialaminya. anak SD berada dalam tahap kedua dan ketiga. dan antara yang bersifat sementara dan yang bersifat tetap. mengurutkan. Mereka dapat mengukur. pengurangan. sistem nilai. karena anak usia SD mulai mempunyai kemampuan untuk membedakan apa yang tampak oleh mata dengan kenyataan yang sesungguhnya. Pada masa SD ini disifatkan sebagai masa realisme. 2. dan 20 – 3 = 17. Dalam upaya memahami alam sekitarnya. Perkembangan aspek afektif Kemampuan afektif berhubungan dengan perasaan. dan menghitung jumlahnya. tapi juga dapat diaplikasikan pada kalimat verbal atau logika. Anak usia SD ini juga dapat mempertimbangkan secara logis hasil dari sebuah kondisi atau situasi serta tahu beberapa aturan atau strategi berfikir.Pada tahap ini operasi mental pada anak tidak lagi terjadi pada objek konkret. seperti 2 + 5 = 7. yaitu realisme naif (umur 8 sampai 10 tahun) dan realisme kritis (umur 10 sampai 12 tahun). 5 X 6 = 30. ingin tahu. melainkan sudah mampu menggunakan logikanya. yang merupakan faktor internal 9 . sehingga perbedaan yang nyata tida membodohkan mereka. sperti penjumlahan. Adanya perhatian kepada kehidupan yang praktis dan konkret tersebut membawa kecenderungan untuk membantu pekerjaan-pekerjaan yang praktis. dan ingin belajar. Pada masa SD. Mereka akan tahu jika air dalam gelas besar pendek dipindahkan ke dalam gelas kecil tinggi jumlahnya akan tetap sama karena tidak satu tetes pun yang tumpah. Sifat khas anak SD sangat realistis. emosi. mereka tidak lagi terlalu mengandalkan informasi yang bersumber pada indera. Jika melihat tahapan-tahapan di atas. tidak hanya menjangkau masa kini tetapi juga masa depan. Sebagian besar anak SD ini belum mampu memahami konsep-konsep abstrak. Anak usia SD sudah memiliki kemampuan untuk berfikir melalui urutan sebab-akibat dan mulai mengenali banyak cara yang bisa ditempuh dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. dan sikap hati yang menunjukkan penerimaan atau penolakan terhadap sesuatu. penggandaan. yang tidak hanya menjangkau kenyataan melainkan juga kemungkinan.

ada waktu dimana anak sering mengalami emosi yang hebat. yaitu saat dimana anak sulit dihadapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan internalisasi nilai-nilai. Kemampuan ini dapat dikelompokkan menjadi lima. penghargaan terhadap nilai. Perubahan tersebut lebih merupakan akibat dari meluasnya pengalaman dan belajarnya dari pada proses pematangan diri. sedangkan anak dari tingkat sosialekonomi menengah dan atas terpusat pada kelompok keterampilan bermain. Perkembangan nilai. 10 . Anak yang berasal dari tingkat sosial-ekonomi atas cenderung mempunyai keterampilan yang lebih tinggi dibandingkan anak yang berasal dari tingkat sosial-ekonomi yang rendah. yang berhubungan dengan anggota tubuh atau tindakan yang memerlukan koordinasi antara syaraf dan otak. dan sikap banyak terjadi melalui warna khas sesuai karakteristik perkembangannya. moral. memanipulasi. kematian atau perceraian. Perkembangan aspek psikomotorik Perkembangan psikomotorik berkaitan dengan keterampilan motorik. Karena emosi cenderung kurang menyenangkan. pemberian respon. maka dalam periode ini meningginya emosi menjadi periode ketidakseimbangan. akurasi gerak. artikulasi. dan berbagai ungkapan kasar. pengorganisasian dan pengamalan. 3. anak-anak mulai mengungkapkan amarah dalam bentuk murung. Meningginya emosi tersebut dapat disebabkan karena kesadaran fisik dan lingkungan. Keterampilan yang dipelajari lebih terpusat pada keterampilan menolong yang bersifat sendiri dan sosial. moral. menggerutu. misalnya karena sakit atau lelah dan karena keadaan keluarga yang mengalami keretakan. dan sikap banyak terjadi melalui identifikasi dengan orang-orang yang dianggap sebagai model. yaitu pengenalan/penerimaan. Kemampuan ini terdiri dari lima kelompok. antara lain meniru. Emosi yang umum pada akhir masa kanak-kanak hampir sama dengan pola pada awal masa kanak-kanak. Tingkat sosial-ekonomi orang tua juga berpengaruh terhadap anak. Perkembangan psikomotorik peserta didik SD memiliki kekhususan antara lain ditandai dengan perubahan-perubahan ukuran tubuh dan proporsi tubuh. Pada masa akhir kanak-kanak.individu. perbedaannya terletak pada awal jenis situasi yang membangkitkan emosi dan bentuk ungkapannya. Dengan bertambah besarnya badan. dan naturalisasi/otonomisasi.

C. dan psikomotorik. Peserta didik pada tahap formal operasional dapat mengintegrasikan apa yang telah mereka pelajari dengan tantangan di masa mendatang dan membuat rencana untuk masa depan. afektif. dia memikirkan beberapa kemungkinan 11 . tidak hanya menjangkau masa kini tetapi juga masa depan. tapi juga dapat diaplikasikan pada kalimat verbal atau logika. Mereka juga mampu berfikir secara sistematik. bagi peserta didik yang berada pada tahap operasional konkret (SD) akan mengambil kesimpulan bahwa mobil bensinnya habis. 1. Dengan demikian pada tahap ini peserta didik sudah dapat berfikir secara abstrak dan hipotetis sehingga mereka mampu memikirkan sesuatu yang akan atau mungkin terjadi yang merupakan sesuatu yang bersifat abstrak. Pada tahap ini operasi mental pada anak tidak lagi terjadi pada objek konkret. Berikut ini disajikan perkembangan tersebut yang berhubungan dengan pendidikan. yang tidak hanya menjangkau kenyataan melainkan juga kemungkinan. Lain halnya dengan peserta didik pada tahap formal operasional (SMP). jadi mogok. Mereka memikirkan semua kemungkinan secara sistematik untuk memecahkan permasalahan. Dia hanya menghubungkan sebab-akibat dalam satu rangkaian. mampu berfikir bukan hanya dalam apa yang terjadi tetapi berfikir dalam kerangka apa yang mungkin terjadi. peserta didik usia SMP berada pada periode perkembangan yang sangat pesat dari segala aspek. Perkembangan aspek kognitif Menurut Piaget anak-anak SMP. PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK PERIODE SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) Dalam tahap perkembangannya. yaitu perkembangan aspek kognitif. yaitu usia 11-15 tahun berada pada periode formal operasional. Sebuah mobil yang tiba-tiba mogok misalnya.

Sudah mulai bisa mengorganisir nilai-nilai dalam suatu sistem dan menentukan hubungan di antara nilai-nilai yang ada e. Faktor individu yang lebih spesifik dalam tingkah laku peserta didik yang sangat penting dalam penguasaan materi pendidikan meliputi : a. Perkembangan aspek psikomotorik Perkembangan aspek psikomotorik ini juga merupakan salah satu aspek yang perlu diketahui oleh guru. yaitu sifat yang berkaitan dengan pelibatan diri individu pada perasaan orang lain. khawatir. Anxiety. d. Inhibition. Perkembangan aspek afektif Keberhasilan proses pendidikan juga ditentukan oleh keberhasilan dalam perkembangan aspek afektif peserta didik. seperti mungkin businya mati. c. yaitu penghargaan seseorang yang diberikan seseorang kepada dirinya. merupakan dorongan untuk melakukan suatu kegiatan. Motivation. 2. Bloom memberikan definisi tentang aspek afektif yang terbagi atas lima tataran afektif yang berimplikasi pada peserta didik di SMP sebagai berikut : a. tegang. Mampu menilai d.yaitu sikap mempertahankan diri atau melindungi ego. Sudah mulai memiliki karakteristik dan mengetahui karakteristik tersebut. Responsih terhadap stimulus-stimulus yang ada di lingkungan mereka c. f. Sadar akan situasi. yaitu keberanian mengambil resiko. b. Perkembangan aspek-aspek psikomotorik peserta didik SMP melalui tahaptahap berikut ini : 12 .mengapa mobilnya mogok. yaitu kecemasan yang meliputi rasa frustasi. Risk-taking. Self-esteem. e. fenomena di masyarakat dan objek di sekitarnya b. dan sebagainya. mungkin platinanya atau kemungkinan-kemungkinan lain yang membrikan dasar bagi pemikirannya. Empati. 3.

Seseorang yang pernah melakukan suatu kesalahan diharapkan dapat mengambil pelajaran dari segala hal yang terjadi. Mereka harus berfikir terlebih dahulu sebelum melakukan suatu gerakan. Pada tahap ini anak berfikir untuk melakukan gerakan yang akan dilakukannya lebih sedikit dibanding pada waktu dia berada pada tahap kognitif. Proses belajarnya sudah hampir lengkap meskipun mereka tetap dapat memperbaiki gerakan-gerakan yang dipelajarinya.a. b. c. Hal ini terjadi karena peserta didik masih dalam taraf belajar untuk mengendalikan gerakan-gerakannya. Tahap ini merupakan tahap pertengahan dalam perkembangan aspek psikomotorik peserta didik. Melakukan kesalahan atau percobaan merupakan hal yang penting dalam proses pendidikan. Pada tahap ini. gerakangerakan mereka telah dilakukan secara spontan sehingga gerakan-gerakan yang dilakukannya tidak harus dipikirkanya terlebih dahulu. Pada tahap ini peserta didik sering membuat kesalahan yang kadang-kadang membuat mereka merasa frustasi. Tahap otonomi Pada tahap ini peserta didik telah mencapai tingkat otonomi yang tinggi. Mereka mulai dapat mengasosiasikan gerakan yang sedang dipelajarinya dengan gerakan yang sudah dikenalnya. Tahap asosiatif Pada tahap ini peserta didik membutuhkan waktu yang lebih pendek untuk memikirkan tentang gerakan-gerakan yang akan dilakukannya. 13 . Tahap ini disebut tahap otonomi dikarenakan peserta didik sudah tidak memerlukan kehadiran instruktur untuk melakukan gerakan-gerakan. Tahap kognitif Tahap ini ditandai dengan adanya gerakan-gerakan yang kaku dan lambat. maka gerakan-gerakannya sudah mulai tidak kaku dan lambat. Karena waktu yang digunakan relatif pendek. Gerakan-gerakan pada tahap ini belum merupakan gerakan-gerakan yang bersifat otomatis.

1. Ketidakjelasan ini karena mereka berada pada periode transisi. di mana mereka mengembangkan identitas diri mereka dan membentuk pendapat sendiri yang mungkin berbeda dengan orang tuanya. Perubahan-perubahan tersebut akhirnya berdampak pada perkembangan kognitif. bukan pendapat orang tua. dan juga psikomotorik mereka. yang umumnya berkisar pada perbedaan antara orang tua dan anak remaja tentang bagaimana mereka memandang dan mendefinisikan aturan keluarga dan aturan sosial lainnya. sering terjadi konflik antara orang tua dan anak remaja. Remaja mulai merasa bahwa pemecahan masalah merupakan pilihan pribadi. Ada perubahan-perubahan yang bersifat universal pada masa remaja.D. Mereka mengalami deidelalisasi terhadap orang tua. yaitu dari periode kanak-kanak menuju periode orang dewasa. bukan merupakan suatu ancaman terhadap hubungan 14 . Pada saat remaja mereka mengalami periode individualisasi. dan nilai-nilai. perilaku. PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK PERIODE SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA). afektif. tapi hal tersebut merupakan perkembangan yang normal. juga terjadi perubahan dalam cara berfikir dan pengolahan informasi. yaitu meningginya emosi yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikis. Akibatnya. Perkembangan aspek kognitif Pada masa remaja terjadi kematangan intelektualitas yang berkembang bersamaan dengan kematangan organ seksualnya. Psikolog memandang anak usia SMA sebagai individu yang berada pada tahap yang tidak jelas dalam rangkaian proses perkembangan individu. perubahan minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial tertentu untuk dimainkannya yang kemudian menimbulkan masalah. Selain terjadi perubahan fisik dan sosial. mereka secara riil belum siap menyandang predikat sebagai orang dewasa. Umumnya mereka tidak mau dikatakan sebagai anak-anak tapi jika mereka disebut sebagai orang dewasa. Meskipun konflik di atas dapat menimbulkan masalah. berubahnya minat. Pada masa tersebut mereka melalui masa yang disebut masa remaja atau pubertas. bersikap mendua (ambivalen) terhadap perubahan. perubahan tubuh. Remaja mulai menyadari bahwa orang tua mereka tidak selalu benar.

antara lain : a. 2. Cara yang paling baik untuk menghadapi pemberontakkan remaja adalah : a. keluarga. Melakukan segala sesuatu untuk membantu mereka agar berprestasi dalam bidang ilmu yang diajarkan.antara orang tua dan anak. Jika para guru menyadari untuk mengembangkan keterampilanketerampilan pada diri peserta didiknya walaupun dalam cara yang terbatas. Untuk menunjukkan kematangannya. seperti pengaruh lingkungan tempat tinggal. Mencoba untuk mengerti mereka. Masa remaja yang identik dengan lingkungan sosial tempat berinteraksi. yaitu terjadinya pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan pertumbuhan secara psikis yang bervariasi. hendaknya remaja juga menyadari bahwa mereka harus menghargai orang tuanya dan tetapt meminta nasehat-nasehatnya. dan menginginkan kebebasan tanpa batas pada dirinya. sehingga mereka menjadi target dan pemberontakkan mereka. maka satusatunya upaya yang dapat guru lakukan adalah memperlakukan peserta didik seprti orang dewasa 15 . dan teman-teman sebaya. maka pemberontakkan dan sikap permusuhan di kelas akan dapat dikurangi. Pergolakan emosi yang terjadi pada remaja tidak lepas dari bermacam-macam pengaruh. Fase remaja akhir (18-21 tahun) Di antara fase-fase tersebut juga terdapat fase pubertas (11/12-16 tahun) yang terkadang menjadi masalah tersendiri bagi remaja dalam menghadapinya. Fase remaja awal (12-15 tahun) b. membuat mereka tertuntut untuk menyesuaikan diri secara efektif. mudah marah. misalnya remaja menjadi sering melamun. Proses penyesuaian diri tersebut tak jarang menimbulkan masalah bagi remaja. sekolah. Selain harus berfikir kritis. Sehubungan dengan emosi remaja yang sering melamun dan sulit diterka. Perkembangan aspek afektif Masa remaja dikenal dengan masa storm and stress. serta aktivitas-aktivitas yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu konflik antara mereka akan menjadi proses untuk menjadi orang dewasa bagi anak. Fase remaja pertengahan (15-18 tahun) c. Pada masa remaja (usia 12-21 tahun) terdapat beberapa fase. remaja terutama laki-laki juga sering terdorong untuk menentang otoritas guru di SMA. b.

Penting bagi guru untuk memahami alasan-alasan pemberontakkan mereka dan guru harus menekankan pentingnya bagi remaja untuk mengendalikan dirinya karena hidup di masyarakat harus menghormati dan menghargai keterbatasan-keterbatasan dan kebebasan individu. sebaiknya guru memperkecil ledakan emosi tersebut dengan jalan dan tindakan yang bijaksana. ciri kelamin yang primer. yaitu percepatan pertumbuhan dan proses kematangan seksual yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. gizi. guru dapat membantu mereka bertingkah laku progresif untuk mencapai keberhasilan dalam pekerjaan atau tugas-tugas sekolahnya. Perubahan-perubahan tersebut pada umumnya mengikuti irama tertentu. Perkembangan aspek psikomotorik Kemampuan psikomotorik ini berkaitan dengan keterampilan motorik yang berhubungan dengan anggota tubuh atau tindakan yang memerlukan koordinasi antara syaraf dan otak. jika keinginan-keinginannya dihambat atau dirintangi oleh orang tua dan gurunya. Salah satu cara yang mendasarinya adalah dengan memotivasi mereka untuk bersaing dengan diri sendiri. Hal ini terjadi karena pengaruh faktor keluarga. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan meminta peserta didik mendiskusikan perasaanperasaan mereka. dan memulai aktivitas baru. Perubahan fisik tersebut merupakan gejala umum dalam pertumbuhan peserta didik SMA. dan ciri kelamin yang sekunder. Jika kemarahan peserta didik tetap tak bisa diredam. akan tetapi juga meliputi ciri-ciri yang terdapat pada kelamin primer dan sekunder. lemah lembut. guru dapat meminta bantuan kepada petugas bimbingan konseling. Dalam hal ini.yang penuh dengan rasa tanggung jawab moral. Perubahan-perubahan yang dialami peserta didik SMA mempengaruhi perkembangan tingkah laku yang ditampakkan pada perilaku yang canggung dalam proses penyesuaian diri 16 . Bila ada ledakan-ledakan kemarahan pada diri remaja. jenis kelamin. dan kesehatan. Perkembangan psikomotorik yang dilalui oleh peserta didik SMA memiliki kekhususan yang antara lain ditandai oleh perubahan-perubahan ukuran tubuh. Perubahan-perubahan tersebut dikelompokkan dalam dua kategori besar. 3. merubah pokok pembicaraan. Bertambahnya kebebasan pada para remaja bagaikan menambah “bahan bakar terhadap api”. emosi. Perubahan-perubahan fisik tersebut bukan hanya berhubungan dengan bertambahnya ukuran tubuh dan berubahnya proporsi tubuh saja.

4. dan sikap hati yang menunjukkan penerimaan atau penolakan terhadap sesuatu. imitasi berlebihan. BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Dari pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa : 1. Perkembangan aspek psikomotorik 17 . Psikologi perkembangan merupakan cabang psikologi yang mempelajari perubahan tingkah laku dan kemampuan sepanjang proses perkembangan individu dari mulai masa konsepsi sampai mati. yaitu terjadinya pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan pertumbuhan secara psikis yang bervariasi. Perkembangan aspek kognitif Kemampuan kognitif berkaitan dengan kemampuan berfikir.mereka. mencangkup kemampuan intelektual mulai dari kemampuan mengingat sampai dengan kemampuan memecahkan masalah. 2. Kemampuan afektif ini terdiri dari yang paling sederhana. emosi. perilaku emosional. yaitu memperhatikan suatu fenomena. 3. Masa remaja dikenal dengan masa storm and stress. Pada masa remaja terjadi kematangan intelektualitas yang berkembang bersamaan dengan kematangan organ seksualnya. sistem nilai. yang merupakan faktor internal individu. dan lain-lain. isolasi diri dan kelompok dari pergaulan. Perkembangan aspek afektif Kemampuan afektif berhubungan dengan perasaan.

antara lain meniru. akurasi gerak. Kemampuan ini terdiri dari lima kelompok. yang berhubungan dengan anggota tubuh atau tindakan yang memerlukan koordinasi antara syaraf dan otak. dan naturalisasi/otonomisasi. 18 .Perkembangan psikomotorik berkaitan dengan keterampilan motorik. artikulasi. memanipulasi.

B.DAFTAR PUSTAKA Daryono. Jakarta: PT. M. H. W. Hamalik. Psikologi Belajar. Oemar. Jakarta: PT. Proses Belajar Mengajar. Psikologi Pendidikan Edisi kedua. 2008. Jakarta: PT.. Syah. 2009. Santrok. RajaGrafindo Persada. Psikologi Pendidikan. Muhibbin. John. 2008. 2011. Jakarta: Prenada Media Group. Sunarto. Jakarta: PT. 2005. Perkembangan Peserta Didik. 19 . RInneka Cipta. Agung Hartono. Bumi Aksara. Rinneka Cipta. Ny.