You are on page 1of 6

pertanian lahan kering

KENDALA PERTANIAN LAHAN KERING DAN SOLUSINYA

POSTED ON MAY 10, 2013


Para pembaca di seluruh dunia, kali ini PPMI Jeddah menghadirkan tulisan mengenai
pertanian lahan kering, ditulis oleh seorang mahasiswa Master di bidang pertanian lahan
kering King Abdulaziz University (KAU), Wahid Muthowal. Selamat membaca
Salam,
PPMI Jeddah
Pertanian Lahan Kering merupakan aktifitas pertanian (budidaya tanaman pangan,
perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan) yang dilakukan di lahan kering. Lahan
kering dibagi ke dalam empat kategori, yakni :
1.

2.

3.

4.

Hyper Arid : indek kekeringan(rasio antara curah hujan dan evapotranspirasi potensial) 0.03, tidak ada vegetasi tanaman
kecuali hanya beberapa rumpun rumput di daerah lembah, penggembalaan ternak berpindah-pindah, hujan tahunan
rendah (di bawah 100 mm/tahun), serta hujan terjadi tidak menentu, bahkan kadang-kadang tidak terjadi hujan sepanjang
tahun. Daerah ini terdapat di pe-gurun-an Saudi Arabia Rubul Kholi atau yang dikenal dengan empty quarter.
Arid : indek kekeringan 0.03-0.20 yang ditandai dengan adanya peternakan, kegiatan pertanian dilakukan dengan irigasi
tetes dan sprinkler, terdapat tanaman musiman dan tahunan yang letaknya terpisah-pisah, dan curah hujan tahunan antara
100 300 mm.Terdapat di Jeddah, Saudi Arabia dan Negara-negara Timur Tengah pada umumnya.
Semi Arid : indek kekeringan 0.2-0.5 yang ditandai dengan adanya kegiatan pertanian denga mengandalkan air hujan
meski produktifitasnya masih rendah, terdapat kegiatan peternakan komunal, dan curah hujan tahunan 300-800
mm.Biasanya terdapat di perbatasan daerah tropis dan sub-tropis.
Sub Humid: indek kekeringan 0.5-0.75. Daerah sub humid juga dimasukkan ke dalam area lahan kering, meski sebenarnya
memiliki karakter yang dekat dengan daerah lahan basah. Di Indonesia kawasan timur memiliki karakter Sub-Humid, yang
mana terdapat beberapa kendala untuk budidadaya pertanian di daerah tersebut.

Lahan kering ini terjadi sebagai akibat dari curah hujan yang sangat rendah, sehingga
keberadaan air sangat terbatas, suhu udara tinggi dan kelembabannya rendah. Lahan
kering sering dijumpai pada daerah dengan kondisi antisiklon yang permanen, seperti
daerah yang terdapat pada antisiklon tropisme. Daerah tersebut biasanya ditandai dengan
adanya perputaran angin yang berlawanan arah jarum jam di utara garis khatulistiwa dan
perputaran angin yang searah jarum jam di daerah selatan garis khatulistiwa. Terdapat tiga
jenis iklim di daerah lahan kering, yakni :
1.
2.
3.

Iklim Mediterania : hujan terjadi di musim gugur dan dingin


Iklim Tropisme : hujan terjadi di musim panas
Iklim Kontinental : hujan tersebar merata sepanjang tahun

Kondisi lahan kering tersebut mengakibatkan sulitnya membudidayakan berbagai produk


pertanian. Faktor primer yang diperlukan tanaman untuk tumbuh adalah media tanam, air,
cahaya, angin, dan nutrisi tanaman. Semua faktor yang diperlukan tanaman untuk dapat
tumbuh dengan baik tersebut terhambat oleh kondisi daerah lahan kering yang memiliki iklim
dan cuaca ekstrim. Adapun pengelompokan faktor yang diperlukan tanaman untuk dapat
tumbuh dengan baik dan kendala yang terdapat di daerah lahan kering serta cara
mengatasinya ditampilkan dalam tabel berikut ini :
Tabel 1. Hubungan faktor pertumbuhan dan kendala-kendala serta solusi pertanian di lahan
kering

Media Tanam
Tanah pasiran yang terdapat di sebagian besar daerah kering di Negara Timur Tengah
menjadi kendala besar bagi usaha pertumbuhan tanaman. Kendala-kendala tersebuat
adalah terlalu besarnya pori-pori tanah yang mengakibatkan infiltrasi tinggi sehingga tidak
dapat menahan air serta memiliki kadar garam yang tinggi sebagai dampak dari kombinasi
tingginya evapotranspirasi akibat suhu yang tinggi dan tingginya infiltrasi akibat tanah yang
terlalu porous.

Sedangkan tanah lempung yang terdapat pada lahan kering juga terkendala dengan
sifatnya yang labil. Sifat tanah lempung yang kekurangan air akan merekah (nelo:jawa),
sehingga tidak dapat ditumbuhi tanaman dengan optimal. Tanah sebagai media tanam
seharusnya memiliki kemampuan menahan air dari infiltrasi dan evapotranspirasi, mampu
memberikan nutrisi bagi tanaman, serta memiliki pori-pori proporsional untuk sirkulasi udara
(O dan CO ). Untuk mengatasi hal tersebut, maka diperlukan soil amendment atau pengatur
tanah, pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah, dan kapur untuk meningkatkan
pH tanah atau gypsum untuk menurunkan pH tanah.
2

Air
Rendahnya curah hujan yang menjadi ciri-ciri khas daerah lahan kering mengakibatkan
ketersediaan air untuk irigasi sangat terbatas. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan soil
amendment untuk meningkatkan kapasitas tanah dalam menahan air (water holding
capacity), mulsa untuk mengurangi evapotranspirasi dan penggunaan sistem irigasi yang
tepat guna seperti irigasi tetes ataupun sprinkler tergantung dengan topografi lahan. Bila
lahan datar, maka dapat digunakan irigasi tetes, dan apabila lahan bergelombang, maka

penggunaan sistem irigasi sprinkler lebih tepat. Kolaborasi penggunaan soil amendment,
mulsa dan sistem isrigasi tepat guna tersebut bertujuan untuk menghemat penggunaan air
dan meningkatkan efektifitas dan efisiensi pendistribusian nutrisi tanaman.

Cahaya
Tingginya radiasi cahaya matahari di daerah lahan kering mengakibatkan tingginya
evapotranspirasi, rendahnya suplai oksigen (O ), dan salinasi / penggaraman di tanah. Cara
mengatasi kendala tersebut dengan melakukan penghijauan, atau secara terintegrasi
melakukan kegiatan pertanian dan perkebunan di lahan kering dapat mengurangi dampak
tingginya radiasi cahaya matahari.
2

Angin
Minimnya vegetasi di daerah lahan kering mengakibatkan termodinamika pindah panas
terjadi secara monoton/single direction, hal tersebut mengakibatkan angin melaju dengan
kencang, karena angin merupakan dampak dari udara yang digerakkan oleh perbedaan
suhu. Salah satu dampak dari hal tersebut adalah terjadinya badai gurun (sand storm atau
orang arab menyebutnya haboob) yang membawa banyak material pasir di daerah
pemukiman maupun areal pertanian. Tentu saja hal tersebut sangat menghambat
pelaksanaan kegiatan pertanian. Adapun alternatif untuk mengatasi hal tersebut adalah
dengan menggunakan tanaman pohon sebagai pemecah laju kecepatan angina (wind
breaker). Aplikasi penanaman pohon sebagai wind breaker di areal pertanian lahan kering
biasanya ditanam mengelilingi areal pertanian. Adapun berikut ini merupakan contoh desain
lahan pertanian lahan kering yang terdapat di Negara Timur Tengah.

Nutrisi
Dengan mengambil analogi manusia, nutrisi sebagai makanan bagi tanaman itu
diumpamakan seperti adanya karbohidrat, lemak, protein, dan vitamin bagi manusia. Namun
bagi tanaman membutuhkan nutrisi makro (N, P, K, Ca, Mg, S) dan mikro (Fe, Mn, B, Mo,
Cu, Zn dan Cl). Tingginya kadar garam di tanah pertanian lahan kering mengakibatkan
unsur-unsur nutrisi yang diperlukan tanaman tersebut tidak tersedia dalam jumlah yang
cukup, karena garam sifatnya mereduksi unsur-unsur makro dan membuat unsur-unsur
mikro bersifat toksit atau beracun bagi tanaman. Untuk mengatasi hal tersebut, maka
dibutuhkan pemupukan organik terpadu yang menyediakan unsur hara tanaman dari bahanbahan alam untuk mereduksi kandungan unsur logam dari pupuk-pupuk kimia serta
memberikan unsur mikro tanaman dalam bentuk organik (chillate) yang tidak beracun bagi
tanaman di daerah dengan kadar garam yang tinggi.
Contoh Kegiatan Pertanian Lahan Kering di Saudi Arabia
Berikut ini merupakan contoh kegiatan pertanian lahan kering di Hada Al-Syam, Jeddah,
Saudi Arabia yang dilaksanakan pada tahun 2012-2013. Komoditas yang ditanam dalam
contoh pertanian lahan kering ini adalah labu (squash / Cucurbito sp.), atau orang-orang
Indonesia sering menyebutnya dengan waluh sayur atau labu siem.
1. Pengolahan Tanah dan Pemberian Pozzolan
Pengolahan tanah dilakukan dengan bajak traktor yang bertujuan untuk menggemburkan
tanah, agara sirkulasi udara baik.Pozzolan merupakan pengkondisi tanah (soil amendment)
yang sedang dikembangkan untuk diterapkan di bidang pertanian. Kelebihan dari pozzolan
apabila diaplikasikan sebagai soil amendment adalah sifat porositasnya (karena berasal dari
batuan vulkanik dan jenis basalt rock) yang mampu menahan air dalam jumlah yang banyak
serta umur ekonomisnya yang lama, yakni diperkirakan mencapai 20 tahunan bisa berfungsi
baik di tanah.

2. Pemasangan Sistem Irigasi Tetes


Sistem irigasi tetes / drip irrigation sangat cocok diterapkan pada lahan kering yang terdapat
sedikit air dengan topografi yang relatif datar.

3. Pemupukan dengan Sistem Fertigation (Fertilizing and Irrigation)


Fertigasi merupakan sistem pemupukan yang dilakukan bersamaan dengan kegiatan irigasi.
Sistem ini akan efektif dan efisien apabila diterapkan pada sistem irigasi tetes atau sprinkler.
Caranya adalah dengan mengaduk pupuk yang ingin ditambahkan ke dalam air yang siap
diaplikasikan untuk mengairi tanaman.
4. Hasil Panen
Aplikasi menggunakan pozzolan sebagai soil amendment terbukti efektif dalam menghemat
air irigasi dan meningkatkan produktifitas tanaman.