You are on page 1of 22

Laporan Praktikum Bioproses

Immobilisasi Sel & Evaluasi Sel Immobilisasi
Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas praktikum
mata kuliah Bioproses

Dosen Pembimbing :
Disusun oleh
Kelompok 4
Kelas 1 A
M. Faris Medali R.

111424014

M. Irfan R.

111424015

Natasha Yuka F.

111424016

Nindya Farah F.

111424017

Tanggal Praktikum

: 11 April 2012

Tanggal penyerahan

: 2 Mei 2012

D4 TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2012

BAB I
PENDAHULUAN
I.

Tujuan Praktikum

Memahami dan menguasai prosedur penggunaan sel terimmobilisasi dalam proses
fermentasi

Memahami tipe reactor yang tepat untuk sel terimmobilisasi

Memahami karakteristik reaktor batch dan kontinyu yang menggunakan sel
terimmobilisasi

II.

Mengevaluasi kinerja reaktor “Packed Column”

Memahami dan menguasai prosedur pembuatan sel terimmobilisasi

Memahami karakteristik matriks pendukung sel terimmobilisasi

Landasan Teori
2.1

Sel Immobilisasi
Sel terimobilisasi adalah suatu sel yang dilekatkan pada suatu bahan inert dan

tidak larut dalam bahan tersebut, misal dalam sodium alginat atau kalsium alginat.
Dengan sistem ini, sel dapat lebih tahan terhadap perubahan kondisi seperti pH, juga
temperatur. Sistem ini juga membantu sel berada di tempat tertentu selama
berlangsungnya reaksi sehingga memudahkan proses pemisahan dan memungkinkan
untuk dipakai lagi di reaksi lain (Sumo dkk., 1993). Sel/enzim tersebut tetap
mempunyai aktivitasnya sebagai biokatalisator/katalis, serta sel/enzim tersebut dapat
dipergunakan

secara

terus

menerus

dan

sangat

penting

untuk

proses

berkesinambungan.
Immobilisasi sel mikroba dibedakan atas 3 macam yakni:
1. Sel mati: untuk reaksi konversi sederhana (1 tahap)
2. Sel hidup: untuk reaksi konversi yang melibatkan biokatalis heterogen
(multi enzim)/memerlukan ATP atau biokoenzim seperti NADP
atau koenzim A.
3. Sel dalam fase pertumbuhan: keadaan dimana terdapat aktivitas enzim untuk
pertumbuhan.
Imobilisasi dapat dilakukan terhadap sel maupun terhadap enzim. Imobilisasi
enzim dapat dianggap sebagai metode yang merubah enzim dari bentuk larut dalam
air “bergerak” menjadi keadaan “tak begerak” yang tidak larut. Imobilisasi mencegah

antara lain melalui pengikatan kimiawi molekul enzim pada bahan pendukung. pengikatan silang intermolekuler sesama enzim.difusi enzim ke dalam campuran reaksi dan mempermudah memperoleh kembali enzim tersebut dari aliran produk dengan teknik pemisahan padat/cair yang sederhana. Untuk mencegah hambatan tersebut dilakukan penelitianpenelitian. antibiotik atau pada degradasi polutan limbah cair. sehingga pemisahan biokatalis dari produk lebih mudah dan membuat biokatalis lebih stabil (Sumo dkk. Kombinasi konsentrasi sel yang tinggi dan laju alir yang tinggi (tanpa batasan wash out) menghasilkan produktivitas volumetric yang tinggi. 2.. Sel yang mengalami immobilisasi (immoblized mivrobial cells) telah banyak diterapkan dalam fermentasi misalnya produksi alkohol. . Dewasa ini. Immobilisasi mengurangi masalah wash out sel pada laju alir yang tinggi. Dalam teknologi imobilisasi enzim terdapat hambatan pada regenerasi koenzim dan keterbatasan metode yang dapat diterapkan untuk menyusun molekul enzim dalam rangkaian tertentu. atau dengan cara menjebak enzim di dalam gel atau membran polimer (Palmer. pengontrolan perlu dilakukan untuk mencegah inaktivasi dari aktivitas metabolisme yang penting. Immobilisasi memungkinkan penggunaan sel kembali dan mengurangi biaya recovery sel dan recycle sel. sehingga dapat melakukan tahapan reaksi katalitis enzim yang berkesinambungan. Imobilisasi sel berkembang setelah imobilisasi enzim. 2. sehingga terjadi pengembangan pada imobilisasi sel. 4. 1991). Dalam praktiknya. Hal ini memungkinkan untuk melakukan imobilisasi seluruh sel dan menjaga sel tetap hidup (viabel).1 Kelebihan Sel Immobilisasi Kelebihan penggunaan sel immobilisasi dibandingkan dengan sel bebas antara lain sebagai berikut: 1.1. asam amino. yang dapat digunakan sebagai biokatalis. Selain itu. Immobilasi menyediakan konsentrasi sel yang tinggi. 3. teknologi immobilisasi memegang peranan penting dalam perkembangan proses biokimia dalam suatu boreaktor. metode yang digunakan adalah menjebak sel dalam gel dengan adsorpsi. Imobilisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara. 1993).

Biological films digunakan pada pengolahan limbah atau fermentasi mikroba dengan jamur. polyacrylamide.1. 2. silicagel. Untuk sel yang hidup. hal yang perlu diperhatikan adalah . gradient pH untuk sel sehingga menghasilkan kinerja biokatalis yang lebih baik (kecepatan pembentukan dan yield produk yang lebih tinggi). Sebagai matriks dapat digunakan bahan organik maupun anorganik. Matriks pendukung yang bisa digunakan yaitu polimer porous (agar. Polymeric beads harus cukup porous untuk keluar masuknya substrat dan produk. gradient nutrient-produk.5. Immobilisasi menyediakan kondisi micro environmental yang menguntungkan seperti kontak antar sel. porous metal screen. Bila menggunakan metode ini. Immobilisasi Aktif Immobilisasi ini dilakukan dengan dua metoda yaitu metoda penjeratan dan metoda pengikatan. dan metode entrapping (Sa’id. 1987). Metoda penjeratan dilakukan secara fisik dalam matriks pendukung.1. Polymeric beads biasanya dibentuk dengan menggunakan sel hidup di dalamnya.1. dan selulosa triacetate. collagen). Immobilisasi Pasif Berbentuk biological films yang berbentuk lapisan-lapisan koloni sel yang tumbuh dan melekat pada permukaan pendukung yang padat. Pada metode carrier binding. enzim diikatkan pada suatu matriks yang bersifat tidak larut adalam air. polystyrene. ada dua jenis sel immobilisasi yakni: 1. metode cross linking. 7. Immobilisasi menyebabkan kestabilan genetik. 2. 6.2 Kekurangan Sel Immobilisasi Kekurangan penggunaan sel terimobilisasi adalah hambatan pada proses difusi baik substrat maupun produk yang terbentuk. chitosan. Material pendukung dapat bersifat inert atau aktif secara biologis.3 Jenis-Jenis Immobilisasi sel Secara umum. pertumbuhan dan evaluasi gas sering merusak matriks pendukung sel terimmobilisasi. 2. yaitu: metode carrier binding.4 Metode Immobilisasi Beberapa ahli menggolongkan metode imobilisasi dengan tiga kelompok. Immobilisasi menyediakan perlindungan terhadap kerusakan sel. alginate. 2. polyurethane. carragenan. gelatin.

2. Teknik pengikatan enzim pada matriks dapat dilakukan berdasarkan adsorpsi fisik. d. maka metodenya digolongkan ke dalam jenis mikrokapsul (Chibata. 1978).5 Penjerat Atau Pembawa Immobilisasi Sel Karakteristik yang harus dimiliki oleh penjerat/pembawa immobilisai sel. sedang bila ditempatkan dalam membran yang bersifat semipermiabel. Metode penjebakan enzim lebih banyak digunakan karena enzim ada dalam keadaan bebas dan tidak terikat pada bahan pendukung sehinga secara relatif fungsi katalitik dan struktur alami molekul enzim tidak mengalami gangguan goncangan (Wirahadikusumah. Media penjerat berbentuk matrik stabil pada kondisi fermentasi (temperature dan pH optimum). Bila enzim ditempatkan dalam kisi. imobilisasi. c. enzim/sel didasarkan pada penempatan enzim di dalam kisi dari suatu polimer atau di dalam membran yang bersifat semi permiabel. gaya elektrostatik atau ikatan kovalen (Chibata.pemilihan matriks dan pengikatan enzim pada matriks tersebut. b. gugus amino dari lisin. maka metode yang digolongkan adalah jenis kisi. Harga murah dan mudah didapat. 1978). Mudah digunakan serta ukuran dan porositas media penjerat dapat dikontrol. antara lain : a. gugus sulhidril dari sistein dan gugus imidazole dari histidin. Metode cross linking didasarkan pada pembentukan ikatan intermolekuler antara molekul-molekul enzim. Pada metode entrapping. terutama pada skala industri.1. gugus fenolik dari tirosin. Mempunyai sifat mekanik yang stabil. sehingga dapat tahan dalam waktu yanglama dalam reaktor yang digunakan. Gugus fungsional dalam molekul enzim yang biasa digunakan untuk pembentukan ikatan intermolekmuler adalah gugus amino pada asam amino terminal. Selain itu metode imobilisasi dapat digolongkan sebagai berikut :  Adsorpsi  Penjeratan dalam matriks polimer  Penjeratan dalam membran Teknik imobilisasi yang paling baik adalah yang memenuhi kriteria utama tidak terjadi perubahan konformasi enzim dan tidak mengganggu gugus fungsi di pusat aktif enzim sehingga enzim tetap dapat berfungsi. . 1988).

Karakteristik natrium alginat :  Berbentuk serbuk berwarna putih atau kekuningan. bentuk larutan tidak boleh disimpan pada wadah logam. atau airlift reactor. spesifikasi sebagai berikut :  Alginat merupakan koloid ganggang (fikokoloid) yang dapat diekstrak dari ganggang coklat (phasophyceae). 2. berwarna putih pucat sampai coklat kekuningan. Tidak larut dalam alkohol. Variasi mutu natrium algianat ditentukan oleh variasi viscositas. Secara umum susut pengeringan tidak lebih dari 22 %. tidak berbau. dan tidan berasa. dan ammonium alginat. produk.  Garam alginat dapat larut dalam air.  Alginat sebagai hydrophylic polysakarida menyerap uap air dari udara.  Umumnya alginat berbentuk serbuk putih kekuningan dan kadang-kadang dalam bentuk pasta yang merupakan senyawa organik kompleks dengan selulosa atau polisakarida. sedang kalsium alginat tidak larut dalam air. seperti natrium alginat.  Larut lambat dalam air membentuk larutan koloid yang kental. dan metabolisme lain harus dapat berdiffusi secara bebas dengan media penjerat. Penjerat harus inert terhadap mikrorganisme yang akan dijerat.e. Natrium alginat merupakan bahan yang digunakan sebagai penjerat sel. sedikit larut dalam air.  Natrium alginat harus disimpan dalam wadah yang terlindung dari cahaya.2 Reaktor Kolom Beberapa konfigurasi reaktor dapat digunakan untuk system sel terimmobilisasi. Reaktor yang menggunakan produk mekanik dapat . antara 20-400 cp dari larutan 1% pada suhu 20o C. Matriks pendukung sel terimmobilisasi umumnya bersifat rapuh. f. Senyawa alginat dapat dimurnikan sebgai garam natrium alginat dengan alginat atau garam alginat yang lain. fluidized-bed.  Larutan alginat stabil pada pH 4 sampai 10. potassium alginat. karena itu dipilih bioreaktor yang memiliki gesekan hidronamik yang rendah seperti packed-column. terutama anggota laminariates.  Asam alginat adalah suatu getah selaput membran (membrane mucilage).serta larutan air yang mengandung lebih besar dari 30 % alkohol. Substrat. berbentuk asam alginat atau natrium alginat. kloroform dan eter.

2.2.1 Reaktor Sistem Batch dan Continue 2. Gambar 2.digunakan untuk matriks pendukung yang kuat dan liat. Gambar 2. enzim/sel immobil mengalir dari bawah ke atas dengan kecepatan aliran yang cukup tinggi untuk partikel dapat bergerak bebas. Reaktor tersebut dioperasikan dengan cara mengalirkan larutan nutrient melewati sel immobilisasi.2 Fluidized Bed Dalam sistem reaktor ini. Sistem ini bersifat semi kontinyu sebab substrat dapat dikembalikan lagi ke dalam reaktor beberapa kali untuk mendapatkan produk yang diinginkan. 2.2 Fluidized Bed Reactor .1 Reaktor dengan Pengadukan Reaktor dengan pengadukan dapat dilakukan dengan system batch maupun system continue.

selulosa asetat. Di rumah tangga.3 Asam Asetat Asam asetat. setelah asam format. dan polivinil asetat. atau CH3CO2H. maupun berbagai macam serat dan kain. CH3COOH. dan memiliki titik beku 16.2. Dalam industri makanan. Asam asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan baku industri yang penting.2. Asam asetat diproduksi baik secara sintetis maupun alami melalui proses fermentasi. Dari asam asetat yang diproduksi oleh industri kimia. Sisanya dihasilkan melalui metodemetode alternatif. namun kebanyakan hukum yang mengatur bahwa asam asetat yang terdapat dalam cuka haruslah berasal dari proses biologis. 1. kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6. artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-. asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. asam asetat encer juga sering digunakan sebagai pelunak air. 75% diantaranya diproduksi melalui karbonilasi metanol. Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah. Asam asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak berwarna. Asam cuka memiliki rumus empiris C2H4O2.3 Reaktor Kolom Kolom ”Plug-Flow” merupakan reaktor yang digunakan untuk substrat yang viskositasnya rendah dan kelarutannya tinggi untuk mencegah penyumbatan. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena tereftalat. . Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana. asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman. Dalam setahun.5 juta ton per tahun. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH3-COOH.5 juta ton per tahun diperoleh dari hasil daur ulang.7°C. 2. Sekarang hanya 10% dari produksi asam asetat dihasilkan melalui jalur alami. sisanya diperoleh dari industri petrokimia maupun dari sumber hayati.

b. Buret e. Alat dan Bahan A. Bahan a.05 N d. Larutan NaOH 0.III. 150 mL media produksi asam asetat steril untuk uji mikroba Acetobacter aceti dengan komposisi :  Ethanol 9%  Glukosa 2 %  NH4NO3 2 %  KH2PO4 0. Larutan CaCl2 2% dalam 4 labu Erlenmeyer 250 mL 2.02 % c.7H2O 0. Imobilisasi sel Acetobacter aceti.5%  Glukosa 2%  Aquadest d. Erlenmeyer 250 mL b. Imobilisasi Sel 1. Media aktivasi / starter dengan komposisi:  Bacto pepto 2%  Ekstrak ragi 0. b. Spuit (perangkat suntik) steril c. Evaluasi Kinerja Sel Imobilisasi Dalam Reaktor Kolom 1. Pipet Volum . Hot plate B.1 %  MgSO4. Bahan a. Satu tabung biaka murni Acetobactrer aceti berumur 2-4 hari. Alat a. Hot plate d. Ethanol 98% 2. Satu perangkat reaktor packed column b. Pompa peristatik c. Natrium alginat 8% 150 mL e. Alat a. Air garam steril 500 mL c.

Pembuatan Natrium Alginat Timbang natrium alginat sebanyak 12 gram Campurkan dengan aquadest sebanyak 150 mL Aduk hingga megental Pasteurisasi pada suhu 70-80oC selama 10 menit 3. Pembuatan Beads Campurkan media aktivasi dan larutan natrium alginat Suntikkan campuran kedalam larutan CaCl2 untuk membentuk beads Bilas dengan aquadest . Penanaman bakteri pada media aktifasi Pipet 5 mL air garam steril Masukkan dan kocok dalam biakan murni aceetobacter aceti Tuang air garam berisi bakateri dalam 50 mL media aktifasi Inkubasi 3 jam pada suhu 30oC 2. Langkah Kerja A.IV. Imobilisasi Sel 1.

7 1. Data Pengamatan No. Tampung larutan yang diperoleh setiap 5 menit sebanyak 10 kali Titrasi larutan dengan NaOH 0.1 0.7 2.B.7 0. Evaluasi Kinerja Sel Imobilisasi Dalam Reaktor Kolom Rangkai reactor sesuai gambar Sterilkan semua peralatan dengan etanol 98% yang diencerkan dengan perbandingan 1 : 1 Masukkan sel terimobilisasi ke dalam kolom reaktor Tuangkan media produksi asam asetat ke dalam reactor hingga volume 60 mL Atur laju alir recycle media produksi .1 1.9 0.4 1.5 1.3 3.9 1.6 4.6 Volume NaOH 0.05 N setiap 5 menit IV.2 1.8 0.4 37.6 0.2 0. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (menit) 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50(Hari kedua) Volume CH3COOH (ml) 3.05 N (ml) 0.5 1.1 1.3 .

4 ml . N CH3COOH = 1. N CH3COOH = 37.N CH3COOH = VNaOH .05 N N CH3COOH = 0.7 ml .1642 N 4. N CH3COOH = 0.8 ml.Empat puluh menit pertama V CH3COOH.6 ml.V. N NaOH 0.0. N NaOH 0.Tiga puluh lima menit pertama V CH3COOH. N NaOH 3.0833 N 2.Dua puluh menit pertama V CH3COOH.0392 N 9.05 N N CH3COOH =0.4 ml. Pengolahan Data  Penentuan konsentrasi CH3COOH 1.N CH3COOH = VNaOH . N NaOH 1. N CH3COOH = 2. N NaOH 0.N CH3COOH = VNaOH .05 N N CH3COOH =0.2ml .05 N N CH3COOH =0.Lima belas menit pertama V CH3COOH.5 ml.4058 N .Tiga puluh menit pertama V CH3COOH. N CH3COOH = 0. N NaOH 1.3 ml .6 ml. 0.7 ml. N NaOH 4.0117 3.1 ml .0.N CH3COOH = VNaOH .0545 N 10.0032 N 6.7 ml.05 N N CH3COOH = 0.05N N CH3COOH = 0.9 ml. N CH3COOH = 1.05 N N CH3COOH = 0. N CH3COOH = 1.N CH3COOH = VNaOH .N CH3COOH = VNaOH . O. 0.05N N CH3COOH = 0.5 ml .Dua puluh lima menit pertama V CH3COOH.N CH3COOH = VNaOH .1 ml .0.Empat puluh lima menit pertama V CH3COOH.0233 N 8.0157 N 7. N NaOH 0. 0.05N N CH3COOH =0.2833 N 5.6 ml .05 N N CH3COOH = 0.N CH3COOH = VNaOH .Lima menit pertama V CH3COOH.N CH3COOH = VNaOH . N NaOH 1.Konsentrasi CH3COOH sehari setelah praktikum ( T=50) V CH3COOH.9 ml. 0.3 ml .1 ml . N CH3COOH =1. N NaOH 1.Sepuluh menit pertama V CH3COOH.N CH3COOH = VNaOH . N CH3COOH = 0.2 ml . N CH3COOH = 3. 0.0.

45 0.3 0.05 0 0 20 40 Waktu (menit) 60 Konsentrasi( N) .35 0.1 0.25 0.2 0.4 Konsentrasi (N) 0.Grafik Pengolahan Data Grafik Konsentrasi CH3COOH Terhadap Waktu 0.15 0.

KH2PO4.ethanol dan glukosa. Pasterurisasi merupakan suatu bentuk sterilisasi yang bertujuan untuk membunuh mikroorganisme yang tidak diinginkan tanpa merusak komponen komponen yang terdapat dalam natrium alginat. kemudian bakteri Acetobacter aceti diambil dengan cara menggesekkan jarum ose di permukaan saja agar bakteri Acetobacter aceti dapat larut dengan media aktivasi.. setelah dicampurkan lalu disterilisasi. dan natrium alginat 8% dalam 100 ml. tumbuhkan bakteri dengan menginkubasinya dalam inkubator selama 2-3 jam pada suhu 30oC. Saat pembuatan inokulum. Media produksi mempunyai komposisi yang terdiri dari NH4NO3. Pembuatan Media Pertama.PEMBAHASAN  Muhammad Faris Medali Rachman (111424014) Pada praktikum ini. MgSO4. lalu tuangkan ke erlenmeyer. pembuatan media aktifasi untuk bakteri Acetobacter aceti. Setelah . Pembuatan Beads Pembuatan beads dilakukan dengan cara mencampurkan natirum alginat dengan media aktivasi berisi bakteri kemudian dimasukkan CaCl2 dengan cara disuntikkan tetes demi tetes. kami pun membuat air garam steril. Larutan CaCl2 berfungsi untuk menstabilkan beads yang dibuat dan memperkuat dinding bead.7H2O . setiap proses dilakukan secara aseptis. Natrium alginat 8% dalam 150 mL ini dipasteurisasi pada suhu 70-80 oC. Beads yang baik akan berbentuk bulat sempurna. Pembuatan air garam steril hanya membutuhkan aquadest dan garam yang kemudian disterilisasi. pembuatan media produksi. dan dinding beads akan mengeras dalam larutan CaCl2. air garam steril berfungsi untuk mencuci beads yang akan dimasukkan ke dalam reaktor kolom. kami melakukan pembuatan asam asetat dengan menggunakan metoda imobilisasi sel. Hal ini harus dilakukan dengan tujuan agar tidak ada mikroorganisme dari luar yang masuk ke dalam media aktivasi yang dapat mengakibatkan media terkontaminasi. berwarna coklat. Kedua. media aktivasi dari erlenmeyer yang sudah di sterilisasi diambil secukupnya lalu dimasukan ke media kultur murni agar miring yang berisi bakteri Acetobacter aceti. larutan CaCl2. Proses ini harus dilakukan secara aseptis. a. Larutan CaCl2 merupakan larutan yang terdiri dari serbuk garam CaCl2 yang dilarutkan dalam aquadest kemudian disterilkan. Selain pembuatan media diatas. b. Setelah dimasukkan ke dalam media aktivasi. Beads kemudian akan terbentuk dengan sendirinya.

1 ml . 0. Didapat data volume asam asetat yang diperoleh adalah 3.1062 N . laju alir diatur untuk tidak terlalu cepat maupun tidak terlalu lambat tetapi sama dengan laju alir keluaran di bawah reaktor. beads dimasukkan ke dalam reaktor kolom yang sudah dicuci dengan alkohol hingga memenuhi reaktor kurang lebih tigaperempatnya. Dengan melihat grafik ini maka dapat diketahui bahwa semakin lama media produksi dialirkan pada reaktor.9 ml . Sehingga dapat diketahui bahwa volume yang diperoleh semakin sedikit. 0. Adapun reaksi pembentukan asam asetat: CH3CH2OH + O2 CH3COOH +H2O Kemudian asam asetat ini dititrasi dengan NaOH 0.8 ml .6 ml dan 4. c.0833 N . 1.2833 N dan 0. Dari data ini dapat dibuat grafik konsentrasi asam asetat terhadap waktu.9 ml . beads langsung dicuci menggunakan air garam steril kurang lebih tiga kali bilasan sampai beads sudah cukup bersih. 0. 0.4 ml .0392 N .0032 N .0545 N .0157 N . Hal ini sesuai dengan sumber literature bahwa semakin lama nilai pH akan semakin turun karena produksi asam asetat akan semakin tinggi. Lalu diamkan hingga mencapai suhu ruang. 0.05 N.0233 N .semua CaCl2 habis. . 0.4058 N. Kemudian media produksi dimasukkan ke dalam kantong infus dan dialirkan ke dalam reaktor kolom melalui selang infus tetes demi tetes. 1. konsentrasi asam asetat yang diperoleh semakin besar/pekat.7 ml .6 ml. tampung larutan asam asetat yang dperoleh setiap 5 menit sebanyak sembilan kali. 0. 1. 0. Lalu data yang kesepuluh diambil pada hari berikutnya dengan sebelumnya mencampurkan media produksi sisa dicampur dengan larutan yang berada direaktor(mengandung media produksi dan beads). 0.5 ml . 0. Evaluasi Kerja Reaktor Kolom Pertama. Dari rumus mencari pH. 0. √ dari rumus tersebut dapat diketahui bahwa semakin besar konsentrasi asam asetat maka pH yang diperoleh semakin kecil.1ml . 1. Dengan menggunakan persamaan volumetri maka konsentasi asam asetat dapat diketahui yaitu 0. Selang infus diatur laju alirnya. Kedua.1642 N . 0.

 Pembuatan Media Bakteri yang digunakan untuk pembuatan asam asetat ini adalah Acetobacter aceti yang kemudian dimasukkan ke dalam media aktivasi yang sudah disterilisasi. Ketika membuat media produksi. dan etanol. Pasterurisasi merupakan suatu bentuk sterilisasi yang bertujuan untuk membunuh mikroorganisme yang tidak diinginkan tanpa merusak komponen komponen yang terdapat dalam natrium alginat. Metoda ini dapat memberikan keuntungan. yaitu beads. air garam steril. . Pembuatan air steril hanya membutuhkan aquadest yang kemudian disterilisasi. Muhammad Irfan Ramadhian (111424015) Pada praktikum ini. dibuat juga natrium alginat 8% dalam 150 mL yang berbentuk seperti gel atau gelatin.7H2O.Setelah dimasukkan ke dalam media aktivasi.Setelah itu. Selain media-media tersebut. Secara umum media aktivasi berfungsi untuk menumbuhkan Acetobacter aceti yang bertindak sebagai sumber pembuatan asam asetat. MgSO4. menumbuhkan bakteri dengan cara memasukkan media tersebut ke dalam inkubator selama 2-3 jam pada suhu 30oC. lingkungan sekitar tempat kerja harus aseptis agar tidak ada mikroorganisme asing yang masuk ke media. Hal ini dilakukan untuk mencegah terbentuknya karamel dari gula. Media produksi mengandung komposisi NH4NO3. media lain yang dibuat adalah media produksi. Sedangkan larutan CaCl2 merupakan larutan yang terdiri dari serbuk garam CaCl2 yang dilarutkan dalam aquadest kemudian disterilkan.larutan CaCl2 yang telah dibuat harus disterilisasi.Larutan CaCl2 berfungsi untuk menstabilkan beads yang dibuat dan memperkuat dinding beads sehingga terbentuk gumpalan bulat kecil. glukosa. media produksi. kami melakukan pembuatan asam asetat dengan menggunakan metoda imobilisasi sel. dan larutan CaCl2.air garam. KH2PO4. Natrium alginat ini kemudian dipasteurisasi pada suhu 70-80 oC selama 10 menit. Sedangkan air garam steril berfungsi untuk mencuci beads yang akan dimasukkan ke dalam reaktor kolom. Selain media aktivasi. Saat memasukkan bakteri. glukosa dimasukkan terakhir.yaitu dapat membentuk sel yang dapat menghasilkan produk dengan tetap berada dalam reaktor dengan jalan membatasi ruang geraknya atau dijerat dalam suatu matriks. .

Beads yang baik akan berbentuk bulat sempurna.2833 N.Data asam asetat yang diperoleh adalah 3. 0.Diamkan hingga mencapai suhu ruang. .Dari data ini dapat dibuat grafik konsentrasi CH3COOH terhadap waktu. Kemudian media produksi dimasukkan ke dalam kantong infus dan dialirkan ke dalam reaktor kolom melalui selang infus tetes demi tetes. dan 4.05 N.8 ml. 0. 0. Pembuatan Beads Pembuatan beads dilakukan dengan cara mencampurkan natirum alginat dengan media aktivasi berisi bakteri kemudian dimasukkan Cacl2 dengan cara disuntikkan ke dalam larutan tetes demi tetes. 0.1ml. Dengan melihat rumus mencari pH [ √ ]. . Hal ini sesuai dengan teori. 1.konsentrasi asam asetat yang diperoleh semakin besar/ pekat. dan 0.Dengan menggunakan persamaan volumetri maka konsentasi asam asetat dapat diketahui yaitu 0. 0. 0.9 ml.semakin lama nilai pH akan semakin turun karena produksi asam asetat akan semakin tinggi.4 ml. 0.Langkah kedua yaitu menampung larutan asam asetat yang dperoleh setiap 5 menit sebanyak sepuluh kali.1642 N.0233 N.dapat diketahui bahwa semakin besar konsentrasi asama asetat maka pH yang diperoleh semakin kecil. Reaksi pembentukan asam asetat: CH3CH2OH + O2 CH3COOH +H2O Kemudian asam asetat ini dititrasi dengan NaOH 0.5 ml.9 ml. dan dinding beads akan mengeras dalam larutan CaCl2.Namun data yang kesepuluh diambil pada hari berikutnya dengan sebelumnya mencampurkan media produksi sisa dicampur dengan larutan yang berada direaktor(mengandung media produksi dan beads).4058 N. 0. Setelah semua CaCl2 habis. 1.7 ml.1062 N.0032 N. 1.  Evaluasi Kerja Reaktor Kolom Langkah pertama beads dimasukkan ke dalam reaktor kolom hingga memenuhi reaktor kurang lebih setengahnya. 0. 0.0833 N.0157 N.6 ml. 1. 0.0392 N.Sehingga dapat diketahui bahwa zat yang diperoleh semakin sedikit.6 ml. berwarna coklat. Beads kemudian akan terbentuk dengan sendirinya.Dengan melihat grafik ini maka dapat diketahui bahwa semakin lama media produksi dialirkan pada reaktor. 0.0545 N.beads langsung dicuci menggunakan air garam steril kurang lebih tiga kali bilasan sampai beads sudah cukup bersih dari larutan Natrium Alginat. Proses ini harus dilakukan secara aseptis.1 ml.

dan larutan CaCl2. Sebenarnya teknik imobilisasi itu ada 4 yaitu sel yang terjerat pada polimer matriks . Tetapi dalam praktik nya kami memasukkan glukosa diawal pembuatan . Media produksi mengandung komposisi NH4NO3. air garam steril. KH2PO4. tetapi dalam praktikum kali ini kita memakai metoda imobilisasi sel yang terjerat pada polimer matriks agar membuat sel pembentuk produk tetap berada dalam reaktor dengan jalan membatasi ruang geraknya atau dijerat dalam suatu matriks. floktulasi . Media inokulasi harus dibuat secara aseptis. Larutan CaCl2 berfungsi untuk menstabilkan beads yang dibuat dan memperkuat dinding beads. Langkah pertama yang kami lakukan adalah pembuatan media . Langkah kerja ini dilakukan secara aseptis untuk menjaga kondisi operasi dan tidak terkontaminasi udara sekitar yang mempengaruhi proses. kami membuat natrium alginat 8gram dalam 100 mL yang berbentuk seperti gel atau gelatin. media lain yang dibuat adalah media produksi. Ketika membuat media produksi. dan membrane sel imobilisasi . Natasha Yuka Fastiana (111424016) Pada praktikum ini. adsorpsi permukaan . glukosa sebagai penyuplai nutrisi yang dibutuhkan selama pertumbuhan bakteri dan sudah disterilisasi dengan cara memasukkan media aktivasi ke dalam media agar miring Acetobacter aceti . Hal ini harus dilakukan dengan tujuan agar tidak ada mikroorganisme dari luar yang masuk ke dalam media aktivasi yang dapat mengakibatkan media terkontaminasi. hal itu mengakibatkan larutan menjadi warna coklat karena glukosa dalam larutan mengalami karamelisasi. glukosa.ekstrak ragi. Pasterurisasi merupakan suatu bentuk sterilisasi yang bertujuan untuk membunuh mikroorganisme yang tidak diinginkan tanpa merusak komponen komponen yang terdapat dalam natrium alginat. Setelah semua komposisi dimasukkan. kami melakukan pembuatan asam asetat dengan menggunakan metoda imobilisasi sel. media produksi yang telah dibuat harus disterilisasi. mulai dari mengambil biakan dalam kultur murni hingga memasukkannya ke dalam media aktivasi. Selain media aktivasi. Natrium alginat ini kemudian dipasteurisasi pada suhu 70-80 oC selama 10 menit. Sedangkan larutan CaCl2 merupakan larutan yang terdiri dari serbuk garam CaCl2 yang dilarutkan dalam aquadest kemudian disterilkan. Sedangkan air garam steril berfungsi untuk mencuci beads yang akan dimasukkan ke dalam reaktor kolom. dan etanol. Secara umum media aktivasi berfungsi untuk menumbuhkan Acetobacter aceti yang akan dibuat matriksnya (dalam bentuk beads) sebagai sumber pembuatan asam asetat. Selain media-media tersebut. Pembuatan air steril hanya membutuhkan aquadest yang dicampur dengan garam kemudian disterilisasi. glukosa dimasukkan terakhir sebelum memasukkan etanol.7H2O. 150 rpm . yaitu beads. . kemudian bakteri diambil dengan menggesekan jarum ose ke dalam agar miring kemudian dikocok dan dituang kembali ke media aktivasi lalu di inokulasi dalam incubator shaker selama 2-3 jam pada suhu 30oC . MgSO4. Media produksi ini berfungsi sebagai laju alir dalam reaktor kolom. Pembuatan air garam steril dan larutan CaCl2 tidak perlu menggunakan teknik khusus. Pembuatan Media Bakteri yang digunakan untuk pembuatan media untuk asam asetat ini adalah Acetobacter aceti yang kemudian dimasukkan ke dalam media aktivasi yang berisi tripton . Etanol dimasukkan paling terakhir untuk mencegah penguapan. Hal ini dilakukan untuk mencegah terbentuknya karamel dari gula.

Setelah semua natrium alginat habis membentuk beads. yang diukur adalah konsentrasi.Alginat merupakan polimer porous alami yang digunakan sebagai matriks pendukung.0117 8.Lima menit pertama N CH3COOH = 0. Beads dimasukkan hingga reaktor kolom tersisa 5-7 cm dari atas kolom. Terlebih dahulu buret untuk titrasi disterilisasi dengan alcohol yang telah diencerkan dengan perbandingan alcohol dan air 1:1 . Saat pengukuran pH. Beads kemudian akan terbentuk dengan sendirinya.0392 N 5. beads dicuci menggunakan air garam steril .Dua puluh lima menit pertama N CH3COOH = 0. Media produksi dimasukkan ke dalam kantong infus dan dialirkan ke dalam reaktor kolom melalui selang infus. Kemudian ukur laju alirnya. Beads berwarna coklat.Empat puluh menit pertama N CH3COOH =0. Selang infus diatur laju alirnya dengan pompa peristaltic. Pembuatan Beads Pembuatan beads dilakukan dengan cara mencampurkan natrium alginate dan media aktivasi . Proses ini harus dilakukan secara aseptis dan semua alat yang digunakan harus disterilisasi terlebih dahulu.Dua puluh menit pertama N CH3COOH = 0. kami menggunakan metode titrasi dengan NaOH . pH dan volume sampel. Hasil titrasi yang kami dapatkan sedikit tidak teliti karena analit yang digunakan sangat sedikit .0833 N 7.0233 N 4.Tiga puluh lima menit pertama N CH3COOH =0. Setelah dicampurkan kemudian disuntikkan secara perlahan agar bentuknya menjadi bulat sempurna ke dalam larutan CaCl2 .0545 N 6. dan dinding beads akan mengeras dalam larutan CaCl2.0157 N 3. Dari hasil perhitungan konsentrasi asam asetat yang kami dapatkan adalah sebagai berikut 1.1642 N . Beads yang akan dibentuk harus cukup porous untuk memudahkan keluar masuknya substrat dan produk. Cuci beads kurang lebih tiga kali bilasan sampai beads sudah cukup bersih dari larutan CaCl2 Evaluasi Kerja Reaktor Kolom Setelah beads dicuci bersih.Lima belas menit pertama N CH3COOH = 0. Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 8 kali dalam selang waktu 5 menit .Sepuluh menit pertama N CH3COOH = 0. beads dimasukkan ke dalam reaktor kolom.Tiga puluh menit pertama N CH3COOH = 0. Lalu kami mengukur konsentrasi analit dengan menggunakan rumus V1N1=V2N2 . tidak sesuai dengan volume titran yang digunakan . Saat pengambilan sampel.0032 N 2.

dibuat grafik konsentrasi terhadap waktu (dalam jam). .Konsentrasi CH3COOH sehari setelah praktikum ( T=50) N CH3COOH =0. Nilai konsentrasi yang diperoleh semakin naik seiring dengan terbentuknya produk.4058 N Berdasarkan data yang diperoleh.9. Berdasarkan grafik tersebut.Empat puluh lima menit pertama N CH3COOH =0.2833 N 10. diperoleh profil kinetika pembentukan produk asam asetat.

 Berdasarkan hasil pengamatan grafik. .KESIMPULAN Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan beberapa hal. semakin lama media produksi dialirkan pada sel immobilisasi maka konsentrasi asam asetat yang diperoleh semakin semakin beasar.konsentrasi berbanding terbalik dengan pH.  Berdasarkan perhitungan.sehingga semakin besar konsentrasi yang diperoleh maka pHnya semakin kecil juga karena produksi asam asetat yag diperoleh semakin banayak juga. diantaranya sebagai berikut:  Imobilisasi sel merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk membuat suatu produk asam lemah seperti asam asetat dengan menggunakan bakteri seperti Acetobacter aceti.

Eleonora. Masyithah. Di dalam Wiseman. Totowa. Research and Development. New York: Ellis Horwood. Di dalam: J. Zuhrina. Lipase immobilized by diffferent terchiques in various support material applied in oil hydrolisis. 2005. A. Swaisgood. 1988. Tokyo. Kodansha Ltd. University St Cyril and Methodious. Teknik Amobilisasi Enzim Dalam Bidang Pengobatan. Vilma. HE. Acta Pharm Indon 13:32-42. J. 2007. Cough D MP. Ed ke-3. Media Publikasi Karya Ilmiah Teknik Kimia. 3rd Ed. ISSN 1412-7814 Minovska.) Handbook of Enzyme Biotechnology.. Humana Press.. Pemodelan Numerik Reaksi Enzimatik Imobilisasi.Winkelhausen. Oxford: IRL Pr. 1995. Kierstan MPJ. . Immobilized Enzymes. Slobodan. Wirahadikusumah M. XL Huang and MK Walsh. 1991. Faculty of Technology and Metalurgy. Kennedy. I..F. dan Kuzmanova. 367pp. Immobilization of Enzymes and Cells.. UK... London. Understanding Enzymes. Palmer T. 1978. Principles of immobilization of enzymes. New Jersey.. Elis Hardwood. Woodward (ed). Immobilisation of cells and enzymes by gel entrapment. (Ed.. In Bickerstaff GF (Ed). Immobilization of enzymes by selective adsorption on biotinylaminopropyl celite or glass. Immobilised Cells and Enzymes. 1997. 1985. A Practical Approach.DAFTAR PUSTAKA Chibata.