You are on page 1of 3

World Trade Organization (WTO) dan World Intellectual Property Organization (WIPO

)
sama-sama berkedudukan di Jenewa, Swiss. Dua organisasi ini bisa dibedakan, namun tak
mungkin dipisahkan. Lebih-lebih bila dikaitkan dengan perjanjian Trade Related Aspects
of Intellectual Property Rights (TRIPs).
sebagai pusat organisasi perdagangan dunia, WTO yang didirikan tahun 1995, mengharuskan
setiap negara anggotanya mematuhi tiga prinsip dasar perdagangan, yakni, nondiskriminasi
terhadap semua mitra dagang (most favoured nation), kewajiban untuk memberi perlakuan sama
terhadap setiap negara anggota atas barang impor dan lokal di pasar domestik (national
treatment), serta adanya transparansi kebijakan setiap negara anggota dalam perdagangan.
Struktur dasar perjanjian WTO meliputi bidang jasa (goods) yang termaktub dalam General
Agreement on Tariff and Trade (GATT), jasa (services) yang diatur dalam General Agreement
on Trade and Services (GATS), kepemilikan intelektual tertuang dalam Trade Related Aspects of
Intellectual Property Rights (TRIPs) dan yang terakhir soal penyelesaian sengketa (dispute
settlements).
Kelindan WTO-WIPO akan mengental jika dikaitkan kepemilikan intelektual. Secara khusus,
Konvensi Bern dan Paris menjadi pijakan WIPO dalam bidang kepemilikan intelektual. Sebagai
anggota WTO, Indonesia pun tak bisa melepaskan diri dari WIPO.
Dalam skala makro, WIPO yang didirikan tahun 1967 ini punya kewenangan mengawasi
dipatuhinya ketentuan Konvensi Bern guna melindungi hak cipta (copyrights) antara lain, karya
sastra dan seni serta berlakunya Konvensi Paris untuk melindungi berbagai wujud dari hak
kekayaan industri.
Hak kepemilikan intelektual di Indonesia populer dengan istilah hak kekayaan intelektual (HKI),
terdiri dari, hak cipta (copyright) ketentuannya merujuk pada Konvensi Bern dan hak kekayaan
industrial masing-masing, paten (patent), merek (trademark), desain industri (industrial design),
rahasia dagang (trade secret), desain tata letak sirkuit terpadu (design of circuit layout), dan
perlindungan varietas Tanaman, regulasinya merujuk ketentuan Konvensi Paris.
Indonesia sudah meratifikasi ketentuan Konvensi Bern melalui Undang-Undang (UU) tentang
Hak Cipta, begitu juga ketentuan Konvensi Paris sudah diratifikasi dalam berbagai UU bidang
kekayaan industri tersebut di atas.
Meskipun secara global dan nasional mendapat perlindungan hukum lantaran sarat nilai moral
dan ekonomi tinggi, namun sengketa dan persaingan curang masih saja mewarnai "perdagangan"
dalam bidang HKI.
Penyebabnya tak lain "bolong-bolongnya" regulasi. Contohnya, Undang-Undang (UU) No 15
Tahun 2001 tentang Merek belum sepenuhnya memberikan perlindungan hukum. Itu dibuktikan
Dr Julius Rizaldi SH B Sc MM yang menemukan loopholes dalam UU yang bisa menjadi
stimulus maraknya persaingan curang.

Dari sudut mereknya beda. kreativitas dan inovasi mandul akibat pemalsuan. Contohnya kemasan merek Cemara dan Menara. Apa maksud Anda adanya "loopholes" dalam UU Merek? Undang-Undang No 15 Tahun 2001 tentang Merek belum sepenuhnya memberikan perlindungan hukum. negara pun akan kehilangan pemasukan melalui pajak dan konsumen pun tidak terlindungi. di situ akan terlihat ada kesamaan kemasan dan tidak terdaftar. . Nah. sedangkan Indonesia belum.Seperti apa "lubang hukum" itu? Berikut petikan wawancara SP di Bandung. setelah Julius berhasil mempertahankan disertasinya berjudul. Perlindungan Kemasan Produk Merek Terkenal Terhadap Persaingan Curang di Indonesia Dikaitkan dengan UndangUndang Merek dan Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs)-World Trade Organization (WTO) di Universitas Padjadjaran. Dalam kasus Cemara melawan Menara. Jawa Barat. Selain investor dirugikan. Padahal tingkat kerugian akibat pengelabuan itu multiaspek. investor dalam negeri tidak bertumbuh. Apakah merek-merek terkenal itu kebanyakan dari luar negeri? Tidak! Indonesia pun banyak memiliki merek terkenal yang kemasannya tidak terdaftar. Apa maksud Anda dengan persaingan curang melalui kemasan? Persaingan curang bisa pidana bisa perdata. Investor asing bisa dipastikan ogah masuk ke Indonesia. Celah hukum ini tentu saja melemahkan aspek melindungi dalam sebuah UU. Contohnya. angka-angka. Hak itu bisa kita lihat dari soal pendaftaran merek yang belum mengatur pendaftaran merek dalam bentuk tiga dimensi termasuk kemasannya. Jumat (6/2). huruf-huruf. Nah. susunan warna atau kombinasi sebagai unsur pembeda antara merek yang satu dan merek yang lain. Cemara dan Menara kan beda. aspek keseluruhan dan kemasan tidak dipertimbangkan. Bagi pelaku bisnis yang nakal. Hal ini bisa menjadi celah hukum. kemasannya sama. seperti saat produk itu menjadi sponsor kegiatan olahraga internasional. serta kata. Coca Cola mereknya terdaftar. Kelemahan aturan undang-undang ini membuka peluang terjadinya persaingan curang dalam perdagangan. Namun. Akibatnya. berkaitan dengan kemasan ini di luar negeri sudah ada pengaturan tentang kemasan dan persaingan curang. Sementara itu. Dan kita belum punya UU tentang persaingan curang. terutama terhadap kemasan produk merek terkenal. Kepastian hukum melemah. Pemeriksa merek hanya terpaku pada merek kata sesuai dengan pengertian merek dalam Pasal 1 Ayat (1) UU tentang Merek. Ini menjadi kendala kita untuk memberantas pemalsuan dan pengelabuan merek melalui kemasan. Kemasannya sering berubah-ubah. Mencermati persamaan kemasan merek terkenal yang tidak terdaftar terkait unsur persaingan curang. tapi banyak kemasannya yang tidak terdaftar. Persaingan curang adalah perilaku buruk seseorang atau institusi untuk mengambil keuntungan melalui pengelabuan dan penyesatan konsumen atas merek terkenal. Merek yang dapat diterima pendaftarannya hanya berupa gambar. nama. celah hukum ini bisa menjadi cara untuk memalsukan merek dengan maksud menyesatkan konsumen. itulah penelitian saya.

Wajibkah Indonesia memiliki UU Anti Persaingan Curang? Indonesia kan anggota WTO.Lalu apa yang harus dilakukan? Minimal kita harus memperbaiki UU tentang Merek. [SP/Pandapotan Simorangkir] . Sengketa diselesaikan menurut ketentuan UU tentang Merek dengan ketentuan persaingan curang yang sumir. Indonesia bisa terkena sanksi retaliation. Harusnya bukan ketentuan itu. UU tentang Merek sebaiknya segera diubah dan mengatur tentang anti-persaingan curang yang mengacu pada ketentuan Konvensi Paris. Ini sangat merugikan Indonesia. sudah semestinya kita menerapkan ketentuan Pasal 10 bis Konvensi Paris agar perlindungan kemasan merek terkenal efektif dan persaingan curang tidak merajalela. Dari aspek penegak hukum apa pentingnya UU Anti Persaingan Curang ini? Setiap putusan pengadilan terkait gugatan tentang kemasan menjadi tidak efektif. Untuk saat ini. tapi anti-persaingan curang. dijatuhkannya sanksi ekonomi seperti melarang impor ataupun dikenakan bea tinggi terhadap barang-barang impor. Idealnya ada pengaturan anti persaingan curang di bidang HKI. Kita mesti mematuhi prinsip-prinsip dasar perdagangan multilateral. Dan pemerintah harus segera menerbitkan UU anti persaingan curang. Sebab bila tidak. karena diputuskan melalui ketentuan tentang persamaan pada pokoknya.