You are on page 1of 4

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Ruangan operasi merupakan ruangan dimana tindakan pembedahan dilakukan.
Ketika pembedahan berlangsung, organ-organ dalam pasien pembedahan terbuka
dan terpapar dengan lingkungan ruangan operasi. Lingkungan ruangan operasi yang
tidak dikondisikan dengan hati-hati dapat membahayakan pasien pembedahan yang
kondisinya jauh lebih rentan dibandingkan pasien lainnya dan dimungkinkan
muncul penyakit lain diluar penyakit yang dideritanya setelah operasi [1]. Terdapat
beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengondisikan ruangan operasi
sehingga kondisinya tidak membahayakan pasien pembedahan, salah satunya
adalah dengan mengondisikan udara di dalam ruangan operasi.
Sistem pengondisian udara ruangan merupakan sistem yang memanipulasi kondisi
udara di dalam ruangan sehingga memenuhi kriteria kenyamanan termal seperti
suhu dan kelembaban nisbi. Tetapi pada kasus ruangan operasi, kriteria mutu udara
seperti tingkat kebersihan, kesegaran, dan kesehatan udara juga dikondisikan pada
sistem pengondisian udara. Suhu dan kelembaban nisbi udara ruangan dapat
dikondisikan menggunakan komponen pengolahan udara konvensional seperti koil
pendingin dan koil pemanas, tetapi untuk pengondisian mutu udara terdapat
komponen lainnya yang harus ditambahkan.
Agar mutu udara terjaga, sistem pengondisian udara ruangan harus memiliki filter,
menerapkan air change per hour (ACH) dengan nilai tertentu, tidak
menyirkulasikan kembali udara yang telah di gunakan di ruangan, dan dirancang
sehingga ruangan memiliki tekanan yang relatif positif terhadap ruangan sekitarnya
[2]. Filter digunakan untuk menapis kontaminan yang ada pada udara masukan.
Filter yang digunakan pada umumnya adalah filter berefisiensi tinggi yang biasa
disebut filter High Efficiency Particulate Air (HEPA). Penerapan ACH
dimaksudkan agar terjadi sirkulasi udara sehingga udara yang telah terkontaminasi

1

perlu diketahui standar acuan yang tepat terkait perancangan ruangan operasi tersebut. kelembaban. Kemudian informasi beban termal tersebut digunakan untuk menentukan rincian spesifikasi komponen pengondisian udara yang digunakan serta untuk mengembangkan model matematik yang merepresentasikan kondisi termal ruangan yang terancang. 3. 4. Tujuan penelitian Tujuan dilakukannya penelitian tugas akhir ini adalah: 1. and Air Conditioning Engineers) dan Kementerian Kesehatan RI. 1. Mengembangkan model matematik untuk simulasi respon transien suhu. Kondisi termal yang dimodelkan meliputi suhu.di dalam ruangan selalu tergantikan dengan udara masukkan yang telah dikondisikan.3. dihitung beban-beban termal yang mungkin terjadi di dalam ruangan operasi. Menentukan proses pengondisian udara ruangan operasi. kelembaban. 2.4. Perumusan masalah Pada penelitian ini. Kajian pengondisian udara yang dilakukan menggunakan karta psikrometrik. 2 . 1. dilakukan pembahasan mengenai perancangan suatu ruangan yang tepat untuk dijadikan ruangan operasi. dan tekanan udara ruangan. Refrigerating. Untuk melakukannya. Memperkirakan spesifikasi komponen pengondisian udara yang digunakan. Ruang lingkup Ruang lingkup yang dibahas pada penelitian ini mencakup: 1. Setelah ruangan operasi dirancang. dan tekanan ruangan. Kriteria konstruksi dan kondisi termal udara ruangan operasi yang dirancang berdasarkan kriteria yang diberikan oleh ASHRAE (American Society of Heating. 2. 1.2. Merancang ruangan operasi yang memenuhi kriteria konstruksi dan termal berdasarkan standar yang ada.

6. ruang bersih sebagai ruangan operasi. 3.6. 1. khususnya ruangan operasi. Studi literatur mengenai kriteria konstruksi dan kondisi termal ruang bersih. Studi literatur mengenai proses pengondisian udara menggunakan karta psikrometrik.5. Mengembangkan model matematik kondisi termal untuk ruangan operasi yang terancang. batasan masalah. dan sistematika pembahasan laporan tugas akhir. 2. 1. Melakukan perhitungan untuk memperkirakan spesifikasi komponen pengondisian udara yang digunakan pada sistem. 5. Sistem pengondisian udara dan model matematik sistem yang dirancang bersifat teoritik dengan spesifikasi komponen yang dirancang hanya untuk ruangan operasi terancang. permasalahan. 4. beserta perihal penunjang lainnya. berisi penjelasan mengenai ruang bersih. ruang lingkup.3. 3 . BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. pemodelan matematik kondisi termal. Metode penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam perancangan sistem pengondisian udara serta pengembangan model matematik pada ruangan operasi adalah sebagai berikut: 1. Mengenali proses pengolahan udara yang terjadi pada setiap komponen yang terdapat pada sistem pengondisian udara. Menyimulasikan model matematik yang telah dikembangkan menggunakan MATLAB untuk diketahui respon transiennya. Sistematika penulisan Tugas akhir ini tersusun dari lima bab yang masing-masing babnya berisi: BAB 1 PENDAHULUAN. berisi uraian mengenai latar belakang. tujuan penelitian.

BAB 4 PERHITUNGAN DAN ANALISIS SISTEM TATA UDARA. dan pengembangan persamaan matematik untuk mendapatkan respon transien parameter termal ruangan operasi. berisi perhitungan sekaligus analisis mengenai pencapaian kondisi termal ruangan operasi agar sama dengan kriteria yang diinginkan. BAB 5 RANGKUMAN.BAB 3 PERANCANGAN SISTEM RUANGAN OPERASI. pemilihan spesifikasi komponen pengondisian udara yang dibutuhkan. berisi kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian tugas akhir beserta saran untuk penelitian lebih lanjut. berisi uraian mengenai ruangan operasi yang akan dirancang yang melingkupi kriteria kondisi termal ruangan operasi yang diingingkan. metode yang digunakan untuk mencapai kriteria tersebut. serta hasil simulasi kondisi termal ruangan operasi berdasarkan model matematik yang telah dikembangkan. 4 .