You are on page 1of 23

BAB 9

MANAJEMEN PIUTANG DAGANG
9.1. Pendahuluan
Persaingan yang semakin tajam akan memaksa perusahaan untuk berlomba
memberikan kemudahan dalam persyaratan penjualan. Hal ini dapat dilakukan
misalnya semula melakukan penjualan secara tunai kemudian dirubah menjadi
penjualan secara kredit. Dengan demikian akan timbul piutang. Semakin longagar
persyaratan kredit yang diberikan tentunya dengan asumsi langganan tidak mengubah
kebiasaan membayarnya maka semakin besar jumlah piutang yang dimiliki.
Perusahaan

melakukan

penjualan

secara

kredit,

dimaksudkan

untuk

meningkaatkan penjualannya atau untuk mencegah penurunan penjualan. Dengan
semakin meningkatnya penjualan maka semakin besar harapan untuk memperoleh
keuntungan. Namun demikian memilik piutang juga menimbulkan biaya bagi
perusahaan. Penentuan kebijakan kredit yang optimal memerlukan perhitungan yang
cermat yang menyangkut tambahan biaya dan tambahan keuntungan pada berbagai
kebijakan kredit. Selain itu tujuan manajemen piutanng juga harus konsisten
memaksimalisasi kemakmuran pemegang saham. Perusahaan dapat mengingkatkan
investasi pada piutang sepanjang tambahan keuntungan yang ditimbulkannya lebih
besar dari pada tambahan biaya pada investasi piutang tersebut.
9.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Besarnya Investasi dalam Piutang Dagang
a. Volume Penjualan Kredit
Volume penjualan kredit semakin besar akan meningkatkan jumlah investasi pada
piutang, demikian sebaliknya semakin kecil veolume penjualan kredit maka jumlah
investasi pada piutang semakin kecil.
b. Syarat Pembayaran Penjualan Kredit
Perusahaan dalam melakukan penjualan kredit tentu akan menentukan syarat
pembayaran, yang menyangkut jangka waktu pelunasan yang garus dilakukan.
Semakin lama jangka waktu pelunasan akan dapat meningkatkan jumlah investasi
pada piutang, demikian sebaliknya semakin pendek jangka waktu pelunasan yang
harus dilakukan maka jumlah investasi pada piutang semakin kecil.
c. Ketentuan Tentang Pembatasan Kredit

1

Batas Jumlah kredit yang diberikan kepada pelanggan akan dapat mempengaruhi
jumlah investasi pada piutang. Semakin besar batas jumlah kredit yang diberikan
kepada pelanggan, dapat meningkatkan jumlah investasi perusahaan pada piutang,
demikian sebaliknya, semakin kecil batas jumlah kredit yang dibeikan kepada
pelanggan, dapat menurunkan jumlah investasi perusahaan pada piutang.
d. Kebijaksanaan dalam Mengumpulkan Pituang
Untuk memperkecil jumlah investasi pada pituang, kadang-kadangperusahaan
melakukan sistem pengumpulan piutang secara aktif dengan mempekerjakan debt
collector. Namun perlu diperhatikan seberapa besar manfaat yang

diperoleh

dibangingkan dengan biaya yang dikeluarkan sebagai akibat biaya yang muncul
dengan adanya debt collector tersebut.
e. Kebiasaan Membayar dari para Langganan
Apabila kebiasaan para langganan membayar mendahului atau tepat pada waktu jatuh
tempo, maka jumlah investasi pada piutang akan semakin kecil dibandingkan bila
kebiasaan para langganan membayar melewati batas waktu jatuh tempo.
9.3. Standar Kredit
Manajemen kebijakan piutang terdiri dari standar kredit dan persyaratan
kredit. Standar kredit adalah suatu kriteria yang dipakai perusahaan untuk menyeleksi
para langganan yang akan diberikan kredit dan berapa jumlah yang harus diberikan. Hal
ini menyangkut kebiasaan para langganan dalam membayar kembali, kemungkinan
langganan tidak membayar kredit yang diberikan dan rata-rata jangka waktu pembayaran
para langganannya. Jangka waktu pengumpulan puitang adalah jangka wakttu dari saat
terjadinya pituang sampai dengan pembayaran kembali piutang tersebut. Semakin lama
jangka waktu pengumpulan piutang semakin besar investasi pada piutang dan biaya yang
timbul semakin besar. Disamping itu kenaikan investasi pada piutang juga menimbulkan
piutang tidak tertagih atau bed-debt. Perusahaan dapat memperkirakan bed-debt dengan
memperhatikan kebiasaan pada masa lampau. Dalam lemakukan perubahan penjualan
dari tunai menjadi kredit diharapkan dapat meningkatkan penjualan. Hal ini dapat
dilakukan dengan asumsi :

2

75 = 23.5 Rata2 hari pengump.5 juta – Rp 120 juta) Rp 37. Profit margin yang diperoleh 15%. apakah perusahaan perlu beralih ke penjulan kredit? Jawab : Tunai n/60 Penjualan (juta rupiah) 800 (juta rupiah) 1. perusahaan mempertimbangkan penjualan kredit dengan syarat n/60.050 Keuntungan 15% 120 157. berikut diberikan contoh aplikasinya.80 juta Piutang tak tertagih Rp 10.5 juta Pengorbanan : Biaya Modal Rp 23.050 = 10.5 Tambahan keuntungan (Rp 157.75 Biaya Modal 16% 0 16% x 148. Masih mempunyai kapasitas produksi yang cukup sehingga dapat memproduksi tambahan output.80 Piutang tak tertagih Manfaat : 0 1% x 1. Contoh 1 PT TRI WISTA suatu perusahaan dagang selama ini menjual tunai dengan penjualan yang dicapai Rp 800 juta.20 juta Kesimpulan 3 .  Tidak ada perubahan dalam investasi persediaan sebagai akibar perubahan kebijakan kredit.050 juta.050 : 6 =175 Investasi pada piutang 0 85% x 175 = 148. Penjualan diperkirakan mencapai Rp 1.30 juta) Rp 3.50 juta Jumlah Manfaat Bersih : (Rp 34. Gambaran tentang perubahan standar kredit pada suatu pesusahaa. Untuk meningkatkan penjualan. piutang 0 60 hari Perputaran piutang 0 360 : 60 = 6x Rata-rata piutang 0 1. Kemungkinan piutang tak tertagih 1%. Kalau biaya modal 16%.

Apakah perusahaan akan mengubah kebijakan kredit? n/60 2/30 n. b. Piutang tak tertagih tetap 1%. hal ini tentu harus dilihat juga pada keuntungan yang nantinya akan didapatkan. Tingkat perputaran piutang yaitu jumlah hari dalam satu tahun dibagi dengan jangka waktu kredit. 9. Jumlah investasi pada piutang yaitu penjualan kredit dibagi dengan tingkat perputaran piutang. dengan manfaat bersih sebesar Rp 3. apabila pembayaran dilakukan dalam jangka waktu sampai 10 hari maka akan mendapat diskon 6%. Maka kebijakan penjualan kredit patut dicoba.Oleh karena ada manfaat yang positif dari kebijakan penjualan kredit yang telah direncanakan yang sebelumnya perusahaan menggunakan sistem penjualan tunai. Contoh perubahan persyaratan kredit pada perusahaan. Rata-rata pengumpulan piutang misalnya 60 hari hal ini sama dengan jangka waktu kredit. Contohnya persyaratan kredit net 30 hari untuk pembayaran utang kepada perusahaan tanpa diskon atau persyaratan kredit 6/10 net 60 artinya pelanggan memiliki tenggang waktu pembayaran 60 hari.20 juta. c.150 juta.60 4 . 50% pelanggan diperkirakan memanfaatkan diskon.60. Kondisi ini meliputi lamanya waktu pemberian kredit dan potongan tunai atau cash discount serta persyaratan khusus lainnya seperti seasonal dating. Persyaratn kredit ini juga mempengaruhi tingkat penjualan. oleh karena itu perlu dipertimbangkan apakah sebaiknya memperpanjang periode pemberian kredit atau tidak dan apakah perlu memberikan potongan.4 Persyaratan Kredit Persyaratan kredit atau credit term merupakan kondisi yang disyaratkan untuk pembayaran kembali piutang dari para pelanggan. PT TRI WISTAmempertimbangkan perubahan kebijakan penjualan dari n/60 menjadi 2/30 n. penjualan diperkirakan meningkat menjadi Rp 1. Dalam menentukan besarnya investasi pada piutang perlu diketahui beberapa hal sebagai berikut : a. Besarnya potongan yang diberikan menentukan berapa banyak kredit yang akan dibayarkan nantinya.

050 157. Risiko piutang adalah risiko tidak terbayarnya piutang yang telah diberikan kepada para langganan Untuk memperkecil risikonya ada beberapa hal yang harus diperhatikan.5 juta) Rp 15 juta Penghematan biaya modal Rp 23.5 60 hari 50%(30)+50%(60)=45 hari 360 : 60 = 6x 1.80 1% x 1. 9.75 = 23.50 Manfaat : Tambahan keuntungan (Rp 172.55 juta Rp 4.25 juta Pengorbanan : Biaya diskon Rp 11.5 0 360 : 45 = 8x 1.5 juta Manfaat bersih Rp 6.150 = 11. Pelafon dari dapat kredit.Penjualan Keuntungan 15% Rata2 hari pengumpulan piutang Perputaran piutang Rata-rata piutang Investasi pada piutang Biaya modal 16% Piutang tak tertagih 1% Biaya diskon (juta rupiah) 1. yaitu : a.75 juta Kesimpulan Dengan adanya perubahan persyaratan kredit tersebut perusahaan memperoleh tambahan keuntungan yang lebih besar sehingga kebijakan kredit tersebut dapat dibenarkan.050 = 10.19 16% x 122.80 juta – Rp 19. 5 .150 : 8 = 143.75 = 122. Makin kecil perusahaan menyediakan dana untuk mendukung kebijakan kredit maka akan makin kecil risiko yang akan dihadapi perusahaan untuk penjualan kredit.150 172.150 = 11.5 Memperkecil Risiko Piutang Kegagalan atau keberhasilan perusahaan tergantung pada permintaan atas produknya.75 16% x 148. makin tinggi penjualannya makin sehat perusahaan itu dan makin besar kemungkinan keuntungannya.25 juta Jumlah Rp 19.50 50% x 2% x 1.5 juta Tambahan kerugian Rp 1 juta Jumlah Rp 12.75 85% x 143.19 1% x 1.050 : 6 = 175 85% x 175 = 148.5 (juta rupiah) 1.5 juta – Rp 157.

 Kapital. Diskon akan mendorong atau merangsang para pembeli untuk melakukan pembelian tunai sehingga makin kecil risiko piutang yang dihadapi perusahaan. diantaranya :  Karakter. e. dalam hal ini manajer kredit perlu memerhatikan kemampuan pelanggan dalam mengelola bisnisnya yang mana bisa dilihat melalui laporan keuangan dimasa lalu dan metode yang digunakan dalam menjalankan usahanya. Sehingga makin kecil terjadi risiko piutang tak tertagih. Bila pelanggan baru. Dalam hal ini manajer kredit perlu memerhatikan modal yang dimiliki pelanggan. dalam hal ini manajer kredit perlu memerhatikan jaminan yang diberikan oleh pelanggan untuk memperoleh kredit dan menutup kerugian apabila pelanggan tidak bisa melanjutkan angsurannya. c. Makin pendek jangka waktu kredit maka makin cepat dana yang tertanam pada piutang menjadi kas. Melakukan seleksi terhadap para pelanggan yang akan diberikan kredit. maka dapat dilihat pada track record yang ada dikartu piutang. 6 . dalam hal ini manajer kredit perlu memerhatikan apakah perusahaan pelanggan tersebut rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi. Kebijakan penagihan. atau sering disebut modal. Penekanannya pada risiko – rasio utang terhadap seluruh aktiva baik aktiva tetap maupun lancar dan rasio kemampuan membayar bunga. dalam hal ini manajer kredit harus memerhatikan karakter dari si pelanggan. d.  Kolateral. Hal ini bisa dilihat pada pos equity dalam laporan keuangan pelanggan.  Kapasitas.  Keadaan.b. baik makro maupun lini bisnis pelanggan. Periode kredit. Apabila perusahaan melakukan penagihan secara intensif maka kemungkinan tidak tertagihnya piutang bias diminimalisir sehingga risiko piutang akan semakin kecil juga. Apabila pelanggan lama. maka dapat ditanyakan pada mitra usahanya dan referensi pihak lain yang menjamin. Pemberian diskon. Biasanya menggunakan metode 5K. Semakin baik karakter pelanggan maka akan kecil risiko tidak terbayarnya piutang. Makin tepat analisa yang dibuat makin kecil risiko tidak terbayarnya piutang.

BAB 10 MANAJEMEN PERSEDIAAN 10.1 Pendahuluan 7 .

stempel. Dengan demikian. mengasumsikan bahwa persediaan yang pertama masuk diganti dengan persediaan yang baru. 8 . Namun persediaan yang besar itu juga membawa konsekuensi berupa biaya yang timbul untuk mempertahankan persediaan itu. persediaan barang dalam proses dan persediaan bahan baku. agen penjulan mobil. Persediaan yang cukup bagi perusahaan dapat memenuhi pesanan dengan cepat. alat-alat berat. Ini hanya dimungkinkan kalau jenis usahanya relative mudah diidentifikasi secara jelas. Sedangkan untuk perusahaan manufaktur jenis persediaannya seperti persediaan bahan pembantu. karbon. Sebagai contoh perusahaan jasa persediaan yang biasanya timbul seperti persediaan bahan pembantu atau persediaan habis pakai. Seperti misalnya. Sebaliknya apabila persediaan terlalu besar maka akan mengakibatkan perputaran persediaan yang rendah sehingga profitabilitas perusahaan menurun.Persediaan adalah merupakan elemen utama dari modal kerja. tinta dan lain-lain. Biaya yang berkaitan dengan persediaan itu mencakup biaya pemesanan dan biaya penyimpanan dan required rate of return atas kelebihan investasi pada persediaan. seperti kertas. Metode yang pertama dengan cara mengidentifikasi biaya-biaya yang secara fisik melekat pada persediaan. Bagi perusahaan manufaktur persediaan ini menjadi begitu penting karena kesalahan dalam investasi persediaan akan mengganggu kelancaran operasi perusahaan. Selain itu bahaya yang timbul adalah keusangan atas persediaan. real estate. Jadi besarnya persediaan dapat ditingkatkan sepanjang ada penghematan bersih dengan tambahan persediaan. dan rata-rata tertimbang atau weight average. last in first-out. harga pokok produksi ditentukan oleh persediaan lama dan sebagian persediaan baru. Keseimbangan antara penghematan dan biaya yang timbul sangat tergantung atas tambahan biaya simpan dan pengendalian persediaan yang efisien. Apabila persediaan terlalu kecil maka kegiatan kegiatan operasi besar kemungkinannya mengalami penundaan. dan produk dengan nilai yang tinggi sementara perputarannya rendah. first in first-out.2 Akuntansi Persediaan Terdapat empat metode untuk menentukan persediaan yaitu identifikasi secara spesifik. Dan untuk perusahaan dagang jenis persediaan nya mencakup persediaan barang dagangan dan persediaan bahan penolong. persediaan barang jadi. atau perusahaan beroperasi pada kapasitas rendah. karena jumlahnya cukup besar di dalam perusahaan. Metode kedua fisrt in first-out. 10. Jenis persediaan yang ada dalam perusahaan akan tergantung dari jenis perusahaan.

Jika perusahaan dalam menentukan persediaan menggunakan metode identifikasi spesifik .3 Economical Order Quantity (EOQ)  Definisi Menurut Prof.000.000. maka harga pokok barang yang dijual adalah sebesar Rp 550. 10.Last-in first-out merupakan kebalikan dari first in first-out.00 persediaan akhir adalah sebesar Rp 500.000.000.000.00 dan persediaan akhir adalah Rp 470.00.00 dan persediaan akhir bernilai Rp 580.000.000. Apabila metode rata-rata tertimbang. Agus Ahyadi Economic Order Quantity adalah jumlah pembelian bahan baku yang dapat memberikan minimalnya biaya persediaan.00.000. maka harga pokok barang yang dijual adalah sebesar [3 x (Rp 1. sementara persediaan akhir terdiri atas persediaan yang masuk lebih awal.000.050.  Definisi Menurut Drs. atau sering dikatakan sebagai jumlah pembelian yang optimal.000.000.000. Jika digunakan metode last-in first-out. D dan F. Bambang Rianto Economic Order Quantity adalah jumlah kuantitas barang yang dapat diperoleh dengan biaya minimal. maka harga pokok barang yang dijual adalah sebesar Rp 470. Harga beli masing-masing mobil dalam jutaan rupiah adalah : A B C D F G 160 180 130 180 190 210 Misalkan dalam satu bulan dealer tersebut menjual mobil kijang karoseri B.000. Dapat disimpulkan bahwa EOQ merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengoptimalkan pembelian bahan baku yang dapat menekan biaya-biaya persediaan sehingga efisiensi persediaan bahan dalam perusahaan dapat berjalan dengan baik.00 dan persediaan akhir adalah sebesar Rp 525. 9 . maka harga pokok barang yang dijual adalah Rp 580.00/6)] = Rp 525. Contoh : Satu dealer mobil Toyota memiliki persediaan mobil Toyota yang dibuat pada tahun yang sama hanya berbeda karoserinya.00. Dr.000. menentukan besarnya persediaan dengan cara mengalikan rata-rata tertimbang dengan setiap jenis persediaan. Metode terakhir adalah rata-rata tertimbang.000. Harga pokok produksi ditentukan oleh persediaan yang terakhir masuk.000. Sementara itu jika perusahaan menggunakan metode firstin first-out.00.000.

namun ada beberapa asumsi yang harus diperhatikan. seragam.Penggunaan metode EOQ dapat membantu suatu perusahaan dalam menentukan jumlah unit yang dipesan agar tercapai biaya pemesanan dan biaya persediaan seminimal mungkin. dan diketahui (deterministik)  Harga/unit produk konstan  Biaya simpan/unit/tahun konstan  Biaya pesan/order konstan  Waktu antara pesanan dilakukan dan barang diterima (lead time/L) konstan  Tidak terjadi kekurangan barang/back order Termasuk Biaya Penyimpanan – Carrying Costs  Sewa gudang  Biaya pemeliharaan barang di dalam gudang  Biaya modal yang tertanam dalam inventori  Pajak  Asuransi Termasuk Biaya Pemesanan – Ordering Costs  Biaya selama proses pesanan  Biaya pengiriman permintaan  Biaya penerimaan barang  Biaya penempatan barang ke dalam gudang  Biaya prosesing pembayaran kepada supplier Model Persediaan EOQ: Pendekatan Matematis 10 . Model EOQ ini sangat mudah dan sederhana.yaitu: ASUMSI EOQ :  Permintaan akan produk konstan.

hari) TC = Total biaya persediaan (rupiah/tahun) Hubungan Biaya Pemesanan dan Biaya Penyimpanan • • • • Biaya Pemesanan = Frekuensi pesanan X Biaya pesanan = D/Q . H Nb: Q* adalah jumlah pemesanan yang memberikan biaya total persediaan terendah. H = biaya pemesanan + biaya penyimpanan = D/Q .Notasi: D = Jumlah kebutuhan barang (unit/tahun) S = Biaya pemesanan (rupiah/pesanan) h = Biaya penyimpanan sebagai % terhadap nilai barang C = Harga barang (rupiah/unit) H = h x C = Biaya penyimpanan (rupiah/unit/tahun) Q = Jumlah pemesanan (unit/pesanan) F = Frekuensi pemesanan (kali/tahun) T = Jarak waktu antar tiap pesanan (tahun. S Biaya Penyimpanan = Biaya Total EOQ Q* Persediaan rata-rata X Biaya penyimpanan = Q/2 . 11 . S = 2 D S = Q2 H = (2DS/H)1/2 + Q/2 . S = ( biaya pemesanan = biaya penyimpanan ) = D/Q . H = Q/2 .

Jawab: • Penyelesaian : D =1000 unit/tahun S = Rp 10 / order H = Rp 0.Grafik Persediaan dalam Model EOQ Contoh soal 1: PT.ABC membutuhkan bahan baku sebanyak 1.000 unit per tahun. Berapa jumlah pembelian yang paling optimal? Jika hari kerja pada setahun PT ABC 250 hari. biaya pemesanan Rp10 setiap kali pesan dan biaya penyimpanan Rp0.5 per unit per tahun. tentukan jumlah pemesanan dan waktu antar pemesanan serta biaya totalnya.5/unit/tahun 12 .

Jumlah hari kerja per tahun = 250 hari a.67 Biaya Biaya Biaya total (rupiah) = TC 30 83.34 60 41. Waktu antar pemesanan : T Jumlah hari kerja per tahun 250   50 hari setelah pemesanan sebelumnya Jumlah (kali) pemesanan 5 d.67 83.43 70 35.34 113.S = Q/2.000 500 10 250 = (D/Q.67 7 142.72 166. EOQ (jumlah pemesanan optimal) : 2DS  H Q*  2(1000)(10)  0.34 125 40 62.67 101.33 4 250 5 200 6 166.H 1 1. DS Q*  H Q* 2 200 2 Tabel 1.5)  Rp 100. Total Biaya (TC) : TC  100010  200 (0.5 40.50 100 50 50 100 13 .50 102.H) 260 2 500 250 20 125 145 3 333.S+Q/2.86 71. Contoh Perhitungan EOQ dengan Cara Tabel Frekuensi Jumlah Persediaan pesanan pesanan rata-rata (unit) pemesanan penyimpanan (kali) (unit) = Q/2 (rupiah) (rupiah) =F =Q = D/Q.72 105. Jumlah (kali) pemesanan : F D 1000   5 kali pemesanan per tahun Q* 200 c.000  200 Unit b.

ulangi langkah (2) dan (3) sampai diperoleh EOQ yang fisibel atau perhitungan tidak dapat lagi dilanjutkan. sehingga biaya pembelian barangpun bervariasi.000 unit per tahun. Contoh Soal 2: Toko kamera Rancakbana mempunyai tingkat penjualan kamera model EOS sebanyak 6. 3) Hitung EOQ pada harga terendah berikutnya. Jika fisibel. dan biaya pembelian barang. Pada kasus ini. 5) Bandingkan biaya total dari kuantitas pesanan fisibel yang telah dihitung. hitung biaya totalnya. Kuantitas optimal ialah kuantitas yang mempunyai biaya total terendah.25 111.25 Model Persediaan dengan Diskon Kuantitas Biaya total persediaan dalam model ini merupakan jumlah dari biaya pemesanannya. harga barang bervariasi tergantung dari jumlah setiap pesanan. kuantitas itu merupakan pesanan yang optimal.c  DC Prosedur penyelesaian untuk mencari nilai jumlah pesanan yang paling ekonomis (EOQ) sebagai berikut : 1) Hitung EOQ pada harga terendah. 4) Jika langkah (3) masih tidak memberikan EOQ yang fisibel. hitung biaya total pada kuantitas terendah pada harga itu. Rumus biaya total persediaan : D Q TC = Q S  2 h. Tabel 2 menunjukkan harga barang per unit sesuai dengan jumlah pembelian Tabel 2 Data Harga Barang Toko Rancakbana Jumlah pembelian (unit) < 300 Harga barang (US$/unit) 50 14 .8 125 62. toko itu mengeluarkan biaya US $300 per pesanan. Biaya penyimpanan kamera per unit per tahun sebesar 20% dari nilai barang. biaya penyimpanan.50 80 31. 2) Jika EOQ tidak fisibel. Untuk setiap pengadaan kamera. Jika EOQ fisibel (jumlah yang dibeli sesuai dengan harga yang dipersyaratkan).

5 per unit) : EOQ = √{2(6.400 2) EOQ pada harga berikutnya ($48 per unit) : EOQ = √{2(6.5) = 616 EOQ ini tidak fisibel karena harga $47.C D Q TC = Q S  2 h.000 (47.300 – 499 49 500 – 999 48.5 1.5) = 609 15 .000 47.C  DC 1) EOQ pada harga terendah ($47.5 ialah 2.2(48.000/2)(0.2(48)} = 612 EOQ ini juga tidak fisibel. Biaya total pada kuantitas terendah ialah : TC = (6.5 hanya berlaku untuk pembelian sekurangkurangnya 2.S h.000 unit.000 unit.2 (47. Kuantitas terendah yang fisibel pada harga $47.000 – 1. karena harga $48 berlaku untuk pembelian 1.999 48 ≥ 2.999 unit.000 unit.5)+ 6.5)=295.000)(300) / 0.000 – 1.600 3) EOQ pada harga terendah berikutnya ($48.5 per unit) : EOQ = √{2(6.5 Jumlah pesanan ekonomis dan biaya total dihitung dengan menggunakan rumus berikut : Q* = 2.000)(300) / 0.000)(300) /0.000)(300) + (2.000 unit.000/2. Biaya total pada kuantitas pembelian 1. TC = 294.D. Kuantitas terendah pada harga $48 per unit adalah 1.2)(47.

000. tetapi untuk melakukan pesanan diperlukan waktu 8 hari. maka berarti dalam selama setahun perusahaan harus melakukan pemesanan sebanyak 10 kali pesanan atau perusahaan harus memesan setiap 32 hari. Dalam 1 tahun perusahaan beroperasi selama 320 hari..- 10. 16 .000 unit akan habis untuk diproses selama 32 hari.000 x Rp 10.000) 100 EOQ = 2..000) = Rp 100.000)(1.000.600.Biaya simpan per unit sebesar Rp 100.909 Dari perhitungan di atas. Contoh Soal 3: Kebutuhan bahan selama satu periode adalah 20. Dengan demikian jumlah pesanan yang paling optimal adalah 1. Biaya total pada kuantitas pembelian 609 unit adalah TC= 296.EOQ = 2 RS C EOQ = 2( 20.Harga per unit bahan Rp 1.- Total Biaya = Rp 200.5 per unit berlaku untuk jumlah pembelian sebanyak 609 unit. diketahui biaya total terendah sebesar $294.000.000/2 x Rp 100) = Rp 100.- Biaya Simpan (C) (2.000/2.EOQ ini fisibel. Itu berarti bahwa persediaan sebesar 2.4 Reorder Point dan Safety Stock Reorder Point adalah saat atau titik dimana harus diadakan pesanan lagi sedemikian rupa sehingga kedatangan atau penerimaan bahan baku yang dipesan itu adalah tepat waktu. Dengan demikian prusahaan harus melakukan pemesanan saat persediaan yang ada cukup untuk beroperasi selama waktu menunggu hingga pesanan yang baru tiba atau lead time.000 unit. Misalkan dari contoh 3 kebutuhan akan bahan baku diketahui secara pasti.000.000 unit.000 unit Dengan total biaya yang dikeluarkan adalah: Biaya Pemesanan (S) (20.000. biaya setiap kali pesan adalah Rp 10. karena harga $48.

17 . Berarti pesanan harus dilakukan pada saat persediaan mencapai 500 unit. Andaikan perusahaan menentukan safety stock sebesar 200 unit. atau sebesar pemakaian selama lead time ditambah dengan safety stock. Untuk jelasnya nampak seperti gambar berikut.Reorder Point (ROP) = 2000/32 x 8 = 500 unit. maka dengan data yang sama reorder point harus dilakukan saat persediaan mencapai 700 unit. Apabila pemakaian setiap periode tidak pasti maka perusahaan perlu mempertahankan safety stock agar ketidakpastian atau keterlambatan datangnya pesanan yang baru dan pemakaian bahan tidak menunggu operasi perusahaan.

Pada gambar tersebut nampak bahwa beberapa kemungkinan dalam pemakaian lead time itu terjadi. tetapi kenyataannya pesanan sudah tiba dalam waktu 7 hari. sementara pesanan yang baru belum tiba. atau kemungkinan lain yakni lead time selama 8 hari. 18 . Keadaan lain misalnya pemakaian yang jauh lebih besar sehingga persediaan yang ada akan habis dalam waktu yang lebih cepat. tampak bahwa untuk menghindari masalah ketidakpastian itu perusahaan perlu mempertahankan persediaan pengaman (safety stock). Oleh karena itu. Ada kemungkinan besarnya pemakaian setiap periode tidak pasti. Dengan demikian persediaan menjadi lebih besar dari yang seharusnya. Dan safety stock menjadi begitu penting untuk mempertahankan agar kontinuitas operasi dapat terjamin.

Kedua adalah lead time.Besarnya persediaan pengaman dipengaruhi oleh banyak faktor.16).5 Potongan Harga Perusahaan seringkali mendapat tawaran untuk mendapatkan potongan apabila melakukan pembelian dalam jumlah besar atau yang sering disebut dengan quantity discount. dapat dilihat dari contoh 2 yang ada di penjelasan awal (hal. Pertama adalah perkiraan penggunaan di masa yang akan datang. Apabila pemakaian bahan sangat berfluktuasi dan sulit untuk diramalkan maka sebaiknya perusahaan mempertahankan persediaan dalam jumlah yang cukup besar. Salah satu contohnya yaitu. Dimana perusahaan akan mendapatkan potongan sebesar 5% dari harga jual apabila perusahaan membeli sebesar 4000 unit setiap kali pembelian. Untuk memutuskan apakah perusahaan sebaiknya memanfaatkan potongan harga atau tidak maka perlu dihitung apakah besarnya potongan tersebut masih lebih besar daripada biaya yang timbul sebagai akibat adanya potongan ini. apabila lead time sangat sulit untuk diketahui maka persediaan pengaman juga sebaiknya dalam jumlah yang besar. Perubahan biaya yang akan terjadi tentunya biaya simpan karena persediaan menjadi lebih besar. 10. Tetapi biaya yang lain yakni biaya simpan akan menjadi lebih 19 .

Biaya Simpan (20.00 – Rp 19.000) (4.000 x Rp 1.00 Penghematan tersebut timbul karena potongan harga cukup tinggi sehingga dapat menutup kenaikan biaya simpan. Di Indonesia pemanfaatan sistem komputer di dalam pengendalian persediaan telah dimanfaatkan oleh super market di bagian kasir dan 20 .000 x Rp 1.000/2 x Rp 1.000.250. Dengan komputerisasi dimungkinkan pencatatan persediaan.6 Pengendalian Sistem Persediaan Analisis Economical Order Quantitiy dan Safety Stock dapat dipergunakan untuk menentukan tingkat persediaan sepanjang asumsi yang mendasari terpenuhi.000. pengurangan dan pengolahan data persediaan dilakukan dengan sangat tepat. Banyak perusahaan-perusahaan besar memanfaatkan komputer dalam manajemen persediaan. Namun seandainya asumsi yang mendasari tidak terpenuhi.000 Rp 100.000 x 95%) Rp 19.000 B.000 C.000/2.000 C. Pada bab ini akan dibahas sistem pengendalian persediaan yang lainnya.000) TOTAL BIAYA Dengan Rp 20.000 Rp 200.200. Harga Bahan Baku (20.000.000 x Rp 10. Biaya Pemesanan Rp 100.000/2 x Rp 1.000) (2.000 demikian maka sebaiknya perusahaan memanfaatkan potongan tersebut karena perusahaan akan mendapatkan penghematan sebesar Rp 20. Dengan demikian apabila perusahaan akan memanfaatkan tawaran potongan ini maka biaya yang harus ditanggung adalah: A.000) Rp 20.000 x Rp 10. Biaya Simpan (20.000/4.kecil karena perusahaan akan melakukan pemesanan sebanyak 5 kali saja.000) TOTAL BIAYA Rp 19. A. Biaya Pemesanan Rp 50. Harga Bahan Baku (20.000 Tetapi apabila perusahaan tidak memanfaatkan potongan tersebut dan tetap melakukan pembelian sebesar pembelian ekonomis 2000 unit maka biaya yang timbul adalah : A.000 B. 10. Selain itu komputer menyediakan data kapan harus dilakukan pemesanan kembali.250.000.200. Sistem Komputerisasi Perkembangan teknologi computer akhir-akhir ini telah mengubah sistem pengendalian persediaan. maka akan diperlukan adanya sistem pengendalian persediaan yang lainnya.

Spare Part diterima hanya beberapa jam atau bahkan beberapa menit sebelum spare part diperlukan. Kelompok B. mencakup barang-barang yang relatife kurang penting sedangkan di luar kedua kelompok tersebut dikelompokkan ke dalam kelompok C. Sistem Pengendalian ABC Metode ABC pada prinsipnya memperhatikan fakor harga atau faktor nilai persediaan. tetapi dari segi nilai relatif kecil dibandingkan dengan kelompok A. Karena ketidaktepatan dalam manajemen kelompok A akan berakibat sangat besar bagi kelangsungan suatu perusahan. Metode ini diterapkan pada perusahaan besar seperti perusahaan mobil Toyota. bahkan perusahaan kecil akan lebih mudah menerapkannya karena relative lebih mudah dalam redefine job function dibandingkan dengan perusahaan besar. frekuensi pemakaian dan resiko kehabisan tinggi dikelompokkan ke dalam kelompok A.gudang. Dengan metode ini manajemen menitikberatkan pada kelompok A yang berniai strategis bagi perusahaan. Kelompok ini berarti mencakup kelompok barang yang sangat penting untuk diawasi dengan seksama. C. Just-in Time tidak hanya dapat diterapkan di perusahaan besar tetapi dapat juga diterapkan di perusahaan kecil. Barang-barang yang nilai. resiko kehabisan persediaan. Kelompok C ini mungkin saja secara kuantitas besar. Sistem Just-in Time Sistem Just-in Time ini pertama kali dikembangkan di Jepang yang dipergunakan untuk mensinkronkan kecepatan bagian produksi dengan bagian pengiriman bahan dari supplier. dan lead time. frekuensi pemakaian. yang mencoba menekan persediaan yang harus dipertahankan dengan cara menyesuaikan kecepatan proses perakitan atau assembling dengan pengiriman bahan suppliernya. B. Dengan sistem ini memungkinkan pencatatan transaksi dapat dilakukan dengan cepat. 21 .

pemberian diskon. faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya investasi dalam piutang yaitu volume penjualan kredit. 5. ketentuan tentang pembatasan kredit. Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk memperkecil risiko piutang yaitu pelafon dari dapat kredit. Apabila jumlah kebutuhan persediaan dalam satu periode dapat diketahui dengan pasti. maka Economical Order Quantity (EOQ) bisa diterapkan untuk menentukan jumlah pembelian yang paling ekonomis. 6. Jumlah persediaan yang terlalu kecil akan mengakibatkan operasional perusahaan mengalami penundaan. kebijakan mengenai penagihan. Saat satu titik dimana harus diadakan pesanan lagi sedemikian rupa agar kedatangan atau penerimaan bahan baku yang dipesan itu adalah tepat waktu bisa dilakukan dengan menganalisis Reorder Point. apabila jumlah persediaan terlalu besar maka akan mengakibatkan perputaran persediaan yang rendah sehingga profitabilitas perusahaan menurun. yaitu standar kredit yang dan persyaratan kredit. Kebijakan manajemen piutang menyangkut tentang dua hal. dan biaya discount.SIMPULAN 1. 3. kebiasaan membayar dari para langganan. kolateral. kebijaksanaan dalam mengumpulkan piutang. 8. kapital. Manajemen Persediaan penting bagi sebuah perusahaan (khususnya bagi perusahaan manufaktur) karena kesalahan dalam investasi persediaan akan mengganggu kwelancaran operasi perusahaan. Pengorbanan tambahan yang terjadi karena penjualan kredit meliputi biaya modal. 4. Begitu pula sebaliknya. 2. periode kredit. 22 . kapasitas. syarat pembayaran penjualan kredit. dan keadaan. 7. 9. piutang tidak tertagih. Manajemen Piutang menyangkut evaluasi atas kebijakan penjualan kredit dengan membandingkan benefit dan pengorbanan/cost yang timbul karena perubahan kebijakan kredit. dan melakukan seleksi terhadap para langganan yang akan diberikan kredit dengan mempergunakan karakter.

23 . Perusahaan perlu menetapkan Safety Stock agar ketidakpastian atau keterlambatan datangnya bahan baku yang baru dan pemakaian bahan tidak menunggu operasi perusahaan. sistem Just-in-Time. Apabila jumlah kebutuhan persediaan dalam satu periode tidak dapat diketahui dengan pasti maka akan diperlukan adanya sistem pengendalian persediaan seperti sistem komputerisasi.10. dan sistem pengendalian ABC. 11.