You are on page 1of 27

2.

Aceh Selatan

Pekan Kebudayaan Aceh ke-6 telah dibuka oleh Presiden RI, Susilo Bambang
Yudhoyono yang hadir dengan didampingi ibu negara dan sejumlah menteri
kabinet pada Jum'at ((20/9) yang lalu. Perhelatan PKA-6 ini pun dimeriahkan
oleh tampilnya atraksi dan kesenian lainnya sehingga memberi kesan yang
mendalam bagi penonton yang memadati Taman Ratu Safiatu'din Banda Aceh
dimana berlangsungnya acara Pekan Kebudayaan Aceh ini.
Beberapa kabupaten di Aceh pun berlomba - lomba menghiasi anjungan
mereka seindah mungkin agar para pengunjung yang hadir ikut merasakan
kegembiraan sekaligus sebagai wisata edukasi untuk mempelajari tentang adat
istiadat daerah Aceh yang kaya akan budaya.

Anjungan Aceh Selatan tampak dari depan

Salah satunya adalah anjungan kabupaten Aceh Selatan yang terletak diantara
anjungan kabupaten lainnya ini. Sebagai mana yang kita ketahui, ada beberapa
suku yang mendiami negeri pala ini dan semuanya bisa disaksikan pada
pergelaran Pekan Kebudayaan Aceh dimana pengunjung yang hadir di
anjungan Aceh Selatan akan disuguhi dengan beragam adat istiadat yang ada
seperti adat istiadat suku Aneuk Jamee, suku Kluet (keluat) dan suku Aceh
sendiri.
Selain daripada adat istiadat tersebut, dibagian bawah pengunjung juga bisa
menyaksikan peralatan-peralatan yang sering digunakan oleh masyarakat
Aceh Selatan didalam kehidupannya sehari - hari seperti: Lesung (penumbuk
padi), bajak, lukah (alat penangkap ikan) dan lain sebagainya. Diarea ini pun
tersedia berbagai pakaian dan aksesoris dari Aceh Selatan yang cantik dan
eksotis sehingga pengunjung yang membelinya pun akan merasa puas.

Peralatan umum masyarakat Aceh Selatan

Di anjungan Aceh Selatan, pengunjung juga bisa melihat-lihat bermacam foto


tentang keindahan alam, tempat - tempat bersejarah dan juga situs budaya
yang ada di Aceh Selatan sehingga akan manambah wawasan kita akan
kekayaan budaya yang ada di kabupaten Aceh Selatan.
Pada malam harinya, pengunjung akan dihibur dengan tarian dan atraksi dari
sanggar - sanggar seni yang ada di Aceh Selatan. Tentu saja yang tersaji
dipanggung merupakan khazanah yang ada di Aceh Selatan. Hal ini
membuktikan bahwa Aceh Selatan merupakan kabupaten yang kaya akan seni,
tradisi dan juga budaya sehingga apapun tarian yang akan ditampilkan tentu
saja tersaji dengan rancak dan menghibur.
Lintasan Sejarah
Kabupaten Aceh Selatan adalah salah satu kabupaten di Provinsi Aceh,
Indonesia. Sebelum berdiri sendiri sebagai Kabupaten otonom, Aceh Selatan
adalah bagian dari Kabupaten Aceh Barat. Pembentukan Kabupaten Aceh
Selatan ditandai dengan disahkannya Undang-Undang Darurat Nomor 7
Tahun 1956 pada 4 November 1956.
Memiliki luas wilayah sekitar 3.900 km bujur sangkar atau 6,91 persen
dari total luas daratan Provinsi Aceh, dengan panjang garis pantai lebih kurang

169 km. Letaknya berbatasan dengan Kabupaten Aceh Tenggara di sebelah


utara dan Kabupaten Aceh Barat Daya di sebelah barat.Sedangkan di sebelah
Selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia dan di sebelah timur
berbatasan dengan Kota subulussalam dan Kabupaten Aceh Singkil.
Kabupaten Aceh Selatan pada tanggal 10 April 2002 resmi dimekarkan
sesuai dengan UU RI Nomor 4 tahun 2002, menjadi 3 Kabupaten, yaitu Aceh
Barat Daya, Aceh Singkil dan Aceh Selatan (Kabupaten Induk). Terdiri dari
18 kecamatan, 43 kemukiman dan 248 gampong ( desa), dengan jumlah
penduduk 32.357 jiwa. 18 kecamatan itu meliputi Labuhanhaji Barat,
Labuhanhaji, Labuhanhaji Timur, Meukek, Sawang, Samadua, Tapaktuan,
Pasie Raja, Kluet Utara, Kluet Tengah, Kluet Selatan, Kluet Timur, Bakongan,
Kota Bahagia, Bakongan Timur, Trumon, Trumon Tengah, dan Trungon
Timur.
Kondisi topografi Aceh Selatan sangat bervariasi, terdiri dari dataran
rendah, bergelombang,berbukit, hingga pegunungan dengan tingkat
kemiringan sangat curam/terjal. Dari data yang diperoleh, kondisi topografi
dengan tingkat kemiringan sangat curam mencapai 63,45 %, sedangkan datran
hanya sekitar 34,66 % dengan kemiringan 8-15 % seluas 175.04 hektar.
Kondisi lahan di Aceh selatan banyak ditumbuhi tanaman pala sebagai
primadona masyarakat disana. Pala juga merupakan tanaman budaya yang
diperoleh secara tutun temurun, disusul tanaman padi dan hasil perikanan laut.
Tanaman pala bagi masyarakat di pesisir selatan Aceh ini, memiliki
nilai ekonomi ganda. Selain biji dan bunganya dijadikan minyak astiri
komoditas ekspor, dengan rrendemen terbaik di dunia, daging buahnya dapat
diolah menjadi kua dan sirup, sebagai makanan dan minuman spesifik Aceh
Selatan.
Hari jadi Aceh Selatan jatuh pada tanggal 28 Desember 1945. Rumusan
keputusan ini mengacu pada SK Gubernur Sumatera,
bernomor70/1945,tertanggal 28 Desember 1945 tentang Pembagian
Keresidenan Aceh, menjadi 7 Luhak, yaitu Luhak Aceh Besar, Luhak Pidie,
Luhak ceh Utara, Luhak Aceh Timur, Luhak Aceh Tengah, Luhak Aceh Barat
dan Luhak Aceh Selatan.
Dari dasar itulah, Bupati MS Subki menetapkan hari jadi Aceh Selatan,
pada 28 Desember 1945, melalui SK Bupati Aceh Selatan Nomor 02/1995

tentang Penetapan Hari Jadi Daerah Tingkat II Aceh Selatan. Penetapan ini
dilakukan setelah mendapat persetujuan DPRD Tingkat II Aceh Selatan,
bernomor 135/64, tanggal 11 September 1995.
Aceh Selatan pertama kali dipimpin oleh M.Sahim Hasyim (1945-1948),
menyusul; M.Husen (1948-1949), H. Gaffur Akhir (1949-1950), Kamarusyid
(1950-1955), Abdul Wahid Dahlawi (1955-1956). Kemudian, M.Yunan
(1956-1957), M.Sahim Hasyimi (1957-1960), T. Cut Mamat (1960-1965),
Kasim Tagok (1965-1970), Teuku Daud (1970-1971), Drs. Sukardi Is (19711983) atau dua periode, Drs. Ridwansyah (1983-1985), H. Zainal Abidin
(1985-1988), Drs. H. Said Mudhahar Ahmad (1988-1993), Drs. H.
Muhammad Sari Subki (1993-1998). Ir. H. Teuku Machsalmina Ali, MM, dua
periode (1998-2003) dan (2003-2008). Husin Yusuf, S.Pdi ( periode 20082013), H.T sama Indra dan Kamarsyah (periode 2013-2018)

H.T sama Indra dan Kamarsyah (Bupati dan Wakil 2013-2018)

Lambang Daerah

Keadilan yang dilambangkan dengan lukisan daun cacing (timbangan)


masing-masing tergantung di ujung rencong yang terletak di atas kubah
mesjid.
Kerukunan yang dilambangkan dengan lukisan kubah mesjid.
Kemakmuran yang dilambangkan dengan lukisan padi, pala, nilam,
cengkeh kapas dan cerebong pabrik.
Kepahlawanan yang dilambangkan dengan lukisan pedang.
Ilmu pengetahuan yang dilambangkan dengan lukisan kitab dan kalam.
Lambang daerah berbentuk cerana sirih bersegi 5 sebagai isyarat
kepada falsafat negara pancasila yang mengandung pengertian bahwa
Setya bhakti yang melambangkan falsafah hidup rakyat dan Pemerintah
kabupaten Aceh Selatan terletak pada wadah Negara Republik
Indonesia.
Warna biru laut, kuning, hijau, hitam dan putih mengandung pengertian
damai, kejayaan, kesejahteraan/kemakmuran, keabadian dan
kemurnian.

Adat Istiadat
Adat yang sejalan dengan agama islam masih dihayati masyarakat
Aceh, sesuai dengan ungkapan Adat Meukota Alam/ Adat Poteumeuruhom,
yakni : Hukom Ngon Adat Han jeut Cre, Lagee Dzat Ngon Sipheuet
(Hukum dengan adat tidak bercerai, seperti tidak bercerainya zat dengan sifat).
Dalam kehidupaan masyarakat Aceh terdapat falsafat Adat bak
poteumeureuhom,Hukom bak syiah Kuala, Qanun bak putro phang,

Reusam bak Laksamana (Adat dipegang poteu meureuhom berada ditangan


Syiah Kuala, Qanun dijalankan putri Phang dan Reusam (kebiasaan
dilaksanakan Laksamana).
Di Aceh Selatan,paling tidak ada tiga macam adat yang berlaku dalam
masyarakat. Yaitu adat Aceh, adat Kluet dan adat aneuk Jamee. Umumnya
adat diberlakukan dalam beberapa even seperti perkawinan, anak turun tanah
(air), sunat rasul dan antar anak mengaji dan beberapa even kemasyarakatan
lainnya.
Adat istiadat di kecamatan Kluet Selatan Kabupaten Aceh Selatan bisa
dikatakan sedikit berbeda dari adat aceh yang berlaku pada umumnya. Hal ini
tidak terlepas daripada proses asimilasi budaya minangkabau
(pariaman) yang telah berbaur dengan kebudayaan lokal ditambah dengan
hadirnya budaya suku kluwat (kluet) yang menyebabkan aturan dan simbol
adat di daerah ini semakin beragam. Perbedaan yang sangat jelas terlihat
adalah mengenai penamaan prosesinya yang menggunakan bahasa
minangkabau ( pariaman) yang melalui beberapa tahap yaitu :
1. Ma isiak
Setelah sepasang pemuda dan pemudi merasa ada kecocokan hati untuk
berumah tangga, maka si pemuda tersebut menemui salah seorang dari pihak
/pertalian dengan ibunya atau pihak ayahnya untuk mendatangi pihak keluarga
pemudi (calon istri) untuk menanyakan beberapa perihal sehubungan dengan
hubungan anak anak mereka itu. Prosesi ini tidak resmi karena pemangku
adat dan hukum belum mengetahuinya. Walaupun demikian prosesi ini sudah
jamak dan lazim dilakukan. Setelah kedua belah pihak mendapat jawaban dan
kepastian, kemudian pihak keluarga laki laki pamit dan masing masing
pihak akan melakukan musyawarah keluarga untuk tahap selanjutnya.
2. Manendai
Sesuai dengan hasil kesepakatan sewaktu marisiak tempo yang lalu, maka
proses manendaipun dilaksanakan. Prosesi ini sering juga disebut dengan
dengan batunangan ( bertunangan). Pada proses ini pihak keluarga laki laki
harus membawa jinamu (maskawin) berupa emas yang sudah ditetapkan
ukurannya sesuai kesepakatan. Pihak keluarga laki laki bertemu lagi dengan
pihak keluarga perempuan yang disertai oleh hadirnya pimpinan adat dan
hukum dirumah pihak perempuan. Dalam pertemuan tersebut, kedua belah
pihak keluarga dan dipimpin oleh pimpinan adat dan hukum juga akan
membahas kapan ditentukannya proses selanjutnya yaitu Ijab Qabul dan hari
peresmian.

3. Mendaftar ke Keuchik sebagai Pengurus Adat dan hukum / Imam


Chik ( Imam mesjid)
Kegunaan mendaftar ini untuk menyelesaikan administrasi seperti Biodata
Calon pengantin dan biaya pernikahan. Kemudian data kedua calon pengantin
itu oleh Keuchik (lurah) akan diserahkan kepada pihak KUA dikecamatan
yang bersangkutan. Sementara itu tugas Imam Chik adalah sebagai petugas
P3N ( Panita Panitia pelaksana Pencatatan Nikah) akan melakukan tes agar
calon pengantin mendapatkan sertifikat yang nantinya dibawa ke Kantor
Urusan Agama pada saat pendaftaran.
4. Duduak Niniak Mamak
Niniak mamak merupakan sebutan terhadap pertalian wali dan garis keturunan
dari orang tua. Dalam hal khanduri (pesta) adat, mereka punya peranan
penting diantaranya sebagai penghubung pihak keluarga dengan pemangku
adat dan hukum. Tujuannya adalah untuk memusyawarahkan beberapa hal
seputar pelaksanaan khanduri ( pesta) yang akan dilangsungkan.
5. Duduak Rami
Dalam acara ini, warga gampong yang telah diundang akan datang. Tujuannya
adalah mendengarkan hasil musyawarah yang telah dilakukan antara pimpinan
adat dan hukum dengan pihak keluarga penyelenggara acara khanduri (pesta)
sekaligus menyatakan bahwa rumah dan isinya telah dipulangkan secara adat
kepada pemangku adat dan hukum dan diteruskan kepada masyarakat sebagai
pengelolanya. Dalam penyampaian itu, pihak pemangku adat dan hukum akan
menjelaskan kapan prosesi prosesi selanjutnya dilaksanakan sehingga warga
yang hadir akan mengetahui jadwal dan tugas mereka nantinya.
6. Melapor Ke KUA
Sebelum datang ke Kantor Urusan Agama (KUA), semua kelengkapan
administrasi calon pengantin seperti surat pengantar dari Keuchik ( kepala
desa) dan sertifikat dari P3N Gampong ( Panitia pelaksana Pencatatan Nikah)
serta peralatan adat lainnya harus dibawa. Kedua calon pengantin hadir
dengan menggunakan pakaian adat atau pakaian yang disepakati oleh
pemangku adat dan hukum dan mereka akan menanda tangani surat
keterangan menikah dihadapan pejabat KUA, Adat dan hukum serta pihak
keluarga masing masing.
7. Ijab Kabul
Prosesi ini ada yang dilaksanakan di masjid, di KUA dan ada juga
dilaksanakan dirumah pihak wanita. Semua itu akan disesuaikan dengan
situasi yang ada. Proses ijab qabul tersebut pada umumnya sama dengan
kebiasaan yang ada di provinsi aceh, mungkin yang berbeda cuma dari

pengucapan lafalz nya saja. Kalau didaerahku biasanya menggunakan bahasa


yang dimengerti saja ( bisa bahasa aceh, bahasa Kluwat atau bahasa jamee.
Tapi sering dilafalzkan dengan bahasa indonesia).
8. Antar Linto
Prosesi antar linto biasa dilaksanakan pada malam harinya. Antar Linto berarti
pihak keluarga laki laki dibantu masyarakat (perangkat adat dan hukum
harus menyertai) mengantar sipengantin pria kerumah pengantin wanita.
Pengantin pria diharuskan memakai pakaian adat lengkap begitupun dengan
pengantin wanita yang menanti dirumahnya, juga mengenakan pakaian adat
lengkap. Ada beberapa prosesi adat yang menyertai acara Antar Linto ini
seperti : Lago payuang ( adu payung), Basandiang (duduk dipelaminan) dan
sabuang ayam. ( penjelasannya ada dalam dokumen format PDF).
9. Antek Silamak /Panggil Surut
Jika sewaktu prosesi Antar Linto, pengantin pria diantar beramai ramai ke
rumah pengantin wanita, maka pada prosesi panggil surut ini kedua pengantin
baru tersebut akan diantar oleh kaum ibu dari rumah pengantin wanita
kerumah pengantin pria pula. Kedua pengantin berpakaian adat aceh, mereka
dipayungi payung berwarna kuning dan bersama rombongan akan berkunjung
kerumah pengantin pria untuk melaksanakan ritual adat.Tujuan acara ini
adalah bersilaturami sambil memperkenalkan keluarga masing masing.
10. Malam Mintak Izin
Pada prosesi ini salah seorang dari pemangku adat dan hukum akan berpidato
didepan tamu undangan yang hadir, dan menyatakan bahwa acara khanduri
(pesta pernikahan) sudah berakhir kemudian secara adat, rumah yang selama
acara berlangsung telah dipulangkan kepada adat dan hukum dikembalikan
kepada tuan rumah. Dalam acara ini pihak keluarga tuan rumah akan
bersalaman sambil mengucapkan terimakasih dengan pemangku adat dan
hukum beserta tokoh masyarakat lainnya.
11. Mangulang Jajak.
Setelah semua kegiatan pesta selesai, kira kira satu atau dua minggu
setelahnya, kedua pengantin datang kembali kerumah keluarga pengantin pria
dan menginap semalam. Kedatangan mereka tidak lagi diiringi oleh penganjo
atau pihak keluarga wanita dan juga tidak membawa apa apa. Mereka hanya
datang dan bermalam saja. Hal ini bermaksud bahwa walaupun sudah menikah
dan tinggal jauh dari orang tua, pengantin pria tidak melupakan kedua orang
tuanya dan rumah yang telah didiami selama ini.
Begitulah prosesi adat perkawinan yang yang lazim harus dilaksanakan oleh
kedua mempelai dan juga pihak keluarga mempelai tatkala mengadakan

kanduri (pesta) Pernikahan didaerahku. Dari sekian banyak tahapan diatas,


sudah tentu ada beberapa diantaranya yang tidak sahabat mengerti maksud dan
tujuannya. Memang ada kesulitan tersendiri yang kurasakan tatkala
mengumpulkan data mengenai pesta perkawinan didaerahku karena tidak
semua orang yang mengerti secara utuh mengenai adat dan simbol yang
berlaku. Namun Alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu, ayahandaku tiba
dirumah dan kesempatan yang baik ini segera kumanfaatkan untuk
mengumpulkan informasi mengenai ini. Perlu diketahui bahwa beliau
merupakan salah satu tokoh masyarakat dan juga anggota dari Majelis Adat
Aceh Selatan wilayah Kluet Selatan.
Sementara upacara adat turun ke air (tanah), sunat rasul dan antar
mengaji, kelihatannya tidak seberat perkawinan, karena hanya berlaku di
rumah yang bersangkutan, tanpa melibatkan pihak lain seperti dalam
perkawinan. Upacara tersebut cukup dilakukan perangkat adat setempat
dengan mengundang family, tetangga dan warga yang dianggap perlu.
Prosesi Sunat Rasul di Aceh Selatan
1. Niniak Mamak

Acara duduk niniak mamak

Sebelum melaksanakan sunat rasul pihak keluarga melakukan duduak niniak


mamak atau duduk bersama sanak famili untuk menetapkan tanggal, hari dan
bulan acara yang akan dilaksanakan. Setelah kesepakatan ditetapkan maka
selanjutnya pihak keluarga menyiapkan persiapan, termasuk menyebar
undangan. Biasanya undangan berupa sirih atau permen (untuk perempuan)
dan rokok ( untuk laki-laki)

2. Pasang Tampek

memasang perlengkapan adat didalam rumah

para pemuda sedang memasang teratak untuk tamu

Setelah waktu ditetapkan, masyarakat (pemuda) bantu membantu melakukan


persiapan untuk acara sunatan rasul (khitan), proses persiapan akan dipimpin
langsung oleh ketua pemuda setempat. Mulai dari membangun teratak, angkatmengangkat sampai dengan hal-hal lainnya yang membutuhkan bantuan
pemuda.
3. Malam Duduak Rami

acara duduak rami, mengabarkan ke masyarakat maksud acara dirumah

Duduak rami merupakan acara duduk bersama segenap masyarakat desa


terutama tokoh dan perangkat-perangkat desa lainnya, kegiatan ini guna
mengabarkan, membahas keunuri rayeuk (acara kenduri) atau acara utama
pada hari H.
4. Ba Inai

proses bainai yang dilakukan oleh kerabat perempuan

Ba Inai atau memakai inai (pacar) di sekitar ujung jari tangan kaki pada Linto
yang akan disunat rasul(khitan), kegiatan ini dimulai dari malam Duduak rami
setelah tamu pulang hingga tiga malam berturut-turut. Ba Inai biasanya
dilaksanakan oleh perempuan-perempuan remaja yang masih memiliki biasanya

dilaksanakan oleh perempuan-perempuan remaja yang masih memiliki


hubungan famili maupun tetangga.
5. Basuntiang

proses basuntiang, atau acara tepung tawar

Basuntiang adalah proses pemberkahan secara adat. Biasanya akan


dilaksanakan esok harinya setelah malam Duduak rami, Basuntiang ini
dilakukan oleh beberapa pihak keluarga terdekat atau yang memiliki hubungan
emosional dengan keluarga yang menyelenggarakan acara. Acara basuntiang
ini sifatnya seperti utang tersirat artinya pihak penyelenggara yang sudah
mendapatkan pesuntiang ini dari tamu atau keluarga dekat, akan melakukan
hal yang sama pada saat pihak pesuntiang yang lain akan menyelenggarakan
acara sunat rasul maupun acara pernikahan.

Pasuntiang Hewan Sembelihan

acara pasuntiang hewan ternak yang akan disembelih sebagai penghargaan pihak rumah
kepada hewan ternak yang akan disembelih

6. Kanduri Urang Datang

para ibu yang datang sedang mempersiapkan makanan untuk tamu

kesibukan dirumah kenduri

Kanduri Urang Datang adalah dimana para ibu-ibu tetangga dan desa
setempat datang membantu menyiapkan persiapan untuk acara puncak
keesokan harinya dengan memasak, dan menyiapkan beberapa keperluan
lainnya sedangkan beberapa lainnya menyiapkan balee (tempat) untuk acara
Mandi Pucuak keesokannya.
7. Urang Datang / Hari Puncak

acara makan bersama dengan para tamu

Urang Datang merupakan hari puncak dimana para tamu undangan akan
datang beramai ramai kerumah untuk mengucapkan kata kata selamat dan
bersalaman dengan Linto khitan dan orang tuanya. Dihari tersebut para tamu
akan dijamu makan dan minum oleh pihak tuan rumah. Ada juga pergelaran
kesenian yang digelar sebagai penghormatan tuan rumah terhadap tamu.

7. Mandi Pucuak (Mandi bersiram air dalam janur )

acara mandi pucuak, mandi yang diselenggarakan oleh pemuka adat untuk linto sunat rasul

setelah acara mandi, linto akan digendong oleh salah satu perwakilan niniak mamak menuju
rumah

Selanjutnya acara Mandi pucuak (memandikan dengan air dalam janur


kuning), acara mandi pucuak ini akan dipimpin oleh ibu kepala desa kepada si
linto, calon yang akan dikhitan. Biasanya diacara ini akan disertai dengan
alunan selawat dan nyanyian Hasyem Meulangkah, yakni sebuah nyanyian
tentang cerita hasyem yang akan melaksanakan khitan yang dibarengi dengan
tarian. Sebelum prosesi mandi pucuak ini, si Linto akan terlebih dahulu
dipangkas rambutnya oleh orang pilihan dari keluarganya.

8. Menyerahkan ke Mudin ( Tukang Khitan)

acara ini ditangani langsung oleh mudin/mudem sebagai pelaksana khitan

Prosesi menyerahkan ke Mudin dilakukan setelah acara mandi pucuak, si


Linto sudah siap dengan pakaian adat aceh. Acara ini berupa penyerahan anak
dari orang tua ke mudin ( Tukang Khitan) dengan tujuan agar dalam proses
khitan nanti si Tukang Khitan akan menjamin dan menjaga keselamatan si
Linto seperti menjaga anaknya sendiri. Dalam sesi itu juga diadakan makan
bersama antara si Linto dengan Tukang Khitan atau disebut diaceh Selatan
dengan nama Mudin atau Mudem.
9. Sunat/Khitan

setelah proses khitan

Setelah serangkaian acara diatas, barulah masuk pada pokok acara yaitu
Khitan. Acara yang mendebarkan hati ini biasanya berlangsung setelah para

undangan sudah pulang dan tinggallah sanak famili yang menunggu acara
utama, biasanya proses khitan berlangsung sekitar sore hari
10. Bajago

giliran anak- anak muda yang berjaga jaga agar si linto yang dikhitan tidak lasak sehingga
akan mengganggu luka setelah khitan

Sebahagian anak muda berjaga diluar, mereka semalam suntuk akan memantau setiap
gerakan si linto khitan

Bajago merupakan tradisi untuk menjaga si Linto pasca khitan. Setelah khitan,
si Linto tidak boleh melakukan aktivitas yang bebas, hanya tidur untuk
mempercepat penyembuhan. Dalam proses penyembuhan inilah para pemuda
akan berjaga dimalam hari selama tiga malam untuk melayani si sakit sampai
fajar. Selama berjaga para pemuda melakukan aktivitas dengan bermain catur,
bercerita dan aktivitas lainnya supaya tidak tertidur.

11. Minta Izin


Acara ini adalah dimana tokoh masyarakat, pemuda dan pemudi diundang
untuk hadir kembali oleh pihak tuan rumah guna menyampaikan ucapan
terima kasih atas rasa kebersamaan selama acara pesta khitanan itu
berlangsung. Dalam prosesi ini tuan rumah akan meyediakan sebanyak empat
buah jamba ( nasi tumpeng ) yang akan diberikan secara adat kepada Imam
Mesjid, atau Ulama dikampung tersebut, Perangkat Adat dan hukum, Ketua
Pemuda, dan Tukang masak nasi yang sudah ditunjuk oleh pihak keluarga
selama acara pesta khitan berlangsung. Acara minta izin ini biasa berlangsung
pada malam hari dan sekaligus sebagai acara penutup dari sebuah acara /
kenduri di gampong kluet Selatan dan Aceh Selatan pada umumnya.
Begitulah sederetan tradisi acara sunat rasul( khitan) dikecamatan Kluet
Selatan Kabupaten Aceh Selatan. Dalam hal melayani undangan biasanya
dijamu dengan hidangan dalam talam atau Baki. Namun belakangan ini tradisi
menjamu sudah mulai digantikan dengan istilah adat perancis. Dimana tradisi
ini merupakan adat barat dimana para undangan datang, makan dan pulang.
So, mari melestarikan adat istiadat yang diwariskan nenek monyang kita
sebagai penghargaan/bukti bahwa mereka pernah ada.

Kesenian Tradisional
Rapai geleng

Tari Rapa'i Geleng


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa

Tari Rapa'i Geleng yang ditampilkan oleh Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) di Mesir

Rapa'i Geleng adalah sebuah tarian etnis Aceh yang berasal dari wilayah Aceh Selatan. Rapa'i
Geleng dikembangkan oleh seorang anonim di Aceh Selatan. Permainan Rapa'i Geleng juga
disertakan gerakan tarian yang melambangkan sikap keseragaman dalam hal kerjasama,
kebersamaan, dan penuh kekompakan dalam lingkungan masyarakat. Tarian ini
mengekspresikan dinamisasi masyarakat dalam syair yang dinyanyikan, kostum dan gerak dasar
dari unsur Tari Meuseukat.
Jenis tarian ini dimaksudkan untuk laki-laki. Biasanya yang memainkan tarian ini ada 12 orang
laki-laki yang sudah terlatih. Syair yang dibawakan adalah sosialisasi kepada masyarakat tentang
bagaimana hidup bermasyarakat, beragama dan solidaritas yang dijunjung tinggi.
Kostum yang dipakai berwarna hitam kuning berpadu manik-manik merah.
Daftar isi
[sembunyikan]

1 Fungsi

2 Gerakan

3 Syair

4 Sumber

Fungsi[sunting | sunting sumber]


Fungsi dari tarian ini adalah syiar agama, menanamkan nilai moral kepada masyarakat, dan juga
menjelaskan tentang bagaimana hidup dalam masyarakat sosial. Rapa'i Geleng pertama kali
dikembangkan pada tahun 1965 di Aceh Selatan. Saat itu tarian ini dibawakan pada saat mengisi
kekosongan waktu santri yang jenuh usai belajar. Lalu, tarian ini dijadikan sarana dakwah karena
dapat membuat daya tarik penonton yang sangat banyak.

Gerakan[sunting | sunting sumber]

Tari Rapa'i Geleng

Tarian Rapai Geleng memiliki 3 babak yaitu:


1. Saleuem (salam)
2. Kisah (baik kisah rasul, nabi, raja, dan ajaran agama)
3. Lani (penutup)
Gerakan tarian ini diikuti tabuhan rapa'i yang berirama satu-satu, lambat, lama kemudian berubah
cepat diiringi dengan gerak tubuh yang masih berposisi duduk bersimpuh, meliuk ke kiri dan ke
kanan. Gerakan cepat kian lama kian bertambah cepat.
Pada dasarnya, ritme gerak pada tarian rapai geleng hanya terdiri dalam empat tingkatan;
lambat, cepat, sangat cepat dan diam. Keempat tingkatan gerak tersebut merupakan miniatur
karakteristik masyarakat yang mendiami posisi paling ujung pulau Sumatera, berisikan pesanpesan pola perlawanan terhadap segala bentuk penyerangan pada eksistensi kehidupan agama,
politik, sosial dan budaya mereka.
Pada gerakan lambat, ritme gerakan tarian rapa'i geleng tersebut memberi pesan semua
tindakan yang diambil mesti diawali dengan proses pemikiran yang matang, penyamaan persepsi
dan kesadaran terhadap persoalan yang akan timbul di depan sebagai akibat dari keputusan
yang diambil merupakan sesuatu yang harus dipertimbangkan dengan seksama. Maaf dan
permakluman terhadap sebuah kesalahan adalah sesuatu yang mesti di berikan bagi siapa saja
yang melakukan kesalahan. Pesan dari gerak beritme lambat itu juga biasanya diiringi dengan
syair-syair tertentu yang dianalogikan dalam bentuk-bentuk tertentu. Sebagai contoh bisa
tergambar dari nukilan syair dari salah satu bagian tarian.
Meunyo ka hana raseuki

Nyang bak bibi rhot u lua


Bek susah sare bek seudeh hate
Tapike la'en tamita
Kalau sudah tak ada rezeki
Yang sudah di bibir pun jatuh ke luar
janganlah susah, jangalah bersedih hati
Mari kita pikirkan yang lain untuk di cari

Tari Rapa'i Geleng

Kata raseuki yang bermakna rezeki dalam syair di atas, merupakan


simbol dari peruntungan. Bagi masyarakat Aceh, orang yang melakukan
perbuatan baik kepada mereka dimaknakan sebagai sebuah
keberuntungan. Makna sebaliknya, ketika orang melakukan perbuatan
jahat, maka masyarakat Aceh mengartikan ketakberuntungan nasib
mereka, dan ketakberuntungan itu merupakan permaafan.
Gerakan beritme cepat adalah gerak kedua, sesaat pesan yang
terkandung dalam gerakan beritme lambat namun sarat makna usai
dituturkan. Pada gerakan ini, pesan yang disampaikan adalah pesan
penyikapan ketika perbuatan jahat, yang dimaknakan sebagai
ketakberuntungan nasib, kembali dilakukan oleh orang atau institusi yang
sama. Penyikapan tersebut bisa dilakukan dalam bentuk apapun, tapi
masih sebatas protes keras belaka. Seperti bunyi syair di bawah;
Hai la'ot sa-ila, umbak meu-alon, kapai di-

-ek tron meulumbalumba hai bacut treuk


Salah bukon sa-lah lon away phon
salah away bak gata
Wahai laut (?)-(?), ombak ber-alun, kapal
naik dan turun, berlomba
lomba sedikit lagi
Salah bukan salahku awalnya
Salah awalnya ada padamu

Tari Rapa'i Geleng

Gerakan beritme cepat ini tak


lama, kemudian disusul dengan
gerakan tari beritme sangat cepat
mengisyaratkan chaos menjadi
pilihan dalam pola perlawanan
tingkat ketiga. Sebuah
perlawanan disaat protes keras
tak diambil peduli. Tetabuhan
rapa-i pada gerakan beritme
sangat cepat inipun seakan

menjadi tetabuhan perang yang


menghentak, menghantam
seluruh nadi, membungkus syair
menjadi pesan yang mewajibkan
perlawanan dalam bentuk
apapun ketika harkat dan
martabat bangsa terinjak-injak.
Cuplikan sajak perang nya
(alm) Maskirbi yang biasa
dilantunkan menjadi syair dalam
gerakan beritme cepat pada
tarian rapai geleng ini bisa
menjadi contoh sederetan syairsyair yang dijadikan pesan.
Doda idi hai doda idang
Geulayang blang ka putoh taloe
Beu reujang rayek banta sidang
Jak tulong prang musoh nanggroe
Doda idi hai doda idang (nyanyian nina bobo untuk anak)
Layangan sawah telah putus talinya
Cepatlah besar wahai ananda
Pergilah, perangi musuh negeri
Pada
titiknya,
semua
gerakan
tadi
berhenti,
termasuk
seluruh
nyanyian
syair. Ini
merupaka
n gerakan

akhir dari
tarian.
Gerakan
diam
merupaka
n gerakan
yang
melamban
gkan
ketegasan
, habisnya
semua
proses
interaksi.

Syair[su
nting | s
unting
sumber]

Tari Rapa'i
Geleng

Syair yang
dibawakan
tergantung
pada syahi

. Hingga
sekarang
syair-syair
itu banyak
yang
dibuat
baru
namun
tetap pada
fungsinya
yaitu
berdakwa
h.
Contoh:
Rapa'i
Geleng;
Pesan
Perlawana
n dalam
Tarian
Aceh
Alhamdulilah pujoe keu Tuhan
Nyang peujeuet alam langet ngon donya
Teuma seulaweuet ateueh janjongan
Pang ulee alam rasul ambiya
Segala Puji kepada Tuhan
Yang telah menciptakan langit dan dunia
Selawat dan salam pada junjungan
Penghulu alam Rasul Anbiya
Nanggroe Aceh nyoe teumpat lon lahe
Bak ujong pante pulo Sumatra
Dilee baroe kon lam jaroe kaphe
Jinoe hana le aman seuntosa

Daerah Aceh ini tempat lahirku


Di ujung pantai pulau Sumatera
Dulu berada di tangan kafir
Kini telah aman dan sentosa