You are on page 1of 51

TIM PENYUSUN

Penasehat

: M. Aditya Warman

Penulis

: Zukra Budi Utama

Editor

: Kusno Erudi

Design

: G. Triyoga Agung P.

Tim Asistensi

: Henricus Punto Wicaksana
Uliya Hanifunnisa
Adisti Hapsari
Priandoko

h a l a m a n | ii

KATA PENGANTAR
Mungkin jumlah peserta pekerja dengan mendapat upah dalam keseluruhan peserta
BPJS Kesehatan berada dalam nilai persentase yang rendah, namun dampaknya sangatlah
signifikan terhadap kepentingan nasional karena perannya adalah penggerak utama ekonomi
nasional. Untuk itu hendaklah pengaturan Undang-undang yang menyentuh bidang
Hubungan Industrial diterapkan secara berhati-hati dengan mengacu kepada konsep dasar
kebijakan hubungan industrial.
Kebutuhan akan pendekatan yang berbeda merupakan dasar dari disusunnya buku ini,
ketika metoda sosialisasi biasa sudah terbukti tidak mampu mengakomodir permasalahpermasalahan yang terjadi di lapangan, sebagaimana sering muncul dalam setiap seminar
atau sosialisasi tentang UU SJSN. Pertanyaan yang sama dan berulang selalu disampaikan,
dan jawaban sama selalu tidak memuaskan si penanya.
Pendekatan terbalik dilakukan dengan terlebih dahulu mengidentifikasi seluruh
kemungkinan kendala yang muncul dilapangan dan menyusun kriteria standar operasional
dalam mengantisipasinya, maka diperoleh jaring pengaman kendala dan hambatan bagi
perusahaan dalam menjalankan SJSN bidang Kesehatan secara berkesinambungan.
Dengan memastikan adanya kriteria standar operasional yang mampu mengakomodir
setiap kemungkinan kendala pelaksanaan, maka dapat dipastikan setiap masalah yang
dipertanyakan dan diperdebatkan di setiap seminar tidak lagi mengarah pada „debat kusir‟ –
tanpa ada kepastian apakah masalah tersebut dapat diakomodir atau tidak.
Sistem dengan pendekatan Kriteria Standar Operasional ini dikembangkan menjadi
sistem Knowledge Management ATC bidang SJSN Kesehatan, yang dapat dikembangkan
menjadi pedoman pengembangan „Sistem Kendali Operasional‟ seperti yang saat ini sedang
dikembangkan ATC dalam membangun kompetensi hubungan industrial perusahaan dengan
target terintegrasinya kompetensi pekerja dengan sistem kendali tiga lapis manajemen sejak
di level operasional pelaksana, level analis, dan level strategis sebagai level tertinggi
pengambil kebijakan. Sehingga pengembangan atas Riset ATC akan mendukung pencapaian
sasaran keseluruhan – goal perusahaan.
Sesuai tujuan sebagai panduan dalam IR Conference 2014, maka buku ini
membangun pola integrasi sejak riset sampai bagaimana masalah dimunculkan di proses

h a l a m a n | iii

interaksi dengan peserta, untuk dibahas di Sidang Komisi dan bagaimana hasil Sidang Komisi
diformulasikan menjadi dasar dalam pengajuan „rekomendasi‟.
Pembahasan komisi SJSN Kesehatan antara lain mengenai:
1. Kriteria yang membutuhkan payung hukum, yaitu kriteria yang menambahkan unsur
hak dan kewajiban diluar yang sudah diatur oleh Undang-undang.
2. Kendala yang bertabrakan dengan kriteria kelompok aspek norma yang sudah eksplisit
diatur undang-undang, maka didiskusikan kemungkinan kendala menjadi dasar
direkomendasikannya perubahan Undang-undang.
Kebutuhan akan Payung Hukum dan Kebutuhan perubahan Undang-undang inilah yang akan
menjadi dasar dalam mengajukan Rekomendasi kepada pemerintah sebagai hasil dari proses
Riset yang terstruktur dari ATC sejak persiapan pra konperensi dan selama konperensi
berlangsung.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya disampaikan kepada para pihak yang
sudah bekerjasama dengan kami dalam membantu terwujudnya Buku Panduan ini, yang
tidak dapat kami sebutkan namanya satu persatu. Semoga segala dukungan dan bantuan
yang diberikan menjadi manfaat bagi kita semua.
Dengan tersusunnya Buku Panduan SJSN Kesehatan ini, diharapkan perusahaan
mampu membangun kebijakan SJSN bidang Kesehatan di perusahaan dengan baik dan
benar, sehingga dapat segera berperan serta sebagai peserta dan mendukung pencapaian 8
Sasaran Pokok di SJSN Kesehatan di Tahun 2014.
Jakarta, 30 September 2014,
Penulis,
Zukra Budi Utama
(ATC Research & Program Division Head)

h a l a m a n | iv

ABSTRAK
Sebagai panduan dalam IR Conference 2014, buku ini disusun terintegrasi untuk
menghasilkan konsep Kebijakan SJSN Perusahaan berdasarkan konsep Kebijakan SJSN
Nasional.
Berangkat dari konsep dasar membangun kebijakan hubungan industrial, maka
dibangunlah konsep dasar kebijakan hubungan industrial di perusahaan dan konsep dasar
kebijakan hubungan industrial nasional.
Kebijakan perusahaan harus mengacu kepada kriteria standar operasional perusahaan
yang mengacu kepada kriteria standar operasional institusi pelaksana kebijakan nasional.
Mengingat kriteria standar operasional institusi pelaksana belum teridentifikasi, maka dibantu
penyusunannya dengan menggunakan pendekatan simpul operasional.
Simpul operasional dibangun diatas fondasi 20 Titik Perhatian Utama (20 Concern).
Setiap titik kemudian diturunkan dua kelompok aspek, yaitu aspek norma yang mengacu
kepada kewajiban UU dan aspek manajemen yang mengacu pada proses pendukung
kelancaran aspek norma. Kedua aspek tersebut terdiri dari variabel-variabel kemungkinan
pertanyaan yang muncul dalam menjalankan setiap concern.
Berdasarkan Simpul Operasional, kemudian disusun Kriteria Standar Operasional
Institusi Pelaksana dengan cara mengkonversikan seluruh variabel di dalam Simpul
Operasional menjadi bahasa kriteria standar operasional.
Kriteria Standar Operasional BPJS Kesehatan harus memenuhi syarat „mampu
mengakomodir seluruh kemungkinan kendala operasional‟ dalam pelaksanaan SJSN
Kesehatan.
Identifikasi seluruh kendala operasional didapat dari hasil kuisioner para pelaksana
hubungan industrial di perusahaan, yang kemudian direfleksikan pada kriteria standar
operasional, untuk memastikan tidak ada kendala yang tidak terakomodir oleh kriteria
standar operasional. Jika ada yang tidak terakomodir, maka disusun kriteria baru, sehingga
dengan terjadinya penambahan kriteria maka target „mampu mengakomodir seluruh
kemungkinan kendala operasional‟ tetap tercapai.

halaman | v

Berdasarkan Kriteria Standar Operasional BPJS Kesehatan. ---------------------------------- h a l a m a n | vi . sebagai dasar dalam membangun kebijakan pelaksanaan SJSN bidang kesehatan di perusahaan. kemudian disusun Kriteria Standar Operasional Perusahaan.

Kebijakan SJSN Kesehatan Perusahaan C. Uraian Simpul Operasional BAB III. Kriteria Standar Operasional Perusahaan BAB IV. PENDAHULUAN A. SIMPUL OPERASIONAL SJSN KESEHATAN A.DAFTAR ISI ■ SAMBUTAN ■ KATA PENGANTAR ■ ABSTRAK BAB I. Latar Belakang dan Tujuan B. Konsep Dasar Kebijakan Hubungan Industrial B. Konsep Dasar Simpul Operasional B. MEMBANGUN KEBIJAKAN HUBUNGAN INDUSTRIAL A. KRITERIA STANDAR OPERASIONAL A. Kebijakan SJSN Kesehatan Nasional BAB V. Konsep Dasar Implementasi BAB II. KESIMPULAN – SARAN DAN REKOMENDASI LAMPIRAN KRITERIA STANDAR OPERASIONAL BPJS KESEHATAN h a l a m a n | vii . Kriteria Standar Operasional Institusi Pelaksana B.

. X/MPR/2001 tentang Laporan Pelaksanaan Putusan MPR RI oleh Lembaga Tinggi Negara pada Sidang Tahunan MPR RI halaman | 1 .BAB I PENDAHULUAN Banyak teori dan pengantar sosialisasi yang sudah diberikan mengenai SJSN. bahwa diperlukan adanya suatu sistem perlindungan dan jaminan social pada skala nasional sebagaimana diamanatkan pada Pasal 34 Ayat 2 Perubahan UUD 1945 Tahun 2002 yang menyatakan bahwa: “Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat .. Namun tidak ada salahnya pada bagian ini kita coba mengulang – untuk lebih memperkaya – konsep dasar terbentuknya UU SJSN dan BPJS di bagian Latar Belakang dan Tujuan berikut..” Beberapa pasal di dalam UUD 1945 juga lebih mempertegas pentingnya hidup layak bagi warga negara. Selain UUD 1945. A. Latar Belakang dan Tujuan Pada Pembukaan UUD 1945 disebutkan. serta dengan mewujudkan suatu Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” Selanjutnya.. bahwa pembentukan Pemerintah Negara Repulik Indonesia ditujukan: “. perlindungan dan jaminan sosial yang merupakan hak setiap warga Negara juga diamanatkan dalam UUD 1945 Pasal 27 Ayat 2: “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan” Diamanatkan kemudian. untuk memajukan kesejahteraan umum. dalam Ketetapan MPR RI No.. misalnya: Pasal 27 Ayat 2 “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan” Pasal 31 Ayat 1 “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pendidikan” Pasal 34 Ayat 1 “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara”... mencerdaskan kehidupan bangsa..

MPR.. Secara tegas. tercantum bahwa Negara mengembangkan sistem jaminan social bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. cacat. Sehubungan dengan hal tersebut diatas. sakit. melalui Keputusan Presiden RI No. Pasal 34 (1) tercantum bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. dibentuk Tim Sistem Jaminan Sosial Nasional. dalam rangka mempersiapkan konsepsi dan penyusunan system jaminan social nasional. selain dapat memberikan perlindungan dan jaminan sosial bagi seluruh masyarakat. juga sekaligus halaman | 2 . juga telah ikut menandatangani Deklarasi itu. mempunyai hak atas jaminan sosial …. perlindungan dan jaminan social juga telah dijamin oleh Deklarasi PBB Tahun 1947 tentang Hak Azasi Manusia. Deklarasi itu menyatakan bahwa: “. (pada waktu Ibu Presiden Megawati Soekarno Putri menjadi Wakil Presiden). Disamping dasar berpijak di dalam negeri diatas. dengan pengubahan dan/atau penambahan pada Pasal 34 (2).. hari tua …. dan melalui perubahan keempat UUD 1945 tanggal 10 Agustus 2002. Keputusan Sidang Tahunan MPR RI tahun 2001 menugaskan Presiden untuk membentuk Sistem Jaminan Sosial Nasional dalam rangka memberikan perlindungan sosial yang lebih menyeluruh dan terpadu. Presiden mengambil inisiatif menyusun Rancangan Undang-Undang Jaminan Sosial Nasional. Selain itu. bahwa perlindungan dan jaminan sosial yang diselenggarakan oleh pemerintah bersama masyarakat di tingkat nasional. Berdasarkan keputusan tersebut. Pemerintah Indonesia seperti banyak negara lain. Pengalaman berbagai negara menunjukkan. 102 Tahun 1952 yang juga menganjurkan agar semua negara di dunia memberikan perlindungan dasar kepada setiap warga negaranya dalam rangka memenuhi Deklarasi PBB tentang Hak Jaminan Sosial. di tingkat internasional.” Dasar pertimbangan lain adalah Konvensi ILO No. pada Tap.. 20 Tahun 2002 Tanggal 10 April 2002 tentang Pembentukan Tim Sistem Jaminan Sosial Nasional. 7 Tahun 2001. setiap orang... secara universal.Tahun 2001 yang terkait dengan perlindungan dan jaminan sosial juga telah menugaskan kepada Presiden RI untuk membentuk suatu sistem jaminan sosial nasional dalam rangka memberi perlindungan sosial yang lebih menyeluruh dan terpadu kepada rakyat Indonesia. menjanda.. tidak mampu bekerja. sebagai anggota masyarakat. Keppres ini didahului dengan Keputusan Sekretaris Wakil Presiden No. dalam hal menganggur.

membantu untuk menggerakkan roda pembangunan. dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. pelaksana. Maka menjadi penting bagi pemberi kerja untuk memahami sepenuhnya seluruh aspek implementasi SJSN Kesehatan ini mengingat prinsip dasarnya berada dalam ranah Kesejahteraan sesuai Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Bagian Ketiga Kesejahteraan Pasal 99 ayat (1) Setiap pekerja/buruh dan keluarganya berhak untuk memperoleh jaminan social tenagakerja. Federasi dan Konfederasi Serikat Pekerja/ Serikat Buruh bertujuan memberikan perlindungan. Dimana UU 40 Tahun 2004 Pasal 5 ayat (2) menyatakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. dan penanggung jawab pemogokan pekerja/ buruh sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Berdasarkan uraian di atas. Federasi dan Konfederasi Serikat Pekerja/ Serikat Buruh mempunyai fungsi sebagai perencana. dan b. Perusahaan Perseroan (Persero) Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK). UU 21 Tahun 2000 Pasal 4 ayat (2) butir e. salah satu upaya penyelamatan dari berbagai resiko tersebut adalah perlunya dikembangkan suatu sistem perlindungan dan jaminan sosial yang menyeluruh dan terpadu. sehingga mengancam kesejahteraan rakyat. menyatakan untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Serikat Pekerja/ Serikat Buruh. halaman | 3 . Berdasarkan kenyataan yang terjadi beberapa tahun terakhir ini juga membuktikan. dan e. Untuk itu. serta meningkatkan kesejahteraan yang layak bagi pekerja/ buruh dan keluarganya. jaminan hari tua. sehingga dapat memberikan manfaat yang optimal bagi seluruh warga negaranya. terutama yang dikaitkan dengan peningkatan kesejahteraan rakyat dan kualitas sumber daya manusia. pembelaan hak dan kepentingan. pada Pasal 18 dijelaskan bahwa – Jenis program jaminan sosial meliputi: a. jaminan kematian. Peningkatan Kesejahteraan (bukan peningkatan upah). d. b. (2) Jaminan sosial tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). merupakan wilayah perjuangan utama Serikat Pekerja. c. jaminan pensiun. jaminan kecelakaan kerja. bahwa perlindungan dan jaminan sosial semakin diperlukan jika kondisi perekonomian global maupun nasional sedang mengalami berbagai krisis (multi dimentional crisis). jaminan kesehatan. satu benang merah dengan hak mogok sebagaimana diatur UU 21 Tahun 2000 Pasal 4 ayat (1) Serikat Pekerja/ Serikat Buruh. berbagai kekuatan landasan hukum normatif tersebut secara tegas telah mengamanatkan upaya perlindungan dan jaminan sosial.

menyangkut laangkah perbaikan yang dapat dilakukan. (proses perencanaan).  Do.  Check. dan jawaban yang sama selalu tidak memuaskan penanya. dimana UU sudah membuka pendaftaran kepesertaan bagi perusahaan. action). menyangkut bagaimana mengakses atau memastikan standar operasional prosedur serta mengakses dan memastika data riil pelaksanaan. (proses perbaikan). Sehingga dengan demikian maka 4 tahap proses dengan fokus PDCA disusun seperti diperlihatkan oleh gambar berikut.Maka Jaminan Sosial dapat menjadi alasan mendasar bagi SP/SB untuk mogok normatif yang dilindungi UU. check. (proses pelaksanaan). salah satu alasannya adalah apabila perusahaan tidak ikut serta sesuai UU. menyangkut apa saja hal yang harus dipahami sebelum kepesertaan dan sebelum pelayanan sampai resmi diperbolehkan menggunakan pelayanan kesehatan. Pendekatan terbalik adalah dengan memulai melalui pendekatan manajemen dalam 4 prinsip dasar perbaikan berkesinambungan dalam siklus PDCA (plan. sebagai dasar melakukan persiapan . dimana untuk mogok dengan alasan normatif ini upah pekerja tetap harus dibayar. halaman | 4 . antara lain:  Plan. Konsep Dasar Implementasi Pendekatan yang berbeda harus dilakukan ketika metoda biasa sudah terbukti tidak mampu mengakomodir permasalah-permasalahan yang ada di lapangan. Sesungguhnya ancaman ini sudah potensial sejak awal tahun 2014. sebagaimana sering muncul dalam setiap seminar atau sosialisasi tentang UU SJSN. (proses evaluasi). do. B. menyangkut bagaimana melakukan evaluasi data selama pelayanan  Action. Pertanyaan sama dan berulang selalu disampaikan.

Proses Perbaikan dapat dilihat di siklus Kebijakan Perusahaan di bagian sesudah ini. dengan menyisihkan proses action atau perbaikan kebijakan yang ada di empat tahap proses. Empat Tahap Identifikasi halaman | 5 .Gambar 1. kemudian diturunkan empat tahap identifikasi. Empat Tahap Proses Sistem Manajemen Berdasarkan empat tahap proses sistem manajemen tersebut di atas. Gambar 2. sehingga empat tahap identifikasi adalah sebagai berikut.

Berdasarkan empat tahap identifikasi. Pendekatan inilah yang dinamakan dengan “Simpul Operasional (Concern) ATC” untuk SJSN Kesehatan. karena pada prinspinya secara hukum sudah merupakan suatu keniscayaan mengingat amanat konstitusional. sehingga analisa dilakuan „terbalik‟ – yang dimulai dari identifikasi kebutuhan faktual bagi proses pelaksanaan yang baik dan benar. yaitu peserta PBI (Penerima Bantuan Iuran) dan peserta Non PBI (Peserta yang tidak menerima bantuan iuran). Pendekatan yang dilakukan adalah dengan mengindetifikasi seluruh aspek implementasi yang mengacu kepada keberlangsungan kepesertaan. Langkah apa saja yang tidak secara eksplisit diatur UU. 3. sehingga unsur keseluruhan aspek implementasi antara lain: 1. Perusahaan termasuk ke dalam kelompok peserta yang membayar sendiri iurannya. Berdasarkan amanah Undang-undang maka peserta terdiri atas dua kelompok. Bagaimana implementasi dapat dijalankan dengan baik dan benar menjadi dasar dalam menyusun konsep implementasi. barulah kemudian dievaluasi kelengkapan peraturan perundang-undangan yang mendukung atau memayungi. disusunlah pendekatan kanalisasi pemahaman “Simpul Operasional” yang fokus kepada apa saja yang harus dipahami untuk mampu menjalankan Kewajiban UU dengan baik dan benar. terapan manajemen yang baik dalam menjalankannya. dengan sanksi yang sudah ditetapkan sebagaimana diatur undang-undang berupa sanksi administratif dan hukuman pidana. halaman | 6 . Simpul Operasional mengacu kepada prinsip dasar manajemen dalam penyelenggaraan sistem manajemen berbasis perbaikan berkesinambuang (sustainable improvement). Kewajiban apa saja yang diatur secara eksplisit dalam UU untuk melaksanakan SJSN Kesehatan. namun dibutuhkan untuk dapat menjalankan kewajiban dimaksud poin 1 dengan baik dan benar. 2. Langkah apa saja yang secara eksplisit diatur UU dalam menjalankan kewajiban dimaksud poin 1. kemudian kembali dievaluasi sudah cukupkah payung hukum bagi seluruh terapan tersebut. Sehingga selain mengacu sepenuhnya kepada ketentuan peraturan perundang-undangan. Dengan prinsip keutamaan perhatian kepada – bagaimana perusahaan dapat menjalankan program SJSN bidang Kesehatan secara berkesinambungan.

halaman | 7 .Dengan mengacu pada tiga poin tersebut diatas maka disusunlah Simpul Operasional SJSN Kesehatan.

Proses identifikasi dilakukan setelah terlebih dahulu dilakukan proses pengelompokan apa yang harus dipahami. Sebelum Pelayanan halaman | 8 . Proses Pembuatan Simpul Operasional Konsep dasar simpul operasional adalah mengidentifikasi hal-hal sebagai berikut dalam satu kesatuan pemahaman: 1. antara lain: I. 2. 3. Gambar 3. namun dibutuhkan dalam menjalankan kewajiban tersebut dengan baik dan benar. Apa saja yang harus dipahami untuk mampu menjalankan Kewajiban UU dengan baik dan benar. Apa saja proses menjalankan kewajiban tersebut. Apa saja proses pendukung yang dibutuhkan agar proses poin 2 berjalan lancar.BAB II SIMPUL OPERASIONAL SJSN KESEHATAN A. maka Simpul Operasional SJSN Kesehatan harus mampu mengakomodir seluruh aspek norma dalam UU sekaligus seluruh aspek manajemen dalam implementasi yang diatur secara eksplisit maupun tidak dalam UU SJSN Kesehatan. Sebelum Kepesertaaan II. Konsep dasar Simpul Operasional Sebagaimana dijelaskan dalam konsep dasar operasional. Proses pembuatan simpul operasional dapat dilihat dari gambar berikut ini.

SEBELUM PELAYANAN 1. Berdasarkan pengelompokan ini dilakukan tiga step konsep dasar. Sistem Komplain 17. Standar Tarif INA-CBG 12. Pelayanan Kesehatan Yang Tidak Dijamin 11. Perubahan Status Kepesertaan 19. yang kemudian menghasilkan Simpul Operasional per kelompok sebagai berikut. Pentahapan 2. Sanksi 4. Standar Kualitas Pelayanan 13. I. Ketentuan Pidana II. Selama Pelayanan IV. Sistem Evaluasi Pelaksanaan halaman | 9 . Pendataan Peserta 7. Sistem Komunikasi Pelayanan 9. Pendataan Penggunaan Fasilitas IV. SEBELUM PELAYANAN 6. Sesudah Pelayanan Agar proses identifikasi menjadi lebih fokus. Penggunaan Fasilitas 15. SESUDAH PELAYANAN 18. Pembayaran Iuran 5. Pendaftaran Peserta 3. Koordinasi Manfaat (COB) 8. Sistem Evaluasi Pelayanan 16.III. Pelayanan Kesehatan Yang Dijamin 10. Sistem Data Fasilitas III. SELAMA PELAYANAN 14.

dimulai dari apa yang diberikan dan apa yang diperoleh. Perselisihan Dengan secara ditail digambarkan pada gambar berikut ini. h a l a m a n | 10 . Daftar Pertanyaan inilah yang disebut sebagai Simpul Operasional. 20 Concern SJSN bidang Kesehatan B. Gambar 4. Langkah deteksi ini disusun atas Daftar Pertanyaan. serta bagaimana memastikan apa yang diberikan dapat berjalan baik dan memastikan apa yang diperoleh sesuai dengan apa yang diharapkan berdasarkan peraturan perundangundangan yang mengatur. Simpul Operasional SJSN Kesehatan Simpul Operasional sjsn Kesehatan mendeteksi seluruh aspek kewajiban sebagai dasar dalam menjalankan proses implementasi dan seluruh aspek implementasi yang diatur secara eksplisit maupun tidak eksplisit dalam Undang-undang. Konsep ini mengacu pada bagaimana aspek lengkap sebuah operasional dapat dijalankan perusahaan setelah memunculkan titik-titik kewajiban disertai dengan sanksi yang mengaturnya.20. Setelah menemukan Simpul Operasional maka langkah selanjutnya adalah mendeteksi kejelasan apa saja yang dibutuhkan.

secara keseluruhan lebih bersifat teknis dan belum didapatkan aspek norma secara pasti baik dalam juklak maupun juknis b. Pentahapan Secara satu kesatuan proses pelaksanaan diidentifikasi membutuhkan 10 identifikasi proses sebagaimana terlihat dalam tabel berikut.6 Apa solusinya jika kondisi poin 1.7 Bagaimana mekanisme pendaftaran peserta? 1. 1.9 Apakah dapat dibuat dalam bentuk file yang diketik atau diisi secara manual (ditulis) di formulir? 1.1 2.1 Yang terdiri atas dua aspek yaitu Aspek Norma dan Aspek Manajemen. Aspek Norma Aspek Norma teridentifikasi adalah poin 1. Pendaftaran Peserta a.5 Kondisi bagaimana pentahapan tidak sesuai dengan ketetapan waktu? 1. a.4 Kalau poin 3 iya.2 Bagaimana kalau data salah ketik atau salah diisi tapi sudah diserahkan? Bagaimana kalau jumlah peserta salah dan ingin dikoreksi sedangkan data sudah diserahkan? h a l a m a n | 11 .5 dan 1.1 sampai poin 1.3 Apakah terjadi percepatan pentahapan pelaksanaan BPJS? 1. apa dasar hukumnya? 1. yang diatur secara eksplisit oleh Undang-Undang.10 Kemana harus mendaftar? 1. 2 Pendaftaran Peserta 2. FOKUS 1 Pentahapan PERTANYAAN Pentahapan ditetapkan atas kelompok peserta apa saja? 1.5 terjadi? 1.8 Apa saja data yang harus dilengkapi? 1. seluruh poin yang ada.Secara keseluruhan Daftar Pertanyaan tersebut disusun berdasarkan 20 Concern SJSN Bidang Kesehatan. Aspek Manajemen Aspek Manajemen teridentifikasi adalah poin 1.10.6 yang belum diatur secara eksplisit oleh Undang-undang.7 sampai 1. meiiputi hal-hal sebagai berikut. Aspek Norma. sebagai berikut. 2.2 Setiap kelompok kapan saat diwajibkannya? 1. b.4 dan poin 1. NO. namun diperlukan sebagai syarat dalam implementasi proses manajemen. Aspek Manajemen.

namun masih dalam bentuk umum sehingga masih dibutuhkan ukuran tepatnya. Aspek Manajemen.5 4. dimana perusahaan memenuhi syarat pencabutan sanksi. sedang poin lain masih butuh tata laksana dengan payung hukum yang jelas. Aspek Norma.2.6.4 2. b. 3 Sanksi 3. dan 4.3 3.1.2 3. dan adakah batasan nilai yang diukur? Bagaimana jika terjadi kesalahan data yang menyebabkan kesalahan pembayaran iuran? Apakah iuran termasuk proses yang diaudit BPJS? Bagaimana mekanisme perubahan jumlah iuran jika terjadi perubahan jumlah peserta? Bagaimana mekanisme perubahan iuran berhubungan dengan kenaikan upah tahunan? h a l a m a n | 12 .5 3.3 4. 4.4 3. 4 Pembayaran Iyuran 4.5 4.4.2. Bagaimana kalau ada penambahan peserta? Bagaimana kalau ada pengurangan peserta? Bagaimana mendaftar secara kolektif? Sanksi a.2 4.7. 4.4 4. yang butuh butuh tata laksana dengan payung hukum yang jelas. Bagaimana kondisi perusahaan dikatakan bersalah dan layak dikenakan sanksi administratif? Siapa yang memutuskan bahwa perusahaan sudah bersalah dan layak dikenakan sanksi administratif? Bagaimana mekanisme dalam memutuskan dimaksud poin 2? Siapa yang berwenang menjatuhkan sanksi dan bagaimana mekanisme penerapannya? Bagaimana mekanisme pencabutan sanksi? Pembayaran Iuran a. Aspek Norma.3 dan 4. 4. Aspek Manajemen.7 Kapan iyuran pertama kali dibayarkan? Bagaimana mekanisme pembayaran iuran? Berapa besar iuran. b. hanya ada di poin 3. ada pada poin 4. ada pada poin 4.5.1 4. ada di seluruh poin. yang didukung oleh payung hukum yang jelas.5 yang diatur sesuai petunjuk teknis BPJS Kesehatan.6 4.3 2.1 3.

b.5 6.5. untuk poin 6. 5 Ketentuan Pidana 5. Aspek Manajemen. hanya ada di poin 5. sampai 5. apakah ada keringanan hukuman? Pendataan Peserta a. Aspek Norma. seluruh poin kecuali poin 6. namun untuk Aspek poin 5. dimana perusahaan hanya memenuhi syarat yang ditetapkan. b.5 6. Ketentuan Pidana a.2 5.7 Bagaimana mekanisme pendataan peserta di BPJS sejak data masuk sampai digunakan di ranah Fasilitas? Siapa saja anggota keluarga peserta yang dijamin bersama kepesertaan? Bagaimana mekanisme pendataannya? Apakah peserta dapat melihat data kepesertaannya di BPJS? Bagaimana caranya? Adakah kemungkinan peserta tidak terdata? Bagaimana solusinya kalau hal itu terjadi? Apakah data tersebut sudah tersebar di seluruh Fasilitas di Indonesia? Apa yang dilakukan kalau Fasilitas menyatakaan peserta tidak terdata? Bagaimana akibatnya pada data peserta h a l a m a n | 13 .4 6.5.3 5.4 5.2 sudah diatur secara eksplisit. Bagaimana kondisi perusahaan dikatakan bersalah dan layak dikenakan hukuman pidana? Siapa yang memutuskan bahwa perusahaan sudah bersalah dan layak dikenakan hukuman pidana? Bagaimana mekanisme dalam memutuskan dimaksud poin 2? Siapa yang berwenang menjatuhkan hukuman dan bagaimana mekanisme penerapannya? Bagaimana jika perusahaan memenuhi kewajiban setelah putusan. Norma. Aspek Manajemen.2.5 butuh ukuran yang jelas dalam aturan pelaksanaan.1. 6 Pendataan Peserta 6. sedang poin lain belum ditemukan tata laksana dengan payung hukum yang jelas.1 5. sedang syarat tersebut masih butuh ukuran yang jelas dengan aspek hukum yang jelas pula.1 merupakan kepentingan perusahaan untuk menjamin kelancaran kepesertaannya.6 6.3 6. secara eksplisit sudah diatur untuk poin 5.2 6.1 6.

Perusahaan apa saja yang dapat memanfaatkan Koordinasi Manfaat (COB)? COB dilaksanakan oleh BPJS dengan siapa saja? Apa saja manfaat bagi perusahaan yang mengikuti COB? Apa yang harus diperhatikan perusahaan agar manfaat tersebut dapat direalisasikan? Bagaimana mekanisme pembagian premi antara dua pihak? Bagaimana mekanisme pembagian beban klaim antara dua pihak (BPJS dan Asuransi)? Bagaimana mekanisme penyelesaian perselisihan dua pihak? Apa akibat bagi perusahaan atas perselisihan dua pihak? Sistem Komunikasi Pelayanan a.5 7. diketahui COB (Coordination of Benefit) lebih diatur oleh perjanjian kerjasama antara BPJS Kesehatan dengan pihak Asuransi Komersial.8 7.2 7. Aspek Manajemen. belum teridentifikasi. berkepentingan dalam mengelola kepuasan pekerja mengikuti proses pelayanan BPJS. Aspek Norma. khususnya bagi perusahaan yang selama ini sudah bekerjasama dengan asuransi dalam melayani jaminan sosial kesehatan bagi pekerjanya.1 7. peengembangan sistem komunikasi pelayanan berbasis database peserta belum teridentifikasi dalam ketentuan yang khusus. kalau iuran terlambat? Bagaimana kalau peserta mengalami PHK? Koordinasi Manfaat a.7 7.6 7.8 8.3 7. Aspek Manajemen. membantu perusahaan yang selama ini sudah menggunakan Asuransi Komersial untuk tetap dapat menikmati pelayanan yang sama sekaligus memenuhi kewajiban UU SJSN.6. sehingga memahami apa saja langkah yang h a l a m a n | 14 .4 7. b. b. 7 Koordinasi Manfaat (COB) 7. Hanya masih dibutuhkan ukuran yang jelas untuk seluruh poin di kelompok Koordinasi Manfaat (COB) ini. Aspek Norma. seluruh poin harus diperhatikan perusahaan dalam menerapkan sistem COB ini.

8 Sistem Komunikasi Pelayanan 8.3 8. preventif.2 9.2 sampai 9.5 8. bagaimana koordinasinya? Bagaimana mekanismenya kalau peserta ditolak oleh suatu Fasilitas disebabkan peserta belum mengikuti tingkat pertama sedang peserta menganggap keadaannya darurat? Kalau poin 6 dimungkinkan. 9 Pelayanan Kesehatan Yang Dijamin 9.2 8. secara umum sudah diatur secara eksplisit dalam ketentuan yang jelas.1 8. Bagaimana pembagian pelayanan bertingkat dilakukan berdasarkan data peserta? Apakah peserta yang dirujuk harus mengisi data lagi di Fasilitas berikutnya? Apakah peserta dalam kondisi tertentu karena berada di luar wilayahnya dapat memanfaatkan Fasilitas yang ada di sekitarnya? Jika jawaban poin 3 “dapat”. dan rehabilitatif sebagai manfaat jaminan kesehatan yang menjadi hak peserta? Bagaimana hubungannya dengan tingkatan pelayanan? Bagaimana penetapan ukuran nilai kapitasi h a l a m a n | 15 .6 8. kuratif. b. seluruh poin sangat dibutuhkan perusahaan dalam memastikan pekerja mengikuti program dengan pemahaman yang jelas. Aspek Norma.3 9. sehingga tidak memunculkan komplain di kemudian hari.4 Apa saja item pelayanan kesehatan yang dijamin BPJS? Apakah peserta dapat mengakses data dimaksud poin 1? Bagaimana mekanisme pelayanan promotif. Aspek Manajemen.7. hanya masih butuh ukuran yang pasti untuk poin 9.7 9.4 8.harus diambil dalam memulai memanfaatkan pelayanan dengan segala konsekuensinya yang sudah terukur dengan pasti.1 9. bagaimana mekanismenya? Jika peserta COB berada di wilayah yang tidak ada Fasilitas yang bekerjasama dengan BPJS maupun asuransi. bagaimana mekanisme ijinnya? Pelayanan Kesehatan Yang Dijamin a.

dan bagaimana perubahan nilai kapitasi? Apa peserta yang menggunakan Fasilitas yang tidak bekerjasama dengan BPJS tidak dijamin BPJS? Bagaimana mekanismenya jika Fasilitas meminta tambahan biaya atas pelayanan yang sebenarnya sudah dijamin BPJS? Bagaimana mekanismenya apabila peserta tidak mendapatkan seluruh sub item dari pelayanan yang sebenarnya sudah dijamin BPJS? Pelayanan Kesehatan Yang Tidak Dijamin a. 10 Pelayanan Kesehatan Yang Tidak Dijamin 10.1 10.1 sudah diatur secara eksplisit. seluruh poin dibutuhkan dalam mengambil kebijakan pelaksanaan di perusahaan. Aspek Norma.7 10.5 10.1 dan 111.22 sudah diatur secara eksplisit.3 10. Apa saja item pelayanan kesehatan yang tidak dijamin BPJS? Untuk item pelayanan yang tidak dijamin. 11 Standar Tarif INA-CBG Bagaimana pemerintah menetapkan standar tarif INA-CBG? Bagaimana BPJS menerapkan standar tarif 11.7 11. poin 11.6 10.5 9.9. sekarang item tersebut tidak lagi dijamin BPJS? Bagaimana posisi perusahaan dalam menghadapi kondisi poin 6? Standar Tarif INA-CBG a. b. apakah peserta diberitahu pada saat pelayanan? Apakah peserta dapat mengakses data dimaksud poin 1? Apakah peserta diberi kesempatan untuk melakukan pembayaran tambahan? Bagaimana mekanisme pembayaran tambahan? Bagaimana peserta yang selama ini mendapat pelayanan.6 9. perusahaan berkepentingan di seluruh item dalam menyusun kebijakan di perusahaan.2 10.1 h a l a m a n | 16 . Aspek Manajemen.2 INA-CBG? 11. Aspek Manajemen. b.4 10. poin 10. Aspek Norma.

4 12.2 12.6 item rincian tarif INA-CBG. b.5 dikhawatirkan mengurangi sub item demi melakukan penghematan? Bagaimana kalau pada kondisi darurat tertentu Fasilitas harus mengambil tindakan yang ternyata harus menambahkan sub 11.3 12. seluruh poin diperlukan perusahaan dalam melakukan antisipasi atas segala proses yang beresiko merugikan pekerja. Apa saja standar pelayanan yang dimiliki BPJS? Bagaimana mengukur pencapaian standar dimaksud poin 1 dalam implementasinya? Apakah peserta dapat mengakses standar tersebut? Adakah pengaturan tentang malpraktek yang terjadi dalam pelayanan BPJS? Apa yang dapat dilakukan peserta yang menerima pelayanan di bawah standar yang ditetapkan? Adakah mekanisme yang menjaga agar sistem kapitasi tidak disalahgunakan. belum teridentifikasi ketentuan yang eksplisit mengatur seluruh poin di kelompok ini.1 12. Aspek Norma. Standar Data Fasilitas a. b.4 CBG? Bagaimana kontrol sub item dari tarif INA-CBG atas suatu tindakan medis yang 11. Aspek Norma. misalnya melakukan penghematan pengeluaran yang merugikan peserta. apakah BPJS akan menanggung beban tambahan tersebut? 11.6 13. h a l a m a n | 17 . belum teridentifikasi sudah diatur secara eksplisit dan belum terukur secara ditail. Aspek Manajemen.3 12. Aspek Manajemen. seluruh poin dibutuhkan dalam memastikan keadaan Fasilitas yang akan digunakan pekerja.5 12. 12 Standar Kualitas Pelayanan 12. Standar Kualitas Pelayanan a.Apakah tarif INA-CBG menjadi suatu kesepakatan antara BPJS dengan Fasilitas? Apakah Fasilitas dapat menawar tarif INA11.

2 13.7 tingkat Spesialis tanpa melewati tingkat pertama? Kalau jawaban 7 “dapat”. saat peserta ingin menggunakan suatu Fasilitas atau saat dokter merujuk peserta? Adakah akses untuk mengetahui keberadaan dokter pada saat akan menggunakan suatu Fasilitas? Penggunaan Fasilitas a.2 14. poin 14.5 Kapan saat pertama kali peserta dapat menggunakan Fasilitas? Bagaimana mekanisme peserta menggunakan Fasilitas? Apa saja syarat peserta untuk dapat menggunakan Fasilitas? Apakah ada cara pendaftaran selain datang langsung (misalnya melalui telepon atau email/ internet)? Apakah dapat menanyakan keberadaan dokter? Apakah ada ketentuan berapa lama suatu rujukan dari tingkat pertama harus diikuti oleh peserta? 14.1.6 14. Adakah BPJS memiliki sistem pendataan penggunaan Fasilitas? Adakah akses untuk mengetahui daya tampung suatu Fasilitas? Adakah akses untuk mengetahui Fasilitasfasilitas BPJS yang ada disekitar wilayah peserta? Dapatkah peserta memilih Fasilitas yang akan dirujuk dari tingkat pelayanan pertama? Adakah akses untuk mengetahui kondisi daya tampung Fasilitas pada waktu tertentu.4 13.1 14.8 bagaimana? h a l a m a n | 18 .2 dan 14. 14. Dapatkah peserta langsung datang ke 14. Aspek Manajemen.3 sudah diatur secara eksplisit.5 13. b. 14 Penggunaan Fasilitas 14.3 13. seluruh poin dibutuhkan untuk kelancaran pekerja dalam memanfaatkan Fasilitas.6 Misalnya peserta diwajibkan datang sesuai waktu yang ditetapkan di rujukan atau dibolehkan datang ke rujukan tidak melewati 30 hari sesudah waktu dirujuk. yang lain masih butuh Juklak. Aspek Norma.4 14. untuk kondisi 14.13 Sistem Data Fasilitas 13.3 14.1 13.

sekaligus dasar dalam mengajukan masukan yang berkorelasi dengan keluhan pekerja atas pelayanan.14.5 15.2 16. belum teridentifikasi diatur secara eksplisit dalam aturan pelaksanaan atau Juklak maupun Juknis. Aspek Manajemen.1 16. dibutuhkan dalam mengelola internal pelaksanaan sebagai dasar acuan bagi kelancaran pelaksanaan kepesertaan jangka panjang. 16 Sistem Komplain 16.1 15.4 15. Sistem Komplain a.4 Kalau realisasi tidak sesuai dengan apa yang distandarkan bagaimana komplain dilakukan? Siapa saja yang dapat mengajukan komplain ke BPJS? Bagaimana komplain ditindaklanjuti? Adakah mekanisme untuk melihat tindakan h a l a m a n | 19 . Aspek Manajemen.6 16.9 15. b. 15 Sistem Evaluasi Pelayanan 15. dibutuhkan dalam mempersiapkan pemahaman pekerja atas pelayanan di Fasilitas yang diatur bagi mereka masing-masing sesuai lokasi domisili berdasarkan ketentuan yang berlaku. Aspek Norma.3 15.3 16. belum secara eksplisit diatur. Apakah skrining dapat menetapkan peserta dibolehkan langsung ke tingkat Spesialis? Sistem Evaluasi Pelayanan a.2 15. Bagaimana sistem untuk mengukur tingkat pencapaian standar dari setiap Fasilitas? Bagaimana sistem untuk mengukur optimalisasi penggunaan Fasilitas oleh peserta BPJS? Bagaimana sistem untuk mengukur tingkat ketersediaan dokter pada setiap Fasilitas? Bagaimana sistem untuk mengukur lamanya waktu pelayanan sejak peserta datang sampai bertemu dengan dokter? Bagaimana mengevaluasi kepuasan peserta dalam menggunakan suatu Fasilitas? Bagaimana mengevaluasi kepuasan Fasilitas dalam bekerjasama dengan BPJS? Khususnya dalam pengurusan klaim biaya pelayanan kesehatan yang sudah dilakukan Fasilitas. Aspek Norma. b.

4 Adakah sistem yang mengukur pencapaian pelayanan berbanding ukuran kapasitas maksimal pelayanan setiap fasilitas? Adakah sistem yang mendata siapa saja peserta yang menggunakan setiap fasilitas? Adakah sistem yang mendata siapa saja peserta yang belum menggunakan fasilitas? Apakah perusahaan dapat mengakses pesertanya yang menggunakan fasilitas berikut catatan medisnya (medical records)? Apakah peserta dapat mengakses catatan medisnya dari suatu fasilitas yang pernah digunakannya? h a l a m a n | 20 .10 16.2 17. Aspek Norma.7 16.13 16. Aspek Manajemen. dapatkah diketahui apa akar masalah dari setiap komplain tersebut? Pendataan Penggunaan Fasilitas a.6 16. b. dapatkah diketahui apa akar masalah dari setiap komplain tersebut? Kalau realisasi tidak sesuai dengan apa yang distandarkan bagaimana komplain dilakukan? Siapa saja yang dapat mengajukan komplain ke BPJS? Bagaimana komplain ditindaklanjuti? Adakah mekanisme untuk melihat tindakan follow-up atas suatu komplain? Jika komplain tidak ditindaklanjuti adakah mekanisme lanjut untuk melaporkan komplain yang tidak ditindaklanjuti? Dapatkah mengakses jumlah komplain yang disampaikan setiap tahun ke BPJS dan/ atau ke fasilitas tertentu? Kalau jawaban poin 6 “dapat”.1 17.14 17.11 16.3 17.3 17.16.12 16. follow-up atas suatu komplain? Jika komplain tidak ditindaklanjuti adakah mekanisme lanjut untuk melaporkan komplain yang tidak ditindaklanjuti? Dapatkah mengakses jumlah komplain yang disampaikan setiap tahun ke BPJS dan/ atau ke Fasilitas tertentu? Kalau jawaban poin 6 “dapat”. 17 Pendataan Penggunaan Fasilitas 17.8 16.5 16.9 16. sebagai dasar dalam memberikan masukan perbaikan bagi kelancaran kelangsungan kepesertaan jangka panjang. belum diatur secara eksplisit dan terukur dengan jelas.

18 Perubahan Status Kepesertaan 18.3 18. Perubahan Status Kepesertaan a. b. dengan pengembangan terhadap akses data formulir yang dibutuhkan. apakah perusahaan masih dibebankan tanggungjawab iuran? Kalau jawaban poin 3 “masih”. diperlukan dalam mengelola kepesertaan pekerja di perusahaan.2 18. Aspek Norma.Apakah peserta dapat meminta catatan 17.4 18. Aspek Norma. dibutuhkan dalam mengelola kemungkinan munculnya perselisihan.5 medisnya dari suatu fasilitas yang pernah digunakannya? Apakah peserta dapat mengetahui seluruh item pelayanan apa saja yang dia peroleh 17.5 pelayanan peserta? Apa dampaknya? Bagaimana mengatasinya? 19.3 perselisihan dalam UU BPJS? Perselisihan apa yang berdampak pada 19. belum diatur secara eksplisit yang khusus diatur bagi pelaksanaan UU SJSN. sudah diatur secara eksplisit oleh BPJS. 19 Perselisihan Siapa saja pihak yang diatur perselisihannya dalam UU BPJS? Bagaimana mekanisme penyelesaian 19.2 h a l a m a n | 21 . Aspek Manajemen. b. sampai berapa lama kewajiban itu dilaksanakan? Apabila ada pekerja baru yang sebelumnya PBI bagaimana mekanisme perubahan statusnya? Perselisihan a.1 18. Aspek Manajemen.4 kepesertaan? Apa dampaknya? Bagaimana mengatasinya? Perselisihan apa yang berdampak pada 19.6 dari fasilitas yang dijadikan dasar acuan bagi fasilitas dalam mengajukan klaim? 18.5 19. Bagaimana mekanisme perubahan status peserta? Adakah batas waktu pemberitahuan perubahan status peserta? Apabila peserta di-PHK.

20 Sistem Evaluasi Pelaksanaan 20.6 perusahaan? Apa dampaknya? Bagaimana mengatasinya? 20. b. dibutuhkan dalam melaksanakan program dengan prinsip perbaikan berkesinambuangan sebagai prinsip dasar manajemen.1.2 20.9 Apakah BPJS memiliki sistem evaluasi implementasi UU BPJS secara berkala? Apakah hasil evaluasi dapat diakses oleh peserta dan/atau perusahaan? Bagaimana sistem evaluasi proses implementasi BPJS yang baik bagi perusahaan? Apa saja kriteria performa keberhasilan perusahaan dalam menjalankan UU BPJS? Bagaimana langkah perbaikan yang dapat dilakukan? Kerjasama apa saja yang dapat dilakukan dengan ATC (Apindo Training Center)? Apakah ATC juga menyediakan jasa evaluasi implementasi BPJS di perusahaan? Apakah poin 7 disertai dengan solusi dan antisipasi masalah sebagai tindaklanjut temuan? Apakah ATC juga menyediakan paket continuous improvement implementasi UU BPJS di perusahaan. h a l a m a n | 22 .8 20. Sistem Evaluasi Pelaksanaan a.4 20.5 20.Perselisihan apa yang berdampak pada 19. yang digunakan untuk mengukur tingkat kesiapan perusahaan dalam mengikuti program SJSN yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan.3 20.1 20. Aspek Norma.6 20. sedang poin lain belum teridentifikasi diatur secara eksplisit. sudah diatur secara eksplisit dalam peraturan pemerintah untuk poin 20.7 20. Aspek Manajemen. sehingga perusahaan dapat melaksanakan sendiri assessment dan perbaikan? Seluruh Aspek Norma dan Aspek Manajemen kemudian diturunkan menjadi „kriteria assessment‟ yang dinamakan dengan „Simpul Operasional Level 2‟.

A. Kriteria Standar ini merupakan gabungan antara poin simpul yang sudah diatur UU dengan poin simpul yang belum diatur UU. Bentuk ketentuan inilah yang kemudian diajukan sebagai „Rekomendasi‟ ke pemerintah. menjadi satu untuk diuji kepada pelaksana. untuk ditemukan bentuk ketentuan yang terbaik dalam mengaturnya. serta berguna sebagai dasar dalam membangun Kebijakan Perusahaan. kemudian kendala ditabulasikan ke seluruh kriteria yang sesuai dengan dalam mengakomodir antisipasi munculnya kendala tersebut.BAB III KRITERIA STANDAR OPERASIONAL Kriteria standar operasional merupakan turunan dari simpul operasional dalam bentuk bahasa standar operasional prosedur. Hasil kuisioner yang termasuk ke dalam KSOIP adalah setiap kendala yang dianggap dapat diakomodir oleh kriteria standar. Sebagai acuan bagi Kriteria Standar Operasional Perusahaan (KSOP). Kriteria Standar Operasional Perusahaan mengacu kepada Kriteria Standar Institusi Pelaksana dalam hal ini BPJS Kesehatan yang disusun melalui pendekatan simpul opersional yang mengacu pada 20 Concern. Kelompok simpul baru kemudian dievaluasi poin mana saja yang sudah diatur cara eksplisit oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku dan mana yang belum diatur. Kriteria Standar Operasional Perusahaan berguna untuk mengetahui kesiapan perusahaan dalam mengikuti program SJSN bidang Kesehatan. maka sebelumnya KSOIP harus melewati proses uji coba dengan melakukan proses kanalisasi atas seluruh masalah dan kendala operasional yang ada di lapangan. Seluruh poin yang tidak terakomodir di simpul yang ada dianalisa untuk dikelompokkan pada kelompok simpul baru. guna mendeteksi peta kendala (trouble spots) dan kebutuhan akan kelengkapan UU dan peraturan pelaksanaan bagi kelancaran proses kerja manajemen mengikuti program BPJS. Seluruh poin yang belum diatur kemudian didiskusikan di Sidang Komisi IR Conference 2014. Standar Kriteria Operasional Institusi Pelaksana (KSOIP) Kriteria Standar Operasional Institusi Pelaksana (KSOIP) didapat dengan cara mengkonversi seluruh variabel yang ada dalam Simpul Operasional menjadi bahasa asessment. h a l a m a n | 23 . dengan cara memberikan kuisioner kepada para pelaksana hubungan industrial di perusahaan.

adalah sebagai berikut.1. h a l a m a n | 24 . NO KRITERIA STANDAR OPERASIONAL INSTITUSI PELAKSANA TABULASI TOTAL A. maka kriteria terkait dinyatakan sebagai kriteria yang akan dibuat penetapannya dan ditandai dengan kata „menetapkan‟.1. Setelah seluruh kendala terakomodir oleh seluruh kriteria yang ada. Dari kriteria tersebut adakah kemungkinan terdapat keberatan dari pekerja dalam implementasinya? 2.3 Ketetapan waktu mulai diwajibkannya kepesertaan bagi setiap kelompok.1. Contoh cara menurunkan KSOP dari KSIOP dengan kode „mengikuti‟ untuk kriteria yang tidak diambil dan kode „menetapkan‟ untuk kriteria yang diambil menjadi kriteria KSOP.1. maka kriteria ditandai dengan kata „mengikuti‟. Dari kriteria tersebut adakah hal yang dianggap sangat penting dan berpengaruh secara strategis bagi perusahaan? Apabila terdapat indikator tersebut. FOKUS SEBELUM PENDAFTARAN A. Proses analisa dilakukan dengan memperhatikan indikator-indikator yang ditemukan dari setiap kriteria KSOIP. B. maka KSOIP dianggap sudah divalidasi dan dapat digunakan untuk menyusun KSOP (Kriteria Standar Operasional Perusahaan).Contoh KSOIP adalah sebagai berikut.2 Indikator berakhirnya ijin melewati kelompok tahapan Keseluruhan 148 kriteria dalam bentuk KSOP lengkap dapat dilihat pada Lampiran. antara lain: 1. Bagi kendala yang tidak memiliki kriteria yang sesuai akan dibuatkan kriteria tersendiri sesuai dengan kelompoknya dalam 20 Concern.2 Ketetapan jenis kelompok institusi A. A.2.1.2.1.1. Bagi yang tidak terindikasi sesuai indikator tersebut.2 Kriteria perusahaan A. yang boleh melewati batas waktu pentahapan A. KRITERIA STANDAR OPERASIONAL PERUSAHAAN (KSOP) Kriteria Standar Operasional Perusahaan untuk selanjutnya kita singkat dengan KSOP dibuat dengan melakukan analisa kendali terhadap KSOIP yang sudah valid.1 Syarat dibolehkan melewati kelompok tahapan.1.1 Dasar pengelompokan oleh UU A.1. sehingga tidak perlu masuk ke dalam KSOP.1 Pengelompokan pentahapan kepesertaan BPJS Kesehatan mengatur: A.1 PENTAHAPAN A.1.

3 Bagaimana BPJS menetapkan penggolongan kepangkatan sebagai dasar penetapan pelayanan B. dimana kriteria tersebut kemudian disalin dan dijadikan Standar Kriteria Operasional Perusahaan (KSOP).2 Siapa saja anggota keluarga peserta yang dijamin dan mekanisme pendataannya B.8 Akibatnya pada data peserta kalau iuran terlambat B.1.6 Bagaimana data tersebar diseluruh fasilitas di Indonesia B.6 PENDATAAN PESERTA B.4 Bagaimana peserta melihat data kepesertaannya di BPJS B. maka dapat dilakukan langkah-langkah melalui cara musyawarh untuk mencapai mufakat.1.6.NO KSOIP B FOKUS SEBELUM PELAYANAN B. Apabila LKS Bipartit merasa SOP sudah siap. maka LSK Bipartit mengembalikannya ke Manajemen sebagai rekomendasi untuk diterapkan.5 Bagaimana solusi jika peserta tidak terdata B.1.6.6.1 Mekanisme pendataan peserta yang mengatur tentang: B.6.7 Apa solusi jika fasilitas menyatakaan peserta tidak terdata B. Rumusan SOP dapat juga dibuat di LKS Bipartit dengan melibatkan seluruh pihak yang berkepentingan dengan kompetensi yang beragam. Berbagaimaacam kemungkinan terapannya dapat dilihat dalam proses penyusunan Kebijakan Perusahaan di bagian sesudah ini. Apabila terdapat keberatan atas SOP yang dihasilkan LKS Bipartit.9 Bagaimana perubahan data kalau peserta mengalami PHK KODE mengikuti menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan Maka setiap yang ditandai dengan „menetapkan‟ dianggap sebagai kriteria yang memenuhi indikator pembuatan KSOP. maka seluruh kriterianya dijadikan dasar dalam menyusun kebijakan di perusahaan.6.1.6.6.1.6.6. Setelah seluruh KSOP teersusun.1.1. dengan cara menangkap semaangaat dari setiap pengelompokan dalam 20 concern untuk kemudian memerintahkan kepada level manajemen di bawahnya untuk menyusun rumusan SOP sesuai dengan KSOP yang sudah terbentuk tersebut.1.6. h a l a m a n | 25 .1 Pendataan peserta BPJS sejak data masuk sampai digunakan di fasilitas B.1.

Gambar 5. Konsep dasar tersebut dapat di gambar seperti berikut ini. dimana definisi hubungan industrial adalah suatu sistem hubungan yang terbentuk antara para pelaku dalam proses produksi barang dan/atau jasa yang terdiri dari unsur pengusaha. dan pemerintah yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. maka konsep kebijakan hubungan industrial merupakan hal mendasar yang harus diperhatikan. pekerja/buruh. selanjutnya diberikan wewenang pada level manajerial di bawahnya untuk membangun standar operasional dan prosedur bersama-sama dengan para pihak dalam mewujudkan bentuk implementasi terbaik yang ingin diterapkan secara terukur sehingga dapat memenuhi standar konsep perbaikan berkesinambungan dalam sistem manajemen.BAB IV MEMBANGUN KEBIJAKAN SJSN KESEHATAN DI PERUSAHAAN Dalam pelaksanaan SJSN bidang Kesehatan yang meliputi unsur pekerja di perusahaan. Berdasarkan defisini tersebut maka kebijakan yang berada di dalam wilayah hubungan industrial harus melibatkan para pihak dalam proses penerapannya. A. Dengan demikian. KONSEP DASAR KEBIJAKAN HUBUNGAN INDUSTRIAL Kebijakan hubungan industrial di perusahaan adalah kebijakan manajemen di bidang hubungan industrial. dimana setelah penetapan di wilayah strategis (top management). Konsep Dasar Kebijakan Hubungan Industrial h a l a m a n | 26 .

Berdasarkan konsep dasar kebijakan hubungan industrial tersebut. Maka kebijakan hubungan industrial di perusahaan dapat digambarkan sebagai berikut. seperti UU SJSN yang mengatur tentang jaminan sosial di perusahaan yang merupakan bagian dari Kesejahteraan di dalam UU 13 Tahun 2003. dapat dilihat implementasinya dalam kebijakan hubungan industrial perusahaan dan kebijakan hubungan industrial nasional berikut ini. maka dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistim Jaminan Sosial Nasional (UU-SJSN) dan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Pelaksana Jaminan Sosial (UU-BPJS). B. maka perusahaan harus mengeluarkan kebijakan baru tentang terapan dua undang-undang tersebut di perusahaan. yang mengikat para pihak yang ada di perusahaan. Gambar 6. termasuk Undang-undang yang terkait mengatur lebih dalam tentang Ketentuan yang ada di dalamnya serta peraturan pelaksanaannya. Menyangkut dengan Sistem Jaminan Sosial yang selama ini dikenal di perusahaan dengan istilah Jamsostek. Konsep Dasar Kebijakan Hubungan Industrial Perusahaan h a l a m a n | 27 . KEBIJAKAN HUBUNGAN INDUSTRIAL DI PERUSAHAAN Perusahaan dapat mengeluarkan kebijakan hubungan industrial yang akan diberlakukan di dalam perusahaan yang bersifat mengikat para pihak di dalam perusahaan dalam menjalankan proses yang berada di dalam ketentuan peraturan perundang-undangan tentang Ketenagakerjaan (UU 13 Tahun 2003).

maka disusun bentuk kesepakatan terbaik menurut dua pihak untuk diajukan ke Apindo dan/atau federasi/ konfederasi. 2. Dalam menyusun kebijakan. level di bawahnya (manajemen) kemudian merumuskan Kriteria Standar Operasional Perusahaan (KSOP). dimana kriteria standar ini diperoleh dari proses penurunan Simpul Operasional SJSN bidang Kesehatan. Rumusan KSOP kemudian dibahas dan didiskusikan dengan perwakilan pekerja. kemudian disatukan menjadi dasar pembuatan bahan kesepahaman di LKS Bipartit yang akan memberikan rekomendasi kesepakatan antara para pihak di dalam perusahaan. Dari standar operasional tersebut. 3. yang kemudian dianalisa untuk dirumuskan dan ditetapkan kebijakan pengaturannya. atau dilakukan dengan proses musyawarah mufakat secara Bipartit. untuk kriteria tersebut ada kemungkinan salahsatu pihak di perusahaan merasa keberatan. Apa saja “kriteria standar BPJS” yang ada. Setelah “kriteria standar perusahaan” teridentifikasi. dapat dilakukan dengan memanfaatkan sarana LKS Bipartit yang ada di perusahaan. yang terdiri atas proses dalam menjalankan seluruh kewajiban menurut UU SJSN dan UU BPJS. Umumnya kebijakan bersifat strategis dengan mengacu kepada semangat dasar pengaturan yang ingin dilakukan. Setelah diperoleh kesepakatan atas rumusan KSOP.Identifikasi kebutuhan eskternal dan internal diperoleh dari perubahan UU dan aspirasi para pihak. dengan hasil rekomendasi kepada h a l a m a n | 28 . sehingga kebijakan dapat terimplementasi dengan baik tanpa mengganggu jalannya operasional perusahaan. antara lain: 1. untuk disatukan dan diajukan dibahas di LKS Tripartit. Pada bagian yang tidak menemukan kesepakatan. dengan mempertimbangkan berbagai aspek resiko implementasi kebijakan. maka ditetapkanlah Standar Operasional & Prosedur (SOP) tentang Kebijakan tersebut di perusahaan. perusahaan kemudian menentukan apa saja “kriteria standar perusahaan” dengan indikator. Berdasarkan kebijakan tersebut. Tujuannya untuk menyatukan pemahaman dan mengikat para pihak agar perusahaan benar-benar dapat mengikuti “kriteria standar BPJS” sesuai ketetapan pemerintah. serta proses “pendukung proses menjalankan kewajiban” tersebut. Dalam buku ini standar tersebut terdapat dalam Lampiran 1. 4. maka beberapa hal yang harus dipahami dan diperhatikan perusahaan.

h a l a m a n | 29 . Memuat pokok-pokok pengaturan yang menjadi prinsip-prinsip dasar atau batasan-batasan yang dijadikan acuan dalam menyusun aturan pelaksanaan atau standar operasional dan prosedur di perusahaan. atau tidak terjadi perubahan UU yang mengaturnya. maka para pihak melanjutkan proses sesuai peraturan perundangan yang berlaku guna mendapatkan putusan pengadilan hubungan industrial untuk jenis perselisihan kepentingan.pemerintah untuk melakukan perbaikan kebijakan. Berbagai macam bentuk tampilan kebijakan perusahaan. Apakah hal tersebut sudah cukup? Ternyata perusahaan harus mampu membangun siklus perbaikan berkesinambungan sebagaimana diperlihatkaan gambar berikut. 5. Gambar 7. sehingga terjadi perubahan kriteria standar BPJS. Siklus Kebijakan Hubungan Industrial di Perusahaan Siklus tersebut akan menjamin keberlangsungan kebijakan secara berkesinambungan. Demikianlah konsep membangun kebijakan hubungan industrial bidang SJSN di perusahaan. yang selanjutnya menjadi dasar perubahan kriteria standar perusahaan. Apabila belum juga diperoleh kesepakatan. 6. maka para pihak dapat mengundang pakar sebagai nara sumber untuk diskusi memberikan pemahaman. selama kebijakan tersebut masih dibutuhkan. atau meminta bantuan mediasi pada disnaker setempat sesuai mekanisme yang berlaku. namun pada prinsipnya harus memenuhi syarat dikeluarkan oleh penanggungjawab atau direksi perusahaan dan ditandatangani penanggungjawab perusahaan. Apabila bentuk kesepakatan terbaik dimaksud poin 4 juga tidak diperoleh.

C. maka kebijakan hubungan industrial nasional dapat digambarkan sebagai berikut. Berdasarkan identifikasi kebutuhan tersebut kemudian ditetapkaan pengaturannya dalam bentuk peraturan perundang-undangan (Undang-undang dan/atau aturan pelaksanaan). Berdasarkan konsep kebijakan hubungan industrial di sub bab A di atas. sedang internal dapat berupa kebutuhan pertumbuhan ekonomi dan/ atau saran dari para pihak dalam hubungan industrial. KEBIJAKAN HUBUNGAN INDUSTRIAL NASIONAL Sama dengan kebijakan hubungan industrial perusahaan. maka kebijakan hubungan industrial nasional tidak lepas dari konsep dasar kebijakan hubungan industrial. Berdasarkan peraturan perundang-undangan tersebut kemudian dirumuskan kriteria standar operasional baik dalam bentuk Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) ataupun Petunjuk Teknis (Juknis) yang dibuat oleh tingkat Menteri terkait atau pejabat di bawahnya. h a l a m a n | 30 . sedang kebijakan khusus dapat dirumuskan dengan penyatuan Kriteria Standar Operasional Perusahaan (KSOP) yang diturunkan dari Kriteria Standar Operasional Institusi Pelaksana (KSOIP) sebagaimana terlampir. maka pokok-pokok pengaturan dapat diambil dari 20 Concern SJSN Kesehatan yang ada dalam panduan ini sebagai kebijakan umum.Untuk kebijakan SJSN kesehatan di perusahaan. Gambar 8. dengan tujuan mengantisipasi seluruh kendala yang mungkin terjadi dalam menerapkan peraturan. Konsep Dasar Kebijakan Hubungan Industrial Nasional Identifikasi kebutuhan eksternal dapat berupa tantangan perubahan global dan regional. sehingga tidak mengganggu kelancaran pembangunan secara keseluruhan.

Prinsip dasarnya adalah semangat dasar hubungan industrial yang berdasarkan pada musyawarah untuk mencapai mufakat antara para pihak pemerintah. sedang proses kesepakatan dapat dilakukan di tingkat Tripartit Nasional. maka Juklak dan Juknis tersebut dapat diedarkan untuk dimanfaaatkaan para pihak terkait.Tahap berikutnya adalah menyepakati kriteria standar operasional. pekerja dan pengusaha. DPN Apindo serta Kementerian Ketenagakerjaan. namun belum mampu mengatasi masalah di lapangan. sehingga dapat segera dikeluarkan Juklak dan juknis yang mampu mengakomodir seluruh masalah dan mengaantisipasinya agar tak lagi terjadi. Proses validasi dilakukan dengan melakukan kanalisasi atas seluruh masalah yang ada dan mungkin ada (potensi masalah). Berdasarkan pertimbangan kondisi kekurangaan tersebut diatas. Proses perbaikan dapat dilakukan dengan laangkah sebagai berikut. memang ada dalam bentuk Buku Panduan Peserta BPJS Kesehatan. yang dalam pembahasannya di setiap seminar masih menimbulkan debat kusir tanpa penyelesaian yang diarasa memuaskan bagi para pihak. Untuk itu dapat dilakukan dengan mengundang unsur Tripartit Nasional yang terdiri dari unsur konfederasi pekerja. Khusus dalam penerapan UU SJSN bidang Kesehatan. belum terdapat Juklak dan Juknis yang mencukupi. Hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya kendala yang ditemukan di lapangan. Setelah melewati proses pembahasan di Tripartit. Gambar 9. Siklus Kebiajakan Hubungan Industrial Nasional h a l a m a n | 31 . maka disusunlah langkah inisiatif dengan membangun simpul operasional SJSN Kesehatan untuk kemudian diturunkan menjadi Kriteria Standar Operasional Institusi Pelaksana.

sehingga peraturan perundang-undangan memiliki kemampuan adaptasi yang baik dengan setiap perubahan baik di lingkungan eksternal maupun internal negara. sehingga mampu menjamin kelangsungan sistem produksi demi kelangsungan pembangun nasional jangka panjang.Perputaran siklus akan menjamin terjadinya proses perbaikan berkesinambungan. h a l a m a n | 32 .

Berdasarkan kesimpulan maka terlihat bahwa jumlah kelengkapan Petunjuk Pelaksanaan dan Petunjuk Teknis yang dimiliki BPJS Kesehatan dalam menjalankan SJSN bidang Kesehatan masih jauh daripada mencukupi (12%). sebagaimana diuraikan dalam buku ini. 2. Saran dan Rekomendasi 1. „Riset Terapan‟ ini sudah terstruktur dalam bangunan perbaikan berkesinambungan (continuous improvement). Uji pemahaman dan kriteria asessment iv. karena itu layak dan sebaiknya dijadikan acuan bersama dalam mengevaluasi implementasi UU SJSN Kesehatan untuk peserta penerima upah. Lakukan assessment h a l a m a n | 33 . Untuk itu disarankan agar diterapkan langkah-langkah pendekatan Simpul Operasional dalam kanalisasi kendala lapangan dalam menentukan Kriteria Standar Operasional sebagai dasar penyusunan Juklak dan/ atau Juknis. Perusahaan yang sudah membangun kebijakan sebaiknya membangun proses perbaikan berkesinambungan dengan melakukan tahap-tahap riset di tempat kerja yang sudah dikembangkan ATC sekaligus dengan proses pengembangan kompetensi pekerja seperti yang sudah diterapkan di. atau terdapat 12% kriteria standar yang sudah diatur dalam Buku Panduan Pelayanan peserta BPJS dari seluruh Kriteria Standar Institusi Pelaksana yang ada dalam Buku Panduan BPJS Kesehatan IR Conference 2014. Bangun pemahaman atas norma dan susun kriteria assessment iii.BAB IV PENUTUP A. Evaluasi perubahan norma ii. antara lain dengan langkah: i. BUMN PT Pertamina (Persero). sehingga riset dapat berputar dalam siklusnya dengan baik untuk mendukung pencapaian praktek terbaik impelementasi UU SJSN Kesehatan di perusahaan. 3. Kesimpulan Perbandingan jumlah standar operasional yang sudah ada berbanding yang disusun dalam bentuk Kriteria Standar Operasional Institusi Pelaksana dilihat dari Buku Panduan Pelayanan bagi Peserta BPJS Kesehatan. B. Berdasarkan analisa ditemukan bahwa terdapat 18 kriteria standar Buku Panduan yang ada dalam 149 Kriteria Standar Buku Paanduan ini.

◙ h a l a m a n | 34 . Evaluasi hasil assessment dengan LKS Bipartit vi. „Rekomendasi‟ yang dikeluarkan IR Conference 2014 Yogyakarta ini terkait dengan kepentingan vital SJSN Kesehatahan. Mengingat urgensinya.v. Rekomendasikan perbaikan kepada Manajemen vii. Kesepakatan para pihak diturunkan menjadi Standar Prosedur Operasional (SOP) di perusahaan x. Dan seterusnya. hendaknya Rekomendasi ini segera ditindaklanjuti oleh Lembaga Kerjasama Tripartit Nasional (LKS Tripnas). 4. Manajemen mengeluarkan kebijakan perbaikan berdasarkan rekomendasi LKS Bipartit viii. untuk kemudian disusun menjadi pengajuan rumusan perbaikan UU dan/ atau aturan pelaksanaan atau petunjuk teknis. Kebijakan diturunkan menjadi kesepakatan para pihak ix.

1. A.1.1 Pengelompokan pentahapan kepesertaan BPJS Kesehatan mengatur: A.2.6 Tanda terima pendaftaran A.1.1 Mekanisme pendaftaran peserta individu mengatur tentang: A.2.3 Cara pengisian data melalui media komputer.2.2 Ketetapan jenis kelompok institusi A.2.2 Indikator berakhirnya ijin melewati A.3.1 Data yang harus diisi. A.2.2.2.3.2.2.1. KSOIP FOKUS SEBELUM PENDAFTARAN A.4 Alamat pengiriman A.2 Kriteria perusahaan yang boleh melewati batas waktu pentahapan mengatur: A.1 Data yang harus diisi.7 Tanda bukti anggota A.2.1.5 Cara pengiriman A.LAMPIRAN 1 KRITERIA STANDAR OPERASIONAL INSTITUSI PELAKSANA (KSIOP) DAN SARAN PENGATURAN KRITERIA STANDAR OPERASIONAL PERUSAHAAN (KSOP) NO A.2.2.1.1.1.4 Alamat pengiriman A.1.1.6 Tanda terima pendaftaran A.2 Cara pengisian data secara manual (ditulis) A.2.1 Perubahan data yang sudah dikirim A.1.3 Cara pengisian data melalui media komputer.1. A.2.1.1 PENTAHAPAN A.3 Ketetapan waktu mulai diwajibkannya kepesertaan bagi setiap kelompok.2 PENDAFTARAN A.1.2.2.2 Mekanisme pendaftaran peserta kolektif mengatur tentang: A.2.2.1.5 Cara pengiriman A.3 Mekanisme koreksi data individu mengatur tentang: A. A.2.1 Dasar pengelompokan oleh UU A.2.2.2 Cara pengisian data secara manual (ditulis) A.2.2.1 Syarat dibolehkan melewati kelompok tahapan.2 Perubahan data karena penambahan peserta KSOP mengikuti mengikuti menetapkan mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti h a l a m a n | 35 . A. A.2.2.2.1.1.

3.1.3.3.3 Perubahan data karena pengurangan peserta A.3.3. belum mendaftar setelah melewati waktu batas akhir waktu kepesertaan A.3 Jumlah surat teguran yang sudah diberikan oleh BPJS A.2.1.3 Mekanisme pencabutan sanksi A.2 Lama perusahaan (dengan kepesertaan wajib).2.4.2 Mekanisme Putusan bahwa perusahaan sudah bersalah dan layak dikenakan sanksi administratif A.3.2.3 c.1 Kelompok perusahaan yang sudah jatuh kewajiban kepesertaan A.2.3.3.4.3 A. Perubahan data yang sudah dikirim A.1.3.3.1.3.A.2.4.1 a.2.3.4 Pemberitahuan putusan pencabutan sanksi administrasi mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti h a l a m a n | 36 .4 Tanda terima surat teguran ditandatangani oleh pejabat setingkat apa di perusahaan.4 d.2 Evaluasi data ukuran kelayakan pencabutan sanksi administrasi A.3. A. Tata laksana kelengkapan data pengukuran kelayakan dikenakan sanksi administrasi A.1.2 b.2.1.1 Mekanisme mengukur kelayakan pengenaan sanksi administratif A.4 Mekanisme koreksi data kolektif mengatur tentang: A.2. Perubahan data karena penambahan peserta A.3.3. Putusan kelayakan sanksi administrasi A.3.3. Pemberitahuan putusan sanksi administrasi A. Perubahan data karena pengurangan peserta SANKSI A.3 Putusan kelayakan pencabutan sanksi administrasi (pejabat pembuat surat keputusan dan isi surat) A. Evaluasi data ukuran kelayakan snaksi administrasi A.1 Tata laksana kelengkapan data pengukuran kelayakan pencabutan sanksi administrasi A.2.3.1.3.3.

5 Perihal keringanan hukuman jika perusahaan memenuhi kewajiban setelah putusan.5.1.1.1.4.6.4 A.1 Mekanisme pembayaran iyuran yang memuat A.1 Mekanisme pendataan peserta yang mengatur tentang: B.1.2 Evaluasi data ukuran kelayakan dikenakan hukuman pidana A.5 NO B PEMBAYARAN IYURAN A.2 Penetapan saat pertamakali pembayaran iyuran A.1.6 Mekanisme koreksi data iyuran akibat yang lain selain jumlah pekerja dan nilai upah A.4.1.5.6.4. KSOIP FOKUS SEBELUM PELAYANAN B.1.4 Mekanisme koreksi data iyuran akibat perubahan jumlah peserta A.3 Bagaimana BPJS menetapkan penggolongan kepangkatan mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti menetapkan mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti KSOP mengikuti menetapkan menetapkan menetapkan h a l a m a n | 37 .7 Mekanisme evaluasi dan penyesuaian berkala atas iyuran A.1.4.1.4.5.A.3 Putusan hukuman pidana A.6.8 Mekanisme audit atas iyuran A.6.1.4.4.1.1 Mekanisme penetapan hukuman pidana yang mengatur tentang: A.1.3 Cara pembayaran perusahaan A.2 Siapa saja anggota keluarga peserta yang dijamin dan mekanisme pendataannya B.1 Tata laksana kelengkapan data pengukuran kelayakan dikenakan hukuman pidana A.5 Mekanisme koreksi data iyuran akibat perubahan nilai upah A.1.4 Pemberitahuan putusan hukuman pidana A.4.1 Pendataan peserta BPJS sejak data masuk sampai digunakan di fasilitas B.1.5.4.6 PENDATAAN PESERTA B.1.1.1.5.4.1 Penghitungan besar iyuran yang disetor A.9 Denda keterlambatan pembayaran iuran KETENTUAN PIDANA A.5.

7.1.1.1.8 Akibatnya pada data peserta kalau iuran terlambat B.7 B.6 Bagaimana data tersebar diseluruh fasilitas di Indonesia B.6 Bagaimana mekanisme pembagian beban klaim B.1.8 Apa kemungkinan akibat bagi perusahaan atas perselisihan dan solusinya B.4 Bagaimana peserta melihat data kepesertaannya di BPJS B.1.1 Sistem pelayanan bertingkat berdasarkan data peserta B.1 Kondisi perusahaan yang dapat memanfaatkan koordinasi manfaat (COB) B.7.8.5 Bagaimana mekanisme pembagian premi antara dua pihak B.5 Bagaimana solusi jika peserta tidak terdata B.1.3 Komunikasi jika peserta COB menggunakan fasilitas yang tidak bekerjasama dengan asuransi dan BPJS.6.6.1.1.1.7.B.1.4 Yang harus diperhatikan perusahaan agar manfaat tersebut dapat direalisasikan B.8.1.6.7.3 Manfaat bagi perusahaan mengikuti COB B.4 Komunikasi jika peserta menggunakan fasilitas di luar menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan h a l a m a n | 38 .7 Apa solusi jika fasilitas menyatakaan peserta tidak terdata B.9 Bagaimana perubahan data kalau peserta mengalami PHK KOORDINASI MANFAAT (COB) B.7 Bagaimana mekanisme penyelesaian perselisihan B.2 Data peserta yang dirujuk ke fasilitas berikutnya B.1.1.8 sebagai dasar penetapan pelayanan B.6.7.1 Mekanisme koordinasi manfaat (COB) yang mengatur tentang: B.1.1.2 BPJS dapat melakukan COB dengan pihak mana saja B.1 Mekanisme Komunikasi Pelayanan yang Mengatur tentang: B. B.7.1.7.6.1.8.8.8.7.7.6.1.

9. kuratif.1.5 Komunikasi jika peserta ditolak di fasilitas B.9.wilayahnya B.6 Pelayanan yang sebelumnya didapat tapi kini tidak lagi dijamin BPJS? menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan h a l a m a n | 39 .1.1.9.10.9.10.5 Peserta yang menggunakan fasilitas yang tidak bekerjasama dengan BPJS B.10.1.1.3 Cara peserta mengakses data Pelayanan kesehatan yang tidak dijamin BPJS B.1 Pelayanan kesehatan yang tidak dijamin BPJS B.10.10. dan rehabilitatif dan hubungannya dengan tingkat pelayanan.1.1.9.1.7 Peserta tidak mendapatkan seluruh sub item dari pelayanan yang sebenarnya sudah dijamin BPJS B.9.10 PELAYANAN KESEHATAN YANG TIDAK DIJAMIN B.2 Pemberitahuan pada peserta saat pelayanan B.9.3 Cara kerja pelayanan promotif.8 Kapan saat penghentian pelayanan kepada peserta B.1.9 PELAYANAN KESEHATAN YANG DIJAMIN B.4 Peserta yang ingin melalukan pembayaran tambahan B.10.1.1. preventif.1.1. B.9.1 Mekanisme Pelayanan Kesehatan yang Dijamin yang mengatur tentang: B.1 Mekanisme Pelayanan Kesehatan yang Tidak Dijamin yang mengatur tentang: B.2 Cara peserta mengakses data Pelayanan kesehatan yang dijamin BPJS B.5 Bagaimana mekanisme pembayaran tambahan? B.9.6 Fasilitas yang meminta tambahan biaya atas pelayanan yang sebenarnya sudah dijamin BPJS B.1.10.8.1.4 Pengukuran nilai kapitasi dan kemungkinan perubahan nilai kapitasi B.1 Apa saja item pelayanan kesehatan yang dijamin BPJS B.

1. B.12.12 STANDAR KUALITAS PELAYANAN B.1.1.3 Cara peserta mengakses standar tersebut B.12.1.2 Akses untuk mengetahui daya tampung suatu fasilitas B.1.1 Mekanisme Terapan Kualitas Pelayanan yang mengatur tentang: B.CBG B.12.1.1.11.1 Mekanisme Pengelolaan Data Fasilitas yang mengatur tentang: B.1.4 Pengaturan tentang malpraktek yang mungkin terjadi dalam pelayanan BPJS B.12.13.11.1.1 Mekanisme Terapan INA-CBG yang mengatur tentang: B.11 STANDAR INA .B.7 Bagaimana posisi perusahaan dalam menghadapi kondisi poin 6? B.2 Cara mengukur pencapaian standar dimaksud poin 1 dalam implementasinya B.1.1 Cara penetapkan standar tarif INA-CBG? B. B.11.6 Cara agar sistem kapitasi tidak disalahgunakan sehingga merugikan peserta.1 Sistem pendataan penggunaan fasilitas B.1.12.1.4 Bagaimana kontrol tarif INACBG agar tidak terjadi pengurangan sub item demi melakukan penghematan.1 Standar pelayanan BPJS Kesehatan dan Fasilitasnya B.13.5 Jika peserta menerima pelayanan di bawah standar yang ditetapkan? B.5 Kondisi tertentu tindakan yang terpaksa harus menambahkan sub item rincian tarif INA-CBG.11.13.3 Bagaimana Jika fasilitas keberatan dengan tarif INACBG B.13 SISTEM DATA FASILITAS B.1.10.13. B.11.12.12.3 Akses untuk mengetahui fasilitas-fasilitas BPJS yang ada disekitar wilayah peserta menetapkan mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti mengikuti menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan h a l a m a n | 40 .11.2 Bagaimana tarif INA-CBG menjadi suatu kesepakatan antara BPJS dengan fasilitas B.1.1.

14.13.14.7 Jika peserta ingin langsung datang ke tingkat spesialis tanpa melewati tingkat pertama C.4 Cara pendaftaran selain datang langsung (misalnya melalui telepon atau internet) C.13.B.3 Syarat peserta untuk dapat menggunakan fasilitas C.6 NO C. Akses untuk mengetahui keberadaan dokter pada saat akan menggunakan suatu fasilitas KRITERIA STANDAR FOKUS SELAMA PELAYANAN C. Jika peserta ingin memilih fasilitas yang akan dirujuk dari tingkat pelayanan pertama Akses mengetahui daya tampung fasilitas pada waktu tertentu.14.14.1 Mekanisme Penggunaan Fasilitas yang Mengatur tentang: C.1.1.13.1.5 Cara mengetahui keberadaan dokter? C.1.14.6 Lama suatu rujukan dari tingkat pertama harus diikuti oleh peserta. C.1 Kapan saat pertama kali peserta dapat menggunakan fasilitas C. saat peserta ingin menggunakan suatu fasilitas atau saat dokter merujuk peserta.1.1.14.14.14 PENGGUNAAN FASILITAS C.1.1.1.1.14.8 Kondisi bagaimana peserta dapat memanfaaatkan fasilitas menetapkan menetapkan menetapkan KSOP menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan h a l a m a n | 41 .5 B.2 Cara peserta menggunakan fasilitas? C.14.1.4 B.

3 Cara mengukur tingkat ketersediaan dokter pada setiap fasilitas? C.4 Cara mengukur lamanya waktu pelayanan sejak peserta datang sampai bertemu dengan dokter? C.15.5 Cara mengukur kepuasan peserta dalam menggunakan suatu fasilitas? C.2 Cara mengukur optimalisasi penggunaan fasilitas oleh peserta BPJS? C.1 Cara mengukur tingkat pencapaian standar dari setiap fasilitas? C.16. C.1 C.1.1.1.1. termasuk dalam pengurusan klaim biaya pelayanan kesehatan yang sudah dilakukan fasilitas.1 Koordinasi bagi peserta COB jika berada di wilayah yang tidak ada fasilitas yang bekerjasama dengan BPJS maupun asuransi.14.16.9 C.15 SISTEM C.16.1 Komplain jika realisasi tidak sesuai standar C.1.1.15.14.3 Bagaimana komplain ditindaklanjuti? C.15.6 Cara mengukur kepuasan fasilitas dalam bekerjasama dengan BPJS.16 SISTEM C.1.1.16.di luar wilayahnya. KOMPLAIN Mekanisme Komplain yang mengatur tentang: C. C.15. C.11 Tata laksana skrining dan manfaatnya dalam penggunaan fasilitas EVALUASI PELAYANAN Mekanisme Evaluasi Pelayanan yang Mengatur tentang: C.2 Siapa saja yang dapat mengajukan komplain ke BPJS? C.1.1.16.14.15.10 Keadaannya darurat bagaimana bagi peserta untuk langsung ke spesialis tanpa lewati tingkat pertama.1.1.15.1.15.4 Tindakan follow-up atas suatu komplain dan cara melihatnya menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan h a l a m a n | 42 .

C.18.17.6 Cara mengakses jumlah komplain yang disampaikan setiap tahun ke BPJS dan/ atau ke fasilitas tertentu.1.17.1.18.1.1 Perubahan status peserta? D.7 Cara mengetahui apa akar masalah dari setiap komplain C.3 Data peserta yang belum menggunakan fasilitas C.16.1.17.1.5 Peserta mengakses catatan medisnya dari fasilitas yang pernah digunakannya C.1 Mekanisme Pendataan Penggunaan Fasilitas yang mengatur tentang: C.17.1.4 Perusahaan mengakses data pesertanya yang menggunakan fasilitas berikut catatan medisnya (medical records) C.17.18 PERUBAHAN STATUS KEPESERTAAN D.17 PENDATAAN PENGGUNAAN FASILITAS C.6 Peserta dapat meminta catatan medisnya dari suatu fasilitas yang pernah digunakannya C.1.1.18.4 Peserta PBI yang berubah status jadi pekerja KSOP menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan h a l a m a n | 43 .1 Mekanisme Perubahan Status Kepesertaan yang mengatur tentang: D.1 Ukuran pencapaian pelayanan berbanding ukuran kapasitas maksimal pelayanan setiap fasilitas. Cara melaporkan komplain yang tidak ditindaklanjuti? C.1. C.17.1.2 Data peserta yang menggunakan setiap fasilitas C.5 NO D.7 Peserta mengetahui seluruh item pelayanan apa saja yang dia peroleh dari fasilitas yang dijadikan dasar acuan oleh fasilitas dalam mengajukan klaim? menetapkan KRITERIA STANDAR FOKUS SESUDAH PELAYANAN D.16.1.1.1.2 Batas waktu pemberitahuan perubahan status peserta? D.17.3 Tanggungjawab perusahaan jika peserta di PHK D.16.18. C.1.18.17.

19 PERSELISIHAN D. D.1.4 Perselisihan apa saja berdampak pada pelayanan peserta.19.5 Langkah langkah perbaikan yang dapat dilakukan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan menetapkan ------------------ h a l a m a n | 44 .1 Mekanisme Perselisihan yang mengatur tentang: D.1.1.1. apa dampaknya.1. dan bagaimana mengatasinya.3 Perselisihan apa saja yang berdampak pada kepesertaan.1 Mekanisme Evaluasi Pelaksanaan yang mengatur tentang: D.19.19.20.20.5 Perselisihan apa saja yang berdampak pada perusahaan? apa dampaknya dan bagaimana mengatasinya D. apa dampaknya dan bagaimana mengatasinya D.1 Evaluasi implementasi UU BPJS secara berkala? D.4 Kriteria performa keberhasilan perusahaan dalam menjalankan UU BPJS D.19.1 Pihak yang diatur perselisihannya dalam proses kerja BPJS D.19.3 Evaluasi proses implementasi BPJS yang baik bagi perusahaan D.D.1.19.20.20.1.1.1.20.2 Cara penyelesaian perselisihan dalam proses kerja BPJS D.20.1.2 Cara mengakses hasil evaluasi oleh peserta dan/atau perusahaan D.20 SISTEM EVALUASI PELAKSANAAN D.