You are on page 1of 56

Oleh

:
Reschita Adityanti
Pembimbing:

dr. S. Anik

G9911112121

IDENTITAS PENDERITA





Nama
Umur
Jenis Kelamin
Status Perkawinan
Pekerjaan
Alamat

 No RM
 Dirawat Diruang
 Tanggal Masuk

: Tn. M
: 72 tahun
: Laki-laki
: Menikah
: Tidak bekerja
: Mangunjiwan Krajan
02/04, Demak
: 07.63.86
: LILY
: 6 Juli 2014

KELUHAN UTAMA

sesak nafas

Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan sesak nafas sejak satu
minggu yang lalu. Sesak nafas dirasakan tidak
dipengaruhi dengan aktivitas. Pasien juga mnegeluh
batuk sudah lebih dari satu bulan. Batuk disertai dahak
berwarna putih, tidak disertai darah. Nafsu makan
pasien menurun, mual (+), muntah (-), demam (-), BAB
cair (-), konstipasi (-), BAK dalam batas normal..

Pasien lalu periksa ke dokter dan dirontgen. Dokter
menyarankan agar pasien melakukan pengobatan rutin
selama 6 bulan di Puskesmas. Pasien lalu periksa ke
puskesmas dan dilakukan tes dahak, hasilnya positif.
Pasien lalu diberi obat yang harus diminum rutin selama 6
bulan. Pasien mulai meminum obat tanggal 30 Juni 2014.

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien mengaku masih sesak nafas dan nafsu
makannya terus menurun setelah minum obat
tersebut dan badannya terasa lemas. Oleh karena
itu keluarga pasien membawa pasien ke RSUD
Sunan Kalijaga Demak.

Riwayat Penyakit Dahulu  Riwayat penyakit serupa  Riwayat mondok  Riwayat DM  Riwayat hipertensi  Riwayat penyakit ginjal  Riwayat asma  Riwayat alergi  Riwayat sakit kuning : diketahui (-) : (+) karena operasi pancreas di RSUD Sunan Kalijaga tahun 2005 : disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal .

Riwayat Penyakit Keluarga  Riwayat tekanan darah tinggi : disangkal  Riwayat DM  Riwayat Asma  Riwayat TBC : disangkal : disangkal : disangkal .

Riwayat Kebiasaan  Riwayat kebiasaan merokok      : (-) Riwayat kebiasaan minum alkohol : disangkal Riwayat kebiasaan minum jamu : (-) Riwayat kebiasaan minum minuman penambah energi : (+) Riwayat IVDU : disangkal Riwayat kebiasaan minum obat anti nyeri : disangkal .

tahu. ikan. Pasien menggunakan fasilitas pembayaran JKN.Riwayat Sosisal Ekonomi Pasien adalah seorang pria dengan satu orang istri. tempe. Saat ini pasien tidak bekerja. sayur. Pasien terkadang mengkonsumsi minuman penambah energi sebelum makan. Sebelum sakit. dan makan lauk pauk daging. . dan minum air putih. 7 orang anak. telur. Pasien memiliki riwayat merokok pada masa mudanya. pasien makan tidak teratur 2-4x kali sehari dengan nasi.

bibir pecah-pecah (-). pandangan berputar (-). tersumbat (-) Telinga Pendengaran berkurang (-). jejas (-). pusing cekot cekot (-).mulut kering (-). (-). telinga berdenging (-). nggliyer (-).Anamnesis Sistemik Kepala Mata Sakit kepala (-). keluar cairan (-). berkunang. darah (-) Mulut Sariawan (-). pandangan ganda.kunang (-). . gusi berdarah (-). leher cengeng (-) Penglihatan kabur (-). membuka mulut sulit (-) lidah kotor (-). mimisan (-). mata kuning (-) Hidung Pilek (-).

nyeri sendi (-). berdebar-debar (-) Mual (+). BB turun (-) lemas (+). batuk (+). mudah lelah (-). berak hitam (-). kaku otot (-) . nyeri ulu hati (). nyeri perut (-). mengi (-) Sesak napas (-). dahak cair (+). nyeri dada (-). gatal (-). muntah darah (-).Leher dan Tenggorokan Sistem respirasi Sistem kardiovaskuler Sistem gastrointestinal Sistem muskuloskeletal Sakit menelan (-). nyeri otot (-). diare (-). batuk darah (-). susah berak (-). perut sebah (-). nafsu makan menurun (+). Sesak napas (+). muntah (-). suara serak (-).

panas (-). kesemutan di kedua kaki (-). ujung jari terasa dingin (-). nyeri saat kencing (-). ujung jari terasa dingin (-). kencing nanah (-). tremor (-). keluar darah (-). bengkak (-/-) pitting oedem . kesemutan (). berkeringat (-) Luka (-).Sistem genitourinaria Ektremitas Atas Ektremitas Bawah Sering kencing (-). bengkak(-). sakit sendi (-). warna kencing kuning pekat (-) Luka (-). sulit memulai kencing (-). sakit sendi (-).

kesemutan (-). mengigau (-). gatal (-). bercak hitam di tangan dan kaki (-) .). emosi tidak stabil (-) Sistem integumentum Kulit kuning (-). gelisah (-). pucat (.Sistem Neuropsikiatri Kejang (-).

Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik dilakukan tanggal 7 Juli 2014. reguler. isi dan tegangan cukup.  Status Gizi : BB  Tanda vital Tekanan darah Frekuensi napas Nadi Suhu : 140/ 80 mmHg : 38 x/ menit : Frekuensi 92 x/menit.04 kg/m2 kesan berat badan normoweight.65)2 = 22. equal : 36.  Keadaan umum : tampak sakit ringan composmentis. gizi kesan cukup  60 kg TB  165 cm BMI  60/ (1.6 0C per axiller .

atrofi musculus temporalis (-). mudah rontok (-). turgor (N). Kepala Bentuk mesocephal. mudah dicabut (-). hematoma di tangan (-). luka (-). ekhimosis di kaki (-). kulit kering di kedua tungkai (-). oedem (-) .Kulit Ikterik (-). rambut warna hitam.nyeri tekan daerah sinus (-) Wajah Moon face (-).

Resume Diagnosis (/-). napas Anamnesis Px Fisik cuping hidung (-). sklera perdarahan subkonjungtiva Px Penunjangikterik (-/-). simetris. retraksi supraklavikula (-).Hidung: Epistaksis (-). strabismus (-/-). . Auskultasi : Bunyi jantung I-II intensitas murni. gangguan fungsi pendengaran (-/-) Jantung: Inspeksi :Iktus kordis tidak tampak Palpasi : Iktus kordis teraba di SIC V 1 cm medial linea midclavicularis sinistra Perkusi : Batas jantung kanan atas: SIC II Linea sternalis dextra Batas jantung kanan bawah: SIC IV linea sternalis dextra Batas jantung kiri atas: SIC II linea parasternalis sinistra Batas jantung kiri bawah: SIC V 1 cm medial linea midclavicularis sinistra Kesan: batas jantung kesan tidak melebar. lensa keruh (-/-) Telinga: Sekret (-/-). reguler. nyeri tekan mastoid (-) . bising (-). darah (-/-). fungsi pembau baik Leher : JVP (R+2 cm). sekret (-). trakea di tengah. atrofi musculus pectoralis (-/-). reflek cahaya (+/+) normal. spider nevi (-). pembesaran kelenjar getah bening aksilla (-) Mata : Konjungtiva pucat (-/-). sela iga melebar (-). retraksi interkostalis (-). pupil isokor dengan diameter 3mm/3mm. ginecomastia (-). gallop (-). edema palpebra (-/-). KGB tidak membesar Thorax: normochest. pernapasan thorakoabdominal. simetris.

striae (-). suara tambahan wheezing (-/-). Px(-) Fisik nyeriAnamnesis ketok kostovertebra bengkak Px (. nyeri tekan suprapubik (-). Palpasi : NT (-). sikatrik (-). area troube pekak. skoliosis (-). hepar dan lien tidak teraba Ekstremitas superior : akral dingin (/-). fremitus raba kanan = kiri Perkusi : Sonor / Sonor Auskultasi :Suara dasar vesikuler (+/+). ascites (-) Palpasi :Supel. ronki basah kasar (+/+). sela Resume Diagnosis iga tidak melebar. tanda-tanda radang (-). distensi (-) . Pengembangan dada kanan = kiri. venektasi (-). retraksi intercostal & supraklavikula (). ronki basah halus (-/-) Genitourinaria : Ulkus (-). sekret (-). liver span 9 cm.. vena kolateral (-). palmar eritema (-/-) Ektremitas inferior : akral dingin (-/). oedem scrotum (-). oedem(-/-) ikterik (-/-). pekak alih (-).Penunjang ). hernia umbilikalis (-) Auskultasi : Peristaltik (+) normal. Pulmo : Inspeksi : Normochest. atrofi testis (-) KGB: KGB inguinal tidak teraba . sela iga tidak melebar. simetris.Punggung : Kifosis (-). Perkusi :Timpani. lordosis (-). oedem(-/-) ikterik (-/-). Abdomen: Inspeksi : Dinding perut > dinding dada. nyeri tekan (-).

00-1.8 gr/dl Hct 32 % Nilai Rujukan Lk : 13.00-3.0-16.00 LED Eosinofil Basofil .4 103/Ul 4.0 Pr : 12.Pemeriksaan Penunjang 6/7/2014 Satuan Hb 10.0 33-45 AL 9.5-11 AT 288 103/Ul 150-440 1 jam = 80 mm/jam 2 jam = 110 mm/jam Lk : <14 Pr : < 20 0 0 % 1.00 % 0.5-18.

2 Ureum 43 mg/dl 0-40 .00-8.00 netrofil segmen 72 % 50.00-6.00 Limfosit 25 % 20.Pemeriksaan Penunjang 6/7/2014 Satuan Nilai Rujukan Netrofil batang 0 % 2.5-1.8 mg/dl 0.00-40.00 Monosit 3 % 2.00-70.00 GDS 105 mg/dl 60-140 SGOT 60 u/L <37 SGPT 24 u/L <42 Kreatinin 1.

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Dahak BTA positif (+) 1 .

bentuk kubah  Jantung bentuk dan ukuran kesan normal  Tampak infiltrate dan fibrosis di kedua lapang paru .Pemeriksaan Penunjang Rontgen Thorax PA      Kekerasan foto cukup Inspirasi cukup Simetris Trachea di tengah Sudut costophrenicus kanan dan kiri simetris  Diafragma kanan dan kiri licin.

ABNORMALITAS Anamnesis: Pemeriksaan fisik: • • • • Sesak nafas Batuk > 1 bulan Mual Badan lemas • Pulmo: RBK (+/+) .

8 mg/dl • Kreatinin: 43 mg/dl • BTA positif (+) 1 • Rontgen thorax PA didapatkan fibrosis dan infiltrate di kedua lapang paru.ABNORMALITAS Pemeriksaan penunjang: • LED 1 jam: 80 mm/jam. LED 2 jam: 110 mm/jam • Netrofil segmen: 72% • Ureum: 1. efusi minimal pada pleura dextra .

Diagnosis TB paru kasus baru dengan efusi minimal pada pleura dextra .

5.Penatalaksanaan 1. 6. 2. Omeprazole 2x1 amp Curcuma 3x1 Methiosone 3x1 OAT FDC 0-0-III . Infuse RL:D5%=1:1 20 tpm Infuse Aminofluid 1 fl/hari Inj. 4. 3.

PROGRESS NOTE .

TINJAUAN PUSTAKA .

. DEFINISI Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis complex (PDPI.TUBERKULOSIS A. 2011).

Setelah berhasil masuk ke saluran pernafasan bagian bawah sampai ke alveolus di lobus tengah pada paru-paru kanan. atau pada apeks paru bagian bawah sampai lobus atas bagian bawah. PATOGENESIS Bakteri tuberkulosis berada di udara dalam bentuk droplet kemudian masuk ke saluran pernafasan atas.TUBERKULOSIS B. kemudian lobus inferior bagian atas Basil tuberkel yang berada di alveolus akan difagositosis oleh antigen prencenting cell (APC) di dalam alveolus .

TUBERKULOSIS B. PMN yang datang ke alveolus kemudian berakumulasi dan bertambah banyak untuk memfagosit basil tersebut. . Basil kemudian keluar dari sel makrofag dan difagosit kembali oleh sel PMN atau makrofag yang lain. produksi sitokin. senyawa kimia yang bersifat kemotaktik bagi PMN. PATOGENESIS sel APC membangkitkan reaksi radang berupa edema mukosa. pelebaran pembuluh darah.

ditemukan adanya pembentukan granuloma.TUBERKULOSIS B.menjadi fibrosis. PROSES FOKUS PRIMER GHON Penyebaran ke nodus limfatikus PROSES RANKE INFEKSI PRIMER KOMPLEKS Sarang-sarang granuloma ini dapat direabsorbsi kembali tanpa cacat . atau nekrosis. . kalsifikasi. PATOGENESIS Ketika terjadi konsolidasi alveolus karena makrofag dan PMN yang berkumpul disertai cairan-cairan dari pembuluh darah yang vasodilatasi akibat reaksi peradangan.

Sarang-sarang ini bisa memadat dan membentuk suatu pengerasan yang dinamakan tuberkuloma dan dapat membentuk kavitas baru. Apabila sampai pada bronchial dan tracea makan akan menjadi TB endobronchial dan TB endotracheal dan bisa menjadi empiema bila rupture ke pleura. PATOGENESIS Bila masuk dalam arteri pulmonalis maka akan menjadi TB millier. Tertelan akan menjadi TB ekstra paru. Jika kavitas berinteraksi dan kolonisasi dengan fungus dapat menjadi mycetoma ..TUBERKULOSIS B.

 Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan biakan positif.  Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA (+) dan kelainan radiologi menunjukkan gambaran TB aktif. Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak TB paru BTA (+):  Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA (+). KLASIFIKASI a. TB paru BTA (-)  Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA (-).TUBERKULOSIS C. gambaran klinis dan kelainan radiologi menunjukkan TB aktif  Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA (-) dan biakan positif .

TUBERKULOSIS C. Berdasarkan tipe pasien  Kasus baru  Kasus kambuh  Kasus defaulted atau drop out  Kasus gagal  Kasus kronik  Kasus bekas TB  Tuberkulosis ekstra paru . KLASIFIKASI b.

Alur Diagnosis .

Alur Diagnosis .

Terapi 1. Fase Lanjutan  Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit. Fase Intensif  Pada fase intensif pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat  Bila pengobatan fase intensif tersebut diberikan secara tepat. namun dalam jangka waktu yang lebih lama  Fase lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten sehingga mencegah terjadinya kekambuhan . biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu  Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan 2.

Jenis Obat yang Dipakai LINI PERTAMA  INH  Rifampisin  Pirazinamid  Etambutol  Streptomisin .

clofazimin) . linezolid. amoksisilin + asam klavulanat.Jenis Obat yang Dipakai LINI KEDUA  Kanamisin  Kapreomisin  Amikasin  Kuinolon  Sikloserin  Etionamid/Protionamid  Para-Amino Salisilat (PAS)  Obat-obatan yang efikasinya belum jelas (Makrolid.

DOSIS OAT Obat Dosis (Mg/Kg BB/hari) Dosis yang dianjurkan Harian ( Intermitten mg/KgBB/k (mg/Kg/BB/ ali) kali) Dosis Maks/ hari (mg) Dosis (mg)/ berat badan (kg)/hr <40 40-60 >60 R 8-12 10 10 600 300 450 600 H 4-6 5 10 300 300 300 300 Z 20-30 25 35 750 1000 1500 E 15-20 15 30 750 1000 1500 S* 15-18 15 15 Sesuai BB 750 1000 1000 .

DOSIS OAT Fase Intensif Fase Lanjutan 2-3 bulan 4 bulan Harian Harian 3x/minggu (RHZE) 150/75/400/275 (RH) 150/75 (RH) 150/150 30-37 2 2 2 38-54 3 3 3 55-70 4 4 4 >71 5 5 5 BB .

.EFUSI PLEURA Efusi pleura adalah penumpukan cairan di dalam rongga pleura akibat transudasi atau eksudasi yang berlebihan dari lapisan pleura. Penumpukan cairan tadi terjadi apabila pembentukan cairan lebih besar daripada penyerapan kembali cairan oleh kelenjar getah bening.

6  Kadar LDH cairan efusi pleura <2/3 batas atas nilai normal kadar LDH serum Jika angka tersebut terlampaui.Jenis Efusi Pleura Untuk membedakan transudat dan eksudat jika memenuhi dua dari tiga kriteria Light. yaitu: :  Ratio kadar protein cairan efusi pleura/ kadar protein serum >0. perbedaan konsentrasi albumin antara serum dan efusi >1. efusi pleura termasuk jenis eksudat.5  Ratio kadar LDH cairan efusi pleura/ kadar LDH serum <0.ketika efusi pleura telah didiagnosis eksudat melalui kriteria diatas. namun klinis dianggap transudat.2 mg/dl dapat menunjukkan cairan efusi bersifat transudat .

Etiologi Eksudat Transudat Efusi Parapneumonia Neoplasma Gagal jantung kiri Sirosis hati Hipoalbumin Peritonial Dialisis Sindrom nefrotik Emboli paru Hipotiroid Stenosis mitral Emboli paru Arthritis Reumatik Efusi jinak yang disebabkan oleh asbestos Pankreatitis Sindrom infark miokard Penyakit autoimun Post operasi bypass arteri koronaria Abses hepatic Uremia Chylothoraks Infeksi lainnya Pengaruh obat Radioterapi Ruptur esophageal Perikarditis Sindrom meig Urinothoraks Obstruksi vena kava superior .

Paparan dari antigen mycobacterial terhadap limfosit dan makrofag pleura menyebabkan respon imun cell-mediated terlokalisasi yang ditandai dengan adanya inflamasi granulomatosa pada pleura dan akumulasi eksudat pleura yang bersifat limfositik .  Reaksi hipersensitivitas tipe lambat terhadap Myobacterium tuberculosis Bahwa efusi pleura pada TB biasanya muncul dari adanya fokus kaseosa subpleural yang ruptur dan menyebabkan adanya cairan yang mengandung bakteri tuberkulosis masuk ke rongga pleura.Patofisiologi Efusi Pleura pada Tuberculosis 1.

. Mekanisme ini jarang terjadi jika dibandingkan dengan efusi pleura dan biasanya berakhir dengan pecahnya suatu kavitas atau adanya fokus di parenkim yang mengandung materi kaseosa dan organisme tuberkel dalam jumlah besar yang akan keluar ke rongga pleura.Patofisiologi Efusi Pleura pada Tuberculosis 2. Empiema Hal ini ditunjukkan dengan adanya pus di dalam rongga pleura.

dispnea. Banyak pasien tidak memiliki gejala pada saat efusi pleura ditemukan.MANIFESTASI KLINIS Gejala tergantung pada jumlah cairan dan penyebab yang mendasari. dan batuk kering (nonproduktif) . Gejala termasuk nyeri dada pleuritik.

suara ketok terdengar redup sesuai dengan luasnya efusi pada auskultasi suara napas berkurang atau menghilang.  Bila sesak napasnya yang menonjol.  Efusi berbentuk kantong (pocketed) pada fisura interlobaris tidak memberi gejala-gejala. Begitu pula bila efusinya berada di atas diafragma.  Pada perkusi.Pemeriksaan Fisik  Biasanya ada gejala dari penyakit dasarnya.  Resonansi vokal berkurang . kemungkinan besar karena proses keganasan.

.Pemeriksaan Fisik  Jika jumlah cairan pleura < 300 ml. baru dapat ditemukan gejala berupa gerak dada yang melambat atau terbatas saat inspirasi pada sisi yang mengandung akumulasi cairan. Fremitus taktil juga berkurang pada dasar paru posterior. cairan ini belum menimbulkan gejala pada pemeriksaan fisik.  Jika jumlah cairan pleura telah mencapai 500 mL. Suara perkusi menjadi pekak dan suara napas pada auskultasi terdengar melemah walaupun sifatnya masih vesikuler.

Ekspansi dada saat inspirasi pada bagian yang mengandung timbunan cairan menjadi terbatas sedangkan sela iga melebar dan menggembung.Pemeriksaan Fisik  Jika akumulasi cairan melebihi 1000 mL. sering didapatkan suara bronkovesikuler yang dalam. . sering terjadi atelektasis pada paru bagian bawah. Pada daerah ini juga dapat ditemukan fremitus vokal dan egofoni yang bertambah jelas. Pada auskultasi di atas batas cairan. sebab suara ini ditransmisiskan oleh jaringan paru yang menagalami atelektasis.

gerak dada pada inspirasi sangat terbatas.Pemeriksaan Fisik  Jika akumulasi cairan melebihi 2000 mL. Selain itu terjadi pergeseran mediastinum ke arah ipsilateral dan penurunan letak diafragma . fremitus taktil maupun fremitus vokal sulit didengar karena sangat lemah. Sela iga semakin melebar. cairan ini dapat menyebabkan seluruh paru menjadi kolaps kecuali bagian apeks. suara napas.

Pemeriksaan mikroskopis dan sitologi 3. Pemeriksaan biokimia 4. .Pemeriksaan Penunjang Foto thorax 2. Pemeriksaan bakteriologi 1.

Cairan yang dikeluarkan antara 500-1000 cc. Nyeri yang terjadi karena pemeberian obat di atas dapat diatasi dengan analgetika. Penderita digoyang-goyangkan supaya rata. . Dianjurkan melakukan aspirasi sedikit demi sedikit. Lebih sering dilakukan pleurodesis pada proses keganasan atau pada efusi pleura yang sering kambuh. 1. kemudian cairan dikeluarkan setelah diklem selama 24 jam atau diberi serbuk sodium atau talk.PENATALAKSANAAN Aspirasi cairan pleura dilakukan untuk mengurangi rasa tidak enak atau “discomfort” dan sesak napas. Dengan menggunakan 500 mg serbuk tetrasiklin yang dilarutkan didalam 50 cc garam faali. 2. bila pengambilan terlalu banyak dan cepat dapat menyebabkan edema paru.

Pemberian steroid ditambahkan dengan OAT dapat menyerap efusi pleura yang disebabkan oleh TB paru secara cepat dan mengurangi fibrosis.PENATALAKSANAAN 3. 4. Thoracosintesis Indikasi untuk thoracentesis adalah adanya efusi pleura klinis yang signifikan (lebih dari 10 mm pada ultrasonografi atau foto lateral decubitus). .

secara permanen untuk mencegah akumulasi cairan maupun udara dalam rongga pleura. Efusi pleura maligna merupakan indikasi paling utama pada pleurodesis . .PENATALAKSANAAN 5. Pleurodesis Adalah penyatuan pleura viseralis dengan parietalis baik secara kimiawi. mineral ataupun mekanik.

Pada efusi pleura ganas dikaitkan dengan prognosis yang sangat buruk. Morbiditas dan mortalitas efusi pleura berhubungan langsung dengan penyebabnya. dengan kelangsungan hidup rata-rata 4 bulan dan berarti kelangsungan hidup kurang dari 1 tahun . stadium penyakit. dan temuan biokimia dalam cairan pleura.PROGNOSIS Prognosis efusi pleura bervariasi sesuai dengan etiologi yang mendasari kondisi ini.