You are on page 1of 9

I.

Tujuan
1. Mengetahui tujuan penetapan karakteristik simplisia.
2. Mengetahui cara penetapan karakteristik simplisia.
3. Memahami cara penetapan kadar abu total, kadar abu tidak larut asam dan
kadar abu larut air.

II.

Dasar Teori
Penetapan fisis dari sediaan jamu (simplisia) dilakukan berupa
penetapan kadar abu sisa pemijaran (kadar abu total) dan kadar abu yang tidak
larut dalam asam (Anonim, 2007).
Abu adalah zat organic sisa hasil pembakaran suatu bahan organic.
Kandungan abu dan komposisinya tergantung pada macan bahan dan cara
pengabuanya.
Kadar abu ada hubunganya dengan mineral suatu bahan. Mineral
yang terdapat dalam suatu bahan terdapat dalam suatu bahan dapat
merupakan dua macam garam yaitu garam organic dan garam anorganik. Yang
termasuk dalam garam organic misalnya garam-garam asam mallat, oksalat,
asetat, pektat. Sedngkan garam anorganik antara lain dalam bentuk garam
fosfat, karbonat, klorida, sulfat, nitrat. Selain kedua garam tersebut, kadangkadang mineral berbentuk sebagai senyawaan komplek yang bersifat organis.
Apabila akan ditentukan jumlah mineralnya dalambentuk aslinya sangatlah
sulit,oleh karena itu biasanya dilakukan dengan menentukan sisa-sisa
pembakaran
garam
mineral
tersebut,yang
dikenal
dengan
pengabuan.(sudarmadji.2003).
Penentuan kadar abu total dapat digunakan untuk berbagai tujuan
sebagai berikut:
1. Untuk menentukan baik tidaknya suatu proses penggolahan
2. Untuk mengetahui jenis bahan yang digunakan
3. Untuk memperkirakann kandungan buah yang digunakan untuk membuat jelly.
Kandungan abu juga dapat dipakai untuk menentukan atau membedakan fruit
uinegar (asli) atau sintesis
4. Sebagai parameter nilai bahan pada makanan. Adanya kandungan abu yang
tidak larut dalam asam yang cukup tinggi menunjukkan adanya pasir atau
kotoran lain.( Irawati.2008 ).
Pemeriksaan ini digunakan untuk mengidentifikasi suatu simplisia
karena tiap simplisia mempunyai kandungan atau kadar abu yang berbeda-beda,
dimana bahan anorganik yang terdapat dalam simplisia tersebut ada yang
terbentuk secara alami dalam tumbuhan. (Anonim, 2007)

Cara perhitungan kadar abu (Anonim. Jumlah kotoran. Dalam hal ini terjadi pemijaran dan penimbangan. Bobot konstan yang dimaksud bahwa dua kali penimbangan berturut-turut berbeda tidak lebih dari 0. 2007) Prinsipnya adalah bahan dipanaskan pada temperature dimana senyawa oraganik dan turunannya terdekstruksi dan menguap hingga tersisa unsur mineral organik. disaring. tanah liat dan lain-lain yang terdapat dalam sample uji disebut sebagai zat anorganik asing yang terbentuk dalam bahan obat atau melekat pada bahan obat pada saat pencampuran (Anonim. 2007). mulai dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak. dipijarkan dan ditimbang abu yang tidak larut dalam asam dimaksudkan untuk melarutkan kalsium karbonat. 2007).Atas dasar tersebut dapat ditentukan besarnya cemaran bahanbahan anorganik yang terdapat dalam simplisia yang terjadi pada saat pengolahan ataupun dalam pengemasan simplisia (Anonim. 2007). Atas dasar tersebut dapat ditentukan besarnya cemaran bahan-bahan anorganik yang terdapat dalam simplisia yang terjadi pada saat pengolahan ataupun dalam pengemasan simplisia. 2007) : Berat abu total = [berat total penimbangan – berat cawan kosong] Kadar abu total = Berat abu total x 100% Berat sampel Dalam menetapkan besarnya kadar sari yang terkandung dalam bahan obat tradisional (ekstrak) dilakukan beberapa kali penimbangan hingga diperoleh bobot tetap/konstan. Bobot konstan yang dimaksud adalah dua kali penimbangan berturut-turut berbeda tidak lebih dari 0. mulai dari proses awal sampai . Prinsipnya adalah bahan dipanaskan pada temperature dimana senyawa organik dan turunannya terdekstruksi dan menguap hingga tersisa unsur mineral organik. saat penimbangan kadar abu diakukan sampai diperoleh bobot tetap/konstan dari alat dan bahan yang digunakan. penetapan kadar abu bertujuan memberi gambaran kandungan mineral internal dan eksternal dalam simplisia.5 mg tiap gram sisa yang ditimbang (Anonim. alkali klorida sedangkan yang tidak larut dalam asam biasanya mengandung silikat yang berasal dari tanah atau pasir. dimana bahan anorganik yang terdapat dalam simplisia tersebut ada yang terbentuk secara alami dalam tumbuhan. Kadar abu diperiksa untuk menetapkan tingkat pengotoran oleh logam-logam dan silikat (Anonim. Kadar abu total (sisa pemijaran) dan abu yang tidak dapat larut dalam asam dapat ditetapkan melalui metode yang resmi. penetapan kadar abu bertujuan memberi gambaran kandungan mineral internal dan eksternal dalam simplisia. total abu kemudian dididihkan dengan asam klorida. tanah. Pemeriksaan ini digunakan untuk mengidentifikasi suatu simplisia karena tiap simplisia mempunyai kandungan atau kadar abu yang berbedabeda. Perlu diingat.5 mg tiap gram sisa yang ditimbang.

tanah liat dan lain-lain yang terdapat dalam sample uji disebut sebagai zat anorganik asing yang terbentuk dalam bahan obat atau melekat pada bahan obat pada saat pencampuran. tambahkan air panas. Bahan Simplisia yang akan diuji Aquadest Asam klorida encer Kertas saring bebas abu Alat      Krus silika Tanur (pemanas suhu tinggi) Krus kaca masir Timbangan analitis Erlenmeyer Prosedur a.terbentuknya ekstrak. disaring melalui kertas saring bebas abu pijarkan sisa kertas saring dalam krus yang sama filtrat dimasukkan ke dalam krus. Penetapan kadar abu tidak larut asam . diuapkan. Kadar abu diperiksa untuk menetapkan tingkat pengotoran oleh logam-logam dan silikat. disaring. total abu kemudian dididihkan dengan asam klorida. dipijarkan dan ditimbang abu yang tidak larut dalam asam dimaksudkan untuk melarutkan kalsium karbonat. Alat dan Bahan     IV. dipijarkan hingga bobot tetap dan timbang hitung kadar abu b. tanah. Kadar abu total (sisa pemijaran) dan abu yang tidak dapat larut dalam asam dapat ditetapkan melalui metode yang resmi. alkali klorida sedangkan yang tidak larut dalam asam biasanya mengandung silikat yang berasal dari tanah atau pasir. Dalam hal ini terjadi pemijaran dan penimbangan. Jumlah kotoran. Penetapan kadar abu total 5 gram sampel simplisia ditimbang masukkan ke dalam krus platina yang sudah dipijar dan ditara. kemudian diratakan dipijar perlahan hingga arang habis dan ditimbang jika arang tidak dapat hilang. III.

dipijar hingga bobot tetap kemudian ditimbang hitung kadar abu tidak larut asam c.6410 . Data Pengamatan Penetapan kadar abu total Nama bahan Nama latin bahan Nama simplisia : Sambiloto : Andrographis paniculata Ness : Andrographidis Herba (Herba Sambiloto) atau Andrographidis Folium (Daun Sambiloto) Bobot simplisia : 5.0000 gram Penimbangan krus platina/silikat (kosong) Bobot (gram) Krus platina/silikat I 35. dicuci dengan air panas. disaring melalui kertas saring bebas abu. dipijar hingga bobot tetap kemudian ditimbang hitung kadar abu tidak larut asam V.4520 Krus platina/silikat II 37. Penetapan kadar abu larut air abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu total dididihkan dengan 25 ml air selama 5 menit bagian yang tidak larut dikumpulkan.abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu total dididihkan dengan 25 ml HCl encer selama 5 menit bagian yang tidak larut dikumpulkan. disaring melalui kertas saring bebas abu.5009 Krus platina/silikat II 35.5148 Penimbangan krus platina/silikat setelah pemijaran abu (krus+abu) (isi) Bobot (gram) Krus platina/silikat I 37. dicuci dengan air panas.

773 % ) ) x 100% x 100% .524 % Rata-rata = = 40.022 %  Krus 2 %abu total = = ( ( ) ( ) ( = 42.Perhitungan kadar abu total  Krus 1 %abu total = = ( ( ) ( ) ( ) ) x 100% x 100% = 39.

5. pektat. Hanya membutuhkan reagen dalam jumlah sedikit. Sedangkan sampel yang akan digunakan adalah Sambiloto. Pada praktikum kali ini. Tidak memerlukan tenaga kerja yang intensif. Na. Ex: garam fosfat. Dalam bahan simplisia. Sedangkan keuntungan dari metode pengabuan kering adalah sebagai berikut: 1. 4. Abu yang dihasilkan dapat dianalisis untuk penentuan kadar mineral. Biaya listrik yang lebih tinggi untuk memanaskan tanur. Beberapa sampel dapat dianalisis secara bersamaan. Pada metode pengabuan kering. Garam organic. air dan bahan volatile lain diuapkan kemudian zat. Pengertian dari kadar mineral adalah ukuran jumlah komponen anorganik tertentu yang terdapat dalam bahan pangan seperti Ca. Aman. sulfat dan nitrit. 2. Hal ini menunjukkan bahwa penentuan kadar air sangat mempengaruhi penentuan kadar mineral. Kehilangan mineral yang dapat menguap pada suhu tinggi. Dalam bahan pangan. 3. 1989). Kadar mineral dalam bahan pangan mempengaruhi sifat fisik bahan pangan serta keberadaannya dalam jumlah tertentu mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme jenis tertentu.zat organik dibakar hingga menghasilkan CO2. K dan Cl. oksalat. selain abu terdapat pula komponen lain yaitu mineral. asetat. Metode pengabuan kering adalah metode pengabuan dengan menggunakan tanur ( 500 0C – 600 0C) selama ± 3 jam. H2O dan N2. . Garam anorganik. 3. mineral terdiri dari 3 bentuk yaitu: 1. Senyawa kompleks yang bersifat organis. akan dilakukan penentuan kadar abu dengan metode pengabuan kering. Kelemahan menggunakan metode pengabuan kering diantaranya adalah: 1. Pembahasan Abu adalah zat anorganik sisa pembakaran dari senyawa organic ( Sudarmadji. Kadar abu dalam simplisia sangat mempengaruhi sifat dari simplisia tersebut. 2. karbonat.VI. Memerlukan waktu lama. Kadar abu merupakan ukuran dari jumlah total mineral yang terdapat dalam simplisia. Ex: garam asam malat. 3. 2.

bukan dengan membuka tutup desikator ke atas. Hal tersebut berfungsi untuk mendinginkan cawan agar tidak kontak dengan udara luar yang akan mengakibatkan bertambahnya berat cawan dengan menempelnya uap air dari luar apabila tidak disimpan di dalam desikator. sebaiknya tunggu selama ± 5 menit di udara (didinginkan di udara). dikhawatirkan tutup desikator akan tergeser (bumping) hingga terjatuh. Karena akan mengakibatkan tutup desikator tidak akan melekat dengan baik pada desikator. Desikator yang masih menyerap uap air ditandai dengan silika gel yang masih berwarna biru terang yang terdapat dibagian bawah desikator yang dihalangi oleh sarangan. Karena apabila kita memasukan cawan porselen dalam keadaan panas tanpa mendinginkan terlebih dahulu di udara. Setelah cawan porselen dipijarkan maka perlakuan selanjutnya adalah didinginkan di dalam desikator. karena apabila terbuat dari bahan plastik dikhawatirkan desikator tersebut tidak bisa menahan panas dari cawan yang bersuhu sangat tinggi. Kemudian didinginkan di dalam desikator selama 15 menit. Berat cawan porselen yang didapat harus berat yang konstan. Akan tetapi pada praktikum ini kita menggunakan pemanas biasa. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga agar desikator tetap berfungsi dengan baik. yang dilakukan dengan beberapa kali proses penimbangan. Cawan porselen lalu ditimbang hingga didapat berat konstan. Yaitu cawan yang sudah bersih dan bebas jelaga dipijarkan dalam tanur pada suhu ± 5500C selama 15 menit di dalam tanur (apabila proses pemijaran dilakukan pada suhu yang lebih tinggi. karena tekanan yang berada dalam desikator lebih besar (pengaruh panas dari cawan porselen). cawan porselen harus ditentukan beratnya secara konstan. Desikator berfungsi untuk mnyerap uap air yang masih terdapat pada cawan porselen. terlebih dahulu harus dipanaskan dalam oven agar silika berwarna biru kembali. Maka sebaiknya sebelum silika gel digunakan. Apabila silika gel sudah berwarna pudar. Sebaiknya desiktor yang digunakan pun harus terbuat dari bahan kaca bukan plastik.Langkah pertama yang harus dilakukan sebelum cawan porselen digunakan untuk menimbang cuplikan sambiloto. Maka penggunaan vaselin sangat dianjurkan. Cara membuka desikatorpun tidak sembarangan. itu berarti penyerapan uap air sudah kurang optimal. Konstan berarti selisih antara penimbangan yang satu dengan penimbangan berikutnya hanya terpaut . maka menggunakan furnice yang bersuhu 1100 – 17000C). yaitu dengan cara menggeser tutup kesamping dengan hati-hati. Desikator yang baik adalah desikator yang masih dapat berfungsi menyerap uap air. Cawan porselen yang telah dipijarkan sebaiknya jangan langsung dimasukan ke dalam desikator.

pengabuan pada suhu 5500C untuk berubah menjadi abu dengan sempurna. Kadar abu yang diperoleh dari sampel sambiloto yaitu 40. Untuk cuplikan jenis bahan makanan atau bahan organik. Fe.sedikit dengan toleransi. Hal ini disebabkan karena menguapnya beberapa mineral pada suhu tinggi seperti Cu. Waterpass pada neraca harus pada posisi ditengah. Proses terakhir yaitu penimbangan cuplikan yang telah diabukan. Kemudian didinginkan sebentar di udara. Perhatikan neraca sebelum digunakan. Cawan yang digunakan apabila tidak konstan akan mengakibatkan kesalahan perhitungan berat. Hal tersebut dilakukan agar neraca tersebut menunjukan berat yang akurat. hal tersebut menandakan bahwa air yang terdapat dalam cuplikan telah teruapkan semua. aman. Agar tidak ada interaksi dengan uap udara yang akan meyebabkan penambahan berat. Setelah itu dilakukan lagi pemijaran di dalam pemanas hingga sampel berubah warna menjadi coklat kehitaman. Penentuan kadar abu ini menentukan mutu simplisia karena syarat pembuatan obat yaitu berkhasiat. Ni dan Zn. VII. Kesimpulan Ada pun beberapa kesimpulan yang saya dapatkan yaitu: 1. 2. Apabila proses dilanjutkan ketahap penentuan kadar mineral. Hg. dan berkualitas. sehingga kadar yang didapat akan tidak tepat. lalu didinginkan kembali di dalam desikator selama 15 menit. Pb. Cawan porselen yang sudah siap digunakan baru dapat dipakai untuk menimbang cuplikan sambiloto seberat 5 gram.773 %. kemungkinan kadar mineral akan berkurang. Posisi cawan ketika hendak menimbang harus masih berada di dalam desikator. .

1st ed. Teknologi Penyimpanan Pangan. Penerbit Arcan. Sudarmadji. F. 1989. Inc. The McGraw-Hill Companies. Kimia pangan dan gizi.S. 2000. Modern Analytical Chemistry. David. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Jakarta. Harvey. Gramedia. Yogyakarta. Jakarta. North America. Winarno. PAU Pangan dan Gizi UGM. 1992. .DAFTAR PUSTAKA Rizal Syarief dan Hariyadi Halid. Penerbit PT. 1979.G.