You are on page 1of 1

Infeksi akut saluran pernafasan adalah penyebab utama dari penyakit dan kematian pada anak di negara

berkembang. S. Pneumoniae dan H. Influenzae menjadi penyebab infeksi yang paling banyak akibat
bakteri. Program pengendalian ari dari WHO telah dikembangkan dengan meningktakan strategi
pengelolaan kasus penyakit ini untuk mengurangi kematian anak akibat pneumonia. Cotrimoxazol da
amoxicillin oral direkomendasikan sebagai bahan antimikroba yang dipilih untuk pasien anak rawat jalan
denganpneumonia di negara berkembang. Obat medis dapat digunakan kapanpun tanpa harus pergi ke
rumah sakit untuk mengurangi penulan virus seperti aids dan hepatitis. Penggunaan penisilin tidak
direkomendasikan untukperawatan pneumonia pada anak karena tidak efektif untuk melawan h.
Influenzae. Cephalosporine oral dan golongan baru makrolida telah digunakan dan menunjukan hasil
yang baik untuk terapi pneumonia; harga menjadi alasan utama mengapa golongan ini tidak dijadikan
standar terapi pneumonia di negara berkembang.
Kebanyakan negara memilih oral cotrimoxazol dan amoksisilin dalam program nasional pengendalian ari
karena memilik efek terapi yang baik, harga nya murah, dan digunakan 2kali sehari. Bagaimanapun,
penelitian mengenai resistensi kotrimoksazol terhadap bakteri s pneumonia dan h influenzae pada anak
dengan infeksi akut saluran pernafasan perlu diperhatikan. Oleh karena itu, beberapa negara yang telah
memilih kotrimoksazol oral meninjau kembali terapi yang direkomendasikannya, sesuai dengan
peningkatan resistensi kotrimoksazol.
Amoksisilin aktif melawan s pneumonia dan h influenzae dan diabsorpsi lebih baik daripada ampisilin
dan telah banyak digunakan untuk terapi infeksi pernafasan (termasuk pneumonia) pada anak. Menurut
tuntunan terapi infeksi akut pernafasan dari who, obat ini dapat diberikan secara oral dengan dosis
maksimal 15 mg/kg sehari tiga kali, hal ini mungkin dapat menutupi kekurang cotrimoksazol yang
diberikan secara oral, sehari dua kali.