You are on page 1of 7

Pendahuluan

Ergonomi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan
dan elemen-elemen lain dalam suatu sistem dan pekerjaan yang mengaplikasikan
teori, prinsip, data dan metode untuk merancang suatu sistem yang optimal,
dilihat dari sisi manusia dan kinerjanya. Ergonomi memberikan sumbangan untuk
rancangan dan evaluasi tugas, pekerjaan, produk, lingkungan dan sistem kerja,
agar dapat digunakan secara harmonis sesuai dengan kebutuhan, kempuan dan
keterbatasan manusia (International Ergonomics Association / IEA, 2002).

Tujuan dan Prinsip Ergonomi
Terdapat beberapa tujuan yang ingin dicapai dari penerapan ilmu ergonomi.
Tujuan-tujuan dari penerapan ergonomi adalah sebagai berikut (Tarwaka, 2004):

Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan
cidera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental,
mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.

Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak
sosial dan mengkoordinasi kerja secara tepat, guna meningkatkan jaminan
sosial baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak
produktif.

Menciptakan keseimbangan rasional antara aspek teknis, ekonomis, dan
antropologis dari setiap sistem kerja yang dilakukan sehingga tercipta
kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi.

Memahami prinsip ergonomi akan mempermudah evaluasi setiap tugas atau
pekerjaan meskipun ilmu pengetahuan dalam ergonomi terus mengalami kemajuan
dan teknologi yang digunakan dalam pekerjaan tersebut terus berubah. Prinsip
ergonomi adalah pedoman dalam menerapkan ergonomi di tempat kerja. Menurut
Baiduri dalam diktat kuliah ergonomi terdapat 12 prinsip ergonomi, yaitu sebagai
berikut:

Bekerja dalam posisi atau postur normal.

Mengurangi beban berlebihan.

Menempatkan peralatan agar selalu berada dalam jangkauan.

Bekerja sesuai dengan ketinggian dimensi tubuh.

Mengurangi gerakan berulang dan berlebihan.

Minimalisasi gerakan statis.

Minimalisasikan titik beban.

Mencakup jarak ruang.

Menciptakan lingkungan kerja yang nyaman.

Melakukan gerakan, olah raga, dan peregangan saat bekerja.

Membuat agar display dan contoh mudah dimengerti.

Ruang Lingkup Ergonomi
Ergonomi adalah ilmu yang interdisipline karena ergonomi merupakan ilmu
dari pembelajaran multidisiplin ilmu lain yang menjembatani beberapa disiplin
ilmu dan professional, serta merangkum informasi, temuan, dan prinsip dari
masing-masing keilmuan tersebut. Keilmuan yang dimaksud antara lain ilmu faal,
anatomi, psikologi faal, fisika, dan teknik / engineering dan bahkan bisa mencakup
manajemen (scientific management / manajemen sains) dan ekonomi.
Ilmu faal dan anatomi memberikan gambaran bentuk tubuh manusia,
kemampuan tubuh atau anggota gerak untuk mengangkat atau ketahanan terhadap
suatu gaya yang diterimanya (bagian ini dipelajari dalam ergonomi fisik). Ilmu
psikologi faal memberikan gambaran terhadap fungsi otak dan sistem persyarafan
dalam kaitannya dengan tingkah laku, sementara eksperimental mencoba

memahami suatu cara bagaimana mengambil sikap, memahami, mempelajari,
mengingat,

serta

mengendalikan

proses

motorik

(bagian

ini

dipelajari

dalam ergonomi kognitif). Sedangkan ilmu fisika dan teknik memberikan informasi
yang sama untuk desain lingkungan kerja dimana pekerja terlibat.
Ilmu manajemen diperlukan karena ergonomi berkaitan dengan manajemen
seperti manajemen K3, manajemen operasi dan bahkan manajemen SDM.
Sedangkan ekonomi diperlukan sebagai pemahaman dasar karena tujuan ergonomi
yang utama ada dua, tujuan pertama yakni peningkatan keselamatan dan
kesehatan kerja dimana hal ini sering dianggap beban ekonomi perusahaan padahal
sebenarnya justru menguntungkan, tujuan kedua yakni peningkatan produktivitas
(efektivitas / efisiensi) kerja dimana uang sering menjadi satuan utamanya dan
ilmu ekonomi digunakan sebagai “bahasa komunikasi” dalam kedua hal tersebut.
Ilmu ekonomi yang dipakai biasanya berhubungan dengan akuntansi manajerial.
Kesatuan data dari beberapa bidang keilmuan tersebut, dalam ergonomi
dipergunakan untuk memaksimalkan keselamatan kerja, efisiensi, dan kepercayaan
diri pekerja sehingga dapat mempermudah pengenalan dan pemahaman terhadap
tugas yang diberikan serta untuk meningkatkan produktivitas kerja serta
kenyamanan dan kepuasan pekerja ada 13 hal yang harus di perhatikan dalam
ruang lingkup ergonom
1. penyesuaian ukuran tubuh dengan alat-alat kerja;
2. pengaturan alur kerja;
3. cara kerja yang benar;
4. dorong tarik;
5. angkat angkut yang memenuhi kaidah ergonomi;
6. pengaturan gizi kerja;
7. pengaturan shift kerja;
8. pengendalian kelelahan kerja;
9. adanya lingkungan kerja yang nyaman;
10. pencahayaan yang sesuai;
11. pengendalian bising dan getaran serta suhu ruang kerja;
12. man machine system yang diatur;

13. mental activity yang selaras di samping pengaturan sikap tubuh yang
benar saat bekerja.
Dari hasil review video mengangakat barang ada beberapa hal yang
mahasiswa akatirta dapat mengambil pelajaran dari video tersebut. Pertama
mengetahui informasi kebiasaan manusia/pekerja mengangakat barang dengan
posisi yang tidak benar atau biasa disebut sifat pekerja yang tidak ergonom dan
mahasiwa dapat mengetahui maksud dari sikap ergonom.
Selain itu, mahasiswa akatirta dapat mengetahui dampak yang di akibatkan
dari pekerjaan yang tidak ergonom. Damapak yang di akibatkan oleh sikap pekerja
yang tidak ergonom adalah anggota tubuh yang dapat terkena bila bekerja dalam
keadaan yang non ergonomi :
 leher, terasa sakit, nyeri otot, bengkak, terkilir, patah tulang
 bahu, terasa sakit, nyeri otot, bengkak, terkilir, patah tulang
 pergelangan tangan, terasa sakit, nyeri otot, bengkak, terkilir, patah tulang
 lengan atas dan bawah, terasa sakit, nyeri otot, bengkak, terkilir, patah
tulang
 serta punggung dan kaki, terasa sakit, nyeri otot, bengkak, terkilir, patah
tulang
Organ tubuh pekerja yang terkena dampak dari sifat non ergonom
tergantung dari

berat beban kerja, cara kerja, ketrampilan seseorang serta

latihan-latihan yang dilakukan. Selain itu sifat non ergonom dapat timbul karena
pekerja melakukan beberapa kebiasan atau mengabaikan beberapa hal diantarnya:
 repetitif suatu tugas berulang-ulang atau tidak;
 kekuatan otot yang terkait dengan pekerjaan yang sedang dilakukan,
 durasi pengerjaan, getaran,
 pencahayaan, desain alat/tempat kerja,
 suhu ruang kerja di samping suhu suatu produk.
Selain itu, dampak yang timbul akibat keadaan non ergonomi antara lain
Musculoskeletal Disorders (MSD)/nyeri; yang dapat terjadi pada angkat angkut,

dorong tarik yang tidak ergonomis. MSD bisa akut dan kronis; untuk hal tersebut
perlu dilihat adakah penyakit, human errors, safety problems, kelelahan atau
mental stress.
Dari video yang ditanyangkan diharapkan mahasiswa akatirta dapat
memahami arti dari sifat ergonom dalam bekerja. Salah satu contoh pekerjaan
yang biasa terjadi di masyarakat adalah mengangkat barang. Namun kebannyakan
masyarakat/pekerja tidak mengetahui bahaya yang terjadi ketika mengangkat
barang dengan posisi yang tidak benar. Cara mengangkat barang yang benar untuk
mengurangi resiko bahaya adalah :

Perhitungkan benda yang akan dipindahkan

Angkat beban sedekat mungkin dengan tubuh

Tekuk lutut anda ketika akan mengangkat benda

Pengang benda dengan mantap

Punggung harus dalam posisi lurus

Angkat beban pada tumpuan kaki (ingat gunakan kaki sebagai tumpuan)

Jaga agar benda dekat dengan tubuh

Atur pola benda agar tidak mengahalangi pandangan mata

Jangan melakukan putaran dengan mengunakan titik tumpuan pada pingang
ketiks sedang mengangkat benda

Berputarlah dengan seluruh tubuh ketika mengangkat barang

Apabila beban berat minta bantuan kepada orang lain

Jaga

keseimbangan tubuh dan

keleluasaan gerak kaki serta tidak

mengangkat di saat pekerja dalam posisi duduk.

Cara membawa barang sambil bergerak diupayakan dengan tinggi langkah
sekitar 15 - 20 cm;

Saat melangkah jarak langkah kaki depan dan belakang sekitar 25 - 33 cm
serta membawa beban sedekat mungkin dengan tubuh.

Bila barang berat, gunakan alat pengangkut/troli.
Selain itu ketika pekerja berada di kantor kebanyakan memiliki kebiasan

tidak ergonom dalam menghadap komputer yang dapat menimbulkan penyakit

akibat kerja adapun sikap duduk yang baik dari video yang telah di putar yang
merupakan tata cara sebagai video display terminal yang ergonom adalah :

Posisikan monitor tepat dihadapan posisi sejajar dengan pandangan mata
sekitar 35-40 cm, jika terlalu tinggi atau rendah akan mengakibat kelelahan
otot leher,

Gunakan kursi yang dapat diatur posisi sesuai kenyamanan
Tempat duduk harus memberikan posisi dan sikap yang mantap, memberikan
relaksasi otot, serta tidak mengalami penekanan-penekanan. Tempat duduk
sesuai standar, yaitu :
a. Tinggi tempat duduk
Ketentuan : tinggi alas duduk harus sedikit lebih pendek dari panjang
lekuk lutut sampai ketelapak kaki.Ukuran yang diusulkan : 40 – 48 cm.
b. Panjang alas duduk
Ketentuan : Harus lebih pendek dari jarak lekuk lutut sampai garis
punggung
c. Lebar tempat duduk
Ketentuan : harus lebih besar dari lebar panggul
Ukuran yang diusulkan 40 – 48 cm.
d. Sandaran pinggang
Ketentuan :bagian atas sandaran pinggang tidak melebihi tepi bawah
ujung tulang belikat dan bagian bawahnya setinggi garis pinggul.
e. Sandaran tangan
Ketentuan : Jarak antara kedua tepi dalam kedua sandaran tangan lebih
lebar dari lebar pinggul dan tidak melebihi lebar bahu.Tinggi sandaran
tangan adalah setinggi siku. Panjang sandaran tangan adalah sepanjang
lengan bawah.
Ukuran yang diperkenankan : Jarak antara tepi dalam kedua sandaran
adalah 42-46 cm.Tinggi sandaran tangan 20 cm dari alas duduk .Panjang
sandaran tangan 21 cm.
f. Sudut alas duduk
Ketentuan : Alas duduk harus memberikan kemudahan untuk pemilihan
gerakan dan posisi.

Ukuran yang diusulkan : Alas duduk adalah horisontal Pekerjaan tidak
memerlukan

sedikit

membungkuk

kedepan,

alas

duduk

miring

kebelakang 3 – 5 derajat.

Gunakan meja dengan ketinggihan yang sesuai :
a. Tinggi meja kerja
Ketentuan : tinggi permukaan atas meja kerja dibuat setinggi siku dan
disesuaikan dengan sikap tubuh pada waktu bekerja.
Untuk sikap berdiri, ukuran- ukuran yang diusulkan :

Pada pekerjaaan – pekerjaan yang lebih membutuhkan ketelitian
tinggi, meja kerja adalah 10 –20 cm lebih tinggi dari tinggi siku.

Pada pekerjaaan yang memerlukan penekanan dengan tangan, tinggi
meja adalah 10 –20 cm lebih rendah dari tinggi siku. Untuk sikap
duduk, ukuran yang diusulkan : tinggi meja adalah 68 – 78 cm yang
diukur dari permukaan daun meja sampai ke lantai.

b. Tebal daun meja
Ketentuan : tebal daun meja memberi kebebasan bergerak pada kaki.
c. Permukaan meja
Ketentuan : rata dan tidak menyilaukan.
d. Lebar meja
Diukur dari pekerja ke arah depan.
Ketentuan : tidak melebihi jarak jangkauan tangan
Ukuran yang diusulkan : 80 cm.
e. Luas pandangan
Ketentuan : daerah pandang yang jelas bila pekerja berdiri tegak dan
diukur dari tinggi mata adalah 0-300 vertikal bawah dan 0-500 horisontal
ke kanan dan ke kiri.

Pastikan punggung tersangga/tertahan/nyaman oleh kursi

Adanya penyangga kaki

Sesuaikan posisi keyboard dengan lengan

Posisikan lengan berada pada posisi yang lurus

Gunakan keybord yang dapat diatur ketinggiannya

Atur cahaya yang keluar dari monitor

Lakukan rehat sesekali.