You are on page 1of 28

Nama : Widiandika Triwibowo

NIM : B.131.13.0525

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Selain UU MD3 yang telah disahkan pada 8 Juli 2014, saat ini ada RUU yang
juga cukup menyita perhatian publik, yaitu RUU Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)
yang telah disahkan pada Paripurna DPR RI 25 September 2014. Perdebatan
sentralnya adalah Pilkada Langsung dan Pilkada Tidak Langsung via DPRD. Untuk
membahasnya, kita akan membahasnya dari segi sejarah pembentukan, konstitusi,
konfigurasi politik dan perkembangan demokrasi.
UU No. 17 Tahun 2014 ttg MD3 (MPR, DPR, DPD dan DPRD) ini, diketok
palu untuk disepakati menjadi undang-undang satu hari menjelang Pilpres 2014,
tepatnya hari Selasa 8 Juli 2014. Dapat dibayangkan waktu itu, energi publik sedang
tersedot pada pelaksanaan Pilpres 2014. Akibatnya banyak hal yang luput dari
pengawasan publik terhadap revisi UU No. 27 Tahun 2009 tersebut. Karena itu, tidak
heran ada berbagai masalah dalam UU MD3 yang baru ini.
Banyaknya pihak yang mengajukan judicial review terhadap UU MD3 yang
baru ini, menjadi salah satu indikasi masih banyak permasalahan yang belum tuntas
dalam pembahasan uu tersebut. Secara sosiologis-politis, hal ini dapat dipahami
karena UU MD3 ini mengatur pembagian kekuasaan khususnya partai politik yang
masuk ke parlemen. Karenanya benturan kepentingan akan sangat terasa. Konfigurasi
politik yang ada yakni Koalisi Merah Putih (KMP) dan Koalisi Pendukung Jokowi-JK
turut memberikan andil terhadap hasil pembahasan UU MD3 ini.

2. Rumusan Masalah
a. Apakah yang dimaksud UU MD3?
b. Apakah latar belakang terbentuknnya UU No.17 Tahun 2014 (MD3)?
c. Memuat tentang apakah UU No.17 Tahun 2014 (MD3)?
d. Apakah yang dimaksud UU Pilkada?
e. Bagaimana sejarah lahirnya UU Pilkada?
f. Bagaimana perspektif tentang UU Pilkada?
1

Nama : Widiandika Triwibowo
NIM : B.131.13.0525

BAB II
ANALISA
1. Latar Belakang Pembentukan UU No. 17 Tahun 2014 ttg MD3
UU No. 27 Tahun 2009 ttg MD3 (UU MD3 Lama) didesain untuk
memposisikan parlemen (MPR, DPR, DPD dan DPRD) sebagai lembaga legislatif
yang kokoh dan berwibawa. Namun pada taraf implementasinya, dipandang banyak
mengandung kelemahan. Parlemen (khususnya DPR), selama 2009-2014 ini menjadi
salah satu lembaga yang paling disorot dan diberi cap “buruk”. Baik dalam kinerjanya
maupun dalam tingkah lakunya (banyak yang terjerat korupsi, ada pula yang
melakukan perbuatan tercela). Tak sedikit pula yang mengujinya di Mahkamah
Konstitusi. Karena itu tak mengherankan, dari tahun 2010 (padahal usianya baru 2
tahun), telah dimasukkan RUU Revisi ttg UU 28 Tahun 2009 dalam Prolegnas 2011
(Prolegnas Nomor 26), tahun 2012 (Prolegnas Nomor 40 ) , tahun 2013 (Prolegnas
Nomor 48), dan tahun 2014 (Prolegnas Nomor 37) untuk dilakukan perubahan.
Secara umum, kita bisa melihat nuansa kebatinan Anggota DPR yang merasa
prihatin terhadap kondisi DPR yang “terinjak-injak” menjadi bahan pergunjingan
dimedia massa dan masyarakat. Disebut sarang koruptor, tak aspiratif, dan
sebagainya. Karena sebagai pemilik kewenangan membentuk undang-undang, mereka
pun bersepakat merubah UU MD3 agar mampu keluar dari gunjingan masyarakat
tersebut.
Dalam pengantar pembahasan Revisi UU MD3 ini, Ketua Pansus, Beni K.
Harman, misalnya menyebut “Ada keinginan dari Dewan untuk mereformasi
parlemen, agar bisa kuat, akuntabel, dan kedap korupsi. Inilah desain besar dari
parlemen ke depan”, Kemudian Wakil Ketua Pansus, Ahmad Yani menyebut
“latar belakang perubahan UU MD3 di antaranya belum tertatanya alat kelengkapan
dewan di DPR. Selain itu relasi antarlembaga parlemen terutama DPR dan DPD
belum tertata dengan baik. Kesekjenan DPR juga perlu diperkuat lewat perubahan
UU MD3 ini. Argumentasi lainnya dari perubahan ini adalah MPR dan DPD selama
ini dalam menjalankan kewenangannya masih terjebak pada seremonial kenegaraan
saja. Lalu, kedudukan DPD juga masih lemah, karena menjadi bagian dari birokrasi
Pemda.”
2

membuat Caleg banyak mengumbar janji. 3 . sesuai dengan peraturan perundang-undangan. bahwa saya dalam menjalankan kewajiban akan bekerja dengan sungguh-sungguh. sehingga Anggota DPR sering dianggap tidak dapat bekerja dan merealisasikan pembangunan daerah. dan golongan. yaitu  Sistem pemilu legislatif yang memilih langsung Anggota DPR. terdapat dalam Pasal 80 huruf (j) bahwa Anggota DPR berhak mengusulkan dan memperjuangkan program pembangunan daerah pemilihannya.13. akan memenuhi kewajiban saya sebagai anggota/ketua/wakil ketua Dewan Perwakilan Rakyat dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya.131. Karena itu. Anggota Parlemennya memiliki anggaran khusus untuk program pembangunan.  Sebagai respon terhadap klaim eksekutif baik pusat maupun daerah terkait program pembangunan daerah. Hak ini muncul dengan berbagai alasan. seseorang. Hak memperjuangkan program pembangunan di daerah pemilihan ini juga merupakan implikasi sumpah Anggota DPR yang tertuang dalam Pasal 78 UU 17 Tahun 2014 ttg MD3: “Demi Allah (Tuhan) saya bersumpah/berjanji: bahwa saya. Sehingga hak ini sebagai respon Anggota DPR yang sering ditagih konstituennya di daerah dalam memperjuangkan progam pembangunan daerah. serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B. dengan berpedoman pada Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. demi tegaknya kehidupan demokrasi. Apalagi. sehingga harus dibukakan kanal terhadap pelaksanaan janji tersebut. berdasarkan studi banding dengan parlemen di Amerika Serikat.0525 Berikut ini ulasan terkait isu-isu yang dipermasalahkan sesuai dengan yang menjadi fokus diskusi:  Isu Hak untuk Mengusulkan dan Memperjuangkan Program Aspirasi Pembangunan Daerah Pemilihan Oleh Anggota DPR Hak ini. kita dapat melihat bahwa hak ini merupakan hak yang wajar muncul akibat sistem pemilu dan budaya masyarakat ketika bertemu pejabat akan menagih kemampuannya memperjuangkan pembangunan daerahnya.

Selanjutnya. secara sistematis dengan keberadaan sumpah dan kewajiban memperjuangkan aspirasi rakyat. (i)[12] dan (j)[13]. Dalam Pasal 195 disebutkan: Anggota berhak mengusulkan dan memperjuangkan program pembangunan daerah pemilihan. maka juga diberikan hak mengusulkan dan memperjuangkan program pembangunan daerah pemilihan.  Paling lambat (1) hari sebelum rapat paripurna DPR sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan.  Pimpinan DPR meneruskan usulan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada komisi terkait untuk dibahas dengan mitra kerja. setiap Anggota diberi kesempatan untuk menyampaikan aspirasi dari tiap-tiap daerah pemilihannya selama 1 (satu) menit atau setara 1 (satu) lembar kertas A4 pada setiap rapat paripurna DPR. hal tersebut diatur dalam Tata Tertib DPR yang disahkan dalam Paripurna DPR Selasa.13. 4 .” Hal memperjuangkan aspirasi rakyat yang diwakili tersebut juga merupakan kewajiban sebagaimana diatur dalam Pasal 81 khususnya huruf (e)[11].  Hasil pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) disampaikan kepada Badan Anggaran untuk disinkronisasikan.  Dalam melaksanakan hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1).  Usulan program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berasal dari inisiatif sendiri.  Usulan program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diintegrasikan ke dalam program pembangunan nasional dalam APBN. 16 September 2014. Anggota mendaftarkan usulan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Sekretariat Jenderal DPR.0525 bahwa saya akan memperjuangkan aspirasi rakyat yang saya wakili untuk mewujudkan tujuan nasional demi kepentingan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. atau aspirasi masyarakat di daerah pemilihan.  Badan Anggaran menyampaikan hasil sinkronisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (7) kepada komisi terkait dan selanjutnya komisi terkait memberitahukan kepada Anggota yang mengusulkan dan memperjuangkan program pembangunan di daerah pemilihannya. pemerintah daerah.131.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B. Karena itu.

Namun sisi negatifnya adalah (1) tidak ada standar yang dipergunakan Anggota DPR untuk setiap program yang diusulkan. pengawasan dan anggaran.131. dan yudikatif). memperjuangkan program pembangunan itu di eksekutif melalui Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) dari tingkat desa. sehingga dapat dihindarkan konflik kepentingan dan penyalahgunaan kekuasaan. kemudian dijadikan pertimbangan atau bahkan menekan eksekutif sebagai bargaining position untuk mengakomodir usul program pembangunan dapil dari Anggota DPR. Ujung-ujungnya adalah hak ini bisa berujung pada tindakan koruptif yang tidak sehat bagi pembangunan bangsa. Dari aspek hukum tata negara yaitu teori pemisahan kekuasaan dalam 3 cabang (eksekutif. Kekuasaan DPR harusnya dibatasi pada koridor-koridor pemisahan kekuasaan. maka ada sisi positif dan negatifnya. kabupaten/kota. provinsi sampai tingkat nasional. Sisi positifnya adalah terjalinnya hubungan yang erat antara wakil rakyat dengan rakyat di daerah pemilihannya. hak budget parlemen adalah hak untuk memberikan persetujuan atau memberikan persetujuan terhadap rasionalitas APBN yang diajukan pemerintah. (2) sangat mungkin terjadi jual beli program termasuk pungli terhadap masyarakat yang mengajukan program. Maka kewenangan membentuk program pembangunan adalah kewenangan eksekutif bukan legislatif. Karena itu hak mengusulkan program ini dapat dikategorikan sebagai bentuk kekuasaan legislatif mencampuri urusan kekuasaan eksekutif.[14] bukan karena belum diakomodirnya usulan program pembangunan dari Anggota DPR. yaitu legislasi. maka dapat disebut juga sebagai penyalah gunaan kewenangan. karena setiap aspirasi dapat diperjuangkan menjadi program pemerintah. legislatif.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B. Ini karena. beserta mekanismenya.0525 Anggota yang bersangkutan memberitahukan tindak lanjut usulan program sebagaimana dimaksud pada ayat (8) kepada konstituen di daerah pemilihannya. Melihat hak mengusulkan dan memperjuangkan program pembangunan daerah tersebut. Apabila DPR dengan fungsi anggarannya (memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan APBN).13. telah dipisahkan masing-masing kewenangan. 5 . Parlemen dalam hal ini DPR mempunyai 3 (tiga) fungsi. Selayaknya.

0525 2. ayat (2). Pasal 224 yang terdiri dari 7 Ayat: Pasal 224 (1) Anggota DPR tidak dapat dituntut di depan pengadilan karena pernyataan.13.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B. (2) Anggota DPR tidak dapat dituntut di depan pengadilan karena sikap. (4) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal anggota yang bersangkutan mengumumkan materi yang telah disepakati dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan atau hal lain yang dinyatakan sebagai rahasia negara menurut ketentuan peraturan perundang-undangan. 17 Tahun 2014 ttg MD3. pertanyaan. kegiatan di dalam rapat DPR ataupun di luar rapat DPR yang semata-mata karena hak dan kewenangan konstitusional DPR dan/atau anggota DPR. (6) Mahkamah Kehormatan Dewan harus memproses dan memberikan putusan atas surat pemohonan tersebut dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) Hari setelah diterimanya permohonan persetujuan pemanggilan keterangan tersebut. diatur dalam Bab II Paragraf 6. pertanyaan.131. (7) Dalam hal Mahkamah Kehormatan Dewan memutuskan tidak memberikan persetujuan atas pemanggilan angggota DPR. (5) Pemanggilan dan permintaan keterangan kepada anggota DPR yang diduga melakukan tindak pidana sehubungan dengan pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Anggota DPR tidak dapat diganti antarwaktu karena pernyataan. Mengenai Imunitas Hukum Bagi Anggota DPR Terkait dengan Imunitas ini. dalam UU No. ayat (3) dan ayat (4) harus mendapatkan persetujuan tertulis dari Mahkamah Kehormatan Dewan. dan/atau pendapat yang dikemukakannya baik di dalam rapat DPR maupun di luar rapat DPR yang berkaitan dengan fungsi serta wewenang dan tugas DPR. dan/atau pendapat yang dikemukakannya baik secara lisan maupun tertulis di dalam rapat DPR ataupun di luar rapat DPR yang berkaitan dengan fungsi serta wewenang dan tugas DPR. surat pemanggilan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) tidak memiliki kekuatan hukum/batal demi hukum. 6 . tindakan.

(2) Dalam hal persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan oleh Mahkamah Kehormatan Dewan paling lama 30 (tiga puluh) Hari terhitung sejak diterimanya permohonan. maka secara rasional kita akan mengatakan Pasal tersebut adalah benar.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B. disangka melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau tindak pidana kejahatan terhadap kemanusiaan dan keamanan negara berdasarkan bukti permulaan yang cukup.13. ada anggota DPR yang sangat keras mengkritik Presiden / Wakil Presiden. Dan ini bukan terkait dengan imunitas. Inilah yang menjadi permasalahan. kemudian dianggap melakukan perbuatan tidak menyenangkan. pemanggilan. sebagai misal dalam Kasus Bank Century. dan tidak boleh sembarangan untuk diproses hukum. Disini terdapat 7 . selaku anggota parlemen yang tugas utama berbicara (parle = bicara). pertanyaan dan/atau pendapat harus diberikan kebebasan.0525 Dengan melihat secara utuh Pasal 224 tentang Imunitas Anggota DPR ini. Karena. atau disangka melakukan tindak pidana khusus. sehingga ketika membuat pernyataan. maka selayaknya tugas berbicara tersebut dilindungi undang-undang. lalu diproses secara hukum. Dapat dibayangkan apabila dalam hal pengawasan. Berbeda halnya apabila kita melihat Bagian Keenam Belas tentang Penyidikan Pasal 245: Pasal 245 (1) Pemanggilan dan permintaan keterangan untuk penyidikan terhadap anggota DPR yang diduga melakukan tindak pidana harus mendapat persetujuan tertulis dari Mahkamah Kehormatan Dewan. Titik tegasnya adalah berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan kewenangan konstitusional. Ketika akan dipanggil dan dimintai keterangan dalam penyidikan harus mendapat persetujuan tertulis dari Mahkamah Kehormatan Dewan. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku apabila anggota DPR: 1.131. tertangkap tangan melakukan tindak pidana. melainkan perlakuan khusus terhadap Anggota DPR dalam hal diduga melakukan tindak pidana. 2. dan permintaan keterangan untuk penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan.

Untuk memahami hal ini. Asas persamaan di hadapan hukum (Equality before the law principle) merupakan salah satu asas yang utama dalam Deklarasi Universal HAM dan dianut pula dalam UUD 1945. Mencegah adanya diskriminasi dalam perlindungan dan rasa aman kelompok minoritas. Dan dalam masyarakat yang terstruktur dalam “kelas”. Prof. kalau dipergunakan kata-kunci “perlakuan”. karena penyidik memerlukan izin terlebih dahulu dari Mahkamah Kehormatan Dewan(MKD).131. Mardjono[15] mengatakan kata kuncinya adalah “perlindungan”. Dengan kata-kunci “perlindungan”.0525 perlakuan istimewa yang dianggap bertentangan dengan prinsip hukum “equalitiy before the law”/ persamaan dihadapan hukum. 8 . Ayat-ayat berikutnya merupakan “tata-cara” melaksanakan “hak-istimewa” anggota DPR itu. Khususnya dalam beberapa kasus bahwa “kelas pejabat Negara” dan/atau “kelas orang kaya” mendapat perlakuan khusus/istimewa dalam proses peradilan pidana.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B. Pendapat yang berbeda adalah yang menafsirkan bahwa persamaan yang dimaksud adalah untuk “perlakuan”. Asas ini mengandung arti bahwa “semua warga harus mendapat perlindungan yang sama dalam hukum – tidak boleh ada diskriminasi dalam perlindungan hukum ini”. Perbedaan kata kunci ini dapat membawa kepada penafsiran yang berbeda dari makna asas ini bagi HAM. maka ini mengandung makna jangan memberi perlakuan istimewa kepada anggota kelas tertentu. maka yang dituju adalah perintah kepada negara/pemerintah untuk memberi perlindungan hukum yang sama adilnya (fairness) kepada warganya. maka penafsiran yang berkembang dalam masyarakat Indonesia adalah perintah kepada negara/pemerintah untuk tidak membedakan dalam perlakuan hukum antara warganya. Diskriminasi yang dilarang di sini adalah menguntungkan kelas tertentu. Mardjono menganalisis terhadap persoalan Pasal 245 dalam ayat (1) mengecualikan Anggota DPR dari prosedur KUHAP dalam proses penyidikan. Namun. ini mengandung makna perlindungan terhadap kelompok minoritas (terhadap kemungkinan ketidakadilan dari kelompok mayoritas). Diskriminasi yang dilarang adalah yang merugikan kelompok tertentu.13. Karena itu. maka perlu kiranya membedahnya dari aspek hukum konstitusi dan hukum pidana. kita Prof. Dan dalam sebuah negara dengan masyarakat majemuk atau bersifat multi-kultural seperti Indonesia.

kalau kita mengakui bahwa anggota DPR adalah wakil-wakil rakyat yang “mempersonifikasikan” kedaulatan rakyat. melalui Kode Etik. memang tersangka/anggota DPR lebih beruntung. Lebih lanjut. menghalangi penyidikan. karena menganggap adanya “perlakuan” yang berbeda kepada Anggota DPR dalam penyidikan tindak pidana.0525 Apakah ini bertentangan dengan asas persamaan dalam hukum? Dijawab “Ya”.13. Pada dasarnya setiap Organisasi Profesi (Dokter. terlalu dicari-cari sebagai alasan. Pendapat yang mengatakan ini bertentangan dengan asas peradilan “cepat. Tetapi dapat juga dijawab “Tidak”.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B. agar penyidik jangan “mengulur-waktu” perkara. dengan mengatakan bertentangan 9 . maka “perlakuan istimewa” ini. Menurut saya. Prof Mardjono mengatakan: “Suara “protes” mengkaitkan ini juga dengan kemungkinan tersangka “menghilangkan barang-bukti”. kalau asas tersebut ditafsirkan sebagai “perlakuan”. biaya ringan” juga.131. karena kasusnya akan dinilai dahulu oleh MKD (apakah cukup ditangani secara internal. tidak tepat. Setelah disahkan menjadi undang-undang. Karena asas terakhir ini ditujukan untuk menguntungkan/melindungi seorang tersangka. Akuntan. kalau asas tersebut ditafsirkan “perlindungan”. Mengapa kita harus curiga untuk Anggota DPR? Pertanyaan sekarang adalah apakah “hak istimewa” (prerogative right) ini perlu atau pantas diberikan kepada anggota DPR. Koalisi Masyarakat Sipil mempermasalahkan keberadaan Pasal 245 ini. Advokat. dengan Nomor Perkara 76 dan 83/PUU-XII/2014. dengan tiga perkecualian atas hak-istimewa dalam ayat (1)? Berbeda halnya dengan pendapat dari Koalisi Masyarakat Sipil yang mengajukan protes terhadap keberadaan Pasal 245 ini.Psikolog. ataukah memang beralasan ditangani oleh Penyidik). karena tidak ada diskriminasi yang“merugikan” kelompok non-anggota DPR. sederhana. Koaliasi Masyarakat Sipil pun mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi. dan lain-lain) mengatur demikian untuk anggota profesinya. adalah sudah sepantasnya kita berikan. Kita menghormati lembaga DPR dan menurut saya kita juga tidak ingin anggota-anggotanya dapat begitu saja dipangil oleh Penyidik untuk pelangaran hukum yang tidak-serius. Dalam pandangannya. dan pasal ini ditafsirkan sebagai diskriminasi yang “menguntungkan” anggota DPR. Dengan Pasal 245. menurut saya. Dan bukankah ayat (3) sudah menyempitkan/membatasi hak istimewa ini.

Doktrin “power tend to corrupt. kiranya dapat menjadi pertimbangan kemungkinan penyalahgunaan kekuasaan. masih banyak anggota DPR yang bertindak sok berkuasa sehingga terkadang berlaku seenaknya. Dengan melihat tugas tersebut. menghambat proses peradilan dan secara tidak langsung mengintervensi sistem penegakan keadilan. Penghapusan Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) Pada UU No. dan 4. Menyampaikan hasil penelaahan sebagaimana dimaksud dalam huruf a kepada komisi. 3. Karena itu secara pribadi saya melihat Pasal 245 ini potensial disalahgunakan DPR dan Anggotanya untuk berlaku seenaknya. 2.0525 dengan prinsip negara hukum dan kekuasaan kehakiman yang merdeka. maka kita dapat melihat dua pemahaman yang berbeda dalam melihat prinsip persamaan dihadapan hukum. Dengan melihat analisis-analisis tersebut. BAKN bertugas: 1. Namun.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B. yaitu agar tidak mudah diproses pidana dalam berbagai kasus pidana. sehingga layak untuk didukung dihapuskan. 73/PUU-IX/2011 yang menyebutkan keberadaan Pasal yang mengharuskan izin dari Presiden dalam Proses Penyidikan (Kepala Daerah). BAKN merupakan salah satu alat kelengkapan DPR (diatur dalam Pasal 110-116).[16]sehingga BAKN dihapuskan dan memberikan kewenangan lebih kepada Komisi. Dari aspek sikap. absolutely power corrupt absolutely” dari Lord Acton.13. Secara psikologis. mengapa Anggota DPR memberikan “perlindungan” atau “perlakuan” khusus untuk mereka. 27 Tahun 2009 ttg MD3 (UU MD3 Lama).131. maka BAKN dibuat untuk mempertajam fungsi pengawasan DPR khususnya dalam pengelolaan keuangan negara. yang tersebut dalam Pasal 98 Ayat (3) UU MD3 Baru: 10 . dimana ada keinginan besar supaya komisi lebih berdaya. sebenarnya kita bisa melihat dan merasakan. 3. Melakukan penelaahan terhadap temuan hasil pemeriksaan BPK yang disampaikan DPR. Bahkan sudah ada Putusan MK No. Memberikan masukan kepada BPK dalam hal rencana kerja pemeriksaan tahunan. Menindaklanjuti hasil pembahasan komisi terhadap temuan hasil pemerikasaan BPK atas permintaan komisi. serta penyajian dan kualitas laporan. berdasarkan evaluasi Pansus MD3. hambatan pemeriksaan.

Dengan demikian. membahas dan menindaklanjuti usulan DPD. Karena itu. akibat dihapuskannya BAKN tersebut. Namun demikian. semestinya dibentuk sebuah badan yang berisikan pakar dan professional dibawah DPR sebagai Pusat Pengkajian dan Analisis APBN serta Pengelolaan Akuntabilitas Keuangan Negara. memberikan masukan kepada BPK dalam hal rencana kerja pemeriksaan tahunan. maka hasil rapat kerja komisi atau rapat gabungan dengan pemerintah tersebut bersifat mengikat dan wajib dilaksanakan pemerintah. Setiap komisi harus membentuk Panitia Kerja yang fokus membahas pengelolaan akuntabilitas keuangan negara untuk kemudian dibawa ke Komisi dan dibahas dalam rapat pengawasan. 3. secara rasional. serta peraturan pelaksanaannya yang termasuk dalam ruang lingkup tugasnya. jangan sampai komisi tidak fokus dalam mempertajam analisis pengelolaan keuangan negara. melakukan pengawasan terhadap kebijakan Pemerintah. komisi diberikan tugas untuk memperdalam setiap laporan hasil pemeriksaan BPK. hambatan pemeriksaan. patut untuk terus dipantau dan diawasi. sebagai contoh di Amerika Serikat mempunyai Congressional Budget Office (CBo). dan 5.[20] 11 . yang kemudian dijadikan bahan untuk melakukan evaluasi kinerja pemerintahan. Agar berdaya. penghapusan BAKN dapatlah diterima. Hal inilah yang menjadi salah satu semangat Revisi UU MD3. 2. maka komisi dapat mengusulkan penggunaan hak interpelasi. hak menyatakan pendapat.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B.[18] Pejabat pemerintah yang tidak menjalankan hasil rapat tersebut dapat direkomendasikan diberikan sanksi kepada presiden. melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undangundang.131.[19] Pengaturan mengikatnya hasil rapat kerja komisi tersebut yang menjadi pembeda dengan yang diatur dalam UU MD3 lama.13. Dari aspek badan penunjang keahlian. 4.0525 (3) Tugas komisi di bidang pengawasan meliputi: 1. hak angket. membahas dan menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK yang berkaitan dengan ruang lingkup tugasnya.[17] Apabila tidak dilaksanakan. termasuk APBN. atau hak anggota mengajukan pertanyaan sesuai peraturan perundang-undangan. serta penyajian dan kualitas laporan berkaitan dengan ruang lingkup tugasnya.

Latar belakang turunnya angka kuorum ini adalah pengalaman DPR Periode 2009-2014 yang kesulitan untuk melanjutkan Hasil Hak Angket Kasus Bail Out Bank Century (yang menyatakan Bail Out Bank Century tidak dibenarkan dan dinyatakan telah terjadi pelanggaran pidana) untuk dibawa Hak Menyatakan Pendapat (HMP).131. Untuk itu diperlukan penurunan angka kuorum. Apabila dicermati. mengingat untuk proses “impeachment” saja syaratnya 2/3 hadir dan didukung 2/3 12 . Pasal 7B Ayat (3) UUD NRI Tahun 1945 inilah yang menjadi acuan.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B.13. Pasal 184 Ayat (3) UU MD3 Lama Pasal 210 Ayat (3) UU MD3 Baru Usul sebagaimana dimaksud pada ayat Usul sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi hak menyatakan pendapat (1) menjadi hak menyatakan pendapat DPR apabila mendapatkan persetujuan DPR apabila mendapatkan persetujuan dari rapat paripurna DPR yang dihadiri dari rapat paripurna DPR yang dihadiri paling sedikit 3/4 (tiga per empat) dari paling sedikit 2/3 (dua per tiga) dari jumlah anggota DPR dan keputusan jumlah anggota DPR dan keputusan diambil dengan persetujuan paling diambil dengan persetujuan paling sedikit 3/4 (tiga per empat) dari jumlah sedikit 2/3 (dua per tiga) dari jumlah anggota DPR yang hadir. dalam Pasal 7B Ayat (3) UUD NRI Tahun 1945. anggota DPR yang hadir. disebutkan “Pengajuan permintaan Dewan perwakilan Rakyat kepada Mahkamah Konstitusi hanya dapat dilakukan dengan dukungan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang hadir dalam sidang paripurna yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat”. Turunnya Angka Kuorum Pengambilan Keputusan DPR Dalam Hal Hak Menyatakan Pendapat Turunnya angka kuorum pengambilan keputusan DPR dalam hal Hak Menyatakan Pendapat (HMP) terdapat dalam Pasal 210 Ayat (3) UU MD3 Baru sebagai Perubahan Pasal 184 Ayat (3) UU MD3 Lama.0525 4.

ada beberapa isu lain yang muncul. Selain isu-isu tersebut. DPR. Naskah Akademik. Jadi keberadaan syarat HMP pada UU MD3 lama sebenarnya sudah menyalahi konstitusi. Kewajiban DPR melaporkan pengelolaan anggaran kepada publik dalam laporan kinerja tahunan sebagaimana diatur sebelumnya dalam Pasal 73 ayat 5 UU No 27 Tahun 2009 pun turut dihapus. transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan DPR dengan menghapus kewajiban fraksi melakukan evaluasi kinerja anggotanya. Mengingat anggota MPR terdiri dari anggota DPR dan anggota DPD yang pada saat bersamaan mendapatkan pula alokasi anggaran untuk kegiatan menyerap aspirasi dari masyarakat.131. Hal itu disebabkan tarik ulur kepentingan yang terpolarisasi melalui Koalisi Kerakyatan dan Koalisi Kebangsaan. potensi penganggaran ganda bisa ditemui pada pelaksanaan tugas MPR berupa penyerapan aspirasi masyarakat berkaitan dengan pelaksanaan UUD 1945. yaitu[21]: Pertama. mekanisme pemilihan pimpinan DPR yang telah ditetapkan dalam UU MD3 yang baru merupakan daur ulang mekanisme lama yang sudah terbukti mengakibatkan kinerja DPR periode 2004-2009 khususnya pada tahun pertama menjadi terhambat. Jika diamati sejak UU No 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. Ketiga. mengapa HMP harus dinaikkan menjadi ¾ hadir dan didukung ¾ yang hadir. Selain itu. Tidak konsistennya pengaturan mekanisme pemilihan pimpinan DPR. dan DPRD (UU Susduk) hingga UU MD3 yang baru (sebagaimana yang disahkan pada 8 Juli 2014). dan DPRD kabupaten/kota menunjukkan bahwa Pansus RUU MD3 tidak mempunyai visi yang jelas terhadap desain kelembagaan pimpinan lembaga legislatif. Selain itu. Tidak hanya itu. suatu dokumen rujukan yang memuat asal usul atau latar belakang kenapa butuh UU MD3 yang baru. 13 .Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B. oleh karena itu juga sudah seharusnya dirubah. DPRD provinsi. Kedua. DPD. dan melaporkan kepada publik. tidak pernah mencantumkan kebutuhan untuk mengubah mekanisme pemilihan pimpinan DPR.0525 yang hadir.13. minimnya ruang pengawasan. soal Tren Penambahan Kewenangan MPR. ada kecenderungan penambahan kewenangan MPR. Sebagian besar penambahan kewenangan praktis hanya untuk kepentingan sosialisasi dan ini tentu saja akan berdampak pada pembengkakan anggaran. soal Mekanisme Pemilihan Pimpinan DPR. DPR juga masih akan mempertahankan berlangsungnya rapat-rapat tertutup apabila disetujui peserta rapat.

32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Pilkada ini dipisahkan dari UU Pemda. keberadaan Mahkamah Kehormatan masuk hingga ranah penegakan hukum melalui adanya izin pemanggilan dan pemeriksaan. Benturan masyarakat ini tentu menjadi keprihatinan yang mendalam. Sejarah Lahirnya RUU Pemilihan Kepala Daerah Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) sebelumnya diatur dalam UU No. kemudian dibahas bersama di DPR selama 2 tahun. baik pusat maupun daerah.[23]  Sering terjadinya kecurangan yang terstruktur. 42. Mengingat ada banyak pasal yang diatur khusus mengenai mekanisme Pilkada yakni 63 Pasal (Pasal 56 – Pasal 119).  Pilkada langsung secara biaya cukup menyedot anggaran. Sehingga dari sisi waktu memang sudah waktunya untuk disahkan.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B.Pilkada secara langsung sejak 1 Juni 2005 telah melahirkan beberapa yang menyebabkan pemerintah mengusulkan Revisi RUU Pilkada. Dalam Prolegnas sejak tahun 2011 sudah dimasukkan dengan No. Prolegnas tahun 2014 No.  Partisipasi pemilih yang rendah (rata-rata dibawah 70%). Ini artinya sudah 4 tahun RUU ini dimasukkan dalam Program Legislasi Nasional dimana RUU disiapkan pemerintah selama 2 tahun.  Terjadinya politisasi birokrasi pemerintahan daerah. 5. maka dalam revisinya. dipastikan akan gugatan sengketa Pemilukada ke MK.131. 3. sistematis dan massif khususnya dalam bentuk money politik dan vote buying.  Banyak kepala daerah terjerat korupsi. antara lain[22]:  Pilkada langsung dibeberapa tempat melahirkan konflik horizontal antara sesama masyarakat. Dalam konteks tugas dan wewenang. disetiap Pilkada langsung. 3.0525 Keempat. Prolegnas tahun 2012 No.  Berdasarkan data dari Mahkamah Konstitusi. termasuk juga ketika sengketa Pilkada di Mahkamah Agung. Jika Badan Kehormatan hanya pada ranah kode etik. keberadaan Mahkamah Kehormatan mengalami perluasan dibandingkan Badan Kehormatan. karena ketidaksiapan menang atau kalah. Prolegnas tahun 2013 No.[24] 14 .  Penegakan hukum dank ode etik tidak berjalan. sehingga memberikan pelajaran demokrasi yang buruk pada masyarakat. 52. soal Mahkamah Kehormatan.13.

dan semua pemimpn sekarang termasuk ketua partaipun tidak dipilih oleh anggota partai. Ketika itu. karena itu saya ingin kembali kepada asalnya yaitu dipilih secara demokratis.mahkamahkonstitusi. namun Prof Bagir Manan mengusulkan pemerintahan daerah mengakomodir pemilihan kepala daerah secara langsung. walikota yang langsung disarankan dipilih langsung sedangkan konsepnya kan sangat demokratis. Untuk memahaminya. dapat dilihat dalam Risalah Pembahasan UUD 1945. Buku IV Kekuasaan Pemerintahan Negara Jilid 2. 6. serta terjadi politik transaksional dalam menjalankan roda pemerintahan. Dalam risalah tersebut khususnya Bab V (hlm. Atas pertimbangan tersebut. kok sedang Gubernur sudah mau dipilih rakyat.  Kepemimpimpinan lemah. maka Pemerintah sebagai pihak yang diberi tugas menyiapkan Drat RUU Pilkada melakukan langkah memberi usulan revoluioner berupa mengubah Pilkada langsung menjadi Pilkada tidak langsung via DPRD. yang dapat diunduh lewat www. Perspektif Konstitusi terhadap Pemilihan Kepala Daerah.0525  Kepala daerah tidak akur dengan wakil kepala daerah.  Pemerintah tidak efektif.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B. seperti Soedijarto dari Fraksi Utusan Golongan mengklarifikasinya dengan mengatakan:[26] “…mengenai pemilihan Gubernur. …. beberapa Fraksi memberikan klarifikasi dan komentar. Pasal 18 Ayat (4) disebutkan kepala daerah dipilih secara demokratis. Proses.131. Konstitusi tidak mendikte kepada daerah supaya dipilih langsung”. draft naskah perubahan dari Badan Pekerja adalah kepala daerah dipilih secara demokratis. dan birokrasi amburadul. Dalam UUD NRI Tahun 1945. dan masih tergantung perkembangan pemilihan presiden dan sebagainya. Untuk melihat hal tersebut.go. 15 .[25] Atas draft tersebut. 1107-1432) diulas secara khusus pembahasan Perubahan UUD 1945 mengenai Pemerintahan Daerah. Latar Belakang.id tentang Naskah Komprehensif Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.13. Apakah ini tidak riskan karena budaya demokrasi kita belum tumbuh. maka salah satu caranya adalah dengan membuka original intent Perubahan UUD NRI Tahun 1945. Indonesia belum pernah berpengalaman memilih pemimpun langsung kecuali Kepala Desa yang praktiknya main uang. dan Hasil Pembahasan 1999-2002. manajemen rendah.

0525 Kemudian Pataniari Siahaan dari F-PDIP megusulkan agar kepala daerah “… dipilih secara demokratis sebagaimana diatur undang-undang. PKS karena jumlah kursinya tidak besar menolak usulan Pilkada melalui DPRD. memberikan pandangan terdapat dua prinsip yang terkandung dalam rumusan “kepala daerah dipilih secara demokratis”. yaitu. Kedua opsi yang sedang diperdebatkan dalam draft RUU Pilkada saat ini sama-sama konstitusional. Untuk itu. akan tetapi dapat juga bermakna dipilih oleh DPRD yang anggota-anggotanya juga hasil pemilihan demokratis melalui Pemilu. Klausul tersebut didukung mayoritas partai politik dengan jumlah kursi besar seperti Partai Demokrat. maknanya tidak harus dipilih langsung oleh rakyat.13. yaitu pertama: kepala daerah harus “dipilih”. mengapa pemerintah mengajukan opsi Pilkada melalui DPRD dapat dimaklumi. karena partai politik penguasa pemerintahan yakni Partai Demokrat merupakan partai terbesar dengan 148 anggota dari 560 anggota.[30] 7. 18 Agustus 2000 adalah Pemilihan kepala daerah dipilih secara demokratis.[27] Atas beberapa pendapat tersebut. Perdebatan mengenai mekanisme pemilihan kepala daerah sebenarnya hampir menemui titik temu. klausul ini disebut sebagai open legal policy secara konstitusi.[29] Atas pertimbangan tersebut. klausulnya pemilihan kepala daerah melalui DPRD. keduapelaksanaan dilakukan secara serentak antara Pilkada Gubernur dan 16 . tidak dimungkinkan untuk langsung diangkat.[28]Pada akhirnya draft yang disepakati dan dibawa ke Rapat Paripurna ke-9. Prof Bagir Manan menyerahkan kepada anggota rapat. Sementara itu. Hamdan Zoelva.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B. pemilihan dilakukan secara demokratis. dan PKB. Perspektif Konfigurasi Politik Konfigurasi Politik di DPR sangat berpengaruh dalam pembahasan RUU Pilkada.131. Kedua. maka klausul pemilihan kepala daerah dipilih secara demokratis memiliki makna harus adanya proses pemilihan yang dapat langsung oleh rakyat dan dapat juga melalui DPRD. Jadi demokratisnya bukan oleh rakyat”. Pada tahun 2012 ketika draft RUU Pilkada dimasukkan Pemerintah ke DPR. Berbicara konfigurasi politik tersebut. Partai Golkar. apakah dipilih langsung oleh rakyat atau dipilih secara demokratis. pertama tetap dilakukan pemilihan langsung.

Perspektif Perkembangan Demokrasi Apabila kita mempelajari mengenai demokrasi sebagai pemerintahan dari.131. dan untuk rakyat dari awal mula zaman Yunani Kuno sampai dengan zaman sekarang (modern dan postmodernisme). PAN dan PKS termasuk juga Partai Demokrat (6 partai dengan jumlah 421 kursi DPR) pada 9 September 2014 bersepakat mendukung Pilkada melalui DPRD. Polarisasi konfigurasi politik tersebut merupakan konsekuensi sistem multipartai yang dianut di Indonesia. PPP. 19 September 2014 kemarin.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B.0525 Pilkada Bupati/Walikota dalam rangka penghematan anggaran dan memperjelas konfigurasi politik didaerah sehingga rakyat lebih rasional dalam memilihnya. PKB dan Partai Hanura (3 partai degan jumlah 139 kursi DPR) mendukug Pilkada langsung. karena di atas polis tidak ada lagi suatu organisasi kekuasaan lain yang menguasai dan memerintah polis itu. Namun. maka kita akan menemui uniknya perkembangan demokrasi. dan yang pro Pilkada melalui DPRD menjadi 5 partai dengan 273 kursi di DPR. Inilah letak keistimewaan dari polis. tetapi juga berpengaruh pada RUU MD3 yang telah dibahas sebelumnya. Hal ini tidak hanya berpengaruh pada dinamika RUU Pilkada.13. Terakhir. Koalisi Merah Putih (KMP) yang terdiri Partai Gerindra. berupa rumah-rumah dan kemudian tempat tersebut dikelilinginya dengan suatu benteng tembok untuk menjaga serangan dari luar. sehingga mengubah konfigurasi politik yang pro Pilkada langsung menjadi 4 partai dengan 287 kursi di DPR. Pemerintahan dalam polis merupakan hal yang tinggi. oleh. dimana partai-partai politik sangat cair dalam ideologi dan dalam penentuan dukungan politik. 8. Partai Golkar. Sementara Koalisi penyokong Calon PresidenWakil Presiden Jokowi JK yang terdiri dari PDIP. Organisasi yang mengatur hubungan antar 17 .[31] Lama kelamaan orang-orang banyak yang tinggal di tempat itu dengan jalan mendirikan tempat tinggal bersama. Pada awalnya demokrasi di Yunani Kuno masih bersifat polis-polis atau the Greek Stateyaitu pada mula pertamanya merupakan suatu tempat dipuncak suatu bukit. Fraksi Partai Demokrat balik badan mendukung Pilkada Langsung. perhelatan Pemilu Presiden 2014 dengan 2 (dua) calon pasangan. berimbas pula pada konfigurasi politik setelah Pilpres.

akrena tindakan sewenang-wenang dan memperkosa hukum. Misalnya yang menarik adalah pendapat Polybios. yang diberi kepercayaan memerintah. Sehubungan dengan itu.[33] yang menjelaskan bahwa sebagai bentuk negara yang tertua ialah monarki.131. Karena itu timbulah tirani. Ia memerintah dengan tujuan baik dan ditujukan demi kepentingan umum berlandaskan keadilan. Polybios dan lainlain. Dalam perjuangan itu para warganya mengambil alih kekuasaan pemimpin negara. 18 . Dari bentuk negara oligarkhi pun mengalami nasib yang sama seperti tirani. bertindak main hakim sendiri secara semena-mena. dapat kita temui beberapa pemikir hebat yang sampai saat ini masih dipelajari. karena orang tersebut mempunyai bakat kepandaian dan keberanian dari yang lain-lainnya sehingga merupakan primus iner pares atau yang pertama diantara yang sama. sehingga timbulah negara demokrasi. rakyat di dalam polis ikut serta secara langsung menentukan beleid kebijaksanaan pemerintah atau adanya direct government by all the people. Oleh karena itu terdapat campur tangan organisasi yang mengatur polis. maka mereka. para warga memilih beberapa orang dari golongan ningrat cerdik pandai. Hasil perlawanan itu. dengan demikian timbulah negara aristokrasi. hal yang demikian mengakibatkan terbentuknya negara oligarkhi. Karena polis disamakan (identik) dengan masyarakat negara atau negara. seperti Plato.13.0525 orang se-polis itu tidaklah hanya mempersoalkan hubungan organisasinya saja melainkan juga mempersoalkan mengenai hidup kepribadian orang-orang yang hidup disekitarnya. Aristoteles. maka polis merupakan negara kota (standstaat atau citystate).[32] Dalam episode Yunani Kuno tersebut. yaitu para warga atau rakyat memegang pemerintahan.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B. Kemudian aristokrasi mengalami proses kemunduran dan kemerosotan karena pimpinan negara bertindak demi kepentingan mereka yang memerintah. dikalangan pemerintahan lazimnya berwujud demokrasi langsung atau direct democracy. Dari bentuk negara tirani ini lama kelamaan para warganya memberontak karena tidak tahan akan penderitaan dan penindasan yang dilakukan oleh seorang tiran itu. pemerintahan dijalankan oleh seorang pemimpin negara. menimbulkan perlawanan dari para warganya terhadap beberapa pimpinan negara itu. memerintah demi kepentingan diri pribadi dan bertindak sewenang-wenang. Akan tetapi para penggantinya kemudian bertindak menyeleweng.

131. akan menjadi bentuk pemerosotan apabila rakyat tidak memiliki pendidikan dan kemampuan mengelola negara. maka para wargapun sadar dan menginginkan adanya pemerintahan yang baik dan adil. Timbulah negara monarkhi.0525 Apabila bentuk negara demokrasi ini dalam prosesnya mengalami kemunduran. Terminologi republik berasal dari Bahasa Latin yang terdiri dari dua suku kata yakni res yang berarti kejadian atau peristiwa dan publicus yang berarti publik. Karenanya muncul seorang warga yang berani maju kedepan dan mengambil alih pimpinan negara. Karenanya timbul demokrasi tidak langsung (indirect democracy) melalui pelembagaan badan perwakilan rakyat. bahwa Pilkada melalui DPRD adalah kemunduran demokrasi kuranglah tepat. Jika kedua kata digabungkan secara peristilahan akan membentuk suatu pengertian yang menunjukkan kepemilikan rakyat.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B.13. Karena derajat maju mundurnya demokrasi subtantif sebenarnya tidak diukur dari prosedur bentuk langsung atau tidak langsungnya saja. Karena itu timbulah negara okhlokrasi. Bentuk pemerintahan itu kemudian disebut dengan republic. sehingga negara akan roboh akibat salah atur. disertai pula bentuk pemerosotannya memberikan pelajaran berharga dalam perjalanan bernegara. Namun. maka timbullah pemerintahan secara liar dari rakyat gembel yang hina. sehingga demokrasi langsung sulit diterapkan. karena perkembangan negara yang meluas dan lintas polis. Demokrasi langsung yang berlaku di Yunani Kuno dianggap salah satu bentuk pemerintahan yang baik.[34] Dengan melihat demokrasi tidak langsung merupakan perkembangan demokrasi langsung. Perkembangan demokrasi berikutnya berlangsung di Romawi Kuno dengan keberhasilan rezimnya menetapkan konstitusi yang memadukan bentuk-bentuk pemerintahan antara monarkhi. Khususnya mengenai demokrasi. Setelah pemerintahan okhlokrasi menimbulkan kebejatan dan kebobrokan dari demokrasi. disebabkan warganya atau rakyat tidak tahu sedikitpun tentang pemerintahan dan tanpa pendidikan turut campur dalam pemerintahan. Pemikiran mengenai adanya bentuk-bentuk negara yang bertujuan untuk kepentingan umum. maka klaim perdebatan dalam RUU Pilkada. 19 . aristokrasi dan demokrasi. Pemikiran tersebut kemudian sering disebut siklus Polybios.

dalam demokrasi partisipatoris keterlibatan masyarakat yang luas dan bermakna merupakan keniscayaan.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B. The requirements of democracy will be met if citizens are allowed to choose leaders freely from the ranks of competing elites. sebagaimana disebutkan R. and political concern. tetapi juga masyarakat yang demokratis (democratic societies).[36] Hal tersebut tentunya berbeda dengan demokrasi elit yang merupakan lawan dari demokrasi partisipatoris. the sphere of democracy encompasses all areas of collective action and decision. makna hakiki dari demokrasi adalah memberi dorongan bagi masyarakat berperan serta dalam pembuatan keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka.0525 Dalam perkembangan demokrasi modern ini. Karenanya. The requirements of this democracy are fully met only if all individuals are enables and encouraged to participate ini the decisions which will affect their lives. demokrasi partisipatori tidak hanya berupaya mewujudkan pemerintahan yang demokratis (democratic government). Gibson. in participatory theory. partisipasi masyarakat begitu dibatasi. regardless of the arbitrary divisions of social.131. economic.” 20 . bahwa:[35] “… that the purpose of democracy is to ensure that decisions are made by individuals who will be affected. oleh dan untuk rakyat dapat berjalan dengan efektif. diperlukan perpaduan yang saling melengkapi agar pemerintahan dari. Participatory theory purposes democratic societies. Partisipasi masyarakat dalam hal ini merupakan cerminan demokrasi partisipatoris.B.13. baik demokrasi langsung maupun tidak langsung adalah sebuah keniscayaan.B. Thus. Demokrasi subtantif saat ini sering disebut dengan istilah demokrasi partisipatif sebagai bentuk perlawanan demokrasi elitis. Gibson menambahkan. not just democratic government. Argumentasinya.” Bagaimanapun dengan terpilihnya wakil rakyat tidak menghilangkan peran masyarakat dalam pembuatan keputusan yang mempengaruhi kehidupan masyarakat itu sendiri. yaitu[37] “… that the main purpose of the democratic aspect of government is to ensure that the elite leaders who are charged with making governmental decisions do not vary too far from general interests of the electorate. In the elite theory the sphere of democracy is confined to the elective positions of public government. R. sebagaimana disebutkan R. Kalau dalam demokrasi elit. B. Gibson.

[38] Uraian tersebut menunjukkan bahwa negara demokratis partisipatoris dan elit menunjukkan juga kualitas demokrasi perwakilan yang dibangun. dipenuhi dengan pluralitas masyarakat yang kompleks yang juga terglobalisasi. yakni semakin rasional dan terbuka terhadap pengujian publik. Pada periode pertama. Apabila dicermati mengenai pelaksanaan Pilkada Langsung sejak 1 Juni 2005. Yang menjadi sumber legitimasi adalah proses formasi deliberatif (konsultasi). Jika warga negara telah melaksanakan hak pilihnya dalam pemilihan umum. Gibson menambahkan.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B. Dengan ungkapan lain.13. dewasa ini berkembang juga demokrasi deliberatif yang dikembangkan Jurgen Habermas. maka saat ini telah memasuki periode ke-3 Pilkada Langsung. Dalam demokrasi deliberatif bukanlah jumlah kehendak individual atau juga kehendak umum yang menjadi sumber legitimasi. menjadikan dasar untuk menilai apakah Pilkada Langsung atau Pilkada Lewat DPRD dapat dikatakan meningkatkan kualitas demokrasi atau tidak. masyarakat lebih cenderung memikirkan diri sendiri sehingga sering terjadi perbedaan kepentingan yang dapat menimbulkan konflik. mengacu pada prosedur formasi opini dan aspirasi masyarakat secara demokratis. perkembangan demokrasi saat ini berbeda dengan zaman Yunani Kuno yang masyarakatnya kecil berupa polis-polis. Semakin diskursif proses.0525 Demokrasi elit cenderung menisbikan peran masyarakat setelah proses pemilihan umum selesai. legitimasi kebijakan publik bukan terletak pada hasil komunikasi politik. 21 . maka seterusnya penyelenggaraan pemerintahan diserahkan kepada mereka yang terpilih menjadi anggota lembaga legislatif. makin terlegitimasi pula hasilnya.[39] Bagi Habermas. Dalam demokrasi deliberatif yang memiliki peran besar adalah komunikasi antara pemimpin yang dipimpinnya. Deliberatif atau bahasa Latinnya deliberation. berarti “konsultasi”. menjadi masyarakat yang besar (gigantis). bahasa Inggrisnya deliberation. yaitu dengan terpilihnya wakil rakyat.[40] Pemahaman demokrasi partisipatif dan deliberatif sekaligus perlawanan terhadap demokrasi elitis tersebut. Selain demokrasi partisipatif. Hal ini berpotensi pada pengabaian atau juga upaya melupakan kepentingan masyarakat yang mengitari anggota legislatif tersebut. melainkan pada prosesnya.131. argumentative-diskursif suatu keputusan politis yang ditimbang bersamasama senantiasa bersifat sementara dan terbuka untuk direvisi.

termasuk juga membangun komunikasi yang intensif dengan masyarakat. Ketiga. Mekanismenya. mulai terpilih Kepala Daerah yang mampu menjalankan fungsi kepemimpinannya secara baik. Dengan melihat fakta tersebut. termasuk juga calon independen.131. wakil-wakil rakyat kita saat ini masih bertindak sebagai elit yang sering melupakan rakyatnya. sehingga mendekatkan pemimpin dengan rakyat secara langsung. partai politik di DPRD melakukan proses konsultasi kepada masyarakat dengan cara membuka diskusi dan perdebatan bahkan melalui mekanisme konvensi. Periode kedua ini menghasilkan pemimpin-pemimpin yang menjadi idola publik. Sebagaimana disebut sebelumnya. apakah itu Jokowi. calon kepala daerah harus kapabel dan berintegritas. partai politik di DPRD harus menjalankan hasil konsultasi tersebut untuk kemudian dijadikan dasar dalam pemilihan kepala daerah. Karenanya kita perlu mengungkap pendapat Gilbert Abcarian sebagai mana dikutip Max Boboy yang membagi empat tipe hubungan antara wakil dengan yang diwakili sebagai berikut:[41]  Sang wakil bertindak sebagai wali (truste). dan lain-lain. dengan syarat DPRD khususnya Partai Politik siap menjalankan partisipasi dan deliberasi dalam pemilihan kepala daerah. 22 . Padahal anggaran untuk Pilkada langsung lebih besar dibandingkan dengan Pilkada tidak langsung. facebook. dalam periode kedua. Namun. maka Pilkada langsung adalah salah satu sarana memperoleh pemimpin yang partisipatif dan deliberatif. tidak semua kepala daerah yang dipilih langsung berprestasi. Karenanya model Pilkada melalui DPRD bisa dipertimbangkan. selain juga banyak ekses negatif akibat Pilkada langsung tersebut. banyak Kepala Daerah yang tersangkut korupsi pula. Namun. Ridwan Kamil. Model kepemimpinannya sudah lebih partisipatif bahkan deliberatif. Ditambah teknologi yang mendukung melalui social media. semua calon dapat terakomodir dalam Pilkada melalui DPRD. twitter. Ahmad Heriawan.0525 Pilkada Langsung masih banyak menghasilkan pemimpin-pemimpin stok lama yang belum mampu memberikan perubahan dalam pemerintahan. Risma. dengan mengajak warga yang dipimpinnya untuk bersama membangun daerah.13. Permasalahannya. path. dan lainlain. pertama. Kedua.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B. dimana wakil bebas bertindak berdasarkan pertimbangannya sendiri tanpa harus berkonsultasi dengan yang diwakilinya. Keempat.

pilihan Pilkada melalui DPRD untuk saat ini kuranglah tepat. dan  Model penggolongan (diversifikasi) yakni keanggotaan wakil di parlemen dipandang sebagai wakil kelompok territorial. Hal itu tergantung pada issu dan pembahasan di tingkat lembaga perwakilan. Posisi wakil dalam persoalan ini cenderung kepada kehendak atau aspirasi partainya. Hoogerwerf membagi lima model hubungan antara wakil dengan yang diwakili sebagai berikut:  Model utusan (delegate) yakni wakil bertindak sebagai diperintah atau kuasa usaha yang menjalankan perintah dari yang diwakili. kelompok sosial atau kelompok politik tertentu.  Model wali (truste) yakni sang wakil bertindak sebagai orang yang diberi kuasa penuh dari yang diwakili sehingga memiliki kebebasan bertindak berdasarkan pendiriannya. dan kadang kala bertindak sebagai utusan (delegate).  Sang wakil bertindak sebagai politico artinya kedudukan wakil terkadang bertindak sebagai wali (truste).131. sedangkan hubungan dengan konstituen pemilihnya setelah pemilihan tidak terlalu nampak.  Model politicos yakni model yang memungkinkan sang wakil bertindak kadang sebagai delegasi dan kadang sebagai kuasa penuh. Karenanya. Mereka belum mampu membuka diri secara partisipatif dan deliberatif. Dari pembagian model tersebut. Selain itu juga. A. 23 . dan  Sang wakil bertindak sebagai partisan.  Model kesatuan yakni model yang mengonsepsi anggota parlemen sebagai wakil rakyat seluruhnya.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B.0525  Sang wakil bertindak sebagai utusan (delegate) yakni sang wakil bertindak sebagai utusan atau duta dari yang diwakilinya sehingga sang wakil senantiasa mengikuti perintah atau instruksi serta petunjuk dari yang diwakili dalam melaksanakan tugas. sejauh ini wakil rakyat masih banyak yang berperan sebagai wali (truste) yang bekerja tanpa berkonsultasi pada rakyatnya. Sehingga terkait dengan pilihan Pilkada melalui DPRD justru akan mengarahkan pada demokrasi elitis.13.

0525 Inilah pelajaran penting bagi perjalanan demokrasi kita.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B. Dan mahasiswa seharusnya tidak terjebak dalam blok-blok dukung mendukung Pilkada Langsung atau Tidak Langsung. 24 .13.131.

sebagai generasi muda kita harus tetap optimis dapat mengubahnya menjadi yang lebih baik. arogan.131. Saran-saran Tak banyak hal yang dapat dibanggakan dari Wakil Rakyat (baca DPR RI) Periode 2009-2014 ini. dan lain-lain menjadikan DPR lembaga tak berwibawa. Inilah realitas ketatanegaraan dan politik Bangsa Indonesia. dan agent of control social dapat dilakukan dengan baik. Ini dapat dilihat dari pelaksanaan fungsi Wakil Rakyat.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B. Tak luput juga perilaku Anggota DPR yang buruk. maka kita bisa memberikan penilaian positif dan negatif. peran mahasiswa sebagi agent of change. Sehingga.0525 BAB III PENUTUP 1. Hal ini karena keran demokrasi partisipatif maupun deliberatif belum dilakukan secara baik oleh partai politik di lembaga perwakilan rakyat. Dari pembahasan mengenai berbagai macam isu dalam UU MD3 dan RUU Pilkada sebagai warisan sang wakil rakyat periode 2009-2014. Bagi mahasiswa. semuanya bermasalah baik dari aspek kuantitas penyelesaian target maupun kualitasnya. tanpa kemudian harus terjebak dalam blok-blok partai politik yang terpolisasi. 25 .13. maka mendorong perbaikan bangsa dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Dari tiga fungsi utama wakil rakyat yaitu fungsi legislasi[3]. seperti korupsi. fungsi pengawasan[4] dan fungsi anggaran[5].

go.id. lihat Risalah Sidang MK diwww. hlm. Wakil Presiden BEM Kema Unpad 2009-2010. juga dalam masalah Mafia Pajak yang tidak terselesaikan.id.mahkamahkonstitusi.13.go. 76/PUU-XII/2014 dan 83/PUU-XII/2014 lihat Risalah Sidang MK di www. Daftar Pustaka [1] Makalah yang disampaikan dalam Diskusi Publik “Warisan Wakil Rakyat” yang diselenggarakan oleh Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB.mahkamahkonstitusi.79/PUU-XII/2014. Kordinator Isu Pemilu BEM Seluruh Indonesia Tahun 2008-2010. [9] Sumber: Harian Kompas. Peneliti Asosiasi Sarjana Hukum Tata Negara (ASHTN). 26 . 2. 82/PUU-XII/2014. [12] Pasal 81 huruf (i) menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen melalui kunjungan kerja secara berkala. [2] Tenaga Ahli di DPR RI. [10] Permohonan Perkara No. 19 September 2014 di Kampus ITB Bandung. [5] Fungsi Anggaran DPR belum optimal mendorong APBN untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.0525 2. lihat Risalah Sidang MK diwww.go.131. Kamis 11 September 2014.go. [11] Pasal 81 huruf (e) memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat. 73/PUU-XII/2014.id.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B. pada tahun 2011 dengan Prolegnas 93 hanya 24 yang disahkan. pada 2012 dengan Prolegnas 69 RUU hanya 30 disahkan. misal tahun 2010 dengan Prolegnas 70 RUU hanya 16 yang disahkan. Selain itu adanya Oknum Anggota DPR terlibat Mafia Anggaran semakin memperburuk kerja DPR. [6] Permohonan Perkara No. lihat Risalah Sidang MK diwww. misal pemborosan dalam hal Anggaran Perjalan Dinas yang terlalu besar dibandingkan Anggaran untuk Pengentasan Kemiskinan. [7] Permohonan Perkara No. [4] Fungsi pengawasan dalam bentuk Hak Angket Century belum mampu menyelesaikan kasus tersebut secara efektif.mahkamahkonstitusi.id. [3] Fungsi Legislasi masih bermasalah.mahkamahkonstitusi. [8] Pemohonan Perkara No.

Beni K. Jakarta. dan Hasil Pembahasan 1999-2002. Mardjono. 336. [24] Data Kemendagri. Dan tahun 2011 ada 137 gugatan. Masalah Pemilukada dan Masalah Pasca Pemilukada.http://www. [15] Lihat Pendapat Prof.13. 27 Tahun 2009. [27] Ibid. [19] Pasal 96 Ayat (8) UU MD3 Baru.. Hak Budget Parlemen Di Indonesia. Ibid.0525 [13] Pasal 81 huruf (j) menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat [14] Mei Susanto. 2013. Buku IV Kekuasaan Pemerintahan Negara Jilid 2. [20] Mei Susanto.. Jakarta.. 2010. [22] Dielaborasi dari beberapa sumber media. 1360.131. tentang Hak Imunitas dan Asas Persamaan Kedudukan Di Hadapan Hukum Dalam UU MD3. hlm. dan Presentasi Parludem. hlm. [26] Ibid. Pemilukada yang Demokratis dan Efisien.com/berita/baca/lt540d7c056fc44/hak-imunitas-danasas-persamaan-kedudukan-di-hadapan-hukum-dalam-uu-md3-broleh–prof-mardjonoreksodiputro–sh–ma. terdapat 318 Kepala Daerah yang tersangkut korupsi sampai dengan tahun 2013. [21] Beberapa hal tentang isu-isu dalam UU MD3 Baru diungkapkan Koalisi Masyarakat Sipil. [17] Pasal 96 Ayat (6) UU MD3 Baru: “Keputusan dan/atau kesimpulan rapat kerja komisi atau rapat kerja gabungan komisi bersifat mengikat antara DPR dan Pemerintah serta wajib dilaksanakan oleh Pemerintah. hlm. Sinar Grafika. [16] Disampaikan Ketua Pansus MD3. Proses. [23] Pada Tahun 2008/2009 tercatat ada 30 gugatan sengketa Pilkada ke MK.” [18] Pasal 96 Ayat (7) UU MD3 Baru. Harman dalam pengantar Revisi UU No. Jakarta 24-26 Januari 2012. 27 . Naskah Komprehensif Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. tahun 2010 ada 230 gugatan. 1365.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B. [25] Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi.hukumonline. hlm. Kepaniteraan dan Sekretariat Jenderal Mahkamah Konstitusi. dalam Prosiding Seminar Nasional Evaluasi Pemilihan Umum Kepala Daerah. 1397. Latar Belakang.

Hlm.131. kedua. Kanisius. Tinjauan Konstitusi Pemilihan Kepala Daerah. Ilmu Negara. Menguatnya Model Legislasi Parlementer Dalam Sistem Presidensial Indonesia. Yogyakarta. [34] Suyatno.. karena langsung diusulkan opsi dipilih secara langsung oleh rakyat. hlm. 283.B. Menimbang „Negara Hukum‟ dan „Ruang Publik‟ daalam Teori Diskursus Jurgen Habermas. 1997. hlm.. dalam Saldi Isra. hlm. Liebe Book. 125. 2004. Pergeseran Fungsi Legislasi.0525 [28] Ibid. 23. hlm. 15. 93. hlm. [39] Lihat F.Nama : Widiandika Triwibowo NIM : B. hlm. 125-127. [29] Hamdan Zoelva. 284. 283. hlm. [37] Ibid.. [38] Ibid. [32] Ibid. Yogyakarta. pada pembahasan UU No. hlm. 92. Ibid. [35] R. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. The Value of Participation.13. [30] Sebagai catatan tambahan. Presiden dan Wakil Presiden sudah dipilih secara langsung oleh rakyat. Menjelajahi Demokrasi. [36] Ibid.. Hanya yang menjadi perdebatan adalah bagaimana mekanisme pemilihan langsung ini dilakukan disetiap daerah apakah disamakan atau bisa berbeda-beda dimasing-masing daerah disesuaikan dengan kondisi dan kekhususan masing-masing daerah. Citra Aditya Bakti. hlm. 2010. 28 . 1360. [41] Ibid. berbagai penyerapan aspirasi masyarakat diseluruh Indonesia diperoleh aspirasi dominan dari masyarakat menghendaki kepala daerah dipilih secara langsung oleh rakyat. 2009. [40] Ibid. tidak terjadi perdebatan panjang mengenai makna dipilih secara demokratis. Gibson. Jakarta: Rajawali Pers. [33] Ibid. hal ini disebabkan pertama. hlm. [31] Sjachran Basah. Budi Hadirman. Lihat Hamda Zoelva. Jakarta.. Demokrasi Deliberatif.. hasil Perubahan Ketiga UUD NRI Tahun 1945 tahun 2001. 130.