BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Tinjauan Umum
Kelapa sawit merupakan sumber nabati yang menjadi salah satu produk
unggulan Indonesia dalam peningkatan devisa Negara melalui eskport dalam
bidang non migas. Pemanfaatan dan pengembangan potensi sumber daya alam ini
sedang giat dilaksanakan dengan jalan membuka areal baru, mendirikan pabrik-
pabrik pengolahannya serta dengan penting produktifitas dan kualitas kelapa
sawit.
Kualitas minyak kelapa sawit yang dihasilkan terutam sangat dipengaruhi
oleh kwalitas buah sawit yang masuk ke pengolahan di pabrik. Hampir seluruh
bagian dari kelapa sawit dapat dimanfaatkan. Daging buahnya menghasilkan
minyak (Crude Palm Oil), inti atau biji menghasilkan minyak inti (Crude Palm
Kernel Oil), sedangkan ampas (Fiber) dan cangkung (Shell) dipakai sebagai bahan
bakar untuk ketel.
Tinggi rendahnya kwalitas kelapa sawit diukur melalui persentase
kandungan asam lemak bebas (Free Fatty Acid). Makin tinggi persentase asam
lemak bebas ini maka rendah kwalitas minyak kelapa sawit yang dihasilkan.
Selain itu kadar kotoran dan kadar air harus ditekan seminimal mungkin agar
kualitasnya memenuhi standar yang berlaku, sebagaimana pada tabel 1.1 dibawah
ini :
1
Tabel 1.1. Kandungan Standar Mutu CPO
No Kriteria Kandungan Maksimum (%)
1 Asam lemak Bebas 3,00
2 Kadar Karbon 0,05
3 Kadar Air 0,15
Sumber : Balai Penelitian dan Riset Kelapa Sawit
Minyak kelapa sawit ini mulai membeku pada suhu 35
0
C, sehingga pada
proses pengolahan hingga penyimpangan minyak sawit tersebut perlu dijaga agar
tetap cair dan viskositas yang konstan pada temperatur 50
0
C. Pemanasan ini
bertujuan untuk menghindari hidrolisa autokalis (penguraian karena adanya
mikroba) yang menjadi salah satu penyebab kenaikan kadar asam lemak bebas.
Oleh karena itu kualitas hasil minyak CPO yang diperoleh sangat
dipengaruhi oleh kondisi buah (TBS) yang diolah dalam pabrik. Sedangkan proses
pengolahan dalam pabrik hanya berfungsi menekan kehilangan minyak di dalam
pengolahannya, sehingga kualitas hasil semata-mata tidak tergantung dari TBS
yang masuk ke dalam pabrik.
1.2. Proses Pengolahan Minyak Kelapa Sawit
2
1
Proses pengolahan minyak kelapa sawit pada pabrik dapat dilihat pada
diagram di bawah ini :
Tandan Kosong

Mulsa/Pupuk
Vibrating screen Depericarper
Centrifugal Purifier Nut Silo
Clarivication Tank Nut Cracker
Oil Vacum Dryer Dry
Seperator
Winnowing
Kernel
Gbr 1.1. Skema Umum Pengolahan Kelapa Sawit
3
TANDAN BUAH SEGAR
PEREBUSAN
(Threser)
PERONTOKAN
(Digester)
PENGEPRESAN
(Screw Presser)
PENYARINGAN PEMISAHAN AMPAS
PENGENDAPAN PENGERINGAN
PEMURNIAN
PENGERINGAN
PENYIMPANAN
CPO
PEMECAHAN
PEMISAHAN
PENGERINGAN
PENYIMPANAN
KERNEL
hydrocyclon
cangkang
Proses pengolahan minyak kelapa sawit melalui berupa beberapa tahap, yaitu :
Tandan buah segar (TBS) yang telah di panen di kebun diangkut ke lokasi Pabrik
Minyak Sawit dengan menggunakan truk.Sebelum di masukkan ke dalam Loding
Ramp, Tandan buah segar tersebut harus di timbang terlebih dahulu pada
jembatan penimbangan (Weighing Bridge). Perlu di ketahui bahwa kualitas hasil
minyak CPO yang di peroleh sangat dipengaruhi oleh kondisi buah (TBS) yang di
olah dalam pabrik. Sedangkan proses pengolahan dalam pabrik hanya berfungsi
menekan kehilangan minyak di dalam pengolahannya, sehingga kualitas hasil
semata-mata tidak tergantung dari TBS yang masuk ke dalam pabrik.
1. Perebusan
Tandan buah segar setelah di timbang kemudian di masukkan ke dalam
lori rebusan yang terbuat dari plat baja berlubang-lubang (cage) dan langsung di
masukkan ke dalam sterilier yaitu bejana perebusan yang mengunakan uap air
yang bertekanan antara 2.2 sampai 3.0 Kg/cm
2
. Proses perbusan ini di maksudkan
untuk mematikan enim-enzim yang dapat menurunkan kualitas minyak.
Disamping itu, juga di maksudkan agar buah mudah lepas dari tandannya
dan memudahkan pemisahan cangkang dan inti dengan keluarnya air dari biji.
Proses ini biasanya berlangsung selama 90 menit dengan menggunakan uap air
yang berkekuatan antara 280 sampai 290 Kg/ton TBS. Dengan proses ini dapat di
hasilkan kondensat yang menggunakan 0.5% minyak ikutan pada temperatur
tinggi. Kondensat ini kemudian di masukkan ke dalam Fat Pit. Tandan buah yang
4
sudah direbus di masukkan ke dalam Threser dengan menggunakan Hoisting
Crane.
2. Perontokan Buah dari Tandan
Pada tahap ini, buah yang masih melekat pada tandannya akan di pisahkan
dengan menggunakan prinsip bantingan sehingga buah tersebut terlepas kemudian
di tampung dan di bawa oleh Fit Conveyor ke Digester. Tujuannya untuk
memisahkan brondolan (fruilet) dari tangkai tandan. Alat yang di gunakan di
sebut Thresher dengan drum berputar (rotari drum thresher). Hasil stripping tidak
selalu 100%, artinya masih ada brondolan yang melekat pada tangkai tandan, hal
ini yang disebut dengan USB (UnStripped Bunch). Untuk mengatasi hal ini, maka
di pakai sistem “Double Threshing”. Sistem ini bekerja dengan cara janjang
kosong/EFB (Empty Fruit Bunch) dan USB yang keluar dari Thresher pertama,
tidak langsung di buang, tetapi masuk ke Thresher kedua yang selanjutnya EFB di
bawa ketempat pembakaran (incinerator) dan di manfaatkan sebagai produk
samping.
3. Pengolahan Minyak dari daging buah
Brondolan buah (buah lepas) yang di bawa oleh Fruit Conveyor di
masukkan ke dalam Digester atau perlatan pengaduk. Di dalam alat ini di
maksudkan supaya buah terlepas dari biji. Dalam proses pengadukan (Digester)
ini di gunakan uap air yang temperaturnya selalu di jaga agar stabil antara
80
0
-90
0
c. Setelah massa buah dari proses pengadukan selesai kemudian
dimasukkan ke dalam alat pengepresan (Screw Press) agar minyak keluar dari biji
dan fibre. Untuk proses pengepresan ini perlu tambahan panas sekitar 10% s/d
5
15% terhadap kapasitas pengepresan. Dari pengepresan tersebut akan di peroleh
minyak kasar dan ampas serta biji.
Sebelum minyak kasar tersebut di tampung pada Crude Oil Tanks, harus di
lakukan pemisahan kandungan pasirnya pada Sand Trap yang kemudian
dilakukan penyaringan (Vibrating Screen). Sedangkan ampas dan biji yang masih
mengandung minyak (oil sludge) dikirim ke pemisahan ampas dan biji
(Depericarper).
Dalam proses penyaringan minyak kasar tersebut perlu ditambahkan air
panas untuk melancarkan penyaringan minyak tersebut. Minyak kasar (Crude Oil)
kemudian di pompakan ke dalam Decenter guna memisahkan Solid dan Liquid.
Pada fase cair yang berupa minyak, air dan masa jenis ringan di tampung pada
Countinuous Settling Tank, minyak dialirkan ke Oil Tanks da pada fase berat
(sludge) yang terdiri dari air dan padatan terlarut di tampung ke dalam Sludge
Tank yang kemudian dialirkan ke Sludge Separator untuk memisahkan
minyaknya.
4. Proses Pemurnian Minyak
Minyak dari oil tanks kemudian dialirkan ke dalam Oil Purifer untuk
meisahkan kotoran/solid yang mengandung kadar air. Selanjutnya di larikan ke
Vaccum Drier untuk memisahkan air sampai pada batas standard. Kemudian
melalui Sarvo Balance, maka minyak sawit di pompakan ke tangki timbun (Oil
Storage Tank).
Minyak dari hasil pemompaan disaring pada saring getar (vibrating
screen) dan kemudian ditampung pada tangki kasar (continius tank) sedangkan
6
benda-benda padat berupa ampas yang tersaring dikembalikan ke timba buah
untuk diproses kembali. Minyak kasar diendapkan secara gravitasi, selanjutnya
minyak kasar dipompakan ke tangki masakan yang mempunyai koil pemanas
yang mempunyai temperatur kurang lebih 90
0
C agar lebih mudah di proes lebih
lanjut pada purifer, sedangkan pada bagian yang sudah mengendap yang terdiri
dari padatan (solid) dan air masih mengandung minyak 7 -9%. Bagian ini
dialirkan ke tangki slug (sludge tank) yang memiliki koil pemanas hingga 90
0
C,
agar terjadi pemisahan antar minyak padatan dan air. Minyak yang diperoleh
setelah disaring pada strainer dialirkan kembali ke tangki minyak kasar, lalu ke
tangki masakan dilanjutkan ke unit pemurnian (purifier).
Pada purifier ini minyak masih mengandung air sekitar 0,5% dan kotoran
sekitar 0,1% dan dimurnikan dengan alat pemisah sentrifugal, akibat gaya
sentrifugal maka minyak yang mempunyai massa jenis yang lebih kecil bergerak
ke poros dan dialirkan ke unit pengeringan (vacum drier) untuk proses
pengeringan yaitu kadar air ada sekitar 0,35% diturunkan sehingga 0,02%.
Minyak inilah yang disebut minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil) yang
selanjutnya dialirkan ke tangki penyimpanan (strorage tank) dan siap dipasarkan.
1.3.Kebutuhan Pompa Pada Pabrik Kelapa Sawit
Suatu pabrik kelapa sawit membutuhkan pompa yang banyak sekali untuk
keperluan proses pengolahan. Kebutuhan pompa sangatlah penting dan mutlak
mengingat pemindahan jenis fluida dan kondisi kerja yang sangat beragam.
Adapun pompa yang digunakan sebagai pengolahan minyak kelapa sawit adalah :
7
- Pompa minyak kasar (Crude Oil Transfer Pump)
Pompa ini berfungsi untuk mengalirkan minyak kelapa sawit kasar dari tangki
penampungan (Crude Oil Tank) ke tangki kontinius (Continiuous Settling
Tank).
- Pompa endapan padat (Sludge Pump)
Berfungsi untuk memompakan endapan minyak yang bercampur air dan
kotorand ari tangki sludge (Sludge Oil Tank) ke saringan putar (Self Cleaning
Streaner) untuk membersihkan minyak.
- Pompa Pre cleaner (Pre Cleaner Pump)
Pompa ini berfungsi untuk mengalirkan minyak dari saringan putar ke tangki
decanting (Decanting Pump)
- Pompa decanter (Decanting Pump)
Berfungsi untuk mengalirkan minyak dari tangki decanter untuk proses ulang
pada tangki kontinius.
- Pompa minyak kering (Dried Oil Pump)
Pompa ini berfungsi mengisap minyak yang telah dikeringkan atua dikurangi
kadar airnya di unit pengering vakum (Vacuum Drier) dan mengalirkannya ke
tangki penampungan (Storage Tank)
- Pompa transfer minyak (Oil Transfer Pump)
Pompa ini berfungsi untuk mengalirkan CPO dari tangki penyimpanan ke truk
tangki untuk diangkut ke pasaran.
8
1.4. Tujuan Perancangan
Tujuan perancangan ini adalah merancang pompa untuk memindahkan
CPO (crude palm oil) dari unit pengering vakum ke tangki timbun dimana pompa
ini berperanan penting dalam lanjutan proses penyaluran CPO dari tangki timbun
ke truk pengangkut CPO dari pabrik.
1.5. Pembatasan Masalah
Tulisan ini merupakan perencanaan pompa yang digunakan untuk
mentransfer minyak kelapa sawit dari unit pengering vakum ke tangki timbun.
Kapasitas pompa yang dirancang berdasarkan pada kapasitas pengolahan minyak
yaitu sebesar 30 ton TBS/jam.
9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Mesin – Mesin Fluida
Mesin fluida adalah mesin yang berfungsi untuk mengubah energi
mekanis poros menjadi energi potensial atau sebaliknya mengubah energi fluida
(energi potensial dan energi kinetik) menjadi energi mekanis poros. Dalam hal ini
fluida yang dimaksud adalah berupa cair, gas dan uap.
Secara umum mesin-mesin fluida dapat dibagi menjadi dua bagian besar,
yaitu :
1. Mesin tenaga
Yaitu mesin yang berfungsi mengubah energi fluida mengubah energi fluida
(energi potensial dan energi kinetik) menjadi energi mekanis poros
Contoh : turbin, kincir air, dan kinci angin
2. Mesin Kerja
Yaitu mesin yang berfungsi mengubah energi mekanis poros menjadi energi
fluida (energi potensial dan energi kinetik)
Contoh : pompa, kompresor.
2.2. Pompa
10
Pompa adalah salah satu mesin fluida yang termasuk dalam golongan
mesin kerja. Pompa berfungsi untuk memindahkan zat cair dari tempat yang
rendah ke tempat yang lebih tinggi. Disamping itu pompa juga digunakan untuk
memindahkan zat cair dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah,
misalnya pada sistim pemipaan yang panjang dan berbelok-belok, sehingga
mempunyai tekanan hidrolik yang lebih tinggi.
2.3. Klasifikasi Pompa
Secara umum pompa dapat diklasifikasikan dalam dua jenis kelompok
besar yaitu :
1. Pompa Tekanan Statis (Positive Displacement Pump)
2. Pompa Tekanan Dinamis (Rotodynamic Pump)
2.3.1. Pompa Tekanan Statis
Pompa jenis ini bekerja dengan prinsip memberikan tekanan secara
periodik dan fluida yang terkurung dalam rumah pompa. Pompa ini dibagi
menjadi dua jenis.
 Pompa Putar (Rotary Pump)
Pada pompa putar, fluida masuk melalui sisi isap, kemudian dikurung diantara
ruangan kotor dan rumah pompa, selanjutnya didorong ke ruang tengah denan
gerak putar dari rotor, sehingga tekanan statisnya naik dan fluida akan
dikeluarkan melalui sisi tekan. Contoh tipe pompa ini adalah : pompa ulir
(screw pump), pompa roda gigi (gear pump).
11
10
Gambar 2.1. Pompa roda gigi dan pompa ulir
 Pompa Torak (Reciprocating Pump)
Pompa torak mempunyai bagian utama berupa torak yang bergerak bolak-
balik dalam silinder. Fluida masuk melalui katup isap (suction valve) ke dalam
silinder dan kemudian ditekan oleh torak sehingga tekana statis fluida naik
dan sanggup mengalirkan fluida keluar melalui katup tekan (discharge valve).
Contoh tipe pompa ini adalah : pompa diafragma dan pompa plunyer.
12
Gambar 2.2. Pompa diafragma
2.3.2. Pompa Tekanan Dinamis
Pompa tekanan dinamis disebut juga rotodynamic pump, turbo pump atau
impeller pump. Pompa yang termasuk dalam kategori ini adalah : pompa jet dan
pompa sentrifugal.
Ciri-ciri utama dari pompa ini adalah :
- Mempunyai bagian utama yang berotasi berupa roda dengan sudu-
sudu sekelilingnya, yang sering disebut dengan impeler.
- Melalui sudu-sudu, fluida mengalir terus menerus, dimana fluida
berada diantara sudut-sudut tersebut.
Prinsip kerja pompa sentrifugal adalah : energi mekanis dari luar diberikan
pada poros untuk memutar impeler. Akibatnya fluida yang berada dalam impeler,
oleh dorongan sudu-sudu akan terlempar menuju saluran keluar. Pada proses ini
fluida akan mendapat percepatan sehingga fluida tersebut mempunyai energi
kinetik. Kecepatan keluar fluida ini selanjutnya akan berkurang dan energi kinetik
akan berubah menjadi energi tekanan di sudu-sudu pengarah atau dalam rumah
pompa.
13
Adapun bagian-bagian utama pompa sentrifugal adalah poros, impeler dan
rumah pompa (gambar 2.3.)
Gambar 2.3. Bagian-bagian utama pompa tekanan dinamis
Pompa tekanan dinamis dapat dibagi berdasaran beberapa kriteria berikut,
antara lain :
a. Klasifikasi Menurut Jenis Impeler
1. Pompa sentrifugal
Pompa ini menggunakan impeler jenis radial atau francis. Kontruksinya
sedemikian rupa (gambar 2.4) sehingga aliran fluida yang keluar dari
impeler akan melalui bidang tegak lurus pompa.
Impeler jenis radial digunakan untuk tinggi tekan (head) yang sedang dan
tinggi, sedangkan impeler jenis francis digunakan untuk head yang lebih
rendah dengan kapasitas yang besar.
14
Impeler dipasang pada ujung poros dan pada ujung lainnya dipasang
kopling sebagai penggerak poros pompa.
Gambar 2.4. Pompa sentrifugal
2. Pompa aliran campur
Pompa ini menggunakan impeler jenis aliran campur (mix flow), seperti pada
gambar 2.5. Aliran keluar dari impeler sesuai dengan arah bentuk permukaan
kerucut rumah pompa.
15
Gambar 2.5. Pompa aliran campur
3. Pompa aliran aksial
Pompa ini (gambar 2.6) menggunakan impeler jenis aksial dan zat cair yang
meninggalkan impeler akan bergerak sepanjang permukaan silinder rumah
pompa ke arah luar. Kontruksinya mirip dengan pompa aliran camput, kecuali
bentuk impeler dan difusernya.
Gambar 2.6. Pompa aliran aksial
b. Klasifikasi menurut bentuk rumah pompa
1. Pompa volut
Pompa ini khusus untuk pompa sentrifugal. Aliran fluida yang
meninggalkan impeler secara langsung memasuki rumah pompa yang
berbentuk volut (rumah siput) sebab diameternya bertambah besar. Bentuk
dan kontruksinya terlihat pada gambar 2.4.
2. Pompa diffuser
Kontruksi pompa ini dilengkapi dengan sudu pengarah (diffuser) di
sekeliling saluran keluar impeller (gambar 2.7). Pemakaian diffuser ini
16
akan memperbaiki efisiensi pompa. Difuser ini sering digunakan pada
pompa bertingkat banyak dengan head yang tinggi.
Gambar 2.7. Pompa diffuser
3. Pompa vortex
Pompa ini mempunyai aliran campur dan sebuah rumah volut seperti
tergambar pada gambar 2.8. Pompa ini tidak menggunakan diffuser,
namun memakai saluran yang lebar. Dengan demikian pompa ini tidak
mudah tersumbar dan cocok untuk pemakaian pada pengolahan cairan
limbah.
17
Gambar 2.8. Pompa vortex
c. Klasifikasi menurut jumlah tingkat
1. Pompa satu tingkat
Pompa ini hanya mempunyai sebuah impeler (gambar 2.4 s/d 2.8). Pada
umumnya head yang dihasilkan pompa ini relative rendah, namun
kontruksinya sederhana.
2. Pompa bertingkat banyak
Pompa ini menggunakan lebih dari satu impeler yang dipasang secara
berderet pada satu poros (gambar 2.9). Zat cair yang kelur dari impeler
tingkat pertama akan diteruskan ke impeler tingkat kedua dan seterusnya
hingga ke tingkat terakhir. Head total pompa merupakan penjumlahan
head yang dihasilkan oleh masing-masing impeler. Dengan demikian head
total pompa ini relative lebih tinggi dibanding dengan pompa satu tingkat,
namun kontruksinya lebih rumit dan besar.
18
Gambar 2.9. Pompa bertingkat banyak
d. Klasifikasi menurut letak poros
1. Pompa poros mendatar
Pompa ini mempunyai poros dengn posisi horizontal (gambar 2.4 s/d 2.9)
pompa jenis ini memerlukan tempat yang relative lebih luas.
2. Pompa jenis poros tegak
Poros pompa ini berada pada posisi vertikal, seperti terlihat pada gambar
2.10. Poros ini dipegang di beberapa tempat sepanjang pipa kolom utama
bantalan. Pompa ini memerlukan tempat yang relative kecil dibandingkan
dengan pompa poros mendatar. Penggerak pompa umumnya diletakkan di
atas pompa
19
Gambar 2.10. Pompa aliran campur poros tegak
e. Klasifikasi menurut belahan rumah
1. Pompa belahan mendatar
Pompa ini mempunyai belahan rumah yang dapat dibelah dua menjadi
bagian atas dan bagian bawah oleh bidang mendatar yang melalui sumbu
poros. Jenis pompa ini sering digunakan untuk pompa berukuran
menengah dan besar dengan poros mendatar.
Gambar 2.11. Pompa jenis belahan mendatar
2. Pompa belahan radial
Rumah pompa ini terbelah oleh sebuah bidang tegak lurus poros.
Kontruksi seperti ini sering digunakan pada pompa kecil dengan poros
mendatar. Jenis ini juga sesuai untuk pompa-pompa dengan poros tegak
dimana bagian-bagian yang berputar dapat dibongkar ke atas sepanjang
poros.
20
3. Pompa jenis berderet
Jenis ini terdapat pada pompa bertingkat banyak, dimana rumah pompa
terbagi oleh tegak lurus poros sesuai dengan jumlah tingkat yang ada
f. Klasifikasi menurut sisi masuk impeller
1. Pompa isapan tunggal
Pada pompa ini fluida masuk dari sisi impeler. Kontruksinya sangat
sederhana, sehingga sangat sering dipakai untuk kapasitas yang relative
kecil. Adapun bentuk kontruksinya terlihat pada gambar 2.4. s/d 2.10
2. Pompa isapan ganda
Pompa ini memasukkan fluida melalui dua sisi isap impeler (gambar 2.12).
Pada dasarnya pompa ini sama dengan dua buah impeler pompa isapan
tunggal yang dipasang bertolak belakang dan dipasang beroperasi secara
paralel. Dengan demikian gaya aksial yang terjadi pada kedua impeler
akan saling mengimbangi dan laju aliran total adalah dua kali laju aliran
tiap impeler. Oleh sebab itu pompa ini banyak dipakai untuk kebutuhan
dengan kapasitas yang besar
21
Gambar 2.12. Pompa isapan ganda
2.4. Unit Penggerak Pompa
Umumnya unit penggerak pompa terdiri dari tiga jenis yaitu :
- Motor bakar
- Motor listrik, dan
- Turbin
Penggerak tipe motor bakar dan turbin sangat tidak ekonomis untuk
perencanaan pompa karena kontruksinya berat, besar dan memerlukan sistem
penunjang misalnya sistem pelunasan, pendinginan dan pembuangan gas hasil
pembakaran.
Sistem penggerak motor listrik lebih sesuai dimana kontruksinya kecil dan
sederhana, sehingga dapat digabungkan menjadi satu unit keatuan dalam rumah
pompa. Faktor lain yang membuat motor ini sering digunakan adalah karena
murah dalam perawatan dan mampu bekerja untuk jangka waktu yang relatif lama
dibanding penggerak motor bakar dan turbin.
2.5. Dasar – dasar Pemilihan Pompa
Dasar pertimbangan pemilihan pompa, didasarkan pada system
ekonomisnya, yakni keuntungan dan kerugian jika pompa tersebut digunakan dan
dapat memenuhi kebutuhan pemindahan fluida sesuai dengan kondisi yang
direncanakan.
22
Yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis pompa yang digunakan
adalah analisa fungsi pompa terhadap instalasi pemipaan, kapasitas, head,
viskositas, temperatur kerja dan jenis motor penggerak.
Kondisi yang diinginkan dalam perencanaan ini adalah :
- Kapasitas dan head pompa harus mampu dipenuhi, sehingga
mampu memindahkan CPO dari vacuum drier ke tangki penampungan
(storage tank), dapat dilihat pada gambar 1.2.
- Fluida yang mengalir secara kontiniu
- Pompa yang dipasangkan pada kedudukan tetap
- Kontruksi sederhana
- Mempunyai efisiensi yang tinggi
- Harga awal relative murah dan perawatannya mudah
Untuk memilih pompa yang tepat dan sesuai dengan kondisi pengoperasian,
maka perlu dipertimbangkan sifat-sifat pompa pada umumnya :
a. Pompa Sentrifugal
- Aliran fluida lebih merata
- Putaran poros dapat lebih tinggi
- Rugi-rugi tranmisisinya lebih kecil karna dapat dikopel langsung
dengan motor penggerak.
- Kontruksinya lebih aman dan kecil
- Perawatannya murah
b. Pompa piston
- Kapasitas kecil dan tidak merata
23
- Head tinggi
- Putaran rendah dan tidak dapat dikopel langsung dengan motor
penggerak
- Kontruksi rumit dan mahal
Dari uraian di atas maka pompa sentrifugal lebih sesuai digunakan untuk
memompakan CPO dari unit pengering vakum ke tangki timbun.
2.6. Head Pompa
Head pompa adalah energi yang diberikan pompa ke dalam fluida dalam
bentuk tinggi tekan. Dimana tinggi tekan merrupakan ketinggian fluida harus naik
untuk memperoleh jumlah energi yang sama dengan yang dikandung satu satuan
bobot fluida padakondisi yang sama. Untuk lebih jelasnya perhitungan dari head
pompa dapat dilihat pada gambar 2.13 berikut ini.
Gambar 2.13. Aliran Fluida di Dalam Saluran Pada Aliran Tertutup
24
Fluida kerja mengalir dari kondisi pertama (titik 1) ke kondisi kedua (titik
2), aliran ini disebabkan oleh adanya suatu energi luar E
0
. energi luar E
0
ini terjadi
merupakan perbedan tekanan yang terjadi pada kedua kondisi operasi (titik 1 dan
2), atau E
0
= (P
2
– P
1
). Q
Sedangkan pada setiap kondisi tersebut terdapat juga suatu bentuk energi,
yaitu energi kinetik (E
k
) dan energi potensial (E
p
) atau dapat dituliskan sebagai
berikut :
- Untuk titik 1 :
Energi yang terkandung E
1
= E
k1
+ E
p1

= ½ m
1
.v
1
2
+ m
1
.g.h
1
- Untuk titik 2 :
Energi yang terkandung E
1
= E
k2
+ E
p2

= ½ m
2
.v
2
2
Dan hubungan dari kondisi kerja ini adalah E
0
= E
2
– E
1
, atau dapat
dituliskan:
(P
2
-P
1
). Q = [½ m
2
.v
2
2
+m
2
.g.h
2
] –[½ m
2
.v
2
2
+m
1
.g.h
1
]
(P
2
-P
1
). Q = ½ [(m
2
.v
2
2
) - (m
1
.v
1
2
)] + [( m
2
.g.h
2
2
) – (m
1
.g.h
1
]...............(1)
Dimana : Q = A.V. = konstan
M = p.A.V. , dimana p
1
=p
2
Sehingga persamaan 1 diatas dapat dituliskan sebagai berikut :
(P
2
-P
1
). A.V = ½ [(p.A.V
3
)
2
– (p.A.V
3
)
1
] + p.A.V.g (h
2
-
1
)
25
(P
2
-P
1
). Q = ½ p. (V
2
2
– V
1
2
) + p.g (h
2
– h
1
)...........................................(2)
jika p (kg/m
3
) g (m/s
2
) = y (N/m
3
), maka persamaan 2 dapat disederhanakan
menjadi :
) (
. 2
1 2
2
1
2
2 1 2
h h
g
v v p p
− +

·

γ
Atau persamaan untuk mencari head pompa dipergunakan persamaan Bernouli
yaitu :
L p
H Z
g
v p
H Z
g
v p
+ + + · + + +
2
2
2 2
1
2
1 1
2 2 γ γ
Atau menurut :
H
p
= L
H Z Z
g
V V P P
+ − +

+

1 2
1 2 1 2
2 γ
Dimana :
γ
1 2
P P −
adalah perbedan head tekanan
g
V V
2
1 2

adalah perbedaan head kecepatan
Z
2
– Z
1
adalah perbedaan head potensial
H
L
adalah kerugian head
2.7. Putaran Spesifik
Jenis impeler yang digunakan pada suatu pompa tergantung pada putaran
spesifiknya. Putaran spesifi adalah putaran yang diperlukan pompa untuk
menghasilkan head 1 m dengan kapasitas 1 m
3
/s, dan dihitung berdasarkan rumus:
26
N
s
= 51,64
4
3
.
p
H
Q n
Dimana : n
s
= putaran spesifik [rpm]
n = putaran poma [rpm]
Q = kapasitas pompa [m
3
/s]
H
p
= head pompa [m]
Tabel 2.1. Klasifikasi impeler menurut putaran spesifik,seperti tabel di bawah ini :
Tabel 2.1. Klasifikasi impeler menurut putaran spesifik
No Jenis impeler n
s
1 Radial flow 500-3000
2 Francis 1500-4500
3 Aliran campuran 4500-8000
4 Aliran axial (propeler) 8000 ke atas
Sumber : Pompa sentrifugal, Austin H. Church
2.8. Daya Pompa
Daya pomp ialah daya yang dibutuhkan poros pompa untuk memutar
impeler didalam memindahkan sejumlah fluida dengan kondisi yang diinginkan.
Besarnya daya poros yang dibutuhkan dapt dihitung berdasarkan :
N
p
=
P
p
g H Q
η
ρ. . .
Dimana : N
p
= daya pompa [kw]
Q = Kapasitas pompa [m
3
/s]
H
p
= head pompa [m]
27
p = rapat jenis fluida [kg/m
3
]
P
η
= effisiensi pompa
BAB III
PENENTUAN SPESIFIKASI
28
Untuk memperoleh jenis pompa yang sesuai dengan kebutuhan, yaitu
pompa transfer CPO dari unit pengering vakuk ke tangki penyimpanan perlu
diketahui terlebih dahulu besar kapasitas dan tinggi tekan (head) yang dibutuhkan
agar nantinya pompa dapat beroperasi dengan baik.
Kondisi yang menjadi perhatian utama agar dapat beroperasi secara efisien
dan kontinu serta besarnya kebutuhan dapat diketahui adalah sebagai berikut :
a. Besarnya kapasitas pabrik dalam mengolah TBS
b. Jumlah CPO yan dihasilkan dan rendeman pabrik
c. Jenis penggerak dan transmisi daya dari penggerak ke pompa
d. Karakteristik fluida yang dialirka, seperti kekentalan suhu da berat jenis
3.1. Kapasitas Produksi Pabrik
Maksud dari kapasitas produksi dalam perencanan ini adalah kapasitas
olah efektif yang dirancang oleh suatu pabrik dalam mengolah jumlah bahan baku
TBS per waktu pngolahan, karena itu maka besar kapasitas pabrik adalah :
Kapasitas pabrik =
) / ( Jam Ton
pengolaha Waktu
baku bahan Jumlah
Hasil produksi CPO mulai diperoleh setelah proses pengemapan (pressing)
hingga proses permunian akhir di unit pengering vakum CPO yang dihasilkan
rata-rata sebesr 23,82% dari jumlah TBS yang diproses atau biasa disebut dengan
rendemen.
Tetapi rendemen ini dapat mencapai maksimum hingga 24,3% (Sumber :
Balai Penelitian Sawit Sumatera Utara), bila TBS yang diolah tepat matang dan
29
29
berkualitas tinggi. Perhitungan rendemen CPO dapat dilakukan dengan persamaan
:
Rendemen Produksi :
% 100 x
lahan JumlahTBSo
rsih HasilCPObe
3.2. Kapasitas Pompa
Pada perencanaan ini penentuan besar kapasitas pompa berdasarkan
kapasitas produksi CPO yng besarnya diperoleh dari perkara antara kapasitas olah
pabrik dan rendemen CPO. Dari penentuan rendemen hasil produksi maka
perhitungan kapasitas hasil produksi CPO di tangki penyimpanan dilakukan
sebagai berikut :
Qproduksi = kapasitas Olah Pabrik x Rendemen CPO max
= 30 Ton/jam x 24,3%
= 7,29 ton/jam
= 7290 kg/jam
dengan massa jnis CPO sebesar 863 kg/m
3
pada suhu 90
0
C, maka
kapasitas produksi CPO dalam satuan volume adalah :
Q
produksi
=
3
/ 863
/ 7290
m kg
jam kg
= 8,45 m
3
/Jam
Untuk kesempurnaan pompa perlu diantisipasi kemungkinan kerugian
kapasitas akibat penurunan efisien setelah pemakaian yang kama, untuk itu
kapasitas harus ditambah 10-15%. Pada perencanaan ini kapasitas pompa
direncankan diambah sebesr 12%, maka kapasitas pompa adalah :
30
Q
pompa
= 1, 12 x Qprod
= 1,12 x 8,45
= 9,46 m
3
/jam
3.3. Head Pompa
Head pompa adalah energi yang dikandung fluida persatuan bobotnya
yang harus disediakan pompa untuk mengatasi energi akibat ketinggian,
perbedaan tekanan, kerugian gesekan dan kecepatan.
Gambar sistem pemimpaan pada pipa isap dan pipa tekan dapat dilihat
pada gambar 3.1. dengan menentukan titik 1 pada permukaan fluida dan titik 2
pada ujung pipa keluar maka Head pompa secra umum dinyatakan dengan :
L P
H Z
g
V P
H Z
g
V P
+ + + · + + +
2
2
2 2
1
2
1 1
. 2 . 2 γ γ
H
p
=
L
H Z
g
V V P P
+ +

+

2
2
1
2
2 1 2
. 2 γ
H
P
= L
H Z
g
v P
+ ∆ +

+

. 2
2
γ
Dimana :
γ
P ∆
= perbedaan head tekanan
g
v
. 2
2

= Perbedaan head kecepatan
31
∆ Z = Perbedaan head potensial pada kedua permukaan fluida
H
L
= Kerugian head
32
3.3.1. Perbedaan Head Tekanan (∆ H
P
)
Head tekanan merupakan energi yang dibutuhkan untuk mengatasi
perbedaan pada sisi isap dengan sisi tekan. Dalam sistim kerja ini tekanan pada
sisi isap idpengaruhi oleh kevakuman pada tekanan -0,9 bar gauge atau 0,1 bar
33
absolute di unit pengering vakum, sedangkan pada sisi tekan ujung pioa berada
pada tekanan udar luar atau 0 bar gauge.
Maka besar head akibat perbedaan tekanan ini adalah :
∆ H
P
=
γ
1 2
P P −
Dimana
P
2
= Tekanan pada ujung pipa tekan = 0 bar = 0 pa
P
1
= Tekanan pada sisi isap
= 0,9 bar = -90.10
3
Pa
y = Massa jenis CPO pda temperatur 90
0
C
= p.g = 863 kg/m
3
x 9,81 m/s
2

Maka besarnya head akibat perbedaan tekanan adalah :
∆ H
P
=
m Pa
Pa
/ 03 , 8466
) 90000 ( 0 ( − −
= 10,63 m
3.3.2. Perbedaan Tekanan Head Kecepatan Aliran (∆ H
v
)
Dalam menentukan perbedaan head kecepatan aliran maka terlebih dahulu
dicari besarnya kecepatan aliran dalam pipa. Umumnya kecepatan aliran di dalam
yang diijinkan adalah sebesar 1 sampai 2 m/s untuk pipa diameter kecil dan 1,5
sampai 3,0 m/s untuk pipa diameter besar. Untuk memproleh kecepatan airan dan
diameter pipa isap yang sesuai, perhitungan awal sementara diambil atas
kecepatan rata-rata 1,5 m/s.
Dari persamaan kontinuitas diperoleh :
Qp = Vs. As
34
Dimana
Qp = Kapasitas pompa = 9,5 m
3
/jam
Vs = Kecepatan aliran dalam pipa isap (m/s)
As = π /4 (d
is
)
2
= luas biang aliran (m)
d
is
= diameter dalam pipa isap (m)
sehingga diameter pipa isap adalah :
d
is
=
s
p
V
Q
.
. 4
π
=
) 5 , 1 ( 14 , 3
) 00264 , 0 ( 4
= 00473 m = 1,86 in
Berdasarkan ukuran pipa standar AS A.B. 36.10 Schedule 40, maka dipilih
pipa nominal 2 inch dengan dimensi pipa :
- Diameter dalam (dis) = 2,967 in = 0,0525 m
- Diameter luar (dos) = 2,375 in = 0,0603 m
Dengan ukuran pipa standars pipa tersebut di atas maka kecepatan aliran
yang sebenarnya sesuai dengan persamaan kontinuitas adalah :
Vs =
2
) (
. 4
in
p
d
Qp
A
Q
π
·
Vs =
2
) 0525 , 0 (
00264 , 0 . 4
π
Vs = 1,22 m/s
Diperoleh kecepatan aliran fluida masih memenuhi
35
Kecepatan aliran CPO yang masuk ke dalam tangki penyimpanan
merupaakn kecepatan keluar aliran fulida pada pipa tekan, yaitu V
2
= 1,22 m/s
sedangkan kecepatan isap dari unit pengering vakum sangat kecil karena aliran
yang kintinu dan dapat dianggap mendekati nol atau V
1
= 0 m/s disuplai terus
menerus, maka besarnya head kecepatan aliran adalah :
H
v
=
g
V
. 2
2
=
81 , 9 . 2
) 22 , 1 (
2
= 0,076 m
3.3.3. Perbedaan Head Potensial (∆ Z)
Head potensia adalah perbedaan ketinggian fluida pada sisi isap dengan
permukaan fliida pada sisi tekan. Perbedaan ketingian tersebut diukur dengan satu
bidang banding.
∆ Z = Z
2
– Z
1

Dimana :
Z
2
= tinggi sumbu ujung pipa tekan pada tangki penyimpan
Z
1
= tinggi level minimum CPO pda sisi isap
Maka head ptoensial pompa adalah :
∆ Z = 8,5 m – 5,5 m
= 3 m
3.3.4. Kerugian Head (H
L
)
36
Kerugian head seoanjang pipa terbagi atas 2 yaitu kerugian akibat gesekan
sepanjang pipa/kerugian mayor (hf) dan kerugian akibat gesekan kelengkapan
isntalasi pipa/kerugian minor (hm). Kerugian akibat gesekan tergantung pad
akekasaan permukaan dalam ipa dan panjang pipa. Kerugian akibat kelengkapan
adalah kerugian akibat adanya perubahan arah aliran dan kecpatan aliran.
3.3.4.1. Kerugian Head Sepanjang Pipa Isap
a. Kerugian head akibat gesekan pada pipa isap
Besarnya kerugian head akibat gesekan pada pipa isap menurut Darcy
Weisbach dapat diperoleh dengan persamaan :
h
f =
f
g
V
x
d
L
s
s
. 2
2
1
....................[lit 1 hal 202]
Dimana : hf = kerugia karena gesekan (m)
f = faktor gesekan (diperoleh dari diagram Moody)n
L
s
= Panjang pipa isap (m)
d
i
= diameter dalam pipa = 0,052 m
V
s
= kecepatan aliran fluida = 1,22 m/s
Bahan pipa isap yang direncanakan adalah Carbon Steel dengan standart
ASTM 53 yang dapat beroperasi sampai temperatur 240
0
C dengan kekasaran
sebesar 0,046 mm.
Maka kekasaran relative (ε /d
1
) adalah :
ε /d
1 =
mm
mm
5 , 52
046 , 0
= 0,000876
37
Faktor gesekan (f) dapat diperoleh dari diagram Moody dengan terlebih
dahulu mengetahui bilangan Reynold (Re) yaitu :
Re =
v
xd V
S 1
Dimana : Vs = kecepatan aliran fluida (m/det)
Di = diameter dalam (m)
V = viskositas kinematik CPO pada temperatur 90
0
C
= (1,1 x 10
-5
m
2
/s)
Sehingga bilangan Reynold (Re) adalah :
Re =
5
10 1 , 1
00525 , 0 22 , 1

x
x
= 5822 (turbulen)
Dari diagram Moody untuk Re = 5822 dan (ε /d
1)
= 8,76 x 10
4
diperoleh
faktor gesekan (f) = 0,036. besarnya kerugian gesek sepanjang pipa isap menurut
Darcy Weisbach adalah :
h
fs
= 0,036 x
81 , 9 2
) 22 , 1 (
052 , 0
6
2
x
x

b. Kerugian head akibat peralatan instalasi pada pipa isap (h
ms
)
Besarnya kerugian akibat adanya kelengkapan pipa dapat diperoleh
dengan persamaan :
H
m
= Σ n.k
g
V
s
. 2
2
...............................[lit 1 hal 21]
Dimana : n = jumlah kelengkapan pipa
k = Koefisien kerugian akibat kelengkapan pipa
38
Untuk mengetahui berapa besarnya kerugian head yang terjadi akibat
adanya kelengkapan pipa maka perlu diketahui terlebih dahulu jenis kelengkapan
pipa yang digunaan sepanjang jalur pipa isap. Adapun jenis dan jumlah
kelengkapan tersebt adalah sebagai berikut :
Tabel 3.1. Koefisien kerugian kelengkapan pipa isap
Jenis Jumlah k n.k
Mulut isap (square edged) 1 0.5 0.5
Elbow long 90
0
1 0.4 0.4
Total 0.9
Sehingga besarnya kerugian head akibat kelengkapan pipa pada pipa isap
adalah sebesar :
h
ms
= 0,9 x
81 , 9 2
) 22 , 1 (
2
x
= 0,068 m
Dengan demikian diperoleh besar kerugian head sepanjang jalur pipa isap
pompa, yaitu sebesar :
h
is =
h
fs
+ h
ms

= (0,315 + 0,068) m
= 0,383 m
3.3.4.2. Kerugian hed sepanjang pipa tekan (H
Ld
)
a. Kerugian head akibat gesekan pipa tekan (H
fd
)
Pipa tekan dari pompa menuju storage tank direncanakan menggunakan
ukuran pipa standar ASA B. 36.10 Schedue 40 dengan ukuran diameter pipa
nominal 2 in dan bahan pipa adalah karbon steel yang sama dengan pipa isap.
Ukuran pipa tersebut adalah :
39
- Diameter dalam d
id
= 2,067 in = 0525 m
- Diameter luar d
od
= 2,375 in = 0,0630 m
Karena bahan dan diameter pipa tekan ini sama dengan pipa isap, maka bilangan
Renold (Re) adalah 5822 factor (f) sebesar 0,036.
Pada gambar 3.1. pada instalasi terlihat tiga buah tangki penyimpanan yang
berkapasitas 2000 ton (1 tangki berkapasitas 1000 ton dan 2 buah tangki
berkapasitas 500 ton). Saat kondisi operasi dalam pengisian CPO ke tangki
penyimpan, salah satu aliran pipa ke salah satu tangki tersebut tertutup agar tidak
terjadi penurunan tekanan dan penuruann kecepatan yang besar.
Analisa perhitungan panjang pipa menuju kedua tangki penyimpanan dan ketiga
katup pengatur. Besarnya kerugian head akibat gesekan pada pipa tekan :
h
fd
= fx
g
Vd
x
d
L
id
d
. 2
) (
2
Dimana :
L
d
= Panjang pipa tekan
= (4,6 +5+5+32+10+7+1)
= 64,6 m
Maka diperoleh :
h
fd
= 0,036 x
81 , 9 2
) 22 , 1 (
0525 , 0
6 , 64
2
x
x
= 3,3604 m
b. Kerugian head akibat peralatan instalasi pada pipa tekan (h
md
)
40
h
md
= Σ nk
g
V
. 2
2
...........................[lit 1 hal 212]
Dimana untuk memperoleh harga koefisien peralatan, dari gambar perencanaan
instalasi sepanjang pipa tekan terdapat peraaltan yang dipasang dan disajikan pada
tabel berikut :
Tabel 3.2. Koedisien kerugian kelengkapan pada pipa tekan dapat dilihat pada
gambar 3.1.
Jenis peralatan Jumlah k n.k
Check valve (katup searah) 1 2 2
Gate valve (katub gerbang) 5 0,25 1,25
Elbow 90
0
5 0,8 4
T joint (smbungan T) 2 0,2 0,4
Sambungan 4 0,95 3,8
Total koefisien kerugian 11,45
Maka harga kerugian head akibat peralatan instalasi pipa adalah:
h
md
= Σ nk
g
V
. 2
2
= 11,45
81 , 9 2
) 22 , 1 (
2
x
= 0,868 m
Dengan demikian kerugian head pada pipa tekan ini adalah :
H
Ld
= hfd + h
md
=
3,3604 m + 0,868 m
= 4,2284
Maka kerugian head total (h
L
)
h
L
= h
Ls
+ h
Ld

= 0,383 m + 4,2284 m
= 4,6114 m
41
Dari perhitungan maka dapat ditentukan head total yang dibutuhkan untuk
melayani instalasi pemipaan :
H
pompa
= ∆ H
p
+ ∆ H
v
+ ∆ Z + ∆ h
L

= (10,631 + 0,076 + 3 + 4,6114)
= 18,3148 m
Namun untuk perencanaan head pompa yang diperlukan harus lebih besar dari
head teoritis, hal ini dilakukan untuk mengatasi hal-hal sebagai berikut :
- Kondisi pipa akibat pengarub umur hingga terjadi perubahan head loses
- Pemilihan harga-harga dan perhitungan yang kurang teliti terhadap lead
pompa secar teoritis.
Maka besarnya head pompa ditambah 10 sampai 25% seabgai faktor
keamanan. Dalam perencanaan ini dipilih 25%, maka besarnya head pompa yang
direncanakan :
Hp = 1,215 x 18,3184
= 22,898 m
3.4. Perhitungan Motor Penggerak
Ada berapa jenis alat penggerak motor yang digunakan untuk
menggerakkan pompoa, anara ain turbin uap, motor baar dan motor listrik. Dalam
perencanaan ini dipili motor listrik sebagai penggeak mula pompa dengan
pertimbangan :
1. Energi listrik untuk menggerakkan motor listrik dapat dengan mudah
diperoleh dari pembagnkit yang ada.
42
2. Keuntungan memakai motor listrik dengan mudah dapat dikopel langsung
dengan pompa, pengoperasian mudah, putaran yang dihasilkan konstan,
getaran yang dihasilkan kecil, biaya perawatannya murah serta tidak
menimbulkan polusi udara.
Besarnya putaran motor listrik dapat ditentukan dengan megnetahui
frekwensi dan jumlah kutub pada motor listrik. Pada umumnya frekwensi listrik di
Indonesia adalah 50 Hz. Putaran motor listrik diperoleh dengan persamaan :
n =
rpm
p
f 2 . 60 .
.......................................[lit 2 hal 40]
Dimana :
f = frekwensi listrik (50 Hz)
p = jumlah kutub motor listrik
= 2 buah
Maka :
n =
rpm
2
2 . 60 . 50
= 3000 rpm
Putaran motor listrik akan berkurang sekitar 1 sampai 2% karena adanya
slip putaran, slip yang diambil 1% dengan pertimbangan diusahakan harga
minumum agar putaran motor menajdi maksimum dan juga kerugian daya motor
tidak terlalu banyak. Sehingga putaran motor menjadi :
n
m
= 3000 – (0,1 . 3000)
43
= 2970 rpm
3.5. Putaran Spesifik dan jenis impeller
Impeller adalah roda atau rotor yang diengkapi dengan sudut-sudut, ini
berguna untuk memindahkan energi mekanis poros menjadi energi fluida, tipe
impeller suatu pompa ditentukan berdasarkan putaran sepsifik pompa tersebut.
Putaran spesifik untuk pompa yang memiiki impeller satu tingkat dapat
dihitung menggunakan persamaan :
n
sl
= n
p

p
p
H
Q
.........................................[lit 2. hal 5]
Dimana :
nsl = putaran spesifik satu tingkat
np = putaran pompa = 2970 rpm
Qp = kapasitas pompa = 0,00264 m
3
/s
Hp = Head pompa = 23 m
Sehingga :
n
sl
= 2970
75 . 0
) 48 , 75 (
8 , 41

= 750, 04 rpm
Tipe impeller menurut [lit 7 hal 62] adalah :
1. Tipe Radial n
s
= 500-1000 rpm
2. Tipe Francis n
s
= 1000 – 3000 rpm
3. Tipe aliran campur n
s
= 3000 – 7000 rpm
44
4. Tipe Axial n
s
= 7000 – 15000 rpm
Adapun grafik hubungan bentuk impeller dengan putaran spesifik adalah :
Gambar 3.2. Grafik hubungan bentuk impeller dengan putaran spesifik pompa
3.6. Efisiensi Pompa
Pada pemakaian pompa yang terus – menerus, masalah efisiensi pompa (
)
p
η
menjadi perhatian khusus. Efisiensi pompa tergantug kepada kapasitas tinggi
tekan (head) dan kecepatan aliran yang kesemuanya sudah termasuk dalam
putaran spesifik. Hubungan antara putaran spesifik dengan efisiensi pompa dapat
dilihat pada gambar 3.3. berikut ini :
45
Gambar 3.3. Grafik Hubungan efisiensi dengan putaran spesifik
Dimana kondisi pompa adalah :
Kapasitas (Qp) = 0,00264 m
3
/s
Putaran spesifik = 750, 04 rpm
Sehingga dari grafik tersebut, diperoleh efisiensi sebesar 56%.
3.7. Daya Pompa
Daya pompa (Np) merupakan daya yang dibutuhkan untuk menggerakkan
impeler. Besarnya daya yang dibutuhkan dapat dihitung dengan persamaan :
N
p
=
p
p p
Q H
η
γ
.
.
......................................[lit 2 hal 53]
Dimana :
H
p
= head pompa = 23 m
Qp = kapasitas pompa = 0,00264 m
3
/det
γ
= berat jenis CPO pada temperatur 90
0
C = 863 N/m
3

η
p
= efisiensi pompa = 56%
Maka :
N
p
=
56 , 0
) 03 , 8466 )( 22 )( 00264 , 0 (
= 878, 04 W
= 0,87 kW
3.8. Daya Motor Penggerak
Besarnya daya motor penggeak dapat dihitung dengan persamaan :
46
N
m
=
t
p
N
η
α) 1 ( +
..........................[lit 2hal 59]
Dimana :
N = daya pompa = 0,87 Kw
α = faktor cadangan daya (0,1 – 0,2), untuk motor induksi dipilih 0,2
t
η
= efisiensi transmisi = 1 (dikopel langsung)
Maka :
N
m
=
1
) 2 , 0 1 ( 87 , 0 +
= 1,044 kW
3.9. Spesifikasi Pompa
Berdasarkan hasil survey yang telah didapat, maka spesifikasi pompa yang
direncanakan adalah sebagai berikut :
- Kapasitas pompa (Qp) = 9,46 m
3
/jam
- Head pompa (Hp) = 23 m
- Putaran pompa (np) = 2970 rpm
- Jenis pompa = Sentrifugal satu tingkat
- Putaran spesifik (ns) = 750,44 rpm
- Efisiensi pompa (np) = 56%
- Tipe impeler = radial
- Daya pompa (Np) = 0,934 kW
- Penggerak pompa = Motor listrik
- Daya motor (Nm) = 1,1208 kW
47
- Putaran/frekwensi motor = 2970 rpm/50 Hz
Berdasarkan hasil-hasil perhitungan yang telah di dapat, maka spesifikasi
pompa adalah sebagai berikut :
- Kapasitas pompa (Qp) = 9,504 m
3
/jam
- Head pompa (Hp) = 22,898 m
- Putaran pompa (np) = 2970 rpm
- Jenis pompa = sentrifugal satu tingkat
- Putaran spesifik (ns) = 750,04 rpm
- Efisiensi pompa ( p) ƞ = 56%
- Tipe impeler = radial
- Daya pompa (Np) = 0,87 kW
- Penggerak pompa = Motor listrik
- Daya motor (Nm) = 1,044 kW
- Putaran/frekwensi motor = 2970/50 Hz
48
BAB IV
UKURAN-UKURAN UTAMA POMPA & PERHITUNGAN
IMPELLER & KARAKTERISTIK POMPA
Ukuran-ukuran Utama Pompa
Perencanaan Poros
Poros adalah elemen pompa yang berfungsi untuk memindahkan bayi dan
putaran dari penggerak ke impeller mendukung impeller. Daya yang
ditransmisikan oleh poros, merupakan daya dari mesin penggerak pompa yaitu
daya motor listrik. Bahan poros direncanakn adalah S 45 C JIS 4501.
49
Poros pompa merupakan salah satu komponen utama yang berfungsi untuk
meneruskan daya dan putaran dari motor penggerak ke impeller serta untuk
mendukung kedudukan impeller.
Pada perenanaan poros, perlu diperhatika hal-hal seperti berikut :
1. Kekuan poros untuk menahan beban punter, beban lentur (akibat putaran)
ataupun gabungan dari keduanya.
2. Kekakuan poros untuk mengatasi getaran akibat lenturan serta defleksi
putaran yang kasar.
3. Putaran kritis, dimana bila poros berada pada putaran kritis maka poros
akan mengalami getaran yang besar.
Oleh sebab itu, maka perhitungan poros tergantung momen puntir, faktor-
faktor kondisi kerja, tegangan geser dan jenis material poros.
Besarnya momen puntir pada poros (M
t
) adalah :
M
t
= 9,55 x 10
3
x
np
Ps
Dimana :
Ps = Daya yang ditranmisikan poros
= Np (daya yang direncanakan) x fc (faktor koreksi)
Np = Puaran poros
= 2970 rpm
Faktor koreksi (fc) diperlukan untuk mngantisipasi kemungkinana terjadinya daya
yang besar pada start atau pembebanan maksimum yang terus menerus.
Berikut ini faktor koreksi daya yang diberikan pada poros adalah :
Tabel 4.1. Faktor koreksi daya
50
50
Daya yang ditranmisikan Faktor Koreksi (fc)
Daya rata-rata 1,2 – 2,0
Daya maksimum 0,8 – 1,2
Daya normal 1,0 – 1,5
Dari tabel di atas maka dipilih nilai fc = 1,2 dengan alasan karena itu
adalah daya maksimum yang dapat ditransmisikan :
Daya Pompa (Np) dari perhitungan sebelumnya adaah 0,934 Kw maka :
Ps = Np x fc
Sehingga besarnya momen putnir pada proso adalah :
M
t
= 9,55 x 10
3
x
) . (
2970
1208 , 1
m N
= 3,60 N.m
Diameter poros yang mengalami momen puntir, dapat dihitung dengan persamaan
:
d
s
=
3
11
1
1 , 5
]
]
]

t b
xM xC xK
g τ
Dimana :
Kt = Faktor korksi terhadap pembebanan yang terjadi
= (1,5 + 3,0) diambil 2,5
Cb = Faktor koreksi untuk beban lentur (1,2 + 2,3) diambil 2
g τ
= Teganan geser yang diijinkan
Dalam perencanaan ini van poros yang digunakan adalah baja carbon S 45
C denan normalisasi JIS G 4501 dengan kekuqtan tarik (
Tegangan geser ijin
g τ
untuk pemakaian poros ditentuan dengan
persamaan :
51
g τ
=
2 1 G f
b
xS S
σ
Dimana :
b
σ
= kekuatan tarik bahab = 59 Kg/mm
2
= 568, 98 x 10
6
N/m
2

S
f1
= faktor keamanan terhadap beba puntir (6,0 untu baja karbon)
S
f2
= Faktor keamanan terhadap alur psak dan perubahan diameter poros
= (1,3 : 3,0) direncankaan 3
Sehingga tegangan geser ijin ( g
λ
) baha pros adalah
g
λ
=
3 6
10 . 98 , 568
6
x
= 31,61.10
6
N/m
2
(Pa)
dari hubungan di atas maa diperoleh diameter poros (d
s
)
d
s
=
3
1
6
60 , 3 3 , 2 0 , 3
10 . 61 , 31
1 , 5
]
]
]

x x x
Harga ini merupakan dimater minimal proos, dari tabel diameter standart poros
dipilih poros ukuran 16 mm. Pada diameter poros dengan ukuran 16 mm ini,
tegangan geser yang akan timbul adalah :
g
λ
=
3
1 1 , 5
s
d
xM
=
3
0016 , 0
60 , 3 1 , 5 x
= 18,475 Pa
Terlihat bahwa tegangan geser yang timbul pada poros ( g
λ
) lebih kecil dari pada
tegangan geser ijin ( g
λ
) sehingga poros aman.
52
Perencanaan Pasak
Fungsi utama pasak adalah untuk memindahkan daya dan putaran dari
poros ke impeller. Ukuran pasak yang digunakan dipilih brdasarkan diameter
poros yang dipakai dari standarisasi ukuran pasak (lampiran). Dari standarisasi
ukuran pasak dan hubungannya dengan poros yang berdiameter 16 mm diperoleh
ukuran pasak sebagai berikut :
- Lebar (b) = 5 mm
- Tinggi (h) = 5 mm
- Panjang (I) = 20 mm
- Kedalaman alur pasak (t
1
) = 3,0 m
Bahan pasak yang dipakai sedikit lunak dari bahan poros. Pada
porencanan ini dipilih bahan pasak JIS G 3121 SFCM 60 S, dengan kekuatan tarik
60 kg/mm
2
(5,88.10
8
Pa).
Gambar 4.1.2. Penampang Pasak
Dalam operasinya pasak akan dapat pembebanan (gaya-gaya) yang akan
menimbukan tegangan gese dan tegangan tumbuk sehingga kekuataj pasak akan
iperiksa terhadap keua tegangan tersebut.
53
4.1.3. Pemeriksaan Terhadap Tegangan Geser
Momen torsi yang bekerja pada poros akan menimbulkan gaya tangensial
(Ft) pada permukaan sekeliling poros yaitu :
F
t
= M
t
/r
p

Dimana :
M
t
= Momen toris pada poros
= 3,60 N.m
r
p
= Jari-jari poros
= dp/2 = 0,016/2 = 0,008 m
Maka :
F
t
= M
t
/r
p

= 3,60 /0,008
= 514,2 N
Gaya tangensial ini akan menyebabkan terjadinya tegangan geser pada pasak yang
besarnya :
g
λ
= F
t
/A
g
Dimana :
Ag = Luas bidang geser
= b x 1 = 0,005 x 0,02 = 0,0001 m
2

= 514,2 /0,001
= 5142.10
4
N/m
2

Sedangkan tegangan gese yang diinjinkan untuk bahan pasak adalah :
g τ
=
2 1 G f
b
xS S
σ
54
Dimana :
b
σ
= kekuatan tarik bahab = 59 Kg/mm
2
= 5,88 .10
8
Pa
S
f1
= faktor keamanan terhadap beba puntir = 5,6
S
f2
= Faktor keamanan terhadap alur psak dan perubahan diameter poros
= (1,3 : 3,0) direncankaan 3
g τ
=
3 6 , 5
10 . 88 , 5
10
x
= 0,35.10
8
N/m
2

= 3,5.10
7
N/m
2
Dimana tegagan geser (
g τ
) = 5,142.10
4
N/m
2
dan tegangan geser ijin (
g τ
) 3,5 .
10
7
N/m
2
, maka
g τ
<
g τ
sehingga poros aman terhadap tegangan geser.
4.1.4. Pemeriksaan Terhadap Tegangan Tumbuk
Gaya tangensia (F
t
) yang terjadi sekeliling poros jua menyebabkan
terjadinya tegangan tumbuh pada pasak. Tegangan tumvuk yang terjadi adalah :
g τ
= F
t
/A
b
Dimana :
A
b
= luas bidang tumbuk
= 1 x t
= 0,02 x 0,003
= 6.10
5
m
2

p τ
= 514,2 /6.10
-5+
= 857.10
4
N/m
2

Sedangkan tegangan tumbuk yang diijinkan untuk bahan pasak adalah :
55
p τ
= 2 x
g τ
= 2x 3,5 .10
7
= 7.10
7
N/m
2

Maka
p τ
<
p τ
sehingga pasak aman terahdap tegangan tumbuk.
4.2. Perencanaan Impeller
Impeller berfungsi memberikan kerja pada fluida sehingga harus
dirncankan sebaik mungki agar dapat mngurangi gesekan dan aliran sirkulasi.
Beberapa sifat yang harus dipenuhi bahan impeller adalah kuat dan tahan korosi.
Bentuk dan penampang impeller dan ukuran-ukuran utamanya dapat
dilihar pada gambar berikut :
Gambar 4.2. Penampang Impeller
Keterangan gambar :
D
1
= Diameter sisi masuk b
1
= Lebar impeller pada sisi masuk
D
2
= Diameter sisi keluar b
2
= Lebar impeller pada sisi keluar
D
0
= Diameter mata impeller
56
D
h
= Diameter Hub
Penentuan ukuan impeller tidak terlepas dari aliran yang terjadi di dalam impleler
tersebut. Analisa perhitungan imepller berbubungan dengan kecepatan aliran.
Adapun kecepatan fluida pada impeller dapat dilihat pada gamabr berikut :
Gambar 4.3. Segitiga Kecepatan pada Impeller
Keterangan gambar :
U = Kecepatan tangensial suatu titik pada impeller
V = Kecepatan absolut fluida kerja
W = Kecepatan rlatif fluida terhadap impeller
Vr = Komponen radial kecepatan absolut fluida
Vu = Komponen tangensial kecepatan absolut fluida
α = Sudut dibentuk Vu dan U
β = Sudut yang dibentuk W dan U
4.2.1. Diametr Hub Impeller (D
H
)
Besar diameter hub dapat dihitung dengan persamaan berikut :
57
D
H
= D
p
(1,2 : 1,4)
Dimana D
p
= diameter poros = 16 mm
Maka :
D
H
= 16 91,2 : 1,4)
= (19,2 : 22,4) mmdan diambil 22 mm
D
H
= 22 mm
4.2.2. Diameter Mata Impeller (Do)
Diamer mata impeller dapat dihitung dengan persamaan berikut ini :
Do =
2
.
. 4
h
o
D
V
Q
+
π
Dimana :
Q = Kapasitas aliran teoritis pada sisi isap, yaitu kapasitas dengan perkiraan
adanya kerugian yang disebabkan fluida dari sisi tekan yang mengalir ke sisi isap
melalui celah impeller, besarnya (1,02 : 1,05) dari kapasitas pompa, diambi 1,05
Q = 1,05 x 0,00264
= 0,00251 m
3
/s
Maka :
Do =
2
) 022 , 0 (
8 , 1 .
00251 , 0 . 4
+
π

= 0,048 m
= 48 mm
58
4.2.3. Diameter Sisi Masuk Impeller (D
1
)
Diameter sisi masuk impeller (D
1
) yang memiliki kelengkungan dapat
dicari denganmengambil diameter rata-raa dari diameter mata impeller (Do) dan
diameter hub (D
h
) yang ditulis sebagai berikut :
D
1
=
2
1
2 2
2
]
]
]

+Dh Do
Dimana :
D
o
= diameter mata impeller = 48 mm
D
h
= diameter hub impeller = 22 mm
Maka
D
1
=
2
1
2 2
2
) 22 ( ) 48 (
]
]
]

+
= 36,3 mm
4.2.4. Diameter Sisi keluar Impeller (D
2
)
Dapat diperoleh dari persamaan :
D
2
=
np
Hp . . 1840 φ
Dimana :
φ
= koefisien tinggi overall, besarnya (0,9 : 1,2)
= 0,95
Hp = 75,48 ft
np = putaran pompa
59
= 2970 rpm
Maka :
D
2
=
2970
48 , 75 95 , 0 . 1840
= 5,10 in
= 129,54 mm
= 130 mm
4.2.5. Lebar Impeller Pada Sisi Masuk (b
1
)
Lebar impeller pada sisi masuk dpat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :
b
1
=
1 1
. . ε π
el
V D
Q

Dimana :
Q = Kapasitas teoritis pada sisi isap
= 0,0251 m
3
/s
D
1
= diameter sisi masuk impeller
= 36,3 mm
= 0,0363 m
V
rl
= Kecepatan radial sisi masuk
= (1,05 : 1,10) V
0
= (1,05 1,10) 1,8 m/s
= (1,89 : 1,98) diambil 1,9 m/s
ε
1
= Faktor kontraksi pada sisi masuk (0,8 – 0,9) dan ditetapkan 0,85
Maka :
B
1
=
9 , 1 85 , 0 0363 , 0 14 , 3
0251 , 0
x x x
60
= 0,013 m
= 13 m
4.2.6. Lebar Impeller Pada sisi Keluar (b
2
)
Lebar impeler pada sisi keluar dapat diperoleh dari persamaan :
b
2
=
2 2 1
. . ε π V D
Q
Q = Kapasitas teoritis pada sisi isap
= 0,0251 m
3
/s
D
1
= diameter sisi masuk impeller
= 130 mm = 0,13 m
= 0,0363 m
V
rl
= Kecepatan aliran pada sisi keluar
= (0,85 : 1,0) V
rl
= (0,85 : 1,0) 1,9
= (1,615 : 1,9) diambil 1,8 m/s
ε
1
= Faktor kontraksi pada sisi keluar
= 90,9 – 0,95) ditetapkan 0,92
Maka :
b
2
=
92 , 0 8 , 1 13 , 0 14 , 3
0251 , 0
x x x
= 0,00371 m
= 3,71 mm
61
Maka gambar penampang impeller adalah sebagai berikut :
Dimana :
DH = 22 mm
Do = 48 mm
D
1
= 36,3 mm
D
2
= 130 mm
B
1
= 13 mm
B
2
= 3,71 mm
4.3. Kecepatan dan Sudut Pada Sisi Masuk
4.3.1. Kecepatan Absolut Aliran Masuk (V
1
)
Pada pompa dengan impeller radial, aliran fluida masuk secara radial
tegak urus dngan garis singgung impeller sehingga bsar sudut masuk absolute

1
) = 90
0
dan kecepatan aliran asbolute (V
1
) adalah sama dengan kecepatan
radial aliran pada sisi masuk (V
rl
) = 1,9 m/s
62
4.3.2. Kecepatan tangensial (U
1
)
Kecepatan tangensial pada sisi masuk impeller dapat ditentukan dengan
persamaan :
U
1
=
60
.
. 1 p
n D π
=
60
2970 0363 , 0 14 , 3 x x
= 5,64 m/s
4.3.3. Sudut Tangensial (β
1
)
Untuk aliran fluida masuk secara radial (α ) = 90
0
, maka sudut sisi masuk (β )
dapat dihitung dengan persamaan :
β
1
= arc tan
rl
rl
U
V
= arc tan
64 , 5
9 , 1
= 18,61
0
Maka segitiga kecepatan pada sisi masuk impeller dapat digambarkan sebagai
berikut :
Gambar 4.3. Segitiga Kecepatan Sisi Masuk
63
Dari ga44mbar 4.3. dapat diketahui bahwa kecepatan relative pada sisi masuk
impeller (W
1
) adalah :
W
1
=
1
sin β
rl
V
=
61 , 18 sin
9 , 1
= 5,95 m/s
4.4. Kecepatan dan Sudut Aliran Keluar Impeller
4.4.1. Kecepatan Radial Aliran Keluar Impeller (V
r2
)
Dari perhitungan sebelumnya kecepatan radial pada sisi keluar impeller
V
r2
adalah sebesar 1,8 m/s.
4.4.2. Kecepatan Tangensial Aliqa Keluar Impeller (U
2
)
U
2
=
60
. .
2 p
n D π
=
60
2970 13 , 0 14 , 3 x x
= 20,2 m/s
4.4.3. Sudut Tangensial Aliran Keluar Impeller (β
2
)
Besarnya sudut tangensual keluar impeller (β
2
) mempunyai harga
berkisar (15
0
– 40
0
). Akibat sudut keluar ini, maka impeller ini dapat
menghasilkan head. Head yang dihasilkan impeller untuk sudut tidak berbats
disebut head virtual.
Head virtual dapat dihitung dengan persamaan :
H = k x H
vir

64
Dimana :
H = Head pompa = 23 m
K = Koefisien yang tergantung pada sudut dna lalu (0,6 – 0,7) diambil 0,7
Maka
H
vir
=
k
H
=
7 , 0
23
= 32,58 m
Untuk menghitung sudut tangensial sisi kelaur impeller dilakukan menurut
persamaan berikut :
H
vir
=
]
]
]


2
2
2
2
tan β
r
V
U
g
U
Dimana :
H
vir
= Head virtual impeller = 32,85 m
U
2
= Kecepatan tangensial keluar impeller = 20,2 m/s
V
r2
= Kecepatan radial keluar impeller = 1,8 m/s
β
2
= Sudut tangensial sisi keluar impeller
Maka :
32,85 =
]
]
]


β tan
8 , 1
2 , 20
81 , 9
2 , 20
32,85 = 41,41 -
56 , 8
69 , 3
tan
β
=
56 , 8
69 , 3
tan
β
= 0,431
65
β
2
= 23,31
0
4.4..4 Kecepatan Absolut Tangensial (Vu
2
)
V
u2
= U
2
-
2
2
tan β
e
V
= 202 -
431 , 0
8 , 1
= 16,03 m/s
4.4.5 Sudut Aliran Keluar Impeller (α
2
)
α
2
= arc tan
2
2
u
r
V
V
= arc tan
03 , 16
8 , 1
= 6,40
0
4.4.6. Kecepatan Aliran Keluar Impeller (V
2
)
V
2
=
2
2
sin α
r
V
=
31 , 23 sin
8 , 1
= 4,54 m/s
4.5. Kecepatan dan Sudut Keluar Akibat adanya Sirkulasi
66
4.5.1. Kecepatan Radial Akibat Sirkulasi (V
r2
)
Karena kapasitas aliran yang keluar tetap sama, maka aliran sirkuasi
(circulation flow)tidak mempngaruhi kecepatan radialnya, sehingga :
V
r2
= 1,8 m/s
4.5.2. Kecepatan Tangensial (V
u2
)
Kecepatan tangensial pada sisi keluar dapat dihitung dengan persamaan :
V
u2
= n x V
u2
Dimana :
n = Koefisien sirkulsi (0,65 : 0,75) diambil 0,7
Maka :
V
u2
= 0,7 x 16,03 m/s
= 11,221 m./s
4.5.3 Kecepatan Absolut (V
2
)
V
2
=
2
2
2
2
) ( ) (
t u
V V +
=
2 2
) 8 , 1 ( ) 221 , 11 ( +
= 11,36 m/s
4.5.4. Sudut Absolut (α
2
)
67
α
2
= arc tan
= arc tan
2
2
Vu
V
r
= arc tan
221 , 11
8 , 1
= 9,09
0

4.5.5. Sudut Tangensial (β
2
)
β
2
= arc tan
2 2
2
Vu U
V
r

= arc tan
221 , 11 2 , 20
8 , 1

= 11,33
0

4.5.6. Kecepatan Relatif Keluar (W
2
)
W
2
=
2
2 2
2
2
) ( ) (
u e
V U V − +
=
2 2
) 221 , 11 2 , 20 ( ) 8 , 1 ( − +
=
2 2
) 979 , 8 ( ) 8 , 1 ( +
= 9,15 m/s
Setelah didapat harga-harga diatas maka segitia kcepatan keluar impeller dapat
diambarkan seperti gambar 4.4. berikut :
68
Gambar 4.5. Segitiga Kecepatan Sisi Keluar
4.6. Perencanaan Sudut Impeller
Perencanaan sudut impeller merupakan hal penting dalam perencanana
pompa, karena hal ini mempengaruhi perfomansi yang dihasilkan pompa yang
akan dirancang. Sudut tidak boleh dibuat terlalu panjang karena akan menambah
atau memperbesar kerugian gesek.
4.6.1. Jumlah Sudut (Z)
Banyaknya jumah sudut yang dipergunakan dalam mengarahkan fluida
saat dipompakan harus tepat untuk mengurangi kerugian gesekan saat fluida
mengalir. Jumlah sudut dapat dihitung dengan rumus :
Z = 6,5
]
]
]

+
]
]
]


+
2
sin
2 1
1 2
1 2
β β
D D
D D
Dimana :
D
1
= diametr sisi masuk impeller = 36,3 mm
D
2
= diameter sisi keluar impeller = 130 mm
β
1
= Sudut tangensial sisi masuk impeller = 18,61
0

β
2
= sudut tangensial sisi luar impeller = 23,31
69
dengan memasukkan harga-harganya maka diperoleh :
Z = 6,5
]
]
]

+
]
]
]


+
2
sin
2 1
1 2
1 2
β β
D D
D D
= 6,5
[ ] 96 , 20 sin
7 , 93
3 , 166
= 6,5 (1,77) si (20,96)
= 11,505 x 0,35
= 4,026
Dalam hal ini direncankaan jumlah sudu, Z = 4 buah
4.6.2. Jarak Tiap Sudu (S)
Jarak tiap sudu dapat dihitung dengan rumus :
S =
Z
D . π
Dimana :
D = Diameter impeller
= Diameter sisi masuk (D
1
) = 36,3 mm
= Diameter sisi keluar (D
2
) = 130 mm
Maka :
Untuk sisi masuk :
S =
mm 4955 , 28
4
3 , 36 .
·
π
Untuk sisi keluar :
S
2
=
mm 05 , 102
4
130 .
·
π
70
4.6.3. Tebal Sudu (t)
Tebal sudu dapat ditentukan dengan rumus berikut :
t =
Z
D β ε π sin ) 1 ( . −
Dimana :
t = tebal sudu
D = diameter impeller, untuk sisi masuk = 36,3 mm dan untuk sisi keluar
= 130 mm
ε = Faktor kontraksi untuk sisi masuk (ε
1
) = 0,8 dan untuk sisi keluar
= (ε
2
) = 0,9
β = Sudut tangensial, untuk sisi masuk (β
1
) = 18,61
0
dan untuk sisi keluar
= (β
2
) = 23,31
0
Maka tebal sudut masuk :
t
1
=
4
31 , 23 sin ) 9 , 0 1 ( 130 .
0
− π
= 4,038 mm
4.6.4. Melukis Bentuk Sudu
Untuk melukis bentuk sudu ada dua cara yaitu :
- Tangen arc methode
- Polar koordinal methode
Dalam perencanaan ini digunakan metode tangen arc yakni impeller
dimisalkan terbagi atas sejumlah ring yang konsentri antar R
1
dan R
2
masing-
71
masing lingkaran 1,b,c,d 2 yang dibagi atas empat buah ring dengan jari-jari
R
1
,R
b
,R
c
,R
d

∆ R =
i
R R
1 2

Dimana :
R
1
= Jari-jari sudut lingkaran yang melalui tepi sudu bagian dalam
= D
1
/2 = 36,3/2
= 18,15 mm
R
2
= jari-jari sudu lingkaran yang mellaui tepi sudu bagian luar
= D
2
/2 = 130/2
= 65 mm
i = jumlah bagian yang dibentuk lingkaran konsentris direncakan 4 bagian
Maka :
∆ R =
mm mm 7125 , 11
4
15 , 18 65
·

Perubahan besar sudut kelengkungan sudu :
∆ β =
i
1 2
β β −
=
4
61 , 18 31 , 23
0 0

= 1,175
0

jari-jari kelengkungan sudu R
k
menurut lit 1. hal 104 dihitung dengan :
R
k
=
a q b b
a b
R R
R R
β β cos cos .( 2
2 2



72
Dimana :
a = Lingkaran terdekat dengan pusat pada bagian lingkaran tertentu
b = Lingkaran terjauh dari pusat poros pada bagian lingkaran tertentu
Selanjutnya dari rumus-rumus diatas maka dibuat suatu tabel untuk
mendapatkan jari-jari kelengkungan sudu.
Tabel 4.3. Jari-jari kelengkungan sudu
Lingk R R
2
β R cos β R
b
.cosβ
b
-R
a
cos
β
a
R
b
2
– R
a
2
R
k
1 18,15 329,42 18,661 17,20 - - -
B 29,862 891,76 19,785 28,09 10,89 562,34 25,81
C 41,575 1728,4 20,96 38,82 10,73 836,72 38,98
D 53,287 2839,5 22,135 49,36 10,54 1111,07 52,70
2 65 4225 23,31 59,69 10,33 1385,45 67,05
Cara melukis sudu :
1. Lukis ligkaran a,b,c diantara lingkaran yang berjari-jari R
1
dan R
2
dimana
∆ R = 11,7125 mm
2. Buat β
1
= 18,61 pada titik yang salah satu kakinya OA.
3. Buat busur lingkaran dari titik A memotong lingkaran a di titik B dengan
jari-jari R
k
= 25,81 mm, dan brepusat dan titik F pada kaki yang membntuk
sudut β
1
dan OA.
4. Buat busur lingkaran dari titik B, sehingga memotong b di titik C dengan
jari-jari R
k
= 38,98 mm dan berpusat di titik g pada garis melalui BF.
5. Buat busur lingkaran dari titik C sehingga memotong lingkaran d di titik D
dengan jari-jari R
k
= 52,07 mm dan berpusat di titik H pada gari yang melalui
CB.
6. Buat busur lingkaran dari titik D sehingga memotong lingkaran 2 di ttiik E
dngan jari-jari R
k
= 67,05 mm dan berpusat di titik I pada garis yang melalui
DH.
7. Hubungkan A,B,C,D dan E yang merupakan garis lengkung sudu impeller
73
4.6.5. Panjang Sudu
L
n
=
k
R . .
180
1
π
Θ
Dimana :
L
n
= Panjang tiap segmen
1
Θ
= sudut yang dibentuk R
1
dan R
2

R
k
= jari-jari kelengkungan sudu
Gambar 4.6. Penggambaran sudu dengan metode Arcus Tangen
Dengan memasukkan harga-harga di atas maka diperoleh panjang sudu seperti
terlihat pada tabel 4.4. dibawah ini :
Busur
θ
1
(
0
)
R
k
(mm) L
n
(mm)
AB 42 25,18 18,44
BC 36 38,98 24,47
CD 26 52,70 23,90
74
DE 20 67,05 23,39
Σ L
n
= 90,2 mm
4.7. Rumah Pompa
Rumah pompa dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi
kerugian yang mungkin terjadi. Pada rumah pompa kerugian akibat fluida yang
mengalir sangat tinggi. Dengan demikian rumah pomap harus, agar mengubah
energi kecepatan menjadi kecepatan menjadi energi tekan. Berdasarkan bentuk
rumah pompa maka dirancang volute casing (rumah keong) karena kontruksinya
sederhana dan biaya pembuatannya relatif murah untuk pompa satu tingkat. Untuk
dapat digambarkan rumah pompa volute dibagi atas 8 bagian penampang masing-
masing 45
0
,90
0
,135
0
,180
0
,225
0
,270
0
,315
0
, dan 360
0
.
4.7.1. Type Rumah Pompa
Pompa yang direncanakan adalah jenis satu tingkat, untuk pompa jenis ini
pada umumnya digunakan type rumah pompa dimana luas penampang casing
perlahan-lahan bertambah besar ke arah sisi laur. Ini dimaksudkan untuk
mengubah energi tekanan agar kecepatan fluida didalam rumah keong tidak
bertambah.
4.7.2. Perencanaan bentuk Rumah Pompa
Untuk mnentukan ukuran dari rumah pompa maka volute dibagi atas
delapan penampang. Masing-masing terletak pada sudut
45
0
,90
0
,135
0
,180
0
,225
0
,270
0
,315
0
, dan 360
0
diperoleh perbandingan kecepatan
pada kerongkongan rumah keong dengan kecepatan keliling fluida keluar impeller
75
adalah merupakan fungsi dan kecepatan spesifik terlihat pada gambar 4.4. berikut
ini :
Gambar 4.7. Grafik
2
U
V
thr
sebagai fungsi n
s

Pada perencanaan ini kapasitas pompa adalah : Q = 0,00264 m
3
/s dengan H = 23
m dan n
s
= 705,04 rpm. Dari grafi di atas diperoleh harga =
2
U
V
thr
Sehingga :
V
thr
= 0.52 . U
2
= 0,52.20,2
= 10,504 m
Maka luas kerongkongan dari pada rumah pompa adalah :
V
thr
=
thr
V
Q
=
504 , 10
00264 , 0
76
= 2,51.10
-4
m
2
= 251,33 mm
2
Jari-jari pada luasan A
thr
atua jari-jari volute :
r
thr
=
π
thr
A
=
14 , 3
33 , 251
= 8,94 mm
Celah antara impeller dengan rumah pompa menurut lit adalah (5-10)%R2,
sehingga :
t = (5-10) %.65
= (3,25 – 6,5) mm
Maka direncankaan 6 mm
Sehinga jari-jari lingkaran pada kerongkongan rumah rumah keong adalah :
R
3
= R
2
+t+t
thr
= 65 +6+8,94
= 79,94 mm
Bentuk rumah pompa adalah bentuk rumah volute sehingga luas daerah pompa
dan impeller merupaka fungsi dari sudut volute (µ v) dalam sistim radial
lingkaran dan dapat dihitung dengan persamaan :
A
v
= A
thr
(
,
`

.
|
360
v µ
A
v
= µ .r
v2
77
Dimana :
r
vl
=
π
v
A
Untuk µ v = 45
0
, maka diperoleh :
A
v
= 251,33
,
`

.
|
360
45
= 31,416
Sehingga :
r
vol
=
π
416 , 31
= 3,16 mm
Maka besar jari-jari volute (r
v
) adalah :
R
v
= R
4
+2r
vi
Dimana :
R
4
= R
2
+t
= 65 + 6
= 71 mm
Maka : rv = 71 + 2 (3,16) = 77,32 mm
Dengan cara yang sama harga jari-jari (r
v
) untuk berbagi sudut volut (µ v) dapat
diihat pada tabel 4.5. dibawah ini :
Tabel 4.5. Hasil Perhitungan rumah volute pompa
µ v(0)
A
thr
(mm)
2
A
v
(mm
2
) R
v
(mm
2
)
45 251,33 31,416 77,32
90 251,33 62,832 79,94
135 251,33 94,248 81,957
78
180 251,33 125,665 83,652
225 251,33 157,082 85,145
270 251,33 188,497 86,495
315 251,33 219,913 87,737
360 251,33 251,33 88,893
Sudut lidah volume (θ
1
) dapat dihitung dengan persamaan :
θ
1
=
2
2
. tan
. . 132
α
R
R
In
t

Dimana :
R
t
= Radius rumah volume
= (1,02 : 1,05) R
2
= (1,02 : 1,05)65
= (66,3 : 68,25) maka direncanakan 67 mm dimana sudut fluida
meninggalkan impeller = 9,09
0
Maka :
θ
1
=
0
09 , 9 tan
65
67
. . 132 In

= 25,00
0

4.7.3. Tebal Rumah Pompa (s)
s =
1
. 2
. . .
Z
D P y
+
σ
α
Dimana :
α
= faktor konsentrasi (4-5), diambil
α
= 5
y = Koefisien profil bentuk penampang 1,6 untuk penampang bentuk
79
lingkaran
D = Diameter rumah pompa yang mengalami tekanan terbesar (r
v

180
+ r
v360
)
= 82,652 + 88,893 = 172,545 m
Z
1
= Toleransi ketelitian untuk penuangan, (2-3) mm, diambil 2
Rumah pompa akan mengalami tekanan akibat head pompa sebesar P.
P = γ . h
Dimana :
γ = massa jenis fluida yang dialirkan
= 8466,03 N/m
3

H = Head pompa
= 23 m
Sehingga :
P = 8466,03 x 23 N/m
2
= 194.718,69 N/mm
2
= 0,194718 N/m
2

α = tegangan tarik ijin beban dimana bahan yang dipilih JIS G 5501 Besi
cor Kelabu FC 25 dengan tegangan tarik ijin 25 Kg/mm
2
atau
245,25/mm
2
dengan faktor keamanan 4.
= 245,25/4 = 61,2125 n/mm
2

Maka :
s =
3125 , 61 2
545 , 172 1947 , 0 6 , 1 5
x
x x x
= 2,19 mm
4.8. Karakterisitk Pompa
80
Karakteristik pompa dapat digambar dalam grafik berikut :
Ht ∞ =
g
U
2
2
=
m 59 , 41
81 , 9
2 , 20
2
·
Ht = k. Ht ∞
Dimana k = faktor sirkulasi (0,6 : 0,8)
Maka Ht = 0,7 x 41,59 m
= 29,113 m
Dimana :
Ht ∞ = Head dengan sudu tak tertentu
Ht = Head dengan sudu tertentu
81
Gambar 4.8. Karakteristik Pompa
BAB V
ANALISA GAYA DAN PUTARAN KRITIS
Poros pompa akan mengalami gaya-gaya akibat berat poros dan impeler
serta akibat aliran fluida. Secara umum gaya yang bekerja pada poros terdiri atas :
- Gaya radial : gaya yang bekerja pada arah vertikal terhadap poros pompa
- Gaya aksial : gaya yang bekerja pada arah sejajar terhadap pompa
5.1. Gaya Radial
Gaya radial terdapat pada poros pompa antara lain, gaya akibat berat poros
itu sendiri dan berat impeller pompa.
82
5.1.1. Gaya Radial Akibat Berat Poros
Poros direncanakan miliki konstruksi bertingkat yaitu memiliki perbedaan
diameter disepanjang poros. Perhitungan berat poros dilakukan untuk tiap-tiap
diameter yang berbeda. Adapun dimensi poros yang direncanakan seperti gambar
5.1. berikut :
Gambar 5.1. Ukuran dimensi poros
Berat poros dapat dihitung dengan persamaan :
W
p
=
γ
π
. . . .
4
2
p s
L d
Dimana :
L
p
= Panjang poros

γ
= berat jenis poros 76057 (untuk bahan poros dipilih baja krom nikel)
Sesuai dengan bentuk dan ukuran poros yang direncanakan, berat poros
untuk tiap bagian dapat ditabelkan sebagai berikut :
Tabel 5.1. Berat poros untuk tiap bagian
Bagian D
p
(m) L
p
(m) W
p
(N)
I 0,016 0,05 0,7642
II 0,020 0,0120 2,865
III 0,025 0,0125 4,664
IV 0,020 0,025 0,597
V 0,016 0,075 1,146
83
Jadi berat totalnya adalah 10,036 N
5.1.2. Berat Impeller
Untuk menghitung berat impeller secara tepat cukup rumit, sehingga
dilakukan pertimbangan secara pendekatan dengan membagi-bagi impeler atas
beberapa. Berat alur pasak dan penyeimbang diabaikan, bahan impeller adalah
bronze.
Gambar 5.2. Bentuk dan ukuran Impeler
Berat impeler untuk tiap-tiap bagian dapat dihitung dengan rumus :
W
i
=
γ
π
. 1
2 2
). . .(
4
t d d
a b

84
Dimana :
W
i
= berat bagian impeler
d
b
= Diameter luar tiap bagian
d
a
= Diameter dalam tiap bagian
t
t
= tebal pendekatan tiap bagian
y = Massa jenis impeler (bahan impeler yaitu bronze = 0,000079991 N/mm
3
)
Berat impeler (W
i
) adalah jumlah dari berat segmen impeler yang
ditabelkan sebagai berikut :
Tabel 5.2. Berat bagian tiap impeler
Bagian (Do
2
– Di
2
) T
1
(mm) Wid (N)
1 0,020
2
– 0,015
2
0,040 0,477
2 0,123
2
– 0,020
2
0,005 5,023
3 0,143
2
– 0,123
2
0,004 1,451
4 0,143
2
– 0,123
2
0,008 2,902
5 0,200
2
– 0,123
2
0,003 5,089
6 0,200
2
– 0,143
2
0,003 4,000
JUMLAH 18,942 N
5.1.3. Berat sudu
Pada impeler terdpat enam sudu yang sama dimensinya, sehingga erat total
pendekatannya dapat dihitung untuk lima sudu dengan persamaan berikut :
W
sd
= Z.L

,
`

.
| +
2
2 1
b b
γ
,
`

.
| +
2
2 1
t t
Dimana :
Z = jumlah sudu
L = panjang sudu
B
1
= lebar sudu sisi masuk 0,013 m
85
B
2
= lebar sudu keluar 0,0371 m
t = tebal rata-rata sudu
= m mm
t t
00314 , 0 144 , 3
2
038 , 4 25 , 2
2
2 1
· ·
+
·
+
γ
= massa jenis sudu
Maka berat sudu diperoleh :
W
sd
= Z.L
γ
,
`

.
| +

,
`

.
| +
2 2
2 1 2 1
t t b b
= 4,90,2
5
10 . 5 , 8 ) 0031 , 0 (
2
0371 , 0 013 , 0

,
`

.
| +
= 2,43 N
Sehingga berat impeller dan sudu adalah :
W
is
= W
i
+ W
s
= 18,94 + 2,43
= 21, 37 N
5.2. Gaya Aksial
Gaya aksial terjadi akibat adanya perbedaan tekanan antara sisi hisap dan
sisi tekan. Hal ini menyebabkan akan terdorongnya impeler ke sisi hisap. Selain
gaya aksial akibat perbedaan tekanan ada pula gaya akibat momentum fluida yang
arahnya berlawanan dengan gaya aksial akibat perbedaan tekanan.
86
Gambar 5.3. Gaya Aksial pada Impeller
5.2.1. Gaya Aksial Akibat Perbedaan Tekanan
Gaya aksial ini dapat dihitung dengan rumus :
F
a
= (P
1
– P
0
)
) (
4
2 2
H s
D D −
π
Dimana :
P
1
– P
0
= beda tekanan antara sisi hisap dengan sisi tekan impeller
=
γ
]
]
]


g
u u
. 2 4
3
2
1
2
2
u
1
= kecepatan keliling pada sisi masuk = 20,2 m/s
u
2
= kecepatan keliling pada sisi keluar = 5,64 m/s
γ
= berat spesifik dari fluida kerja = 8466,03 N/m
3
Do = diameter pada impeler = 0,048 m
87
D
H
= diameter hub impeler = 0,022 m
Sehingga :
P
1
– P
0
=
03 , 8466
81 , 9 . 2
64 , 5 2 , 20
4
3
2 2
]
]
]


= 121720,3 N/m
2

Maka diperoleh :
F
a
= 121720,3
) 022 , 0 048 , 0 (
4
2 2

π
= 173, 90 N
5.2.2. Gaya Aksial Akibat Momentum Fluida
Gaya ini dapat dihitung dengan persamaan :
F
a
=
g
V Q
o th
. . γ
Dimana :
Qth = kapasitas pompa teoritis = 0,00251 m
3
/s
Vo = kecepata aliran masuk impeller = 1,8 m/s
Sehingga
F
am
=
81 , 9
8 , 1 . 00251 , 0 . 03 , 8466
= 3,89 N
Sehingga gaya aksial yang timbul akibat aliran fluida adalah :
F
a total
= F
at
– F
am

= 173,90 – 3,89
88
= 170, 01 N
Untuk mengatasi gaya aksial yang timbul dapat dilakukan penggunaan
cincin aus (wearing ring) dan ruang penyimpang yang ditempatkan di belakang
impeler dan diantara sisi impeler kemudian dihubungkan dengna lobang
penyeimbang.
Dengan demikian terjadi keseimbangan antara tekanan sisi isap dan sisi
belakang. Dari kontruksi ini dapat direduksi gaya aksial sebesar (75% - 90%).
Dalam rancangan ini gaya aksial diperhitungkan karena deduksi 85%, maka gaya
aksial yang bekerj adalah :
F
a
= (75% - 90%) F
a total

= 0,85 x 170,01 = 144,50 N
5.2.3. Perhitungan Gaya Radial
Gaya radial adalah total beban yang bekerja pada poros yaitu akibat berat
poros itu sendiri maupun impeller. Dalam perhitungan ini poros ditumpu pada dua
tempat yaitu tumpuan A dan B, dimana poros dianggap sebagai beban terbagi rata
dan impeller sebagai beban terpusat. Namun untuk memudahkan perhitungan
gaya radial, dianggap poros sebagai beban terpusat begitu juga dengan impeller.
89
Gambar 5.4. Pembebanan pada Poros Pompa
Seperti yang telah diperoleh sebelumnya :
Wp
1
= 0,7642 N
Wp
2
= 2,805 N
Wp
3
= 4,664 N
Wp
4
= 0,597 N
Wp
5
= 1,146 N
Wi = 21,37 N
Dengan menggunakan hukum kesetimbangan momen.
∑M
c
= 0
- (Wp
1
+ Wi) (0,145) – Wp
2
(0,06) + Wp
3
(0,0625) – R
B
(0,125 + Wp
4
(0,1375) +
Wp
5
(0,1875) = 0
- (0,7642 + 21, 37) (0,145) – 2,805 (0,06) + 4,664 (0,0625) – R
B
(0,125) + 0,597
(0,1375) + 1,146 (0,1875) = 0
Dengan menggunakan hukum kesetimbangan gaya.
∑F
y
= 0
W
amp
+ W
p
– R
A
– R
B

90
21,37 + 10,036 – R
A
– 19,62
R
A
= 11,786 N
5.3. Pemilihan Bantalan
Bantalan adalah elemen mesin yang mampu menumpu poros beban,
sheingga putaran ataupun gerak bolak-baliknya dapat berlangsung aman. Jika
bantalan tidal berfungsi dengan baik maka prestasi dari seluruh sistim akan
menurun. Pemilihan bantalan dilakukan berdasarkan diameter poros tempat
bantalan.
Besar gaya aksial dan radial yang akan diatasi oleh bantala telah diperoleh
pada pehitungan sebelumnya :
F
a
= 144,50 N
F
r
= 11,786 N
Pada perencanaan ini bantalan aksial-aksal dipilih bantalan rol kerucut. Pemilihan
bantalan dilakukan berdasarkan diameter poros tempat bantalan yaitu 16 mm,
maka bantalan yang kita pilih adalah bantalan denan spesifikasi sebagai berikut :
d = 20 mm T = 16,25 m
D = 52 mm b = 13 mm
B = 15 mm r
1
= 0,8
C = Kapasitas nominal dinamis – 2490 Kg
Co = Kapasitas nominal statis = 1670 Kg
5.3.1. Pemeriksaan Kekuatan Bantalan
91
Pompa yang memiliki gaya radial (F
r
) = 11,786 N dan gaya aksia = 144,50
N. Maka beban ekivalen P
r
pada sebuah bantalan yang mengalami beban radial F
r
dan beban aksial F
a
dapat dihitung dengan rumus :
P
r
= x.v.F
r
+ y.Fa
Dimana :
X = koefisien beban radial
Y = koefisien beban aksial
V = faktor pembebaban, harganya 1
Maka :
e
F v
F
r
a
> · 26 , 12
786 , 11 ). 1 (
50 , 144
.
Sehingga diperoleh harga x = 0,4 dan y = 2,0
Maka diperoleh :
P
r
= 0,4 (11,786) + 2,0 (144,50)
= 293, 7144 N
Agar bantalan aman pada saat pngopreasian maka harga beban dinamis spesifik
(C) yang terjadi harus lebih kecil dari beban dinamis spesifik teoritis (yang
diijinkan)
Faktor kecepatan (F
n
) adalah :
F
n
=
3
10
3 , 33
]
]
]

n
Dimana : n = putaran poros = 2970 rpm
Sehingga
92
F
n
=
3
10
2970
3 , 33
]
]
]

= 0,259
Faktor umum bantala :
L
h
= 500 fh
10/3
Dimana :
L
h
= lama pemakaian
(umur bantalan pada operasi/pemakaian terus menerus (24 jam) = 20000 – 30000
jam)
f
h
= 415 , 3
500
30000
3
10
·
]
]
]

Beban dinamis spesifik yang terjadi :
C’ =
40 , 394
259 , 0
7144 , 293 415 , 3 Pr . .
· ·
x
Fn
h f
Diperoleh C’ < C maka bantalan aman untuk dioperasikan.
5.4. Perhitungan Defleksi Poros
Dalam menentukan defleksi pada poros, poros dianggap sebagai beban
terbagi rata begitu dengan impeller, karena berat impeller yang bekerja sepanjang
poros sehingga impeller dapat dianggap beban terbagi rata.
93
Gambar 5.5. Beban Poros dan Impellee sebagai beban terbagi rata
q
1
=
mm N
Lp
Wp Wp
/ 071 , 0
50
805 , 2 7642 , 0
1
2 1
·
+
·
+
q
2
=
mm N
Lp
Wp
/ 0233 , 0
120
805 , 2
2
2
· ·
q
3
=
mm N
Lp
Wp
/ 0373 , 0
125
664 , 4
3
3
· ·
q
4
=
mm N
Lp
Wp
/ 0238 , 0
25
597 , 0
4
4
· ·
q
5
=
mm N
Lp
Wp
/ 01528 , 0
75
146 , 1
5
5
· ·
Momen Inersia :
I
1
= mm
d
36 , 3215
64
16
64
4 4
1
· ·
π π
I
2
= mm
d
7850
64
20
64
4 4
2
· ·
π π
I
3
= mm
d
03 , 19165
64
25
64
4 4
3
· ·
π π
I
4
= mm
d
03 , 19165
64
25
64
4 4
4
· ·
π π
94
I
5
= mm
d
36 , 3215
64
25
64
4 4
5
· ·
π π
Harga Modulus Elastisitas untuk baja menurut Stephen Thimosenko adalah :
E = 210 Gpa = 210000 N/mm
2
Pada penerapan ini perhitungan defleksi menggunakan fungsi Mocaulay, menurut
rumus dengan ketentuan sebagai berikut :
- Untuk beban terdistribusi rat, fungsi macaulay adalah :
q (x) = q
0
(x-a
1
)
0
– q
0
(x – a
2
)
0

Dimana :
q
0
= beban terdistribusi rata yang bekerja pada pada daerah a
1
sampai a
2

a
1
,a
2
= Batas beban kerja
X = titik yang diamati
- Untuk beban terpusat :
q (x) = P (x-a)
-1

Dimana P = beban terpusat
Dengan metode Mac Caulay,defleksi pada poros dapat dicari dengan
persamaan berikut dengan syarat jika persamaan dalam kurung lebih kecil atau
sama dengan nol maka dianggap nol, yaitu :
EI Y =
4 1
) 0 )
24
− x
q
-
4 1
) 50 )
24
− x
q
+ + − − − − −
3 4
2
4
2
) 170 (
6
) 170 )
24
) 50 )
24
x
R
x
q
x
q
A
+ − − + − − − − −
4 4 4 3 4 3 4 3
) 320 ( ) 295 (
24
) 295 (
6
) 295 (
24
) 170 )
24
x x
q
x
R
x
q
x
q
B
95
2 1
4 5 4 5
) ( ) 395 (
24
) 320 )
24
C x C x
q
x
q
+ + − − −
Untuk mencari harga konstant C
1
dan C
2
, maka ditentukan kondisi dimana pada
saat defleksi sama dengan nol, yaitu :
 y (x=340) = 0
 y (x = 590) = 0
1. Untuk x = 340
0 =
1
1 4
1
1
24
) 170 (
24 EI
q
EI
q

(120)
4
+ (120)
4
+ C
1
(170) + C
2

= 0,003954 – 0,000981 + 0,0000686 + 170 C
1
+ C
2

= 0,0030409 + 170 C
1
+ C
2
.................................................1)
2. Untuk x = 590 ;
0 =
3
3 3
2
4
2
2
2
2
2
2 1 4
1
1
24
) 125 (
6
) 125 (
24 24 24 24
) 295 (
24 EI
q
EI
R
EI
q
EI
q
EI
q
EI
q
EI
q
A
+ − −

− + −
+ 590 C
1
+ C
2

= 0,001788 + 295 C
1
+ C
2
.................................................2)
Dengan menggabungkan persamaan (1) dan (2), maka didapat :
0,0030409 + 170 C
1
+ C
2
= 0,01788 + 295 C
1
+ C
2

C
1
= -0,0001187
Dengan mensubtitusikan harga C
1
ke persamaan (2), maka diperoleh harga C
2

0,001788 + 295 (-0001187) + C
2
= 0
96
C
2
= 0,017138
Maka diperoleh persamaan defleksi pada poros :
y =
4
2
2 4
2
2
1
1 4
1
1
) 170 (
24
) 50 (
24
) 50 (
24
) 0 (
24
− − − + − − − x
EI
q
x
EI
q
x
EI
q
x
EI
q
-
-
3
4
4
3
3 4
3
3 3
2
) 295 (
6
) 295 (
24
) 170 (
24
) 170 (
6
− − − − − + − x
EI
R
x
EI
q
X
EI
q
x
EI
R
B A
+ 4
5
5 4 5 4
4
4 4
4
4
) 395 (
24
) 320 (
24
) 320 (
24
) 295 (
24
− − + − − − x
EI
q
x
EI
q
x
EI
q
x
EI
q
+ (-0,0001187) (x) + 0,017138
Dari persamaan di atas diperoleh besar persamaan defleksi pada masing-masing
titik pengamatan dari x = 0 sampai x = 395 yaitu :
1) y (x) = ,017138 mm
untuk selanjutnya besar defleksi pada poros untuk tiap titik pengamatan dapat
ditunjukkan pada tabel 5.3.
Tabel 5.3. Besar Defleksi pada Poros pada Tiap Titik Pengamatan
X Y (mm)
50
110
232,5
307,5
357,5
0,0141723
0,0047557
-0,00177237
0,0008
0,005475
Dari data diatas, dapat ditentukan putaran kritis dengan persamaan :
97
N = 187,5


2
n n
n n
y W
y W
.............................................(Lit.1, hal 288)
Dimana :
N = frekuensi pribadi osilasi (rpm)
W
n
= Pembebanan pada tiap bagian poros
Y
n
= Defleksi yang timbul pada tengha batang poros akibat pembebanan
Pada tiap poros
Pembebanan pada poros dapat diketahui sebagai berikut :
W
1
= q
1
(50) = 3,55 N
W
2
= q
2
(12) = 2,79 N
W
3
= q
3
(125) = 4,66 N
W
4
= q
4
(25) = 0,59 N
W
5
= q
5
(75) = 1,146 N
Maka :
N = 187, 5


2
n n
n n
y W
y W
= 187,5
00065 , 0
0481448 , 0
= 5103, 9 rpm
Putaran yang aman untuk pompa berada (20 : 30)% dibawah atau diatas putaran
kritis. Dala perncanaan ini diambil putaran kritis pada batas 30% sehingga daerah
putaran kritis adalah :
98
N
c
= (0,7 : 1,3) N
N
c
= 0,7 (2970) = 2079 rpm
N
c
= 1,3 (2970) = 3861 rpm
Karena putran kritis adalah 5103,9 rpm sedangkan putaran operasi yang
direncanakan adalah 2970 rpm, yang ternyata jauh dibawah putara kritis, maka
poros dinyatakan aman.
99
BAB VI
KESIMPULAN
1. Pompa yang digunakan untuk mendistribusikan fluida kerja (CPO) dari
pengering vakum (Vacum Drier) menuju tangki timbun adalah pompa
sentrifugal satu tingkat
2. Data spesifikasi pompa dari hasil survey :
Head pompa : 23 m
Kapasitas pompa : 9,46 m
3
/jam
Putaran pompa : 2970 Rpm
Daya Pompa : 0,934 Kw
Putaran Spesifik : 750,04 Rpm
Tipe impeller : Radial
Daya motor : 1,1208 Kw
Putaran /frekwensi : 2970 Rpm/50 Hz
Putaran kritis : 5103,9 Rpm
Berdasarkan hasil-hasil perhitungan yang telah di dapat, maka spesifikasi
pompa adalah sebagai berikut :
- Kapasitas pompa (Qp) = 9,504 m
3
/jam
- Head pompa (Hp) = 22,898 m
- Putaran pompa (np) = 2970 rpm
- Jenis pompa = sentrifugal satu tingkat
- Putaran spesifik (ns) = 750,04 rpm
100
101
- Efisiensi pompa ( p) ƞ = 56%
- Tipe impeler = radial
- Daya pompa (Np) = 0,87 kW
- Penggerak pompa = Motor listrik
- Daya motor (Nm) = 1,044 kW
- Putaran/frekwensi motor = 2970/50 Hz
3. Komponen utama pompa
3.1. Diameter pipa masuk : 2,067 in
Diameter pipa keluar : 2,067 in
3.2. Poros : Baja Carbon S 45 c
Diameter : 16 mm
Impeller
Bahan : Bronze
Diameter Hub (D
h
) : 22 mm
Diameter mata impeller (D
o
) : 48 mm
Diameter sisi masuk (D
1
) : 36,3 mm
Diameter sisi keluar (D
2
) : 130 mm
Lebar sisi masuk (b
1
) : 13 mm
Lebas sisi keluar (b
2
) : 3,71 mm
Jumlah sudu (Z) : 4 buah
Tebal sudu sisi masuk (s
1
) : 28,4955 mm
Tebal sudu sisi keluar (s
2
) : 102,05 mm
Rumah Pompa
101
102
Bahan : Besi Cor FC 25
Tebal : 2,19 mm
Pasak
Bahan : Baja Karbon C
Normalisasi : JIS G 3121 SF CM 60 S
Bantalan
Jenis bantalan : Bantalan Rol Kerucut No. 30304
102
103
DAFTAR PUSTAKA
1. Streeter, Victor, E. Benjamin W, “Mekanika Fluida”, Erlangga, Jakarta,
1996.
2. Sularso, Haruo Tahara. “Pompa dan Kompressor” PT. Pradnya
Paramitha, Jakarta. 2004.
3. Igor. J. Karassik, William C. Krutzch, Warren H. Fraser “Pump Hand
Book”, Mc Graw Hill, 1986.
4. Sularso dan Kyokatsu Suga, “Dasar Perencanaan dan Pemelihan
Elemen Mesin,” Pradnya Paramita, Jakarta, 1990.
5. Dietzel, Fritz, “Turbin, Pompa dan Kompressor, Erlangga, Jakarta,
1993.
6. Timoshenko.S, “Dasar-dasar Perhitungan Kekuatan Material”,
Penerbit Restu Agung, Jakarta.
103
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR NOTASI
Hal
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................1
1.1...................................................................................................Tinja
uan Umum .....................................................................................1
1.2...................................................................................................Prose
s Pengolahan Minyak Kelapa Sawit .............................................3
1.3...................................................................................................Kebu
tuhan Pompa pada Pabrik Kelapa Sawit .......................................7
1.4...................................................................................................Tinja
uan Perancangan ...........................................................................9
1.5...................................................................................................Pemb
atasan Masalah ..............................................................................9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .....................................................................10
2.1. Mesin – mesin Fluida ....................................................................10
104
2.2. Pengertian Pompa .........................................................................10
2.3. Klasifikasi Pompa .........................................................................11
2.3.1. Pompa Tekanan Statis (Positive Displcement Pump).........11
2.3.2. Pompa Tekanan Dinamis (Rotodynamic Pump) ................13
2.4. Unit Penggerakan Pompa ..............................................................22
2.5. Dasar Pemilihan ............................................................................22
2.6. Penentuan Head Pompa ................................................................24
2.7. Putaran Spesifik Pompa ................................................................26
2.8. Daya Pompa ..................................................................................27
BAB III PENENTUAN SPESIFIKASI ...........................................................29
3.1. Kapasitas Produksi Pabrik ..........................................................29
3.2. Penentuan Kapasitas Pompa .......................................................30
3.3. Penentuan Head Pompa ..............................................................31
3.3.1. Perbedaan Head Tekan .....................................................34
3.3.2. Perbedaan Head Kecepatan ..............................................34
3.3.3. Perbedaan Head Potensial ................................................34
3.3.4. Kerugian Head .................................................................37
3.3.4.1. Kerugian Head pada Pipa Hisap ........................37
3.3.4.2. Kerugian Head pada Pipa Tekan ........................40
3.4. Perhitungan Motor Penggerak ....................................................43
3.5. Putaran Spesifik dan Jenis Impeller ............................................44
3.6. Effisiensi Pompa .........................................................................46
3.8. Daya Motor Penggerak ...............................................................47
105
3.9. Spesifikasi Pompa .......................................................................48
BAB IV UKURAN-UKURAN UTAMA POMPA & PERHITUNGAN
IMPELLAR & KARAKTERISTIK POMPA ..................................49
4.1. Perhitungan Ukuran Utama Pompa ............................................49
4.1.1. Perencanaan Poros ..........................................................49
4.1.2. Perencanaan Pasaka ........................................................52
4.1.3. Pemeriksaan Terhadap Tegagan Geser ...........................53
4.1.4. Pemeriksaan Terhadap Tegangan Tumbuk .....................55
4.2. Perencanaan Impeller .................................................................56
4.2.1. Diameter Hub Impeler ....................................................57
4.2.2. Diameter Mata Impeler ...................................................58
4.2.3. Diameter Sisi Masuk Impeller ........................................59
4.2.4. Diameter Sisi Keluar Impeller ........................................59
4.2.5. Lebar Impeller pada Sisi Masuk .....................................60
4.2.6. Lebar Impeller pada Sisi Keluar .....................................61
4.3. Kecepatan dan Sudut Pada Sisi Masuk ......................................62
4.3.1. Kecepatan Absolut Aliran Masuk ...................................62
4.3.2. Kecepatan Tangensial .....................................................63
4.3.3. Sudut Tangensial .............................................................63
4.4. Kecepatan dan Sudut Aliran keluar Impeller .............................64
4.4.1. Kecepatan Radial Aliran keluar Impeller ........................64
4.4.2. Kecepatan Tangensial Aliran Keluar Impeller ................64
4.4.3. Sudut Tangensial Aliran Keluar Impeller .......................64
106
4.4.4. Kecepatan Absolut Tangensial ........................................66
4.4.5. Sudut Aliran Keluar Impeller ..........................................66
4.4.6. Kecepatan Aliran Keluar Impeller ..................................66
4.4.7. Kecepatan Relatif Keluar Impeller .................................66
4.5. Kecepatan dan Sudut Keluar Akibat Adanya Sirkulasi .............67
4.5.1. Kecepatan Radial Akibat Sirkulasi .................................67
4.5.2. Kecepatan Tangensial .....................................................67
4.5.3. Kecepatan Absolut ..........................................................67
4.5.4. Sudut Absolut ..................................................................68
4.5.5. Sudut Tangensial .............................................................68
4.5.6. Kecepata Relatif Keluar ..................................................68
4.6. Perencanaan Sudu Impeller ........................................................69
4.6.1. Jumlah Sudu ....................................................................69
4.6.2. Jarak Tiap Sudu ...............................................................70
4.6.3. Tebal Sudu ......................................................................71
4.6.4. Melukis Bentuk Sudu ......................................................71
4.6.5. Panjang Sudu ...................................................................74
4.7. Rumah Pompa ............................................................................75
4.7.1. Type Rumah Pompa ........................................................75
4.7.2. Perencanaan Bentuk Rumah Pompa ...............................76
4.7.3. Tebal Rumah Pompa .......................................................80
4.8. Karakteristik Pompa ...................................................................81
BAB V ANALISA GAYA-GAYA DAN PUTARAN KRITIS ......................83
107
5.1. Gaya Radial ..................................................................................83
5.1.1. Gaya Radial Akibat Berat Poros .......................................83
5.1.2. Berat Impeller ....................................................................85
5.1.3. Berat Sudu .........................................................................86
5.2. Gaya Aksial ..................................................................................87
5.2.1. Gaya Aksial Akibat Perbedaan Tekanan ...........................88
5.2.2. Gaya Aksial Akibat Momentum Fluida ............................89
5.2.3. Perhitungan Gaya Radial ...................................................90
5.3. Pemilihan Bantalan ......................................................................92
5.3.1. Pemeriksaan Kekuatan Bantalan .......................................93
5.4. Perhitungan Defleksi Pada Poros .................................................94
BAB VI KESIMPULAN..................................................................................101
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................103
LAMPIRAN
108

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful