You are on page 1of 35

MAKALAH

KEPERAWATAN ANAK II
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN
DENGAN PENYAKIT APENDIKSITIS
Untuk Memenuhi Tugas Keperawatan Anak II
Yang Dibimbing oleh Ns. Witri Handi, S. Kep

Disusun Oleh :
KELOMPOK III

1. LOREN JUKSEN
2. NOPI HARTATI
3. RIKA SUKRIZAL

0526010083
05260100
05260100

JURUSAN KEPERAWATAN A.VII.GANJIL


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
TRI MANDIRI SAKTI
BENGKULU
2008

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat
dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas mata
kuliah Keperawatan Anak II dengan judul Apendiksitis.
Mengingat akan keterbatasan waktu, pengetahuan, tenaga dan fasilitas yang
ada dalam pembuatan makalah ini, maka kami menyadari sepenuhnya bahwa
makalah ini belum begitu sempurna baik dari segi keterbatasannya.
Dengan selesainya makalah ini kami mengucapkan rasa terima kasih kepada :
1. Ibu Ns. Witri Handi, S. Kep sebagai dosen pembimbing mata kuliah Keperawatan
Anak II.
2. Bapak/ibu dosen STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu.
3. Teman-teman seperjuangan yang telah membantu dalam penulisan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih sangat sederhana dan jauh dari
sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami
harapkan untuk perbaikan makalah selanjutnya.
Akhirnya kami ucapkan terima kasih dan semoga saja makalah ini bermanfaat
bagi kita semua.
Bengkulu, Oktober 2008

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.............................................................................................

KATA PENGANTAR............................................................................................

ii

DAFTAR ISI.........................................................................................................

iii

BAB I

PENDAHULUAN..............................................................................

BAB II

TINJAUAN TEORITIS.....................................................................

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS...........................................

12

BAB IV

TINJAUAN KASUS..........................................................................

18

BAB V

PENUTUP..........................................................................................

31

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Apendiksitis adalah penyakit paling umum yang memerlukan intervensi
bedah selama masa kanak-kanak disebabkan oleh obstruksi lumen apendiks dan
menimbulkan edema, inflamasi, bendungan vena dan meniaknya tekanan intra
lumen hal ini dapat menyebabkan infeksi bakteri, nekrosis, dan perforasi yang
menyababkan peritonitis.
Diagnosis resiko untuk perforasi terbanyak pada usia 1-4 tahun 70-75% dan
terendah pada remaja (40-30%) yang insiden tertingginya menurut umur adalah
pada masa anak., kesulitan dalam membedakan apendiksitis dari penyebab nyeri
perut lazim lain dan meningkatnya morbiditas dan mortalitas yang menyertai
perforasi pada apendiksitis merupakan perhatian klinik dokter ahli anak.
Epidimiologi sekitar 8000 anak pernah menderita apendiksitis di amerika
setiap tahun, angkanya 4/1000 anak dibawah usia 14 tahun. Apendiksitis jarang
terjadi pada anak usia dibawah 1 tahun.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mempelajari asuhan keperawatan pada anakdengan apendiksitis.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mampu melakukan pangkajian pada anak dengan anak dengan
apendiksitis.
2. Mampu melakukan intervensi pada anak dengan apendiksitis.
3. Mampu melakukan mengevaluasi pada anak dengan apendiks.

BAB II
LANDASAN TEORITIS
2.1 Definisi
Apendiksitis adalah suatu keadaan yang sering terjadi yang membutuhkan
operasi kegawatan perut pada anak (Cecilly L.Betz,2002). Apndiksitis adalah
peradangan apendik yang mengenai semua lapisan dinding organ tersebut (Sylvia
Anderson,2005). Apendiksitis adalah penyakit paling umum yang memerlukan
intervensi bedah, selama masa kanak-kanak. (Cecilly L.Betz,2002).
Apendiksitis merupakan peradangan pada apendiks (kantung buntu pada
seasum yang dapat menjadi keadaan darurat, khususnya dalam pembedahan pada
anak. (al aziz alimul hidayat, 2006). Apendiksitis adalah peradangan dari
apendiks vermiformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling
sering ditemui (Mansjoer, Arif, 2000). Kemudian menurut Stanley, Robbin
(1995) apendiksitis adalah merupakan salah satu penyakit saluran pencernaan
yang paling umum ditemukan dan yang paling sering memberikan keluhan
abdomen yang akut (acut abdomen).
Lebih lanjut menurut Hinchliff, Sue (1999) apendiksitis adalah inflamasi
apendiks vermiformis. Apendiksitis penyebab paling umum inflamasi akut pada
kuadran bawah kanan dari rongga abdomen, adalah penyebab paling umum
untuk bedah abdomen darurat (Brunner dan Suddarths, 2001).
Apendiksitis merupakan suatu peradangan apendiks yang mengenai
semua lapisan dinding organ tersebut. Apendiksitis merupakan penyakit bedah
mayor yang paling sering terjadi (Sylvia, A. Price, 1994). Apendiksitis akut
adalah apendiksitis dengan mula gejala akut yang memerlukan intervensi bedah
dan biasanya ditandai dengan nyeri di kuadran abdomen kanan bawah dan
dengan nyeri tekan lokal dan alih tidak hanya terjadi pada titik Mc. Burney
tetapi bisa juga terjadi pada daerah umbilikus, spasme otot yang ada di atasnya

dan hiperestesia kulit. Apendictomy adalah pengangkatan secara bedah


apendiks vermiformis (Dorland, 1998).
2.2 Etiologi
Ada beberapa faktor yang mempermudah terjadinya radang apendiks,
diantaranya:
2.2.1

Faktor sumbatan
Faktor obstruksi merupakan faktor terpenting terjadinya apendiksitis
(90%) yang diikuti oleh infeksi. Sekitar 60% obstruksi disebabkan oleh
hyperplasia jaringan lymphoid sub mukosa, 35% karena stasis fekal, 4%
karena benda asing dan sebab lainnya, 1% diantaranya sumbatan oleh
parasit dan cacing. Obstruksi yang disebabkan oleh fekalith dapat ditemui
pada bermacam-macam apendiksitis akut, diantaranya : fekalith ditemukan
40% pada kasus apendiksitis kasus sederhana, 65% pada kasus apendiksitis
akut gangrenosa tanpa ruptur dan 90% pada kasus apendiksitis akut dengan
ruptur.

2.2.2

Kecenderungan familiar
Hal ini dihubungkan dengan terdapatnya malformasi yang herediter
dari organ, apendiks yang terlalu panjang, vaskularisasi yang tidak baik dan
letaknya yang mudah terjadi apendiksitis. Hal ini juga dihubungkan dengan
kebiasaan makanan dalam keluarga terutama dengan diet rendah serat dapat
memudahkan terjadinya fekolith dan mengakibatkan obstruksi lumen.

2.2.3

Faktor ras dan diet


Faktor ras hubungan dengan kebiasaan dan pola makanan seharihari. Bangsa kulit putih yang dulunya pola makan rendah serat mempunyai
risiko lebih tinggi dari negara yang pola makannya banyak serat. Namun
saat sekarang, kejadiannya terbalik. Bangsa kulit putih telah merubah pola
makan mereka ke pola makan tinggi serat. Justru negara berkembang yang
dulunya memiliki tinggi serat kini beralih ke pola makan rendah serat,
3

memiliki risiko apendiksitis yang lebih tinggi (http://ijul.fkua.blogs.


friendster.com).
Pada penelitian ligasi (obstruksi) apendik menyebabkan peningkatan
mencolok tekanan intra lumen yang dengan cepat melebihi tekanan darah
sistolik pada awalnya, kongesti darah vena menjlek, menjadi trombosis,
nekrosis dan perforasi secara klinis obstruksi lumen menjadi penyebab
utama apendiksitis. Obstruksi ini disebabkan oleh pengerasan bahan tinja
(fekalit). Bahan yang mengeras ini bisanya mengapur, terlihat dalam foto
rontgen sampai apendik kolik (15-20%). Obstruksi akibat dari edema
mukosa dapat disertai dengan infeksi virus atau bakteri (yersinia,
salmonella, shigella) sistemik. Mukus yang tidak normal terkesan sebagai
penyebab meningkatnya ensiden ependik. Pada anak dengan kistis, fibrosis,
tumor karsinoid, benda asing, ascaris jarang menjadi penyebab apendiksitis.
2.3 Patofisiologi
Apendiksitis biasanya disebabkan oleh penyumbangan lumen apendiks
oleh hyperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fikosis
akibat peradangan sebelumnya atau neoplasma.
Obstruktsi tersebut menyebabkan mukus diproduksi mukosa mengalami
bendungan. Makin lama mucus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding
apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan
intralumen, tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang
mengakibatkan edema. Diaforesis bakteri dan ulserasi mukosa pada saat inilah
terjadi apendiksitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium.
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat hal
tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah dan bakteri akan
menembus dinding apendiks. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai
peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di abdomen kanan bawah,
keadaan ini disebut dengan apendiksitis sukuratif akut.
4

Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks
yang diikuti dengan gangrene stadium ini disebut dengan apendiksitis
gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh ini pecah akan terjadi apendiksitis
perforasi.
Bila semua proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus yang
berdekatan akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang
disebut infiltrate apendukularis, peradangan apendiks tersebut dapat menjadi
abses atau menghilang.
Pada anak-anak karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih
panjang, dinding apendik lebih tipis, keadaan tersebut ditambah dengan daya
tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi, sedangkan
pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh
darah (Arif Mansjoer, 2000).
2.4 Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis apendiksitis memiliki gejala kombinasi yang khas,
yang terdiri dari :
2.4.1

Tanda awal : nyeri mulai di epigastrium/region umbilikus disertai mual


dan anoreksia.

2.4.2

Nyeri pindah ke kanan bawah (yang akan menetap dan diperberat bila
berjalan atau batuk) dan menunjukkan tanda rangsangan peritoneum lokal
di titik Mc. Burney : nyeri tekan, nyeri lepas, defans muskuler.

2.4.3

Nyeri rangsangan peritoneum tidak langsung :


1) Nyeri pada kuadran kanan bawah saat kuadran kiri bawah ditekan
(Rovsing Sign).
2) Nyeri kanan bawah bila tekanan disebelah kiri dilepas (Blumberg).
3) Nyeri kanan bawah bila peritoneum bergerak seperti napas dalam,
berjalan, batuk, mengedan.

2.4.4 Demam yang tidak terlalu tinggi


5

2.4.5 Biasanya terdapat konstipasi, tapi kadang-kadang terjadi diare.


Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang
menetap. Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen bawah akan semakin
progresif, dan dengan pemeriksaan seksama akan dapat ditunjukkan satu titik
dengan nyeri maksimal. Perkusi ringan pada kuadran kanan bawah dapat
membantu menentukan lokasi nyeri, akan semakin meyakinkan diagnosa klinis
apendiksitis (Mansjoer, Arif, 2000).
2.5 Klasifikasi
Apendiksitis Akut
2.5.1

Apendiksitis akut sederhana


Gejalanya diawali dengan rasa kurang enak di ulu hati/daerah pusat,
mungkin disertai dengan kolik, muntah, kemudian anoreksia, malaise, dan
demam ringan.

2.5.2

Apendiksitis akut supurativa


Ditandai dengan adanya rangsangan pertinoneum lokal seperti nyeri
tekan, nyeri lepas di titik Mc. Burney, adanya defans muskuler dan nyeri
pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan defans muskuler dapat terjadi pada
seluruh perut disertai dengan tanda-tanda peritonitis umum, seperti demam
tinggi.

2.5.3

Apendiksitis akut gangrenosa


Tampak apendiks udem, hiperemis, dengan gangren pada bagian
tertentu, dinding apendiks berwarna ungu, hijau keabuan atau merah
kehitaman.

2.5.4

Apendiksitis akut perforate


Bila apendiks yang sudah gangren itu pecah, terjadilah perforasi.

2.5.5

Apendiksitis abses
Bila masa lokal yang terbentuk berisi nanah.

Apendiksitis Kronik
Gejalanya lebih samar-samar, maka lebih jarang ditemukan dan semua rasa nyeri
yang

kurang

jelas

pada

abdomen

kanan

bawah

(http://ijul.fkua.

blogs.friendster.com)
2.6 Komplikasi
2.6.1 Perforasi
Insidens perforasi 10-32%, rata-rata 20%, paling sering terjadi pada
usia muda sekali atau terlalu tua, perforasi timbul 93% pada anak-anak di
bawah 2 tahun antara 40-75% kasus usia di atas 60 tahun ke atas. Perforasi
jarang timbul dalam 12 jam pertama sejak awal sakit, tetapi insiden
meningkat tajam sesudah 24 jam.
Perforasi terjadi 70% pada kasus dengan peningkatan suhu 39,5oC
tampak toksik, nyeri tekan seluruh perut dan leukositosis meningkat akibat
perforasi dan pembentukan abses.
2.6.2 Peritonitis
Peritonitis yaitu radang peritoneum yang disebabkan oleh iritasi
kimia dan invasi bakteri (Dorland, 1998).
Peritonitis adalah trombofebitis septik pada sistem vena porta
ditandai dengan panas tinggi 39oC-40oC menggigil dan ikterus merupakan
penyakit yang relatif jarang (Mansjoer, Arif, 2000).
2.6.2 Tromboflebitis supuratif
Tromboflebitis supuratif dari sistem portal, jarang terjadi tetapi
merupakan

komplikasi yang letal.

2.6.3 Abses subfrenikus dan fokal sepsis intraabdominal lain.


2.6.4 Obstruksi intestinal juga dapat terjadi akibat perlengketan.(Mansjoer, Arif,
2000).

2.7 Pemeriksaan Penunjang


Akan terjadi leukositosis ringan (10.000-20.000/ml) dengan peningkatan
jumlah netrofil. Pemeriksaan urin juga diperlukan untuk membedakan dengan
kelainan pada ginjal dan saluran kemih.
Pada kasus akut tidak diperbolehkan melakukan barium enema, sedangkan
pada apendiksitis kronis tindakan ini dibenarkan. USG dilakukan bila telah
infiltrat apendikularis (Mansjoer, Arif, 2000).
2.8 Penatalaksanaan
Observasi
1. Dalam 8-12 jam setelah timbulnya keluhan, tanda dan gejala apendiksitis
sering kali belum jelas. Dalam keadaan ini observasi ketat perlu dilakukan.
Pasien diminta melakukan tirah baring dan dipuasakan. Laksatif tidak boleh
diberikan bila dicurigai adanya apendiksitis ataupun bentuk peritonitis
lainnya. Pemeriksaan abdomen dan rectal serta pemeriksaan darah (leukosit
dan hitung jenis) diulang secara periodik, foto abdomen dan toraks tegak
dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya penyulit lain. Pada
kebanyakan kasus diagnosis ditegakkan dengan lokalisasi nyeri di daerah
kanan bawah dalam 12 jam setelah timbulnya keluhan.
2. Intubasi bila perlu (tindakan memasukkan bumbung ke dalam suatu alat
tubuh, khususnya kedalam pangkal tenggorokan melalui celah tenggorok
(glottis) untuk mencegah mati lemas, karena penyempitan pangkal
tenggorokan)
3. Antibiotik

(diberikan

sebelum

operasi

karena

apendiksitis

tersebut

disebabkan oleh infeksi bakteri (Sulistia, G, 1995).


Operasi apendiktomy
Ada 3 cara apendiktomy yang mempunyai keuntungan dan kerugian :
1. Insisi menurut Mc. Burney (grid incision atau muscle splitting incision).

Sayatan yang dilakukan pada garis yang tegak lurus pada garis yang
menghubungkan spina iliaka anterior superior (SIAS) dengan umbilicus pada
sepertiga lateral (titik Mc. Burney) sayatan ini mengenai kutis, subkutis dan
fasia. Otot-otot dinding perut dibelah secara tumpul menurut arah serabutnya.
Setelah itu akan tampak peritoneum parietal (mengkilat dan berwarna biru
keabu-abuan) yang disayat secukupnya untuk meluksasi sekum. Sekum
dikenali dari ukurannya yang besar, mengkilat, lebih kelabu/putih,
mempunyai haustrae dan taenia koli, sedangkan ileum lebih kecil, lebih
merah dan tidak mempunyai haustrae atau taenia koli, basis apendiks dicari
pada pertemuan ketiga taenia koli.
Teknik inilah yang paling sering dikerjakan karena keuntungannya tidak
terjadi benjolan dan tidak mungkin terjadi herniasi, trauma operasi minimum
pada alat-alat tubuh dan masa istirahat pasca bedah yang lebih pendek karena
penyembuhan lebih cepat. Kerugiannya adalah lapangan operasi terbatas,
sulit diperluas dan waktu operasi lebih lama lapangan operasi dapat diperluas
dengan memotong otot secara tajam.
2. Insisi menurut Roux (muscle cutting incision)
Lokasi dan arah sayatan sama dengan Mc. Burney, hanya sayatannya
langsung menembus otot dinding perut tanpa memperdulikan arah tersebut
sampai tampak peritoneum. Keuntungannya adalah lapangan operasi lebih
luas, mudah diperluas, sederhana dan mudah. Sedangkan kerugiannya adalah
diagnosis yang harus tepat sehingga lokasi dapat dipastikan, lebih banyak
memotong saraf dan pembuluh darah sehingga perdarahan menjadi lebih
banyak. Masa istirahat pasca bedah lebih lama karena adanya benjolan yang
mengganggu pasien, nyeri pasca operasi lebih sering terjadi kadang-kadang
dengan hematoma yang terinfeksi dan masa penyembuhan lebih lama.
3. Insisi pararektal
Dilakukan sayatan pada garis batas lateral musculus rektus abdominalis
dekstra secara vertikal dari cranial ke kaudal sepanjang 10 cm.
9

Keuntungannya teknik ini dapat dipakai kasus-kasus apendiks yang belum


pasti dan kalau perlu sayatan dapat apendiks yang belum pasti dan kalau
perlu sayatan dapat diperpanjang dengan mudah, sedangkan kerugiannya
sayatan ini tidak secara langsung mengarah ke apendiks atau sekum,
kemungkinan memotong saraf dan pembuluh darah lebih besar dan untuk
menutup luka operasi diperlukan jahitan penunjang.
Setelah peritoneum dibuka dengan retractor, maka basis apendiks dapat dicari
pada pertemuan tiga taenia koli, untuk membebaskannya dari masa apendiks
ada dua cara yang dapat dipakai sesuai dengan situasi dan kondisi yaitu :
a) Apendiktomy secara biasa bila kita mulai dari apeks ke basis apendiks
untuk memotong mesoapendiks ini dilakukan pada apendiks yang
tergantung bebas pada sekum atau bila puncak apendiks mudah
ditemukan.
b) Apendiktomy secara retrograd : bila kita memotong masoapendiks dari
basis ke arah puncak, ini dilakukan pada apendiks yang letaknya sulit :
misalnya retrosekal atau puncaknya sukar dicapai karena tersembunyi,
misalnya karena telah terjadi perlengketan dengan sekitarnya.
Pasca Operasi
1.

Tanda-tanda vital
Perlu dilakukan observasi tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan
dan suhu) setiap 15 menit, dalam dua jam kemudian setiap 60 menit sampai
keadaan umum membaik untuk mengetahui terjadinya perdarahan di dalam,
syok, hipertermia atau gangguan pernapasan.

2. Mobilisasi
Pada hari pertama, klien dianjurkan untuk bed rest (istirahat) total selama 1224 jam setelah operasi. Hari kedua, melakukan miring ke kanan dan kiri. Hari
ketiga, klien dapat duduk 5 menit dan meminta untuk bernafas dalam-dalam
lalu menghembuskannya disertai batuk-batuk kecil yang digunakan untuk
melonggarkan pernafasan dan menumbuhkan kepercayaan bahwa ia mulai
10

pulih. Kemudian posisi tidur terlentang dirubah menjadi posisi setengah


duduk.
Selanjutnya secara berturut-turut, hari demi hari dianjurkan belajar duduk
selama sehari-hari, belajar berjalan kemudian berjalan sendiri pada hari
ketiga sampai hari ke lima setelah operasi. Mobilisasi secara teratur dan
bertahap serta diikuti dengan istirahat dapat membantu penyembuhan.
3. Cairan dan nutrisi
Hari pertama, observasi klien selama 12 jam, jika peristaltic usus belum ada,
pasien dipuasakan. Jika terdengar peristaltic usus ditandai dengan platus, lalu
diberikan minum 15 cc setiap jam selama 3-4 jam lalu naikkan menjadi 30
ml/jam.
Hari kedua, apabila tidak terjadi kembung, mulai diberikan makanan saring.
Hari ketiga, dapat diberikan makanan lunak. Pada hari ketiga dan keempat
post operasi diharapkan pasien sudah dapat turun dari tempat tidur dan dapat
memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri.
Hari kelima post operasi jahitan luka dibuka setengah dan hari ketujuh jahitan
luka operasi dapat diangkat seluruhnya. Apabila pasien mengalami
peningkatan suhu tubuh diberikan antibiotic dan kompres dingin untuk
menurunkan suhu tubuh pasien (Arief Mansjoer, 2000).

11

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
Berikut ini tinjauan teoritis tentang pelaksanaan pada pasien deng apendiksitis.
3.1 Pengkajian
Meliputi :
a. Identitas pasien yaitu : nama umur, jenis kelamin, agama, pendidikan,
pekerjaan, alamat dan indentitas penanggung jawab.
b. Riwayat kesehatan sekarang, pasien mengeluh mengalami nyeri abdomen
superior dekstra ke umbilikus, muntah, panas, nyari.
c. Riwayat kesehatan dahulu, apakah pasien menderita apendiksitis dan apakah
pasien pernah dirawat di rumah sakit.
d. Riwayat kesehatan keluarga, mungkin diantara kelaurga pasien ada yang
menderita penyakit apendiksitis.
a. Tanda-Tanda Vital
1. Tekanan darah anak 115/60
2. Nadi 50-90X
3. Pernafasan 18x/menit.
4. Suhu 38,5
b. Pemeriksaan Fisik

Kesadaran : Gelisah

Sistem integumen : berkeringat tidak ada edema.

Pemeriksaan abdomen

Inspeksi
Bentuk abdomen : simetris
Benjolan / massa : tidak ada

Palpasi
Tanda nyeri tekan : nyeri tekan pada titik mc burney.

12

Tanda asites : tidak ada


Hepar : tidak ada hpatomegalia.
-

Perkusi

Auskultasi
Peristaltik usus berkurang.

DATA DASAR PENGKAJIAN PASIEN


Aktivitas/istirahat :
Gejala : malaise
Sirkulasi
Tanda : Takikardia
Eliminasi
Gejala : konnstipasi pada awitan awal.
(Diare kadang-kadang)
Tanda :distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan
Penurunan atau tak ada bising usus.
Makanan/ cairan
Gejala : anoreksia, mual muntah
Nyeri/ kenyamanan
Gejala : nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilikus, yang meningkat berat dan
terlokalisasi pada. MC burney (setengah jarak antara umbilikus dan tulang ileum
kanan), meningkat, karena berjalan, bersin, batuk, atau nafas dalam ( nyeri berhenti
tiba-tiba diduga perforasi atau infark pada ependik
Keluhan berbagai rasa nyeri atau gejala tak jelas (sehubungan denga lokasi apendik,
contoh retrosekal atau sebelah ureter).
Tanda perilaku berhati-hati ;berbaring kesamping atau terlentang dengan lutut
ditekuk; menigkatnya nyeri pada kaudran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki/
posisi duduk tegak.
Nyeri lepas pada sisi kiri diduga inflamasi peritoneal.
13

Keamanan
Tanda : demam (biasanya rendah)
Pernafasan
Tanda : takipnea (pernafasan dangkal)
Penyuluhan dan pembelajaran
Gejala :Riwayat kondisi lain yang berhubungan dengan nyeri abdomen contoh pielitis
akut, batu uretra salpingitis akut.
Pertimbangan : DRG menunjukan rerata lama dirawat 4,2 hari.
Rencana pemulangan membutuhkan bantuan
Sedikit dalam transportasi, tugas pemeliharaan rumah.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
SDP : leukositosis diatas 12ribu mm3, neutrofil meningkat sampai 75%.
Urinalsis : normal, tetapi eritrosit/leukosit mungkin ada.
Foto abdomen: dapat menyatakan adanya pengerasan material pada apendik (fekalit,
ileus terlokalisir).
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasanya nyaman nyeri berhubungan dengan proses inflamasi.
Tujuan

: Setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam pasien pasien

tidak mengalami nyeri atau nyeri menurun sampai tingkat yang dapat diterima
anak.
Kriteria hasil

:Anak dapat istirahat dengan tenang dan tidak menunjukan tanda-

tanda ketidak nyamanan.


Intervensi

1. Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik, beratnya ( Sekala 0-10).


Rasional/
Berguna dalam pengawasan keefektifan obat, kemajuan penyembuhan.

14

Perubahan pada karakteristik nyeri menunjukan terjadinya abses atau/


peritonitis, memerlukan upaya evalusi medik dan intervensi.
2. Pertahankan istirahat dengan posisi semi fowler.
Gravitasi melokalisasi eksudat inflamasi dalam abdomen bawah/pelvis,
menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi terlentang.
3. Dorong ambulasi dini.
Meningkatkan normalisasi fungsi organ, contoh merangsang peristaltik dan
kelancaran flatus, menurunkan ketidaknyamanan abdomen.
4. Berikan aktivitas hiburan.
Fokus perhatian kemabali, meningkatkan relaksasi, dan dapat meningkatkan
kemampuan koping.
Kolaborasi
5. Pertahankan puasa atau penghisapan NG pada awal
menurunkan ketidaknyamanan pada peristaltik usus dini dan irigasi
gaster/muntah.
6.

Berikan analgesik sesuai indikasi.


Menghilangkan nyeri, mempermudah kerjasama dengan intervensi terapi lain
contoh ambulasi, batuk.

7. Berikan kantong es pada abdomen


Menghilangkan dan mengurangi nyeri melalui penghilangan rasa ujung
syaraf.catatan jangan lakukan kompres panas karena dapat menyebabkan
kongesti jaringan.
2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual muntah.
Tujuan : Pasien mendapatkan untuk hidrasi yang adekuat.
Kriteria hasil : Anak mendapatkan cairan yang cukup.Anak menunjukan tandatanda hidrasi adekuat.
1. Awasi tekanan darah.
Tanda yang membantu mengidentifikasi fluktuasi intravaskuler.
15

2. Lihat memran mukosa, kaji turgor kulit dan pengisian kapiler


Indikator keadekuatan sirkulasi ferifer dan hidrasi seluler
3. Awasi masukan haluaran, catat warna urine/ kontraksi, berat jenis.
Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan berat jenis diduga
dehidrasi/ kebutuhan peningkatan cairan.
4. Auskultasi bising usus. Catat kelancaran flatus, gerakan usus.
Indikator kembalinya peristaltik, kesiapan untuk pemasukan peroral.
5. Berikan sejumlah kecil minuman jernis bila pemasukan peroral dimulai, dan
dilanjutkan dengna diet sesuai toleransi.
Menurunkan iritasi gaster/muntah untuk meminimalkan kehilangan cairan.
6. Berikan perawatan mulut sering dengan perhatian khusus pada perlindungan
bibir.
Dehidrasi mengakibatkan bibir dan mulut kering dan pecah-pecah.
Kolaborasi
7. Pertahankan penghisapan gaster/ usus.
Selang biasanya dimasukan pada praoperasi dan dipertahankan pada fase
segera pascaoperasi untuk dekompresi usus.meningkatkan istirahat usu,
mencegah muntah.
8. Berikan cairan IV dan elketrolit.
Peritonium bereaksi terhadap iritasi/infeksi dengan menghasilkan sejumlah
besar cairan yang dapat menurunkan volumme sirkulasi darah, mengakibatkan
hipovolumia. Dehidrasi dan dapat terjadi ketidakseimbangan elektrolit.
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri.
Tujuan : Klien merasakan nyaman pada saat menggerakan tubuh.
Kriteria hasil :Klien mampu melakukan aktivitas sehari-hari.
1. Kaji skla tingkat fungsi klien dalam melakukan aktifitasnya.
Diharapkan dengan mengkaji skla akan diketahui apakah klien dapat mandiri,
atau semua aktifitas dibantu.

16

2. Berikan motivasi agar klien dapat melakukan aktifitasnya dalam batas-batas


tertentu yang dapat klien lakukan.
Untuk mencegah nyeri yang timbul jika aktivitas otot yang terlalu.
3. Pantau tanda-tanda vital.
Bila terjadi kelebihan beraktivitas tanda-tanda vital akan berubah.

17

BAB IV
TINJAUAN KASUS
I.

Pengkajian
Nama

: An. A

Penanggung Jawab

Jenis Kelamin : Pria

Nama

: Ny. N

Umur

: 11 Tahun

Hubungan dengan pasien :Orang tua

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Tani

Alamat

: Hibrida Raya

Alamat

: Hibrida Raya

Tgl. Masuk

: 14-10-2008

No. Register

: 0212

Golongan Darah : O
Diagnosis Medis : Apendiksitis.
II.

Alasan Masuk
Pasien An. A anak dari Ny. N, masuk ke rumah sakit dengan keluhan nyeri pada
abdomen kanan bagian bawah, yang disertai mual, muntah, dan demam, klien
mengatakan nyeri apabila perutnya ditekan atau pada saat menggerakan tubuh
nyerinya akan bertambah, Ny. N mengatakan bahwa anak susah makan.

III. Riwayat Kesehatan Sekarang


Nyeri yang disebabkan oleh apendiksitis yang dirasakan An. A sehingga tidak
bisa melakukan aktivitas sehari-hari, An. A merasakan nyeri pada saat mual,
muntah dan pada saat menggerakan tubuh nyerinya akan bertambah. Nyeri juga
terasa hingga abdomen bagian kiri, dengan skala nyeri 1-3, nyeri akan hilang
timbul dan tergantung pada posisi yang nyaman.

18

IV. Riwayat Kesehatan Masa Lalu


Penyakit yang pernah dialami demam dan diare. Pengobatan klien berobat ke
puskesmas.
V.

Riwayat Kesehatan Keluarga


Keluarga klien tidak ada yang menderita penyakit yang sama dengan klien.

VI. Riwayat Perkembangan


Imunisasi : An. A mendapatkan imunisasi lengkap, An. A tidak mengalami
keterlambatan dalam perkembangannya.
VII. Pemeriksaan Fisik
A. Keadaan Umum
Klien terlihat sedikit pucat, klien meringis merasakan nyeri pada abdomen
kanan bagian bawah.
B. Tanda-tanda Vital
TD

: 115/80

: 85 x menit

RR

: 20 x / menit

BB

: 35 kg

TB

: 125 cm

Suhu

: 38oC

1. Kepala dan rambut


1. Kepala
Bentuk

: Simetris

Ubun-ubun

: Sudah menutup

Kulit kepala

: Bersih

2. Rambut
Penyebaran dan keadaan rambut : merata
19

Bau

: Keringat

Warna rambut

: Hitam

3. Wajah
Warna kulit

: Sawo matang

Struktur

: Simetris

Kelainan

: Tidak ada

2. Mata
1. Kelengkapan dan kesimetrisan
Simetris dan tidak ada kecacatan
2. Palpebra
Kelopak mata atas lebih lebar dari kelopak mata bagian bawah dan
tidak ada ptiaris
3. Konjungtiva : merah muda
4. Sklera jernih tidak ikterik
5. Pupil : reflek terhadap cahaya
6. Cornea jernih
7. Iris : berwarna hitam
8. Visus : tajam
3. Hidung
1. Tulang hidung dan posisi septum nasi.
Tidak ada fraktur dan bengkak.
2. Lubang hidung
Simetrik dan tidak ada polip atau penyakit lainnya.
3. Cuping hidung
Tidak ada pernapasan cuping hidung
4. Telinga
1. Bentuk telinga

: simetris

2. Ukuran telinga

: sedikit lebar dan simetris

3. Lubang telinga

: adanya serumen
20

4. Ketajaman pendengaran : masih tajam


5. Mulut dan Faring
1. Keadaan bibir

: Tidak kering

2. Keadaan gusi dan gigi

: Gusi klien tidak ada stomatitis, terdapat


caries dentis pada gigi graham bawah.

3. Keadaan lidah

: Dapat menelan makanan dan baik

4. Orofaring

Tidak ada nyeri

6. Leher
1. Posisi trachea

: Simetris

2. Thyroid

Tidak ada pembesaran pada kelenjar

thyroid
3. Suara

Jelas dan tidak ada gangguan.

4. Kelenjar limfe

: Tidak ada pembengkakan.

C. Pemeriksaan Integumen
1. Kebersihan

Bersih

2. Kehangatan

Hangat

3. Warna

Sawo matang

4. Turgor

Elastis

5. Kelembaban

Lembab

6. Kelainan Pada kulit

: Tidak ada dekubitus atau penyakit lainnya

D. Pemeriksaan Thorak / Dada


1. Inspeksi Thorak
a. Bentuk thorak : arterio posterior, transversal : 1 : 2.
b. Pernafasan
Frekuensi

: 20 x / menit

Irama

: eupneu

c. Tanda kesulitan nafas : tidak ada


2. Pemeriksaan Paru
a. Palpasi getaran suara : tactil vremitus
21

b. Perkusi

: resonan

c. Auskultasi
Suara nafas

: Bronco vesikuler

Suara tambahan

: tidak ada

3. Pemeriksaan jantung
a. Inspeksi

: Palpasi

b. Palpasi

: Teraba

Pulssari

: Apikal

Ictus cordis

: Teraba

E. Pemeriksaan Abdomen
1. Inspeksi
a. Bentuk abdomen

: simetris

b. Benjolan/masa

: tidak ada

c. Bayangan pembuluh darah : tidak ada


2. Auskultasi
a. Peristaltik usus

: 5-25 x / menit

b. Bunyi jantung anak (BJA) : Tidak ada


3. Palpasi
a. Tanda nyeri tekan : nyeri tekan pada abdomen bagian kanan bawah
b. Benjolan / masa : tidak ada
c. Titik Mc. Burney : adanya nyeri tekan dan nyeri lepas.
4. Perkusi
a. Suara abdomen

: hipertimpani

b. Pemeriksaan acites : tidak terjadi pembesaran abdomen.


5. Anus dan perineum
a. Lubang anus

: ada

b. Kelainan pada anus : tidak ada


c. Perineum

: tidak ada kelainan

22

F. Pemeriksaan Neurologi
Tingkat kesadaran

: kompos mentis.

G. Pola Eliminasi
1. BAB
a. Pola BAB
b. Karakter feces

: 1 x, tidak menggunakan lakratit


: lunak

c. Riwayat perdarahan : tidak ada


d. Diare

: tidak terjadi

e. Konstipasi

: tidak terjadi

2. BAK
Pola BAK : 4 x / hari tidak inkontinensia.
H. Pola Kegiatan dan Aktivitas
Terbatas karena keadaan penyakit.
I. Pemeriksaan Diagnostik
SDP : Leukositosis diatas 12.000/mm3, neutrofil meningkat 75%.
Urinalisis : normal
Foto abdomen : dapat menyatakan adanya pengerasan material pada apendik
(fekalit), ileus terlokalisir.

23

ANALISIS DATA

No
Simtom
Etiologi
Problem
1 DS : - Mengeluh
nyeri
pada Nyeri akibat dari Gangguan rasa
abdomen kanan bawah
proses inflamasi
nyaman nyeri
- Nyeri akan bertambah pada
posisi yang kurang nyaman/
pada saat mual dan muntah.
- Fungsi skala 3
- Merasakan nyeri tekan
meningkat
- dan nyeri lepas meningkat
DO: - Meringis
- Memegang bagian yang
sakit
- Berjalan agak membungkuk
sambil memegang abdomen
kanan
- Lemah
TTV: TD : 115/80
N : 85 x menit
RR : 20 x / menit
S : 38oC
2

DS : - Mengeluh jika bergerak Nyeri


akan bertambah
- Merasakan otot susah untuk
digerakkan
- Lemah
DO: - Skala tingkat nyeri pada
skala 3
- Aktivitas dibantu

DS : - Klien mengeluh mual dan Distensi abdomen Kekurangan


muntah, frekuensi 2 x menurunnya
volume cairan
disertai demam.
peristaltic usus
- Ny. N mengatakan bahwa
An. A susah makan.
DO: - Klien tampak lemas dan
pucat

24

Gangguan
mobilitas fisik

No

Diagnosa Keperawatan

Tujuan Keperawatan

Gangguan rasa nyaman nyeri


berhubungan dengan proses
imflamasi ditandai dengan
nyeri tekan, nyeri lepas pada
abdomen kanan bawah, skala
3, meringis.

Dalam jangka waktu


pendek 1 x 60 menit
nyeri dapat berkurang
dengan kriteria hasil :
1. Klien refleks, tidak
meringis.
2. Skala nyeri menurun
3. TTV tidak meningkat
TD : 115/80 mmHg
N : 85 x / menit
RR : 20 x / menit
S : 37oC

Rencana Keperawatan
Intervensi

Mandiri :
1. Pantau kualitas, lokasi dan derajat
Agar dapat waspada terhadap
nyeri.
karakteristik ketidaknyaman.

Diharapkan dengan latihan teknik


2. Lakukan teknik distraksi
distraksi klien dapat lupa sejenak
terhadap nyeri.

Diharapkan dengan posisi yang


3. Atur posisi yang nyaman

nyaman nyeri dapat berkurang.

Untuk menurunkan stress dan

4. Anjurkan klien untuk latihan teknik relaksasi otot.


napas dalam

Untuk perubahan sesuai derajat


5. Pantau tanda-tanda vital
nyeri
Kolaborasi :
1. Kolaborasi dalam pemberian analgetik
dan antibiotic dengan dokter.

Gangguan mobilitas fisik


berhubungan dengan nyeri
ditandai dengan mengeluh
jika bergerak nyeri akan
bertambah,
digerakkan,
lemah skala tingkat fungsi 3,

Paraf

Rasional

Analgetik : untuk menghilangkan


nyeri.
Antibiotik

untuk

mencegah

infeksi oleh kuman.


Klien mampu melakukan 1. Kaji skala tingkat fungsi klien dalam
Diharapkan dengan mengkaji skala
aktivitas
sehari-hari melakukan aktivitasnya.
akan diketahui apakah klien dapat
dengan kriteria hasil.
mandiri, atau semua aktivitas dibantu.
1. Skala tingkat fungsi. 2. Berikan motivasi agar klien dapat
Untuk mencegah nyeri yang timbul
2. Dapat
melakukan melakukan aktivitasnya dalam batas- jika aktivitas otot yang terlalu.
aktivitas
secara batas tertentu yang dapat klien lakukan.
25

No

Diagnosa Keperawatan
aktivitas dibantu.

Kekurangan volume cairan


berhubungan
dengan
terjadinya distensi abdomen
dan penurunan peristaltik
usus

Tujuan Keperawatan
mandiri
Dalam jangka waktu 1 x
24
jam
masalah
kekurangan
volume
cairan teratasi dengan
kriteria hasil :
1. Kelembaban
membran mukosa.
2. Turgor kulit baik
3. Tanda vital stabil
4. Haluaran
urine
adekuat.

Rencana Keperawatan
Intervensi
3. Pantau tanda-tanda vital

Rasional
Bila terjadi kelebihan beraktivitas

1. Awasi TD dan nadi

tanda-tanda vital akan berubah.


Tanda
yang
membantu

mengidentifikasi
fluktuasi
volume
2. Kaji turgor kulit, dan penghasilan intravaskuler.
kapiler

Indikator keadekuatan sirkulasi


3. Auskultasi bising usus
perifer dan hidrasi seluler
4. Berikan pemasukan cairan secara
Indikator kembalinya peristaltik
parenteral.
usus

Dapat meningkatkan keseimbangan


elektrolit dan volume sirkulasi darah.

26

Paraf

CATATAN PERKEMBANGAN
Nama Pasien : An. A
Dx. Medis : Apendiksitis
Hari/Tgl/Jam
Kamis,
14-10-2008
08.00 Wib

No.
Dx
1

Implementasi

1.

Memantau kualitas, lokasi dan derajat nyeri


Respon pasien :
Nyeri pada skala 3 dan nyeri tekan, lepas pada daerah
abdomen kanan bawah.

2.

Melakukan teknik distraksi dengan klien


dengan cara mengajak klien bercerita
Respon pasien :
Mau diajak bercerita dan pasien sedikit dapat
melupakan rasa nyeri.

09.00 Wib

3.

Mengatur posisi yang nyaman yaitu posisi semi


fowler dan posisi sim.
Respon pasien :
Pasien merasa nyaman.

12.00 Wib

4.

Mengukur tanda-tanda vital


Respon pasien :
Mau dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital.

5.

Menganjurkan klien untuk latihan napas dalam


Respon pasien :
Mau melakukan latihan napas dalam selama 15
menit.

Kolaborasi :
1. Memberikan injeksi
- Terfacef : 3 x 1 gram
- Cefotaxim : 2 x 2 gram
- Genta : 2 x 1 amp
- Trifonazan : 3 x 1 rollaf

27

Paraf

Kamis
14-10-2008
08.00 Wib

2
1.

Mengkaji skala tingkat fungsi


melakukan aktivitasnya
Respon pasien :
Skala tingkat fungsi : skala 4

10.00 Wib

2.

Memberikan motivasi agar klien dapat melakukan


aktivitasnya dalam batas-batas tertentu yang dapat
klien lakukan.
Respon pasien :
Pasien dalam melakukan aktivitas memerlukan
bantuan alat dan bantuan orang lain.

12.00 Wib

3.

Memantau tanda-tanda vital


Respon pasien :
Mau dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital :
TD : 120/80
S : 36,5oC
N : 84 x / menit
RR : 22 x / menit

Kamis
14-10-2008

1. Memantau tekanan darah nadi


2. Mengkaji elastisitas turgor kulit.
3. Memberikan cairan IV dan elektrolit.

28

klien

dalam

EVALUASI
Nama Pasien : An. N
Diagnosa Medis : Apendiksitis
No. Dx
Evaluasi
1
S : - Klien mengeluh nyeri pada abdomen kanan bawah
- Nyeri saat ditekan
- Nyeri lepas
- Skala 3
O : - Terlihat meringis
- Masih memegang bagian yang sakit
- Lemah
- TTV :
TD : 115/80 mmHg,
S : 38,5oC
N : 85 x / menit
RR : 20 x / menit
A : Masalah belum teratasi
P : Rencana tindakan dilanjutkan
2

S : - Pasien mengatakan sudah dapat berjalan ke WC tetapi


masih merasakan sedikit nyeri
- Merasa lemah
O : - Skala tingkat fungsi aktivitas 2
- Pasien terlihat sudah bisa makan sendiri tanpa dibantu
- Ibu klien menyiapkan makanan di dalam piring, gelas
dan sendok.
A : Masalah teratasi sebagian
P : Rencana tindakan dilanjutkan

29

Paraf

S : Merasa tidak lemas lagi


O : Turgor kulit normal kembali.
A : Masalah teratasi sebagian
P : Rencana tindakan dilanjutkan

30

BAB V
PENUTUP
5.1.

Kesimpulan
Apendiksitis adalah peradangan dari apendik vermiformil, dan merupakan
penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua
umur baik laki-laki perempuan.
Apendiksitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendik. Oleh
hyperplasia folikel limpola, fekalt, benda asing, striktur karena fibrosis akibat
peradangan sebelumnya, atau necplasma.

5.2.

Saran
Semoga makalah mengenai apendiksitis beserta asuhan keperawatannya
ini bermanfaat bagi mahasiswa keperawatan. Setelah Tinggi Ilmu Kesehatan Tri
Mandiri Sakti Bengkulu, baik di lahan praktek maupun masyarakat nantinya.

31

DAFTAR PUSTAKA

Arif Mansjoer, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. FKUI. Jakarta.


Suzanne. C. Smeltzer, dkk. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Volume 1. EGC.
Kedokteran. Jakarta.
Marylin E. Doenges, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC. Kedokteran.
Jakarta.
Brunner dan Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. EGC. Jakarta.
Alimul Hidayah Aziz. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta.
A. Price. Sylvia. 2005. Patofisiologi. EGC. Jakarta.
L. Betz Cecilly. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatri. EGC. Jakarta.
Alimul Hidayah Aziz. 2004. Kebutuhan Pasar Manusia. EGC. Jakarta.

32