You are on page 1of 33

AUPB DAN

GOOD GOVERNANCE
Oleh :

Eka Sri Sunarti


1

Dulu :

Kekuasaan yang bebas dan tidak terjamah

(discretionary power, discretionaire bevoegdheid)


oleh peraturan perundang-undangan dan
hukum
Sekarang :
Kemajuan dan perkembangan Hkm.Adm.Negara

kriteria yang digunakan algemene beginselen


van behoorlijk bestuur.
Di Indonesia di sebut Asas-asas Umum
Pemerintahan yang Baik.
2

Menurut Hoogewert :

Asas merupakan aturan tingkah laku secara umum


dan abstrak ide.
tidak mempunyai sanksi

Norma merupakan aturan tingkah laku secara khusus


dan konkrit penjabaran dari ide.
mempunyai sanksi

1. Norma Moral (etis): melekat pada manusia

sebagai pribadi yang bersifat bathiniah, sehingga


tidak dapat dipindahkan dan dihilangkan.
2.Norma Hukum : melekat pada kehidupan

ekstern yang berasal dari suatu perjanjian.


memiliki sifat objektif dan dapat mewajibkan.

AUPB

sebagai asas hukum memiliki daya

pengikat dan harus dipatuhi oleh


badan/pejabat , sebagaimana halnya
norma/aturan hukum yang harus
dilaksanakan.

sebelum memangku jabatan, seorang

pejabat harus dilekatkan dengan suatu


kewenangan yang sah berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang
berlaku dengan cara :
ATRIBUSI
DELEGASI

MANDAT
6

1. Terikat pada masa berlakunya kewenangan

2.Tunduk pada batas materi kewenangan


3.Terikat pada wilayah berlakunya kewenangan.

1.

Doelmatigeheid : setiap keptsn yg diambil hrs sesuai dg tujuan


yg telah ditetapkan ;

2. Azas yuridikitas (Rechtmatigeheid) : setiap kept hrs didsrkan


atas hukum sec umum ( keadilan, kepatutan, kewajaran );
3. Azas Legalitas (Wetmatigeheid): setiap kepts hrs diambil
berdsrkan ketentu hukum tertulis (UU);
4. Azas Diskresi (Discretionary Power/Freies Ermessen ):
kewen pej utk mengambil kepts berdsrkan pendptnya sendiri.
5. AUPB ( algemene beginselen van behoorlijk bestuur )

Paul Scholten :

AUPB mrpk pemberi dasar dan kecenderungan


etis dalam tertib hukum
Bellefroid :

AUPB sbg norma dasar dan pedoman bagi para


pejabat AN dlm membuat kebijakan publik
Konijnenbelt :
AUPB menentukan arah pada waktu melaks
pemerintahan dlm membuat keputusan
pemerintah.
9

Pertama dikembangkan di Belanda tahun 1950, oleh De

Monchy, karena banyak kepentingan masyarakat yang


terabaikan oleh Pemerintah.
Mulanya adalah merupakan azas tidak tertulis yang

tidak dicantumkan dalam suatu UU.


De Monchy melakukan penelitian yurisprudensi

Belanda, dengan hasil, bahwa untuk menciptakan


pemerintahan yang baik harus diterapkan beberapa azas
umum, yaitu :
10

1. azas kepastian hukum;


2. azas keseimbangan;
3. azas kesamaan;
4. azas bertindak cermat;
5. azas permainan yang layak;
6. azas keadilan dan kewajaran;
7. azas perlindungan atas pandangan hidup;
8. zas kebijaksanaan;
9. azas penyelenggaraan kepentingan umum;
10.azas kejujuran;
11.azas tidak pandang bulu;
12.azas penghargaan terhadap pendapat orang
lain;
13.azas pertanggung jawaban.

11

Prof. Prayudi Atmosudridjo


AUPB dikategorikan dalam 2 golongan, yaitu :
1. Azas mengenai Prosedur Pengambilan Keputusan :
- pemb kept tdk blh memp kepent pribadi dlm kepts;
- kept yg merugikan kepent masy, terlebih dhl minta
pendpt masyarakat;
-kept mempertimbangkan kondisi nyata.
2. Azas ttg kebenaran fakta yg dijadikan dsr pembt kept :
- azas larangan kesewenang-2an
- azas larangan penyalahgunaan dan pelampauan wew
- azas kepastian hukum
- azas larangan melakukan diskriminasi hukum
- azas batal karena kecerobohan pejabat ybs.
12

1. Sebagai Pedoman bagi :


- pembuat keputusan;
- perbuatan pemerintah;
- penentuan hukum oleh para pejabat pemerintah.
2. Bila terjadi pelanggaran, maka akan merupakan alasan
untuk menggugat keputusan (dasar gugatan);
3. Sebagai dasar pengujian terhadap keputusan pemerintahan yg
bersifat melawan hukum/tidak melawan hukum
4. Sbg alat untuk mencegah pelampauan batas kewenangan,
penyalahgunaan wewenang, ketidak adilan dan ketidak
jujuran.
13

Dalam Penjelasan umum UU 5/ 1986 tentang

Peradilan Tata Usaha Negara;


Undang-Undang Nomor 28/1999 tentang

Pemerintahan yang Bersih, bebas dari Korupsi, Kolusi


dan Nepotisme;
Rancangan UU tentang Administrasi Pemerintahan (

MENPAN ).

14

UU No.28/1999 : ttg Pemerintahan yg Bersih, Berwibawa dan


Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
Pasal 1 (6) : AUPB adalah azas yg menjunjung tinggi norma kesu
silaan, kepatutan dan norma hukum untuk mewujud
kan penyelenggaraan negara yg bersih bebas korup
si, kolusi dan nepotisme.
Pasal 3 : azas2 untuk mewujudkan kepemerintahan yg baik :
a. azas kepastian hukum;
b. azas tertib penyelenggaraan negara;
c. azas kepentingan umum;
d. azas keterbukaan;
e. azas proporsionalitas;
f. azas profesionalitas;
g. azas akuntabilitas;
h. azas efisinesi dan efektivitas.

15

Government (Pemerintah) :
mencakup kekuasaan eksekutif saja, yaitu Kepala Pemerintahan dan
kabinetnya (Inggris);
mencakup kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif (AS);
mencakup kekuasaan eksekutif : ps 4 ayat 1 UUD 1945 menyatakan,
Presiden memegang kekuasaan Pemerintahan. (Indonesia)

Governance:
adalah proses pembuatan keputusan dan proses bgmn keputusan tsb
diimplementasikan di berbagai tingkat Pemerintahan (Prof.Safri).
Pemerintah adalah salah satu pelaku dari governance.

Good Governance :
proses pembuatn kepts dan proses bgmn kepts itu dilaksanakan dengan
mengadopsi 8 karakteristik (participation,concensus oriented, accounta
ble, transparency, responsive, effective dan efficient, equity dan follows
the rule of law).
16

BIROKRASI
(Reformasi Birokrasi)

Tugas
Pemerintahan

1. Tujuan Pemerintah terlaksana


2. Proses Pembuatan keputusan
diamati dengan baik
3. Fungsi dan Tugas Birokrat sesuai
dengan kewenangannya
4. Organisasi berkelanjutan
Good
Governa
nce
Prinsip-2 Good Governance
17

Tap.MPR No.VI/2001 :
amanat kpd Pres utk mbangun
kultur birokrasi transparan,
akuntabel, bersih&brtg jwb,
pelayan masy&abdi negara

Reformasi
Birokrasi
Upaya sistematis yg
mhendaki 3 pilar bperan
sinergis (Pem, swasta dan
masyarakat)

T
u
j
u
a
n

Mind set
Perubahan

Culture set
Pengembangan
Budaya Kerja

-Mencegah dan mempercepat pemberantasan korupsi


-Menciptakan tata pemerintahan yg baik, bersih dan
berwibawa (Good Governance)
-Menciptakan Pemerintahan yg bersih (Clean
Government)

DIMULAI
DENGAN

-Penataan
Kelembagaan
-Penataan SDM
-Mekanisme,
sistem,
pengaturan dan
prosedur yg
sedrhana tdk
berbelit2
-menegaklan
akuntabilitas
aparatur
-meningkatkan
pengawasan yg
komprehensif
-meningkatkan
kualitas
pelayanan
publik
(pelayanan
prima) 18

Konsep GG merujuk pada tugas pelaksanaan

pemerintah/ organisasi;
Bank Dunia mrpk salah satu pencetus awal dr GG,
menyatakan bhw kegagalan ekonomi disebabkan
terlalu banyaknya campur tangan negara;
Laporan bank dunia ttg Sahara Afrika 1989 yg pertama
memuat kata Governance, yaitu cara bagaimana
kekuasaan dijalankan dalam rangka pengelolaan
Ekonomi dan sosial sebuah negara utk pembangunan.
Makna governance yg semula hanya berfokus pada
manajemen, mulai juga dikembangkan untuk juga
memuat aspek transparansi dan akuntabilitas (jadi
memuat aspek politis).
19

Dua k aki Good Governance :


1. Kaki Politik : fokus pada persoalan legitimasi,
responsivitas pemerintah dan akuntabilitas;
2. Kaki Ekonomi : fokus pada pengelolaan sektor publik,
termasuk di dalamnya program2 yang terkait dengan
pengembangan kapasitas aparatur negara , efisiensi
dan efektivitas.
Laporan Bank Dunia 1992, 4 pilar Good Governance :
a. Pengelolaan sektor publik : reformasi pelayanan
publik, termsk privatisasi badan usaha publik;
b. Kerangka hukum : pengembangan perangkat hukum
yg menunjang hak milik publik, yg berisi pengaturan
perilaku masy sipil dan dunia usaha serta membatasi
peran negara;
c. Akuntabilitas : keuangan, desentralisasi, partisipasi;
d. Transparansi dan informasi utk membangun pasar
20
yang kompetitif.

PARTICIPATION :

baik laki2 maupun perempuan mempunyai hak suara dalam pembuatan keptsn, baik
sec langsung maupun melalui lembaga2 perwakilan
CONCENSUS ORIENTED :
dalam pengambilan keputusan hal tsb dijadikan media untuk mencapai kesepaka tan
yang terbaik yang mewakili berbagai kepentingan
ACCOUNTABLE :
pembuatan keputusan, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat, sebagai skate
holder bertanggung jawab kepada publik
TRANSPARENSCY:
adanya arus informasi yang terbuka dalam proses pengambilan dan pelaksanaan
keputusan
RESPONSIVE :
lembaga dan proses melayani stake holder secara tanggap
EFFECTIVE DAN EFFICIENT :
proses dan pelaksanaan keputusan dilakukan seoptimal mungkin dalam pencapaian
tujuan organisasi
EQUITY :
baik laki2 maupun perempuan mempunyai kesempatan yang sama dalam pengambilan
keputusan
RULE OF LAW :
21
Dasar dari kerangka bekerja haruslah jelas dan menerapkan prinsip2 HAM

Supremacy of the law (supremasi hukum) : setiap tindakan

harus didasari oleh hukum bukan berdsr diskresi;

Legal certainty (kepastian hukum) : menjamin suatu

masalah diatur secara jelas, tegas dan tidak duplikatif;

Hukum yang responsive : hukum mampu menyerap

aspirasi masyarakat luas dan mengakomodasinya;

Penegakan hukum yang konsisten dannondiskriminasi;


Independensi peradilan sebagai syarat penting dalam

perwujudan rule of law;

Aparatur Pemerintah (birokrasi) yang profesional dan

memiliki integritas yang kokoh

22

Governance akan menjadi baik (Good Governance) bila :

a. tujuan yang telah ditetapkan dapat dilaksanakan dg baik;


b. proses dlm pembuatan keputusan telah diamati dengan baik;
c. para pejabat memperlihatkan fungsi dan tugas mereka sesuai
dengan kewenangannya;
d. organisasni berkelanjutan.
Governance akan menjadi jelak (Bad Governance) bila :

a. hanya beberapa tujuan saja yg tercapai;


b. beberapa tindakan para pejabat melanggar peraturan yg
tertulis;
c. kekuasaan dan kelembagaan melampaui kewenangannya;
d. organisasi mengalami berbagai gangguan, sehingga terpecah
belah.

23

Penerapan prinsip GG biasanya didahului oleh

penerapan AUPB (azas umum pemerintahan yang


baik = algemene beginselen van behoorlijk bestuur)

AUPB merupakan panduan tidak tertulis bagi badan

atau pejabat pemerintah dalam melaksanakan tugas


pemerintahan sehari-hari.

Materi AUPB :

a. azas larangan penyalahagunaan wewenang


b. larangan melaks tindakan se-wenang2
c. azas kecermatan
d. azas kewajiban memberi dasar pertimbangan pada
putusan
e. azas kepentingan umum.
24

Menjaga keppentingan umum dan meningkatkan

efisiensi kinerja birokrasi;


Mewujudkan iklim birokrasi yg kondusive melalui

pengaturan kinerja yang profesional;


Mencegah praktek penylahagunaan wewenang;
Terciptanya efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan

pelayanan publik.
25

Jayal : GG mengandung ketidak konsistenan krn di satu

sisi menginginkan adanya kapasitas negara dan di sisi


lain berkeinginan untuk mereduksi peran negara
Jika ini terjadi maka akan terjadi depolitisasi pembuatan

kebijakan
Pembangunan lebih diutamakan daripada demokrasi,,

yaitu dengan diktator yang baik dan demokrasi yang


otoriter, karena rezim seperti ini tidak memenuhi syarat
demokrasi, tetapi memiliki birokrasi yang tangguh
untuk menjalankan agenda2 pembangunan.
26

a. Membentuk Peraturan perundang-2an, a.l :


1. UU No.5 Th 1986 : PTUN;
2. UU No.28 Th 1999 : Pem yg bersih bebas KKN;
3. UU Adm Pemerintrahan;
4. UU Etika Penyelenggara Negara;
5. Tersebar dalam berbagai UU lainnya;
6. UU No.11 Th 2011 : Pembentukan Perat.
Perundang2an;
7. Peraturan2 Pelaksanaan.

27

b. Membentuk Lembaga yang membantu Pemerintah


dalam mewujud kan Good Governance , a.l :
1. KPK;
2. Ombudsman;
3. Tim2 Independent;
3. Komisi2/ badan2 lainnya
c. Membentuk Kegiatan intern Pemerintah yang
mendukung penciptaan GG, misal nya membentuk
Tim KORMONEV Pusat dan Daerah (Inpres 15/05).
d. Membentuk Lembaga2 pengawas : Irjen,
BPK,BPKP,BPK Daerah, Bawasda, Tim2 Independent
yang bertugas sebagai Pengawas dsb.
28

Masa Pemerintahan SBY dicanangkan 4 arahan,

yaitu :
a. laksanakan reformasi birokrasi;
b. tegakkan dan terapkan prinsip GG;
c. tingkatkan kualitas pelayanan publik;
d. berantas korupsi.

Kenyataannya menurut CSIS, persoalan kinerja birokrasi

dituduh sebagai musabab keterpurukan bangsa ini,


dengan tudingan :
a. birokrasi lambat;
b. birokrasi tidak efisiendan efektif;
c. birokrasi tidak tanggap;
d. banyak praktik KKN

29

Menteri Negara PAN menjelaskan 4 hal

yang saat ini terjadi :

a. berbagai keluhan masyarakat kurang


kurang direspons Pemerintah;
b. belum adanya data awal yang pasti dan
sama
c. tolok ukur keberhasilan belum jelas;
d. belum ada analisis yang jelas mengapa
pemberantasan korupsi belum menun
jukan tanda-2 keberhasilan.

30

No.

AREA PERUBAHAN

1.

KELEMBAGAAN
(ORGANISASI)

2.

BUDAYA ORGANISASI

Birokrasi dengan integritas dan kinerja


Yang tinggi

3.

KETATALAKSANAAN

Sistem proses dan prosedur kerja yang jelas, efektif,


Efisien sesuai dg prinsip good governance

4.

5.

HASIL YANG DIINGINKAN

Organisas i yang tepat fungsi dan tepat ukuran


( Right sizing)

REGULASI, DEBIRO
Regulasi yang lebih tertib, tidak tumpang tindih
KRATISASI, BIROKRASI Dan kondusif
SUMBER DAYA
MANUSIA

SDM berintegritas, Kompeten, Profesional,


Berkinerja tinggi dan sejahtera

31

Dengan Program reformasi yg terarah dan terencana


dan kemampuan keuangan negara, diharapkan
dapat terwujud suatu tata kepemrintahan yg baik
(good governance);
Critical Success Factor :
1. Komitmen Pimpinan;
2. Kemauan diri sendiri;
3. Kesepahaman;
4. Kelembagaan;
5. Konsistensi dan berkesinambungan;
6. Tersedianya anggaran;
7. Dukungan masyarakat.
32

Terimakasih
Semoga bermanfaat

33