P. 1
Seseorang Bertanya Kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah,

Seseorang Bertanya Kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah,

|Views: 101|Likes:
Published by Heriyanto Hosnan

More info:

Published by: Heriyanto Hosnan on Jan 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/12/2015

pdf

text

original

Seseorang bertanya kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah, terangkan kepadaku, apa yang paling berat dan apa

yang paling ringan dalam beragama Islam?” Nabi bersabda, “Yang paling ringan dalam beragama Islam ialah membaca syahadat atau kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Rasulullah.” “Sedang yang paling berat adalah hidup jujur (dapat dipercaya). Sesungguhnya, tidak ada agama bagi orang yang tidak jujur. Bahkan, tidak ada shalat dan tidak ada zakat bagi mereka yang tidak jujur.” (HR Ahmad Bazzar). Kalau seseorang itu beriman, mestinya ia yang jujur. Kalau tidak jujur, berarti tidak beriman. Kalau orang rajin shalat, mestinya juga jujur. Kalau tidak jujur, berarti sia-sialah shalatnya. Kalau orang sudah berzakat, mestinya ia juga jujur. Kalau tidak jujur, berarti zakatnya tidak memberi dampak positif bagi dirinya. Anas RA berkata, “Dalam hampir setiap khutbahnya, Nabi SAW selalu berpesan tentang kejujuran. Beliau bersabda, ‘Tidak ada iman bagi orang yang tidak jujur. Tidak ada agama bagi orang yang tidak konsisten memenuhi janji’.” HR Ahmad Bazzar Thobaroni menyebutkan sahabat Abu Hurairah RA berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Ciri orang munafik itu ada tiga, yaitu bicara dusta, berjanji palsu, dan ia berkhianat jika mendapat amanat (tidak jujur)’.” (HR Bukhari). Abdullah bin Utsman berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Ada empat sikap yang kalau ada pada diri seseorang maka yang bersangkutan adalah munafik tulen, yaitu kalau dapat amanat, ia berkhianat (tidak jujur); kalau berkata, selalu bohong; kalau berjanji, janjinya palsu; kalau berbisnis, licik’.” (HR Bukhari Muslim). Orang jujur itu disayangi Allah. Dan, orang yang tidak jujur dimurkai Allah SWT. Kejujuran menjadi salah satu sifat utama para Nabi, salah satu akhlak penting orangorang yang saleh. Kejujuran adalah kunci keberkahan. Kalau kejujuran sudah hilang di tengah-tengah masyarakat, keberkahannya pun akan hilang pula. Dan, apabila keberkahan sudah hilang, kehidupan menjadi kering, hampa tanpa makna. Kehidupan diwarnai dengan kegelisahan, kekhawatiran, ketakutan, kecemasan, dan kekecewaan karena sulit mencari manusia yang jujur. Wallahu a’lam bish-shawab. (Republika)

Jujur, Salah Satu Akhlaq Muslim
Posted Juli 10, 2007 Filed under: Adab, Adab & Akhlaq, Adab Islam, Adab Muslim, Akhlaq, Akhlaq Islam, Akhlaq Mulia, Akhlaq Muslim, Akhlaq Tauladan, Arsip Adab & Akhlaq, Budi Pekerti,

Iman, Islam, Istimewa, Jendela Hati, Moslem, Muslim, Panutan, Perilaku, Religius, Sifat, Taman Hati, Taman Taqwa, Teladan, Wisata Hati | MediaMuslim.Info – Sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan kepada surga. Sesungguhnya seseorang biasa berlaku jujur hingga ia disebut shiddiq (orang yang senantiasa jujur). Sedang dusta mengantarkan kepada perilaku menyimpang (dzalim) darn perilaku menyimpang mengantarkan kepada neraka. Sesungguhnya seseorang biasa berlaku dusta hingga ia disebut pendusta besar. Untaian kata-kata diatas adalah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud RadhiyAllohu ‘anhu yang terhimpun dalam Kitab Hadits Bukhari, Muslim dan Tirmidzi. (HR Bukhari dalam shahihnya bab Adab subbab 69, jilid VII, hal 95. HR Muslim dalam shahihnya bab Al-Birr subbab 29, hadits nomor 104, jilid IV hal 2012-2013, dan HR Tirmidzi dalam sunannya bab Al-Birr subbab 46 hadits nomor 1971 jilid IV hal 347) Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman,bertaqwalah kepada dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur” (QS: At-Taubah: 119). Dalam ayat lain, Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Jikalau mereka jujur kepada Alloh, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka” (QS: Muhammad: 21) Jujur ialah kesesuaian ucapan dengan hati kecil dan kenyataan objek yang dikatakan (Fathul Baari, jilid X, hal 507). Berkaitan dengan makna hadits di atas, ulama mengatakan bahwa sikap jujur dapat mengantarkan kepada amal shaleh yang murni dan selamat dari celaan. Sedang kata “albirr” (kebaikan) adalah istilah yang mencakup seluruh kebaikan. Pendapat lain mengatakan bahwa “al-birr” berarti surga. sedangkan dusta dapat mengantarkan kepada perilaku menyimpang (kedzaliman). Sikap jujur termasuk keharusan di antara sekian keharusan yang harus diterapkan oleh masyarakat, dia menjadi fundamen penting dalam membangun komunitas masyarakat. Tanpa sikap jujur, seluruh ikatan masyarakat akan terlepas. Karena tidak mungkin membentuk suatu komunitas masyarakat sedang mereka tidak berhubungan sesamanya dengan jujur. Sikap jujur sebetulnya merupakan naluri setiap manusia. Cukup sebagai bukti bahwa anak kecil jika diceritakan tentang sosok seorang yang jujur di satu sisi dan di sisi lain diceritakan sosok seorang pendusta, engkau lihat, dia akan menyukai orang jujur dan membenci pendusta. Al Marudzi bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal. “Dengan apakah seorang tokoh meraih reputasi hingga terus dikenang?”. Imam Ahmad menjawab singkat: “Dengan perilaku jujur”. Beliau melanjutkan bahwa ”Sesungguhnya perilaku jujur terkait dengan sikap murah tangan (dermawan).” (Thabaqatul Habilah, jilid I, hal 58).

Imam Fudhail bin Iyadh berkata: “Seseorang tidak berhias dengan sesuatu yang lebih utama daripada kejujuran (Hilyatul Auliya, jilid VIII,hal 109). Sahabat Bilal melamar wanita Quraisy (suku terhormat-red) untuk dinikahkan dengan saudaranya. Dia berkata kepada keluarga wanita Quraisy: “Kalian telah mengetahui keberadaan kami. Dahulu kami adalah para hamba sahaya lalu dimerdekakan Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Kami dahulu adalah orang-orang tersesat lalu diberikan hidayah oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Kami dulunya fakir lalu dijadikan kaya oleh-Nya. Kini akan melamar wanita fulanah ini untuk dijodohkan dengan saudaraku. Jika kalian menerimanya, maka segala puji bagi Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Dan bila kalian menolak, maka Alloh Subhanahu wa Ta’ala Dzat Yang Maha Besar. Anggota keluarga wanita itu tampak memandang satu dengan yang lainnya. Mereka lalu berkata: “Bilal termasuk orang yang kita kenal kepeloporan, kepahlawanan, dan kedudukannya di sisi Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa sallam. Maka nikahkanlah saudara dengan puteri kita”. Mereka lalu menikahkan saudara Bilal dengan wanita Quraisy tersebut. Usai itu saudara Bilal berkata kepada Bilal: “Mudah-mudahan Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengampuni. Apa engkau menuturkan kepeloporan dan kepahlawanan kami bersama dengan Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam, sedang engkau tidak menuturkan hal-hal selain itu? Bilal menjawab: “Diamlah saudaraku, kamu jujur, dan kejujuran itulah yang menjadikan kamu menikah dengannnya”. (Al Mustathraf, jilid I, hal 356). Ismail bin Abdullah Al-Makhzumi berkata: “Khalifah Abdul Malik bin Marwan menyuruh aku mengajari anak-anaknya dengan kejujuran sebagaimana dia menyuruh aku membaca tulis Al-Qur’an serta menyuruh aku menghindarkan mereka dari dusta walaupun harus mati” (Makarimul Akhlaq, hadits nomor 122, hal 27). Rib’i bin Hirasy dikenal tidak pernah berdusta sama sekali. Suatu hari dua puteranya tiba dari Khurasan berkumpul dengannya., sedang keduanya adalah anak durhaka (nakal). Barangkali kedua anaknya menjadi pemberontak pemerintah. Seorang mata-mata lalu memberi kabar kepada Hajjaj. Katanya: “Wahai pimpinanku, masyarakat seluruhnya menganggap Rib’i bin Hirasy tidak pernah berdusta selamanya. Sementara saat ini kedua anaknya yang durhaka dan nakal datang dari Khurasan dan berkumpul dengannya”. Hajjaj berkata: “Serahkan ia kepadaku”. Rib’i bin Hirasy lalu dibawa ke hadapan Hajjaj. Hajjaj bertanya: “Wahai orangtua….”. “Apa yang kau mau?” tanya Rib’i. “Saat ini apakah yang dilakukan oleh kedua puteramu?” tanya Hajjaj dengan selidik. Rib’i berkata jujur: “Tempat bermohon adalah Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Aku meninggalkan keduanya di rumah”. “Tidak ada pidana. Demi Alloh Subhanahu wa Ta’ala, aku tidak menuduh buruk kepadamu mengenai dua anakmu. Sekarang kedua anakmu terserah padamu. Keduanya bebas dari tuduhan pidana”. (Makarimul Akhlaq, hadits nomor 135, hal 29-30).

Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita kekuatan dan hidayah-Nya agar bisa sedikit demi sedikit memiliki sifat mulia ini dan mempertahankannya, baik dalam dakwah maupun dalam kehidupan sehari-hari. Amin. Korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok). Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus|politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.[1] Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar mencakup unsurunsur sebagai berikut:
• • • •

perbuatan melawan hukum; penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana; memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi; merugikan keuangan negara atau perekonomian negara;

Selain itu terdapat beberapa jenis tindak pidana korupsi yang lain, diantaranya:
• • • • •

memberi atau menerima hadiah atau janji (penyuapan); penggelapan dalam jabatan; pemerasan dalam jabatan; ikut serta dalam pengadaan (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara); menerima gratifikasi (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara).

Dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Semua bentuk pemerintah|pemerintahan rentan korupsi dalam prakteknya. Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi dan menerima pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya. Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti harafiahnya pemerintahan oleh para pencuri, di mana pura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali. Korupsi yang muncul di bidang politik dan birokrasi bisa berbentuk sepele atau berat, terorganisasi atau tidak. Walau korupsi sering memudahkan kegiatan kriminal seperti penjualan narkotika, pencucian uang, dan prostitusi, korupsi itu sendiri tidak terbatas dalam hal-hal ini saja. Untuk mempelajari masalah ini dan membuat solusinya, sangat penting untuk membedakan antara korupsi dan kriminalitas|kejahatan. Tergantung dari negaranya atau wilayah hukumnya, ada perbedaan antara yang dianggap korupsi atau tidak. Sebagai contoh, pendanaan partai politik ada yang legal di satu tempat namun ada juga yang tidak legal di tempat lain.

Daftar isi
[sembunyikan]
• •

• • • • • •

1 Kondisi yang mendukung munculnya korupsi 2 Dampak negatif o 2.1 Demokrasi o 2.2 Ekonomi o 2.3 Kesejahteraan umum negara 3 Bentuk-bentuk penyalahgunaan o 3.1 Penyogokan: penyogok dan penerima sogokan o 3.2 Sumbangan kampanye dan "uang lembek" 4 Tuduhan korupsi sebagai alat politik 5 Mengukur korupsi 6 Lihat pula 7 Referensi 8 Pranala luar 9 Referensi

[sunting] Kondisi yang mendukung munculnya korupsi

• • • • • • • • • •

Konsentrasi kekuasan di pengambil keputusan yang tidak bertanggung jawab langsung kepada rakyat, seperti yang sering terlihat di rezim-rezim yang bukan demokratik. Kurangnya transparansi di pengambilan keputusan pemerintah Kampanye-kampanye politik yang mahal, dengan pengeluaran lebih besar dari pendanaan politik yang normal. Proyek yang melibatkan uang rakyat dalam jumlah besar. Lingkungan tertutup yang mementingkan diri sendiri dan jaringan "teman lama". Lemahnya ketertiban hukum. Lemahnya profesi hukum. Kurangnya kebebasan berpendapat atau kebebasan media massa. Gaji pegawai pemerintah yang sangat kecil. Rakyat yang cuek, tidak tertarik, atau mudah dibohongi yang gagal memberikan perhatian yang cukup ke pemilihan umum. Ketidakadaannya kontrol yang cukup untuk mencegah penyuapan atau "sumbangan kampanye".

[sunting] Dampak negatif
[sunting] Demokrasi
Korupsi menunjukan tantangan serius terhadap pembangunan. Di dalam dunia politik, korupsi mempersulit demokrasi dan tata pemerintahan yang baik (good governance) dengan cara menghancurkan proses formal. Korupsi di pemilihan umum dan di badan

legislatif mengurangi akuntabilitas dan perwakilan di pembentukan kebijaksanaan; korupsi di sistem pengadilan menghentikan ketertiban hukum; dan korupsi di pemerintahan publik menghasilkan ketidak-seimbangan dalam pelayanan masyarakat. Secara umum, korupsi mengkikis kemampuan institusi dari pemerintah, karena pengabaian prosedur, penyedotan sumber daya, dan pejabat diangkat atau dinaikan jabatan bukan karena prestasi. Pada saat yang bersamaan, korupsi mempersulit legitimasi pemerintahan dan nilai demokrasi seperti kepercayaan dan toleransi.

[sunting] Ekonomi

Korupsi juga mempersulit pembangunan ekonomi dan mengurangi kualitas pelayanan pemerintahan. Korupsi juga mempersulit pembangunan ekonomi dengan membuat distorsi dan ketidak efisienan yang tinggi. Dalam sektor privat, korupsi meningkatkan ongkos niaga karena kerugian dari pembayaran ilegal, ongkos manajemen dalam negosiasi dengan pejabat korup, dan risiko pembatalan perjanjian atau karena penyelidikan. Walaupun ada yang menyatakan bahwa korupsi mengurangi ongkos (niaga) dengan mempermudah birokrasi, konsensus yang baru muncul berkesimpulan bahwa ketersediaan sogokan menyebabkan pejabat untuk membuat aturan-aturan baru dan hambatan baru. Dimana korupsi menyebabkan inflasi ongkos niaga, korupsi juga mengacaukan "lapangan perniagaan". Perusahaan yang memiliki koneksi dilindungi dari persaingan dan sebagai hasilnya mempertahankan perusahaan-perusahaan yang tidak efisien. Korupsi menimbulkan distorsi (kekacauan) di dalam sektor publik dengan mengalihkan investasi publik ke proyek-proyek masyarakat yang mana sogokan dan upah tersedia lebih banyak. Pejabat mungkin menambah kompleksitas proyek masyarakat untuk menyembunyikan praktek korupsi, yang akhirnya menghasilkan lebih banyak kekacauan. Korupsi juga mengurangi pemenuhan syarat-syarat keamanan bangunan, lingkungan hidup, atau aturan-aturan lain. Korupsi juga mengurangi kualitas pelayanan pemerintahan dan infrastruktur; dan menambahkan tekanan-tekanan terhadap anggaran pemerintah. Para pakar ekonomi memberikan pendapat bahwa salah satu faktor keterbelakangan pembangunan ekonomi di Afrika dan Asia, terutama di Afrika, adalah korupsi yang berbentuk penagihan sewa yang menyebabkan perpindahan penanaman modal (capital investment) ke luar negeri, bukannya diinvestasikan ke dalam negeri (maka adanya ejekan yang sering benar bahwa ada diktator Afrika yang memiliki rekening bank di Swiss). Berbeda sekali dengan diktator Asia, seperti Soeharto yang sering mengambil

satu potongan dari semuanya (meminta sogok), namun lebih memberikan kondisi untuk pembangunan, melalui investasi infrastruktur, ketertiban hukum, dan lain-lain. Pakar dari Universitas Massachussetts memperkirakan dari tahun 1970 sampai 1996, pelarian modal dari 30 negara sub-Sahara berjumlah US $187 triliun, melebihi dari jumlah utang luar negeri mereka sendiri. [1] (Hasilnya, dalam artian pembangunan (atau kurangnya pembangunan) telah dibuatkan modelnya dalam satu teori oleh ekonomis Mancur Olson). Dalam kasus Afrika, salah satu faktornya adalah ketidak-stabilan politik, dan juga kenyataan bahwa pemerintahan baru sering menyegel aset-aset pemerintah lama yang sering didapat dari korupsi. Ini memberi dorongan bagi para pejabat untuk menumpuk kekayaan mereka di luar negeri, diluar jangkauan dari ekspropriasi di masa depan.

[sunting] Kesejahteraan umum negara
Korupsi politis ada dibanyak negara, dan memberikan ancaman besar bagi warga negaranya. Korupsi politis berarti kebijaksanaan pemerintah sering menguntungkan pemberi sogok, bukannya rakyat luas. Satu contoh lagi adalah bagaimana politikus membuat peraturan yang melindungi perusahaan besar, namun merugikan perusahaanperusahaan kecil (SME). Politikus-politikus "pro-bisnis" ini hanya mengembalikan pertolongan kepada perusahaan besar yang memberikan sumbangan besar kepada kampanye pemilu mereka.

[sunting] Bentuk-bentuk penyalahgunaan
Korupsi mencakup penyalahgunaan oleh pejabat pemerintah seperti penggelapan dan nepotisme, juga penyalahgunaan yang menghubungkan sektor swasta dan pemerintahan seperti penyogokan, pemerasan, campuran tangan, dan penipuan.

[sunting] Penyogokan: penyogok dan penerima sogokan
Korupsi memerlukan dua pihak yang korup: pemberi sogokan (penyogok) dan penerima sogokan. Di beberapa negara, budaya penyogokan mencakup semua aspek hidup seharihari, meniadakan kemungkinan untuk berniaga tanpa terlibat penyogokan. Negara-negara yang paling sering memberikan sogokan pada umumnya tidak sama dengan negara-negara yang paling sering menerima sogokan. Duabelas negara yang paling kurang korupsinya, menurut survey persepsi (anggapan ttg korupsi oleh rakyat) oleh Transparansi Internasional di tahun 2001 adalah sebagai berikut (disusun menurut abjad): Australia, Kanada, Denmark, Finlandia, Islandia, Luxemburg, Belanda, Selandia Baru, Norwegia, Singapura, Swedia, dan Swiss Menurut survei persepsi korupsi , tigabelas negara yang paling korup adalah (disusun menurut abjad):

Azerbaijan, Bangladesh, Bolivia, Kamerun, Indonesia,Irak, Kenya, Nigeria, Pakistan, Rusia, Tanzania, Uganda, dan Ukraina Namun demikian, nilai dari survei tersebut masih diperdebatkan karena ini dilakukan berdasarkan persepsi subyektif dari para peserta survei tersebut, bukan dari penghitungan langsung korupsi yg terjadi (karena survey semacam itu juga tidak ada)

[sunting] Sumbangan kampanye dan "uang lembek"
Di arena politik, sangatlah sulit untuk membuktikan korupsi, namun lebih sulit lagi untuk membuktikan ketidakadaannya. Maka dari itu, sering banyak ada gosip menyangkut politisi. Politisi terjebak di posisi lemah karena keperluan mereka untuk meminta sumbangan keuangan untuk kampanye mereka. Sering mereka terlihat untuk bertindak hanya demi keuntungan mereka yang telah menyumbangkan uang, yang akhirnya menyebabkan munculnya tuduhan korupsi politis.

[sunting] Tuduhan korupsi sebagai alat politik
Sering terjadi di mana politisi mencari cara untuk mencoreng lawan mereka dengan tuduhan korupsi. Di Republik Rakyat Cina, fenomena ini digunakan oleh Zhu Rongji, dan yang terakhir, oleh Hu Jintao untuk melemahkan lawan-lawan politik mereka.

[sunting] Mengukur korupsi
Mengukur korupsi - dalam artian statistik, untuk membandingkan beberapa negara, secara alami adalah tidak sederhana, karena para pelakunya pada umumnya ingin bersembunyi. Transparansi Internasional, LSM terkemuka di bidang anti korupsi, menyediakan tiga tolok ukur, yang diterbitkan setiap tahun: Indeks Persepsi Korupsi (berdasarkan dari pendapat para ahli tentang seberapa korup negara-negara ini); Barometer Korupsi Global (berdasarkan survei pandangan rakyat terhadap persepsi dan pengalaman mereka dengan korupsi); dan Survei Pemberi Sogok, yang melihat seberapa rela perusahaan-perusahaan asing memberikan sogok. Transparansi Internasional juga menerbitkan Laporan Korupsi Global; edisi tahun 2004 berfokus kepada korupsi politis. Bank Dunia mengumpulkan sejumlah data tentang korupsi, termasuk sejumlah Indikator Kepemerintahan.

[sunting] Lihat pula
• • • • • •

Korupsi di Indonesia Pemberantasan korupsi di Indonesia Kasus-kasus korupsi di Indonesia Daftar pejabat Indonesia yang dipenjara KKN Kolusi

• • • •

Nepotisme Komisi Pemberantasan Korupsi Premanisme Pungut liar

[sunting] Referensi

Sebagian besar dari isi artikel ini diambil dari halaman wikipedia berbahasa Inggris yang setara. Referensi berikut ini disebutkan oleh artikel berbahasa Inggris tersebut: Axel Dreher, Christos Kotsogiannis, Steve McCorriston (2004), Corruption Around the World: Evidence from a Structural Model

[sunting] Pranala luar
• • • • • • •

(en) Konvensi PBB melawan Korupsi di Law-Ref.org (en) OECD: Korupsi (en) Halaman antikorupsi Bank Dunia (en) UN Office on Drugs and Crime (en) Perpustakaan maya Development Gateway dan komunitas maya dalam hal antikorupsi dan pemerintahan yang baik (en) Indonesia Corruption Watch (id) Transparency International Indonesia Corruption is the greatest obstacle... ...to reducing poverty

It distorts the rule of law, weakens a nation's institutional foundation, and severely affects the poor who are already the most disadvantaged members of our society... It is important to go beyond the symptoms of corruption to tackle it in a sustainable manner...

Memberantas Korupsi dengan JUJUR
05/11/2009 in Artikel | Tags: al-Amin, Islam, istiqomah, jamaah, jujur, kebenaran, korupsi, muslim sejati, zaman jahiliyah Ada sebuah peristiwa penuh hikmah ketika seorang sahabat baru masuk Islam. “Pada suatu hari datanglah seorang arab badui menghadap Rasulullah SAW. Ia meyatakan diri ingin masuk agama Islam. Namun ia mengajukan syarat ingin masuk Islam, tapi tidak mau meninggalkan kebiasaan (buruk) lamanya seperti berzina, minum-minuman keras dan mencuri.

Rasulullah SAW dengan ramah dan bijaksana memperbolehkan orang tersebut masuk Islam, tapi dengan syarat juga yaitu ia harus “jujur” serta bersedia sholat berjamaah di masjid. Sebuah syarat yang sangat mudah pikirnya, kemudian ia terima dengan gembira. Sejak itu resmilah ia menjadi seorang muslim. Setiap usai sholat berjamaah dan pemberian pelajaran tentang Islam si arab badui tersebut selalu ditanya aktivitas kesehariannya. Maka ia pun dengan jujur menjawab bahwa ia masih melakukan kebiasaan lamanya itu. Ia tidak bisa berbohong sebab ia telah berjanji untuk jujur. Singkat riwayat dengan konsisten (istiqomah) mengamalkan “jujur”, seorang arab badui akhirnya berhasil secara alami meninggalkan kebiasaan (buruk) lamanya, sehingga ia sukses menjadi “muslim sejati“. Sebuah syarat masuk agama Islam yang sepertinya sepele tetapi sungguh sangat dahsyat efeknya. Islam adalah agama sempurna (baca: penyempurna) yang diturunkan sebagai rahmat bagi alam semesta ‘ditranskrip’ dalam Al-Qur’an kepada manusia pilihan (Insan Kamil) Muhammad SAW mulai usia 40 tahun. Seperti kita ketahui bahwa pada usia 40 tahun lah Muhammad memperoleh mandat sebagai Nabi dan Utusan Allah karena sebelumnya beliau berhasil mempertahankan gelar honoris causa “al-Amin” atau manusia paling jujur dari kaum Quraisy. Gelar kehormatan bidang akhlaqul karimah ini dianugerahkan dengan kesadaran penuh dari semua kalangan pada kurun waktu itu tanpa kecuali. Bayangkan setidaknya selama 40 tahun lebih beliau tanpa cacat mempertahankan gelar itu dengan yudisium “summa cumlaude”. Oleh sebab itu, sangat logis apabila Rasulullah SAW mensyaratkan harus jujur kepada orang badui yang ingin masuk Islam tersebut. Ketika Muhammad SAW mendapat gelar Nabi dan Rasulullah maka saat itu menandai mulai masuknya ajaran keimanan dan keislaman dalam spirit jujur. Ketika itu beliau hadir pada zaman jahiliyah. Banyak orang menyebutnya zaman kebodohan. Zaman jahiliyah adalah masa yang penuh kesombongan dan kebohongan. Masa yang penuh keserakahan. Kondisi seperti itu kira-kira sama suasananya dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Bangsa Indonesia saat ini adalah bangsa yang sungguh sangat ironis, kritis dan krisis dalam semua aspek di tengah kekayaan alam yang melimpah ruah. Namun tragisnya bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya pemeluk agama Islam itu menduduki peringkat atas dalam budaya korupsi. Predikat tersebut masih terus bertahan walaupun sudah mengalami reformasi yang melelahkan. Budaya korupsi sama dengan budaya jahiliyah (baca: budaya pembodohan) seperti budaya tidak adil, budaya penindasan dan budaya mengurangi timbangan (baca: budaya mark up). Istilah korupsi sendiri berasal dari kata “corrupt” atau “corruption” yang artinya merusak (“fasad” dalam bahasa Arab), curang, merubah, memanipulasi, mengurangi, mencuri atau lebih tegasnya “maling”. Jadi kesimpulannya bahwa koruptor itu adalah orang yang membuat kerusakan di muka bumi yang selayaknya disebut penipu atau maling.

Ada baiknya kita belajar dari film fiksi hollywood yang berjudul “Intranskrip” (? mohon maaf kalo tidak persis) yang pernah disiarkan di televisi swasta Indonesia. Film ini bercerita tentang suatu formula untuk merubah sistem kehidupan secara sistematik dan otomatis. Formula tersebut diambil dari kitab Taurat. Ketika formula itu di-”install”-kan maka seluruh aspek kehidupan berubah secara berantai, langsung maupun tidak langsung, baik sadar atau tidak sadar. Penulis terinspirasi dengan film tersebut. Kemudian terpikir kira-kira formula apa yang bisa kita “install”-kan untuk merubah budaya korupsi / jahiliyah di Indonesia saat ini. Akhirnya penulis membuat hipotesis berdasarkan fakta dan model di atas, baik dalam konteks budaya atau bernegara. Adalah jujur sebagai nilai luhur Islam yang telah dicontohkan Muhammad SAW, bisa dijadikan sebuah formula untuk memutus lingkaran setan dalam pemberantasan korupsi. Sebuah kunci pemecahan yang sederhana tetapi memiliki dampak yang efektif, berantai serta sanggup menjadi solusi permasalahan lain dan seluruh turunan permasalah tersebut. Maka penulis optimis hanya ada satu kata untuk perubahan revolusioner yang alami (sesuai fitrah dan kodrat alam) adalah jujur. Sampai saat ini penulis belum menurunkan formula tersebut pada tingkatan yang lebih praksis, terutama bagaimana teknisnya meng-”istall”-kan formula tersebut. Namun demikian kita dapat memulainya sekarang juga dari diri sendiri dalam hidup bermasyarakat yaitu budayakan hidup “jujur”. Tradisikan berprilaku jujur. Biasakan berlaku jujur. Sampaikan “Kebenaran” dengan “jujur“. Tegakkan kemuliaan Islam dengan jujur. Selamatkan diri Anda dengan jujur. Maka janji-Nya dalam al-Qur’an surat al-Fath ayat pertama yaitu, “Inna fatahna laka fathan mubiinaa” ["Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata," (QS Al Fath, 48:1)], menjadi sebuah yang niscaya. Formulasi “jujur” tersebut dapat diujicobakan dalam sistem rekrutmen dan pembinaan bagi para penyelenggara negara. Misal, adanya suatu test kejujuran untuk para calon pejabat dan training kejujuran untuk para pejabat baru. Jujur bukanlah berarti membuka aib sendiri. Rahasia negara / perusahaan / rumahtangga adalah aib yang harus ditutupi dari pihak luar. Transparansi pengelolaan adalah bentuk kejujuran dari dalam. Resiko tidak menjalani kejujuran adalah tumbuhnya budaya jahiliyah (baca: pembodohan dan penindasan). Formulasi untuk suatu perubahan yang sistematik dan kongkrit menuju baldatun thoyyibatun wa rabbun ghaffur adalah jujur (Islam Code). Mulailah sekarang juga untuk “tidak bebohong” (“jujur”). Hal ini berlaku bagi siapapun untuk berjuang terus mengamalkan “jujur” secara istiqomah, karena berjuang (jihad) tidak mengenal kata menyerah. Semoga kita bisa mengamalkannya. Formula ini sudah teruji keberhasilannya setidaknya dari dua contoh berikut. Pertama adalah contoh sukses yang berhasil secara monumental yaitu “qurun” Rasulullah SAW pada 14 abad yang lalu. Hasil kongkretnya peradaban jahiliyah berubah menjadi peradaban Islam meliputi tiga benua secara revolusioner dalam waktu relatif sebentar.

Contoh kedua adalah kemajuan masyarakat Jepang. Berdasarkan studi kilat penulis maka dapat disimpulkan bahwa saat ini peringkat pertama teratas bangsa paling “jujur” di dunia adalah bangsa Jepang dengan nilai 90%. Mayoritas penduduknya bukan muslim tetapi apabila seseorang kehilangan dompetnya di tempat umum maka 90% kemungkinannya kembali dalam waktu kurang lebih 15 menit. Peringkat kedua terbawah bangsa paling “jujur” adalah Indonesia dengan nilai 10% yang notabene 90% penduduknya penganut agama Muhammad SAW, yaitu Islam. Bagaimana bukti dan hasilnya? Kongkrit dan bisa disaksikan oleh mata kepala sendiri. Maka tidak bisa dinafikan bahwa jujur adalah syarat bagi terwujudnya peradaban gemilang. Jujur adalah sebuah kunci (formula) sekaligus pra-syarat yang tidak bisa ditawar lagi untuk pemberantasan budaya korupsi di Indonesia. Wa Allahu a’lamu bi al-showaabi. Oleh: Amin Bunyamin (aktivis KMNU)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->