You are on page 1of 2

Antibiotik Polipeptida : Polymyxyn

Terdiri dari polimiksin B, polomiksin E (=kolistin), basitrasin dan gramisin, yang bercirikan
struktur polipeptida siklis dengan gugus amino bebas.
Antibiotik merupakan zat aktif yang berasal dari mikroorganisme ataupun sintesis (buatan) yang
dapat digunakan dalam konsentrasi rendah untuk menghambat atau membunuh organisme, baik
bakteri, Mycoplasma maupun protozoa. Secara khusus antibiotik digunakan untuk pengobatan penyakit
infeksi. Antibiotik bekerja dengan cara menekan atau memutus mata rantai metabolisme dalam tubuh
mikroorganisme. Berbeda dengan desinfektan yang membasmi bibit penyakit dengan menciptakan
lingkungan yang tidak sesuai bagi bibit penyakit tersebut.
Karakteristik suatu antibiotik yaitu memiliki aktivitas menghambat (bakteriostatik) atau membunuh
(bakterisid) mikroorganisme patogen. Toksisitas antibiotik juga bersifat selektif. Antibiotik dalam dosis
tepat akan mampu secara aktif membunuh bibit penyakit dan mempunyai indeks terapi yang relatif aman.
Ada bermacam-macam antibiotik salah satunya adalah antibiotik Peptida. Antibiotik ini bekerja aktif
membunuh (bakterisid) bakteri Gram (-) dengan cara merusak atau menghambat membran sel, Khasiat
bakterisidnya berdasarkan aktivitas permukaan dan kemampuannya untuk melekatkan diri pada membran
sel bakteri, sehingga permeabilitas sel meningkat dan akhirnya sel meletus. Kerjanya tidak tergantung
dari keadaan membelah tidaknya kuman, maka dapat dikombinasi dengan antibiotik bakteriostatis, seperti
kloramfenikol dan tetrasiklin. Antibiotik golongan peptida merupakan sistem pertahanan dari semua
bentuk kehidupan beberapa makluk hidup dari mikroorganisme, tanaman, spesies invertebrata dan
vertebrata termasuk mamalia. Dalam banyak hal, peran utama antibiotik peptida adalah untuk membunuh
mikroba patogen musuh, disamping itu ada beberapa antibiotik peptida yang berfungsi sebagai respon
sistem kekebalan dari organisme derajat yang lebih tinggi seperti mamalia (Jenssen, et.al 2006)
Sintesis peptida dilakukan dengan menggabungkan gugus karboksil salah satu asam amino
dengan gugus amina dari asam amino yang lain. Sintesis peptida dimulai dari C-terminus (gugus
karboksil) ke N-terminus (gugus amin), seperti yang terjadi secara alami pada organisme. Namun, untuk
mensintesis peptida, tidak semudah mencampurkan asam amino begitu saja. Seperti contohnya:
mencampurkan glutamine (E) dan serine (S) dapat menghasilkan E-S, S-E, S-S, E-E, dan bahkan
polipeptida seperti E-S-S-E-E. Untuk menghindari asam amino berikatan tidak terkendali, perlu dilakukan
perlindungan dan kontrol terhadap ikatan peptida yang akan terjadis sehingga ikatan yang terbentuk
sesuai dengan yang diinginkan. Langkah-langkah sintesis peptida adalah sebagai berikut: asam amino
ditambahkan gugus proteksi. Kemudian asam amino yang diproteksi dilarutkan dalam pelarut seperti
dimetyhlformamide (DMF) yand digabungkan dengan coupling reagents dipompa melalui kolom sintesis.
Grup proteksi dihilangkan dari asam amino melalui reaksi deproteksi. Kemudian pereaksi deproteksi
dihilangkan agar tercipta suasana penggabungan yang bersih. Coupling reagents, contohnya N,N'dicyclohexylcarbodiimide (DCCI), membantu pembentukan ikatan peptida. Setelah reaksi coupling
terbentuk, coupling reagents dicuci untuk menciptakan suasana deproteksi yang bersih. Proses proteksi,
deproteksi, dan coupling ini terus dilakukan berulang-ulang hingga tercipta peptida yang diinginkan.
Kurang lebih 800 antibiotik golongan peptida telah ditemukan dan dipelajari oleh beberapa
peneliti, sebagian dari antibiotik peptida tersebut telah masuk dalam uji klinik dan telah digunakan dalam
beberapa obat klinik seperti actinomycin, gramicidine, bacitracin, polymyxyn, tyrocidine, dan masih
banyak lagi antibiotik peptida lainnya (Dubin et.al 2005).

Dalam paper ini akan menjelaskan tentang polymyxin. Polymyxin merupakan golongan peptida basa dan
merupakan salah satu dari lima antibiotik polipeptida yang berasal dari berbagai spesies dari kelompok
Bacillus bakteri tanah yang aktif terhadap bakteri gram negatif seperti Escherichia coli dan Pseudomonas
aeruginosa. Polymyxin dapat diberikan secara oral, topikal atau parenteral, termasuk intrathecally dan
intraperitoneal. Polymyxin mengerahkan efeknya pada membran sel bakteri dengan mempengaruhi
fosfolipid dan mengganggu fungsi membran dan permeabilitas, yang menyebabkan kematian
sel. Polymyxins lebih efektif terhadap Gram-negatif daripada Gram-bakteri positif dan efektif terhadap
semua bakteri Gram-negatif kecuali Proteus spesies. Antibiotik ini bertindak sinergis dengan sulfonamid
potentiated, tetrasiklin dan antimikroba tertentu lainnya. Polymyxin juga membatasi aktivitas endotoksin
dalam tubuh cairan dan oleh karena itu, mungkin bermanfaat dalam terapi untuk endotoksemia.
Pnggunaan antibiotik ini sangat toksis bagi ginjal, polimiksin juga bagi orga pendengaran. Oleh
karena ini penggunaan parenteralnya pada infeksi psedomonas kini sudah ditinggalkan dengan adanya
antibiotika lain yang lebih aman, seperti gentamisin dan sefalosforin.