You are on page 1of 24

LAPORAN KASUS

BBLR + ASFIKSIA BERAT

Dibimbing Oleh :

dr. I Nyoman Budastra. Sp.A

Disusun Oleh :
Mariza Apriyana
07060015

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


DI BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FK UNIVERSITAS ISLAM AL-AZHAR /RUMAH SAKIT KOTA MATARAM
MATARAM
2014

BAB I
LAPORAN KASUS
1.1. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Bayi F

Jenis Kelamin

: laki laki

Umur

: 0 hari

Tanggal masuk

: 12 juli 2014

Tanggal periksa

: 12 juli 2014

Tanggal Lahir

: 12 juli 2014 pukul 14.30.WITA

No. RM

: 123729

Nama
Umur
Pendidikan/Berapa tahun
Pekerjaan

Ibu
Ny. Bq. F
36 th
S1
Guru

Ayah
Tn. S
37 th
S1
Swasta

1.2. ANAMNESA
Keluhan Utama :
Tidak langsung menangis
Riwayat Penyakit Sekarang :
Bayi laki laki lahir secara spontan di taxi saat perjalanan menuju rumah
sakit kota mataram. Bayi lahir sekitar 3 menit sebelum sampai rumah sakit. Bayi lahir
tidak langsung menangis dengan AS 1 3 dan dikatakan sudah membiru. Setiba
dirumah sakit bayi langsug dilarikan ke NICU. Bayi lahir dengan BB 2200 gram. Ibu
pasien mengatakan warna air ketuban jernih tidak bercampur mekonium. Tidak
terdapat kelainan pada bayi.
Riwayat Kehamilan Ibu Sekarang :

Ibu pasien mengaku ini adalah kehamilannya yang ketiga. Selama hamil ibu
pasien menjalani ANC di praktek dr. spesialis obgyn, ibu pasien mengaku tidak ada
masalah dengan kehamilannya yang sekarang. Menurut perkiraan dari dokter
spesialisnya, seharusnya ibu pasien melahirkan di bulan September. ibu pasien lupa
HPHT. Ibu pasien tidak pernah mengalami sakit seperti panas, batuk, pilek. Riwayat
trauma selama hamil (-). Riwayat perdarahan melalui jalan lahir (-). Riwayat
mengkonsumsi obat-obatan dan jamu selama kehamilan (-).
Riwayat Persalinan Sekarang:
Bayi lahir spontan B di taxi, tidak langsung menangis BBL 2200 gram. Apgar
skor 1 - 3, kecepatan nafas tidak teratur, tampak retraksi dinding dada, serta suhu
tubuh di bawah normal. Suntikan Vit. K dan salep mata (+). Bayi lahir dengan kondisi
belum cukup bulan.
Riwayat Imunisasi
Hepatitis B1 setelah lahir
Riwayat kehamilan dan persalinan sebelumnya:
Ibu pasien mengaku ini adalah kehamilannya yang ketiga. Selama hamil ibu
pasien memeriksakan kehamilannya ke dokter spesialis obgyn.

Anak I

: Perempuan , BB 2900 gram, lahir di RSUP mataram,

spontan, hidup, usia 6 tahun..

Anak ke II

: Laki laki , BB 3500 gram, lahir di RS Kota Mataram, SC ai

gagal OD, hidup, usia 2,5 tahun

Anak ke III : kehamilan yang sekarang

Riwayat Nutrisi Kehamilan

Ibu pasien mengaku selama hamil rajin mengkonsumsi buah buahan dan
sayur sayuran serta vitamin penambah darah. Ibu juga rajin mengkonsumsi susu ibu
hamil.
Riwayat keluarga:
Riwayat penyakit jantung bawaan dalam keluarga (-), penyakit asma (-),
penyakit DM (-), hipertensi (-).
Riwayat Social Ekonomi
Ibu pasien merupakan guru di sebuah SMP di mataram. Dalam satu rumah
dihuni oleh 4 orang yakni ibu, suami dan anak anak pasien. Suami pasien bekerja
wiraswasta dengan gaji Rp. 1.500.00 2.500.000/perbulan.
1.3. PEMERIKSAAN FISIK
Tanda Tanda Vital :
Keadaan umum

: tampak lemah

Suhu

: 35,4 oC

RR

: 64 x/menit

Nadi

:127 x/menit

Antropometri

Berat Badan

: 2200 gram

Panjang Badan

: 39 cm

Lingkar Kepala

: 30 cm

Lingkar dada

: 27 cm

Lingkar Lengan Atas : 3 cm

New Ballard Score

Maturitas neoromuskular
a. Sikap tubuh

: skor 3

b. Jendela siku siku

: skor 2 (45o)

c. Recoil lengan

: skor 4 (< 90 o)

d. Sudut poplitea

: skor 2 (120 o)

e. Tanda selempang

: skor 2

f. Tumit ke kuping

: skor 2

Maturitas fisik
a. Kulit

: merah halus, tampak gambaran vena (1)

b. Lanugo

: halus (2)

c. Permukaan plantar

:garis kaki hanya di anterior (2)

d. Payudara

: areola rata tanpa bantalan (1)

e. Mata / telinga

: sedikit melengkung, lunak recoil lambat (1)

f. Genital (pria)

:testis sudah turun, terlihat guratan cukup jelas

(2)
Jumlah skor total

: 24 (umur kehamilan 32 34 minggu)

Evaluasi Skor Down


a. Frekunsi nafas

: 64 x/menit (skor 1)

b. Retraksi

: retraksi ringan (skor 1)

c. Sianosis

: sianosis hilang dengan O2 (skor 1)

d. Air entry

: penurunan ringan udara masku (skor 1)

e. Merintih

: tidak merintih (skor 0)

Total skor

Frekuensi napas
Retraksi
Sianosis

: 4 (gawat nafas)
0
< 60 x/menit
Tidak ada retraksi
Tidak sianosis

1
60 80 x/menit
Retraksi ringan
Sianosis
hilang

dengan O2
masuk Penurunan

Air entry

Udara

Merintih

bilateral baik
Tidak merintih

2
> 80 x/menit
Retraksi berat
Sianosis menetap

walaupun diberi O2
ringan Tidak ada udara

udara masuk
masuk
Dapat
didengar Dapat
dengan stetosko

didengar

tanpa alat bantu

Penilaian :
Skor < 4

: Tidak ada gawat nafas

Skor 4 7

: Gawat nafas

Skor

: Ancaman gagal nafas

STATUS GENERALIS
Kepala:
Bentuk kepala

: Normocephali, kelainan (-), fontanella datar, sutura normal,


caput succedaneum (-), dan cephal hematom (-),

Mata

: konjungtiva anemis (-), sklera ikterus (-), pupil isokor, refleks


cahaya +/+, miosis (-), midriasis (-), sekret mata (-)

Telinga

: dalam batas normal

Hidung

: pernapasan cuping hidung (-/-)

Mulut

: Mukosa sianosis (+)

Leher:
Pembesaran kel. Tiroid (-).
Thoraks
Inspeksi

: dinding dada simetris, retraksi dinding dada (+/+) minimal

Palpasi

: gerakan diding dada simetris

Perkusi

: sonor dikedua lapang paru

Auskultasi : Pulmo: bronkhovesikuler +/+, rh -/-, wh -/Cor: S1S2 tunggal regular, murmur (-), gallop (-).
Abdomen
Inspeksi

: distensi (-), organomegali (-), kelainan congenital (-)

Auskultasi : bising usus Normal


Palpasi

: massa (-), supel (+), hepar-lien tidak teraba.

Perkusi

: timpani (+) diseluruh lapang abdomen

Umbilicus
Tampak basah, warna kuning kehijauan (-), edema (-), kemerahan (-) pada pangkal
umbilicus.
Genitalia
6

Normal.
Anus dan rektum
Anus (+)
Ekstremitas
Akral hangat, edema (-), gerakan sedikit/ lemah, kelainan bentuk (-).
Kulit
Kulit: ikterus (-), sianosis (+).

1.4. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Darah Lengkap 12 juli 2014:
Hematologi
WBC
RBC
HB
HCT
MCV
MCH
MCHC
PLT

Nilai
8, 4 103 /L
4, 18 106 /L
13, 7 g/dL
41,2 %
98.6 fL
32,8 pg
33,3 g/dL
80 103 /L

GDS

69

Nilai normal
4.0 10.0
3.50 5.50
11. 0 15.0
36.0 48. 0
80.0 99.0
26.0 32.0
32.0 36.0
150 380

1.5. RESUME
Pada tanggal 12 juli 2014 pukul 14.30 WITA lahir seorang bayi laki laki ,
berusia 0 hari, tidak langsung menangis dengan APGAR 1 3 , Bayi lahir dengan BB
2200 gram, Panjang Badan

: 39 cm. Air ketuban jernih tidak bercampur mekonium.

Tidak terdapat kelainan pada bayi. Bayi tampak lemah, dengan Suhu: 35,4 oC, RR :
64 x/menit Nadi :127 x/menit.pada pemeriksaan fisik didapatkan hasil new ballard
score usia kehamilan 32 34 minggu, evaluasi skor down adanya gawat nafas.
Didapatkan sianosis sentral dan perifer , terdapat retraksi dinding dada minimal. Pada
pemeriksaan hasil laboratorium didapatkan WBC 8, 4 10 3 /L, HB 13, 7 g/dL, HCT

41,2 %, 80 103 /L dan GDS 69. Pasien langsung dirawat di NICU Rumah Sakit
Mataram.
1.6. DIAGNOSIS KERJA
BKB SMK + BBLR + ASFIKSIA BERAT DENGAN GAWAT NAFAS
1.7. RENCANA TERAPI

Resusitasi bayi

Rawat inkubator

Oksigen

: 1 lpm

Infus D10%

: 7 tpm (mikro)

Cefotaxim 2 x 125 mg

Observasi kondisi umum & tanda vital; jaga kehangatan (suhu: 36,5-37,5 C).

1.8. USULAN PEMERIKSAAN

Darah lengkap.
Gula darah sewaktu

FOLLOW UP
Hari/ tgl
I
12/07/2014
Jam (16.30)

S
Gerak

O
aktif KU : lemah

(+) kurang

N : 147 x/menit

A
P
BKB SMK D10% 7 tpm
+ BBLR +
post asfiksia

berat tanpa

Menangis (+) RR: 48 x/m


lemah
T : 36,0C
gawat nafas
Reflek hisap
Retraksi
(+)
(+) lemah
minimal
Muntah(-)
Sianosis (-)
Demam (-)
Distensi (-)
BAB (-)
BB: 2200 gr

O2 1 lpm
Inj. Cefotaxim 2 x
125 mg
Puasa

BAK (+)

II
13/07/2014

Gerak

aktif KU : sedang

(+)

N : 138x/mnt

Menangis

RR: 42 x/m

kuat (+)

T : 36,5C

Reflek hisap
kuat (+)
Muntah(-)
Demam (-)
BAB (+)

Retraksi

(+)

minimal .

BKB SMK

D10% 8 tpm

+ BBLR +
post asfiksia

berat tanpa

O2 1 lpm

gawat nafas
+ hidrokel

Inj. Cefotaxim 2 x
125 mg
Puasa

Sianosis (-)
Distensi (-)
Hidrokel (+)

BAK (+)

Kulit kuning (-)


BB: 2150 gr

III
14/07/2014

Gerak

aktif KU : sedang

(+)

N : 143x/mnt

Menangis

RR: 47 x/m

kuat (+)

T : 37,0C

Reflek hisap
kuat (+)
Muntah(-)
Demam (-)

Retraksi
minimal .

BKB SMK

D10% 8 tpm

+ BBLR +
post asfiksia

Inj. Cefotaxim 2 x
125 mg

berat tanpa Gentamisin salep


gawat nafas.
ASI on demand
(-)
+ hidrokel +

Sianosis (-)

ompalitis

Distensi (-), tali


9

BAB (+)

pusat lembek

BAK (+))

Kulit kuning (-)


Hidrokel (+)
BB: 2100 gr

IV
15/07/2014

Gerak

aktif KU : baik

(+)

N : 143x/mnt

Menangis

RR: 47 x/m

kuat (+)

T : 37,0C

Reflek hisap
kuat (+)
Muntah(-)
Demam (-)

BKB SMK

D10% 8 tpm

+ BBLR +
post asfiksia

Inj. Cefotaxim 2 x

berat tanpa
gawat nafas.

(-)
+ ompalitis

Retraksi
minimal .

125 mg
Gentamisin salep
ASI on demand

Sianosis (-)
Distensi (-), tali

BAB (+)

pusat

BAK (+))

lembek

masih

Hidrokel (-)
Kulit kuning (-)
BB: 2150 gr

10

VI
16/07/2014

Gerak

aktif KU : baik

(+)

N : 143x/mnt

Menangis

RR: 42 x/m

kuat (+)

T : 36,8C

Reflek hisap
kuat (+)
Muntah(-)
Demam (-)

Retraksi
minimal .

BKB SMK

D10% 8 tpm

+ BBLR +
post asfiksia

Inj. Cefotaxim 2 x

berat tanpa
gawat nafas.

(-)
+ ompalitis

125 mg
Gentamisin salep
ASI on demand

Sianosis (-)
Distensi (-), tali

BAB (+)

pusat

BAK (+)

mengering

mulai

Hidrokel (-)
Kulit kuning (-)
VII
17/07/2014

Gerak

BB: 2150 gr
aktif KU : baik

BKB SMK

N : 143x/mnt

+ BBLR +

Menangis

RR: 42 x/m

post asfiksia

kuat (+)

T : 36,8C

(+)

Reflek hisap
kuat (+)
Muntah(-)
Demam (-)

Retraksi

BPL

berat tanpa
(-)

gawat nafas

minimal .
Sianosis (-)
Distensi (-), tali

BAB (+)

pusat

BAK (+)

mengering

sudah

Hidrokel (-)
Kulit kuning (-)
BB: 2150 gr

11

1.9. PROGNOSIS
Quo ad vitam
: bonam
Quo ad fungsional : bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. ASFIKSIA
2.1.1.
Definisi
Asfiksia neonatorum adalah kegagalan napas secara spontan dan teratur pada
saat lahir atau beberapa saat setelah saat lahir yang ditandai dengan hipoksemia,
hiperkarbia dan asidosis 1
Menurut American College of Obstetricans and Gynecologists (ACOG) dan
American Academy of Pediatrics (AAP), seorang neonatus disebut mengalami
asfiksia bila memenuhi kondisi sebagai berikut : 1,2
a.
Nilai Apgar menit kelima 0-3.
b.
Adanya asidosis pada pemeriksaan darah tali pusat (pH<7.0).
c.
Gangguan neurologis (misalnya: kejang, hipotonia atau koma).
d. Adanya
gangguan
sistem
multiorgan
(misalnya:
e.

gangguan

kardiovaskular,gastrointestinal, hematologi, pulmoner, atau sistem renal).


Asfiksia dapat bermanifestasi sebagai disfungsi multi organ, kejang dan
ensefalopati hipoksik-iskemik, serta asidemia metabolik. Bayi yang
mengalami episode hipoksia-iskemi yang signifikan saat lahir memiliki
risiko disfungsi dari berbagai organ, dengan disfungsi otak sebagai

2.1.2.

pertimbangan utama.
Patofisiologi 1

12

Bayi baru lahir menunjukkan karakteristik yang unik. Transisi dari kehidupan
janin intrauterine ke ehidupan bayi ekstrauterin, menunjukkan perubahan sebgai
berikut. Alveoli paru janin dalam uterus berisi cairan. Pada saat lahir dan bayi
mengambil nafas pertama, udara memeasuki alveoli paru dan cairan diabsorbsi oleh
jaringan paru. Pada nafas kedua dan berikutnya, ydara yang masuk alveoli
bertambah banyak dan cairan paru diabsorbsi sehingga kemudia seluruh alveoli
berisi udara yang mengandung oksigen. Aliran darah paru meningkat secar drastic.
Hal ini disebabkan ekspansi paru yang membutuhkan tekanan puncak ispirasi dan
tekanan akhir ekspirasi yang lebih tinggi. Ekspansi paru dan peningkatan tekanan
oksigen alveoli, keduanya menyebabkan penurunan resistensi vaskuler paru dan
peningkatan aliran darah paru setelah lahir. Aliran intrakardial dan ekstrakardial
mulai beralih arah yang kemudian diikuti penutupan duktus arteriosus. Kegagalan
penurunan resistensi vaskuler paru menyebabkan hipertensi pulmonal persisten pada
bayi baru lahir, dengan aliran darah paru yang inadekuat dan hipoksemia relatf.
Ekspansi paru yan inadekuat menyebabkan gagal nafas. 1
2.1.3.

Faktor resiko 1
Factor resiko pada bayi karena asfiksia dapat terjadi antepartum dan intrapartum 1
1. Antepartum
o Diabetes pada ibu
o Hieprtensi dalam kehamilan
o Hieprtensi kronik
o Anemia janin
o Riwayat kematian janin atau neonates
o Perdarahan pada trimester dua dan ketiga
o Infeksi ibu
o Ibu dengan penyakit jantung, paru, tiroid
o Polihidramnion
o Oligohidramnion
o Ketuban pecah dini
o Kehamilan lewat waktu
o Kehamilan ganda
o Usia < 16 atau > 35 tahun IDAI

13

2.

2.1.4.

Intrapartum
Seksio darurat
Kelahiran dengan ekstra forsep atau vakum

Letak sungsang atau presentasi abnormal

Kelahiran kurang bulan

Partus presipitatus

Korioamnionitis

Ketuban pecah lama (. 18 jam sebelum persalinan)

Partus lama (> 24 jam)

Kala II lama

Air ketuban bercampur mekonium

Plasenta previa

Perdarahan intrapartum

Prolaps tali pusat


Diagnosis
Asfiksia dapat terjadi selama periode intrauterine atau antepartum, durante

partum maupun postpartum. Diagnosis durente atau postpartum dapat ditegakkan


berdasarkan nilai skor Apgar pada menit 1 dan 5. Variable yang diamati adalah : 2

Penilaian klinis : 2
Sehat (virgorous baby)
Asfiksia sedang
Asfiksia berat

: skor apgar 7 10
: skor APgar 4 6
: skor Apgar 0 3

14

2.1.5.

Penatalaksanaan 1
Tujuan utama mengatasi asfiksia ialah untuk mempertahankan kelangsungan

hidup bayi dan membatasi gejala sisa yang mungkin timbul di kemudian hari.
Tindakan yang dikerjakan pada bayi lazim disebut resusitasi bayi baru lahir.
Penilaian awal dilakukan pada setiap bayi baru lahir untuk menetukan apakah
tindakan resusitasi harus segera dimulai. Segera setelah lahir dilakukan penilaian
pada semua bayi dengan cara melihat :
1.
Apakah bayi lahir cukup bulan ?
2.
Apakah air ketuban jernih dan tidak bercampur mekonium ?
3.
Apakah bayi bernapas adekuat atau menangis ?
4.
Apakah tonus otot baik ?
Apabila semua jawaban diatas Ya, berarti bayi baik dan tidak memerlukan
tindakan resusitasi. Pada bayi ini segera dilakukan Asuhan Bayi Normal. Bila salah
satu atau lebih jawaban tidak, bayi memerlukan tindakan resusitasi segera.
1). Langkah awal dalam stabilisasi
a.
Memberikan kehangatan
Bayi diletakkan dibawah alat pemancar panas (radiant warmer)
dalam keadaan telanjang agar panas dapat mencapai tubuh bayi dan
b.

memudahkan eksplorasi seluruh tubuh.


Memposisikan bayi dengan sedikit menengadahkan kepalanya
Bayi diletakkan telentang dengan leher sedikit tengadah dalam
posisi menghidu agar posisi farings, larings dan trakea dalam satu
garis lurus yang akan mempermudah masuknya udara. Posisi ini
adalah posisi terbaik untuk melakukan ventilasi dengan balon dan

c.

sungkup atau untuk pemasangan pipa endotrakeal.


Membersihkan jalan napas sesuai keperluan
Aspirasi mekoneum saat proses persalinan dapat menyebabkan
pneumonia aspirasi. Bila terdapat mekoneum dalam cairan amnion dan
bayi tidak bugar (bayi mengalami depresi pernapasan, tonus otot
kurang dan frekuensi jantung kurang dari 100x/menit) segera
dilakukan penghisapan trakea sebelum timbul pernapasan untuk
mencegah sindrom aspirasi mekonium. Bila terdapat mekoneum dalam

15

cairan amnion namun bayi tampak bugar, pembersihan sekret dari


d.

jalan napas dilakukan seperti pada bayi tanpa mekoneum.


Mengeringkan bayi, merangsang pernapasan dan meletakkan pada
posisi yang benar
Meletakkan pada posisi yang benar, menghisap sekret, dan
mengeringkan akan memberi rangsang yang cukup pada bayi untuk
memulai pernapasan. Bila setelah posisi yang benar, penghisapan
sekret dan pengeringan, bayi belum bernapas adekuat, maka
perangsangan taktil dapat dilakukan dengan menepuk atau menyentil
telapak kaki, atau dengan menggosok punggung, tubuh dan
ekstremitas bayi.

2). Ventilasi tekanan positif


Setelah dilakukan langkah awal resusitasi, ventilasi tekanan positif
harus dimulai bila bayi tetap apnea setelah stimulasi atau pernapasan tidak
adekuat, dan/atau frekuensi jantung memadai tetapi sianosis sentral, bayi
diberi oksigen aliran bebas. Bila setelah ini bayi tetap sianosis, dapat dicoba
melakukan ventilasi tekanan positif.
3). Pemberian Oksigen
Bila bayi masih terlihat sianosis sentral, maka diberikan tambahan
oksigen.

Pemberian

oksigen

aliran

bebas

dapat

dilakukan

dengan

menggunakan sungkup oksigen, sungkup dengan balon tidak mengembang


sendiri, T-piece resuscitator dan selang/pipa oksigen.
Pemberian oksigen 100% tidak dianjurkan pada bayi kurang bulan
karena dapat merusak jaringan. Penghentian pemberian oksigen dilakukan
secara bertahap bila tidak terdapat sianosis sentral lagi yaitu bayi tetap merah
atau saturasi oksigen tetap baik walaupun konsentrasi oksigen sama dengan
konsentrasi oksigen ruangan. Bila bayi kembali sianosis, maka pemeberian
oksigen perlu dilanjutkan sampai sianosis sentral hilang. Kemudian

16

secepatnya dilakukan pemeriksaan gas darah arteri dan oksimetri untuk


menyesuaikan kadar oksigen mencapai normal.
4). Kompresi dada
Kompresi dada dimulai jika frekuensi jantung kurang dari 60x/menit
setelah dilakukan ventilasi tekanan positif selama 30 detik. Kompresi dada
dilakukan dengan menekan sternum menggunakan 1 jempol atau 2 jari tegak
lurus di linea parasentralis kiri sedalam 1/3 diameter anteroposterior rongga dada
dengan 3 kali penekanan dan 1 kali ventilasi dalam 2 detik (45 kali kompresi
dada dan 15 kali ventilasi selama 30 detik).
Penilaian
Penilaian dilakukan setelah 30 detik untuk menentukan perlu tidaknya
resusitasi lanjutan. Tanda vital yang perlu dinilai adalah sebagai berikut:
a. Pernapasan
Resusitasi berhasil bila terlihat gerakan dada yang adekuat, frekuensi dan
dalamnya pernapasan bertambah setelah rangsang taktil. Pernapasan yang
megap-megap adalah pernapasan yang tidak efektif dan memerlukan
intervensi lanjutan(Perinasia, 2006).
b. Frekuensi jantung
Frekuensi jantung harus diatas 100x/menit. Penghitungan bunyi jantung
dilakukan dengan stetoskop selama 6 detik kemudian dikalikan 10 sehingga
akan dapat diketahui frekuensi jantung permenit(Perinasia, 2006).
c. Warna kulit
Bayi seharusnya tampak kemerahan pada bibir dan seluruh tubuh.
Setelah frekuensi jantung normal dan ventilasi baik, tidak boleh ada sianosis
sentral yang menandakan hipoksemia. Warna kulit bayi yang berubah dari
biru menjadi kemerahan adalah petanda yang paling cepat akan adanya
pernapasan dan sirkulasi yang adekuat. Sianosis akral tanpa sianosis sentral
belum tentu menandakan kadar oksigen rendah sehingga tidak perlu diberikan
terapi oksigen. Hanya sianosis sentral yang memerlukan intervensi(Perinasia,
2006).

17

18

2.2. BAYI BERAT LAHIR RENDAH


Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat badan
lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram. 3
. Untuk mendapat keseragaman, pada kongres European Perinatal Medicine II di
London (1970) telah diusulkan defenisi berikut : 3
-

Bayi kurang bulan adalah bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu.

Bayi cukup bulan adalah bayi dengan masa kehamilan mulai dari 37 minggu
sampai 42 minggu.

Bayi lebih bulan adalah bayi dengan masa kehamilan mulai 42 minggu atau
lebih. 4

Dengan pengertian seperti yang telah diterangkan diatas, bayi BBLR dapat dibagi
menjadi dua golongan, yaitu : 3
1. Prematuritas murni
Masa gestasinya <37 minggu dan berat badannya sesuai dengan berat badan
untuk masa gestasi itu atau biasa disebut bayi kurang bulan-sesuai masa
kehamilan (BKB-SMK). 3
2. Dismaturitas
Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa
gestasi itu. Berarti bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterine dan
merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilan (KMK).3

19

BAB III
DISKUSI DAN PEMBAHASAN
Pada tanggal 12 juli 2014 pukul 14.30 WITA lahir seorang bayi laki laki ,
berusia 0 hari, tidak langsung menangis dengan APGAR 1 3 , Bayi lahir dengan BB
2200 gram, Panjang Badan

: 39 cm. Air ketuban jernih tidak bercampur mekonium.

pada saat lahir bayi tidak langsung menangis dengan APGAR skore 1 3 hal
ini menandakan bayi Ny. F mengalami asfiksia berat. Bayi tidak langsung menangis
bisa disebabkan oleh faktor resiko antepartum dan intrapartum. Pada kasus ini faktor
resiko antepartum yang menyebabkan asfiksia usia ibu yakni 36 tahun sedangkan
faktor resiko intrapartum yang berhubungan dengan timbulnya asfiksia bisa karena
bayi kurang bulan. Pada bayi kurang bulan dan bayi berat lahir rendah disebabkan
oleh alveoli masih kecil sehingga sulit berkembang, pengembangan kurang sempurna
karena dinding thorax masih lemah, produksi surfaktan kurang sempurna.
Kekurangan surfaktan mengakibatkan kolaps pada alveolus sehingga paru-paru
menjadi kaku. Hal tersebut menyebabkan perubahan fisiologi paru sehingga daya
pengembangan paru (compliance) menurun 25 % dari normal hal ini bias
menyebabkan bayi tidak langsung menangis.
Pada kasus ini bayi lahir kurang bulan sesuai hasil perhitungan New Ballard
score yang didapatkan usia kehamilan 32 34 minngu dengan Berat badan lahir bayi
yakni 2200 gram, hal ini menandakan berat bayi lahir rendah. Dengan menggunakan
hasil ballard score dan kurva lubchenco pada kasus ini merupakan bayi kurang bulan
sesuai masa kehamilan.
Timbulnya respiratory distress syndrome dengan menggunakan skor down
pada kasus ditemukan adanya gawat nafas. Gawat nafas pada bayi tersebut bisa
berhubungan dengan dimana bayi mengalami berat lahir rendah sehingga mempunyai
dinding dada lemah sehingga FRC menurun, dan terjadi kelainan rasio ventilasi
perfusi yang besar sehingga kalau ini menetap lama maka gas akan terperangkap
akibatnya PaO2 Menurun dan Pa CO2 meningkat sehingga terjadi hipoventilasi dan
akibatnya terjadi sindrom gawat napas. Selain itu Pada kasus ini pematangan paru dan
20

fungsi surfaktan belum sempurna sehingga akn mengganggu tegangan paru dan
stabilisasi saluran napas kecil selama ekspirasi sehingga timbul gawat napas. Hal ini
juga bisa menimbulkan gejala sianosis pada bayi tersebut.
Hipotermi pada bayi Ny. F bisa saja terjadi, hal ini berhubungan dimana pada
Bayi prematur dengan cepat akan kehilangan panas badan dan menjadi hipotermia,
karena pusat pengaturan panas badan belum berfungsi dengan baik dan
metabolismenya rendah.
Muculnya hidrokel pada bayi Ny. F dapat disebabkan belum sempurnanya
penutupan prosesus vaginalis atau belum sempurnanya system limfatik didareah
skrotum dalam melakukan reabsorbsi cairan hidrokel. Tetapi biasanya pada bayi bisa
hidrokel akan sembuh dengan sendirinya tanpa melalui operasi sehinggan pada bayi
Ny. F tidak perlu dilakukan tindakan operasi.
Pada bayi Ny. F dilakukan resusitasi bayi dengan tujuan

untuk

mempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala sisa yang mungkin
timbul di kemudian hari, mengingat abyi Ny. F tidak langsung menangis. Mengingat
bayi Ny. F mengalami sianosis central dan perifer dapat diberikan oksigen nasal
kanul. Selain itu perawatan incubator juga diperlukan karena pada bayi Ny. F
mengalami hipotermi. Pemberian D10% 7 tpm mikro sesuai dengan kebutuhan cairan
yakni 80 cc ml/kgBB.
Prognosis pada bayi Ny. F baik. Karena tanda tanda gawat nafas sudah tidak
ada, tidak ditemukan adanya sianosis, retraksi dinding dada dan hipotermi. Bayi
sudah menangis kuat, gerak sangat aktif, reflek hisap kuat dan menyusu kuat.

21

BAB IV
KESIMPULAN
Asfiksia neonatorum adalah kegagalan napas secara spontan dan teratur pada
saat lahir atau beberapa saat setelah saat lahir yang ditandai dengan hipoksemia,
hiperkarbia dan asidosis. Penanganan pertama pada bayi bau lahir dengan asfiksia
dapat dilakukan resusitasi bayi.
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat badan
lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram. Pada bayi baru lahir dengan bayi
berat lahir dan bayi kurang bulan memungkinkan terjadinya asfiksia. Dimana pada
kasus diatas bayi berat lahir rendah dengan berat 2200 gram disertai dengan asfiksia
berat hal ini disebabkan pada bayi kurang bulan alveoli masih kecil sehingga sulit
berkembang, pengembangan kurang sempurna karena dinding thorax masih lemah,
produksi surfaktan kurang sempurna. Kekurangan surfaktan mengakibatkan kolaps
pada alveolus sehingga paru-paru menjadi kaku. Hal tersebut menyebabkan
perubahan fisiologi paru sehingga daya pengembangan paru (compliance) menurun
25 % dari normal hal ini bisa menyebabkan bayi tidak langsung menangis.

22

DAFTAR PUSTAKA
1. IDAI. 2010. Asfiksia Neonatorum. Dalam : Buku Ajar Neonatologi. Jakarta:
Badan Penerbit IDAI; hal. 103 - 115.
2. Osborn D. Asphyxia. Departement of neonatal medicine protocol book. Royal
Prince

Alfred

Hospital.

On

line

URL,

http://cs.nsw.gov.au/rpa/neonatal/html/newprot/asphyxia.htm. available at 12
Agustus 2014
3. Hasan R, Alatas H. Perinatologi. Dalam: Ilmu Kesehatan Anak 3; edisi ke-4.
Jakarta : FKUI.

23