BAB I PROFIL ORANG KARO

1. Orang Karo

Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Deli
Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Sebagian besar masyarakat suku Karo enggan disebut sebagai orang Batak karena merasa berbeda. Suku Karo mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak yaitu Kalak Teba. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas. Dalam beberapa literatur tentang Karo, etimologi Karo berasal dari kata Haru. Kata Haru ini berasal dari nama kerajaan Haru yang berdiri sekitar abad 14 sampai abad 15 di daerah Sumatera Bagian Utara. Kemudian pengucapan kata Haru ini berubah menjadi Karo. Inilah diperkirakan awal terbentuknya nama Karo. Pada jaman keemasannya kekuasaan Kerajaan Haru/Karo mulai dari Aceh Besar sampai sungai Siak di Riau. Eksistensi Haru/Karo di Aceh dapat dipastikan dengan beberapa desa di sana yang berasal dari bahasa Karo. Misalnya Kuta Raja atau Banda Aceh sekarang, Kuta Binjei di Aceh Timur, Kuta Karang, Kuta Alam, Kuta Lubok, Kuta Laksamana Mahmud, Kuta Cane, dan lainnya. Dan terdapat suku karo di Aceh Besar yang dalam logat Aceh disebut Karee. Terdapat suku Karo di Aceh Besar yang dalam logat Aceh disebut Karee. Keberadaan suku Haru-Karo di Aceh ini diakui oleh H. Muhammad Said dalam bukunya "Aceh Sepanjang Abad", (1981). Beliau menekankan bahwa penduduk asli Aceh Besar adalah keturunan mirip Batak. Namun tidak dijelaskan keturunan dari batak mana penduduk asli tersebut. Sementara itu, H. M. Zainuddin dalam bukunya "Tarikh Aceh dan Nusantara" (1961) dikatakan bahwa di lembah Aceh Besar disamping Kerajaan Islam ada kerajaan Karo. Selanjunya disebutkan bahwa penduduk asli atau bumi putera dari Ke-20 Mukim bercampur dengan suku Karo yang dalam bahasa Aceh disebut Karee. Brahma Putra, dalam bukunya "Karo Sepanjang Zaman" mengatakan bahwa raja terakhir suku Karo di Aceh Besar adalah Manang Ginting Suka. Kelompok karo di Aceh kemudian berubah nama menjadi "Kaum Lhee Reutoih" atau kaum tiga ratus. Penamaan demikian terkait dengan peristiwa perselisihan antara suku Karo dengan suku Hindu di sana yang disepakati diselesaikan dengan perang tanding. Sebanyak tiga ratus (300) orang suku Karo akan berkelahi dengan empat ratus (400) orang suku Hindu di suatu lapangan terbuka. Perang tanding ini dapat didamaikan dan sejak saat itu suku Karo disebut sebagai kaum tiga ratus dan kaum Hindu disebut kaum empat ratus. Dikemudian hari terjadi pencampuran antar suku Karo dengan suku Hindu dan mereka disebut sebagai kaum Jasandang. Golongan lainnya adalah Kaum Imam Pewet dan Kaum Tok Batee yang merupakan campuran suku pendatang, seperti: Kaum Hindu, Arab, Persia, dan lainnya. Sifat dan perwatakan manusia Karo yang berwujud pada perilaku atau perbuatan dan pola pikirnya, yang masih melekat pada anggota masyarakat Karo pada umumnya adalah sebagai berikut: jujur, tegas dan berani, percaya diri, pemalu, tidak serakah dan tahu akan hak, mudah tersinggung dan dendam, berpendirian tetap dan pragmatis, sopan, jaga nama keluarga dan harga diri, rasional dan kritis, mudah menyesuaikan diri, gigih mencari ilmu, tabah, beradat, suka membantu dan menolong, pengasih dan hemat, percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Di balik sifat-sifat baik di atas, masih ada sifat lain yang juga terdapat di dalam masayarakat Karo seperti anceng, cian, cikurak, yang merupakan sifat jelek yang dimiliki orang Karo, termasuk merupakan kritik terhadap sikap hidup orang Karo yang hendak mencelakakan sesamanya. Kalau dalam istilah orang Manado kita kenal baku cungkel. Umumnya sikap ini muncul oleh karena perasaan iri, motif dendam, atau atau perasaan kurang senang. Sifat jelek seperti ini dapat dipastikan tidak hanya ada pada masyarakat Karo, tetapi semua suku bangsa yang ada di Indonesia, bahkan suku bangsa di dunia memiliki sifat yang saling menjatuhkan, seperti yang juga diungkapkan oleh Sartre homo homini lupus. Istilah “cian” dalam bahasa Karo berarti iri atau dengki. Yang terdekat dari sifat ini adalah cemburu. Sifat ini biasanya selalu mengarah kepada hal-hal yang tidak baik, oleh karena tujuannya adalah merusak. Hal ini mestinya dapat dihilangkan dari setiap pikiran dan sikap manusia. Paling tidak berusaha untuk mengarahkan diri pada hal-hal yang tidak merugikan, atau lebih positif bersaing secara sehat. Masih ada dua sifat yang juga bersemi di atara orang-orang Karo, yang sebenarnya juga kurang bermanfaat, yaitu kebiasaan mengata-ngatai orang lain (menjelek-jelekan orang lain) secara negatif yang dikenal dalam bahasa Karo dengan istilah “cekurak”, dan satu lagi adalah istilah “anceng”, yaitu melakukan gangguan atau kendala bagi sesuatu pekerjaan orang lain dengan niat merusak35. Untuk membentengi diri dari sifat-sifat semacam ini, hendaknya insan Karo mengubah pola pikir untuk dapat menerima sebuah keadaan dengan terbuka. Hal ini bisa dilakukan dengan menambah wawasan (belajar dari orang lain) dalam bangku pendidikan, atau juga mendekatkan diri kepada Tuhan sehingga dapat hidup saling mengasihi. Ini berarti kemampuan penguasan diri terhadap naluri merusak (destruktif), juga pemanusiawian apa-apa yang membuatnya menjadi liar, brutal dan mau berkuasa liar

Pada seminar Adat istiadat Karo tahun 1977 (1983 : 1-2) menyimpulkan mengenai sifat orang Karo ada 6 macam yaitu : 1. Tabah 2. Beradat 3. Suka membantu dan menolong 4. Pengasih dan hemat

5. Dendam 6. Mengetahui harga diri Enam sifat ini ( tidak diiringi pembahasan) ditambah menjadi 9 macam dalam buku yang ditulis oleh Djaja S. Meliala, S.H. dan Aswin Perangin-angin, S.H. (1978 :1-2) yaitu dengan tambahan, jujur dan berani, hormat, sopan, dan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pembahasan mengenai sifat-sifat orang Karo yang relatif baru adalah dalam buku Manusia Karo oleh Drs. Tridah Bangun (1986 : 155-171 ) yang mengemukakan 15 macam sifat dan watak orang Karo dikemukakan dalam satu bab tersendiri), yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Jujur Tegas Berani Percaya diri Pemalu Tidak serakah Mudah tersinggung Berpendirian teguh Sopan Jaga nama baik diri dan keluarga Rasional dan kritis Mudah menyesuaikan diri Gigih mencari pengetahuan Pragmatis Iri, cemburu

Sifat-sifat orang Karo yang dikemukakan di atas adalah berdasar pendapat ‘orang dalam’ yaitu orang Karo sendiri. Jauh sebelum sifat-sifat tersebut diuraikan oleh penulisnya, seorang penulis barat yaitu Jhon Anderson tahun 1823 menulis mengenai orang Karo mempunyai sifat-sifat ; rajin, pelit, senang harta, kerja keras, tekun dan tidak suka pamer. Orang Batak Karo yang rajin, bersifat kikir dan senang pada harta itu, telah mendorong mereka untuk kerja keras berusaha sepanjang hari...... Karena kerajinannya dan ketekunannya, mampu mengumpulkan uang dalam jumlah besar dengan tidak memamerkan diri dan kekayaannya’ (Reid, 1987 D.H. Penny dan Masri Singarimbun (1967 :6) menjelaskan, sifat kikir yaitu hemat dan suka menabung, dulunya adalah tidak ekonomis. Orang Karo mencari harta dan menabung hanya untuk berjaga-jaga dan demi prestise, tetapi belakangan (mulai tahun 1960-an ) barulah aktif mengadakan investasi untuk Hal – hal yang produktif. Mengenai keadaan fisik orang Karo, berdasar pengamatan khusus terhadap orang yang telah uzur (umur 75 s\d 100 tahun ), Drs Tridah Bangun (1986 : 155-156) mengemukakan: • Tinggi rata-rata 150-160 cm • Rambut hitam antara lurus dan bergelombang • Mata biasa antara sipit dan miring • Wajah agak bundar mirip raut muka bangsa mongol • Hidung agak pesek • Bibir tebal, lebar • Kulit sawo matang Namun dijelaskan pula, bahwa saat ini keadaan fisik tersebut telah berubah, telah hampir sama dengan keadaan fisik suku bangsa Indonesia lainnya, sukar membedakannya sepintas lalu. Hal ini dibenarkan oleh Masri Singarimbun (1989), yang mengemukakan bahwa :

Nama-namanya sudah berubah dari Batu, Gajah, Malem, Bulan, Kade, Kursi, Meja, Kamar menjadi Regina, Bertalysa, Lita, Siska, dan laki – laki sangat berubah. Mengenai wanita yang lebih banyak jumlahnya dari pria di Kabupaten Karo, dalam cerita rakyat sering berperan sebagai pemegang peranan utama. Berdasar cerita Beru Ginting Pase, Beru Rengga Kuning dan dari Telu Turiturin si Adi, oleh Ngukumi Barus dan Masri Singarimbun (1988) disimpulkan, wanita Karo adalah : • • • • • • • • Mempunyai kepribadian yang tangguh Menjadi juru selamat keluarga yang tangguh Tokoh yang sanggup mengambil keputusan yang menentukan Pintar an bijaksana Aktif dalam percintaan Tidak pasrah dalam menunggu Penggorbanan yang tinggi terhadap saudara Bukan tampil sebagai makhluk yang lembut, halus dan pemaaf. Tetapi sebaliknya

Gambaran wanita Karo yang jadi kenyataan memang sangat aktif dalam kehidupan ekonomi. Tetapi dalam banyak hal, jauh berbeda dengan cerita rakyat tersebut, seperti dikemukakan oleh Ny. Wallia Keliat Di daerah pedesaan Karo, wanita selain bertugas sebagai istri dan ibu, juga tulang punggung dalam produksi hasil pertanian. Sikap tradisional turun temurun sebagai pengaruh di adat dan kebudayaan Karo terhadap wanita, mempunyai pengaruh yang besar pada wanita pedesaan itu sendiri, yang cenderung untuk menerima posisi mereka yang lebih rendah, kurang percaya diri, bergantung pada kaum pria dalam mengambil keputusan, dan tidak berani mengeluarkan pendapat sendiri. Hal ini diterima oleh wanita itu dengan sangat biasa sekali, bukan sesuatu yang sangat merugikan ataupun sesuatu yang perlu dirubah. Reh Malem Sitepu (1986 : 24-25 ) mengemukakan, bahwa wanita Karo secara tradisional mempunyai peranan yang sangat penting dan peranan yang tidak penting. Dalam banyak hal, wanita adalah penentu kebijaksanaan seperti dalam hal kebersihan rumah tangga, pendidikan, sosialisasi anak dan penentu dalam usaha pertanian (memilih bibit, waktu tanam, panen dll ), dukun beranak dan guru sibaso. Peranan wanita dalam adat hanyalah pelengkap, tidak bisa lepas atau berdiri sendiri, sebab wanita tunduk terhadap peraturan adat rakut sitelu. Dalam pembangunan desa, pada umumnya wanita tidak diajak dalam perencanaan, walaupun dalam pelaksanaannya di lapangan, wanita aktif berperan serta. Mengenai penampilan wanita pedesaan, Drs Tridah Bangun (1986 : 156-157) mengemukakan: • • • • • Gadis-gadis masih menunjukan cirri seperti leluhur mereka Aktif membantu ibunya bekerja keras dirumah dan diladang Tubuhnya kekar Betis atau kaki agak besar Leher pendek dan raut muka tegang

Penampilan ini berbeda dengan gadis-gadis Karo di kota-kota, yang umumnya tinggi semampai dan ramping, karena tidak mengerjakan pekerjaan kasar atau berat seperti di desa. Ada beberapa ungkapan yang maknanya mempertegas perwatakan Karo, yaitu : • Gelar na-e ateku lang ( caranya itu yang tidak aku setujui)

• • • •

Adi perbahan buahna maka mbongkar batangna labo dalih (Karena buahnya lebat maka jebol atau tumbuh batangnya tidak apalah). Keri pe lau pola e labo dalih gelah mejile penangketken kandi-kandina (Habispun nira itu diambil orang tidak apalah, asalkan tempat nira tersebut diletakkan dengan baik pada tempatnya). Sada matawari pe ateku la ras ia (tidak ada kompromi) Arah bas padang rusakna (isi yang penting bukan kulit)

Kelimanya itu bermakna harga diri, keluhuran jiwa di atas segala-galanya, cara, norma, aturan dinomorsatukan, yang lainnya termasuk ekonomi dinomorduakan. Begitu kadang idealismenya orang Karo ini, sehingga rela berkorban demi menurutkan hati nuraninya. Hal ini relevan dengan sungaisungai yang bersumber, berhulu dari dataran tinggi Tanah Karo Simalem. Begitu berbeda dengan ungkapan Minang yang telah diterjemahkan : Kalau mau buah yang masak harus pandai menghujung dahan Menyuruk bukan berate pinggang yang patah, asalkan sampai disasaran. Yak an apa saja kata orang asal kita mendapatkan apa yang kita inginkan Ketiga ungkapan yang saling mendukung dan satu paket ini bermakna ; berhasil, dan mendapat. Tegasnya, ekonomi adalah di atas segala-galanya. Cara, norma, aturan dinomorduakan. Sejajar dengan ini, ungkapan lama mengatakan : Cina mati karena uang dan katanya lagi : “yang penting adalah kucing itu bisa menangkap tikus, tidak peduli kucing itu berkurap, kakinya patah dan sebagainya”. Seperti menghalalkan seluruh cara . Maka itu, kalau kita bicara tentang ekonomi atau dagang, bergurulah kita kepada Minang dan Cina. Jawa lain lagi, mereka mengatakan rame in gawe seping pamrih, legowo, nerimo, tepa seliro. Maksudnya banyak berbuat tanpa balas jasa, iklas, terima saja apa adanya dan tenggang rasa. Kalau dia diberi setengah gelas air minum, diucapkannya : “Syukur alhamdulilah”. Bukan seperti kita orang Sumatera, termasuk orang Karo mengatakan : mana setengah gelas lagi, mengapa tidak penuh dan seterusnya. Diakui, banyak persamaan Karo dan Jawa, lebih-lebih mengenai harga diri dan tepa salira. Tetapi orang Karo kurang pasrah dan kurang nerimo. Ada lagi ungkapan yang mengatakan : Ola belasken kata situhuna, belaskenlah kata sitengteng, terjemahan bebasnya : “Terbeloh-beloh kam muat Bapa Nandendu, jadilah manok si-beru-beru”. Ini mengajak orang Karo itu untuk bersifat diplomatis menghadapi sesuatu, pandai-pandai menyesuaikan diri, rendah hati seperti ayam yang sedang mengeram, diam tidak bicara, tetapi nerpoh menerjang bila diganggu. Kelemahannya ialah kurang berterus terang dan agak tertutup seperti yang telah kita sebut dimuka. Kalau orang Jerman malu dikatakan pemalas, orang Belanda malu kalau tidak menabung, orang Jepang malu kalau tidak menghargai seniornya, maka Indonesia, lebih-lebih etnis Karo, malu kalau tidak beradat. Saat ini, individualisme, materialisme, sebahagian dari ciri-ciri modernisasi, sudah menjalar ke desa-desa. Demikianpun mehangke, mereha, hampirhampir hilang. Hampir-hampir pola kehidupan lama (tradisional) ditinggalkan. Sementara yang baru belum melembaga, atau seperti adanya pergeseran nilai-nilai walaupun masih dalam batas-batas tertentu. Budaya arih-arih, runggu nampaknya masih terpelihara, namun aron atau taron secara fisik mulai menurun. Kelemahan orang karo pada umumnya adalah: • Permela atau pemalu, umpamanya malu atau meminta, atau mindo malu minta tolong, malu minta maaf, malu mengucapkan terimakasih, bahkan kalau tak berhasil, andai kata zaman dahulu bisa saja gantung diri. • Pergelut atau mudah tersinggung • Permenek atau sakit hati yang melekat, dan disimpan sendiri. • Percian, berarti iri hati dan dengki • Permbenceng/perbencit atau mudah merajuk

Perdegil/puluk atau pelit dan kikir, yang ditandai dengan menanam uang perak ditanah pekarangan, diladang atau dikolong rumah pada jaman dahulu.

Dalam tulisannya, Economic Activity among The Karo Batak of Indonesia : A case study of Economi Change BIES No.06 (hal 31-65) David Penny dan Masri Singarimbun (1967) menjelaskan bahwa sifat orang Karo yang suka menghemat dan menabung, dulunya tidak ekonomis. Orang Karo mencari harta dan menabung hanya untuk berjaga-jaga dan prestise, tetapi belakangan ini (mulai tahun 1960-an),barulah aktif mengadakan investasi. Menurut Rita Kipp (1983) dalam bukunya: Beyond Samosir, Recent Studies of Batak Peoples of Sumatera, Ohio University Center for International Studies South Asia Program, Ohio menyatakan, walaupun suku Karo dalam Literatur Anthropologi dimasukkan sebagai salah satu suku dari 6 kelompok Batak yang dikenal sebagai system Patrilineal yang terkuat di Indonesia, tetapi orang Karo lebih suka menamakan dirinya Orang Karo atau Batak Karo, bukan Batak. Bahasa Batak Karo adalah bentuk bahasa Austronesia Barat yang digunakan di daerah Pulau Sumatera sebelah utara pada wilayah Kepulauan Indonesia [1]. Istilah “Batak” sendiri mengacu pada sekumpulan kelompok yang memiliki kaitan secara kultural yang mendiami sebagian besar wilayah pedalaman Provinsi Sumatera Utara yang berpusat di daerah Danau Toba [2]. Tiap-tiap kelompok ini memiliki riwayat, tatanan sosial, serta bahasa yang khas satu sama lain. Masyarakat Batak Toba yang berdiam di wilayah Pulau Samosir yang terletak di tengah-tengah Danau Toba serta wilayah sebelah timur, selatan, dan tenggara dari danai ini telah menjadi bahan kajian linguistik dan antropologi selama lebih dari satu abad lamanya. Bahasa yang mereka gunakan pertama kali mulai mendapat sorotan pada saat H.N. van der Tuuk menerbitkan karya gramatika klasik pada tahun 1864 yang berjudul Tobasche Spraakkunst (kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1971). Di paruh abad terakhir ini terdapat sejumlah besar masyarakat Batak Toba yang bermigrasi ke seluruh penjuru wilayah dan menumbuhkan sejumlah besar komunitas masyarakat Batak Toba di sepanjang pesisir timur wilayah Sumatera Utara, di Aceh, dan juga di Pulau Jawa, maupun di berbagai wilayah suku Batak lain. Terutama sebagai akibat dari mobilitas sosial mereka yang tinggi serta penyebaran yang meluas secara geografis, istilah “Batak” ini telah hampir secara murni diselaraskan dengan pengertian “Batak Toba”. Selain kefasihan dalam berbahasa Karo, ciri identitas terpenting seorang Karo dapat diketahui dari nama marga yang bersangkutan. Orang-orang Karo memiliki lima macam klan patrilineal atau marga, yaitu Karo-karo, Ginting, Tarigan, Sembiring, dan Peranginangin. Tiap-tiap marga ini terpecah lagi menjadi 13 hingga 18 submarga, sehingga secara keseluruhan dapat dijumpai sbanyak 83 submarga. Seluruh marga dan submarga ini merupakan nama-nama khas yang ada pada masyarakat Karoo, naum sering juga tampak memiliki keterkaitan dengan nama-nama marga dari kelompok masyarakat suku-suku Batak lain, khususnya masyarakat Batak Simalungun dan Batak Pakpak. Identitas dan subetnis orang Batak ini pada umumnya dapat langsung diketahui dari nama marganya, misal marga Tarigan dan Sembiring adalah marga khas Batak Karo, nama Saragih dan Damanik adalah marga khas Batak Simalungun, nama Bancin dan Berutu adalah marga khas Batak Pakpak, dan sebagainya. Dalam hal ini terdapat juga nama-nama marag yang sama dari asal subetnis Batak lain, maka namanama tertentu semacam ini biasanya selalu disebutkan berikut dengan subetnisnya pada saat memperkenalkan diri dengan anggota subentis Batak lain, misalnya “Saya Purba Karo” atau “Saya Purba Simalungun”. Seseorang yang berasal dari luar masyarakat Karo yang hendak bergabung ke dalam masyarakat Karo juga diberikan nama marga patrilineal atau matrilineal Karo

karena tanpa memiliki acuan identitas sosial semacam ini yang bersangkutan mustahil berinteraksi dalam acara-acara penting di luar batas kegiatan sehari-hari. Istilah “Batak” umumnya tidak digunakan pada saat mereka saling memperkenalkan diri satu sama lain kecuali jika mereka sedang memperkenalkan diri mereka dengan orang-orang dari etnis lain (Sunda, Jawa, dll). Di kalangan masyarakat mereka maupun subetnis Batak lain biasanya mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai “kalak Karo” atau orang Karo. Sedangkan bahasa asli Karo mereka sebut sebagai “cakap Karo” atau “bahasa Karo“. Berbeda halnya dengan kaum masyarakat Batak Pakpak dan Batak Simalungun yang bertetangga dengan mereka, masyarakat Karo belum begitu banyak terpengaruh oleh bahasa dan budaya masyarakat Batak Toba. Selain dari kaum anak-anak dan kaum usia lanjut, orang-orang Karo umumnya juga mempergunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi di Indonesia. 1. Kehidupan Masyarakat Karo Masyarakat Karo merupakan masyarakat yang sejak dahulu dikenal sebagai masyarakat agraris yang religius. Hal ini dapat dibuktikan dengan masih dijumpai aktivitas religi yang berhubungan dengan pertanian, seperti kerja tahun pada masa kini. Kondisi kehidupan masyarakat Karo pada saat itu masih cukup sederhana dalam segala aspek. populasi penduduk belum ramai, perkampungan masih kecil, ada dua atau tiga rumah adat waluh jabu ditambah beberapa rumah sederhana satu dua. Kalau sudah ada sepuluh rumah adat baru dapat dikatakan perkampungan tersebut ramai. 1. Sarana dan prasarana jalan belum ada, hanya jalan setapak yang menghubungkan satu kampung dengan kampung yang lain. Kegiatan ekonomi dan perputaran uang hanya baru sebagian kecil saja. Hanya pedagang yang disebut dengan “Perlanja Sira” yang sesekali datang untuk berdagang secara barter (barang tukar barang) 2. Pekerjaan yang dilakukan hanyalah kesawah dan keladang (kujuma kurumah), ditambah menggembalakan ternak bagi pria dan menganyam tikar bagi wanita. Pemerintahan yang ada hanya sebatas pemerintahan desa. Alat dapur yang dipakai masih sangat sederhana, priuk tanah sebagai alat memasak nasi dan lauk pauknya, walau ada juga yang telah memasak dengan priuk gelang-gelang atau priuk tembaga/besi, tempat air kuran. Dalam hubungan kekerabatan pada masyarakat Karo, baik berdasarkan pertalian darah maupun pertalian karena hubungan perkawinan, dapat direduksi menjadi tiga jenis kekeluargaan, yaitu: kalimbubu, senina atau sembuyak, dan anak beru, yang biasanya disimpulkan dalam banyak istilah, tetapi maksudnya sama yaitu: daliken si telu sama dengan sangkep si telu, iket si telu, rakut si telu13. Pada suku-suku Batak yang lain seperti Toba, Mandailing, dan Angkola, maksud yang sama dikenal dengan istilah dalihan na tolu. Daliken si telu (daliken adalah tungku batu tempat memasak di dapur14, sedangkan si telu adalah tiga)15. Hubungan antara ketiganya tidak dapat dipisahkan di dalam hal adat, menyusupi aspek-aspek kehidupan secara mendalam, menentukan hak-hak dan kewajiban di dalam masyarakat, di dalam upacara-upacara, hukum, dan di zaman yang lampau mempunyai arti yang penting di dalam kehidupan ekonomi dan politik16. Pada masa sebelum penjajahan Belanda, juga termasuk ritual, dan segala aktifitas sosial. Di dalam sangkep si telu inilah terletak azas gotong-royong, dan musyawarah dalam arti kata yang sedalam-dalamnya. Berikut adalah sistem kekerabatan di masyarakat Karo atau sering disebut Daliken Sitelu atau Rakut Sitelu. Tulisan ini disadur dari makalah berjudul “Daliken Si Telu dan Solusi Masalah Sosial Pada Masyarakat Karo : Kajian Sistem Pengendalian Sosial” oleh Drs. Pertampilan Brahmana, Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.

Secara etimologis, daliken Sitelu berarti tungku yang tiga (Daliken = batu tungku, Si = yang, Telu tiga). Arti ini menunjuk pada kenyataan bahwa untuk menjalankan kehidupan sehari-hari, masyarakat tidak lepas dari yang namanya tungku untuk menyalakan api (memasak). Lalu Rakut Sitelu berarti ikatan yang tiga. Artinya bahwa setiap individu Karo tidak lepas dari tiga kekerabatan ini. Namun ada pula yang mengartikannya sebagai sangkep nggeluh (kelengkapan hidup). Menurut Drs. Pertampilan Brahmana, konsep ini tidak hanya ada pada masyarakat Karo, tetapi juga ada dalam masyarakat Toba dan Mandailing dengan istilah Dalihan Na Tolu juga masyarakat NTT dengan istilah Lika Telo Unsur Daliken Sitelu ini adalah • • • Kalimbubu (Hula-hula (Toba), Mora (Mandailing)) Sembuyak/Senina (Dongan sabutuha (Toba), Kahanggi (Mandailing)) Anak Beru (Boru (Toba, Mandailing))

Setiap anggota masyarakat Karo dapat berlaku baik sebagai kalimbubu, senina/sembuyak, anakberu, tergantung pada situasi dan kondisi saat itu. • Kalimbubu Kalimbubu adalah kelompok pihak pemberi wanita dan sangat dihormati dalam sistem kekerabatan masyarakat Karo. Masyarakat Karo menyakini bahwa kalimbubu adalah pembawa berkat sehingga kalimbubu itu disebut juga dengan Dibata Ni Idah (Tuhan yang nampak). Sikap menentang dan menyakiti hati kalimbubu sangat dicela. Kalau dahulu pada acara jamuan makan, pihak kalimbubu selalu mendapat prioritas utama, para anakberu (kelompok pihak penerima istri) tidak akan berani mendahului makan sebelum pihak kalimbubu memulainya, demikian juga bila selesai makan, pihak anakberu tidak akan berani menutup piringnya sebelum pihak kalimbubunya selesai makan, bila ini tidak ditaati dianggap tidak sopan. Dalam hal nasehat, semua nasehat yang diberikan kalimbubu dalam suatu musyawarah keluarga menjadi masukan yang harus dihormati, perihal dilaksanakan atau tidak masalah lain. Oleh Darwan Prints, kalimbubu diumpamakan sebagai legislatif, pembuat undang-undang. Kalimbubu dapat dibagi atas 2: ➢ Kalimbubu berdasarkan tutur ➢ Kalimbubu Bena-Bena disebut juga kalimbubu tua adalah kelompok keluarga pemberi dara kepada keluarga tertentu yang dianggap sebagai keluarga pemberi anak dara awal dari keluarga itu. Dikategorikan kalimbubu BenaBena, karena kelompok ini telah berfungsi sebagai pemberi dara sekurang-kurangnya tiga generasi. ➢ Kalimbubu Simajek Lulang adalah golongan kalimbubu yang ikut mendirikan kampung. Status kalimbubu ini selamanya dan diwariskan secara turun temurun. Penentuan kalimbubu ini dilihat berdasarkan merga. Kalimbubu ini selalu diundang bila diadakan pesta-pesta adat di desa di Tanah Karo. ➢ Kalimbubu berdasarkan kekerabatan (perkawinan) ➢ Kalimbubu Simupus/Simada Dareh adalah pihak pemberi wanita terhadap generasi ayah, atau pihak clan (semarga) dari ibu kandung ego (paman kandung ego). (Petra : ego maksudnya orang, objek yang dibicarakan) ➢ Kalimbubu I Perdemui atau (kalimbubu si erkimbang), adalah pihak kelompok dari mertua ego. Dalam bahasa yang populer adalah bapak mertua berserta seluruh senina

dan sembuyaknya dengan ketentuan bahwa si pemberi wanita ini tidak tergolong kepada tipe Kalimbubu BenaBena dan Kalimbubu Si Mada Dareh. ➢ Puang Kalimbubu adalah kalimbubu dari kalimbubu, yaitu pihak subclan pemberi anak dara terhadap kalimbubu ego. Dalam bahasa sederhana pihak subclan dari istri saudara laki-laki istri ego. ➢ Kalimbubu Senina. Golongan kalimbubu ini berhubungan erat dengan jalur senina dari kalimbubu ego. Dalam pestapesta adat, kedudukannya berada pada golongan kalimbubu ego, peranannya adalah sebagai juru bicara bagi kelompok subclan kalimbubu ego. ➢ Kalimbubu Sendalanen/Sepengalon. Golongan kalimbubu ini berhubungan erat dengan kekerabatan dalam jalur kalimbubu dari senina sendalanen, sepengalon (akan dijelaskan pada halaman-halaman selanjutnya) pemilik pesta. Ada pun hak kalimbubu ini dalam struktur masyarakat Karo ➢ Dihormati oleh anakberunya ➢ Dapat memberikan perintah kepada pihak anakberunya Tugas dan kewajiban dari kalimbubu ➢ Memberikan saran-saran kalau diminta oleh anakberunya ➢ Memerintahkan berselisih pendamaian kepada anakberu yang saling

➢ Sebagai lambang supremasi kehormatan keluarga ➢ Mengosei anak berunya (meminjamkan pakaian adat) di dalam acara-acara adat dan mengenakan

➢ Berhak menerima ulu mas, bere-bere (bagian dari mahar) dari sebuah perkawinan, maneh-maneh (tanda mata atau kenangkenangan) dari salah seorang anggota anakberunya yang meninggal, yang menerima seperti ini disebut Kalimbubu Simada Dareh. Pada dasarnya setiap ego Karo, baik yang belum menikah pun mempunyai kalimbubu, minimal kalimbubu si mada dareh. Kemudian bila ego (pria) menikah berdasarkan adat Karo, dia mendapat kalimbubu si erkimbang • Anak Beru Anakberu adalah pihak pengambil anak dara atau penerima anak gadis untuk diperistri. Oleh Darwan Prints, anakberu ini diumpamakan sebagai yudikatif, kekuasaan peradilan. Hal ini maka anakberu disebut pula hakim moral, karena bila terjadi perselisihan dalam keluarga kalimbubunya, tugasnyalah mendamaikan perselisihan tersebut. Anakberu dapat dibagi atas 2: ➢ Anakberu berdasarkan tutur ➢ Anakberu Tua adalah pihak penerima anak wanita dalam tingkatan nenek moyang yang secara bertingkat terus menerus minimal tiga generasi. ➢ Anakberu Taneh adalah penerima wanita pertama, ketika sebuah kampung selesai didirikan. ➢ Anakberu berdasarkan kekerabatan ➢ Anakberu Jabu (Cekoh Baka Tutup, dan Cekoh Baka Buka). Cekoh Baka artinya orang yang langsung boleh mengambil barang simpanan kalimbubunya. Dipercaya dan diberi kekuasaan seperti ini karena dia merupakan anak kandung saudara perempuan ayah.

➢ Anakberu Iangkip, adalah penerima wanita yang menciptakan jalinan keluarga yang pertama karena di atas generasinya belum pernah mengambil anak wanita dari pihak kalimbubunya yang sekarang. Anakberu ini disebut juga anakberu langsung yaitu karena dia langsung mengawini anak wanita dari keluarga tertentu. Masalah peranannya di dalam tugas-tugas adat, harus dipilah lagi, kalau masih orang pertama yang menikahi keluarga tersebut, dia tidak dibenarkan mencampuri urusan warisan adat dari pihak mertuanya. Yang boleh mencampurinya hanyalah Anakberu Jabu. ➢ Anakberu Menteri adalah anakberu dari anakberu. Fungsinya menjaga penyimpangan-penyimpangan adat, baik dalam bermusyawarah maupun ketika acara adat sedang berlangsung. Anakberu Menteri ini memberi dukungan kepada kalimbubunya yaitu anakberu dari pemilik acara adat. ➢ Anakberu Singikuri adalah anakberu dari anakberu menteri, fungsinya memberi saran, petunjuk di dalam landasan adat dan sekaligus memberi dukungan tenaga yang diperlukan. Dalam pelaksanaan acara adat peran anakberu adalah yang paling penting. Anakberulah yang pertama datang dan juga yang terakhir pada acara adat tersebut. Lebih lanjut tugas-tugasnya antara lain Mengatur jalannya pembicaraan runggu (musyawarah) adat. Menyiapkan hidangan pada pesta. Menyiapkan peralatan yang diperlukan pesta. Menanggulangi sementara semua biaya pesta. Mengawasi semua harta milik kalimbubunya yaitu wajib menjaga dan mengetahui harta benda kalimbubunya. ➢ Menjadwal pertemuan keluarga.Memberi khabar kepada para kerabat yang lain bila ada pihak kalimbubunya berduka cita. ➢ Memberi pesan kepada puang kalimbubunya agar membawa ose (pakaian adat) bagi kalimbubunya. ➢ Menjadi juru damai bagi pihak kalimbubunya, ➢ ➢ ➢ ➢ ➢ Anakberu berhak untuk ➢ Berhak mengawini putri kalimbubunya, dan biasanya para kalimbubu tidak berhak menolak. ➢ Berhak mendapat warisan kalimbubu yang meninggal dunia. Warisan ini berupa barang dan disebut morah-morah atau maneh-maneh, seperti parang, pisau, pakaian almarhum dan lainnya sebagai kenang-kenangan. Selain itu juga karena pentingnya kedudukan anakberu, biasanya pihak kalimbubu menunjukkan kemurahan hati dengan ➢ Meminjamkan tanah perladangan secara cuma-cuma kepada anakberunya. ➢ Memberikan hak untuk mengambil hasil hutan (dahulu karena pihak kalimbubu adalah pendiri kampung, mereka mempunyai hutan sendiri di sekeliling desanya). ➢ Merasa bangga dan senang bila anak perempuannya dipinang oleh pihak anakberunya. Ini akan melanjutkan dan mempererat hubungan kekerabatan yang sudah terjalin. ➢ Mengantarkan makanan kepada anaknya pada waktu tertentu misalnya pada waktu menanti kelahiran bayi atau lanjut usia. ➢ Membawa pakaian atau ose (seperangkat pakaian kebesaran adat) bagi anakberunya pada waktu pesta besar di dalam clan anakberunya.

Adapun istilah-istilah yang diberikan kalimbubu, kepada anakberunya adalah ➢ Tumpak Perang, atau Lemba-lemba. Artinya adalah ujung tombak. Maksudnya, bila kalimbubunya ingin pergi ke satu daerah, maka yang berada di depan sebagai pengaman jalan dan sebagai perisai dari bahaya adalah pihak anakberu. Dalam bahasa lain anakberu sebagai tim pengaman jalan. ➢ Kuda Dalan (Kuda jalan/beban). Dahulu sebelum ada alat transportasi hanya kuda, untuk membawa barang-barang atau untuk menyampaikan informasi dari satu desa ke desa lain, dipergunakanlah kuda. Arti Kuda Dalam dalam istilah ini adalah alat atau kenderaan yang dipakai kemana saja, termasuk untuk berperang, untuk membawa barang-barang yang diperlukan pihak kalimbubunya atau untuk menyampaikan berita tentang kalimbubunya, dan sekaligus sebagai hiasan bagi kewibawaan martabat kalimbubunya. ➢ Piso Entelap (pisau tajam). Dalam pesta adat atau pekerjaan adat pisau tajam dipergunakan untuk memotong daging atau kayu api atau untuk mendirikan teratak tempat berkumpul. Setiap anakberu harus memiliki pisau yang yang demikian agar tangkas dan sempurna mengerjakan pekerjaan yang diberikan kalimbubunya. Menjadi kebiasaan dalam tradisi Karo, pisau dari pihak kalimbubu yang meninggal dunia diserahkan kepada anakberunya. Pisau ini disebut maneh-maneh, pemberiannya bertujuan agar pekerjaan kalimbubu terus tetap dilanjutkan oleh penerimanya. Dalam pengertian lain dalam acara-acara adat di dalam keluarga kalimbubu, anakberulah yang menjadi ujung tombak pelaksanaan tugas tersebut, mulai dari menyediakan makanan sampai menyusun acaranya. Ketiga jenis pekerjaan di atas, dikerjakan tanpa mendapat imbalan materi apapun, maka anakberu yang selalu lupa kepada kalimbubunya dianggap tercela di mata masyarakat. Bahkan dipercayai bila terjadi sesuatu bencana di dalam lingkungan keluarga dari anakberu yang melupakan kalimbubunya, ini dianggap sebagai kutukan dari arwah nenek moyang mereka yang tetap melindungi kalimbubu. ➢ • Senina/Sembuyak Hubungan perkerabatan senina disebabkan seclan, atau hubungan lain yang berdasarkan kekerabatan. Senina ini dapat dibagi dua : ➢ Senina berdasarkan tutur yaitu senina semerga. Mereka bersaudara karena satu clan (merga). ➢ Senina berdasarkan kekerabatan ➢ Senina Siparibanen, perkerabatan karena istri saling bersaudara. ➢ Senina Sepemeren, mereka yang berkerabat karena ibu mereka saling bersaudara, sehingga mereka mempunyai bebere (beru (clan) ibu) yang sama. ➢ Senina Sepengalon (Sendalanen) persaudaraan karena pemberi wanita yang berbeda merga dan berada dalam kaitan wanita yang sama. Atau mereka yang bersaudara karena satu subclan (beru) istri mereka sama. Tetapi dibedakan berdasarkan jauh dekatnya hubungan mereka dengan clan istri. Dalam musyawarah adat, mereka tidak akan memberikan tanggapan atau pendapat apabila tidak diminta. ➢ Senina Secimbangen (untuk wanita) mereka yang bersenina karena suami mereka sesubclan (bersembuyak).

Tugas senina adalah memimpin pembicaraan dalam musyawarah, bila dikondisikan dengan situasi sebuah organisasi adalah sebagai ketua dewan. Fungsinya adalah sebagai sekaku, sekat dalam pembicaraan adat, agar tidak terjadi friksi-friksi ketika akan memusyawarahkan pekerjaan yang akan didelegasikan kepada anakberu. Sembuyak adalah mereka yang satu subclan, atau orang-orang yang seketurunan (dilahirkan dari satu rahim), tetapi tidak terbatas pada lingkungan keluarga batih, melainkan mencakup saudara seketurunan di dalam batas sejarah yang masih jelas diketahui. Saudara perempuan tidak termasuk sembuyak walaupun dilahirkan dari satu rahim, hal ini karena perempuan mengikuti suaminya. Peranan sembuyak adalah bertanggungjawab kepada setiap upacara adat sembuyak-sembuyaknya, baik ke dalam maupun keluar. Bila perlu mengadopsi anak yatim piatu yang ditinggalkan oleh saudara yang satu clan. Mekanisme ini sesuai dengan konsep sembuyak, sama dengan seperut, sama dengan saudara kandung. Satu subclan sama dengan saudara kandung. Sembuyak dapat dibagi dua bagian ➢ Sembuyak berdasarkan tutur. Mereka bersaudara karena sesubklen (merga). ➢ Sembuyak berdasarkan kekerabatan, ini dapat dibagi atas: ➢ Sembuyak Kakek adalah kakek yang bersaudara kandung. ➢ Sembuyak Bapa adalah bapak yang bersaudara kandung. ➢ Sembuyak Nande adalah ibu yang bersaudara kandung. Berdasarkan Keputusan Kongres Kebudayaan Karo. 3 Desember 1995 di Sibayak International Hotel Berastagi, pemakaian merga didasarkan pada Merga Silima, yaitu ; 1. Ginting 2. Karo-Karo 3. Peranginangin 4. Sembiring 5. Tarigan Sementara Sub Merga, dipakai di belakang Merga, sehingga tidak terjadi kerancuan mengenai pemakaian Merga dan Sub Merga tersebut. Adapun Merga dan Sub Merga serta sejarah, legenda, dan ceritanya adalah sebagai berikut 1. Merga Ginting Merga Ginting terdiri atas beberapa Sub Merga seperti : ○ Ginting Pase Ginting Pase menurut legenda sama dengan Ginting Munthe. Merga Pase juga ada di Pak-Pak, Toba dan Simalungun. Ginting Pase dulunya mempunyai kerajaan di Pase dekat Sari Nembah sekarang. Cerita Lisan Karo mengatakan bahwa anak perempuan (puteri) Raja Pase dijual oleh bengkila (pamannya) ke Aceh dan itulah cerita cikal bakal kerajaan Samudera Pasai di Aceh. Untuk lebih jelasnya dapat di telaah cerita tentang Beru Ginting Pase. Ginting Munthe Menurut cerita lisan Karo, Merga Ginting Munthe berasal dari Tongging, kemudian ke Becih dan Kuta Sanggar serta kemudian ke Aji Nembah dan terakhir ke Munthe. Sebagian dari merga Ginting Munthe telah pergi ke Toba (Nuemann 1972 : 10), kemudian sebagian dari merga Munthe dari Toba ini kembali lagi ke Karo. Ginting Muthe di Kuala pecah menjadi Ginting Tampune. ○ Ginting Manik

Ginting Manik menurut cerita masih saudara dengan Ginting Munthe. Merga ini berasal dari Tongging terus ke Aji Nembah, ke Munthe dan Kuta Bangun. Merga Manik juga terdapat di Pak-pak dan Toba. ○ Ginting Sinusinga ○ Ginting Seragih Menurut J.H. Neumann (Nuemann 1972 : 10), Ginting Seragih termasuk salah satu merga Ginting yang tua dan menyebar ke Simalungun menjadi Saragih, di Toba menjadi Seragi. ○ Ginting Sini Suka Menurut cerita lisan Karo berasal dari Kalasan (Pak-Pak), kemudian berpindah ke Samosir, terus ke Tinjo dan kemudian ke Guru Benua, disana dikisahkan lahir Siwah Sada Ginting (Petra : bacanya Sembilan Satu Ginting), yakni :  Ginting Babo  Ginting Sugihen  Ginting Guru Patih  Ginting Suka (ini juga ada di Gayo/Alas)  Ginting Beras  Ginting Bukit (juga ada di Gayo/Alas)  Ginting Garamat (di Toba menjadi Simarmata)  Ginting Ajar Tambun  Ginting Jadi Bata Kesembilan orang merga Ginting ini mempunyai seorang saudara perempuan bernama Bembem br Ginting, yang menurut legenda tenggelam ke dalam tanah ketika sedang menari di Tiga Bembem atau sekarang Tiga Sukarame, kecamatan Munte. ○ Ginting Jawak Menurut cerita Ginting Jawak berasal dari Simalungun. Merga ini hanya sedikit saja di daerah Karo. ○ Ginting Tumangger Marga ini juga ada di Pak Pak, yakni Tumanggor. ○ Ginting Capah Capah berarti tempat makan besar terbuat dari kayu, atau piring tradisional Karo. 2. Merga Karo-Karo Merga Karo-Karo terbagi atas beberapa Sub Merga, yaitu : ○ Karo-Karo Purba Merga Karo-Karo Purba menurut cerita berasal dari Simalungun. Dia disebutkan beristri dua orang, seorang puteri umang dan seorang ular. Dari isteri umang lahirlah merga-merga :  Purba Merga ini mendiami kampung Kabanjahe, Berastagi dan Kandibata.  Ketaren Dahulu merga Karo-Karo Purba memakai nama merga Karo-Karo Ketaren. Ini terbukti karena Penghulu rumah Galoh di Kabanjahe, dahulu juga memakai merga Ketaren. Menurut budayawan Karo, M.Purba, dahulu yang memakai merga Purba adalah Pa Mbelgah. Nenek moyang merga Ketaren bernama Togan Raya dan Batu Maler (referensi K.E. Ketaren).  Sinukaban

Merga Sinukaban ini sekarang mendiami kampung Kaban.. Sementara dari isteri ular lahirlah anak-anak yakni mergamerga :  Karo-Karo Sekali Karo-Karo sekali mendirikan kampung Seberaya dan Lau Gendek, serta Taneh Jawa.  Sinuraya/Sinuhaji Merga ini mendirikan kampung Seberaya dan Aji Siempat, yakni Aji Jahe, Aji Mbelang dan Ujung Aji.  Jong/Kemit Merga ini mendirikan kampung Mulawari.  Samura  Karo-Karo Bukit Kelima Sub Merga ini menurut cerita tidak boleh membunuh ular. Ular dimaksud dalam legenda Karo tersebut, mungkin sekali menggambarkan keadaan lumpuh dari seseorang sehingga tidak bisa berdiri normal. ○ Karo-Karo Sinulingga Merga ini berasal dari Lingga Raja di Pak-Pak, disana mereka telah menemui Merga Ginting Munthe. Sebagian dari Merga Karo-Karo Lingga telah berpindah ke Kabupaten Karo sekarang dan mendirikan kampong lingga. Merga ini kemudian pecah menjadi sub-sub merga, seperti :  Kaban Merga ini mendirikan kampung Pernantin dan Bintang Meriah,  Kacaribu Merga ini medirikan kampung Kacaribu.  Surbakti Merga Surbakti membagi diri menjadi Surbakti dan Gajah. Merga ini juga kemudian sebagian menjadi Merga Torong. Menilik asal katanya kemungkinan Merga Karo-karo Sinulingga berasal dari kerajaan Kalingga di India. Di Kuta Buloh, sebagian dari merga Sinulingga ini disebut sebagai Karo-Karo Ulun Jandi. Merga Lingga juga terdapat di Gayo/Alas dan Pak Pak. ○ Karo-Karo Kaban Merga ini menurut cerita, bersaudara dengan merga Sinulingga, berasal dari Lingga Raja di Pak-Pak dan menetap di Bintang Meriah dan Pernantin. ○ Karo-Karo Sitepu Merga ini menurut legenda berasal dari Sihotang (Toba) kemudian berpindah ke si Ogung-Ogung, terus ke Beras Tepu, Naman, Beganding, dan Sukanalu. Merga Sitepu di Naman sebagian disebut juga dengan nama Sitepu Pande Besi, sedangkan Sitepu dari Toraja (Ndeskati) disebut Sitepu Badiken. Sitepu dari Suka Nalu menyebar ke Nambiki dan sekitar Sei Bingai. Demikian juga Sitepu Badiken menyebar ke daerah Langkat, seperti Kuta Tepu. ○ Karo-Karo Barus Merga Karo-Karo barus menurut cerita berasal dari Baros (Tapanuli Tengah). Nenek moyangnya Sibelang Pinggel (atau Simbelang Cuping) atau si telinga lebar. Nenek moyang merga Karo-Karo Barus mengungsi ke Karo karena diusir kawan sekampung akibat kawin sumbang (incest). Di Karo ia tinggal di Aji Nembah dan diangkat saudara oleh merga Purba karena

mengawini impal merga Purba yang disebut Piring-piringen Kalak Purba. Itulah sebabnya mereka sering pula disebut Suka Piring. (Petra : Wuih, sejarah nenek moyang gw jelek juga, ya….) ○ Karo-Karo Manik Di Buluh Duri Dairi (Karo Baluren), terdapat Karo Manik. 3. Merga Peranginangin Merga Peranginangin terbagi atas beberapa sub merga, yakni : ○ Peranginangin Sukatendel Menurut cerita lisan, merga ini tadinya telah menguasai daerah Binje dan Pematang Siantar. Kemudian bergerak ke arah pegunungan dan sampai di Sukatendel. Di daerah Kuta Buloh, merga ini terbagi menjadi :  Peranginangin Kuta Buloh Mendiami kampung Kuta Buloh, Buah Raja, Kuta Talah (sudah mati), dan Kuta Buloh Gugong serta sebagian ke Tanjung Pura (Langkat) dan menjadi Melayu.  Peranginangin Jombor Beringen Merga ini mendirikan, kampung-kampung, Lau Buloh, Mburidi, Belingking,. Sebagian menyebar ke Langkat mendirikan kampung Kaperas, Bahorok, dan lain-lain.  Peranginangin Jenabun Merga ini juga mendirikan kampong Jenabun,. Ada cerita yang mengatakan mereka berasal dari keturunan nahkoda (pelaut) yang dalam bahasa Karo disebut Anak Koda Pelayar. Di kampung ini sampai sekarang masih ada hutan (kerangen) bernama Koda Pelayar, tempat pertama nahkoda tersebut tinggal. ○ Peranginangin Kacinambun Menurut cerita, Peranginangin Kacinambun datang dari Sikodonkodon ke Kacinambun. ○ Peranginangin Bangun Alkisah Peranginangin Bangun berasal dari Pematang Siantar, datang ke Bangun Mulia. Disana mereka telah menemui Peranginangin Mano. Di Bangun Mulia terjadi suatu peristiwa yang dihubungkan dengan Guru Pak-pak Pertandang Pitu Sedalanen. Di mana dikatakan Guru Pak-pak menyihir (sakat) kampung Bangun Mulia sehingga rumah-rumah saling berantuk (ersepah), kutu anjing (kutu biang) mejadi sebesar anak babi. Mungkin pada waktu itu terjadi gempa bumi di kampung itu. Akibatnya penduduk Bangun Mulia pindah. Dari Bangun Mulia mereka pindah ke Tanah Lima Senina, yaitu Batu Karang, Jandi Meriah, Selandi, Tapak, Kuda dan Penampen. Bangun Penampen ini kemudian mendirikan kampung di Tanjung. Di Batu Karang, merga ini telah menemukan merga Menjerang dan sampai sekarang silaan di Batu Karang bernama Sigenderang. Merga ini juga pecah menjadi :  Keliat Menurut budayawan Karo, Paulus Keliat, merga Keliat merupakan pecahan dari rumah Mbelin di Batu Karang. Merga ini pernah memangku kerajaan di Barus Jahe, sehingga sering juga disebut Keliat Sibayak Barus Jahe.  Beliter Di dekat Nambiki (Langkat), ada satu kampung bernama Beliter dan penduduknya menamakan diri Peranginangin Beliter. Menurut cerita, mereka berasal dari merga

Bangun. Di daerah Kuta Buluh dahulu juga ada kampung bernama Beliter tetapi tidak ditemukan hubungan anatara kedua nama kampung tersebut. Penduduk kampung itu di sana juga disebut Peranginangin Beliter. ○ Peranginangin Mano Peranginangin Mano tadinya berdiam di Bangun Mulia. Namun, Peranginangin Mano sekarang berdiam di Gunung, anak laki-laki mereka dipanggil Ngundong. ○ Peranginangin Pinem Nenek moyang Peranginangin Pinem bernama Enggang yang bersaudara dengan Lambing, nenek moyang merga Sebayang dan Utihnenek moyang merga Selian di Pakpak. ○ Sebayang Nenek Moyang merga ini bernama Lambing, yang datang dari Tuha di Pak-pak, ke Perbesi dan kemudian mendirikan kampung Kuala, Kuta Gerat, Pertumbuken, Tiga Binanga, Gunung, Besadi (Langkat), dan lain-lain. Merga Sembayang (Sebayang) juga terdapat di Gayo/Alas. ○ Peranginangin Laksa Menurut cerita datang dari Tanah Pinem dan kemudian menetap di Juhar. ○ Peranginangin Penggarun Penggarun berarti mengaduk, biasanya untuk mengaduk nila (suka/telep) guna membuat kain tradisional suku Karo. ○ Peranginangin Uwir ○ Peranginangin Sinurat Menurut cerita yang dikemukakan oleh budayawan Karo bermarga Sinurat seperti Karang dan Dautta, merga ini berasal dari Peranginangin Kuta Buloh. Ibunya beru Sinulingga, dari Lingga bercerai dengan ayahnya lalu kawin dengan merga Pincawan. Sinurat dibawa ke Perbesi menjadi juru tulis merga Pincawan (Sinurat). Kemudian merga Pincawan khawatir merga Sinurat akan menjadi Raja di Perbesi, lalu mengusirnya. Pergi dari Perbesi, ia mendirikan kampung dekat Limang dan diberi nama sesuai perladangan mereka di Kuta Buloh, yakni Kerenda. ○ Peranginangin Pincawan Nama Pincawan berasal dari Tawan, ini berkaitan dengan adanya perang urung dan kebiasaan menawan orang pada waktu itu. Mereka pada waktu itu sering melakukan penawananpenawanan dan akhirnya disebut Pincawan. ○ Peranginangin Singarimbun Peranginangin Singarimbun menurut cerita budayawati Karo, Seh Ate br Brahmana, berasal dari Simaribun di Simalungun. Ia pindah dari sana berhubung berkelahi dengan saudaranya. Singarimbun kalah adu ilmu dengan saudaranya tersebut lalu sampailah ia di Tanjung Rimbun (Tanjong Pulo) sekarang. Disana ia menjadi gembala dan kemudian menyebar ke Temburun, Mardingding, dan Tiga Nderket. ○ Peranginangin Limbeng Peranginangin Limbeng ditemukan di sekitar Pancur Batu. Merga ini pertama kali masuk literatur dalam buku Darwan Prinst, SH dan Darwin Prinst, SH berjudul Sejarah dan Kebudayaan Karo. ○ Peranginangin Prasi Merga ini ditemukan oleh Darwan Prinst, SH dan Darwin Prinst, SH di desa Selawang-Sibolangit. Menurut budayawan Karo Paulus

Keliat, merga ini berasal dari Aceh, dan disahkan menjadi Peranginangin ketika orang tuanya menjadi Pergajahen di Sibirubiru. 4. Merga Sembiring Merga Sembiring secara umum membagi diri menjadi dua kelompok yaitu Sembiring yang memakan anjing dan Sembiring yang berpantang memakan anjing. ○ Sembiring Siman Biang (Sembiring yang memakan biang (anjing))  Sembiring Kembaren Menurut Pustaka Kembaren, asal-usul merga ini terdiri dari Kuala Ayer Batu, kemudian pindah ke Pagaruyung terus ke Bangko di Jambi dan selanjutnya ke Kutungkuhen di Alas. Nenek moyang mereka bernama Kenca Tampe Kuala, berangkat bersama rakyatnya menaiki perahu dengan membawa pisau kerajaan bernama Pisau Bala Bari. Keturunannya kemudian mendirikan kampung Silalahi, Paropo, Tumba dan Martogan. Dari sana kemudian menyebar ke Liang Melas, saperti Kuta Mbelin, Sampe Raya, Pola Tebu, Ujong Deleng, Negerijahe, Gunong Meriah, Longlong, Tanjong Merahe, Rih Tengah dan lainlain. Merga ini juga tersebar luas di Kab. Langkat saperti Lau Damak, Batu Erjong-Jong, Sapo Padang, Sijagat, dll.  Sembiring Keloko Menurut cerita, Sembiring Keloko masih satu keturunan dengan Sembiring Kembaren. Merga Sembiring Keloko tinggal di Rumah Tualang, sebuah desa yang sudah ditinggalkan antar Pola Tebu dengan Sampe Raya. Merga ini sekarang terbanyak tinggal di Pergendangen, beberapa keluarga di Buah Raya dan Limang.  Sembiring Sinulaki Sejarah merga Sembiring Sinulaki dikatakan juga sama dengan sejarah Sembiring Kembaren, karena mereka masih dalam satu rumpun. Merga Sinulaki berasal dari Silalahi.  Sembiring Sinupayung Merga ini menurut cerita bersaudara dengan Sembiring Kembaren. Mereka ini tinggal di Juma Raja dan Negeri. ○ Keempat merga ini boleh memakan anjing sehingga disebut Sembiring Siman Biang. ○ Sembiring Singombak Adalah kelompok merga Sembiring yang menghanyutkan abuabu jenasah keluarganya yang telah meninggal dunia dalam perahu kecil melalui Lau Biang (Sungai Wampu). Adapun kelompok merga Sembiring Singombak tersebut adalah sebagai berikut :  Sembiring Brahmana Menurut cerita lisan Karo, nenek moyang merga Brahmana ini adalah seorang keturunan India yang bernama Megitdan pertama kali tinggal di Talu Kaban. Anak-anak dari Megit adalah, Mecu Brahmana yang keturunannya menyebar ke Ulan Julu, Namo Cekala, dan kaban Jahe. Mbulan Brahmana menjadi cikal bakal kesain Rumah Mbulan Tandok Kabanjahe yang keturunannya kemudian pindah ke Guru Kinayan dan keturunannya mejadi Sembiring Guru Kinayan. Di desa Guru Kinayan ini merga Brahmana memperoleh banyak kembali keturunan. Dari

Guru Kinayan, sebagian keturunananya kemudian pindah ke Perbesi dan dari Perbesi kemudian pindah ke Limang.  Sembiring Guru Kinayan Sembiring Guru Kinayan terjadi di Guru Kinayan, yakni ketika salah seorang keturunan dari Mbulan Brahmana menemukan pokok bambo bertulis (Buloh Kanayan Ersurat). Daun bambo itu bertuliskan aksara Karo yang berisi obat-obatan. Di kampung itu menurut cerita dia mengajar ilmu silat (Mayan) dan dari situlah asal kata Guru Kinayan (Guru Ermayan). Keturunannya kemudian menjadi Sembiring Guru Kinayan.  Sembiring Colia Merga Sembiring Colia, juga menurut sejarah berasal dari India, yakni kerajaan Cola di India. Mereka mendirikan kampung Kubu Colia.  Sembiring Muham Merga ini juga dikatakan sejarah, berasal dari India, dalam banyak praktek kehidupan sehari-hari merga ini sembuyak dengan Sembiring Brahmana, Sembiring Guru Kinayan, Sembiring Colia, dan Sembiring Pandia. Mereka inilah yang disebut Sembiring Lima Bersaudara dan itulah asal kata nama kampung Limang. Menurut ahli sejarah Karo. Pogo Muham, nama Muham ini lahir, ketika diadakan Pekewaluh di Seberaya karena perahunya selalu bergempet (Muham).  Sembiring Pandia Sebagaimana sudah disebutkan di atas, bahwa merga Sembiring Pandia, juga berasal dari kerajaan Pandia di India. Dewasa ini mereka umumnya tinggal di Payung.  Sembiring Keling Menurut cerita lisan Karo mengatakan, bahwa Sembiring Keling telah menipu Raja Aceh dengan mempersembahkan seekor Gajah Putih. Untuk itu Sembiring Keling telah mencat seekor kerbau dengan tepung beras. Akan tetapi naas, hujan turun dan lunturlah tepung beras itu, karenanya terpaksalah Sembiring Keling bersembunyi dan melarikan diri. Sembiring Keling sekarang ada di Raja Berneh dan Juhar. ( Keling juga ada di Wikipedia yakni orang India yang berasal dari Kalingga, India)  Sembiring Depari Sembiring Depari menurut cerita menyebar dari Seberaya, Perbesi sampai ke Bekacan (Langkat). Mereka ini masuk Sembiring Singombak, di daerah Kabupaen Karo nama kecil (Gelar Rurun) anak laki-laki disebut Kancan, yang perempuan disebut Tajak. Sembiring Depari kemudian pecah menjadi Sembiring Busok. Sembiring Busok ini terjadi baru tiga generasi yang lalu. Sembiring Busok terdapat di Lau Perimbon dan Bekancan.  Sembiring Bunuaji Merga ini terdapat di Kuta Tengah dan Beganding.  Sembiring Milala Sembiring Milala, juga menurut sejarah berasal dari India, mereka masuk ke Sumatera Utara melalui Pantai Timur di dekat Teluk Haru. Di Kabupaten Karo penyebarannya dimulai dari Beras Tepu. Nenek moyang mereka bernama Pagit pindah ke Sari Nembah. Merka umumnya tinggal di kampung-kampung Sari Nembah, Raja Berneh, Kidupen,

Munte, Naman dan lain-lain. Pecahan dari merga ini adalah Sembiring Pande Bayang.  Sembiring Pelawi Menurut cerita Sembiring Pelawi diduga berasa dari India (Palawa). Pusat kekuasaan merga Pelawi di wilayah Karo dahulu di Bekancan. Di Bekancan terdapat seorang Raja, yaitu Sierkilep Ngalehi, menurut cerita, daerahnya sampai ke tepi laut di Berandan, seperti Titi Pelawi dan Lau Pelawi. Di masa penjajahan Belanda daerah Bekancan ini masuk wilayah Pengulu Bale Nambiki. Kampung-kampung merga Sembiring Pelawi adalah : Ajijahe, Kandibata, Perbesi, Perbaji, Bekancan dan lain-lain.  Sembiring Sinukapor Sejarah merga ini belum diketahui secara pasti, mereka tinggal di Pertumbuken, Sidikalang, dan Sarintonu.  Sembiring Tekang Sembiring Tekang dianggap dekat/bersaudara dengan Sembiring Milala. Di Buah Raya, Sembiring Tekang ini juga menyebut dirinya Sembiring Milala. Kedekatan kedua merga ini juga terlihat dari nama Rurun anak-anak mereka. Rurun untuk merga Milala adalah Jemput (laki-laki di Sari Nembah) / Sukat (laki-laki di Beras Tepu) dan Tekang (wanita). Sementara Rurun Sembiring Tekang adalah Jambe (laki-laki) dan Gadong (perempuan). Kuta pantekennya adalah Kaban, merga ini tidak boleh kawinmengawin dengan merga Sinulingga, dengan alasan ada perjanjian, karena anak merga Tekang diangkat anak oleh merga Sinulingga.

5. Merga Tarigan Ada cerita lisan (Darwin Prinst, SH. Legenda Merga Tarigan dalam bulletin KAMKA No. 010/Maret 1978 ) yang menyebutkan merga Tarigan ini tadinya berdiam di sebuah Gunung, yang berubah mejadi Danau Toba sekarang. Mereka disebut sebagai bangsa Umang. Pada suatu hari, isteri manusia umang Tarigan ini melahirkan sangat banyak mengeluarkan darah. Darah ini, tiba-tiba menjadi kabut dan kemudian jadilah sebuah danau. Cerita ini menggambarkan terjadinya Danau Toba dan migrasi orang Tarigan dari daerah tersebut ke Purba Tua, Cingkes, dan Tongtong Batu. Tiga orang keturunan merga Tarigan kemudian sampai ke Tongging yang waktu itu diserang oleh burung Sigurda-Gurda berkepala tujuh. Untuk itu Tarigan memasang seorang anak gadis menjadi umpan guna membunuh manok Sigurda-gurda tersebut. Sementara di bawah gadis itu digali lobang tempat sebagai benteng merga Tarigan. Ketika burung Sigurda-gurda datang dan hendak menerkam anak gadis itu, maka Tarigan ini lalu memanjat pohon dan menyumpit (eltep) kepala burung garuda itu. Enam kepala kena sumpit, akan tetapi satu kepala tesembunyi di balik dahan kayu. Salah seorang merga Tarigan ini lalu memanjat pohon dan menusuk kepala itu dengan pisau. Maksud cerita ini mungkin sekali, bahwa pada waktu itu sedang terjadi peperangan, atau penculikan anak-anak gadis di Tongging. Pengulu Tongging merga Ginting Manik lalu minta bantuan kepada merga Tarigan untuk mengalahkan musuhnya tersebut Beberapa generasi setelah kejadian ini, tiga orang keturunan merga Tarigan ini diberi nama menurut keahliannya masing-masing, yakni ; Tarigan Pertendong (ahli telepati), Pengeltep (ahli menyumpit) dan Pernangkih-nangkih (ahli panjat). Tarigan pengeltep kawin dengan beru Ginting Manik. Diadakanlah pembagian wilayah antara penghulu Tongging dengan Tarigan Pengeltep. Tarigan menyumpitkan eltepnya

sampai ke Tongtong Batu. Tarigan lalu pergi kesana, dan itulah sebabnya pendiri kampung (Simantek Kuta) di Sidikalang dan sekitarnya adalah Tarigan (Gersang). Tarigan Pertendong dan Tarigan Pernangkih-nangkih tinggal di Tongging dan keturunannya kemudian mejadi Tarigan Purba, Sibero, dan Cingkes, baik yang di Toba maupun yang di Simalungun. Beberapa generasi kemudian berangkatlah dua orang Merga Tarigan dari Tongtong Batu ke Juhar, yang kemudian di Juhar dikenal sebagai Tarigan Sibayak dan Tarigan Jambor Lateng. Tarigan Sebayak mempunyai nama rurun Batu (laki-laki) dan Pagit (perempuan). Sementara nama rurun Tarigan Jambor Lateng adalah Lumbung (laki-laki) dan Tarik (perempuan). Kemudian datang pulalah Tarigan Rumah Jahe dengan nama rurun Kawas (laki-laki) dan Dombat (wanita). Adapun cabang-cabang dari merga Tarigan ini adalah sebagai berikut : ○ Tarigan Tua kampong asalnya di Purba Tua dekat Cingkes dan Pergendangen ○ Tarigan Bondong di Lingga ○ Tarigan Jampang di Pergendangen ○ Tarigan Gersang di Nagasaribu dan Beras Tepu ○ Tarigan Cingkes di Cingkes ○ Tarigan Gana-gana di Batu Karang ; ○ Tarigan Peken di Sukanalu dan Namo Enggang ○ Tarigan Tambak di Kebayaken dan Sukanalu ○ Tarigan Purba di Purba ○ Tarigan Sibero di Juhar, Kuta Raja, Keriahen Munte, Tanjong Beringen, Selakar, dan Lingga ○ Tarigan Silangit di Gunung Meriah (Deli Serdang) ○ Tarigan Kerendam di Kuala, Pulo Berayan dan sebagian pindah ke Siak dan menjadi Sultan disana ○ Tarign Tegur di Suka ○ Tarigan Tambun di Rakut Besi dan Binangara ○ Tarigan Sahing di Sinaman Elemen yang paling mendasar di dalam masyarakat Karo adalah merga atau marga, yang oleh banyak orang Karo diartikan sebagai sesuatu yang “berharga”. Ada lima marga yang terdapat pada masyarakat Karo, yaitu: Karo-Karo, Sembiring, Tarigan, Ginting, Perangin-angin, beserta sub-sub marga yang ada dalam masing-masing marga itu.

Dalam kesatuan lima marga itu (Merga Silima), itulah yang disebut orang Karo. Seorang anak laki-laki akan terus mewariskan marga itu dari ayahnya. Seorang perempuan akan menyandang juga marga ayahnya sebagai beru (perempuan), dan akan terus disandang sampai menikah. Di samping identitas marga dan beru, setiap orang Karo juga memiliki bere-bere (marga yang diperoleh dari ibu/beru). Dua orang yang memiliki bere-bere yang sama dipandang sebagai saudara kandung dan juga menjadi senina (saudara kandung dalam jenis kelamin yang sama) atau turang (dalam jenis kelamin yang berbeda). Yang mempererat masyarakat Karo adalah adat, sebuah relasi tradisional untuk membuat keputusan dan melakukan apa saja. Akan terlihat bahwa adat tidak dapat dibedakan secara jelas dari kepercayaan, agama dan tindakan, kenyataan hidup yang sangat rumit bagi orang-orang Karo yang telah berpikiran modern dalam masyarakat pluralis saat ini. Adat dipandang sebagai sesuatu yang memiliki pengaruh yang supranatural dan memiliki hukum-hukumnya sendiri. Sebagai contoh, seseorang yang telah menikah dan memiliki anak, maka untuk memanggilnya tidak boleh lagi menyebut nama, tetapi nama anaknya disebutkan. Jadi ia akan dipanggil sebagai bapak si “anu”. Ini sebagai sebuah tanda penghargaan, karena seseorang yang sudah memiliki anak telah mendapatkan tuah(berkat). Dengan memanggil seperti itu berarti ia telah dihormati. Banyak lagi panggilan-panggilan yang lain yang dibubuhkan kepada seseorang untuk menggantikan namanya sesuai dengan posisinya dan juga usianya. Nama tidak lagi dipakai, itulah sebagai ungkapan hukum adat yang diberlakukan. Setiap orang Karo, di mana pun ia berada, ketika bertemu, untuk mengetahui posisi masing-masing dalam kekerabatan melakukan ertutur atau berkenalan. Dalam proses ertutur inilah nantinya mereka akan menemukan (satu dengan yang lain) harus memanggil apa dan dalam posisi apa. Di dalam keluarga, baik suami maupun istri pada dasarnya memiliki tanggung jawab untuk saling menjaga satu dan yang lain, dan saling menghargai. Sikap seperti ini tumbuh dalam sistem ikatan penghormatan terhadap sangkep si telu yang sudah disebutkan tadi. Budaya Ertutur Untuk menunjukkan tingkatan kekerabatan di dalam masyarakat Karo dikenal istilah ertutur. Ertutur (ber-tutur) adalah salah satu ciri orang Karo bila ia berkenalan dengan orang yang belum pernah dikenalnya. Biasanya diawali dengan menanyakan marga, kemudian bere-bere (marga ibu) seseorang yang juga bisa dikaitkan dengan keluarga yang masing-masing mereka kenal, bahkan mungkin menanyakan trombo (silsilah) untuk mengetahui tingkat kekerabatan tersebut. Menurut Henry Guntur Tarigan26, tutur adalah sebuah pemeo Karo yang berbunyi “Adi la beluh ertutur, labo siat ku japa pe”, yang berarti “kalau tidak pandai ber-tutur, takkan ada tempat ke mana pun”. Namun, nampaknya pemeo ini akan lebih terasa pada masyarakat Karo yang masih tinggal di pedesaan. Adapun melalui tutur seseorang dapat mengetahui tingkatannya dalam jenis-jenis sebagai berikut: bapa (bapak), nande (ibu), mama (paman), mami (bibi/istri paman), bengkila (panggilan istri terhadap mertua lakilaki), bibi (panggilan istri terhadap mertua perempuan), senina (saudara karena marga, atau sembuyak untuk yang satu ibu), turang (laki-laki terhadap saudara perempuan, atau perempuan sama berunya dengan marga seorang laki-laki), Impal (laki-laki yang bere-bere-nya sama dengan beru seorang wanita, pasangan yang ideal dalam peradatan Karo), silih (abang ipar atau adik ipar), bere-bere (seorang yang memiliki bere-bere yang sama dengan bere-bere seorang lainnya), anak (anak), kempu (cucu), ente (cicit), entah (buyut), turangku (hubungan yang dahulu tabu untuk berbicara langsung, misalnya antara istri kita dengan suami dari saudara perempuan kita), agi (adik), kaka (abang laki-laki/perempuan), permen (sebutan mertua laki-laki terhadap menantu perempuan), nini bulang (kakek), nini tudung/nondong (nenek), empung (kakek dari ayah atau ibu) beru (nenek dari ayah atau ibu).

Budaya ertutur dalam masyarakat Karo terdiri dari enam lapis. Berikut ini penjelasan dari keenam lapis proses ertutur yang dikenal di kalangan masyarakat Karo: 1. Marga/Beru adalah nama keluarga yang diberikan (diwariskan bagi seseorang dari nama keluarga ayahnya secara turun temurun bagi anak laki-laki). Sedangkan bagi anak wanita marga ayahnya disebut beru yang tidak diwariskan bagi anaknya kemudian. 2. Bere-bere adalah nama keluarga yang diwarisi seseorang dari beru ibunya. Bila ibu saya beru Karo, maka bere-bere saya menjadi berebere Karo. 3. Binuang adalah nama keluarga yang diwarisi seorang suku Karo dari bere-bere ayahnya. 4. Kempu (perkempun), adalah nama keluarga yang diwarisi seseorang dari bere-bere ibu. 5. Kampah adalah nama keluarga yang diwarisi seseorang dari beru yang dimiliki oleh nenek buyut (nenek dari ayah). 6. Soler adalah nama keluraga yang diwarisi dari beru empong (nenek dari ibu)29. Lazimnya, proses ertutur dalam masyarakat Karo yang dipakai oleh seseorang hanya sampai kepada lapis kedua. Sedangkan pada lapis ketiga dan seterusnya hanya dipakai dalam acara-acara adat. Kecuali, bila dua orang yang hendak berkenalan, sama sekali tidak memiliki hubungan marga atau beru yang pas, maka diusutlah sampai tingkat ke empat dan enam. Setiap orang yang bertemu dengan orang Karo atau menetap dan tinggal di masyarakat Karo, atau kawin dengan orang Karo dari suku yang lain, untuk dapat membangun kekerabatan melalu proses ertutur ini akan dianugerahi atau dikenakan beru atau marga tertentu. Setelah sistem kekerabatan dapat ditentukan dengan seorang Karo lainnya melalui ertutur ini, maka jalinan hubungan kekerabatan itu dapat dikelompokkan menjadi tiga ikatan yang dikenal dengan istilah rakut si telu (ikatan yang tiga), sebagaimana telah dijelaskan dalam butir (a). Kemudian orang Karo juga mengenal istilah tutur si waluh yang sebenarnya kurang tepat artinya. Sebagaimana tentang tutur sudah disinggung sebelumnya, tutur itu ada 23. Sedangkan yang disebut waluh (delapan) adalah sangkep nggeluh. Jadi sebenarnya sangkep nggeluh si waluh (delapan kelengkapan hidup), yang merupakan pengembangan fungsi dari rakut si telu30. Sangkep nggeluh si waluh itu antara lain adalah: pertama, pengembangan dari tegun kalimbubu adalah (1) puang kalimbubu, dan (2) kalimbubu. Kedua, pengembangan dari tegun senina adalah: (1) senina, (2) sembuyak, (3) senina sepemeren, (4) senina siparibanen. Ketiga, pengembangan dari tegun anak beru adalah: (1) anak beru dan (2) anak beru menteri. Jadi jumlah keseluruhan menjadi 2+4+2=8. Itulah yang disebut sebagai sangkep nggeluh si waluh dalam masyarakat Karo. Budaya ertutur ini merupakan salah satu bentuk pengungkapan identitas Karo. Seseorang akan dikenal dengan baik kalau ia mampu menjelaskan hubungan-hubungan kekerabatan dalam ikatan keluarganya. Di samping itu, ia mampu mengenali marga/beru-nya dan bere-bere-nya, sehingga ketika melakukan perkenalan dengan orang lain (ertutur), ia dapat memposisikan dirinya. Berdasarkan pengalaman penulis saat melakukan penelitian, ataupun saat bergaul dengan pemuda-pemuda di gereja, ketika proses ertutur ini dilakukan antara satu orang dengan yang lain, yang baru pertama kali bertemu, secara cepat dan spontan salah satu atau kedua-duanya dari mereka mengatakan “Aku enggak bisa ertutur!”, (aku enggak bisa berkenalan). Ini menandakan betapa perhatian terhadap hal-hal paling kecil, paling mendasar dalam identitas kekaroan (yaitu masalah marga/beru) sudah tidak terlalu dipahami lagi. Ini jelas fenomena yang menunjukkan bahwa bentukan identitas yang diinginkan oleh sebagian generasi muda bukanlah identitas yang kaku, rumit dan tidak populer seperti “identitas

kekaroan” (dalam pandangan mereka). Padahal kekhasan orang Karo salah satunya adalah pada proses ertutur itu sendiri. Namun, harapan masih tetap ada, mungkin saja sikap-sikap yang ditunjukkan oleh generasi muda (dari pandangan orang tua terhadap orang muda yang diketahui penulis lewat wawancara) akibat dari ketidaktahuan, atau kurang sadarnya pemuda/i Karo akan pentingnya nilai sebuah identitas. Mungkin saja kalau kesadaran mereka dibangkitakan, semangat mereka akan bangkit pula untuk melestarikan, memelihara dan mengembangkan budayanya, sekalipun hal itu kelihatannya rumit. Bukankah kepopulerannya akan sangat tergantung pada bagaimana cara kita memeliharanya?

BAB II SEKILAS WILAYAH MASYARAKAT KARO Masyarakat

GEOGRAFI

Karo sendiri bermukim di wilayah sebelah barat laut Danau Toba yang mencakup luas wilayah sekitar 5.000 kilometer persegi yang secara astronomis terletak sekitar antara 3′ dan 3′30″ lintang utara serta 98′ dan 98′30″ bujur timur. Wilayah Tanah Karo tersusun atas dua wilayah utama sebagai berikut: • Dataran tinggi Tanah Karo, yang mencakup seluruh wilayah Kabupaen Karo dan pusat administratifnya di kota Kabanjahe. Wilayah dataran tinggi Tanah Karo ini menjorok ke selatan hingga masuk ke wilayah Kabupaten Dairi (khususnya Kecamatan Taneh Pinem dan Tiga Lingga), serta ke arah timur masuk ke bagian wilayah Kecamatan Si Lima Kuta yang terletak di Kabupaten Simalungun. Masyarakat Karo menyebut wilayah pemukiman dataran tinggi ini dengan nama Karo Gugung. Dataran rendah Tanah Karo yang mencakup wilayah-wilayah kecamatan dari Kabupaten Langkat dan Kabupaten Deli Serdang yang terletak pada bagian ujung selatan secara geografis ( namun tertinggi secara topografis). Wilayah ini dimulai dari plato Tanah Karo yang membentang ke bawah hingga mencapai sekitar kampung-kampung Bahorok, Namo Ukur, Pancur Batu, dan Namo Rambe yang ada di

sebelah utara, serta Bangun Purba, Tiga Juhar, dan Gunung Meriah di sisi timur. Masyarakat Karo menyebut daerah ini dengan nama Karo Jahe (Karo Hilir). Wilayah dataran tinggi Tanah Karo dianggap sebagai pusat kebudayaan dan tanah asli nenek moyang masyarakat Batak Karo. Di wilayah ini, bahasa tidak banyak tersentuh oleh pengaruh-pengaruh luar dan ikatan kekerabatan serta kehidupan tradisional masih terpelihara sangat kuat. Kebanyakan masyarakat dataran tinggi Karo hidup dari bercocok tanam kecil-kecil dengan menanam padi dan sayur-sayuran untuk konsumsi sehari-hari serta berbagai tanam-tanaman komersial untuk kebutuhan pasar domestik dan ekspor. Wilayah pemukiman dataran rendah yang ada di Kabupaten Langkat dan Kabupaten Deli Serdang umumnya lebih terorientasi pada produksi tanamtanaman budidaya seperti karet dan kelapa sawit. Wilayah dataran rendah Karo ini lebih banyak menyerap pengaruh masyarakat Melayu pesisir yang pada umumnya menganut agama Islam dant erkadang mengharuskan mereka menyisihkan nama marga mereka sehingga hubungan kekerabatan dengan sanak-saudara mereka di dataran tinggi jadi terputus.

Sejarah Wilayah
Kerajaan Aru atau Haru adalah diperkirakan pernah berdiri di wilayah pantai timur Sumatera Utara sekarang. Nama Kerajaan Aru disebutkan dalam Kakawin Nagarakretagama sebagai salah satu kerajaan taklukan Majapahit. Dalam Sulalatus Salatin Haru disebut sebagai kerajaan yang setara kebesarannya dengan Malaka dan Pasai. Peninggalan arkeologi yang dihubungkan dengan Kerajaan Haru telah ditemukan di Kota Cina dan Kota Rantang. Daftar isi [sembunyikan] • • • • 1 Lokasi Kerajaan Haru 2 Sejarah 3 Sosial, Ekonomi, dan Budaya 4 Rujukan

[sunting] Lokasi Kerajaan Haru Terdapat perdebatan tentang lokasi tepatnya dari pusat Kerajaan Haru. [1]. Winstedt meletakkannya di wilayah Deli yang berdiri kemudian, namun ada pula yang berpendapat Haru berpusat di muara Sungai Panai. Groeneveldt menegaskan lokasi Kerajaan Aru berada kira-kira di muara Sungai Barumun (Padang Lawas) dan Gilles menyatakan di dekat Belawan. Sementara ada juga yang menyatakan lokasi Kerajaan Aru berada di muara Sungai Wampu (Teluk Haru/Langkat). [2] [sunting] Sejarah Haru pertama kali muncul dalam kronik Cina masa Dinasti Yuan, yang menyebutkan Kublai Khan menuntut tunduknya penguasa Haru pada Cina pada 1282, yang ditanggapi dengan pengiriman upeti oleh saudara penguasa Haru pada 1295. Negarakartagama menyebut Haru sebagai salah satu negara bawahan Majapahit. Islam masuk ke kerajaan Haru paling tidak pada abad ke-13[2]. Kemungkinan penduduk Haru lebih dulu memeluk agama Islam daripada Pasai, seperti yang disebutkan Sulalatus Salatin dan dikonfirmasi oleh Tome Pires[1]. Terdapat indikasi bahwa penduduk asli Haru berasal dari suku Karo, seperti nama-nama pembesar Haru dalam Sulalatus Salatin yang mengandung nama dan marga Karo. [2] Pada abad ke-15 Sejarah Dinasti Ming menyebutkan bahwa "Su-lu-tang Husin", penguasa Haru, mengirimkan upeti pada Cina tahun 1411. Setahun kemudian Haru dikunjungi oleh armada Laksamana Cheng Ho. Pada 1431 Cheng Ho kembali mengirimkan hadiah pada raja Haru, namun saat itu Haru

tidak lagi membayar upeti pada Cina. Pada masa ini Haru menjadi saingan Kesultanan Malaka sebagai kekuatan maritim di Selat Malaka. Konflik kedua kerajaan ini dideskripsikan baik oleh Tome Pires dalam Suma Oriental maupun dalam Sejarah Melayu. Pada abad ke-16 Haru merupakan salah satu kekuatan penting di Selat Malaka, selain Pasai, Portugal yang pada 1511 menguasai Malaka, serta bekas Kesultanan Malaka yang memindahkan ibukotanya ke Bintan. Haru menjalin hubungan baik dengan Portugal, dan dengan bantuan mereka Haru menyerbu Pasai pada 1526 dan membantai ribuan penduduknya. Hubungan Haru dengan Bintan lebih baik daripada sebelumnya, dan Sultan Mahmud Syah menikahkan putrinya dengan raja Haru, Sultan Husain. Setelah Portugal mengusir Sultan Mahmud Syah dari Bintan pada 1526 Haru menjadi salah satu negara terkuat di Selat Malaka. Namun ambisi Haru dihempang oleh munculnya Aceh yang mulai menanjak.[1] Catatan Portugal menyebutkan dua serangan Aceh pada 1539, dan sekitar masa itu raja Haru terbunuh oleh pasukan Aceh. Istrinya, ratu Haru, kemudian meminta bantuan baik pada Portugal di Malaka maupun pada Johor (yang merupakan penerus Kesultanan Malaka dan Bintan). Armada Johor menghancurkan armada Aceh di Haru pada 1540.[1] Aceh kembali menaklukkan Haru pada 1564. Sekali lagi Haru berkat bantuan Johor berhasil mendapatkan kemerdekaannya, seperti yang dicatat oleh Hikayat Aceh dan sumber-sumber Eropa. Namun pada abad akhir ke-16 kerajaan ini hanyalah menjadi bidak dalam perebutan pengaruh antara Aceh dan Johor. Kemerdekaan Haru baru benar-benar berakhir pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda dari Aceh, yang naik tahta pada 1607. Dalam suratnya bertanggal tahun 1613 kemenangannya atas Haru. Dalam masa ini sebutan Haru atau Aru juga digantikan dengan nama Deli. Wilayah Haru kemudian mendapatkan kemerdekaannya dari Aceh pada 1669, dengan nama Kesultanan Deli. [sunting] Sosial, Ekonomi, dan Budaya Raja Haru dan penduduknya telah memeluk agama Islam, sebagaimana disebutkan dalam Yingyai Shenglan (1416), karya Ma Huan yang ikut mendampingi Laksamana Cheng Ho dalam pengembaraannya . Dalam Hikayat Raja-raja Pasai dan Sejarah Melayu disebutkan kerajaan tersebut diislamkan oleh Nakhoda Ismail dan Fakir Muhammad, yang juga mengislamkan Merah Silu, Raja Samudera Pasai pada pertengahan abad ke13. Sumber-sumber Cina menyebutkan bahwa adat istiadat seperti perkawinan, adat penguburan jenazah, bahasa, pertukangan, dan hasil bumi Haru sama dengan Melaka, Samudera dan Jawa. Mata pencaharian penduduknya adalah menangkap ikan di pantai dan bercocok tanam. Tetapi karena tanah negeri itu tidak begitu sesuai untuk penanaman padi, maka sebagian besar penduduknya berkebun menanam kelapa, pisang dan mencari hasil hutan seperti kemenyan. Mereka juga berternak unggas, bebek, kambing. Sebagian penduduknya juga sudah mengkonsumsi susu. Apabila pergi ke hutan mereka membawa panah beracun untuk perlindungan diri. Wanita dan laki-laki menutupi sebagian tubuh mereka dengan kain, sementara bagian atas terbuka. Hasil-hasil bumi dibarter dengan barang-barang dari pedagang asing seperti keramik, kain sutera, manik-manik dan lain-lain. (Groeneveldt, 1960: 94-96) [2]. Peninggalan arkeologi di Kota Cina menunjukkan wilayah Haru memiliki hubungan dagang dengan Cina dan India. [3].Namun dalam catatan Ma Huan, tidak seperti Pasai atau Malaka, pada abad ke-15 Haru bukanlah pusat perdagangan yang besar. [1]. Agaknya kerajaan ini kalah bersaing dengan Malaka dan Pasai dalam menarik minat pedagang yang pada masa sebelumnya aktif mengunjungi Kota Cina. Raja-raja Haru kemudian mengalihkan perhatian mereka ke perompakan.[3] Haru memakai adat Melayu, dan dalam Sulalatus Salatin para pembesarnya menggunakan gelar-gelar Melayu seperti "Raja Pahlawan" dan "Sri Indera".

Namun adopsi terhadap adat Melayu ini mungkin tidak sepenuhnya, dan unsur-unsur adat non-Melayu (Batak/Karo) masih ada. [1] Menelusuri Jejak Kejayaan Kerajaan Aru

Oleh:

Ery Soedewo dan R. Wahyu Oetomo

Bayangkan seusai pertama kali kita datang berkunjung ke suatu tempat, pasti akan tersimpan dalam ingatan kita beberapa hal yang khas dari tempat itu. Entah makanannya, keseniannya, adat kebiasaannya maupun sejarah beserta tinggalan-tinggalan kunonya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari khasanah kebudayaan setempat. Kita ambil contohnya adalah, Yogyakarta dalam benak kita mungkin akan tersimpan manis atau legitnya nasi gudeg, atau gemulai tarian tradisionalnya, serta lemah lembut tutur masyarakatnya, dan tentu tidak akan terlewatkan adalah kemegahan candicandi dari masa Mataram Kuno yang banyak bertebaran di sana seperti Prambanan dan Borobudur. Lalu bagaimana dengan Kota Medan ? Tentunya juga memiliki sejumlah kekhasan yang tidak akan mudah dilupakan oleh para pengunjung baik dalam negeri maupun mancanegara. Sebut saja sajian kuliner khasnya yakni bika ambon, atau rancaknya gerakan para penari Serampang Duabelas, maupun kelugasan tutur dan sikap warganya, dan tidak terlewatkan adalah kemegahan Mesjid Raya Al-Mashun maupun keindahan Istana Maimun. Sebagai sebuah kota besar, perjalanan sejarah Medan sebenarnya tidak kalah panjangnya dibanding sejumlah kota besar lain di Indonesia. Jejak masa lalunya tidak terhenti pada keberadaan Mesjid Raya Al-Mashun atau Istana Maimun –yang keduanya berasal dari akhir abad XIX dan awal abad XX M- saja. Sebab sejumlah data arkeologis menunjukkan embrio kota besar ini dapat dirunut sedini abad ke-11 M, walaupun data historisnya merujuk pada abad ke-14 M. Embrio dimaksud adalah sebuah kerajaan yang pernah sangat berpengaruh di kawasan Selat Malaka yang dalam sumber-sumber sejarah dikenal sebagai Aru atau Haru. Kilas Sejarah Aru Kata Aru atau Haru merupakan nama dari suatu kerajaan yang keberadaannya telah disebut-sebut dalam berbagai sumber tertulis baik lokal maupun mancanegara antara abad ke-14 M hingga abad ke-17 M. Sumber tertulis tertua yang menyebutkan tentang Aru adalah yang berasal dari Prapanca, seorang pujangga istana Majapahit pada pertengahan abad ke-14 M. Dalam pujasastra karyanya yang berjudul Desawarnana (Pemerincian/Deskripsi Negara) atau yang lebih dikenal sebagai Negarakertagama Prapanca menyebutkan sejumlah nama tempat yang berada di Pulau Sumatera. Pada pupuh ke-13 bait ke-1 disebutkannya antara lain ...ksoni ri Malayu, ... Kampe, Haru, athawe Mandahiling... yang artinya kurang lebih ... terletak di bumi Malayu (penyebutan Pulau Sumatera kala

itu) ...Kampai, Haru, Mandailing... . Data tertulis berikutnya berasal dari awal abad ke-15 M yang merujuk pada laporan Ma Huan, seorang penerjemah muslim China yang turut dalam armada penjelajahan samudera Laksamana Cheng Ho. Dalam karyanya yang berjudul Ying-Yai Sheng-Lan (Survei Menyeluruh Terhadap Pantai-Pantai Samudera) disebutkan tentang A-lu (Aru) yang berbatasan dengan Su-menta-la (Samudera-Pasai); penduduknya adalah kaum muslim yang bercocok tanam dan menangkap ikan sebagai mata pencahariannya. Memasuki abad ke-16 M, makin banyak sumber tertulis yang berkaitan dengan keberadaan Aru. Data dari masa tersebut terutama berasal dari para penulis Eropa antara lain Tome Pires (orang Portugis) yang memerikan Aru di awal abad ke-16 M. Dalam karyanya yang berjudul Suma Oriental (ditulis antara tahun 1512 hingga 1515). Aru disebut sebagai suatu kerajaan besar bahkan yang terbesar di antara kerajaan-kerajaan yang ada di Pulau Sumatera. Rajanya adalah seorang muslim yang hidup di daerah pedalaman yang banyak dialiri sungai. Walaupun pusat kerajaannya di pedalaman dia memiliki armada lancara (nama sejenis perahu) yang digunakannya untuk merompak di lautan. Namun kejayaan Aru sebagai kerajaan dengan armada lautnya yang disegani mulai terancam oleh perkembangan kerajaan Aceh. Setelah penaklukan bandar Malaka oleh Portugis pada tahun 1511, banyak pedagang yang mengalihkan perniagaannya ke Pulau Sumatera. Salah satu kerajaan yang diuntungkan oleh kondisi itu adalah kerajaan Aceh. Seiring berkembangnya perekonomiannya, semakin besar pula pengaruh kerajaan Aceh terhadap daerah sekelilingnya. Dalam pandangan geopolitik masa itu keberadaan Aru sebagai kerajaan besar di pantai timur Sumatera jelas merupakan pesaing potensial bagi bandar Aceh. Oleh karena itu maka keberadaan Aru sebagai ancaman potensial bagi Aceh harus ditundukkan, dan hal itu terwujud ketika pada tahun 1539 Aru diserang oleh Aceh. Menyadari kekuatan yang akan diserangnya bukanlah kerajaan kecil, kerajaan Aceh mengerahkan segala daya yang dimilikinya termasuk satu kompi prajurit Turki yang terdiri dari 60 prajurit reguler dan 40 orang pasukan istimewa kesultanan Turki Utsmani (Ottoman) yang disebut Janisari. Setelah bertahan sekian lama akhirnya benteng Aru berhasil ditembus pasukan Aceh. Orang-orang Aru yang selamat dalam sumber-sumber tertulis lokal di antaranya adalah janda penguasa Aru yang berhasil meloloskan diri melalui alur sungai Deli hingga menyeberangi Selat Malaka menuju Johor untuk memohon bantuan. Adakah tokoh perempuan ini (janda penguasa Aru) yang dalam sumber-sumber tutur tradisional --Melayu maupun Karo-disebut sebagai Puteri Hijau ? Kiranya hingga ditemukannya bukti sejarah yang relevan hal itu masih terus dipertanyakan.

Jejak-jejak Kejayaan Aru Perjalanan menelusuri jejak kerajaan Aru kita mulai dari sebuah situs purbakala yang terletak di sekitar objek wisata Danau Siombak, daerah Medan Labuhan yang dikenal di kalangan arkeolog dan sejarawan sebagai situs Kota China. Kota China adalah sebuah situs dengan bukti-bukti arkeologis yang sementara ini oleh para sejarawan dan ahli purbakala dianggap merupakan jejak tertua yang dapat dikaitkan dengan keberadaan kerajaan Aru. Keberadaan situs yang meliputi kawasan seluas sekitar 10 hektar di daerah Medan Labuhan ini pertama kali dilaporkan oleh Edward McKinnon pada tahun 1972. Beberapa kali penelitian arkeologis terhadap situs ini menghasilkan sejumlah data kepurbakalaan baik yang sifatnya monumental maupun nonmonumental. Tinggalan monumental dimaksud adalah sisa-sisa dari struktur suatu bangunan bata yang diduga merupakan bangunan keagamaan Hindu atau Buddha. Tidak jauh dari tempat ditemukannya struktur bata tersebut ditemukan 4 arca batu, yang terdiri dari 2 arca Buddha dan dan 2 arca lainnya menggambarkan sosok dewa-dewa Hindu yakni Wisnu dan Laksmi. Kini 3 dari keempat arca tersebut dapat dilihat di Museum Negeri Sumatera Utara di Jalan H.M. Joni, Medan, sedangkan 1 arca Buddha disimpan oleh satu keluarga Tionghoa tidak jauh dari Kota China sebagai sosok pujaan dalam pekong keluarga tersebut. Berdasarkan gaya seninya arca-arca dari Kota China tersebut tampak sangat dipengaruhi oleh gaya seni Chola (India selatan). Masa kejayaan Kota China diperkirakan berlangsung antara abad ke-11 M hingga abad ke-14 M, yang didasarkan atas penemuan pecahan-pecahan keramik China dari masa Dinasti Sung (abad ke-11 hingga ke-13 M) hingga Dinasti Yuan (abad ke-13 hingga ke-14 M). Situs lain yang berkaitan dengan keberadaan kerajaan Aru adalah situs Benteng Putri Hijau di daerah Deli Tua. Situs ini secara administratif terletak di Desa Deli Tua, Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang. Keberadaan bangunan pertahanan yang dibuat dari timbunan tanah ini dapat dihubungkan dengan pemberitaan Tome Pires (dari awal abad ke-16 M) tentang pusat kerajaan Aru yang berada di pedalaman yang banyak dialiri sungai. Mungkin yang dimaksud oleh Pires adalah aliran Sungai Deli yang di bagian hulu dikenal sebagai Sungai Petani. Data lain yang memperkuat dugaan bahwa situs ini berasal dari kurun abad ke-15 adalah banyaknya pecahan keramik berwarna putih biru dari masa Dinasti Ming (antara abad ke-14 M hingga abad ke-17 M). Data artefaktual lain yang ditemukan di situs ini oleh masyarakat setempat adalah koin-koin emas beraksara Jawi (Arab Melayu) yang oleh para pakar numismatik (mata

uang kuno) dipastikan sebagai mata uang dari masa Kesultanan Aceh Darussalam atau yang dikenal sebagai uang Dirham. Setelah lelah menelusuri sisa-sisa Benteng Putri Hijau, kita dapat menyegarkan diri dengan kesegaran dan kesejukan air dari sumber air yang oleh masyarakat dikenal sebagai Pancuran Putri Hijau dan Pancuran Gading. Kedua sumber air tersebut hingga kini oleh sebagian anggota masyarakat dipercaya memiliki daya tertentu sehingga pada hari-hari tertentu tempat ini ramai dikunjungi. Refleksi Perjalanan Konon, mahluk hidup yang mempunyai kemampuan menyimpan memori akan masa lalunya hanya 2 jenis –-keduanya dari kelas mamalia-- yakni kita manusia dan yang lain adalah gajah. Para zoologist (ahli margasatwa) mengamati perilaku gajah di Afrika yang pada masa-masa tertentu datang di suatu tempat yang merupakan tempat matinya salah satu anggota kelompok mereka. Seolah manusia yang menziarahi makam keluarganya, gajah-gajah itu mengendus dan menghembuskan tanah di sekitar tempat matinya anggota kelompok mereka. Lebih kompleks dari tingkah gajah itu adalah perilaku manusia yang tidak saja mendatangi makam keluarganya, mereka juga sering mendatangi tempat-tempat yang memiliki kaitan dengan sejarah masa lalu mereka. Entah tujuannya itu dilatarbelakangi kebutuhan religius maupun yang sekedar rekreatif, keduanya berpangkal pada satu hal yakni kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. Mungkin sebagian orang menganggap perjalanan ini sebagai suatu kesiasiaan belaka, yang tidak membawa dampak dan manfaat bagi kehidupan kini dan mendatang. Sepintas pendapat tersebut boleh jadi benar, namun coba kita telaah lebih jernih dan tenang tentang kemajuan atau kemapanan negara-negara yang kita kenal sekarang. Secara asal saja silahkan sebut barang 1, 2, atau 3 negara maju yang saat ini mapan secara perekonomiannya, seperti Amerika Serikat, Jepang, atau jiran kita Singapura, semuanya memiliki apresiasi yang baik terhadap tinggalan budayanya termasuk di dalamnya tinggalan purbakalanya. Anda yang tidak sependapat dengan ide tersebut pasti akan berkilah, ”Semua negara yang Anda sebutkan itu sudah mapan secara ekonomi, oleh karena itu urusan perut tidak lagi menjadi prioritas bagi mereka, sehingga wajar jika mereka memiliki perhatian terhadap hal-hal seperti itu.” Maaf bila jawaban berikut ini membuat telinga sebagian dari yang mempunyai pikiran seperti itu menjadi merah. Ketiga negara itu dalam kondisi seperti saat ini salah satu sebabnya adalah karena sedari awal mereka memiliki kesadaran bahwa segala bentuk warisan budaya bangsa yang dimilikinya adalah aset penting yang tidak saja memiliki arti penting secara ideologis atau akademis, bahkan ke depan akan mendatangkan nilai

ekonomis. Ambil contohnya Singapura, jejak perjalanan masa lalu mereka hanya sedikit meninggalkan tinggalan fisik (situs maupun artefaktual), salah satunya adalah situs dari masa Perang Dunia II yakni Bukit Chandu yang merupakan kubu pertahanan 1 kompi pasukan Inggris yang terdiri dari orang-orang Melayu. Situs bersehaja yang berupa bukit kecil ini sepintas dilihat hanyalah bukit biasa namun karena terdapat 1 museum kecil berkaitan dengan sejarahnya serta dikelola secara profesional, maka berdatanganlah para wisatawan ke situs ini, dan ini berarti devisa (baca uang). Benteng Putri Hijau jauh lebih memiliki potensi dibanding situs Bukit Chandu, sebab situs yang terletak di Deli Tua ini masih menyisakan bentang fisiknya yang berupa benteng tanah, sejumlah artefak hasil temuan masyarakat, serta ditunjang pula oleh keberadaan mata air Pancuran Putri Hijau dan Pancuran Gading makin memberi nilai tambah dibanding apa yang dimiliki Singapura. Bila ditinjau dari segi ideologis-akademis, ada yang bilang masa lalu kita termasuk di dalamnya sejarah perjalanan bangsa ini adalah kaca spion bagi kita agar dalam melangkah kita lebih bijak dalam bertindak. Jika tidak ada benda itu ibarat kita adalah --maaf-- babi hutan yang --memang-- selalu maju terus tapi dalam wujud yang paling brutal, sruduk sana sruduk sini tanpa kendali. Adakah kita babi hutan ? jawabannya pasti tidak, kita adalah manusia yang memiliki pikiran sehingga punya kebijakan sebelum bertindak. Sarana untuk itu sebenarnya kita miliki namun belum sepenuhnya kita manfaatkan, sehingga sebagai bangsa sepertinya kita selalu ceroboh dalam bertindak. Kekacauan dan ketidakpastian bangsa ini salah satu sebabnya adalah kita malas untuk belajar dari masa lalu kita, padahal apa yang terjadi saat ini, menurut para sejarawan tidak lain adalah pengulangan dari peristiwa-peristiwa di masa lalu, yang membedakannya hanyalah konteks masa dan budaya yang melingkupinya, namun wujudnya pada dasarnya tidak jauh berbeda. Tentu kita bukanlah bangsa babi hutan, juga bukan bangsa keledai (yang katanya tidak pernah terperosok di lubang yang sama). Oleh karena itu marilah kita belajar dari masa lalu kita, dan tentunya untuk itu mari lestarikan jejak-jejak masa lalu itu jangan sampai lenyap, sebab dari situlah kita bercermin. ••• Penulis adalah peneliti di Balai Arkeologi Medan. Menelusuri Jejak Kerajaan Aru Sabtu, 23/8/2008 Oleh Juraidi Kerajaan Aru merupakan kerajaan besar dan penting yang pernah berdiri pada abad ke-13 hingga 16 Masehi di bagian utara pulau Andalas (Sumatera).

Namun sayangnya berita tentang kerajaan ini sangat minim terdengar, kalah pamor dengan kerajaan-kerajaan lain yang pernah jaya di Nusantara seperti Kerajaan Majapahit, Singosari dan Sriwijaya. "Padahal kerajaan ini banyak disebut pada Amukti Palapa dalam Hikayat Pararaton, sejarah Melayu, dalam laporan Mendez Pinto (penguasa Portugis di Malaka), laporan admiral Cheng Zhe (Cheng Ho) maupun pengembara dari negeri China lainnya," kata sejarawan Universitas Negeri Medan (Unimed), Dr Phill Ichwan. Berdasarkan sejumlah literatur, pusat Kerajaan Aru dinyatakan berpindahpindah. Sebagian menyebut di Telok Aru di kaki Gunung Seulawah (Aceh Barat), kemudian di Lingga, Barumun dan bahkan di Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang. Namun demikian, aktivitas arkeologi yang telah dilakukan berkesimpulan bahwa pusat Kerajaan Aru berada di Kota Rentang (Hamparan Perak) di Kabupaten Deli Serdang dari abad ke-13 hingga 14 Masehi, sebelum akhirnya pindah ke Deli Tua dari abad 14 hingga 16 M akibat serangan dari Aceh. "Hipotesa bahwa Kota Rentang adalah pusat Kerajaan Aru banyak didukung oleh faktor seperti jalur dari Karo Plateau maupun Hinterland menuju pantai timur yang terfokus pada Sei Wampu dan Muara Deli. Di kawasan itu juga ditemukan ragam keramik yang berasal dari China, Muangthai, Srilangka, serta koin atau mata uang Arab dari abad ke-13 hingga 14," katanya. Temuan yang paling menakjubkan adalah ditemukannya batu kubur (nisan) yang tersebar di situs sejarah penting tersebut. Batu kubur yang terbuat dari batu cadas (volcanic tuff) yang ditemukan memiliki ornamentasi dalam berbagai ukuran dan sebagian bertuliskan Arab-Melayu dan banyak menunjukkan kemiripan dengan yang ditemukan di Aceh. Di rawa-rawa di kawasan yang sama juga ditemukan kayu-kayu besar yang diduga merupakan bekas istana Kerajaan Aru serta batu-batu besar yang diduga bekas bangunan candi. Juga ditemukan bongkahan perahu tua dengan panjang 30 hingga 50 meter yang menunjukkan bahwa Kota Rentang merupakan pusat niaga yang padat pada abad tersebut. Terbesar Sejarawan dari Universitas Sumatera Utara, Tuanku Luckman Sinar, mengatakan, pada abad ke-15 Kerajaan Aru merupakan kerajaan terbesar di Sumatera dan memiliki kekuatan yang dapat menguasai lalulintas perdagangan di Selat Malaka. Kerajaan Aru yang meliputi wilayah pesisir Sumatera Timur, yaitu batas Tamiang sampai Sungai Rokan, sudah mengirimkan beberapa kali misi ke Tiongkok yang dimulai pada tahun 1282 Masehi pada zaman pemerintahan Kubilai Khan. Kerajaan Aru juga pernah ditaklukkan oleh Kertanegara dalam ekpedisi Pamalayu (1292) dan ditulis dalam pararaton "Aru yang Bermusuhan". Tetapi setelah itu Aru pulih kembali dan menjadi makmur sebagai mana dicatat oleh bangsa Persia, Fadiullah bin Abdul Kadir Rashiduddin dalam bukunya "Jamiul Tawarikh" (1310 M), jelasnya. Musibah kembali menimpa Kerajaan Aru ketika Majapahit menaklukkannya pada tahun 1365 M. Seperti tertera dalam syair Negarakertagama strope 13:1, pada masa itu Majapahit juga menaklukkan Panai (Pane) dan Kompai (Kampe) di Teluk Haru. Dalam laporan Tiongkok abad ke-15 juga disebut berkali-kali Aru yang Islam mengirim misi ke Cina. Baik dari laporan-laporan China maupun dari laporan Portugis yang ditulis kemudian, menunjukkan sekitar Sungai Deli menjadi pusat Kerajaan Aru dengan bandarnya Kota Cina dan Medina (Medan) sebagaimana disebut-sebut Laksamana Turki Ali Celebi dalam "Al Muhit". Mengenai Kota Rentang sebagai pusat Kerajaan Aru juga diperkuat oleh Prof. Naniek H Wibisono, tim Puslitbang Aarkeolog Nasional Badan Litbang Kebudayaan dan Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Menurut dia, hasil penelitian eksploratif di situs Kota Rentang memunculkan dugaan bahwa lokasi tersebut merupakan bagian dari jaringan permukiman dan aktivitasnya yang saling terkait. Asumsi tersebut berdasarkan pola persebaran dan variabilitas tinggalan arkeolog seperti keramik, tembikar, artefak batu, sisa-sisa tulang, mata uang, damar dan batu nisan. Keberadaan tinggalan arkeologi terutama keramik dan mata uang yang menjadikan bukti bahwa di lokasi tersebut pernah terjadi aktivitas yang berhubungan dengan perniagaan, katanya. Keramik merupakan suatu komoditi dari luar Nusantara yang banyak ditemukan. Penemuan tersebut menjadi kunci penting sejarah perniagaan, baik secara lokal maupun interlokal. "Kita menemukan bukti-bukti yang meyakinkan untuk lebih memperjelas gambaran tentang apa yang berlangsung di wilayah itu pada masa lampau," tambahnya. Melalui keramik, katanya, dapat ditelusuri kapan sesungguhnya Kota Rentang mulai berperan dalam perniagaan. Selain itu, melalui persamaan variabilitas dan kronologi tinggalan arkeologi juga dapat diketahui keberadaan situs Kota Rentang dan hubungannya dengan situs-situs lainnya. "Dari hasil penelitian ini diduga tinggalan arkeologi yang ditemukan memiliki persamaan dengan situs lainnya yang terletak dalam satu jaringan pesisirpedalaman, antara lain Kota Cina," katanya. Pasca serangan Aceh pada akhir abad ke-14, pusat Aru berpindah dari Kota Rentang ke Deli Tua dan berdiri dari abad ke-15 hingga 16 M. Di situs Aru Deli Tua ditemukan Benteng Putri Hijau (Green Princess Castle), keramik yang berasal dari China, Muangthai, Sri Langka maupun Burma. Temuan keramik tersebut menunjukkan periode yang sama dengan temuan di Kota Rantang. (ANT) BERITA TERBARU

13 Juli 2008 ,09:41 WIB Situs Aru Harus Dilindungi Medan, isekolah.org - Artefak berusia ratusan tahun peninggalan Kerajaan Aru kembali ditemukan.Sejarawan,arkeolog,dan Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Sumut meminta pemerintah melindungi kawasan itu. ’’Kami berkumpul di sini untuk meminta kepada pemerintah agar temuan-temuan benda bersejarah dilindungi. Begitu juga dengan kawasan lokasi penemuan, untuk pengembangan hasil penelitian,”papar Ketua ISMI Sumut Umar Zein kepada wartawan ketika di Istana Maimun kemarin. Zein menyatakan, penemuan arkeologis di tanah Melayu harus mendapat perhatian dari pemerintah. Sebab, hal itu berkaitan dengan sejarah peradaban Melayu. Kerajaan Aru merupakan cikal bakal dari Kesultanan Deli. Untuk itu, penting menggali kembali sisa-sisa peninggalan untuk penelitian lanjutan.Tanpa penelitian, etnis Melayu akan kehilangan akar sejarahnya. Dia juga mengimbau agar masyarakat di sekitar Sungai Bedra, Kelurahan Terjun Medan Marelan––tempat ditemukannya peninggalan sejarah terakhir––turut menjaga dan melindungi penemuan tersebut. Pemerintah juga dapat memberikan kompensasi ganti rugi bagi warga yang menemukan atau memiliki benda bersejarah. Zein menambahkan, selain untuk kepentingan riset arkeologi dan disiplin ilmu lain,kawasan peninggalan sejarah dapat juga dijadikan objek wisata sejarah dan budaya. ’’Jika pemerintah punya niat baik melindungi kawasan situs bersejarah,banyak keuntungan yang dapat diperoleh,” ujarnya yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Kota Medan itu.

Arkeolog dari Balai Besar Arkeologi Medan Eri Sudewo memaparkan,dari penemuan yang mereka peroleh terdapat beberapa benda peninggalan dua dinasti di China, yaitu Dinasti Song 1127–1279 masehi dan Yuan 1280–1360 masehi.Beberapa peninggalan keramik dan tembikar berasal dari daerah Guangdong, Minnan, dan Jingdezhen. ’’Kami menemukan beberapa peninggalan dari pengerukan Sungai Bedra tersebut, mulai tempayan, mangkuk, guci, maupun buli-buli tempat menyimpan minyak kamper. Keseluruhannya kami identifikasi dari Dinasti Song danYuan,”paparnya. Ketua Pusat Studi Ilmu Sosial dan Sejarah (Pusiss) Universitas Negeri Medan (Unimed) Ichwan Azhari merasa yakin bahwa masih banyak peninggalan di kawasan tersebut yang belum tergali. Apa yang ditemukan masyarakat dan tim arkeologi membuktikan masih banyak peninggalan sejarah yang perlu terpendam. Karena itulah perlu ada ketegasan dari pemerintah untuk segera memugar tempat tersebut. ’’Saya yakin kami bisa menemukan prasasti sejarah jika dilakukan penelitian lebih lanjut. Namun, kawasan tersebut terlebih dulu harus dilindungi dan dipugar,”ungkapnya. Menurut dia, jika prasasti tersebut ditemukan,dapat dipastikan dari mana zaman kerajaan benda kuno tersebut berasal.Sebab, pecahan keramik dan guci yang ditemukan merupakan bukti bahwa tempat itu pernah menjadi pusat perdagangan internasional. Berdasarkan logika, jika terdapat pusat perdagangan, sangat dimungkinkan telah ada pemerintahan administratif berbentuk kerajaan di wilayah tersebut.Namun, itu semua tidak akan pernah terungkap jika tidak ada dukungan dari pemerintah.

Sumber : Koran Sindo Menurut beberapa pendapat, disebut bahwa Teluk Aru adalah pusat kerajaan ARU dan belum pernah diteliti sama sekali. Namun, Edmund E. McKinnon (Arkeolog Inggris) menolak apabila kawasan tersebut dinyatakan belum pernah diteliti sekaligus juga menolak apabila Teluk Aru disebut sebagai pusat kerajaan Aru. Teluk Aru telah diteliti pada tahun 1975-1976 dan hasilnya adalah ”Pulau Kompei”. Diakui bahwa terdapat peninggalan di wilayah Teluk Aru, tetapi berdasarkan jalur hinterland kurang mendukung Teluk Aru sebagai satu centrum kerajaan. Seperti diketahui bahwa jalur dari Karo plateau maupun hinterland menuju pantai timur, dari utara ke selatan melalui gunung adalah: Buaya, Liang, Negeri, Cingkem yang menuju ke Sei Serdang maupun ke Sei Deli, Sepuluhdua Kuta, Bekancan, Wampu ke Bahorok. Maupun jalur sungai diantara Sei Wampu bagian hilir sekitar Stabat dan Sei Sunggal ke Belawan. Fokusnya diwilayah pantai diantara Sei Wampu dan Muara Deli (Catatan Anderson tentang pentingnya Muara Deli). Penulis Karo mengemukakan bahwa (H)Aru adalah asal kata ”Karo” yang berevolusi. Oleh karena itu, kelompok ini mengklaim bahwa masyarakat Aru adalah masyarakat yang memiliki clan Karo dan didirikan oleh clan Kembaren. Walau demikian, penulis Karo seperti Brahmo Putro (1979) sependapat dan mengakui bahwa centrum kerajaan ini berpindah-pindah hingga ke Aceh, Deli Tua, Keraksaan (Batak Timur), Lingga, Mabar, maupun Barumun. Disebutkan bahwa (H)Aru berada di Balur Lembah Gunung Seulawah di Aceh Besar sekarang yang pada awalnya juga telah banyak dihuni oleh orang Karo, dan telah ada sebelum kesultanan Aceh pertama yakni Ali Mukhayat Syah pada tahun 1496-1528. Lebih lanjut disebut bahwa kerajaan (H)Aru Balur ditaklukkan oleh Sultan Aceh pada tahun 1511 dalam rencana unifikasi Aceh hingga ke Melaka dan salah seorang rajanya clan Karo dan keturunan Hindu Tamil menjadi Islam bersama seluruh rakyatnya

dan bertugas sebagai Panglima Sultan Aceh di wilayah Batak Karo. Demikian pula penulis Melayu yang mengemukakan bahwa kerajaan ARU adalah kerajaan Melayu yang sangat besar pada zamanya, lokasi kerajaanya tidak menetap akibat gempuran musuh terutama yang datangnya dari Aceh. Hal ini telah banyak dicatat oleh Lukman Sinar dalam jilid pertama bukunya dengan judul Sari Sedjarah Serdang (1986). Menurutnya, nama ARU muncul pertama kalinya dalam catatan resmi Tiongkok pada saat ARU mengirimkan misi ke Tiongkok pada tahun 1282 pada era kepemimpinan Kublai-Khan. Demikian pula dalam buku ”Sejarah Melayu” yang banyak menyebut tentang kerajaan ARU. Berdasarkan literatur tersebut, Lukman Sinar dalam penjelasan lebih lanjut mengemukakan bahwa pusat kerajaan ARU adalah Deli Tua dan telah menganut Islam. Barangkali, yang dimaksud oleh tulisan-tulisan tersebut adalah Kota Rentang karena berdasarkan bukti-bukti arkeologis serta carbon dating terhadap temuan keramik, ditemukannya batu kubur (nisan) yang terbuat dari batu Cadas (Volcanoic tuff) dengan ornamentasi Jawi dimana nisan sejenis banyak ditemukan di tanah Aceh. Sedangkan tanda-tanda ARU Deli Tua dinyatakan islam hampir tidak diketemukan selain sebuah meriam buatan Portugis bertuliskan aksara Arab dan Karo. Lagi pula, berdasarkan laporan kunjungan admiral Cheng Ho yang mengunjungi Pasai pada tahun 1405-1407 menyebut bahwa nama raja ARU pada saat itu dituliskan So-Lo-Tan Hut-Sing (Sultan Husin) dan membayar upeti ke Tiongkok. Kemudian, dalam ”Sejarah Melayu” juga diceritakan suatu keadaan bahwa ARU telah berdiri sekurang-kurangnya telah berusia 100 tahun sebelum penyerbuan Iskandar Muda (1607-1636) pada tahun 1612 dan 1619. Dengan demikian, kuat dugaan bahwa centrum ARU yang telah terpengaruh Islam yang dimaksud pada laporan-laporan penulis Cina dan ”Sejarah Melayu” tersebut adalah Kota Rentang. Diyakini bahwa kerajaan ARU adalah kerajaan yang besar dan kuat sehingga dianggap musuh oleh kerajaan Majapahit. Hal ini dapat dibuktikan dari sumpah Amukti Palapa sebagaimana yang ditulis dalam kisah Pararaton (1966), yaitu: Sira Gajah Madapatih amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah mada: ”Lamun awus kalah nusantara isun amuktia palapa, amun kalah ring Guran, ring Seran, Tanjung Pura, ring HARU, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti Palapa”. Hal senada juga dikemukakan oleh Muh. Yamin dalam bukunya dengan judul ”Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara ”(2005). Dari penjelasan diatas diketahui bahwa berdasarkan periodeisasinya maka kerajaan ARU berdiri pada awal abad ke-13 yakni pasca runtuhnya kerajaan NAGUR Batak Timur pada tahun 1285. Pusat kerajaan ARU yang pertama ini adalah Kota Rentang dan telah terpengaruh Islam yang sesuai dengan buktibukti arkeologis yakni temuan nisan dengan ornamentasi Jawi yang percis sama dengan temuan di Aceh. Demikian pula temuan berupa stonewares dan earthenwares ataupun mata uang yang berasal dari abad 13-14 yang banyak ditemukan dari Kota Rentang. Bukti-bukti ini telah menguatkan dugaan bahwa lokasi ARU berada di Kota Rentang sebelum jatuh ketangan Aceh. Sebagai dampak serbuan yang terus menerus maka centrum ARU pindah ke Deli Tua yakni pada akhir abad ke-14, dan pada permulaan abad ke-15 Sultan Alauddin Riayat Syah Al Kahar (1537-1568) mulai berkuasa di Aceh. Benteng Putri Hijau Deli Tua Edmund Edwards McKinnon (2008) menulis ”Aru was attacked by Aceh and the ruler killed by subterfuge and treachery. His wife fled into the surrounding forest on the back of an elephant and eventually made her way to Johor, where she married the ruling Sultan who helped her oust the Acehnese and regain her kingdom”. Selanjutnya, “a sixteenth century account by the Portuguese writer Pinto states that Aru was conquered by the Acehnese in 1539 and recounts how the Queen of Aru made her way to Johor and the events that transpired thereafter”. Seperti yang dicatat dalam literature sejarah bahwa laskar Aceh tidak saja menyerang Kerajaan ARU tetapi juga Portugis dan kerajaan Johor yang merupakan sekutu ARU. Oleh karena itu, sejak kejatuhan ARU ketangan Aceh, maka centrum kerajaan ARU yang baru berpusat di Deli Tua (Old Deli) serta dipimpin oleh ratu ARU yang didukung oleh Portugis dan Kerajaan

Johor. Dalam kisah Putri Hijau, ratu ARU inilah yang disebut sebagai Putri Hijau. Sedangkan nama ’Putri Hijau’ itu sendiri menurut McKinnon ada dikenal dalam cerita rakyat di India Selatan. Bukti-bukti peninggalan ARU Deli Tua adalah seperti benteng pertahanan (kombinasi alam dan bentukan manusia) yang masih bisa ditemukan hingga saat ini. Catatan resmi tentang benteng ini dapat diperoleh dari catatan P.J. Vet dalam bukunya Het Lanschap Deli op Sumatra (1866-1867) maupun Anderson pada tahun 1823 dimana digambarkan bahwa di Deli Tua terdapat benteng tua berbatu yang tingginya mencapai 30 kaki dan sesuai untuk pertahanan. Menurut Pinto, penguasa Portugis di Malaka tahun 1512-1515 bahwa ibukota (H)ARU berada di sungai ‘Panecitan’ (Lau Patani) yang dapat dilalui setelah lima hari pelayaran dari Malaka. Pinto juga mencatat bahwa raja (H)ARU sedang sibuk mempersiapkan kubu-kubu dan benteng-benteng dan letak istananya kira-kira satu kilometer kedalam benteng. (H)ARU mempunyai sebuah meriam besar, yang dibeli dari seorang pelarian Portugis. Temuan lainnya adalah mata uang Aceh (Dirham) yang terbuat dari emas, dimana masyarakat disekitar benteng masih kerap menemukanya. Temuan ini sekaligus menjadi bukti bahwa Aceh pernah menyerang ARU Deli Tua dengan menyogok pengawal kerajaan dengan mata uang emas. Selanjutnya, menurut Lukman Sinar (1991) di Deli Tua pada tahun 1907 dijumpai guci yang berisi mata uang Aceh dan kini tersimpan di Museum Raffles Singapura. Temuan lainnya adalah berupa keramik dan tembikar yang pada umumnya percis sama dengan temuan di Kota Rentang. Temuan keramik dan tembikar ini adalah barang bawaan dari Kota Rentang pada saat masyarakatnya mencari perlindungan dari serangan Aceh. Hingga saat ini, temuan berupa uang Aceh, keramik dan tembikar dapat ditemukan disembarang tempat disekitar lokasi benteng. Akan tetapi, dari bukti-bukti yang ada itu, tidak diketahui secara jelas apakah ARU Deli Tua telah menganut Islam. Pendapat yang mengemukakan bahwa ARU Deli Tua adalah Islam didasarkan pada temuan sebuah meriam bertuliskan Arab dengan bunyi: ’Sanat… alamat Balun Haru’ yang ditemukan oleh kontrolir Cats de Raet pada tahun 1868 di Deli Tua (Lukman Sinar, 1991). Akan tetapi di tengah meriam tersebut terdapat tulisan buatan Portugis. Hal ini senada dengan tulisan Pinto bahwa ARU memiliki sebuah meriam yang besar. Meriam inilah yang kemudian di sebut dalam kisah Putri Hijau ditembakkan secara terus menerus hingga puntung dan terbagi dua. Faktor penyebab serangan Aceh ke ARU yang berlangsung terus menerus adalah dalam rangka unifikasi kerajaan dalam genggaman kesultanan Aceh. Lagipula, seperti yang telah disebutkan diatas bahwa ARU terdahulu ditaklukkan oleh laskar Aceh yang mengakibatkan berpindahnya ARU ke Deli Tua. Hal ini menjadi jelas bahwa hubungan diplomatik antara ARU dengan Aceh tidak pernah harmonis. Dalam kisah Putri Hijau disebut bahwa faktor serangan Aceh ke Deli Tua adalah akibat penolakan sang Putri untuk dinikahkan dengan Sultan Aceh. Mengingat kuatnya benteng pertahanan ARU Deli Tua yang ditumbuhi bambu, sehingga menyulitkan serangan Aceh. Menurut catatan Pinto, dua kali serangan Aceh ke Deli Tua mengalami kegagalan. Pada akhirnya pasukan Aceh melakukan taktik sogok yakni dengan memberikan uang emas kepada pengawal benteng. Dalam kisah Putri Hijau disebut bahwa pasukan Aceh menembakkan meriam berpeluru emas, sehingga pasukan ARU berhamburan untuk mencari emas. Penyogokan pasukan ARU yang dilakukan oleh pasukan Aceh, menjadi penyebab kehancuran kerajaan ARU Deli Tua. Permaisuri kerajaan dengan laskar yang tersisa mencoba merebut Benteng, tetapi tetap gagal. Akhirnya permaisuri dengan sejumlah pengikutnya berlayar menuju Malaka dan menghadap kepada gubernur Portugis. Tetapi ia tidak disambut dengan baik. Akhirnya permaisuri menjumpai Raja Johor, Sultan Alauddin Riayatsyah II dan bersedia menikahinya apabila ARU dapat diselamatkan dari penguasaan Aceh. Akan tetapi, ARU telah dikuasai oleh Aceh yang dipimpin oleh panglima Gocah Pahlawan. Akhirnya permaisuri raja ARU menikah dengan raja Johor. Gocah Pahlawan diangkat sebagai wali negeri Aceh di reruntuhan kerajaan ARU. Selanjutnya, ARU Deli Tua pada masa pimpinan wali negeri Aceh ini menjadi cikal bakal kesultanan Deli yang

berkuasa pada tahun 1632-1653. Benteng Putri Hijau yang terdapat di Deli Tua-Namu Rambe berdasarkan survei yang dilakukan oleh John Miksic (1979) luasnya adalah 1800 x 200 M2 atau 360 Ha. Letaknya percis diantarai dua lembah (splendid area) yang disebelah baratnya mengalir Lau Patani/Sungai Deli. Temuan penting dari situs ini adalah ditemukannya benteng pertahanan yang terbuat secara alami maupun bentukan manusia. Benteng ini termasuk dalam kategori local genius terutama dalam menghadapi musuh, yakni musuh yang datang menyerang harus terlebih dahulu menyeberangi sungai, kemudian mendaki lereng bukit (benteng alam) dan akhirnya sampai di benteng bentukan manusia. Oleh karenanya, musuh memerlukan energi yang cukup kuat untuk bisa sampai kepusat benteng. Lokasi yang tepat berada diantara dua lembah serta dialiri oleh sungai, menjadi alasan bahwa daerah tersebut sengaja dipilih untuk mengantisipasi serbuan musuh (Military Strategic Sistem), lagi pula pusat kerajaan selalu berada di tepi sungai mengingat pentingnya sungai sebagai jalur transportasi. Setelah diserang oleh laskar Aceh pada masa Sultan Alauddin Riayat Syah Al Kahar yang berkuasa tahun 1537-1568, (bukan Iskandar Muda) pada tahun 1564, nama ARU tidak pernah diberitakan lagi. Serangan Aceh yang kedua ini adalah serangan yang terhebat dimana seluruh kerajaan ARU habis dibakar dan yang tersisa hanyalah Benteng yang masih eksis hingga sekarang. Hal ini senada dengan pendapat Mohammad Said (1980) dimana peperangan yang terjadi pada masa sultan Iskandar Muda (1612-1619) tidaklah sehebat pertempuran pada masa Sultan Al-Kahar. Lagi pula, pada masa kepemimpinan Iskandar Muda, tidak terdapat suatu tulisan bahwa Melayu di pimpin oleh Sultan Perempuan.

Eksistensi Kerajaan Haru-Karo Kerajaan Haru-Karo mulai menjadi kerajaan besar di Sumatera, namun tidak diketahui secara pasti kapan berdirinya. Namun demikian, Brahma Putra, dalam bukunya “Karo dari Jaman ke Jaman” mengatakan bahwa pada abad 1 Masehi sudah ada kerajaan di Sumatera Utara yang rajanya bernama “Pa lagan”. Menilik dari nama itu merupakan bahasa yang berasal dari suku Karo. Mungkinkah pada masa itu kerajaan haru sudah ada?, hal ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.(Darman Prinst, SH :2004) Kerajaan Haru-Karo diketahui tumbuh dan berkembang bersamaan waktunya dengan kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Johor, Malaka dan Aceh. Terbukti karena kerajaan Haru pernah berperang dengan kerajaan-kerajaan tersebut. Kerajaan Haru identik dengan suku Karo,yaitu salah satu suku di Nusantara. Pada masa keemasannya, kerajaan Haru-Karo mulai dari Aceh Besar hingga ke sungai Siak di Riau. Eksistensi Haru-Karo di Aceh dapat dipastikan dengan beberapa nama desa di sana yang berasal dari bahasa Karo. Misalnya Kuta Raja (Sekarang Banda Aceh), Kuta Binjei di Aceh Timur, Kuta Karang, Kuta Alam, Kuta Lubok, Kuta Laksmana Mahmud, Kuta Cane, Blang Kejeren, dan lainnya. (D.Prinst, SH: 2004) Terdapat suku Karo di Aceh Besar yang dalam logat Aceh disebut Karee. Keberadaan suku Haru-Karo di Aceh ini diakui oleh H. Muhammad Said dalam bukunya “Aceh Sepanjang Abad”, (1981). Beliau menekankan bahwa penduduk asli Aceh Besar adalah keturunan mirip Batak. Namun tidak dijelaskan keturunan dari batak mana penduduk asli tersebut. Sementara itu, H. M. Zainuddin dalam bukunya “Tarikh Aceh dan Nusantara” (1961) dikatakan bahwa di lembah Aceh Besar disamping Kerajaan Islam ada kerajaan batak Karo. Selanjunya disebutkan bahwa penduduk asli atau bumi putera dari Ke-20 Mukim bercampur dengan suku Batak Karo ysng dalam

bahasa Aceh disebut batak Karee. Brahma Putra, dalam bukunya “Karo Sepanjang Zaman” mengatakan bahwa raja terakhir suku Karo di Aceh Besar adalah Manang Ginting Suka. Kelompok karo di Aceh kemudian berubah nama menjadi “Kaum Lhee Reutoih” atau kaum tiga ratus. Penamaan demikian terkait dengan peristiwa perselisihan antara suku Karo dengan suku Hindu di sana yang disepakati diselesaikan dengan perang tanding. Sebanyak tiga ratus (300) orang suku Karo akan berkelahi dengan empat ratus (400) orang suku Hindu di suatu lapangan terbuka. Perang tanding ini dapat didamaikan dan sejak saat itu suku Karo disebut sebagai kaum tiga ratus dan kaum Hindu disebut kaum empat ratus. Dikemudian hari terjadi pencampuran antar suku Karo dengan suku Hindu dan mereka disebut sebagai kaum Jasandang. Golongan lainnya adalah Kaum Imam Pewet dan Kaum Tok Batee yang merupakan campuran suku pendatang, seperti: Kaum Hindu, Arab, Persia, dan lainnya. Entri ini ditulis oleh rapolo dan dikirimkan oleh Nopember 17, 2007 at 12:33 pm dan disimpan di bawah Eksistensi Kerajaan Haru-Karodengan pengait kata (tags) Brahma Putra, Ginting, Haru-Karo, Karo dari Jaman ke Jaman. Tandai permalink. Telusuri setiap komentar di sini dengan RSS feed kiriman ini. Tulis komen atau tinggalkan trackback: URL Trackback.

MARGA SEMBIRING PADA MASYARAKAT KARO March 9, 2008 by satya sembiring Oleh Pertampilan Sembiring Brahmana Pendahuluan Masyarakat Karo adalah salah satu etnis yang ada di Sumatera Utara. Etnis ini masuk ke dalam etnis Batak. Secara administrasi negara, Karo sebagai wilayah adalah sebuah Kabupaten dengan luas wilayah 2.127,25 Km2 atau 3,01 % dari luas wilayah Propinsi Sumatera Utara. Akan tetapi bila membicarakan wilayah budaya masyarakat Karo secara tradisional, masyarakat Karo tidak hanya mencakup Kabupaten Dati II Karo sekarang ini saja, tetapi mencakup kewedanaan Karo Jahe yang mencakup daerah tingkat II Deli Serdang, terdiri dari Kecamatan Pancurbatu, Kecamatan Biru-Biru, Kecamatan Sibolangit, Kecamatan Lau Bakeri dan Kecamatan Namorambe (Tambun, 1952:177-179), Kecamatan Kutalimbaru, Kecamatan Gunung Meriah, Kecamatan STM Hulu, Kecamatan STM Hilir, Kecamatan Bangun Purba, Kecamatan Galang, Kecamatan Tanjong Morawa, Kecamatan Deli Tua, Kecamatan Patumbak, Kecamatan Sunggal (Brahmana, 1995:11). Di daerah tingkat II Langkat mencakup Kecamatan Sei Binge, Kecamatan Salapian dan Kecamatan Bahorok, Kecamatan Kuala, Kecamatan Selesai dan Kecamatan Padang Tualang. Di daerah tingkat II Dairi, di Kecamatan Tanah Pinem, Kutabuluh, di daerah tingkat II Simalungun di sekitar perbatasan Karo dengan Simalungun, dan di daerah Aceh Tenggara (Prop NAD). Di daerah-daerah ini banyak ditemukan masyarakat Karo. Masyarakat Karo dan Hindu Dalam beberapa literatur tentang Karo, etimologi Karo berasal dari kata Haru. Kata Haru ini berasal dari nama kerajaan Haru yang berdiri sekitar abad 14 sampai abad 15 di daerah Sumatera Bagian Utara. Kemudian pengucapan kata Haru ini berubah menjadi Karo. Inilah diperkirakan awal terbentuknya nama Karo.

Menurut Sangti (1976:130) dan Sinar (1991:1617), sebelum klen Karo-Karo, Ginting, Sembiring, Tarigan dan Perangin-Angin menjadi bagian dari masyarakat Karo sekarang, telah ada penduduk asli Karo pertama yakni klen Karo Sekali. Kedatangan kelompok klen Karo-Karo, Ginting, Sembiring, Tarigan dan Perangin-Angin, akhirnya membuat klen pada masyarakat Karo semakin bertambah. Klen Ginting misalnya adalah petualangan yang datang ke Tanah Karo melalui pegunungan Layo Lingga, Tongging dan akhirnya sampai di Dataran Tinggi Karo. Klen Tarigan adalah petualangan yang datang dari Simalungun dan Dairi. Perangin-angin adalah petualangan yang datang dari Tanah Pinem Dairi. Sembiring diidentifikasikan berasal dari orang-orang Hindu Tamil yang terdesak oleh pedagang Arab di Pantai Barus menuju Dataran Tinggi Karo, karena mereka sama-sama menuju dataran tinggi Karo, kondisi ini akhirnya, menurut Sangti mendorong terjadi pembentukan merga si lima (Marga yang lima). Pembentukan ini bukan berdasarkan asal keturunan menurut garis bapak (secara genealogis patrilineal) seperti di Batak Toba, tetapi sesuai dengan proses peralihan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Karo Tua kepada masyarakat Karo Baru yakni lebih kurang pada tahun 1780. Pembentukan ini berkaitan dengan keamanan, sebagai salah satu jalan keluar untuk mengatasi pergolakan antara orang-orang yang datang dari kerajaan Aru dengan penduduk asli. Kini hasil pembentukan klen ini akhirnya melahirkan merga si lima (klen yang lima) yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Karo saat ini. Akhirnya masyarakat Karo yang terdiri dari merga si lima yang berdomisili di Dataran Tinggi, kemudian menyebar ke berbagai wilayah di sekitarnya, seperti ke Deli Serdang, Dairi Langkat, Simalungun dan Tanah Alas (Aceh Tenggara). Bahkan secara individu kini mulai menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, maupun ke luar wilayah negara Indonesia. Tidak dapat disangkal, walaupun kebudayaan Hindu telah mengalami masa surut pada daerah di Indonesia akibat didesak oleh Islam dan Kristen, namun sisa-sisa keberadaannya yang bersifat monumental masih banyak ditemukan. Di Sumatera, di Jawa maupun di daerah lainnya, dalam bentuk fisik, masih kokoh berdiri bangunan Candi, sedangkan dalam bentuk nonfisik, seperti agama Hindu, bahasa maupun tatacara kehidupan masyarakat masih dapat ditemui pada kelompok-kelompok masyarakat Indonesia tertentu. Khusus pada masyarakat Karo, peninggalan Hindu yang paling monumental adalah marga yaitu marga Sembiring. Marga Sembiring dan Keturunan Masyarakat Hindu Dari sekian banyak peninggalan Hindu yang terdapat pada masyarakat Karo, barangkali yang keabadiannnya kelak melebihi usia bangunan Candi adalah marga yaitu marga Sembiring. Sejak kapan resmi Sembiring menjadi bagian dari marga masyarakat Karo, tidak diketahui pasti. Tetapi diperkirakan Sembiring ini adalah marga yang termuda dari lima cabang marga yang ada pada masyarakat Karo. Sembiring berasal dari kata Si + e + mbiring. Mbiring artinya hitam. Si e mbiring artinya yang ini hitam. Melihat makna kata Si e mbiring, kiranya cukup jelas bahwa yang dimaksud adalah segerombolan manusia yang berkulit hitam. Bagi penduduk Asia Tenggara, orang-orang yang berkulit hitam ini adalah orang Tamil atau Keling yang berasal dari Asia Selatan (India). Penyebaran atau kedatangan orang-orang Tamil ini diperkirakan tidak bersamaan waktunya. Penyebarannya secara bergelombang. Kedatangan mereka ke dataran tinggi Karo, tidak secara langsung. Boleh jadi setelah beberapa tahun atau puluhan tahun menetap di sekitar pantai Pulau Sumatera. Mereka ini masuk ke dataran tinggi Karo, boleh jadi terutama disebabkan terdesak oleh pedagang-pedagang Arab dengan Agama Islamnya.

Brahma Putro menyebutkan kedatangan orang Hindu ini ke pegunungan (Tanah Karo) di sekitar tahun l33l-l365 masehi. Mereka sampai di Karo disebabkan mengungsi karena kerajaan Haru Wampu tempat mereka berdiam selama ini diserang oleh Laskar Madjapahit. akan tetapi ada pula yang memberikan hipotesa, penyebaran orang-orang Tamil ini akibat terdesak oleh pedagang-pedagang Arab (Islam) yang masuk dari Barus. Orang-orang Tamil (+ pembauran) yang kalah bersaing ini lalu menyingkir ke pedalaman pulau Sumatera, salah satu daerah yang mereka datangi adalah Tanah Karo. Menurut cerita-cerita dari tetua, kedatangan mereka di Tanah Karo diterima dengan baik. Mereka disapa dengan si mbiring. Akhirnya pengucapan si mbiring berubah menjadi Sembiring dan kemudian menjadi marga yang kedudukannya sama dengan marga yang lain. Adapun pembagian marga Sembiring, setelah resmi menjadi bagian dari masyarakat Karo adalah sebagai berikut N o 1 2 3 4 5 6 Sembiring Desa Asal (Kuta Kemulihen)

Kembaren Sinulaki Keloko Pandia Gurukinayan Brahmana

Samperaya, Liangmelas Silalahi, Paropo Pergendangen, Tualang, Paropo Seberaya, Payung, Beganding Gurukinayan, Gunungmeriah Rumah Kabanjahe, Perbesi, Limang, Bekawar Sarinembah, Kidupen, Rajaberneh, Naman, Munte Seberaya, Perbesi, Munte Ajijahe, Perbaji, Selandi, Perbesi, Kandibata. Martelu, Pandan, Pasirtengah

7

Meliala

8 9

Depari Pelawi

1 0 1 1 1 2 1 3 1 4 1 5 1 6

Maha

Sinupayung

Jumaraja, Negeri

Colia

Kubucolia, Seberaya

Pandebayang

Buluhnaman, Gurusinga

Tekang

Kaban

Muham

Susuk, Perbesi

Busok

Kidupen, Lau Perimbon

1 7 1 8 1 9 2 0

Sinukaban

Tidak diketahui lagi desa asalnya

Keling

Rajaberneh, Juhar

Bunu Aji

Kutatengah, Beganding

Sinukapar

Sidikalang, Sarintonu, Pertumbuken

Catatan: Desa asal ini dapat berarti desa yang dibangun atau didirikan oleh subklen marga tersebut, atau desa awal yang mereka tempati sejak menjadi bagian dari masyarakat Karo atau desa asal mereka dari daerah luar budaya Karo. Beberapa desa asal ini seperti Silalahi, Paropo, tidak terletak dalam wilayah Kabupaten Karo, tetapi terletak dalam wilayah Batak yang lain. Klen Sembiring pada masyarakat tersebut di atas berasal dari dua sumber, sumber pertama yang berasal dari Hindu Tamil dan yang kedua berasal dari Kerajaan Pagarruyung. Sembiring yang berasal dari Hindu Tamil disebut Sembiring Singombak. Dijuluki Sembiring Singombak karena dahulu, apabila ada keluarga mereka yang meninggal dunia, mereka tidak mengubur jenasahnya tetapi memperabukannya (dibakar) dan abunya ditaburkan di Lau Biang (Sungai Wampu). Mereka ini berpantang memakan daging anjing. Sembiring Singombak ini terdiri dari 15 sub marga yaitu Brahmana, Pandia, Colia, Gurukinayan, Keling, Depari, Pelawi, Bunu Aji, Busok, Muham, Meliala, Pande Bayang, Maha, Tekang dan Kapur. Kelompok Sembiring Brahmana, Pandia, Colia, Gurukinayan dan Keling menganggap mereka seketurunan, sehingga mereka tidak boleh mengadakan perkawinan antar sesama mereka. Demikian pula dengan Depari, Pelawi, Bunu Aji dan Busok, mereka ini juga menganggap seketurunan dan pantang mengadakan perkawinan antar sesama mereka. Namun kesembilan sub marga Sembiring yang terbagi ke dalam dua kelompok ini, boleh mengadakan perkawinan sesama mereka di luar dari kelompoknya. Sedangkan Sembiring yang berasal dari Kerajaan Pagarruyung terdiri dari lima sub marga yaitu Sembiring Kembaren, Keloko, Sinulaki, Sinupayung dan Bangko. Kelompok Sembiring ini juga memperabukan jenasah keluarga mereka yang meninggal dunia, tetapi abu jenasahnya mereka kubur. Bukan dibuang seperti yang dilakukan kelompok Sembiring Singombak. Mereka ini tidak berpantang memakan daging anjing. Sama seperti kelompok Sembiring Singombak, kelompok Sembiring yang berasal dari Kerajaan Pagarruyung ini juga dilarang mengadakan perkawinan sesama mereka. Khusus untuk Sembiring Bangko. Kelompok ini sekarang berdomisili di Alas, Aceh Tenggara dan sudah menjadi bagian dari masyarakat Alas, seperti halnya para keturunan Raja Hindu Pagarruyung yang menetap di Sumatera Barat sudah pula menjadi bagian dari masyarakat Minangkabau. Saat ini pada umumnya kelompok marga Sembiring ini sudah memeluk agama Kristen atau Islam dan tidak lagi memperabukan jenasahnya seperti dahulu. Adapun penyebab lahirnya sub-sub marga ini beberapa diantaranya, diduga berasal dari nama daerah asal mereka di India. Misalnya Sembiring Pandia diduga berasal dari daerah Pandya, Colia dari daerah Chola, Tekang dari daerah Teykaman, Muham dari daerah Muoham, Meliala dari daerah Malaylam, Brahmana dari kelompok Pendeta Hindu.

Dalam hal ini, kelompok marga Sembiring dalam masyarakat Karo, tidak memitoskan asal usulnya seperti etnis atau kelompok marga lain. Misalnya Batak Toba, yang mengusut asal-usul leluhurnya dari langit yang turun di puncak gunung Pusuh Buhit (Toba), atau yang mengusul asal usulnya dan berkesimpulan dari lapisan yang paling indah yang mereka sebut Tetoholi Ana’a yang turun di wilayah Gomo (Nias), atau yang mengkaitkannya dengan turunan Raja Iskandar Zulkarnain yang turun di Bukit Siguntang Palembang (Melayu). Dalam masyarakat Karo mitos tersebut berkaitan dengan totem (totem yaitu kepercayaan adanya hubungan khusus antara sekelompok orang dengan binatang atau tanaman atau benda mati tertentu). Misalnya haram mengkonsumsi daging binatang seperti Kerbau Putih, oleh subklen Sebayang, Burung Balam oleh subklen klen Tarigan, Anjing oleh subklen Sembiring Brahmana. Penutup Dari uraian-uraian di atas, jelaslah bahwa orang-orang yang bermarga Sembiring pada masyarakat Karo pada mulanya bukanlah orang “Karo Asli”. Mereka adalah penduduk pendatang yang kemudian berbaur dengan penduduk setempat, yang akhirnya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Karo. Gejala-gejala seperti ini dapat disamakan dengan keadaan penduduk di pedesaan daerah Karo saat ini. Di pedesaan Karo sekarang ini banyak penduduknya “bukan” lagi orang Karo tetapi sudah diisi dengan penduduk pendatang seperti dari Suku Jawa, mereka akhirnya fasih berbahasa Karo dan diberi marga dan justru lebih Karo dari individu Karo sendiri. Artinya banyak dari mereka lebih memahami adat istiadat masyarakat Karo daripada individu Karo tersebut. Ciri-ciri utama yang kini masih dapat dikenali dari keturunan Hindu ini adalah marganya. Marganya mengingatkan kepada asal-usulnya, tetapi bila dilihat dari fisik atau warna kulit sudah semakin sulit. Banyak yang bermarga Sembiring tidak lagi berkulit Hitam seperti asal-usulnya, malah banyak yang berkulit kuning langsat mirip bangsa lain seperti Cina. Dalam pengertian sempit Sembiring hanyalah yang terdapat dalam masyarakat Karo, tetapi dalam pengertian luas (lebih luas) bukan hanya yang terdapat pada masyarakat Karo saja, tetapi semua keturunan yang berasal dari Asia Selatan yang sekarang sudah membaur dengan penduduk setempat, yang ada di wilayah Indonesia. apakah itu di Aceh yang sudah menjadi bagian dari masyarkat Aceh, di Sumatera di luar masyarakat Karo yang sudah menjadi bagian dari masyarakat setempat. Di Sumatera Barat seperti keturunan Raja Hindu Pagarruyung yang lain yang sudah menjadi bagian dari masyarakat Minang, Jambi, Riau. Manfaat Pengungkapan Histografi Tradisional Apa manfaat pengungkapan histografi tradisional seperti ini? Manfaat pengungkapan histografi tradisional seperti ini adalah untuk menunjukkan bahwa boleh jadi, apa yang kita klaim sebagai kemurnian etnis misalnya etnis X, etnis Y, bukanlah berasal dari klaim etnis yang murni. Mereka yang mengidentifikasi kelompoknya sebagai etnis X, etnis Y kini, dahulu kala sebenarnya boleh jadi berasal dari dukungan individu-individu etnis lain yang berasimiliasi, membaur yang akhirnya menjadi bagian etnis X, etnis Y tersebut pada hari ini, antara lain seperti yang terjadi pada masyarakat Karo. Di luar masyarakat Karo, kasus yang sama dan hampir sama misalnya di Aceh. Dari data sejarah etnis Aceh ada pandangan yang mengatakan Aceh itu adalah akronim dari A (Arab), C (Campa), E (Eropah – Portugis) dan H (Hindi – Hindu). Pandangan ini berasal dari kemiripan bentuk fisik orang Aceh saat ini dengan bangsa-bangsa yang disebut di atas. Misalnya masyarakat Aceh yang tinggal di Kabupaten Aceh Besar, banyak yang

bergelar Sayid atau Syarifah, fisik mereka menyerupai orang Arab. Masyarakat Lamno di Aceh Barat menyerupai orang Portugis, masyarakat Aceh di Sigli (Pidie) dan Lhokseumawe (Aceh Utara) banyak yang mirip India (Tamil). Di Sumatera Barat, keturunan Raja Hindu Pagarruyung. Sedangkan di luar Pulau Sumatera, misalnya masyarakat Betawi. Masyarakat Betawi ada yang berasal dari keturunan bangsa Eropah (Portugis atau Belanda). Kini para pembauran tersebut sudah menjadi bagian dari masyarakat etnis tersebut. Kesadaran, pemahaman seperti ini sangat penting, agar kita sebagai individu atau sebagai kelompok tidak mudah terjebak dalam klaim kemurnian etnis, padahal dalam klaim itu ada spirit provokasi yang dilakukan oleh kalangan tertentu untuk kepentingannya apakah itu atas nama etnis untuk kepentingan diri si elit, untuk kelompok si elit atau mungkin aspirasi politik si elit di era otonomi daerah ini khususnya dalam kepentingan pilkada atau kepentingan lainnya yang bersifat merusak spirit multikulturalisme atau pluralisme bangsa yang sudah terbangun sejak dahulu kala, sebelum Indonesia menjadi satu negara. Kepustakaan Anonim. 1976. Monografi Daerah Sumatera Utara. Jakarta: Depdikbud. Bangun, Tridah. 1986. Manusia Batak Karo. Jakarta: PT. Inti Idayu Pers. Brahmana, L.S. 1995. Menelusuri Wilayah Bahasa Karo. Medan: Tenah. Brahmana, Rakutta S. 1985. Corat-Coret Budaya Karo. Medan: Ulamin Kisat. Hutauruk, M. 1987. Sejarah Ringkas Tapanuli: Suku Batak. Jakarta: Penerbit Erlangga. Neumann, J.H. 1972. Sebuah Sumbangan: Sejarah Batak Karo. Jakarta: Bharata. Prinst, Darwan-Darwin. 1986. Sejarah dan Kebudayaan Karo. Bandung: Yirama. Putro, Brahma. 1981. Karo Dari Jaman Ke Jaman I. Medan: Yayasan Massa. Sebayang, R.K. 1986. Sejarah Sebayang Mergana. Medan. Tambun, P. 1952. Adat Istidat Karo. Djakarta: Balai Pustaka. Tarigan, Sarjani (ed). 1986. Bunga Rampai Seminar Kebudayaan Karo Dan Kehidupan Masa Kini. Medan. Yusuf, M. Djalil. 2002. Perekat Hati Yang Tercabik. Banda Aceh-Yogya: Penerbit Yayasan Ulul Arham (YUA) dan Pustaka Pelajar. Penulis adalah Magister Kajian Budaya dengan Pengkhususan Sistem Pengendalian Sosial, dari Universitas Udayana Denpasar Tahun 1998 (kawarmedan@yahoo.com) Tulisan ini pernah dipublikasikan pada Jurnal Dinamika Kebudayaan, Vol VII, No. 2, 2005 yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Unversitas Udayana, Denpasar 1. ARTIKEL

11 Juni 2006 ,15:54 WIB Asal Usul Etnis dan Nama Karo Daerah Sumatera Utara terdiri dari daerah pantai, dataran rendah, dataran tinggi dan pegunungan. Daerah pantai terletak sepanjang pesisir timur dan barat dan bersambung dengan dataran rendah terutama di bagian timurnya. Dataran Karo, Toba dan Humbang merupakan dataran tinggi, sedangkan pegunungan bukit barisan yang membujur di tengahtengah dari utara ke selatan merupakan daerah pegunungan. Luas daerah Sumatera Utara sekitar 71.680 km2 dan terletak antara 1 dengan 4 lintang Utara dan antara 98 dengan 100 bujur timur. Penduduk pribumi Sumatera Utara terdiri dari suku Melayu, Batak Toba, Karo, Simalungun, Pakpak Dairi, Pesisir, Mandailing dan Nias, dengan mata pencaharian sehari-hari adalah bertani. Berdasarkan mitos yang ada, asal-usul suku di Sumatera Utara bervariasi, ada yang mengusut asal-usul leluhurnya dari langit yang turun di puncak gunung Pusuh Buhit (Toba), ada yang berasal dari lapisan yang paling indah yang disebut Tetoholi Ana'a yang turun di wilayah Gomo (Nias), ada yang berasal dari turunan Raja Iskandar Zulkarnain yang turun di Bukit Siguntang Palembang (Melayu). Berdasarkan perkiraan-perkiraan yang disusun para ahli, penduduk asli Sumatera Utara ini berasal dari Hindia Belakang yang datang ke kawasan ini secara bertahap. Hal inilah maka kemudian corak ragam budaya penduduk pribumi Sumatera Utara ditemukan perbedaan-perbedaaan. Dalam masyarakat Karo pun, ada ditemukan mitos tentang asal usul etnis ini. Mitos ini tidak berkait erat dengan hal-hal yang sulit ditelusuri oleh akal seperti yang mengusut asal-usul leluhurnya dari langit yang turun di puncak gunung Pusuh Buhit (Toba), atau yang mengusul asal usulnya dab berkesimpulan dari lapisan yang paling indah yang mereka sebut Tetoholi Ana'a yang turun di wilayah Gomo (Nias), atau yang mengkaitkannya dengan turunan Raja Iskandar Zulkarnain yang turun di Bukit Siguntang Palembang (Melayu). Dalam masyarakat Karo mitos tersebut berkaitan dengan totem16. Misalnya haram mengkonsumsi daging binatang seperti Kerbau Putih, oleh subklen Sebayang, Burung Balam oleh subklen klen Tarigan, Anjing oleh subklen Brahmana. Dalam beberapa literatur tentang Karo, etimologi Karo berasal dari kata Haru. Kata Haru ini berasal dari nama kerajaan Haru yang berdiri sekitar abad 14 sampai abad 15 di daerah Sumatera Bagian Utara. Kemudian pengucapan kata Haru ini berubah menjadi Karo. Inilah diperkirakan awal terbentuknya nama Karo. Menurut Sangti (1976:130) dan Sinar (1991:1617), sebelum klen Karo-Karo, Ginting, Sembiring, Tarigan dan Perangin-angin menjadi bagian dari masyarakat Karo sekarang, telah ada penduduk asli Karo pertama yakni klen Karo Sekali. Dengan kedatangan kelompok klen Karo-Karo, Ginting, Sembiring, Tarigan dan Peranginangin, akhirnya membuat masyarakat Karo semakin banyak. Klen Ginting misalnya adalah petualangan yang datang ke Tanah Karo melalui pegunungan Layo Lingga, Tongging dan akhirnya sampai di dataran tinggi Karo. Klen Tarigan adalah petualangan yang datang dari Dolok Simalungun dan Dairi. Perangin-angin adalah 16 Totem yaitu kepercayaan akan adanya hubungan gaib antara sekelompok orang sesekali dengan seseorang - dengan segolongan binatang atau tanaman atau benda mati sebab dipercayai antara benda-benda itu dengan dirinya ada suatu hubungan yang erat dan sangat khusus. petualangan yang datang dari Tanah Pinem Dairi. Sembiring diidentifikasikan berasal dari orang-orang Hindu Tamil yang terdesak oleh pedagang Arab di Pantai Barus menuju Dataran Tinggi Karo, karena mereka sama-sama menuju dataran tinggi Karo, kondisi ini akhirnya, menurut Sangti mendorong terjadi pembentukan merga si lima. Pembentukan ini bukan berdasarkan asal keturunan menurut garis bapak (secara genealogis patrilineal) seperti di Batak Toba, tetapi sesuai dengan proses peralihan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Karo Tua kepada

masyarakat Karo Baru yakni lebih kurang pada tahun 1780. Pembentukan ini berkaitan dengan keamanan, sebagai salah satu jalan keluar untuk mengatasi pergolakan antara orang-orang yang datang dari kerajaan Aru dengan penduduk asli. Kini pembentukan klen ini akhirnya melahirkan merga si lima (klen yang lima) yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Karo saat ini. Akhirnya masyarakat Karo yang terdiri dari merga si lima yang berdomisili di dataran tinggi, kemudian menyebar ke berbagai wilayah di sekitarnya, seperti ke Deli Serdang, Dairi Langkat, Simalungun dan Tanah Alas (Aceh Tenggara). Bahkan secara individu kini mulai menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, maupun ke luar wilayah negara Indonesia.. Daerah Wilayah Budaya Masyarakat Karo Menurut Neumann (1972:8) wilayah Karo adalah suatu wilayah yang luas, yang terlepas dari perbedaan-perbedaan antar suku, yang menganggap dirinya termasuk ke dalam Batak Karo, yang berbeda dengan Batak Toba, Batak Pak-Pak,Batak Timur (?= Simalungun). Seluruh perpaduan suku-suku Batak Karo diikat oleh suatu dialek yang dapat dimengerti dimana-mana dan hampir tidak ada perbedaannya antara yang satu dengan yang lain. Bangsa Batak Karo berada di Langkat, Deli Serdang, dan Dataran Tinggi Karo sampai Tanah Alas (Propinsi Aceh = Aceh Tenggara). Sementara itu Parlindungan (1964:495) membagi wilayah Karo menjadi dua bahagian yaitu Wilayah Karo Gunung, wilayah ini terletak 1000 meter di atas permukaan laut yang mencakup di sekitar Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak, dan wilayah Karo Dusun, 100 meter di atas permukaan laut. Wilayah ini berada di luar dari Wilayah Karo Gunung. Daerah ini boleh jadi mencakup Langkat, Deli Serdang, Simalungun, Pak-Pak Dairi sampai Tanah Alas. Berdasarkan perkiraan Neumann dan Parlindungan di atas, wilayah budaya Karo pada zaman sebelum kedatangan Belanda sangat luas. Namun setelah kedatangan Belanda (Putro, 1981), wilayah Karo ini dibagi atas beberapa daerah. Pembagian ini bermotif kepentingan politik pemerintahan jajahan Belanda. 1. Pada tahun 1908 (stbl no. 604) ditetapkan batas-batas Kabupaten Karo dengan Kabupaten Dairi, dengan memasukkan daerah Karo Baluren, sepanjang sungai renun kecamatan Tanah Pinem dan Kecamatan Lingga, masuk menjadi daerah Kabupaten Dairi. 2. Pada tanggal 19 April 1912, dengan besluit Goverment Bijblad No. 7645, menetapkan batas-batas Kabupaten Karo dengan Kabupaten Simalungun sekarang dengan memasukkan Urung Silima Kuta ke dalam daerah tingkat II Kabupaten Simalungun. 3. Pada tanggal 19 April 1912, dengan besluit Goverment No. 17, telah ditetapkan pula batas antara Kabupaten Karo sekarang dengan Deli Hulu, dengan memisahkan seluruh pantai Timur dengan Kabupaten Karo sekarang. 4. Karo Bingei, yang terdiri dari kecamatan Selapian dan kecamatan Bahorok dimasukkan ke Kabupaten Langkat sekarang. 5. Karo Dusun, yang terdiri dari kecamatan Serbanyaman, kecamatan Sunggal dan kecamatan Delitua dimasukkan ke Kabupaten Deli Serdang. 6. Karo Timur, dimasukkan ke daerah tingkat II Kotamadya Medan. Pada masa penjajahan Belanda, pemerintahan jajahan Belanda membagi daerah Karo dibagi menjadi 5 wilayah yang terdiri dari (1) Wilayah

Lingga, (2) Wilayah Sarinembah, (3) Wilayah Suka, (4) Wilayah Barusjahe, dan (5) Wilayah Kutabuluh. Masing-masing wilayah ini terdiri dari beberapa desa. Pada masa Pemerintahan Jepang, wilayah ini tidak mengalami perubahan. Namun setelah Indonesia merdeka wilayah ini masuk menjadi bagian daerah tingkat II Kabupaten Karo yang dikepalai oleh seorang Bupati yang berkedudukan di Kabanjahe. Kini yang masuk ke dalam daerah wilayah Karo secara politik adalah yang terletak dan masuk ke dalam wilayah Kabupaten Tingkat II Karo dengan ibukotanya berkedudukan di Kabanjahe, batas-batasnya adalah: Sebelah Sebelah Sebelah Sebelah Utara dengan Langkat dan Deli Serdang Selatan dengan Dairi dan Danau Toba Timur dengan Simalungun dan Barat dengan Aceh Tenggara (Prop Aceh).

Kabupaten Daerah tingkat Karo ini terletak pada kordinat 20 40' 30 10' LU dan 970 55' 980 38', dan terletak pada ketinggian 140 m 1.400 m di atas permukaan laut. Luas Kabupaten Tingkat II Karo 2.127,25 Km2 atau 3,01 % dari luas wilayah Propinsi Sumatera Utara. Suhu udara di Kabupaten Tingkat II Karo antara 160 270 dengan kelembaban udara rata-rata 82%. Secara administratif, kini Kabupaten Karo dibagi atas 13 wilayah Kecamatan yang mencakup Kecamatan Barus Jahe, Kecamatan Tigapanah Kecamatan Kabanjahe, Kecamatan Brastagi, Kecamatan Merek, Kecamatan Simpang Empat, Kecamatan Payung, Kecamatan Tiganderket, Kecamatan Kutabuluh, Kecamatan Munte, Kecamatan Laubaleng, Kecamatan Tiga Binanga, Kecamatan Juhar dan Kecamatan Mardinding. Namun demikian bila membicarakan wilayah budaya masyarakat Karo secara tradisional (kultural) tidak hanya mencakup Kabupaten Dati II Karo sekarang ini saja, tetapi mencakup kewedanaan Karo Jahe yang mencakup daerah tingkat II Deli Serdang, terdiri dari Kecamatan Pancurbatu, Kecamatan BiruBiru, Kecamatan Sibolangit, Kecamatan Lau Bakeri dan Kecamatan Namorambe (Tambun, 1952:177-179), Kecamatan Kutalimbaru, Kecamatan Gunung Meriah, Kecamatan STM Hulu, Kecamatan STM Hilir, Kecamatan Bangun Purba, Kecamatan Galang, Kecamatan Tanjong Morawa, Kecamatan Deli Tua, Kecamatan Patumbak, Kecamatan Sunggal (Brahmana, 1995:11). Di daerah tingkat II Langkat mencakup Kecamatan Sei Binge, Kecamatan Salapian dan Kecamatan Bahorok, Kecamatan Kuala, Kecamatan Selesai dan Kecamatan Padang Tualang. Di daerah tingkat II Dairi, di kecamatan Tanah Pinem, Kutabuluh, di daerah tingkat II Simalungun di sekitar perbatasan Karo dengan Simalungun, dan di daerah Aceh Tenggara.

Menganal lebih jauh Suku Karo di Sumatra Utara Suku Karo adalah salah satu suku yang berasal dari Sumatra Utara, Indonesia, bermukim di daerah pegunungan tepatnya di daerah Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak. Ada sebagian dari suku ini tidak mau disebut etnis Batak karena mereka mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak yaitu Kalak Teba. Pakaian adat suku ini didominasi dengan warna merah dan penuh dengan perhiasan emas. Merga : Suku Karo memiliki sistem kemasyarakatan atau adat yang dikenal dengan nama merga silima, tutur siwaluh, dan rakut sitelu. Masyarakat Karo mempunyai sistem marga (klan). Marga atau dalam bahasa Karo disebut merga tersebut disebut untuk laki-laki, sedangkan untuk perempuan disebut beru. Merga atau beru ini disandang di belakang nama seseorang. Merga dalam masyarakat Karo

terdiri dari lima kelompok, yang disebut dengan merga silima, yang berarti marga yang lima. Kelima merga tersebut adalah: Karo-karo, Tarigan, Ginting, Sembiring, Peranginangin Kelima merga ini masih mempunyai submerga masing-masing. Setiap orang Karo mempunyai salah satu dari merga tersebut. Merga diperoleh secara otomatis dari ayah. Merga ayah juga merga anak. Orang yang mempunyai merga atau beru yang sama, dianggap bersaudara dalam arti mempunyai nenek moyang yang sama. Kalau laki-laki bermarga sama, maka mereka disebut (b)ersenina, demikian juga antara perempuan dengan perempuan yang mempunyai beru sama, maka mereka disebut juga (b)ersenina. Namun antara seorang laki-laki dengan perempuan yang bermerga sama, mereka disebut erturang, sehingga dilarang melakukan perkawinan, kecuali pada merga Sembiring dan Peranginangin ada yang dapat menikah diantara mereka. Rakut Sitelu : Hal lain yang penting dalam susunan masyarakat Karo adalah rakut sitelu atau daliken sitelu (artinya secara metaforik adalah tungku nan tiga), yang berarti ikatan yang tiga. Arti rakut sitelu tersebut adalah sangkep nggeluh (kelengkapan hidup) bagi orang Karo. Kelengkapan yang dimaksud adalah lembaga sosial yang terdapat dalam masyarakat Karo yang terdiri dari tiga kelompok, yaitu: kalimbubu, anak beru, senina. Kalimbubu dapat didefinisikan sebagai keluarga pemberi isteri, anak beru keluarga yang mengambil atau menerima isteri, dan senina keluarga satu galur keturunan merga atau keluarga inti. Tutur siwaluh adalah konsep kekerabatan masyarakat Karo, yang berhubungan dengan penuturan, yaitu terdiri dari delapan golongan: puang kalimbubu, kalimbubu, senina , sembuyak, senina sipemeren, senina sepengalon/sendalanen, anak beru, anak beru menteri Dalam pelaksanaan upacara adat, tutur siwaluh ini masih dapat dibagi lagi dalam kelompokkelompok lebih khusus sesuai dengan keperluan dalam pelaksanaan upacara yang dilaksanakan, yaitu sebagai berikut: Puang kalimbubu adalah kalimbubu dari kalimbubu seseorang. Kalimbubu adalah kelompok pemberi isteri kepada keluarga tertentu, kalimbubu ini dapat dikelompokkan lagi menjadi: Kalimbubu bena-bena atau kalimbubu tua, yaitu kelompok pemberiisteri kepada kelompok tertentu yang dianggap sebagai kelompok pemberi isteri adal dari keluarga tersebut. Misalnya A bermerga Sembiring bere-bere Tarigan, maka Tarigan adalah kalimbubu Si A. Jika A mempunyai anak, maka merga Tarigan adalah kalimbubu bena-bena/kalimbubu tua dari anak A. Jadi kalimbubu bena-bena atau kalimbubu tua adalah kalimbubu dari ayah kandung. Kalimbubu simada dareh adalah berasal dari ibu kandung seseorang. Kalimbubu simada dareh adalah saudara laki-laki dari ibu kandung seseorang. Disebut kalimbubu simada dareh karena merekalah yang dianggap mempunyai darah, karena dianggap darah merekalah yang terdapat dalam diri keponakannya. Kalimbubu iperdemui, berarti kalimbubu yang dijadikan kalimbubu oleh karena seseorang mengawini putri dari satu keluarga untuk pertama kalinya. Jadi seseorang itu menjadi kalimbubu adalah berdasarkan perkawinan. Senina, yaitu mereka yang bersadara karena mempunyai merga dan submerga yang sama. Sembuyak, secara harfiah se artinya satu dan mbuyak artinya kandungan, jadi artinya adalah orang-orang yang lahir dari kandungan atau rahim yang sama. Namun dalam masyarakat Karo istilah ini digunakan untuk senina yang berlainan submerga juga, dalam bahasa Karo disebut sindauh ipedeher (yang jauh menjadi dekat). Sipemeren, yaitu orang-orang yang ibu-ibu mereka bersaudara kandung. Bagian ini didukung lagi oleh pihak sibaribanen, yaitu orang-orang yang mempunyai isteri yang bersaudara. Senina Sepengalon atau Sendalanen, yaitu orang yang bersaudara karena mempunyai anak-anak yang memperisteri dari beru yang sama. Anak beru, berarti pihak yang mengambil isteri dari suatu keluarga tertentu untuk diperistri. Anak beru dapat terjadi secara langsung karena mengawini wanita keluarga tertentu, dan secara tidak langsung melalui perantaraan orang lain, seperti anak beru menteri dan anak beru singikuri.Anak beru ini terdiri lagi atas: anak beru tua, adalah anak beru dalam satu keluarga turun temurun. Paling tidak tiga generasi telah mengambil isteri dari keluarga tertentu (kalimbubunya). Anak beru tua adalah anak beru yang utama, karena tanpa kehadirannya dalam suatu

upacara adat yang dibuat oleh pihak kalimbubunya, maka upacara tersebut tidak dapat dimulai. Anak beru tua juga berfungsi sebagai anak beru singerana (sebagai pembicara), karena fungsinya dalam upacara adat sebagai pembicara dan pemimpin keluarga dalam keluarga kalimbubu dalam konteks upacara adat. Anak beru cekoh baka tutup, yaitu anak beru yang secara langsung dapat mengetahui segala sesuatu di dalam keluarga kalimbubunya. Anak beru sekoh baka tutup adalah anak saudara perempuan dari seorang kepala keluarga. Misalnya Si A seorang laki-laki, mempunyai saudara perempuan Si B, maka anak Si B adalah anak beru cekoh baka tutup dari Si A. Dalam panggilan sehari-hari anak beru disebut juga bere-bere mama. Anak beru menteri, yaitu anak berunya anak beru. Asal kata menteri adalah dari kata minteri yang berarti meluruskan. Jadi anak beru minteri mempunyai pengertian yang lebih luas sebagai petunjuk, mengawasi serta membantu tugas kalimbubunya dalam suatu kewajiban dalam upacara adat. Ada pula yang disebut anak beru singkuri, yaitu anak berunya anak beru menteri. Anak beru ini mempersiapkan hidangan dalam konteks upacara adat. Bujur Ras Mejuah juah/eddy surbakti

DeliTua, Situs Sejarah yang Terlupakan [i][u]oleh: arbain rambey[/u][/i] SELAIN wisata alam Danau Toba dan alam pegunungan di Bukit Lawang, Sumatera Utara (Sumut) masih mempunyai beberapa segi wisata, antara lain wisata sejarah. Salah satu wisata sejarah di Sumut yang belum banyak dikenal orang adalah menelusuri sejarah Kerajaan Haru, yang merupakan salah satu cikal bakal kesultanan yang melahirkan Istana Maimoon di Medan. Sejarah Kerajaan Haru pulalah yang memadukan masyarakat Karo, Melayu, dan Aceh pada sebuah pertalian. Berdasarkan catatan sejarah, pada abad ke-15, Kerajaan Haru itu termasuk salah satu kerajaan terbesar di Sumatera, setara dengan Kerajaan Pasai dan Malaka. Saat ini, di wilayah bekas Kerajaan Haru ini telah berdiri sebelas kabupaten dan kota di Provinsi Sumatera Utara bagian timur, yaitu Langkat, Binjai, Medan, Deli Serdang, Karo, Tebing Tinggi, Simalungun, Pematang Siantar, Asahan, Tanjung Balai, dan Labuhan Batu. Pertalian Aceh, Karo, dan Deli bisa dilihat dari hal ini. Sultan pertama Kerajaan Deli yakni Tuanku Panglima Gocoh Pahlawan. Ia adalah Panglima Perang Aceh yang ditempatkan di sekitar wilayah Kerajaan Haru. Penempatan tersebut dilakukan untuk meredam pemberontakan terhadap Kerajaan Aceh pada masa Raja Iskandar Muda. Setelah menguasai ibu kota Kerajaan Haru di Deli Tua, Gocoh Pahlawan meminang putri keturunan Karo dan mendirikan Kerajaan Deli di tempat yang sama. Salah satu Keturunan Gocah Pahlawan adalah Sultan Ma'moen Al-Rasyid Perkasa Alamsyah, yang membangun Istana Maimoen pada akhir abad ke19. Istana itu bahkan masih berdiri megah hingga saat ini di tengah Kota Medan, Sumatera Utara. Sabtu, 6 April 2002.

MENJELAJAHI situs Kerajaan Haru adalah sebuah keasyikan tersendiri. Lokasi bekas ibu kota Kerajaan Haru itu terletak sekitar lima kilometer dari Pasar Deli Tua Baru di Jalan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, pada daerah yang udaranya masih bersih. Cocok untuk trekking sambil berwisata. Setelah melalui jalan aspal beberapa saat, perjalanan ke situs itu kemudian dilanjutkan dengan melewati jalan berbatu dan sempit, menyusuri pinggiran Sungai Deli dan menyeberangi sebuah jembatan gantung yang bergoyang saat dilewati. Usai melewati jembatan gantung, sampailah kita pada jalan yang diberi nama Jalan Pancur Gading. Nama ini diberikan, sebab di sepanjang jalan tersebut akan ditemui dua dari sebelas pancuran air yang dikeramatkan penduduk setempat. Masyarakat setempat mempercayai bahwa pancuranpancuran air tersebut, dulunya, sering digunakan oleh penduduk di Kerajaan Haru, mulai dari raja hingga dayang-dayang kerajaan. Kini, semua pancuran air tersebut telah dibuat permanen. Mata air yang turun langsung dari bukit tersebut ditampung dalam sebuah bak tembok setinggi satu setengah meter. Air tersebut kemudian dikeluarkan melalui dua buah pipa plastik yang tidak pernah ditutup sehingga airnya yang jernih itu mengalir terus-menerus. Pancuran yang terbesar, yaitu berasal dari tiga titik keluaran air, terletak setelah kita melewati pancuran pertama yang berada di pangkal Jalan Pancur Gading. Penduduk setempat mempercayai bahwa pancuran terbesar itu merupakan tempat Putri Hijau, salah seorang penguasa terakhir Kerajaan Haru, untuk mandi. Situs sejarah bekas Istana Kerajaan Haru berada dekat dengan pancuran yang kedua itu. Pada hari libur atau akhir pekan, puluhan orang bermalam di pancuran ini. KINI kita sudah dekat dengan situs sejarah peninggalan Kerajaan Haru. Dengan menaiki satu bukit lagi, sampailah kita di sana. Akan tetapi, jangan membayangkan akan menjumpai runtuhan istana atau serakan batu candi misalnya. Situs itu kini hanya menyisakan gundukan tanah dengan tinggi sekitar lima meter dan lebar empat meter sehingga membentuk parit-parit yang dalam dan panjang. Gundukan tanah tersebut dibangun sebagai benteng pertahanan Kerajaan Haru saat menghadapi serangan laskar Sultan Aceh Alaiddin Mahkota Alam Johan Berdaulat atau Sultan Alaiddin Riayat Shah Al Qahhar. "Orang Karo zaman dulu membangun rumah atau istana semata dari kayu. Jadi, tidak ada peninggalan yang bisa kita rasakan saat ini," kata Darwan Perangin-angin, seorang tokoh masyarakat Karo yang mengarang buku "Adat Karo". Bukti bahwa gundukan tanah tersebut digunakan sebagai benteng pertahanan jaman Kerajaan Haru adalah letak gundukan tanah itu yang mengelilingi tanah datar yang ada di atas bukit itu. Tepat di atas tanah datar itulah tempat Istana Kerajaan Haru dan permukiman penduduk Kampung Deli Tua dulu berada. Sementara, letak gundukan tanah yang menghadap ke

arah Sungai Deli dimaksudkan untuk menangkal serangan dari musuh yang masuk lewat laut melalui aliran Sungai Deli. Dengan berada di situs bekas Istana Haru, kita merasakan betul bahwa lokasi istana itu sangatlah strategis. Dengan membayangkan bahwa keliling istana itu dulu dikelilingi pohon bambu, terasa betul betapa kuat dan strategisnya lokasi Istana Haru terhadap serangan musuh mana pun. MASIH ada hal lebih menarik untuk kita telusuri. Perjalanan dilanjutkan ke permukiman penduduk yang terdekat dengan situs sejarah ibu kota Deli Tua tersebut, yaitu Dusun 1, Kampung Deli Tua, di Kabupaten Deli Serdang. Sekitar abad ke-15, kampung ini merupakan ibu kota Kerajaan Haru dengan nama yang sama yakni Deli Tua. Sebagai bagian yang menyatu dengan bekas reruntuhan ibu kota Kerajaan Haru, yang masih tertinggal di dusun ini hanyalah ceritera-ceritera legenda yang dimiliki oleh hanya sebagian penduduknya, yang diperoleh mereka secara lisan turun-temurun dari orang tuanya. Maka, mampirlah ke sebuah kedai kopi di sana, dan dengarkan berbagai ceritera menarik dari penduduk, misalnya dari Nambun Sembiring Milala (71). Di kampung tersebut, hanya Nambun yang masih menyimpan ceriteraceritera legenda, seperti Putri Hijau yang mempunyai dua orang saudara yang berubah wujud menjadi naga dan meriam puntung. Legenda rakyat yang berkembang tentang Kerajaan Haru, pada beberapa bagian, memperoleh penguatan dari bukti-bukti yang ditemukan oleh penduduk Kampung Deli Tua itu sendiri. Kisah tentang kemenangan laskar dari Sultan Aceh dalam perang melawan Kerajaan Haru, misalnya dari kisah mata uang dirham (deraham dalam bahasa Karo), yang berbentuk logam dan konon yang terbuat dari emas. Uang logam emas bertuliskan huruf Arab tersebut digunakan pasukan Aceh untuk memancing pasukan Haru keluar dari bentengnya. Bukti bahwa peristiwa penyebaran uang logam tersebut terjadi bisa kita dapatkan dari ceritera para penduduk di sini. Nambun mengatakan sudah pernah menemukan lima keping uang logam emas yang dipercaya pernah digunakan oleh pasukan Kerajaan Aceh tersebut. Uang-uang emas itu ia temukan di sekitar pekarangan rumahnya pada sekitar tahun 1970. "Sudah saya jual. Waktu itu, sekitar 10 tahun lalu, satunya masih laku Rp 4.000. Sekarang saya tidak menyimpan satu pun. Di sekitar sini juga pernah ditemukan patung naga terbuat dari emas dan pada bagian matanya dari berlian. Tapi, sudah diamankan polisi saat itu juga," kata lelaki kelahiran tahun 1931 itu menambahkan. Bukan hanya Nambun, Ngirim Ginting juga mempunyai pengalaman sama, hanya saja benda bersejarah yang ditemukannya berbeda. Ngirim menceritakan bahwa ia pernah menemukan sarung keris yang terbuat dari emas, serta beberapa peluru timah berbentuk bulat. Sarung keris berlapis emas itu kemudian ia jual ke Pasar Deli Tua Baru, sedangkan peluru-peluru timah itu ia lebur dan dijadikan sebagai vas bunga di rumahnya. "Saya jual sarung keris itu waktu harga emas masih Rp 2.000 segramnya.

Hampir semua penduduk di sini pernah menemukan uang logam emas Deraham itu, tapi pasti dijual. Terakhir masih ada yang menemukannya tahun kemarin," kata Ngirim. Satu-satunya penduduk yang masih menyimpan uang logam tersebut adalah seorang ibu, penduduk dusun yang sama, yang enggan disebut namanya. Uang emas berdiameter kurang dari satu sentimeter itu ditunjukkannya kepada Kompas untuk difoto. Berhiaskan kaligrafi dalam huruf Arab dan ukiran berbentuk bulat di sekeliling pinggiran lingkarannya, uang dirham itu memang tampak sangat tua. Penduduk setempat menyebut kaligrafi itu sebagai tulisan berbahasa Aceh. Namun, baik Nambun maupun Ngirim mengakui, mereka sama sekali tidak mengetahui bahwa uang logam tersebut bernilai sejarah yang tinggi. Mereka tidak mengerti bagaimana sebuah uang emas tipis seperti itu mampu mengungkapkan jati diri dan sejarah keluarganya. Ia hanya mengetahui bahwa uang logam tersebut terbuat dari emas 24 karat dan bernilai uang jika dijual. "Mereka juga tidak mengerti bahwa selama ini rumah yang mereka diami berada di sebuah bekas ibu kota kerajaan besar di zaman dahulu. Mereka tidak sadar bahwa dusun tempat mereka tinggal adalah sebuah situs sejarah yang mengenaskan karena tidak tersentuh usaha perlindungan sejarah, dan segera akan terlupakan," ujar Darwan. Data Sejarah Haru-Deli Tua-Puteri Hijau- Meriam Puntung Sunday, 08 June 2008 02:28 WIB Catatan Tuanku Luckman Sinar Basarshah-II WASPADA ONLINE SEJARAH kerajaan –kerajaan di Sumatera Timur, kini mulai digali. Namun, sejauh itu referensi sejarah tersebut masih kurang atau sangat kurang sehingga kita kekurangan bahan untuk membicarakannya. Berikut ini, penulis ingin memaparkan sedikit tentang keberadaan sejarah tersebut yang dikutip dari referensi atau buku-buku yang ada di perpustakaan pribadi penulis. 1290 M. : “Hikayat Raja-raja Pasai” menulis Haru diIslamkan oleh Nakhoda Ismail (Malabar) dan Fakir Muhammad (Madinah) sebelum mereka ke Samudera-Pasai. (Sultan Malikussaleh wafat 1292 M). 1292 M.: “Pararaton” tentang Expedisi Pamalayu Kartanegara (Jawa Timur) juga menyebut menaklukkan “Haru Yang Bermusuhan”. 1310 M.: Fadiullah bin Abd. Kadir Rasyiduddin dalam “Jamiul Tawarikh”, Haru pulih perdagangannya kembali; 1365 M.: “Negarakertagama” mengenai penjajahan Majapahit juga menaklukkan “Haru” (lihat benteng Lalang Kota Jawa dipinggir Sei. Deli (John Anderson1823). 1412 M.: Armada China pp. Laksemana Zeng He (Cheng Ho) membawa Raja Haru Sultan Husin menghadap Kaisar Cina Yung Lo; Selain Kota Cona Haru mempunyai juga Bandar di Medina (=Medan) menurut Laksemana Turki Ali Celebi 1554 M.

1419, 1421, 1423, 1431 M.: Armada Zeng He membawa Raja Haru Tuanku Alamsjah dengan misi dagang ke Cina. 1471-1488 M. : “Sejarah Melayu” Bab-24 menulis : - Nama Raja Haru Maharaja Diraja bin Sultan Sujak asal dari “yang turun dari batu (Batak?) Hilir dikatakan Hulu, Batu (Batak?) Hulu dikatan Hilir”. Mungkin asal Batak jadi Islam (masuk Melayu); - HARU dianggap setara dengan Melaka dan Pasai - Nama Pembesar HARU : Serbanyaman; Raja Purba; Raja Kembat yang berbau Karo. 1521 M. : “Sejarah Melayu” (Variant Version) menceritakan ketika Sultan Mahmud Melaka terusir Portugis 1511 M. dan menetap di Bintan, Sultan Husin dari Haru berkunjung kesana dan kawin dengan Tun Puteh puteri Sultan Mahmud dan ribuan orang Melayu Johor/Riau turut mengantar tinggal di HARU. 1539 M. : Penyerangan Sultan Aceh Alaidin Riayatsjah-I bilad Mahkota Alam (alias Al Qahhar) ke Haru, diceritakan oleh orang Portugis Ferdinand Mendes Pinto dan juga “Hikayat Puteri Hijo” dari Siberaya (lihat Middendorp). - Benteng di kepung 6 hari (Pinto; HPH) - Meriam besar yang bertahan (Pinto; HPH adiknya Meriam Puntung) Bantuan Portugis senjata (Pinto; HPH bendera Biru) Aceh menyogok uang emas (Pinto; HPH) - Sultan Haru Ali Boncar kepalanya dibawa ke Aceh (Pinto) - Meriam puntung moncongnya di Sukanalu, bila bersatu kembali pertanda Deli makmur (HPH); Meriam Puntung di halaman Istana Maimoon. - Puteri Hijau = Permaisuri Anche Sini (Anggi Sini?) yang cantik menurut Pinto berlayar ke Melaka minta bantuan Gubernur Portugis (Menurut HPH ia naik Naga Ular Simangombus (Perahu berkepala Naga?); - Aceh mempergunakan bantuan perajurit asing (Gujarat, Malabar, Hadramaut, Turki bahkan orang Belanda anak buah De Houtman yang ditawan), itu menurut Pinto. 1540 M. : Menurut Pinto : Permaisuri Haru minta bantuan Sultan Aluddin Riayatsyah-II (Imperium Riau-Johor) di Bintan dan lalu kawin dengannya; - Armada Johor pp. Laksemana Hang Nadim dengan 400 kapal perang mendarat di HARU dan menghancurkan tentera pendudukan Aceh disana. - Haru berada sekarang dibawah kekuasaan Imperium Melayu Riau-Johor. - Sultan Johor kirim surat kepada Sultan Aceh dari markasnya di “Siberaya Quendu” mengingatkan Haru sudah ditangannya (menurut Pinto.) 1588 M. : Sultan Aceh Al Qahhar berhasil merebut Haru kembali dari tangan Johor. - Sultan Aceh mengangkat cucunya SULTAN ABDULLAH menjadi Raja Haru (ia kemudian tewas ketika Aceh menyerang Portugis di Melaka); - Haru dipecah dua bagian yaitu : Guru (dari Sei.Belawan s/d batas Temiang) dan HARU (Sei. Deli ke Sei.Rokan). 1599-1603 M. : Haru melepaskan diri dari Aceh (Laporan dari Laksemana Perancis Beauleu dan Van Warwyk Belanda). Sultan Aceh Alaidin Riayatsyah-II (Saidi Mukammil) menyerang Haru yang dipertahankan oleh Panglima Guri Merah Miru. Merah Miru telah menabalkan Sultan Imperium Melayu Riau-Johor bernama Sultan Alauddin Riayatsyah-III menjadi Sultan Haru/Guri. (Hikayat Aceh). - Dikalangan pasukan Aceh tewas Raja Alamsjah (menantu Sultan Saidi Mukammil) dan dia adalah ayah dari Sultan Iskandar Muda. - Raja Mansyursyah dimakamkan di “Kandang Medan” (Makam Keramat di Sukamulia Medan ?). - Raja Imperium Melayu Riau-Johor, Sultan Aluddin Riayatsyah-III (alias RAJA RADEN) lari dari markasnya di “Melaka Muda” (Gedong Johor Medan?) menuju pelabuhan Kuala Tanjung naik lancang kuning “Seri Paduka”

kembali ke Johor Lama. Banyak wanita dan pengiringnya serta harta benda yang tertinggal dan ditawan oleh Aceh (lihat kuburan tua dan benteng dipertemuan Sei.Deli dan Sei. Babura). Dalam Pasar Malam Agustus 1908 di Medan oleh Sultan Deli dipamerkan intan berlian yang dapat di gali di Gedung Johor Medan. 1612 M. : Haru berganti nama dengan GURI dan berganti nama pula dengan Deli. Kerajaan Deli berpusat di Deli Tua ini adalah Rajanya Suku Karo merga Karo Sekali dan rakyatnya Suku HARU (lihat keterangan Kejeruan Senembah 1879 kepada Residen Belanda tentang asalnya Si Mblang Pinggol dan Sawid Deli. Kerajaan Deli Suku Karo di Deli Tua itu terus menerus menentang dan berontak terhadap penjajahan ACEH. 1613-1642 M. : Sultan Iskandar Muda Aceh menugaskan panglimanya Tuanku Gocah Pahlawan menindas pemberontakkan Deli Tua itu. Dia akhirnya berhasil mengikat kerjasama dengan Raja Urung Sunggal, Raja Urung XII Kuta Hamparan Perak; Raja Urung Sukapiring dan Raja Urung Senembah sehingga dia lalu diangkat oleh Sultan Iskandar Muda Aceh sebagai Wakil Sultan Aceh di Deli. Makam Tuanku Gocah Pahlawan ada di Batu Jergok (Deli-Tua). Dimanakah Pusat Kerajaan Haru? 1. “Negarakertagama” (1365 M) = Lalang Kota Jawa dimana pernah tinggal 5000 pasukan Jawa dipinggir Sei. Deli (lihat laporan JOHN ANDERSON 1823); 2. Peta Cina “Wu-pei-Shih” (1433 M) menurut Giles 3° 47’ Lintang Utara dan 98° 41’ Lintang Timur terletak didepan Kuala Deli, yaitu diseberang Pulau Sembilan (Perak). 3. Sumber Portugis (F. M. Pinto) pusat Haru di sungai “Paneticao” (Sei. Petani/Sei. Deli); 4. “Hikayat Puteri Hijo” di Siberaya (lihat Middendorp) sama orangnya dengan Permaisuri Haru ANCHE SINI (Anggi Sini?) menurut Pinto. 5. Haru punya MERIAM BESAR di beli dari Pasai (Pinto) = Meriam Puntung adik Puteri Hijau (HPH) 6. Ada sogokan uang emas oleh pasukan Aceh sehingga benteng DeliTua kosong (Pinto = HPH). 7. Ada bantuan senjata Portugis (Pinto) = Tentera bendera Biru” (HPH). 8. Puteri Hijau selamat dilarikan adiknya Ular Simangombus via Sei. Deli terus ke Selat Melaka tinggal di bawah laut dekat Pulau Berhala (HPH). Menurut Pinto Permaisuri Haru berlayar naik perahu (berkepala Naga?) ke Melaka minta bantuan Portugis tetapi tidak berhasil, lalu pergi ke Bintan. 9. Ada ditemukan oleh Kontelir Belanda di Deli di sungai Deli dekat benteng Deli Tua sebuah meriam lela yang ada tulisan “Sanat…….03 Balon Haru”(Jika 1103 H = 1539 M. masa penyerangan Sultan Aceh Al Qahhar ke Haru. Meriam lela itu kini ada di Museum Pusat Jakarta. 10. Ditemukan banyak mata uang emas Aceh di benteng Puteri Hijau. 11. Peta-peta kuno asing : Langenes 1598; Polepon 1622; Itinerario 1598 dan lain-lain peta Portugis dan Perancis menunjuk Gori (Guri) = DELI. 12. Ulama Aceh Ar Raniri dalam “Bustanussalatin”(1640 M) menyatakan bahwa GURI itu dahulu bernama HARU. 13. Markas Sultan Imperium Melayu Riau-Johor Sultan Alauddin RiayatsyahII di Haru (1540 M) ialah di “Siberaya Qendu”. Demikianlah. Semoga tulisan atau data-data singkat ini dapat menjadi acuan kita dalam membicarakan sejarah kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur.

Kota Rantang dan Hubungannya Dengan Kerajaan Aru Posted on Mei 21, 2008 by kapasmerah Oleh: Suprayitno

PADA April 2008, Tim Peneliti Gabungan dari Indonesia, Singapura, dan Amerika Serikat menemukan situs Kota Rantang yang terletak di Kec. Hamparan Perak, Deli Serdang. Temuan itu berupa keramik, potongan kayu bekas kapal, batu bata dan nisan. Koordinator kegiatan penggalian situs, Nani H Wibisono dalam salah satu media Jakarta terbitan 24 April 2008 mengatakan, aneka keramik yang ditemukan paling banyak berasal dari Dinasti Yuan abad ke-13-14. Selain itu ada keramik dari Dinasti Ming abad ke-15, keramik Vietnam abad ke-14-16, keramik Thailand abad ke-14-16, keramik Burma abad ke-14-16, dan keramik Khmer abad ke12- 14. Adapun batu nisan yang ditemukan di lokasi bergaya Islam bertuliskan syahadat tanpa ada angka tahun. Temuan situs Kota Rantang kembali mengingatkan kita kepada temuan situs Kota China di Labuhan Deli yang ditemukan pada tahun 1970-an. Yang menarik dari komentar para ahli sejarah dan arkeologi tentang temuan itu adalah, temuan di kedua situs itu selalu dihubungkaitkan dengan keberadaan Kerajaan Aru. Pertanyaannya: benarkah demikian? Bagaimanakah temuan-temuan di lokasi tersebut berkaitan dengan Kerajaan Aru, dan bisa dipahami oleh publik secara logik? Tulisan singkat ini berupaya menjawab soalan itu berdasarkan batu nisan Aceh yang berada di situs Kota Rantang. Kerajaan Aru Dimanakah lokasi Kerajaan Aru dan benarkah Kerajaan Aru itu wujud dalam sejarah Indonesia, khususnya Sumatera Utara. Jika benar, siapakah nama rajanya, bagaimanakah kehidupan sosial-ekonomi penduduk dan hasil bumi negeri itu. Pertanyaan ini penting untuk dijelaskan lebih awal sebagai entri point untuk menjelaskan isu tersebut diatas. Sebagaimana diketahui, catatan atau rekord tentang Kerajaan Aru sangat terbatas sekali. Menurut Ma Huan dalam Ying Yai Sheng Lan (1416) di Kerajaan Aru terdapat sebuah muara sungai yang dikenal dengan “fresh water estuary”. A.H. Gilles sebagaimana dikutip J.V.G. Mills menyatakan “fresh water estuary” adalah muara Sungai Deli. Oleh karena itu Gilles menegaskan bahwa lokasi Aru berada di sekitar Belawan (3o 47` U 98o 41` T) wilayah Deli Pantai Timur Sumatera. Di sebelah selatan, Aru berbatasan dengan Bukit Barisan, di sebelah utara dengan Laut, di sebelah barat bertetangga dengan Sumentala (Samudera Pasai) dan di sebelah timur berbatasan dengan tanah datar. Untuk sampai ke Kerajaan Aru, dibutuhkan pelayaran dari Melaka selama 4 hari 4 malam dengan kondisi angin yang baik. Dalam Hsingcha Shenglan (1426) disebutkan lokasi Kerajaan Aru berseberangan dengan Pulau Sembilan (wilayah pantai Negeri Perak, Malaysia), dan dapat ditempuh dengan perahu selama 3 hari 3 malam dari Melaka dengan kondisi angin yang baik. Sementara menurut Sejarah Dinasti Ming (1368-1643) Buku 325 disebutkan bahwa lokasi Kerajaan Aru dekat dengan Kerajaan Melaka, dan dengan kondisi angin yang baik dapat dicapai selama 3 hari. Semua sumber China itu mengarahkan bahwa lokasi Kerajaan Aru itu berada di daerah Sumatera Utara, karena sebelah barat Aru disebutkan adalah Samudera Pasai. Samudera Pasai sudah jelas terbukti berdasarkan bukti arekologi berupa makam Sultan Malik Al-Saleh posisinya

berada di daerah antara Sungai Jambu Air (Krueng Jambu Aye) dengan Sungai Pasai (Krueng Pase) di Aceh Utara. Namun, lokasi pusat Kerajaan Aru yang disebutkan dalam sumber China itu memang belum dapat dikenali pasti karena, bukti-bukti pendukung lainnya, khususnya bekas istana, makam-makam diraja Aru dsb. belum ditemukan. Dua lokasi tempat ditemukannya sisa-sisa keramik China, nisan, dan lainlainnya sebagaimana disebutkan di awal tulisan ini belum dapat dijadikan bukti yang kuat. Hasil-hasil penggalian di kota China (Labuhan Deli) dan Kota Rantang sementara hanya membuktikan bahwa wilayah itu merupakan wilayah ekonomi yang penting sebagai tempat aktifitas perdagangan dengan para pedagang asing dari China, Siam dan lain-lain. Ada beberapa pendapat tentang lokasi Kerajaan Aru. Groeneveldt (1960:95) menegaskan lokasi Kerajaan Aru berada kira-kira di muara Sungai Barumun (Padang Lawas) dan Gilles menyatakan di dekat Belawan. Sementara ada juga yang menyatakan lokasi Kerajaan Aru berada di muara Sungai Wampu (Teluk Haru/Langkat). Pendapat terakhir ini tampaknya sesuai dengan keterangan geografi dari salah satu sumber China di atas, yakni berhadapan dengan Pulau Sembilan di Pantai Perak Malaysia. Memang apabila ditarik garis lurus dari Pulau Sembilan menyeberangi Selat Melaka akan bertemu dengan Teluk Haru yang terletak di Muara Sungai Wampu. Tetapi hingga hari ini didaerah itu belum ada ditemukan bukti-bukti arkeologis yang dapat mendukung pernyataan tersebut. Sesuai dengan sistem transportasi zaman dahulu yang masih bertumpu kepada jalur sungai, dapat kita pastikan bahwa bandar-bandar perdagangan yang sering berfungsi sebagai pusat sebuah kekuasaan politik (kerajaan) pastilah berada di sekitar muara sungai. Dalam konteks ini, maka di sepanjang pantai Sumatera Timur, ada beberapa sungai besar yang bermuara ke Selat Melaka. Misalnya Sungai Barumun, Sungai Wampu, Sungai Deli, dan Sungai Bedera. Dua sungai yang disebut terakhir ini bermuara ke Belawan dan sekitarnya (Hamparan Perak). Jika demikian tampaknya pendapat Gilles lebih masuk akal, apalagi dihubungkaitkan dengan beberapa temuan-temuan arkeologis di Kota Rantang dan Labuhan Deli. Tiga buah sungai yang disebutkan terakhir itu juga merupakan jalur lalulintas penting sepanjang sejarah, setidaknya sebelum penjajah Belanda membangun jalan raya pada awal abad ke-20, bagi orang-orang Karo untuk berniaga, sekaligus bermigrasi ke pesisir pantai Sumatera Timur/Selat Melaka. Dalam sejarah Melayu, ada disebutkan tentang nama-nama pembesar Aru yang erat kaitannya dengan nama-nama/marga orang Karo, seperti Serbanyaman Raja Purba dan Raja Kembat dan nama Aru atau Haru juga dapat dikaitkan dengan Karo. Jika informasi ini dikaitkan, maka pusat Kerajaan Aru memang berada di muara-muara sungai tersebut. Namun, secara pasti belum dapat ditetapkan, apakah di sekitar Muara Sungai Wampu (Teluk Haru/Langkat) atau di sekitar Belawan. Dalam Atlas Sejarah karya Muhammad Yamin, pada sekitar abad ke-15 M wilayah Kerajaan Aru meliputi seluruh Pesisir Timur Sumatera dari Tamiang sampai ke Rokan dan bahkan sampai ke Mandailing dan Barus. Jika begitu yang boleh kita pastikan adalah wilayah Kerajaan Aru berada di sebagian Pantai Timur Sumatera yang sekarang menjadi wilayah Provinsi Sumatera Utara. Penguasa. Siapakah penguasa Kerajaan Aru? Dalam Sejarah Melayu karya Tun Sri Lanang (1612) disebutkan bahwa Kerajaan Aru pada periode 1477-1488 dipimpin oleh Maharaja Diraja, putra Sultan Sujak “…yang turun daripada Batu Hilir di kota Hulu, Batu Hulu di kota Hilir”. Aru menyerang Pasai karena Raja Pasai menghina utusan Raja Aru yang ingin menjalin hubungan diplomatik dengan Kerajaan Pasai. T.Luckman Sinar (2007) menjelaskan bahwa Batu Hilir maksudnya adalah Batak Hilir dan Batu Hulu adalah Batak Hulu. Menurut beliau ada kesalahan tulis antara wau pada akhir “batu” dengan kaf, sehingga yang tepat adalah “…yang turun daripada Batak Hilir di kota Hulu, Batak Hulu, di kota Hilir. Dari nama-nama pembesar-pembesar Haru yang disebut dalam Sejarah Melayu, seperti nama Serbayaman Raja Purba, Raja Kembat, merupakan nama yang mirip dengan nama-nama Karo. Sebagaimana kita ketahui di Deli Hulu ada

daerah bernama Urung Serbayaman, yang merupakan nama salah satu Raja Urung Melayu di Deli yang berasal dari Suku Karo.Tetapi nama tokoh Maharaja Diraja anak Sultan Sujak masih perlu diperbandingkan dengan sumber lain untuk membuktikan kebenarannya. Sebutan Maharaja Diraja adalah sebuah gelar bagi seorang raja, bukan nama sebenarnya dan apakah Maharaja Diraja adalah Raja Aru yang pertama atau apakah itu gelar dari Sultan Sujak? Kedua pertanyaan ini sukar untuk memastikannya. Dalam catatan Dinasti Ming, disebutkan, pada 1419 anak Raja Aru bernama Tuan A-lasa mengirim utusan ke negeri China untuk membawa upeti.Nama tokoh inipun sukar mencari pembenarannya karena tidak ada sumber bandingannya dan apakah padanannya dalam bahasa Melayu atau Indonesia. Namun demikian, nama Sulutang Hutsin yang disebutkan dalam catatan Dinasti Ming dapat dianggap benar karena dapat diperbandingkan dengan Sejarah Melayu. Sulutang Hutsin adalah sebutan orang China untuk mengucapkan nama Sultan Husin. Nama Sultan Husin juga telah disebutsebut dalam Sejarah Melayu, yaitu sebagai penguasa Aru sekaligus menantu Sultan Mahmud Shah (Raja Melaka) yang terakhir 1488-1528. Disebutkan, Sultan Husin pernah datang ke Kampar bersama-sama dengan Raja-raja Melayu lainnya seperti Siak, Inderagiri, Rokan dan Jambi atas undangan Sultan Mahmud Shah yang ketika itu sudah membangun basis pertahanan di Kampar karena Melaka sudah dikuasai Portugis untuk membangun aliansi Melayu melawan Portugis. Berdasarkan keterangan itu dapat dikatakan bahwa nama Sultan Husin sebagaimana disebut dalam catatan China dan Sejarah Melayu secara historis dapat dibenarkan. Dengan demikian hanya itulah nama-nama yang tercatat sebagai penguasa Aru. Namun nama itu secara arkeologis hingga hari ini belum dapat dibuktikan, maksudnya belum ada temuan berupa batu nisan atau mata uang yang memuat nama tersebut. Sosial Ekonomi Bagaimanakah keadaan sosial-ekonomi penduduk Aru? Raja Aru dan penduduknya telah memeluk agama Islam, sebagaimana disebutkan dalam Yingyai Shenglan (1416). Dalam Hikayat Raja-raja Pasai dan dalam Sejarah Melayu, kerajaan tersebut diislamkan oleh Nakhoda Ismail dan Fakir Muhammad. Keduanya merupakan pendakwah dari Madinah dan Malabar, yang juga mengislamkan Merah Silu, Raja Samudera Pasai pada pertengahan abad ke-13. Oleh karena itu, dapat dipastikan agama Islam telah sampai ke Aru paling tidak sejak abad ke-13. Kesimpulan itu diperoleh berdasarkan data arkeologis berupa batu nisan Sultan Malikus Saleh di Geudong, Lhok Seumawe yang bertarikh 1270-1297, dan kunjungan Marcopolo ke Samudera Pasai tahun 1293. Kedua sumber itu sudah valid dan kredibel. Sumber-sumber China menyebutkan bahwa adat istiadat seperti perkawinan, adat penguburan mayat, bahasa, pertukangan, dan hasil bumi Kerajaan Aru sama dengan Kerajaan Melaka, Samudera dan Jawa. Mata pencaharian penduduknya adalah menangkap ikan di pantai dan bercocok tanam. Tetapi karena tanah negeri itu tidak begitu sesuai untuk penanaman padi, maka sebagian besar penduduknya berkebun menanam kelapa, pisang dan mencari hasil hutan seperti kemenyan. Mereka juga berternak unggas, bebek, kambing. Sebagian penduduknya juga sudah mengkonsumsi susu (maksudnya mungkin susu kambing). Apabila pergi ke hutan mereka membawa panah beracun untuk perlindungan diri. Wanita dan laki-laki menutupi sebagian tubuh mereka dengan kain, sementara bagian atas terbuka. Hasil-hasil bumi negeri itu mereka barter dengan barang-barang dari pedagang asing seperti keramik, kain sutera, manik-manik dan lain-lain. (Groeneveldt, 1960: 94-96). Kerajaan Aru telah terwujud pada abad ke-13, sebagaimana beberapa utusannya telah sampai ke Tiongkok, yaitu pertama di tahun 1282 dan 1290 pada zaman pemerintahan Kubilai Khan (T.L. Sinar, 1976 dan McKinnon dalam Kompas, 24 April 2008). Ketika itu telah muncul Kerajaan Singosari di Jawa yang berusaha mendominasi wilayah perdagangan di sekitar Selat Malaka (Asia Tenggara). Singosari berusaha menghempang kuasa Kaisar Kubilai Khan dengan melakukan ekspedisi Pamalayu tahun 1292 untuk membangun aliansi melawan Kaisar China. Negeri-negeri Melayu dipaksa

tunduk dibawah kuasa Singosari, seperti Melayu (Jambi) dan Aru/Haru. Sementara dengan Champa, Singosari berhasil membangun aliansi melalui perkawinan politik. Pada abad ke-14, sebagaimana disebutkan dalam Negara Kertagama karangan Prapanca bahwa Harw (Aru) kemudian menjadi daerah vasal (bawahan) Kerajaan Majapahit, termasuk juga Rokan, Kampar, Siak, Tamiang, Perlak, Pasai, Kandis dan Madahaling. Memasuki abad ke-15 Haru tampaknya mulai muncul menjadi kerajaan terbesar di Sumatera dan ingin menguasai lalu lintas perdagangan di Selat Melaka. Munculnya utusan-utusan dari Kerajaan Aru pada 1419, 1421, 1423, dan 1431 di istana Kaisar China dan kunjungan Laksamana Cheng Ho yang muslim itu membuktikan pernyataan itu. Aru menjadi bandar perdagangan yang penting di mata kaisar China. Kaisar China membalas pemberian raja Aru dengan memberikan hadiah berupa kain sutera, mata uang (siling) dan juga uang kertas. Mengikut pendapat Selamat Mulyana, (1981:18) bahwa negeri-negeri di Asia Tenggara yang mengirim utusan ke China dipandang sebagai negeri merdeka. Hanya negeri yang merdeka saja yang berhak mengirim utusan ke negeri China untuk menyampaikan upeti atau persembahan/surat kepada Kaisar China. Oleh karena itu dapat dipastikan Kerajaan Aru pada abad ke-15 adalah negeri yang merdeka dan berusaha pula untuk mendominasi perdagangan di sekitar Selat Melaka. Oleh karena itu, Haru berusaha menguasai Pasai dan menyerang Melaka berkali-kali, sebagaimana telah disebut dalam Sejarah Melayu. Menurut Sejarah Melayu (cerita ke-13), kebesaran Kerajaan Haru sebanding dengan Melaka dan Pasai, sehingga masing-masing menyebut dirinya “adinda”. Semua utusan dari Aru yang datang ke Melaka harus disambut dengan upacara kebesaran kerajaan. Utusan Aru yang datang ke Istana China terakhir tahun 1431. Setelah itu tidak ada lagi utusan Raja Aru yang dikirim untuk membawa persembahan kepada Kaisar China. Hal ini dapat dipahami karena Aru pada pertengahan abad ke-15 sudah ditundukkan Melaka dibawah Sultan Mansyur Shah melaui perkawinan politik. Kekuatan Aru juga dilirik oleh Portugis untuk dijadikan sekutu melawan Melaka. Akan tetapi hubungan Aru dengan Melaka tetap harmonis. Pada saat Sultan Melaka (Sultan Mahmud Shah) diserang oleh Portugis dan mengungsi di Bintan, Sultan Haru datang membantu Melaka. Sultan Haru (Sultan Husin) dinikahkan dengan putri sultan Mahmud Shah pada tahun 1520 M. Banyak orang dari Johor dan Bintan mengiringi putri Sultan Melaka itu ke Aru. Memasuki abad ke16 M, Kerajaan Aru menjadi medan pertempuran antara Portugis (penguasa Melaka) dan Aceh. Pasukan Aceh yang pada tahun 1524 berhasil mengusir Portugis dari Pidi dan Pasai kemudian menguber sisa-sisa pasukan Portugis yang lari ke Aru. Kerajaan Aru diserang Aceh sebanyak dua kali yakni pada bulan Januari dan November 1539. Aru berhasil dikuasai Aceh dan Sultan Abdullah ditempatkan sebagai Wakil Kerajaan Aceh di Aru. Ratu Aru melarikan diri ke Melaka untuk meminta perlindungan kepada Gubernur Portugis, Pero de Faria. (M.Said, 2007: 164). Dengan bukti-bukti itu secara tertulis, jelas Kerajaan Aru memang pernah wujud di Pantai Timur Sumatera paling tidak sejak abad ke 13 hingga awal abad ke-16. Namun benarkah istananya terdapat disekitar Belawan (Muara Sungai Deli) atau di Muara Sungai Barumun di Padang Lawas, masih perlu dikaji lebih teliti dengan memerlukan banyak bukti. (wns) sumber: WASPADA ONLINE, Minggu, 18 Mei 2008 00:59 WIB Catatan: orang dalam foto bukan si penulis. sebenarnya orang dalam foto tak ada urusan dgn tulisan ini. hanya agaknya beliau cuma ingin numpang nampang Ertoto kita gelahna pendahin enda banci ilakoken. Sebab engkai, tergejap nge tuhu kuakap ibas kegeluhenta makana mbue nge usur perbahanen jelma sienterem

'mbuniken' kerna Aru e. Gentar tempa ia adina sejarah e ituriken uga situhuna. Tapi aminna gia bage kita kerinana ula megelut ukur, ula nembeh, merawa tapi tetap kita mereken 'extra joss' man kerinana pihak sierkepentingen gelahna sura-sura simejile e tangkel. Maju peradaban Karo ras Indonesia. Mejuah-Juah!

________________________________ Dari: Alexander Firdaust <daustco...@yahoo.com> Kepada: infok...@yahoogroups.com; tanahkaro@yahoogroups.com; komunitask...@yahoogroups.com Terkirim: Kamis, 16 April, 2009 02:20:01 Topik: [tanahkaro] Penelitian Besar Kerajaan Aru Digelar

Pemerintah Kabupaten Deli Serdang menggelar penelitian besar mengenai situs Putri Hijau, salah satu jejak Kerajaan Aru. Penelitian ini digelar pemerintah setempat untuk menyelamatkan situs dari kerusakan lebih parah. Selanjutnya, Pemerintah Kabupaten Deli Serdang akan membebaskan kawasan ini dari kepemilikan pribadi atau bisnis. ”Tahap pertama kami perlu mengetahui dasar ilmiah letak situs Kerajaan Aru. Melalui dasar penelitian ini, kami akan menerbitkan peraturan daerah tentang cagar budaya,” tutur Kepala Bidang Kebudayaan dan Museum Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Deli Serdang Dani Hepianto, Selasa (14/4) di Medan. Dani mengatakan, penelitian ini melibatkan Balai Arkeologi Nasional (pusat), Balai Arkeologi Medan, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Aceh-Sumut, Universitas Negeri Medan (Unimed), dan Universitas Sumatera Utara (USU). Peneliti dari National University of Singapore, Edward E McKinnon, juga siap bergabung dalam kegiatan ini. Lokasi penelitian mengacu pada penelitian yang pernah dilakukan oleh BP3 Aceh-Sumut pada 20-25 Oktober lalu. Penelitian ini merupakan penelitian resmi kedua di situs Putri Hijau. Situs ini merupakan salah satu situs yang diduga pusat Kerajaan Aru. ”Kami belum pernah menerima informasi resmi dari pihak yang berkepentingan tentang hasil penelitian di situs ini,” tutur Dani. Situs Putri Hijau terletak di Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang. Pada masa pemerintahan Kerajaan Aru abad ke-11 sampai ke-16, tempat ini menjadi salah satu pusat kerajaan. Pada akhir keruntuhan Aru, situs ini pernah menjadi benteng pertahanan Putri Hijau yang juga pembesar kerajaan. Peninggalan yang masih tersisa adalah pancuran mandi Putri Hijau, meriam puntung (disimpan di

Istana Maimon, Medan), dan gundukan tanah di sekitar Sungai Petani yang diduga sebagai benteng pertahanan. Situs ini sebelumnya menjadi sorotan pada akhir tahun 2008 karena ada pembangunan perumahan di lokasi tersebut. Pengembang perumahan, yaitu Perusahaan Umum (Perum) Perumnas, merasa tidak bersalah karena tidak ada informasi mengenai adanya situs. ”Kami belum pernah mendapat masukan dari pihak berkepentingan mengenai situs ini,” tuturnya. Kepala Balai Arkeologi Medan Lucas P Kustoro menyambut baik penelitian yang berlangsung pekan depan ini. Dia mengatakan, sebelum pemerintah membebaskan kawasan ini sebagai cagar budaya perlu landasan yang kuat. Sudah saatnya penelitian serius mengenai situs ini digelar. Langkah Pemkab Deli Serdang perlu menjadi teladan bagi daerah lain untuk menyelamatkan situs sejarah. Lucas berharap agar tidak ada perdebatan lagi mengenai letak situs Putri Hijau yang sesungguhnya. Situs ini, tuturnya, penting artinya bagi penelusuran sejarah kehidupan manusia masa lampau di Sumut. Selain situs Putri Hijau, jejak Kerajaan Aru juga ditemukan di situs Kota Cina, Medan Marelan (Medan), dan Situs Kota Rantang, Hamparan Perak (Deli Serdang). Di dua tempat ini belum banyak dilakukan penelitian oleh pemangku kepentingan. Penelitian pertama pada Oktober lalu, tim BP3 Aceh-Sumut menemukan fakta penting. Di delapan kotak eskavasi tim menemukan pecahan keramik China dari Dinasti Ming abad ke-15 sampai ke-17, peluru logam yang diduga dari tentara Turki, pecahan gerabah, besi bakar sisa perajin besi kuno, pecahan kaca, dan peralatan batu manusia prasejarah. Sumber: http://oase. kompas.com/ read/xml/ 2009/04/16/ 01095375/ Penelitian. Besar.Aru. Digelar Salam Mejuah Juah Karo Cyber Community

Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini! http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/ 000 Menelusuri Jejak Kerajaan Aru Kerajaan Aru merupakan kerajaan besar dan penting yang pernah berdiri pada abad ke-13 hingga 16 Masehi di bagian utara pulau Andalas (Sumatera). Namun sayangnya berita tentang kerajaan ini sangat minim terdengar, kalah

pamor dengan kerajaan-kerajaan lain yang pernah jaya di Nusantara seperti Kerajaan Majapahit, Singosari dan Sriwijaya. "Padahal kerajaan ini banyak disebut pada Amukti Palapa dalam Hikayat Pararaton, sejarah Melayu, dalam laporan Mendez Pinto (penguasa Portugis di Malaka), laporan admiral Cheng Zhe (Cheng Ho) maupun pengembara dari negeri China lainnya," kata sejarawan Universitas Negeri Medan (Unimed), Dr Phill Ichwan. Berdasarkan sejumlah literatur, pusat Kerajaan Aru dinyatakan berpindahpindah. Sebagian menyebut di Telok Aru di kaki Gunung Seulawah (Aceh Barat), kemudian di Lingga, Barumun dan bahkan di Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang. Namun demikian, aktivitas arkeologi yang telah dilakukan berkesimpulan bahwa pusat Kerajaan Aru berada di Kota Rentang (Hamparan Perak) di Kabupaten Deli Serdang dari abad ke-13 hingga 14 Masehi, sebelum akhirnya pindah ke Deli Tua dari abad 14 hingga 16 M akibat serangan dari Aceh. "Hipotesa bahwa Kota Rentang adalah pusat Kerajaan Aru banyak didukung oleh faktor seperti jalur dari Karo Plateau maupun Hinterland menuju pantai timur yang terfokus pada Sei Wampu dan Muara Deli. Di kawasan itu juga ditemukan ragam keramik yang berasal dari China, Muangthai, Srilangka, serta koin atau mata uang Arab dari abad ke-13 hingga 14," katanya. Temuan yang paling menakjubkan adalah ditemukannya batu kubur (nisan) yang tersebar di situs sejarah penting tersebut. Batu kubur yang terbuat dari batu cadas (volcanic tuff) yang ditemukan memiliki ornamentasi dalam berbagai ukuran dan sebagian bertuliskan Arab-Melayu dan banyak menunjukkan kemiripan dengan yang ditemukan di Aceh. Di rawa-rawa di kawasan yang sama juga ditemukan kayu-kayu besar yang diduga merupakan bekas istana Kerajaan Aru serta batu-batu besar yang diduga bekas bangunan candi. Juga ditemukan bongkahan perahu tua dengan panjang 30 hingga 50 meter yang menunjukkan bahwa Kota Rentang merupakan pusat niaga yang padat pada abad tersebut. Terbesar Sejarawan dari Universitas Sumatera Utara, Tuanku Luckman Sinar, mengatakan, pada abad ke-15 Kerajaan Aru merupakan kerajaan terbesar di Sumatera dan memiliki kekuatan yang dapat menguasai lalulintas perdagangan di Selat Malaka. Kerajaan Aru yang meliputi wilayah pesisir Sumatera Timur, yaitu batas Tamiang sampai Sungai Rokan, sudah mengirimkan beberapa kali misi ke Tiongkok yang dimulai pada tahun 1282 Masehi pada zaman pemerintahan Kubilai Khan. Kerajaan Aru juga pernah ditaklukkan oleh Kertanegara dalam ekpedisi Pamalayu (1292) dan ditulis dalam pararaton "Aru yang Bermusuhan". Tetapi setelah itu Aru pulih kembali dan menjadi makmur sebagai mana dicatat oleh bangsa Persia, Fadiullah bin Abdul Kadir Rashiduddin dalam bukunya "Jamiul Tawarikh" (1310 M), jelasnya. Musibah kembali menimpa Kerajaan Aru ketika Majapahit menaklukkannya pada tahun 1365 M. Seperti tertera dalam syair Negarakertagama strope 13:1, pada masa itu Majapahit juga menaklukkan Panai (Pane) dan Kompai (Kampe) di Teluk Haru. Dalam laporan Tiongkok abad ke-15 juga disebut berkali-kali Aru yang Islam

mengirim misi ke Cina. Baik dari laporan-laporan China maupun dari laporan Portugis yang ditulis kemudian, menunjukkan sekitar Sungai Deli menjadi pusat Kerajaan Aru dengan bandarnya Kota Cina dan Medina (Medan) sebagaimana disebut-sebut Laksamana Turki Ali Celebi dalam "Al Muhit". Mengenai Kota Rentang sebagai pusat Kerajaan Aru juga diperkuat oleh Prof. Naniek H Wibisono, tim Puslitbang Aarkeolog Nasional Badan Litbang Kebudayaan dan Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Menurut dia, hasil penelitian eksploratif di situs Kota Rentang memunculkan dugaan bahwa lokasi tersebut merupakan bagian dari jaringan permukiman dan aktivitasnya yang saling terkait. Asumsi tersebut berdasarkan pola persebaran dan variabilitas tinggalan arkeolog seperti keramik, tembikar, artefak batu, sisa-sisa tulang, mata uang, damar dan batu nisan. Keberadaan tinggalan arkeologi terutama keramik dan mata uang yang menjadikan bukti bahwa di lokasi tersebut pernah terjadi aktivitas yang berhubungan dengan perniagaan, katanya. Keramik merupakan suatu komoditi dari luar Nusantara yang banyak ditemukan. Penemuan tersebut menjadi kunci penting sejarah perniagaan, baik secara lokal maupun interlokal. "Kita menemukan bukti-bukti yang meyakinkan untuk lebih memperjelas gambaran tentang apa yang berlangsung di wilayah itu pada masa lampau," tambahnya. Melalui keramik, katanya, dapat ditelusuri kapan sesungguhnya Kota Rentang mulai berperan dalam perniagaan. Selain itu, melalui persamaan variabilitas dan kronologi tinggalan arkeologi juga dapat diketahui keberadaan situs Kota Rentang dan hubungannya dengan situs-situs lainnya. "Dari hasil penelitian ini diduga tinggalan arkeologi yang ditemukan memiliki persamaan dengan situs lainnya yang terletak dalam satu jaringan pesisirpedalaman, antara lain Kota Cina," katanya. Pasca serangan Aceh pada akhir abad ke-14, pusat Aru berpindah dari Kota Rentang ke Deli Tua dan berdiri dari abad ke-15 hingga 16 M. Di situs Aru Deli Tua ditemukan Benteng Putri Hijau (Green Princess Castle), keramik yang berasal dari China, Muangthai, Sri Langka maupun Burma. Temuan keramik tersebut menunjukkan periode yang sama dengan temuan di Kota Rantang.

23 Agustus 2008 Menelusuri Jejak Kerajaan Aru 2. Kerajaan Aru merupakan kerajaan besar dan penting yang pernah berdiri pada abad ke-13 hingga 16 Masehi di bagian utara pulau Andalas (Sumatera). 3. Namun sayangnya berita tentang kerajaan ini sangat minim terdengar, kalah pamor dengan kerajaan-kerajaan lain yang pernah jaya di Nusantara seperti Kerajaan Majapahit, Singosari dan Sriwijaya. 4. "Padahal kerajaan ini banyak disebut pada Amukti Palapa dalam Hikayat Pararaton, sejarah Melayu, dalam laporan Mendez Pinto (penguasa Portugis di Malaka), laporan admiral Cheng Zhe (Cheng Ho) maupun pengembara dari negeri China lainnya," kata sejarawan Universitas Negeri Medan (Unimed), Dr Phill Ichwan.

5. Berdasarkan sejumlah literatur, pusat Kerajaan Aru dinyatakan berpindah-pindah. Sebagian menyebut di Telok Aru di kaki Gunung Seulawah (Aceh Barat), kemudian di Lingga, Barumun dan bahkan di Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang. 6. Namun demikian, aktivitas arkeologi yang telah dilakukan berkesimpulan bahwa pusat Kerajaan Aru berada di Kota Rentang (Hamparan Perak) di Kabupaten Deli Serdang dari abad ke-13 hingga 14 Masehi, sebelum akhirnya pindah ke Deli Tua dari abad 14 hingga 16 M akibat serangan dari Aceh. 7. "Hipotesa bahwa Kota Rentang adalah pusat Kerajaan Aru banyak didukung oleh faktor seperti jalur dari Karo Plateau maupun Hinterland menuju pantai timur yang terfokus pada Sei Wampu dan Muara Deli. Di kawasan itu juga ditemukan ragam keramik yang berasal dari China, Muangthai, Srilangka, serta koin atau mata uang Arab dari abad ke-13 hingga 14," katanya. 8. Temuan yang paling menakjubkan adalah ditemukannya batu kubur (nisan) yang tersebar di situs sejarah penting tersebut. Batu kubur yang terbuat dari batu cadas (volcanic tuff) yang ditemukan memiliki ornamentasi dalam berbagai ukuran dan sebagian bertuliskan ArabMelayu dan banyak menunjukkan kemiripan dengan yang ditemukan di Aceh. 9. Di rawa-rawa di kawasan yang sama juga ditemukan kayu-kayu besar yang diduga merupakan bekas istana Kerajaan Aru serta batu-batu besar yang diduga bekas bangunan candi. 10.Juga ditemukan bongkahan perahu tua dengan panjang 30 hingga 50 meter yang menunjukkan bahwa Kota Rentang merupakan pusat niaga yang padat pada abad tersebut. 11.Terbesar 12.Sejarawan dari Universitas Sumatera Utara, Tuanku Luckman Sinar, mengatakan, pada abad ke-15 Kerajaan Aru merupakan kerajaan terbesar di Sumatera dan memiliki kekuatan yang dapat menguasai lalulintas perdagangan di Selat Malaka. 13.Kerajaan Aru yang meliputi wilayah pesisir Sumatera Timur, yaitu batas Tamiang sampai Sungai Rokan, sudah mengirimkan beberapa kali misi ke Tiongkok yang dimulai pada tahun 1282 Masehi pada zaman pemerintahan Kubilai Khan. 14.Kerajaan Aru juga pernah ditaklukkan oleh Kertanegara dalam ekpedisi Pamalayu (1292) dan ditulis dalam pararaton "Aru yang Bermusuhan". Tetapi setelah itu Aru pulih kembali dan menjadi makmur sebagai mana dicatat oleh bangsa Persia, Fadiullah bin Abdul Kadir Rashiduddin dalam bukunya "Jamiul Tawarikh" (1310 M), jelasnya. 15.Musibah kembali menimpa Kerajaan Aru ketika Majapahit menaklukkannya pada tahun 1365 M. Seperti tertera dalam syair Negarakertagama strope 13:1, pada masa itu Majapahit juga menaklukkan Panai (Pane) dan Kompai (Kampe) di Teluk Haru. 16.Dalam laporan Tiongkok abad ke-15 juga disebut berkali-kali Aru yang Islam mengirim misi ke Cina. Baik dari laporan-laporan China maupun dari laporan Portugis yang ditulis kemudian, menunjukkan sekitar Sungai Deli menjadi pusat Kerajaan Aru dengan bandarnya Kota Cina dan Medina (Medan) sebagaimana disebut-sebut Laksamana Turki Ali Celebi dalam "Al Muhit". 17.Mengenai Kota Rentang sebagai pusat Kerajaan Aru juga diperkuat oleh Prof. Naniek H Wibisono, tim Puslitbang Aarkeolog Nasional Badan Litbang Kebudayaan dan Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. 18.Menurut dia, hasil penelitian eksploratif di situs Kota Rentang memunculkan dugaan bahwa lokasi tersebut merupakan bagian dari jaringan permukiman dan aktivitasnya yang saling terkait.

19.Asumsi tersebut berdasarkan pola persebaran dan variabilitas tinggalan arkeolog seperti keramik, tembikar, artefak batu, sisa-sisa tulang, mata uang, damar dan batu nisan. 20.Keberadaan tinggalan arkeologi terutama keramik dan mata uang yang menjadikan bukti bahwa di lokasi tersebut pernah terjadi aktivitas yang berhubungan dengan perniagaan, katanya. 21.Keramik merupakan suatu komoditi dari luar Nusantara yang banyak ditemukan. Penemuan tersebut menjadi kunci penting sejarah perniagaan, baik secara lokal maupun interlokal. "Kita menemukan bukti-bukti yang meyakinkan untuk lebih memperjelas gambaran tentang apa yang berlangsung di wilayah itu pada masa lampau," tambahnya. 22.Melalui keramik, katanya, dapat ditelusuri kapan sesungguhnya Kota Rentang mulai berperan dalam perniagaan. Selain itu, melalui persamaan variabilitas dan kronologi tinggalan arkeologi juga dapat diketahui keberadaan situs Kota Rentang dan hubungannya dengan situs-situs lainnya. 23."Dari hasil penelitian ini diduga tinggalan arkeologi yang ditemukan memiliki persamaan dengan situs lainnya yang terletak dalam satu jaringan pesisir-pedalaman, antara lain Kota Cina," katanya. 24.Pasca serangan Aceh pada akhir abad ke-14, pusat Aru berpindah dari Kota Rentang ke Deli Tua dan berdiri dari abad ke-15 hingga 16 M. Di situs Aru Deli Tua ditemukan Benteng Putri Hijau (Green Princess Castle), keramik yang berasal dari China, Muangthai, Sri Langka maupun Burma. Temuan keramik tersebut menunjukkan periode yang sama dengan temuan di Kota Rantang. Seperti telah disinggung sebelumnya, di wilayah “dusun” (pedalaman/di kakai Bukit Barisan), ada suatu suku yang menyebut dirinya Karo (atau Haro di Asahan) yang kini sisanya masih tinggal di kampung Siberaya (dekat di atas Deli Tua), dan mereka disebut Karo Sekali (asli). Mereka inilah (yang Islam), yang bercampur baur dengan orang-orang Melayu pesisir yang menjadikan penduduk kerajaan Haru (deli). Di dataran tinggi Karo, pada awal abad ke-17, datanglah gelombang invasi dari berbagai marga dari arah Dairi dan Toba. Yaitu, Barus, Lingga dan Sitepu, yang menurut suku Karo, itu bukan asli Karo, sehingga dinamakan Karo-karo. Mereka itu lalu menetap dan membuat perkampungan (kuta) sampai di dataran rendah dekat Deli Tua dan Binjai. Marga Tarigan datang dari Dolok dan Simalungun, dan juga dari Lehe (Dairi), berjalan menuju Nagasaribu dan Jupar. Satu cabang mereka pergi turun ke pesisir (Ale – Deli dekat Pulau Berayan, dan bahkan sampai ke Siak. Masa itu juga Guru Patimpus mendirikan perkampungan – perkampungan (kuta-kuta) sampai di Medan sekarang. J.H Neumann menduga, mereka pindah bergelombang dari datarang tinggi Karo, karena adanya desakan dari orang-orang India Tamil yang datang dari arah Singkel dan Barus yang masuk ke Taneh Karo, dan juga karena merga Sembiring diusir dari Aceh. Kemungkinan lain ialah, karena tanah di dataran rendah relatif lebih subur daripada di dataran tinggi dimana tanah tidak mencukupi lagi. Itu dimungkinkan karena penduduk di dataran rendah telah menciut akibat peperangan-peperangan dengan Aceh berkali-kali dalam periode 1539-1640, sehingga bandar-bandar hancur, dan kampung-kampung ditinggalkan. Marga Ginting datang via Tengging lewat pegunungan (layo Lingga) masuk Tanah Karo. Banyak pula daerah mereka yang diambil merga Sembiring. Merga Perangin-angin datang dari Pinem dan Layo Lingga. Mereka menuju ke utara, ke Kuta Buluh dan ke sebelah barat Gunung Sinabung. Juga mereka melintasi pegunungan menuju dataran rendah dekat Binjai. Hanya Peranginangin Batu Karang yang datang dari arah Siantar, tetapi akhirnya mengaku juga datang dari arah Dairi. Sembiring Kembaren datang melalui Lau Baleng dan via Samperaja (Liang Melas), masuk Bahorok di Langkat. Ada juga yang

terus ke Tanah Alas. Invasi yang terakhir adalah dari marga-marga Sembiring lainnya (Brahmana, Meliala, Depari dan lainnya), yang juga melalui jalan tadi, agak ke timur menghulu Sungai Biang dan menuju arah Siberaya. Jika ditelusuri cerita dari Perbesi, maka marga-marga Sembiring ini baru masuk Dusun Deli dan Serdang kira-kira 150 tahun yang lalu. Merga-merga ini sangat sedikit, dan tidak pernah menjabat Kepala Kampung (Penghulu atau Perbapaan) di Deli dan Serdang. Jadi hampir dari semua mereka ini datang dari Hulu Sungai Singkel dan hulu sungai-sungai di sebelah pantai barat Sumatera. Apa faktor-faktor dan motif yang mendorong mereka itu pindah ke dataran rendah ? Ada beberapa penyebab: Jika ditelusuri cerita-cerita dari pustaka mereka, adat Karo zaman dahulu menghendaki putera-putera raja harus merantau dan mendirikan kampungkampung dan kerajaan-kerajaan yang baru agar turunan mereka menjadi besar. Kita ambil contoh Datuk Sunggal. Sebahagian berpenduduk Karo dari wilayahnya (Serbanyaman) dihuni oleh mereka-mereka yang berasal dari kerajaan Teluk Kuru di dataran tinggi. Di situ yang berkuasa marga Karo-karo Gajah, yang di dataran rendah sangat sedikit jumlahnya. Selain faktor kesuburan dataran rendah, juga adanya sifat bertualang bagi orang-orang Karo, terutama yang masih lajang, atau kalah perang dan harus mengungsi. Petualangan-petualangan secara individu juga terjadi, marga-marga dan sub marga saling bercampur untuk tinggal dimana-mana. Mungkin ketika dalam perjalanan berdagang menuju pesisir dan muara-muara sungai dimana ada pedagang-pedagang Melayu, di dalam perjalanan pulang mereka tersesat. Lalu di suatu tempat yang baik, mereka membuka kediaman yang baru, yang disebut ‘Dagang’. Petualangan individu itu bisa juga terjadi dimana orang-orang yang bersalah di kampungnya, lari dan mendirikan pemukimanpemukiman di dataran rendah. Pemukiman-pemukiman suku Karo ini pada awalnya sampai ke daerah 10 KM dari pesisir pantai. Mereka yang berdiam di pesisir itu telah di Islamkan orang-orang Melayu, seperti halnya Datukdatu Kepala Urung di Sunggal, Hamparan Perak (XII Kuta), Sukapiring dan Senembah. Mereka inilah perantara dengan rekannya sesama suku yang masih belum beragama di Hulu. Kampung-kampung Karo yang baru didirikan disebut Kuta, dan kepala kampungnya ialah marga yang mula-mula mendirikan/membuka tanah di situ. Ia berhubungan erat dengan Kepala Kampung Induknya di dataran tinggi. Ia tak ubahnya sebagai koloni baru yang otonom. Kalau dua atau lebih marga berlainan yang mendirikan bersama-sama sebuah kampung, maka masing-masing marga mengepalai satu komplek, yang disebut kesain dari kampung itu. Kepala Kampung ini disebut Penghulu atau Raja, dan kalau titel turunan bangsawan disebut Sibayak. Penghulu tidak memerintah sendiri-sendiri, tetapi didampingi: 1. 2. 3. 4. 5. Anak Beru (anak laki-laki saudari perempua yang lain marga) Senina (salah seorang dari sub marga yang sama dengan penghulu) Kalimbubu (pihak mertua dari Penghulu) Anak Beru Menteri (anak beru dari anak beru penghulu) Pertuha Kuta (orang tua yang dianggap peduli adat dipilih dewan desa)

Jadi, ‘dusun’ yang mempunyai ‘kuta’ (kampung), adalah republik-republik kecil. PERBAPAAN Jika suatu kuta baru didirikan oleh orang-orang dari kuta (kampung) Induk, maka kampung induk itu disebut PERBAPAAN (tempat dimana bapak tinggal). Serta kuta yang baru itu tidaklah merdeka sepenuhnya. Karena itu,

jika ada perkara dan penduduknya kurang puas, bisa naik banding kepada putusan kampung perbapaan disebut ‘Balai’. Satu Perbapaan bersama-sama anak kampung membentuk ‘kuta’nya satu negeri yang disebut URUNG. Ada juga beberapa kepala kampung yang berjasa kepada Datuk dan diberi gelar ‘Penghulu Kitik’. Sedangkan Perbapaan diberi gelar ‘Penghulu Belin’. FEDERASI URUNG – URUNG Setiap wilaya dari Datung (Urung) 4 suku di Deli (terutama Sunggal, Sepuluh Dua Kuta Hamparan Perak dan Sukapiring, dibagi lagi atas 2 wilayah ; 1. Sinuan Bunga, (dimana kapas ditanam). Ini adalah daerah-daerah yang berbatasan dengan dataran pesisir dimana tinggal suku Melayu. 2. Sinuan Gambir (dimana gambir ditanam), ialah wilayah-wilayah penduduk Karo yang berbatas dan bersatu dengan daerah Hulu sampai ke Dataran Tinggi Karo. Jadi, daerah berpenduduk suku Karo di Deli terbagi atas : a. Kampung – kampung (kuta) b. Urung (Perbapaan) c. Hoofd-Perbapaan d. Datuk-datuk Di dalam masa interregnum inilah tiba seseorang yang bernama Guru Patimpus ke Medan sekarang ini. Ini dikisahkan dalam riwayat Hamparan Perak. Dokumen asli dalam aksara Karo dan ditulis dalam pustaka yang terdiri dari lempengan-lempengan bambu, tetapi dokumen asli ini yang disimpan di rumah Datuk Hamparan terakhir (Datuk Hafiz Haberham), telah terbakar ketika berkecamuk revolusi sosial yang disponsori kaum komunis di Sumatera Timur, tanggal 4 Maret 1946. Yang ada sekarang hanyalah salinan yang diketik dalam bahasa Indonesia dengan aksara Romawi. Singkatnya, isi dokumen itu adalah sebagai berikut; RAJA SINGA MAHRAJA memerintah negeri Bekerah kawin dengan puteri dari orang besarnya bernama PUANG NAJELI dan nama orang besarnya itu JALIFA. Dari perkawinan ini, lahirlah dua orang putera, masing-masing bernama Tuan Manjolong (yang kemudian menggantikan kedudukan bapaknya sebagai raja dan Tuan Si Raja Hita, yang belakangan pergi merantau bersama neneknya Jalipa, dan akhirnya tiba di sekitar Gunung Sibayak (Tanah Karo). Sesampainya di sana, salah seorang kesasar di dalam hutan sehingga keduanya terpisah. Jalipa akhirnya sampai ke kampung Kendit. Turunan suku Karo di XII Kuta, asalnya datang dari Kendit ini kemudiannya. Setelah perpisahan ini, Tuan Si Raja Hita kembali ke Bekerah via laut Tawar. Kemudian kawin serta menetap di kampung Pekan. Disana ia memperoleh 3 orang anak. Yang nomer 2 dirajakan di kampung Pekan (Pekan) ini, sedang yang nomor 3 kemudian dirajakan di Kampung Balige. Dan yang tertua bernama Patimpus, yang tak mau menjadi raja, namun suka merantau menambah ilmu, sehingga lama kelamaan ia dikenal sebagai Guru Pa Timpus. Si Raja Hita meninggal. Guru Pa Timpus kemudian pergi ke kampung Pekan. Ia kemudian kawin dengan anak raja Ketusing, dan menetap sementara di sana. Dari perkawinan ini ia memperoleh putera-puteri : 1. Benara, yang mendirikan kampung Benara 2. Kuluhu, yang mendirikan kampung Kuluhu 3. Batu, yang mendirikan kampung Batu 4. Salahan, yang mendirikan kampung Salahan 5. Paropa, yang mendirikan kampung Paropa 6. Liang, yang mendirikan kampung Liang 7. Serta seorang gadis yang kawin dengan Raja Tangging (Tingging) Demikianlah kesemua kampung-kampung itu menjadi anak beru dari kampung Ketusing. Tiada berapa lama kemudian, terjadilah huru-hara di dataran tinggi Karo. Guru Pa Timpus sangat masygul memikirkan nasib moyangnya Jalipa yang tinggal di Kaban kini. Ketika ia menuju Kaban, sampailah ia di Aji Jahe, yang waktu itu sedang dilanda perang saudara. Ia dapat menyelesaikan huru-hara itu, sehingga tercipta perdamaian dan ia lalu

dikawinkan di sana. Dari perkawinan itu, lahirlah dua orang putera bernama Si Janda (menetap di Aji Jahe) dan Si Gelit (Bagelit). Tiada berapa lama, terbit pula huru-hara di kampung Batu Karang. Guru Pa Timpus diminta kesana menyelesaikannya. Setelah diperoleh perdamaian, maka ia dikawinkan di sana. Dari perkawinan itu, lahir pula dua orang putera, yaitu Si Aji (kemudian Perbapaan Perbaji), dan Si Raja Hita, yang kemudian dirajakan di kampung Durian Kerajaan (Langkat Hulu). Pada suatu ketika ia berada di Aji Jahe, terdengarlah kabar bahwa “ Jawi bangsa Said datang dari negeri Jawa diam di Kota Bangun, dinamakan Datuk Kota Bangun, sangat luar biasa tinggi ilmunya. Guru Pa Timpus beserta pengiring-pengiringnya, lalu pergi ke arah hilir, dan kemudian sampailah mereka di Kuala Sungai Sikambing. Dia menetap di sana selama 3 bulan. Barulah dia pergi menemui ulama Datuk Kota Bangun tadi. Setelah sama-sama mencoba kepandaian ilmu mistik masing-masing, akhirnya ternyata Datuk tadi lebih unggul, akhirnya Guru Pa Timpus tadi bersedia masuk Islam. Di sini istilahnya “masuk Jawi” = masuk Melayu. Kemudian ia kembali ke gunung dan berunding dengan pengikutpengikutnya. Di dalam kata perpisahan antara lain disebutnya ; “… serupa juga aku di sini atau di sana, sebab kita punya tanah sampai ke laut, aku pikir jikalau aku tiada masuk Islam, tentulah tanah kita yang dekat laut diambil oleh Jawi dari seberang…” Kemudian Guru Pa Timpus bersama 7 orang besarnya, masuk Islam oleh Datuk Kota Bangun. Di sana mereka berguru agama Islam selama 3 tahun, dan ia lewat di kampung Pulau Berayan. Ketika itu Pulau Berayan masih berpenduduk asal Karo. Dan raja di kampung itu bermarga Tarigan keturunan Panglima Hali (bandingkan Pustaka Tarigan yang menyebut ‘Ale Deli’) yang sudah lama memeluk Islam. Raja ini memiliki seorang putri yang cantik, kepada siapa Guru Pa Timpus jatuh hati. Tetapi gadis ini selalu saja menghinanya dan tidak akan bersuamikan “ Batak masuk Jawi “. Guru Pa Timpus lalu sakit hati, kemudian mengguna-gunai gadis itu sehingga tergilagila kepadanya. Sehingga akhirnya dapat disembuhkan Pa Timpus sendiri, maka gadis itu dikawinkan ayahnya dengan Guru Pa Timpus. Tiada beberapa lama, Guru Pa Timpus kemudian membuka kampung Medan (Kuta yang ke12). Sesudah ia siap membuat rumah dan kampung, lalu dari Medan inilah ia memerintah dusun-dusun taklukkannya yang ada di Hulu. Ketika di Medan inilah lahir 2 orang puteranya, masing-masing bernama Hafidz Tua (sebutan Kolok) dan Hafidz Muda (panggilan Kecik). Saat berumur 7 dan 8 tahun, anak-anak ini berguru kepada Datuk Kota Bangun. Ketika sampai pada masa khatam Al Quran dan mau menyunat rasulkan putera-putera ini, maka dibuatlah pesta yang besar, dengan mengundang kerabat yang dari gunung. Berhubung puteranya Si Bagelit menuntut supaya dia nanti bakal pengganti raja, sedangkan Hafidz Tua dan Hafidz Muda sudah dewasa pula, maka Guru Pa Timpus menentang hal itu. Setelah berunding dengan para pembesar-pembesarnya, lalu 1/3 dari tanah kerajaannya ke arah gunung, yang kemudian disebut dengan Sukapiring, diserahkan kepada Si Bagelit selaku rajanya, dan berpusat di Durian Sukapiring, setelah Si Bagelit di Islamkan oleh Datuk Kota Bangun. Atas nasihat Datuk Kota Bangun, maka kedua putranya disuruh menghadap kepada Sultan Aceh. Sesampai di sana, oleh Sultan Aceh mereka dianugrahi pangkat panglima dengan alat kebesaran sebuah Gedubang dan mereka lalu dikawinkan di sana. Kemudian mereka pulang ke Medan. Guru Pa Timpus membuat kampung yang baru di Pulau Bening, lalu meninggal dunia, dan dimakamkan di sana. Karena abangnya tidak mau menggantikan posisi ayah mereka menjadi raja, maka Hafidz Muda kemudian yang menjadi raja menggantikan singgasana Guru Pa Timpus. Daerah yang dihuni oleh masyarakat Karo sebelum kedatangan pemerintah kolonial Belanda ke Sumatera Timur sangatlah luas. Mereka menganggap

dirinya sebagai suatu bangsa yang merdeka dan tidak pernah dijajah oleh bangsa manapun. Selanjutnya, walaupun mereka tinggal di sekitar wilayah pegunungan, namun karena dipaksa oleh situasi kebutuhan hidup, masyarakat ini mulai mencari hubungan dengan masyarakat di sekitar wilayah pantai. Sebab, sebagai mahluk manusia, mereka tidak dapat melepaskan diri akan kebutuhan garam bagi tubuhnya. Untuk memenuhi kebutuhan ini, sebagian dari mereka mulai turun menyusuri wilayah pegunungan menuju pantai dataran rendah melakukan perdagangan dengan cara barter. Dari pegunungan, mereka membawa sejumlah barang yang akan dibarter, dan sebaliknya, dari pantai mereka lalu mudik kembali ke dataran tinggi memikul garam untuk kebutuhan masyarakat di pegunungan. Kemudian, secara evolusi, karena jauhnya perjalanan, akhirnya sebahagian dari masyarakat ini mulai menetap di dataran rendah sambil berdagang, menanam lada dan tembakau Lambat laun, suku Karo semakin berkembang dan wilayah domisili mereka juga semakin bertambah luas. Hampir separuh daerah yang dulu dikenal Sumatera Timur, yaitu membentang dari Tamiang ( perbatasan Aceh ) sampai kerajaan Siak. Adapun tempat-tempat yang didiami oleh orang Karo membentang dari Sipispis disekitar Tebing Tinggi sebelah utara menyelusuri pantai sampai di Langkat, kemudian daerah selatan kearah Tanah Karo sekarang, dan Tiga Lingga ( Kabupaten Dairi sekarang ) terus ke Simalungun atas dan menyambung lagi ke Sipispis. Karena memiliki jiwa petualang yang agresif, suku Karo berkembang lebih lanjut sampai Aceh Tengah, terbukti dari kenyataan bahwa suku-suku di daerah Takengon, Blangkejeren, dan Alas masih memakai marga yang sama dengan suku Karo. Terutama di Aceh Tenggara atau Tanah Alas, selain persamaan bahasa yang masih komunikatif dengan Karo, juga masih banyak persamaan marga. Sampai sekarang apabila ada acara adat, hubungan keluarga antara etnis masih saling kunjung-mengunjungi. Gambaran tentang daerah domisili masyarakat Karo dapat pula dilihat seperti apa yang dilukiskan oleh J.H. Neuman dibawah ini : ‘Wilayah yang didiami oleh suku Karo dibatasi sebelah Timur oleh pinggir jalan yang memisahkan dataran tinggi dari Serdang. Di sebelah Selatan kirakira dibatasi oleh sungai Biang ( yang diberi nama sungai Wampu, apabila memasuki Langkat ), disebelah Barat dibatasi oleh gunung Sinabung dan disebelah Utara wilayah itu meluas sampai ke dataran rendah Deli dan Serdang.” Dalam gambaran luasnya, domisili masyarakat Karo ini memang tidak dapat pula dibantah, bahwa ada beberapa bahagian di daerah pantai yang dihuni oleh penduduk Melayu. Namun demikian, kedua suku bangsa ini hidup berdampingan, dan lebih jauh lagi saling berbaur atau berakulturasi diantara sesamanya. Setelah Belanda melaksanakan strategi politik pax Neerlandica dan misi pentration pasifique- nya, kepedalaman dan dataran tinggi Karo, maka wilayah Sumatera Timur yang hampir separuh dihuni oleh suku Karo, semakin dipersempit dan diciutkan oleh strategi politik devide et impera Belanda. Daerah –daerah yang dihuni oleh orang Karo seperti Simalungun Atas, masuk daerah Simalungun, Alas dimasukkan ke Aceh, Langkat Hilir masuk kerajaan Langkat, Deli Hilir dan Hulu menjadi wilayah Sultan Deli, Tiga Lingga masuk Tapanuli, sedangkan sekitar Bangun Purba, Lubuk Pakam dan Sipispis masuk kewilayah Sultan Serdang. Dataran tinggi Karo yang sebenarnya sebagi sentrum budaya ini, menjadi daerah yang paling kecil. Demikian juga jumlah penduduknya sangat sedikit dibandingkan dengan yang bermukim diluar tanah Karo Bentuk dataran tinggi Karo menyerupai sebuah kuali yang sangat besar karena dikelilingi oleh pegunungan dengan ketinggian 140 s/d 1400 m di atas permukaan laut, terhampar di panggung Bukit Barisan serta terletak pada koordinat 20500L.U, 30190L.S, 970 550-980380 B.T diantara gununggunungnya yang terkenal adalah: disebelah Utara adalah Gunung Barus,

Pinto, Sibayak, Simole dan Sinabung, disebelah selatan terdapat Gunung Sibuaten. Dari semua pegunungan itu, dua diantaranya masih aktif yaitu Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung. Keadaan tanah berbukit-bukit serta diselang selingi oleh lembah dan padang rumput. Zat belerang yang dihembuskan oleh angin dari kedua gunung berapi tadi mengakibatkan tanah disekitarnya menjadi subur. Suatu anugrah Tuhan, bahwa sebagian besar tanah di dataran tinggi ini terdiri dari tanah debu hitam-Andosol-sebagai hasil letusan kompleks gunung api Sibayak dan Sinabung di masa lalu. Tanah inilah yang cocok sekali untuk jeruk, cengkeh, palawija, kentang dan lainnya. Di bagian lainnya tanah ini bercampur dengan bahan yang berasal dari letusan gunung Toba dizaman dulu. Secara singkat kekayaan lahan dataran tinggi karo merupakan perpaduan dari faktor luasnya, kesuburannya, letak yang dekat ke Medan. Faktor-faktor inilah yang menunjukkan dataran tinggi Karo menjadi pusat produksi holtikultura. Oleh karena itu tidak mengherankan jika lingkungan yang sangat subur ini dimanfaatkan oleh masyarakatnya untuk bertani. Suhu udara di dataran tinggi Karo sangat sejuk, berkisar antara 160 s/d 270 C dengan kelembaban udara rata-rata 28%. Musim hujan lebih panjang dibanding kemarau dengan perbandingan 9:3. Awal musim hujan bulan Agustus, berakhir bulan Januari dan musim hujan kedua dari bulan Maret sampai Mei setiap tahunnya, dengan curah hujan pertahun antara 1000 s/d 4000 mm. Karena penataan struktur pemerintahan yang dilakukan pemerintah Belanda di Sumatera Timur, wilayah dataran tinggi Karo dijadikan dengan Simalungun menjadi sebuah afdeling Simalungun en Karolanden. Tetapi setelah kemerdekaan Indonesia, dataran tinggi Karo menjadi sebuah kabupaten, dan hampir semua penduduknya bersifat homogen, yaitu masyarakat Karo. Memang jika dibandingkan dengan luas domisili dan pemukiman masyarakat Karo sebelum kolonialisme Belanda masuk Sumatera Timur, dataran tinggi sangatlah kecil, dan luaslah seluruh wilayahnya berkisar 2127,3 km. Penduduknya berdasarkan sensus yang pernah dilakukan pemerintah Belanda tahu 1920 berjumlah 74.568. Pada tahun 1930 populasi mereka bertambah menjadi 84.462. Pasca revolusi, jumlah penduduk Kabupaten Karo, berdasarkan hasil sensus yang dilakukan pemerintah Indonesia pada tahun 1961, berjumlah 147.700 orang. Dari hasil ini dapat diketahui bahwa masyarakat Karo lebih banyak berdomisili di luar dataran tinggi Karo, ini dapat dilihat dalam statistik penduduk Sumatera Timur pada tahun 1930. Wilayah Sumatera Timur yang hampir sepertiga luasnya dihuni masyarakat ini, populasinya adalah sebanyak 145.429 orang. Hampir lima puluh persen mereka berada di luar sentrum budayanya. Sedangkan dalam statistik jumlah penduduk yang dilakukan pemerintah pada tahun 1961, jumlah mereka diketahui lagi secara pasti, sensus ini tidak lagi memuat data penduduk berdasarkan kelompok etnis, sehingga secara pasti jumlah mereka tidak diketahui. Sesuai dengan keadaan alamnya, maka, mata pencaharian utama dari masyarakat Karo umumnya adalah bertani atau bercocok tanam. Bagaimana ketangguhan mereka hidup sebagai petani, jauh sebelumnya telah diuraikan oleh Anderson. Bagi mereka adalah biasa meninggalkan anak dan istri di pegunungan, dan turun di pantai Timur Sumatera untuk menanam lada, dan hanya kembali sekali dalam setahun untuk beberapa hari dengan membawa hasil pekerjaannya. Lebih jauh digambarkan bahwa dalam kebiasaan menghemat dan keinginan mengumpulkan uang, orang Karo mempunyai persamaan dengan orang-orang Cina. RESTRUKTURISASI POLITIK DAN PEMERINTAHAN Masyarakat Karo sebelum kolonial memiliki kebebasan politik dan ekonomi. Masyarakat Karo sebelum kolonial tidak memiliki pemerintahan yang terpusat atau pemerintahan atau sistem daerah, dan Tanah Karo yang terisolasi menyebabkan ketidak-berkembangan ekonomi di sana. Hal inilah

yang mendorong orang-orang Karo untuk pergi ke daerah-daerah lain. Orang-orang terpandang yang ada di dalam masyarakat pada waktu itu disebut sebagai pengulu, raja atau guru.Kolonial Belanda di dalam masyarakat Karo inilah yang pada akhirnya membawa perubahan sistemsistem pemerintahan, demokrasi dan lain-lainnya di Tanah Karo, dan inilah yang akhirnya memperbaharui masyarakat. Pengaruh pietisme Barat, kehadiran para zendeling, memberikan warna baru dalam perkembangan religius di Tanah Karo, Dalam melaksanakan politik pasifikasinya dan untuk menguasai daerahdaerah tertentu, Belanda menata pemerintahan dan struktur politik lokal selalu dengan cara menanamkan kemungkinan-kemungkinan perpecahan atau devide et impera, baik dari sudut kultural, historis, politis, geopolitis, dan lain-lain. Selain itu, perluasan wilayah ini erat kaitannya dengan tuntutan swasta untuk meluaskan jaringan eksploitasi, maupun jaringan keamanannya. Demikian juga ke Karo, motivasi utamanya melancarkan perluasan wilayah ini adalah untuk keamanan investor perkebunan swasta di Sumatera Timur. Ditetapkannya wilayah adminsitratif onder afdeling Karolanden serta batasbatasannya dengan daerah lain, berarti Belanda berhasil memecah belah pemukiman masyarakat Karo yang sebelumnyabegitu luas. Orang-orang Karo yang bermukim di Simalungun Atas masuk ke wilayah Simalungun. Sedangkan yang bermukin di sekitar Tigalingga, masuk wilayah Tapanuli. Masyarakat Karo yang berada di Tanah Alas, masuk wilayah Aceh, Langkat Hilir dan Langkat Hulu, menjadi kaula Sultan Langkat. Sedangkan mereka yang bermukim di Deli Hulu dan Deli Hilir menjadi penduduk Sultan Deli. Dan yang berada di Bangun Purba serta kawasan Sipispis ditetapkan menjadi penduduk Sultan Serdang. Akhirnya, dataran tinggi Karo sendiri dibagi menjadi lima landschap, yang masing-masing dipimpin oleh seorang zelfbestuur dalam satu onder afdeling, menjadi wilayah paling kecil dengan penduduk minoritas disbanding tempat lain. Kelima Landschapen tersebut adalah Landschap Suka Landschap Lingga Landschap Barusjahe Landschape Sarinembah Landschap Kuta Buluh Selanjutnya, tiap-tiap Landschapen dibagi pula atas beberapa urung yang membawahi beberapa buah desa atau kuta. Adapun urung tersebut adalah sebagai berikut 1. Landschap Suka terdiri dari empat urung: 1. 2. 3. 4. ➢ ➢ ➢ ➢ ➢ Urung Urung Urung Urung Urung Urung Urung Urung Urung Suka berkedudukan di Suka Sukapiring berkedudukan di Seberaya Ajinembah berkedudukan di Ajinembah Tongging berkedudukan di Tongging Sepulu Dua Kuta berkedudukan di Kabanjahe Telu Kuru berkedudukan di Lingga Tiga Pancur berkedudukan di Tiga pancur Empat Teran berkedudukan di Lingga Tiganderket berkedudukan di Tiganderket

2. Landschap Lingga terdiri dari lima urung:

3. Landschap Barusjahe terdiri dari dua urung: ➢ Urung Si enem Kuta berkedudukan di Sukanalu ➢ Urung Si Pitu Kuta berkedudukan di Barusjahe 4. Landschap Sarinembah terdiri dari empat urung: ➢ ➢ ➢ ➢ Urung Urung Urung Urung sepulu pitu kuta berkedudukan di Kabanjahe perbesi berkedudukan di Sembelang Juhar berkedudukan di Juhar Kutabangun berkedudukan di Kutabangun

5. Landschap Kutabuluh terbagi atas dua urung: ➢ Urung Namohaji berkedudukan di Kutabuluh ➢ Urung Liang Melas berkedudukan di Mardinding Masing-masing urung ini dipimpin oleh seorang bapa urung yang kemudian disebut juga raja urung, ia membawahi beberapa buah desa atau kuta yang dipimpin oleh seorang pengulu, dan desa sendiri terbagi beberapa kesain yang dipimpin oleh seorang pengulu kesain. Ketika Karo tiba di dataran tinggi Karo, maka jumlah desa yang harus diatur dan ditata pemerintahannya sebanyak limaratus. Setelah penataan struktur pemerintahan ini dijalankan, berarti beberapa sistem pemerintahan adat mulai diabaikan, namun mereka tetap menjalankan fungsi sebagai penguasa lokal tetapi untuk kepentingan Belanda. Demikian pula sistem pemerintahan raja yang sebelumnya tidak dikenal, mulai dilegitimasi oleh Belanda. Dalam menata struktur kekuasaan ini secara vertikal mulai dari atas ke bawah, diangkat dua orang untuk menduduki satu jabatan. Dalam ketentuan ini, siapa diantara mereka berdua duluan meninggal dunia, maka yang hidup akan menduduki jabatan tersebut secara turun temurun. Akibat perubahan suksesi kekuasaan yang ditimbulkan Belanda ini muncullah rivalitas diantara sesama mereka yang pada hakekatnya masih sembuyak (bersaudara). Perseteruan yang diciptakan ini akhirnya menimbulkan permusuhan antara pihak yang bersangkutan dan sekaligus antara keluarga masing-masing, sampai kepada anak beru, kalimbubu, dan sembuyak. Dengan demikian, tidak mengherankan sistem penataan struktur kekuasaan yang diciptakan Belanda ini membawa perpecahan yang hamper merata diseluruh dataran tinggi Karo. Dengan dilaksanakannya sistem pemerintahan ini, maka loyalitas Sibayak dan bawahannya terhadap pemerintah kolonial Belanda sudah semakin meningkat, dan tatanan pemerintahan berdasarkan adat istiadat sudah semakin menipis, elit birokrasi Belanda (Binenlands Bestuur) itu semakin memaksakan cara-cara pemerintahan mereka, dan makin mengabaikan nilai-nilai lama yang berlaku pada masa sebelumnya. Maka menjelang tahun tigapuluhan, Belanda telah berhasil menciptakan sibayak dan raja-raja urung yang kelihatannya seolah-olah keturunan dari dinasti-dinasti, raja-raja yang berdaulat. Tetapi kenyataannya, jika seseorang melihat bagaimana seorang seorang sibayak dan raja urung disambut setiap kesain, orang akan mengetahui betapa tipisnya kewibawaannya, yang sebelumnya juga tentu lebih tipis lagi. Bangsawan-bangsawan ini mendapatkan kewibawaannya bukan dari bawah, akan tetapi wibawa ini direkayasa dari atau oleh pemerintah colonial Belanda Dengan demikian, setelah pemerintah kolonial Belanda menguasai Tanah Karo, maka gelar sibayak yang sebelumnya berkonotasi untuk orang kaya atau hartawan, berubah konotasinya berubah menjadi gelar raja dan kepangkatan, serta lazim pula dipakai bagi seluruh keturunan sibayak. Demikian juga pengangkatannya ditentukan oleh Belanda mulai dari pengulu, raja urung sampai sibayak beslitnya dibuat atas persetujuan Belanda setelah lebih dahulu diselidiki Kemudian garis perintah dala sistem pemerintahan ini secara vertikal mulai dari atas ke bawah sifatnya tidak langsung, demikian juga dalam hal penyampaian laporan bawahan ke atas. Artinya, pemerintahan yang hirarkis ini harus mengikuti jenjang atau tingkatan di bawah apabila perintah, dan sebaliknya jika hal itu laporan. Demikianlah dalam hal perintah controleur menyampaikan pada sibayak, kemudian dia akan meneruskan pada raja urung, selanjutnya ia menyampaikan pada pengulu baru kemudian sampai kepada rakyat. Sedangkan dalam hal laporan berlaku pula sebaliknya sesuai dengan tingkatan yang berada di atasnya.

Berbeda dengan sebelumnya, pendapatan dan penghasilan seorang aparatur pemerintahan diatur oleh adat. Tetapi setelah kedudukan mereka dilegitimasi, serta diatur dan ditata oleh pemerintah kolonial Belanda, maka sebagai aparatur zelfbestuur penghasilan dn pendapatan mereka setiap bulan diatur oleh amtenar-amtenar binendland bestuur Belanda. Besar pendapatan seorang sibayak masing-masing berbeda, disesuaikan dengan wilayah dan jumlah penduduknya. Menjelang akhir pemerintah kolonial Belanda, Sibayak Lingga menerima gaji dari kas landschap sebanyak f.250.00,-, sedangkan sibayak Sarinembah f.230.00,-, Sibayak Suka menerima sebanyak f.200.00,-, Kemudian sibayak Barusjahe sebanyak f.180.00,-, dan yang paling sedikit pendapatannya adalah sibayak Kutabuluh, hanya sebesar f.150.00,-. Selain menerima gaji sebagai penghasilan tetap, masing-masing mendapat bonus uang perjalan dinas sebanyak f.70,-, di luar itu sebagai uang duduk diperoleh pula f.1,20,- dari tiap persidangan balai raja berempat, demikian pula dalam persidangan raja urung. Sama dengan sibayak, raja urung juga secara teratur juga mendapat penghasilan.pendapatan seorang raja urung paling rendah adalah f. 50.000, ukuran ini diambil dari jumlah penduduknya yang kurang dari pada 2000 orang. Jika lebih, maka tiap-tiap 1000 orang akan ditambah f.5 lagi. Dan sebagai bonus perjalanan dinas setiap bulan mereka menerima masingmasing f.15,- dan uang duduk dalam balai raja diperoleh sebanyak f. 0,75. Jika ditotal, penghasilan mereka hanya kira-kira f.2.400 pertahun, sangat kecil jika daibandingkan raja-raja lain di Sumatera Timur, tetapi sudah sangat luar biasa banyaknya dalam kondisi social dan tradisi didaerahnya. Berbeda dengan sibayak dan raja urung, pengulu sebagai aparatur pemerintahan paling bawah dalam hirarki ini tidak mendapat gaji dari kas landschap, mereka hanya memperoleh penghasilan dengan menerapkan model kultur procenten, terutama dari pajak yang ditagih, sebayak 8% dan 5% dari rodi pajak yang tidak dikerjakan rakyat tetapi dibayar dengan uang. Tiap-tiap tahun mereka memperoleh bonus f 10,- bagi penduduknya 100 jiwa dan paling tinggi f.55,- bagi yang berpenduduk 500 jiwa atau lebih. Sedangkan dari balai kerapatan urung, mereka hanya memperoleh f.0,60,jika duduk sebagai anggota. Penduduk Karo mulai berkenalan dengan pejabat-pejabat Belanda yang ditempatkan di daerah ini (para controleur). Selain itu, pejabat pemerintah lokal dan controleur mempunyai kepentingaan dalam mensukseskan sistem birokrasi pemerintahan, karena mereka menikmati culturprocent, atau suatu persentase tertentu dari jumlah hasil yang diserahkan oleh rakyat. Ke lima sibayak sebagai zelfbestuur pemerintah kolonial Belanda memiliki kas perbendaharaan kerajaan yang bernama onderafdelingkas. Perbendaharaan ini dipegang oleh bendaharawan pemerintah yang ditunjuk. Dialah yang bertanggung jawab tentang semua urusan keuangan untuk keperluan pemerintahan, dan melaporkan urusan keuangan ini kepada perbendaharaan pemerintah yang berada di Medan secara berkala Dengan demikian, tatanan pemerintahan yang tercipta oleh pemerintah kolonial Belanda ini, walaupun akhirnya menciptakan semacam pemerintahan yang berbau feodalistis, tetapi secara umum pemerintahan sudah semakin tertata dengan teratur jika dibandingkan dengan situasi sebelumnya di dataran tinggi Karo. Belanda sama sekali tidak mengalihkan control kekuasaan atas tanah di kesain kepada aristokrasi keningratan baru ini. Fakta ini, menunjukkan orang-orang Karo turun dari gunung membantu saudara-saudara sesukunya dalam perang Sunggal-Belanda menjamin tidak akan ada tanah yang dialih gunakan kepada perkebunan asing di tanah Karo. Keteraturan ini dilanjutkan oleh Jepang ketika mereka tiba di daerah ini, hanya jabatan controleur yang digantikan oleh seorang Gunseibu. Berakhirnya era kekuasaan jepang bersamaan dengan dicetuskannya proklamasi kemerdekaan Indonesia, maka struktur pemerintahan berubah pula. Wilayah Tanah Karo yang tadinya terdiri dari lima lansdchap menjadi

sebuah kabupaten, dan terdiri dari tiga kewedanan yaitu: kewedanan Karo Hilir, Kewedanan Kabanjahe dan Kewedanan Karo Jahe. Ketiga kewedanan ini, masing-masing membawahi sejumlah kecamatan, seluruhnya terdiri dari 15 Kecamatan.. Selanjutnya, setelah beralih dari Negara Sumatera Timur menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, kewedanan Karo Jahe dijadikan menjadi wilayah administratif pemerintah Kabupaten Deli Serdang. Adanya perubahan ini berarti wilayah dataran tinggi Karo kembali seperti sebentuk pemerintahan kolonial Belanda. Sebenarnya isu Pemekaran ini sudah mengemuka pada tahun 2003 pada bulan November lalu. Beberapa tokoh Karo berkumpul di hotel Sumatera Village Ressort, mereka mencoba untuk mendiskusikan Isu Provinsi “Karo Area”. Kala itu memang isu pemekaran sangat hangat dibicarakan dimanamana, sehingga beberapa tokoh-tokoh (mohon maaf Penulis lupa namanamanya) Karo berkumpul untuk membicarakannya secara serius. Rencana Kabupaten-Kabupaten yang mau dimekarkan saat itu adalah Kabupaten Deliserdang menjadi Kabupaten Serdang Karo atau Karo Serdang yaitu semua wilayah Kabupaten Deliserdang yang banyak penduduknya “Orangorang Karo”. Demikian juga Kabupaten Langkat mau di mekarkan menjadi Kabupaten Langkat Karo atau Karo Langkat. Pada saat itu sangat tepat sekali bila di lakukan pemekaran Kabupaten-Kabupaten. Dimana “kesempatan emas” yang sangat memungkinkan sekali, di dalam DPRD Deliserdang dan Langkat banyak sekali anggotanya Orang Karo. Dan yang sangat mendukung lagi adalah kebetulan Ketuanya juga adalah orang Karo, di Deliserdang pada saat itu dijabat oleh (bermarga Tarigan) dan di Kabupaten Langkat kalau tidak salah (bermarga Bangun) Maaf kalau salah penulisan marga.Tapi apa yang terjadi, seperti istilah “Ketinggalan Kereta” kita selalu ketinggalan dan hanya sebagai penonton.Tim Pemekaran pada saat itu kurang didukung oleh “Bapak-Bapak” kita yang berada di DPRD itu sendiri. Kita tahu, pada tahun 1999-2004 orang-orang Karo sangat banyak menjadi anggota DPRD dan yang menjadi anggota DPR RI. Termasuk di DPRD TK I Sumut kalau tidak salah ada 11 orang, yang berasal dari orang Karo. Sedangkan di DPR RI ada 4 atau 5 orang Karo. Yakni Mayjend Raja Kami Sembiring, Partai Tarigan, NS Sembiring dan DR Sutradara Ginting. Kini semua hanya menjadi “Kenangan Yang Terindah” nina lagu Bams Reguna Bukit dari Grup Samsons. Akan tetapi kita jangan berputus asa, mungkin saja pada saat itu bukanlah saat yang tepat. Mungkin saat inilah saat yang tepat itu!! Beberapa waktu yang lalu Penulis membaca sebuah Berita di Internet bahwa ada Teman-teman kita yang berasal dari Berastagi yang memprakarsai berdirinya Kabupaten/Kota Brastagi. Secara Pribadi Penulis sangat mendukung sekali, mengapa Penulis katakan demikian? Bila hal ini terlaksana maka pasti Kabupaten atau Kota Berastagi itu membutuhkan Tenaga Kerja yang baru. Berarti “teman-teman Pemrakarsa Kabupaten atau Kota” baru itu menciptakan sebuah lapangan Pekerjaan yang sangat banyak (pastilah Kabupaten/Kota Berastagi menerima Ratusan PNS maupun puluhan Anggota DPRD baru). Dan yang satunya lagi kita telah memiliki 2 pemerintahan di Tanah Karo ada Bupati Tanah Karo dan ada Walikota Berastagi Umpamanya. Sangat menarik untuk didukung. Penulis tidak mengenal “nama-nama para Pemrakarsa” atau “Aktor Intelektual” yang telah menggulirkan Inisiatip agar berdirinya Kabupaten atau Kota Berastagi ini. Tapi penulis berpikir Positip saja, pastilah ide dan gagasan ini lahir dari keinginan untuk mengembangkan atau menata kota Berastagi dan Kecamatan-Kecamatan yang berada didalamnya kearah yang lebih baik. Akan tetapi penulis sangat mengharapkan kepada “Tim Pemrakarsa Kabupaten atau Kota Berastagi” ini hendaknya memaparkan Misi dan Visi dari keinginan Tim ini di Koran, Internet maupun di majalah Maranatha GBKP. Agar seluruh masyarakat Karo tahu bahwa rencana ini adalah rencana Mulia dan kita harapkan didukung oleh segenab rakyat Tanah Karo dan secara Khusus warga Berastagi sekitarnya. Seperti yang dilakukan oleh Ketua Presidium Pemekaran Pembentukan Kabupaten Deli oleh Pt. Timbangen Ginting, BBA. Di majalah Maranatha GBKP edisi bulan Maret 2008 NO 203. Beliau menjelaskan bahwa tujuan pemekaran Kabupaten Deli adalah untuk Percepatan Pembangunan yang menyentuh Kesejahteraan Masyarakat Terpencil. Dan menurut Pt

Timbangen Ginting BBA ini bahwa Pemekaran Kabupaten Deli ini adalah Aspirasi dari 10 Kecamatan diantaranya Kecamatan Sibolangit, Pancurbatu, Patumbak, Biru-Biru, STM Hilir, STM Hulu, Kutalimbaru, Delitua, Sunggal dan Namorambe. Mengapa kita tidak dukung dan doakan!! Ini juga adalah ide yang baik sekali untuk menciptakan lapangan Kerja yang baru. Tentunya Kabupaten-kabupaten atau Kotamadya yang baru atau apapun namanya akan menciptakan lapangan kerja yang baru sekaligus juga untuk menambah “Pejabat Bupati dan Walikota” yang berasal dari orang-orang Karo sebagai Putera-putri terbaik Karo. Bahkan Penulis juga berkeingingan agar Kabupaten Langkat juga di mekarkan. Hal ini bisa juga di pikirkan oleh para “tokoh Karo seperti Pak Nabari Ginting M.Si” yang berasal dari Langkat. Tentunya ide-ide atau gagasan yang positip dan sangat baik ini perlu sekali kita dukung dan kita Doakan. Tidak tertutup juga Kemungkinan pada saatnya nanti akan lahir Provinsi Karo Area. Bila sudah ada 4-5 Kabupaten/Kota yang merupakan basis-basis daerah orang Karo yang mungkin juga beberapa waktu yang lalu kurang di perhatikan oleh Pemprov dan Pemerintah Pusat. Secara Pribadi Penulis mau mengusulkan kepada Pemerintah Kabupaten Tanah Karo dan Moderamen GBKP Agar melakukan sesuatu! Misalnya Mengadakan sebuah Acara atau Kegiatan tentang Pemekaran Kabupaen/Kota ini! Panitia/penyelenggara Kegiatan sebaiknya mengundang semua Lembagalembaga, LSM, Yayasan dan para tokoh Karo dalam acara yang diselengarakan oleh Pemkab dan GBKP tersebut. Untuk membahas topik Pemekaran ini. Penulis pikir ini sangat Menarik sekali. Usulan penulis di acara tersebut Pembicara 8 orang saja, Pertama Ketua Umum Moderamen GBKP Pdt Dr Jadiaman Perangin-angin (Topiknya Pandangan GBKP terhadap Pemekaran atau Otonomi Daerah), Pembicara kedua Dr Sutradara Ginting (Pemekaran Kabupaten/Kota ditinjau dari Politik Dalam Negeri RI), Pembicara Ketiga Bapak Bupati Karo DD Sinulingga (Pandangan Pemkab Tanah Karo tentang Pemekaran Wilayah), Ir Jonathan Ikuten Tarigan (Pandangan LSM melihat Pemekaran-Pemekaran Kabupaten/Kota tersebut), Pt Timbangen Ginting (Visi dan Misi Pemekaran Kabupaten Deli), Pt Drs Paulus Sitepu (bagaimana Pendapat Beliau sebagai Penduduk Berastagi tentang Pemekaran Berastagi) dr Robert Valentino Tarigan S.Pd (tentang Pendidikan dan SDM Tanah Karo), Pt Ir Budi D Sinulingga (UU Otonomi Daerah). Penulis pikir hal ini sangat baik untuk kita lakukan, terserah siapapun Panitianya. Baik Biro Litbang GBKP maupun Pemkab Tanah Karo dan juga mungkin Yayasan Ate Keleng dan Permata Pusat GBKP. Penulis sangat merindukan Kegiatan ini berlangsung agar segala duduk persoalannya bisa di ketahui dan akhirnya bisa mendapatkan sebuah Rekomendasi atau Kesepakatan. Hal ini juga sangat membantu untuk meminimalkan Konflik karena sudah ada “Arih-arih atau Runggu bersama”. Mengapa kita tidak lakukan??. Panitianya bisa mengundang seluruh Elemen Karo, Klasis-klasis, para Pendeta dan Permata juga Mahasiswa Karo sebagai pesertanya. Usulan Penulis, Kegiatan ini bisa dilakukan 3 kali, pertama di Kabanjahe, kedua di Medan dan yang ketiga di Jakarta. Mengapa harus tiga kali? Karena warga Karo banyak di ketiga daerah ini. Dan agar seluruh warga Karo yang berada di ketiga daerah ini bisa menjadi wakil atau saksi sejarahnya kelak!! Dan yang terakhir seluruh hasilnya bisa di Bukukan dan disosialisasikan keseluruh Tokoh dan Masyarakat Karo baik itu lewat surat kabar, majalah Maranatha GBKP maupun lewat internet. Sekali lagi ini hanya usulan. Bagi penulis, ini adalah tugas Gereja GBKP dan para Kaum Muda Karo (PERMATA GBKP). Untuk masa depan Tanah Karo dan Generasi Karo juga. Istilah Penulis kalau bukan kita yang membangun Tanah Karo dan Daerah-daerah Karo ini lantas Siapa lagi?? Tidak mungkin orang “Papua atau orang Jawa” yang akan membangunnya. Dengan demikian perlu di pikirkan!! Penulis mengajak seluruh Pembaca Majalah Maranatha GBKP agar mandukung dan Mendoakannya, sekali lagi Selamat bagi panitia Pemekaran Berastagi dan Kabupaten Deli. Kiranya tujuan Anda yang mulia ini bisa BerhasiL Tuhan Yesus Memberkati AMEN. Penulis menutup Artikel ini dengan Firman Tuhan Yesus dari Matius 28:20 Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah KUperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

BAB III

AGAMA DAN MASYARAKAT KARO
1 Aliran Kepercayaan

KEPERCAYAAN

Orang Karo telah memiliki kepercayaan atau sekarang disebut sebagai agama, yaitu Kiniteken Si Pemena (kepercayaan mula-mula). Kepercayaan orang Karo adalah perbegu yang berarti penyembah roh-roh orang mati. Kepercayaan ini tidak memiliki kitab suci, tidak ada teologi yang sistematik dan tidak ada dogma. Di dalam kepercayaan ini hal-hal yang menyangkut dengan ritual di dalamnya ditangani oleh seorang guru sibaso3. Guru menjadi pengantara antara orang-orang Karo dengan yang dipercayainya. Elemen yang paling kudus di dalam dunia orang Karo adalah begu (roh orang mati) dan secara khusus adalah roh nenek moyang. Dalam kepercayaan orang Karo terhadap begu ini, roh dan jiwa itu terpisah. Jiwa itu merupakan dasar dari kehidupan seseorang dan kekuatannya, dan ini diterima sebelum lahir, pada waktu pertama kali ia dikandung. Jiwa dapat hidup dalam organisme dan di dalam benda-benda seperti besi. Beras dipandang sebagai sesuatu yang memiliki jiwa yang kuat dan digunakan dalam memberkati ritus-ritus untuk menguatkan jiwa seseorang. Dalam diri seseorang terdapat tiga bentuk, pertama tubuh atau (kula), jiwa (tendi) dan nafas (kesah) dan setelah kematian ketiga bagian ini berubah menjadi bagian yang berbeda-beda. Tubuh menjadi tanah, jiwa menjadi begu dan nafas menjadi angin. Dalam kepercayaan Karo, begu itu bukanlah sebagai sesuatu yang menakutkan saja, tetapi sesuatu yang bisa memberikan pertolongan dan memberikan perhatian. Biasanya begu-begu ini disebut sebagai jin ujung walaupun istilah ini dalam pengertian lain adalah roh seseorang yang meninggal secara tidak wajar. Orang Karo juga memiliki ritual pemanggilan terhadap roh-roh yang sudah mati dalam rangka mengingat kembali orang yang sudah mati tersebut. Yang lebih penting lagi ialah bagaimana begu itu menjadi begu dalam keluarga yang dinamai dengan dibata jabu (tuhan keluarga). Ini adalah roh yang mati dalam satu hari oleh karena kecelakaan, kekerasan, atau mati bukan karena sakit. Roh seperti ini dalam pandangan orang Karo memiliki kekuatan yang hebat. Setelah melakukan ritus pemanggilan begu, maka roh orang mati tersebut menjadi roh pelindung di dalam rumah yang akan melindungi keluarganya dari kekuatan-kekuatan yang jahat. Namun apabila ritus pemanggilan itu tidak dilakukan, maka roh itu akan gentayangan dan dapat mengganggu orang-orang. Inilah yang sering membuat orang merasa takut. Dalam kepercayaan orang Karo, memperoleh keselamatan dirasakan ketika begu jabu (roh pelindung keluarga) melindungi keluarganya. Keselamatan bagaimanapun dipahami sebagai kekuatan yang menghindarkan keluarga dari penyebab-penyebab sakit dan permasalahan-permasalahan lain, sama sekali tidak sama dengan eskatologis keselamatan (kekristenan). Kepercayaan orang Karo itu adalah animisme dan dinamisme. Orang Karo merefleksikan trimurti agama Hindu; Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara dan Siwa sebagai penghancur. Di dalam pemahaman orang Karo ketiga ini disebut sebagai dibata i datas (tuhan di atas), dibata i tengah (tuhan di tengah), dibata i teruh (tuhan di bawah)4. Ketiga dibata ini bagaimanapun termasuk di dalam sejarah penciptaan orang Batak yang sama dengan Karo. Ketiga dibata inipun sering juga disebut sebagai dibata kaci-kaci, hal ini sering kali disebutkan dalam mantra-mantra orang Karo. Orang Karo juga memiliki banyak legenda, sejarah, mitos, kemudian memiliki musik Karo, tarian yang seluruhnya ada di dalam spirit kepercayaan orang Karo tadi. Kata dosa bagi orang Karo (tetapi tidak secara sempurna dipahami) dapat dirasakan dengan kenyataan-kenyataan yang menunjukkan ketidakberuntungan. Sebagai contoh, sakit. Di dalam keluarga, ini dipadankan dengan kata dosa, tetapi sebenarnya bukan dosa melainkan penghakiman. Bagi masyarakat Karo modern, tanpa dipengaruhi oleh

agama-agama, dosa dapat disebut sebagai sesuatu yang salah, yang secara sosial dipandang melanggar peraturan atau melakukan suatu yang dilarang. Hanya di dalam Kekristenan orang Karo kemudian memperoleh ide tentang dosa sebagai sebuah penyebab manusia berpisah dengan Allah. Jadi orientasi etika dunia Karo sebenarnya adalah kesalahan tindakan dan konsekuensinya. Di dalam kepercayaan Karo ini kita sudah dapat melihat bagaimana konsep tentang Allah itu ternyata sudah ada sebelum konsep allah yang diadopsi dari kepercayaan Hindu tentang tiga allah. Dua konsep yang sangat berpengaruh adalah tentang allah nenek moyang Batak, percaya kepada Si Mula Jadi Na Bolon dan kemudian konsep trimurti orang India yang telah bercampur sepertinya menawarkan sesuatu yang mendalam (baru), tetapi unsur-unsur yang berbeda ini sulit dibedakan oleh mereka yang telah menjadikan agama ini sebagai agama mereka sendiri. Dalam waktu yang sama, inilah yang membentuk agama terpenting orang Karo (perbegu), dan mereka melupakan asal-usulnya, inilah alasan mengapa kepercayaan kepada Allah adalah sesuatu yang abstrak dan sangat sempit dipahami orang Karo tradisional. Sebagai pemuja terhadap jiwa dan roh, dan ilmu pengetahuan dari guru, bagi orang Karo, semuanya itu jauh lebih menjanjikan bantuan pada waktu ada kebutuhan (persoalan-persoalan, atau masalah-masalah lainnya). Dalam hal alam pemikiran dan kepercayaan, orang Karo (yang belum memeluk agama Islam atau Kristen) erkiniteken (percaya) akan adanya Dibata (Tuhan) sebagai maha pencipta segala yang ada di alam raya dan dunia. Menurut kepercayaan tersebut Dibata yang menguasai segalanya itu terdiri dari 1. Dibata Idatas atau Guru Butara Atas yang menguasai alam raya/langit 2. Dibata Itengah atau Tuan Paduka Niaji yang menguasai bumi atau dunia 3. Dibata Iteruh atau Tuan Banua Koling yang menguasai di bawah atau di dalam bumi Dibata ini disembah agar manusia mendapatkan keselamatan, jauh dari marabahaya dan mendapatkan kelimpahan rezeki. Mereka pun percaya adanya tenaga gaib yaitu berupa kekuatan yang berkedudukan di batu-batu besar, kayu besar, sungai, gunung, gua, atau tempat-tempat lain. Tempat inilah yang dikeramatkan. Dan apabila tenaga gaib yang merupakan kekuatan perkasa dari maha pencipta -dalam hal ini Dibata yang menguasai baik alam raya/langit, dunia/bumi, atapun di dalam tanah- disembah maka permintaan akan terkabul. Karena itu masyarakat yang berkepercayaan demikian melakukan berbagai variasi untuk melakukan penyembahan. Mereka juga percaya bahwa roh manusia yang masih hidup yang dinamakan “Tendi“, sewaktu-waktu bisa meninggalkan jasad/badan manusia. Kalau hal itu terjadi maka diadakan upacara kepercayaan yang dipimpin oleh Guru Si Baso (dukun) agar tendi tadi segera kembali kepada manusia yang bersangkutan. Jika tendi terlalu lama pergi, dipercaya bahwa kematian akan menimpa manusia tersebut. Mereka juga percaya bahwa jika manusia sudah meninggal maka tendi akan menjadi begu atau arwah. Banyak upacara ritual yang dilakukan oleh mereka yang ditujukan untuk keselamatan, kebahagiaan hidup, dan ketenangan berpikir. Upacara-upacara tersebut antara lain upacara kepercayaan menghadapi bahaya paceklik, menanam padi, menghadapi mimpi buruk, maju menuju medan perang, memasuki rumah baru, menghadapi kelahiran anak, kematian, menyucikan hati dan pikiran, dan lain lain. Di semua kegiatan ritual ini peranan para dukun atau Guru Si Baso tersebut cukup besar. Mereka yang berkepercayaan demikian itu lazim disebut sebagai perbegu atau sipelbegu. Tapi terlepas dari maksud pihak luar dengan penamaan istilah tersebut di atas, yang secara kasar dapat diartikan sebagai penyembah setan atau berhala, mereka menyatakan bahwa mereka percaya adanya Dibata yang menjadikan segala yang ada dan bahwa ada tenaga gaib atauu kekuatan maha dasyat darinya yang mampu berbuat apa saja

menurut kehendaknya. Kalaupun ada dilakukan upacara ritual berupa persembahan, maka persembahan itu maksudnya adalah kepada Dibata tadi, hanya saja penyalurannya dilakukan di tempat-tempat yang dikeramatkan. 1. Beberapa aliran kepercayaan masyarakat Karo yang pernah ada dan sampai saat ini pun masih mengikuti ritual-ritual untuk mencari tahu solusi setiap persoalan yang dihadapinya seperti dalam mencari jodoh, pekerjaan, peruntungan dagang, dll) yaitu : 2. DIBATA YANG TIGA 3. Orang yang menganut agama Perbegu, percaya pada Dibata yang tiga dan kekuatan-kekuatan majis yang tidak terlihat. Dibata yang tiga menurut keyakinan yang percaya terdiri dari tiga yaitu : 4. Dibata yang diatas, yaitu Guru Batara , Dibata yang menguasai langit 5. Dibata Tengah, biasa disebut Tuhan Padukah ni Aji, yaitu Dibata yang menguasai bagian tengah dari dunia. 6. Dibata yang dibawah, biasa disebut Tuhan Banua Koling, yaitu dibata yang menjadi penguasa dibawah dunia. 7. Menurut Kelahiran manusia, ada 4 sumber (Puang), yaitu : 8. Erpuangken Erpuangken Erpuangken Erpuangken Taneh Lau Angin Api

Si empat enda, lit pedauh kerina sifat ras carana, rukur, erdahin ras penggejapenna. Apaika pertubuhna, lit tubuh Senin-Selasa-Rabu-KamisJumat-Sabtu ras Minggu. Si enda pe lit nge ertina ibas sifat-sifat ras kegeluhenna. Adi kai kin ndai dasar ras puangna sada-sada kalak, em pagi ikutina ibas geluhna. Adi lawanna kin jabat-jabatenna, labo lolo kugapa pe susah nge iakapna. Pengindo enda em umpamaken bagi banurung i lau. Paranormal enda, sope ia tubuh pe enggo lit tersurat ibas badanna, enggo kin tendina pe lain asa jelma sideban. Paranormal tah guru enda maka ia tahan arus tendina piher, umpama ibas perkakas besi. Umpama tendina sekin, cabit, patuk, kapak, piso rempu pirak rsd. Lit ka pe deba tendina bedil, mariam, rsd. Tentu megegeh nge tendina maka banci ia jadi paranormal/guru. Paranormal enda banci nge ia erpuangken taneh, lau, angin tah api. Paranornal termasuk kalak si erjabat-jabaten. Sinikatekan paranormal/guru, lit pemetehna lain asa jelma sideban: Banci ia komunikasi ras roh-roh halus Ia banci seluken (kesurupen) Lit dua lapis pengenen matana, idahna roh-roh halus. Ersora kerahungna, banci ia ngerana ras roh-roh dunia. Tehna niktik wari si 30 desa si waluh beluh ia ndarami barang bene. Tehna erti nipi. Tehna ngoge suraten tubuh ayo, tan, bulu retak tan, endeng ibas kula rsd. Tehna ngenen pinakit, kena kai ia sakit, biasana tah kena setan. Tehna ngenen rasin, jelma, ngenen rasin, jelma, ingan tading, jabat-jabaten, rsd. Beluh ia ngarkari, ngulak, ersilihi, erbahan tangkal-tangkal, erbahan ajimatajimat, rsd. Beluh ia mah bahi nipi jahat gerek la mehuli, bahan-bahanen kalak si jahat. BEGU JABU Begu jabu tah begu kade-kade, eme gebu kalak si enggo mate, si ndeher ku

jabu e. Bagepe labo kerina begu si banci jadi begu jabu. Syarat-syarat sinibanci jadi begu jabu emekap: Mate ibas bertin Mate lenga ripen Mate sada wari Mate nguda Mate enggo metua Sinikataken begu jabu, eme begu nini opung, bagepe begu keluarga bagi sitertulis si arah datas enda. Gunana man penjaga jabu. Ikataken kape begu enda, ia pagar jabu. Adi megegeh begu jabu e, amin kai pe ibahan kalak man bana, la mempan. Simada jabu e tetap sehat ras mejuah-mejuah. Situhuna, kerina kalak Karo lit nge begu jabuna. Ipakaina tah lahang, terserah man sada-sada jelma tah jabu. Adi begu jabu, kugapap pe, i kelengina nge kempuna e (simada begu jabu e). BEGU BATARA GURU Enda jelma si mate ibas bertin. Ikataken kape begu perkaku jabu, begu penjamin keluarga. Maka ola begu Batara Guru nuhsahi si enggeluh, maka ibahan bere-berenna. Kune begu enda nuhsahi keluarga, ikataken pe teridah/tersendung, maka ibahan me upacara ngelandekken galuh. Ije biasana ibenaken alu erpangir ku lau, ras berngina perumah begu. Adi perumah begu jabu pe/cibal manuk telu, ibahan ka nge pangir ridi ku lau kerina sukut. Emaka mulih lau nari seh i rumah ertambar. I oge manuk sangkep si telu e. Ku rumah begu jabu, nuri-nuri ia man sangkep. Tah adi lit pinakit, iturikenna kai ibahan tambarna, biasana pinakit pe malem. BEGU BICARA GURU E me begu ibas anak-anak nari si mate lenga ripen. Ikataken me begu perkaku si peduaken. BEGU SI MATE SADA WARI E me begu kalak simate la erkiteken pinakit, tapi mate rempat (ndabuh, bunuh kalak, mate erperang ngelawan musuh, mate mpertahanken kebenaren, rsd). Ikataken ka pe begu perkakun jabu sipeteluken. Kempak begu si mate sada wari pe perlu ka ibahan bere-beren, ras pakaianna lengkap. ERBAGE-BAGE BEGU Ibas kiniteken kalak Karo, lit erbage-bage begu. Emkap begu si danci nampati, gelarna begu jabu. Lit ka begu jinujung. Lit ka begu darat, begu enda emkap begu si nggit nganggu manusia, gelarna emkap: 1. Simate kayat-kayaten, ia mate sakit-sakiten 2. Begu Tungkup, eme begu diberu singuda-nguda simate lenga sereh. Begu enda pe perlu sihamat-hamati sebab ia pe nggit ngeigei. 3. Begu Mentas, eme begu jabu ibas kalak sideban nari. 4. Begu Menggep, eme begu jahat, ia rusur ngempangi i teruh karang tah i teruh redan rumah 5. Begu Sidangbela, eme begu diberu-diberu si mberat kulana (sinatang tuah tah anak-anak). Inganna ibas jahen tapin. Antina, baba jerango ibas layam kalak si mberat kulana. Anak-anak burakenna jerango e. 6. Begu Juma, enda begu kalak si mate secara umum, ia usur nganggu kalak si erdahin i juma. Emaka metenget kalak si erdahin i juma, banci i selukina, laeteh oratna pe mis ia rubati, gelarna begu jaman. 7. Begu Ganjang, e me begu siganasna. Begu enda banci suruh-suruhen

simada begu ganjang e, banci suruh gelah i cubanan kalak, bekasna meratah kerahung. Deba i cekakna, mis rere dilah si cekakna e, mata bendil. Adi la metenget, tah la mis itambari, danci erbahan kalak mate rempet. Tangkalna ibahan kalak jerango ras benang benalu, eme benang megara, mbiring ras megersing, si eme persada, i putur-putur. Rakuti jerango e salu benang benalu e. Ibaba kujapape lawes. 8. Begu Sirudang Gara, begu enda pe suruh-suruhen, banci ia i suruh njaga juma, njaga kolam binurung, kolam gelah ola i tangko kalak. Adi reh pinangko e, mis i pasapna danci mate pinangko e, tah mate sarapen dagingna e. 9. Gelar Begu-begu Adi isungkun guru si erpemeteh, gelar begu e seh kal buena. Kerina singgeluh adi enggo mate lit kerina beguna. a. Begu manusia si enggo mate b. Begu binatang jinak (asuh-asuhen) c. Begu binatang liar si enggo mate d. Kerina si enggeluh adi enggo mate, karina si enda lit beguna. Perbahan buena begu enda, ijenda sibatasi saja kerna gelar begu-begu enda. 10. Maka Ikataken Perbegu Kalak sitek ku kempak kuasa – kuasa begu (roh-roh) maka ikataken ia perbegu (pemena). Kerina lit positifna lit negatifna. Kai saja si lit i doni enda, pasti lit mehulina lit ka si la mehulina. Begu e pe lit mehuli lit la ia mehuli.Begu Jabu mehuli, Begu Darat la mehuli, em kataken perbegu. Lit ka pe Begu Jabu la mehuli, gelarna Pajuh-pajuhen. Lit ka nge galuhna, lit ka sikatna ersora, lit pupukna, lit ka tongkat malaikatna. Adi la i pajuh mate 4, adi i pajuh mate 8. Lanai lit simajuhsa denga jadi kuan-kuan kalak seh asa sigenduari, la pajuh mate 4, adi i pajuh mate 8. 11. Kehamaten Perbegu Mulai berkat cibalken belo, jumpa kayu mbelin cibalken belo, jumpa batu galang cibalken belo, jumpa lau cibalken belo, seh uruk, cibalken belo, jumpa galuh cibalken belo, jumpa berneh cibalken belo. Mula-mulana kehamaten, dungna enggo jadi kebiasaan, mbiar adi la lit belo manai pang anakna mentas. I ajarina anakna mbiar, ena nah, lit nini para mbiring, takalna nina ena lit begu juma, ena lit begu lau, lit begu mbal-mbal nina. Dungna jadi sinaggel, mbiar anak na i rumha, mbiar ia ku mbal-mbal. Dungna anakna jadi bodoh. 12. Pedah Nini Para Sini ikataken pedah nini para, em pedah simehulina kal. Adi kita kalak Karo arus mbiar man Dibata, tengah rukur, pang rawin jemba, pang empo, pang nereh, adi getuk ateta kalak getuk lebe dagingta. Tawa pe ola tawasa. Tangis pe ola tangissa, adi ridi ibas lau malir, ula jului kalak ridi. Adi tapin pancur, ermboah lebe. Ngerana ula metuda, ula mederngas, mbacar ras metami. Mejingkat, ula murbit, ula metik-tik. Ula percian, ula anceng, ula cikurak,. Meteh mela, meteh mehangke, meteh mereha nggeluh ermalu-malu ibas simehuli Adi mengga ate bagin kalak, bahan ajangta. Mehamat man kalimbubu, metenget man senina, metami man anak beru, adi kita erlajang, daramilah bapa-nande. Metenget ras terbeluh, em asam gedang-gedang tinali dua tampukna. Lit nge pengadi-ngadin batu megulang. Adi mbiar mbalu tah baluken kalak, ola empo. Kala sikugapa pe perlu tungkir. Adi tawa kalak ikutken tawa, adi tangis kalak ikutken tangis, nggeluh enda lit nge pernangkeng-nangkengen lit nge perngincuah-ngincuahen. Padanta ras Dibata si ndube labo terelukken. Adi sidahi sada kerja, sitandailah man banta ise kita, anak beru, senina ntah kalimbubu. Inganilah ibas jabunta. Banci merawa tapi ola meringes. Banci rubat ibas jabu, tapi ola nuhsahi kalak. Sidungilah meter persoalen jabunta, sebelah rumah pe perlu betehen, meriah kal minter. Mbue denga, tapi enda me lebe pedah-pedah ninita siman ingetenta. Mbue denga kal kiniteken pemena si lenga i suratken ibas buku enda. Sebab, nininta kalak karo melalakal pemetehna simehuli man asam geluhta. Erkite-

kiteken la sipelajari, piahna enggo melala bene. Emaka labo tadingsa denga, mulai genduari narilah gia ulihi sipelajari gelah ula bene pemeteh ninita si melias ndube.

RALENG TENDI Si ni kataken Raleng Tendi emkap ; Lit sada kerja kalak pemena sada kalak sakit. Emaka aleng guru tendina. Bagepe tah lit sada kerja berngir, ibahan kerja e gelarna Raleng Tendi. - Sini pulung sangkep nggeluh anak beru, senina, kalimbubu. - Inganna ibas jabu sukut - Tik – tik wari si telu puluh, buat wari mehuli 12 berngi bulan dates Pulungenna : Baka Bulung – bulung si melias gelar Beras meciho ibas pernakan Tinaruh manuk raja mulia Amak mentar Dagangen mentar Kumenen Pelaksanaanna : - Ngerjaken waktuna berngi ibas ingan si enggo tentuken, si ngalengsa guru si beluh ermangmang. Lit ka guru si dua lapis pengenen matana, lit ka guru si ersora kerahungna. - Sukut ercibal belo lebe man begu jabuna ras man begu ninina si arah lebe. - Guru permangmang ersentabi lebe emaka idilona tendina, a di perlu idilona jinujungna. Sini aleng tendina, kundul ibas amak mentar, lum lum i ia alu dagangen putih. Tatang baka i babo takalna. Sinatang baka singuda-nguda si ernande erbapa. Nalang baka dua kalak

TENDI Tendi lit ibas setiap jelma, erbahanca manusia banci nggeluh. Tendi manusia rapat hubungenna ras kulana. Tendi enda banci pindah-pindah ku ingan sideban. Janah adi kita tunduk, tendinta banci kawas ku sada ingan si ndauh. Adi tendi sada-sada kalak la rumah tahpe la ras ia, maka manusia e medungen tah pe sakit. Menurut surat kulit kayu tah pustaka laklak kayu gelarna pustaka najati (enda enggo ibaba Belanda ku negerina), tendi ibas manusia lit buena 25, antara lain gelarna : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Sandakara Sandakiri Dijungjung Sigulimang Sitandek Sihara-hara Sangkep marpulung Silindung bulan Rsd

Tendi enda lit gunana sada-sada. Lit gelah sehat, lit gelah megegeh (kuat), lit merawa, lit anak main, lit gelah mejingkat, lit gelah mejile, lit bergaul senang. Enda me guna tendi ndai kerina, guna pesehat badan manusia. BIRAWAN Adi lit sengget sekalak anak-anak, tua-tua, tah dilaki tah diberu, banci terpelaga tendina. Lanai i rumah tendina, ceda dalan darehna. Tandatandana kalak si lanai i rumah tendina emkap: 1. Kalak e sakit, ayona mekuho (pucat), la entabeh man, tunduh kurang, adi tunduh nipi-nipin, tempa-tempa marun, nahena ras tanna mbergeh, 2. Ukurna la erturi-turin, reh malasna kai pe, la atena bage, ngerana pe ia malas, tah mbacar gia ia kidekah nari, tapi ngue-ue pe ia lanai terkena, ia nggo jadi motu 3. I tambari ku rumah sakit, ia la sakit nina dokter. Enda tersundung man guru sibaso maka ia lit sengget, ia birawan. Kalak birawan perlu ibahan kembarna gelarna; i kiap tendina, tah i kicik tendina. Si ngelakokenca eme guru sibaso. Nambari enda pe labo bali kerina pinakit kalak sibirawan. Tapi erbage-bage macam cara birawan . ermkap: Sengget ia perban jumpa ras nipe galang Lit ia i sergang beruang Lit ia sengget ibahan perkas angin Perban lau mbelin Lit birawan ibahan keramat (endam si meserana nambarisa. Adi la tengteng tambarna, danci gila, adon, lit ka deba mate) Adi kena keramat si bage, orati keramat si ngulahisa, kai ibahan maka enggo noba (malem) pinakitna e. Lit i lepasken manuk kohul, lit i pindo keramat e kambing putih, rsd. Adi enggo i galar utang e, maka si sakit aren malem pinakitna. Lit ka perlu i kiap tendina, gelarna ranjab-anjab. ERPANGIR KU LAU Nai-nai nari, kerja Erpangir Kulau enggo lit ibahan nininta. Seh pe asa jaman sigundari, lit dengan ibahan kerja Erpangir Kulau. Sinoria adi Erpangir Kulau, tentu lit sada-sada tujunna. Emkap : Ersura-sura sukut jumpa rejeki ia Enggo lit malem ibas sada pinakit Lit ibas sukut gelah ipetunggungna atena sangkep geluhna. Idah kalak enterem kade-kadena, mehangke kalak ngenehen ia Si pulung ibas Erpangir Kulau; Sukut Anak Beru Senina Kalimbubu Ni kataken sangkep nggeluh ibas sukut, kataken pengulu, undang anak kuta, bagepe kade-kade si ndauh, si ndiher Desa Siwaluh, si erdemu urat ni jaba, si pesanggeh ruhi ni page, si pesawan taruk nu jambe. Adi nggo sue arih, titik wari si 30 rembang wari mehuli, katikana salang sai bulan si mehuli. Tenahken kade-kade e kerina. Erpangir Kulau sada kerja mbelin ibas kalak Karo. Lit guruna si erbahan bulung pengarkari tah pe ikalaken pangir e. Pelaksanaanna :

Berngina enggo pulung kade-kade, ibahan me sada kerja perumah begu, tah pe ibahan persembahen man nini-nini si enggo mate Arih anak beru, senina ras sukut, kuga tata kerja ibas wari sipagi, terang wari. Enggo dung pangir, berkat jabu sukut nari kulau arakken gendang. Atur perdalan, arah lebe sukut, senina, kalimbubu, gendang keluarga ras jelma si enterem. Seh i lau, ridi erpangir ku lau malir, kerina ridi. Sukut, anak beru, senina bagepe kalimbubu ras ise si atena erpangir banci ia ikut erpangir. Dung er pangir, mulih ku rumah. Sukut arah lebe, arakken kalimbubu ras anak beru. Ku rumah paluken gendang si enterem ikut arah pudi. Seh i rumah, ibahan acara sukut, ibahanna tototna man Dibatana ras begubegu ninina. Toto em toto si mehuli. Tujun Erpangir Buang sial, gelah seh sura-sura. Lit enggo seh sura-sura sukut. Adi sinoria, ibas kerja em si enterem ngidah kuga teremna kade-kade sukut enda. Manai lit perang-perang nina musuhna, adi bagoh teremna kade-kadena, labo pang kita musuhisa, em sada tujun Erpangir Kulau. Mpepulung sembuyak, anak beru, senina, kalimbubu, ras kade-kade gelah ibas kerja e, banci sempat kundul, jumpa ayo, man ras, bagepe landek meriah. Erpangir Kulau enda sada pesta budaya Karo simehuli. Pepulung kerina keluarga. Kai pe agamana, pendahinna, adi sangkep nggeluh arus pulung secara adat Karo. Adi ertenah kalimbubu, arus reh anak beru. Kai pe dahin i dahi anak beru. Pemerintah kita i Indonesia enda pe ermeriah ukur, sebab i suruhna nge tiaptiap suku melestariken budaya suku masing-masing. Maka Erpangir Kulau enda ibas kalak Karo perlu denga kal i lestariken i tiap-tiap desa, adi lit sukutna.

PERUMAH BEGU Erbage- bage Dalanna Perumah Begu Lit kalak mate rempet, mate sadawari, mate la ieteh kena kai. Si enda i perumah beguna, sebab, ibas perumah beguna e, ieteh kai arah kurumah beguna e, bagem dalanna mate.Adi nggurapasi kin matena, teridah kari arah guru sibaso e. Sebab, adi pemena ia perumah beguna, em maka asli kuga kin kejadianna ibas ia mate e. Lit ka Perumah Begu erkiteken riah-riah ukur, sura-sura pusuh. Adi sibagenda rupana, tik-tik warina si 30, tenahken guru sibaso, pekundul ibas jabuna sukut. Lit pe kerja sukutna enterem, em kap ngampeken tulan-tulan ku geriten. Bernginna perumah begu simate-mate sibagenda rupa, lit guruna dua, telu tah empat. Gunana Perumah Begu Sejarah perumah begu, em kap lit sada jabu seh kal bayakna tanehna, sabahna mbelang, kerbona, lembuna, kudana ras asuh-asuhenna mbue. Anakna 3 kalak dilaki, teluna enggo erjabu. Mate bapana ras nandena. Teluna anakna enda ndai lanai siangkaan, aminna pe mbarenda rusur ipedahi nande bapana asum nggeluh denga. Teluna anak enda enggo si aduadun ku balai. Telu tahun dekahna ia enggo erpekara lalap la erkedungen. Enggo melala duit keri ongkos perkara, perkarana lalap la dung, lalap la dat keputusenna, mundur asa lalap.

Dungna, reh ukur sintua, adi siperumah begu nande, ia sibahan nimbang perkaranta, kuga akapndu agi kam duana. Nina me singuda, aku setuju, nina sintengah aku pe setuju. Suei arihna, ibahan me lakon perumah begu. Nehen wari-wari si 30, enggo tudu warina. Ipekundul guru sibaso. Guru Sibaso paksa si e dilaki. Nilai Perumah Begu Perkara si mbelin pe kerina selesai adi perumah begu simate-mate. Budaya ras seni, berperan kal ibas-ibas ngelaksanaken adat tah sada keputusen. Kata-kata guru sibaso lit kesanna ras munusuk kubas pusuh peraten, medate ibahanna ukur sibatu-batun. Emaka, guru sibasona pe haruslah modern, sesuai dengan zaman. Guru Sibaso Pijer Podi Adi pekundul Guru Sibaso, harus ia jadi pijer podi man sukut, bagepe anak beru, senina, kalimbubu, bagepe kerina jabu. Nuri-nuri Guru Sibaso, persoalan si galang i pekitik, persoalen si kitik i masapken. Kerina salang sai. La perlu er perkara. Adi lit perkara tah persoalen, pekundul saja guru sibaso ibas jabunta, kerina masalah banci selesai. Sibaso genduari perkolong-kolong, pendeta, pertua, diaken, pastor tah pe imam-imam si ngasup ndamaiken masalah. Iba pusuhtalah lebe damai, maka kerina permasalahen jadi dame. Ertina, adi Dibata ras kalak sirate keleng mereken apul-apul, kerina danci selesai alu simehulina asang inemken madiin si inemken. Guru sibaso em tugasna pedamaiken, jadilah guru sibaso simbaru. NURUNKEN KALAK MATE A.Pengantar Apabila ada orang meninggal dunia, maka tindakan pertama yang dilakukan adalah memandikannya. Membuat putar di kening dan pipinya (kuning), kaki (ibu jari) dan ikat (kalaki). Sejalan dengan itu, maka semua sangkep nggeluh, terutama sembuyak, kalimbubu, anak beru, dipanggil untuk runggu (musyawarah) tentang hari penguburan, undangan untuk sangkep enggeluh, patong kerja (baban simate), dan lain-lain. B.Jenis-jenis Kematian 1. Berdasarkan Usia a. Cawer Metua (anak sudah berkeluarga semua, umur lanjut, kalimbubu su sudah ngembahken nakan) b. Tabah-tabah Galoh (anak sudah berkeluarga semua, usia belum lanjut) c. Mate Nguda (usia muda, anak belum semua berkeluarga) 2. Berdasarkan Sebab/Keadaan Kematian, dibagi atas : a. Batara Guru (mati dalam kandungan) b. Guru Batara/Sabutara (mati dalam kandungan dan kelamin belum dikenal) c. Bicara Guru (mati sesudah lahir) d. Lenga Ripen (mati belum bergigi) e. Mate enggo ripen (mati sesudah bergigi) f. Mate Ndahi Nini (mati anak perana/singuda-nguda) g. Mate Kayat-kayaten (sakit-sakitan h. Mate Sada Wari (tewas) C. Keagungan Pesta Keagungan pesta kematian pada masyarakat Karo, terutama sekali pada

kematian cawer metua, dimana semua anak dan cucu rase (memakai pakaian adat), kalimbubu maba ose, ralep-ralep dan untuk itu, usungan/perlanja dapat berupa ; 1. Lige-lige (bangunan berbentuk geriten bertingkat tiga) 2. Kalimbubu/Kejaren (bangunan berbentuk geriten bertingkat 9 dan 11) Usungan untuk orang biasa (ginemgem), bisanya hanyalah pating-pating lante empat mbeka ‘atau’ ‘sapo gunong’. Dalam adat cawer metua, maka gendangnya “Nangkih Gendang”, artinya semalam sebelum penguburan sudah mulai ergendang. D. Gendang Nangkih Adapun urutan menari pada acara Gendang Nangkih, adalah : Landek Landek Landek Landek Landek Landek Landek Sukut Sembuyak Senina Sepemeren/Siparibanen/Sipengalon/Sendalanen Anak Rumah Kalimbubu Anak Beru

Acara ini biasanya diadakan setelah selesai runggu pada malam itu, untuk membicarakan persiapan acara penguburan keesokan harinya. E. Nurunken Simate Adapun acara untuk ‘nurunken’ (pesta penguburan) adalah sebagai berikut : Sirang-sirang Pagi-pagi, anak rumah dan keluarga dekat membuat sirang-sirang 2. Erpanger bas pas-pasen rumah Pagi-pagi, janda/duda simate erpanger (berlangir) di tiras rumah, kemudian di osei (di kepala dipasang sertali tanpa topi-bulang atau tudung), dan di leher dikalungkan sertali (janda), rudangnya dibuat dari daun ndokum sumsum atau tumba laling 3. Tek – tek Ketang Selesai berlangir diadakan acara tek-tek ketang, pisau tanggal-tanggal dipegang dengan tadengan tangan kiri, lalu ditekteklah sebuah rotan. 4. Gendang Jumpa Teroh Selesai acara tektek ketang janda/duda berjalan menuju ture (beranda) rumah, sementara sementara pada waktu yang sama, mayat diturunkan dari rumah. Pas di bawah ture, janda bertemu dengan mayat, lalu diadakan acara menari sebagai berikut : a. Menari sukut, sembuyak, senina, sepemeren, separibanen, sepengalon dan sendalanen. b. Menari kalimbubu, puang kalimbubu, dan puang nu puang c. Landek anak beru, anak beru menteri dan lain – lain d. Landek anak rumah Mayat lalu dikelilingi sebanyak empat kali, kemudian dibawa ke kesain. F. Gendang Nangketken Ose Sesampai di kesain, maka pertama diadakan “Gendang Nangketken Ose”, semua yang rose, dan kalimbubu maupun anak beru menari bersama. Sesudah itu, kalimbubu simada dareh dan kalimbubu simada ose (si erkimbang), memasangkan ose kepada bere-bere/kela dan anak masingmasing. Selesai nangketken osei, yang diosei nduduri isap/kampil kepada kalimbubu.

G. Gendang Naruhken Tudung Selanjutnya diadakan lagi “Gendang Naruhken Tudungen”, yaitu putri kalimbubu ditudungi. Biasanya adalah putri kalimbubu yang tidak dikawini lagi (la iperdemui). Akan tetapi, adapula yang membuatnya adalah beru puhun. Pada saat ini erdalan belo kinaper. H. Gendang Adat Selanjutnya diadakan “Gendat Adat” untuk menari. Adapun urutan menari adalah sebagai berikut : Gendang Sukut Landek sukut Landek sembuyak Landek senina Landek sepemeren, separibanen, sepengalon, sendalanen Selesai gendang sukut, biasanya dilanjutkan dengan acara makan, selanjutnya diadakan runggu pedalan maneh-manhe, morah-morah atau sapu iloh. Gendang Kalimbubu Landek kalimbubu taneh (tua) Landek kalimbubu bena-bena Landek kalimbubu simada dareh Landek kalimbubu si erkimbang Landek kalimbubu iperdemui

Gendang Puang Kalimbubu Landek puang kalimbubu arah Landek puang kalimbubu arah Landek puang kalimbubu arah Landek puang kalimbubu arah Landek puang kalimbubu arah Gendang Anak Beru Landek anak beru tua Landek anak beru cekoh baka Landek anak beru dareh Landek anak beruangkip/ampu

kalimbubu kalimbubu kalimbubu kalimbubu kalimbubu

tua bena – bena si mada dareh si erkimbang iperdemui

5. Gendang Anak Beru Menteri Urutannya sama seperti Gendang Anak Beru Menteri, tetapi sering juga ditentukan sekali sekali menari saja. Dan bersamanya juga ikut menari anak beru sipemeren. I. Maneh-maneh/Morah-morah/Sapu Iloh Adapun utang adat, (Maneh-maneh/Morah-morah/Sapu Iloh), dari sima diserahkan kepada : Kalimbubu, berupa jas (bulang-bulang) + sejumlah uang (Rp. 12.000) Puang Kalimbubu, berupa baju + sejumlah uang (Rp..6.000) Anak Beru, berupa sekin + sejumlah uang (Rp. 6.000) Di Kuala dan Tiga Binanga, (Maneh-maneh/Morah-morah/Sapu Iloh) kepada kalimbubu berupa sekin + sejumlah uang. Sementara apabila yang meninggal dunia adalah wanita, maka utang adat itu adalah sebagai berikut; Kalimbubu Simada Dareh, berupa uis kapal/arintang+ sejumlah uang

Kalimbubu Singalo Bere-bere, berupa uis kelam-kelam + sejumlah uang Kalimbub Singalo Perkempun, berupa pakaian + sejumlah uang Anak Beru, berupa benang telu rupa Selanjutnya diserahkan Tulan Putor kepada kalimbubu dan ikor-ikor kepada anak beru. J. Taka Alonken 1. Taka Tulon Putor ; a. Tulan, kepada Kalimbubu Simada Dareh b. Jukut kepada Binuang (Sembuyak Tulan) c. Pertiga - Satu kepada Kalimbubu Tua - Satu kepada Kalimbubu Bena-bena (Kampah) - Satu kepada Kalimbubu Sienterem (iperdemui) 2. Taka Ikor-ikor a. Tulan kepada Anak Beru Tua b. Jukut kepada Anak Beru Cekoh Baka Tutup c. Pertiga ; - Satu bagian kepada Anak Beru Menteri - Satu bagian kepada Anak Beru Sienterem K. Narohken Simate Ku Pendonen Selanjutnya, mayat diantar ke kubura (pendonen). Untuk mengusung mayat, kalimbubu di arah kepala, anak beru di bagian kaki, dan senina di bagian tengah.Dahulu mayat diberhentikan sebanyak empat kali di jalan. Setiap berhenti, dikelilingi sebanyak empat kali. Apabila cawer metua, maka sepanjang jalan diamburi page. L. Pembakaran Mayat/Penguburen Dahulu sebelum kekuasaan penjajah masuk di daerah Karo, maka mayat itu dibakar. Di Buah Raya, pembakaran mayat itu terakhir sekitar tahun 1939, demikian juga di Perbesi. M. Menyerahkan Kepada Si Empat Terpok Selanjutnya, roh si mati diserahkan kepada si empat terpok N. Gendang Narsarken Rimah Sekembali dari kuburen, diadakan Gendang Narsarken Rimah, yaitu perang empat kali. Aturan menari sebagai berikut; 1. Gendang buangken 2. Landek Sukut, Sembuyak, Senina, Sepemeren, Sepengalon ras Sendalanen 3. Landek Kalimbubu/Puang Kalimbubu 4. Landek Anak Beru/Anak Beru Menteri O. Perumah Begu Selesai narsarken rimah, landek guru sibaso, dan selanjutnya diadakan acara Perumah Begu P. Gendang Serayan Selanjutnya gendang diserahkan kepada perayaan (muda-mudi) Q. Ngamburi Lau Simalem-malem Empat hari setelah dilakukan penguburan, maka diadakan lagi acara yang disebut “Maba Lau Simalem-malem”. Untuk itu, dibawa Lau Simalem-malem,

makanan numbang, dan lain-lain. Kuburan lalu dipagar, diberi lambe, kemudian diadakan cibal-cibalen, lalu erduhap dan pulang. R. Runggu Utang Ido Dalam runggu ini akan dibicarakan tentang ; Biaya penguburan Sisingkeh-singkehen Ingan sumpit cibal kalimbubu Pembagian harta warisan Dan lain-lain S. Mindahken Tulan-tulan Ada kalanya setelah beberapa lama mayat dikubur, kuburannya kembali dibongkar untuk dipindahkan ke kuburan yang lebih baik, atau dimasukkan ke dalam geriten. Untuk itu, harus dilakukan menurut adat Karo. Terlebih dahulu, ditarok belo bujur, diamburi lau simalem-malem. Kuburan kemudian digali oleh kalimbubu, kemudian diteruskan oleh anak beru. Setelah ketemu, tulangnya kembali diangkat oleh kalimbubu, dibersihkan lalu di uras, kemudian dibungkus dengan dagangen. Selanjutnya, diadakan acara penguburen atau memasukkan ke dalam geriten. T. Geriten Adalah bangunan khusus untuk menyimpan tengkorak kepala dari orangorang yang pada jamannya sebagai panutan (pemimpin), atau si erjabaten, misalnya : Guru, penggual, penarune, dan lain sebagainya. Geriten biasa secara peridik dirayakan setiap waktu tertentu (lima tahun sekali). Acaranya adalah, mengganti baka, mangeri takal, erpanger kulau, dan perumah begu. Geriten Limang dahulu disebut `Rumah Sibadia`, tetapi sekarang tulisan tersebut sudah diganti. ADAT KALAK CAWER METUA a. Ngembahken Nakan Adalah acara adat yang dilaksanakan oleh `Sangkep Enggeloh` dengan memberi makan orangtua yang sudah ujur atau lama sakit-sakitan. Untuk itu dipersiapkan ; Cindang, naroh manok, cimpa gulame dan nakan. Acara memberi makan pertama oleh sukut, sembuyak, kalimbubu dan anak beru. Selesai makan, kalimbubu menanyakan kehendak dari yang sakit tentang tata cara penguburannya kemudian hari. Selanjutnya, diadakan runggu tentang penguburan itu. b. Mereken Ciken/Toktok Adalah upacara memberikan tongkat/toktok kepada seorang yang sudah tua oleh sangkep enggeloh. Ciken diberikan kepada laki-laki, sedangkan toktok untuk perempuan. c. Nungkirken Pinakit Adalah acara untuk menjenguk orang sakit, yang pelaksanaannya sama seprti `Ngembahken Nakan`. Tetapi disini tidak ada musyawarah antara sangkep enggeloh terlebih dahulu, serta tidak ada aturan pembagian hutang. KERAMAT DALAM ORANG KARO - Silan Silan adalah suatu tempat yang dianggap angker oleh masyarakat karena

mempunyai Penunggu mahluk halus (Keramat). Silan dapat berupa kayu besar, batu besar dan sebagainya. Silan tidak disembah (silan la termasuk sembah-sembahen. - Pagar Pagar- Pengawal – Penjaga Pagar adalah roh nenek moyang, mahluk halus (nini) yang menjadi pelindung/pengawal penduduk suatu kampung. Nini Pagar berfungsi sebagai pelindung masyarakat dari malapetaka, pemberi rejeki dan lain-lain. Nini Pagar merupaken Sembah-sembahen kuta/kampung dan diadakan upacara persembahan dengan acara tertentu dan dalam waktu tertentu. - Buah Huta – huta Buah Huta –huta sama dengan Pagar. Perbedaannya hanya mengenai letaknya. Buah Huta – huta atau Tembunen Kuta terletak di dalam kampung (kesain). Sedangkan Pagar letaknya persis di sekeliling (watas) kampung. Penjaga Kampung (Pelindung) yang berada di luar kampung namanya ‘ Pengulu Balang Na Malaga’ yang fungsinya sebagai pengintai. Bila Hulu Balang Na Malaga melihat adanya musuh mau masuk kampung, maka ia memberitahukan kepada Nini Pagar dan Buah Huta-huta untuk bersiap tempur. Dengan harapan, masyarakat terhindar dari bahaya. - Ndilo Tendi Ndilo – Memanggil, Tendi - Roh Ndilo Tendi maksudnya, memanggil kembali roh (tendi) seorang yang telah ditawan oleh Silan. Upacara Ndilo Tendi mempunyai acara-acara tertentu, dapat dilakukan dengan mengadakan gendang, keteng-keteng dan sebagainya. - Jinujung Jinujung ialah mahluk halus yang menjadi penjaga diri seseorang. Jinujung pada waktu-waktu tertentu diberi persembahen dengan mengadakan erpenper. - Kerja Tahun Kerja Tahun i Taneh Karo lit piga-piga erbagena. Arah Julu kenca dung peranin, ibahan kerja tahun gelarna mahpah, emekap page simbaru i perani ndai i pah-pah. Nandangi merdang iban kerja tabun rebu. Adi arah gunung-gunung, lit kerja tahun sinigelari merdang-merdem, enda ibahan nandangi merdang.. Lit kerja tahun sini i gelari nimpa bunga benih, lit ka kerja tahun sini i gelari ngerires, duana enda ibahan sangana mbeltek page. Lain si enda, lit ka kerja tahun ngambur-ngamburi, enda i bahan sangana beltek page. Jadi, maka ibahan kerja tahun enda emekap, maka lit dalan pulung setahun sekali ras kalimbubu, senina ras anak beru ras notoken sanga encari ras mejuah-juah.

MASUKI/MENGKET RUMAH MBARU Ope denga ibahan acara mengket rumah mbaru, maka arih lebe simada rumah nentuken belin kerja (adi lit sekalak si la ngasup muat adangenna, si enda i rungguken uga jalan keluarna. Biasana si la ngasup enda i pelebeken si pitu jabu, jenari pagi i galarina dung peranin), ndigan ibahan warina. I

sungkun guru sibeluh niktik wari. Ibas arih enda, ikut ka nge anak beru, senina tiap jabu. Biasa i bahan kerja mengket rumah, ibas wari Aditia Naik, Beras Pati tah pe Cukera Dua Puluh. BENTUK KERJA Sumalin Jabu, mengkah dapur (kerja si nguda) Kerja Mengket Rumah Sumalin Jabu entah mengkah dapur, eme kerja kitikkitik saja. Kade-kade sindeher-ndeher saja ras si labanci lang saja, pulung sangkep nggeluh, pengulu kuta. Kerina adangen na perlengiten kerja cukup sada tah dua ayan beras, bengkauna 4 tah 5 manuk. Mengket Rumah Erkata Gendang (Kerja Sintengah) Kerna mengket rumah erkata gendang, banci i kataken kerja sintengah, kade-kade enterem itenahken. Nakan siman pangan lit 10 tah 12 ayan beras, bagepe bengkauna lembu. Ngerencit (Kerja Sintua) Ngerencit eme kerja si mbelinna ibas kerja mengket rumah mbaru. Kerja e erkata gendang, kade-kade i tenahken kerina. Bengkau lit 3 lembu, sada man sukut, 2 man temue. Beras man nakan si enterem lit 20 ayan. Biasana mengket rumah bage teremna bandi lanai siat rencit-rencit i rumah. Terpaksa ibahan inganna deba ibas kesain. Erkite-kiteken temue enggo rencit-encit, maka i kataken kerja mengket rumah mbelin ngerencit. a. Perlakon Ibas Nandangi Mata Kerja. Erbahan arih entahpe runggu kerina sukut ras anak beru senina bagepe kalimbubu. Ncakapken ras muat kata putus kerna belin kitikna iban kerja, persikapen kerina perbeliten ras netapken wari mata kerja. b. Nikapken Keperlun Kerja - Rudang – rudang si melias gelar eme : bulung jabi-jabi, sangketen, bertuk padang teguh, sanggar, i rakut alu kulit ambat tuah. - Baka : ingan pemunin barang si meherga, umpamana uis, emas-emas ras sidebannan. Baka iban ibas rotan nari si ni i bayu. - Kitang : ingan lau pola, mena seri ras kandi-kandi janah lit tutupna. Ibas tutupna e, lit pancurna. Iban ibas buluh nari, tutupna kayu - Tengguli : eme lau pola si enggo i gergeri nandangi danci jadi gual - Enem binangun si cinder i bas rumah adat e i balut alu uis arinteneng. - Muat ras nikapken daliken dapur, si majekkenca eme kalimbubu si majek daliken. - Uis adat sini oseken ku tunjuk langit rumah, eme uis arinteneng. - Luah kalimbubu sj majek daliken : manuk, ras kalimbubu si erkimbang : amak cur + beras + tinaruh. - Nikapken nakan dem ras bengkauna (nurung belin + kurung), anak beru - Ras-ras anak rumah narsarken lameb i kelewet rumah. - Muat bulung-bulung si melias gelar ku kerangen, sukut ras anak beru - Si erbahan lape-lape i kesain, anak beru. - Netapken si nujung ranting - Cimpa bicara siang + galuh ATUREN PERLAKON IBAS MENGKET RUMAH MBARU Ibas wari mata kerja si enggo i tentuken e, sope denga matawari pultak, kerina anak jabu si jadi sukut ras temue si enggo reh ersikap-sikap. Sukut rose, sinangketkenca eme kalimbubu si mada dareh, rikut pe kalimbubu bena-bena. Kenca enggo dung rose kerina, banci berkat. Emaka tiap anak jabu berkat ras-ras ku rumah. I lebe-lebe ture ngadi lebe. Jenari si pemena nangkih, eme singiani jabu bena kayu. Emaka i ikuti anak jabu si deban. Ia nangkih arah ture jabu bena kayu, ngikutkenca enggo leben.

GURU (TABIB) DALAM MASYARAKAT KARO: Kajian Antropologi mengenai Konsep Orang Karo tentang Guru dan Kosmos (Alam Semesta) Sri Alem Br.Sembiring, M.Si 1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara A. Pendahuluan Guru adalah terminologi umum bagi orang Karo untuk menyebut seseorang yang berperan sebagai tabib. Beberapa orang Karo lainnya mensinonimkan kata guru dengan kata dukun 2 . Guru ini sangat berperan dalam ritual-ritual keagamaan atau upacara-upacara tradisional bagi orang Karo. Upacara tradisional dapat didefenisikan sebagai upacara yang diselenggarakan oleh warga masyarakat sejak dahulu sampai sekarang dalam bentuk tata cara yang relaif tetap. Pendukungan terhadap upacara itu dilakukan masyarkat karena dirasakan dapat memenuhi suatu kebutuhan, baik secara individual maupun kelompok bagi kehidupan mereka (Dept.P&K RI (1985:1). Salah satu hal yang menyebabkan besarnya perhatian para ahli mengenai upacara atau ritus-ritus keagamaan disebabkan karena upacara keagamaan dalam kebudayaan suatu suku bangsa biasanya merupakan unsur kebudayaan yang paling ‘lahir’, sehingga lebih mudah diamati (Koentjaraningrat 1985:375). Upacara keagamaan itu sendiri berhubungan dengan sistem kepercayaan yang hidup dalam suatu kelompok mayarakat tertentu. Upacara-upacara keagamaan tradisional yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah upacara yang berhubungan dengan kepercayaan tradisional Karo yang disebut dengan pemena. Demikian juga halnya dengan apa yang disebut dengan guru. Konsep guru ini berhubungan erat dengan kepercayaan tradisional Karo yang disebut pemena atau perbegu. Penyebutan kata pemena ini disepakati sejak tahun 1946 oleh para pengetua adat dan guru-guru mbelin (dukun/tabib terkenal). Perubahan kata dari perbegu menjadi pemena ini dimaksudkan untuk menghilangkan kesalahpahaman orang-orang di luar orang Karo atas pengertian kata perbegu. Kata perbegu bagi orang di luar orang Karo seolah-olah menunjuk ke arah penyembahan kepada setan, hantu dan roh jahat lainnya. Sementara kata pemena berarti asli, berasal dari kata bena yang berarti awal atau yang pertama (asli). Jadi kata pemena dapat diartikan merupakan kepercayaan yang asli (pertama) dari orangorang Karo sebelum masuknya pengaruh agama ‘baru’ seperti Katolik, Islam, Protestan, Hindu dan Budha. Deskripsi berikut ini akan menguraikan bagaimana guru itu berperan dalam kehidupan orang Karo. Tulisan ini akan diawali tentang konsepsi orang Karo tentang Kosmos sehubungan dengan kepercayaan tradisional Karo yang disebut dengan 1 Tulisan merupakan bagian dari hasil penelitian penulis untuk penulisan skripsi S-1 pada tahun 1992 di Jurusan Antropologi FISIP-USU. Tulisan ini merupakan hasil revisi dari sebahagian isi hasil skripsi tersebut. 2 WS.Soemarno dalam penggolongan aliran-aliran kebatinan menyebutukan bahwa salah satu aliran tersebut adalah golongan pedukunan, dimana ilmu pedukunan dan pengobatan asli dipraktekkan bagi masyarakat yang memerlukan. Page 2 2002 digitized by USU digital library 2 pemena. Kemudian, tulisan ini dilanjutkan dengan konsep dan klasifikasi orang Karo tentang guru dan keahliannya. B. Konsepsi Tentang Kosmos Manusia yang mengembangkan kebudayaannya selalu berorientasi kepada alam lingkungan dimana mereka bertempat tinggal. Beberapa persepsi manusia terhadap alam antara lain mengangap alam itu sebagai musuh, karena itu harus ditaklukkan dan dikuasai. Persepsi lain yaitu bahwa alam itu adalah sahabat karena itu harus disdayangi dan dirawat. Ada juga yang beranggapan bahwa alam itu sesuai dengan sifatnya, kadang-kadang bisa menjadi sahabat, tetapi tidak jarang menjadi musuh yang menakutkan, karena itu harus dihadapi dengan segala kekuatan. Berdasarkan pandangan-pandangan tersebut di atas kita dapat melihat bahwa semuanya berakar pada kebudayaan masyarakat setempat. Orang Karo meyakini bahwa selain dihuni oleh manusia alam juga merupakan tempat bagi roh-roh gaib atau mahluk-mahluk lain yang hidup bebas tanpa terikat pada suatu tempat tertentu, untuk itu diperlukan beberapa aktivitasaktivitas yang dapat menjaga keseimbangan alam. Segala kegiaatan yang berhubungan dengan roh-roh gaib dan upacara ritual, suatu kompleks penyembuhan, guna-guna dan ilmu gaib, merupakan sebagian aspek penting dalam kepercayaan tradisional Karo yang pelaksanaanya terpusat pada guru. Suatu peranan yang mencakup luas dan mempunyai kaitan yang erat sekali dengan konsepsi tentang kosmos dari guru sebagai pelaksana

utama, sebab mengingat bahwa titik sentral dan tujuan utama segala aktivitas peranan guru adalah untuk mencapai kembali “equilibrium� atau keseimbangan 3 . Baik itu keseimbangan dalam diri manusia sendiri dan lingkungannya, maupun keseimbangan “makro-kosmos� dalam konteks yang lebih luas. Guru dianggap memilki banyak pengetahuan yang mendetail tentang berbagai hal yang berhubungan dengan kehidupan dan kejadian- kejadian dalam hubungannya dengan kehidupan 4 . Keteraturan dalam kosmos sudah terbentuk sejak Dibata (Tuhan) menciptakan manusia dan dunia, bahwa si nasa lit (segala yang ada) dikuasai oleh Dibata. Alam semesta merupakan suatu kesatuan yang menyeluruh, yang dapat dibagi secara “vertikal� (tegak lurus) dan secara “horizontal� (mendatar). Secara vertikal, alam dapat dibagi ke dalam tiga bagian yang disebut benua, yaitu : benua atas, benua tengah dan benua teruh yang masing-masing dikuasai oleh Dibata datas, Dibata tengah dan Dibata teruh yang merupakan suatu kesatuan yang disebut Dibata si Telu ( Tuhan yang tiga) atau dianggap sebagai “tri tunggal� yang disebut juga Dibata kaci-kaci ( Kaci-kaci artinya Tuhan Perempuan) sebagai penguasa tunggal. Bagi masyarakat Desa Kidupen , para guru menyebutnya juga dengan Dibata si nurihi buk mecur atau Dibata si mada tenuang. Si nurihi buk mecur artinya yang mampu menghitung rambut (manusia) yang sangat banyak. Sedangkan si mada tenuang artinya yang menciptakan (tenuang berasal dari kata tuang = cipta, yang biasa dipakai menyebutkan pencipta manusia selagi dalam rahim seorang Ibu). 3 Penegasan mengenai ritual yang ditujukan untuk mencapai ‘equilibrium’ dalam masyarakat dapat dilihat dalam tulisan Geertz (1983). 4 Lihat dalam tulisan Ginting (1990) Page 3 2002 digitized by USU digital library 3 Secara horizontal, alam semesta dibagi ke dalam delapan penjuru mata angin: purba (timur), aguni (tenggara), daksina (selatan), nariti (barat daya), pustima (barat), mangabia (barat laut), butara (utara), irisen (timur laut). Penjuru mata angin ini disebut desa si waluh (delapan arah), berasal dari kata desa yang berarti arah dan si waluh yang berarti delapan. Penjuru mata angin ini dapat dibedakan atas dua sifat yang berbeda, yaitu desa ngeluh (arah hidup) dan desa mate (arah mate. Desa-desa yang digolongkan sebagai arah hidup adalah; timur, selatan, barat dan utara. Selain itu digolongkan sebagai arah mati. Penggolongan kepada arah hidup dan arah mati didasarkan kepada pemikiran bahwa desa-desa timur, selatan, barat dan utara dikuasai oleh roh penolong yang memberikan kebahagiaan kepada manusia. Sebaliknya pada arah mati terdapat mahluk-mahluk gaib yang jahat dan suka mencelakakan manusia. Sesuai dengan dengan pendapat dan pemikiran ini, posisi arah rumah dan areal pemakaman penduduk suatu desa (Desa Kidupen) mengikuti arah hidup. Posisi rumah pribadi mayoritas menghadap ke arah utara dan selatan. Sedangkan posisi rumah-rumah adat mayoritas menghadap ke arah timur dan barat. Sementara itu, areal persawahan dan perladangan mayoritas di arah utara, selatan dan barat. Dalam kehidupan sehari-hari, pembagian kosmos yang diikuti dengan pembagia Dibata ternyata tidak begitu penting. Bagi mereka, Dibata yang yang dikenal dan dianggap penting adalah Dibata kaci-kai sebagai kesatuan keseluruhan dari Dibata. Menurut mereka Dibata adalah tendi (jiwa) yang dapat hadir di mana saja, kekuasaannya meliputi segalanya dan dianggap serbagai sumber segalanya. Hal ini sesuai dengan keyakinan orang-orang Karo yang sangat dekat dengan suatu bentuk kepercayaan atau keyakinan terhadap tendi, yaitu suatu kehidupan jiwa yang keberadaannya dibayangkan sama dengan roh-roh gaib (Ginting, J.R. 1986:111). Orang Karo meyakini bahwa alam semesta diisi oleh sekumpulan tendi. Setiap titik dalam “kosmos� mengandung tendi. Kesatuan dari keseluruhan tendi yang mencakup segalanaya ini disebut Dibata, sebagai kesatuan totalitas dari “kosmos� (alam semesta). Setiap manusia dianggap sebagai “mikro-kosmos� (semesta kecil) yang merupakan kesatuan bersama dari kula (tubuh), tendi (jiwa), pusuh peraten (perasaan), kesah (nafas), dan ukur (pikiran). Setiap bagian berhubungan satu sama lain. Kesatuan ini disebut sebagai ‘keseimbangan dalam manusia’. Hubungan yang kacau atau tidak beres antara satu sama lain dapat menyebabkan berbagai bentuk kerugian seperti sakit, malapetaka, dan akhirnya kematian 5 . Daya pikiran manusia dianggap bertanggung jawab ke luar guna menjaga

keseimbangan dalam dengan keseimbangan luar sebagai suatu “makrokosmos� (semesta besar) yang meliputi dunia gaib, kesatuan sosial dan lingkungan alam sekitar. Tercapainya suatu “keseimbangan dalam� akan memperlihatkan berbagai keadaan menyenangkan, seperti; malem (sejuk/tenang), ukur malem (pikiran tenang), malem ate (hati sejuk/tenang), malem pusuh (perasaan sejuk/tenang). Oleh karena itu kata malem digunakan juga sebagai arti sehat atau kesembuhan dalam bahasa Karo. 5 Keterangan lain mengenai jiwa dapat dibaca dalam tulisan van Peursen (1983). Kekekalan jiwa menurut Plotinus, jiwa itu ada sebab tubuh sendiri tidak berjiwa, jiwa adalah suatu kehadiran yang membuat tubuh menjadi seperti apa adanya, jiwa meresapi tubuh, kehadiran jiwa seolah-olah terpencar dari tubuh (van Peursen, CA. 1983:12). Maka karena itu walaupun seseorang telah meninggal jiwanya tetap hisup. Page 4 2002 digitized by USU digital library 4 Kesejukan badan dan pikiran merupakan dasar dari keadaan sehat, yaitu keadaan sejuk dan seimbang antara “makrokosmos�. Prinsip ini pula yang menyebabkan mengapa seorang guru melakukan beberapa upacara ritual dengan tujuan untuk mendapatkan keadaan yang serba malem (sejuk/tenang). Menurut para guru, terganggunnya hubungan-hubungan dalam “mikro-kosmos� seseorang berarti adanya keadaan tidak seimbang dalam tubuhnya, yaitu ketidakseimbangan antara tubuh, jiwa, perasaan, nafas dan pikiran. Dengan menggunakan air jeruk purut pada upacara berlangir (erpangir), seorang guru akan menyiramkannya ke kepala pasiennya. Air jeruk purut diyakini menimbulkan rasa sejuk. Sementara itu kepala si pasien dipilih dengan pertimbangan bahwa kepala adalah tempat dari pikiran dan sebagai pusat dan pimpinan dari “mikro-kosmos� (semesta kecil) tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa dalam diri guru terdapat suatu pandangan bahwa keseimbangan dalam “mikro- kosmos� (semesta kecil/tubuh manusia itu sendiri) tidak akan sempurna tanpa tercapainya suatu keseimbangan “kosmos� (alam semesta secara luas). Oleh karena itu, seorang guru dalam beberapa ritusnya yang bertujuan untuk mencapai keseimbangan pada diri manusia akan menggunakan air jeruk yang malem. Air jeruk dianggap sebagai lambang dari alam semesta yang mewakili ‘keseimbangan luar’ akan dimasukkan ke dalam diri manusia yang mewakili ‘“keseimbangan dalam� itu sendiri. Tindakan ini diyakini akan menyempurnakan keseimbangan dalam diri seseorang. Orang Karo meyakini bahwa alam sekitar diri manusia sendiri dianggap sebagai “makro-kosmos�. Alam sekitar ini digolongkan ke dalam beberapa inti kehidupan yang masing-masing dikuasai oleh nini beraspati (nini = nenek), yaitu; beraspati taneh (inti kehidupan tanah), beraspati rumah (inti kehidupan rumah), beraspati kerangen (inti kehidupan hutan), beraspati kabang (inti kehidupan udara). Dalam ornamen Karo, nini beraspati ini dilambangkan dengan gambar cecak putih yang dianggap sebagai pelindung manusia. Beraspati, oleh penganut pemena atau guru khususnya dibagi lagi ke dalam beberapa jenis lingkungan alam atau tempat dan keadaan. Beraspati lau (inti kehidupan air) misalnya, dibedakan lagi atas sampuren (air terjun), lau sirang (sungai yang bercabang), tapin (tempat mandi di sungai) dan lain-lain. Beraspati rumah (inti kehidupan rumah) dibagi lagi atas bubungen (bubungan), pintun (pintu), redan (tangga), palas (palas), daliken (tungku dapur), para ( tempat menyimpan alat-alat masakdi atas tungku dapur) dan lain-lain. Beraspati taneh dibedakan atas kerangan ( hutan), deleng (gunung), uruk (bukit), kendit (tanah datar), embang (jurang), lingling (tebing), mbal-mbal (padang rumput). Ini yang menjadi dasar setiap guru di Karo selalu mengadakan persentabin (mohon ijin) kepada nini beraspati sebelum melakukan upacara ritual, tergantung dalam konteks mana upacara akan dilakukan, apakah kepada beraspati taneh, beras pati air, beraspati kerangen atau beraspati kabang dan kadang-kadang para guru menggabungkan beberapa beraspati yang dianggap penting dapat membantu kesuksesan suatu upacara ritual yang mereka adakan, seperti dalam upacara perumah begu seorang guru si baso mengadakan persentabin kepada beraspati taneh dan beraspati rumah agar meraka masing-masing sebagai inti kehidupan tersebut tidak mengganggu atau menghambat jalannya upacara. Biasanya dilakukan dengan meletakkan sirih yang disebut belo cawir (sirih, kapur, pinang dan gambir). Belo cawir ini

merupakan lambang diri manusia. Page 5 2002 digitized by USU digital library 5 Sirih dalam belo cawir sebagai lambang tubuh manusia, kapur lambang dari darah putih sesuai dengan warnanya putih, pinang dan gambir adalah lambang dari darah merah manusia karena perpaduan keduanya memberi warna merah. Adanya kehidupan pada manusia disebabkan bekerjanya ketiga unsur tersebut sebagai metabolisme tubuh manusia yang saling mengatur peredaran darah dalam tubuh. Mantra (Karo = tabas) yang dipakai guru dalam rangka persentabin kepada beraspati taneh dan beraspati rumah adalah sebagai berikut: “enda ku sentabi kel aku o nini beraspati taneh kenjulu kenjahe - sider bertengna, cibal beloku, belo cawir, pinang cawir, kapur meciho, pinang meciho maka meciholah penuri - nurin Dibata si lakuidah. Maka ula kari abat ula kari alih, enda persentabinku, o nini beraspati rumah ujung kayu bena kayu . . .�. (“ Ini aku datang memohon ijin kepada nenek sebagai inti kehidupan tanah dari segala sisi, ku letakkan sirih permohonanku, terdiri dari sirih bersih dan bagus demikian juga pinangnya, kapur yang putih bersih dan terang atau jelaslah keterangan dan petunjuk dari Dibata yang tidak terlihat. Supaya tidak ada yang menghalangi upacara ini, permohonan ijin dariku, kepada nenek beraspati rumah , baik yang ada di ujung kayu ataupun di pangkal kayu . . .�). Disamping hal di atas, kosmologi Karo mempunyai perbedaan yang sifatnya umum antara alam gaib dan alam biasa. Alam gaib diatunjukkan dengan pemakaian kata ijah (di sana) dan alam manusia biasa dengan kata ijenda (di sini). Dalam peristiwa pemanggilan roh-roh orang mati tersebut berasal/datang dari negeri seberang, sedangkan alam biasa tempat kehidupan manusia disebut doni enda (dunia ini). Ini menunjukkan bahwa alam gaib itu berbeda jauh dengan alam tempat kehidupan manusia, tidak ada seorangpun yang tahu pasti dimana, hal ini terutama menandakan bahwa roh-roh yang telah mati tidak sama dengan manusia yang hidup. Ini dibuktikan dengan kata seberang yang dalam pengertian para guru dianggap maelewati suatu batas yang ditandai oleh lau (air), sehinga disebut negeri seberang, harus menyeberangi sesuatu untuk sampai ke tempat tersebut yang disebut sebagai i jah (di sana). Dalam hal ini diungkapkan bahwa lau (air) merupakan penghubung antara manusia dan roh-roh yang telah mati. Hal ini pula yang menyebabkan banyak guru memakai air yang ditempatkan dalam suatu mangkuk putih, terutama jika guru merasa bahwa penyebab dari keadaan yang tidak seimbang pada diri manusia tersebut disebabkan karena ada hubungannya dengan roh-roh orang mati yang mengganggu. Sebutan i jah dan i jenda tidak berarati adanya suatu wujud pasti tertentu sebagai alam gaib. Kata tersebut di atas hanya untuk membedakan alam gaib dengan alam biasa. Alam gaib sendiri berada bersama-sama di sekitar manusia. Semua tempat sekitar manusia adalah juga alam gaib, namun alam gaib tersebut digambarkan sebagai suatu alam yang tidak terlihat dan tanpa wujud, karaena itulah disebuat deangan i jah (di sana), manusia tidak tahu pasti tempat dan wujudnya. Menurut seorang guru Pa Jawi (bukan nama sebenarnya), mengatakan bahwa: “I bas inganta enda pe melala kel orang-orang alus si la teridah bagi kalak si la dua lapis perngenin matana, bage pe keramat seh kel lalana, tiap-tiap kerangen lit sada keramatna, tiap keramat enda la ia engganggui jelma, adina keramat ia singarak-ngarak, tapi adina Page 6 2002 digitized by USU digital library 6 orang alus, e banci ia erbahan penakit, bage pe celaka man kita.� (“Dalam tempat tinggal kita ini pun banyak sekali orang halus yang tidak terlihat oleh mereka yang tidak dua lapis matanya, demikian juga dengan keramat, sangat banyak juga, di setiap hutan ada satu keramat penungggu, tapi mahluk halus jenis keramat ini tidak menganggu sifatnya, tidak mau menganggu manusia, dia menolong manusia, tapi jika orang-orang halus bisa saja membuat penyakit bagi manusia dan mencelakakan kita.�) Dalam mengadakan hubungan dengan roh-roh orang yang telah meinggal, seorang guru dapat melakukannya dengan bantuan jenujung 6 , khususnya mereka yang dijulluki sebagai guru si baso 7 melalui ritual perumah begu atau perumah tendi 8 . Guru mengatakan bahwa hubungan itu dapat dilakukan melalui perantaraan angin si lumang-lumang (angin yang berhembus). Sehubungan dengan itu, dikatakan juga bahwa arwah orang yang telah meninggal mempunyai kehidupan yang berbanding terbalik dengan kehidupan manusia. Arwah itu tinggal di taneh kesilahen dengan

keadaan; berngi suarina, pagi berngina. Artinya, malam bagi arwah adalah siang bagi kita manusia dan pagi bagi arwah adalah malam bagi kita manusia. Itulah yang merupakan penyebab mengapa dikatakan begu banyak berkeliaran di malam hari. Alam gaib dikatakan juga sebagai alam jiwa. Keseluruhan alam gaib disebut pertendiin (kejiwaan). Hal ini berkaitan dengan kepercayaan orang Karo yang sangat erat dengan tendi (jiwa). Oleh karena itu hubungan manusia dengan alam gaib hanya dapat dilakukan melalui jiwa yang dimiliki oleh manusia itu sendiri. Itulah sebabnya dalam melakukan hubungan dengan orang-orang yang telah meninggal, seorang guru (guru si baso) menggunakan tendinya dengan bantuan tendi-tendi lain yang disebut jenujung (junjungan). Junjungan ini adalah sebagai kekuatan dari luar diri seorang guru yang dapat membantunya sebagai roh gaib pelindung yang berasal dari “makro-kosmos�. C. Guru dan Keahliannya Bagi orang Karo, guru adalah sebutan untuk orang-orang tertentu yang dianggap memiliki keahlian melakukan berbagai praktek dan kepercayaan tradisional, seperti: meramal, membuat upacara ritual, berhubungan dengan roh atau mahluk gaib, perawatan serta penyembuhan kesehatan dan lain-lain. Guru dianggap memiliki pengetahuan yang mendetail mengenai berbagai hal yang berhubungan dengan kehidupan. Secara harfiah sama artinya dengan kata “guru� 6 Jenujung ini disebut juga sebagai roh pelindung (junjungan) atau dikenal secara ilmiah dengan sebutan ‘quardiant spirit’ (Pettit 1966) atau ‘ghost spirit’ (Mordock 1974). “Quardiant spirit’ ini diperlukan oleh seorang ‘shaman’ atau ‘spirit medium’ sebagai pelindung dirinya dan sebagai sumber kekuatan untuk hidup ataupun untuk penyembuhan berbagai jenis penyakit (lihat dalam Pettitt 1966:137-243: Murdock 1974: Foster/Anderson 1986) 7 Deskripsi rinci mengenai guru si baso (‘shaman’) dapat dilihat dalam tulisan skripsi penulis (Sembiring 1992). 8 Ritual perumah begu ini pada dasarnya dilakukan karena adanya kepercayaan akan kehidupan kekal dari jiwa, walaupun seseorang telah meninggal. Tetapi jiwanya tetap hidup dan dapat tinggal dimana saja dan masih dapat berhubungan dengan anggota keluarga lain yang masih hidup (lihat juga tulisan Singarimbun 1972:21: Bangun P 1976: Prinst, DarwanDarwin 1985:22: Sembiring 1992) Page 7 2002 digitized by USU digital library 7 (lehrer) dalam bahasa Indonesia. Tetapi sebagai sebuah peranan biasanya diartikan dengan kata “dukun� dalam bahasa Indonesia (Ginting, J. 1990: 1). Dalam tulisannya yang berjudul “De Bataksche Guru� dalam Mededeelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap, J.H. Neumann (1910 : 1 - 18) memandang guru sebagai suatu “kumpulan informasi�, ahli sejarah, ahli penyembuhan, ahli theologi, ahli ekonomi dan juga merupakan suatu “ensiklopedi� yang mengembara di tengah-tengah masyarakat. Dialah yang telah mengumpulkan, mendaftar dan memakai sebagian besar pengetahuanpengetahuan yang ada dalam masyarakat. Untuk melakukan suatu upacara dengan baik, guru harus mengikuti aturan-aturan tertentu, suatu hal yang memperlihatkan bahwa kemampuannya memang banyak. Dia harus mengetahui cerita yang menjelaskan asal upacara itu yang sering berkaitan dengan asal mula dunia. Dia harus mengetahui tumbuh- tumbuhan mana yang diperlukan untuk melaksanakan suatu upacara dan dia harus mengetahui tindakan-tindakan dan mantera-mantera yang perlu dijelaskan kepada peserta-peserta lainnya. Guru adalah juga pemellihara ceriteraceritera lama, tradisi-tradisi dan mitos-mitos yang merupakan harta karun sastera Batak (lihat dalamGinting 1986:121-122). Seperti yang dituturkan oleh seorang guru perban pangir di Desa Kidupen (lokasi penelitian penulis) yang dipanggil “Pa Jawi�. “Pa Jawi adalah seorang guru pembuat langir (berlangir). Pa Jawi harus menentukan berapa jumlah tumbuhtumbuhan yang harus dipakai sebagai bahan upacara dan juga manteramantera yang diucapkan untuk jeniss penyembuhan yan berbeda pula. Untuk membuat pangir seorang pasien yang mendapat mimpi buruk akan dikumpulkan bahan-bahan seperti; jeruk empat macam dan setiap macam berjumlah empat buah, daun- daunan tertetnu seperti besi-besi, sangka sempilet, kalinjuhang dan lain-lain, juga beberapa ruas tumbuh-tumbuhan yang dalam bahasa Karo disebut buku-buku, seperti; ruas tebu, ruas batang bambu, ruas batang jagung dan lain-lain. Dimana pemilihan jenis tumbuhan

ini disesuaikan dengan sifat dari tumbuhan itu sendiri yang secara simbolik dikaitkan dengan penyakit yang diderita oleh pasiennya. Sifat tumbuhan itu diharapkan menyatu dengan tubuh pasien dan mencapai kembali keseimbangannya dan sembuh dari penyakit. Pa Jawi mengatakan bahwa: “si sungkuni kai si akapna kurang ibas dagingna, kadena si mesui, e maka si ban pangirna, si leboh guru si deban si dua lapis perngenin matana, banci idahna ise si reh i jah nari, ras pe ia ngerana, i sungkun kai kin atena, pemindona makana ia engganggui, adi enggo si eteh, maka si ban pangirna, bereken kai si i pindo si reh i jah nari, gelah ia laus, kenca bage e maka si sakit pe malem ka lah ia, malem pinakit�. (“ Kita bertanya apa yang dianggap pasien kurang enak di badannya, apa yang sakit, lalu kita buat pangirnya, dan kita panggil guru yang dapat melihat mahluk halus dan yang mampu berkomunikasi dengan mahluk halus itu, ditanya apa kemauannya sehingga ia menganggu si pasien, setelah diketahui lalu dibuatkan pangir untuk si pasien dan dipenuhi permintaan mahluk halus itu, jika demikian, maka sembuhlah si pasien, penyakitnya sembuh�.) Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa seorang guru harus mampu terlebih dahulu mendeteksi atau mendiagnosa apa penyebab keadaan sakit atau keadaan tidak seimbang dalam diri si individu (pasien). Kemudian tahap berikutnya Page 8 2002 digitized by USU digital library 8 menentukan jenis upacara penyembuhan dan pengobatan; jenis obat dan jenis mantera yang diperlukan. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pedesaan Karo, terdapat beberapa sebutan untuk jenis guru, seperti; guru tua dan guru si nguda/ guru sibeluh niktik wari (ahli dalam melihat hari-hari baik dengan perhitungan waktu, arah dan tempat), guru nendung (peramal dengan bertanya pada roh-roh gaib) disebut juga sebagai guru si erkata kerahung/ guru perseka-seka, yaitu seseorang yang memiliki suara siulan di leher sebagai ucapan roh gaib, guru si dua lapis pernin matana (seseorang yang dapat melihat roh-roh gaib), guru perjinujung (seseorang yang disertai dan dibantu oleh roh-roh gaib untuk melaksanakan penyembuhan dan upacaraupacara ritual), guru si baso (seseorang yang dapat berhubungan dan mengundang roh-roh gaib untuk memasuki tubuhnya sehingga kesurupan dan ahli dalam upacara pemanggilan roh-roh orang yang telah meninggal, dan mengundang roh tersebut untuk memasuki tubuhnya sebagai medium (perantara) untuk berbicara dengan kearabt-kerabat yang masih hidup, guru perseluken (seseorang yang ahli mengundang roh-roh gaib memasuki tubuh orang lain sehingga kemasukan), guru nabas (seorang ahli mantera), guru permag-mag ( seseorang yang ahli dalam penyampaian doa melalui nyanyian), guru pertapa (pertapa), guru pertawar (penyembuh dengan ramuan obat-obatan), guru perbegu ganjang (pemelihara roh-roh jahat), guru peraji-aji (ahli guna-guna atau peamu racun), guru baba-baban (ahli jimat isebut juga guru perberkaten), guru si majak panteken (ahli membuat pangir/langir baik sebagai obat penyembuh, penolak bala, atau sebagai tangkal, biasanya guru ini mempunyai apa yang disebut tungkat malaikat) 9 . D. Siapa Menjadi Guru Menurut keyakinan orang Karo hanya orang-orang pilihan saja yang dapat menjadi seorang guru. Peran sebagai guru dianggap telah ditentukan dari sejak lahirnya seseorang dengan memiliki tanda-tanda kelahiran tertentu. Bahkan peran sebagai guru telah dianggap dimiliki seseorang sejak dia berada dalam kandungan Ibunya berdasarkan kata Dibata si mada tenuang atau kehendak dari Tuhan sang pencipta. Dalam hal ini, peran sebagai guru sudah merupakan suratan takdir dari Yang Maha Kuasa. Pendapat umum termasuk para guru mengatakan bahwa seseorang jika paroses kelahirannya tidak istimewa, tidak lain dari pada yang lain ataupun tidak memiliki ciri fisik tertenu, tidak akan dapat menjadi guru jenis apa pun juga. Mengingat setiap guru harus mempunyai apa yang disebut dengan jenujung (junjungan) yaitu roh gaib pelindung/pnolong, maka orangorang yang kelahirannya istimewa saja yang dapat mempunyai jenujung. Jenujung ini diyakini berasal dari benua datas (dunia atas). Junjungan ini dianggap memiliki kemampuan gaib yang dapat melindungi para guru dan membantunya dalam praktek-praktek penyembuhan ataupun pengobatan. Junjungan ini diyakini pula dapat melindungi para guru dari niat jahat orang lain terhadapnya yang hendak mencelakakanya. Beberapa ciri tanda kelahiran yang dianggap istimewa seperti; janin yang dililit oleh tali pusar, leher janin terbungkus oleh selaput pembungkus janin, dan lain-lain.

Sementara itu, beberapa ciri fisik bawaan dari lahir yang juga dianggap sebagai hal istimewa adalah; jumlah gigi seri yang hanya dua buah, jumlah jari kaki ataupun tangannya lebih banyak dari orang biasa, adanya daging tumbuh pada 9 Uraian lebih rinci dapat dilihat dalam tulisan Sembiring (1992). Page 9 2002 digitized by USU digital library 9 daerah tertentu di tubuhnya. Tetapi hal ini tidaklah selalu harus ada pada setiap guru secara mutalak. Keahlian dapat pula dimiliki melalui belajar, bertapa, keturunan, atau atas kehendak roh-roh gaib melalui peristiwa mimpi, didatangi roah gaib keramat dengan jalan kesurupan, tiba-tiba lehernya mengeluarkan suara siulan yang berdesis, atau terlebih dahulu menderita suatu penyakit yang disebabkan ole roh-roh gaib, lalu setelah sembuh diadakan suatu upacara untuk meresmikan rih gaib keramast tersebut menjdi jenujungnya (junjungan). Setelah peresmian menjadi junjungan ini, maka seseorang sudah menjadi guru dan dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit ataupun mampu mengundfang roh-roh gaib lainnya. Seeorang dapat pula menolak menjadi guru walaupun dia bermimpi didatangi roh-roh gaib yang meyuruhnya menjadi seorang guru. Penolakan ini juga harus dilakukan melalui suatu upacara ritual, sama halnya dengan penerimaan menjadi guru yang juga harus dilakukan melalui suatu ritual yang disebut petampeken jenujung. Ritual petampeken jenujung atau penolakan jenujung ini dapat dilakukan oleh jenis guru yang disebut dengan guru si baso. Guru si baso ini cenderung terdiri dari kaum wanita 10 . E. Penutup Berdasarkan deskripsi yang telah dipaparkan dalam tulisan ini, pembaca dapat memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai keragaman budaya dan praktekpraktek upacara ritual atau ritus-ritus tradisional dari kebudayaan Karo. Beberapa dari upacara-upacara ritual ini masih ditemukan tetap dilaksanakan di beberapa desa di wilayah Karo, terutama dengan tujuan untuk penyembuhan beberapa penyakit demi mencapai keseimbangan dalam diri individu yang disebut dengan keadaan sehat. Upacara-upacara ritual tersebut ada yang bersifat individual dan ada juga yang bersifat komunal yang meliputi kepentingan suatu penduduk desa. Untuk tujuan komunal, ritual itu cenderung dimaksudkan untuk mencegah malapetaka dalam tingkat desa, atau untuk keselamatan penduduk desa dari suatu ancaman keselamatan atau bencana alam. Tulisan ini juga memberikan suatu cakrawala baru bagi pembaca untuk pencerahan pemikiran bahwa pengertian kata begu yang dimaksud oleh orang Karo tidaklah berkonotasi negatif untuk menyebutkan setan atau roh jahat. Pengertian konsep begu yang dimaksud adalah roh-roh (arwah) para leluhur atau keluarga yang telah meninggal dunia. Untuk menyebut roh-roh jahat yang dapat membuat malapetaka bagi manusia disebut orang Karo dengan sebutan setan. Dalam penyebutan sehari-hari dikenal beberapa jenis setan (roh jahat), seperti; setan begu ganjang, setan naga lumayang, setan begu sidang bela. Sebutan begu tetap disertakan karena kata itu menunjukkan sesuatu yang dimaksud sebagai mahluk halus yang tidak dapat diempiriskan secara indrawi biasa atau melalui pengelihatan dengan mata telanjang. Penulis berharap kiranya karya tulis dapat bermanfaat bagi kajian-kajian ritual atau religi untuk lebih memahami keragaman budya bangsa Indonesia. Satu hal yang perlu penulis tekankan adalah dalam mengkaji kebudayaan lain, kita harus membuang jauh-jauh sikap ‘ethnocentrisme’ yang hanya menganggap bahwa 10 Siti Dahsiar (1976) menyebutkan dari hasil penelitiannya di Jepang bahwa para shaman atau dukun yang mampu bertindak sebagai spirit medium cenderung sebanyak 99% adalah wanita dan struktur pemanggilan roh dengan jalan kesurupan (‘trance’). Page 10 2002 digitized by USU digital library 10 kebudayaan kita selalu lebih baik dari kebudayaan orang lain. Melainkan, kita harus mengembangkan sikap ‘relativisme budaya’, dimana kita harus melihat bahwa kebudayaan lain itu sebagaimana adanya, baik dan berguna terutama bagi pendukung kebudayaan tersebut. ________________

2

Agama

Aceh telah menganut agama Islam dan jaya pada masa pemerintahan Iskandar Muda. Demikianlah Islam kemudian timbul di Tanah Karo. Akan tetapi ada ketegangan waktu itu yang terjadi antara orang Karo dan Aceh, sehingga Islam kurang mendapatkan perhatian dari orang-orang Karo. Hal ini disebabkan karena orang Karo menganggap Aceh (Islam) sebagai musuh. Permusuhan antara Aceh dan Karo ini bisa kita lihat melalui cerita-cerita seperti Putri Hijau dan lain-lain. A. MASUKNYA AGAMA ISLAM Suku Batak Karo termasuk dalam rumpun suku Batak yang mendiami daerah dataran Tinggi Karo(Kab.Karo), Medan, Deli Serdang, Binjai, Langkat, Simalungun, Serdang Bedagai,Dairi, Aceh Tenggara. Umumnya orang berpandangan bahwa Suku Batak terutama Batak Karo identik dengan beragama Kristen, pandangan itu tidak selamanya benar, karena banyak suku Batak Karo yang beragama Islam, bahkan ada diantaranya menjadi tokoh penting di Negara Indonesia lihat saja .MS.Kaban dan Tifatul Sembiring yang berasal dari Suku Batak Karo. Agama Islam dikenal oleh Suku Bangsa Batak Karo melalui persentuhan dengan dunia luar terutama dengan Aceh, namuan hal ini menimbukan ketegangan dengan masyarakat yang sangat kuat dengan kepercayaan tradisonal,juga konflik antara Kerjaan Aru(Putri Hijau) dengan Aceh.Selain itu persentuhan dengan Islam juga terjadi dengan pedagang-pedagang Islam terutama pada masyarakat Karo yang tinggal di daerah dataran rendah (karo Jahe).Menurut Baharuddin Pardosi Agama Islam masuk ke tanah Karo pada abad XI namun demkian masih banyak pendapat-pendapat lain tentang kapan masuknya agama Islam di Tanah Karo. B.PENGARUH ISLAM DALAM MASYARAKAT KARO Walaupun agama Islam tidak mendapat pengaruh yang besar seperti agama kristen, namun pengaruh Islam sudah lama dikenal jauh sebelum masuknya agama Kristen misalnya, dalam pengobatan seorang dukun membaca Bismillahhirohmannirohim dalam memulai pengobatan, begitu juga dalam menyembelih ternak seperti ; ayam atau kerbau menurut keterangan orang tua saya ; nenek saya (kakek) selalu membaca Bismillahorohmanirohim padahal ia sendiri memeliki kepercayaan tradisional. Dikampung saya Desa Kuta Bangun Kecamatan Tiga Binanga Islam dikenal dari AcehTenggara melalui suku Alas, Gayo yang berdagang kerbau ke Kabanjahe dan Medan, juga penduduk desa yang pindah ke Aceh Tenggara untuk membuka areal pertanian . Menurut orang tua saya mereka juga mengenal agama Islam dari masyarakat karo yang telah memeluk agama Islam di Desa Tiga Beringin. Selain itu para putra daerah yang menuntut pendidikan keluar daerah seperti Rakut Sembiring (1939) , dia merupakan orang pertama yang memeluk Islam, kemudian orang tua saya Mayan Ginting (1947)., kemudian tahun 1970an beberapa penduduk memeluk agama Islam. Walaupun masyarakat karo dalam satu keluarga memilki perbedaan kepercayaan namun hal itu tidak menimbulkan pertentangan karena ikatan kekerabatan dan adat yang kuat dan ini bisa menjadi contoh bagi toleransi beragama di Indonesia.

Kedatangan orang Eropa pertama kali adalah ketika William Marsden melaporkan perjalanannya ke Sumatera tahun 1783. Walaupun ia mengunjungi Tanah Karo, tetapi Marsden telah membuat observasi penting tentang kepercayaan Batak, adat dan tradisi, dan hal-hal menarik di sana.

yang tidak yang yang

Masyarakat Karo sebelum kolonial memiliki kebebasan politik dan ekonomi. Masyarakat Karo sebelum kolonial tidak memiliki pemerintahan yang terpusat atau pemerintahan atau sistem daerah, dan Tanah Karo yang

terisolasi menyebabkan ketidak-berkembangan ekonomi di sana. Hal inilah yang mendorong orang-orang Karo untuk pergi ke daerah-daerah lain. Orang-orang terpandang yang ada di dalam masyarakat pada waktu itu disebut sebagai pengulu, raja atau guru. Bagaimanapun juga kehadiran orang Eropa di dalam masyarakat Karo inilah yang pada akhirnya membawa perubahan sistem-sistem pemerintahan, demokrasi dan lain-lainnya di Tanah Karo, dan inilah yang akhirnya memperbaharui masyarakat. Pengaruh pietisme Barat, kehadiran para zendeling, memberikan warna baru dalam perkembangan religius di Tanah Karo, tetapi bagi mereka yang non-Kristen kadang-kadang kurang bisa terbuka. Kehadiran misi Protestan dan kolonialisasi di Tanah Karo dimulai ketika seorang zendeling dari badan NZG dan beberapa orang dari Minahasa pada tahun 1890. Setelah melihat situasi yang ada, lalu mereka membuat tempat perhentian di Buluhawar, sebuah kampung yang terdiri dari dua ratus rumah tangga, sekitar lima puluh kilometer sebelah selatan kota Medan. Di sinilah kemudian dibangun sekolah yang pertama, akan tetapi kekristenan belum diterima oleh orang Karo pada masa itu. Baru ketika H.C. Kruyt digantikan oleh J.K. Wijngaarden yang dipindahkan dari Sawu, Indonesia Timur, melakukan pembaptisan pertama terhadap enam orang Karo pada bulan Agustus 1893. Kemudian kekristenan ini berkembang walaupun menghadapi tantangan karena pada waktu itu. Setiap orang Karo yang menjadi Kristen memiliki dua tantangan, yaitu mengkomunikasikan kepercayaan orang Kristen bagi mereka yang masih hidup dalam agama awal dan mengajak orang-orang Karo untuk tidak memandang Kristen itu secara otomatis adalah Belanda Hitam. Misi Kristen di Tanah Karo tahun 1890-1942 secara signifikan dapat dilihat melalui komunikasi-komunikasi orang Eropa, melalui misi yang memperkenalkan teknologi, mempelajari bahasa, dan pendidikan. Semua ini merupakan sumbangan yang berharga dari para misionaris kepada orangorang Karo. Demikanlah pada akhirnya masyarakat Karo sebagian dipengaruhi oleh kekristenan, ini sangat terlihat dengan bagaimana Zending membentuk persekutuan orang muda Karo, kemudian juga mencetak tenaga pendeta melalui sekolah-sekolah di Sipoholon, dan membentuk klasis yang pada akhirnya bertumbuh menjadi Sinode. Tahun 1940 setelah lima puluh tahun aktivitas misionaris di Tanah Karo, hanya ada sekitar lima ribu orang Karo yang dibaptis yang dilayani oleh misionaris NZG dan tiga puluh delapan guru evangelis Karo. Perkembangan misi yang lebih sukses terjadi ketika perang dunia ke II berakhir. Dalam kongres sejarah budaya Karo 1958 disimpulkan, ketika misionaris mengakhiri karyanya dan menghasilkan berbagai hal-hal yang berkembang, sedikit banyak telah membuat keberhasilan bagi orang-orang lokal. Selain masuknya Protestan di Tanah Karo, Katolik yang masuk ke Tanah Karo juga berkembang. Misi Katolik yang ditujukkan ke daerah Simalungun, Dairi adalah dasar pendekatan yang pada akhirnya menyentuh Tanah Karo. Misi Katolik di Tanah Karo kemudian dihentikan oleh Jepang. Hal ini disebabkan karena hampir semua imam-imam Belanda tidak boleh diizinkan lagi menjalankan pekerjaannya sepanjang revolusi, dan komunitas Katolik Batak sepanjang periode ini sesekali didatangi oleh imam dari Jawa. Dalam periode ini pengajaran hanya dilakukan pada saat-saat tertentu dilakukan oleh seorang imam yang berasal dari Jawa. Baru setelah tahun 1947 dimulailah misi yang sebenarnya di Tanah Karo. Dalam perjuangan revolusi untuk kesatuan bangsa dan kebebasan, seperti sebuah pekerjaan yang mendorong partisipasi orang Karo Kristen untuk ikut ambil bagian, dengan kesetiaan kepada bangsa yang baru dan untuk mewujudnyatakan sebuah bangsa yang ideal. Sepanjang revolusi sosial tahun 1946, sebagian orang Karo Kristen menderita. Pdt. Pasaribu dan Guru Agama Simatupang ditangkap oleh orang lain di Lingga dan dibunuh oleh anggota-anggota dari Barisan Harimau Liar, yang sepanjang tahun 1946 melakukan pesta pembantaian di Tanah Karo. Pa Rita Tarigan juga dibunuh oleh orang tak dikenal di Kabanjahe karena diduga bersekutu dengan

Belanda. Banyak orang Kristen yang lain juga mengalami penderitaan kekerasan karena diduga mendukung rezim kolonial. Ketika tentara Belanda memasuki dataran tinggi Karo pada bulan Juli dan Agustus 1947, semasa konflik pertama, pemimpin GBKP menolak untuk mengakui kebenaran campur tangan kolonial dan menolak ijin kepada seorang militer Belanda berkhotbah di GBKP, walaupun ia adalah seorang mantan misionari dan fasih berbahasa Karo. Ketika sinode membuat keputusan formal, pemimpin gereja itu dan jemaat-jemaat Kristen mengambil posisi yang pro-republik, berdoa pada hari Minggu untuk perjuangan republik, di mana banyak anggota gereja yang juga secara aktif termasuk di dalamnya. Sepertinya, gambaran pro-kolonial gereja menjadi ancaman bagi beberapa anggotanya dalam memperjuangkan kebebasan republik. Begitulah seterusnya, untuk menjaga keamanannya, maka gereja turut berperan dalam perjuangan bangsa, sehingga ia tidak dipandang sebagai bagian dari pendukung kolonial. Masuknya GBKP (sebagai salah satu gereja wilayah) ke dalam struktural, bukan untuk mengusahakan Perda-Perda Kristiani, tapi untuk mengusahakan masyarakat yang berlandaskan kebenaran dan keadilan. Sungguh tantangan yang sangat menarik untuk didiskusikan. GBKP dituntut menjadi saksi, menjadi garam dan terang, bagi Pemda Kabupaten Karo (lebih jauh lagi, PGI dengan Pemerintah Indonesia). Caranya ? Jelas harus adanya kesinambungan komunikasi yang baik dan sejajar. Satu-satunya cara, GBKP harus masuk ke dalam struktural sistem politik Indonesia. Tapi bagaimana ? Mungkin hanya Tuhan yang tahu. GBKP Dan Politik Filed under: Seminar — mamatepu at 7:38 pm on Thursday, December 18, 2008 PENDAHULUAN Masalah mendasar hubungan GBKP dan pemerintah saat ini adalah tidak adanya komunikasi. Baik dalam pembangunan fisik dan moral masyarakat. Belajar dari sejarah bahwa Gereja dan Pemerintah selalu merasa lebih berkepentingan untuk di dengar. Ada kalanya, Gereja merasa di atas Pemerintah dan juga sebaliknya, Pemerintah merasa Gereja berada dalam kekuasaannya (Band. Tugas dan panggilan Jemaah terhadap lingkungannya, Hasil-hasil KGM mengenai hukum dan politik, hal. 150). Dalam hubungannya dengan kehidupan bermasyarakat, terasa adanya kebingungan sebagian warga jemaat dalam menampakkan hidup kristiani tapi juga harus memelihara berbagai norma pemerintah. Di berbagai tempat ada kecenderungan perasaan saling curiga, antara pejabat gerejawi dengan pemerintahan setempat. Selain itu di beberapa tempat, masih ada Majelis Gereja yang berorientasi pada pembangunan, merasakan sangat kurang dana yang diperuntukkan kegiatan pembinaan, sementara sumber dana kemasyarakatan dari pemerintah tidak bisa disentuh sama sekali (Band. Pernyataan Keputusan Rapat Kerja PGI Sumut, Medan 3-8 Juli 2007). Disharmoni tersebut, bukan timbul dengan sendirinya, namun karena Gereja dan Pemerintah seperti bekerja di dua aspek yang sepertinya sama, namun tidak sejalan beriringan. Bersama bekerja bukan bekerja sama. GBKP DAN PEMERINTAH Dalam sejarahnya, GBKP sebagai salah satu perintis pembangunan Tanah Karo, cukup banyak menyumbang modernisasi bagi masyarakat. Pendirianpendirian lembaga pendidikan (Sekolah-sekolah), lembaga kesehatan (Rumah sakit dan balai pengobatan), lembaga kemasyarakatan (sistem koperasi dan perekonomian), komunikasi dan transportasi (pasar, perhubungan jalan darat) dan pertanian dan lain-lain adalah sebagian contoh saja. Namun GBKP, yang hanya sebagai salah satu motor penggerak dinamika masyarakat, tidak dapat bergerak sendirian. Di dalamnya, GBKP masih harus bekerja sama dengan lembaga-lembaga lainnya, seperti Gereja lainnya, Umat beragama lain dan terutama pemerintah.

Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) sendiri berkembang dari ajaran Calvinis yang menganut presbiterial sinodal. Artinya dalam menentukan arah gereja diputuskan oleh suara jemaat melalui sidang-sidang. Sistem ini diadopsi langsung dari pemikiran John Calvin, melalui buku Institutio yang ditulis semasa reformasi gereja di Eropa. Untuk melayani para pedagang dan pelayar Eropa pada abad XVII, gereja-gereja di Belanda mengirim pendeta ke Asia terutama di daerah-daerah koloni. Kemudian berkembang untuk menjangkau kaum turunan Belanda dan pribumi, serta akhirnya melahirkan gereja-gereja lokal (Lihat Ragi Cerita I, Orang Barat datang ke Indonesia). Masuk akal pada masa itu, untuk menginjili masyarakat lokal mereka harus terlebih dahulu mempelajari bahasa dan budaya lokal. Seperti halnya dilakukan H.C. Kruyt yang datang ke dataran tinggi Karo tahun 1890. Hal yang sama dilakukan kolega-koleganya dari Netherlands Zendeling Geenoschap di Tanah Karo, seperti: M. Joustra, J.K. Wijngaarden, J.H. Neumann, E.J van den Berg, dan seterusnya. Mereka mempelajari budaya lokal, yaitu budaya Karo. Cara itu merupakan metode yang kontekstual pada saat itu, supaya mereka dapat ber-PI. Sekalipun demikian lebih dua tahun kemudian baru ada 6 orang Karo yang menjadi Kristen. (Lihat Bunga Rampai Sejarah GBKP I, Dekade perintisan hingga pembinaan) Artinya, GBKP pada awalnya sungguh-sungguh berorientasi pada pembangunan modernisasi masyarakat luas. Untuk saat ini, programprogram GBKP, lebih banyak berorientasi pada Pembinaan Jemaatnya. GBKP sudah kurang mencermati pembangunan pendidikan (ada beberapa program, tapi belum menyentuh pendidikan dasar masyarakat), kesehatan (sering juga diperbincangkan belakangan ini, tapi hanya mengulang-ulang program dulu) dan yang terutama pertanian (masih dalam wacana diskusi, hingga akhir 2008 ini, belum menyentuh hakikat pertanian itu sendiri). Hal ini dapat dimaklumi, sebab banyaknya pemikir (konseptor) yang tidak ditindaklanjuti, kurangnya dana (???) dan kurangnya ahli yang berpengalaman dalam pelayanan (tulus) serupa ini. Pemerintah di lain sisi, dengan perkembangan terbaru akibat terjadinya reformasi di segala sisi, masih mencari bentuknya sendiri. Pemerintahan mencari-cari dan berusaha menyesuaikan diri dengan sistemnya yang sebagian besar baru (Lihat E. G. Singgih, Iman & Politik dalam era reformasi, Pemberdayaan wacana generasi muda Kristen guna meningkatkan pelayanan masyarakat dalam era reformasi di Indonesia, hal 41-42). Jadi, GBKP lebih memikirkan perkembangan jemaatnya, dan pemerintah masih menyesuaikan diri dengan sistem yang baru. Masyarakat luas hanya bisa menunggu. BEBERAPA KENDALA Ada pendapat umum mengatakan bahwa yang terpilih menjadi pendeta merupakan “ping-pingna” atau menjadi pendeta merupakan pilihan terakhir. Dalam pengamatan penulis, sejak dulu, jabatan pendeta memang kurang menarik bagi jemaat GBKP. Semua merasakan profesi pendeta yang mulia. Tapi berapa banyak yang anaknya sungguh-sungguh diarahkan menjadi pendeta ? Akibatnya, SDM dalam GBKP bukan nomor 2, tapi tidak optimal, apalagi maksimal. Sudah saatnya diberi penekanan pada “service intelligence quality”. Seumpama sebuah partai/golongan, untuk menarik peminat, diperlukan program-program partai yang menyentuh kebutuhan masyarakat, figur-figur partai yang berkharisma dan mampu memberikan solusi di masa sulit. Bila tidak, Partai ini akan ditinggalkan pendukungnya yang kebanyakan orang Karo. Seorang Pendeta, tidak hanya mampu berbicara mengenai Kerajaan Surga dan keselamatan, tapi juga mengenai krisis ekonomi dan penanggulangannya. Tidak hanya mampu berbicara mengenai dosa dan kematian, tapi juga mengenai hukum pidana dan perdata. Tidak hanya mampu berbicara mengenai baptisan dan Roh kudus, tapi juga mengenai wabah Jeruk, pupuk Kol dan sistem finansial keluarga yang baik. Dan tidak hanya mampu berbicara mengenai kolekte dan berkat, tapi juga mengenai peluang-peluang tenaga kerja yang menguntungkan. GBKP perlu

menyekolahkan pendetanya yang mampu dan berkualitas, ke bidang-bidang hukum, pertanian, ekonomi, teknik dan lain-lainnya. Itu satu pemikiran yang baik. Namun, untuk sekarang ini, pemikiran tersebut masih merupakan angan-angan Pa Cendol menunggu hujan reda. Jadi bagaimana ? Sambil tetap mengusahakan hal tersebut di atas, GBKP perlu bekerja sama dengan motor penggerak lainnya, dalam hal ini Pemerintah. Tidak sedikit peluang pembangunan masyarakat, yang dimiliki kedua motor tersebut, antara lain, Pemerintah memiliki APBD dan staf ahlinya, GBKP memiliki masyarakat dan penggeraknya (Pendeta). Pemerintah memiliki Dana Bantuan Pembangunan dan aparat hukumnya, GBKP memiliki ruang gerak dan ruang wilayah. Mengapa tidak disatukan ? Momentum ini, GBKP masih memiliki masyarakat dan Pemerintah memiliki Sumber Daya, yang dijadikan satu kekuatan, hanya dapat dijalankan jika, dan hanya jika, di antara keduanya Pemerintah dan Pendeta memiliki komunikasi yang baik. Artinya, GBKP (Moderamen, Klasis dan Runggun) memiliki hubungan yang berstruktur dengan Pemerintah (Baik PemDa Kab, Camat dan Kepala Kampung/Desa). Ideal ya ? Anggota Moderamen menjadi Ketua DPRD (Why not ?). Setara dan saling membangun. Hanya saja, rentan juga terjadi kolusi di dalamnya. Tapi itulah yang perlu diusahakan, GBKP mengarahkan kependidikan kependetaannya memiliki intelektual setinggi langit dan motivasi pelayanan sedalam lautan. Penulis teringat kata-kata Yesus, Matius 10:16, Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Tidak berhenti di situ, tapi lihat ayat selanjutnya, Matius 10:17, Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Matius 10:18, Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasapenguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah. Jadi, di dalamnya ada mengusahakan kolusi. misi : “menjadi kesaksian”. Bukan untuk

BAB IV WARI-WARI KARO
GUNA WARI SI 30 1. ADITIA : Wari Medalit, wari mehuli, metenget kerna erkaipe, mehuli menai pendahin. 2. SUMA : Wari piangko, wari sidua nahe, wari kurang ulina, adi motong manuk lantabeh adi lit kematen ibas wari e, perlu ibahan ngarkari. 3. NGGARA :

Wari Melas (wari merawa), wari erperang, sinerang menang, sitandangi la tahan, mehuli erbahan tambar, ngarkari, ngulak, erburu, ngerabi juma, metenget api. 4. BUDAHA : Wari si empat nahe, wari page mbuah, mehuli nuan-nuan, mehuli erbahan kerja. La mehuli erdaya si empat nahe, mena nuan, mena mutik, muat page ku keben. 5. BERASPATI : Wari medalit, wari mehuli, metenget kerna kai pe, kerja simehuli mehuli krina, mulai erbinaga, ndarami dahin, majek rumah, mengket rumah, muka usaha, ergendang. 6.CUKERA 6 BERNGI: Wari pembukui, wari salang sai, mehuli berkat erlajang, ndarami pendahin, kerja erkata gendang mehuli, mulai erbinaga, mengket rumah, ndahi simbelin, ngelamar. 7. BELAH NAIK: Wari pengguntur, wari Raja, wari erdaulat, mehuli erbahan kerja mbelin (gendang), mehuli njumpai simbelin, ngelamar kerja, muka usaha, mulai nanggerken gula, erpangir enggo seh sura-sura, berkat erdahin ndauh, kerina kerja-kerja mehuli. 8.ADITIA NAIK: Wari mehuli, kerja-kerja kitik tah mbelin kerina mehuli, wari salang sai, mulai wari-wari e arih-arih kerina tembe, mehuli mengket rumah mbaru, nampeken tulan-tulan, merenaken man orang tua, ngosei orang tua, erbahan tambat, ngelegi pengambat. 9.SUMANA SIWAH : Wari kurang ulina, dahin kai saja pe perlu metenget, wari pinangko, kerjakerja banci ibahan, simehuli erburu, ngawil, niding, jaga pintun rumah. 10.NGGARA SEPULUH : Wari melas, wari merawa, murah rubat, murah mambur dareh, awas api, mehuli erbahan tambar, ngarkari, erpangir silamsam, ngalakken pinakit, nampeken tulan-tulan, kalak sireh mehuli, kalak simantandangen latahan, nerang menang, ertahan talu. 11. BUDAHA NGADEP: Wari salangsai, kerina mehuli erbahan kerja mbelin ras kitik, erkata gendang, guro-guro aron, kerja mbelin, erpangir kulau, nampeken rejeki, panggil semangat, ertoto man Dibata, mere babah, nampeken upah tendi, mola-mola, mere babah. 12. BERAS PATI TANGKEP : Wari mehuli, mulai erpangir kulau, erpangir nguras, mere penjaga rumah/pagar jabu, mereken upah tendi, ndilo tendi, nampeken tendi, penaik erjeki, nuan galuh lape-lape tendi, erpangir nguras, mengket rumah, ndahi kalinbubu, kerja mbelin. 13. CUKARA DUDU CUKERA LAU: Wari erpangir kulau, buang sial, buang kengalen, nampaiken rejeki, ertambul, engkicik tendi, erjinujung erpangir kulau, erbahan tambar, erpangir enggo seh sura-sura, mola-moal begu jabu, mulai erbinaga, mulai kujuma, nungkuni. 14. BELAH PURNAMA RAYA: Wari raja, rayat erkerja banci latahan, wari kerja kalk erjabatan, guru penggual, pandai, tukang, raja, kalak bayak rsd.Kerja- kerja mbelin, kerja tahun, muncang kuta, guro-guro aron, rerpangir nguras, mereken nakan man

orang tua, ngelegi besi mersik man kalimbubu, caburken bulung, mindo pengambat, tupuk. 15. TULA : Wari sial, mekisat kalak erbahan kerja ibas wari tula, adi lit anak tubuh banci nunda kubapana ras nandena, emak ibahan kalak ibahbahi alu bulung simalem-malem, kerja simehuli nuan tualah, ngerabi juma. 16. SUMA CEPIK: Wari kurang mehulina, adi lit urak bilangen ibas wari e ibahan bulung simalem-malem, kerja simehuli, niding, ngawil, erburu, ngerabi juma, ndurui. 17. NGGARA ENGGO TULA: Wari merawa, wari melas, awas api, mekisat kalak mambur dareh, metenget ngerana man ise pe, simehuli erbahan tambar, ngulaken pinakit, ngarkari nipi gulut/selamsam, wari perperangen, sinerang menang, ertahan talu, kekurangen.. 18. BUDAHA GOK: Wari page mbuah, mulai nuan, mulai mutik, mulai muat page kukeben, kerina nuan-nuan kujuma,mehuli nukur asuhen siempat nahe, erdaya kurang ulina, kerja-kerja pe mehuli. 19. BERAS PATI SEPULUH SIWAH (19): Mulai menaken dahin, ngerabi, mulai aron kujuma, erbahan lipo manuk, pesikap parik, pesikap tapak rumah. 20. CUKERA SIDUA PULUH : Mehuli erbahan tambar, erpangir kulau, erpangir silamsam, buang kengalen, ndilo tendi, nampeken/ngurkuri tulan-tulan simate, berkat lajang, ndarami dahin perkuta-kutaken, ngeranaken kai pe muat simehuli. 21.BELAH TURUN : Mehuli erbahan tambar, buang sial kulau malir, erpangir silamsam, ngekawil, niding, ngaci, ngerabi juma,wari pesalangken. 22.ADITIA TURUN : Mehuli erbahan tangkal pinakit,tambar-tambar penjaga diri, ngulakken pinakit, erbahan sambar/pengganti diri, erbahan tawar. 23. SUMANA MATE : Wari munuh, mehuli munuhi tambar, metenget rubati murah sipaten,ndungi perarihen, ndungi tambar, ngulakken pinakit, eburu kekurangen ngkawil, ngaci. 24. NGGARA SIMBELIN : Mehuli erbahan tambar, buang sial, erpangir pinakit erden-den, ndaramii pemeteh, erbahan tangkal penjaga badan, tangkal juma, erperang, wari melas, wari merawa, erburu kekurangen, kulawit muat binurung. 25. BUDAHA MEDEM : Wari simalem-malem, mehuli erbahan runggun, lamurah pesimbak sora, berkat erlajang, erdalan ndauh, kekurangen lit siman buaten, mere page, mutik page menaken ranan/nungkuni ngena ate, maba nangkih diberu , erbahn tambar. 26. BERAS PATI MEDEM : Wari damai, mehuli osei man orangtua, mereken nakan, mereken ciken, ngaluni/nambari pinakit mulajadi, nungkuni anak kalimbubu, nukur barang rsd. 27. CUKERA MATE : Mehuli kerja ngulaken pinakit, munuhi tambar, ngerabi kujuma, buang sial, lamehuli pajentik ras anak/ndehara, lamehuli lawes la erturin/la ertujun, wari

e ngerim-rim setan, perlu metenget, labanci rubat. 28. MATE BULAN : Wari bicuk, kurang ulina erbahan kerja-kerja, jandi pe murah mobar, murah la siteken, kurang ulina berkat adi la pentingkal, kecuali terpaksa kal, erdahin banci,erbahan sapo, erbahan pengkalaki, erbhan lumbung wili, niding, erbahan kerja saber lebe. 29. DALAN BULAN: Endek-endek bulan, sabar lebe erbahan kerja-kerja, terlebih kerja erpudun, dahin-dahin biasa saja mehuli, erbahan tambar pe kisat kalak. 30. SAMISARA : Wari pendungi, mehuli nutup kerja, ndungi runggun, numbuki gegeh aron, mulung tambar, nutup pertambaran/pertapaan, numbuki pola, wari pesalangken, mekisat kalak erbahan kerja-kerja simehuli. Menurut kata orang tua siadi, adi tengteng warina, cocok ketikana, nitik wari si 30 lameleset, ketika sipinang rambai, ras menurut Pustaka Najati, adi tiktik wari eteh kapal tombang itengah laut. Adi lit kalak lawes i rumah nari, eteh kuja per lawesna, adi nambari eteh gerek-gerekenna, banci lampas malem tah lang, banci malem tah lang.

KETIKA ketiken kalak Karo Ibas nini-nininta nari, sinoria pe enggo meteh ketika, ras guna-guna wari Karo. Sope denga reh bangsa sideban, kalak Karo nggo lit ngiani Taneh Karo. Menurut bangsa Belanda, tahun 1200 kalak Karo enggo ngiani Taneh Karo. Menurut sinoria, adi ia berkat kujapa pe nehen lebe warina, nehen ketikana kai pe lalit alangen nina wari-wari emaka berkat. Ibas kalak Karo enda, lit ketika nininta nai tehna nge ngenehen bintang I langit, bintang merdang, bintang nuan, bintang sayep rsd. Ibas se e kerina pang ia I uji. Banci datca bunin-bunin. Tehna anak-anak sape tubuh dilaki tah diberu. Beluh ia ndarami kalak lawes, bancipe idilona anem ijapape kalk lawes e, mesti mulih ku rumah.

BAB V TAMBAR-TAMBAR KARO
Tambar-tambar Karo ndauh sope reh penjajah Belanda enggo lit. Tambartambar enda asalna erbage-bage sumber.Adi sinehen sumber-sumber tambar Karo enda, situhuna piga-piga kita kalak Karo lit hubungenna ras Dibata secara langsung. Lit ka perantara keramat-keramat, Lit ka perantara nabi-nabi rsd. Enda pertanda kalak Karo labo lebih kitik asa suku-suku sideban. Kalak Karo melala kelebihenna, melala ilmu-ilmuna, pemetehna, cara-carana, ras akalna. Lit nge tambar-tambar Karo reh sendiri ibas Dibata nari. Ia reh arah ilham, reh arah nipi, em isuratken ibas lak-lak kayu, gelarna PUSTAKA. Pustaka laklak kayu enda mbue erbagena. Asa paksa sigenduari pe lit denga. Pustaka lak-lak kayu e ibas piga-piga kalak Karo si terkenal em Pustaka NAJATI. Pustaka NAJATI enda seh kal jilena, mehulika. Tik-tik pustaka e, ieteh tombang kapal ilawit. Arah pustaka enda melala erlajar guru-guru kalak Karo. Tuhu kata pustaka e, maka melala ipake kalak sebab seh jilena. Isi Pustaka Najati e lengkap emkap : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Sungkun berita. Tambar-tambar. Mang-mang. Niktik wari desa si waluh. Guna wari Karo. Ngenehen nasib rasa tuah rejeki, baban nggeluh rsd.

Pustaka Najati Ibaba Belanda ku Megerina. Asum Belanda I taneh Karo njajah, ipepulungna kerina kalak sipintar, guruguru, sibayak-sibayak, penghulu rsd. Ipindo Belanda buku pustaka e, nina mari ku cetak alu mehuli gelah mejile. Pustaka jali enggo negeri Belanda gantina alu Pustaka Sibadia. Genduari Pustaka Najati I negeri Belanda. Sumber Tambar-tambar Karo. Arah nini-nini nari. Arah buku pustaka lak-lak kayu Arah nipi. Arah ilham, orang halus, keramat, jinujung, begu jabu, nini pagar rsd. Lit arah suku ras bangsa sideban, misalna arah agama Islam, arah suku Toba, arah suku Cina, suku India atau agama Hindu. Ras sumber-sumber sideban. Melala kalak sakit totoken man begu jabu, mis malem. Deba begu jabu ngataken tambarna ipepulung, tambarken, pinaket e. Guna Tambar-tambar Karo. Suku Karo itandai kalak ras bangsa luas em salah sada alu tambar Karo. Tambar Karo em sada masuk budaya sibanci ngangkat suku ras gelar Karo ku permukaan. Guru Patimpus Sembiring Pelawi em pendiri kota Medan, nambar-nambar pinakit mesinting melala pinakit madan. Guru Patimpus simeteh tambar. Timpusna tambar-tambar piah ia pe igelari guru Patimpus. Pinakit Sitambari Kalak Karo. 1.Patah tulang, pertawar penggel. 2.Tambar batu karang. 3.Tawar sembelit.

4.Tambar pinakit mulajadi. 5.Tambar aji (kelangker). 6.Tambar pustab, (Rematik) 7.Tambar beltek (maagh) 8.Tambar sakit gula. 9.Tambar pusuhen (sakit jantung). 10.Tambar-tambar sideban. Pinakit kai pe banci iperiksa ras itambari ibas Karo nari. Tengguli ras Dadih. Adi ia kin guru penawar, ia arus suci jiwana, suci ukurna bersih, perbahenna bersih, ibas tanna sikawes dadih. Jarina, lambarna e campur dadih, entebu melam kerina simehuli. Enda maka enggo tambar ngenca ibaba guru penawar e, labanci ibaba tawar ras bisa merawa Dibata. Guru Belin. Adi guru belin lit isina, em tanggapan kalak sinoria, ibas kata-katana nina : Lit bisa, Lit nge tawar. Ibas guru belin e, lit kai pe, lit bisa-bisa, lit pupuk tawar, lit tongkat malaikat, tongkat penalian, lit sikat, lit sarana, lit pengentasan, lit dewal-dewal, lit begu-beguna, lit buku lak-lak kayu (pustaka). Beluh ia ngarkari, beluh ngulak, beluh ia ersilihi, beluh ia erbahan tawar, tapi beluh ka ia nasak bisa-bisa, nasak racun, nasak ipuh, nasak sibiangsa, nasak pupuk sangga bunuh. Tehna gelar bulung-bulung tawar, tehna gelar bulung-bulung si erbisa, lit ibas ia tawar ras bisa.Guru belin enda genduari lanai mehuli, adi ipakaina kin tawar ras bisa. Genduari guru sibagenda lanai zamanna. Enda sinai ngenca lako. Guru Penawar. Mesera muat guru penawar ibabo doni enda. Sebab guru penawar, em kalak si enggo ipilih Dibata. Ia dahinna bagi Nabi ras Rasul.Ibas ia lit erbagai-bagai tawar. Guru Penawar la perlu ngarak-ngarak harta doni. Ia enggo lit suraten tubuhna, ia i doni enda nampati manusia sisakit, siausah, simesera, simesui tah kalak suin. Erbagai-bagai Guru. Guru lit erbagai-bagai, lit guru Namura, lit guru Belin lit guru Penawar, lit Guru Pengarkari, lit Guru Ngulak, Guru Ersilihi, Guru Singoge wari si telu puluh (30), Guru Siniktik Wari, Guru Sungkun Berita, Guru Pedewal-dewal, Guru dua lapis pengenen matana, guru lit penggejapenna, guru singoge gerek-gereken, lit guru simeteh benda-benda sakti, umpana batu cincin, piso, tongkat malaikat. Tongkat penaluan cincin siadi, benda-benda gaib, rsd. Lit guru sibaso, dahinna perumah begu, kikuta kalak. Kerina guru enda termasuk sierjabat-jabaten. Pemeteh guru e lit dalanna erbage-bage em kap : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Arah iguruken: Keturunen nini-nini nari: Arah nipi: Ilham: Ibas keramat nari : rsd.

Suraten tubuh/Padan sindube. Melala guru labo sura-surana jadi guru, tapi ia sakit, ertambar ku dokter la malem-malem. Enggo puas ertambar la malem pinakit. Duit enggo keri, harta lanai lit, kade-kade enggo bosan, lanai diate kalak adi ndekahsa sakit.Turah nipina, reh penggejapenna, begina sora, bengket kupusuhna. Buat bulung besi-besi sangke sempilet, bulung lelesi, laklak ndarasi, kerin renjom, launa inem, ibahanna bage, mis tergejap, malem pinakitna. Ngenehen kelek pinakitna, nungkun kalak ija ia ertambar. Katakenna arah nipi, begina sora ibahanna tambarna, malem kerina pinakitna. Dungna ia

nambari kalak piah pe jadi guru penawar. Endam adi enggo suraten tubuh. Beda Tabib ras Dukun. Pendapat sienterem, tabib ras dukun seri.Lain tabib, lain dukun. (Guru penawar) : Tabib nambari pakai pulungen (ramuan). Lit ibahanna tambar guna kalak sakit spesial sada kalak. Lit ka ibahanna tambar banci guna sienterem (obat jadi) siap pakai. Tabib membuat pil (kuning) jamu (tawar) minyak urat, minyak gelanggang, dll. Tabib banci mbuka Balai Pengobatan (rumah obat) jadi gorosen tambar. Tabib em guru Dokter, makai pulung-pulungen, gelar bulung-bulung ras uraturat, ras erbagai pulungen bagepe untuk tambar, beluh ia. Tabib (guru penawar) sini andalkenna em gegeh ramuan tambar-tambar e, guna pepalemken pinakit. Tabib (guru penawar) ipelajarina ilmu anatomi. Ilmu tulang-tulang, urat, dalim dareh. Perkesah timbarna. Lit ka ia tabib, ia ka dukun. Dwi fungsi ia nambari. Pengertian dukun ialah: Sini ikataken dukun em kap kalak si lit pemetehna nambari tah pe lit kelebihenna asa kalak biasa. Dukun em guru sierpemeteh ningen ia banci nambari erbagai-bagai pinakit alu singkibul rimi mungkur, tah pe alu sembur belo saja. Dukun banci nambari secara gaib, kalak sakit ipen, karat lipan, nambari kalak sakit banci jarak jauh.Tapi erbahan kalak sakit pe beloh ka. Dukun melala nabas tah kataken tabas-tabas. Beluhka ia erbahan ajimat, tangkal, janah tehna barang-barang siertuah, beluh ia ngenen retak tubuh, nasib, tuah, rejeki, kai dirulahi adi lit kin pinakit.Dukun seri ras guru timur, tehna Yesus tubuh. Dukun menguasai pawang perkara pawang, misalna, pawang beraga, pawang lebas, nipe, arimo, gajah, pawang udan rsd.

TABAS-TABAS Tabas-tabas ibas kalak Karo melala sumberna emekap: Islam nari, Cina nari, India nari, ras sidebanna. Bismillah Islam nari, Hong nina mirip bahasa Cina, ras sidebanna. Sini tambari Karo malem, emekap: Sakit batu karang.; Sakit beltek (magg); Sakit mulajadi (sawan); Alum-alum (kanker ganas); Tumor/bareh ; Sakit gadam ; Tawar gadam ; Sakit syaraf (gila) ; Kena setan-setan ; Luka bakar/kena api ; Luka kena piso ; Gigit ular berbisa ; TERAKA Teraka (tato) adalah suatu seni untuk merajah diri dengan gambar-gambar yang kita sukai. Gambar atau rajahan yang terjadi meresap kedalam kulit, tidak luntur dan sukar untuk dihilangkan. Teraka (Tato) sudah mempunyai sejarah amat panjang, sebab 2000 tahun sebelum masehi seni merajah diri ini sudah dikenal.

Tato berasal dari bahasa Tahiti, yaitu: Tatu, yang diketemukan oleh ekspedisi James Cook pada tahun 1969. Pada waktu itu sudah ada kebiasaan merajah diri pada masyarakat polinesia. Pada masyarakat Indonesia, Tato ini sudah lama pula dikenal, seperti kebiasaan yang terdapat pada masyarakat Mentawai di Sumatera dan Dayak Kalimantan. Di kalangan masyarakat Karo juga terdapat kebiasaan merajah diri ini, terutama pada kam wanitanya. Pembuatan teraka (Tato) pada suku ini berhubungan dengan religi setempat. Ada kepercayaan bahwa wanita yang sedang hamil, atau sedang, atau baru melahirkan, mudah sekali di serang oleh setan yang disebut dengan “Sedang Bela”. Apabila seseorang diserang Sedang Bela, maka ia akan semaput, kemudian meninggal atau gila. Untuk menghindari serangan Sedang Bela ini, maka dibuatlah penangkalnya yaitu teraka (rajahan) tertentu pada diri orang tersebut. Gambar itu sudah tertentu, yang dikenal dengan nama : Teraka Sipitu-pitu. TUJUAN MEMBUAT TERAKA (TATO) Adapun tujuan dari pembuatan teraka (rajah) ini, seperti dikatakan oleh: dr.I Gusti Putu Panteri, Kepala Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa UNUD (kompas 25-71983), sebagai berikut: Untuk mendapat kekuatan magis ; Memperindah diri ; Menarik lawan jenis ;

Mengobati /menyembuhkan penyakit tertentu. Adapun pemakaian teraka pada suku Karo berhubungan dengan masalah religi (kepercayaan), karena teraka itu diyakini dapat menolak atau menangkal serangan. Sedang Bela atau setan, pada saat –saat sedang melampaui masa-masa kritis.Seperti telah diuraika, bahwa orang yang mudah diserang Sedang Bela ini, adalah perempuan yang sedang hamil, perempuan yang sedang melahirkan, perempuan yang baru melahirkan, dan anak yang baru lahir. Sedang Bela mahluk halus yang selalu berpindah-pindah tempatnya, untuk mengintai korbannya. Demikianlah Sedang Bela bertempat tinggal di hilir pemandian (jahen tapin), simpangan jalan (serpang), dapur (dapur) dan menyembul pada kirai tempat tidur (menggep-menggep bas kire-kire). Adapun cara Sedang Bela ini menyerang manusia, dapat melalui beberapa cara; antara lain: karena terkejut (sengget), melihat (pengidah) melalui mata dan kemungkinan mati, kalau tidak diobati. Pembuatan teraka Pembuatan teraka pada umumnya diwariskan secara turun temurun, dari generasi ke generasi berikutnya dikalangan wanita Karo.Teraka ini sudah dibuat pada diri seseorang ketika ia masih gadis. Untuk membuat terka ini dipergunakanlah : patron, yang dibuat dari rumputan; kemudian sebagai alat gambarnya dapat dipergunakan getah limus atau tahi pantat kuali yang dicampur dengan minyak tanah lalu ditisukan kedalam kulit.

BAB VI SISTEM PERKAWINAN PADA MASYARAKAT KARO
A. Cara perkawinan 1. Exogami Ini dianut oleh marga Ginting, Karo-Karo, dan Tarigan. 2. Eleutrogamie Terbatas Ini dianut oleh marga Perangin-angin dan Sembiring. Letak keterbatasannya adalah eleutrogamie itu hanya dapat diadakan diantara sub merga, bukan antara individu di dalam suatu merga trsebut. B. Jenis-jenis Perkawinan 1. Berdasarkan jauh dekatnya hubungan kekeluargaan : a. Erdemu bayu (perkawinan dengan impal); b.Petuturken (perkawinan bukan dengan impal tetapi arus); c. La arus/sumbang (perkawinan yang menurut adat sumbang, seperti mengawini turang impal). Untik itu terlebih dahulu diadakan upacara “Nabei” d.Merkat Sinuan (Mengawini putri Puang Kalimbubu) 2. Berdasarkan Keadaan Sekawinan : 1) Mindo nakan (Lakoman kepada isteri saudara ayah); 2) Mindo Cina (Lakoman kepada isteri kakek) 3) Ciken (Lakoman yang sebelumnya telah diperjanjikan terlebih dahulu, karena si wanita kawin dengan pria yang sudah tua) 4) Iyaken (Lakoman kepada suaminya yang masih hidup, ini menurut cerita yang terjadi pada merga sebayang dengan Pincawan dan Merga Kembaren antara Sijagat dengan Penghulu Parti di Gunung Meriah).Ini terjadi karena penghulu Pincawan dan penghulu parti mempunyai dua orang isteri dan salah satu diantaranya (beru Perangin-angin) tidak mempunyai keturunan, sementara Lambing (Sebayang) dan sijagat Kembaren tidak mempunyai isteri. 3. Berdasarkan kesungguhan perkawinan : a. Kawin sesungguhnya ; b.Kawin Cabur Bulong (Tarohken persadaan man);

C. Proses perkawinan : 1.Karena pacaran (arih simedanan); 2.Kehendak orangtua (sungkuni); D. Nangkih 1.Diberu baba nangkih (petuturken) 2.Dilaki ku rumah kalimbubu (Erdemu bayu) E. Maba Belo Selambar Adalah upacara meminang seorang gadis menurut tata cara adat karo, adapun isi runggun pada waktu itu adalah : 1. Persentabin (Kampil penjujuri); 2. Nungkun kata kalimbubu (acara pinangan), erdalan kampil pengarihi/pengorati; 3. Singet-singet Gantang Tumba/Unjuken ; 4. Kerna kerja ; 5. Sijalapen ; 6. Pedalan pudun dan penindih pudun. F. Nganting Manok. Adapun acara dalam Nganting Manok adalah : 1. Pedalin Kampil Penjujuri (persentabin) ; 2. Gantang Tumba/Unjuken ; 3. Acara Pesta (kerja) ; 4. Ose sierjabu, orang tua dan sembuyak; 5. Pada waktu makan : a. Erdalan nakan baluten (adat 5 buah) ; b. Erdalan luah cimpa gulame/rires ; c. Gulen manok i ciperai. 6. Sijalapen 7. Pedalan pudun. G. Kerja 1. Persiapan Pedalan Emas. - Tanyakan apakah ada perubahan pada Gantang Tumba/Unjuken : - Sijalapen ; - Alat-alat penyerahan uang jujuren (pinggan pasu, Lanam uis arinteneng, amak cur, beras meciho, deraham 2 buah, lada, belo berkis-berkisen, mbako, gamber, kapor) ; 2. Pedalan Emas Dahulu yang diserahkan melalui pinggan hanyalah simecur, sementara sisanya diserahkan langsung oleh Anak Beru si empo kepada Anak Beru si Nereh. Adapun si mecur terdiri dari : a. Bena Emas (Erdemu Bayu)/ Batang Unjuken (Petutorken); b. Ulu Emas c. Bere-bere d. Perkempun dan e. Perbibin Akan tetapi sekarang penyerahan Gantang Tumba/ Unjuken ini adakalanya sebagai berikut : Pertama a. Bena Emas/ Batang Unjuken + 1 buah dirham b. Ulu Emas + 1 buah dirham ; c. Rudang-rudang ; d. Senina ku ranan ; Kedua a. Bere-bere ; b. Perkempun ; c. Perbibin ; Ketiga Perkembaren (erdemu bayu) /Perseninan (Petutorken) / Sabe (ade ibaba

nangkih) Dahuku Gantang Tumba/ Unjuken ini sering disebut perkerbon atau ganti gigeh. Bentuknya dahulu adalah barang, apkah emas (perhiasan) atau pisau (barang Pusaka) dan tidak dibagikan, akan tetapi hanya ditujukan kepada yang hadir. 3. Acara landek/ Mereken Telah-telah. Dahulu yang memberikan telah-telah dari pihak perempuan hanyalah singalo bere-bere dan singalo bere-bere dan singalo perkempun, sementara dari pihak pria kalimbubu Singalo Ulu Emas. Akan tetapi semua (Sangkep Enggeloh) memberikan telah-telah. Adapun urutan menari dalam pesta perkawinan sentua adalah sebagai berikut : Gendang Sukut : a) Landek sukut, ngalo-ngalo Anak beru ; b) Landek sembuyak, ngalo-ngalo sukut ; c) Landek Senina/Sepemeren/Siparibanen/Sepengalon/Sendalanen, ngalongalo sukut. Gendang Kalimbubu : Landek Kalimbubu Singalo Bere-bere, Singalo perkempun Singalo perbibin (arah sinereh), sementara dari siempo disebut : landek Kalimbubu sitelu sada dalanen erkiteken Kalimbubu Singalo Ulu Emas, emekap Kalimbubu Singalo Ulu Emas, Singalo Perkempun ras Perbibin.Selesai menari dan memberikan telah-telah diikuti dengan memberikan luah. Gendang Anak Beru : Landek Anak Beru, atau boleh juga bersama Anak Beru Menteri dan Anak Beru Pemeren. Urutan menari ini boleh di pecah-pecah menurut urutan anak beru. F. Uang Jujuren Uang Jujuren dalam adat Karo disebut Gantang Tumba (Erdemu Bayu),Unjuken (Petutorken) dan Nungsang Galum (La arus/Sumbang). Adapun bentukmya adalah sebagai berikut : 1. Bena Emas / Batang Unjuken. 2. Gantang Tumba / Unjuken. 3. Rudang-rudang. 4. Senina ku ranan Aloken Kalimbubu terdiri dari : 1. Bere-bere ; 2. Perkempun ; 3. Perbibin ; Didaerah Kecamatan Payung adat terbagi dua, yakni 9 kampung mengikuti adat Kuta bBluh dan 11 kampung mengikuti adat Lingga. Bagi kampung yang mengikuti adat Lingga, disamping yang telah disebutkan di atas, juga ada : 1. Si rembah ku lau ; 2. Perninin ; Demikian juga di daerah Juhar, ada utang adat yang disebut : Ciken-ciken yang di serahkan kepada Binuang (Kalimbubu Bapa). Aloken Anak Beru, adalah : Perkembaren (Erdemu Bayu), perseninan (petuturken) dan sabe untuk perkawinan yang di awali dengan “ Nangkih”. G. Sijalapen Pada acara maba belo selambar, Nganting Manok dan pedalan Ulu Emas biasanya diadakan “Sijalapen” yakni menanyakan “Sangkep Enggeluh” dari masing-masing pihak, terdiri dari :

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Nama yang berkawin (pria/wanita) ; Simupus (yang melahirkan) ; Sipempoken / sinerehkenca (sembuyak) ; Senina ku ranan ; Anak Beru Tua ; Anak Beru Cekoh Baka Tutup ; Anak Beru Menteri (khusus pihak pria).

Dalam hal perkawinan, prof.Dr Payung Bangun BA, menulis dalam buku “Manusia Dan Kebudayaan Di Indonesia” tentang “Kebudayaan Batak”, sebagai berikut : Perkawinan pada orang Batak pada umumnya, merupakan suatu pranata, yang tidak hanya mengikat seorang laki-laki dengan seorang wanita, tetapi juga mengikat juga dalam suatu hubungan tertentu, kaum kerabat dari si laki-laki (“sipempoken”- dalam bahasa Karo, “peranak” dalam bahasa Toba) dengan kaum kerabat si wanita (“sinereh” dalam bahasa Karo, “parboru” dalam bahasa Toba). Karena itu, menurut adat kuno, seorang laki-laki tidak bebas dalam hal memilih jodohnya. Perkawinan yang dianggap ideal dalam masyarakat Batak adalah perkawinan antara orang-orang “rimpal” (marpariban dalam bahasa Toba) ialah antara seorang laki-laki dengan anak perempuan saudara laki-laki ibunya, dengan demikian maka seorang laki-laki Batak sangat pantang kawin dengan wanita marganya sendiri dan juga dengan anak perempuan dari saudara perempuan ayah. Pada zaman sekarang sudah banyak pemuda yang tidak lagi menuruti adat kuno ini. Dalam hal ini dipetik pula tulilsan DR.Henry Guntur Tarigan yang berjudul “Poligami dan Perceraian pada Masyarakat Karo” dimuat pada majalah “Dalihan Na Tolu” No.2 Tahun 1977. Ditulisnya antara lain : Poligami (seorang suami mempunyai isteri lebih dari seorang) dan perceraian pada prinsipnya tidak diingini oleh seluruh kerabat pada masyarakat Karo. Wanita manakah yang rela dimadu atau “erkidua”? Wanita manakah yang rela di cerai/ ditalak begitu saja? Apalagi orang tua beserta senina, anakberu dan Kalimbubu-nya. Mereka tidak akan rela hal itu terjadi. Dalam kesempatan ini, kita akan meninjau dan meneliti dalam hal-hal bagaimanakah poligami dan perceraian pada masyarakat Karo dapat diterima, dapat ditoleransi oleh seluruh kerabat, oleh adat kebiasaan ? Memang poligami dan pereceraian merupakan kejadian yang menyedihkan dan yang pahit dan getir, ibarat menelan duri campur empedu. Namun dalam beberapa hal, hal ini dijelaskan demi kepentingan seluruh kerabat dan kelangsungan keturunan: ibarat menelan pil kina yan pahit dan menyembuhkan penyakit demam yang mencekam. Perlu diketahui bahwa sepanjang pengetahuan penulis apa yang disebut poliandri (yaitu suatu bentuk perkawinan yang mengizinkan seorang isteri mempunyai lebih dari seorang suami) tidak terdapat pada masyarakat Karo. Kami kutipkan kembali tulisan DR.Henry Guntur Tarigan, berdasar rujukan yang sama, yang antara lain menulis sebagai berikut : Sebagai pemberi dara (Kalimbubu) kita akan dihormati, disegani oleh anak beru kita. Bila menghadapi suatu masalah, mengadakan pesta atau perjanjian berat lainnya, maka anak beru akan menyelesaikan semuanya dengan sebaik-baiknya. Berbahagialah suatu keluarga yang mempunyai anak beru yang bijaksana yang dapat memecahkan segala pekerjaan dengan sebaik-baiknya sehingga memuaskan segala pihak. Tentu sebaiknya begitu : sungguh sedih dan sial-lah kita, bila anak beru kita tidak dapat melakukan tugasnya dengan baik, apalagi sampai membuat hal-hal yang memalukan pula. Sebagai penerima dara atau anak beru, kita harus menghormati kalimbubu serta dapat menyelesaikan segala persoalan dan pekerjaan dengan sebaikbaiknya. Nama baik kalimbubu kita harus dijaga. Disini jelas betapa beratnya tugas kita sebagai anak beru. Demikianlah suatu keluarga selalu berada di

antara anak beru dan kalimbubu : disuatu pihak menjadi anak beru, di pihak lain menjadi kalimbubu, kalau kita mau dihormati, disegani oleh anak beru, maka kitapun harus mau menghormati mengangkat derajat kalimbubu kita. Kalau ternyata bahwa sang suami yang mandul, maka kalau tidak dicari jalan keluar tentu garis keturunan berdasarkan marga sang suami akan putus. Hal ini tentu tidak diingini. Orang tua-tua putus asa, jalan yang penuh duri harus ditempuh secara bijaksana, tabah dan rahasia. Orang tua-tua, biasanya wanita yang telah tua, mengambil inisiatif dalam hal ini. Sang isteri dari sang suami yang mandul itu di approachkan dengan baik, diberi penjelasan betapa pentingnya anak dalam satu keluarga untuk melangsungkan garis keturunan. Oleh karena itu, sang isteri dimohon dengan sangat agar dia mau mengadakan hubungan kelamin dengan salah seorang saudara suami. Memang hal ini sungguh sulit untuk dilaksanakan.Tetapi mengingat pentingnya garis keturunan dan garis marga, maka ada isteri yang mau (dan ada juga yang tidak mau), sebab adik suaminya toh sedarah dan semarga dengan suaminya. Tahap kedua adalah meng-approach salah seorang saudara suami, agar ia mau meniduri isteri saudaranya demi keselamamatan keluarga serta keturunan sauadaranya itu. Kalau dia rela melakukan hal itu, maka orang tua-tua menentukan waktunya dan tempat, yang telah diatur secara rapih dan rahasia, mengadakan hubungan kelamin itu. Dalam bahasa Karo seperti ini disebut dengan “ipetangkoken”, yaitu melakukan suatu pekerjaan secara mencuri-curi, secara diam-diam, secara rahasia, baik kepada sang isteri, maupun kepada saudara sang suami, diperingatkan benar-benar untuk menjaga rahasia ini sebaik-baiknya. Agar jangan ada orang lain dalam kerabat, lebih-lebih sang suami yang mandul itu yang mengetahuinya. Orang tua-tua yang mengatur beberapa lama kedunya harus tidur bersama. Biasanya kalau sang wanita telah hamil (atau dalam bahasa Karo disebut “mehulidagingna”), hubungan itu diputuskan. Anehnya setelah anak pertama lahir, anak kedua mungkin lahir pula atas hubungan suami isteri itu sendiri. Perlu dicatat, bahwa jalan yang telah kita utarakan diatas jarang sekali terjadi, dan kalau adapun yang menempuhnya, sulit sekali untuk mengetahuinya, karena memang benar-benar dirahasiakan oleh orang-orang yang bersangkutan, bagaimana halnya kalau sang isteri yang mandul ? Kalau segala usaha yang telah dijalankan untuk mengobati kemandulan sang isteri tidak berhasil, maka orang tua-tua (setelah berunding dengan “anak beru”,”senina” serta “kalimbubu” kalau perlu) memohon kesediaan sang isteri untuk mengizinkan sang suami untuk kawin lagi dengan wanita lain, supaya garis keturunan suaminya jangan sempat putus dan punah. Dalam hal inilah poligami dapat diizinkan dalam masyarakat Karo. Kemungkinan ketiga (sebagai penyebab tidak mendapat keturunan, yaitu baik suami maupun isteri yang mandul) tidak perlu kita perbincangkan dalam hal ini. Dari kutipan tersebut di atas, dapat kita menyadari pentingnya anak bagi masyarakat dengan sistem kekeluargaan patrilineal, apalagi anak laki-laki. Demikian kiranya dapat ditegaskan kembali bahwa tindakan ini tidak perlu disepakati oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Peristiwanya juga sangat jarang sekali terjadi. Kami kutip tulisan orang Batak sendiri, yang dimuat dalam Nomor Perdana Majalah Kebudayaan Batak.”Dalihan Na Tolu” Yang berjudul “Mengapa perkawinan Se-Marga Dilarang ?” sebagai berikut : Bagaimanapun juga; hingga saat ini masyarakat Batak masih melarang pekawinan semarga. Meskipun pad kenyataannya saat ini sudah banyak yang melanggar adat sedemikian ini, namun prinsip yang masih dipegang sekarang dengan teguh menolak perkawinan semarga. Sehingga, bilapun perkawinan semarga, hal tersebut akan menjadi pergunjingan yang cukup ramai dikalangan masyarakat Batak, dan sampai kinipun kasus perkawinan semarga ini cukup kontroversial. Menurut catatan –catatan yang dapat diperoleh hingga saat ini, larangan perkawinan di kalangan masyarakat

Batak erat hubungannya dengan eksistensi “Dalihan Na Tolu”. Sedangkan Dalihan na tolu adalah eksistensi sosiologis masyarakat Batak, sebab bila mana dua orang satu marga melakukan perkawinan, maka hal ini berarti hilangnya sebuah fungsi dalihan na tolu, yaitu fungsi ‘boru’. Sebab kasus sedemikian ini, maka yang menjadi boru dan hula-hula, adalah teman semarga (dongan sabutuha) jua. Kemungkinan atas sedemikian inilah yang menjadi ‘rasionalisasi’ dilarangnya perkawinan semarga. Walaupun bila kita telusuri lebih lanjut, justru perkawinan semerga ini telah merupakan asal mula perkembangan masyarakat Batak, dapat dilihat sejak Sariburaja yang mengawini adiknya sendiri ‘Siboru Pareme’ sehingga ia diusir dari ‘Sianjur mula-mula’, dan menghasilkan migrasi pertama orang Batak Jelas bahwa gambaran bisa diproyeksikan pada lingkungan masyarakat kita. Kontruksi “Dalihan Na Tolu”, seperti telah diungkapkan, tak berbeda dengan “Sangkep Si Telu”. Demikian pula peran-peran “anak beru” “senina” dan “kalimbubu”. Permasalahan lebih lanjut, kaitannya dengan suku-suku lain, akan tetapi masih dalam lingkungan suku Batak, adanya marga yang dianggap sama kendati ia berasal dari Batak yang lain. Misalnya, merga Ginting pada suku Karo, sama dengan Sijabat atau Saragih pada suku Tapanuli dan Simalungun. Oleh karenanya, perkawinan antara mereka juga dianggap merupakan perkawian semerga yang berarti terlarang. Dengan keadaan sedemikian, lingkungan larangan perkawinan semakin luas, yang dengan demikian juga berarti ‘sedarah’. Layak kiranya dalam hal ini di kutipan kembali pendapat dari rujukan yang sama, sebagai berikut : Gambaran-gambaran diatas ini menunjukan bahwa ‘filsafat’ larangan kawin semerga adalah karena perikatan atau hubungan darah. Mereka yang satu merga adalah mereka yang dianggap satu darah satu ayah satu ibu, meski hal itu berlangsung selama antar generasi. Dan anggapan satu ayah satu ibu itu mengakibatkan bahwa perkawinan antar satu marga adalah tabu. Namun bilamana kita mengikuti pendapat bahwa larangan perkawinan satu marga adalah karena mereka dianggap ‘satu darah’, maka akan terdapat beberapa ‘kejanggalan di dalam masyarakat Batak dalam hubungannya dengan hubungan perkawinan ini. Masyarakat Batak mengenal hubungan perkawinan dengan anak paman (tulang) yaitu disebut ‘pariban’. Sebagaimana diketahui, seseorang yang mempunyai pariban (putri paman), dalam kebiasaan masyarakat Batak dahulu (mungkin juga masih dianut dewasa ini) mempunyai ‘hak’ untuk mengawini sang pariban tersebut. Bahkan tidak jarang terjadi, para orangtua menjodohkan atau memaksa putranya atau putrinya, untuk mengambil paribannya sebagai isteri atau suami. Hubungan pariban, adalah hubungan darah, artinya dua orang yang ‘marpariban’ masih diikat suatu pertalian darah yang langsung, masih satu ‘nenek’. Jadi sebenarnya , perkawinan dengan pariban sebenarnya adalah sama dengan perkawinan ‘keluarga’. Sehingga bila kasus demikian ini kita gunakan untuk melihat larangan kawin antara satu marga, adalah karena mereka masih dianggap satu darah, atau masih dalam pertalian kakak-adik, maka adalah suatu kejanggalan bila masyarakat Batak sejak dulu mengakui bahkan sering memaksakan perkawinan pariban. Suatu marga yang sama dari dua orang misalnya, mungkin amatlah jauh pertalian ‘darah-nya’. Sedangkan antara dua orang yang marpariban, meski mereka adalah berasal dari dua marga yang berbeda, namun amatlah dekat. Dua orang yang bermarga panggabean misalnya, dilarang untuk dapat kawin, meskipun mungkin antara keduanya, (sudah pasti putra dan putri) ada suatu ikatan ‘cinta’. Sebabnya karena keduanya masih dianggap kakak beradik.Tetapi antara dua orang yang marpariban antara marga Silitonga dengan paribannya boru Siregar misalnya, tidak dilarang untuk kawin bahkan mungkin sering untuk ‘dijodohkan’ meskipun antara keduanya tidak ada saling saling mencintai. Dengan uraian ini, bukanlah ada maksud untuk menentang adat, namun apakah hal-hal sedemikian ini tidak pernah untuk dipikirkan ?”.

Hal lain, yang masih berkaitan dengan soal larangan, adalah masalah yang dalam lingkungan masyarakat Karo dikenal dengan istilah “rebu”.Istilah ini sebenarnya tak bermakna terlarang, akan tetapi lebih tepat : berpantang.Suatu tingkah yang dianggap tidak pantas, seandainya “rebu” tadi dilanggar. Rebu yang sangat dikenal adalah : - a). Antara ‘mami’ dengan ‘kela’ - b). Antara “bengkila” dengan “permain” dan antara “turangku” dengan “turangku”. Menyampaikan isi pembicaraan dalam hal keadaan sedemikian, ada dua cara yang bisa ditempuh, seperti yang ditulis DR.Henry Guntur Tarigan, sebagai berikut : Pertama, sang kela membubuhkan perkataan “nina mami” (berarti “kata mertua”) dan sang mami membubuhkan perkataan “nina kela” (berarti “kata menantu”) pada setiap kalimat yang hendak mereka ucapakan. Dengan kata lain, sang kela harus pandai mempergunakan “nina mami” atau “ber-nina mami”, yang dalam bahasa Karo disebut “ngerana ernina mami” – berbicara ber-nina mami. Begitu juga mami harus pandai “ngerana ernina kela”berbicara ber-nina kela. Dengan berbuat demikian, seolah-olah terasa bahwa komunikasi itu bukan komunikasi langsung. Ucapan mami yang dikeluarkan sang kela terasa sebagai ucapan mami sendiri, sebab membubuhi perkataan dengan perkataan ‘nina mami’; begitu juga dengan ucapan yang dikeluarkan oleh mami terasa sebagai ucapan kela sendiri dengan adanya “nina kela” itu. Kedua, dengan mempergunakan benda-benda yang kebetulan ada pada tempat mereka mengadakan komunikasi itu sebagai perantara. Marilah kita mengandaikan mereka mengadakan komunikasi dengan memprgunakan benda mati batu sebagai perantara dalam pembicaraan. Dalam hal ini, setiap akhir kalimat yang mereka yang ucapkan harus dibubuhi/ diikuti ucapan “ nindu o batu” yang berarti “anda katakanlah (begitu) hai batu. Dengan berbuat demikian, mereka merasa bahwa komunikasi yang mereka adakan bukanlah komunikasi langsung, sebab sudah mempergunakan batu itu sebagai perantara, yang fungsinya dapat disamakan dengan orang ketiga. Lebih jauh dari sekedar komunikasi langsung, adalah pantang bersentuhan badan. Sementara rebu yang lain adalah berupa duduk berhadap-hadapan atau duduk pada sehelai tikar, atau sekeping papan, tanpa ada orang lain yang duduk diantara mereka. Pada umumnya, rebu antara mami dan kela ini berlaku pula bagi bengkila/ permain dan turangku dengan turangku Pada dasarnya alasan moral, kekhawatiran tingkah sumbang merupakan pokok serta alasan sikap dari “terciptanya” susunan demikian, maka terjagalah jarak diantara mereka, yang diharapkan akan menerbitkan rasa segan-menyegan, rasa hormat menghormati, sesuai posisi masing-masing dalam keluarga.

BAB VII TATA BUSANA ADAT-KARO
A. Ose Orang Kawin (Pengantin) 1.Pakaian (ose) Pengantin Pria. a. Uis Nipes/Beka Buloh, untuk bulang-bulang ; b. Sertali, untuk hiasan bulang-bulang dan kalung-kalung ; c. Rudang-rudang, hiasan bulang-bulang ; d. Gelang Sarong, hiasan tangan kanan ; e. Uis Arinteneng/ julu, sebagai gonje ; f. Uis remas-emas, sebagai kadang-kadangen ; g. Uis Nipes, sebagai cengkok-cengkok ; h. Ragi Jenggi, sebagai ikat pinggang ; i. Cincin Tapak Gajah, sebagai hiasan jari ; 2.Ose Pengantin Wanita. a. Kelam-kelam, sebagai tudong (Teger Limpek) b. Uis remas-emas, sebagai jujungen ; c. Sertali, sebagai hiasan tudung tudung dan kalung ; d. Anting-anting kodang-kodang, sebagai cimberah ; e. Uis Arinteneng, sebagai abit (sinjang) ; f. Uis Nipes, sebagai Langge-langge. B.Ose Orangtua Pengantin, terdiri dari : 1.Ose Ayah (Bapa) : a. Uis Nipes/ Beka Buloh, sebagai Bulang ; b. Uis Arinteneng, sebagai gonje; c. Uis remas-emas, sebagai kadang-kadangen ; d. Uis Nipes, cengkok-cengkok ; e. Ragi Jenggi, sebagai ikat pinggang (Benting). 2.Ose Ibu (Nande) : a. Kelam-kelam, sebagai tudong (Teger Limpek) b. Uis rambu-rambu, sebagai jujungen ; c. Uis arinteneng, sebagai abit ; d. Uis Nipes, sebagai langge-langge ; JENIS-JENIS UIS (KAIN ADAT). 1. UIS ARINTENENG. Warnanya hitam agak pekat, karena kain ini dibuat dari benang kapas yang dicelup dengan sejenis bahan yang warnanya hitam (proses tradisionil), dalam bahasa Karo disebut ipelebuhken pemakainnya : Kain ini dipergunakan dalam acara pesta perkawinan yaitu pada waktu emas kawin diserahkan, kain ini di pakai sebagai alas pinggan pasu. Pinggan pasu (piring), yang bentuknya cekung dan lebih besar dari piring biasa, warnanya putih, dan piring ini biasanya punya makna tersendiri. 2. UIS GATIP. Warnanya hitam dan berbintik-bintik putih di tengah, tepian kain warnanya hitam pekat dan ujungnya terjalin dan berumbai. Jenis kainnya agak tebal hingga disebut dengan uis kapal (kain tebal). Proses pembuatannya juga masih tradisionil. Pemakaiannya : Dipakai sebagai ose laki-laki, dan pada upacara-upacara perkawinan adat, memasuki rumah baru, guro-guro aron (pesta muda-mudi) dsb. 3. UIS JONGKIT. Warnanya dan bahannya sama dengan uis gatip, hanya saja uis jongkit di

tengah-tengah kain memakai benang emas yang motifnya melintangmelintang pada kain tersebut, hingga warna dan bentuknya lebih cerah. Pemakaiannya : Pemakaiannya sama seperti uis gatip, kain ini sekarang lebih disenangi dan banyak dipakai pada upacara-upacara adat. 4. UIS BEKA BULUH. Warna dasar kainnya merah cerah, bagian tengah bergaris kuning, ungu, putih dan pada tepian kain motif-motif Karo dengan benang emas, demikian juga pada ujung kain. Pemakaiannya : Kain ini dipakai sebagai Bulang (penutup kepala/topi) pada laki-laki, dan juga dipakai juga sebagai cekok-cekok (penghias bahu) yang diletakan sedemikian rupa pada bahu laki-laki. Kain ini juga biasa diletakkan di atas tudung wanita. 5. UIS KELAM-KELAM. Warnanya hitam pekat, bahan kainnya lebih tipis dan polos tanpa motif. Sepintas seperti kain hitam biasa, hanya kain ini lebih keras karena proses pembuatannya juga masih tradisionil. Pemakainnya : Dipakai oleh wanita sebagai tudung pada upacara-upacara adat, tudung yang bahannya dari uis kelam-kelam disebut Tudung Teger Limpek, bentuknya khas dan unik. Proses pembuatan tudung ini memang sangat unik, hingga saat ini tidak semua orang dapat membuat tudung ini. 6. UIS JULU. Kain ini tebal seperti kain jongkit/ gatip, warnanya hitam kebiru-biruan, tepian kain hitam dan ujungnya berumbai. Pemakaiannya : Dipakai oleh para wanita sebagai abit (kain sarung/kampuh) pada waktu upacara adat. 7. UIS GARA. Warnanya merah tua, dan ada juga yang bergaris-garis kecil warnanya putih di tengah, tepian kain ini warnanya merah tua dan ujungnya berumbai, dan sebagian kain ini memakai benang emas, kain ini jenisnya agak tebal dan sekarang sudah banyak motif baru. Pemakainnya : Dipakai sebagai tudung oleh wanita, yang tidak memakai benang emas biasa dipakai wanita sehari-hari sebagai penutup kepala di desa. Dan yang memakai benang emas dipakai juga pada upacara-upacara pesta adat sebagai tudung, dan bentuknya lebih pendek dari tudung teger limpek. Proses pembuatannya juga sama dengan teger limpek, hanya ini lebih sederhana.

8. UIS TEBA Warnanya kebiru-biruan dan bergaris-garis putih, tepian kain hitam dan ujungnya berumbai, tebal kain hampir sama dengan uis gara. Proses pembuatannya juga masih tradisionil. Pemakainnya : Biasanya dipakai sebagai tudung oleh wanita yang sudah tua dan juga dipakai sebagai maneh-maneh (tanda mata) dari wanita yang sudah tua meninggal untuk kalimbubnya (garis ayah) atau asalnya. 9. UIS JUJUNG-JUJUNGEN. Warnanya merah bersulamkan benang emas dan kedua ujungnya berumbai benang emas, kain ini tidak selebar kain yang lainnya, bentuknya hampir sama dengan selendang. Pemakaiannya : Dipakai oleh wanita dan biasanya letaknya di atas tudung dan rumbainya terletak di sebelah depan. Pada saat sekarang kain ini jarang digunakan, dan

diganti dengan uis beka buluh. 10. UIS NIPES. Kain ini jenisnya lebih tipis dari kain-kain lainnya dan bermacam-macam motif dan warnanya (merah, coklat, hijau, ungu) dsb. Pemakaian : Sebagai selendang bagi wanita.

OSE PENGANTIN WANITA KARO. Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa “ose” adalah seperangkat kainkain adat yang dipakai pada upacara adat-adat tertentu. Sedangkan “rose” yaitu orang yang memakai kain lengkap pada upacara adat tersebut. OSE PADA PENGANTIN WANITA TERDIRI DARI : - Tudung mbiring (Teger Limpek) - Uis julu - Uis Nipes - Uis jujung-jujungen - Kampil - Baju kebaya - Sertali (perhiasan). OSE PENGANTIN PRIA TERDIRI DARI : - Uis Jongkit (2 lembar) - Uis Beka Buluh (3 lembar) - 1 (satu) pasang jas - Hem lengan panjang - Dasi (bila diperlukan) - Sertali (perhiasan) Osei-osei Pengantin Pengantin Rosei kuh pakai emas-emas atau sekarang disebut AKSESORIS pengantin. Osei pengantin wanita Rose kuh terdiri dari : 1. Tudung lengkap jujungen (Dasar kelam-kelam, junjungen uis remas-emas) 2. Abid Dasar. (taba/julu) 3. Abid julu 4. Pengalkal Uis Nipis. 5. Kampil kuh isisna. 6. Emas-emas. (sertali) Kategori Pengantin Wanita. 1. Tudung kelam-kelam model teger limpek erjujungen (Beka buluh, Pilo-pilo, Ragi Barat). 2. Abid dasar teba (tidak pernah pakai batik) 3. Abid julu (Abid khusus). 4. Pengalkal uis nipes Sutra Ulat, Torus Tarutung, Ragi Barat dan lain-lain. 5. Kampil kuh ibas isina. 6. Emas-emas. Osei Pengantin Pria. 1. Bulang 2. Cengkok 3. Abid Gatib. 4. Kadangen (selempang) 5. Tumbuk lada. Kategori pengantin pria 1. Bulang-bulang Beka buluh. 2. Cengkok-cengkok Baka Buluh, Ragi Barat.

3. Abid Gatib 20, gatib 9. 4. Selampang teba (kadangen) 5. Tumbuk lada. 6. Emas-emas sertali, layang-layang, rudang emas, gelang sarong, tambah cincin. Osei orang tua pekepar Seri ras osei pengantin, hanya orangtua la pakai emas-emas (yang laki-laki). Osei orangtua sidiberu 1. Tudung 2. Abid 3. Pengalkal. Keterangan 1. Tudung jongkit 9 model limpek, teger limpek. 2. Abid dasar songkit, samarenda dan lain-lain. 3. Pengalkal uis nipes sutra ulet, Ragi barat dan lain-lain. Osei Sukut si dilaki 1. Tanda-tanda 2. Abid (kampuh) Keterangan : Tanda-tanda i cengkokken I kuduk Abid i sampanken sebatas lutut Osei Anak Beru Pekepar : Sidiberu erbenting kibul (uis nipes diikatkan di pinggang) si dilaki kampuh diikat di pinggang (Ersampan sebatas lutut). Endame osei-osei Pengantin Kerja Sintua. OSEI MUKUL Osei pengantin sesudah selesai pesta siang, maka malamnya acara mukul ras acara ngobah tutur. Untuk itu pengantin di osei lagi. Osei pengantin pria 1. Abid : Gatib 9 (Gatip 20) 2. Bulang : Beka Buluh. 3. Kadangen : Uis Teba. Tidak pakai baju jas. Osei pengantin si diberu 1. Tudung : Jongkit model limpek. 2. Abid : Samarenda, tepas dan lain-lain. 3. Langge-langge : Uis nipes. Enda me osei mukul ras ngobah tutur. OSEI MENGGKET RUMAH MBARU Osei untuk mengket rumah mbaru ini tergantung dengan besar kecilnya pesta tersebut, hanya saja untuk mengket rumah ini ada dua tingkat : 1. Kerja mbelin (pesta besar). 2. Kerja biasa (pesta umum). Osei Kerja Mbelin Sama dengan osei-osei pengantin kerja sintua. Baik yang masuk rumah, simupus, sukut. Osei kerja biasa. Simada rumah rosei kuh tapi tidak pakai emas-emas. Simupus pekepar ras sukut sama dengan osei pengantin kerja sintengah. Endame osei-osei mengket rumah mbaru. OSEI KERJA CEDA ATE

Untuk osei erceda ate ini, di khususkan untuk yang meninggal lanjut usia (cawir metua) dan orang yang berpengaruh, atau yang dapat dikatakan meninggal sudah tidak ada lagi meninggalkan anak yang belum kawin (berumah tangga), inilah yang disebut cawir metua. Osei-osei kebanyakan bebas, tetapi di jauhkan dari warna-warni dan ber emas-emas atau warna menyolok. Seperti tudung tidak pernah di buat dari jongkit atau pakai emas-emas, biasanya yang harus diosei adalah seorang cucu dari pihak anak laki-laki yakni yang perempuan, dan cucu laki-laki dari anak yang perempuan boleh dikatakan (harus berimpal). Orang inilah yang diosei kuh rosei lengkap dan perbulangen adi simate si diberu. Ndehara adi simate si dilaki, rosei kuh tapi la pake emas-emas. Anak si diberu ertudung uis gara la ertudung jongkit. Anak beru tanda-tanda. NB: Osei ini pada dasarnya yang memakaikan kepada pemakai adalah orangtua dari isteri atau saudaranya, dalam bahasa Karo disebut Kalimbubu singalo ulu emas ras kalimbubu si perdemui. OSEI PENARI (OSEI GURO-GURO ARON) Penghulu aron ras nande aron biasanya disahkan salah seorang anak pengulu atau anak si manteki kuta, dan juga kemberahen ataupun nande aron salah seorang anak kalimbubu kuta yakni berimpal. Pembantu mereka adalah merga silima dan salah seorang diantara mereka harus ada yang menjunjung kampil (sinjujung kampil) yakni biasanya diangkat putri raja ataupun anak simanteki kuta. Pengulu aron ras nande aron rosei lengkap (kuh) tapi lapake emas-emas, pembantu pengulu aron seri ras osei si mantek. Osei si dilaki (si mantek) 1. Erkampuh (ersampan kampoh). 2. Erbulang (Beka Buluh). 3. Cengkok-cengkok (Beka Buluh, Ragi Barat) Osei si diberu (Simantek) 1. Ertudung kelam-kelam model tiger limpek. 2. Rabit dasar tapi tak pernah batik. 3. Erjujungen, janah banci la erjujungen. Osei Sehari-hari : Osei ini pada umumnya hanya orang-orang tua saja yang memakainya yakni : 1. Yang pria bawa kampuh baik dikampuhkan maupun hanya sekedar dilengketken saja. 2. Wanita pakai tudung lompek dan langge-langge. 3. Dan pakaian seperti halnya orang indonesia lainnya.

BAB VIII TARI-TARI KARO
Secara umum, tari pada masyarakat Karo disebut “landek”. Dalam budaya Karo, penyajian landek erat hubungan dengan kontekstual. Dengan perkataan lain, keberadaan landek ditentukan konteks penyajiannya. Sejauh ini saya dapat melihat bahwa konteks penyajian landek pada masyarakat. Karo secara umum dapat dibagi menjadi tiga, yaitu : 1. Konteks penyajian dalam adat istiadat. 2. Konteks penyajian dalam religi, dan 3. Konteks penyajian hiburan. Akibat adanya perbedaan konteks penyajian, maka dalam budaya tari Karo dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu : tari adat, religi, dan tari hiburan. Bentuk Pertunjukan dan Teknik Penyajian. Berdasarkan bentuk pertunjukan penyajian, tari Karo dapat ditemukan pada : - Guro-guro aron (pertujukan seni tari dan musik pada masyarakat Karo yang dilaksanakan oleh muda-mudi). - Ngalo-ngalo tamu. - Pameran. - Festival. - Perlombaan. Dari semua bentuk pertunjukan di atas, yang terpenting adalah guro-guro aron. Karena seni tari yang terdapat pada guro-guro aron dapat merangkum semua jenis tari yang terdapat pada pertunjukan lain. Melihat tehnik penyajian, seni tari pada masyarakat Karo dapat dibagi menjadi : - Tari perkolong-kolong. - Tari aron. - Tari khusus (tari yang telah mempunyai pola lantai). Pada umumnya, ketiga tehnik penyajian tersebut dibuat berpasangpasangan.Tari perkolong-kolong merupakan salah satu tehnik penyajian yang sangat rumit. Karena penari melakukan dengan penuh improvisasi. Berdasarkan konteks penyajian tersebut, maka seni musik Karo adalah budaya musik yang mempunyai konteks penyajian dalam hiburan. Karena

tujuan utama penyajian, semata-mata untuk memeperlihatkan nilai estetis dari musik tersebut. Penonjolan nilai estetis merupakan ciri utama seni (fine arts). Memperhatikan musik yang mempunyai konteks penyajian dalam hiburan, sejauh ini saya hanya membagi dua, yaitu : untuk hiburan yang bersifat umum (entertaiment) dan untuk hiburan pribadi (self amusement). Untuk hiburan yang bersifat umum adalah guro-guro aron. Sedangkan untuk hiburan yang bersifat pribadi, diantaranya : Nurdam, Erbalobat, Erio-io, Erpingko-pingko, rende dalam arti yang luas. Komposisi Alat Musik Melihat komposisi alat musik yang dimainkan dalam guro-guro aron, terdiri atas : satu buah sarune sebagai pembawa melodi, satu buah gung dan penganak, sebagai pembawa kolotomis, satu buah gendang indung, sebagai pembawa ritmis variasi, dan satu buah gendang anak, sebagai pembawa ritmis variabel. GURO-GURO ARON 1.PENGANGKAAN - Guro-guro aron asal katana ibas “guro-guro” ras “aron”. Guro-guro ertina main-main, pesta, hiburan. Aron ertina anak perana/singuda-nguda si ras-ras erdahin ku juma. Jadi GURO-GURO ARON eme sada kerja si ipantek anak perana ras singuda-nguda si enggo ikut ibas aron alu make gendang seperanggun ras penggual 5 sedalanen + perkolong-kolong (adit lit). - Guna ras sura-sura erbahan guro-guro aron, nina ranan eme : 1. Maka lit siman dedahen si banci nambahi keriahan ibas kuta bagepe man kerina anak kuta. (hiburen). 2. Maka anak perana ras singuda-nguda beluh makeken entahpe metik uis adat Karo, rikut uis/paken simeherga sidebanna. (erlajar metik). 3. Maka anak perana ras singuda-nguda beluh ras reh jilena landek ngikutken gendang Karo sini palu penggual lima sedalinen. (erlajar landek). Landek ibas kalak Karo pantang “goyang pinggul”, gitek ras geol, si perlu teridah cibal daging metunggung, tan lempir, pernen mata la banci meliar, ayo pe cirem. Tambah sie, endek pe sikap ngikutken buku gendang, bagepe ikut jolena. 4. Maka anak perana ras singuda-nguda banci jumpa atena ngena, enca natap ras ngidah pemetik, perlandek sapih-sapih anak perana/singudanguda. Sebab enggo kenca ia metik pekepar tuhu enggo mejile, metunggung ngidah perlandekken jemah jemole banci rutang tah pe ndabuh pusuhna pekepar. Lit pe deba anak perana sibeluh ermayan entahpe “ndikkar”. (ndarami-ndarami ate jadi). 5. Maka anak perana singuda-nguda ibas kuta e mejingkat dingen ergiahgiah ukurna erdahin ku juma, ndarami duit man penukur uis na ras patung kerja. 6. Notoken mbuah page nisuan, meriah manuk niasuh, si danak-danak lampas mbelin, simbelin maka ajar meteh mehuli, si enggo erjabu sangap njabuken bana, anak perana/singuda-nguda lampas jumpa atena ngena, si enggo metua cawir metua, sadape lalit sibangger-bangger ras simaginmagin. Biasana kerna sie tergejap bas ukur sekalak-sekalak. Janah adi bas gendang e lit perende-pernde eme perkolong-perkolong gundari, tersinget ibas rende. 7. Maka anak perana ras singuda-nguda erlajar ertutur (meteh adat), sebab teman landek la banci la arus. Bagepe arus ipelajarina uga cara ngalo-ngalo temue alu mehamat, ras ija ingan kundul. 8. Maka piga-piga anak perana sini iangkat jadi pengulu aron, entahpe anak beru aron bagepe singuda-nguda sini jadi kemberahen aron, erlajar jadi pemimpin ngaturken uga maka guro-guro e erdalan bagi sura-sura. 2.TOROSEN ERBAHAN GURO-GURO ARON

- Nai ibas kuta kalak Karo lit si erdahin ku juma siurup-urupen, eme si igelari Aron. Aron lit dua erbage, eme aron tanggung ras aron belin. Aron tanggung pendahinna la uga beratna, tapi aron belin enggo ngasup ngengkal, eme ngerukah juma. Janah ibas kuta simbelin banci lit 5 entah 6 terpuk, tapi ibas kuta si kitik 2 tah 3 terpuk.. Nandangi ciger matawari, aron ngadi-ngadi i juma perbahan enggo latih erdahin. Gelah mburo latihna, lit sekalak singudanguda landek janah rende. Ngidah sie sekalak anak perana ngerana, nina : Nari, jemaka nandangi singgem gelap, gendang ipengadi lebe. - Gendang iumputi berngina enca elah man. Aturen Perlandek : - Landek pengulu ras kemberahen naruhken anak beru, ngalo-ngalo kerina aron. - Landek perbapaan si lima merga. - Landek pernanden ras beru silima. - Emaka landek sierjabaten-jabaten kuta, guru, pande, si natang wari. - Iumputi landek aron perana/singuda-nguda. - Landek anak kuta sideban (aron) si itenahken. - Adi lit perkolong-kolong banci ia tetap ikut landek ras masu-masu, banci ka piga- pipiga saja ia ikut. Cara perlandek si dekah : 1. a. Landek si mantek kuta. b. Landek kalimbubu kuta. c. Landek anak beru kuta. 2. Landek per merga-merga ras kemberahenna (5 merga). 3. Emaka landek aron. Sangana gendang ipalu, landek si landek, aron singuda-nguda ersurak, ras ertepuk, maka gendang enda mehaga, meriah ras rejin. Adi lalit sie, gendang enda tempa gendang simate-mate entah nurun-nurun. Pepegina, iumputi denga gendang. Ibenaken nangkih-nangkih matawari seh asa nandangi ciger. Gendang sie buen si landek anak perana ras singudanguda. Gendang bas nangkih-nangkih matawari eme si igelari gendang “pesalang sai”. Ijeme kerina aron radu ras mindo ola sisangkuten ukur entah ija kurang lebihna ibas pengerana, perlandek sapih-sapih ia. Bagepe perkolong-kolong rende erbahan persentabin nandangi sirang gendang ipalu. Meriah kal siakap, erguro-guro aron bagenda rupana iadap-adap nande bapanta ras sangkep nggeluh. Rende kami itengah-itengah enda.

BAB IX KEBUDAYAAN KARO DAN PERUBAHAN SOSIAL
Kebudayaan (culture) sebagaimana yang dikemukakan oleh Ignas Kleden (1987) adalah dialektika antara ketengangan dan kegelisahan, antara penemuan dan pencarian, antara integrasi dan disintegrasi, antara tradisi dan reformasi. Dalam arti yang lebih luas, tanpa tradisi dan integrasi suatu kebudayaan menjadi tanpa identitas, sedangkan tanpa reformasi atau tanpa disintegrasi kebudayaan akan kehilangan kemungkinan untuk berkembang, untuk memperbaharui diri, atau untuk menyesuaikan diri dengan paksaan perubahan sosial (social change coercion). Berbicara tentang kebudayaan, selalu dipandang sebagai sesuatu yang khas manusia, baik karena ia manusiawi ataupun karena ia mampu memanusiakan dan karena itu selalu dihubungkan dengan keindahan, kebaikan atau keluhuran. Dengan singkat, hampir tidak ada selisih pendapat mengenai value judgement tentang kebudayaan. Dalam pengertian seperti itu, kebudayaan adalah a pursuit of total perfection (Karober dan Kluckhohn, 1967) dan kebudayaan itu diturunkan sebagai ’warisan yang diturunkan tanpa surat wasiat’ . Akan tetapi, jauh daripada itu, kebudayaan adalah realitas objektif yakni sebagai reality judgement terhadap mana setiap kelompok akan mencari persepsinya, dipertegas dan dijadikan sebagai identitas kelompoknya . Dengan demikian, kebudayaan adalah Aufgabe (tugas). Menyoal hubungan antara pembangunan dengan kebudayaan, dengan meminjam bahasa Dove (1985) pembangunan diartikan sebagai perubahan yang dikehendaki dan dibutuhkan. Dalam arti bahwa apa saja yang dianggap

kuno dan tidak mengalami perubahan dengan sendirinya dianggap sebagai keterbelakangan. Ironisnya, kebudayaan dan gaya hidup tradisional itu juga dianggap sebagai penghalang besar bagi pembangunan sosio-ekonomi (socio-economic development). Lebih daripada itu, sebagai bangsa yang majemuk (plural societies) ada semacam ketakutan dari negara apabila ’identitas kebudayaan’ (cultural identity) lebih terasa daripada ’identitas nasional’ (national identity). Negara khawatir bahwa ’ikatan-ikatan primordial’ (primordial ties) yakni ikatan terhadap tradisi lokal akan menjadi lebih kuat daripada perasaan memiliki negara dan pada akhirnya mungkin akan menggoyahkan integrasi bangsa. Oleh karenanya, dirasa perlu untuk membentuk identitas nasional melalui apa yang disebut dengan kebudayaan nasional. Karena itu, dalam perencanaan pembangunan, salah satu hal yang diusahakan adalah mengutuk dan mengubah, bahkan menyingkirkan kebudayaan tradisional itu. Inilah yang dimaksud dengan dilema kebudayaan (daerah) Indonesia. Disatu sisi ia diharapkan mampu bangkit dan bertahansebagai common heritages, sebagai ethnic and local identity -yang memiliki kemampuan menyaring budaya asing, tetapi disisi lain ia justru dianggap sebagai bianglala, tepatnya penghambat pembangunan. Sehingga, dalam konteks yang lebih luas, kita patut bertanya apa yang kita maksud dengan budaya ketimuran kita itu? bukankah kita sudah mengalami degradasi kebudayaan kita? II Boleh jadi, adanya kepincangan dalam pembangunan nasional (national development) adalah sebagai dampak daripada keniscayaan kebudayaan dan mentalitas terhadap pembangunan. Dalam bukunya, Koentjaraningrat (1992) menyangkal adanya hubungan antara kebudayaan, mentalitas dengan pembangunan. Disebutkan bahwa kedua varian tersebut-untuk kasus Indonesia-tidak memiliki hubungan sama sekali atau bahkan tidak cocok sama sekali dengan arus modernisasi. Akibatnya, melihat fenomena di Indonesia, Dove (1982) mengemukakan bahwa agen perubahan (agent of change) tidak pernah menganggap masyarakat kebudayaan sebagai ’guru’ tetapi justru ’menggurui’nya dengan hal-hal yang ’dianggap’ baru dan lebih ’beradab’ (civilized) . Oleh karena itu, tidak ayal, warisan-warisan budaya dan sejarah (cultural and historical heritages) daerah cenderung memudar, ditinggalkan, dirusak dan dimusnahkan dan segera digantikan dengan unsurunsur budaya yang dianggap lebih elegans, bermartabat dan beradab. Bahkan, undang-undang No 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (BCB) misalnya, ternyata kurang mampu melindungi benda-benda cagar budaya, akibatnya banyak diantara BCB tersebut terlantar, tidak terawat dan musnah . Dalam satu pemaparannya terhadap pengrusakan terhadap Benteng Putri Hijau Delitua Medan, McKinnon (2008) mengemukakan bahwa Ironis sekali bahwa pada ‘Visit Indonesia Year’ dan pada waktu pemerintah ingin membangkitkan usaha parawisata di seluruh Indonesia, sebagian dari satu warisan budaya dan peninggalan kuno yang menonjol di Sumatera Utara diancam punah. Dalam pada itu, museum sebagaimana yang diberitakan oleh Waspada tanggal 1 Juli 2008 dan Kompas pada 20 Agustus 2008 justru tidak layak dikunjungi. Padahal di museum tersebut dapat dilihat beragam artifak kebudayaan yang menandai aspek kebudayaan dan sejarah masyarakat pada kawasan dimana museum tersebut didirikan. Adalah cukup berbeda dengan eksistensi museum di negara Barat seperti Jerman dimana museum dianggap sebagai old palace dan kota-kota akan merasa bangga apabila museum terdapat dan banyak dikunjungi dikotanya. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila permuseuman di negara maju berlomba menghadirkan koleksi-koleksi lengkap dari seluruh dunia dan menggangapnya sebagai miniatur global village. Namun, tampaknya, belajar di Museum masih harus dibudayakan pada masyarakat Sumatra Utara. Menyoal tentang tahun kunjungan wisata Indonesia, mungkin ada baiknya kita menoleh kembali terhadap produk yang ditawarkan yang mampu menarik wisatawan dimaksud. Harus diakui bahwa, wisatawan datang berkunjung ke satu negara bukan lagi untuk melihat keindahan panorama, tetapi lebih dari itu adalah untuk melihat ciri khas daerah dimasa lalu. Konsep yang tepat untuk menjelaskan kenyataan ini adalah dengan

menggalakkan wisata budaya dan sejarah (cultural and historical tours). Tetapi persoalannya adalah, banyak artifak dan situs sejarah dan budaya kita yang sudah dirusak hingga tidak ada lagi semacam bukti autentik dimana sejarah dan budaya dimasa lalu pernah dibentangkan. Di negara maju misalnya-tidak tanggung-tanggung-proyek pembangunan kejayaan budaya dan sejarah masa lalu kembali di lakukan seperti yang dilakukan oleh China, Italia, dan bahkan Jerman. Dari sudut ekonomi, sektor wisata sejarah dan budaya ini ternyata mampu menyumbang hingga 0,25-0,40 persen penghasilan negara non taxes. Dalam penyelidikannya tentang Peranan Kebudayaan Tradisional Dalam Modernisasi yang disunting oleh Michael R. Dove (1985) menyimpulkan bahwa kebudayaan tradisional terkait erat dengan dan secara langsung menunjang proses sosial, ekonomis dan ekologis masyarakat secara mendasar. Lebih dari pada itu, kebudayaan tradisional bersifat dinamis, selalu mengalami perubahan dan karena itu tidak pernah bertentangan dengan proses pembangunan itu sendiri. Menurutnya, adanya kekeliruan terhadap proses pembangunan selama ini adalah karena tidak didasarkan pada evaluasi empiris, baik mengenai perencanaan itu sendiri maupun mengenai kebudayan tradisional dimana rencana-rencana itu diterapkan. Kesulitan yang dialami oleh bangsa Indonesia dewasa ini terutama menjawab tantangan globalisasi adalah riskannya kebudayaan daerah terhadap pengaruh-pengaruh budaya ’universal’. Masyarakat kita, justru lebih terbuka dan menerima segala sesuatu yang dipertontonkan oleh dunia Barat karena dianggap lebih berbudaya. Sementara itu, kebudayaan yang menjadi simbol masyarakatnya justru dianggap kolot dan tidak pantas diadopsi atau dikembangkan. Begitu mudahnya bangsa ini larut dalam konsumerisme, hedonisme dan seakan melompat pada era postmo . Menyinggung soal konsumerisme yang menggejala pada masyarakat kita, bisa jadi karena rapuhnya pemahaman dan pengetahuan terhadap kebudayaan daerah itu sendiri. Masyarakat kita justru menjadi objek yang disusun dalam kapitalisme global yang dipercepat dengan budaya konsumen (consumer culture) ataupun sebagai budaya massa (mass culture) yang mempertentangkan sesuatu yang dianggap sesungguhnya dengan sesuatu yang dianggap semu. Dalam arti kata ’bagaimana untuk membuat penilaian estetis’ yang terhubung dengan pertanyaan praktis seperti ’bagaimana kita harus hidup?’ (Featherstone, 2001). Dengan begitu, kita justru lebih tertarik untuk minum Cocacola daripada Air Tebu dibawah pohon Beringin, atau makan Spaghetti daripada Rendang Jengkol di warung mbok Inah, atau juga makan KFC daripada makan sate Padang di pinggir jalan WR. Supratman Dikhawatirkan, moral, etika dan estetika bangsa ini akan runtuh sebagai dampak dan pengaruh budaya global yang bergerak tanpa batas. Dalam pada itu, kebudayaan nasional yang diperjuangkan tidak kunjung ditemukan dan tidak dapat dijelaskan posisinya diantara kebudayaan lokal. Gejala ini sama artinya pada saat kita berbicara tentang nasionalisme kita yang semakin kerdil dan melayu karena nasionalisme itu sendiri tidak mendapat tempat berpijak pada budaya Indonesia. Etnonationalism yang berkembang sebelum deklarasi pembentukan negara bangsa (nation state) dan digantikan dengan konsep nasionalisme negara pasca deklarasi adalah tantangan yang hingga kini belum mampu dijawab. Lain daripada itu adalah terlalu banyak kebohongan dan penyesatan yang dilakukan oleh Sejarah bangsa ini seperti yang disebutkan oleh Foulcher (2000), Resink (1987), Hatta (1970) ataupun Asvi Warman Adam (2007) yang menyebutkan sekitar 25 kontroversi sejarah Indonesia. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa terdegradasinya budaya daerah seakan menjadi jawaban terhadap coercion of cultural universalism yang selama ini dilakukan oleh perencana pembangunan. III Budaya lokal sebagai identitas budaya daerah, tidaklah sekedar mampu menyebutkan dan memahaminya, tetapi lebih daripada itu adalah untuk mengupayakannya sebagai sumber inspirasi atau sumber perubahan. Pada tataran konsep seperti ini, kebudayaan adalah sistem gagasan yang harus dikembangkan dan diberdayakan. Selanjutnya, kebudayaan sebagai pola tindakan yakni menjadikannya sebagai acuan perilaku.

Bagaimanapun, dengan meminjam bahasa Ignas Kleden, ’Kebudayaan adalah Agenda Buat Daya Cipta’ yang menonjolkan kemampuan untuk membangkitkan identitas bangsa yang sedang melayu itu. Menyoroti penelantaran dan pengrusakan terhadap artifak dan situs sejarah dan budaya, yang justru perlu dilakukan adalah preservasi terhadap objek dimaksud dan menjadikkan sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya. Memang, adalah mahal ongkos yang harus dibebankan untuk menghidupkan kembali nuansa masa lalu itu. Tetapi, agaknya kita harus belajar dari Malaysia yang hingga kini gencar berburu aset-aset budaya yang dapat diklaim sebagai warisan budaya mereka meski itu dicap sebagai pencuri kebudayaan. Niscaya, tanpa upaya dan usaha yang gigih, maka mustahil artifak, aksesoris maupun tinggalan kebudayaan masa lalu itu dapat dilestarikan. Budaya suatu bangsa, adalah gambaran cara hidup masyarakat dari bangsa yang bersangkutan. Tinggi rendahnya budaya suatu bangsa, tercermin dari materi-materi budaya yang ada pada bangsa itu. Suku Karo sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang besar, pada masa lampau telah memiliki budaya yang cukup tinggi (kata cukup tinggi menunjukkan nilai luhur), yang dapat dibuktikan dari materi budaya Karo yang dapat dikatakan telah lengkap, seperti : a. Tatanan kehidupan masyarakat Karo yang terikat di dalam suatu sistem, yaitu : Merga Silima, Tutur Siwaluh, Rakut Sitelu. b. Tulisan dan bahasa Karo yang cukup kaya (perhatikan istilah bisbis, cekurang, meluat, permalna, mbergohna, daluna, buganna, bajarna, iluh, dlsb, yang masih banyak lagi). c. Peralatan hidup yang cukup lengkap, seperti : kudin, tendang, ukat, kerpe, busan-busan, cuan, kiskis, capah, sapo, sangketen, kampoh, sekin, tajak, benangun, palas, ret-ret-sangka mamok, dlsb. Hal ini sangat tinggi nilainya karena nama-namanya “asli” bahasa Karo, bukan berasal dari bahasa asing, seperti cangkul, piring, sendok, garpu, gambar, potret, dlsb. d. Pembinaan rohaniah/kepercayaan serta tata cara pelaksanaannya seperti ngaleng tendi, perumah begu, persilihi, erpangir ku lau, dlsb. e. Alat-alat kesenian Karo yang beragam jenisnya, sesuai dengan kepentingannya, seperti perangkat gendang, sarune, gendang, gunung, penganak, belobat, sordam, kulcapi, ketteng-ketteng, dlsb. f. Ragam busana, baik untuk pria maupun wanita, bentuk busananya berbeda-beda dalam berbagai jenis dan ragam pesta. Seperti pesta perkawinan, guro-guro aron, kemalangan, ngelandekken galuh, dlsb. Semua acara ini memiliki bentuk busana yang berbeda-beda. g. Penentuan hari untuk turun ke ladang menanam padi, didasarkan kepada musim (semacam ramalan cuaca) h. Nama-nama hari, seperti aditia, suma, nggara, dlsb. i. Dan lain-lain Demikianlah beberapa data yang dapat membuktikan, bahwa suku Karo memang memiliki suatu budaya yang cukup tinggi. Dalam masyarakat Batak Karo, masa atau periode transisi ini jelas terlihat, karena proses itu berlangsung dalam satu generasi. Pengaruh luar terhadap budaya Karo dimulai sekitar tahun 30-an dan masa pendudukan Jepang. Pada periode sebelumnya, kehidupan tradisional masyarakat Karo berlangsung secara murni. Penjajah Belanda yang efektif di Tanah Karo menjelang akhir abad ke-19, tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pola hidup tradisional bangsa Batak Karo. Zending dari negeri Belanda yang berusaha meng-kristen-kan masyarakat Karo ternyata kurang berhasil. Sekolah-sekolah Zending yang didirikan di beberapa tempat, tidak mendapat tanggapan dari masyarakat. Pendirian rumah sakit Zending di Sibolangit dan Kabanjahe, terlampau kecil pengaruhnya. Walaupun mampu mendidik putra-putri Karo menjadi

paramedis, yang juga sekaligus berubah agamanya, dari pelebegu menjadi kristen. Dapatlah disimpulkan, bahwa penjajah Belanda hanya sedikit pengaruh terhadap pola kehidupan masyarakat Karo. Barulah pada masa pendudukan Jepang terjadi suatu dinamika radikal, dimana pemuda-pemuda Karo dididik menjadi prajurit. Sekolah-sekolah ditingkatkan, guru-guru diperbanyak. Nyanyian-nyanyian Jepang yang membangkitkan semangat, berkumandang hingga ke desa-desa. Pengaruh kekuasaan Jepang juga terasa hingga ke desa-desa. Seperti penguasaan produksi, sistem catu, latihan baris-berbaris, dan lain sebagainya. Mobilitas masyarakat Karo juga mulai meningkat, terutama frekwensi kunjungan ke kota-kota. Hal ini semua mengakibatkan kesiagaan masyarakat Karo untuk menyongsong kemerdekaan yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Masyarakat Karo telah siap menerima kemerdekaan dan sekaligus mempertahankannya. Dengan demikian, maka masyarakat Karo juga telah siap dan sadar dengan perubahan sosial yang ditimbulkan pendudukan Jepang dan proklamasi kemerdekaan itu. ADAT SEBAGAI SUMBER NORMA Mengantar awal dari tulisan (bagian) ini, penulis ingin mengutipkan beberapa catatan yang dibuat oleh Budhi K. Sinulingga, dalam artikelnya berjudul “Selayang Pandang Sejarah Suku Karo” yang dimuat majalah “Dalihan Na Tolu”, Nomor 4 tahun 1978 sebagai berikut: Seorang ahli sejarah di Indonesia, Porf. Moh. Yamin mengatakan, pengaruh Hindu di Sumatera hanya sampai di Jambi. Tapi kurang diketahui dasarnya, Muhammad Said, Pemimpin Harian Waspada di Medan mengatakan, Hindu juga mempunya pengaruh hingga ke Dairi dan Dataran Tinggi Karo. Katanya, ketika Islam pertama kali masuk di Baros, Hindu menyingkir ke arah Dairi dan Kab. Karo. Peristiwa itu terjadi sekitar tahu 19200-an. Dalam hal ini dapat pula dilihat adanya cabang-cabang marga Sembiring memakai nama-nama berbau Sanserkerta, yaitu Brahmana, atau Meliala yang dianggap berasal dari Malyalah: Pandia – Pandya; Colia-Solyan; TekangTekhanam. Upacara `Perkualuh` di Suka Piring, yaiut upacara penghanyutan abu jenazah, adalah berasal pengaruh Hindu. Perkataan Perkualuhberasal dari kata “aloe”, yaitu bahasa Aceh yang berarti air. Tentang adanya pengaruh Hindu ini, disamping bukti-bukti tentang ditemukannya temple di Sembahe, Bangun Purba dan Sarinembah (1923), juga terlihat dari upacara-upacara yang berhubungan dengan roh-roh atau tendi. Umpamanya dalam upacara `Persilihi` dan Erpangir ku Lau. Perselihi adalah upacara substitusi dimana gana-gana atau patung dijadikan ganti dari orang yang telah dinyatakan dukun atau guru akan mengalami bahaya maut. ‘Ndilo Tendi’ adalah pemanggilan tendi dari orang yang dianggap telah mengembara atau ditawan oleh kuasa-kuasa natural. Sedang Erpangir ku Lau adalah upacara untuk memulihkan rezeki dengan berlangir ke sungai. Upacara-upara ini hanya berhubungan dengan mytho kejadian dunia. Si Dunda Katekuten, Si Kosar Baru Dayang dan sebagainya. Dalam upacara Perselihi, nama Debata Keci-keci disebut-sebut sebagai kesatuan dari Tiga Dewa yang dikenal, yaitu ; Dewa atau Dibata Batara Guru yang bersemayang di atas, Paduka Aji atau dewa yang bersemayam di bumi tengah, serta Dewa Banua Koling di dunia bawah. Jelasnya, sistem kedewataan Hindu tidak sepenuhnya diterima masyarakat Karo, karena tipisnya pengetahuan suku ini tentang dewa-dewa yang universil sifatnya. Adanya pengaruh Hindu makin jelas apabila kita amati mantera-mantera. Mantera yang dimulia dengan kata ‘hong’, adalah berasal dari Hindu. Sementara yang dimulai dari ‘Bismillah’, berasal dari pengaruh

Islam. Selain itu, dalam mantera itu juga terdengar nama-nama : Muhammad, malaikat Jibril, Panglima Hamzah dan lain-lain. Keterikatan masyarakat Karo terhadap pengaruh ini, berbeda dari satu daerah ke daerah yang lain. Bukti lain dari adanya pengaruh Hindu pada masyarakat Karo terlihat dari ‘Erlige-lige’, yaitu suatu upacara penguburan yang menarik jenazah di atas lige-lige, yaitu suatu bangunan tinggi yang ditarik ratusan orang. Upacara ini sangat mirip dengan upacara-upacara yang ada di agama Hindu, yang hingga kini masih dilakukan di Bali. Erlige-lige yang terakhir dilakukan yaitu tahun 1960 di Medan. Ketika itu Jamin Gintings menjabat Pangdam II/Bukit Barisan. Upacara Erlige-lige masih dilakukan di Tanah Karo sebelum kedatangan Jepang tahun 1942. Di samping itu, patut kiranya dicatat bahwa, di atas kuburan-kuburan orang Karo biasa dikibarkan bendera putih, khususnya di atas kuburan dukun, yang hingga kini masih terdapat pada pemeluk Hindu Bali di Pulau Bali. ‘Upacara Pe (te) rumah Nini’, yang kurang lebih merupakan upacara pemanggilan roh nenek moyang untuk memasuki raga Guru si Baso, sehingga si nini bisa berdialog dengan keturunannya. Dalam hal ini, sebenarnya bukanlah pengaruh agama Hindu semata. Akan tetapi masih ada bekas sisa-sisa kepercayaan lama, yaitu yang lazim disebut, Pemena, Pelbegu dan lain-lain. Tentu saja dalam hal ini tak perlu membuat gusar benar, sebab pengaruh-pengaruh demikian, wajar adanya. Upacara-upacara sedemikian, lengkap diikuti dengan segala macam “Sajen” (Sajian) juga terjadi di Jawa. Ungkapan mantera yang memakai ‘hong’, juga dikenal antara lain dalam bentuk : hong wilaheng awigena, mas putu batara langgeng. Suatu ungkapan yang biasa terjadi di dalam dunia perwayangan. Pengaruh lain dari agama Islam. Dalam hal tentang pengaruh Islam dalam masyarakat Karo sangat jelas terlihat bahwa di Kesultanan Aceh, ujung utara pulau Sumatera hingga sungai Asahan di Timur Danau Toba, sangat kuat pengaruh Islam terutama dalam pemerintahan Sultan Iskandar Muda (sekitar tahun 1650an). Pada masa inilah suku bangsa Karo yang tinggal di Langkat dan Deli Serdang masuk agama Islam. Jadi Islam telah masuk kurang lebih tiga ratus tahun yang lalu. Anderson, penulis ‘Mission to the East Coast of Sumatera’, 1923, menyebutnyebut bahwa orang Karo turut membantu Sultan Deli memberontak terhadap Kesultanan Aceh. Ada dugaan, bahwa orang Karo yang dimaksud di sini, adalah orang Karo yang telah masuk Islam di bawah raja-raja yang memakai marga Karo, seperti Datuk Sukapiring, Datuk Sabernaman, Kejurusan Sanembah Deli, Kejurusan Bahorok (Langkat Hulu) dan lain-lain. Snouck Hurgronje, seorang Belanda yang banyak menulis tentang sejarah Aceh dan Islam, dalam bukunya ‘The Gayo Land’, berpendapat bahwa penduduk Lingga pernah beremigrasi ke Gayo. Pendapat ini didasarkan atas terdapatnya marga Lingga di Gayo, yang bersamaan dengan marga Sinulingga di Lingga. Hubungan Lingga dengan Gayo diperkuat dengan adanya makam Tengku Syeh, seorang penganjur Islam di Uruk Ndoli, sebuah bukit antara desa Perbesi dan Bintang Meriah di Kabupaten Karo. Bintang meriah diakui sebagai marga Sinulingga yang berasal dari Lingga. Perkataan ‘Lau Bahing’ yaitu pemandian Bintang Meriah, dikatakan berasal dari kata ‘Perbandingan’, sebuah tempat mandi di Lingga. Tengku Syeh yang dimakamkan di Uruk Ndoli itu, dalam misinya berjalan dari Gayo ke Kabupaten Karo, memintas pegunungan Bukit Barisan menuju Bahorok di sekitar-sekitar desa Perbesi, Bintang Meriah dan Kuta Buluh. Bahwa ia dimakamkan di Uruk Ndoli tidak perlu diherankan apabila diingat bahwa di kaki bukit itu terdapat pancuran bernama Tambak Malim. Diduga dalam perjalanannya yang panjang itu, almarhum sering mandi dan bersembahyang di Tambak Malim. Makam itu hingga kini terawat baik, dan banyak orang datang mengunjunginya. Terutama mereka yang percaya

kepada ilmu gaib. Ada dugaan bahwa pemandian itu mendapat nama Tambak Malim dari dari Tengku Syeh. Malim diduga berasal dari kata alim. Dalam hal ini, kemungkinan lainnya asal kata tersebut adalah Tambar Malem. Dua kata ini mempunya arti yang sangat baik dalam bahasa Karo. Pada tahun 1905, Letnan Kolonel Van Daleen dengan para serdadunya dalam rangka operasi pembersihan dalam perang Aceh yang formil telah berakhir dengan menyerahnya Sultan Aceh pada tahun 1903 memasuki dataran tinggi Karo dan menempatkan di sini Kapten H. Colijn sebagai penguasa perang (militaire gezagheber) di Tanah Karo. Kemudian Colijn digantikan oleh Kontelir Poortman yang dipindahkan dari Sipirok ke Tanah Karo. Maka mulailah berlangsung penjajahan Belanda di daerah tersebut yang mana berakhir pada Maret 1942 dengan kedatangan tentara Jepang yang dapat menaklukkan seluruh Hindia Belanda dalam waktu yang sangat singkat. Kontelir Poortman segera mengusahakan agar pemerintahan kolonial berjalan secara efektif. Tindakannya yang pertama adalah membagi tanah Karo. Dalam menetapkan para kepala dari swaparaja tersebut, Poortman menemukan kesulitan. Karena daerah Karo yang tidak pernah mengenal sistem kerajaan dalam arti yang sesungguhnya. Serta tidak pernah memiliki satu pemerintahan sentral. Sukar sekali memperoleh orang yang dapat ditokohkan sebagai kepala swapraja. Tidak ada orang yang menonjol keahliannya dalam melaksanakan pemerintahan. Dalam hal pemerintahan tradisional selama ini yang sifatnya sangat demokratis, yang memegang tampuk pimpinan hanyalah ‘orang pertama diantara sesamanya’ (primus inter pares) Poortman mengatasi kesulitan ini dengan mengangkat dua orang yang semarga sebagai kepala swaparaja (twee hoofdige zelfbetuur) secara temporer dengan ketentuan bahwa yang terpanjang usianya diantara yang semarga ini kelak akan ditetapkan sebagai kepala swapraja dengan titel sibayak, yang bersifat hereditair. Setiap Sibayak memerintah daerahnya masing-masing secara otonom. Sedangkan Kontelir yang ditempatkan di Kabanjahe, bertindak selaku penasehat, meskipun dalam prakteknya dalam masalah penting kata terakhir terletak pada penasehat tersebut. Dalam tahun-tahun berikutnya, Belanda berusaha meniadakan isolasi daerah Karo dengan membuka jalan yang dikeraskan (kemudian diaspal), mulai dari Medan menembus jantung dataran tinggi Karo terus ke Kuta Cane di daerah Aceh Tenggara. Pertimbangan strategi militer dalam pembangunan jalan ini, yakni untuk mempermudahkan transportasi militer berikut alat-alatnya tentu juga merupakan faktor yang penting, mengingat bahwa meskipun Perang Aceh telah resmi berakhir, namun masih tetap merupakan daerah rawan, karena perlawanan rakyat masih terus berjalan meskipun bersifat sporadis. Namun dengan dibukanya jalan tersebut, rakyat Karo memperoleh manfaat besar. Karena sekarang daerah Karo menjadi daerah yang terbuka bagi dunia luar. Isolasi physik geografis oleh Belanda, meskipun masih dalam tingkat rendah, dan tujuan utamanya adalah untuk mempersiapkan tenaga administratif lapisan bawah dalam rangka menjalankan pemerintahan Kolonial. Didirikanlah sekolah-sekolah dasar, baik yang berbahasa pengantar Melayu maupun yang berbahasa Belanda.Usaha pertanian juga dipermodern, baik dengan cara memperkenalkan teknik pertanian modern ( pemupukan, anti hama, dlsb) maupun dengan cara memasukkan jenis tanaman baru (kentang, kol, wortel, dlsb). Tanah Karo pernah terkenal karena bungabungaan yang pohon induknya berasal dari Eropah. Peternakan juga diberi perhatian secukupnya, dengan memberi pemberantasan penyakit hewan, usaha menaikkan jumlah populasi ternak, dan sebagainya. Dengan bertambahnya mata-dagangan akibat perbaikan pertanian dan peternakan dan usaha lainnya, maka guna menyalurkan hasil-hasil baru

tersebut, didirikanlah beberapa lokasi pertemuan antara pembeli-penjual berupa pekan-pekan yang diadakan secara bergilir menurut jalannya harihari per-minggu. Kegiatan perdaganganpun mulai dikenal. Sanitasi dan pengobatan modern juga dipentingkan dengan mendirikan Rumah Sakit dan leproserie (oleh Zending) dan Balai Pengobatan, pemberantasan penyakit menular antara lain cacar, kolera, thypus, digiatkan. Berastagi dan Kabanjahe dijadikan daerah peristirahatan sehingga benih bagi dunia kepariwisataan mulai ditanamkan. Namun harus diakui bahwa, peningkatan mutu perumahan kurang diperhatikan, sedangkan usaha-usaha perindustrian tidak diperkenalkan secara mendalam. Dalam pada itu tidak boleh dilupakan, bahwa sebelum tahun 1905, daerah kediaman orang Karo di luar dataran tinggi Karo, misalnya daerah Langkat, Deli Serdang dan Dairi, telah mendapat sentuhan pengaruh luar, terutama pengaruh Melayu. Dapat dikonstatir bahwa sebelum perang dunia ke-II, di daerah Langkat banyak orang Karo ‘masuk’ Melayu (menjadi orang Melayu dengan meresipier kebudayaan Melayu inklusi agama Islam). Dibukanya usaha-usaha perkebunan oleh maskapai-maskapai Belanda di daerah Langkat dan Deli Serdang menyebabkan selimut isolasi yang selama ini meliputi masyarakat Karo, secara berangsur-angsur semakin terbuka. PERUBAHAN SOSIAL Penjajahan Belanda di daerah dataran tinggi Karo hanya berlangsung singkat, tidak lebih dari 37 tahun (1905-1942), sehingga dapat dikatakan bahwa daerah tersebut bahwa daerah di Indonesia yang paling singkat berada di bawah penjajahan. Waktu yang relatif singkat itu menyebabkan Belandabelum mempunyai kesempatan cukup banyak untuk merubah wajah dan isi masyarakat Karo, baik dari segi positif maupun negatif. Di atas sudah dikemukakan apa yang telah diperbuat Belanda. Tidak diragukan lagi, bahwa apa yang dibuatnya itu, ditinjau dalam rangka apa yang mungkin dilakukan dalam jangka panjang, adalah sangat minim dan tidak berarti banyak dalam skala modernisasi. Namun dampak dari kontak budaya Karo dengan Belanda yang modern sungguh di luar dugaan, bahkan jauh di luar perhitungan Belanda sendiri. Seperti telah diuraikan di atas, kontak tersebut telah mengangkat tirai/selubung isolasi yang selama ini meliputi masyarakat. Secara tidak sadar, Belanda telah menanam benih-benih perubahan sosial, yang dikemudian hari dikembangkan oleh masyarakat Karo untuk kebaikan dirinya sendiri. Sewaktu Belanda datang, masyarakat Karo masih merupakan masyarakat murni tradisional. Susunan perekonomiannya dan budayanya masih bersifat agratis. Kesuburan tanah dan iklim yang baik, menyebabkan masyarakatnya sekaligus bersifat swasembada. Hanya beberapa jenis kebutuhan yang dimasukkan dari daerah luar, antara lain garam. Semua kebutuhan diprodusir – dan hanya diprodusir – untuk konsumsi sendiri. Perdagangan hampir tidak dikenal, kalaupun ada hanya dalam bentuk bartar. Setiap orang dapat memenuhi sendiri kebutuhan pokoknya. Waktu yang diperlukan untuk itu (menanam, merawat dan panen padian, dsb), hanya beberapa bulan saja sepanjang tahun. Yang selebihnya mereka pergunakan untuk bersantai. Dapat dimaklumi bahwa dalam masyarakat yang demikian itu, orang cenderung untuk lekas merasa puas. Jenis dan jumlah kebutuhan tidak pernah bertambah. Masyarakat menjadi statis. Anggota masyarakat menerima keadaan statis itu sebagai suatu hal yang wajar. Perubahan ke arah yang lebih baik, maupun kemungkinan ke arah itu tidak pernah terpikirkan. Kontak dengan Belanda menyebabkan jendela untuk melihat dunia yang

lebih luas menjadi terbuka. Kemungkinan-kemungkinan terbaru terhampar dihadapan mata. Pada mulanya secara kabur dan tidak mempunyai bentuk yang tegas dan karena itu kurang mempesona. Secara berangsur-angsur dan perlahan tapi pasti, gambaran itu semakin jelas. Dunia pendidikan yang meskipun masih dalam tingkatan rendah, semakin membuka mata orang Karo. Terbukanya mata masyarakat Karo terhadap orang luar bukanlah tujuan utama kedatangan Belanda, melainkan efek sampingan dari kedatangan politik kolonial Belanda yang menjadikan Indonesia termasuk daerah Karo, sebagai suplier bahan mentah pasaran dunia. Sekaligus juga menjadikan Indonesia menjadi tempat pelemparan hasil industri Eropah Barat. Kedatangan Belanda sendiri membawa serta perubahan sosial yang bersifat fundamental, terutama dalam bidang kekuasaan pemerintahan dengan digesernya kekuasaan tersebut dari tangan rakyat Karo ke tangan Pemerintahan Belanda. Perubahan lainnya yang diadakan Belanda, hanyalah dalam rangka penegakan dan kelanjutan pemerintahan kolonial. Namun dalam perubahan tersebut, terselip pula benih-benih perubahan, yang pada waktunya kelak akan berkembang menjadi perubahan yang membawa manfaat kepada rakyat Karo, antara lain dibukanya jalan-jalan seperti tersebut sebelumnya. Pemerintahan pendudukan Jepang yang hanya singkat itu, telah mampu menimbulkan rasa cinta kepahlawanan dan disiplin, yang kemudian ternyata bermanfaat dalam usaha perjuangan kemerdekaan. Untuk mengisi kemerdekaan yang telah berhasil diperjuangkan bangsa Indonesia. Perubahan sosial adalah suatu hal yang perlu dan harus, oleh karena itu kita perjuangkan dengan sungguh dan secara berencana. JAKARTA PERIODE : 1950-AN Paksa Belanda jadi penguasa denga i Indonesia enda, labo piga kalak Karo tading i Jakarta. Tapi kenca proklamasi 1945, terlebih kenca penyerahen kedaulatan tahun 1949, piga-piga kalak Karo berkat ku Jakarta. Lit perbahan erdahin bas pemerintahen, lit berusaha, tapi si melalana anak sekolah, nerusken pendidikan ku perguruan tinggi. Ngadi-ngadi tahun 1960, la she 20 jabu kalak Karo i Jakarta. Tapi bage gia, situhuna ibas tahun 1954, enggo me lit perpulungen kalak Karo, gelarna : KARO SADA KATA. Sedekah kurang lebih 20 tahunen, KSK enggo berperan persada ras pepulung kalak Karo i Jakarta. Kerina acara kebudayaan Karo lit i teruh panji-panji KSK. Umpamana, guro-guro aron, kerja tahun, acara perjabun, kepaten, acara tahun baru, ras acara halal bi halal, pagelaran budaya bas acara nasional, se Jakarta tahpe acara masyarakat Sumatera Utara i Jakarta. Radu ras runggun Gereja GBKP si paksa si e, ersada denga ras Klasis Medan. KSK enggo mereken pengepkeppen perpulungen ras persadaan man kalak Karo i Jakarta. JAKARTA PERIODE : 1970-AN Mengketi periode tahun 1970-an, per reh kalak Karo ku Jakarta, enggo kal bali bagi kalak Karo mengketi Medan tahun 1950-an. Terlebih bas paksa si e, enggo lit perusahaan angkutan PO Saudaranta, si karina karyawanna kalak Karo. La persoalen lit SIMna ntah lahang. Asal nggit ngarak-ngarak motor nggo dat nakan ras belanja, janah enggo ka danci gawah-gawah tare motor ndedah Jakarta. Diher terminal/Pool Saudaranta, umpamana : Cililitan, Lenteng Agung bagepe Taneh Kusir, she asa gundari enggo jadi perkutaan kalak Karo. Mulai me tubuh perpulungen-perpulungen merga. Megati ikataken arisen, kerina merga lit arisenna. Lebih asa merga, sub merga pe lit arisenna. Malahen sub merga ngikutken kesain tahpe ripe i kuta lit arisenna. Acara

guro-guro aron, selain ngikutken perpulungen se Jabotabek, enggo erdalan ngikutken pemukimen saja. Lit gendang Tanah Kusir, Gendang Tj Priok, Gendang Cililiten ras sidebanna, janah si erjabaten I tenahken tahpe I legi nangkeng. JAKARTA PERIODE : 1980-AN Kenca tahun 1980-an, perpulungen kalak Karo enggo tuhu-tuhu melala erbagena. Lit ngikutken merga, sub merga, kesain, ripe ras anak beruna. Perpulungen kuta-kuta kemulihen, ras perpulungen ngikutken wilayah. Perbahan metirna arus pembangunen, khususna perluasen pemukimen, gundari enggo merupaken sada perpulungen si mbelin kalak Karo se: Jakarta, Tanggerang, Bogor, ras Bekasi (Jabotabek). Tapi adi lit kerja, janah iban surat undangen kade-kade/keluarga si ikut ngundang labo si se Jabotabek ngenca, tapi ikut se Pulau Jawa ras Lampung, tempa-tempa jadi sada kuta si mbelin. Tambah si e tentuna, lit ka perpulungen ngikutken kiniteken (religi), Kristen ras Islam, enggo erperan mbelin ibas mpepulung kalak Karo. GBKP Klasis Jakarta umpamana, khusus untuk wilayah Jakarta, Tanggerang, Bogor ras Bekasi, ngengkep 12 runggun. Emkap Jakarta Pusat, Cililitan, Tanjung Priok, Kebayoran Lama, Rawamangun, Depok/LA, Cijantung, Tanggerang, Bogor, Bekasi, Pondok Gede ras Pengumben. Adi tiap runggun, lit 3 sektor saja, enggo lit 36 perpulungen jabu-jabu tiap minggu. 144 perpulungen tiap bulan, tambah ka PA Moria, Permata KKR tahpe Mamre. Benana 36 kali kebaktian bas cakap Karo tiap bulan. Tiap minggu lit acara petandaken anggota si mbaru reh, janah la enggo pernah lit minggu kosong bas acara petandaken. Arah si e, menam-menam lit registrasi otomatis kerehen kalak Karo ku Jakarta.

PERPINDAHAN SUKU-SUKU KARO DARI DATARAN TINGGI KE WILAYAH DUSUN-DUSUN DELI GURU PATIMPUS SEMBIRING MENDIRIKAN KUTA MEDAN Seperti telah disinggung sebelumnya, di wilayah “dusun” (pedalaman/di kakai Bukit Barisan), ada suatu suku yang menyebut dirinya Karo (atau Haro di Asahan) yang kini sisanya masih tinggal di kampung Siberaya (dekat di atas Deli Tua), dan mereka disebut Karo Sekali (asli). Mereka inilah (yang Islam), yang bercampur baur dengan orang-orang Melayu pesisir yang menjadikan penduduk kerajaan Haru (deli). Di dataran tinggi Karo, pada awal abad ke-17, datanglah gelombang invasi dari berbagai marga dari arah Dairi dan Toba. Yaitu, Barus, Lingga dan Sitepu, yang menurut suku Karo, itu bukan asli Karo, sehingga dinamakan Karo-karo. Mereka itu lalu menetap dan membuat perkampungan (kuta) sampai di dataran rendah dekat Deli Tua dan Binjai. Marga Tarigan datang dari Dolok dan Simalungun, dan juga dari Lehe (Dairi), berjalan menuju Nagasaribu dan Jupar. Satu cabang mereka pergi turun ke pesisir (Ale – Deli dekat Pulau Berayan, dan bahkan sampai ke Siak. Masa itu juga Guru Patimpus mendirikan perkampungan – perkampungan (kuta-kuta) sampai di Medan sekarang. J.H Neumann menduga, mereka pindah bergelombang dari datarang tinggi Karo, karena adanya desakan dari orang-orang India Tamil yang datang dari

arah Singkel dan Barus yang masuk ke Taneh Karo, dan juga karena merga Sembiring diusir dari Aceh. Kemungkinan lain ialah, karena tanah di dataran rendah relatif lebih subur daripada di dataran tinggi dimana tanah tidak mencukupi lagi. Itu dimungkinkan karena penduduk di dataran rendah telah menciut akibat peperangan-peperangan dengan Aceh berkali-kali dalam periode 1539-1640, sehingga bandar-bandar hancur, dan kampung-kampung ditinggalkan. Marga Ginting datang via Tengging lewat pegunungan (layo Lingga) masuk Tanah Karo. Banyak pula daerah mereka yang diambil merga Sembiring. Merga Perangin-angin datang dari Pinem dan Layo Lingga. Mereka menuju ke utara, ke Kuta Buluh dan ke sebelah barat Gunung Sinabung. Juga mereka melintasi pegunungan menuju dataran rendah dekat Binjai. Hanya Peranginangin Batu Karang yang datang dari arah Siantar, tetapi akhirnya mengaku juga datang dari arah Dairi. Sembiring Kembaren datang melalui Lau Baleng dan via Samperaja (Liang Melas), masuk Bahorok di Langkat. Ada juga yang terus ke Tanah Alas. Invasi yang terakhir adalah dari marga-marga Sembiring lainnya (Brahmana, Meliala, Depari dan lainnya), yang juga melalui jalan tadi, agak ke timur menghulu Sungai Biang dan menuju arah Siberaya. Jika ditelusuri cerita dari Perbesi, maka marga-marga Sembiring ini baru masuk Dusun Deli dan Serdang kira-kira 150 tahun yang lalu. Merga-merga ini sangat sedikit, dan tidak pernah menjabat Kepala Kampung (Penghulu atau Perbapaan) di Deli dan Serdang. Jadi hampir dari semua mereka ini datang dari Hulu Sungai Singkel dan hulu sungai-sungai di sebelah pantai barat Sumatera. Apa faktor-faktor dan motif yang mendorong mereka itu pindah ke dataran rendah ? Ada beberapa penyebab: Jika ditelusuri cerita-cerita dari pustaka mereka, adat Karo zaman dahulu menghendaki putera-putera raja harus merantau dan mendirikan kampungkampung dan kerajaan-kerajaan yang baru agar turunan mereka menjadi besar. Kita ambil contoh Datuk Sunggal. Sebahagian berpenduduk Karo dari wilayahnya (Serbanyaman) dihuni oleh mereka-mereka yang berasal dari kerajaan Teluk Kuru di dataran tinggi. Di situ yang berkuasa marga Karo-karo Gajah, yang di dataran rendah sangat sedikit jumlahnya. Selain faktor kesuburan dataran rendah, juga adanya sifat bertualang bagi orang-orang Karo, terutama yang masih lajang, atau kalah perang dan harus mengungsi. Petualangan-petualangan secara individu juga terjadi, marga-marga dan sub marga saling bercampur untuk tinggal dimana-mana. Mungkin ketika dalam perjalanan berdagang menuju pesisir dan muara-muara sungai dimana ada pedagang-pedagang Melayu, di dalam perjalanan pulang mereka tersesat. Lalu di suatu tempat yang baik, mereka membuka kediaman yang baru, yang disebut ‘Dagang’. Petualangan individu itu bisa juga terjadi dimana orang-orang yang bersalah di kampungnya, lari dan mendirikan pemukimanpemukiman di dataran rendah. Pemukiman-pemukiman suku Karo ini pada awalnya sampai ke daerah 10 KM dari pesisir pantai. Mereka yang berdiam di pesisir itu telah di Islamkan orang-orang Melayu, seperti halnya Datukdatu Kepala Urung di Sunggal, Hamparan Perak (XII Kuta), Sukapiring dan Senembah. Mereka inilah perantara dengan rekannya sesama suku yang masih belum beragama di Hulu. Kampung-kampung Karo yang baru didirikan disebut Kuta, dan kepala kampungnya ialah marga yang mula-mula mendirikan/membuka tanah di situ. Ia berhubungan erat dengan Kepala Kampung Induknya di dataran tinggi. Ia tak ubahnya sebagai koloni baru yang otonom. Kalau dua atau lebih marga berlainan yang mendirikan bersama-sama sebuah kampung, maka masing-masing marga mengepalai satu komplek, yang disebut kesain dari kampung itu. Kepala Kampung ini disebut Penghulu atau Raja, dan kalau titel turunan bangsawan disebut Sibayak. Penghulu tidak memerintah

sendiri-sendiri, tetapi didampingi: 1. 2. 3. 4. 5. Anak Beru (anak laki-laki saudari perempua yang lain marga) Senina (salah seorang dari sub marga yang sama dengan penghulu) Kalimbubu (pihak mertua dari Penghulu) Anak Beru Menteri (anak beru dari anak beru penghulu) Pertuha Kuta (orang tua yang dianggap peduli adat dipilih dewan desa)

Jadi, ‘dusun’ yang mempunyai ‘kuta’ (kampung), adalah republik-republik kecil. PERBAPAAN Jika suatu kuta baru didirikan oleh orang-orang dari kuta (kampung) Induk, maka kampung induk itu disebut PERBAPAAN (tempat dimana bapak tinggal). Serta kuta yang baru itu tidaklah merdeka sepenuhnya. Karena itu, jika ada perkara dan penduduknya kurang puas, bisa naik banding kepada putusan kampung perbapaan disebut ‘Balai’. Satu Perbapaan bersama-sama anak kampung membentuk ‘kuta’nya satu negeri yang disebut URUNG. Ada juga beberapa kepala kampung yang berjasa kepada Datuk dan diberi gelar ‘Penghulu Kitik’. Sedangkan Perbapaan diberi gelar ‘Penghulu Belin’. FEDERASI URUNG – URUNG Setiap wilaya dari Datung (Urung) 4 suku di Deli (terutama Sunggal, Sepuluh Dua Kuta Hamparan Perak dan Sukapiring, dibagi lagi atas 2 wilayah ; 1. Sinuan Bunga, (dimana kapas ditanam). Ini adalah daerah-daerah yang berbatasan dengan dataran pesisir dimana tinggal suku Melayu. 2. Sinuan Gambir (dimana gambir ditanam), ialah wilayah-wilayah penduduk Karo yang berbatas dan bersatu dengan daerah Hulu sampai ke Dataran Tinggi Karo. Jadi, daerah berpenduduk suku Karo di Deli terbagi atas : a. Kampung – kampung (kuta) b. Urung (Perbapaan) c. Hoofd-Perbapaan d. Datuk-datuk Di dalam masa interregnum inilah tiba seseorang yang bernama Guru Patimpus ke Medan sekarang ini. Ini dikisahkan dalam riwayat Hamparan Perak. Dokumen asli dalam aksara Karo dan ditulis dalam pustaka yang terdiri dari lempengan-lempengan bambu, tetapi dokumen asli ini yang disimpan di rumah Datuk Hamparan terakhir (Datuk Hafiz Haberham), telah terbakar ketika berkecamuk revolusi sosial yang disponsori kaum komunis di Sumatera Timur, tanggal 4 Maret 1946. Yang ada sekarang hanyalah salinan yang diketik dalam bahasa Indonesia dengan aksara Romawi. Singkatnya, isi dokumen itu adalah sebagai berikut; RAJA SINGA MAHRAJA memerintah negeri Bekerah kawin dengan puteri dari orang besarnya bernama PUANG NAJELI dan nama orang besarnya itu JALIFA. Dari perkawinan ini, lahirlah dua orang putera, masing-masing bernama Tuan Manjolong (yang kemudian menggantikan kedudukan bapaknya sebagai raja dan Tuan Si Raja Hita, yang belakangan pergi merantau bersama neneknya Jalipa, dan akhirnya tiba di sekitar Gunung Sibayak (Tanah Karo). Sesampainya di sana, salah seorang kesasar di dalam hutan sehingga keduanya terpisah. Jalipa akhirnya sampai ke kampung Kendit. Turunan suku Karo di XII Kuta, asalnya datang dari Kendit ini kemudiannya. Setelah perpisahan ini, Tuan Si Raja Hita kembali ke Bekerah via laut Tawar. Kemudian kawin serta menetap di kampung Pekan. Disana ia memperoleh 3 orang anak. Yang nomer 2 dirajakan di kampung Pekan (Pekan) ini, sedang yang nomor 3 kemudian dirajakan di Kampung Balige. Dan yang tertua bernama Patimpus, yang tak mau menjadi raja, namun suka merantau menambah ilmu, sehingga lama kelamaan ia dikenal sebagai Guru Pa Timpus. Si Raja Hita meninggal. Guru Pa Timpus kemudian pergi ke kampung

Pekan. Ia kemudian kawin dengan anak raja Ketusing, dan menetap sementara di sana. Dari perkawinan ini ia memperoleh putera-puteri : 1. Benara, yang mendirikan kampung Benara 2. Kuluhu, yang mendirikan kampung Kuluhu 3. Batu, yang mendirikan kampung Batu 4. Salahan, yang mendirikan kampung Salahan 5. Paropa, yang mendirikan kampung Paropa 6. Liang, yang mendirikan kampung Liang 7. Serta seorang gadis yang kawin dengan Raja Tangging (Tingging) Demikianlah kesemua kampung-kampung itu menjadi anak beru dari kampung Ketusing. Tiada berapa lama kemudian, terjadilah huru-hara di dataran tinggi Karo. Guru Pa Timpus sangat masygul memikirkan nasib moyangnya Jalipa yang tinggal di Kaban kini. Ketika ia menuju Kaban, sampailah ia di Aji Jahe, yang waktu itu sedang dilanda perang saudara. Ia dapat menyelesaikan huru-hara itu, sehingga tercipta perdamaian dan ia lalu dikawinkan di sana. Dari perkawinan itu, lahirlah dua orang putera bernama Si Janda (menetap di Aji Jahe) dan Si Gelit (Bagelit). Tiada berapa lama, terbit pula huru-hara di kampung Batu Karang. Guru Pa Timpus diminta kesana menyelesaikannya. Setelah diperoleh perdamaian, maka ia dikawinkan di sana. Dari perkawinan itu, lahir pula dua orang putera, yaitu Si Aji (kemudian Perbapaan Perbaji), dan Si Raja Hita, yang kemudian dirajakan di kampung Durian Kerajaan (Langkat Hulu). Pada suatu ketika ia berada di Aji Jahe, terdengarlah kabar bahwa “ Jawi bangsa Said datang dari negeri Jawa diam di Kota Bangun, dinamakan Datuk Kota Bangun, sangat luar biasa tinggi ilmunya. Guru Pa Timpus beserta pengiring-pengiringnya, lalu pergi ke arah hilir, dan kemudian sampailah mereka di Kuala Sungai Sikambing. Dia menetap di sana selama 3 bulan. Barulah dia pergi menemui ulama Datuk Kota Bangun tadi. Setelah sama-sama mencoba kepandaian ilmu mistik masing-masing, akhirnya ternyata Datuk tadi lebih unggul, akhirnya Guru Pa Timpus tadi bersedia masuk Islam. Di sini istilahnya “masuk Jawi” = masuk Melayu. Kemudian ia kembali ke gunung dan berunding dengan pengikutpengikutnya. Di dalam kata perpisahan antara lain disebutnya ; “… serupa juga aku di sini atau di sana, sebab kita punya tanah sampai ke laut, aku pikir jikalau aku tiada masuk Islam, tentulah tanah kita yang dekat laut diambil oleh Jawi dari seberang…” Kemudian Guru Pa Timpus bersama 7 orang besarnya, masuk Islam oleh Datuk Kota Bangun. Di sana mereka berguru agama Islam selama 3 tahun, dan ia lewat di kampung Pulau Berayan. Ketika itu Pulau Berayan masih berpenduduk asal Karo. Dan raja di kampung itu bermarga Tarigan keturunan Panglima Hali (bandingkan Pustaka Tarigan yang menyebut ‘Ale Deli’) yang sudah lama memeluk Islam. Raja ini memiliki seorang putri yang cantik, kepada siapa Guru Pa Timpus jatuh hati. Tetapi gadis ini selalu saja menghinanya dan tidak akan bersuamikan “ Batak masuk Jawi “. Guru Pa Timpus lalu sakit hati, kemudian mengguna-gunai gadis itu sehingga tergilagila kepadanya. Sehingga akhirnya dapat disembuhkan Pa Timpus sendiri, maka gadis itu dikawinkan ayahnya dengan Guru Pa Timpus. Tiada beberapa lama, Guru Pa Timpus kemudian membuka kampung Medan (Kuta yang ke12). Sesudah ia siap membuat rumah dan kampung, lalu dari Medan inilah ia memerintah dusun-dusun taklukkannya yang ada di Hulu. Ketika di Medan inilah lahir 2 orang puteranya, masing-masing bernama Hafidz Tua (sebutan Kolok) dan Hafidz Muda (panggilan Kecik). Saat berumur 7 dan 8 tahun, anak-anak ini berguru kepada Datuk Kota Bangun. Ketika sampai pada masa khatam Al Quran dan mau menyunat rasulkan putera-putera ini, maka dibuatlah pesta yang besar, dengan mengundang kerabat yang dari gunung. Berhubung puteranya Si Bagelit menuntut supaya dia nanti bakal pengganti raja, sedangkan Hafidz Tua dan

Hafidz Muda sudah dewasa pula, maka Guru Pa Timpus menentang hal itu. Setelah berunding dengan para pembesar-pembesarnya, lalu 1/3 dari tanah kerajaannya ke arah gunung, yang kemudian disebut dengan Sukapiring, diserahkan kepada Si Bagelit selaku rajanya, dan berpusat di Durian Sukapiring, setelah Si Bagelit di Islamkan oleh Datuk Kota Bangun. Atas nasihat Datuk Kota Bangun, maka kedua putranya disuruh menghadap kepada Sultan Aceh. Sesampai di sana, oleh Sultan Aceh mereka dianugrahi pangkat panglima dengan alat kebesaran sebuah Gedubang dan mereka lalu dikawinkan di sana. Kemudian mereka pulang ke Medan. Guru Pa Timpus membuat kampung yang baru di Pulau Bening, lalu meninggal dunia, dan dimakamkan di sana. Karena abangnya tidak mau menggantikan posisi ayah mereka menjadi raja, maka Hafidz Muda kemudian yang menjadi raja menggantikan singgasana Guru Pa Timpus.

BAB X KESUSASTERAAN KARO
Kesusasteraan Karo memiliki dua bentuk, yakni lisan dan tulisan. Namun, sastra bentuk lisan lebih dikenal dibandingkan tulisan. BENTUK-BENTUK SASTRA LISAN Bentuk-Bentuk Sastra Lisan yang Terkenal Pada Masyarakat Karo, antara lain: Ndungdungen : Dapat disamakan dengan pantun Melayu, biasanya terdiri dari 4 baris bersajak abad. Dua baris pertama berisi sampiran dan dua baris terakhir merupakan isi. Bilang-bilang : Yang berupa ‘dendang duka’, biasanya didendangkan dengan

ratapan oleh orang-orang yang pernah mengalami duka nestapa, seperti ibu yang telah meninggal dunia, meratapi idaman hati yang telah direbut orang lain atau pergi mengembara ke rantau orang. Cakap Lumat : Atau ‘bahasa halus’ yang penuh dengan bahasa kias, pepatah pepitih, perumpamaan, pantun, teka-teki, dan lain-lain. Cakap lumat biasanya digunakan oleh bujang dan gadis bersahut-sahutan pada masa pacaran dimalam terang bulan; atau oleh orang tua pemuka adat dalam berbagai upacara, misalnya upacara meminang gadis. Turin-turin : Atau cerita berbentuk prosa, misalnya mengenai asal usul marga, asal-usul kampung, cerita bintang, cerita orang sakti, cerita jenaka dan lain-lain. Biasanya diceritakan oleh orangtua pada malam hari menjelang tidur. Tabas-tabas : Atau mantra-mantra yang pada umumnya hanya para dukun saja yang mengetahuinya. Konon kabarnya kalau para mantra sudah diketahui orang banyak maka keampuhannya akan hilang. Kuning-kuningen : Atau ‘teka-teki’ yang dipergunakan oleh anak-anak, pemuda-pemudi,orang dewasa diwaktu senggang sebagai permainan disamping mengasah otak. BENTUK SASTRA TULIS Bentuk Sastra Tulis Yang Terkenal Pada Masyarakat Karo, Antara Lain: Sastra tulis juga dikenal oleh masyarakat Karo. Sastra tulis itu pada itu pada masa dulu dituliskan pada laklak atau kulit kayu dan bambu dengan surat Karo ’Aksara Karo’ yang berupa huruf silabis ( semua huruf atau silabe dasar berbunyi a ) yang biasa disebut: haka bapa nawa yang merupakan enam silabe pertama aksara Karo: Pada tahun 1961 G. Smit menerbitkan sebuah buku yang ditulis dalam aksara Karo, di Leiden Negeri Belanda. Buku tersebut dimaksudkan oleh penyusunnya sebagai bahan bacaan bagi masyarakat Karo, terlebih lebih untuk anak-anak sekolah. Buku bacaan yang setebal 64 halaman itu berjudul “ Surat ogen man guna urang Karo, iapke surat Karo jine” atau ‘kitab bacaan untuk kepentingan orang Karo dengan menakai aksara Karo’ (Voorhoeve,1955:36). Buku bacaan G. Smit itu adalah buku bacaan pertama yang mempergunakan aksara Karo. Kiranya setengah abad setelah terbitnya buku Smit tersebut, barulah ada usaha dari putra Karo untuk menyusun bahan bacaan untuk anak-anak sekolah di Tanah Karo, termasuk bahan bacaan yang mempergunakan aksara Karo. KEPUSTAKAAN KARO Karya-karya tulis mengenai bahasa, sastra, dan budaya Karo memang relatif sedikit sampai kini. Dari karya yang sedikit ini, dapat dibuat pengklasifikasian atas bidang-bidang PERKAMUSAN, KEBAHASAAN, KESUSASTERAAN, dan PENELITIAN. A. BIDANG PERKAMUSAN M. Joustra merupakan pelopor dalam penyusunan kamus bahasa Karo. Pada tahun 1907, E.J. Brill menerbitkan kamus karya M. Joustra yang berudul Karo Bataksch Woordenboek (IX + 244 halaman) di Leiden, Negeri Belanda. Dalam kamus ini, setiap artikel atau entry atau kepala ditulis dengan aksara Karo, disertai dengan transkripsinya dalam aksara latin, lalu diberikan arti secara penjelasannya dalam bahasa Belanda.

Empat puluh tahun kemudian, pada tahun 1951 menyusullah J.H Neuman dengan kamusnya KARO BATAKS NEDERLAND WOORDENBOEK ( 344 halaman) diterbitkan oleh Varekamp & Co di Medan. Kamus berbahasa Karo – Belanda ini disusun menurut abjad atau alfabet Latin dan arti, serta penjelasannya diberikan dalam bahasa Belanda. Pada tahun 1971, Henry Guntur Tarigan menerbitkan dalam berstensil KATA DASAR BAHASA KARO ( IV + 65 halaman) di Bandung. Buku kecil ini mengetengahkan suatu teori untuk menghitung kata dasar suatu bahasa termasuk bahasa Karo. Berdasarkan jumlah suku katanya, kata dasar bahasa Karo dapat dibagi atas ekasuku, dwisuku, trisuku, catursuku, yang masingmasing mempunyai 2,18,16 dan sepuluh tipe pula. Kata dasar dwisuku menduduki tempat teratas bila ditinjau dari segi kwalitas tipe maupun butirnya (18 tipe,5005 butir) B. BIDANG KEBAHASAAN. Pada tahun 1992, J.H. Neumann menerbitkan karyanya yang berjudul Schet der Karo Bataks Spraakkunst ‘Sketsa Ilmu Bahasa Batak Karo’ (IV +138 halaman) dalam VBC 63/4 di Welkvreden/’s- Hage. Karya Neumann ini merupakan pelopor dalam bidang kebahasaan Karo. Pada tahun 1966, Henry Guntur Tarigan menulis kata KATA TUGAS BAHASA KARO (30 halaman) di Bandung. Berturut-turut pada tahun 1972 dan 1975 penulis ini menyelesaikan Fonologi Bahasa Karo (64 halaman) dan Morfologi Bahasa Karo (X+97 halaman) di Bandung. Pada tahun 1967, Henry Guntur Tarigan dan Djago Tarigan menulis SINTAKSIS BAHASA KARO ( 97 halaman) di Bandung, yang memperbincangkan frase, klausa, dan kalimat bahasa Karo. C. BIDANG KESUSASTERAAN Dalam bidang kesusasteraan pun, nama-nama M Joustra dan J.H Neumann tetap akan dikenang, karena mereka merupakan pelopor dalam pendokumentasian cerita-cerita rakyat di Tanak Karo dari awal abad kedua puluh. Dalam Mededelingen yang wege het Nederlansche Zendelinggenootschap ( disingkat MNZG) 45 (1901) halaman 91-101, dimuat sebuah artikael M. Joustra yang berjudul: Een en ander uit de litteratur der Karo Bataks, yang mengetengahkan sejumlah teka-teki dalam bahasa Karo beserta terjemahaannya dalam bahasa Belanda. Iets over Bataksche litteratur adalah judul tulisan M.Joustra yang berturutturut dimuat dalam MNZG 45(1901) halaman 165-185, MNZG 46 (1902) halaman 357-372, dan MNZG 47 (1903) halaman 140-165. dalam tulisan berturut-turut diketengahkan nyanyian anak-anak, pantun, perumpamaan, dendang duka dan beberapa cerita Karo. Juga dalam MNZG 46(1902) halaman1-22 dimuat tulisan M. Joustra yang berjudul HET PERSILIHI MBELIN yang memaparkan upacara persilihi atau upacara untuk menggantikan tendi (roh) seseorang dengan gana-gana (patung) agar orang tersebut selamat. Upacara ini dipimpin oleh seorang guru (dukun) yang mempergunakan mantra khusus yang disebut: tabas persilihi mbelin ( mantra patung besar). Pada tahun 1904, majalah VBC 56/1 memuat karya M. Joustra yang berjudul Karo Bataksche Vertelinggen ( cerita-cerita Batak Karo ) yang agak panjang (123 halaman). Tulisan tersebut memuat empat buah cerita Karo, yaitu si Laga Man, Ai Adji Deonda Katekoetan, Sarindoe Tubuh dan Raja Ketengahen. Setiap teks cerita Karo disertai terjemahaan dan penjelasan dalam bahasa Belanda.

Toeri-toeri Karo adalah karya M. Joustra yang terdiri dari dua jilid, diterbitkan oleh S.C. van Doesburgh di leiden. Jilid pertama terbit pada tahun 1914 yang memuat tiga buah cerita: Beru Patimar, Sibayak kuta buluh, dan simandupa (46 halaman). Jilid kedua terbit pada tahun 1918 dan hanya memuat sebuah cerita yang berjudul: Teori-teori anak Karo Mergana, Sibayak Baroes Jahe (52 halaman). Keempat cerita itu tertulis dalam bahasa Karo tanpa terjemahan dalam bahasa Belanda. Demikian telah kami utarakan beberapa karya M.Joustra dalam bidang kesusasteraan Karo. Sekarang kita beralih kepada J.H.Neumann. Dalam MNZG 46(1902) halaman 23-39 dimuat karya J.H.Neumann yang berjudul De Begoe in de godsdienstige begrippen der Karo – Bataks in de Doesoen (Begu dalam pengertian Ketuhanan orang Batak Karo di dusun). Dalam tulisan di atas Neubegu ganjang, begu menggep, begu sidangbela/begu mentas, begu jabu, begu naga lumayang, begu mate sada wari, begu bicara guru, begu tungkup. Dalam MNZG 48(1904) halaman 101-145 dapat dibaca tulisan J.H. neumann yang berjudul De Tendi in verband metsi dayang. Dalam tulisan ini dibicarakan bagaimana hubungan tendi dengan si Dayang yang melambangkan kecantikan kehalusan budi seorang wanita. Menurut guru, ada tiga jenis tendi yang memiliki nama sendiri, yaitu : Si Junjung, Si Galimang, Si Ndakara, SiNdakiri, Si Berka Kondang, Si Berkah Kasih, Si Olah Lapat/ Si Lindung Bulan. Dan untuk menghormati/memanggil ada beberapa cara, yaitu: ngicik tendi, ngkap tendi, raleng tendi, ngkirep tendi, manggil tendi, ndilo tendi, dan upacara mengusir/mengenyahkan tendi dan roh disebut: ngeleka tendi. Baik dalam upacara memanggil atau mengusir roh itu sang dukun mempergunakan tabas atau mantra. Ben en ander aangaande de Karo-Bataks adalah judul karangan JH.Neumann yang dimuat berturut-turut secara bersambung dalam MNZG 48 (1904) halaman 361-377;MNZG 49(1905) halaman 54-67; MNZG 50(1906) halaman 26-40; MNZG 51(1907) halaman 347-364. dalam tulisan ini JH.Neumann mengemukakan serba serbi mengenai budaya Karo, antara lain: persebahan pada nenek moyang, tafsir mimpi, naga lumayang,hari dan bulan,masalah tapa, masalah nasib sial,membawa bayi kepancuran, pawang lebah,matahari,bulan dan bintang, halilintar,memanggil roh,mantra, dan permainan anak-anak. Disamping bahasa Karo disertakan pula terjemahan dan keterangan dalam bahasa Belanda. Untuk keperluan anak-anak sekolah ditanah Karo, tempat pendeta Neumann bertugas sebagai pengembala domba-domba Tuhan, beliau menyusun pula dua jilid buku bacaan yang bejudul ERBAGE BAGE TEORITORIN. Jilid pertama (27 halaman) terbit pada tahun 1907 di Rotterdam,negeri Belanda;jilid (kedua 35 halaman) terbit pada tahun 1911, di lagoeboti,Tapanuli. Jilid kedua berisi 12 cerita. Semua cerita ini tertulis dalam bahasa Karo tanpa terjemahan, ada yang bersal dari cerita rakyat Karo asli dan ada juga yang berasal dari cerita Melau yang diterjemahakan kedalam bahasa Karo. Dalam tulisannya yang berjudul “Bijdrage tot de Genschiedenis der Karo Bataktammen(I)” yang dimuat dalam BKI 82 (1926)halaman 1-36, JH.Neumann mengemukakan sejarah asal – usul suku batak Karo, dan juga asal usul setiap marga yang terdapat pada masyarakat Karo ( Karo-karo, Ginting, Peranginangin, Sembiring,Tarigan). Terjemahannya dalam bahasa Indonesia telah diterbitkan oleh LIPI Jakarta. Dalam Bijdrage tot de Genschiedenis der Karo Bataktammen (II) dalam BKI 83 (1927 ) halaman 162-180, J.H.Neumann menyajikan Pustaka Kenbaren beserta terjemahan dan penjelasan dalam bahasa Belanda. Dalam tulisan ini dikatakan bahwa asal usul merga Kembaren adalah dari pagarruyung, minangkabau.

Dalam Feesbundel BKI vol.II (1929) halaman 215-222 dan dalam TGB & 3 (1933), halaman 184-215, dimuat karya J.H.neumann mengenai bilang-bilang adalah karya sastra berupa prosa berirama yang penuh dengan kata-kata kias, pepatah-pepitih, pantun, serta bahasa halus lainnya, yang mengandung dendang duka seseorang akan kematian, perpisahan dengan orang yang dikasihi, ataupun pengalaman serta penderitaan dalam perantauan. Dalam TBG 70 (1930 ) halaman1-47, J.H Neumann muncul dengan karyanya “ Poestaka Ginting’ yang menceritakan asal usul orang Karo yang bermarga ginting yang datang dari Kalasen melalui Tinjo ke Tanah Karo, serta berkembang biak menjadi ‘ Siwah Sada Ginting’ ( sembilan putra dan seorang putri Ginting). Di samping teks disertakan pula terjemahannya dan penjelasan dalam bahasa Belanda. ‘Asnteekeningen over de Karo Bataks’ adalah tulisan J.H. Neumann yang dimuat dalam TBG 79 (1939) halaman 529-571. dalam tulisan tersebut pendeta Neumann mengemukakan beberapa catatan mengenai aneka budaya Karo, antara lain: a) Sumpah serapah kepada orang yang sangat dibenci b) Ketakutan dengan halilintar c) Kematian dan penguburan mayat d) Pacaran dan perkawinan e) Merga, beru, dan bebere Walaupun tak seproduktif M.Joustra dan J.H Neumann, masih ada penulis yang menulis hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan sastra dan budaya Karo, antara lain Dr.R.Romer dan H.Guillaume. Dalam TBG 50 (1908) halaman 205-287 dimuat tulisan DR.R.Romer yang berjudul ‘Bijdrage tot de Geneeskunst der Karo-Bataks’. Sebagai seorang Doktor yang bertugas pada Deli Maatschappij, dia mengakui akan adanya obat-obat tradisionil Karo, bahan-bahannya, cara membuatnya, dan cara mengobatkannya. Nama-nama penyakit, nama-nama obat tradisionil, bahanbahan ramuannya ditulis baik dalam bahasa Karo dan bahasa Melayu, bahkan dimana perlu disertakan pula istilah-istilahnya dalam bahasa Latin. Keterangan-katerangannya diberikan dalam bahasa Belanda. Dalam MNZG 47 (1903 )halaman 1-14 dimuat tulisan H. Guillaume yang berjudul’Beschrijering van het tandenveilen ( erkiker ) bij de Karo-Bataks. Dalam tulisan tersebut, Guillaume memaparkan sebuah upacara adat, yaitu upacara pengikiran/pemotongan gigi pada masyarakat Karo di desa Bukum, Karo Jahe. Upacara erkiker ini dipimpin oleh seorang dukun yang mengucapkan mantra khusus yaitu tabas erkiker. Teks tabas erkiker ini disertai pula dengan terjemahan dan penjelasannya dalam bahasa Belanda. Segala bahan di atas yang merupakan karya orang Belanda yang memang telah berusia relatif lama’ dan kini hanya terdapat pada orang-orang tertentu dan perpustakaan-perpustakaan tertentu saja, antara lain perpustakaan KITLV di Leiden, Perpustakaan Rumah Zending di Oegstgeest Negeri Belanda. Dari kedua perpustakaan inilah penulis memperoleh serta mengumpulkan bahan-bahan berharga di atas pada tahun 1971-1973, waktu mengikuti kuliah pasca sarjana linguistik di Universitas Leiden. Demikianlah telah kita utarakan karya-karya tulis beberapa orang Belanda mengenai bahasa dan budaya Karo. Berikut ini akan kita perbincangkan pula beberapa karya tulis putera-puteri Karo mengenai Bahasa, sastra dan budaya mereka sendiri. Pada tahun 1965, Henry Guntur Tarigan menerbitkan ‘nurenure di Karo’ (85 halaman) di bandung, yang memuat percakapan dalam cakap lumat ‘bahasa halus’ antara bujang dan gadis, mulai dari pertemuan pertama, masa pacaran, sampai perkawinan. Teks bahasa Karo disertai dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia.

Pada tahun 1976 itu juga, Jaman Tarigan telah menyelesaikan penyusunan Pantun Karo: Anak Perana ras Singuda-nguda yang diterbitkan oleh Percetakan Toko Buku Mbelin Gunana di Kabanjahe ( 145 untai pantun ) Sebuah antologi Puisi Karo (122 halaman ) diterbitkan oleh Henry Guntur Tarigan pada tahun 1972 di Bandung. Buku ini berisi 17 karya penyair Karo, yang pernah dimuat dalam beberapa majalah, terutama majalah ‘Suara Pemuda’ yang terbit di Medan pada tahun lima puluhan. Teks bahasa Karo disertai dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh penyusun. Pada tahun 1977, Henry Guntur Tarigan telah menyusun sebuah naskah ‘Tabas-tabas Karo’ ( 40 halaman). Teks bahasa Karo disertai terjemahan bahasa Indonesia. Pada tahun 1960, Masri Singarimbun menampilkan karyanya ‘1000 Perumpamaan Karo’ yang diterbitkan oleh CV. Ulih Saber di Medan. Suatu usaha yang amat berguna bagi masyarakat Karo serta pendokumentasian bahasa dan sastra Karo. Sayang teks perumpamaan Karo itu tidak disertai terjemahan dalam bahasa Indonesia. Hal ini menyebabkan penyebarluasannya terbatas pada masyarakat Karo serta orang-orang yang mengerti bahasa Karo saja. Tebal buku 175 halaman. Pada tahun 1977, Henry Guntur Tarigan telah menyiapkan naskah yang memuat kumpulan perumpamaan Karo di Bandung, yang diperoleh dari sumber tertulis di Leiden dan Oegstgeest, dan sumber lain di Indonesia. Setiap perumpamaan Karo disertai terjemahan dan arti kiasannya dalam bahasa Indonesia ( 140 halaman ). Pada tahun ini juga Henry Guntur Tarigan telah menyiapkan naskah ‘Pantengan Karo’ ( 100 halaman ) dan ‘ Kuningkuningen Karo’ (100 halaman ). Teks bahasa Karo disertai terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Begitu pula naskah ‘Turin-turin Karo’ (500 halaman) telah selesai pula di Bandung pada tahun 1977. dalam naskah tersebut, Henry Guntur Tarigan menghimpun 25 buah cerita Rakyat Karo beserta terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Penerbit Yayasan Kobe di Delitua Medan pada tahun 1975 telah menerbitkan cerita ‘Pawang Ternalem’( dalam dua jilid ). Toko Bukit pada tahun 1977 menerbitkan karya Ngukumi Barus dengan judul ‘Guru Pertawar Reme ras Perdagang Ganggang’ ( 24 halaman ) dalam bahasa Karo tanpa terjemahan dalam bahasa Indonesia. Dan pada tahun 1978 Toko Bukit pun menerbitkan ‘ Sekelumit Dari Cerita-cerita Karo’ (30 halaman) yang dikumpulkan oleh S.P. Keliat. Pada tahun 1972 di Bandung, Henry Guntur Tarigan dan Djago Tarigan telah menerbitkan dua jilid ‘ Syair Lagu-lagu Karo’, masing-masing 105 halaman dan 110 halaman yang masing-masing memuat 41 dan 45 teks syair lagu Karo disertai terjemahan dalam bahasa Indonesia. Pada tahun 1972, Rahmat Tarigan tampil dengan karyanya ‘Tambaten Pusuh’ (108 halaman) yang merupakan kumpulan 4 cerita pendek dan 26 puisi. Teks bahasa Karo disertai terjemahan dalam bahasa Indonesia. Pada tahun 1977, Henry Guntur Tarigan menerbitkan ‘Percikan Budaya Karo’ yang merupakan kumpulan karangan mengenai budaya Karo yang pernah dimuat dalam beberapa majalah di Jakarta, Bandung, Jogya (229 halaman ). Pada awal tahun 1978, Henry Guntur Tarigan telah pula menyelesaikan naskah ‘Tendi Nipi’ Tafsir Mimpi, (100 halaman). Setiap teks mimpi disertai terjemahan dan penjelasan dalam bahasa Indonesia. Pada tahun 1952, Balai Pustaka menerbitkan karya P. Tamboen ‘Adat

Istiadat Karo’ (206). Buku ini merupakan pelopor mengenai adat istiadat Karo karya putra Karo sendiri. Buku ini terdiri atas 11 bab, yang berturutturut memaparkan mengenai letak geografis, sejarah penduduk, pemerintahan, pengadilan, keuangan, persawahan, pengajaran, kesehatan, bank anak negeri. Pada tahun 1958 Toko Bukit menerbitkan “Isi Kongres 1958” yang berjudul Sejarah Adat Istiadat dan Tata Susunan Rakyat Karo (134 halaman). Dalam Kongres Kebudayaan Karo yang diketuai oleh Mr. Roga Ginting terdapat seksi adat yang terdiri atas 4 subseksi, yaitu : 1. 2. 3. 4. Sejarah Adat/Tata Susunan Rakyat Adat Kekeluargaan Hukum Adat Tanah Hukum Perselisihan.

Pada tahun 1978, Toko Bukit menerbitkan sebuah brosur karya seorang pensiunan ABRI, Jaman Tarigan yang berjudul “Gelemen Merga Silima, Iket Sitelu, Tutur Siwaluh Kalak Karo” (25 halaman), yang memaparkan apa yang disebut ‘Merga Silima’ (Karokaro, Ginting, Perangin-angin, Sembiring, Tarigan), apa yang disebut ‘Iket Sitelu’ (senina, kalimbubu, anak beru) dan apa yang disebut ‘Tutur Siwaluh’ (sembuyak, senina, senina sipemeren, senina siperibanen, anak beru, anak beru menteri, kalimbubu, puang kalimbubu). Pada tahun 1976 itu juga, Toko Bukit menerbitkan brosur lain, yaitu karya Raja Malem Bukit yang berjudul “Peranan Marga Dalam Perkawinan Adat Karo” (30 halaman). Kedua karya di atas, yaitu karya Jaman Tarigan dan Raja Malem Bukit dapat saling mengisi, saling melengkapi satu sama lain. Pada awal tahun 1977, Palestin Sitepu muncul dengan karyanya yang berjudul “Kesenian Tradisional Karo” (58 halaman) di Medan. Buku ini terdiri atas 14 bab yang berturut-turut membicarakan : seni musik Karo tradisionil, pola teori Karo tradisionil, peraturan-peraturan gendang, upacara kematian, para seniman tradisionil Karo, ose-ose (busana tradisional Karo), teori jenis hiburan, guro-guro aron, nure-nure, upacara-upacara religius, upacara berhubungan dengan adat-istiadat, rumah adat Karo, merga silima, pentahbisan merga kepada orang bukan orang Karo. Pada tahun 1983, Moderamen GBKP mengadakan Seminar Adat Istiadat Karo di Berastagi dan hasilnya telah terekam dalam buku ‘Adat Istiadat Karo’ yang merupakan kumpulan makalah (+ 200 halaman) yang terdiri dari 5 bab, yaitu: I. Adat Istiadat Batak Karo ( 20 halaman ) II. Perjabun ( 120 halaman ) III. Majekken Rumah ( 30 halaman ) IV. Turi-turin kerna Peradaten Kalak Mate ( 28 halaman ) V. Kesimpulan dan Saran ( 2 halaman ) Disela-sela kesibukan mengajar, menatar, berseminar, dan menulis buku, pada masa-masa akhir ini Henry Guntur Tarigan telah menyiapkan naskah (teks, terjemahan, dan penjelasan ) : I. Turi-turin Beru Ginting Sope Mbelin ( 200 halaman ) II. Turi-turin Tangtung Batu ( 150 halaman ) III. Turi-turin si Katak-katak ( 100 halaman ) IV. Puisi Jaga Depari ( 320 halaman ) D. BIDANG PENELITIAN Penelitian terhadap budaya Karo yang dilakukan para sarjana dalam dan luar negeri cukup menggembirakan, bahkan telah muncul beberapa ‘disertasi’

mengenai Batak Karo. Hal ini menandakan bahwa perhatian kalangan ilmuwan di dalam dan luar negeri sudah bertambah meningkat akan budaya dan bahasa Karo. Pada tahun 1965, Masri Singarimbun menggondol gelar doktor dengan disertasinya yang berjudul Kinship and Affinal Relations among the Karo of North Sumatera (Kekerabatan dan hubungan Kesemendaan pada orang Karo di Sumatera Utara ) pada Australian National University di Canberra (357 halaman ). Pengumpulan data dilakukan oleh Masri Singarimbun dan istrinya di Kuta Gember dan Liren dari September 1960 sampai April 1962. Setelah direvisi, diterbitkan dengan judul : Kinship, Descent and Alliance among the Karo Batak pada tahun 1975 oleh University of California Press, Berkeley (246 halaman ). Daftar isi buku ini adalah sebagai berikut : Pengantar : Tanah Karo dan Rakyatnya. Kampung Keluarga Karo Rumah Adat Kelompok Keturunan Hubungan Anakberu – Kalimbubu, I Hubungan Anakberu – Kalimbubu, II Perkawinan Ringkasan Apendiks 1 : Mite Siwah Sada Ginting, suatu singkatan. Apendiks 2 : Klasifikasi Kekerabatan Karo Apendiks 3 :Analisis Semantik Struktural daripada Sistem Klasifikasi kekerabatan Karo. M oleh : H .W. Scheffler. Pada tahun 1976, Rita Smith Kipp memperoleh gelar doktor dengan disertasinya yang berjudul : The Ideology of Kinship in Karo Batak Ritual (Ideologi Kekerabatan dalam Ritual Batak Karo ) pada University of Pittsburgh, USA ( 296 halaman ). Daftar isinya adalah sebagai berikut : Pengantar Tanah Karo dan Kampung Payung Kekerabatan Karo Agama dan Ritual Perkawinan Penguburan Kesimpulan. Pada tahun 1978, suami Rita Kipp yang bernama Richard Dean Kipp berhasil menggondol gelar doktor dengan disertasinya yang berjudul : The Social Organization of Karo Batak Rural Migration ( Organisasi Sosial Migrasi Pedesaan pada Batak Karo ) pada University of Pittsburgh, USA (230 halaman ). Suami isteri Kipp berdiam di kampung Payung untuk pengumpulan data disertasi mereka. Daftar isi disertasi itu adalah sebagai berikut : Pengantar Latar Belakang Sejarah Migrasi Pedesaan Tanah Karo dan Lingkungan Pedesaan Organisasi Sosial Studi Kasus Seseorang Migran Pedesaan Migrasi ke Sungai Netek Migrasi ke Sungai Beras Sekata Kesimpulan ( Singarimbun, 1980 ; 110 – 11 ) Pada tahun 1978, Payung Bangun juga menggondol gelar doktor dengan disertasinya yang berkenaan dengan Karo. Sayang, saya belum memperoleh keterangan mengenai hal ini. Lain kali akan saya lengkapi setelah bertemu dengan pengarangnya, yang nota bene teman seangkatan saya. Pada tahun 1981, suami isteri H. Slaats dan K. Portier dari negeri Belanda menggondol gelar doktor dengan disertasi mereka yang berjudul :

Crodenrecht en Zijn Verwekelijking in de Karo Batakse Dorpsamenleving dari Universitas Nijmegen dan merupakan Publicaties over Volksrecht, No. IX. Sayang, saya belum memperoleh penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini dari mereka. Lain kali saya berusaha memperoleh karya tersebut dari pengarangya. Artikel-artikel suami-istri Kipp dan suami-istri Slaats-Portier mengenai Karo, dapat juga kita baca dalam ‘Beyond Samosir’ : Recent Studies of the Batak People of Sumatera, yang disunting oleh suami-istri Kipp dan diterbitkan oleh Ohio University Center for International Studies, Southeast Asia Program, Athens, Ohio 1983, terlebih-lebih halaman 125 – 155. Pada pertengahan tahun 1978, Henry Guntur Tarigan dan Djago Tarigan mengadakan penelitian mengenai struktur bahasa Karo yang disponsori oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan bahasa. Sebagai hasilnya telah terbit pada tahun 1979, BAHASA KARO ( 225 halaman ) dengan daftar isi sebagai berikut : Pendahuluan Fonologi Morfologi Sintaksis Pada pertengahan tahun 1980, Henry Guntur Tarigan dan kawan-kawan mengadakan penelitian mengenai sastra lisan Karo yang disponsori oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Sebagai hasilnya telah selesai naskah ‘Sastra Lisan Karo’ (580 halaman ) dengan daftar isi sebagai berikut : Pendahuluan Tinjauan Terhadap Sastra Lisan Karo Cerita, Terjemahan, dan Keterangan Buku ini menganalisa 32 buah buku cerita atau Turi-turin Karo. Hanya dengan memiliki tata bahasa baku bahasa Karo lah kita semua dapat menjunjung dan melestarikan cir-ciri khas masyarakat kita, masyarakat Karo, yaitu: A. Dalikan si telu : a. Senina b. Kalimbubu c. Anak beru B. Merga si Lima : a. Karo-karo b. Ginting c. Perangin-angin d. Sembiring e. Tarigan C. Tutur si Waluh : a. Sembuyak b. Senina c. Senina sipemeren d. Senina siparebanen e. Anak beru f. Anak beru menteri g. Kalimbubu h. Puang kalimbubu. Berbahagialah orang yang dapat menghargai, apalagi menerapkan bahasa dan budayanya dengan baik dan benar. APA SUMBANGANKU TERHADAP BUDAYA KARO Jangan tanya “apa yang dapat disumbangkan oleh budaya Karo terhadapku” tetapi tanyakanlah “apa yang dapat kusumbangkan bagi budaya Karo”.

Pertanyaan diatas khusus ditujukan kepada para mahasiswa dan terutama sekali kepada para sarjana dan cendikiawan Karo. Kalau direnungkan dalamdalam, jelas pertanyaan itu “menggelitik” dan “merangsang”. Mungkin ada orang yang menjawab dengan pertanyaan “apa lagi yang dapat saya perbuat bagi budaya Karo”. Aduh, masih banyak, masih sangat banyak bidang-bidang yang menanti uluran tangan anda, bahkan ada yang sangat rawan, kalau tidak segara ditangani akan punah dan akan membuat kita menyesal meratapi nasib karena kita tidak dapat berpacu dengan sang waktu. Apakah kita rela menyesali kelalaian kita dan hanya mengeluh karena “tading kune-kune nari kal ngenca”? saya yakin tidak!!. Agar para mahasiswa mendapat gambaran mengenai hal-hal apa saja yang dapat disumbangkan bagi kejayaan dan kelestarian budaya Karo, marilah kita telaah kehidupan rakyat atau folklife Karo. Kehidupan rakyat mencakup lima bagian utama, dalam setiap bagian mempunyai, memiliki komponen-komponen tertentu pula, sebagai berikut ini:

Telaah Kehidupan Rakyat Karo A.Foklore Lisan : 1. cerita rakyat 2. puisi rakyat 3. epik rakyat 4. peribahasa rakyat 5. teka-teki rakyat 6. pidato rakyat B. Kebiasaan Rakyat Karo : 7. pesta perayaan rakyat 8. rekreasi, permainan rakyat 9. obat-obat rakyat 10. agama / kepercayaan rakyat C. Kebudayaan Material : 11. keterampilan rakyat 12. seni rupa rakyat 13. arsitektur rakyat 14. busana rakyat 15. masakan rakyat D. Seni Rakyat : 16. drama rakyat 17. musik rakyat 18. tarian rakyat (disarikan dari : Dorson, 1972 ). Demikianlah, dari segi “kehidupan rakyat” Karo saja terdapat 18 aspek yang perlu digarap. Yang menjadi pertanyaan sekarang ialah : “siapa yang akan menggarap lahan-lahan yang luas terbentang itu?”. Jawabnya sudah tegas : “kita putra-putri Karo, kita para mahasiswa dan para sarjana Karo yang harus menggarap lahan-lahan ‘kehidupan rakyat’ Karo tersebut’. Marilah kita menyingsingkan lengan baju, memilih bidang yang sesuai dengan diri masing-masing; kita membuat skripsi, tesis, disertasi, paper, makalah, tulisan mengenai budaya Karo. Kalau hal ini kita sadari dan melaksanakannya dengan sepenuh hati, barulah SEMINAR BUDAYA KARO yang kita adakan ini ada manfaatnya, kalau tidak, percuma saja membuangbuang waktu, daya dan dana yang begitu banyak. Malu dong!!. Sebagai akhir dari pembicaraan ini, saya menghimbau putra-putri Karo, para mahasiswa Karo, para sarjana Karo, untuk bersama-sama melestarikan budaya Karo kebanggaan kita semua, dengan berkarya tulis. Khusus untuk para sarjana Karo saya mengajak anda semua bergotong-royong membina,

mengembangkan karya Karo sebagai salah satu aspek kebudayaan Nasional kita. Maaf, saya mengingatkan anda kembali : “gajah mati meninggalkan gading, sarjana mati meninggalkan karya”. Mengenai bentuk sastra Karo, Tarigan ( 1979) membaginya sebagai berikut: 1. Ndungndungen, dapat disamakan dengan pantun biasanya terdiri dari 4 baris bersajak dan dua baris terakhir merupakan isi. Setiap baris umumnya terdiri atas tiga atau empat kata dan setiap baris mempunyai suku kata 710. 2. Bilang-bilang, yang berupa dendang duka, biasanya didendangkan dengan ratapan oleh orang-orang yang pernah mengalami duka nestapa, seperti ratapan terhadap ibu yang telah meninggal dunia, meratapi kekasih idaman hati yang telah direbut orang lain atau pergi mengembara kerantau orang. 3. Cakap lumat atau ‘bahasa halus’ yang penuh dengan bahasa kias, pepatah pepitih, perumpamaan, pantun, teka-teki, dan lain-lain. 4. Turin-turin atau ‘cerita’ yang berbentuk prosa, misalnya mengenai asal usul merga, asal usul kampung, cerita binatang, cerita orang-orang sakti, cerita jenaka dan lain-lain. Biasanya diceritakan oleh orang tua-tua pada malam hari menjelang tidur. 5. Tabas atau ‘mantra’; umumnya hanya dukun yang mengetahuinya. Konon kabarnya kalau mantra itu sudah diketahui oleh orang banyak maka keampuhannya akan hilang. Dari apa yang dikemukakan oleh Tarigan di atas dapat disimpulkan bahwa menurut bentuknya, sastra lisan Karo itu dapat dibedakan atas tiga bentuk yaitu: 1. bentuk puisi 2. bentuk prosa liris dan 3. bentuk prosa yang termasuk kedalam bentuk puisi ialah 1. ndungndungen 2. cakap lumat 3. tabas yang termasuk kedalam bentuk prosa liris yaitu: bilang-bilang yang termasuk ke dalam bentuk prosa ialah turin-turin. 1. BENTUK PUISI Di muka telah dijelaskan bahwa yang termasuk kedalam bentuk puisi ada tiga yaitu : 1. ndungndungen 2. cakap lumat dan 3. tabas Berikut ini akan diterangkan masing-masing contohnya: 1.1. NDUNGNDUNGEN ( PANTUN ) Contoh: Gundera salak gundera : Bawang salak bawang Buluh belin kubenteri : Bambu besar kulempari Kutera kalak kutera : Bagaimana orang bagaimana Beltekku mbelin kubesuri : Perutku besar kukenyangi Mejile tuhu bunga ndapdap : Sungguh cantik bunga ndapdap

Rupa megara la erbau : Warna merah tak berbau Mejile tuhu rupandu itatap : Sungguh cantik wajahmu dipandang Tapi pacik kena erlagu : tetapi busuk tingkah lakumu. Rirang-rirang gumpari : nama tumbuh-tubuhan Rirang meruah-ruah : Rirang tercabut-cabut Sirang gia kita pagi : Berpisahpun kita nanti Gelah sirang mejuah-juah : Asal dalam keadaan sehat-sehat. 1.2. CAKAP LUMAT ( BAHASA HALUS ) Cakap lumat ( bahasa halus ) ini dapat dibedakan atas: 1. 2. 3. 4. 5. Bahasa kias Pepatah-pepitih Perumpamaan Pantun dan Teka-teki ( sikuning-kuningan ).

Di bawah ini akan diterangkan contoh masing-masing cakap lumat ( bahasa halus ) ini. a. Bahasa Kias Contoh: Biang nangko beltu-beltu, kambing ipekpeki Artinya: Anjing yang mencuri daging, kambing yang dipukuli Dikiaskan kepada orang yang menghukum orang yang tidak bersalah, lain yang bersalah, lain yang mendapat hukuman. Contoh : Pengindo sikaciwer, adi udan erkubang-kubang adi lego rabu-abu. Artinya : Nasib kencur, bila hujan berkubang-kubang, bila kemarau berabuabu. Dikiaskan kepada orang yang selalu mendapat kesusahan (pikiran kusut). b. Pepatah-petitih contoh : Adi pang ridi ula mbiar litap Artinya : kalau berani mandi jangan takut basah Maksudnya : kalau berani melakukan sesuatu perbuatan harus berani pula menanggung resikonya. Contoh : Siksik lebe maka tindes Artinya : Dicari terlebih dahulu baru dibunuh Maksudnya : pikirkan terlebih dahulu baru diambil keputusan. c. Perumpamaan contoh : Bagi nimai buah parimbalang, erbunga pe lang apai ka erbuah. Artinya : Seperti menanti buah parimbalang, berbunga pun tidak konon pula berbuah. Diumpamakan kepada orang yang mengharapkan sesuatu yang tak mungkin diperoleh. Contoh : Bagi kurmak sampe rakit, nggeluh erpala-pala mate terbiar-biar. Artinya : Seperti kerakap tumbuh di batu hidup segan mati tak mau. Diumpamakan kepada yang susah penghidupannya, mungkin disebabkan oleh penyakit yang dideritanya, badan sudah kurus, harta sudah habis, tetapi ia tak mati-mati.

d. Pantun Contoh : Tah kurung tah labang Tah surung tah lahang Artinya : Entah jangkrik tanah Entah jangkrik ilalang Entah jadi entah tidak Contoh : Sere-sere sala gundi Siarah lebe arah pudi Artinya : Sere-sere sala gundi Yang di depan menjadi ke belakang. e. Teka-teki ( Sikuning-kuningen ) contoh : Tulihken reh dohna. Kai? Artinya : Semakin dilihat kebelakang semakin jauh, apakah itu ? Jawabnya : cuping ‘ Telinga’ Contoh : Ipake reh baruna. Kai ? Artinya : Dipakai bertambah baru, Apakah itu ? Jawabnya : Dalan ‘ Jalan’ Contoh : Bide kalak i idah bidente lang. kai ? Artinya : Pagar orang kita lihat pagar kita tidak. Apakah itu ? Jawabnya : Ipen ‘ gigi’ Contoh : Elah man ndelis. Kai ? Artinya : Selesai makan gantung diri, apakah itu ? Jawabnya : ukat ‘ sendok nasi’ Contoh : Tawa kenca ia naktak ipenna. Kai ? Artinya : bila tertawa jatuh giginya. Apakah itu ? Jawabnya : Jantung galuh ‘ jantung pisang’ Contoh : Elah kenca man, kesip beltekna. Kai ? Artinya : Setelah selesai makan kempis perutnya. Apakah itu ? Jawabnya : Sumpit nakan ‘sumpit nasi’

Contoh : Nguda-ngudana erlayam pukul Tua-tuana narsak buk. Kai ? Artinya : Pada waktu mudanya bersanggul Pada waktu tuanya berurai rambut. Apakah itu ? Jawabnya : Ersam ‘pakis’ Contoh : Nguda-ngudana erbaju ratah Tua-tuana erbaju gara. Kai ? Artinya : Pada waktu muda berbaju hitam Pada waktu tuanya berbaju merah. Apakah itu ? Jawabnya : Lacina ‘cabai’ Contoh : Adi siinget la sibaba Adi la siinget sibaba. Kai ? Artinya : Kalau kita ingat tidak kita bawa Kalau tidak ingat kita bawa. Apakah itu ? Jawabnya : Kacileket ‘ sejenis rumput yang bijinya lengket dibaju bila disenggol baju

( rumput Genit ) Contoh : Adi itaka ia jumpa kuling Adi itaka kuling jumpa tulan Adi itaka tulan jumpa daging Adi itaka daging jumpa lau. Kai ? Artinya : kalau ia dibelah jumpa kulit Kalau kulit dibelah jumpa tulang Kalau daging dibelah jumpa air. Apakah itu? Jawabnya : Tualah ‘kelapa’ 1.3. TABAS ATAU MANTRA Sastra lisan Karo yang berbentuk tabas atau mantra ini terbatas yang mengetahui dan menggunakannya. Hanya para datu atau dukun yang biasanya yang bisa mengucapkan tabas ini pada waktu mengobati orang sakit. Sebelum obat yang di pakai untuk mengobati orang sakit itu itabasi ( dimantrai ) baru kemudian obat itu dimakan ( diobatkan ) kepada orang yang sakit. Biasanya dimulai dengan kata-kata : Toron kaci-kaci ‘turunlah dewa-dewa’ dan seterusnya sebelum pengaruh Islam masuk. Setelah pengaruh Islam masuk ke Karo, maka tabas itu ada pula yang dimulai denga kata – kata Arab yaitu sebagai berikut : Bismillah irohmani irohim ‘dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang’. Begitu sulitnya memperoleh tabas ini, oleh sebab itu, peneliti hanya berhasil memperoleh contohnya yang telah kena pengaruh Islam. Mungkin pada kesempatan lain tabas yang kena pengaruh Hindu akan terpenuhi. Contoh Tabas yang telah kena pengaruh Islam, Kun payakun, Kun kata Allah paya kun kata Muhammad, hukum kata Ali. Nuri pa Tujum kabul aku perkasih, durma si Alam keturunan Nabi Ullah, nasa ula aku terukum si dua mata sah mmat si dua mata. Mmat, mmat, mmat,mmat, mmat,mmat,mmat. Artinya : Tunduk, supaya tunduk, tunduk kata Allah supaya tunduk kata Muhammad. Memnohon pak Tujum supaya dikabulkan memakai Pekasih, pekasih si alam. Keturunan Nabi Allah,agar aku tidak di hukum si mata dua, Diam,diam,diam,diam,diam,diam,diam. 2. BENTUK PROSA LIRIS Sastra lisan Karo yang berbentuk prosa lisan liris hanya ada satu yang disebut bilang-bilang. Bilang-bilang ini berbentuk prosa, tetapi terikat pada lagu karena bilang-bilang ini biasanya didendangkan dengan ratapan atau ditiup melalui seruling bambu oleh orang-orang yang pernah mengalami duka nestapa. Apakah ditinggal oleh kekasih idaman hati, atau karena ditinggal oleh ibu yang meninggal dunia, atau karena penderitaan yang dialami di rantau, atau dikucilkan dari masyarakat, yang melanggar adat. Contoh: Entah nidarami kin pe jelma ibabo taneh mekapal enda ni taruh langit meganjang enda entah di langir nge bagi ajangku enda sera suina nggeluh. Di turina ateku mesui kidah bagi ranting taman ku para nge kidah rusur. Emaka lanai bo kueteh nurikenca de suntuk nari nge kuidak kerina te mesui. Man ukurenku, onande beru Tariganku. I je makana entah nidarami kal pe jelma perliah si la lit nge bagi turina ajang mama nak Karo-karo mergana endah sera suine. Apai nge dah kam la bage ningku, onande bibingku karina. Enggo kuidah ajangku endah bagi sumpamana jelang kedataren kutera kin nge turinna jelang kedataren aji nindu gia min. o turang beru Sembiringku. Di turinna jalang kedataran sekali kelajangen pe labo lit singembarisa amina sekali penggel pe. Labo kenan tambaren sekali kedabuhen gelap auri pe la lit sipekarangsa amina sekali bene pe la lit

sidaram-daram, o turang. E kal me turina ajang anak karo-karo mergana enda, o enda beru Sembiring. E makana nidarami kin pe jelma perliah si la lit nge bagi ajangku enda sera suina nggeluh. Ngkai maka la bage ningku, enggo kalajangku enda bagi sarintantang ndabuh ku namo, anima ndabuh pe sea tama buena, amina la ndabuh pe sea tama urakna, o me taktak cibal geluahku ras adumku o nandengku kerina. Emakana labo lit gunan turiken ningku. 3. BENTUK PROSA Sastra lisan Karo yang berbentuk prosa pun hanya ada satu, yang disebut Turin-turin. Turin-turin atau cerita ini ada bermacam-macam. Menurut Tarigan ( 1979:9 ) Turin-turin atau cerita yang berbentuk prosa ini dibedakan atas : 1. 2. 3. 4. 5. cerita cerita cerita cerita cerita mengenai asal-usul merga mengenai asal usul kampung binatang orang-orang sakti jenaka dan lain-lain.

Yang dinamakan sastra lisan karo adalah bentuk penuturan cerita yang disebarkan dan diturunkan secara lisan ( dari mulut ke mulut ). Berdasarkan isi cerita, jenis sastra lisan Karo dapat di bedakan atas : 1. mite 2. legenda 3. dongeng Mite adalah cerita yang benar-benar dianggap terjadi dan dianggap sakral oleh pemilik cerita. Mite mengandung tokoh-tokoh dewa atau setengah dewa. Tempat terjadinya dunia lain, dan masa terjadinya sudah jauh di zaman purba. Legenda adalah cerita yang mempunyai ciri-ciri mirip dengan mite, yaitu benar-benar dianggap terjadi, tetapi tidak dianggap sakral. Tokoh legenda adalah manusia biasa yang memiliki sifat-sifat yang luar biasa, sering dibantu oleh makhluk-makhluk gaib. Tempat terjadinya legenda di dunia kini waktu terjadinya tidak setua mite. Dongeng adalah cerita yang dianggap tidak benar-benar terjadi oleh yang menceritakan atau yang mendengarkannya. Dongeng tidak terikat dengan waktu dan tempat. Dari uraian di atas dapatlah diklasifikasikan jenis sastra lisan Karo itu sebagai berikut. 4.1. MITE Cerita yang berhubungan dengan keajaiban dan erat hubungannya dengan kepercayaan terhadap dewa-dewa mendapat tempat luas dalam masyarakat. Cerita tentang ciptaan dunia, penciptaan merga silima, perihal adat istiadat dan kepercayaan masyarakat Karo dapat diikuti dalam : a Cerita “ Manuk Sinanggur Dewa”. Mengapa masyarakat Karo sangat menghargai padi dan mengapa padi dikaitkan dengan sistem dan nilai-nilai kekerabatan pada masyarakat Karo, dapat pula dilihat pada cerita. b “ Beru Dayang”, hal ini dapat diikuti pada cerita c “ Padan Pengindo” dan juga pada cerita “ Manuk Sinanggur Dewa”. Mengapa merga Ginting Pase lenyap dari induk merga Ginting terkenal dengan julukan “Siwah Sada Ginting “, dapat diikuti pada cerita “ Beru Ginting Pase ‘. Selanjutnya pada cerita “ Si Aji Bonar “. d “ Begu Ganjang “ ‘hantu’ termasuk cerita yang masih tetap hidup dan

dianggap menyeramkan dan menegakkan bulu tengkuk pendengaran. Apalagi, diperhebat dengan cerita mengenai kematian karena begu ganjang. 4.2. LEGENDA Masyarakat Karo umumnya mempercayai cerita-cerita yang berhubungan dengan asal-usul kejadian suatu tempat, bukit, pelangi, telaga, merga, dan lain-lain. Sebagaimana cerita lainnya, legenda sebagai warisan dari nenek moyang besar pengaruhnya bagi anggota masyarakat, sebab mengandung ajaran moral. Benda-benda peninggalan termasuk tempat dianggap sebagai bukti kebenaran cerita. Legenda yang tersebar luas dalam masyarakat Karo, antara lain: a “ Turi-turin Si Beru Tole” yang menceritakan hubungan seks yang terlarang antara paman dan kemanakan yang membuahkan keturunan sehingga mereka kena kutuk oleh dewata. Maka mereka berubah menjadi pelangi. b “ Telagah Pitu i Sarinembah” c “ Tengku Lau Bahun’.

4.3 DONGENG Masyarakat Karo juga mendengar certa-cerita dongeng, baik cerita dongeng mengenai binatang maupun cerita dongeng mengenai manusia. Sebagaimana cerita lainnya, dongeng ini juga tersebar dan diceritakan turun temurun. Dongeng sebagai warisan dari nenek moyang, besar pengaruhnya bagi anggota masyarakat. Sebab cerita dongeng itu disamping ada yang berisi hiburan, ada juga yang berisi pengajaran atau edukatif. Dongeng yang tersebar luas dalam masyarakat Karo antara lain: a “ Kucing Siam” yang menceritakan seorang anak yang mencari ibu sejati. b “ Cincing Ganjang Panura” diajarkan agar anak-anak jangan terlalu tinggi angan-angan, jangan lebih besar kemauan dari kemampuan. c “Sibetah-betah” dikisahkan mengapa burung puyuh tidak berekor, kuda tidak bertanduk, kaki kerbau pecah, kepiting berbentuk gepeng, dan tumbuhan pakis ( tenggiang ) berbulu seperti warna rambut curai kuda. d “ Nipe Sipurih-purih” diceritakan mengapa ular lidi hanya bisa menelan binatang kecil seperti jangkrik dan kayu busuk. Ini semua karena kutukan akibat ketamakannya. e “ Pais Ma Solmih” pendengar diajarkan agar saat mengadili suatu perkara, bertindaklah sejujurnya karena bila tidak jujur yang diadili itu akan mengutuknya dan kutukannya itu akan dikabulkan Tuhan seperti apa yang diminta Solmih kepada Tuhan atas putusan pengadilan yang tidak jujur terhadap dirinya. Solmih tetap pada pendiriannya walau apaun hukuman yang diberikan kepadanya. Hanya dia bermohon kepada Tuhan agar menghukum orang yang mengadilinya itu. Doa Solmih dikabulkan Tuhan. f “ Kekelengan Nande’ dikisahkan bagaimana kisah seorang ibu terhadap anaknya. g“Si Jinaka” merupakan kisah yang kocak. Si Jinaka dianggap orang bodoh. Ia menumpang di rumah pamannya. Ia sudah yatim-piatu sejak kecil. Pekerjaannya sehari-hari hanya menemani pamannya ketempat perjudian. Apa yang diperintahkan pamannya selalu diturutinya, tetapi bila tidak disuruh apa pun yang terjadi tidak diperdulikannya sehingga pamannya merasa kesal. Oleh sebab itu si Jinaka yang dijual pamannya, berhasil menipu pembelinya. Dalam perjalanan si Jinaka menipu pembelinya, sehingga Si Jinaka berhasil lolos dan kembali ke kampungnya. Di kampung ia mengaku kembali dari tempat orang mati dan menceritakan kepada penduduk kampung tentang keadaan saudara-saudaranya yang telah meninggal itu dan membawa segala harta bendanya. Oleh Si Jinaka mereka dibawa melalui jalan yang sukar melalui tepi jurang sudah dipasang tali rotan oleh Jinaka. Semua barang mereka Si Jinaka yang membawanya, dan

dia yang berjalan paling belakang. Setelah semuanya berpegangan pada tali rotan, dipotong Si Jinaka rotan itu. Mereka semua jatuh dan Si Jinaka menjadi kaya raya. Ia kawin dengan putri pamannya. Demikianlah beberapa contoh cerita dongeng yang ditemui dalam cerita lisan Karo. 5. KESIMPULAN Dari apa yang telah diuraikan terlebih dahulu, maka dapatlah ditarik kesimpulan sebagai berikut : - Menurut bentuknya, sastra lisan Karo dapat dibedakan atas : 1. puisi 2. prosa 3. prosa liris - Menurut jenisnya, sastra lisan Karo dapat dibedakan atas : 1. mite 2. legenda 3. dongeng Sastra lisan biasanya dipergunakan pada upacara-upacara adat, seperti upacara melamar gadis, upacara perkawinan, upacara kelahiran anak, upacara menghormati orang yang lanjut usia, upacara kematian, upacara peletakan batu pertama pendirian rumah, upacara memasuki rumah baru, upacara pemanggilan roh, upacara menanam dan menuai pada, upacara pesta tahunan, upacara menolak bala dan roh-roh jahat, upacara memanggil dan menolak hujan, dan lain-lain.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful