You are on page 1of 26

BAB I

STATUS PASEIN
I.

IDENTITAS PASIEN

Nama

: Tn.Cahyu

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 49 tahun

Alamat

: Ciririp 2/9 Kec.Cimaung Kab.Bandung

Pekerjaan

: Pedagang

Tanggal pemeriksaan : 29 Desember 2014

No. RM

II.

: 498125

ANAMNESIS

Keluhan utama: kaki kanan nyeri dan tidak bias digerakkan
Riwayat Penyakit Sekarang:

1

Pasien datang ke poliklinik RSUD Soreang karena merasa kakinya yang terasa nyeri dan
sulit digerakan sejak 2 minggu sebelum pasien datang ke poliklinik. Sebelumnya pasien sempat
mengalami jatuh dari pohon alpukat saat sedang memetik buah alpukat, namun batang pohon
terasa licin sehingga pasien terpeleset dan jatuh dari pohon tersebut. Pasien jatuh dari ketinggian
pohon +

3 meter dengan posisi miring ke kanan. Pasien tidak mengalami nyeri kepala,

penurunan kesadaran, hilang ingatan dan muntah.

Riwayat pengobatan:
Pasien sempat dibawa ke IGD RSUD Soreang dan diberikan anti nyeri, kemudian akan
dirujuk ke bedah ortopedi RSHS. Namun pasien tidak jadi ke RSHS. Pasien juga sempat di urut
namun tidak ada perubahan.

III.

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Kompos mentis

Tanda vital

: TD = 110/80 mmHg
RR = 20 x/menit
N = 92 x/menit
S = 36,7 0C
2

Gallop (-) : Simetris. turgor baik Eks Bawah : akral hangat +/+. Rhonki -/-.kiri teraba simetris : Sonor pada kedua hemitoraks : Vesikuler +/+ N. turgor baik Status Lokalis 3 . CRT<2”. hepar dan lien tidak teraba : Timpani di seluruh lapang abdomen : BU (+) normal Ekstremitas : Eks. Wheezing -/- : Datar :Supel. batas jantung normal :BJ I-II reguler. dalam keadaan statis dan dinamis : Fremitus vokal pada hemitoraks kanan. murmur (-). CRT <2” . NT -.Status Generalis  Kepala Mata : Konjungtiva : Tidak anemis Sklera : Tidak ikterik   Mulut : Tonsil Pharing : T1-T1 : Hiperemis (-)  Leher : JVP tidak meningkat 5+2 cmH2O KGB tidak teraba  Thorak Cor Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Pulmo Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi   : Normocephal Abdomen : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : :Iktus kordis tidak terlihat :Iktus kordis teraba :Redup.atas : akral hangat +/+.

Femoralis :+ A.Dorsalis pedis : + :+ :+ 4 . Poplitea A. suhu raba hangat Move : terdapat keterbatasan gerak aktif dan pasif Status Vaskuler A.Regio femoralis dekstra Look :bagian proksimal femur tampak edem.Tibialis posterior A. warna sama seperti kulit. tidak terlihat sianosis Feel : terdapat nyeri tekan.

Femur dekstra PEMERIKSAAN PENUNJANG .Foto Rontgen femur dextra Hasil Pemeriksaan Radiologi 5 . Gambar 2.Gambar 1. Femur dekstra & sinistra IV.Darah rutin .

RESUME Pasien datang ke poliklinik RSUD Soreang karena merasa kakinya yang terasa nyeri dan sulit digerakan sejak 2 minggu sebelum pasien datang ke poliklinik dikarenakan jatuh dari pohon alpukat dengan ketinggian pohon + 3 meter. penurunan kesadaran (-). hilang ingatan (-) dan muntah (-). Pasien jatuh dengan posisi miring ke kanan. Pasien baru mendapatkan anti nyeri dari IGD RSUD Soreang dan pasien sempat diurut. tampak sakit sedang. dengan fragmen fraktur bagian proksimal bergerak ke arah proksimal.Tampak fraktur pada 1/3 proksimal femur dekstra. Status Lokalis Regio femoralis dekstra 6 . Foto rontgen femur dextra V. tanda vital dan status generalis dalam batas normal. Gambar 3.Pada pemeriksaan fisik kesadaran composmentis. Nyeri kepala (-).

PROGNOSIS Quo ad vitam : ad bonam Quo ad functionam : ad bonam 7 .Tibialis posterior A. TATALAKSANA Non medikamentosa : Imobilisasi Medikamentosa :IVFD RL 25 gtt/menit Ceftriaxone 1x2 (iv) Ketorolac 3x1 (iv) Ranitidine 2x1 (iv) Terapi Bedah : ORIF (open reduction internal fixation) VIII.Femoralis :+ A. DIAGNOSIS KERJA Fraktur tertutup 1/3 proksimal femur dekstra dislokasi VII.Dorsalis pedis : + :+ :+ Dari hasil pemeriksaan rontgen femur dekstra didapatkan fraktur pada 1/3 proksimal femur dextra. warna sama seperti kulit.Look :bagian proksimal femur tampak edem. VI. tidak terlihat sianosis Feel : terdapat nyeri tekan. suhu raba hangat Move : terdapat keterbatasan gerak aktif dan pasif Status Vaskuler A. dengan fragmen fraktur bagian proksimal bergerak ke arah proksimal. Poplitea A.

Diafisis adalah bagian tengah dari sebuah tulang panjang yang tersusun dari tulang kortikal yang biasanya berisi sumsum tulang dan jaringan adiposa. Masing-masing bagian tersebut memiliki karakteristik yang menentukan kelainan apa yang sering pada daerah tersebut. Anatomi Tulang Secara umum. metafisis. Metafisis adalah daerah yang kaya akan pembuluh darah (end artery) sehingga rawan terjadi infeksi. B. Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi 8 . Kebanyakan fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan membengkok. cidera pada bagian ini pada masa kanak-kanak dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tulang. Lempeng pertumbuhan berfungsi sebagai pusat pertumbuhan tulang yang hilang pada usia+ 15 tahun. dan diafisis. C. Epifisis adalah bagian tulang yang terletak di dalam artikulasi.kondisi fisik tulang dan keadaan trauma yang dapat menyebabkan tulang patah harus diketahui terlebih dahulu. tulang dibagi menjadi 4 bagian yaitu epifisis. Tulang kortikal mempunyai struktur yang dapat menahan kompresi dan tekanan memuntir (shearing).Quo ad sanationam : ad bonam BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. lempeng pertumbuhan. Definisi Fraktur Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang ditentukan sesuai dengan jenis dan luasnya yang biasanya disebabkan oleh rudapaksa atau tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang4. memutar dan tarikan akibat trauma yang bersifat langsung maupun tidak langsung. Etiologi Fraktur Untuk mengetahui mengapa dan bagaimana tulang mengalami fraktur.

termasuk beban aksial. terpanjang. Tulang Femur Tulang femur adalah tulang terkuat. atau fraktur dislokasi. Corpus femoris berbentuk tubular dengan sedikit lengkungan ke arah anterior. (4) kompresi vertikal dapat menyebabkan fraktur komunitif atau memecah misalnya padavertebra. Struktur femur adalah struktur tulang untuk berdiri dan berjalan. Selama kontraksi. membungkuk.gluteus medius dan minimus melekat pada trochanter mayor. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat komunitif dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan sedangkan trauma tidak langsung apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur. menyebabkan deformitas apeks lateral pada fraktur femur. m. yang membentang dari trochanter minor melebar ke arah condylus. vastus medialis. (6) trauma karena tarikan pada ligamen atau tendo akan menarik sebagian tulang. dan distal metafisis. mengakibatkan adanya rotasi internal dan eksternal pada fraktur femur. misalnya jatuh dengan tangan extensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula. lengkung anterior menghasilkan gaya kompresi pada sisi medial dan gaya tarik pada sisi lateral. m. Beberapa otot-otot besar melekat pada femur. D. Linea aspera (garis kasar pada bagian posterior dari corpus femoris) memperkuat kekuatan dan tempat menempelnya m. 9 . Pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh. M. biceps femoris. dan gaya torsial. Selama menahan berat tubuh. gluteus maksimus. adductor magnus. dislokasi. (3) tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur impaksi. dan caput brevis m. adductor magnus melekat pada sisi medial. yaitu corpus femoris atau diafisis. metafisis proksimal. otot-otot besar mengelilingi femur dan menyerap sebagian besar gaya. Caput medial dan lateral m. Tulang femur terdiri dari tiga bagian. vastus lateralis. dan femur menumpu berbagai gaya selama berjalan.fraktur pada daerah tekanan. Di bagian proksimal. (5) trauma langsung disertai dengan resistensi pada satu jarak tertentu akan menyebabkan fraktur oblik atau fraktur Z. mengakibatkan abduksi pada fraktur femur. Tekanan pada tulang dapat berupa: (1) tekanan berputar yang dapat menyebabkan fraktur bersifat spiral atau oblik. (2) tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversal. adductor brevis. Di bagian distal.iliopsoas melekat pada trochanter minor. dan terberat yang dimiliki tubuh yang berfungsi penting untuk mobilisasi atau berjalan.

Anatomi tulang femur Gambar 5. menyebabkan deformitas fleksi pada fraktur sepertiga distal femur. Gambar 4.gastrocnemius melekat di femoral condylus femoral posterior. Anatomi otot femur 10 .

naik gunung. yaitu: a. sepeda balap. High energy trauma atau trauma karena energi yang cukup besar. Low energy trauma atau trauma karena energi yang lemah. jenis kecelakaan yang menyebabkan terjadinya fraktur jenis ini antara lain adalah trauma kecelakaan bermotor (kecelakaan sepeda motor. olahraga—terutama yang olahraga yang berkaitan dengan kecepatan seperti misalnya: ski. dsb). kecelakaan mobil. serta luka tembak. Etiologi Fraktur Femur Berdasarkan penyebab terjadinya fraktur femur. jatuh dari tempat tinggi. dapat dibedakan menjadi tiga berdasarkan besar energi penyebab trauma. ada kecenderungan trauma karena energi yang lemah lebih 11 .E. jatuh. b. pesawat jatuh. karena struktur femur adalah sturktur yang cukup kuat.

(e) fraktur subtrochanteric 12 . penderita kanker metastasis tulang dan orang yang mengkonsumsi kortikosteroid jangka panjang juga beresiko tinggi mengalami fraktur femur karena kekuatan tulang akan berkurang. Kategori fraktur femur Fraktur femur dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori berdasarkan letak frakturnya: a. Fraktur jenis ini biasanya mempengaruhi area corpus femoris. F. penyebab ketiga dari fraktur femur adalah tekanan atau trauma yang berulang. (d) fraktur intertrochanteric. Trauma jenis ini mengakibatkan jenis fraktur yang berbeda karena biasanya terjadi secara bertahap. Fraktur femur proksimal Yang meliputi fraktur femur proksimal antara lain adalah sebagai berikut: 1. Fraktur jenis ini seringkali terjadi pada atlet atau pada militer yang menjalani pelatihan yang berat. Entracapsular fraktur termasuk trochanters (a) (b) (c) (d) (e) Gambar 6. Intracapsular fraktur termasuk caput femoris dan collum femoris 2. Trauma tekanan berulang mengakibatkan kerusakan internal dari struktur arsitektur tulang. Fraktur capital. c. (c) fraktur transervical. Stress fracture atau fraktur karena tekanan.disebabkan karena tulang kehilangan kekuatannya terutama pada orang-orang yang mengalami penurunan densitas tulang karena osteoporosis. (b) fraktur subcapital.

yaitu fraktur dengan garis fraktur 70. (d) stadium IV adalah fraktur yang bergeser secara hebat.Fraktur Collum Femoris: Fraktur collum femoris dibagi atas intra. maka akan berkembang dengan cepat menjadi fraktur collum femur stadium IV8.(rusaknya suplai darah ke head femur) dan extra. Berikut ini adalah klasifikasi fraktur collum femur berdasarkan Garden 8. (b) tipe II. Pauwel5 juga membuat klasifikasi berdasarkan atas sudut inklinasi collum femoris sebagai berikut: (a) tipe I. Fraktur collum femoris disebabkan oleh trauma yang biasanya terjadi karena kecelakaan. (c) stadium III adalah fraktur lengkap dengan pergeseran sedang. yaitu: (a) stadium I adalah fraktur yang tak sepenuhnya terimpaksi. 13 . Diklasifikasikan berdasarkan anatominya. Jika tidak. dan (c) tipe III. Extracapsular tergantung dari fraktur pertrochanteric. Selain Garden. yaitu fraktur dengan garis fraktur 30.Jatuh pada daerah trochanter baik karena kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari tempat yang tidak terlalu tinggi seperti terpeleset di kamar mandi di mana panggul dalam keadaan fleksi dan rotasi dapat menyebabkan fraktur collumfemoris. yaitu fraktur dengan garis fraktur 50. Klasifikasi fraktur collum femoris menurut Garden Fraktur collumfemoris harus ditangani dengan cepat dan tepat sekalipun merupakan fraktur collum femoris stadium I. jatuh dari ketinggian atau jatuh dari sepeda dan biasanya disertai trauma pada tempat lain. Gambar 7.(suplai darah intak) capsular. (b) stadium II adalah fraktur lengkap tetapi tidak bergeser. transcervical dan basicervical. Intracapsular dibagi kedalam subcapital.

dekubitus. berupa: eksisi artroplasti. yaitu5: (a) komplikasi yang bersifat umum: trombosis vena. Jenis operasi yang dapat dilakukan. Apabila lokasilisasi fraktur lebih ke proksimal maka kemungkinan untuk terjadi nekrosis avaskuler menjadi lebih besar. pneumonia. (b) nekrosis avaskuler caput femoris. Pengobatan fraktur collum femoralis dapat berupa terpai konservatif dengan indikasi yang sangat terbatas dan terapi operatif. pemasangan plate dan screw. Penilaian ini penting karena fraktur yang terimpaksi atau tak bergeser (stadium I dan stadium II berdasarkan Garden) dapat membaik setelah fiksasi internal. Tungkai pasien dalam posisi rotasi lateral dan anggota gerak bawah tampak pendek. Pada foto polos penting dinilai pergeseran melalui bentuk bayangan yang tulang yang abnormal dan tingkat ketidakcocokan garis trabekular pada caput femoris dan ujung collum femoris. Komplikasi tergantung dari beberapa faktor.Gambar 8. yaitu pemasangan pin. emboli paru. dan artroplasti total. dan artroplasti yang dilakukan pada penderita umur di atas 55 tahun. herniartroplasti. sementara fraktur yang bergeser sering mengalami non-union dan nekrosis avaskular. Pengobatan operatif hampir selalu dilakukan baik pada orang dewasa muda ataupun pada orang tua karena perlu reduksi yang akurat dan stabil dan diperlukan mobilisasi yang cepat pada orang tua untuk mencegah komplikasi. Klasifikasi fraktur collum femoris menurut Pauwel Anamnesis biasanya menunjukkan adanya riwayat jatuh dari ketinggian disertai nyeri panggul terutama daerah inguinal depan. Komplikasi ini biasanya terjadi pada 30% pasien fraktur collum femoris dengan pergeseran dan 10% pada fraktur tanpa pergeseran. (c) nonunion—lebih dari 1/3 pasien fraktur collum femoris tidak dapat mengalami 14 .

union terutama pada fraktur yang bergeser. Komplikasi lebih sering pada fraktur dengan lokasi yang lebih ke proksimal. Secara klinis penderita tidak dapat bangun. 15 . (g) malrotasi berupa rotasi eksterna. Ini disebabkan karena vaskularisasi yang jelek. (4) tipe III—fragmen besar dengan aposisi kortikal kurang dari 50%. (5) tipe IV—fraktur segmental. Berdasarkan klasifikasi Winguist-Hansen yang didasarkan pada pola dasar fraktur dan derajat kestabilannya—meskipun sekarang lebih digunakan untuk menentukan derajat kominutif dari fraktur. Fraktur corpus femoris Pada patah tulang diafisis femur biasanya mengalami pendarahan dalam yang cukup luas dan besar sehingga dapat menimbulkan resiko syok. Metode pengobatan tergantung pada penyebab terjadinya nonunion dan umur penderita. (2) tipe I—kominutif non signifikan atau fragmen kecil. reduksi yang tidak akurat. (d) Osteoartritis sekunder dapat terjadi karena kolaps caput femoris atau nekrosis avaskuler. oblik. Biasanya seluruh tungkai bawah terotasi ke luar. b. illiopsoas. gluteusdanm. dan normalnya memerlukan waktu 20 minggu atau lebih . bukan saja karena nyeri. tetapi juga karena ketidakstabilan fraktur. fiksasi yang tidak adekuat. Pertautanbiasanya diperoleh dengan penanganan secara tertutup. (e) anggota gerak memendek. tidak ada kontak antara fragmen distal dan fragmen proksimal. dan bengkak pada bagian proksimal sebagai akibat pendarahan ke dalam jaringan lunak dan adanya tarikan m. fraktur corpus femoris dapat diklasifikasikan sebagai berikut11: (1) tipe 0—non kominutif—termasuk didalamnya fraktur transfersal. terlihat lebih pendek. (3) tipe II— fragmen besar dengan aposisi kortikal sampai dengan 50%. dan lokasi fraktur adalah intraartikuler. dan spiral. (f) malunion.

(B). (e) tipe IV c. (A). supracondylar.(a) tipe 0. (b) Fraktur corpus femoris paska fiksasi internal Gambar 10. (c) tipe II. dan intercondylar10. Fraktur 1/3 tengah corpus femoris. dari kiri ke kanan. (d) tipe III. Fraktur femur distal Yang meliputi fraktur femur distal adalah fraktur pada daerah supracondylar. condylar. (C). intercondylar Fraktur suprakondiler femur: Daerah suprakondiler adalah daerah antara batas proksimal kondilus femur dan batas metafisis dengan diafisis femur. Fraktur terjadi karena tekanan varus atau valgus 16 .Gambar 9. (b) tipe I. Gambar 11. condylar. Fraktur femur distal.

serta pemeriksaan imejing menggunakan foto polos sinar-x. Pemeriksaan Fisik 17 . dan spika panggul. dan mekanisme trauma. (C) bergeser. berupa: traksi berimbang dengan mempergunakan bidai Thomas dan penahan lutut Pearson. Gambar 12. trauma pembuluh darah besar. (A) tidak bergeser. dan komunitif.disertai kekuatan aksial dan putaran. (D) kominutif Gambaran klinis pada pasien ditemukan riwayat trauma yang disertai pembengkakan dan deformitas pada daerah suprakondiler. bergeser. Pemeriksaan Fraktur Femur Diagnosis fraktur femur dapat ditegakkan dengan anamnesis yang lengkap mengenai kejadian trauma meliputi waktu. Klasifikasi fraktur suprakondiler femur terbagi atas: tidak bergeser. pemeriksaan fisik yang lengkap dan menyeluruh. impaksi. Terapi dilakukan dengan mempergunakan nail-plate dan screw dengan macam-macam tipe yang tersedia8. Klasifikasi fraktur suprakondiler. Terapi operatif dapat dilakuan pada fraktur terbuka atau adanya pergeseran fraktur yang tidak dapat direduksi secara konservatif. Komplikasi lanjut dapat berupa malunion dan kekakuan sendi G. dan trauma saraf. Komplikasi dini yang dapat terjadi berupa: penetrasi fragmen fraktur ke kulit yang menyebabkan fraktur menjadi terbuka. tempat. Krepitasi mungkin ditemukan. 1. Pengobatan dapat dilakukan secara konservatif. (B) impaksi. Cast-bracing.

18 .Adanya tanda-tanda anemia karena pendarahan. panggul dan abdomen. misalnya pada fraktur patologis5 sebagai salah satu penyebab terjadinya fraktur. dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara - hati-hati Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri femoralis. perlu diperhatikan faktor predisposisi lain. sumsum tulang belakang atau organ-organ dalam rongga toraks. misalnya otak. Pemeriksaan status lokalis dilakukan setelah pemeriksaan skrining awal dilakukan. Lakukan survei pada - seluruh tubuh apakah ada trauma pada organ-organ lain Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan - fraktur tertutup atau terbuka Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai beberapa hari Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi. lakukan resusitasi untuk menstabilkan kondisi pasien. Inspeksi (Look) .Bandingkan dengan bagian yang sehat . Apabila kondisi jiwa pasien terancam. rotasi dan kependekan Perhatikan kondisi mental penderita Keadaan vaskularisasi b. temperatur kulit. warna kulit pada bagian distal daerah trauma. arteri dorsalis pedis. Setelah kondisi pasien stabil.Lidah kering atau basah . Berikut adalah langkah pemeriksaan status lokalis: a.Perhatikan posisi anggota gerak . anemia atau pendarahan. perlu diperhatikan adanya tanda-tanda syok.Keadaan umum penderita secara keseluruhan . arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena Refilling (pengisian) arteri pada kuku.Pada pemeriksaan awal penderita.Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan palpasi adalah sebagai berikut: . nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya disebabkan - oleh kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang Krepitasi.Ekspresi wajah karena nyeri .Temperatur setempat yang meningkat .Nyeri tekan. Palpasi/Raba (Feel) Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya mengeluh sangat nyeri. kerusakan pada organ-organ lain.

Kelainan saraf yang didapatkan harus dicatat dengan baik karena dapat menimbulkan masalah asuransi dan tuntutan (klaim) penderita serta merupakan patokan untuk pengobatan selanjutnya. untuk melihat benda asing—misalnya peluru. dua sendi pada anggota gerak dan tungkai harus difoto. Pergerakan (Move) Pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan secara aktif dan pasif sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma. dilakukan sekurang-kurangnya yaitu pada antero-posterior dan lateral. aksonotmesis atau neurotmesis. Pemeriksaan radiologi Dengan pemeriksaan klinik kita sudah dapat kecurigaan akan adanya fraktur sudah dapat ditegakkan. 3.- Pengukuran panjang tungkai untuk mengetahui adanya perbedaan panjang tungkai c. sebelum dan sesudah reposisi. Pemeriksaan radiologis dilakukan dengan beberapa prinsip rule of two. disamping itu juga dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh darah dan saraf. di atas dan di bawah sendi yang mengalami fraktur. Walaupun demikian pemeriksaan radiologis diperlukan sebagai konfirmasi adanya fraktur. Pada anak-anak sebaiknya dilakukan foto pada ke dua anggota gerak terutama pada fraktur epifisis. untuk melihat adakah kecurigaan keadaan patologis pada tulang. Pada penderita dengan fraktur. yaitu: dua posisi proyeksi. setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat sehingga uji pergerakan tidak boleh dilakukan secara kasar. dua kali dilakukan foto. lokasi serta ekstensi fraktur. dua anggota gerak. dan tentunya untuk menentukan teknik pengobatan atau terapi yang tepat. H. menentukan keadaan. 2. Pemeriksaan neurologis Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara sensoris dan motoris serta gradasi kelainan neurologis yaitu neuropraksia. Penatalaksanaan Tujuan terapi penderita fraktur adalah mencapai union tanpa deformitas dan pengembalian (restoration) fungsi sehingga penderita dapat kembali pada pekerjaan atau 19 .

Baik terapi konservatif dan operatif. Sebagai contoh operasi pemasangan fiksasi dalam maka resiko terjadi infeksi dan lain sebagainya dapat terjadi. (4) Ciptakan kerja sama yang baik tanpa melupakan hukum penyembuhan alami. Opsi terapi untuk fraktur femur sangat bergantung terhadap keparahan dari cidera yang terjadi. Secara umum prinsip tata laksana fraktur adalah sebagai berikut: (1) Jangan membuat keadaan lebih buruk bagi penderita (Iatrogenik). (5) Pengobatan yang praktis dan logis. (7) Jangan melakukan pengobatan yang tidak perlu. Tujuan ini tidak selalu tercapai secara utuh yang diharapkan dan setiap tindakan untuk mencapai hal tersebut mempunyai resiko komplikasi. Tujuan utama dalam pengobatan kerusakan jaringan Iunak tersebut berhubungan erat dengan pengobatan fraktur itu sendiri yang dimulai dengan realignment pada fraktur yang mengalami pergeseran dan imobilisasi. Perlu diketahui bahwa edema tersebut akan berdampak pengurangan bahkan tidak ada sama sekali distribusi oksigen dan material-material nutrisi ke jaringan bagian distal lesi tersebut Oleh karena itu pengobatan kerusakan jaringan Iunak merupakan tindakan awal dan proses penyambungan tulang. (6) Pilih pengobatan secara individu. metode pengobatan disesuaikan pula secara individu terhadap setiap penderita. sifat penyembuhan. Mengurangi edema seperti fastiotomi pada sindrom kompartemen guna meningkatkan perfusi ke jaringan yang mengalami kerusakan sehingga metabolisme sel tersebut aktif kembali. secara garis besar terdapat dua jenis kategori terapi yaitu terapi konservatif/non operatif dan terapi operatif.kegiatan seperti semula. Energi yang menimbulkan fraktur selalu menyebabkan kerusakan jaringan lunak di sekitar fraktur. Pengobatan yang diberikan juga harus berdasarkan alasan mengapa tindakan ini dilakukan serta kemungkinan prognosisnya 5. Life saving dan life limb adalah tindakan prioritas utama pada penderita trauma multipel. Oleh karena itu banyak variasi terjadi pada pengobatan fraktur akibat perbedaan interpretasi terhadap kondisi penderita. serta sifat manusia pada umumnya. (3) Pilih jenis pengobatan yang sesuai dengan keadaan penyakit penderita. (2) Pengobatan berdasarkan pada diagnosis dan prognosis yang tepat. Namun. mungkin keadaan pasien tidak menguntungkan untuk dilakukan pembiusan tapi 20 . keduanya mengikuti prinsip dasar pengobatan penyakit lain yang berpedoman kepada hukum penyembuhan (law of nature). Disamping pemahaman tentang prinsip dasar pengobatan yang rasional.

fraktur pada collum femoris yang membutuhkan fiksasi yang rigit dan beresiko terjadinya nekrosis avaskuler. misalnya fraktur femur pada lansia. dan corpus femoris dengan menggunakan. Untuk kasus-kasus tertentu. Terapi konservatif Terapi konservatif fraktur femur antara lain meliputi tindakan imobilisasi dengan bidai eksterna tanpa reduksi dan reduksi tertutup dan imobilisasi dengan fiksasi kutaneus. misalnya pada fraktur collumfemoris pada orang tua karena terjadi nekrosis avaskuler dari fragmen. Pada fraktur femur terbuka. maupun non union. selain itu dapat mengurangi rasa nyeri dan mengurangi perdarahan. dan adanya kontraindikasi pada imobilisasi eksterna sedangkan diperlukan mobilisasi yang cepat. Setelah tindakan life saving dan life limb diatasi. fraktur multipel. maupun karena kondisi tertentu. Weber Extensionsapparat. Demikian juga penanganan sok karena perdarahan dengan mengontrol perdarahan secara balut menekan dan resusitasi cairan kristalloid maupun tranfusi. Tindakan ini biasanya dilakukan jika fraktur terjadi pada daerah proksimal. perlu dilakukan debridement dan irigasi cairan fisiologis kemudian luka ditutup dengan kasa steril untuk kemudian dilakukan pemeriksaan foto rongent. Terapi Operatif Terapi operatif dilakukan bila terapi konservatif gagal. adanya interposisi jaringan di antara fragmen. misalnya pada fraktur terbuka. suprakondilar. atau traksi 90/90 femoral. Tindakan awal yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pembidaian sementara untuk imobilisasi fraktur. yaitu alat dengan komposisi metal tertentu untuk menggantikan jaringan tulang yang nekrosis. Adanya deformitas yang hebat perlu dikoreksi secara perlahan-lahan dengan menarik bagian distal secara lembut. 21 . dilakukan pemasangan protesis. 2. Well-leg traction. Tindakan pembebasan jalan nafas seperti yang diterangkan sebelumnya perlu dilakukan terhadap gangguan jalan nafas. Buck Extension. 1.demi kehidupan penderita tindakan operasi tetapi dijalankan demi life saving seperti perdarahan intra abdominal massive karena ruptur lien dan sebagainya. tindakan awal untuk menangani fraktur dapat dilakukan.

ORIF ( open reduction internal fixaxition) Fiksasi Internal. 2. Komplikasi Komplikasi dari fraktur femur cukup beragam tergantung lokasi dan tingkat keparahan fraktur. Salah satunya adalah tindakan ORIF(Open Reduction Internal Fixation) atau fiksasi internal dengan pembedahan terbuka akan mengimmobilisasi fraktur dengan melakukan pembedahan dengan memasukan paku. Infeksi Pada kasus fraktur terbuka. proses penyembuhan tulang dapat terhambat bahkan membutuhkan terapi operatif lebih lanjut. Resiko infeksi ini dapat berkurang dengan pemberian antibiotik. a) Indikasi ORIF 1) Fraktur yang tak bisa sembuh 2) Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup 3) Fraktur yang dapat direposisi tapi sulit dipertahankan 4) Fraktur yang memberikan hasil baik dengan operasi14 b) Komplikasi tindakan ORIF 1) Infeksi 2) Kehilangan dan kekakuuan jangkauan gerak 3) Kerusakan otot 4) Kerusakan saraf dan kelumpuhan 5) Deformitas 6) Sindrom kompartemen I. Kerusakan saraf 22 . 3. ada kemungkinan resiko infeksi. sekrup atau pin ke dalam tempat fraktur untuk memfiksasi bagian-bagian tulang yang fraktur secara bersamaan. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi antara lain: 1. Permasalahan dalam penyembuhan tulang Jika pada proses penyembuhan angulasi tulang tidak baik serta timbul iritasi pada bagian tulang yang patah akibat terjadinya infeksi. dimana tulang merobek jaringan kulit.

dan otot di dalam spatium tertutup atau kompartemen di dalam tubuh. Sindrom kompartemen Sindrom kompartemen jarang terjadi pada fraktur femur. Komplikasi yang spesifik pada fraktur femur antara lain: 1. namun kerusakan saraf pada fraktur femur dapat menyebabkan mati rasa serta kelemahan yang persisten. Penderita dengan hipotensi atau tidak sadar meningkatkan resiko terjadinya kejadian sindrom kompartemen e. setelah kerusakan yang menetap terjadi 5. lutut dapat ikut terpengaruh. terutama nyeri pada tarikan otot pasif f. fraktur pada femur distal menjadi faktor presdiposisi terjadinya osteoarthritis.Kerusakan saraf paska fraktur femur terbilang jarang. 2. Selain kekakuan pada lutut. 4. pembuluh darah. Sindrom kompartemen terjadi pada tungkai yang mengalami inflamasi dan perdarahan selama trauma yang sering diasosiasikan dengan fraktur. Fraktur femur distal Karena lokasi tipe fraktur ini. Terutama pada fraktur yang melewati atikulasio genu. Berikut adalah hal yang perlu diperhatikan untuk identifikasi dini terjadinya sindrom kompartemen: a. Reevaluasi yang sering sangat penting d. namun ini dapat terjadi sehingga resiko terjadinya sindrom kompartemen harus selalu diantisipasi. yang mengganggu lapisan kartilago yang melapisi sendi. Fraktur corpus femoris 23 . Komplikasi operatif Komplikasi operatif biasanya terjadi karena kegagalan plate atau piranti keras untuk menstabilisasi tulang. Jika sindrom kompartemen terjadi. Dapat timbul pada ekstremitas karena kompresi atau remuk dan tanpa cedera luar atau fraktur yang jelas c. atau bagian piranti keras yang menonjol mengakibatkan iritasi dan nyeri. Sindrom kompartemen teradi akibat kompresi nervus. Seringkali muncul kekakuan pada lutut yang secara perlahan akan berkurang namun tidak dapat hilang sama sekali. Hilangnya pulsasi dan tanda iskemia lain merupakan gejala lanjut. Sindroma kompartemen dapat timbul perlahan dan berakibat berat b. maka dibutuhkan tindakan bedah segera. Nyeri merupakan tanda awal dimulainya iskemia kompartemen.

tulang yang mengalami fraktur dapat sembuh tanpa jaringan parut. Karena pergerakan femur ketika terjadi fraktur. J. Faktor mekanis yang penting seperti imobilisasi fragmen tulang secara fisik sangat penting dalam penyembuhan. Fraktur corpus femorisyang terjadi pada anak-anak dan remaja yang masih dalam masa pertumbuhan beresiko mengalami perbedaan panjang tulang di satu tungkai dibandingkan yang lainnya. 24 . atau justru kurang tumbuh setelah fraktur. Pengertian tentang reaksi tulang yang hidup dan periosteum pada penyembuhan fraktur mulai terjadi segera setelah tulang mengalami kerusakan apabila lingkungan untuk penyembuhan memadai smapai terjadi konsolidasi. Tidak seperti jaringan lainnya. tetapi dengan cara yang berbeda. selain faktor biologis yang juga merupakan suatu faktor yang sangat esensial dalam penyembuhan fraktur.Jenis fraktur ini juga dapat mempengaruhi lutut. Hal ini disebabkan karena patah tulang tumbuh terlalu banyak. seringkali merusak ligament pada lutut yang membutuhkan tindakan operatif untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi. Prognosis Penyembuhan fraktur merupakan suatu proses biologis yang menakjubkan.

Widya Medika Jong W. Jakarta: ECG James E Keany. Edisi ke-7. Solomon L. 1995. Edisi 2. Buku ajar ortopedi dan fraktur sistem Apley.DAFTAR PUSTAKA Apley GA.Femur Fracture. Jakarta. In sit http://emedicine.medscape. 2005. MD. Buku Ajar Ilmu Bedah.com/article/824856overview#showall 25 .

26 .