BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Indikator derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat ditandai
dengan jumlah kematian ibu, jumlah kematian bayi dan usia harapan
hidup. Sampai saat ini kematian bayi masih merupakan salah satu masalah
prioritas bidang kesehatan ibu dan anak di Indonesia. Tingginya Angka
Kematian Bayi (AKB) serta lambatnya penurunan angka tersebut,
menunjukkan bahwa pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak sangat mendesak
untuk

ditingkatkan

baik

dari

segi

jangkauan

maupun

kualitas

pelayanannya. Tujuan keempat dan kelima Millenium Development
Goals /MDGs pada tahun 2015 bagi Indonesia merupakan tantangan yang
sangat berat walaupun berbagai upaya untuk memperbaiki derajat
kesehatan ibu dan bayi baru lahir telah diterapkan di Indonesia tetapi
hasilnya masih belum memuaskan. Berdasarkan kesepakatan global MDGs
2000 pada tahun 2015 diharapkan AKI menurun sebesar 3/4 dalam kurun
waktu 1990-2015 dan AKB dan AKABA menurun sebesar 2/3 dalam
kurun waktu 1990-2015. Berdasarkan hal itu Indonesia mempunyai
komitmen untuk menurunkan AKI menjadi 102/100.000 KH, AKB 68
menjadi 23/1.000 KH dan AKABA 97 menjadi 32/1.000 KH pada tahun
2015.
Namun permasalahan pokok yang dihadapi bangsa Indonesia adalah
masalah kesehatan yang terjadi pada kelompok ibu dan anak, yang
ditandai masih tingginya angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian
bayi (AKB). Kematian pada maternal dan bayi yang tinggi mencerminkan
kemampuan negara dalam memberikan pelayanan kesehatan pada
masyarakat belum baik. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
(SDKI) tahun 2007 diperoleh AKI di Indonesia 228 per 100.000 KH

1

(kelahiran hidup), AKB 34 per 1000 KH, dan Angka Kematian Neonatal
(AKN) sebesar 20 per 1000 KH.

Angka Kematian bayi di Indonesia

masih tinggi dibandingkan dengan negara berkembang lainnya. Angka
Kematian Bayi (AKB) adalah jumlah kematian bayi dalam usia 28 hari
pertama kehidupan per 1000 kelahiran hidup. Angka ini merupakan salah
satu indikator derajat kesehatan bangsa. Tingginya angka Kematian bayi
ini dapat menjadi petunjuk bahwa pelayanan maternal dan noenatal kurang
baik, untuk itu dibutuhkan upaya untuk menurunkan angka kematian bayi
tersebut (Saragih, 2011).
Kematian bayi merupakan ukuran penting kesehatan nasional karena
variabel tersebut berkaitan dengan berbagai faktor antara lain kesehatan
ibu, kondisi sosial ekonomi, praktik kesehatan masyarakat dan mutu
pelayanan kesehatan. Resiko terbesar kematian bayi baru lahir terjadi pada
24 jam pertama, minggu pertama dan bulan pertama kehidupannya. Upaya
kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi resiko tersebut antara lain
dengan melakukan pertolongan persalinan yang ditolong oleh tenaga
kesehatan dan pelayanan neonatal. Berdasarkan standar minimal
pelayanan neonatal dijelaskan bahwa setiap neonatus berhak memperoleh
pelayanan kesehatan sedikitnya dua kali pada minggu pertama dan satu
kali pada minggu ke-2 setelah lahir. Cakupan Kunjungan Neonatus (KN)
adalah pelayanan kesehatan kepada bayi umur 0-28 hari sesuai dengan
standar oleh Bidan desa yang memiliki kompetensi klinis kesehatan
neonatal, paling sedikit 3 kali pada satu wilayah kerja pada kurun waktu
tertentu, baik di sarana pelayanan kesehatan maupun melalui kunjungan
rumah. Kunjungan Neonatus murni (KN murni) adalah kunjungan
neonatus yang dilakukan pada 6-48 jam setelah lahir, sedangkan
Kunjungan Noenatus lengkap (KN lengkap) adalah kunjungan yang
dilakukan sebanyak 3 kali selama periode 0-28 hari yaitu pada 6-48 jam,
3-7 hari dan 8-28 hari setelah lahir. Kunjungan neonatus bertujuan untuk
meningkatkan akses neonatus terhadap pelayanan kesehatan dasar,
mengetahui sedini mungkin komplikasi yang terjadi pada bayi sehingga

2

dapat segera ditangani dan bila tidak dapat ditangani maka dirujuk ke
fasilitas yang lebih lengkap untuk mendapatkan perawatan yang optimal.
Dalam memberikan pelayanan neonatus, bidan menggunakan
pendekatan komprehensif yang meliputi pelayanan kesehatan neonatal
dasar (pemeriksaan neoantus, tindakan resusitasi, pencegahan hipotermi,
pemberian ASI dini dan eksklusif, pencegahan infeksi berupa perawatan
mata, tali pusat, kulit, dan pemberian imunisasi); pemberian injeksi
vitamin K1; imunisasi hepatitis B; Untuk mencatat kegiatan digunakan
form Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM) dan konseling perawatan
bayi dirumah menggunakan buku KIA.
Menurut RISKESDAS 2007, penyebab kematian neonatal 0-6 hari
adalah gangguan pernafasan (37%), prematuritas (34%), sepsis (12%),
hipotermi (7%), kelainan darah/ikterus (6%), postmatur (3%), dan
kelainan kongenital (1%). Penyebab kematian neonatal 7-28 hari adalah
sepsis (20,5%), kelainan kongenital (19%), pneumonia (17%), Respiratory
Distress Syndrome/RDS (14%), prematuritas (14%), ikterus (3%), cedera
lahir (3%), tetanus (3%), defisiensi nutrisi (3%), dan Suddenly Infant
Death Syndrome/SIDS.
Upaya

menurunkan

AKB

dan

mencapai

target

Millenium

Development Goals (MDGs) untuk anak lahir hidup tidak akan mungkin
tanpa penurunan angka kematian neonatal (Lawn et al., 2005). Berbagai
upaya yang aman dan efektiF dapat dilakukan untuk mencegah dan
mengatasi penyebab utama kematian bayi baru lahir (BBL). Upaya
tersebut antara lain pelayanan antenatal berkualitas, asuhan persalinan
normal (APN) dan pelayanan kesehatan neonatal oleh tenaga kesehatan
yang memiliki kemampuan dan keterampilan manajemen asfiksia bayi
baru lahir yang sesuai dengan standar atau mutu pelayanan kesehatan
antara lain oleh dokter spesialis, dokter umum maupun oleh bidan (JNPKKR, 2008). Pemberian pelayanan kesehatan yang bermutu akan dapat
menurunkan kematian neonatal yang tinggi (Depkes RI, 2006, Jehan et al.,
2009a, Marsh et al., 2002).

3

Bagaimana alternatif pemecahan masalah yang dapat dilakukan untuk mengatasi faktor penyebab rendahnya cakupan perolehan neonatal risiko tinggi/ komplikasi di wilayah Puskesmas Dumai Kota untuk dapat mencapai target ? 3. Mampu mengidentifikasi masalah rendahnya cakupan perolehan neonatal risiko tinggi/ komplikasi di wilayah Puskesmas Dumai Kota. Tujuan Khusus a. 4 . 2. B. didapatkan rumusan masalah sebagai berikut : 1. TUJUAN 1. Apa saja kegiatan yang dapat dilakukan untuk pemecahan masalah rendahnya cakupan perolehan neonatal risiko tinggi/ komplikasi di wilayah Puskesmas Dumai Kota ? C. Kasus neonatal resiko tinggi terbanyak pada tahun 2013 adalah kasus BBLR. Tujuan Umum Mengetahui dan menganalisa faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya cakupan perolehan neonatal risiko tinggi/ komplikasi di wilayah Puskesmas Dumai Kota. serta memberikan alternatif pemecahan masalah dalam rangka upaya perbaikan kinerja program KIA di Puskesmas. Faktor apa saja yang menyebabkan cakupan perolehan neonatal risiko tinggi/ komplikasi di wilayah Puskesmas Dumai Kota belum mencapai target nasional ? 2. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas. Cakupan yang didapatkan belum mencapai target (80%) dari jumlah sasaran bayi pertahunnya yang mengalami resiko tinggi/ komplikasi.Berdasarkan laporan program KIA Puskesmas Dumai Kota didapatkan data bahwa cakupan perolehan neonatal risiko tinggi/ komplikasi pada bulan Januari – Desember 2013 (5%).

MANFAAT 1.b. METODOLOGI 5 . Puskesmas Laporan Mini Project ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan pertimbangan bagi perumusan kebijakan program kesehatan terutama program KIA di wilayah kerja Puskesmas Dumai kota dalam rangka meningkatkan cakupan perolehan neonatal risiko tinggi/ komplikasi. bertempat di Puskesmas Dumai Kota. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN Penyusunan Mini project ini dilakukan pada tanggal 21 Juli – 9 Agustus 2014. d. Masyarakat Memberikan edukasi dan penyuluhan sederhana kepada masyarakat agar ikut peran serta secara aktif guna meningkatkan cakupan perolehan neonatal risiko tinggi/ komplikasi. E. Mampu membuat alternatif pemecahan masalah dari masalah rendahnya cakupan perolehan neonatal risiko tinggi/ komplikasi di wilayah Puskesmas Dumai Kota. 2. e. c. terutama masalah penanganan komplikasi neonatal risti serta mencari alternatif pemecahan masalah tersebut. Mampu menyusun rencana kegiatan dari pemecahan masalah rendahnya cakupan perolehan neonatal risiko tinggi/ komplikasi di wilayah Puskesmas Dumai Kota. D. F. Mampu menentukan pengambilan keputusan dari alternatif masalah rendahnya cakupan perolehan neonatal risiko tinggi/ komplikasi di wilayah Puskesmas Dumai Kota. Mampu menganalisis penyebab masalah dari prioritas masalah rendahnya cakupan perolehan neonatal risiko tinggi/ komplikasi di wilayah Puskesmas Dumai Kota berdasarkan pendekatan sistem. 3. Penulis Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan penulis tentang program KIA di Puskesmas dan dapat menganalisis masalah di KIA.

Data yang diperoleh kemudian di analisa secara deskriptif dengan metode pendekatan sistem dengan melihat fungsi manajemen yang bertujuan mengetahui permasalahan secara menyeluruh. Langkah awal dilakukan dengan menentukan suatu topik masalah dari upaya kesehatan di Puskesmas yang masih perlu ditingkatkan atau diperbaiki. Kemudian dilakukan pengambilan keputusan mengenai pemecahan masalah mana yang akan diusulkan dan dibuat plan of action. Kemudian di konfirmasi dengan pelaksana program KIA untuk menentukan penyebab masalah. Dari salah satu topik masalah ini kemudian dianalisis dengan mengumpulkan data yang diperlukan. Kemudian analisis faktor penyebab masalah tersebut dimasukkan ke dalam Fish Bone Analyze. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 6 . Lalu alternatif pemecahan masalah yang di dapat dilakukan penentuan prioritas dengan metode kriteria matriks. Data primer diperoleh dari wawancara kepala puskesmas.Dalam pelaksanaan mini project ini dilakukan beberapa langkah atau tahapan. Penyebab masalah yang telah terpilih kemudian dicari alternatif pemecahan masalahnya. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari catatan tertulis yang ada di Puskesmas Dumai Kota Januari – Desember 2013. pemegang program KIA dan bidan desa di Puskesmas Dumai Kota.

Pelaksanaan pelayanan kesehatan neonatus : 1. Pelayanan Kesehatan Neonatus Pelayanan kesehatan neonatus adalah pelayanan kesehatan sesuai standar yang diberikan oleh tenaga kesehtatan yamg kompeten kepada neonatus sedikitnya 3 kali.A. berat badan rendah dan Masalah pemberian ASI 7 . Kunjungan Neonatal ke-1(KN 1) dilakukan pada kurun waktu 6. Kunjungan Neonatal ke-3 (KN 3) dilakukan pada kurun waktu hari ke 8 sampai dengan hari ke 28 setelah lahir Kunjungan neonatal bertujuan untuk meningkatkan akses neonatus terhadap pelayanan kesehatan dasar. ikterus. mengetahui sedini mungkin bila terdapat kelainan/masalah kesehatan pada neonatus. diare. Pelayanan Kesehatan Neonatal dasar dilakukan secara komprehensif dengan melakukan pemeriksaan dan perawatan Bayi baru Lahir dan pemeriksaan menggunakan pendekatan Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM) untuk memastikan bayi dalam keadaan sehat. Kunjungan Neonatal ke-2 (KN 2) dilakukan pada kurun waktu hari ke 3 sampai dengan hari ke 7 setelah lahir 3. baikdi fasilitas kesehatan maupun melalui kunjungan rumah. minggu pertama dan bulan pertama kehidupannya. Risiko terbesar kematian neonatus terjadi pada 24 jam pertama kehidupan.48 jam setelah lahir 2. selama periode 0 sampai dengan 28 hari setelah lahir. Sehingga jika bayi lahir di fasilitas kesehatan sangat dianjurkan untuk tetap tinggal di fasilitas kesehatan selama 24 jam pertama. yang meliputi : 1) Pemeriksaan dan Perawatan Bayi Baru Lahir  Perawatan Tali pusat  Melaksanakan ASI eksklusif  Memastikan bayi telah diberi injeksi Vitamin K1  Memastikan bayi telah diberi Salep Mata Antibiotik  Pemberian Imunisasi Hepatitis B-0 2) Pemeriksaan menggunakan pendekatan MTBM  Pemeriksaan tanda bahaya seperti kemungkinan infeksi bakteri.

Cakupan pelayanan neonatus pertama (KN 1) Adalah cakupan neonatus yang mendapatkan pelayanan sesuai standar pada 6-48 jam setelah lahir disuatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu Dengan indikator ini dapat diketahui akses/ jangkauan pelayanan kesehatan neonatal Rumus yang dipergunakan adalah sebagai berikut : Jumlah neonatus yang mendapatkan pelayanan sesuai standar pada 6-48 jam setelah lahir disuatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu ------------------------------------------------------------------------------------------. pencegahan hipotermi dan melaksanakan perawatan bayi baru lahir di rumah dengan menggunakan Buku KIA Tenaga kesehatan yang dapat memberikan pelayanan kesehatan neonatus adalah : dokter spesialis anak.hari ke 7 dan 1 kali pada hari ke 8.hari ke 28 setelah lahir disuatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Cakupan pelayanan kesehatan neonatus 0-28 hari (KN Lengkap) Adalah cakupan neonatus yang mendapatkan pelayanan sesuai standar paling sedikit tiga kali dengan distribusi waktu 1 kali pada 6. 8 . bidan dan perawat B.48 jam. dokter.x 100 Jumlah seluruh sasaran bayi di suatu wilayah kerja dalam 1 tahun Jumlah sasaran bayi bisa didapatkan dari perhitungan berdasarkan jumlah perkiraan bayi dalam satu wilayah tertentu C. Pemberian imunisasi hepatitis B0 bila belum diberikan pada waktu  perawatan bayi baru lahir Konseling terhadap ibu dan keluarga untuk memberikan ASI eksklusif. 1 kali pada hari ke 3.

2. Indikator ini menunjukan kemampuan sarana pelayanan kesehatan dalam menangani kasus – kasus kegawatdaruratan neonatal. Tidak mau minum/ menyusu atau memuntahkan semua Riwayat kejang Bergerak hanya jika dirangsang/Letargis Frekuensi nafas <= 30 x/menit dan >=60 x/menit 9 . atau dapat dirujuk ke tingkat pelayanan yang lebih tinggi. Rumus yang dipergunakan adalah sebagai berikut : Jumlah neonatus yang telah memperoleh 3 kali pelayanan kunjungan neonatal sesuai standar disuatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu ----------------------------------------------------------------------------------------. Rumus yang dipergunakan adalah sebagai berikut: Jumlah neonatus dengan komplikasi yang mendapat penanganan definitif di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu ---------------------------------------------------------------------------------------.Dengan indikator ini dapat diketahui efektifitas dan kualitas pelayanan kesehatan neonatal. Penanganan definitif adalah pemberian tindakan akhir pada setiap kasus komplikasi neonatus yang pelaporannya dihitung 1 kali pada masa neonatal. yang kemudian ditindaklanjuti sesuai dengan kewenangannya.x 100 Jumlah seluruh sasaran bayi di suatu wilayah kerja dalam 1 tahun D. Cakupan Penanganan komplikasi neonatus Adalah cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani secara definitif oleh tenaga kesehatan kompeten pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. 4.x 100 15% x jumlah sasaran bayi di suatu wilayah kerja dalam 1 tahun Komplikasi pada neonatus dengan melihat tanda-tanda atau gejala-gejala sebagai berikut: 1. Kasus komplikasi yang ditangani adalah seluruh kasus yang ditangani tanpa melihat hasilnya hidup atau mati. 3.

Trauma lahir. Masalah pemberian ASI 10.5. Ada pustul kulit 9. Infeksi Bakteri 4. Timbul kuning dan atau tinja berwarna pucat 13. dll. Diare 7. Kejang 5. Suhu tubuh <=35. Prematuritas dan BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah < 2500 gram) 2. kelainan kongenital. jika diare periksa tanda dan gejalanya yang terkait. E. Tetanus Neonatorum 9. Merintih 8. Asfiksia 3. PELAKSANAAN MTBM PADA BAYI UMUR KURANG 2 BULAN Proses manajemen kasus disajikan dalam bagan yang memperlihatkan urutan langkah-langkah dan penjelasan cara pelaksanaannya 1 Penilaian dan klasifikasi 2 Tindakan dan Pengobatan 3 Konseling bagi ibu 4 Pelayanan Tindak lanjut a Kunjungan Pertama lakukan pemeriksaan berikut : 1 Periksa Bayi Muda untuk kemungkinan PENYAKIT SANGAT BERAT 2 ATAU INFEKSI BAKTERI. BBLR : Bayi Berat Lahir Rendah < 2500 gram 15. sindroma gangguan pernafasan. Pusar kemerahan meluas ke dinding perut 11.5C dan >=37. Berat badan menurut umur rendah dan atau ada masalah pemberian ASI 14. Tarikan dinding dada ke dalam yang sangat kuat 7. Ikterus 6. Kelainan kongenital seperti ada celah di bibir dan langit-langit Komplikasi pada neonatus antara lain : 1. Klasifikasikan Bayi Muda untuk DEHIDRASI nya dan klasifikasikan juga untuk diare persisten dan kemungkinan disentri 10 . Nanah banyak di mata 10. Hipotermia 8. Mata cekung dan cubitan kulit perut kembali sangat lambat 12.5C 6.Selanjutnya dibuatkan klasifikasi berdasarkan tanda dan gejalanya yang ditemukan Menanyakan pada ibu apakah bayinya DIARE.

mata dan telinga Memeriksa gejala kejang dapat dilakukan dengan cara (TANYA. Infeksi sistemik gejalanya tidak terlalu khas.3 Periksa semua Bayi Muda untuk IKTERUS dan klasifikasikan 4 berdasarkan gejala yang ada Periksa bayi untuk kemungkinan BERAT BADAN RENDAH DAN ATAU MASALAH PEMBERIAN ASI. TRAUMA LAHIR. Jika Bayi Muda membutuhkan RUJUKAN SEGERA lanjutkan pemeriksaan secara cepat. LIHAT. tidak bisa minum atau muntah. RABA) 1 Kejang 11 . gangguan napas. PERDARAHAN TALI PUSAT 8 dan sebagainya. 6 7 Tentukan status imunisasi Bayi Muda Menanyakan status pemberian Vit K1 Menanyakan kepada ibu masalah lain seperti KELAINAN KONGENITAL. bayi malas minum. diare. demam atau hipotermi Pada infeksi lokal biasanya bagian yang terinfeksi teraba panas. Selanjutnya klasifikasikan 5 Bayi Muda berdasarkan tanda dan gejala yang ditemukan Menanyakan kepada ibu apakah bayinya sudah di IMUNISASI?. Infeksi lokal yang sering terjadi pada Bayi Muda adalah infeksi pada tali pusat. umumnya menggambarkan gangguan fungsi organ seperti : gangguan kesadaran sampai kejang. merah. kulit. Tidak perlu melakukan penilaian pemberian ASI karena akan memperlambat rujukan PENILAIAN DAN KLASIFIKASI BAYI MUDA UMUR KURANG 2 BULAN A Kemungkinan Penyakit Sangat Berat Atau Infeksi Bakteri Infeksi pada Bayi Muda dapat terjadi secara sistemik atau lokal. Menanyakan kepada ibu keluhan atau masalah yang terkait dengan kesehatan bayinya. bengkak.

Lihat : apakah mulut bayi mencucu? Lihat dan raba : apakah bayi kaku seluruh tubuh dengan atau tanpa rangsangan.Kejang merupakan gejala kelainan susunan saraf pusat dan merupakan kegawat daruratan. 3 Gangguan Napas 12 . Mulut mencucu seperti mulut ikan merupakan tanda yang cukup khas pada tetanus  neonatorum Dengar : apakah bayi menangis melengking tiba-tiba? Biasanya menunjukkan ada proses tekanan intra kranial atau kerusakan susunan saraf pusat lainnya 2 Bayi tidak bisa minum dan memuntahkannya Bayi menunjukkan tanda tidak bisa minum atau menyusu jika bayi terlalu lemah untuk minum atau tidak bisa mengisap dan menelan. tremor disertai kesadran menurun menunjukkan kejang. trauma lahir. Kesadaran menurun dapat dinilai dengan melihat respon bayi pada saat baju bayi dibuka  akan terbangun. gerakan tangan dan kaki berulang pada satu sisi.  Tanya : adakah riwayat kejang? Tanyakan ke ibu dan gunakan bahasa atau istilah lokal yang mudah  dimengerti ibu Lihat : apakah bayi tremor dengan atau tanpa kesadaran menurun? Tremor atau gemetar adalah gerakan halus yang konstan. Kejang pada Bayi Muda umur ≤ 2 hari berhubungan dengan asfiksia. Bayi mempunyai tanda memuntahkan semua jika bayi sama sekali tidak dapat menelan apapun. Lihat : apakah ada gerakan yang tidak terkendali? Dapat berupa gerakan berulang pada mulut. dan kelainan bawaan dan jika lebih dari 2 hari dikaitkan dengan tetanus neonatorium. gerakan bola mata   cepat.

5C disebut hipotermi berat yang mengidentikasikan infeksi berat sehingga harus segera dirujuk. suhu 35. benjolan berisi nanah dikulit. bernanah) berarti bayi mengalami infeksi berat. 5 Infeksi Bakteri Lokal Infeksi bakteri lokal yang sering terjadi adalah infeksi pada kulit. tarikan dinding dada yang sangat kuat (dalam sangat kuat mudah terlihat dan menetap).5 C jika suhu < 35.5 -37.0 C disebut hipotermi sedang dan suhu ≥ 37. berat ringannya dilihat dari produksi nanah dan mata bengkak. Pada kulit apakah ada tanda gejala bercak merah. Pusar kemerahan atau bernanah (kemerahan meluas ke kulit daerah perut berbau . pernapasan cuping hidung serta terdengar suara merintih (napas pendek menandakan kesulitan bernapas) 4 Hipotermia Suhu noramal 36.5-36. biasanya disertai dengan tanda atau gejala bayi biru(sianosis).Pola napas Bayi Muda tidak teratur (normal 30-59 kali/menit) jika <30 kali/menit atau ≥ 60 kali/menit menunjukkan ada gangguan napas. Pada mata terlihat bernanah.5 disebut demam Mengukur suhu menggunakan termometer pada aksiler selama 5 menit tidak dianjurkan secara rektal karena dapat mengakibatkan perlukaan rektal. CARA MENGKLASIFIKASI KEMUNGKINAN PANYAKIT SANGAT BERAT ATAU INFEKSI BAKTERI Tanda atau Gejala    Tidak mau minum atau memuntahkan semua ATAU Riwayat kejang ATAU PENYAKIT Bergerak hanya jika distimulasi ATAU Klasifikasi SANGAT 13 BERAT . mata dan pusar.

karena bayi kehilangan cairan matanya menjadi cekung dan jika dicubit kulit akan kembali dengan lambat atau sangat lambat. KLASIFIKASI DIARE Tanda dan Gejala Klasifikasi Terdapat 2 atau lebih tanda berikut : DIARE DEHIDRASI BERAT  Letargis atau tidak sadar  Mata Cekung  Cubitan kulit perut kembalinya sangat lambat Terdapat 2 atau lebih tanda berikut : DIARE DEHIDRASI RINGAN /SE  Gelisah atau rewel 14 . Biasanya bayi dehidrasi rewel dan gelisah dan jika berlanjut bayi menjadi letargis atau tidak sadar.5C) ATAU Hipotermi ( <35. lambat atau segera.            INFEKSI BAKTERI BERAT Napas cepat ATAU Napas lambat ATAU Tarikan dinding dada ke dalam yang kuat ATAU Merintih ATAU Demam (≥ 37. Cubit kulit perut dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk lihat apakah kulit itu kembali lagi dengan sangat lambat (lebih dari 2 detik).5C) ATAU Nanah yang banyak di mata ATAU Pusar kemerahan meluas sampai dinding perut INFEKSI BAKTERI LOKAL Pustul kulit ATAU Mata bernanah ATAU Pusat kemerahan atau bernanah MUNGKIN BUKAN INFEKSI Tidak terdapat salah satu tanda diatas B Menilai Diare Ibu mudah mengenal diare karena perubahan bentuk tinja yang tidak seperti biasanya dan frekuensi beraknya lebih sering dibandingkan biasanya.

Ikterus muncul setelah 14 hari berhubungan dengan infeksi hati atau sumbatan aliran bilirubin pada empedu. Ikterus dapat berupa fisiologik dan patologik (hiperbilirubin mengakibatkan gangguan saraf pusat) Sangat penting mengetahui kapan ikterus timbul.darah ibu dan bayi. Timbul setelah 24 jam dan menghilang sebelum 14 hari tidak memerlukan tindakan khusus hanya pemberian ASI. Lihat tinja pucat seperti dempul menandakan adanya sumbatan aliran bilirubin pada sistem empedu. kapan menghilang dan bagian tubuh mana yang kuning. Peningkatan kadar bilirubin dapat diakibatkan oleh pembentukan yang berlebihan atau ada gangguan pengeluaran. Untuk menilai derajat kekuningan digunakan metode KRAMER  Kramer I : kuning pada daerah kepala dan leher  Kramer 2 : kuning sampai dengan badan bagian atas (dari  pusar ke atas) Kramer 3 : kuning sampai badan bagian bawah hingga lutut   atau siku Kramer 4 : kuning sampai pergelangan tangan dan kaki Kramer 5: kuning sampai daerah tangan dan kaki KLASIFIKASI IKTERUS Tanda dan Gejala Klasifikasi 15 . Mata Cekung  Cubitan kulit perut kembali lambat Tidak cukup tanda dehidrasi berat atau DIARE TANPA DEHIDRASI ringan/sedang C Ikterus Ikterus merupakan perubahan warna kulit atau selaput mata menjadi kekuningan sebagian besar(80%) akibat penumpukan bilirubin (hasil pemecahan sel darah merah) sebagian lagi karena ketidak cocokan gol.

apakah bayi diberi ASI dan berapa kali dalam 24 jam. antara -2 SD dan -3 SD (BB pada pita kuning). diberi selain ASI. Lihat : apakah ada bercak putih dimulut. apakah bayi diberi selain ASI. Bayi muda dengan berat badan rendah yang memiliki BB menurut umur < -3 SD (dibawah garis merah). adakah celah bibir /dilangit-langit Timbang dan menentukan BB menurut umur dipakai standar WHO 2005 yang berbeda untuk laki-laki dan perempuan. jika ada masalah pemberian ASI maka bayi dapat kekurangan gizi dan mudah terkena penyakit. Tanyakan : apakah IMD dilakukan.      Timbul kuning pada hari pertama (< 24 IKTERUS BERAT jam) ATAU Kuning ditemukan pada umur lebih dari 14 hari ATAU Kuning sampai telapak tangan /telapak kaki ATAU Tinja berwarna pucat Timbul kuning pada umur ≥ 24 jam IKTERUS sampai ≤ 14 hari dan tidak sampai telapak tangan/kaki Tidak kuning TIDAK ADA IKTERUS D Kemungkinan Berat Badan Rendah dan atau masalah Pemberian ASI Pemberian ASI merupakan hal yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan pada bayi 6 bulan pertama kehidupannya. BB rendah menurut umur) 16 . >-2 SD (tidak ada masalah BB rendah) Penilaian Cara pemberian ASI (jika ada kesulitan pemberian ASI/ diberi ASI kurang dari 8 jam dalam 24 jam. apakah ada kesulitan menyusui.

Apakah bayi diberi ASI dalam 1 jam terakhir jika tidak sarankan ibu untuk menyusui.1. 2. amati pemberian ASI. melekat dengan baik. mengisap dengan efektif) KLASIFIKASI KEMUNGKINAN BERAT BADAN RENDAH DAN /MASALAH PEMBERIAN ASI Tanda dan Gejala   Ada kesulitan pemberian ASI Berat badan menurut umur rendah  ASI kurang dari 8 kali perhari  Mendapat makanan/minuman lain selain ASI  Posisi bayi salah  Tidak melekat dengan baik  Tidak mengisap dengan efektif  Terdapat luka bercak putih  Terdapat celah bibir /langitlangit Tidak terdapat tanda/gejala diatas Klasifikasi BERAT BADAN RENDAH MENURUT UMUR DAN MASALAH PEMBERIAN ASI BERAT BADAN TINDAK RENDAH MENURUT UMUR DAN TIDAK ADA MASALAH PEMBERIAN ASI E Memeriksa Status /Penyuntikan Vitamin K1 Karena sistem pembekuan darah pada bayi baru lahir belum sempurna maka semua bayi yang berisiko untuk mengalami perdarahan (HDN= haemorrhagic Disease of the Newborn). jika iya menunggu bayi mau menyusu lagi. Lihat bayi menyusu dengan baik (posisi bayi benar. Perdarahn bisa ringan atau berat berupa perdarahan pada kejadian ikutan pasca imunisasi ataupun perdarahan intrakranial dan untuk 17 .

Memeriksa kelainan bawaan/kongenital Adalah kelainan pada bayi baru lahir bukan akibat trauma lahir dan untuk mengenali jenis kelainan lakukan pemeriksaan fisik (anensefalus. meningomielokel dll) 2. hidrosefalus. Imunisasi HB 0 diberikan (0-7 hari) di paha kanan selain itu bayi juga harus mendapatkan imunisasi BCG di lengan kiri dan polio diberikan 2 tetes oral yang dijadwalnya disesuaikan dengan tempat lahir G Memeriksa masalah/keluhan Lain 1.Memeriksa Perdarahan Tali pusat Perdarahan terjadi karena ikatan tali pusat longgar setelah beberapa hari dan bila tidak ditangani dapat syok H Memeriksa masalah ibu Pentingnya menanyakan masalah ibu adalah memanfaatkan kesempatan waktu kontak dengan Bayi Muda untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada ibu. Masalah yang mungkin berpengaruh kepada kesehatan bayi 18 . sefal hematome dll) 3.mencegah diatas maka semua bayi diberikan suntikan vit K1 setelah proses IMD dan sebelum pemberian imunisasi Hb O F Memeriksa Status Imunisasi Penularan Hepatitis pada bayi dapat terjadi secara vertikal (ibu ke bayi pada saat persalinan) dan horizontal (penularan orang lain). Dan untuk mencegah terjadi infeksi vertikal bayi harus diimunisasi HB sedini mungkin.Memeriksa kemungkinan Trauma lahir Merupakan perlukaan pada bayi baru lahir yang terjadi pada proses persalinan (kaput suksedanium.

warna dan nyeri perineum Apakah ASI lancar Apakah ada kesulitan merawat bayi Apakah ibu minum tablet besi. kebiasaan BAK dan BAB) Apakah lokea berbau. pusing. sakit kepala.6 ml IM.- Bagaimana keadaan ibu dan apakah ada keluhan (misalkan : - demam. pilihan 2 diazepam 0. tetap lakukan pemeriksaan dan lakukan penanganan segera sehingga rujukan tidak terlambat  Penyakit sangat berat atau infeksi bakteri berat  Ikterus berat  Diare dehidrasi berat TINDAKAN/PENGOBATAN PRA RUJUKAN a.25 ml dengan berat <2500 gr dan 0.5 ml dengan berat  ≥ 2500 gr per rektal) Jangan memberi minum pada saat kejang akan terjadi  aspirasi Menghangatkan tubuh bayi (metode kangguru selama perjalanan ke tempat rujukan 19 . Klasifikasi berat (warna MERAH MUDA) memerlukan rujukan segera. Kejang  Bebaskan jalan nafas dan memberi oksigen  Menangani kejang dengan obat anti kejang (pilihan 1 fenobarbital 30 mg = 0. depresi) Apakah ada masalah tentang (pola makan-minum. PRA RUJUKAN. waktu - istirahat. Klasifikasi kuning dan hijau tidak memerlukan rujukan. vit A dan menggunakan alat kontrasepsi TINDAKAN DAN PENGOBATAN Bayi muda yang termasuk klasifikasi merah memerlukan rujukan segera ke fasilitas pelayanan yang lebih baik dan sebelum merujuk lakukan pengobatan pra rujukan dan minta Informed Consent.

Ikterus  Cegah turunnya gula darah  Nasehati ibu cara menjaga bayi tetap hangat  Rujuk segera e. Diare  Rehidrasi (RL atau NaCl 100 ml/kg BB 30 ml/kg BB selama 1 jam 70 ml/ kg BB selama 5 jam Jika memungkinkan beri oralit 5 ml/kg BB/jam  Rehidrasi melalui pipa nasogastrik 20 ml/kg BB/jam  selama 6 jam (120 ml/kg BB) Sesudah 6 jam periksa kembali derajat dehidrasi 20 . Gangguan saluran cerna  Jangan berikan makanan /minuman apapun peroral  Cegah turunnya gula darah dengan infus  Jaga kehangatan bayi  Rujuk segerta f. Jika curiga Tetanus Neonatorum beri obat Diazepam  bukan Fenobarbital Beri dosis pertama antibiotika PP b. Gangguan Nafas pada penyakit sangat berat atau infeksi bakteri berat  Posisikan kepala bayi setengah mengadah jika perlu   bahu diganjal dengan gulungan kain Bersihkan jalan nafas dan beri oksigen 2 l per menit Jika apnoe lakukan resusitasi c. Hipotermi  Menghangatkan tubuh bayi  Cegah penurunan gula darah (berikan ASI bila bayi masih bisa menyusu dan beri ASI perah atau air gula menggunakan pipet bila bayi tidak bisa menyusu) dapat  menyebabkan kerusakan otak Nasehati ibu cara menjaga bayi tetap hangat selama  perjalanan rujukan Rujuk segerta d.

Diare dehidrasi ringan/sedang.  dosis. cara pemberian ) Mengajari ibu cara mengobati infeksi bakteri lokal (tetes mata /salep tetraciklin/kloramfenikol. Berat tubuh rendah dan atau gangguan pemberian ASI  Cegah penurunan gula darah dengan pemberian infus  Jaga kehangatan bayi  Rujuk segera TIDAK MEMERLUKAN RUJUKAN Klasifikasi yang berwarna KUNING DAN HIJAU  Infeksi bakteri lokal. diare tanpa dehidrasi. imunisasi KONSELING BAGI IBU Konseling diberikan pada Bayi Muda dengan klasifikasi kuning dan hijau  Mengajari ibu cara pemberian obat oral di rumah (macam obat. mengeringkan telinga  dengan bahan penyerap.g. Berat badan tidak rendah dan tidak ada masalah pemberian ASI Dibawah ini beberapa tindakan /pengobatan pada Bayi Muda yang tidak memerlukan rujukan :  Menghangatkan tubuh bayi segera  Mencegah gula darah tidak turun  Memberi antibiotik per oral yang sesuai  Mengobati infeksi bakteri lokal  Melakukan rehidrasi oral baik diklinik maupun dirumah  Mengobati luka atau bercak putih di mulut  Melakukan asuhan dasar Bayi Muda (mencegah infeksi. memberi ASI sesering mungkin. Mungkin bukan infeksi. luka dimulut dengan gentian violet) Mengajari pemberian oralit 21 . menjaga bayi tetap hangat. ikterus. berat badan rendah menurut umur dan atau masalah pemberian ASI.

cara meningkatkan produksi ASI.Berat Badan Rendah menurut umur 22 . posisi yang benar  saat meneteki.Ikterus fisiologik jika tetap kuning b 14 hari .Infeksi bakteri lokal .Luka atau bercak putih di mulut . Menasehati ibu tentang pemberian ASI : pemberian ASI eksklusif. Kunjungan ulang a Dua hari .Hipotermi sedang .Gangguan pemberian ASI . Apabila anak mempunyai masalah lain gunakan penilaian awal lengkap pada kunjungan awal.Diare dengan dehidrasi ringan /sedang . cara menyimpan ASI Mengajari ibu cara merawat tali pusat dan menjelaskan jadwal  pemberian imunisasi Menasehati ibu kapan harus segera membawa bayi ke petugas  kesehatan dan kapan kunjungan ulang Menasehati ibu tentang kesehatan dirinya KUNJUNGAN ULANG UNTUK PELAYANAN TINDAK LANJUT Pada kunjungan ulang petugas dapat menilai apakah anak membaik setelah diberi obat atau tindakan lainnya.

23 .

24 .

Kependudukan.2009) Masalah adalah kesenjangan antara harapan atau tujuan yang ingin dicapai dengan kenyataan sesungguhnya sehingga menimbulkan rasa tidak puas.BAB III IDENTIFIKASI MASALAH A. 2009) 25 . Permasalahan yang timbul terdapat pada outcome di mana hasil kegiatan tidak sesuai Standar Pelayanan Minimal. Sosial Budaya. Ekonomi dan Kebijakan INPUT : Man Money Method Material Machine PROSES : P1 P2 P3 OUTPUT OUTCOME Gambar 1. Kerangka pemikiran pendekatan sistem (Hartoyo. KERANGKA BERFIKIR PENDEKATAN MASALAH Pemecahan masalah menggunakan kerangka pemikiran pendekatan sistem sebagai berikut : Lingkungan : Fisik. Dengan demikian didapatkan ciri-ciri masalah :  Menyatakan hubungan dua atau lebih variabel  Dapat diukur  Dapat diatasi (Hartoyo.

Penyusunan rencana penerapan (POA) 7.Urutan dalam siklus pemecahan masalah adalah sebagai berikut : 1. ANALISIS PENYEBAB MASALAH 1. C. KEGIATAN YANG BERMASALAH Pada laporan program KIA Puskesmas Dumai Kota bulan Januari – Desember 2013 didapatkan cakupan Penanganan Kasus Komplikasi Nenonatal Risti belum mencapai 80% sesuai target yang ditetapkan. lingkungan. Masalah ini selanjutnya akan dilakukan analisis untuk menentukan kemungkinan penyebab masalah dengan metode pendekatan sistem (input. proses. misalnya SPM. Yang terakhir membandingkan antara keadaan nyata yang terjadi dengan keadaan tertentu yang diinginkan atau indikator tertentu yang sudah ditetapkan. dapat ditelusuri secara retrospektif hal-hal yang dapat menyebabkan munculnya permasalahan. Monitoring dan evaluasi B. Penentuan penyebab masalah 4. Memilih penyebab yang paling mungkin 5. output) yang akan dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Dumai Kota yang memiliki 5 kelurahan. Langkah berikutnya. 2. Penentuan prioritas masalah 3. Dengan pola pemecahan masalah berdasarkan pendekatan sistem tersebut. Analisis kemungkinan penyebab masalah dengan menggunakan pendekatan sistem Dalam menganalisis penyebab masalah manajemen secara menyeluruh digunakan pendekatan sistem yang meliputi input. menetapkan indikator tertentu sebagai dasar pengukuran kinerja. serta lingkungan.Identifikasi masalah Menetapkan keadaan spesifik yang diharapkan. proses. yang ingin dicapai.Menentukan alternatif pemecahan masalah 6. mempelajari keadaan yang terjadi dengan menghitung atatu mengukur hasil pencapaian. 26 .

Tabel 1. Identifikasi kemungkinan penyebab masalah Tahap Analisis Pendekatan Sistem Komponen Kekurangan Input - Kelebihan  Man Petugas sudah mendapatkan pelatihan MTBM Money  Jumlah dana kurang  untuk bidan desa Method  Tersedianya dana BOK Petugas jarang menggunakan format MTBM pada saat kunjungan neonatal Machine -  Tersedianya transportasi Material -  Materi/bahan pemeriksaan yang  sesuai tersedia Tersedianya format MTBM Lingkungan   Kurangnya  Terdapatnya pengetahuan dan kader posyandu keaktifan kader Kurangnya disetiap kelurahan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan (khususnya kesehatan bayi muda/nenonatus) 27 .

Proses P1  Belum terdapatnya  Terdapat MTBM sistem perencanaan sebagai pedoman program MTBM program KIA sesuai target program KIA P2   Kurangnya koordinasi  Materi format lintas sektoral RS dan MTBM mudah Puskesmas Belum terlaksananya dipahami program KN dengan MTBM sebagai alat deteksi dini neonatal risiko tinggi P3  Tidak dilakukan  Evaluasi dan evaluasi loka karya feedback mini tiap bulan dilakukan secara mengenai program rutin oleh bidan KIA khususnya koordinator cakupan neonatal risiko tinggi  program KIA Pelaporan disampaikan secara rutin ke Dinkes Kota Dumai dan diperoleh feedback yang baik Tabel 2. Identifikasi Penyebab Masalah Setelah Konfirmasi Kepada Pihak Puskesmas Komponen Kekurangan 28 .

Man Money  Jumlah dana kurang untuk bidan desa Methode  Petugas jarang menggunakan format MTBM pada saat kunjungan neonatal Machine Material Proses Lingkunga  Belum terdapatnya sistem perencanaan program MTBM  sesuai target program KIA Belum terlaksananya program KN dengan MTBM sebagai   alat deteksi dini neonatal risiko tinggi Kurangnya koordinasi lintas sektoral RS dan Puskesmas Tidak dilakukan evaluasi loka karya mini tiap bulan mengenai program KIA khususnya cakupan neonatal risiko tinggi   Kurangnya pengetahuan dan keaktifan kader Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan (khususnya kesehatan bayi muda/nenonatus) n 29 .

2. Penyebab Masalah Paling Mungkin Setelah melakukan konfirmasi kepada petugas program KIA dan karyawan Puskesmas Dumai Kota. maka berdasarkan analisis penyebab masalah diatas didapatkan penyebab masalah yang paling mungkin : 30 .

Kurangnya pengetahuan dan keaktifan kader (khususnya kesehatan b. 31 . OUTCOME Berdasarkan laporan program KIA Puskesmas Dumai Kota didapatkan data bahwa cakupan perolehan neonatal risiko tinggi/ komplikasi pada bulan Januari – Desember 2013 (5%). bayi muda/nenonatus) Kurangnya pengetahuan dan kesadaran c. kesehatan (khususnya kesehatan bayi muda/nenonatus) Kurangnya koordinasi lintas sektoral RS dan Puskesmas masyarakat tentang D. BAB IV PEMECAHAN MASALAH A. langkah selanjutnya adalah membuat alternatif pemecahan masalah sebagai berikut: Daftar alternatif pemecahan masalah NO MASALAH PEMECAHAN MASALAH . ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH Setelah diperoleh daftar penyebab masalah paling mungkin. Cakupan yang didapatkan belum mencapai target (80%) dari jumlah sasaran bayi pertahunnya yang mengalami resiko tinggi/ komplikasi.a.

PRIORITAS PEMECAHAN MASALAH Setelah menemukan alternatif pemecahan masalah. maka cara tersebut efisiensi. Kurangnya kesadaran pengetahuan dan 3. Penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah dilakukan dengan metode kriteria matriks. yaitu : 1) Berdasarkan besarnya penyebab masalah/ Magnitude Semakin besar atau semakin banyak penyebab masalah yang dapat di selesaikan. Makin tinggi kemampuan makin efektif cara penyelesaian tersebut. yaitu menunjuk pada pemekaian sumber daya. yaitu menunjuk pada kemampuan program mengatasi penyebab masalah yang ditemukan. Untuk mencari penyelesaian masalah sebaiknya memenuhi kriteria : 1. Diberikan reward yang bagi bidan dan keaktifan pengetahuan kader kader yang aktif 2. Kurangnya sektoral koordinasi antara RS lintas 4. Efektifitas program. 32 . maka semakin besar nilainya (semakin mendekati 5). Kurangnya dan 1. Kriteria ini bernilai 15. Melakukan penyuluhan rutin kepada masyarakat tentang masyarakat tentang masalah bayi kesehatan (khususnya kesehatan resiko tinggi/komplikasi bayi muda/nenonatus) 3. Untuk mengukur efektifitas masalah.1. 2. maka semakin efektif. semakin banyak penyebab masalah yang dapat diselesaikan. maka selanjutnya dilakukan penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah. Efisiensi program. Melakukan penyuluhan rutin kepada (khususnya kader tentang masalah bayi resiko kesehatan bayi muda/nenonatus) tinggi/komplikasi 2. Bila cara penyelesaian dengan biaya (cost) yang kecil. Meningkatkan koordinasi ulang antara dan puskesmas dan RS Puskesmas B. terdapat beberapa pedoman.

Melakukan penyuluhan rutin Nilai Kriteria M I C V Prioritas I kepada kader tentang masalah kepada masalah 4. nilai mendekati 1 apabila biaya (sumber daya) yang digunakan makin kecil. Kriteria ini bernilai 1-5. matriks prioritas penyelesaian masalah untuk mengatasi rendahnya cakupan perolehan neonatal risiko tinggi/ komplikasi di wilayah puskesmas dumai kota adalah sebagai berikut: Matriks Prioritas Pemecahan Masalah Rendahnya Cakupan Perolehan Neonatal Risti / Komplikasi di Wilayah Kerja Dumai Kota NO Prioritas pemecahan masalah 5 5 1 5 Hasil akhir (MxIxV)/ C 125 2. semakin sensitif cara penyelesaian dalam mengatasi masalah maka nilainya semakin mendekati 5. 4) Berdasarkan biaya dalam pemecahan masalah Kriteria ini bernilai 1-5. semakin penting cara penyelesaian dalam mengatasi masalah maka nilainya semakin mendekati 5. bidan dan kader yang aktif Melakukan penyuluhan 5 4 2 4 40 II 3 3 2 4 18 III . masyarakat bayi rutin tentang resiko tinggi/komplikasi Meningkatkan koordinasi ulang antara puskesmas dan RS 33 . bayi resiko tinggi/komplikasi Diberikan reward yang bagi 4 3 4 3 9 IV 3. Kriteria ini bernilai 1-5. 3) Berdasarkan sensitifitas cara penyelesaian masalah Semakin sensitif cara penyelesaian masalah maka semakin efektif. 1. Berdasarkan penjelasan diatas.2) Berdasarkan pentingnya cara pemecahan masalah Semakin penting cara penyelesaian dalam mengatasi penyebab masalah maka semakin efektif. Sebaliknya mendekati nilai 5 bila biaya (sumber daya) semakin besar.

RENCANA TINDAK LANJUT KEGIATAN Setelah menentukan prioritas alternatif pemecahan masalah. maka didapatkan urutan prioritas alternatif pemecahan penyebab masalah rendahnya cakupan perolehan neonatal risti/ komplikasi di wilayah kerja dumai kota. Melakukan penyuluhan rutin kepada kader tentang masalah bayi resiko tinggi/komplikasi 2. metode dan indikator yang sesuai dengan masalah yang ditentukan.Setelah melakukan penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan metode kriteria matriks. Melakukan penyuluhan rutin kepada masyarakat tentang masalah bayi resiko tinggi/komplikasi C. lokasi. Berdasarkan prioritas alternatif pemecahan masalah tersebut didapatkan urutan prioritas sebagai berikut: 1. pelaksana. kemudian dibuat tabel rencana atau plan of action yang meliputi kegiatan. 34 . sasaran. waktu. dana. tujuan.

di dapatkan alternatif penyelesaian masalah sebagai berikut : a.Kurangnya koordinasi lintas sektoral RS dan Puskesmas Setelah diperoleh penyebab masalah paling mungkin. Masalah ini disebabkan oleh karena : a. Diberikan reward yang bagi bidan dan kader yang aktif 35 . Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan (khususnya kesehatan bayi muda/nenonatus) c. Melakukan penyuluhan rutin kepada kader tentang masalah bayi resiko tinggi/komplikasi b.BAB V SIMPULAN DAN SARAN 1. SIMPULAN Pencapaian cakupan perolehan neonatal risti/ komplikasi di wilayah kerja puskesmas dumai kota tahun 2013 belum mencapai target 80%.Kurangnya pengetahuan dan keaktifan kader (khususnya kesehatan bayi muda/nenonatus) b.

masalah ASI). kami menyarankan kepada puskesmas hal-hal sebagai berikut: a. didapatkan keputusan tetap berupa kegiatan publikasi berupa penyuluhan dan leaflet mengenai neonatal risti/komplikasi (Asfiksia. Meningkatkan koordinasi ulang antara puskesmas dan RS Kemudian dilakukan prioritas alternatif pemecahan masalah tersebut didapatkan urutan prioritas sebagai berikut: a. Menentukan anggaran khusus untuk kegiatan penyuluhan neonatal risti/komplikasi d. e. Melakukan penyuluhan rutin kepada kader tentang masalah bayi resiko tinggi/komplikasi b. bidan. Meningkatkan koordinasi antara perolehan RS dan cakupan neonatal Puskesmas untuk meningkatkan perolehan cakupan kasus neonatal risti/komplikasi. Membuat perencanaan mengenai penyuluhan neonatal risti/komplikasi b. Melakukan pengawasan dan evaluasi kegiatan agar dapat dilakukan berkesinambungan untuk mencapai risti/komplikasi.c. 2. 36 . c. Adapun rencana kegiatan tersebut seperti yang terlampir. Meningkatkan koordinasi dan kerjasama antara dokter. Melakukan penyuluhan rutin kepada masyarakat tentang masalah bayi resiko tinggi/komplikasi d. Melakukan penyuluhan rutin kepada masyarakat tentang masalah bayi resiko tinggi/komplikasi Dari prioritas pemecahan masalah. kader dan masyarakat di wilayah kerja puskesmas dumai kota. SARAN Untuk mengatasi masalah rendahnya cakupan perolehan neonatal risti/ komplikasi di wilayah kerja puskesmas dumai kota tahun 2013.