V.

SISTEM INTERKONEKSI

4.1 MANFAAT SISTEM INTERKONEKSI
1. Meningkatkan keandalan dan mutu pasokan tenaga listrik
2. Meningkatkan efisiensi operasi
3. Fleksibilitas transfer daya antar sub-sistem ( saat inspeksi,
gangguan pembangkit serta variasi musim )
4. Optimalisasi pemakaian energi primer setempat.
Dalam sistem interkoneksi sangat perlu adanya koordinasi operasi
yang dilakukan oleh P3B.
Koordinasi terutama meliputi :
a. Koordinasi pemeliharaan
b. Pembagian beban
c. Pengaturan frekuensi
d. Pengaturan tegangan
e. Prosedur mengatasi gangguan.
# Sistem interkoneksi umumya untuk pusat listrik diatas
100 MW

4 % Y Δ 80 KV 10 KA Singe Line Diagram GI TL. 10 KA 69000/√3 69000/√3 110/√3 V 72.5 KV 630 A 72.5 KV 1250 A 1600 MVA 150/1 A 5 MVA 69 – 11.80 KV. 50 Hz 72.5 KV 630 A 150/1 A 72.5 KV 630 A 3Ø.5 KV 7.5 KV 1250 A 1600 MVA 72. Ratu Cu Ø 93 mm .5 KV 1250 A 1600 MVA REL TT 72.

RATU Dari IBT Dari IBT 5 MVA 5 MVA K 10 PAB Cu Ø 2 ( 75 x 6) REL TM 3Ø. TL. 50 Hz S 65 PLTD Δ Δ Y Y PS PS S 64 KUTM PLTG 1 S 69 .LANJUTAN GI.

.

4. Governor mengukur frekuensi yang dihasilkan generator dengan cara mengukur kecepatan poros dari generator tersebut. Pengaturan kopel mekanis dilakukan dengan cara : 1. Mengatur aliran bahan bakar oleh injection pump ke cylinder mesin diesel pada PLTD. Mengatur aliran uap yang masuk ke turbin pada PLTU 2. Mengatur aliran air yang masuk ke turbin pada PLTA 3.2 PENGATURAN FREKUENSI Untuk mengatur frekuensi biasanya dilakukan pada governor. Mengatur aliran bahan bakar pada ruang bakar ( combustion ) pada PLTG 4. karena frekuensi . maka governor harus mengatur kopel mekani yang dihasilkan oleh prime mover generator. Pengaturan frekuensi dilakukan dengan mengatur daya aktip yang dibangkitkan generator.

Contoh. Butir ( 1 ) harus diantisipasi dengan membuat perkiraan beban dalam . Terjadinya gangguan pada unit pembangkit sehingga keluar dari operasi.yang dihasilkan generator sebanding dengan kecepatan putar poros generator NP ( f  ) 120 Turunnya frekuensi didalam sistem diperlukan penambahan pembangkitan daya ( MW ) yang diambil dari cadangan berputar. kapasitas pembangkit 100 MW tetapi hanya dibebani 60 MW. maka cadangan berputar adalah 40 MW. Bertambahnya beban didalam sistem 2. Turunnya frekuensi didalam sistem disebabkan oleh : 1. Cadangan berputar adalah selisih kapasitas pembangkit dengan pembebanan pada pembangkit tersebut.

Butir ( 2 ) harus diantisipasi dengan adanya pedoman operasi dalam mengatasi gangguan. UFR disetel dengan 3 tahap yaitu 49.5 Hz dan dipasang pada penyulang distribusi untuk tahap 1 dan 2. Apabila cadangan berputar telah habis tetapi frekuensi masih terus turu maka sistem akan mengalami gangguan total dalam arti semua unit pembangkit akhirnya akan trip karena semuanya mengalami pembeban lebih ( over load ). 49 Hz dan 48. Untuk mencegah terjadinya gangguan total perlu dilakukan pelepasan beban sewaktu frekuensi terus menerus turun. Gangguan pada butir ( 2 ) akan menyebabkan frekuensi turun. Pelepasan beban ini dilakukan dengan menggunakan under frequency relay ( UFR ). .5 Hz. sedangkan tahap 3 dipasang pada saluran transmisi. Perkembangan terakhir dalam teknik pelepasan beban digunakan relay pendeteksi kecepatan turunnya frekuensi ( dF/dt ).

4.3 PROSEDUR PEMBEBASAN TEGANGAN DAN PEMINDAHAN BEBAN .

Bila lokasi power plant dan GI berjauhan maka kepala regu dapat mendelegasikan kepada anak buahnya.1 PROSEDUR PEMBEBASAN TEGANGAN Misalkan saluran yang akan dibebaskan tegangannya adalah penghantar no. DS A11 dan DS A12 dibuka. Tanggal dan jam pelaksanaan pembebasan tegangan harus ditentukan dan disetujui oleh P3B.3. DS B11 dan DS B12 dibuka. kemudian DS A13 dimasukkan oleh penguasa Power Plant.1 telah bebas tegangan dan telah ditanahkan. 1. 1 antara power plant dan GI B. Kepala regu kerja yang melaksanakan pekerjaan perbaikan harus menyaksikan manuver tersebut dalam butir 3 dan 4. . 2. agar yakin bahwa penghantar no.1 dibuka atas perintah P3B atau secara telekontrol oleh P3B. 4. karena hal ini mempengaruhi operasi sistem interkoneksi. 5. 3.4. CB A1 dan CB B1 pada ujung – ujung penghantar no. kemudian DS B13 dimasukkan oleh penguasa Gardu Induk B. karena pekerjaan perbaikan.

9. 8. 7.6. Setelah pekerjaan selesai dilaksanakan. kepala regu kerja penghantar melaporkan kepada penguasa power plant dan penguasa GI B bahwa pekerjaannya telah selesai. lepaskan rantai pentanahan. Kemudian. Kepala regu kerja harus terlebih dahulu melempar rantai pentanahan ke penghantar no. karena adanya induksi dari penghantar no. Penguasa power plant memasukan DS A11 dan DS A12 serta membuka DS A13.1 yang akan disentuh untuk membuang muatan kapasitif yang masih tersisa dalam penghantar tersebut. Selain itu rantai pentanahan berfungsi menjaga agar potensial penghantar yang disentuh selalu sama dengan potensial bumi/tanah. demikian pula penguasa GI B memasukan DS B11 dan DS B12 serta membuka DS B13. Penguasa power plant dan penguasa GI B masing – masing memberitahu P3B bahwa CB A1 dan CB B1 siap dimasukkan. 2 yang tetap beroperasi. .

Untuk menghindari kekeliruhan.2 PROSEDUR PEMINDAHAN BEBAN .10. P3B memerintahkan ke power plant dan ke GI B untuk memasukkan CB atau memasukkannya secara telekontrol. 4. maka handel DS harus dilengkapi dengan dua kunci ( gembok ) yang masing – masing dibawa oleh kepala regu SUTT dan kepala regu telekomunikasi.3.

Frekuensi sama Dalam keadaan yang demikian maka prosedur pemindahan adalah sebagai berikut : * Masukkan CB kopel * Masukkan DS 2 * Buka DS 1 * Buka CB kopel II. Fasa sama c. Tegangan Rel 1 dan Rel 2 mempunyai : a. disini diambil prosedur memindahkan transformator PS dari Rel 1 ke Rel 2 pada 2 macam keadaan yaitu : I. Tegangan sama besar b.Sebagai contoh. Tegangan Rel 1 dan Rel 2 mempunyai : a. Tegangan sama besar b. Fasanya tidak sama ( dari sumber yang berbeda ) c. Frekuensinya sama .

Masukkan CB Transformator PS Pada keadaan no. Masukkan DS 2 d. II proses pemindahan Transformator PS memerlukan pemadaman yang tidak bisa dihindarkan. Buka CB Transformator PS b. 4.4 SHORT BREAK DIESEL GENERATING SET . Buka DS 1 c. sehingga prosedur pemindahan adalah sebagai berikut : a.Dalam keadaan yang demikian CB kopel tidak boleh dimasukkan.

maka dalam waktu tertentu unit pembangkit diesel ini distart secara otomatis oleh batere aki.Apabila pasokan daya dari PLN hilang. sakelar S2 sebaiknya dikembalikan ke posisi PLN secara manual sambil mematikan unit pembangkit diesel. Setelah putaran ( frekuensi ) dan tegangannya mencapai nilai nominal. . Sewaktu pasokan daya dari PLN normal kembali. Proses ini membutuhkan interupsi pasokan daya ke pemakai dalam waktu kurang dari satu menit ( short break ). sakelar S2 berpindah posisinya dari PLN ke unit pembangkit diesel. sehingga pemakai mendapat pasokan dari unit pembangkit diesel.

5 SISTEM PENGUKURAN PADA GENERATOR DAN SALURAN .4.

Pengukuran ini diperlukan dalam kaitannya dengan kemampuan penguatan generator ( sistem eksitasi ) dan pengaturan tegangan. Arus Pengukuran arus diperlukan untuk mengamati perubahan berbagai alat jangan sampai mengalami pembebanan lebih.Besaran yang diukur pada generator secara umum adalah : 1. Tegangan Tegangan yang diperlukan untuk menjaga mutu penyediaan tenaga listrik tidak boleh terlalu rendah dan untuk menjaga jangan sampai merusak isolasi tegangan yang diperlukan tidak boleh terlalu tinggi. Daya reaktif Daya reaktif diukur dalam KVAR atau MVAR. 4. 3. 2. Daya aktif Daya aktif diukur dalam KW atau MW. Pengukuran ini diperlukan dalam kaitannya dengan kemampuan mesin penggerak generator dan pengaturan frekuensi. .

Frekuensi Pengukuran frekuensi diperlukan untuk memparalelkan generator dan apabila sudah paralel. pengukuran frekuensi diperlukan untuk menjaga mutu penyediaan tenaga listrik. Energi listrik Energi listrik diukur dalam KWH atau MWH. 6. 7.5. Pengaturan tegangan generator berkaitan dengan pengaturan arus penguatan generator. maka pengaturan arus penguatan generator praktis tidak banyak mengubah tegangan generator melainkan hanya mempengaruhi daya reaktif yang dihasilkan generator tersebut. Sudut fasa ( Cos φ ) Alat ukur Cos φ harus menunjukan keadaan lagging atau leading sehingga dapat segera diketahui apakah generator memproduksi atau menyerap daya reaktif. Apabila generator beroperasi paralel dengan sistem yang besar. Pengukuran ini diperlukan untuk menyusun neraca energi dan berkaitan dengan pemakaian bahan bakar. .

4. Diagram Sistem Supply DC Gardu Induk .5 SISTEM SUPPLY DIRECT CURRENT PADA GARDU INDUK REL 20 KV TRANSFORMATOR PS BATTERY CHARGER v BATERE FUSE REL DC MCB FEEDER BEBAN DC Gambar.

PANEL DISTRIBUTION BOARD 380/220 V AC 20 KV 300 A 25 A TRAFO PS = A = CONTROL SYNCRON DAN AUTO RECLOSER B = BUSBAR RELAY C = INTERNAL TRAFO 1 RECTIFIER BATERE FUSE 60 A MCB 80 A PANEL DISTRIBUTION BOARD 110 V DC 32 A 32 A 10 A 10 A 10 A 10 A 25 A 10 A 10 A 10 A KONTROL MOTOR A TRIPPING 1 TRIPPING 2 PANEL PROTEKSI FEEDER TRAFO ALARM & SIGNALING PANEL KONTROL FEEDER TRAFO C B INC & FEEDER 20 KV PANEL KONTROL & PROTEKSI TRAFO 1 KONFIGURASI SISTEM SUPPLY DC 110 V FEEDER TRAFO 1 .