DNA Profiling

DNA Profiling adalah suatu teknik biologi molekular yang dipakai untuk kepentingan
pengujian forensik terhadap materi uji berdasarkan profil DNA-nya. DNA profiling pertama kali
diperkenalkan oleh Sir Alex Jeffreys ahli genetika berkebangsaan Inggris pada tahun 1985 sebagai
DNA Finger Printing. DNA profiling mulai dikenal di Indonesia sejak tahun 1990.
Tes DNA ini umumnya digunakan untuk 2 tujuan yaitu
a. Tujuan pribadi: penentuan perwalian anak atau penentuan orang tua dari anak
b. Tujuan hukum: yang meliputi masalah forensik seperti identifikasi korban yang telah hancur,
sehingga untuk mengenali identitasnya diperlukan pencocokan antara DNA korban dengan terduga
keluarga korban ataupun untuk pembuktian kejaharan semisal dalam kasus pemerkosaan atau
pembunuhan. Namun disini kami hanya membahas peranan analisis DNA dalam kedokteran forensik.
Hampir semua sampel biologis tubuh dapat digunakan untuk sampel tes DNA tetapi yang
sering digunakan adalah darah, rambut, usapan mulut pada pipi bagian dalam (buccal swab) dan kuku.
Untuk kasus-kasus forensik seperti sperma, daging, tulang, kulit, air liur atau sampel biologis apa saja
yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP) dapat dijadikan sampel tes DNA.
DNA yang biasa digunakan dalam tes ada dua yaitu core DNA (c-DNA) yang terdapat di
dalam inti sel dan mitokondria DNA (mt-DNA) yang terdapat dalam organel mitokondria. c-DNA
merupakan materi genetik yang membawa sifat individu dan diturunkan dari ayah dan ibu, setengah
dari ayah, setengah dari ibu. c-DNA pada masing-masing individu mempunyai kekhasan masingmasing. Berdasarkam pola pewarisan ini maka pemeriksaan c-DNA dapat digunakan untuk mencari
hubungan anak- ibu maupun anak-bapak.
Berbeda dengan c-DNA, mt-DNA berbentuk lingkaran ganda yang hanya diturunkan dari ibu
kepada anak, ayah tidak pernah menurunkan mt-DNA kepada anak, sehingga pemeriksaan mt-DNA
hanya dapat digunakan untuk mencari hubungan anak-ibu. Untuk tes DNA, sebenarnya sampel DNA
yang paling akurat digunakan dalam tes adalah DNA inti sel karena inti sel tidak bisa berubah. DNA
dalam mitokondria dapat berubah karena berasal dari garis keturunan ibu yang dapat berubah seiring
dengan perkawinan keturunannya. Sebagai contoh untuk sampel sperma dan rambut. Yang paling
penting diperiksa adalah kepala spermatozoanya karena didalamnya terdapat DNA inti, sedangkan
untuk perpotongan rambut yang paling penting diperiksa adalah akar rambutnya.
Sampel pada Tes DNA
Bahan sampel DNA dapat dipilih dari jaringan apa saja, karena DNA dapat diperoleh dari

Kalaupun dilakukan. Secara umum DNA dapat rusak akibat pengaruh lingkungan seperti paparan sinar matahari. sekitar usia kehamilan 14-20 minggu. sampel dapat diambil dari ayah ataupun anak. untuk pemeriksaan tes DNA untuk membuktikan hubungan antar ayah dan anak. Amniosentesis Tes ini dilakukan pada trimester kedua. yang akan diujikan. Artinya spesimen yang diperiksa tercampur dengan spesimen individu lain sehingga mengakibatkan kesalahan pengambilan kesimpulan dalam menentukan siapa ayah biologis anak tersebut. Sel yang tidak memiliki DNA hanyalah sel darah merah karena sel darah merah tidak memiliki inti. Pemeriksaan prenatal: 1.semua sel berinti. Bahan aampel setelah dikumpulkan harus diberi perlakuan tertentu agar tidak rusak. dengan bantuan USG sebagai pemandu untuk memasukkan jarum kecil ke dalam uterus. Untuk tes diperlukan spesimen yang diambil dari ibu. bahan kimia. anak. kesimpulan tes yang akan diperoleh sangat rendah yaitu kurang dari 50% Hal yang paling penting pada tahap pengambilan bahan atau spesimen adalah jangan sampai terjadi kontaminasi. pria yang diduga ayah biologisnya. melalui dinding abdomen. ambil sekitar 20 cc cairan amnion. dan alobat kerja enzim DNAase yang terdapat dalam jaringan sendiri.com/care/what-is-amniocentesis . Tes tidak dapat dilakukan jika spesimen tidak lengkap. Jarum tersebut untuk mengambil sejumlah kecil cairan amnion. misalnya tanpa spesimen yang diambil dari ibu. terlena panas. air. Untuk pengambilan sampel pada anak bisa dilakukan prenatal dan postnatal. Gambar: http://naturallysavvy.

dengan sikat.com/Chorionic-Villus-Prenatal. CVS/Chorionic Villus Sampling Tes ini dapat dilakukan pada kehamilan lebih dini dari usia 10-13 minggu. Buccal Cara pengambilan sel epitel pada mukosa pipi/buccal bisa dilakukan dengan usap pada mukosa pipi. 2.html Pemeriksaan DNA postnatal: 1. Prosedur ini juga bisa menyebabkan cedera pada saraf. Protein yang ada di dalam sel dan bercampur dengan DNA dapat dihancurkan dan dipisahkan menggunakan proteinase K. pembentukan jaringan ikat di tumit. kumur. Darah Sampel darah ini dapat diambil dari tali pusat ataupun dari tumit bayi. Sel darah putih yang didapat dilakukan ekstrasi yaitu menghancurkan membran dan kompenen sel lainnya. dengan kartu FTA Cara usap: . dan SDS (Sodium dodecyl sulfat) suatu deterjen yang berfungsi merusak membran sel.dnalabcenter. infeksi akibat penusukkan jarum tersebut. Secara kimiawi penghancuran sel dapat dilakukan dengan EDTA ( Ethylene diamine tetraacetic) yang berfungsi merusak sel dengan cara mengikat ion magnesium. dan mempunyai struktur genetik yang sama. Untuk mendapatkan DNA yang paling mudah adalah dengan mengambil sel darah putih.2. dan phenol. Di beberapa negara biasanya diambil dari tumit bayi yang baru lahir. Karena selain menyebabkan rasa sakit pada bayi. Tes ini dilakukan dengan menggunakan jarum atau tabung yang dimasukkan ke dalam vagina sampai os servik dengan bantuan USG untuk mengambil villi chorion.Jangan makan + 1 jam sebelum pemeriksaan . Tetapi biasanya orang tua khawatir dengan prosedur ini. 1 Gambar: http://www. Villi chorion dan janin sama-sama berasal dari sel telur yang telah dibuahi. Untuk saat ini darah yang digunakan diambil dari tali pusat pada bayi yang baru lahir.

Ambil usapan pada mukosa pipi bagian dalam FTA Card Adalah kartu yang dibuat untuk memudahkan penyimpanan dari sampel. Meskipin bagian tersebut tidak mengandung DNA nuklear.Dibungkus dengan kertas alumunium dan disimpan pada suhu dibawah 20 C. akar rambut dan lapisan pembungkus akar rambut dapat digunakan sebagai sampel. yang bisa diambil dari ayah dan anak) Oleh karena semua sel bernukleat di tubuh mengandung DNA. ditaruh di lingkarab yang terdapat pada kartu FTA. 2 Cara menyimpan usapan dengan kartu FTA .Berisi reagen yang dapat menstabilkan DNA . . kita bisa mengambil cairan ini .Kantong penyimpanan kartu FTA terdiri dari 7 lapis sehingga melindungi sampel dari sinar matahari ataupun kontaminasi dari cairan dan udaraluar. Dan jumlah DNA yang diperoleh dapat diperkuat dengan metode PCR.Semen Semen mengandung kira-kira 20 juta spermatozoa per ml. Pada kasus perkosaan. yang hanya dapat tahan selama 5 hari. Bahan yang telah dikeringkan dapat disimpan pada suhu kamar. Keunggulan pengambilan dengan FTA card dibanding dengan pengambilan usapan biasa: . 3. 2.Sampel dalam kartu FTA ini dapat tahan disuhu ruangan selama 10 tahun dibanding dengan penyimpanan usapan yang biasa.Usapan yang telah diambil dari mukosa pipi. tangkai/batang rambut dapat dianalisa untuk melihat adanya DNA mitokondrial. Sampel lain (Rambut. Cara pengambilan: .Sesaat sebelum pemeriksaan kumur mulut dengan air . semen. DNA kemudian diketik dan mungkin didapatkan kecocokan.. karena bagian tersebut mengandung lapisan pembungkus akar rambut. Yang digunakan untuk tes DNA adalah sel spermatozoa karena sel ini mengandung inti sel. Sepuluh mm pertama dari bagian bawah pada tiap helai rambut dapat digunakan untuk keperluan tes DNA. nanti kartu FTA yang awalnya bewarna merah muda akan berubah menjadi putuh bila telah berhasil mengoleskan usapan mukosa yang berisi DNA. Sampel rambut diambil 10-15 helai beserta akarnya.

Metode ini menghasilkan single stranded DNA yang hanya dapat digunakan pada metode PCR. John M Butler. telah digunakan dalam waktu yang lama dan digunakan pada berbagai macam situasi. Molekul-molekul DNA harus dipisahkan dari material-material lain yang ada dalam sel tersebut sebelum dapat diperiksa. karena sel spermatozoa bisa bertahan selama 72 jam. yang sangat penting pada metode RFLP. EDTA mengikat seluruh magnesium bebas sehingga menghambat nuclease dalam memecah DNA. 2003. Organic exctraction . Termasuk RFLP dan PCR. Molecular genetic Pathology. darah lengkap harus diperlakukan berbeda dengan bercak darah maupun serpihan tulang. Lailia R.sampai 3 hari setelah pemerkosaan pada liang vagina. Nuklease membutuhkan magnesium untuk bekerja secara baik sehingga untuk mencegahnya memecah DNA dalam darah dapat digunakan tabung berisi EDTA. Ekstrasi DNA 3 Sampel biologis yang dapat dari TKP dalam bentuk bercak darah atau semen dari seorang tersangka atau dalam kasus paternitas mempunyai substansi lain selain DNA. ekstrasi DNA telah dikembangkan untuk memisahkan protein dan material-material sel lain dari molekul-molekul DNA. DNA yang telah di ekstrasi dapat disimpan – 20 C. dan FTA paper. Ada 3 teknik utama dalam ekstrasi DNA yaitu: organic extraction. kadang-kadang dapat disebut juga sebagai Phenol Chlorofom Exctraction. Liang Cheng MD. Sebagai contoh. 2008 h 443 2. Jurnal Buccal DNA collection : Comparison of buccal swabs with FTA 3. Penggunaan teknik-teknik tersebut bergantung pada jenis dari materi biologi yang ditemukan. Elizabeth Miline. H 23 . Humanna Press: New Jersey. dapat dipatkan secara efektif pada organic extraction. Daftar pustaka 1. atau malah pada – 80 C pada penyimpanan jangka lama untuk mencegah aktivitas dari nuclease. Chelex extraction. Semua sampel harus ditangani secara hati-hati untuk mencegah kontaminasi antar sampel. Elsevire. Oleh sebab itu. Forensic DNA Typing. Protein sel yang melindungi DNA dalam lingkungan sel dapat menghambat kemampuan dalam menganalisa DNA. Chelex Method lebih cepat dibandingankan dengan organic extraction. Sebagai tambahan Chelex extraction melibatkan langkah yang lebih sedikit dan kemungkinan yang lebih kecil dari kontaminasi dari sampel ke sampel. High molecular weight DNA.