BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Bite mark merupakan pola dalam suatu objek atau jaringan dengan struktur gigi hewan
atau manusia. Menggigit tanda lebih lanjut digambarkan sebagai cedera melingkar atau oval
bermotif terdiri dua menentang U-berbentuk lengkungan di pangkalan mereka dipisahkan
oleh ruang terbuka bahwa, dalam kehidupan, mewakili tenggorokan atau bagian posterior
mulut. Bersama tepi luar atau pinggiran tayangan dari lengkungan biasanya ada serangkaian
lecet, atau memar, dengan atau tanpa laserasi, yang mencerminkan ukuran, bentuk dan
susunan karakteristik kelas insisal atau oklusal permukaan gigi yang membuat menandai.
Pola gigitan yang paling sering terdapat pada buah buahan yaitu buah apel,pir,dan
bengkuang yang sangat terkenal dengan istilah Apple Bite Mark. Pola gigitan yang
ditimbulkan oleh hewan berbeda dengan manusia oleh karena perbedaan morfologi dan
anatomi, gigi geligi, serta bentuk rahangnya
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 13.667 pulau dengan batas
luasnya sebesar 2.027.087 km2 mempunyai kurang lebih 129 gunung merapi. Secara
geologis Indonesia terletak di pertemuan diantara 3 lempeng tektonik utama (Eurasia, IndoAustralia dan Mediterania) dan secara demografi terdiri dari bermacam-macam etnik, agama,
latar belakang sosial dan budaya, dimana keadaan tersebut memberikan petunjuk bahwa
Indonesia berisiko tinggi sebagai negara yang rawan terjadi bencana.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia melaporkan telah terjadi
kurang lebih 13458 kasus bencana massal di Indonesia selama periode 1815 hingga 2012.
Bencana massal didefinisikan sebagai suatu peristiwa yang disebabkan oleh alam atau karena
ulah manusia, yang dapat terjadi secara tiba-tiba atau perlahan-lahan, yang menyebabkan
hilangnya jiwa manusia, kerusakan harta benda dan lingkungan, serta melampaui
kemampuan dan sumber daya masyarakat untuk menanggulanginya.

1

4. Untuk mengetahui apa itu definisi Bite Mark? Untuk mengetahui bagaimana karakteristik dari pola gigitan? Untuk mengetahui apa saja klasifikasi dari pola gigitan? Untuk mengetahui apa saja jenis pola gigitan pada manusia? Untuk mengetahui bagaimana cara identifikasi Bite mark? Untuk mengetahui apa itu definisi DVI? Untuk mengetahui apa saja peran dokter gigi dalam bencana massal? Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan DVI pada bencana letusan gunung merapi? 2 . 3. 6.3 Tujuan 1. 8. 5. 2. 2. Apa itu definisi Bite Mark? Bagaimana karakteristik dari pola gigitan? Apa saja klasifikasi dari pola gigitan? Apa saja jenis pola gigitan pada manusia? Bagaimana cara identifikasi Bite mark? Apa itu definisi DVI? Apa saja peran dokter gigi dalam bencana massal? Bagaimana pelaksanaan DVI pada bencana letusan gunung merapi? 1. 5.2 Rumusan masalah 1. 7. 8. 3. 7. 6.1. 4.

2006). Pemeriksaan pola gigitan juga dapat dilakukan analisis terhadap: gigi yang hilang. dan susunan gigi yang ada pada model gigi. Gigi-geligi setiap manusia berbeda antara satu dengan yang lain karena masing-masing memiliki ciri khas. 1997. jumlah gigi.1 Bite Mark 2. Van der Velden et al. Menurut Levine (1977). Sedangkan perbedaan jarak tersebut pada rahang bawah pada keduanya adalah 2.1 Definisi Bite Mark Pola gigitan ialah bekas gigitan dari pelaku yang tertera pada kulit korban dalam bentuk luka. ruang antar gigi. Analisis dan perbandingan bitemark merupakan hal yang rumit. Teknik analisis ini dapat dimanfaatkan dalam bidang kedokteran gigi forensik. (Stimson. pola gigitan baik pola permukaan kunyah maupun permukaan hasil gigitan yang mengakibatkan putusnya jaringan kulit dan dibawahnya baik pada jaringan tubuh manusia maupun pada buah-buahan tertentu misalnya buah apel dapat ditemukan baik korban hidup maupun yang sudah meninggal. 3 . bentuk. bentuk lengkung gigi.1. adanya kondisi spesifik seperti gigi supernumerari. jaringan kulit maupun jaringan ikat di bawah kulit sebagai akibat dari pola permukaan gigitan dari gigi-gigi pelaku dengan perkataan lain pola gigitan merupakan suatu produksi dari gigi-gigi pelaku melalui kulit korban (Eckert. rotasi gigi. ukuran.5 mm (Brogon. lebar/besar gigi. Untuk membedakan gigitan dewasa dengan anak di bawah 8 tahun harus diingat bahwa jarak intercaninus (jarak antara kedua gigi taring kiri dan kanan) lebih besar dari 3 cm pada dewasa atau anak yang sudah dewasa dan kurang dari 3 cm pada anak dengan gigi susu. Ciri khas ini dapat berupa ada tidaknya malposisi. Perbedaan jarak intercaninus di rahang atas baik pada orang dewasa dan anak-anak adalah 4.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. 1998). fraktur. 2008).. dan lain sebagainya Pola gigitan yang terbentuk pada objek dibandingkan dengan kontur.4 mm.

3. Terdapat benda yang menghalangi gigitan. 2. 3. incisivus lateral lebih sempit. 3. Jumlah gigi pada bekas gigitan biasanya berjumlah 12 sebanyak jumlah gigi anterior kedua rahang (6 anterior rahang atas dan 6 anterior rahang bawah). Adanya jarak kemungkinan disebabkan oleh: a. Lebar gigi Merupakan jarak mesial-distal terlebar dari suatu gigi. Lukman (2006) mengatakan bahwa karakteristik catatan gigitan meliputi: 1. b. sama. Tebal gigi Adalah jarak dari labial ke lingual suatu gigi.1.2 Karakteristik pola gigitan Menurut Bowers (2004). d. Gigi anterior rahang atas: Incisivus sentral lebar. Obyek yang digigit bergerak. Pelaku tidak memiliki gigi. 2006): 4 . c.1. Bentuk gigi anterior rahang bawah adalah segi empat dengan lebar gigi yang hampir 4. Gigi anterior rahang bawah: Lebar incisivus sentral dan incisivus lateral hampir sama. kaninus berbentuk konus. kaninus berbentuk konus.3 Klasifikasi pola gigitan Pola gigitan mempunyai derajat perlukaan sesuai dengan kerasnya gigitan. 5. Lebar rahang Ialah jarak pada rahang yang sama dari satu sisi ke sisi lainnya (antartonjol). Rahang atas lebih lebar dibandingkan rahang bawah.pada pola gigitan manusia dibagi dalam 6 kelas (Lukman. Bentuk kaninus atas adalah bulat atau oval. Bentuk empat gigi anterior rahang atas adalah segi empat dengan gigi sentral memiliki 2. karakteristik fisik pola catatan gigitan adalah: 1.2. Karakteristik gigi pada catatan gigitan: 1. 2. Gigi anterior adalah gigi yang umumnya tercatat pada pola catatan gigitan. Bentuk kaninus bawah adalah bulat atau oval. Gigi lebih pendek dari ukuran normal. 2. bentuk yang lebih lebar.

4. dan pola gigitan pada mamae. gangguan psikis dari pelaku. 3. 2. Kelas IV. melaukan fotografi. Hal ini disebabkan oleh 3. Pola gigitan hewan Pola gigitan hewan umunya terjadi akibat penyerangan hewan terhadap korban. Kejadian tersebut dapat terjadi tanpa instruksi dari pemeliharanya atau dengan instruksi dari pemeliharanya. bibir.1. dan premolar baik pada rahang atas maupun rahang bawah. kaninus. pola gigitan kelas IV terdapat luka pada kulit dan otot dibawah kulit yang sedikit lepas atau rupture sehingga terlihat pola gigitan irregular. pola gigitan kelas VI memperlihatkan luka dari seluruh gigitan rahang atas dan rahang bawah dan jaringan kulit serta jaringan otot terlepas sesuai denga kerasan oklusi dan pembukaan mulut. Kelas II. pola gigitan terdapat jarak antara gigi insisivus dan kaninus 2. Pola gigitan heteroseksual Pola gigitan antar hubungan intim lawan jenis dengan kata lain hubungan seksual antara pria dan wanita terdapat penyimpangan yang sifatnya sedikit melakukan penyiksaan yang menyebabkan lawan jenis kesakitan. 2. Kejelasan dan bentuk dari pola giigtan dapat berubah dalam waktu yang sangat 5 . Kelas I. Kelas III. pola gigitan kelas III lebih parah dari kelas II yaitu permukaan insisivus telah menyatu tetapi dalamnya pola gigitan mempunyai derajat yang lebih parah. pola gigitan sama denga kelas I tapi terlihat pada pola gigitan cups bukal dan palatal/lingual tetapi derajat gigitannya masih sedikit.4 Jenis pola gigitan pada manusia Pola gigitan pada manusia sangatlah berbeda bergantung organ tubuh mana yang terkena. 5. 6. Adapun beberapa pola gigitan tersebut: 1.1. Kelas V.1. pola gigitan kelas V terlihat luka yang menyatu pada pola gigitan insisivus. pola gigitan pada sekitar organ genital. Meliputi: pola gigitan dengan keterlibatan lidah dan 2. Kelas VI. membuat cetakan.5 Identifikasi Bite mark Terdapat beberapa prosedur yang dapat dilakukan untuk menjaga dan melindungi informasi dental forensik yaitu dengan melihat luka tersebut sebagai bite mark yang potensial. Pola gigitan pada kasus penyiksaan anak / child abuse Pola gigitan ini dapat terjadi pada seluruh anggota tubuh anak. dan dapat juga dilakukan eksisi serta mengawetkan pola gigitan tersebut.

Pada daerah tersebut terdapat sekitar 0. Hanya satu cetakan dari bite mark yang diambil. 2. Prosedur ini dilakukan karena untuk mempertahankan bekas gigitan karena kecendrungan untuk menghilang secara alamidikarenakan oleh regenerasi jaringan. 3. 2. Untuk mengetahui golongan darah pelaku dapat ditentukan dari pemeriksaan saliva washing yang diambil dari kulit bekas gigitan. untuk mencegah manipulasi. Terdapat metode tambahan untuk menganalisis bite mark. Prosedur dalam identifikasi bite mark adalah: 1.2 Studi kasus pada bencana massal 2. ahli DNA. atau kehilangan barang bukti.3 ml saliva dan sulit mendapatkan jumlah yang cukup dengan menggunakan swab. dan tim bantuan lain.1 Definisi DVI DVI atau Disaster Victim Identification adalah satu definisi yang diberikan sebagai sebuah prosedur untuk mengidentifikasi korban mati akibat bencana massal secara ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan dan mengacu kepada standar baku interpol. ahli sidik jari. Kemudian cetakan discan menggunakan flatbed scanner dengan skala yang sama pada 4. Yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan DVI adalah polisi didukung oleh para ahli seperti patologi forensik. tiap rahangnya. fotografer. Cetak rahang pelaku yang dicurigai Buat model studi pelaku yang dicurigai dengan menggunakan gyps stone tipe 4.singkat baik pada korban hidup maupun korban mati. Kumpulkan bukti Misalkan terdapat 20 buah bite mark dan kemudian difoto oleh satu orang operator menggunakan kamera digital. Prosedur DVI diperlukan dalam menegakkan HAM. merupakan bagian dari proses 6 . Membandingkan bite mark Terdapat dua metode yang dapat dilakukan dalam membandingkan bite mark. odontologi forensik. Pilih bahan cetak yang akan digunakan Bahan cetak yang digunakan biasanya polieter dengan konsistensi light-bodied dan heavy-bodied. dengan penemuan bakteri DNA.2. yaitu metode digital dan metode manual. distorsi.

Prinsip dari proses identifikasi ini adalah dengan membandingkan data ante-mortem dan post-mortem.AGN/65/RES/13 year 1996 on Disaster Victim Identification f. Resolusi Interpol No. UU No. Ketika suatu bencana terjadi.21 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana e. seperti kecelakaan bus dan pesawat. Rujukan Hukum : a. Selain itu juga dapat diterapkan pada bencana alam. sempurna dan paripurna dengan semaksimal mungkin sebagai wujud dari kebutuhan dasar hak asasi manusia. UU No. MOU Depkes RI-Polri tahun 2004 g. tsunami.dimana seorang mayat pempunyai hak untuk dikenali. warisan. dan status perkawinan). gedung yang runtuh atau terbakar. PP No. dimana setiap fasenya mempunyai keterkaitan satu dengan yang lainnya. MOU Depkes RI-Polri tahun 2003 Tahap DVI Proses DVI tersebut mempunyai lima fase. Fase I – TKP (The Scene) Merupakan tindakan awal yang dilakukan di tempat kejadian peristiwa (TKP) bencana.2 tahun 2002 tentang Polri c.24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana b. semakin banyak yang cocok maka akan semakin baik. seperti gempa bumi. dan gunung meletus.penyidikan. kecelakaan kapal laut dan aksi terorisme.23 tentang kesehatan d. DVI diterapkan pada bencana yang menyebabkan korban massal. jika identifikasi visual diragukan. UU No. Fase-fase tersebut yaitu : a. Tujuan penerapan DVI adalah dalam rangka mencapai identifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. serta untuk kepentingan hukum (asuransi. prioritas yang paling utama adalah untuk mengetahui seberapa luas 7 .

Langkah – langkah tersebut antara lain adalah : 1) Memblokir pandangan situs bencana untuk orang yang tidak berkepentingan (penonton yang penasaran. Dalam kebanyakan kasus. wakil – wakil pers. 8 . Sebuah tim pendahulu (kepala tim DVI. Sebuah organisasi resmi harus mengasumsikan komando operasi secara keseluruhan untuk memastikan koordinasi personil dan sumber daya material yang efektif dalam penanganan bencana. polisi memikul tanggung jawab komando untuk operasi secara keseluruhan. ahli patologi forensik dan petugas polisi) harus sedini mungkin dikirim ke TKP untuk mengevaluasi situasi berikut : 1) Keluasan TKP : pemetaan jangkauan bencana dan pemberian koordinat untuk area bencana 2) Perkiraan jumlah korban 3) Keadaan mayat 4) Evaluasi durasi yang dibutuhkan untuk melakukan DVI 5) Institusi medikolegal yang mampu merespon dan membantu proses DVI 6) Metode untuk menangani mayat 7) Transportasi mayat 8) Penyimpanan mayat 9) Kerusakan properti yang terjadi Pada prinsipnya untuk fase tindakan awal yang dilakukan di situs bencana. ada tiga langkah utama. dll). Pada langkah to secure organisasi yang memimpin komando DVI harus mengambil langkah untuk mengamankan TKP agar TKP tidak menjadi rusak. misalnya dengan memasang police line.jangkauan bencana. langkah kedua adalah to collect atau untuk mengumpulkan dan langkah ketiga adalah documentation atau pelabelan. Langkah pertama adalah to secure atau untuk mengamankan.

5) Periksa semua individu yang hadir di lokasi untuk menentukan tujuan kehaditan dan otorisasi. 3) Menyediakan jalur akses yang terlihat dan mudah bagi yang berkepentingan. baik pemeriksaan luar maupun pemeriksaan dalam jika diperlukan 9 . Fase II – Kamar Mayat/Post Mortem (The Mortuary) Pengumpulan data post-mortem atau data yang diperoleh paska kematian dilakukan oleh post-mortem unit yang diberi wewenang oleh organisasi yang memimpin komando DVI. Pemeriksaan dan pencatatan data jenazah yang dilakukan diantaranya meliputi : 1) Dokumentasi korban dengan mengabadikan foto kondisi jenazah korban 2) Pemeriksaan fisik. b. Pada fase ini dilakukan berbagai pemeriksaan yang kesemuanya dilakukan untuk memperoleh dan mencatat data selengkap–lengkapnya mengenai korban. Setelah ketiga langkah tersebut dilakukan maka korban yang sudah diberi nomor dan label dimasukkan ke dalam kantung mayat untuk kemudian dievakuasi.2) Menandai gerbang untuk masuk ke lokasi bencana. 6) Data terkait harus dicatat dan orang yang tidak berwenang harus meninggalkan area bencana Pada langkah to collect organisasi yang memimpin komando DVI harus mengumpulkan korban – korban bencana dan mengumpulkan properti yang terkait dengan korban yang mungkin dapat digunakan untuk kepentingan identifikasi korban. 4) Menyediakan petugas yang bertanggung jawab untuk mengontrol siapa saja yang memiliki akses untuk masuk ke lokasi bencana. Pada langkah documentation organisasi yang memimpin komando DVI mendokumentasikan kejadian bencana dengan cara memfoto area bencana dan korban kemudian memberikan nomor dan label pada korban.

rekaman pemeriksaan gigi korban. pada fase ini juga sekaligus dilakukan tindakan untuk mencegah perubahan–perubahan paska kematian pada jenazah. berat badan. properti jenazah. antropologi medis) Di dalam menentukan identifikasi seseorang secara positif. misalnya dengan meletakkan jenazah pada lingkungan dingin untuk memperlambat pembusukan.3) Pemeriksaan sidik jari 4) Pemeriksaan rontgen 5) Pemeriksaan odontologi forensik : bentuk gigi dan rahang merupakan ciri khusus tiap orang . dari bentuk tubuh. data sidik jari korban semasa hidup. fotografi. c. Data ini biasanya diperoleh dari keluarga jenazah maupun orang yang terdekat dengan jenazah. DNA) 2) Sekunder (visual. profil gigi. Data yang diperoleh dapat berupa foto korban semasa hidup. misalnya informasi mengenai pakaian terakhir yang dikenakan korban. tinggi badan. sampel DNA orang tua maupun kerabat korban. tatto hingga cacat tubuh dan bekas luka yang ada di tubuh korban. Data – data hasil pemeriksaan tersebut kemudian digolongkan ke dalam data primer dan data sekunder sebagai berikut : 1) Primer (sidik jari. serta informasi – informasi lain yang relevan dan dapat digunakan untuk kepentingan identifikasi. interpretasi ciri – ciri spesifik jenazah (tattoo. Fase III – Ante Mortem Pada fase ini dilakukan pengumpulan data mengenai jenazah sebelum kematian. dll). yaitu minimal apabila salah satu identifikasi primer dan atau didukung dengan minimal dua dari identifikasi sekunder. Badan Identifikasi DVI Indonesia mempunyai aturan-aturan. bekas luka. Selain mengumpulkan data pasca kematian. 10 . tindikan. tidak ada profil gigi yang identik pada 2 orang yang berbeda 6) Pemeriksaan DNA 7) Pemeriksaan antropologi forensik : pemeriksaan fisik secara keseluruhan.

Apabila data yang dibandingkan ternyata tidak cocok maka identifikasi dianggap negatif dan data post mortem jenazah tetap disimpan sampai ditemukan data ante mortem yang sesuai dengan temuan post mortem jenazah. Apabila korban tidak teridentifikasi maka data post mortem jenazah tetap disimpan sampai ditemukan data ante mortem yang sesuai dengan temuan post mortem jenazah. Fase V – Debriefing Korban yang telah diidentifikasi direkonstruksi hingga didapatkan kondisi kosmetik terbaik kemudian dikembalikan pada keluarganya untuk dimakamkan.d. dan pemakaman jenazah menjadi tanggung jawab organisasi yang memimpin komando DVI. e. Fase IV – Rekonsiliasi Pada fase ini dilakukan pembandingan data post mortem dengan data ante mortem. 11 . Sertifikasi jenazah dan kepentingan mediko-legal serta administrative untuk penguburan menjadi tanggung jawab pihak yang menguburkan jenazah. Apabila data yang dibandingkan terbukti cocok maka dikatakan identifikasi positif atau telah tegak. Ahli forensik dan profesional lain yang terkait dalam proses identifikasi menentukan apakah temuan post mortem pada jenazah sesuai dengan data ante mortem milik korban yang dicurigai sebagai jenazah.

Mongoloid.2 Peran dokter gigi dalam bencana missal Tugas utama dari dokter gigi dalam identifikasi adalah melakukan identifikasi jasad individu yang sudah rusak. Adapun informasi yang bisa menjadi catatan pada pemeriksaan jasad individu adalah   Perkiraan usia (misalnya dari panjang akar gigi pada gigi anak).3 Bencana letusan gunung merapi 12 . dari tidak adanya kromatin Y pada pemeriksaan  mikroskopik. 2. yaitu: • Identifikasi ras korban dari gigi geligi dan antropologi ragawi. Apabila data post-mortem tidak memungkinkan suatu identifikasi. mengalami dekomposisi. • Identifikasi korban dari gigi palsu yang dipakai. Perkiraan jenis ras (dari bentuk dan karakteristk tengkorak dapat ditentukan ras  Kaukasiod. konsumsi makanan (dari erosi gigi karena alkohol ataupun stain rokok) atau kebiasaan lainnya ( seperti menggunakan pipa rokok). • Identifikasi umur korban melalui gigi susu.2. stain akibat pemakaian  antibiotik tetraskilin). maka dapat dilakukan reproduksi wajah semasa hidup berdasarkan profil tengkorak dan gigi. • Identifikasi wajah korban dari rekonstruksi tulang rahang. dan Negroid) Jenis kelamin (dari bentuk tengkorak.2. Beberapa macam identifikasi yang bisa dilakukan dokter gigi. gigi campuran atau gigi tetap. • Identifikasi korban melalui kebiasaan/pekerjaan menggunakan gigi. atau dari pemeriksaan DNA) Informasi tambahan lainnya yang mungkin bisa diambil adalah jenis pekerjaan (jejas jepit rambut pada capster). serta penyakit gigi atau penyakit sistemik lainnya (misalnya gangguan makan. • Identifikasi DNA korban dari jaringan sel dalam rongga mulut.2. atau sudah tidak dalam keadaan utuh. • Identifikasi jenis kelamin korban melalui gigi geligi dan tulang rahang.

Kepuharjo. gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali. 13 . dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Material ini menuruni lereng gunung sebagai ladu atau gloedlawine. Daerah Istimewa Yogyakarta. dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah.5 meter yang mengarah ke Kaliadem. Selain itu. Letusan tipe merapi sangat berbahaya bagi penduduk di sekitarnya. Letusan ini menyemburkan material vulkanik setinggi kurang lebih 1. Sejak tahun 1548. per 2006) adalah gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. letusan terjadi sekitar pukul 17. Letusan tipe ini mengeluarkan lava kental sehingga menyumbat mulut kawah.968 m dpl.5 km. Gunung Merapi memasuki tahap erupsi. 26 Oktober 2010. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi Kabupaten Sleman. Sedikitnya terjadi hingga tiga kali letusan. 1. Menurut laporan BPPTKA. Catatan letusan terakhir gunung ini adalah pada tahun 2001-2003 berupa aktivitas tinggi yang berlangsung terus-menerus. terjadi pula awan panas (gloedwolk) atau sering disebut wedhus gembel. Letusan diiringi keluarnya awan panas setinggi 1. Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun. Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur. Waktu dan Tempat Kejadian a. Pada tahun 2006 Gunung Merapi kembali beraktivitas tinggi dan sempat menelan dua nyawa sukarelawan di kawasan Kaliadem karena terkena terjangan awan panas. tekanan gas menjadi semakin bertambah kuat dan memecahkan sumbatan lava. Gunung ini sangat berbahaya karena menurut catatan modern mengalami erupsi (puncak keaktifan) setiap dua sampai lima tahun sekali dan dikelilingi oleh pemukiman yang sangat padat.Merapi (ketinggian puncak 2. Letusan 19 Juli 1998 cukup besar namun mengarah ke atas sehingga tidak memakan korban jiwa. Sumbatan yang pecah-pecah terdorong ke atas dan akhirnya terlempar keluar. yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat. Akibatnya. Rangkaian letusan pada bulan Oktober dan November 2010 dievaluasi sebagai yang terbesar sejak letusan 1872.02 WIB. Letusan bulan November 1994 menyebabkan luncuran awan panas ke bawah hingga menjangkau beberapa desa dan memakan korban 60 jiwa manusia.

Plumbon.b. 28 Oktober 2010. Proses identifikasi menggunakkan metode : a. Dari sekian lama penelitian gunung teraktif di dunia ini pun meletus. Kecamatan Ngancar dan di Kelurahan Argomulyo. 3. b.Pemeriksaan gigi ini menjadi amat penting apabila mayat sudah dalam keadaan membusuk atau rusak. tepatnya di Dusun Bronggang. 27 Oktober 2010. Gigi merupakan suatu cara identifikasi yang dapat dipercaya. tim DVI juga telah melakukan pengambilan sampel DNA terhadap seluruh jenazah. sehingga apabila ada keluarga yang menginginkan dilakukan tes tersebut.warga yang dilaporkan hilang sebagian besar berasal dari Kabupaten Sleman. Usia dan jenis kelamin warga yang hilang bervariasi. Kecamatan Cangkringan. tim DVI siap melakukannya. Gunung Merapi memuntahkan Lava pijar yang muncul hampir bersamaan dengan keluarnya awan panas pada pukul 19. seperti halnya kebakaran dan yang teridentifikasi dengan menggunakan data gigi (odontogram) maupun kesehatan umum (medical record) sekitar 59. 2. Identifikasi sekunder seperti mengenali ciri fisik dan barang yang dipakai korban sehingga seluruh jenazah diharapkan dapat teridentifikasi. c. untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat yang mencari anggota keluarganya yang mungkin menjadi korban letusan gunung merapi. Dalam kasus bencana alam sarana identifikasi yang dapat membantu sebagian besar dari properti yang menempel pada tubuh korban. 14 . Gunung Merapi pun meletus. Pelaksanaan DVI Disaster Victim Identification (DVI) membuka posko pengaduan orang hilang di RS Sardjito. khususnya bila rekam dan foto gigi pada waktu masih hidup yang pernah dibuat masih tersimpan dengan baik. Hasil Kegiatan Berdasarkan data yang diterima posko DVI per 5 November 2010.3%. Selain itu.54 WIB.

b. Korban meninggal letusan gunung merapi sebagian besar sulit dikenali akibat luka bakar. Saat berada dilokasi tim mengalami kendala akibat masih banyak material vulkanik yang panas menyebabkan hawa panas dan abu tebal. kondisi tanah juga sangat gembur sehingga tanah bisa runtuh. jalan beraspal menuju lokasi masih tertimbun abu tebal. Ada beberapa hambatan sehingga tim belum mampu menenbus sejumlah wilayah.90% dan korban yang terkena lahar mengalami luka bakar derajat empat dan mengalami karbonisasi sehingga sulit diidentifikasi.hati melangkah.4. Tidak adanya ruangan penyimpanan jenazah sehingga dikhawatirkan jenazah tersebut akan semakin memburuk jika tidak segera diidentifikasi. c. kaki akan terasa panas jika tidak hati. 15 . Kendala Kegiatan a. Sebagian besar korban mengalami luka akibat awan panas sehingga tubuhnya mengalami “melepuh” dengan luka bakar yang bervariasi antara 40% . akses masuk dusun tidak mudah karena sulit dilalui kendaraan dan aktivitas Merapi juga masih fluktuatif. Puluhan jenazah tidak mudah diidentifikasi karena kondisinya sudah rusak.

Fase II – Kamar Mayat/Post Mortem (The Mortuary) c. DVI atau Disaster Victim Identification adalah satu definisi yang diberikan sebagai sebuah prosedur untuk mengidentifikasi korban mati akibat bencana massal secara ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan dan mengacu kepada standar baku interpol. 16 .BAB 3 PENUTUP 3. Dan agar dapat memahami prosedur DVI pada bencana massal. 2008). Fase III – Ante Mortem d. Fase V – Debriefing 3. Teknik analisis ini dapat dimanfaatkan dalam bidang kedokteran gigi forensik. Fase I – TKP (The Scene) b. Proses DVI tersebut mempunyai lima fase. Fase-fase tersebut yaitu : a. Gigi-geligi setiap manusia berbeda antara satu dengan yang lain karena masing-masing memiliki ciri khas. dimana setiap fasenya mempunyai keterkaitan satu dengan yang lainnya.2 Saran Agar mahasiswa lebih memahami tentang analisa bite mark dan dapat melakukan percobaan dalam kelompok. Fase IV – Rekonsiliasi e.1 Kesimpulan Pola gigitan ialah bekas gigitan dari pelaku yang tertera pada kulit korban dalam bentuk luka. jaringan kulit maupun jaringan ikat di bawah kulit sebagai akibat dari pola permukaan gigitan dari gigi-gigi pelaku dengan perkataan lain pola gigitan merupakan suatu produksi dari gigi-gigi pelaku melalui kulit korban (Eckert.

Lukman J. Jurnal Kedokteran Brawijaya. 2009. Sagung Seto. Vol. 2. XXV No. 2006. 115-134. Agustus 2009. Identifikasi Forensik Berdasarkan Pemeriksaan Primer dan Sekunder Sebagai Penentu Identitas Korban pada Dua Kasus Bencana Massal. Universitas Brawijaya: Malang. Identifikasi Korban Bencana Massal: Praktik DVI Antara Teori dan Kenyataan.DAFTAR PUSTAKA Henky. CV. Prawestiningtyas E. Jakarta. Universitas Indonesia: Jakarta. Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences 2012. Oktavinda Safitry. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Gigi Forensik Jilid 2. 2012. 17 . Algozi A.