RONDE KEPERAWATAN

KLIEN DENGAN FRAKTUR TIBIA + REPARASI FIKSASI EKSTERNAL

TUGAS
DEPARTEMEN MANAJEMEN

Oleh:
Ayu Sisca Prastiwi
125070209111005

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Managemen adalah proses bekerja melalui staff keperawatan untuk
memberikan asuhan keperawatan secara professional. Disini dituntut tugas

manajer keperawatan untuk merencanakan, mengorganisir, memimpin dan
mengevaluasi sarana dan prasarana yang tersedia untuk memberikan asuhan
keperawatan seefektif dan seefisien mungkin bagi individu, keluarga, dan
masyarakat
Salah satu strategi untuk mengoptimalkan peran dan fungsi perawat
dalam pelayanan keperawatan adalah pembenahan manajemen keperawatan
karena dengan adanya factor kelola yang optimal diharapkan mampu menjadi
wahana peningkatan keefektifan pembagian pelayanan keperawatan sekaligus
lebih menjamin kepuasan klien terhadap pelayanan keperawatan.
Ronde keperawatan adalah suatu bagian kegiatan asuhan keperawatan
dengan

membahas

kasus

tertentu

dengan

harapan

adanya

transfer

pengetahuan dan aplikasi pengetahuan secara teoritis kedalam praktek
keperawatan secara langsung yang dilakukan oleh perawat konselor, kepala
ruangan, MA, kabid keperawatan dengan melibatkan seluruh tim keperawatan.
Karakteristik dari ronde keperawatan meliputi : pasien dilibatkan secara
langsung, pasien merupakan fokus kegiatan, perawat yang terlibat melakukan
diskusi, konselor memfasilitasi kreatifitas dan membantu mengembangkan
kemampuan perawat dalam meningkatkan kemampuan mengatasi masalah.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum:
Menyampaikan materi tentang ronde keperawatan dan pembahasan kasus
2. Tujuan Khusus:
Adapaun tujun yang dicapai setelah penyampaian materi tentang Ronde
Keperwatan diharapkan mahasiswa mampu:
a. Mengetahui dan memahami pengertian ronde keperawatan
b. Mengetahui dan memahami karakteristik ronde keperawatan
c. Mengetahui tujuan ronde keperawatan
d. Mengetahui manfaat ronde keperawatan
e. Mengetahui dan memahami tipe-tipe ronde keperawatan
f. Mengetahui dan memahami tahapan ronde keperawatan
g. Mengetahui hal-hal yang harus dipersiapkan dalam ronde keperawatan
h. Mengetahui komponen yang terlibat dalam ronde keperawatan

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1
A.

Konsep Manajemen
Pengertian
Manajemen keperawatan merupakan suatu bentuk koordinasi dan
integrasi

sumber-sumber

keperawatan

dengan

menerapkan

proses

manajemen untuk mencapai tujuan dan obyektifitas asuhan keperawatan dan
pelayanan keperawatan

(Huber, 2000). Kelly dan Heidental (2004)

menyatakan bahwa manajemen

keperawatan dapat didefenisikan sebagai

suatu proses dari perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan
pengawasan untuk mencapai tujuan. Proses manajemen dibagi menjadi lima
tahap yaitu perencanaan, pengorganisasian, kepersonaliaan, pengarahan dan
pengendalian (Marquis dan Huston, 2010).
Swanburg (2000) menyatakan bahwa manajemen keperawatan adalah
kelompok dari perawat manajer yang mengatur organisasi dan usaha
keperawatan yang pada akhirnya manajemen keperawatan menjadi proses
dimana

perawat

manajer

menjalankan

profesi

mereka.

Manajemen

keperawatan memahami dan memfasilitasi pekerjaan perawat pelaksana serta
mengelola kegiatan keperawatan. Suyanto (2009) menyatakan bahwa lingkup
manajemen keperawatan adalah manajemen pelayanan kesehatan dan
manajemen asuhan keperawatan.
Manajemen pelayanan keperawatan adalah pelayanan di rumah sakit
yang dikelola oleh bidang perawatan melalui tiga tingkatan manajerial yaitu
manajemen puncak (kepala bidang keperawatan), manajemen menegah
(kepala unit pelayanan atau supervisor), dan manajemen bawah (kepala ruang
perawatan). Keberhasilan pelayanan keperawatan sangat dipengaruhi oleh
manajer keperawatan melaksanakan peran dan fungsinya. Manajemen
keperawatan

adalah proses kerja setiap perawat

untuk memberikan

pengobatan dan kenyamanan terhadap pasien. Tugas manager keperawatan

adalah merencanakan, mengatur, mengarahkan dan mengawasi keuangan
yang ada, peralatan dan sumber daya manusia untuk memberikan pengobatan
yang efektif dan ekonomis kepada pasien (Gillies, 2000).
B. Prinsip-Prinsip Manajemen Keperawatan
Seorang

manajer

keperawatan

melaksanakan

manajemen

keperawatan untuk memberikan perawatan kepada pasien. Swanburg (2000)
menyatakan bahwa prinsip-prinsip manajemen keperawatan sebagai berikut:
1. Manajemen keperawatan adalah perencanaan
2. Manajemen keperawatan adalah penggunaan waktu yang efektif
3. Manajemen keperawatan adalah pembuatan keputusan
4. Pemenuhan kebutuhan asuhan keperawatan pasien adalah urusan manajer
perawat
5. Manajemen keperawatan adalah suatu perumusan dan pencapaian tujuan
sosial
6. Manajemen keperawatan adalah pengorganisasian
7. Manajemen keperawatan merupakan suatu fungsi, posisi atau tingkat sosial,
disiplin, dan bidang studi
8. Manajemen keperawatan bagian aktif dari divisi keperawatan, dari lembaga,
dan lembaga dimana organisasi itu berfungsi
9. Budaya organisasi mencerminkan nilai-nilai kepercayaan
10. Manajemen keperawatan mengarahkan dan pemimpin
11. Manajemen keperawatan memotivasi
12. Manajemen keperawatan merupakan komunikasi efektif
13. Manajemen keperawatan adalah pengendalian atau pengevaluasian.

C. Fungsi-Fungsi Manajemen Keperawatan
Manajemen memerlukan peran orang yang terlibat di dalamnya untuk
menyikapi posisi masing-masing sehingga diperlukan fungsi-fungsi yang jelas
mengenai manajemen (Suarli dan Bahtiar, 2009). Fungsi manajemen pertama
sekali diidentifikasi oleh Henri Fayol (1925) yaitu perencaanaan, organisasi,
perintah, koordinasi, dan pengendalian. Luther Gulick (1937) memperluas
fungsi manajemen fayol menjadi perencanaan (planning), pengorganisasian
(organizing), personalia (staffing), pengarahan (directing), pengkoordinasian
(coordinating), pelaporan (reporting), dan pembiayaan (budgeting) yang
disingkat menjadi POSDCORB. Akhirnya, fungsi manajemen ini merujuk pada
fungsi

sebagai

proses

manajemen

yang

terdiri

dari

perencanaan,

pengorganisasian, ketenagaan, pengarahan, pengawasan (Marquis dan
Huston, 2010). Fungsi manajemen menurut G.R. Terry adalah planning,
organizing, actuating, dan controlling, sedangkan menurut S.P. Siagian fungsi
manajemen terdiri dari planning, organizing, motivating, dan controlling (Suarli
dan Bahtiar, 2009).
2.2 Konsep Ronde
A. Pengertian Ronde Keperawatan
Suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah keperawatan
klien yang dilaksanakan oleh perawat, disamping pasien dilibatkan untuk
membahas dan melaksanakan asuhan keperawatan akan tetapi pada kasus
tertentu harus dilakukan oleh perawat primer atau konselor, kepala ruangan,
perawat associate yang perlu juga melibatkan seluruh anggota tim.
Ronde keperawatan merupakan suatu metode pembelajaran klinik yang
memungkinkan peserta didik mentransfer dan mengaplikasikan pengetahuan
teoritis ke dalam peraktik keperawatan secara langsung

Ronde keperawatan

merupakan proses interaksi antara pengajar dan perawat atau siswa perawat
dimana terjadi proses pembelajaran. Ronde keperawatan dilakukan oleh
teacher nurse atau head nurs dengan anggota stafnya atau siswa untuk

pemahaman yang jelas tentang penyakit dan efek perawatan untuk setiap
pasien (Clement, 2011).
Ronde keperawatan adalah suatu kegiatan untuk mengatasi keperawatan
klien yang dilaksanakan oleh perawat dengan melibatkan pasien untuk
membahas & melaksanakan asuhan keperawatan, yang dilakukan oleh Perawat
Primer dan atau konsuler, kepala ruang, dan Perawat pelaksana, serta
melibatkan seluruh anggota tim.
Ronde keperawatan merupakan suatu metode pembelajaran klinik yang
memungkinkan peserta didik mentransfer dan mengaplikasikan pengetahuan
teoritis ke dalam peraktik keperawatan secara langsung.
B. Karakteristik Ronde Keperawatan
Ronde keperawatan mempunyai beberapa karakteristik sebagai berikut ini:
1. Klien dilibatkan secara langsung
2. Klien merupakan fokus kegiatan
3. Perawat asosiaet, perawat primer dan konsuler melakukan diskusi bersama
4. Konsuler memfasilitasi kreatifitas
5. Konsuler membantu mengembangkan kemampuan perawat asosiet, perawat
6. Primer untuk meningkatkan kemampuan dalam mengatasi masalah.
C. Tujuan Ronde Keperawatan
Tujuan dari pelaksanaan ronde keperawatan terbagi menjadi 2 yaitu: tujuan
bagi perawat dan tujuan bagi pasien. Tujuan ronde keperawatan bagi perawat
menurut Armola et al. (2010) adalah:
1. Melihat kemampuan staf dalam managemen pasien
2. Mendukung pengembangan profesional dan peluang pertumbuhan
3. Meningkatkan pengetahuan perawat dengan menyajikan dalam format studi
kasus
4. Menyediakan kesempatan pada staf perawat untuk belajar meningkatkan
penilaian keterampilan klinis
5. Membangun kerjasama dan rasa hormat, serta
6. Meningkatkan retensi perawat berpengalaman

dan

mempromosikan

kebanggaan dalam profesi keperawatan
Ronde keperawatan selain berguna bagi perawat juga berguna bagi pasien.
Hal ini dijelaskan oleh Clement (2011) mengenai tujuan pelaksanaan ronde
keperawatan bagi pasien, yaitu:
1. Untuk mengamati kondisi fisik dan mental pasien dan kemajuan hari ke hari
2. Untuk mengamati pekerjaan staff

3. Untuk membuat pengamatan khusus bagi pasien dan memberikan laporan
4.
5.
6.
7.

kepada dokter mengenai, missal: luka, drainasi, perdarahan, dsb.
Untuk memperkenalkan pasien ke petugas dan sebaliknya
Untuk melaksanakan rencana yang dibuat untuk perawatan pasien
Untuk mengevaluasi hasil pengobatan dan kepuasan pasien
Untuk memastikan bahwa langkah-langkah keamanan yang diberikan

kepada pasien
8. Untuk memeriksakan kondisi pasien sehingga dapat dicegah, seperti ulcus
decubitus, foot drop, dsb
9. Untuk membandingkan manifestasi klinis penyakit pada pasien sehingga
perawat memperoleh wawasan yang lebih baik
10. Untuk memodifikasi tindakan keperawatan yang diberikan
D. Manfaat Ronde Keperawatan
Banyak manfaat dengan dilakukannya ronde keperawatan oleh perawat,
diantaranya:
1. Ronde keperawatan dapat meningkatkan keterampilan dan pengetahuan
pada perawat. Clement (2011) menyebutkan manfaat ronde keperawatan
adalah membantu mengembangkan keterampilan keperawatan, selain itu
menurut Wolak et al. (2008) denga adanya ronede keperawatan akan
menguji pengetahuan perawat. Peningkatan ini bukan hanya keterampilan
dan pengetahuan keperawatan saja, tetapi juga peningkatan secara
menyeluruh. Hal ini dijelaskan oleh Wolak et al. (2008) peninkatan
kemampuan perawat bukan hanya keterampilan keperawatan tetapi juga
memberikan kesempatan pada perawat untuk tumbuh dan berkembang
secara profisonal.
2. Melalui kegiatan ronde keperwatan, perawat dapat mengevaluasi kegiatan
yang telah diberikan pada pasien berhasil atau tidak. Clement (2011) melalui
ronde keperawatan, evaluasi kegiatan,rintangan yang dihadapi oelh perawat
atau keberhasilan dalam asuhan keperawatan dapat dinilai. Hal ini juga
ditegaskan oleh O’connor (2006) pasien sebagai alat untuk menggambarkan
parameter penilaian atau teknik intervensi.
3. Ronde keperawatan merupakan sarana belajar bagi perawat dan mahasiswa
perawat.

Ronde

keperawatan

merupakan

studi

percontohan

yang

menyediakan sarana untuk menilai pelaksanaan keperawatan yang dilakukan

oleh perawat (Wolak et al, 2008). Sedangkan bagi mahasiswa perawat
dengan ronde keperawatan akan mendapat pengalaman secara nyata
dilapangan (Clement, 2011).
4. Manfaat ronde keperawatan yang lain adalah membanu mengorientasikan
perawat baru pada pasien. Banyak perawat yang baru masuk tidak
mengetahui mengenai pasien yang dirawat di ruangan. Dengan ronde
keperawatan

hal

ini

bisa

dicegah,

ronde

keperwatan

membantu

mengorientasikan perawat baru pada pasien (Clement, 2011).
5. Ronde keperawatan juga meningkatkan kepuasan pasien. Penelitian
Febriana (2009) ronde keperwatan meningkatkan kepuasan pasien lima kali
dibanding tidak lakukan ronde keperawatan. Chaboyer et al. (2009) dengan
tindakan ronde keperawatan menurunkan angka insiden pada pasien yang
dirawat.
E. Tipe-tipe Ronde
Berbagai macam tipe ronde keperawatan dikenal dalam studi kepustakaan.
Diantaranya adalah menurut Close dan Castledine (2005) ada empat tipe ronde
yaitu matrons’ rounds, nurse management rounds, patient comfort rounds dan
teaching nurse.
1. Matron nurse menurut Close dan Castledine (2005) seorang perawat
berkeliling ke ruangan-ruangan, menanyakan kondisi pasien sesuai jadwal
rondenya. Yang dilakukan perawat ronde ini adalah memeriksa standart
pelayanan, kebersihan dan kerapihan, dan menilai penampilan dan kemajuan
perawat dalam memberikan pelayanan pada pasien.
2. Nurse management rounds menurut Close dan Castledine (2005) ronde ini
adalah ronde manajerial yang melihat pada rencana pengobatan dan
implementasi pada sekelompok pasien. Untuk melihat prioritas tindakan yang
telah dilakukan serta melibatkan pasien dan keluarga pada proses interaksi.
Pada ronde ini tidak terjadi proses pembelajaran antara perawat dan head
nurse.
3. Patient comport nurse menurut Close dan Castledine (2005) ronde disini
berfokus pada kebutuhan utama yang diperlukan pasien di rumah sakit.
Fungsi perawat dalam ronde ini adalah memenuhi semua kebutuhan pasien.

Misalnya ketika ronde dilakukan dimalam hari, perawat menyiapkan tempat
tidur untuk pasien tidur.
4. Teaching rounds menurut Close dan Castledine (2005) dilakukan antara
teacher nurse dengan perawat atau mahasiswa perawat, dimana terjadi
proses pembelajaran. Teknik ronde ini biasa dilakukan oleh perawat atau
mahasiswa

perawat.

Dengan

pembelajaran

langsung.

Perawat

atau

mahasiswa dapat langsung mengaplikasikan ilmu yang didapat langsung
pada pasien.
Daniel (2004) walking round yang terdiri dari nursing round, physician-nurse
rounds atau interdisciplinary rounds. Nursing rounds adalah ronde yang
dilakukan antara perawat dengan perawat. Physician-nurse adalah ronde pada
pasien yang dilakukan oleh dokter dengan perawat, sedangkan interdisciplinary
rounds adalah ronde pada pasien yang dilakukan oleh berbagai macam tenaga
kesehatan meliputi dokter, perawat, ahli gizi serta fisioterapi, dsb.

F. Tahapan Ronde Keperawatan
Ramani (2003), tahapan ronde keperawatan adalah :
1. Pre-rounds, meliputi: preparation (persiapan), planning (perencanaan),
orientation (orientasi).
2. Rounds, meliputi: introduction
observation

(pengamatan),

(pendahuluan),
instruction

interaction

(pengajaran),

(interaksi),
summarizing

(kesimpulan).
3. Post-rounds, meliputi: debriefing (tanya jawab), feedback (saran), reflection
(refleksi), preparation (persiapan).
Langkah-langkah Ronde Keperawatan adalah sebagai berikut:
1. Persiapan
a. Penetapan kasus minimal 1 hari sebelum waktu pelaksanaan ronde.
b. Pemberian inform consent kepada klien/ keluarga.
2. Pelaksanaan
a. Penjelasan tentang klien oleh perawat primer dalam hal ini penjelasan
difokuskan pada masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan/
telah dilaksanakan dan memilih prioritas yang perlu didiskusikan.
b. Diskusikan antar anggota tim tentang kasus tersebut.
c. Pemberian justifikasi oleh perawat primer/ perawat konselor/ kepala
ruangan tentang masalah klien serta tindakan yang akan dilakukan.

d. Tindakan keperawatan pada masalah prioritas yang telah dan yang akan
ditetapkan.
3. Pasca Ronde
Mendiskusikan hasil temuan dan tindakan pada klien tersebut serta
menetapkan tindakan yang perlu dilakukan.
4. Kriteria Evaluasi
Kriteria evaluasi pada pelaksanaan ronde keperawatan adalah sebagai
berikut.
a. Struktur
- Persyaratan administratif (informed consent, alat dan lainnya).
- Tim ronde keperawatan hadir ditempat pelaksanaan ronde
b.

c.

keperawatan.
Persiapan dilakukan sebelumnya.

Proses
- Peserta mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir.
- Seluruh perserta berperan aktif dalam kegiatan ronde sesuai peran
yang telah ditentukan.
Hasil
- Klien merasa puas dengan hasil pelayanan.
- Masalah klien dapat teratasi.
- Perawat dapat :
Menumbuhkan cara berpikir yang kritis.
Meningkatkan cara berpikir yang sistematis.
Meningkatkan kemampuan validitas data klien.
Meningkatkan kemampuan menentukan diagnosis keperawatan.
Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang
berorientasi pada masalah klien.
Meningkatkan
kemampuan
memodifikasi

rencana

asuhan

keperawatan.
Meningkatkan kemampuan justifikasi.
Meningkatkan kemampuan menilai hasil kerja.
G. Hal Yang Dipersiapkan Dalam Ronde Keperawatan
Supaya ronde keperawatan yang dilakukan berhasil, maka bisa dilakukan
persiapan sebagai berikut:
1. Menentukan kasus dan topik (masalah yang tidak teratasi dan masalah yang
2.
3.
4.
5.

langka).
Menentukan tim ronde keperawatan.
Mencari sumber atau literatur.
Membuat proposal.
Mempersiapkan klien : informed consent dan pengkajian.

6. Diskusi : apa diagnosis keperawatan ?; Apa data yang mendukung ?;
Bagaimana intervensi yang sudah dilakukan?; Apa hambatan yang
ditemukan selama perawatan?

H. ALUR RONDE KEPERAWATAN
Alur yang diperlukan dalam ronde keperawatan adalah sebagai berikut :
Tahap
Katim
PenyajianMasalah

Pra Ronde

KesimpulandanRekomendasiSolusi
Masalah

Penetapan Pasien

Persiapan Pasien:
Tahap
Pelaksanaan
Tahap
TahapPelaksanaan
di
Nurse Station
PascaRonde
diKamarPasien

-

Informed consent
Hasil pengkajian / validasi data

Apa diagnosa keperawatan ?
Apa data yang mendukung ?
Bagaimana intervensi yang
sudah dilakukan?
- Apa hambatan yang
Diskusi
KATIMdi–Nurse
KATIM,
ditemukan?
Lanjutan
– Diskusi
Station
Validasi Data
Konselor, KARU
-

Keterangan :
1. Pra Ronde
a. Menentukan kasus dan topik (masalah yang tidak teratasi dan masalah
b.
c.
d.
e.
f.

yang langka)
Menentukan tim ronde
Mencari sumber atau literatur memersiapkan pasien
Membuat proposal
Mempersiapkan : informed consent dan pengkajian
Diskusi tentang diagnosis keperawatan, data yang mendukung, asuhan

keperawatan yang dilakukan dan hambatan selama perawatan
2. Pelaksanaan Ronde
a. Penjelasan tentang pasien oleh perawat pelaksana yang difokuskan
pada masalah keperawatan dan rencanan tindakan yang akan
dilaksanakan dan atau telah dilaksanakan serta memilih prioritas yang
perlu didiskusikan
b. Diskusi antar anggota tim tentang kasus tersebut
c. Pemberian justifikasi oleh perawat primer atau konselor atau kepala
ruangan tentang masalah pasien serta rencana tindakan yang akan
dilakukan
3. Pasca Ronde
a. Evaluasi, revisi dan perbaikan
b. Kesimpulan dan rekomendasi

penegakan

diagnosis,

intervensi

keperawatan selanjutnya.
I.

Komponen Terlibat Dalam Ronde Keperawatan
Komponen yang terlibat dalam kegiatan ronde keperawatan ini adalah
perawat primer dan perawat konselor, kepala ruangan, perawat associate, yang
perlu juga melibatkan seluruh anggota tim kesehatan lainnya.
1. Peran Ketua Tim dan Anggota Tim
a. Menjelaskan keadaan dan data demografi klien.
b. Menjelaskan masalah keperawata utama.
c. Menjelaskan intervensi yang belum dan yang akan dilakukan.
d. Menjelaskan tindakan selanjutnya.
e. Menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang akan diambil.
2. Peran Ketua Tim Lain dan/Konselor
a. Perawat primer (ketua tim) dan perawat asosiet (anggota tim)

Dalam menjalankan pekerjaannya perlu adanya sebuah peranan yang
bisa untuk memaksimalkan keberhasilan yang bisa disebutkan antara
lain:
- Menjelaskan keadaan dan data demografi klien
- Menjelaskan masalah keperawatan utama
- Menjelaskan intervensi yang belum dan yang akan dilakukan
- Menjelaskan tindakan selanjutnya
- Menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang akan diambil
b. Peran perawat primer (ketua tim) lain dan atau konsuler
- Memberikan justifikasi
- Memberikan reinforcement
- Menilai kebenaran dari suatu masalah, intervensi keperawatan serta
tindakan yang rasional
- Mengarahkan dan koreksi
- Mengintegrasikan teori dan konsep yang telah dipelajari
Selain perawat, pasien juga dilibatkan dalam kegiatan ronde keperawatan ini
untuk membahas dan melaksanakan asuhan keperawatan.
J. Kriteria Pasien
Pasien yang dipilih untuk yang dilakukan ronde keperawatan adalah pasien
yang memiliki kriteria sebagai berikut :
1. Mempunyai masalah keperawatan yang belum teratasi meskipun sudah
dilakukan tindakan keperawatan
2. Pasien dengan kasus baru atau langka.
2.3 Konsep Penyakit
A.

Pengertian
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan

luasnya (Smeltzer, 2001). Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh
trauma atau tenaga fisik. Kekuatan dan sudut dari kekuatan tersebut, keadaan
tulang itu sendiri dan jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah
fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap (Anderson, 2005).
Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. Ada lebih dari 150
klasifikasi fraktur. Empat yang utama adalah :
1. Incomplit

Fraktur yang hanya melibatkan bagian potongan menyilang tulang.
2. Complit
Garis fraktur melibatkan seluruh potongan menyilang dari tulang dan fragmen
tulang biasanya berubah tempat atau bergeser (bergeser dari posisi normal).
3. Tertutup (simple)
Fraktur tidak meluas dan tidak menyebabkan robekan pada kulit.
4. Terbuka (compound)
Fragmen tulang meluas melewati otot dan adanya perlukaan di kulit yang
terbagi menjadi 3 derajad :
Derajad 1 : luka kurang dari 1 cm, kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada tanda
remuk, fraktur sederhana atau kominutif ringan dan kontaminasi minimal.
Derajad 2 : laserasi lebih dari 1 cm, kerusakan jaringan lunak, tidak luas, fraktur
kominutif sedang, dan kontaminasi sedang.
Derajad 3 : terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas(struktur kulit, otot, dan
neurovaskuler) serta kontaminasi derajad tinggi (Mansjoer, 2000).
Fraktur Tibia adalah fraktur yang terjadi pada bagian tibia sebelah kanan maupun kiri
akibat pukulan benda keras atau jatuh yang bertumpu pada kaki. Fraktur
ini sering terjadi pada anak- anak dan wanita lanjut usia dengan tulang
osteoporosis dan tulang lemah yang tak mampu menahan energi akibat
jatuh atau benturan benda keras (Henderson, 1998)
B. Anatomi dan Fisiologi
Menurut Mutaqin (2008), secara garis besar struktur tulang dibagi menjadi
enam yaitu :

1. Tulang panjang (long bone), misalnya femur, tibia, fibula ulna, dan humerulus.
Daerah batas disebut diafisis dan daerah yang berdekatan dengan garis epifissis
disebut metafisis. Didaerah ini sangat sering ditemukan adanya kelainan atau
penyakit karena daerah ini merupakan daerah metabolik yang aktif dan banyak
mengandung pembuluh darah.
2. Tulang pendek (short bone) misalnya tulang-tulang karpal.
3. Tulang pipih (flet bone), misal tulang iga, skapula, dan pelvis.
4. Tulang tak beraturan misalnya tulang vertebra.
5. Tulang sesamoid, misal tulang patela.
6. Tulang sutura ada di atap tengkorak.
Tulang terdiri atas daerah yang kompak pada daerah luar disebut korteks
dan bagian dalam (endosteum) yang bersifat sepongiosa berbentuk trabekula dan
diluarnya dilapisi oleh periosteum. Struktur tulang dan jaringan ikat menyusun
kurang lebih 25% berat badan, dan otot menyusun kurang lebih 50%. Kesehatan
baikya fungsi system musculoskeletal sangat tergantung pada sistem tubuh yang
lain. Struktur tulang-tulang memberi perlindungan terhadap organ vital termasuk
otak, jantung dan paru. Kerangka tulang merupakan kerangka yang kuat untuk
meyangga struktur tubuh otot yang melekat ke tulang memungkinkan tubuh
bergerak. Tulang tibia atau tulang kering merupakan kerangka yang utama dari
tungkai bawah dan terletak medial dari fibula atau tulang betis ; tibia adalah tulang
pipa dengan sebuah batang dan dua ujung (Suratun, 2008).
Menurut Evelyn (2002) tulang tibia terdiri :
a. Ujung atas :
Melihatkan adanya kondil media dan kondil lateral. Kondilkondil ini
merupakan bagian yang paling atas dan paling pinggir dari tulang. Permukaan
suporiornya meperlihatkan dua dataran permukaan persendian untuk femur dalam

formasi

sendi

lutut

permukaan

-

permukaan

tersebut

halus

dan

diatas

permukaannya yang datar terdapat tulang rawan semilunar yang membuat
permukaan persendian lebih dalam untuk penerimaan kondisi femur.
b. Batang :
Bagian ini membentuk krista tibia. Permukaan medial adalah subkutanius
pada hampir seluruh panjangnya dan merupakan daerah berguna dari mana dapat
diambil serpihan tulang untuk transplatasi. Permukaan posterior ditandai oleh garis
solial atau linia poplitea yaitu garis meninggi diatas tulang yang kuat dan yang
berjalan kebawah dan medial.
c. Ujung bawah :
Masuk dalam persendian mata kaki. Tulang sedikit melebar dan kebawah
sebelah medial menjulang menjadi mateulus medial atau mateulus tibiae. Sebelah
depan tibia halus dan tendontendon menjulur di atasnya ke arah kaki.

d. Permukaan lateral
Ujung bawah bersendi dari dengan fibula pada persendian tibiafibuler
inferior. Tibia memuat sendi dengan tiga tulang, yaitu femur, fibula, dan talus (Evelyn
C, 2002).

C. Etiologi
Penyebab fraktur secara umum disebabkan karena pukulan secara
langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak, dan bahkan kontraksi otot
eksterm (Suddart, 2002). Fraktur yang paling sering adalah pergerseran condilius
lateralis tibia yang disebabkan oleh pukulan yang membengkokkan sendi lutut dan
merobek ligamentum medialis sendi tersebut. Penyebab terjadinya fraktur yang
diketahui adalah sebagai berikut :
1. Trauma langsung ( direct )
Fraktur yang disebabkan oleh adanya benturan langsung pada jaringan
tulang seperti pada kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian, dan benturan benda
keras oleh kekuatan langsung.

2. Trauma tidak langsung ( indirect )
Fraktur yang bukan disebabkan oleh benturan langsung, tapi lebih
disebabkan oleh adanya beban yang berlebihan pada jaringan tulang atau otot ,
contohnya seperti pada olahragawan atau pesenam yang menggunakan hanya satu
tangannya untuk menumpu beban badannya.

3. Trauma pathologis
Fraktur yang disebabkan oleh proses penyakit seperti osteomielitis,
osteosarkoma, osteomalacia, cushing syndrome, komplikasi kortison / ACTH,
osteogenesis imperfecta (gangguan congenital yang mempengaruhi pembentukan
osteoblast). Terjadi karena struktur tulang yang lemah dan mudah patah.
a. Osteoporosis terjadi karena kecepatan reabsobsi tulang melebihi kecepatan
pembentukan tulang, sehingga akibatnya tulang menjadi keropos dan rapuh dan
dapat mengalami patah tulang.
b. Osteomilitis merupakan infeksi tulang dan sum-sum tulang yang disebabkan oleh
bakteri piogen dimana mikroorganisme berasal dari fokus ditempat lain dan
beredar melalui sirkulasi darah.
c. Ostheoartritis itu disebabkan oleh rusak atau menipisnya bantalan sendi dan
tulang rawan (Muttaqin, 2008).

D. Pathway (Terlampir)
Fraktur ganggguan pada tulang biasanya disebabkan oleh trauma gangguan
adanya gaya dalam tubuh, yaitu stress, gangguan fisik, gangguan metabolic,
patologik. Kemampuan otot mendukung tulang turun, baik yang terbuka ataupun
tertutup. Kerusakan pembuluh darah akan mengakibatkan pendarahan, maka
volume darah menurun. COP menurun maka terjadi perubahan perfusi jaringan.
Hematoma akan mengeksudasi plasma dan poliferasi menjadi odem lokal maka
penumpukan di dalam tubuh. Fraktur terbuka atau tertutup akan mengenai serabut
saraf yang dapat menimbulkan gangguan rasa nyaman nyeri. Selain itu dapat
mengenai tulang dan dapat terjadi revral vaskuler yang menimbulkan nyeri gerak
sehingga mobilitas fisik terganggau. Disamping itu fraktur terbuka dapat mengenai
jaringan lunak yang kemungkinan dapat terjadi infeksi dan kerusakan jaringan lunak
akan mengakibatkan kerusakan integritas kulit.
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma gangguan
metabolik, patologik yang terjadi itu terbuka atau tertutup. Baik fraktur terbuka atau
tertutup akan mengenai serabut syaraf yang dapat menimbulkan gangguan rasa
nyaman nyeri. Selaian itu dapat mengenai tulang sehingga akan terjadi
neurovaskuler yang akan menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas fisik
terganggu, disamping itu fraktur terbuka dapat mengenai jaringan lunak yang
kemungkinan dapat terjadi infeksi terkontaminasi dengan udara luar. Pada umumnya
pada pasien fraktur terbuka maupun tertutup akan dilakukan imobilitas yang
bertujuan untuk mempertahankan fragmen yang telah dihubungkan tetap pada
tempatnya sampai sembuh.
E. Proses Pemulihan Fraktur
Proses pemulihan fraktur menurut Muttaqin, (2008) meliputi:
1. Fase inflamasi
Fase inflamasi terjadi segera setalah luka dan berakhir 3-4 hari, dua proses
utama yang terjadi pada fase ini yaitu hemostasis dan fagositosis. Hemostasis

(penghentian perdarahan) terjadi akibat fase kontriksi pembuluh darah besar
didaerah luka. Bekuan darah dibentuk oleh trombosit yang menyiapkan matriksfibrin
yang menjadi kerangka bagi pengambilan sel. Fagositosis merupakan perpindahan
sel, leokosit ke daerah interestisial. Tempat ini di tempati oleh makrofag yang keluar
dari monosit selama kurang lebih 24 jam setelah cedera.
Makrofag juga mengeluarkan faktor angiogenesis yang merangsang
pembentukan ujung epitel diakhir pembuluh darah akan mempercepat proses
penyembuhan. Fase inflamasi juga memerlukan pembuluh darah dan respons
seluler yang digunakan untuk mengangkat bendabenda asing dan jaringan mati.
Suplai darah yang meningkat ke jaringan membawa bahan nutrisi yang diperlukan
pada proses penyembuhan hingga pada akhirnya daerah luka tampak merah dan
sedikit bengkak.

2. Fase polifrasi sel
Fase polifrasi yaitu sel-sel berpolifrasi dari lapisan dalam periosteum sekitar
lokasi fraktur sel-sel ini menjadi osteoblast, sel ini aktif tumbuh kearah frakmen
tulang dan juga terjadi di jaringan sumsum tulang. Fase ini terjadi setelah hari ke-2
paska fraktur.
3. Fase pembentukan kallus
Pada fase ini osteoblas membentuk tulang lunak (kallus), Tempat osteoblas
diduduki oleh matriks interseluler kolagen dan perlekatan polisakarida oleh garamgaram kalsium pembentuk suatu tulang yang imatur. Jika terlihat massa kallus pada
X-ray maka fraktur telah menyatu. Pada fase ini terjadi setelah 6-10 hari setelah
fraktur.

4. Fase konsolidasi
Pada fase ini kallus mengeras dan terjadi proses konsolidasi, fraktur teraba
telah menyatu secara bertahap menjadi tulang mature. Fase ini terjadi pada minggu
ke-3-10 setelah fraktur.
5. Fase remodeling
Pada fase remodeling ini perlahan-lahan terjadi resorpsi secara osteoklastik
dan osteoblastik pada tulang serta kallus eksterna secara perlahan-lanan
menghilang. Kallus inter mediet berubah menjadi tulang yang kompak dan kallus
bagian bagian dalam akan mengalami peronggaan untuk membentuk sumsum.
Pada fase remodeling ini dimulai dari minggu ke 8-12 dan berahir sampai beberapa
tahun dari terjadinya fraktur.

F. Komplikasi
Komplikasi yang terjadi akibat fraktur menurut Mutaqin (2008) yaitu :
1. Komplikasi awal
a. Kerusakan arteri. Pecahnya arteri karena trauma dapat di tandai dengan tidak
adanya nadi, sianosis pada bagian distal, hematoma melebar dan rasa dingin
pada ekstermitas yang disebabkan oleh tindakan darurat splinting, perubahan
posisi pada daerah yang sakit, tindakan reduksi dan pembedahan.
b. Sindrom kompartemen. Merupakan komplikasi yang serius yang terjadi karena
terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut.
c. Fat emboli sindrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering terjadi pada kasus
fraktur tulang panjang. FES terjadi karena selsel lemak yang dihasilkan bone

marrow kuning masuk kealiran pembuluh darah dan menyebabkan kadar oksigen
dalam darah menurun. Hal tersebut ditandai dengan gangguan pernafasan,
takikardi, hipertensi, takipenia, dan demam.
d. Infeksi. Sistem pertahanan tubuh akan rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada
trauma ortopedi, infeksi dimulai pada kulit dan masuk kedalam.
e. Nekrosis faskuler. Terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu
sehingga menyebabkan nekrosis tulang.
f. Syok. Terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas
kapiler sehingga menyebabkan oksigenasi menurun. Syok dapat berakibat fatal
dalam beberapa hal setelah udema cedera, emboli lemak, yang dapat terjadi
dalam 48 jam atau lebih, dan sindrom kompartemen, yang berakibat kehilangan
fungsi ekstremitas permanent jika tidak ditangani segera.komplikasi lainnya
adalah infeksi, tromboemboli yang dapat menyebabkan kematian beberapa
minggu setelah cedera.

2. Komplikasi lanjut
a. Delayed union. Adalah fraktur yang tidak sembuh setelah selang waktu 3-5 bulan
untuk anggota gerak atas dan 5 bulan untuk anggota gerak bawah. Hal ini juga
merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang
dibutuhkan tulang untuk menyambung. Hal ini terjadi karena suplai darah ke
tulang menurun.
b. Non-union adalah fraktur yang tidak sembuh antara 6-8 bulan dan tidak
didapatkan konsilidasi sehingga terdapat sendi palsu.
c. Mal-union adalah keadaan ketika fraktur menyembuh pada saatnya, tetapi
terdapat

deformitas

pemendekan.

yang

berbentuk

anggulasi,

vagus/valgus,

rotasi,

G. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi deformitas,
pemendekan ekstermitas, krepitus, pembengkakan lokal, dan berubahan warna.
1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang
diimobilisasi. Spasme otot yang menyartai fraktur merupakan bentuk bidai alami
yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar frakmen tulang.
2. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tidak dapat digunakan dan cenderung
bergerak secara tidak alami ( gerakan luar biasa ) bukannya tetap rigid seperti
normalnya. Ekstermitas tak dapat
berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang
tempat melengketnya otot.
3. Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena
kontraksi otot yang melekat diatas dan bawah tempat fraktur. Fragmen sering
saling melingkupi satu sama lain.
4. Saat ekstermitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang dinamakan
krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan yang lainnya.
( uji krepitus dapat menyebabkan kerusakan jaringan lunak yang lebih berat ).
5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat
trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa baru terjadi
setelah beberapa jam atau hari setelah cedera.
Tidak semua tanda dan gejala terdapat pada setiap fraktur, pada fraktur
linear atau frakturimpaksi (perrmukaan patahan saling berdesak satu sama lain).
Diagnosis fraktur bergantung pada gejala, tanda fisik, pemeriksaan sinar-x
pasien (Smeltzer, 2001).
H. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan kedaruratan

Segera setelah cedera, klien berada dalam keadaan bingung, tidak
menyadari adanya fraktur dan berjalan dengan tulang kering yang mengalami
fraktur, maka langkah yang penting untuk memobilisasi bagian yang cidera segera
sebelum pasien dipindahkan. Bila pasien yang mengalami cedera akan dipindahkan
dari kendaraan sebelum dapat dilakukan pembidaian, ekstermitas harus disangga di
bawah dan diatas tempat patah untuk mencegah gerakan rotasi atau memutar.
Gerakan fragmen tulang dapat menyebabkan nyeri, kerusakan jaringan
lunak, dan pendarahan lebih lanjut. Nyeri sehubungan dengan fraktur sangat berat
dan dapat dikurangi dengan menghindari gerakan fragmen tulang dan sendi sekitar
fraktur. Pembidaian yang memadai sangat penting untuk mencegah kerusakan
jaringan lunak oleh fragmen tulang.
b. Penatalaksanaan fraktur
Prinsip penanganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi, dan pengembalian
fungsi dan ketentuan normal dengan rehabilitasi. Reduksi fraktur (seting tulang)
berarti mengembalikan fregmen tulang pada kesejajaran dan rotasi anatomis.
Reduksi tertutup, traksi, atau reduksi terbuka dapat dilakukan untuk mereduksi
fraktur. Reduksi fraktur harus segera mungkin diberikan untuk mencegah jaringan
lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrari akibat edema dan perdarahan. Fraktur
biasanya menyertai trauma. Untuk itu sangat penting untuk melakukan pemeriksaan
terhadap jalan nafas (airway), proses pernafasan (breathing), dan sirkulasi
(circulation), untuk mengetahui apakah terjadi syok atau tidak. Bila dinyatakan tidak
ada masalah, lakukan pemeriksaan fisik secara terperinci.
Waktu terjadi kecelakaan penting ditanyakan untuk mengetahui berapa lama
sampai di rumah sakit untuk mengetahui berapa lama perjalanan kerumah sakit, jika
lebih dari 6 jam, komplikasi infeksi semakin besar. Lakukan anamnesis dan
pemeriksaan fisik secara cepat, singkat dan lengkap. Kemudian lakukan foto
radiologis. Pemasangan bidai dilakukan untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah
terjadinya kerusakan yang lebih berat pada jaringan lunak. Tindakan pada fraktur
terbuka harus dilakukan secepat mungkin. Penundaan waktu dapat mengakibatkan

komplikasi. Waktu yang optimal untuk bertindak sebelum 6-7 jam (golden period).
Berikan toksoid, Antitetanus Serum (ATS) atau tetanus human globulin. Berikan anti
biotik untuk kuman gram positif dengan dosis tinggi. Lakukan pemeriksaan kultur
dan resistensi kuman dari dasar luka fraktur terbuka ( Smeltzer, 2001 ).
I. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang fraktur menurut Doenges (1999) :
a. Pemeriksaan Rongent
Menentukan luas atau lokasi minimal 2 kali proyeksi, anterior, posterior lateral.
b. CT Scan tulang, fomogram MRI
Untuk melihat dengan jelas daerah yang mengalami kerusakan.
c. Arteriogram (bila terjadi kerusakan vasculer)
d. Hitung darah kapiler
1. HT mungkin meningkat (hema konsentrasi) meningkat atau menurun.
2. Kreatinin meningkat, trauma obat, keratin pada ginjal meningkat.
3. Kadar Ca kalsium, Hb (Doenges, 1999).
J. Pengkajian
Pengkajian Pasien Post Op Orif Tibia 1/3 Dextra Doenges (1999) meliputi :
a. Gejala Sirkulasi
Gejala : Riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmononal, penyakit vascular
perifer atau Statis vascular (peningkatan resiko pembentu kan thrombus).
b.Integritas Ego

Gejala : Perasaan cemas, takut, marah, apatis ; faktor-faktor stress multiple,
misalnya financial, hubungan, gaya hidup.
Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan / peka rangsang ; stimulasi
simpatis.
c. Makanan / Cairan
Gejala : insufisiensi pancreas / DM, ( Predisposisi untuk hipoglikemia / ketoasidosis )
malnutrisi ( termasuk obesitas ) ; membrane mukosa yang kering
( pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi ).
d.Pernapasan
Gejala : infeksi, kondisi yang kronis / batuk, merokok.
e. Keamanan
Gejala : alergi / sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ; Defisiensi
immune ( peningkatan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan )
; Munculnya kanker / terapi kanker terbaru ; Riwayat keluarga tentang
hipertermia malignant / reaksi anestesi ; Riwayat penyakit hepatic ( efek
dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi ) ; Riwayat
transfusi darah / reaksi transfusi.
Tanda : munculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.
f. Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : penggunaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi, kardiotonik
glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan, analgesic,
anti inflamasi, antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual
bebas, atau obat-obatan rekreasional. Penggunaan alkohol (risiko akan
kerusakan ginjal, yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia,
dan juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi).

K. Diagnosa keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri akut berhubungan dengan terputusnya jaringan
tulang.
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal.
3. Defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan.
4. Ansietas berhubungan dengan adanya ancaman terhadap konsep diri / citra diri.
5. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah. 25
6. Resti infeksi berhubungan dengan imflamasi bakteri ke daerah luka
L. Intervensi keperawatan
Intervensi keperawatan pada Post Op Orif Tibia 1/3 Dextra menurut
Doenges, 1999 yaitu :
1. Gangguan rasa nyaman nyeri akut berhubungan dengan terputusnya jaringan
tulang.
Tujuan dan Kriteria Hasil : Nyeri dapat berkurang / hilang, pasien tampak tenang.
intervensi :
1. Lakukan pendekatan pada klien & keluarga
Rasional : hubungan yang baik membuat klien dan keluarga kooperatif
2. Kaji tingkat intensitas & frekuensi nyeri
Rasional :Tingkat intensitas nyeri dan frekuensi menunjukkan skala nyeri
3. Jelaskan pada klien penyebab dari nyeri
Rasional : Memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan klien tentang nyeri
4. Observasi tanda-tanda vital

Rasional : Untuk mengetahui perkembangan klien
5. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgetik
Rasional : Merupakan tindakan dependent perawat, dimana analgetik berfungsi
untuk memblok stimulasi nyeri
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal.
Tujuan : pasien memiliki cukup energi untuk beraktifias perilaku menampakkan
kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sendiri pasien mengungkapkan
mampu untuk melakukan beberapa aktifitas tanpa dibantu koordinasi otot,
tulang dan anggota gerak lainnya baik.
Intervensi :
1. Rencanakan periode istirahat yang cukup
Rasional : mengurangi aktifitas dan energi yang tidak terpakai

2. Berikan latihan aktifitas secara bertahap
Rasional : tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktifitas secara
perlahan dengan menghemat tenaga

3. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan
Rasional : Mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali
4. Setelah latihan dan aktifitas kaji respon pasien
Rasional : menjaga kemungkinan adanya -menjaga kemungkinan adanya abnormal
dari tubuh sebagai akibat dari latihan.
3. Ansietas berhubungan dengan adanya ancaman terhadap konsep diri / citra diri.

Tujuan : klien memiliki rentang respon adaptif
Kriteria hasil : Tampak relaks dan melaporkan ansietas menurun sampai dapat
ditangani, mengakui dan mendiskusikan rasa takut, menunjukkan
tentang perasaan yang tepat.
Intervensi :
1. Dorong ekspresi ketakutan / marah
Rasional : Mendefinisikan masalah dan pengaruh pilihan intervensi.
2. Akui kenyataan atau normalitas perasaan, termasuk marah
Rasional : Memberikan dukungan emosi yang dapat membantu klien melalui
penilaian awal juga selama pemulihan.
3. Berikan informasi akurat tentang perkembangan kesehatan.
Rasional : Memberikan informasi yang jujur tentang apa yang diharapkan membantu
klien / orang terdekat menerima situasi lebih evektif.
4. Dorong penggunaan menejemen stres, contoh : napas dalam, bimbingan
imajinasi, visualisasi.
Rasional : membantu memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan relaksasi, dan
meningkatkan penigkatan kemampuan koping.
4. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengnan mual dan muntah
Tujuan : Nutrisi pasien dapat terpenuhi
Kriteria hasil : Makanan masuk, berat badan pasien naik, mual, muntah hilang.
Intervensi:
1. Berikan makan dalam porsi sedikit tapi sering
Rasional : memberikan asupan nutrisi yang cukup bagi pasien

2. Sajikan menu yang menarik
Rasional: Menghindari kebosanan pasien, untuh menambah ketertarikan dalam
mencoba makan yang disajikan.
3. Pantau pemasukan makanan
Rasional : Mengawasi kebutuhan asupan nutrisi pada pasien
4. Kolaborasi pemberian suplemen penambah nafsu makan
Rasional : kerjasama dalam pengawasan kebutuhan nutrisi pasien selama dirawat di
rumah sakit

2.4 Konsep Eksternal Fiksasi (OREF)
A. Pengertian
OREF adalah reduksi terbuka dengan fiksasi internal di mana prinsipnya tulang
ditransfiksasikan di atas dan di bawah fraktur , sekrup atau kawat ditransfiksi di
bagian proksimal dan distal kemudian dihubungkan satu sama lain dengan suatu
batang lain
Fiksasi eksternal digunakan untuk mengobati fraktur terbuka dengan kerusakan
jaringan lunak . Alat ini memberikan dukungan yang stabil untuk fraktur kominutif
( hancur atau remuk ) . Pin yang telah terpasang dijaga agar tetap terjaga posisinya ,
kemudian dikaitkan pada kerangkanya. Fiksasi ini memberikan rasa nyaman bagi
pasien yang mengalami kerusakan fragmen tulang.
B. Indikasi

a. Fraktur terbuka grade II dan III
b. Fraktur terbuka yang disertai hilangnya jaringan atau tulang yang parah.
c. Fraktur yang sangat kominutif ( remuk ) dan tidak stabil.
d. Fraktur yang disertai dengan kerusakan pembuluh darah dan saraf.
e. Fraktur pelvis yang tidak bisa diatasi dengan cara lain.
f. Fraktur yang terinfeksi di mana fiksasi internal mungkin tidak cocok. Misal :
infeksi pseudoartrosis ( sendi palsu ).
g. Non union yang memerlukan kompresi dan perpanjangan.
h. Kadang – kadang pada fraktur tungkai bawah diabetes melitus.
C. Keuntungan dan Komplikasi Eksternal Fiksasi
Keuntungan eksternal fiksasi adalah :
Fiksator ini memberikan kenyamanan bagi pasien , mobilisasi awal da
latihan awal untuk sendi di sekitarnya sehingga komplikasi karena disuse dan
imobilisasi dapat diminimalkan
Komplikasinya adalah :.
a. Infeksi di tempat pen ( osteomyelitis ).
b. Kekakuan pembuluh darah dan saraf.
c. Kerusakan periostium yang parah sehingga terjadi delayed union atau non
union
d. Emboli lemak.
e. Overdistraksi fragmen.
D.

Hal – hal yang Harus Diperhatikan pada Klien dengan Pemasangan
Eksternal Fiksasi

a. Persiapan psikologis
Penting sekali mempersiapkan pasien secara psikologis sebelum dipasang
fiksator eksternal Alat ini sangat mengerikan dan terlihat asing bagi pasien. Harus
diyakinkan bahwa ketidaknyamanan karena alat ini sangat ringan dan bahwa
mobilisasi awal dapat diantisipasi untuk menambah penerimaan alat ini, begitu juga
keterlibatan pasien pada perawatan terhadap perawatan fiksator ini.

b. Pemantauan terhadap kulit, darah, atau pembuluh saraf.
Setelah pemasangan fiksator eksternal , bagian tajam dari fiksator atau pin
harus ditutupi untuk mencegah adanya cedera akibat alat ini. Tiap tempat
pemasangan pin dikaji mengenai adanya kemerahan , keluarnya cairan, nyeri tekan,
nyeri dan longgarnya pin.Perawat harus waspada terhadap potensial masalah
karena tekanan terhadap alat ini terhadap kulit, saraf, atau pembuluh darah.
c. Pencegahan infeksi
Perawatan pin untuk mencegah infeksi lubang pin harus dilakukan secara
rutin. Tidak boleh ada kerak pada tempat penusukan pin, fiksator harus dijaga
kebersihannya. Bila pin atau klem mengalami pelonggaran , dokter harus diberitahu.
Klem pada fiksator eksternal tidak boleh diubah posisi dan ukurannya.
d. Latihan isometrik
Latihan isometrik dan aktif dianjurkan dalam batas kerusakan jaringan bisa
menahan. Bila bengkak sudah hilang, pasien dapat dimobilisasi sampai batas
cedera di tempat lain. Pembatasan pembebanan berat badan diberikan untuk
meminimalkan pelonggaran puin ketika terjadi tekanan antara interface pin dan
tulang.
E.

ASUHAN KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan

a.

Pre operasi
1) Kecemasan b/d ancaman integritas biologis sekunder akibat operasi d/d
mengeluh takut operasi, takut dipasang alat, khawatir tangan dan kaki tidak
berfungsi, tampak gelisah dan murung , tachicardi.
2) Nyeri b/d trauma jaringan dan refleks spasme otot sekunder akibat fraktur
ditandai dengan mengeluh sakit, sulit bergerak, tampak meringis dan
memegangi tubuh yang cedera.

b.

Post operasi
1) Resti infeksi b/d tempat masuknya organisme sekunder akibat adanya jalur
invasif (pin ).

2) Gangguan citra tubuh b/d perubahan dalam penampilan sekunder akibat
pemasangan eksternal fiksasi.
3) Hambatan mobilitas fisik b/d alat eksternal fiksasi.
4) Defisit pengetahuan b/d kurangnya informasi.
5) Resiko penatalaksanaan regimen terapeutik inefektif b/d ketidaktahuan tentang
perawatan eksternal fiksasi.
6) Resiko cedera b/d terpasang alat berujung tajam.
Perencanaan
Pre operasi :
1) Nyeri b/d trauma jaringan dan refleks spasme otot sekunder akibat fraktur
ditandai dengan mengeluh sakit, sulit bergerak, tampak meringis dan memegangi
tubuh yang cedera
2) Kecemasan b/d

ancaman integritas biologis sekunder akibat operasi d/d

mengeluh takut operasi, takut dipasang alat, khawatir tangan dan kaki tidak
berfungsi, tampak gelisah dan murung , tachicardi.

Post operasi :
1)

Resti infeksi b/d tempat masuknya organisme sekunder akibat

adanya jalur

invasif (pin ).
2) Resiko cedera b/d terpasang alat berujung tajam
3) Hambatan mobilitas fisik b/d alat eksternal fiksasi
4)

Gangguan citra tubuh b/d perubahan dalam penampilan sekunder

akibat

pemasangan eksternal fiksasi
5) Resiko penatalaksanaan regimen terapeutik inefektif b/d ketidaktahuan tentang
perawatan eksternal fiksasi
Rencana Keperawatan
Pre operasi
1) Diagnosa 1

Rencana tujuan :
Setelah diberikan askep selama 1×24 jam diharapkan keluhan nyeri berkurang.

Rencana tindakan
a. Kaji tingkat nyeri dan intensitas.

Rasionalisasi
a. Mengetahui tingkat nyeri

b. Ajarkan teknik distraksi selama nyeri b. Mengurangi nyeri tanpa tindakan invasif
akut

c. Tingkat nyeri dapat diketahui dari vital

c. Observasi vital sign

sign.

d.Kolaboratif pemberian obat analgesik d. Mengatasi nyeri pasien dan menyusun
dan kaji efektivitasnya.

rencana selanjutnya bila nyeri tidak bisa
diatasi dengan analgesik.

2) Diagnosa 2
Rencana tujuan :
Setelah diberikan tindakan perawatan selama 2 x 30 menit diharapkan
kecemasan klien berkurang
Rencana tindakan
a. Kaji tingkat ansietas
b. Beri kenyamanan dan ketentraman
hati, perlihatkan rasa empati.
c. Bila ansietas berkurang , beri
penjelasan tentang operasi ,

Rasionalisasi
a. Sebagai acuan membuat strategi
tindakan.
b. Agar pasien lebih tenang
menghadapi operasi.
c. Bila keadaan klien lebih tenang

pemasangan eksternal fiksasi, serta

maka klien akan lebih mudah

persiapan yang harus dilakukan.

menerima penjelasan yang
diberikan.

Post operasi

Diagnosa 1
Rencana tujuan :
Setelah diberikan askep selama 1 minggu diharapkan tidak terjadi infeksi
Rencana tindakan
a. Jaga kebersihan di daerah

Rasionalisasi
a. Mencegah kolonisasi kuman.

pemasangan eksternal fiksasi.
b. Lakukan perawatan luka secara
aseptik di daerah pin.

b. Mencegah infeksi kuman melalui
pin
c. Menemukan tanda-tanda infeksi

c. Observasi vital sign dan tanda-

secara dini.

tanda infeksi sistemik maupun lokal

d. Untuk mencegah atau

( demam, nyeri, kemerahan, keluar

mengobati infeksi.

cairan, pelonggaran pin )
d. Kolaboratif pemberian
antibiotika.

Diagnosa 2
Rencana tujuan : Setelah diberikan askep selama 3 x 24 jam diharapkan tidak terjadi
cedera /trauma akibat alat yang dipasang.
Rencana tindakan

a. Tutup ujung-ujung pin atau

Rasionalisasi

fiksator a.Mencegah cedera akibat alat yang

yang tajam

tajam

b. Beri penjelasan pada klien agar berhati b.Agar pasien mengantisipasi gerakan
– hati dengan alat yang terpasang

untuk mencegah cedera.

Evaluasi
Hasil yang diharapkan dari asuhan keperawatan pasien dengan OREF adalah :
a. Pre operasi
1) Klien melaporkan penurunan tingkat nyeri, ekspresi wajah rileks.

2) Klien menunjukkan penurunan tingkat kecemasan dan siap menjalani
operasi.
b.

Post operasi
1) Tidak ada tanda – tanda infeksi sistemik maupun lokal ( vital sign normal,
tidak ada kemerahan atau cairan / pus keluar dari pin, nyeri minimal ).
2) Tidak ada cedera karena alat.
3) Memperlihatkan peningkatan kemampuan mobilitas
– Mempergunakan alat bantu yang aman.
– Berlatih untuk meningkatkan kekuatan
– Mengubah posisi sesering mungkin.
– Melakukan latihan sesuai kisaran gerak sendi ( ROM ) pada daerah
yang tidak dipasang alat.
4) Klien mematuhi regimen terapeutik yang harus dilakukan dan mampu
melakukan perawatan di rumah secara berkesinambungan..

DAFTAR PUSTAKA

Brunner, Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol.3. EGC. Jakarta
Carpenito, LJ. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 . Jakarta: EGC
Doengoes, M.E., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.
Gillies, D.A. (2000). Manajemen Keperawatan: Suatu Pendekatan Sistem. Edisi kedua.
Philadelphia: W. B. Saunders.
Huber, D. (2000). Leadership and Nursing Care Management. 2nd edition. Philadelphia:
W.B. Saunders Company
Ircham Machfoedz, 2007. Pertolongan Pertama di Rumah, di Tempat Kerja, atau di
Perjalanan. Yogyakarta: Fitramaya

Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New
Jersey: Upper Saddle River
Kelly & Heidental, (2004). Essential of Nursing leadership and Management. New York:
Thomson Delmar Learning.
Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius
Marquis, B.L. & Huston, C.J. (2010). Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan: Teori
dan Aplikasi. Edisi keempat. Jakarta: EGC
Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition.
New Jersey: Upper Saddle River
Nursalam.

(2011).Manajemen

Keperawatan:

Aplikasi

dalam

Praktik

Keperawatan

Profesional. Jakarta: Salemba Medika
Nursalam dan Ferry Efendi. 2009. Pendidikan dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba
Medika.
Pearce, C. Evelyn. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedic. Jakarta : Penerbit PT
Gramedia Pustaka Utama
Ratna Sitorus, 2005, Model Praktek Keperawatan Profesional di Rumah Sakit. Jakarta:EGC
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima
Medika
Sitorus R. & Yulia. 2005. Model praktek keperawatan profesional di Rumah Sakit Panduan
Implementasi. Jakarta: EGC
Smeltzer, S.C., 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta.: EGC
Suarli & Bahtiar. (2009). Manajemen Keperawatan: Dengan Pendekatan Praktis. Jakarta:
Erlangga.
Suyanto. (2009). Mengenal Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan di Rumah Sakit.
Yogyakarta: Mitra Cendikia Press.
Swanburg, R.C. (2000). Pengantar Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan: Untuk
Perawat Klinis. Jakarta: EGC.