DASAR BIOPROSES

KINETIKA PERTUMBUHAN SACCHAROMYCES CERVISEAE
LAPORAN
Oleh
Kelompok 6
Rizky Sukmariyansyah

111411026

Teguh Taufiqurohim

111411027

Ugi Muhammad Apriyanto

111411028

Wina Puspita Asih

111411029

Wina Septianawati

111411030

Kelas 2A
Dosen Pembimbing

: Ir. Emmanuela, MT

Tanggal Praktikum

: 19 November 2012

Tanggal Penyerahan

: 3 Desember 2012

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2012
KINETIKA PERTUMBUHAN

Saccharomyces cerviseae

A.PENDAHULUAN
A.1Latar Belakang
Mikroorganisme yang ditumbuhkan dalam media yang mengandung nutrien
essensial kemudian ditempatkan pada kondisi lingkungan seperti suhu dan PH yang
tepat akan segera berkembang biak. Pertumbuhan mikroba dapat diamati dari
kenaikan konsentrasi mikroba. Melalui serangkaian proses enzimatis mikroba
melakukan biosisntesis molekuk-molekul penyusun sel dan menggandakan selnya.
Kecepatan pertumbuhan mikroba merupakan respon terhadap substrat (media
pertumbuhan) yang disediakan dan kondisi lingkungannya.
A.2Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah :
1. Menguasai tahapan-tahapan perkembangbiakan bakteri
2. Menguasai dan terampil membuat media padat, inokulum/starter, dan media
pertumbuhan bakteri
3. Menguasai dan terampil memilih metode yang tepat untuk menentukan
konsentrasi biomassa bakteri (counting chamber, platting koloni, atau
spektrofotometer)
4. Memahami pola pertumbuhan bakteri melalui grafik konsentrasi mikroba (X)
terhadap waktu (t)
5. Menguasai dan dapat menentukan fasa-fasa pertumbuhan bakteri
6. Dapat menghitung dan mengevaluasi nilai laju pertumbuhan spesifik (µ) bakteri

B. LANDASAN TEORI
Stoikiometri dari pertumbuhan sel sangat kompleks tergantung pada jenis mikroba,
nutrient yang digunakan dan kondisi lingkungan seperti pH dan suhu. Kerumitan menjadi
nyatajika lebih dari satu nutrient mempengaruhi laju pertumbuhan mikroba. Secara
umum pertumbuhan mikroba dapat dinyatakan dalam reaksi sebagai berikut :

Kinetika Pertumbuhan Saccharomyces cerviseae | 1

dan volume inokulum berkisar antara 5% sampai 10% (Shuler dan Kargi. Untuk mempersingkat fase lag. 1992). Sel akan tumbuh dengan cepat. Perioda fase lag sangat bergantung pada umur dari inokulum. Pertumbuhan mikroba dalam reaktor batch akan melalui tahap-tahap berikut : 1. sel harus ditumbuhkan pada media dan kondisi pertumbuhan yang optimum. Perubahan ini akan terefleksikan dalam mekanisme sel melalui pengaturan proses metabolisme. fase lag 2. Kinetika Pertumbuhan Saccharomyces cerviseae | 2 . terjadi balance growth. Konsentrasi yang rendah akan menghasilkan fase lag yang panjang. sehingga massa sel dan jumlah sel akan bertambah secara exponensial terhadap waktu. fase logaritmik/eksponensial 3. Pada fase exponensial. fase perlambatan pertumbuhan 4. enzim yang tidak diperlukan akan ditekan. yaitu semua komponen dalam sel tumbuh dengan kecepatan yang sama. fase kematian Fase lag segera terjadi setelah inokulasi. sel telah beradaptasi dengan lingkungan yang baru. “Mesin” proses di dalam sel menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan baru. Mikroorganisme mereorganisasi komponen molekulnya pada saat menyerap nutrien baru. sel harus aktif. fase stasioner 5. Komposisi sebuah sel mendekati konstan. Komposisidan jenis nutrient akan mempengaruhi jenis enzim yang disintesa. Inokulum yang optimum akan menghasilkan fase lag yang minimum. enzim yang dibutuhkan akan dibentuk. disebut juga sebagai masa adaptasi terhadapa lingkungan yang baru.sel-sel + substrat sel-sel yang lebih banyak + produk sumber karbon metabolit nitrogen CO2 oksigen H2O fosfor enzim mineral Konsentrasi mikroba dapat dilakukan melalui penentuan jumlah sel (sel/vol) atau pengukuran massa sel (gr/vol). Selama fase ini massa sel bertambah sedikit tanpa merubah densitas sel.

Setelah fase perlambatan pertumbuhan selesai dimulailah fase stasioner. namun jumlah sel yang hidup akan berkurang. 1992).Pertumbuhan mikroba pada fase exponensial dapat didekati dengan model tak berstrukturyang menganggap laju pertumbuhan sel merupakan fungsi dari massa selular saja. Perubahan lingkunagn yang cepat menyebabkan terjadinya imbalance growth. Pada fase ini perlambatan pertumbuhan terjadi karena berkurangnya konsentrasi satu atau lebih nutrient esensial dan terakumulasinya produk yang bersifat toksik terhadap pertumbuhan. Walaupun laju pertubuhan adalah nol selama fase stasioner tetapi metabolisme Kinetika Pertumbuhan Saccharomyces cerviseae | 3 . Konsentrasi massa sel tetap. Pada fase ini laju perumbuhan adalah nol (tidak adapembelahan sel) atau laju pertumbuhan sama dengan laju kematian. namun pada fase perlambatan pertumbuhan tekanan yang diakibatkan oleh terbatasnya nutrient dan lingkungan yang toksik akan merubah sistem pengendali proses metabolisme sel agar bisa tetap bertahan pada kondisi yang tidak menguntungkan (Shuler dan Kargi. Fase perlambatan pertumbuhan terjadi setelah fase exponensial. rX = dX =µ X dt rX : laju pertumbuhan mikroba (gr/l. terjadi lisis sel dan sebagian sel dapat tumbuh pada produk hasil lisis sel tersebut. Pada fase exponensial sistem pengendali proses metabolisme sel ditunjukan menghasilkan laju reproduksi yang maksimum.jam) X t : konsentrasi biomassa (gr/l) : waktu (jam) : laju pertumbuhan mikroba spesifik (1/jam) Integrasi persamaan diatas adalah : ln X =µ t+ ln X Jika plotkan ln X terhadap t 0 akan diperoleh garis lurus dengan slope µ.

Pertumbuhan mikroba akan terhenti setelah selain disebabkan oleh terbentuknya produk yang menghambat pertumbuhan.sel masih aktif dan menghasilkan metabolit sekunder. Dapat dicegah dengan cara mengencerkan medium yang tercemar toksik. Penghambatan ini tergantung pada jenis dan konsentrasi produk penghambatnya. Model unstructured yang sering digunakan untuk menggambarkan kinetika pertumbuhan adalah persamaan Monod. sebagai hasil dari perubahan pengendalian selular karena terbatasnya konsentrasi nutrien esensial. 1992). Produksi metabolit sekunder (antibiotik. sel mengkatabolismenutrisi yang tersimpan dalam sel sehingga diperoleh energi untuk pemeliharaan membran sel. Nilai Ks bergantung pada jenis mikroba dan jenis susstrat yang digunakan. Kinetika Pertumbuhan Saccharomyces cerviseae | 4 . Persamaan ini menggambarkan laju pertumbuhan spesifik merupakan fungsi dari konsentrasi substrat pembatas (S) : µ=µm [ S Ks+ S ] Ks adalah tetapan kejenuhan. dan memindahkan secara berkesinambungan produk penghambat dari dalam reaktor (Shuler dan Kargi. Produksi etanol oleh ragi merupakan contoh produk penghambat pertumbuhan. transportasi nutrien. gerak dan perbaikan struktur sel yang rusak. Pada konsentrasi nutrien awal yang rendah akan menghasilkan laju pertumbuhan yang lebih kecil dari laju pertumbuhan spesifiknya. hormon) justru meningkat pada fase stasioner. Pada fermentasi bath. yaitu konsentrasi substrat pada µ = ½ µm. Namun laju pertumbuhan spesifik akan turun pada konsentrasi sustrat yang terlalu tinggi. laju pertumbuhan spesifik adalah konstan dan dipengaruhi oleh perubahan konsentrasi nutrien. Mengekspresikan bahwa laju pertumbuhan laju pertumbuhan spesifik mikroba akan meningkat jika konsentrasi sustrat meningkat.

C.ALAT DAN BAHAN  Alat Erlenmeyer 250 mL  Erlenmeyer 100 mL  Pipet Ukur Steril 10 mL 2 buah  Media Cair Starter/Inokulum 20 mL  Tabung Reaksi Steril 15 buah  Media Pertumbuhan 180 mL  Pembakar Spirtus  Larutan Blangko 50 mL  Jarum Ose  Incubator Shaker  Kuvet Spektrofotometri  Spektronic 20  Gelas Kimia 500 mL  Botol Semprot  Bahan Kultur Murni Bakteri saccharomyces cerviseae Kinetika Pertumbuhan Saccharomyces cerviseae | 5 .

Menginkubasi dalam incubator shaker selama 12 jam pada suhu 37 oC. 150 rpm Memasukkan inokulum kedalam erlenmeyer yang berisi media pertumbuhan. Mengukur absorbansi setiap sampel dengan menggunakan spektronic 20 dengan menggunakan larutan blangko media cair pada panjang gelombang 620 nm. Kinetika Pertumbuhan Saccharomyces cerviseae | 6 .PROSEDUR KERJA Mempipet 5 mL media cair dari media cair untuk inokulum kedalam tabung reaksi yang berisi kultur murni bakteri saccharomyces cerviseae Melepaskan bakteri yang menempel pada agar miring dengan menggunakan jarum ose hingga terlarut semua Menuangkan larutan tersebut kedalam erlenmeyer yang berisi inokulum. Menginkubasi dalam incubator shaker dan mengambil sample setiap 45 menit sekali. Memasukkan 5 mL pada 15 tabung reaksi. Membuat kurva pertumbuhan absorbansi terhadap waktu dan berat sel kering terhadap waktu.D.

08 1.40 1.730 F.92 1.556 0.79 8.40 A = 0.72 5.06 0.729 0.34  Berat Sel Kering (mg/mL) 0.438 0.254 0.E.90 7.21 1.279 0.350 0.277 0.57 0.28 0.83 0.277 Kinetika Pertumbuhan Saccharomyces cerviseae | 7 .536 0.81 2.89 6.18 0.734 0.09 1.50 3.741 0. PENGOLAHAN DATA 1.39 0.746 0. DATA PENGAMATAN Waktu 0 45 180 225 270 315 360 405 450 495 540 585 630 675 Absorbansi 0.745 0. Penentuan Berat Sel Kering Absorbansi pada 620 nm 0.31 5.211 0.

180   x = 1.570 A = 0.279  x = 2.570−0.570 0.81−1.279−0.390 0.09 1.390 0.729 x−3.180 0.09  =    x = 1.180 0.79 x−1.570−0.72−2.280−0.556−0.350  = 0.69 A = 0.50 = x = 3.280 Kinetika Pertumbuhan Saccharomyces cerviseae | 8 .180    =   0.570−0.50 3.277−0.09 1.81−1.254−0.390 A = 0.254  x−2.49 x−2.211−0.09 1.536−0.390 0.390−0.50 3.72 5.72−2.63 A = 0.390 0.09 =   0.536 A = 0.741 0.180 0.280−0.438 x = 1.556 A = 0.71 0.180  x−2.31 x−1.62 x−1.09  =    x = 1.180 0.350−0.280 0.72−2.390 0.50 0.25 =   x = 4.80 x−1.438−0.09 x = 2.211   A = 0.81 2.280−0.31−3.50 A = 0.50−1.81 x = 3.280−0.729−0.09 1.81−1.830−0. x−1.81−1.50 3.180  = A = 0.72 = 0.

4.741−0.746−0.734 A = 0.72 5.72 5. x−3. Absorbans i 16.570 0.830−0.570 0.72 =   = x = 4.70 0.830−0. 3.570 0. 0.31−3.72 5.31−3. 6.72 5.31−3.830−0. W ak tu 15.570 0.277 Kinetika Pertumbuhan Saccharomyces cerviseae | 9 . 8. Kurva Pertumbuhan Absorbansi Terhadap Waktu 13.830−0. 7.31−3. 0 14.730  x = 4. 11.730−0.72 = 0. 10. 5.72 =   0.570 A = 0.72 5.80 x−3.746  x−3.79 x−3.570 2. 9.570    x = 4.745  x = 4.570 0.31−3.570 0.570  A = 0. 12.77  x−3.72 =  x = 4.72 0.734−0.745−0.830−0.72 A = 0.

729 34. 0. 0.211 20. 0. 58 5 39.438 28. 0. 0.536 30.279 24. 54 0 37. 0.730 43. 45 0 33. 27 0 25. 0. 0.17. 0. 49 5 35.746 40. Kinetika Pertumbuhan Saccharomyces cerviseae | 1 .745 38. 0. 40 5 31. 31 5 27. 63 0 41. 18 0 21. 67 5 18.734 42. 0.254 22. 36 0 29.350 26. 22 5 23.741 36. 0. 45 19.556 32. 0.

1 0 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 550 600 650 700 Waktu (Menit) 45.6 0. 1. 47. 18 52. Berat Sel Kering (x) 56. 0.254 53.211 61.7 R² = 0. 48.8 f(x) = 0x + 0.62 Kinetika Pertumbuhan Saccharomyces cerviseae | 2 . Kurva Pertumbuhan Saccharomyces cerviseae Absorbansi Terhadap Waktu 0.17 0. 1. 46.3 0. 45 60. 0.31 62.2 0. Kurva Pertumbuhan Berat Sel Kering Terhadap Waktu 51. 50. 49. Absorbans i 55. 0.4 0. 1.277 58.5 Absorbansi 0.87 0. W ak tu 54.79 59. 0 57.44.

80 64. 0. 4. 0. 0. 0. 0.556 80. 0. 0.79 85. 4. 0.730 96. 0. 31 5 72.350 71.746 92.741 86. 63 0 93.70 94. 40 5 78. 3.49 73. 4.0 63. 4. 4.63 76. 0. 22 5 66.72 91.536 77. 4. 3.69 79. Kinetika Pertumbuhan Saccharomyces cerviseae | 3 .77 82. 36 0 75.279 68.729 83. 49 5 84. 1. 67 5 65.80 88.745 89.438 74.71 70.25 67. 2. 58 5 90. 54 0 87. 0.734 95. 45 0 81. 2. 27 0 69.

101. 99.06 R² = 0. 103.87 4 Berat Sel Kering (mg/mL) 3 2 1 0 0 50 100150200250300350400450500550600650700 Waktu (Menit) 98. Kurva Pertumbuhan Saccharomyces cerviseae Berat Sel Kering Terhadap Waktu 6 5 f(x) = 0.01x + 1. Fasa-fasa Pertumbuhan a) Fasa Adaptasi = terjadi pada to sampai t3 b) Fasa Percepatan = terjadi pada t3 sampai t4 c) Fasa Eksponensial = terjadi pada t4 sampai t10 d) Fasa Perlambatan = terjadi pada t10 sampai t11 e) Fasa Stasioner = terjadi pada t11 sampai t13 Kinetika Pertumbuhan Saccharomyces cerviseae | 4 . 100. 102.97.

74 6 159. 450 146.27 120. 675 107.55 166.21 1 119.80 125. 4. 171. 2. 4. 0. Kinetika Pertumbuhan Saccharomyces cerviseae | 5 .48 124. 105. 172. Berat Sel Kering (x) 112.70 165. 270 130.73 0 108. Abs orbansi 111. 0. 1. 0. 167. 0 114. 45 118. 0.25 4 123.f) Fasa Kematian = terjadi pada t13 sampai t15 104.53 6 139.72 9 147. 0. 0. 1. 315 134. 0. 1. 630 162. 0. 1. 170.31 117.72 161. 1.58 116.43 8 135.27 7 115. 180 122. 174. 1. 4.49 137. 585 158. Waktu 110.29 144. 1. 1. 1. 3. 0.25 140.74 1 151. 0. 173.69 145.79 109.74 5 155.25 129. 1. 0. 225 126.55 164.71 133. 1. 405 142. 4. 0.57 156.59 128.73 4 163. 0.62 121.56 152.63 141.35 0 131. 0. Kurva ln x Terhadap Waktu 106. 0. 495 150. 0. ln x 113.77 149. 0. 4. 4.27 9 127. 168. 3.55 6 143.59 160.99 136. 1.81 132. 360 138.80 157. 2. 0. 169. 0. 0.54 148. 540 154.79 153.

002 /menit 183. laju pertumbuhan spesifik ( μ ) = 0. jadi. G.87 ln x 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 550 600 650 700 Waktu (Menit) 180. 177. Pembahasan Oleh Rizky Sukmariyansyah Kinetika Pertumbuhan Saccharomyces cerviseae | 6 . 178. y = 0.175.002x + 0.32 R² = 0. 179.PEMBAHASAN 1. 181. Kurva ln x Terhadap Waktu f(x) = 0x + 0. 176.322 182.

Fasa Adaptasi = terjadi pada to sampai t3 b. 189. Sehingga akan diketahui fasa-fasa pertmbuhan serta laju spesifiknya (µ). Fasa Stasioner = terjadi pada t11 sampai t13 f. praktikan langsung mengambil sampel sebanyak 15 titik ke dalam tabung reaksi lalu memasukannya ke dalam incubator. Semestinya media pertumbuhan dishaker dalam incubator. maka dilakukan metode spektrofotometri.873. Untuk melihat fasa pertumbuhan dari mikroba tersebut. lalu setiap 45 menit sekali diambil sampel.002/menit 190. sehingga berpengaruh pada nilai absorbansi yang didapat. Dalam percobaan nilai R yang didapat kurang maksimal. hal ini dikarenakan adanya kesalahan prosedur. Pembahasan Oleh Teguh Taufiqurohim 191. Dari sana maka akan didapatkan fasa pertumbuhan dari mikoba dengan rincian sebagai berikut : a. Pada praktikum ini dilakukan percobaan untuk melihat kinetika pertumbuhan dari Saccharomyces cerviseae. Fasa Perlambatan = terjadi pada t10 sampai t11 e. Selain itu dari kurva ln X terhadap t (waktu) didapatkan nilai laju pertumbuhan spesifiknya (µ) adalah 0. Pada praktikum ini dilakukan percobaan kinetika pertumbuhan bakteri untuk mengetahui kurva pertumbuhan bakteri Saccharomyces cerviseae. Nilai R yang baik ialah apabila mendekati 1. 186. akan diukur nilai absorbansinya. Untuk melihat kinetika pertumbuhannya. Dari kurva yang dibuat. Fasa Percepatan = terjadi pada t3 sampai t4 c. 188. Fasa Kematian = terjadi pada t13 sampai t15 187. Hal diatas menyebabkan adanya kemungkinan larutan pada tiap sampel tidak homogen. didapatkan bahwa nilai R nya sebesar 0. Fasa Eksponensial = terjadi pada t4 sampai t10 d. maka dibuatlah grafik antara nilai A (absorbansi) terhadap t (waktu). Proses dilakukan dengan memasukkan kultur murni berisi mikroba Saccharomyces cerviseae ke dalam media pertmbuhan.184. Selanjutnya media pertumbuhan tersebut di inkubasi dan diambil sampel setiap 45 menit sekali. 185. 2. Dari kurva Kinetika Pertumbuhan Saccharomyces cerviseae | 7 . Dari setiap sampel yang didapat. Tetapi dalam praktiknya.

3. Jenis reaktor yang digunakan dalam praktikum merupakan reaktor batch berupa tabung reaksi yang disimpan dalam shake incubator dengan kecepatan putar 150 rpm. Percobaan dilakukan dengan membiakan terlebih dahulu bakteri Saccharomyces cerviseae pada media starter/inokulum. Selain itu ditentukan juga laju pertumbuhan spesifik dari kurva antara ln x terhadap waktu. Setiap 45 menit diambil sampel dan dihentika pertumbuhannya dengan cara didinginkan. Sehingga didapat kurva kinetika pertumbuhan Saccharomyces Cervisiae. Dibuat juga kurva pertumbuhannya antara berat sel kering (x) terhadap waktu. Selain itu dari absorbansi yang didapat diubah kedalam berat sel kering (x). Dari pengukuran tersebut diukur absorbansi setiap sampel dan dibuat kurva pertumbuhan absorbansi terhadap waktu. Sebelum praktikum. dilakukan pengamatan terhadap kinetika pertumbuhan khamir berjenis Saccharomyces Cervisiae dalam media cair. Pada praktikum bioproses ini.pertumbuhan dapat diketahui fasa-fasa yang dialami oleh bakteri tersebut sehingga dapat diketahui kapan bakteri tersebut menghasilkan produk yang maksimal. 194. Setelah semua sampel selesai dibiakan. Media tersebut berupa Glucose Yeast Extract. Penentuan konsentrasi mikroba dilakukan melalui pengukuran absorbansi dan juga berat kering sel (massa/volume). Setelah dibiakan kemudian inokulum tersebut dimasukkan kedalam media pertumbuhan agar bakteri tersebut dapat tumbuh dalam media tersebut. Untuk mendapatkan kurva kinetika perumbuhan yang ideal. 192. Untuk memperoleh data. dilakukan pembuatan media pertumbuhan khamir berdasarkan kebutuhan protein dan sumber C yang dibutuhkan oleh Saccharomyces Cervisiae. Suhu optimum untuk khamir berdasarkan literatur adalah 25-30oC. dilakukan pengukuran terhadap sel yang dihasilkan pada setian waktu tertentu dengan menggunakan metoda spektrofotometri dengan dibandingkan dengan larutan blangko yang berisi media cair GYEA pada panjang gelombang 620 nm. 193. Media yang digunakan adalah GYEA. sebanyak 5 mL media produksi yang telah berisi biakan Saccharomyces Cervisiae ditempatkan pada sejumlah tabung reaksi. Dapat dilihat fasa-fasa pertumbuhan bakteri tersebut. sebanyak 15 titik pengamatan berupa 15 tabung reaksi Kinetika Pertumbuhan Saccharomyces cerviseae | 8 . dengan suhu 30oC. Setelah dicampurkan kemudian dimasukkan pada setiap 15 tabung reaksi dan dibiakan kedalam incubator shaker. 196. Pembahasan Oleh Ugi Muhammad Apriyanto 195.

setelah masa adaptasi. 4. sedangkan tabung t 0 diambil sebelum mikroba diaktivasi untuk mengetahui konsentrasi mikroba awal.2 (halaman VI-8 jobsheet bioproses) sehingga didapatkan berat kering selnya (x) kemudian diubah ke lnx. Dari kurva. pada fase ini biomassa yang dalam hal ini Saccharomyces Cervisiae mengalami balance growth. Pembahasan Oleh Wina Puspita Asih Kinetika Pertumbuhan Saccharomyces cerviseae | 9 . Fase Perlambatan (terjadi pada t10-t11). 3. 2. pada fase ini laju pertumbuhannya berkurang akibat metabolit yang terbentuk saat fase stasioner 198. Ini diakibatkan kemungkinan konsentrasi nutrien yang tidak cukup besar. dan lingkungan menjadi toksik akibat akumulasi produk. 199. maka dapat dibuat kurva pertumbuhan khamir.002/menit. Fase Eksponensial (terjadi pada t4-t10). pH. dan komposisi selnya mendekati konstan. rpm pengadukan. dan oksigen. dimana perlambatan pertumbuhan terjadi karena berkurangnya nutrien essensial. Fase Akselerasi (terjadi pada t3-t4). Fase Kematian (terjadi pada t13-t15). Waktu adaptasi tersebut terbilang cukup lama. Absorbansi yang didapat kemudian dicocokan dan diinterpolasikan dengan data pada tabel 3. temperatur. 4. mikroba mengalami imbalance growth. kadar air. Dari data absorbansi yang didapatkan terhadap waktu. Sehingga bisa dilihat fase-fase pertumbuhannya. Fase Lag (terjadi pada t0-t3). Laju pertumbuhan spesifik tersebut dipengaruhi oleh jenis nutrisi. Pengukuran konsentrasi mikroba dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer tipe spectronic 20 dengan panjang gelombang 620 nm. yaitu sebesar 0. pada fase ini mikroba membutuhkan waktu sekitar 135 menit untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. 6. 5. pada fase ini khamir memulai pertumbuhannya menuju fase log atau eksponensial. dimana komponen dalam sel tumbuh dengan kecepatan yang sama. Data diperoleh dengan cara mengambil tabung reaksi yang ada pada shake incubator setiap 45 menit sekali lalu dimasukkan ke dalam lemari es. Fase Stasioner (terjadi pada t11-t13).ditandai dari t1-t15 lalu diaktivasi pada shake incubator. Selain kurva absorbansi terhadap waktu. Dari kurva maka didapatkan: 1. dapat ditentukan pula kurva berat kering sel terhadap waktu. 197. didapatkan laju pertumbuhan spesifik. pada fase ini pertumbuhan mikroba tetap namun jumlah sel hidup berkurang dan mengalami lisis sel.

5gr . Fasa Perlambatan ( Deceleration Phase ) 205. Sehingga Saccharomyces cereviseae ini belum siap untuk berproduksi. 4. Percobaan kinetika pertumbuhan ragi saccharomyces cereviseae ini menggunakan media pertumbuhan GYEA (Glukose Yeast Extract Agar) dengan komposisi pepton 2. Fasa Eksponensial ( Log Phase ) 204. Pada fasa ini sel mempunyai adaptasi terhadap lingkungannya dan terjadi peningkatan jumlah sel serta mengalami pembelahan diri. Percobaan ini menggunakan metode pengukuran massa sel dengan cara mengukur media kulturnya menggunakan alat spektrofotometer. 3.25gr . Pada percobaan kali ini bertujuan untuk mengetahui fasa-fasa pertumbuhan dari ragi dan laju pertumbuhan spesifiknya ( µ ). massa menjadi dua kali lipat. tapi praktikan menggunakan λ 620 nm. Terdapat 5 fasa antara lain : 1. Fasa ini terjadi pada t4 sampai t10. 2. glukosa 5gr . 202. Kemudian membuat kurva antara konsentrasi biomassa (X) terhadap waktu percobaan agar dapat diketahui fasa-fasa pertumbuhan yang terjadi. Pengukuran ini biasa dilakukan pada λ antara600-700nm. Fasa ini terjadi t10 sampai t11. Fasa Tetap ( Stationer Phase ) Kinetika Pertumbuhan Saccharomyces cerviseae | 10 . Fasa adaptasi ( Lag Phase ) 203. Pada fasa ini pertumbuhan melambat yang dikarenakan nutrien yang tersedia semakin menipis dan terjadinya penumpukan racun akibat metabolisme sel sehingga mengakibatkan terjadinya kompetisi nutrisi yang mengakibatkan beberapa sel mati. Hal ini dikarenakan Saccharomyces cereviseae akan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.5 gr . Metode ini merupakan metode yang paling sering digunakan untuk perhitungan pertumbuhan ragi ataupun bakteri. Untuk mengetahui kenaikan pertumbuhan dari Saccharomyces cereviseae ini praktikan mengambil 15 titik sampel. agar 4. Hal ini berpengaruh terhadap nilai aborbansi. 201. Fasa adaptasi terjadi dari to sampai t3.200. Ragi yang digunakan pada percobaan ini adalah Saccharomyces cereviseae. Untuk mendapatkan kurva pertumbuhan diperoleh kurva antara berat sel kering terhadap waktu untuk mengetahui konsentrasi biomassa (X) dari setiap sampel. yeast extract1. aquadest 250 ml.

dan ln x terhadap waktu (menit). 5. Sehingga diperoleh nilai laju pertumbuhan spesifik bakteri (µ) sebesar 0. Dengan membuat garis eksponensial dari kurva tersebut didapat persamaan y = 0. Ini terjadi pada t13 sampai t15. 209. H. 5.322. Pola pertumbuhan bakteri dapat dilihat dari kurva pertumbuhan Absorbansi terhadap waktu (menit). Pada fasa ini terjadi konsentrasi biomassa nya maximum namun laju pertumbuhaanya mendekati 0. I. 208.KESIMPULAN 1. Di fasa ini komposisi sel sudah berubah yang disebabkan karena sel sudah tua dan rentan oleh lingkungan. 2. Pembahasan Oleh Wina Septianawati 211. Persediaan energi sudah habis itulah sebanya sel pada fasa ini menjadi mati.002 /menit 212.002 /menit. Variasi metabolisme yang dihasilkannya pun disebut metabolit sekunder.206. Metabolit sekunder ini merupakan racun bagi mikroorganisme tapi diproduksi selalu. Fasa Kematian ( Death Phase ) 207. Untuk memperoleh laju pertumbuhan spesifik bakteri (µ) praktikan membuat kurva antara ln X terhadap waktu percobaan. Fasa stasioner ini terjadi pada t11 sampai t13. Laju pertumbuhan spesifik ( μ ) = 0. berat sel kering (mg/mL) terhadap waktu (menit).002x + 0. DAFTAR PUSTAKA Kinetika Pertumbuhan Saccharomyces cerviseae | 11 . Fasa pertumbuhan bakteri Saccharomyces cerviseae a) Fasa Adaptasi = terjadi pada to sampai t3 b) Fasa Percepatan = terjadi pada t3 sampai t4 c) Fasa Eksponensial = terjadi pada t4 sampai t10 d) Fasa Perlambatan = terjadi pada t10 sampai t11 e) Fasa Stasioner = terjadi pada t11 sampai t13 f) Fasa Kematian = terjadi pada t13 sampai t15 3. 210.

Politeknik Negeri Bandung 215.”Buku Bahan Ajar Praktikum Bioproses”. Unung. Leoanggraini.Bandung : 214.213. dkk.2011. Kinetika Pertumbuhan Saccharomyces cerviseae | 12 .