You are on page 1of 18

PERBANDINGAN PENGGUNAAN MEDIA KOMIK DENGAN MEDIA CHARTA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA SUB POKO BAHASAN LINGKARAN

TERHADAP MOTIVASI DAN HASIL KOGNITIF BELAJAR SISWA (Penelitian di kelas VIII SMP Negeri 1 Cililin, Bandung Barat)

PROPOSAL Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Mengikuti Seminar Proposal Judul Skripsi Pada Jurusan Pendidikan Matematika

Oleh : NUR SYARA ZUNAIZAH NIM. 206 200 680

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG 2009

PROPOSAL PERBANDINGAN PENGGUNAAN MEDIA KOMIK DENGAN MEDIA CHARTA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA SUB POKO BAHASAN LINGKARAN TERHADAP MOTIVASI DAN HASIL KOGNITIF BELAJAR SISWA (Penelitian Di Kelas VIII SMPN 1 Cililin Bandung Barat)

Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan tahapan-tahapan kegiatan mengubah sikap dan perilaku seseorang atau sekelompok orang melalui upaya pengajaran dan pelatihan (Syah, 2004:32). Pendidikan dalam arti sempit adalah pengajaran yang diselenggarakan umumnya di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang sangat dibutuhkan (Sagala, 2007:11). Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam surat At-Taubah ayat 122 :

tBur šc%x. tbqãZÏB÷sßJø9$# (#rãšÏÿYušÏ9 Zp©ù!$š2 4$ * šwöqn=sù tšxÿtR `ÏB Èe@ä. 7ps%öšÏù öNåk÷]ÏiB ×pxÿͬ!$sÛ (#qßg¤)xÿtGušÏj9 šÎû Ç` šÏe$!$# (#râšÉšYãšÏ9ur óOßgtBöqs% #sšÎ) (#þqãèy_uš öNÍköšs9Î) óOßg¯=yès9 šcrâšxšøtsš ÇÊËËÈ
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Dari ayat di atas disampaikan bahwa dalam ajaran Islam menuntut ilmu juga merupakan kewajiban dan memiliki nilai ibadah. Menuntut ilmu dalam hal ini melaksanakan kegiatan pendidikan memiliki nilai jihad yang tidak kalah besar dibandingkan dengan oramg-orang yang berperang mempertaruhkan jiwa raganya. Karena dengan ilmu kita dapat mengendalikan dan memelihara dunia. Dalam fungsinya pendidikan sebagaimana ditetapkan dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dikemukakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pendidikan bagi bangsa Indonesia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dikembangkan sejalan dengan tuntutan pembangunan di segala bidang serta persaingan di Era Globalisasi yang akan datang. Dalam upaya pengembangan pendidikan ini bukanlah hal yang mudah. Banyak masalah yang masih perlu penyelesaian lebih lanjut dan penanganan segera demi tercapainya kualitas pendidikan yang sesuai dengan standar internasional, sehingga dapat meningkatkan kedudukan indonesian dimata Internasional. Salah satu masalah dalam bidang pendidikan di Indonesia yang masih sangat memerlukan perhatian semua pihak adalah rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya rata-rata hasil belajar. Hal ini bisa diasumsikan dari penggunaan pendekatan dan metode serta media dalam proses pembelajaran yang masih didominasi oleh guru. Proses pembelajaran yang menempatkan guru sebagai satu satunya sumber ilmu pengetahuan masih banyak kita jumpai. Dengan cara ini seolah-olah siswa sebagai botol kosong pasif yang siap diisi ilmu pengetahuan oleh sang guru apapun atau bagaimanapun kondisinya. Hasil yang dicapai melalui proses ini menjadikan siswa kurang kreatif dan kurang bisa mengembangkan diri serta sukar untuk mengaplikasikan apa yang telah diperolehnya dalam kehidupan sehari hari. Belajar juga menjadi kurang bermakna karena jauh dari apa yang dihadapi siswa setiap hari dan tidak menyenangkan. Guru sebagai pemegang peranan penting dalam proses pembelajaran seharusnya memikirkan metode dan media yang dapat membuat siswa memahami materi apa yang akan disampaikan. Proses pembelajaran di pendidikan formal saat ini tidak lagi bersifat Teaching Oriented tetapi children oriented / learner oriented dituntut untuk dapat berinteraksi dan mengkomunikasikan kembali ilmu yang telah dipelajari. Untuk mendukung dalam pencapaian tujuan pembelajaran, guru sekurang-kurangnya dapat menggunakan alat-alat bantu atau media untuk pembelajaran, khususnya pada pembelajaran Matematika yang

merupakan bagian dari ilmu sains. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dalam perkembangannya berorientasi pada kompetensi, di mana sebaiknya guru menggunakan berbagai jenis media pembelajaran dan memanfaatkannya secara tepat, yakni disesuaikan dengan pengalaman belajar yang akan ditempuh siswa sehingga dapat memperjelas informasi dan konsep yang sedang dipelajari. Pembelajaran matematika yang dianggap membosankan karena terkesan terlalu exact masih merupakan pelajaran yang menakutkan bagi banyak siswa, karena biasanya matematika disajikan dalam bentuk tulisan yang memerlukan ketajaman nalar karena banyak hal yang bersifat abstrak. Sehingga hanya anak-anak yang berkategori cerdas yang bisa memahaminya, sedangkan anak-anak berkategori biasa saja, yang cenderung lebih menyukai hal-hal yang bersifat kongkret, akan lambat memahami pelajaran ini. Akibatnya, nilai yang diperoleh pada pelajaran matematika tidak bagus. Hal ini akan menambah ketidaksukaan siswa, bahkan sampai pada tingkatan membencinya. Selain itu, para guru mengajarkan materi matematika biasanya kurang menarik, sehingga menambah terpuruknya minat siswa terhadap pelajaran ini. Penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat siswa yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar mengajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Pencapaian keberhasilan belajar siswa berkaitan erat dengan pemilihan metode dan media belajar yang digunakan sesuai dengan kebutuhan siswa. Penggunaan metode dan media pembelajaran harus relevan dengan bahan pelajaran serta karakteristik siswa. Karena hal ini akan mempengaruhi hasil belajar siswa terutama dalam ranah kognitif siswa, karena di sini siswa dituntut untuk memahami materi yang disampaikan oleh guru. Berdasarkan studi pendahuluan di salah satu sekolah ketika melaksanakan PPL, pada umumnya penyampaian materi matematika disampaikan dengan menggunakan media

konvensional meskipun sudah ada media charta atau media praga yang lainnya, namun guru kurang memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan di sekolah itu dengan alasan guru cenderung ingin lebih fleksibel dalam proses pembelajarannya. Ini berpengaruh terhadap hasil belajar yang diperoleh siswa, dapat diketahui bahwa hasil belajar matematika siswa masih sangat jauh dari standar KKM (Kriteria Ketuntasan Mengajar) yang ditentukan. Padahal pada masa sekarang ini penggunaan media atau alat bantu dalam proses pembelajaran sudah berkembang dengan pesat. Sebagai contoh adanya buku-buku pelajaran dalam bentuk komik yang sudah beredar dan dipergunakan di beberapa negara sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikannya. Hal ini tentunya akan sangat menarik jika buku komik itu dapat digunakan untuk membantu proses belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar akan lebih menyenangkan apabila siswa turut secara aktif, tidak hanya mendengarkan penjelasan dari guru, tetapi dapat mengeksplor kemampuan imajinasi siswa dalam memahami penjelasan yang disajikan dalam bentuk cerita-cerita bergambar. Dengan adanya buku dalam bentuk komik seperti ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Akan tetapi, keberhasilan penggunaan media komik ataupun media charta ditentukan oleh kualitas dan efektifitas bahan-bahan visual dan grafik itu. Media komik dan media charta dapat digunakan secara baik jika merencanakannya dengan seksama dan penggunaan konsep, informasi, atau situasi sehingga dapat menarik perhatian dan mampu menyampaikan pesan yang diinginkan oleh penggunanya (Arsyad, 2007:107). Media pembelajaran ini digunakan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan, perubahan-perubahan sikap dan perilaku yang mungkin terjadi karena interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Pembelajaran pada materi sub pokok bahasan lingkaran dengan menggunakan media komik ini diharapkan siswa menjadi lebih tertarik dan termotivasi untuk mempelajari materi ini, serta siswa lebih

memahami apa yang disampaikan oleh guru dan diharapkan pula dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Maka untuk menjawab permasalahan tersebut, peneliti bermaksud mengadakan penelitian lebih lanjut dengan mengajukan sebuah judul " PERBANDINGAN PENGGUNAAN MEDIA KOMIK DENGAN MEDIA CHARTA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA SUB POKO BAHASAN LINGKARAN TERHADAP MOTIVASI DAN HASIL KOGNITIF BELAJAR SISWA " (Penelitian di kelas VIII SMP Negeri 1 Cililin, Bandung Barat). Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut : Bagaimana hasil belajar kognitif siswa yang menggunakan media komik dan media charta pada materi sub pokok bahasan lingkaran ? Bagaimana perbandingan hasil belajar kognitif siswa antara yang menggunakan media komik dengan media charta pada pada materi sub pokok bahasan lingkaran ? Bagaimana motivasi siswa terhadap pembelajaran antara yang menggunakan media komik dengan media charta pada pada materi sub pokok bahasan lingkaran ? Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan yang di atas, maka tujuan penelitian ini adalah: Untuk mengetahui hasil belajar kognitif siswa yang menggunakan media komik dan media charta pada materi sub pokok bahasan lingkaran. Untuk mengetahui perbandingan hasil belajar kognitif siswa antara yang menggunakan media komik dengan media charta pada materi sub pokok bahasan lingkaran. Untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran antara yang menggunakan

media komik dengan media charta pada pada materi sub pokok bahasan lingkaran. Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini yang diharapkan penulis adalah sebagai berikut: Bagi peneliti, dapat mengetahui secara langsung perbandingan motivasi belajar dan hasil belajar kognitif siswa serta dapat mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran antara yang menggunakan media komik dengan media charta Bagi siswa, pembelajaran dengan media komik diharapkan siswa menjadi lebih termotivasi untuk mengikuti proses pembelajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya. Bagi guru, media komik matematika dapat digunakan sebagai alternatif media pembelajaran yang baru. Kerangka Pemikiran Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan penyempurnaan dari kurikulum 2004 (KBK), yaitu kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masingmasing satuan pendidikan sekolah (Muslich, 2008:10). Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pembelajaran matematika pada sub pokok bahasan lingkaran yang meliputi materi unsur-unsur lingkaran serta mmenemukan dan menggunakan rumus-rumus pada lingkaran dalam pemecahan masalah. Salah satu indikatornya adalah menentukan pendekatan nilai phi dan rumus luas lingkaran dengan pendekatan persegi panjang. Selama ini metode ceramah dengan penggunaan saran papan tulis ataupun dengan demonstarsi dengan media seadanya menjadi pilihan yang dilakukan guru. Guru lebih memegang peran utama dalam proses pembelajaran dengan sedikit melibatkan siswa untuk berperan aktif, sehingga siswa cenderung menjadi pasif. Siswa hanya sebagai objek, dalam hal ini guru tidak memperhatikan kondisi siswa, apakah siswa dapat mengerti dan

memahami materi yang disampaikan oleh guru Pada penyampaian meteri pada sub pokok bahasan lingkaran, pembelajarannnya menggunakan media sebagai alat bantunya. Media pembelajaran adalah sesuatu yang membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran (Azhar, 2007: 4). Penggunaan media sangat penting sekali, apalagi jika media ini dikemas dalam bentuk unik dan menarik perhatian siswa. Adapun media yang digunakan dalam pembelajaran materi ini adalah media komik dan media charta. Media pembelajaran komik dan charta sangat baik jika digunakan dalam proses belajar mengajar, karena menurut penelitian Spaulding (Sudjana, 2009:12) tentang bagaimana siswa belajar melalui gambar, dapat disimpulkan sebagai berikut : ilustrasi gambar merupakan perangkat pengajaran yang dapat menarik minat belajar siswa secara efektif. ilustrasi gambar merupakan perangkat tingkat abstrak yang dapat ditafsirkan berdasarkan pengalaman di masa lalu, melalui penafsiran kata-kata. ilustrasi gambar membantu para siswa dalam membaca buku pelajaran terutama dalam menafsirkan dan mengingat-ingat isi materi teks yang menyertainya. pada umumnya anak lebih menyukai setengah atau satu halaman penuh bergambar, disertai beberapa petunjuk yang jelas. ilustrasi gambar isinya harus dikaitkan dengan kehidupan yang nyata. Media komik dan charta dapat mewakili sesuatu yang tidak dapat disampaikan oleh guru dengan kata-kata atau kalimat. Dengan adanya media komik dan charta maka siswa dalam menyerap materi diharapkan tidak akan terlalu sulit. Selain itu, dengan media komik dan charta siswa dapat memahi konsep dari materi dan diharapkan juga dapat melahirkan umpan balik yang positif dari siswa. Dengan demikian, diharapkan siswa menjadi lebih tertarik untuk mempelajari materi ini dan siswa bisa lebih memahami apa yang disampaikan oleh guru serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa terutama pada aspek kognitifnya. Peningkatan hasil belajar kognitif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah meningkatnya hasil belajar siswa yang berkaitan dengan kemampuan siswa untuk

memahami, menggunakan, menganalisis, mensintesis serta mengevaluasi atau memecahkan suatu masalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Bloom (Sukmara, 2007: 56). Ranah kognitf yang diperoleh siswa setelah proses pembelajaran dengan menggunakan media komik dan media charta pada sub materi pokok sistem ekskresi manusia (kulit) ini, diperoleh dengan melakukan suatu tes hasil belajar berupa soal-soal pilihan ganda dan yang menjadi indikator dari soal-soal tersebut adalah berupa hafalan, pemahaman, penerapan dan analisis. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari skema berikut ini: Bagan 1.1 Skema Kerangka Pemikiran

Hipotesis Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. (Arikunto, 1999: 67). Dalam hal ini hipotesis yang dirumuskan adalah: "terdapat perbedaan peningkatan motivasi

dan hasil belajar kognitif siswa antara yang menggunakan media komik dengan yang menggunakan media charta pada materi sub pokok bahasan lingkaran". Langkah-langkah Penelitian Jenis Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif akan bersumber pada hasil pengumpulan data melalui observasi. Sedangkan data kuantitatif adalah data dependen yang bersumber pada sejumlah siswa sebagai teknik pengumpulannya melalui angket dan test. Sumber Data Lokasi Penelitian Penelitian ini mengambil lokasi di SMP Negeri 1 Cililin Kabupaten Bandung Barat. Adapun alasan penulis memilih lokasi tersebut karena terdapat permasalahan yang mendukung untuk dilakukannya penelitian ini. Populasi dan Sampel Populasi adalah seluruh subjek penelitian (Arikunto, 2006: 91), di sini karena terdapat 9 kelas maka yang menjadi populasinya adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Cililin Kabupaten Bandung Barat. Adapun sampelnya adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. Dari sembilan kelas dipilih dua kelas yaitu satu sebagai kelas media komik dan satu lagi sebagai kelas media charta.

Metode dan Teknik Pengumpulan Data Metode Penelitian Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen, yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari sesuatu, dengan kata lain penelitian eksperimen dengan pengendalian variabel yang mencoba meneliti ada

tidaknya hubungan sebab akibat. Caranya adalah dengan membandingkan antara satu kelas yang diberikan media komik dan satu kelas yang diberikan media charta. Pada mulanya siswa diberikan suatu tes awal (pretest) yang kemudian dilakukan suatu pembelajaran dengan penggunaan media (komik dan charta) setelah itu dilakukan suatu tes akhir (postest), maka aka diperoleh suatu nilai peningkatan atau penurun yang biasa disebut gain. Untuk lebih jelasnya alur penelitian ini digambarkan seperti skema berikut ini: Bagan 1.2. Skema Alur Penelitian

Teknik Pengumpulan Data Test Tes sebagai alat penilaian adalah pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada siswa untuk mendapat jawaban dari siswa dalam bentuk lisan, tulisan maupun perbuatan (Sudjana, 2009: 35). Tes ini dilakukan untuk menilai dan mengukur hasil

belajar kognitif siswa dari hasil pre-test dan post-test. Instrumennya berupa soal pilihan ganda sebanyak 20 soal. Pretest yaitu tes awal yang diberikan kepada siswa sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Pretest diberikan untuk mengetahui pemahaman siswa mengenai materi yang akan disampaikan. Sedangkan post-test yaitu test akhir yang diberikan kepada siswa setelah kegiatan pembelajaran selesai. Sebelum tes ini dilaksanakan, soal tersebut diuji coba terlebih dahulu untuk menentukan daya pembeda tingkat kesukaran, validitas, dan reliabilitas soal. Agar diperoleh soal yang baik dan layak digunakan, maka rumus untuk uji coba soal adalah: Menghitung validitas soal dengan rumus:

Keterangan: Mp Mt St p q : koefisien korelasi biseral : rerata skor dari subjek yang menjawab betul bagi item : rerata skor soal : standar deviasi dari skor total : proporsi siswa menjawab benar : proporsi siswa menjawab salah (Arikunto, 2002: 79)

Indeks validitas diklasifikasikan sebagai berikut: Antara 0,80 – 1,00 : Sangat tinggi Antara 0,60 – 0,80 : Tinggi Antara 0,40 –0,60 : Cukup Antara 0,20 –0,40 : Rendah Antara 0,00 –0,20 : Sangat rendah (Arikunto, 2002: 75) Menghitung reliabilitas soal Untuk memperoleh indeks reliabilitas soal digunakan rumus SpearmanBrown:

Dengan keterangan: : koefisien reliabilitas yang sudah disesuaikan : korelasi skor-skor antara belahan tes (Arikunto, 2002: 93) Menghitung tingkat kesukaran

Dengan keterangan: B : subjek yang menjawab betul J : banyaknya subjek yang mengerjakan tes (Arikunto, 2006: 176) Menghitung daya pembeda soal

Dengan keterangan: D : daya pembeda butir BA : banyaknya subjek kelompok atas yang menjawab betul JA : banyaknya subjek kelompok atas BB : banyaknya subjek kelompok bawah yang menjawab betul JB : banyaknya subjek kelompok bawah (Arikunto, 2006: 177) Angket Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 102), angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang dipergunakan untuk memperoleh informasi dari responden. Angket ini dimaksudkan untuk memperoleh data dari responden tentang tanggapam siswa dalam mengikuti pelajaran Matematika di sekolah dengan mencari rata-rata persentase minat siswa peraspek, dengan kualifikasi jawaban SS (sangat setuju), S (setuju), R (raguragu), TS (Tidak setuju), STS (sangat tidak setuju). Angket ini diberikan kepada siswa setelah dilakukan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan media komik dan charta. Observasi Obervasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala

yang tampak pada objek penelitian (Sudjana, 2009: 84). Observasi dilakukan terhadap masalah yang terkait dengan aktivitas siswa selama kegiatan belajar mengajar dilakukan. Observasi ini dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang berisi indikator-indikator kegiatan belajar mengajar. Adapun mekanisme pengambilan datanya, yaitu observer menceklis indikator aktivitas yang dilakukan oleh siswa kegiatan belajar mengajar. Meskipun bukan merupakan data primer, data observasi sangat diperlukan untuk menggali informasi mengenai aktivitas siswa selama selama kegiatan belajar mengajar yang tidak tergali oleh angket. Data hasil observasi dianalisis secara kualitiatif sebagai informasi untuk melengkapi dan memperkuat data angket mengenai aktivitas siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Dengan demikian, jika data dari observasi relevan dengan data angket, maka ada tidaknya hubungan antara aktivitas belajar siswa dengan peningkatan hasil kognitifnya dapat diketahui. Studi Kepustakaan Studi kepustakaan yang dimaksud di sini adalah mendayagunakan informasi yang terdapat dalam berbagai literatur untuk menggali konsep dasar yang ditemukan para ahli untuk membantu memecahkan masalah dalam penelitian. Analisis Data
Analisis Soal

Langkah selanjutnya setelah data terkumpul adalah pengolahan data. Data yang bersifat kualitatif diolah dengan metode historikal atau studi kasus dan menganalisis data secara induktif (Moleong, 2005:45). Sedangkan data kuantitatif diolah dengan statistik di mana teknik yang digunakan adalah teknik analisis komparatif bivariat yaitu analisis yang digunakan untuk menguji ada tidaknya perbedaan antarvariabel yang diteliti dengan menggunakan dua variabel. Langkah-langkah penghitungan statistik sebagai berikut:

Pengolahan hipotesis komparatif dengan uji t-test, uji t-test yang digunakan untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel dengan langkah–langkah sebagai berikut : Mencari deviasi standar gabungan (dsg), dengan rumus:

Keterangan :

n1 n2 V1 V2

= banyaknya data kelompok 1 = banyaknya data kelompok 2 = varians data kelompok 1 (Sd1)2 = variasns data kelompok 2 (Sd2)2 (Subana, 2005: 171)

Menentukan t hitung, dengan rumus :

Keterangan : = rata-rata data kelompok 1 = rata-rata data kelompok 2 = nilai standar deviasi gabungan (Subana, 2005: 171) Menentukan derajat kebebasan, dengan rumus :

Menentukan t tabel Pengujian hipotesis Sebelum digunakan uji t-test disyaratkan pengujian normalitas dan homogenitas terhadap sampel: Uji Normalitas, dengan tahapan : Menghitung rata-rata (mean) dengan rumus : (Subana, 2005: 87) Menghitung Standar Deviasi

(Subana, 2005: 92) Menghitung Chi kuadrat dengan rumus:

(Subana, 2005: 124) Menentukan derajat kebebasan

Mencari c2 dari daftar Menentukan Normalitas dengan kriteria uji , Diterima jika : c2 hitung £ c2 daftar Menentukan homogenitas, dengan langkah-langkah sebagai berikut (Sulistiyono, 2009) : Menentukan Fhitung , data dimasukkan ke rumus :

Di mana : F

= Indeks homogen Sb2 = Varians terbesar Sk2 = Varians terkecil

Menentukan derajat kebebasan db = n - 1 Menentukan Ftabel Dengan kriteria uji: Fhitung < Ftabel maka tidak berbeda signifikan / data

homogen dan Fhitung > Ftabel maka berbeda signifikan / data tidak homogen.
Analisis Angket

Angket digunakan sebagai data penunjang, yakni untuk mengetahui rata-rata tanggapan siswa per aspek terhadap pembelajaran sub materi pokok sistem ekskresi manusia (kulit) dengan menggunakan media komik dan charta. Analisis angket ini menggunakan skala likert, yaitu :

Kriteria

Pernyataan Positif Skor

Pernyatan Negatif Skor 1

SS (Sangat Setuju)

5

S (Setuju) R (Ragu-Ragu) TS (Tidak Setuju) STS (Sangat Tidak Setuju)

4 3 2 1

2 3 4 5

Kualifikasi : 1,5 – 2,5 2,5 – 3,5 3,5 – 4,5 = rendah = sedang = tinggi

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Bandung: Rineka Cipta. Arikunto, Suharsimi. 2006. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara. Azhar, Arsyad. 2007. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Maryanah, Nur. 2005. Efektivitas Media Komik dengan Media Gambar Dalam Pembelajaran Geografi Pokok Bahasan Pengangkutan dan Perhubungan. Jurusan Geografi Universitas Negeri Semarang. Tersedia {(http://docs.google.com/gview? a=v&q=cache:uuXmwej5tmgJ:digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi.1/import/1074. pdf+kelebihan+komik+sebagai+media+pembelajaran...)}Online J. Moleong, Lexy. 2005. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Muslich, Masnur. 2008. KTSP Dasar Pemahaman dan Pengembangan. Jakarta: PT Bumi Aksara. Subana dkk. 2005. Statistika Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia. Sudjana, Nana dan Rivai. 2009. Media Pengajaran. Bandung: Sinar baru Algesindo. Sudjana, Nana. 2009. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar baru Algesindo. Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rosda Karya. Sukmara, Dian. 2007. Implementasi Life Skill dalam KTSP. Bandung: Mughni Sejahtera. Sulistiyono. Statistika Psikologi II. Pusat Pengembangan Bahan Ajar-UMB. [tersedia : http://pksm.mercubuana.ac.id/modul/61014-5-477428844066.doc.] -02 - 12 - 2009. Syah, Muhibbin. 2004. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Rosda Karya. Syaiful, Sagala. 2007. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.