You are on page 1of 6

BAB II

ALUMINIUM DAN PADUANNYA


Aluminium adalah salah satu logam ringan (light metal) dan mempunyai sifat-sifat fisis
dan mekanis yang baik, misal kekuatan tarik cukup tinggi, ringan, tahan korosi,
formability yang baik dan sebagai penghantar panas/listrik yang baik sehingga banyak
digunakan di bidang teknik misal bahan pada struktur pesawat. Aluminium menempati
urutan ke-3 dari unsurunsur dalam kerak bumf (crustal abundance) setelah oksigen
dan silikon.
Ekstraksi Aluminium
Di alam, aluminium berada dalam bentuk senyawa dengan unsur lain misal silikon dan
oksigen. Bauksit merupakan oksida aluminium hidrat (Al203 xH20) dengan bahan ikutan
seperti besi, silika dan titania. Proses ekstraksi yang banyak dipakai adalah Proses
Bayer dan Proses Hall-He'roult.
I. Proses Bayer
Proses ini ditemukan oleh Karl Josef Bayer dari Austria pada tahun 1888 dengan
melarutkan larutan mineral bauksit ke dalam NaOH pada suhu 240 C sesuai
dengan reaksi berikut :
Al203 xH20 + 2NaOH --> 2NaAIO2 + (x+1)H20
Alumina (Al203 ) akan larut sedangkan residu yang berupa oksida atau silika
dipisahkan dengan cars filtrasi. Pada tahap ke-2 kondisi harus diatur supaya reaksi
di atas bergeser ke kiri dengan cara pendinginan sehingga menjadi :
2NaAlO2 + 2H20 > 2NaOH + Al203 .3H20
Senyawa trihydrate A1203 .3H20 kemudian diberi perlakuan calcination
(pembakaran) dalam kiln putar melalui 2 tahap :

1. Pada suhu 400-600 C, air kristal akan hilang sehingga menghasilkan alumina
(A1203) dalam bentuk - A1203 aktif

2. Pemanasan pada suhu 1200 C menyebabkan terjadinya reaksi : - A1203 A1203


II. Proses Hall- He 'roult
Karena alumina (A1203) mempunyai titik leleh yang tinggi (2040C) dan
konduktivitas listrik yang rendah maka produksi aluminium dilakukan dengan cars
melarutkan Al203 ke dalam cryolite (Na3AIF6) cair sekitar 80-90 % ditambah bahan
additive seperti AIF3 dan CaF2 sebanyak 2-8 %. Sel elektrolit Hall-He'roult yang
digunakan untuk ekstraksi Al seperti pada gambar 2.1. di bawah.

Gambar 2.1. Sel elektrolit Hall-He'roult


Bagian utama dari sel ini adalah anoda karbon yang diumpankan, larutan elektrolit
yang terdiri dari cryolite + alumina, alumina cair ruang berlapis karbon untuk
menahan Al cair dan elektrolit dan sistem penampung gas untuk mencegah
keluarnya gas tersebut ke lingkungan. Elektrolit akan menghasilkan ion-ion seperti
Na+,

dan ion kompleks seperti 1

katoda akan menghasilkan Al dan ion

. Anion flouroaluminate pada

sedangkan pada anoda terjadi disosiasi

oxoflouroaluminate yang menghasilkan oksigen dan CO2 sehingga reaksi


keseluruhan dapat ditulis :
2Al203 + 3C > 4A1+ 3CO2
Sel elektrolisis di atas biasanya beroperasi pada suhu 9500C dengan arus sebesar
250 kA.
Jarak anoda-katoda sebesar 4-5 cm dengan penurunan tegangan sebesar 4,5
volt.
Klasifikasi Aluminium dan Paduannya
Aluminium murni relatif lunak dan penambahan unsur paduan dapat
meningkatkan sifat mekanisnya. Pengelompokan paduan Al didasarkan pada
jenis unsur paduan dengan menggunakan sistem 4 digit dimana digit
pertama menunjukkan kelompok aluminium, digit kedua menunjukkan
modifikasi dari paduan aslinya atau Batas unsur pengotor dan 2 digit terakhir
menunjukkan kemurnian aluminium.

Paduan aluminium dapat dikelompokkan menjadi paduan yang tidak bisa diberi
perlakuan panas (non heat treatable alloy) dan paduan yang dapat diberi perlakuan
panas (heat treatable alloy).
Non Heat Treatable Alloy
Kekuatan tarik paduan Al ini dapat ditingkatkan dengan cara pengerjaan dingin (cold
work) atau pengerasan larutan padat (solid solution hardening) dan unsur seperti Mg.
Yang termasuk pada kelompok ini adalah paduan seri boa, 3xxx dan 5xxx.
Heat Treatable Alloy
Kekerasan dan kekuatan tarik tergantung pada komposisi dan perlakuan panas yang
terdiri dari :
1. Pemanasan di atas garis solves sehingga unsur-unsur paduan akan
larut dalam fasa tunggal a. Tahap ini dinamakan perlakuan larutan
(solution treatment).
2. Pendinginan cepat sampai suhu kamar sehingga terbentuk larutan
padat lewat jenuh (supersaturated solid solution).
3. Proses penuaan (ageing) dengan cara memanaskan kembali pada
suhu sekitar 130-190 C sehingga terbentuk endapan yang sangat
halus.

Gambar 2.3. Siklus thermal pengerasan endapan


Termasuk kelompok ini adalah paduan aluminium seri 2xxx, 6xxx dan 7xxx.
Pengerasan Endapan (Precipitation Hardening)
Kekuatan dan kekerasan dari beberapa paduan aluminium disebabkan karena
terbentuknya partikel-pertikel atau endapan halus (precipitate) yang tersebar merata
pada matriks aluminium sebagai akibat dari perlakuan panas. Proses ini dinamakan
precipitation hardening dan kadang-kadang dinamakan pula age hardening (penuaan)
karena kenaikan kekerasan merupakan fungsi waktu. Contoh logam paduan yang
mengalami proses ini adalah paduan seri 2xxx, 6xxx dan 7xxx. Paduan tipe ini
mempunyai diagram fasa biner hypothetic sistem A-B seperti terlihat pada gambar 2.4.
di bawah.

Gambar 2.4. Diagram fasa biner hypothetic

Dan gambar terlihat bahwa batas kelarutan B di dalam logam A mencapai maksimum
pada titik M. Batas kelarutan ini turun dari titik M sampai titik N. Jika logam paduan
dengan komposisi Co dipanaskan pada suhu To maka akan terbentuk fasa . Jika
kemudian dilakukan pendinginan secara cepat pada suhu T1 maka maka difusi tidak
terjadi dan tidak terbentuk fasa . Selanjutnya jika dipanaskan pada suhu T2 maka
difusi mulai terjadi dan terbentuk fasa berupa partikel-partikel kecil. Proses ini
dinamakan penuaan. Pembentukan pertikel-partikel kecil ini berpengaruh pada sifatsifat mekanis (kekerasan dan kekuatan tafik) logam paduan seperti terlihat pada
gambar 2.5. di bawah.

Gambar 2.5. Proses penuaan (ageing)


Proses precipitation hardening dapat dilihat pada paduan Al-Cu seperti pada gambar
2.6. Fasa adalah larutan padat Cu di dalam pelarut aluminium sedangkan fasa
adalah CuAl2. Misal paduan 96 %Al-4 %Cu selama perlakuan panas akan terjadi
perubahan fasa sbb. :
GP zone ---> " '>

Gambar 2.6. Proses pembentukan endapan


Pada awal penuaan, atom-atom Cu akan berkelompok dan membentuk piringan tipis
yang dinamakan Guinier-Preston (GP) zone dengan susunan atom yang coherent
terhadap matriks aluminium. GP zone menyebabkan kenaikan kekuatan dan
kekerasan logam paduan dan selanjutnya berubah menjadi " (GP2 zone). Seiring
dengan berjalannya waktu, atom-atom Cu berdifusi dan membentuk fasa ' yang semi
coherent dalam bentuk partikel-partikel halus yang tersebar merata dalam matriks
aluminium. Penurunan kekuatan tank dan kekerasan terjadi jika ' berubah menjadi
(CuAl2) karena ukuran fasa menjadi lebih besar dan tidak coherent dengan matriks
aluminium. Tahap ini dinamakan over ageing.