You are on page 1of 11

Tugas Manajemen Konstruksi

Kelompok :
Wendi N I0108040
Azhar Mustofa I0108075
Christmas Samodra I0108079
Ikhwanul H I0108108
Teo Cahya I0108152
Adhi Susilo I0108173
Fajar Setiawan I0108200
Indra Tri P I0108207
Fata Hanifa I0108243

PDM
(Precendence Diagram Method)
Kegiatan dalam PDM digambarkan dengan
lambang segi empat
Kelebihan PDM yaitu
1. Tidak diperlukan kegiatan fiktif/dummy
sehingga pembuatan jaringan menjadi lebih
sederhana.
2. Hubungan overlapping yang berbeda dapat
dibuat tanpa menambah jumlah kegiatan.
Kegiatan dalam PDM dilambangkan sbb:
ES
LS

JENIS
KEGIATAN

NO. KEG.

EF
LF

DURASI

Hubungan antar kegiatan metode ini


digunakan sebuah garis penghubung,
yang dapat dimulai dari kegiatan kiri
ke kanan atau dari atas ke bawah
Namun tidak pernah dijumpai akhir
dari garis penghubung ini di kiri
sebuah kegiatan.

Jalur Kritis
Untuk menentukan kegiatan yang bersifat kritis,
dan kemudian menentukan jalur kritis dapat
dilakukan perhitungan ke depan (Forward
Analysis) dan perhitungan ke belakang (Backward
Analysis).
FFij
ES
LS

JENIS
KEGIATAN

NO. KEG.

EF
LF

FS
ij

DURASI

ES
LS

JENIS
KEGIATAN

NO. KEG.

SSij
SFij

EF
LF

DURASI

Perhitungan ke depan (forward analysis) dilakukan


untuk mendapatkan besarnya Earliest Start (ES)
dan Earliest Finish (EF). Sebagai kegiatan
predecessor adalah kegiatan i dan kegiatan analisis
adalah kegiatan j.
Besarnya nilai Esj dan Efj dihitung sebagai berikut:
ESj = ESi + SSij atau ESj = EFi +FSij
EFj = Esi + SFij atau Efj = EFij + FFij atau ESj+Dj

Catatan:
Jika ada lebih dari satu anak panah yang masuk
dalam suatu kegiatan, makan diambil nilai terbesar.
Jika tidak ada/diketahui FSij atau SSij dan kegiatan
non splitable maka ESj dihitung dengan cara
sebagai berikut : ESj = EFj + Dj

Perhitungan ke belakang (Backward Analysis)


dilakukan untuk mendapatkan besarnya Latest
Start (LS) dan Latest Finish (LF). Sebagai kegiatan
successor adalah kegiatan J, sedangkan kegiatan
yang dianalisis adalah kegiatan I.
FFij

ES
LS

JENIS
KEGIATAN

NO. KEG.

EF
LF

FS
ij

DURASI

ES
LS

JENIS
KEGIATAN

NO. KEG.

SSij
SFij

EF
LF

DURASI

Besarnya nilai LSj dan LFj dihitung sebagai berikut :


LFi = LFj FFij atau LFi = LSj FSij
LSi = LSi SSij atau LSi = LFj SFij atau LFi D
Catatan:
Jika ada lebih dari satu anak panah yang keluar dari
suatu kegiatan, maka diambil nilai terkecil.
Jika tidak ada/tidak diketahui FFij atau Fsij dan kegiatan
non splitable, maka LFj dihitung dengan cara : LFj = LSi
+ Di
Jalur kritis ditandai oleh beberapa keadaan sebagai
berikut:
Earliest Start (ES) = Latest Start (LS)
Earliest Finish (EF) = Latest Finish (LF)
Latest Finish (LF) - Earliest Start (ES) = durasi kegiatan

Kegiatan Splitable :
sebuah kegiatan yang dapat dihentikan sementara
atau harus dihentikan sementara, dan dilanjutkan
kembali beberapa saat kemudian.
Contoh : pengecoran beton untuk elemen struktural
bangunan gedung (balok, kolom, plat lantai).
Float :
Sejumlah waktu yang tersedia dalam suatu kegiatan
sehingga memungkinkan kegiatan tersebut dapat
ditunda atau diperlambat secara sengaja atau tidak
disengaja. Tetapi, penundaan tersebut tidak
menyebabkan proyek menjadi terlambat dalam
penyelesaiannya.
Float dibedakan menjadi dua yaitu total float dan free
float.
Total Float (TF)i = minimum (LSj Efi)
Free Float (FF)i = minimum (ESj EFi)

Pengertian LAG
Link lag adalah garis ketergantungan antara
kegiatan dalam suatu network planning.
Perhitungan lag dapat dilakukan dengan cara:
-. Melakukan perhitungan ke depan untuk
mendapatkan nilai-nilai Earliest Start (ES) dan
Eaerliest Finish (EF).
-. Hitung besarnya Lag.
-. Buatlah garis ganda untuk Lag yang nilainya = 0
-. Hitung Free Float (FF) dan Total Float (TF)
Lag ij = ESj EFi
Free Float i = minimum (Lag ij)
Total Float i = minimum (Lag ij + TFj)

SOAL
1. network planning bila diketahui data barchart seperti table berikut:

N
O

Deskri
psi

P.
Psiapan

P.
Galian
Tnah

P.
Pondasi

P. Bton
Btulang

P.
Psangan

P. Pntu
Jndela

P. Atap

P. Lngitlngit

Minggu
1

10

Penyelesaian dengan metode PDM


LT=1

LT=1
0 0
S
0 0
-

0 2
1
0 2
2

1 23
1 3
2

LT=1

LT=1

345
3 5
2

457
4 7
-

LT=1

789
7 9
LT=1
2

LT=2

678
6 8
2 LT=1

LT=0
235
2 5
3
LT=1

LT=2
LT=0

5 7
6
5 7
2
LT=1

LT=1 7 9
9
7 9
LT=0
2

8 1010
8 10
2