ASKEP KEJANG DEMAM PADA ANAK

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kesehatan anak mempunyai arti penting dalam kehidupan keluarga, mengingat mereka
masih sepenuhnya tergantung pada orang tua atau orang dewasa lain, jika kurangnya
perhatian orang tua terhadap kesehatan anak maka itu akan mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan anak.(hendarson 1997:264)
Demam Kejang merupakan kelainan neurologist yang paling sering dijumpai pada anak
terutama pada golongan anak berumur 6 bulan sampai 4 tahun. Hampir 3 % dari anak yang
berumur dibawah 5 tahun pernah mengalami kejang demam. (Ngastiyah. 2005)
Terjadinya jangkitan demam kejang tergantung kepada umur, tinggi serta cepatnya suhu
tubuh meningkat. Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda, tergantung tinggi
rendahnya ambang kejang seseorang anak akan menderita demam kejang pada kenaikan suhu
tertentu. (Ngastiyah. 1997).
Bangkitan demam kejang merupakan satu manifestasi daripada lepasnya muatan listrik yang
berlebihan disel neuron saraf pusat. Keadaan ini merupakan gejala terganggunya fungsi otak
dan keadaan ini harus segera mendapatkan penanganan medis secara tepat dan adekuat untuk
mencegah terjadinya komplikasi antara lain : Depresi pusat pernafasan, Pneumonia aspirasi,
cedera fisik dan retardasi mental.
Selain dampak biologis, klien juga mengalami pengaruh psikososial. Dalam keadaan ini klien
akan merasa rendah tinggi karena perubahan pada tubuhnya. Klien juga aktivitasnya yang
dapat menimbulkan bahaya bagi anak. .(hendarson 1997:268)
Setelah penulis melihat pasien diruangan Rawat Inap anak RS. Dr. R. Soeprapto cepu lebih
banyak kasus demam kejang dari pada penyakit yang lain. Dan umumnya orang tua kurang
mengetahui dengan keadaan penyakit ini, sehingga banyak anak yang dibawa kerumah sakit
dalam keadaan yang berat. Bedasar kan data yang didapat kan di RS. Dr. R Soeprapto Cepu
tahun 2011. Tepat nya diruangan anak tanggal 1 – 31 Agustus Sekitar 10 orang yang
menderita demam kejang dari 65 orang klien yang dirawat di RS. Dr. R. Soeprapto cepu. Dan
termasuk 10 besar Penyakit yang terbanyak di RS. Dr. R Soeprapto Cepu.

TINJAUAN TEORI

. Bentuk klinis kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu ekstrimitas atau pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai deserebrasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi.1.1. Pada demam kejang terjadi pembahasan sekelompok neuron secara tiba-tiba yang menyebabkan suatu gangguan kesadaran. mendengar musik. dilatasi pupil.1. merasa seakan jatuh dari udara  Gejala psikis. Bentuk kejang tonik yang menyerupai deserebrasi harus di bedakan dengan sikap epistotonus yang disebabkan oleh rangsang meningkat karena infeksi selaput otak atau kernikterus . dapat mencakup satu atau lebih hal berikut ini :  Tanda-tanda motorik kedutaan pada wajah. Kejang Umum. (Ngatsiyah : 1997 ) Demam Kejang merupakan kelainan neurologist yang paling sering dijumpai pada anak tertama pada golongan anak yang berumur 6 bulan sampai 4 tahun. gerak. sensori atau memori yang bersifat sementara. ( Aesceulaplus : 2000 ) Jenis-jenis demam Kejang : 1. Kejang Tonik Kejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan berat badan rendah dengan masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayi dengan komplikasi prenatal berat. mengecap-ngecap bibir. 1. KONSEP DASAR 2.  Kejang Parsial Kejang Persial Sederhana  Kesadaran tidak terganggu. rasa takut  Kejang Parsial Kompleks  Terapat gangguan kesadaran. mengunyah. ( Natsiyah : 2004 ) 2. gerakan mencongkel yang berulang-ulang pada tangan dan gerakan tangan lainnya  Tatapan terpakau. muka merah.  Somotosenoris atau sensori khusus. Defenisi Demam Kejang atau febril convulsion adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rectal diatas 38 o C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium. muntah.2. tangan atau salah satu sisi tubuh umumnya gerakan setiap kejang sama  Tanda atau gejala otomik. berkeringat. walaupun pada awalnya sebagai kejang parsial simpleks  Dapat mencakup otomatisme atau gerakan otomatik.

RSCM Jakarta. bronkhitis. terlokalisasi dengan baik. Kejang berhenti sendiri. Kejang demam sederhana (simple fibrile convulsion) 2. Kriteria Livingstone tersebut setelah dimanifestasikan di pakai sebagai pedoman untuk membuat diagnosis kejang demam sederhana. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan & 4 tahun . tidak disertai gangguan kesadaran dan biasanya tidak diikuti oleh fase tonik. unilateral.1. 2. Gambaran EEG pada kejang mioklonik pada bayi tidak spesifik. Bentuk kejang ini dapat disebabkan oleh kontusio cerebri akibat trauma fokal pada bayi besar dan cukup bulan atau oleh ensepalopati metabolik. Bentuk klinis kejang klonik fokal berlangsung 1 – 3 detik. 2. Kejang Mioklonik Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi lengan atau keempat anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat. untuk itu livingston membuat kriteria dan membagi kejang demam menjadi 2 golongan yaitu : 1. menghadapi pasien dengan kejang demam.2 Manifestasi klinik Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat. serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik. bilateral dengan pemulaan fokal dan multifokal yang berpindah-pindah. Epilepsi yang di provokasi oleh demam epilepsi trigered off fever Disub bagian anak FKUI. yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat : misalnya tonsilitis. mungkin timbul pertanyaan sifat kejang/gejala yang manakah yang mengakibatkan anak menderita epilepsy. otitis media akut. Kejang Klonik Kejang Klonik dapat berbentuk fokal.2. Gerakan tersebut menyerupai reflek moro. yaitu : 1. Kejang ini merupakan pertanda kerusakan susunan saraf pusat yang luas dan hebat.

Kejang dapat terjadi pada setiap orang yang mengalami hipoksemia (penurunan oksigen dalam darah) berat. 2. bahwa system saraf terdiri dari system saraf pusat (sentral nervous system) yang terdiri dari cerebellum. tetapi setelah beberapa detik atau menit anak terbangun dan sadar kembali tanpa deficit neurology. 2. atau demam tinggi. Sering kali kejang berhenti sendiri. (Mary E Muscari) 2. Kadang-kadang demam yang tidak begitu tinggi dapat menyebabkan kejang (Mansjoer. Kejang yang disebabkan oleh gangguan metabolik bersifat reversibel apabila stimulus pencetusnya dihilangkan (Corwin. Sebagian besar kejang berlangusng kurang dari 6 menit dan kurang 80 % berlangsung lebih dari 15 menit. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal 6. ekstensi eksremitas. hipoglikemia. pneumonia. alkalemia. 2001). Kejang bersifat umum. intoksikasi air. Etiologi Penyebab Febrile Convulsion hingga kini belum diketahui dengan Pasti. Setelah kejang berhenti anak tidak memberikan reaksi apapun untuk sejenak.5.2. Kejang unilateral yang lama dapat diikuti oleh hemiparesis yang menetap. Bangkitan kejang yang berlangsung lama lebih sering terjadi pada kejang yang pertama.1.3. 3. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam 5. Antonomi Fisiologi Seperti yang dikemukakan Syaifuddin (1997). otitis media.1.4. Kejang berlangsung hanya sebentar saja. Dan orang tua akan mneggambarkan manifestasi kejang tonik-klonik (yaitu. Kejang tidak selalu tinbul pada suhu yang tinggi. dehidrasi. gastroenteritis dan infeksi saluran kemih. medulla oblongata dan pons . demam sering disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas. Tanda dan Gejala Umumnya demam kejang berlangsung singkat.1. tak lebih dari 15 menit. tonik-kontraksi otot. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya seminggu sesudah suhu normal tidak menunjukkan kelainan. Bentuk kejang yang lain dapat juga terjadi seperti mata terbalik ke atas dengan disertai kelaukan atau hanya sentakan atau kelaukan fokal. 2000). asodemia. Kejang dapat diikuti hemiparesis sementara yang berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari. kehlangan control defekasi dan kandung kemih. sianosis dan hilangnya kesadaran.Frekuensi kejang bangkitan dalam 1th tidak > 4 kali 4. berupa serangan kejang klonik atau toniktonik bilateral.

Fungsi thalamus terutama penting untuk integrasi semua impuls sensorik. maka akan terjadi perubahan-perubahan. hypothalamus berperan penting dalam proses tersebut karena fungsinya yang mengatur keseimbangan suhu tubuh terganggu akibat adanya proses-proses patologik ekstrakranium. system saraf gaib (autonomic nervous system) yang terdiri dari sympatis (sistem saraf simpatis) dan parasymphatis (sistem saraf parasimpatis). Yang termasuk pada ganglia basalis ini adalah : 1) Thalamus Menerima semua impuls sensorik dari seluruh tubuh. Otak berada di dalam rongga tengkorak (cavum cranium) dan dibungkus oleh selaput otak yang disebut meningen yang berfungsi untuk melindungi struktur saraf terutama terhadap resiko benturan atau guncangan. Hypothalamus merupakan daerah penting untuk mengatur fungsi alat demam seperti mengatur metabolisme. alat genital. Fungsi dari cerebrum ialah pusat motorik. Thalamus juga merupakan pusat panas dan rasa nyeri. Bila terjadi gangguan pada tubuh. arachnoid dan piamater. 2) Hypothalamus Terletak di inferior thalamus. Pada setiap hemisfer cerebri inilah yang disebut sebagai ganglia basalis. 3) Formation Reticularis . Cerebrum terdiri dari dua lapisan yaitu : Corteks cerebri dan medulla cerebri. system saraf tepi (peripheral nervous system) yang terdiri dari nervus cranialis (saraf-saraf kepala) dan semua cabang dari medulla spinalis. saraf otonom dan sebagainya. Seperti pada kasus kejang demam. tidur dan bangun. rasa lapar dan haus. Meningen terdiri dari 3 lapisan yaitu duramater. Sebagian kecil substansia gressia masuk ke dalam daerah substansia alba sehingga tidak berada di corteks cerebri lagi tepi sudah berada di dalam daerah medulla cerebri. suhu tubuh. pusat penglihatan / visual. pusat sensorik. pusat pendengaran / auditorik. di dasar ventrikel III hypothalamus terdiri dari beberapa nukleus yang masing-masing mempunyai kegiatan fisiologi yang berbeda.(batang otak) serta medulla spinalis (sumsum tulang belakang). Sistem saraf pusat (Central Nervous System) terdiri dari : a. pusat pengecap dan pembau serta pusat pemikiran. kecuali impuls pembau yang langsung sampai ke kortex cerebri. Cerebrum (otak besar) Merupakan bagian terbesar yang mengisi daerah anterior dan superior rongga tengkorak di mana cerebrum ini mengisi cavum cranialis anterior dan cavum cranialis media. pusat bicara.

X : Nervus Vagus 11) N. XI : Nervus Accesorius 12) N. VIII : Nervus Akustikus 9) N. System saraf parasimpatis ada 2 bagian yaitu : Serabut saraf yang dicabagkan dari medulla spinalis: 1. b. Serebellum Merupakan bagian terbesar dari otak belakang yang menempati fossa cranial posterior.Terletak di inferior dari hypothalamus sampai daerah batang otak (superior dan pons varoli) ia berperan untuk mempengaruhi aktifitas cortex cerebri di mana pada daerah formatio reticularis ini terjadi stimulasi / rangsangan dan penekanan impuls yang akan dikirim ke cortex cerebri. Serabut saraf yang dicabangkan dari medulla spinalis. XII : Nervus Hipoglosus. torakalis. IV : Nervus Troklearis 5) N. lumbal dan seterusnya 2) Ganglion simpatis dan serabut-serabutnya yang disebut trunkus symphatis 3) Pleksus pre vertebral : Post ganglionik yg dicabangkan dari ganglion kolateral. Yang termasuk dalam system saraf simpatis adalah : 1) Pusat saraf di medulla servikalis. I : Nervus Olfaktorius 2) N. II : Nervus Optikus 3) N. System saraf tepi (nervus cranialis) adalah saraf yang langsung keluar dari otak atau batang otak dan mensarafi organ tertentu. Terletak di superior dan inferior dari cerebrum yang berfungsi sebagai pusat koordinasi kontraksi otot rangka. III : Nervus Okulamotorius 4) N. IX : Nervus Glossofaringeus 10) N. Menurut fungsinya system saraf otonom ada 2 di mana keduanya mempunyai serat pre dan post ganglionik yaitu system simpatis dan parasimpatis. VII : Nervus Fasialis 8) N. System saraf otonom ini tergantung dari system sistema saraf pusat dan system saraf otonom dihubungkan dengan urat-urat saraf aferent dan efferent. Serabut saraf yang dicabangkan dari otak atau batang otak 2. VI : Nervus Abducen 7) N. Nervus cranialis ada 12 pasang : 1) N. V : Nervus Trigeminus 6) N. .

dan dipecah menjadi karbon dioksidasi dan air.sifat proses itu adalah oxidasi dengan perantara pungsi paru-paru dan diteruskan keotak melalui system kardiovaskuler. Tetapi kejang yang berlangsung lama lebih 15 menit biasanya disertai apnea. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim NA. Kejang yang yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa.karena itu perbedaan jenis dan konsentrasi ion didalam dan diluar sel.1. Patosiologi Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel / organ otak diperlukan energi yang didapat dari metabolisme. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui oleh ion NA + dan elektrolit lainnya. Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah dengan perubahan konsentrasi ion diruang extra selular. Pada seorang anak sirkulasi otak mencapai 65 % dari seluruh tubuh dibanding dengan orang dewasa 15 %. Sedangkan didalam sel neuron terdapat keadaan sebaliknya. Perubahan dari patofisiologisnya membran sendiri karena penyakit/keturunan. Yang terdiri dari permukaan dalam yaitu limford dan permukaan luar yaitu tonik. rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis. Dan karena itu pada anak tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dalam singkat terjadi dipusi di ion K+ maupun ion NA+ melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepasnya muatan listrik. Berdasarkan hal diatas bahwa energi otak adalah glukosa yang melalui proses oxidasi. ATP yang terdapat pada permukaan sel. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting adalah glucose. K. kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya. kebutuhan O2 dan energi untuk kontraksi otot skeletal yang akhirnya terjadi hipoxia dan menimbulkan terjadinya asidosis .6. Sel dikelilingi oleh membran sel. Maka terdapat perbedaan membran yang disebut potensial nmembran dari neuron. Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi NA+ rendah.2. kecuali ion clorida. Lepasnya muatan listrik ini sedemikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter sehingga mengakibatkan terjadinya kejang. NA meningkat.

1.2.7. Komplikasi .

infark. Untuk menghentikan status kovulsivus diberikan difenilhidantion secara IV 6. Kejang berlangsung lama atau kejang tikal 2.10. Kelainan dalam perkembangan atau kelainan saraf sebelum anak menderita demam kejang 3. abnormalitas neurology. infark serebral atau peningkatan kejang. lesi congenital dan hemoragik 2. Melakukan dan mengajarkan pada keluarga cara kompres panas serta menjelaskan tujuan 4. sehingga terdapat kemungkinan terjadinya edema otak. Riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga 2. Pembedahan. Beri terapi anti konvulsan jika diindikasikan. usia dibawah 1 tahun dan kejang multiple kurang dari 24 jam. Asfiksi 3. MRI (Magnetic Resenance Imaging ) Menentukan adanya perubahan / patologis SSP . Terapi konvulsan dapat diindikasikan pada anak-anak yang memenuhi kriteria tertentu antara lain : kejang fokal atau kejang lama. Pemberian Fenobarbital secara IV 5. Pemeriksaan Diagnostik 1.1. Pila kejang sangat lama. Diberikan kortikosteroid sepeti kortison 20-30 mg/Kg BB atau glukokortikoid seperti deksametason ½ – ampul setiap 6 jam sampai keadaan membaik. terutama untuk pasien yang resisten terhadap pengobatan yang tujuannya :     Memetakan aktivitas listrik di otak Menentukan letak / focus epileprogenik Mengangkat tumor.1. 1997).9.1. Pemberian cairan IV dengan cairan yang mengandung glukosa 2. Pertahanan suhu tubuh stabil 2. Menjelaskan cara perawatan anak demam 3. hidrocepalus. 2. Retardasi mental Komplikasi tergantung pada : 1. Aspirasi 2.1. edema. kelainan otak lainnya Namun pembedahan dapat meninbulkan berbagai komplikasi lain : edema serebral. derajat pertama. 3. 2. kejang tanpa demam. Penatalaksanaan Medis 1. Berikan diazepam secara IV / Rectal untuk menghentikan kejang 4.8. Untuk mengetahui adanya keadaan patologis di otak : tumor. Penatalaksanaan Keperawatan 1. (Ngastiyah. hemoragi.

Riwayat Kesehatan Keluarga Faktor resiko demam kejang pertama yang penting adalah deman. Pemeriksaan Fisik a. rambut klien tipis. Ekstremitas : terpasang cairan infuse di tangan kanan dengan cairan RL. mukosa mulut kering. 1995). Identitas Klien Nama. selain itu terdpat factor herediter.2. konjungtiva anemis b. Dada : simetris kiri. Riwayat Kesehatan Riwayat Kesehatan Sekarang Klien mengalami peningkatan suhu tubuh >380C. tidak ada luka lesi. Genitalia : tidak ada keluhan g. skelera tidak iketrik. faktur. Leher : tidak terdapat pembengkakan kelenjar tiroid ( tidak ada kelainan).1. ASUHAN KEPERAWATAN 2. 3. turgor kulit jelek ± 3 detik. terdenngar bising usus e. c. Tanda-tanda vital . peningkatan nadi. inkontinesia baik urine ataupun fekal. kekuatan otot f. tidak tertaba massa d. alamat dan diagnosa medis serta tanggal masuk 2. 2. pekerjaan orang tua. Kepala : kulit kepala bersih san beruban. jenis kelamin. Pengkajian 1. Pemeriksaan Metabolk (Pemeriksaan Laboratorium ) Meliputi :      Glukosa darah Kalsium fungsi ginjal dan hepar Pemeriksaan adanya infeksi : test widal. c. adanya riwayat alergi dan adanya infeksi. Rontgen Tengkorak. EEG Sangat bermanfaat untuk menentukan diagnosa kejang dan menentukan lesi serta fungsi neurology (Ngastiyah. lumbal fungsi Kecepatan sedimentasi. mual / muntah yang berhubungan dengan aktivitas kejang. Riwayat Kesehatan Dahulu Adanya klien riwayat terjatuh / trauma. a. apnea. nama orang tua. hitung platelet Pemeriksaan serologi imunologi 5. Tidak banyak mebantu untuk mendiagnosa aktivitas kejang kecuali untuk mengetahui adanya fraktur 4. Klien akan merasa nyeri otot dan sakit kepala.3. abdomen : distansi abdomen. sensitivitas terhadap makanan. keletihan dan kelemahan umum. pendidikan orang tua. b.1. umur.kanan.

MRI (Magnetic Resenance Imaging ) Menentukan adanya perubahan / patologis SSP c. apnea. 5. permintaan sederhana. peingkatan mucus.  Sirkulasi : Hipertensi. kecemasan perpisahan orang terdekat.2000) a. kelihatan kurus. b. menyebutkan warna benda. paham dengan arti larangan berespon terhadap panggilan. makan sendiri. lumbal fungsi Kecepatan sedimentasi. Pemeriksaan Penunjang a. menggunakan sendok. Perkembangan (Motorik. infark. kognitif berkembang. CT-Scan Untuk mengetahui adanya keadaan patologis di otak : tumor. Tingkat pertumbuhan dan perkembangan pada anak balita (0-5 tahun) (Smeltzer. menagis bial dimarahi. melambaikan tangan. Suhu tubuh klien meningkat lebih dari 37’5 C  Pernapasan : Gigi mengatup. mengenali semua anggota keluarga. kesulitan makan. . lesi congenital dan hemogragik. menyebutkan empat gambar dan warna. menggoyangkan jari kaki. mengerti kata sifat.2. edema.1. menirukan berbagai bunyi kata. inisiatif dan mampu identifikasi identitas diri. pernapasan menurun / cepat. b. tapi aktifitas motorik tinggi. mmebutuhkan pengalaman belajar. hitung platelet Pemeriksaan serologi imunologi 2. Diagnosa Keperawatan . 4. bahasa. siasonosis. TB 6-7 cm / tahun. Pemeriksaan Metabolk (Pemeriksaan Laboratorium ) Meliputi :      Glukosa darah Kalsium fungsi ginjal dan hepar Pemeriksaan adanya infeksi : test widal. Pertumbuhan Pertambahan BB 2 kg / tahun pada usia 21 bulan. peningkatan nadi. kognitif) Berdiri satu kaki. system tubuh matang (berjalan dan lompat). Rontgen Tengkorak Tidak banyak mebantu untuk mendiagnosa aktivitas kejang kecuali untuk mengetahui adanya fraktur 6. menjepit benda. mengambar acak. eliminasi mandiri.

Mengkaji lingkungan / situasi yang dapat membahayakan anak saat kejang 3. Peningkatan suhu tubuh b/d status metabolic 5. Resiko kejang demam berulang berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh 2. Kurang pengetahuan behubungan dengan kurangnya informasi 7. obstruksi lidah dan benda asin 3. memahami tentang kesehatannya dan tetap berinteraksi dengan teman-teman .2. Anak dan keluarga memahami tentang tearpi pengobatan dan bisa mengidentifikasi faktorfaktor akibat pengobatan 5. Anak dan keluarga memahami tanda dan tingkah laku yang menyebakan kejang 2. Konsep diri : Body image.2. reaksi negative dari lingkungan terhadap penyakit 6. Implementasi Implimentasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan.Berdasarkan data pengkajan. diagnosa keperwatan utama pasien dapat meliputi yang berikut : (Doenges E.2. Resiko tinggi injury berhubungan dengan aktivitas motorik dan hilangnya kesadaran selama kejang 2. Implementasi dilakukan sesuai dengan kebutuhan klien dan dapat diterima oleh klien itu sendiri dan keluarga klien Jenis tindakan pada implimentasi ini terdiri dari tindakan :  Independent  Dependent  Interdependent 2. Marilynn. harga diri berhubungan dengan kehilangan control tubuh. Keluarga merasa tenang dan mengerti tentang kondisi anaknya 6. Keluarga mampu melakukan manajemen perawatan anak-anak selama kejang 4. Anak merasakan bahagia. Implementasi keparawatan disesuaikan dengan rencana keperawatan yang telah disusun. Gangguan perfusi serebral b / d peningkatan tekanan intracranial 4. Evaluasi Keefektifan intervensi keparawatan pada anak dengan kejang dapat dilakukan dengan pengkajian secara terus menerus dan evaluasi terhadap asuhan yang dapat di observasi : 1.3. Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan penumpukan mucus.2002) 1.