You are on page 1of 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
HIV / AIDS di Indonesia semakin menjadi salah satu masalah
kesehatan masyarakat dan telah mengalami perubahan dari epidemik
renah, menjadi epidemik terkonsentrasi yaitu persentase Kumulatif
Kasus AIDS Menurut Faktor Risiko pada tahun 2011 tertinggi ditemui
melalui hubungan sex Heteroseksual (71%), Penasun (18,7%), LSL
(3,9%), dari Ibu ke Anak (2,7%), Darah Donor dan Produk Darah
Lainnya (0,4%), dan Tidak Diketahui (3,3%). Pemerintah serius
menangani

masalah

meningkatnya

jumlah

HIV/AIDS.
orang

Hal

yang

ini

terlihat

diperiksa,

dari

semakin

seiring

dengan

meningkatnya jumlah layanan Konseling dan Tes HIV di Indonesia.


Jumlah kasus HIV positif yang ditemukan pada penduduk yang
melakukan Konseling dan Tes HIV adalah 859 orang HIV positif tahun
2005, 21.591 orang tahun 2010, dan 21.031 orang tahun 2011. Selain
itu angka kematian (Case Fatality Rate=CFR) AIDS menurun dari
4,5% pada tahun 2010 menjadi 2,4% pada tahun 2011. Data di RSAB

Harapan Kitadari bulan januari sampai mei 2012 ibu dengan sida HIV
AIDS berjumlah 3 orang.
Anak merupakan generasi penerus masa depan bangsa
dimana anak merupakan asset bangsa yang perlu dijaga kualitasnya
baik dari segi pendidikan maupun kesehatan. Dalam meningkatkan
derajat kesehatan anak salah satunya dengan meningkatkan upaya
pencegahan dan penanganan masalah HIV/AIDS pada anak dimana
jumlahnya semakin meningkat setiap tahun.
Asuhan keperawatan bagi bayi yang terinfeksi HIV/AIDS
beserta penyakit yang menyertainya sama saja dengan asuhan yang
diberikan kepada pasien lainnya. Oleh karenanya perawat serta
petugas kesehatan yang berkepentingan harus memiliki ketrampilan
yang memadai dalam memberikan asuhan keperawtan kepada pasien
secara

bertanggung

jawab.

Oleh

karena

itu

perlu

diadakan

penyegaran yang dapat diperoleh dari diskusi, seminar, pelatihan, dan


lain-lain.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui dan meningkatkan pengetahuan bagi tenaga


kesehatan mengenai asuhan keperawatan pada bayi baru lahir
dengan ibu sida HIV/AIDS.
2. Tujuan Khusus
a. Peserta mengetahui
penyakit,

tanda

dan

dan

memahami

gejala,

tentang

proses

perjalanan

penularan

dan

penatalaksanaan pada bayi baru lahir dengan ibu sida


HIV/AIDS.
b. Peserta mengetahui cara-cara prevensif, promotif, kuratif dan
rehabilitas pada bayi baru lahir dengan ibu sida HIV/AIDS

C. Ruang Lingkup Bahasan


Dalam kesempatan ini kami mebahas makalah dengan judul
ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI Y DENGAN NKB SMK
GESTASI 31 MINGGU, IBU DENGAN SIDA HIV/AIDS DI RUANG
3

SERUNI RSAB HARAPAN KITA, mulai tanggal 27 mei 2012 29 mei


2012.

D. Metode Penulisan
Dalam pembuatan kasus ini kami memperoleh data melalui
wawancara, observasi, dan pengukuran. Data dikumpulkan dari
catatan medis, catatan tim kesehatan lain dan perawat di ruang seruni.
Untuk menyusun tinjauan teoritis, kami menggunakan beberapa buku
sumber dan diklat sebagai acuan serta perbandingan.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep dasar
1. Definisi / pengertian
Acquired Immunodeficiency

Syndrom

(AIDS)

merupakan

sekumpulan gejala penyakit yang timbul akibat menurunnya system


kekebalan tubuh manusia yang didapat. (makalah Modul Pelatihan
NICU, 2012)
AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan
oleh human Immunodeficiency Virus (HIV) ditemukan dalam cairan
5

tubuh terutama pada darah, cairan sperma, cairan vagina, air susu ibu.
Virus tersebut merusak sistem kekebalan tubuh manusia dan
mengakibatkan turunnya dan hilangnya daya tahan tubuh sehingga
mudah terjangkit penyakit infeksi (Komisi penaggulangan AIDS,
Kementrian Koordinatur Bidang Kesejahteraan rakyat RI, 2004).
Virus HIV adalah retrovirus yang termasuk golongan virus RNA
yaitu virus yang menggunakan RNA sebagai molekul pembawa
informasi

genetik

(Komisi

Penanggulngan

AIDS/

Kementrian

Koordinator).
2. Patofisiologi

Virus
HIV

Tidak
Langsung

Langsung

Hubungan Sex
tanpa kondom
dengan
seorang
pengidap HIV

Penggunaan
Jarum suntik
yang tidak
steril dari
seorang
pengidap HIV

Dari
pengidap
HIV ke bayi

Transfusi
darah yang
terkotamina
si virus HIV

Alat medik
yang
tercemar
virus HIV

Masuk kedalam tubuh manusia


Virus mulai mereplikasi diri didalam sel (sel T CD4 dan makrofag)
Mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dengan menghasilkan antibody HIV
Berkurangnya kekebalan tubuh

Infeksi AIDS

Berkurangnya CD4 + limfosit Pembantu


Infeksi Opportunitis (gangguan fungsi immunologis)

Respiratory Gastrointestinal

Integumen

Neurologik

3. Etiologi
Infeksi Human Immonodeficiency Virus (HIV)
Cara penularan
a. Hubungan seksual, dengan resiko penularan 0,1 1 % tiap
hubungan seksual
b. Melalui darah

Transfusi darah yang mengandung HIV, resiko penularan 90

98 %
Tertusuk jarum yang mengandung HIV, resiko penularan 0,03 %
Terpapar mukosa yang mengandung HIV, reskio penularan

0,0051 %
c. Transmisi dari ibu ke bayi
- Selama kehamilan
- Saat persalinan, resiko penularan 50 %
- Melalui air susu ibu (ASI) 14 %
4. Manifestasi Klinik
Gejala umum yang sering ditemukan pada bayi dan anak dengan
infeksi HIV adalah
- Gangguan tumbuh kembang
- Berat badan menurun
- Demam
- Diare kronik
- Kandidiasis oral yang sering kambuh (merupakan tanda yang
-

muncul pertama pada inveksi HIV)


Hepatosplenomegali (pembesaran kelenjar getah bening dan

hati)
Gangguan Neurologis
Keterlambatan perkembangan mental
Infeksi otak
Infeksi oportuninistik (bersamaan penurunan imunitas)

5. Pemeriksaan deknostik
- ELISA (Enzime linkel immunosarbent assay)
Untuk mengidentifikasikan antibody HIV
- Western Blot test
Untuk mendeteksi rantai protein yang spesifik terhadap DNA
- I O (infeksi oportunistik)
- PCR untuk mendeteksi DNA dan RNA virus HIV yang sensitif
-

dan spesifik untuk infeksi HIV


CD4
CD8

6. Komplikasi
- Penyakit paru-paru : TB dan pneumonia
- Infeksi jamur berulang di kulit, mulut dan tenggorokan
- Diare kronis dengan penurunan berat badan
- Demam tanpa sebab yang jelas
- Infeksi neurologic (meningitis).
7. Penatalaksanaan / pencegahan
WHO mengupayakan 4 (empat) prong/pilar untuk mencegah
terjadinya penularan HIV dari ibu ke bayi yang dilaksanakan secara
komperhensif yaitu :
a. Mencegah terjadinya penularan HIV pada perempuan usia
reproduktif.
b. Mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu HIV positif.
c. Mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu hamil HIV positif ke
bayi yang dikandungnya.
d. Memberikan dukungan psikologis, sosial dan peawatan kepada ibu
HIV positif beserta bayi dan keluarganya.

B. Konsep Asuhan keperawatan


1. Pengkajian
a. Riwayat maternal
- Usia ibu
- ANC (Antenata care)
- Penyakit ibu
- Sosial ekonomi
- Hasil laboratorium : darah rutin, urin rutin, CD4
b. Riwayat kelahiran
- Masa gestasi
- Apgar score
- Berat badan
- Kelainan kongenita
c. Pemeriksaan fisik
Sistem neurologi
- Kesadaran
- Aktivitas
Sistem pernapasan
- Suara napas
- Ekspansi dada
- Frekuensi napas
Sistem cardiovaskuler
- Irama jantung
- Bunyi jantung
-Tekanan darah
Sistem gastrointestinal
- Reflek isap
- Reflek telan
- Karakteristik abdomen
- BAB
Sistem reproduksi
Sistem integument
2. Diagnosa Keperawatan
Adapun diagnosa keperawatan, yang dapat timbul dari masalah
aktual dan resiko tinggi dari bayi baru lahir yaitu :
1. Risiko infeksi berhubungan dengan transmisi sumber infeksi ke
bayi sebelum, selama dan setelah kelahiran.
10

Tujuan : mengidentifikasi bayi terinfeksi HIV


Kriteria hasil :
- Tidak ada tanda tanda infeksi
- Hasil laboratorium normal
2. Risiko gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan intake yang kurang adekuat.
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil
- Berat badan tidak turun > 10 %
- Tidak kembung, muntah, residu
- Tidak oedema
- Bising usus normal
- Albumin, protein, dan elektrolit normal
3. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kurang informasi
tentang perawatan bayi yang terinfeksi HIV.
Tujuan : kecemasan berkurang
Kriteria hasil :
- Orang tua berpartisipasi dalam merawat anak
- Orang tua berkonsultasi dengan tim HIV di rumah sakit dan
tim dokter yang merawat bayinya.
4. Risiko gangguan termoregulasi hipotermi berhubungan dengan
belum matangnya pusat pengaturan suhu (hipotalamus).
Tujuan : suhu tubuh dalam batas normal yaitu 36,5 0c - 37,5 0c.
Kriteria hasil :
- Akral hangat
- Suhu tubuh dalam batas normal
- Tidak sionosis
5. Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan denga
diare
Tujuan : Kebutuhan cairan dalam batas normal
Kriteria hasil : tidak ada tanda tanda dehidrasi.
6. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan proses infeksi
pada jaringan paru.

11

Kriteria hasil : tidak terjadi sinosis, frekuensi pernapasan normal


sesuai umur, gas darah dalam batas normal, jalan nafas tidak
ada gangguan.

3. Intervensi
a. Risiko infeksi berhhubungan dengan transmisi sumber infeksi
ke bayi sebelum, selama dan setelah kelahiran.
Intervensi :
- Kaji faktor risiko
- Observasi tanda-tanda infeksi
- Monitor tanda-tanda vital
- Rawat bayi dalam lingkungan therma neutral
- Lakukan tindakan aseptic
- Kolaborasi pemeriksaan laboratorium dengan pemberian obat
- Pisahkan alat-alat yang dipakai klien, rendam dengan clorin
0,5 %
b. Resiko gangguan pemenuan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan intake yang kurang adekoat.
Intervensi :
- Hitung kalori
- Kaji toleransi minum
- Timbang berat badan tiap hari
- Hitung intake dan output
- Kolabborasi pemberian susu formula
- Kolaborasi laboratorium : GDS, elektrolit, protein, albumin,
lipid.
c. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kurangnya
informasi tentang perawatan bayi yang terinfeksi HIV
Intervensi :
- Kaji tingkat pengetahuan orang tua
- Bina hubungan saling percaya

12

- Beri informasi tentang AIDS


- support orang tua untuk selalu konsultasi dengan tim HIV /
AIDS
d. Resiko gangguan thermoregulasi, hipotermi berhubungan
dengan

belum

matangnya

pusat

pengaturan

suhu

(hipotalamus)
Intervensi :
- Monitoring suhu tubuh tiap 3 jam
- Ganti pakaian basah
- Ganti pempers tiap BAB dan BAK
- Beri selimut hangat
- Pasang dan beri lampu penghangat
- Pertahankan suhu ruangan normal
- Skin to skin contak
e. Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan
diare
Intervensi :
- Kaji tanda tanda vital
- Kaji tanda-tanda dehidrasi
- Monitor intake dan output
- Timbang berat badan setiap hari
- Kolaborasi dalam pemberian therapy
f. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan proses infeksi
pada jaringan paru
Intervensi :
- Observasi tanda-tanda vital
- Kaji suara napas,pola napas,penggunaan otot dada dan
adanya sianosis
- Berikan posisi semi fowler atau di tinggikan tempat tidur
- Beri oksigen sesuai instruksi medik
- Kolaborasi dalam pemberian therapy
4. Evaluasi (SOAP)
Evaluasi adalah bagian terakhir dari proses keperawatan,
dengan evaluasi keperawatan, perawat dapat mengtahui sejauh
13

mana

tujuan

keperawatan

berhasil

atau

tidak,

dan

untuk

melakukan pengkajian ulang sehingga dapat memutuskan apakah


rencana keperawatan dapat dihentikan, dilanjutkan dan diperbaiki.
Evaluasi terdiri dari evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
Evaluasi formatif merupakan evaluasi yang dilakukan terus
menerus untuk menilai hasil dari setiap tindakan yang telah
dilakukan. Sedangkan evaluasi sumatif merupakan evaluasi yang
dilakukan sekaligus pada akhir semua tindakan keperawatan yang
dilakukan. Untuk memudahkan pendokumentasian pencapaian
tujuan digunakan SOAP yaitu subjektif, objektif, assessment, dan
plaining.

BAB III
TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian
14

Data demografi
1. Pasien meliputi
Nama
Nomor MR
TTL
Jenis Kelamin
Tanggal masuk RS
Ruang rawat
Alamat
Tanggal pengkajian

: Bayi Y
: 69 67 67
: Jakarta, 0 Mei 2012
: Perempuan
: 02 Mei 2012
: Seruni
: Jakarta barat
: 27 Mei 2012, Umur bayi 25 hari,
hari rawat 26 hari
: NKB SMK Gestasi 31 minggu,
Ibu dengan sida

Diagnosa Medis
2. Orang tua
Ibu dan ayah meliputi
Ibu
Nama
Umur
Agama
Bangsa
Golongan darah
Pekerjaan
Ayah
Nama
Umur
Agama
Bangsa
Golongan darah
Pekerjaan

: Ny. A
: 32 Tahun
: Kristen
: Indonesia
: AB RH (+)
: IRT
: Tn. D.A
: 38 Tahun
: Kristen
: Indonesia
:A
: Swasta

3. Riwayat kehamilan dan kelahiran


- Riwayat Antenatal
Ibu dengan G1 P0 A0, usia gestasi 31 minggu dan memeriksa
kehamilannya secara teratur di dokter A.L, Ibu dengan sida dan
sudah berobat selama 5 tahun dengan therapy ARV (Staviral
-

Aluvia dan Iviral).


Riwayat kelahiran

15

Bayi lahir pada tanggal

2 mei 2012 jam 08.15 WIB

dengan partus spontan, letak belakang kepala di RSAB


Harapan Kita Jakarta dengan usia gestasi 31 minggu nilai apgar
menit pertama 9 dan menit ke lima 9, berat badan lahir 1416
gram, panjang badan 42 cm, lingkar kepala 28 cm, lingkar dada
27 cm, lingkar lengan 7 cm. ketuban jernih, plasentah utuh dan
tidak ditemukan cacat. Bayi kemudian dibawah ke ruang transisi
untuk dilakukan pemeriksaan dan identifikasi. Jam 09.00 Wib,
bayi menagis merintih, saturasi O2 (Sa O2) 88 % - 90 %, lapor
-

dokter jaga instruksi bayi masuk ke ruang kemuning.


Riwayat penyakit masa lalu
Jam 09.10 Wib bayi masuk ke ruang kemuning dari transisi usia
gestasi 31 minggu dengan saturasi O 2 (Sa O2) 88 % - 90 %,
instruksi langsung dipasang NCPAP dengan peep 8, flow 5, Fi
O2 0,21 %, pengambilan darah untuk pemeriksaan GDS, AGD,
KD, golongan darah dan puasa. Terapi yang didapat infus
Dextrose 10 % + Ca glukonas 3,6 ml/jam, AA 6 % 1 ml/jam, dan
dirawat dalam incubator. Jam 12.00 Wib bayi di rontgen, jam
14.30 Wib hasil laboratorium di konsulkan ke dokter atas
instruksi dengan tim sida bayi mendapat terapi nevirapin 1 X 2,8
mg (singledose), zidovudin 2 X 2 mg selama 15 hari.
Dalam perawatan di kemuning bayi juga sempat apnoe dengan
HR 88 X / menit, Sa O2 60 %, akral dingin dan kebiruan. Bayi

16

juga

sempat

dilakukan

pemeriksaan

USG

kepala

juga

mendapat perawatan light theraphy.


Tanggal 7 mei 2012, bayi pindah perawatan di ruang seruni.
Dalam perawatan di ruang seruni bayi pucat, sianosis, ada
periode apnoe, atas instruksi dokter bayi dipindahkan kembali
ke ruang kemuning. Perawatan di ruang kemuning dengan
menggunakan NCPAP dan pengobatan lanjutan. Kedaan bayi
mulai membaik pada tanggal 20 mei 2012, lalu dipindahkan
kembali ke ruang seruni dengan therapy dilanjutkan yaitu infus
AA 6 % 3,5 ml/jam dan diet SF pregistemil 10 X 27, 5 cc/OGT.
4. Pemeriksaan FIsik
Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 27 mei 2012.
a. Sistem Neurologi
Keadaan bayi sadar, respon membuka mata ada, gerakan
aktif, tangis kuat, ubun-ubun datar, tidak ada kelainan pada
kepala, lingkar kepala 28 cm, kejang tidak ada dan berespon
terhadap cahaya.
b. Sistem Pernapasan
Bayi bernapas spontan, RR 44 X / menit teratur dan kuat,
tidak ada retraksi dada dan pernapasan cuping hidung, tidak
ada sesak, sianosis, ronchi, wheezing.
c. Sistem Cardiovaskuler
Bunyi jantung normal HR 144 X / menit ekstermitas hangat,
tidak sinosis, denyut arteri femoralis kiri dan kanan sama
kuat, capileri refill time (CRT) < 3 detik, terpasang infus
perifer AA 6 % 1, 8 ml/jam.
17

d. Sistem gastrointestinal
Berat badan lahir 1416 gram, berat badan sekarang 1520
gram, mukosa mulut lembab, turgor kulit elastis, terpasang
OGT untuk diet SF pregestimil 10 X 25 cc, tidak muntah,
abdomen supel, tidak ada kembung, bayi ada BAB dan
BAK, bising usus normal.
e. Sistem Integumen
Akral hangat, warna kulit merah, suhu bayi 36, 7 0c dengan
suhu incubator 31 0c, turgor kulit elastis dan tampak bersih,
tidak ada secret pada mata, tali pusat sudah puput, daerah
perineal tidak lecet.
f. Sistem reproduksi
Bayi perempuan, vagina bersih
g. Sistem eliminasi
BAK
: warna kuning
Jumlah 6,2 cc / kg bb / jam
BAB
: ada anus, frekuensi 2-3 X / hari, konsistensi
Kuning lembek.
5. Data Penunjang
Tanggal 28 mei 2012
Hasil Laboratorium : CRP 1,1 mg/dl
Darah lengkap : HB 10,4 g %
Hemotokrit 30 %
Trombosit 469.000
Leukosit 9700/u
Darah tepi : Basofil 1
Eosinofil 1
Batang
N segmen 13
Limfosit 46
Monosit 7

18

6. Analisa data
N
o

Tanggal
27 Mei
1 2012

Data

Masalah

DS :
DO : BBL 1416 gram mukosa
bibir lembab, turgor kulit elastis
terpasang OGT, untuk diet SF p
10 X 27, 5 cc, tidak ada residu,
reflek isap lemah, reflek menelan
lemah, tidak muntah, tidak
kembung, abdomen supel, bising
usus normal16 X / menit.
Terpasang
infus AA 6 % 1,8 ml/jam

27 Mei
2 2012

27 Mei
3 2012

DS :
DO : warna kulit merah, akral
hangat
s: 36,7 C dengan suhu inubator
31 C, HR 144 X / menit, tidak
sianosis, tidak muntah, tidak
Kembung
DS :
DO : akral hangat, suhu 36,7 C
dengan risiko inkubator 31 C
HR 144 X / menit, RR 144 X /
menit,
tidak muntah, tidak kembung,
tidak sianosis, reflek isap lemah,
reflek menelan, terpasang infus
AA
6 % 1,8 ml/jam, tidak plebitis, tali
pusat sudah puput, tidak ada

19

Resiko
gangguan
kebutuhan
nutrisi kurang
dari kebutuhan
tubuh

Risiko
gangguan
termoregulasi
hipotermi

Risiko infeksi

sekret pada mata, hasil


laboratorium, CRP : 1,1 mg /dl.
27 Mei
4 2012

DS :
DO : warna kulit merah, akral
hangat
suhu 36,7 C dengan suhu
inkubator
31 C, kulit tampak bersih, kepala
bersih, turgor kulit elastis,
terpasang
infus 6 % 1,8 ml/jam, tidak ada
Phlebitis

Risiko
gangguan
integritas kulit

7. Masalah Keperawatan
1. Risiko gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh
2. Risiko gangguan thermoregulasi hipotermi
3. Risiko infeksi
4. Risiko gangguan integritas kulit
B. Diagnosa keperawatan
1. Risiko infeksi berhubungan dengan transmisi sumber infeksi ke
bayi sebelum, selama, dan setelah kelahiran.
2. Risiko gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake yang kurang adekuat.
3. Risiko gangguan thermoregulasi hipotermi berhubungan
dengan

belum

matangnya

(hipotalamus).

20

pusat

pengaturan

suhu

C. Intervensi, implementasi dan evaluasi


1. Diagnosa 1
Tujuan : mengidentifikasi bayi terinveksi HIV AIDS.
Kriteria hasil : tidak ada tanda tanda infeksi, hasil labor normal
Intervensi :
- Observasi tanda tanda infeksi
- Kaji faktor penyebab infeksi
- Observasi tanda tanda vital
- Rawat dalam lingkungan thermo neutral
- Pisahkan alat alat yang dipakai dan rendam dalam larutan
bayclin 0,1 %
- Kolaborasi pemeriksaan laboratorium dan pemberian obat
Implementasi tanggal 27 mei 2012
Jam 08.00 Wib
1. Mengobservasi tanda tanda infeksi
Hasil : bayi sadar, napas spontan, tidak sesak, tidak
sianosis, abdomen supel, tidak muntah, tidak kembung,
akral hangat.
2. Mengobservasi tanda tanda vital
Hasil : suhu 36,7 0C denagn suhu incubator 31 0C RR 44 X /
menit, HR 144 X / menit, SaO2 94 %, tensi darah 68 / 33
3.
4.
5.
6.

mmHg (MAP 42).


Mengobservasi tanda tanda phlebitis pada area infus.
Hasil : tidak ada plebitis
Merawat bayi dalam incubator di ruangan isolasi.
Melakukan tindakan aseptik setiap tindakan.
Hasil : tidak terjadi infeksi yang lebih luas.
Memisahkan alat alat yang dipakai dan rendam dalam
larutan bayclin 0,1 %.
Hasil :
- thermometer direndam dalam larutan bayclin 0,1 % selama
3 menit

21

- bekas selimut bayi dimasukan dalam kantung plastik


kuning
7. Mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi
Hasil : tangan bersih dan bebas dari kuman
8. Melakukan kolaborasi untuk pemeriksaan laboratorium dan
pemberian obat.
Hasil :
-CRP + darah rutin ulang
-Pemberian Obat : Prepulsid 3 X 0,2 mg
Aktavol 1 X 0,2 cc
Cotrimoxazole 1 X 8 mg
Zidovudin 4 X 3,2 mg

2. Diagnosa 2
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria :
- Berat badan tidak turun
- Tidak kembung
- Tidak muntah
- Tidak ada residu
- Reflek isap dan menelan baik
- Bising usus normal
- Tidak ondema
Intervensi :
- Timbang berat badan setiap hari
- Pasang OGT jika perlu
- Observasi reflek isap danmenelan
- Monitor toleransi minum
- Hitung intake dan output
- Hitung kebutuhan kalori
- Hitung pengeluaran Urin
Implementasi : 27 Mei 2012
Jam 09.00 Wib
1. Menimbang berat badan
Hasil : berat badan 1527 gram (naik 27 gram)
2. Mengecek keberadaan / posisi OGT
Hasil :

22

- OGT berada pada daerah lambung


- Bising usus positif
3. Mengecek residu
Hasil : tidak terdapat cairan residu
4. Member minum SFp 10 X 27,5 cc/OGT
Hasil : intoleransi minum baik, tidak muntah, tidak kembung,
abdomen supel
5. Mengobservasi cairan infus AA 6%
Hasil : infus AA 6% 0,7 ml/jam jalan baik
6. Menghitung kebutuhan kalori dalam 24 jam
Hasilnya : kebutuhan kalori 224 kkal / 24 jam
7. Menghitung balance cairan
Hasil :
8. Menghitung urine output
Hasil : dieresis 3,6cc/kgbb/jam, balance cairan kurang lebih
37,4/7jam
3. Diagnosa 3
Tujuan : tidak ada tanda tanda hipotermia
Kriteria hasil :
- Suhu tubuh dalam batas normal
- Akral hangat
- Tidak sianosis
Intervensi :
- Observasi suhu bayi
- Kaji adanya tanda-tanda hipotermi
- Rawat bayi dalam incubator
- Moitor suhu incubator
- Ganti pempers tiap 3 jam
- Perawatan bayi dengan metode kanguru / KMC
Implementasi : 27 Mei 2012
Jam 09.00 Wib
1. Mengukur suhu bayi
Hasil : 36,7 0C dengan suhu incubator 31 0C
2. Mengganti pampers
Hasil : BAB, BAK normal
3. Mengganti pakaian basah
Hasil : selimut bayi selalu dalam keadaan kering
D. Catatan perkembangan
Tanggal 28 Mei 2012, Jam 14.00 WIb
23

1. Diagnosa 1
S:O : Bayi sadar, gerakan aktif, tangis kuat, napas spontan, tidak
sesak, abdomen supel, tidak kembung, tidak muntah, BAB dan
BAK normal
Terpasang infus AA 6% 0,7 ml/jam, tidak phlebitis, suhu 36,7 0C,
HR 140 X / menit, RR 48 X / menit, SaO2 91%.
Hasil laboratorium :
- CRP 1,1 mg/dl
- Darah lengkap : HB 10,4 g/dl
Hemotokrit 30%
Trombosit : 469000
Leukosit : 9700/u
- Darah tepi : Basofil 1
Esionofil 1
Batang
N. Segmen 13
Limposit 46
Monosit 7
- Kolaborasi dengan dokter
Instruksi : dapat therapy
A : Masalah tidak menjadi actual
P/I : Lanjutkan intervensi keperawatan
2. Diagnosa 2
S:O:
-Berat badan sekarang 1525 gram (berat badan menurun 2
gram).
-Terpasang OGT untuk diet SFp 10 X 27,5 cc
-Abdomen supel tidak kembung, tdak muntah, tidak ada residu
-Ada BAB dan BAK.
A : Masalah tidak menjadi actual
24

P/I : Lanjutan intervensi keperawatan


3. Diagnosa 3
S:O : Akral hangat, suhu 36,7 0C, dengan suhu inkubator 31 0C,
HR 140 X / menit, RR 48 X / menit, SaO 2 93%, mengganti
pampers ada BAB dan BAK
A : maslah tidak menjadi aktual
P/I : Lanjutkan intervensi keperawatan
Tanggal 29 Mei 2012, jam 14.00 Wib
1. Diagnosa 1
S:O : Bayi nafas spontan, tidak sianosis, tidak sesak, tidak ikterik,
abdomen supel, tidak kembung, tidak muntah, akral hangat. Suhu
37 0C HR 150 X / menit, RR 46 X / menit, SaO2 90%.
A : Masalah tidak menjadi actual
P/I : Lanjutkan intervensi keperawatan.
2. Diagnosa 2
S:O : Berat badan sekarang, 1550 gram (berat badan meningkat 25
gram). Terpasang OGT untuk diet SFp 10 X 30 cc, tidak ada residu,
tidak muntah, tidak kembung, ada BAB dan BAK, deuresis 6,9 cc
/kgbb/jam, balance cairan kurang lebih 12cc/7 jam.
A : Masalah tidak menjadi aktual
P/I : Lanjutkan intervensi keperawatan
3. Diagosa 3
S:O : Akral hangat, suhu 37 0C dengan suhu inkubator 30 0C, HR 150
X/ menit, RR 46 X / menit, SaO2 92%, tidak sianosis.
A : masalah tidak menjadi actual
P/I : lanjutkan intervensi keperawatan

25

Tanggal 30 Mei 2012 Jam 14.00 Wib


1. Diagnosa 1
S:O : bayi nafas spontan, tidak sionosis, tidak sesak, tidak ikterik,
abdomen supel, tidak kembung, tidak muntah, akral hangat. Suhu 36,9
0

C, dengan suhu inkubator 30,3 0C, HR 156 X / menit, RR 46 X / menit,

ada BAB dan BAK.


A : Masalah tidak menjadi actual
P/I : - Lanjutkan intervensi keperawatan
-Orang tua besok ingin berkonsultasi dengan dokter
2. Diagnosa 2
S:O : Berat badan sekarang 1565 gram ( berat badan meningkat 15
gram), terpasang OGT untuk diet SFp 10 X 30 cc, tidak ada residu,
tidak muntah, tidak kembung ada BAB dan BAK, dieresis 6,3
cc/kgbb/jam, balance cairan kurang lebih 50cc/7jam
A : Masalah tidak menjasi aktual
P/I : Melanjutkan intervensi keperawatan
3. Diagnosa 3
S:O : Akrar hangat, suhu 36,6 0C, RR 48 X / menit, HR 140 X / menit,
SaO2 90%, tidak sianosis, mengganti pampers, ada BAB dan BAK.
A : Masalah tidak menjadi aktual
P/I : lanjutkan intervensi keperawatan

26

BAB IV
PEMBAHASAN KASUS
Pada pengkajian ditemukan bahwa bayi Y belum tentu
menderita HIV/AIDS, meskipun ibu bayi dengan sida HIV/AIDS.
karena tanda dan gejala khususnya pada infeksi oportunistik belum
nampak dan belum di dukung dengan pemeriksaan penunjang.
Data yg di buat dalam asuhan keperawatan ini di ambil sebagai
faktor risiko krn bayi lahir dengan masa gestasi 31 minggu dan
berat badan lahir 1416gram.
Pada teori terdapat 6 diagnosa keperawatan yg berhubungan
dengan HIV/AIDS namun pada kasus nyata di prioritaskan 3
masalah yang berhubungan dengan NKB SMK gestasi 31 minggu.
Yaitu: risiko infeksi, risiko kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh, dan risiko hipotermi.
Evaluasi yang di peroleh setelah di lakukan intervensi
keperawatan selama 3 hari adalah semua masalah keperawatn
tidak menjadi aktual .

27

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada bayi dengan ibu sida HIV AIDS belum pasti
didapatkan infeksi oportunistik dimana tidak didapatkan tanda
dan gejala pada pasien dengan HIV AIDS sehingga kondisi bayi
dari hari ke hari semakin membaik. Hal ini tetap memerlukan
intervensi yang berkesinambungan dan terus menerus.
B. Saran
-

Perawat, bidan dan petugas kesehatan lain harus memiliki


ketrampilan

yang

memadai

dalam

memberikan

asuhan

keperawatan pada bayi


Kurangi stigma negatif pada bayi dengan HIV AIDS dengan

cara tidak mengisolasi pasien secara berlebihan


Proteksi diri dilakukan secara efektif dan efisien
Memberikan penyuluhan (pengetahuan) pada keluarga.

28