You are on page 1of 15
Buletin No : 02 – 2014 Desember 2014 GroundGroundGroundGround BreakingBreakingBreakingBreaking

Buletin

No : 02 – 2014 Desember 2014

GroundGroundGroundGround BreakingBreakingBreakingBreaking TanggulTanggulTanggulTanggul LautLautLautLaut
GroundGroundGroundGround BreakingBreakingBreakingBreaking
TanggulTanggulTanggulTanggul LautLautLautLaut JakartaJakartaJakartaJakarta
BreakingBreakingBreakingBreaking TanggulTanggulTanggulTanggul LautLautLautLaut JakartaJakartaJakartaJakarta
PENGANTAR REDAKSI Pembaca yang budiman, di pengujung era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ada kegiatan, yang

PENGANTAR REDAKSI

Pembaca yang budiman, di pengujung era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ada kegiatan, yang bagi perkembangan dunia pengelolaan air dan reklamasi di Indonesia, cukup berarti dan penting . Kegiatan itu adalah pencanangan pembangunan Tanggul Laut Jakarta. Kegiatan ini tidak hanya memberi harapan bagi warga Jakarta untuk bisa terbebas dari banjir yang berasal dari laut, akan tetapi juga tantangan bagi pemerintah dan masyarakat untuk bisa terus mengawal pembangunannya.

Lazimnya sebuah rencana dari sebuah program yang cukup besar, apalagi di negara demokratis seperti Indonesia, kritik terhadap proyek ini langsung mengemuka . Tentu saja kritik itu tak bisa dipandang sebelah mata, apalagi jika datangnya dari akademis atau peneliti, karena mereka punya dasar argumen yang kuat untuk mengungkapkannya. Kedepan, kritik-kritik yang muncul inilah yang justru dijadikan masukan untuk penyempurnaan proyek ini.

Peresmian dimulainya pembangunan tanggul laut ini kami jadikan bahasan utama dalam buletin kali ini, karena kegiatan ini juga merupakan hal baru dalam teknologi reklamasi dan pengendalian banjir di Indonesia. Disamping itu kami menulis bahasan mengenai perkembangan Sodetan Kampung Pulo dan peranan Bendung Katulampa, di setiap musim penghujan. Dalam edisi ini, kami juga mengangkat sekelumit sejarah Belanda dalam mengelola air.

Pembaca, semoga apa yang kami bahas dalam buletin kali ini bisa menambah pengetahaun dan wawasan, baik dalam bidang reklamasi maupun pengelolaan air. Selamat menikmati Buletin ILWI Edisi 02-2014 ini.

Selamat Tahun Baru 2015

Redaksi

ILWI Edisi 02-2014 ini. Selamat Tahun Baru 2015 Redaksi ∑ Langkah awal pengembangaan pesisir ∑ Tak

Langkah awal pengembangaan pesisir

Tak ada langkah yang sia-sia

Beragam hambatan sodetan Kampung Pulo

Bendung legendaris indikator banjir

Belanda dan pengelolaan air

ILWI (Indonesian Land reclamation & Water management Institute), adalah sebuah lembaga kajian dibidang reklamasi dan pengelolaan air. Lembaga ini berupaya untuk menyebarkan informasi dan pengetahuan di bidang reklamasi & pengelolaan air kepada masyarakat. Salah satunya dengan penerbitan buletin. Buletin ini kami kirimkan secara gratis. Tulisan, saran dan pemberitaan media menjadi bagian dari isi buletin ini.

Alamat :

Jl. Timoho II no 7A Yogyakarta

55165

Website :

www.pengendalianbanjir.com Email :

landwaterindonesia@gmail.com

Langkah Awal Pengembangan Pesisir
Langkah Awal Pengembangan Pesisir

Meski hari sudah beranjak petang, matahari masih memancarkan sinar, panasnya pun masih terasa menyengat . Kamis petang, 9 Oktober 2014, beberapa pejabat penting baik yang berasal dari pemerintah pusat maupun Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, terlihat berkumpul di Muara Baru, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Tepat di depan rumah pompa waduk Pluit, peralatan berat telah bersiap-siap untuk melakukan pemancangan tiang baja.

Petang itu, dipengujung masa bakti kabinet Susilo Bambang Yudhoyono, dilakukan pencanangan pembangunan (ground breaking) tanggul laut tahap A. Chairul Tanjung, Menteri Koordinator Perekonomian, menjadi pemimpin dalam acara yang menandai

dimulainya pembangunan pengamanan pantai di teluk Jakarta ini.

Chairul Tanjung tidak sendirian, beberapa pejabat tinggi juga hadir dalam acara peresmian itu. Antara lain Balthasar Kambuaya, Menteri Lingkungan Hidup ; Gusti Muhammad Hatta, Menteri Riset dan Teknologi ; Armida Salsiah Alisjahbana ; Hermanto Dardak, Wakil Menteri Pekerjaan Umum ; dan Sarwo Handayani , Deputi Gubernur DKI Jakarta, Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup.

Pemancangan tiang baja ini, menandai dimulainya jalan panjang untuk membebaskan Jakarta dari banjir dan tenggelamnya sebagian wilayah Jakarta karena rob. "Jika kita tidak melakukan apa-apa, tahun 2050, sebagian besar

Jakarta, dan Monas, yakni simbol Jakarta akan tenggelam," ujar Chairul Tanjung.

simbol Jakarta akan tenggelam," ujar Chairul Tanjung. Tahap A, membangun tanggul di bibir pantai Menurutnya pada

Tahap A, membangun tanggul di bibir pantai

Menurutnya pada fase pertama ini ditekankan pada upaya agar warga Jakarta Utara tidak lagi mengalami banjir rob. Untuk itu prioritas pembangunan tahap pertama ini adalah pembangunan dan perbaikan tanggul di bibir pantai dan di sungai-sungai yang berhilir di Teluk Jakarta. Ini harus dilakukan mengingat dataran Jakarta yang setiap tahunnya terus menerus mengalami penurunan. Ditambahkan Chairul jika penurunan ini terus menerus dibiarkan maka pada tahun 2050 sebagian besar wilayah Jakarta akan tenggelam.

tahun 2050 sebagian besar wilayah Jakarta akan tenggelam. Mengurangi rob di daratan dekat laut Pembangunan fase

Mengurangi rob di daratan dekat laut

Pembangunan fase pertama ini nantinya diikuti dengan fase berikutnya. Dimana dalam tahap kedua nantinya akan dibangun tanggul laut di wilayah barat proyek, dilanjutkan dengan proyek infrastruktur, konektivitas, serta kegiatan perbaikan lingkungan. Sedangkan tahap ketiga pembangunan tanggul dilanjutkan wilayah timur, sekaligus pengembangan zona ekonomi pelabuhan dan melanjutkan konektivitas. Disamping itu juga akan dibangun lingkungan baru serta pengolahan limbah padat.

akan dibangun lingkungan baru serta pengolahan limbah padat. Dampak bagi kesejahteraan warga diperhatikan Jika semua

Dampak bagi kesejahteraan warga diperhatikan

Jika semua program itu berjalan lancar dan sesuai dengan perencanaan paling cepat proyek ini baru kelihatan hasilnya tahun 2030. Mengingat panjangnya waktu pembangunan tanggul ini, maka diperlukan konsistensi dalam upaya merealisasi pembangunan tanggul ini hingga selesai. Warga Jakarta tentu tidak mau berlama-lama merasakan sulitnya menghadapi banjir, meski demikian masyarakat juga khawatir kalau sampai dalam pembangunan mega proyek ini justru memiliki dampak negatif.

Chairul Tanjung sendiri berjanji bahwa pemerintah akan memperhatikan seluruh dampak dari pembangunan ini, terutama berkenaan dengan kesejahteraan masyarakat yang tinggalnya berdekatan dengan Teluk Jakarta. "Jika ada pembangunan atau pemindahan pelabuhan misalnya, akan mendahulukan kepentingan rakyat. Haram hukumnya pembangunan menyengsarakan rakyat," ujarnya.

Haram hukumnya pembangunan menyengsarakan rakyat," ujarnya. Perlu konsistensi untuk menyelesaikan tanggul laut 4

Perlu konsistensi untuk menyelesaikan tanggul laut

Pengembangan infrastruktur fase selanjutnya Seperti telah diketahui sebelumnya pembangunan tanggul laut raksasa di Teluk

Pengembangan infrastruktur fase selanjutnya

Seperti telah diketahui sebelumnya pembangunan tanggul laut raksasa di Teluk Jakarta ini merupakan bagian dari Pengembangan Terpadu Pesisir Ibu Kota Negara dikenal dengan National Capital Integrated Coastal Development (NCICD). Mahalnya biaya pembangunan tanggul ini, tentulah tidak bisa sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah, swasta juga turut dilibatkan.

Karena itu pembangunan tanggul ini juga diikuti dengan pengembangan pulau di pesisir Jakarta. Disamping itu juga diperlukan pembangunan infrastruktur lain yang membuat kawasan baru ini menarik secara ekonomi. "Tentu tanggul saja tidak cukup, nanti juga akan disiapkan infrastruktur lainnya. Nah pengembang silahkan bangun. Izin Amdalnya sudah ada, tinggal diproses," imbuh Chairul. Ditambahkannya pemerintah akan berikan contoh pembangun tanggul ini sepanjang delapan kilometer. “Sisanya merupakan tanggung jawab para pengembang yang ingin mengembangkan sentra- sentra ekonomi baru di kawasan pesisir,”tegasnya.

sentra- sentra ekonomi baru di kawasan pesisir,”tegasnya. Pengembang diberi kesempatan berperan Proyek tanggul laut

Pengembang diberi kesempatan berperan

Proyek tanggul laut ini sendiri menurut menteri yang juga pengusaha ini sudah sangat terlambat sekali. Padahal wacana tersebut sudah ada sejak awal tahun sembilan puluhan. Setelah dua dasawarsa barulah pembangunan tanggul laut itu mulai dieksekusi. Meski terlambat namun Chairul

mensyukuri , dimulainya pembangunan tanggul laut ini. " Kita perlu bersyukur, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,” ujarnya.

Hermanto Dardak, Wakil Menteri Pekerjaan Umum, mengatakan pembangunan tanggul laut ini sudah direncanakan sejak beberapa tahun lalu. Dahulu tim yang merencanakannya dinamakan Jakarta Coastal Development Strategy (JCDS), yang

terdiri dari konsultan Belanda dengan beberapa ahli dari Indonesia. Menurutnya hasil kajian tanggul laut

ini sudah disesuaikan dengan karakter pantai di

kawasan Teluk Jakarta.

Harapan terhadap dimulainya proyek ini tak hanya dirasakan oleh kalangan pemerintah, warga

juga menggantungkan asa akan kehidupan yang lebih

di kawasannya. Sudarmaji, warga Muara Baru,

contohnya, dia berharap proyek ini tidak dijalankan setengah-setengah. “Yang penting kami benar-benar jauh dari bencana banjir,” katanya penuh harap.

jauh dari bencana banjir,” katanya penuh harap. Harus mempertimbangkan dampak ekologi Meski banyak pihak

Harus mempertimbangkan dampak ekologi

Meski banyak pihak menyambut antusias pembangunan tanggul ini, kritik juga tak kalah banyak terhadap pembangunan mega proyek ini. Salah satunya adalah yang diungkapkan oleh Muslim Muin, Ketua Kelompok Teknik Kelautan Institut Teknologi Bandung (ITB). Peneliti ini mengatakan bahwa pembangunan tanggul laut ini akan sia-sia, bahkan justru akan merugikan negara karena dampak buruknya terhadap ekologi.

Menurutnya Jakarta tidak perlu tanggul laut raksasa karena tidak ada banjir dan badai besar dari laut seperti halnya badai Katrina di Amerika Serikat. Rob yang terjadi lebih karena adanya amblesan atau penurunan tanah saja. “Kalau tanah ambles, cukup Pluit yang ditanggul. Menanggul di seluruh mulut Teluk Jakarta berkedalaman 20 meter jelas menghamburkan uang negara sangat besar,” katanya seperti dikutip Kompas.

Tak ada Langkah yang Sia – Sia
Tak ada Langkah yang Sia – Sia

Dimulainya pembangunan tanggul laut, Oktober lalu, membersitkan harapan bagi warga Jakarta. Meski harus menunggu lama hingga proyek tersebut rampung sesuai rencana -jika berjalan lancar diperkirakan tahun 2030 hasilnya baru kelihatan-, masyarakat setidaknya melihat ada rencana besar pemerintah untuk menjauhkan ibukota dari bahaya banjir .

Disisi lain, ada beberapa pihak yang tak yakin bahwa rencana besar ini benar-benar akan bisa diselesaikan pada waktunya. Tak sedikit yang khawatir proyek ini akan mangkrak di tengah jalan. Jika ini yang terjadi maka yang ada dibenak orang awam adalah kerugian, karena beberapa program sudah terlanjur dijalankan sebelumnya. Tentu hal ini sangat disayangkan, karena uang telah banyak keluar tapi tidak mendapatkan hasil apa-apa. Jika kita melihat Master Plan yang sudah ada, ternyata proyek ini tidak kenal kata merugi. Karena apa yang dijalankan disesuaikan dengan kebutuhan mendesak pada waktu itu. Sebagai contoh pembangunan tahap I yang sudah dicanangkan, dalam tahapan ini yang dibangun adalah tanggul di bibir

pantai dan dipinggiran sungai. Tentu saja pembangunan semacam ini memang mendesak dan sangat diperlukan. Kelak jika pemerintah tak mampu melaksanakan proyek ini secara keseluruhan sesuai rencana, maka apa yang sudah dibuat akan tetap memberi manfaat. Menelisik isi Master Plan Rencana Pembangunan Tanggul Laut dan Pulau Garuda, terlihat begitu banyak perkembangan dari rencana sebelumnya. Draft Master Plan, yang awal April 2014 lalu diserahkan oleh Melanie Schultz van Haegen, Menteri Infrastruktur dan Lingkungan Belanda, kepada Pemerintah Indonesia, melalui Djoko Kirmanto, Menteri Pekerjaan Umum, memuat secara menyeluruh dari mulai latar belakang hingga tahapan pembangunan yang mungkin dilaksanakan. Secara lugas diungkapkan fakta-fakta yang terjadi saat ini dan kemungkinan yang akan terjadi ditahun-tahun mendatang, baik masalah sosial, ekonomi dan yang utama tentu saja masalah banjir Jakarta yang semakin lama semakin parah. Khusus mengenai banjir ini dibahas tentang langkah apa yang telah dan akan dilakukan di Jakarta dan apa

dampaknya jika langkah itu dilakukan. Apakah rencana-rencana itu sudah cukup memadai ? Seperti sudah diketahui ada tiga tipe banjir yang melanda Jakarta. Yang pertama, hujan lebat di kota dimana kapasitas penyimpanan air yang tidak mencukupi telah menyebabkan terjadinya genangan. Kedua banjir yang berasal dari sungai-sungai dan kanal-kanal sebagai akibat tingginya aliran di hulu. Disamping kapasitas yang terbatas tanggul-tanggul sungai juga tidak memadai. Sedangkan yang ketiga adalah banjir yang berasal dari laut.

NCICD
NCICD

Tahapan terintegrasi penangulangan banjir

Prinsipnya Master Plan ini dibuat, dengan gradasi yang berbeda, untuk mencegah ketiga banjir tersebut. Saat ini banjir semacam itu sangat mungkin terjadi karena pertahanan banjir Jakarta sudah tidak memadai lagi. Seperti yang sudah beberapa kali dibahas di buletin ini. Pada tahun 2050 diprediksi muka air laut akan berada di antara 3 sampai 5 meter di atas muka jalan, karena itu perlu upaya agar wilayah pesisir tidak tenggelam secara perlahan- lahan diterjang air laut. Penyelesaian tanggul laut ini butuh waktu yang cukup panjang, puluhan tahun. Padahal di beberapa wilayah, kebutuhan untuk menanggulangi banjir ada yang bersifat mendesak. Menyadari akan hal itu, perlu ada perpaduan antara langkah jangka pendek dan langkah jangkah panjang. Dimana langkah yang diambil dalam jangka pendek nantinya tidak akan mubazir bahkan menyempurnakan rencana jangka panjang. Sebagai contoh tanggul laut dan sungai yang ada sekarang ini mau tidak mau harus ditinggikan, sedikitnya 1,5 meter. Ini disebabkan karena penurunan muka tanah akan secara perlahan menurunkan permukaan tanggul. Dengan dimulainya pembangunan tahap pertama ini, setidaknya menurut perkiraan upaya bisa mengurangi dampak banjir di wilayah-wilayah tertentu . Di dalam Master Plan,

kawasan tanggul yang butuh perhatian semacam ini setidaknya ada 7 kawasan ring dike. Tak hanya itu beberapa sungai juga harus disekat dengan perairan di Teluk Jakarta. Ini disebabkan karena air sudah tidak lagi bisa mengalir dengan mengandalkan gaya gravitasi ke arah lautan. Untuk itu juga perlu disiapkan pompa-pompa air dan stasiun pemompaan baru. Kementerian PU dan DPU-DKI telah menyiapkan pembangunan stasiun-stasiun pemompaan air yang baru. Dengan menyekat sungai-sungai ini akan sangat mengurangi panjang penanggulan sungai yang harus diperkuat. Tentu saja penyekatan ini akan membutuhkan penataan kembali dari beberapa ruas sungai, karenanya perlu direncanakan secara terpadu dengan perencanaan perkotaan. Dalam konsep pembangunan tanggul laut, nantinya ada kolam raksasa yang dibuat karena adanya tanggul yang membelah laut di Teluk Jakarta. Konsekuensinya air yang masuk ke dalam waduk, yang berasal dari sungai-sungai yang ada di Jakarta juga harus “dibersihkan”. Karena itu program peningkatan mutu air terpadu harus dilakukan , yang mencakupkan pengolahan air limbah, manajemen limbah padat, pengerukan dan upaya-upaya non- struktural. Program pembersihan sungai ini sebenarnya harus dilakukan Jakarta, meski dibangun atau tidak dibangunnya tanggul laut. Mengingat tuntutan akan aliran sungai yang bersahabat dengan lingkungan, harus dipenuhi kota metropolitan seperti Jakarta ini. Meningkatkan mutu air sungai sudah mendesak dan sudah merupakan prasyarat untuk menciptakan kota yang sehat dan layak. Apalagi jika ingin digunakan sebagai sumber air baku. Disamping itu perlu juga beberapa upaya yang dilakukan di daerah hulu, dimana usaha yang dilakukan untuk mengurangi beban sungai di Kota Jakarta. Ini tentu akan mengurangi risiko banjir di wilayah ibukota. Seperti pengalihan air sungai yang mengalir ke Jakarta, meningkatkan sistem drainase perkotaan, penambahan waduk penampung pada sistem yang ada, dan meningkatkan kapasitas pompa drainase. Tahapan-tahapan semacam inilah yang dilakukan di fase-fase awal dari serangkaian panjang pembangunan pengamanan pantai. Dimana pembangunan yang dilakukan tetap saja merupakan bagian dari solusi permasalahan terkini. Bagaimanapun juga dalam tahapan pembangunan tanggul laut ini tidak ada program yang nantinya justru menyebabkan kerugian, atau disesali dikemudian hari.

Beragam Hambatan Sodetan Kampung Pulo ANTARA
Beragam Hambatan Sodetan Kampung Pulo
ANTARA

Lazim disetiap memasuki musim hujan,

Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, selalu memantau kesiapan wilayahnya dalam menghadapi curah hujan. Sembari berharap banjir besar tidak menggenangi Jakarta, gubernur tak lupa meminta

aparat dan warga untuk waspada

kemungkinan datangnya banjir. Hal ini juga yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama, Ahok demikian dia biasa disebut, sudah melakukan pemantauan sejak menjadi pelaksana tugas gubernur.

Seperti yang dilakukannya pada 18 November 2014 lalu, Ahok meninjau Waduk Setiabudi Timur, Pintu Air Manggarai, dan Sodetan Kampung Pulo di Jakarta Timur. Di kawasan Kampung Pulo Mantan Bupati Belitung , sempat melambai- lambaikan tangannya pada ibu-ibu yang menyambut kedatangannya, meski demikian raut wajahnya kelihatan serius ketika mendengarkan penjelasan T Iskandar, Kepala Badan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC).

terhadap

Menurut Iskandar ada kesulitan dalam proyek Sodetan Kali Ciliwung dan pembuatan benteng banjir di Kali Ciliwung, kendalanya apalagi kalau bukan masalah pembebasan lahan. "Untuk pengerjaan benteng banjir di Kali Ciliwung saja, kita butuh bebasin lahan 20-30 meter di sisi kiri kanan Kali Ciliwung sepanjang sembilan belas kilometer," jelas Iskandar.

Sayangnya hingga saat mereka melakukan kunjungan, baru 17 rumah toko yang baru bisa dibebaskan. Masih banyak rumah-rumah warga yang belum bersedia untuk ditebus pemerintah provinsi.

Masih cukup banyak lahan yang belum bisa dibebaskan , mencapai 1,5 hektar.

Kesulitan membebaskan lahan warga ini juga diakui oleh Ahok. Menurutnya usaha untuk mengantisipasi banjir kendalanya dari tahun ke tahun sama saja, yaitu pembebasan lahan. “Masalahnya, lahan itu diakui banyak pihak. Kami bayar juga mau ke siapa, bingung," ujarnya.

Ditambahkanya karut marut kepemilikan lahan di atas proyek-proyek pemerintah dalam beberapa kasus terpaksa harus diselesaikan di pengadilan. Di mana pembayaran lahan ke warga akan dititipkan ke pengadilan yang biasa disebut konsinyasi.

"Beberapa juga menawarkan harga yang tidak masuk akal. Kalau harga dari appraisal 10 yah akan bayar 10, kalau tetap ngotot yah kita konsinyasi lalu bongkar, selesai," imbuh Ahok. Permasalahan tanah ini cukup menghambat pembangunan sodetan Ciliwung – Kanal Banjir Timur. Karena berakibat pada terhambatnya pekerjaan fisik.

Seperti yang terlihat di Kelurahan Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur, warga yang belum mau beranjak dari lahannya, menyebabkan sodetan di bagian inlet belum bisa dikerjakan. Di kawasan Bidara Cina, penduduknya cukup rapat , ada sekitar 200-300 bangunan yang harus dibebaskan. Disisi lain di bagian outlet malah sudah dilakukan pengerjaan pengeboran, meski di wilayah ini juga masih ada permasalahan sengketa lahan pemiliknya.

NCICD

Ada juga daerah yang dilalui sodetan tapi tidak ada bangunan di atasnya, ini relatif tidak masalah dalam pembangunan fisiknya seperti Otto Iskandardinata III dan Cipinang. Pengeboran disepanjang ruas dari Ciliwung ke KBT, dibarengi dengan pemasangan pipa gorong-gorong. Setidaknya jumlah pipa dari inlet ke outlet ini sebanyak 990 pipa. Dimana masing-masing pipa yang terbuat dari beton pabrikan ini memiliki panjang 2,5 meter, diameter luar 4 meter, dan diameter dalam 3,5 meter.

Sodetan ini memang sengaja dibangun untuk membantu mengatasi banjir di Kawasan Kampung Melayu dan sekitarnya. Mengalirkan air Kali Ciliwung ke KBT. Ironisnya tak hanya masalah pembebasan lahan saja yang menjadi kendala. Pembangunan sodetan ini juga terhambat puluhan tiang pancang proyek pembangunan jalan tol Bekasi-Cawang- Kampung Melayu (Becakayu).

Setidaknya ada 25 tiang pancang di sisi timur pinggir Jalan DI Panjaitan, Kelurahan Cipinang Besar Selatan, Jatinegara. Dimana tiang pancang

beton , yang berukuran 45 X 45 sentimeter itu, ditanam sedalam 14 meter. Mau tidak mau tiang pancang tersebut harus dicabut agar proses pengeboran dan pemasangan pipa tidak terganggu. Jika tidak, proyek pengeboran dan pemasangan pipa akan terkendala. Apalagi pengeboran pada bagian outlet sodetan ini kedalamannya mencapai 14 meter. Diharapkan pertengahan Desember tahun 2014 ini, seluruh tiang pancang harus segera dicabut.

Masalah lain adalah adanya jaringan utilitas di lahan yang akan dilalui sodetan. Beberapa jaringan utilitas ada yang terganggu akibat pembangunan sodetan tersebut seperti jaringan air minum, listrik, telepon dan lain-lain. Dinas pekerjaan umum sudah menyurati pihak-pihak terkait untuk segera memindahkan jaringan tersebut. Sebenarnya proyek ini diharapkan bisa diselesaikan Februari 2015, akan tetapi karena masih ada beragam permasalahan , maka kemungkinan besar penyelesaian pembangunan fisiknya akan tertunda hingga akhir tahun depan.

ANTARA NCICD
ANTARA
NCICD

Rencana Sodetan

(sumber : Bappeda DKI Jakarta)

Bendung Legendaris Indikator Banjir VIVAnews
Bendung Legendaris Indikator Banjir
VIVAnews

Bagi warga Jakarta, setiap kali musim hujan tiba, mau tidak mau telinga dan mata mereka selalu berusaha memantau kondisi Bendung Katulampa. Bendung itu seolah-olah menjadi satu-satunya indikator yang membuat Jakarta akan mengalami banjir atau tidak.

Bahkan stasiun-stasiun televisi selalu menempatkan komentator dan kameramennya di lokasi bendung tua ini, terutama disaat hujan lebat mengguyur Kota Bogor dan sekitarnya. Ketinggian air di bendung ini menjadi laporan paling penting diberitahukan kepada khalayak ramai.

Dari ketinggian 80 sentimeter yaitu kondisi siaga IV, hingga level berbahaya dengan ketinggian di atas 200 sentimeter menjadi berita menarik sekaligus menakutkan bagi warga Jakarta, terutama yang dilalui aliran Sungai Ciliwung. Kondisi Bendungini seakan- akan selalu identik dengan besarnya luas banjir di Jakarta.

Lihat saja ketika Jakarta lantak disikat banjir pada tahun 1996, 2002, 2007, dan 2010 tinggi air di Bendung Katulampa tidak tanggung-tanggung mencapai 250 sentimeter. Melewati batas Siaga I yang menjadi patokan pemerintah.

Mungkin kita tidak pernah menyangka bahwa Bendungini sudah dioperasikan lebih dari seratus tahun lamanya. Tepatnya mulai tahun 1911. Ketika beberapa wilayah di bantaran Sungai Ciliwung

dilanda banjir, dan daerah Harmoni tak bisa mengelakkan diri dari gelontoran air, di tahun 1872, Pemerintah Belanda, mulai berpikir untuk bisa “menahan” aliran sungai Ciliwung, sekaligus memanfaatkannya untuk keperluan irigasi. Untuk itu ditahun 1889 mulailah mereka membangun bendung tersebut.

Kala itu pembangunan bendung ini tak hanya untuk memantau jumlah air yang akan menggelontor Jakarta, tetapi juga digunakan untuk aliran irigasi persawahan yang ada di Bogor dan Jakarta. Karena itu aliran Sungai Ciliwung dibagi dua di bendung ini, melalui sungai Ciliwung yang ada hingga sekarang ini, dan satunya melalui kali buatan yang dialirkan melewati pintu air ke Kali Baru Timur.

Air yang melalui Kali Baru inilah yang digunakan untuk kepentingan irigasi. Aliran air irigasi ini bergerak sepanjang sisi Jalan Raya Bogor, Cimanggis, Depok, Cilangkap dan akhirnya bermuara di Kali Besar, Tanjung Priok , Jakarta Utara.

Kala itu, dengan adanya aliran irigasi ini pasokan air untuk sawah di sekitar Bogor dan Jakarta lebih terjamin. Sehingga petani pun merasakan dampak positif dari adanya aliran ini. Akan tetapi semenjak jaman orde baru, dimana pembangunan Jakarta sebagi ibukota negara terus digeber, lahan- lahan pertanian justru semakin berkurang. Kapling- kapling sawah secara ekonomis sudah kalah bersaing, dengan keuntungan yang diperoleh jika membangun

perumahan atau pabrik-pabrik yang diperlukan untuk industri, di lahan tersebut. Perubahan yang terlalu cepat ini menyebabkan aliran irigasi ini relatif sudah kurang dimanfaatkan sejak era tahun 90’an. Sawah yang diairi tidak lagi banyak, beberapa gelintir saja, itupun hanya di Bogor dan Cibinong saja. Kebalikan dengan fungsinya sebagai irigasi, Katulampa sebagai tempat pemantauan bahaya banjir di Jakarta, justru semakin menonjol.

bahaya banjir di Jakarta, justru semakin menonjol. Cemas melihat muka air yang terus naik Karena itu

Cemas melihat muka air yang terus naik

Karena itu ketika tinggi bendung air di Katulampa sudah sangat ekstrim, bisa dipastikan banyak tempat di Jakarta akan kebanjiran, terutama di bantaran sungai. Lihat saja banjir besar yang terjadi tahun 2002 dan 2007 lalu, tinggi muka air yang mencapai lebih dari 250 sentimeter, memporak porandakan sebagaian besar wilayah Jakarta. Ini artinya sebanyak 630.000 liter per detik air menggelontor Jakarta . Tercatat di tahun 2007 menjadi banjir yang paling banyak memakan korban jiwa, setidaknya 80 orang tewas.

Ironisnya, bagi masyarakat awam sering kali bendung yang terletak di Kelurahan Katulampa, Kota Bogor, ini dianggap sebagai penyebab banjir. Karena tidak ditutup dan dialihkan alirannya ke tempat lain. Anggapan ini tentu saja salah, karena Katulampa tidak memiliki kemampuan untuk menahan dan membuka tutup aliran air. Sekarang ini Katulampa hanya menjadi sistem informasi dini terhadap bahaya banjir di Sungai Ciliwung.

Kini informasi tentang seberapa tinggi air di Bendung Katulampa bisa cepat sampai ke warga, tak hanya melalui media elektronik, pesan singkat ke telfon genggam pun kerap diterima oleh warga Jakarta. Sumbernya berasal dari badan penanggulangan bencana setempat. Dari Katulampa ini status tinggi air di Ciliwung menjadi patokan dari Siaga IV hingga yang paling berbahaya Siaga I.

patokan dari Siaga IV hingga yang paling berbahaya Siaga I. Tinggi muka air di Katulampa saat

Tinggi muka air di Katulampa saat banjir 2007

Jika status Siaga IV maka pengamatan tinggi muka air (TMA) dilakukan setiap satu jam sekali. Siaga III pengamatan TMA dilakukan setiap 30 menit sekali. Untuk tingkat “awas” atau Siaga II pengamatan TMA dilakukan setiap 15 menit sekali. Sedangkan ditingkat yang dianggap “bencana” Siaga I pengamatan TMA dilakukan tiap 5 menit sekali.

Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta telah membuat kriteria kapan saat tinggi air digolongkan dalam status-status seperti disebut tadi. Siaga IV, jika TMA di Katulampa dibawah 80 sentimeter. Siaga III, jika TMA di Katulampa mencapai 80-150 sentimeter. Siaga II, jika TMA di Katulampa mencapai 150-200 sentimeter. Sedangkan untuk tergolong bencana atau Siaga I, jika TMA di Katulampa diatas 200 sentimeter.

Jika mengambil contoh kondisi Siaga I di Katulampa, maka sampai di Pintu Air Manggarai tinggi muka airnya, biasanya melebihi 950 sentimeter. Keadaan banjir tahun 2007 menunjukan bahwa tinggi muka air di pintu air Manggarai bahkan mencapai lebih dari 10,5 meter.

di pintu air Manggarai bahkan mencapai lebih dari 10,5 meter. Tinggi muka air di Pintu Air

Tinggi muka air di Pintu Air Manggarai saat banjir 2007

Belanda dan Pengelolaan Air

Belanda tidak terpisahkan dengan air. Banyak wilayah Belanda terletak di bawah permukaan laut, tidak terkecuali daerah daerah padat penduduk. Perjuangan melawan air sudah melekat sejak lahirnya negeri yang berbatasan dengan Laut Utara ini. Namun demikian, air bukanlah hanya pembawa petaka, tetapi juga merupakan sumber kemakmuran yang sangat penting. Letak Belanda yang menguntungkan karena berbatasan dengan laut membuatnya menjadi sebuah negeri yang menikmati perdagangan yang tumbuh subur, sejak beberapa abad silam. Keahlian Belanda di bidang teknologi air bahkan diterapkan di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Pengetahuan itu merupakan salah satu komoditi ekspor penting bagi Belanda.

www.deltawerken.com
www.deltawerken.com

Proyek Deltawerken

Pada tahun 1953, Belanda diterjang musibah banjir parah yang menewaskan 1836 warganya dan menimbulkan kerugian material besar. Untuk mencegah agar musibah banjir ini tidak terulang kembali, maka pemerintah mencanangkan apa yang disebut proyek “Deltawerken“, yang penyelesaiannya memakan waktu lima dasawarsa.

Setelah penyelesaian proyek “Deltawerken“ itu warga Belanda merasa aman tenteram dapat berlindung di balik serangkaian dam, tanggul dan tanggul penangkal badai pasang canggih. Tetapi perubahan iklim mengusik ketenteraman tersebut dan menjadi tantangan besar untuk dapat mengatasinya. Akibat perubahan iklim tersebut, Belanda menghadapi menaiknya permukaan air laut, kondisi cuaca yang semakin ekstrim dan peningkatan debit air sungai-sungai ke delta delta. Penurunan

permukaan tanah berimbas pada semakin rendahnya beberapa wilayah negeri Belanda.

Upaya besar besaran diperlukan untuk mengamankan Belanda dari bahaya banjir di masa mendatang. Pengendalian air bukan hanya semata untuk keamanan, tetapi juga berdampak pada alam, pariwisata, ekonomi dan lapangan kerja. Proyek- proyek air menimbulkan dampak serius sehingga memerlukan penanganan khusus, juga bagi kebijakan komunikasi proyek-proyek air tersebut.

1.Hidup berdampingan dengan air (Dari melawan hingga hidup berdampingan dengan air)

Orang-orang Belanda menyandang predikat sebagai arsitek proyek proyek air dan pelopor dalam bidang manajemen air. Belanda mengenal sejarah panjang menghadapi badai pasang dan musibah banjir. Musibah banjir 1953 menjadi pemicu pembangunan proyek “Deltawerken”. Perang melawan air pun dilakukan dengan segala daya.

www.DavidMixner.com
www.DavidMixner.com

Banjir 1953

Berbagai contoh telah membuat nyata bahwa perlawanan terhadap air tidak mungkin dapat dimenangkan total. Reklamasi berkelanjutan tanpa mempedulikan konsekuensi ke depannya tidak mungkin dilakukan.

Pilihan bijak adalah untuk mencoba mencari keseimbangan; Kata kuncinya adalah: mencari cara terbaik untuk dapat hidup berdampingan dengan air.

Menangkal air dengan hanya mengandalkan konstruksi beton bukan otomatis merupakan solusi terbaik. Solusi yang semakin kerap diterapkan di Belanda adalah justru untuk memberikan ruang kepada air manakala diperlukan.

Perubahan mental di kalangan warga, pengusaha dan pemngku kepentingan lain diperlukan dalam menghadapi dinamika tarik ulur guna mengalokasikan ruang tambahan untuk air atau justru tidak. Perubahan mental ini harus senantiasa ditekuni secara berkesinambungan. Di situlah komunikasi dapat berperan penting.

.deltawerkenmediagallerery
.deltawerkenmediagallerery

Deltawork pertama operasional 1958

2. Kebijakan komunikasi di tengah samudera pemngku kepentingan (stakeholders). (stakeholders mana yang bisa menjadi sekoci penyelamat dan siapa yang bisa menenggelamkan kita)

Hanya sedikit aktivitas pembangunan lain yang melibatkan begitu banyak pemngku kepentingan (stakeholders) seperti halnya pada proyek proyek seputar air.

Proyek proyek air dapat menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan dan alam. Itulah sebabnya mengapa sejumlah besar warga, pebisnis dan LSM menjadi pihak pihak penting yang terlibat.

membedakan para stakeholders

tersebut menjadi empat kelompok :

a. Yang pertama adalah kelompok yang mengalami

langsung dampak proyek air. Kelompok ini terdiri dari warga dan organisasi yang mengalami dampak langsung--baik itu positif maupun negatif--sebuah proyek air. Mereka misalnya adalah penduduk di tepi pantai, atau para pengusaha yang aktif di kawasan itu.

b. Kelompok yang tidak mengalami langsung dampak

proyek air. Pengelompokkan kedua ini lebih luas sifatnya serta mencakup kelompok kelompok yang

Kita dapat

tidak terlibat langsung. Dalam pengertian ini termasuk penduduk serta perusahaan di daerah daerah yang tidak berbatasan langsung dengan lokasi proyek air. Para stakeholders yang tidak terkena dampak langsung dari suatu proyek, tetapi terkena getahnya karena kedekatan letak geografisnya. Misalnya masyarakat yang tidak tinggal di tepi pantai atau sungai, tetapi yang juga akan merasakan luapan air apabila ada tanggul yang jebol.

c. Pemerintah pada tingkat daerah, provinsi dan

nasional. Pemerintah membentuk kelompok stakeholder ketiga. Sebagian besar proyek air melibatkan pemerintahan dari berbagai lapisan. Masing-masing lapisan memiliki tugas dan tanggung jawabnya masing masing. Tata kelola air pada tingkat wilayah di Belanda misalnya adalah tanggung jawab sebuah badan khusus pengelola air (waterschap). Pemerintah daerah pada gilirannya memiliki tugas yang lebih luas: di samping keamanan terhadap bahaya air pemda juga harus memperhatikan aspek-

aspek lain seperti integrasi tata ruang, ekonomi, dan pariwisata. Kelompok stakeholder ini akan sepakat mengenai kepentingan bersama yakni menghindari terjadinya musibah banjir, tetapi mungkin berbeda visi untuk mencari solusi guna mencapai kepentingan

tersebut.

d. Kepentingan umum: menciptakan sebuah negeri

yang aman, menarik, dan sejahtera. Kelompok ke empat ini sifatnya lebih abstrak. Hal ini tidak menyangkut kelompok tertentu, tetapi suatu kepentingan umum. Misalnya kepentingan- kepentingan ekonomi (kesempatan kerja, perumahan, posisi dalam perdagangan internasional), lingkungan (pemulihan dan pengelolaan hutan lindung), serta pariwisata. Kelompok-kelompok yang mewakili kepentingan-kepentingan ini bisa berbeda-beda, misalnya: serikat buruh, serikat majikan, organisasi lingkungan, dsb.

Analisis stakeholder

Pencacahan kelompok-kelompok stakeholder ini tidaklah sempurna. Pengelompokkan tersebut harus dilihat sebagai kerangka teori yang dapat memberi arah untuk memetakan para stakeholders.

Gambaran terperinci bagi setiap proyek dapat dibuat berdasarkan pengelompokkan ini: “analisis stakeholder”. Kelompok-kelompok stakeholder ini bisa bertambah, selama bergulirnya sebuah proyek.

Petakanlah berbagai kepentingan, sikap, serta pendapat dari semua pihak. Dengan demikian akan jelas terlihat sejak awal risiko dan ancaman yang ada maupun peluang serta hal-hal yang perlu diperhatikan bagi kebijakan komunikasi.

3. Merajut berbagai prioritas. (1+1=3)

Apa yang membuat kebijakan komunikasi proyek proyek air adalah sesuatu yang amat unik? Selain jumlah stakeholeders yang cukup besar hal lain yang membuat kebijakan komunikasi menjadi tantangan tersendiri terutama adalah beragam sudut pandang yang muncul dalam proyek proyek air.

Para pembuat kebijakan kerap kali mencurahkan banyak perhatian terhadap berbagai sudut pandang para stakeholders yang terlibat. Namun demikian hal itu tidak dibarengi dengan adanya satu visi tunggal yang merupakan rangkuman dari beragam sudut pandang tersebut.

Sebuah analisis mengenai sudut pandang yang paling sering dikedepankan dalam proyek proyek air memperlihatkan bahwa ada empat tema yang menjadi perhatian utama.

yang

menentukan bagaimana cara para stakeholeders memandang proyek proyek air.

a. Keamanan

Keamanan adalah prioritas yang mungkin paling sering digunakan dan bersamaan waktu juga yang paling kontroversial. Penurunan permukaan tanah, naiknya permukaan air laut dan meningkatnya cuaca ekstrim adalah perkembangan yang menjadi landasan mengapa keamanan menjadi prioritas utama.

Faktor keamanan tak dapat dipungkiri menjadi alasan utama kebanyakan proyek proyek air. Contoh terbaik adalah proyek proyek untuk memperkokoh pantai dari ancaman air laut.

Tema

tema

ini

adalah

prioritas

Agriculture.newholland.com
Agriculture.newholland.com

Pengendalian air berpengaruh pada sektor pertanian

b. Ekonomi

Selain alasan keamanan, ekonomi adalah prioritas penting lain dalam proyek proyek air. Pilihan pilihan yang dilakukan dalam proyek pengendalian air akan berdampak luas terhadap sektor sektor pertanian, pelayaran, industri dan perikanan.

c. Alam

Prioritas ketiga berkaitan dengan alam dan lingkungan hidup. Pendekatan baru dalam filosofi proyek proyek air adalah “pembangunan yang serasi dengan Lingkungan Hidup”. Dengan memanfaatkan Lingkungan Hidup secara inovatif, kita dapat melindungi diri dari air pasang. Bersamaan waktu kita dapat menciptakan peluang bagi pelestarian dan perbaikan lingkungan.

d. Pariwisata

Prioritas keempat dan terakhir adalah pariwisata. Bagaimana cara terbaik untuk meningkatkan serta memperbaiki pariwisata? Proyek proyek air dapat dimanfaatkan untuk wisata bahari, sehingga akan meningkatkan daya tarik sektor pariwisata.

Netherlands.tourism.com
Netherlands.tourism.com

Wisata bahari berkembang di Belanda

Integrasi berbagai prioritas

Yang menjadi tantangan adalah untuk menyertakan keempat sudut pandang di atas dalam setiap kegiatan komunikasi. Para stakeholders dengan visi terbatas kerap kali tidak mampu melihat dan memahami konteks lebih luas sebuah proyek. Sudut pandang yang lain dicap tidak penting. Padahal visi yang sebaiknya dikedepankan harus melingkupi semua sudut pandang.

Bila pendekatan prioritas prioritas sebuah proyek air dilakukan secara menyeluruh, maka keempat prioritas (keamanan, ekonomi, alam dan pariwisata) akan dapat dipadu dengan baik.

Integrasi keempat sudut pandang itu bukan berarti bahwa sebuah proyek akan menyertakan sudut pandang Lingkungan Hidup, Bisnis dan Kenyamanan Kawasan tanpa menerapkan skala prioritas.

Hal itu bisa mengakibatkan para stakeholders akan mengesampingkan azas praduga. Masing masing stakeholder hanya akan membuka diri untuk argumen yang sesuai dengan visinya dan mengesampingkan nilai nilai argumen yang lain.

Walhasil, ketegangan antar berbagai visi dalam sebuah proyek akan semakin meruncing. Oleh karena itu sebelum sebuah proyek dimulai maka sebaiknya dilakukan pemetaan berbagai prioritas terlebih dahulu.

Langkah kedua adalah mengembangkan sebuah pesan yang konsisten. Pesan pesan sekunder dapat pula dikembangkan setelah itu, dengan senantiasa memperhatikan berbagai prioritas. Dengan cara ini kelompok kelompok sasaran akan disertakan

dalam proses pengambilan keputusan yang harus dilakukan oleh berbagai lapisan pemerintah dalam proyek proyek air.

Hal ini akan lebih mempermudah terciptanya pengertian atas pilihan pilihan yang diambil.

Sumber Teks : katalog “In een zee van stakeholders”, een visie op communicatie over water. Penerbit: Biro komunikasi Podium dan Connect , Belanda dan Belgia

een visie op communicatie over water. Penerbit: Biro komunikasi Podium dan Connect , Belanda dan Belgia