Buletin

No : 02 – 2014
Desember 2014

Ground Breaking
Tanggul Laut Jakarta
1

• Langkah awal
pengembangaan pesisir
• Tak ada langkah yang
sia-sia
• Beragam hambatan

PENGANTAR REDAKSI

sodetan Kampung Pulo

Pembaca yang budiman, di pengujung era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
ada kegiatan, yang bagi perkembangan dunia pengelolaan air dan reklamasi di
Indonesia, cukup berarti dan penting . Kegiatan itu adalah pencanangan pembangunan
Tanggul Laut Jakarta. Kegiatan ini tidak hanya memberi harapan bagi warga Jakarta
untuk bisa terbebas dari banjir yang berasal dari laut, akan tetapi juga tantangan bagi
pemerintah dan masyarakat untuk bisa terus mengawal pembangunannya.
Lazimnya sebuah rencana dari sebuah program yang cukup besar, apalagi di
negara demokratis seperti Indonesia, kritik terhadap proyek ini langsung mengemuka .
Tentu saja kritik itu tak bisa dipandang sebelah mata, apalagi jika datangnya dari
akademis atau peneliti, karena mereka punya dasar argumen yang kuat untuk
mengungkapkannya. Kedepan, kritik-kritik yang muncul inilah yang justru dijadikan
masukan untuk penyempurnaan proyek ini.
Peresmian dimulainya pembangunan tanggul laut ini kami jadikan bahasan
utama dalam buletin kali ini, karena kegiatan ini juga merupakan hal baru dalam
teknologi reklamasi dan pengendalian banjir di Indonesia. Disamping itu kami menulis
bahasan mengenai perkembangan Sodetan Kampung Pulo dan peranan Bendung
Katulampa, di setiap musim penghujan. Dalam edisi ini, kami juga mengangkat
sekelumit sejarah Belanda dalam mengelola air.
Pembaca, semoga apa yang kami bahas dalam buletin kali ini bisa menambah
pengetahaun dan wawasan, baik dalam bidang reklamasi maupun pengelolaan air.
Selamat menikmati Buletin ILWI Edisi 02-2014 ini.
Selamat Tahun Baru 2015
Redaksi

• Bendung legendaris
indikator banjir
• Belanda dan pengelolaan
air
ILWI (Indonesian Land
reclamation
&
Water
management Institute), adalah
sebuah lembaga kajian dibidang
reklamasi dan pengelolaan air.
Lembaga ini berupaya untuk
menyebarkan
informasi
dan
pengetahuan di bidang reklamasi
& pengelolaan air kepada
masyarakat. Salah satunya dengan
penerbitan buletin.
Buletin ini kami kirimkan
secara gratis. Tulisan, saran dan
pemberitaan
media
menjadi
bagian dari isi buletin ini.
Alamat :
Jl. Timoho II no 7A
Yogyakarta
55165
Website :
www.pengendalianbanjir.com
Email :
landwaterindonesia@gmail.com

2

Langkah Awal Pengembangan Pesisir

Meski hari sudah beranjak petang, matahari
masih memancarkan sinar, panasnya pun masih
terasa menyengat . Kamis petang, 9 Oktober 2014,
beberapa pejabat penting baik yang berasal dari
pemerintah pusat maupun Daerah Khusus Ibukota
(DKI) Jakarta, terlihat berkumpul di Muara Baru,
Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Tepat di depan
rumah pompa waduk Pluit, peralatan berat telah
bersiap-siap untuk melakukan pemancangan tiang
baja.
Petang itu, dipengujung masa bakti kabinet
Susilo Bambang Yudhoyono, dilakukan pencanangan
pembangunan (ground breaking) tanggul laut tahap A.
Chairul Tanjung, Menteri Koordinator Perekonomian,
menjadi pemimpin dalam acara yang menandai

dimulainya pembangunan
teluk Jakarta ini.

pengamanan pantai di

Chairul Tanjung tidak sendirian, beberapa
pejabat tinggi juga hadir dalam acara peresmian itu.
Antara lain Balthasar Kambuaya, Menteri Lingkungan
Hidup ; Gusti Muhammad Hatta, Menteri Riset dan
Teknologi ; Armida Salsiah Alisjahbana ; Hermanto
Dardak, Wakil Menteri Pekerjaan Umum ; dan Sarwo
Handayani , Deputi Gubernur DKI Jakarta, Bidang
Tata Ruang dan Lingkungan Hidup.
Pemancangan tiang baja
ini, menandai
dimulainya jalan panjang untuk membebaskan
Jakarta dari banjir dan tenggelamnya sebagian
wilayah Jakarta karena rob.
"Jika kita tidak
melakukan apa-apa, tahun 2050, sebagian besar
3

Jakarta, dan Monas, yakni simbol Jakarta akan
tenggelam," ujar Chairul Tanjung.

Dampak bagi kesejahteraan warga diperhatikan
Tahap A, membangun tanggul di bibir pantai

Menurutnya pada fase pertama ini ditekankan
pada upaya agar warga Jakarta Utara tidak lagi
mengalami banjir rob. Untuk itu
prioritas
pembangunan
tahap
pertama
ini
adalah
pembangunan dan perbaikan tanggul di bibir pantai
dan di sungai-sungai yang berhilir di Teluk Jakarta. Ini
harus dilakukan mengingat dataran Jakarta yang
setiap tahunnya terus menerus mengalami
penurunan. Ditambahkan Chairul jika penurunan ini
terus menerus dibiarkan maka pada tahun 2050
sebagian besar wilayah Jakarta akan tenggelam.

Jika semua program itu berjalan lancar dan
sesuai dengan perencanaan paling cepat proyek ini
baru kelihatan hasilnya tahun 2030. Mengingat
panjangnya waktu pembangunan tanggul ini, maka
diperlukan konsistensi dalam upaya merealisasi
pembangunan tanggul ini hingga selesai.
Warga
Jakarta tentu tidak mau berlama-lama merasakan
sulitnya menghadapi banjir, meski demikian
masyarakat juga khawatir kalau sampai dalam
pembangunan mega proyek ini justru memiliki
dampak negatif.
Chairul Tanjung sendiri berjanji bahwa
pemerintah akan memperhatikan seluruh dampak
dari pembangunan ini, terutama berkenaan dengan
kesejahteraan masyarakat
yang tinggalnya
berdekatan dengan Teluk Jakarta. "Jika ada
pembangunan atau pemindahan pelabuhan misalnya,
akan mendahulukan kepentingan rakyat. Haram
hukumnya pembangunan menyengsarakan rakyat,"
ujarnya.

Mengurangi rob di daratan dekat laut

Pembangunan fase pertama ini nantinya
diikuti dengan fase berikutnya. Dimana dalam tahap
kedua nantinya akan dibangun tanggul laut di wilayah
barat
proyek,
dilanjutkan
dengan
proyek
infrastruktur, konektivitas, serta kegiatan perbaikan
lingkungan. Sedangkan tahap ketiga pembangunan
tanggul dilanjutkan
wilayah timur, sekaligus
pengembangan zona ekonomi pelabuhan dan
melanjutkan konektivitas. Disamping itu juga akan
dibangun lingkungan baru serta pengolahan limbah
padat.

Perlu konsistensi untuk menyelesaikan tanggul laut

4

mensyukuri , dimulainya pembangunan tanggul laut
ini. " Kita perlu bersyukur, lebih baik terlambat
daripada tidak sama sekali,” ujarnya.

Pengembangan infrastruktur fase selanjutnya

Seperti
telah
diketahui
sebelumnya
pembangunan tanggul laut raksasa di Teluk Jakarta
ini merupakan bagian dari Pengembangan Terpadu
Pesisir Ibu Kota Negara dikenal dengan National
Capital Integrated Coastal Development (NCICD).
Mahalnya biaya pembangunan tanggul ini, tentulah
tidak bisa sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah,
swasta juga turut dilibatkan.
Karena itu pembangunan tanggul ini juga
diikuti dengan pengembangan pulau di pesisir
Jakarta. Disamping itu juga diperlukan pembangunan
infrastruktur lain yang membuat kawasan baru ini
menarik secara ekonomi. "Tentu tanggul saja tidak
cukup, nanti juga akan disiapkan infrastruktur lainnya.
Nah pengembang silahkan bangun. Izin Amdalnya
sudah ada, tinggal diproses," imbuh Chairul.
Ditambahkannya pemerintah akan berikan contoh
pembangun tanggul ini sepanjang delapan kilometer.
“Sisanya merupakan tanggung jawab para
pengembang yang ingin mengembangkan sentrasentra ekonomi baru di kawasan pesisir,”tegasnya.

Pengembang diberi kesempatan berperan

Proyek tanggul laut ini sendiri menurut
menteri yang juga pengusaha ini sudah sangat
terlambat sekali. Padahal wacana tersebut sudah ada
sejak awal tahun sembilan puluhan. Setelah dua
dasawarsa barulah pembangunan tanggul laut itu
mulai dieksekusi. Meski terlambat namun Chairul

Hermanto Dardak, Wakil Menteri Pekerjaan
Umum, mengatakan pembangunan tanggul laut ini
sudah direncanakan sejak beberapa tahun lalu.
Dahulu tim yang merencanakannya dinamakan
Jakarta Coastal Development Strategy (JCDS), yang
terdiri dari konsultan Belanda dengan beberapa ahli
dari Indonesia. Menurutnya hasil kajian tanggul laut
ini sudah disesuaikan dengan karakter pantai di
kawasan Teluk Jakarta.
Harapan terhadap dimulainya proyek ini tak
hanya dirasakan oleh kalangan pemerintah, warga
juga menggantungkan asa akan kehidupan yang lebih
di kawasannya. Sudarmaji, warga Muara Baru,
contohnya, dia berharap proyek ini tidak dijalankan
setengah-setengah. “Yang penting kami benar-benar
jauh dari bencana banjir,” katanya penuh harap.

Harus mempertimbangkan dampak ekologi

Meski banyak pihak menyambut antusias
pembangunan tanggul ini, kritik juga tak kalah banyak
terhadap pembangunan mega proyek ini. Salah
satunya adalah yang diungkapkan oleh Muslim Muin,
Ketua Kelompok Teknik Kelautan Institut Teknologi
Bandung (ITB). Peneliti ini mengatakan bahwa
pembangunan tanggul laut ini akan sia-sia, bahkan
justru akan merugikan negara karena dampak
buruknya terhadap ekologi.
Menurutnya Jakarta tidak perlu tanggul laut
raksasa karena tidak ada banjir dan badai besar dari
laut seperti halnya badai Katrina di Amerika Serikat.
Rob yang terjadi lebih karena adanya amblesan atau
penurunan tanah saja. “Kalau tanah ambles, cukup
Pluit yang ditanggul. Menanggul di seluruh mulut
Teluk Jakarta berkedalaman 20 meter jelas
menghamburkan uang negara sangat besar,” katanya
seperti dikutip Kompas.

5

Tak ada Langkah yang Sia – Sia
Dimulainya pembangunan tanggul laut,
Oktober lalu, membersitkan harapan bagi warga
Jakarta. Meski harus menunggu lama hingga proyek
tersebut rampung sesuai rencana -jika berjalan lancar
diperkirakan tahun 2030 hasilnya baru kelihatan-,
masyarakat setidaknya melihat ada rencana besar
pemerintah untuk menjauhkan ibukota dari bahaya
banjir .
Disisi lain, ada beberapa pihak yang tak yakin
bahwa rencana besar ini benar-benar akan bisa
diselesaikan pada waktunya. Tak sedikit yang khawatir
proyek ini akan mangkrak di tengah jalan. Jika ini yang
terjadi maka yang ada dibenak orang awam adalah
kerugian, karena beberapa program sudah terlanjur
dijalankan sebelumnya. Tentu hal ini sangat
disayangkan, karena uang telah banyak keluar tapi
tidak mendapatkan hasil apa-apa.
Jika kita melihat Master Plan yang sudah ada,
ternyata proyek ini tidak kenal kata merugi. Karena
apa yang dijalankan disesuaikan dengan kebutuhan
mendesak pada waktu itu. Sebagai contoh
pembangunan tahap I yang sudah dicanangkan, dalam
tahapan ini yang dibangun adalah tanggul di bibir

pantai dan dipinggiran sungai. Tentu saja
pembangunan semacam ini memang mendesak dan
sangat diperlukan. Kelak jika pemerintah tak mampu
melaksanakan proyek ini secara keseluruhan sesuai
rencana, maka apa yang sudah dibuat akan tetap
memberi manfaat.
Menelisik isi
Master Plan
Rencana
Pembangunan Tanggul Laut dan Pulau Garuda,
terlihat begitu banyak perkembangan dari rencana
sebelumnya. Draft Master Plan, yang awal April 2014
lalu diserahkan oleh Melanie Schultz van Haegen,
Menteri Infrastruktur dan Lingkungan Belanda,
kepada Pemerintah Indonesia, melalui Djoko
Kirmanto, Menteri Pekerjaan Umum, memuat secara
menyeluruh dari mulai latar belakang hingga
tahapan pembangunan yang mungkin dilaksanakan.
Secara lugas diungkapkan fakta-fakta yang
terjadi saat ini dan kemungkinan yang akan terjadi
ditahun-tahun mendatang, baik masalah sosial,
ekonomi dan yang utama tentu saja masalah banjir
Jakarta yang semakin lama semakin parah. Khusus
mengenai banjir ini dibahas tentang langkah apa yang
telah dan akan dilakukan di Jakarta dan apa
6

dampaknya jika langkah itu dilakukan. Apakah
rencana-rencana itu sudah cukup memadai ?
Seperti sudah diketahui ada tiga tipe banjir
yang melanda Jakarta. Yang pertama, hujan lebat di
kota dimana kapasitas penyimpanan air yang tidak
mencukupi telah menyebabkan terjadinya genangan.
Kedua banjir yang berasal dari sungai-sungai dan
kanal-kanal sebagai akibat tingginya aliran di hulu.
Disamping kapasitas yang terbatas tanggul-tanggul
sungai juga tidak memadai. Sedangkan yang ketiga
adalah banjir yang berasal dari laut.

NCICD

Tahapan terintegrasi penangulangan banjir

Prinsipnya Master Plan ini dibuat, dengan
gradasi yang berbeda, untuk mencegah ketiga banjir
tersebut. Saat ini banjir semacam itu sangat mungkin
terjadi karena pertahanan banjir Jakarta sudah tidak
memadai lagi.
Seperti yang sudah beberapa kali
dibahas di buletin ini. Pada tahun 2050 diprediksi
muka air laut akan berada di antara 3 sampai 5 meter
di atas muka jalan, karena itu perlu upaya agar
wilayah pesisir tidak tenggelam secara perlahanlahan diterjang air laut.
Penyelesaian tanggul laut ini butuh waktu
yang cukup panjang, puluhan tahun. Padahal di
beberapa wilayah, kebutuhan untuk menanggulangi
banjir ada yang bersifat mendesak. Menyadari akan
hal itu, perlu ada perpaduan antara langkah jangka
pendek dan langkah jangkah
panjang. Dimana
langkah yang diambil dalam jangka pendek nantinya
tidak akan mubazir bahkan menyempurnakan rencana
jangka panjang.
Sebagai contoh tanggul laut dan sungai yang
ada sekarang ini mau tidak mau harus ditinggikan,
sedikitnya 1,5 meter. Ini disebabkan karena
penurunan muka tanah akan secara perlahan
menurunkan permukaan tanggul. Dengan dimulainya
pembangunan tahap pertama ini, setidaknya menurut
perkiraan upaya bisa mengurangi dampak banjir di
wilayah-wilayah tertentu . Di dalam Master Plan,

kawasan tanggul yang butuh perhatian semacam ini
setidaknya ada 7 kawasan ring dike.
Tak hanya itu beberapa sungai juga harus
disekat dengan perairan di Teluk Jakarta. Ini
disebabkan karena air sudah tidak lagi bisa mengalir
dengan mengandalkan gaya gravitasi ke arah lautan.
Untuk itu juga perlu disiapkan pompa-pompa air dan
stasiun pemompaan baru.
Kementerian PU dan DPU-DKI telah
menyiapkan
pembangunan
stasiun-stasiun
pemompaan air yang baru. Dengan menyekat
sungai-sungai ini akan sangat mengurangi panjang
penanggulan sungai yang harus diperkuat. Tentu saja
penyekatan ini akan membutuhkan penataan kembali
dari beberapa ruas sungai, karenanya perlu
direncanakan secara terpadu dengan perencanaan
perkotaan.
Dalam konsep pembangunan tanggul laut,
nantinya ada kolam raksasa yang dibuat karena
adanya tanggul yang membelah laut di Teluk Jakarta.
Konsekuensinya air yang masuk ke dalam waduk,
yang berasal dari sungai-sungai yang ada di Jakarta
juga harus “dibersihkan”.
Karena itu program
peningkatan mutu air terpadu harus dilakukan , yang
mencakupkan pengolahan air limbah, manajemen
limbah padat, pengerukan dan upaya-upaya nonstruktural.
Program pembersihan sungai ini sebenarnya
harus dilakukan Jakarta, meski dibangun atau tidak
dibangunnya tanggul laut. Mengingat tuntutan akan
aliran sungai yang bersahabat dengan lingkungan,
harus dipenuhi kota metropolitan seperti Jakarta ini.
Meningkatkan mutu air sungai
sudah
mendesak dan sudah merupakan prasyarat untuk
menciptakan kota yang sehat dan layak. Apalagi jika
ingin digunakan sebagai sumber air baku.
Disamping itu perlu juga beberapa upaya yang
dilakukan di daerah hulu, dimana usaha yang
dilakukan untuk mengurangi beban sungai di Kota
Jakarta. Ini tentu akan mengurangi risiko banjir di
wilayah ibukota. Seperti pengalihan air sungai yang
mengalir ke Jakarta, meningkatkan sistem drainase
perkotaan, penambahan waduk penampung pada
sistem yang ada, dan meningkatkan kapasitas pompa
drainase.
Tahapan-tahapan semacam
inilah yang
dilakukan di fase-fase awal dari serangkaian panjang
pembangunan
pengamanan
pantai.
Dimana
pembangunan yang dilakukan tetap saja merupakan
bagian
dari
solusi
permasalahan
terkini.
Bagaimanapun juga dalam tahapan pembangunan
tanggul laut ini tidak ada program yang nantinya
justru menyebabkan kerugian, atau disesali
dikemudian hari.
7

Beragam Hambatan Sodetan Kampung Pulo
ANTARA

Lazim disetiap memasuki musim hujan,
Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, selalu
memantau kesiapan wilayahnya dalam menghadapi
curah hujan. Sembari berharap banjir besar tidak
menggenangi Jakarta, gubernur tak lupa meminta
aparat dan warga untuk waspada
terhadap
kemungkinan datangnya banjir.
Hal ini juga yang
dilakukan Basuki Tjahaja Purnama, Ahok demikian dia
biasa disebut, sudah melakukan pemantauan sejak
menjadi pelaksana tugas gubernur.
Seperti yang dilakukannya
pada 18
November 2014 lalu,
Ahok meninjau Waduk
Setiabudi Timur, Pintu Air Manggarai, dan Sodetan
Kampung Pulo di Jakarta Timur. Di kawasan Kampung
Pulo Mantan Bupati Belitung , sempat melambailambaikan tangannya pada ibu-ibu yang menyambut
kedatangannya, meski demikian
raut wajahnya
kelihatan serius ketika mendengarkan penjelasan T
Iskandar, Kepala Badan Balai Besar Wilayah Sungai
Ciliwung Cisadane (BBWSCC).
Menurut Iskandar ada kesulitan dalam
proyek Sodetan Kali Ciliwung dan pembuatan benteng
banjir di Kali Ciliwung, kendalanya apalagi kalau bukan
masalah pembebasan lahan. "Untuk pengerjaan
benteng banjir di Kali Ciliwung saja, kita butuh
bebasin lahan 20-30 meter di sisi kiri kanan Kali
Ciliwung sepanjang sembilan belas kilometer," jelas
Iskandar.
Sayangnya hingga saat mereka melakukan
kunjungan, baru 17 rumah toko yang baru bisa
dibebaskan. Masih banyak rumah-rumah warga yang
belum bersedia untuk ditebus pemerintah provinsi.

Masih cukup banyak lahan yang belum bisa
dibebaskan , mencapai 1,5 hektar.
Kesulitan membebaskan lahan warga ini juga
diakui oleh Ahok. Menurutnya usaha untuk
mengantisipasi banjir kendalanya dari tahun ke tahun
sama saja, yaitu pembebasan lahan. “Masalahnya,
NCICD
lahan itu diakui banyak pihak. Kami bayar juga mau ke
siapa, bingung," ujarnya.
Ditambahkanya karut marut kepemilikan
lahan di atas proyek-proyek pemerintah dalam
beberapa kasus terpaksa harus diselesaikan di
pengadilan. Di mana pembayaran lahan ke warga
akan dititipkan ke pengadilan yang biasa disebut
konsinyasi.
"Beberapa juga menawarkan harga yang tidak
masuk akal. Kalau harga dari appraisal 10 yah akan
bayar 10, kalau tetap ngotot yah kita konsinyasi lalu
bongkar, selesai," imbuh Ahok. Permasalahan tanah
ini cukup menghambat pembangunan sodetan
Ciliwung – Kanal Banjir Timur. Karena berakibat pada
terhambatnya pekerjaan fisik.
Seperti yang terlihat di Kelurahan Bidara Cina,
Jatinegara, Jakarta Timur, warga yang belum mau
beranjak dari lahannya, menyebabkan sodetan di
bagian inlet belum bisa dikerjakan. Di kawasan Bidara
Cina, penduduknya cukup rapat , ada sekitar 200-300
bangunan yang harus dibebaskan. Disisi lain di bagian
outlet
malah sudah dilakukan
pengerjaan
pengeboran, meski di wilayah ini juga masih ada
permasalahan sengketa lahan pemiliknya.

8

Ada juga daerah yang dilalui sodetan tapi
tidak ada bangunan di atasnya, ini relatif tidak
masalah dalam pembangunan fisiknya seperti Otto
Iskandardinata III dan Cipinang. Pengeboran
disepanjang ruas dari Ciliwung ke KBT, dibarengi
dengan pemasangan pipa gorong-gorong. Setidaknya
jumlah pipa dari inlet ke outlet ini sebanyak 990 pipa.
Dimana masing-masing pipa yang terbuat dari beton
pabrikan ini memiliki panjang 2,5 meter, diameter
luar 4 meter, dan diameter dalam 3,5 meter.
Sodetan ini memang sengaja dibangun untuk
membantu mengatasi banjir di Kawasan Kampung
Melayu dan sekitarnya. Mengalirkan air Kali Ciliwung
ke KBT. Ironisnya tak hanya masalah pembebasan
lahan saja yang menjadi kendala. Pembangunan
sodetan ini juga terhambat puluhan tiang pancang
proyek pembangunan jalan tol Bekasi-CawangKampung Melayu (Becakayu).
Setidaknya ada 25 tiang pancang di sisi
timur pinggir Jalan DI Panjaitan, Kelurahan Cipinang
Besar Selatan, Jatinegara. Dimana tiang pancang

beton , yang berukuran 45 X 45 sentimeter itu,
ditanam sedalam 14 meter. Mau tidak mau tiang
pancang
tersebut
harus dicabut agar proses
pengeboran dan pemasangan pipa tidak terganggu.
Jika tidak, proyek pengeboran dan pemasangan pipa
akan terkendala. Apalagi pengeboran pada bagian
outlet sodetan ini kedalamannya mencapai 14 meter.
Diharapkan pertengahan Desember tahun 2014 ini,
seluruh tiang pancang harus segera dicabut.
Masalah lain adalah adanya jaringan utilitas
di lahan yang akan dilalui sodetan. Beberapa jaringan
utilitas ada yang terganggu akibat pembangunan
sodetan tersebut seperti jaringan air minum, listrik,
telepon dan lain-lain. Dinas pekerjaan umum sudah
menyurati pihak-pihak terkait untuk segera
memindahkan jaringan tersebut.
Sebenarnya proyek ini diharapkan bisa
diselesaikan Februari 2015, akan tetapi karena masih
ada beragam permasalahan , maka kemungkinan
besar penyelesaian pembangunan fisiknya akan
tertunda hingga akhir tahun depan.

ANTARA

NCICD

Rencana Sodetan

(sumber : Bappeda DKI Jakarta)

9

Bendung Legendaris Indikator Banjir
VIVAnews

Bagi warga Jakarta, setiap kali musim hujan
tiba, mau tidak mau telinga dan mata mereka selalu
berusaha memantau kondisi Bendung Katulampa.
Bendung itu seolah-olah menjadi satu-satunya
indikator yang membuat Jakarta akan mengalami
banjir atau tidak.
Bahkan
stasiun-stasiun
televisi
selalu
menempatkan komentator dan kameramennya di
lokasi bendung tua ini, terutama disaat hujan lebat
mengguyur Kota Bogor dan sekitarnya. Ketinggian air
di bendung ini menjadi laporan paling penting
diberitahukan kepada khalayak ramai.
Dari ketinggian 80 sentimeter yaitu kondisi
siaga IV, hingga level berbahaya dengan ketinggian di
atas 200 sentimeter menjadi berita menarik sekaligus
menakutkan bagi warga Jakarta, terutama yang dilalui
aliran Sungai Ciliwung. Kondisi Bendungini seakanakan selalu identik dengan besarnya luas banjir di
Jakarta.
Lihat saja ketika Jakarta lantak disikat banjir
pada tahun 1996, 2002, 2007, dan 2010 tinggi air di
Bendung Katulampa tidak tanggung-tanggung
mencapai 250 sentimeter. Melewati batas Siaga I
yang menjadi patokan pemerintah.
Mungkin kita tidak pernah menyangka bahwa
Bendungini sudah dioperasikan lebih dari seratus
tahun lamanya. Tepatnya mulai tahun 1911. Ketika
beberapa wilayah di bantaran Sungai Ciliwung

dilanda banjir, dan daerah Harmoni tak bisa
mengelakkan diri dari gelontoran air, di tahun 1872,
Pemerintah Belanda, mulai berpikir untuk bisa
“menahan” aliran sungai Ciliwung, sekaligus
memanfaatkannya untuk keperluan irigasi. Untuk itu
ditahun 1889 mulailah mereka membangun bendung
tersebut.
Kala itu pembangunan bendung ini tak hanya
untuk memantau jumlah air yang akan menggelontor
Jakarta, tetapi juga digunakan untuk aliran irigasi
persawahan yang ada di Bogor dan Jakarta. Karena
itu aliran Sungai Ciliwung dibagi dua di bendung ini,
melalui sungai Ciliwung yang ada hingga sekarang ini,
dan satunya melalui kali buatan yang dialirkan
melewati pintu air ke Kali Baru Timur.
Air yang melalui Kali Baru inilah yang
digunakan untuk kepentingan irigasi. Aliran air irigasi
ini bergerak
sepanjang sisi Jalan Raya Bogor,
Cimanggis, Depok, Cilangkap dan akhirnya bermuara
di Kali Besar, Tanjung Priok , Jakarta Utara.
Kala itu, dengan adanya aliran irigasi ini
pasokan air untuk sawah di sekitar Bogor dan Jakarta
lebih terjamin. Sehingga petani pun merasakan
dampak positif dari adanya aliran ini. Akan tetapi
semenjak jaman orde baru, dimana pembangunan
Jakarta sebagi ibukota negara terus digeber, lahanlahan pertanian justru semakin berkurang. Kaplingkapling sawah secara ekonomis sudah kalah bersaing,
dengan keuntungan yang diperoleh jika membangun
10

perumahan atau pabrik-pabrik yang diperlukan untuk
industri, di lahan tersebut.
Perubahan
yang
terlalu
cepat
ini
menyebabkan aliran irigasi ini relatif sudah kurang
dimanfaatkan sejak era tahun 90’an. Sawah yang
diairi tidak lagi banyak, beberapa gelintir saja, itupun
hanya di Bogor dan Cibinong saja. Kebalikan dengan
fungsinya sebagai irigasi, Katulampa sebagai tempat
pemantauan bahaya banjir di Jakarta, justru semakin
menonjol.

Tinggi muka air di Katulampa saat banjir 2007

Jika status Siaga IV maka pengamatan tinggi
muka air (TMA) dilakukan setiap satu jam sekali.
Siaga III pengamatan TMA dilakukan setiap 30 menit
sekali. Untuk tingkat “awas” atau Siaga II pengamatan
TMA dilakukan setiap 15 menit sekali. Sedangkan
ditingkat yang dianggap “bencana” Siaga I
pengamatan TMA dilakukan tiap 5 menit sekali.

Cemas melihat muka air yang terus naik

Karena itu ketika tinggi bendung air di
Katulampa sudah sangat ekstrim, bisa dipastikan
banyak tempat di Jakarta akan kebanjiran, terutama
di bantaran sungai. Lihat saja banjir besar yang terjadi
tahun 2002 dan 2007 lalu, tinggi muka air yang
mencapai lebih dari 250 sentimeter, memporak
porandakan sebagaian besar wilayah Jakarta. Ini
artinya sebanyak 630.000 liter per detik air
menggelontor Jakarta .
Tercatat di tahun 2007
menjadi banjir yang paling banyak memakan korban
jiwa, setidaknya 80 orang tewas.
Ironisnya, bagi masyarakat awam sering kali
bendung yang terletak di Kelurahan Katulampa, Kota
Bogor, ini dianggap sebagai penyebab banjir. Karena
tidak ditutup dan dialihkan alirannya ke tempat lain.
Anggapan ini tentu saja salah, karena Katulampa
tidak memiliki kemampuan untuk menahan dan
membuka tutup aliran air. Sekarang ini Katulampa
hanya menjadi sistem informasi dini terhadap bahaya
banjir di Sungai Ciliwung.
Kini informasi tentang seberapa tinggi air di
Bendung Katulampa bisa cepat sampai ke warga, tak
hanya melalui media elektronik, pesan singkat ke
telfon genggam pun kerap diterima oleh warga
Jakarta. Sumbernya
berasal dari badan
penanggulangan bencana setempat. Dari Katulampa
ini status tinggi air di Ciliwung menjadi patokan dari
Siaga IV hingga yang paling berbahaya Siaga I.

Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta telah
membuat kriteria kapan saat tinggi air digolongkan
dalam status-status seperti disebut tadi. Siaga IV,
jika TMA di Katulampa dibawah 80 sentimeter. Siaga
III, jika
TMA di Katulampa mencapai 80-150
sentimeter. Siaga II, jika TMA di Katulampa mencapai
150-200 sentimeter. Sedangkan untuk tergolong
bencana atau Siaga I, jika TMA di Katulampa diatas
200 sentimeter.
Jika mengambil contoh kondisi Siaga I di
Katulampa, maka sampai di Pintu Air Manggarai tinggi
muka airnya, biasanya melebihi 950 sentimeter.
Keadaan banjir tahun 2007 menunjukan bahwa tinggi
muka air di pintu air Manggarai bahkan mencapai
lebih dari 10,5 meter.

Tinggi muka air di Pintu Air Manggarai saat banjir 2007

11

Belanda dan Pengelolaan Air
Belanda tidak terpisahkan dengan air. Banyak
wilayah Belanda terletak di bawah permukaan laut,
tidak terkecuali daerah daerah padat penduduk.
Perjuangan melawan air sudah melekat sejak lahirnya
negeri yang berbatasan dengan Laut Utara ini. Namun
demikian, air bukanlah hanya pembawa petaka, tetapi
juga merupakan sumber kemakmuran yang sangat
penting. Letak Belanda yang menguntungkan karena
berbatasan dengan laut membuatnya menjadi sebuah
negeri yang menikmati perdagangan yang tumbuh
subur, sejak beberapa abad silam. Keahlian Belanda di
bidang teknologi air bahkan diterapkan di berbagai
penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Pengetahuan
itu merupakan salah satu komoditi ekspor penting
bagi Belanda.

permukaan tanah berimbas pada semakin rendahnya
beberapa wilayah negeri Belanda.
Upaya besar besaran diperlukan untuk
mengamankan Belanda dari bahaya banjir di masa
mendatang. Pengendalian air bukan hanya semata
untuk keamanan, tetapi juga berdampak pada alam,
pariwisata, ekonomi dan lapangan kerja. Proyekproyek air menimbulkan dampak serius sehingga
memerlukan penanganan khusus, juga bagi kebijakan
komunikasi proyek-proyek air tersebut.
1.Hidup berdampingan dengan air (Dari melawan
hingga hidup berdampingan dengan air)
Orang-orang Belanda menyandang predikat
sebagai arsitek proyek proyek air dan pelopor dalam
bidang manajemen air. Belanda mengenal sejarah
panjang menghadapi badai pasang dan musibah
banjir. Musibah banjir 1953 menjadi pemicu
pembangunan proyek “Deltawerken”. Perang
melawan air pun dilakukan dengan segala daya.

www.deltawerken.com

Proyek Deltawerken

Pada tahun 1953, Belanda diterjang musibah
banjir parah yang menewaskan 1836 warganya dan
menimbulkan kerugian material besar. Untuk
mencegah agar musibah banjir ini tidak terulang
kembali, maka pemerintah mencanangkan apa yang
disebut proyek “Deltawerken“, yang penyelesaiannya
memakan waktu lima dasawarsa.
Setelah penyelesaian proyek “Deltawerken“
itu warga Belanda merasa aman tenteram dapat
berlindung di balik serangkaian dam, tanggul dan
tanggul penangkal badai pasang canggih. Tetapi
perubahan iklim mengusik ketenteraman tersebut
dan menjadi tantangan besar untuk dapat
mengatasinya. Akibat perubahan iklim tersebut,
Belanda menghadapi menaiknya permukaan air laut,
kondisi cuaca yang semakin ekstrim dan peningkatan
debit air sungai-sungai ke delta delta. Penurunan

www.DavidMixner.com

Banjir 1953

Berbagai contoh telah membuat nyata bahwa
perlawanan terhadap air tidak mungkin dapat
dimenangkan total. Reklamasi berkelanjutan tanpa
mempedulikan konsekuensi ke depannya tidak
mungkin dilakukan.
Pilihan bijak adalah untuk mencoba mencari
keseimbangan; Kata kuncinya adalah: mencari cara
terbaik untuk dapat hidup berdampingan dengan air.
Menangkal air dengan hanya mengandalkan
konstruksi beton bukan otomatis merupakan solusi
terbaik. Solusi yang semakin kerap diterapkan di
Belanda adalah justru untuk memberikan ruang
kepada air manakala diperlukan.

12

Perubahan mental di kalangan warga,
pengusaha dan pemngku kepentingan lain diperlukan
dalam menghadapi dinamika tarik ulur guna
mengalokasikan ruang tambahan untuk air atau justru
tidak. Perubahan mental ini harus senantiasa ditekuni
secara berkesinambungan. Di situlah komunikasi
dapat berperan penting.

.deltawerkenmediagallerery

tidak terlibat langsung. Dalam pengertian ini termasuk
penduduk serta perusahaan di daerah daerah yang
tidak berbatasan langsung dengan lokasi proyek air.
Para stakeholders yang tidak terkena dampak
langsung dari suatu proyek, tetapi terkena getahnya
karena kedekatan letak geografisnya. Misalnya
masyarakat yang tidak tinggal di tepi pantai atau
sungai, tetapi yang juga akan merasakan luapan air
apabila ada tanggul yang jebol.
c. Pemerintah pada tingkat daerah, provinsi dan
nasional.
Pemerintah
membentuk
kelompok
stakeholder ketiga. Sebagian besar proyek air
melibatkan pemerintahan dari berbagai lapisan.
Masing-masing lapisan memiliki tugas dan tanggung
jawabnya masing masing. Tata kelola air pada tingkat
wilayah di Belanda misalnya adalah tanggung jawab
sebuah badan khusus pengelola air (waterschap).
Pemerintah daerah pada gilirannya memiliki tugas
yang lebih luas: di samping keamanan terhadap
bahaya air pemda juga harus memperhatikan aspekaspek lain seperti integrasi tata ruang, ekonomi, dan
pariwisata. Kelompok stakeholder ini akan sepakat
mengenai kepentingan bersama yakni menghindari
terjadinya musibah banjir, tetapi mungkin berbeda
visi untuk mencari solusi guna mencapai kepentingan
tersebut.

Deltawork pertama operasional 1958

2. Kebijakan komunikasi di tengah samudera
pemngku kepentingan (stakeholders). (stakeholders
mana yang bisa menjadi sekoci penyelamat dan siapa
yang bisa menenggelamkan kita)
Hanya sedikit aktivitas pembangunan lain
yang melibatkan begitu banyak pemngku kepentingan
(stakeholders) seperti halnya pada proyek proyek
seputar air.
Proyek proyek air dapat menimbulkan
dampak serius terhadap lingkungan dan alam. Itulah
sebabnya mengapa sejumlah besar warga, pebisnis
dan LSM menjadi pihak pihak penting yang terlibat.
Kita dapat membedakan para stakeholders
tersebut menjadi empat kelompok :
a. Yang pertama adalah kelompok yang mengalami
langsung dampak proyek air. Kelompok ini terdiri dari
warga dan organisasi yang mengalami dampak
langsung--baik itu positif maupun negatif--sebuah
proyek air. Mereka misalnya adalah penduduk di tepi
pantai, atau para pengusaha yang aktif di kawasan itu.
b. Kelompok yang tidak mengalami langsung dampak
proyek air. Pengelompokkan kedua ini lebih luas
sifatnya serta mencakup kelompok kelompok yang

d. Kepentingan umum: menciptakan sebuah negeri
yang aman, menarik, dan sejahtera. Kelompok ke
empat ini sifatnya lebih abstrak. Hal ini tidak
menyangkut kelompok tertentu, tetapi suatu
kepentingan
umum.
Misalnya
kepentingankepentingan ekonomi (kesempatan kerja, perumahan,
posisi dalam perdagangan internasional), lingkungan
(pemulihan dan pengelolaan hutan lindung), serta
pariwisata. Kelompok-kelompok yang mewakili
kepentingan-kepentingan ini bisa berbeda-beda,
misalnya: serikat buruh, serikat majikan, organisasi
lingkungan, dsb.
Analisis stakeholder
Pencacahan kelompok-kelompok stakeholder
ini tidaklah sempurna. Pengelompokkan tersebut
harus dilihat sebagai kerangka teori yang dapat
memberi arah untuk memetakan para stakeholders.
Gambaran terperinci bagi setiap proyek dapat
dibuat berdasarkan pengelompokkan ini: “analisis
stakeholder”. Kelompok-kelompok stakeholder ini
bisa bertambah, selama bergulirnya sebuah proyek.
Petakanlah berbagai kepentingan, sikap, serta
pendapat dari semua pihak. Dengan demikian akan
jelas terlihat sejak awal risiko dan ancaman yang ada
maupun peluang serta hal-hal yang perlu diperhatikan
bagi kebijakan komunikasi.
13

3. Merajut berbagai prioritas. (1+1=3)
Apa yang membuat kebijakan komunikasi
proyek proyek air adalah sesuatu yang amat unik?
Selain jumlah stakeholeders yang cukup besar hal lain
yang membuat kebijakan komunikasi menjadi
tantangan tersendiri terutama adalah beragam sudut
pandang yang muncul dalam proyek proyek air.
Para pembuat kebijakan kerap kali
mencurahkan banyak perhatian terhadap berbagai
sudut pandang para stakeholders yang terlibat.
Namun demikian hal itu tidak dibarengi dengan
adanya satu visi tunggal yang merupakan rangkuman
dari beragam sudut pandang tersebut.
Sebuah analisis mengenai sudut pandang
yang paling sering dikedepankan dalam proyek proyek
air memperlihatkan bahwa ada empat tema yang
menjadi perhatian utama.

Prioritas ketiga berkaitan dengan alam dan lingkungan
hidup. Pendekatan baru dalam filosofi proyek proyek
air adalah “pembangunan yang serasi dengan
Lingkungan
Hidup”.
Dengan
memanfaatkan
Lingkungan Hidup secara inovatif, kita dapat
melindungi diri dari air pasang. Bersamaan waktu kita
dapat menciptakan peluang bagi pelestarian dan
perbaikan lingkungan.
d. Pariwisata
Prioritas keempat dan terakhir adalah pariwisata.
Bagaimana cara terbaik untuk meningkatkan serta
memperbaiki pariwisata? Proyek proyek air dapat
dimanfaatkan untuk wisata bahari, sehingga akan
meningkatkan daya tarik sektor pariwisata.

Tema tema ini adalah prioritas yang
menentukan bagaimana cara para stakeholeders
memandang proyek proyek air.
a. Keamanan
Keamanan adalah prioritas yang mungkin paling
sering digunakan dan bersamaan waktu juga yang
paling kontroversial. Penurunan permukaan tanah,
naiknya permukaan air laut dan meningkatnya cuaca
ekstrim adalah perkembangan yang menjadi landasan
mengapa keamanan menjadi prioritas utama.
Faktor keamanan tak dapat dipungkiri menjadi alasan
utama kebanyakan proyek proyek air. Contoh terbaik
adalah proyek proyek untuk memperkokoh pantai
dari ancaman air laut.

Netherlands.tourism.com

Wisata bahari berkembang di Belanda

Integrasi berbagai prioritas
Yang menjadi tantangan adalah untuk menyertakan
keempat sudut pandang di atas dalam setiap kegiatan
komunikasi. Para stakeholders dengan visi terbatas
kerap kali tidak mampu melihat dan memahami
konteks lebih luas sebuah proyek. Sudut pandang
yang lain dicap tidak penting. Padahal visi yang
sebaiknya dikedepankan harus melingkupi semua
sudut pandang.
Bila pendekatan prioritas prioritas sebuah
proyek air dilakukan secara menyeluruh, maka
keempat prioritas (keamanan, ekonomi, alam dan
pariwisata) akan dapat dipadu dengan baik.

Agriculture.newholland.com

Pengendalian air berpengaruh pada sektor pertanian

b. Ekonomi
Selain alasan keamanan, ekonomi adalah prioritas
penting lain dalam proyek proyek air. Pilihan pilihan
yang dilakukan dalam proyek pengendalian air akan
berdampak luas terhadap sektor sektor pertanian,
pelayaran, industri dan perikanan.
c. Alam

Integrasi keempat sudut pandang itu bukan
berarti bahwa sebuah proyek akan menyertakan
sudut pandang Lingkungan Hidup, Bisnis dan
Kenyamanan Kawasan tanpa menerapkan skala
prioritas.
Hal itu bisa mengakibatkan para stakeholders
akan mengesampingkan azas praduga. Masing masing
stakeholder hanya akan membuka diri untuk argumen
yang sesuai dengan visinya dan mengesampingkan
nilai nilai argumen yang lain.

14

Walhasil, ketegangan antar berbagai visi
dalam sebuah proyek akan semakin meruncing. Oleh
karena itu sebelum sebuah proyek dimulai maka
sebaiknya dilakukan pemetaan berbagai prioritas
terlebih dahulu.
Langkah kedua adalah mengembangkan
sebuah pesan yang konsisten. Pesan pesan sekunder
dapat pula dikembangkan setelah itu, dengan
senantiasa memperhatikan berbagai prioritas. Dengan
cara ini kelompok kelompok sasaran akan disertakan

dalam proses pengambilan keputusan yang harus
dilakukan oleh berbagai lapisan pemerintah dalam
proyek proyek air.
Hal ini akan lebih mempermudah terciptanya
pengertian atas pilihan pilihan yang diambil.
Sumber Teks : katalog “In een zee van
stakeholders”, een visie op communicatie over water.
Penerbit: Biro komunikasi Podium dan Connect , Belanda
dan Belgia

15