You are on page 1of 34

ENTREPRENEURIAL ORIENTATION PADA INDUSTRI KREATIF

DI JAWA TIMUR DAN PENGARUHNYA TERHADAP

PERTUMBUHAN PERUSAHAAN

Oleh:

PETER SETIAWAN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Usaha kecil memiliki peran sentral dalam perekonomian Indonesia.

Menurut Wardhanu (2009), peran Usaha Kecil dan Menengah dapat dilihat dari

dua aspek yaitu peran terhadap penyerapan tenaga kerja dan peranan terhadap

nilai ekspor. Mengingat peran usaha kecil tersebut sangat besar andilnya bagi

negara dan masyarakat kecil di lapisan bawah, maka pembinaan dan

pengembangannya sangat perlu diperhatikan. Kondisi usaha kecil dan

menengah khususnya di negara Indonesia memiliki dihadapkan dengan berbagai

tantangan dan peluang dimana tenaga kerja berpendidikan rendah, aneka

sumber alam berlimpah, kapital terbatas, pembangunan infrastruktur di daerah

masih belum layak dan distribusi pendapatan antar daerah tidak merata.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008

Tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (dalam Muhardi, 2008), usaha

1
Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh

orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan

atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik

langsung, dengan kriteria memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00

(lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima

ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta

rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima

ratus juta rupiah).

Dalam perkembangan usaha kecil, hal yang menarik untuk dicermati

adalah munculnya fenomena industri kreatif (creative industry) pada beberapa

tahun terakhir, sebagai contohnya adalah bisnis percetakan, surat kabar,

periklanan, rumah produksi, perfilman, event organizer, dan sejenisnya.

Howkins dalam Jurnal The Creative Economy (2004) menemukan kehadiran

gelombang ekonomi kreatif sejak tahun 1996 melalui data karya hak cipta

Amerika Serikat yang mempunyai nilai penjualan ekspor sebesar 60,18 miliar

dolar (sekitar 600 triliun rupiah) yang jauh melampaui ekspor sektor lainnya

seperti otomotif, pertanian, dan pesawat. Howkins (2004) membuat kategori

industri kreatif, meliputi: periklanan, arsitektur, seni rupa, kerajinan atau kriya,

desain, desain fashion, film, musik, seni pertunjukan, penerbitan, riset dan

pengembangan, piranti lunak, mainan dan permainan, TV dan Radio, dan

permainan video. Nilai pasar sektor industri kreatif tersebut dalam pasar global

telah mencapai nilai sebesar US$ 2,2 triliun pada tahun 1999 dan diprediksikan

2
mencapai US$ 6,1 triliun pada tahun 2020 (Sumber: Howkins dalam Jurnal The

Creative Economy, 2004).

Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu dalam Acara Launching

Tahun Indonesia Kreatif 2009 yang diselenggarakan tanggal 22 Desember 2008

(http://www.designer-republic.com/), menyatakan bahwa salah satu peluang

yang sangat potensial untuk kaum entrepreneur di tahun 2009 ini adalah sektor

industri kreatif. Jenis industri ini memberikan fleksibilitas kerja yang lebih

tinggi dibanding cara-cara kerja konvensional, karena pelakunya tidak lagi

harus terpaku bekerja di kantor atau pabrik-pabrik, tetapi dapat melakukan

pekerjaan mereka di manapun, termasuk di rumah. Dari data yang ada, tercatat

bahwa pada tahun 2008 kontribusi ekonomi dari industri-industri kreatif di

Indonesia adalah 6,3% dari GDP nasional (Sumber: Jurnal Riset Studi Indonesia

Kreatif versi Final tahun 2008 dalam situs Departemen Perdagangan:

http://industrikreatif-depdag.blogspot. com/).

Dalam pemetaan bisnis usaha kecil, saat ini terdapat kecenderungan

perubahan orientasi bisnis oleh para entrepreneur, yakni dari industri

konvensional ke industri kreatif. Perilaku entrepreneur yang bergelut di bidang

industri kreatif juga agak berbeda dengan perilaku entrepreneur industri

konvensional. Entrepreneur industri kreatif cenderung lebih berwawasan

terbuka, modern, kreatif, inovatif, dan memiliki diversifikasi produk. Hal ini

memberi pengaruh besar pada perkembangan perusahaan, sehingga industri

kreatif cenderung memiliki perkembangan yang lebih pesat daripada industri

3
konvensional (Sumber: Simatupang dalam Jurnal Perkembangan Industri

Kreatif, 2008)

Jiwa entrereneurship dalam lingkungan industri kreatif ternyata tidak

hanya bertumbuh dalam diri pemimpin usaha selaku pemilik (owner), namun

lingkungan kerja industri kreatif juga merupakan wahana yang baik bagi para

karyawannya untuk mengembangkan jiwa entrepreneurship. Dalam hal ini

karyawan juga dituntut untuk menjadi orang-orang yang kreatif, inovatif dan

menyukai tantangan. Sikap semacam ini dalam dunia manajemen bisnis biasa

disebut dengan intrapreneurship yang merupakan kependekan “intra corporate

entrepreneurship”, artinya yaitu pengembangan sikap wirausaha dalam dalam

diri para anggota organisasi. Secara lebih luas, Timmons dan Spinelli (2007)

menyebutkan fenomena tersebut sebagai entrepreneurial orientation (orientasi

kewirausahaan), yaitu suatu perangkat yang meliputi sifat psikologis personalia,

nilai, atribut dan moral yang tinggi yang dimotivasi menjadi satu untuk terlibat

dalam suatu kegiatan kewirausahaan. Menurut Winarto (2004), karyawan

industri kreatif yang telah cukup berpengalaman berpeluang besar memutuskan

keluar dari tempat kerjanya dan merintis usaha sendiri di bidang yang sama

berbekal pengalaman dan keberaniannya mengambil risiko bisnis. Bahkan

berpeluang besar akan sukses dan mampu menjadi pesaing bagi perusahaan

lama tempatnya bekerja dulu.

Di kawasan Jawa Timur saat ini mulai banyak bermunculan usaha-

usaha kecil sejenis industri kreatif, khususnya di Kota Surabaya, Malang, Kediri

dan beberapa kota besar lainnya. Hal ini dibuktikan dari data presentase

4
penyerapan tenaga kerja pada tahun 2001 sampai 2005, industri desain fashion

yaitu sekitar 59%, industri kerajinan menyerap tenaga kerja sebanyak 29%,

sedangkan industri radio dan televisi serta industri penerbitan, percetakan,dan

media rekaman menyerap tenaga kerja masing-masing 11% dan 1 % (Sumber:

Data Survey Angkatan Kerja Nasional oleh Biro Pusat Statistik dalam

Simatupang, 2008)

Industri kreatif juga memiliki pertumbuhan yang sangat pesat dengan

profit margin yang cukup tinggi walaupun dikelola sebagai perusahaan

perseorangan. Pada tahun 2005 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dari

industri kreatif di Jawa Timur mencapai Rp 257.535 milyar (US$ 25.75 billion),

nilai ini sekitar 14-15 persen dari total PDB nasional. Pada tahun 2005 industri

kreatif di Jawa Timur telah menyerap tenaga kerja sekitar 2,54% dari jumlah

total tenaga kerja atau sekitar 392.636 orang dan menyumbang 7,82% dari atau

sekitar Rp 20 triliun (Sumber: Jurnal Riset Studi Indonesia Kreatif versi Final

tahun 2008 ).

Keberhasilan tersebut selain bersumber dari faktor kepemimpinan

pengusaha, tetapi juga didukung dari kreativitas para karyawannya yang juga

memiliki mental entrepreneur dalam dirinya. Hal inilah yang mendorong

penulis untuk melakukan penelitian dengan mengangkat judul penelitian:

Entrepreneurial Orientation pada Industri Kreatif di Jawa Timur dan

Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan Perusahaan.

5
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan pada paparan latar belakang di atas, maka penulis dapat

merumuskan masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Bagaimanakah aspek demografis dan latar belakang

karyawan usaha kecil pada industri kreatif yang dikelola oleh alumni

Universitas Kristen Petra di Jawa Timur?

2. Bagaimanakah tingkat entrepreneurial orientation dari

usaha kecil pada industri kreatif yang didirikan oleh alumni Universitas

Kristen Petra di Jawa Timur?

3. Bagaimanakah tingkat pertumbuhan usaha kecil pada

industri kreatif yang dikelola atau didirikan oleh alumni Universitas Kristen

Petra di Jawa Timur?

4. Bagaimanakah hubungan antara tingkat entrepreneurial

orientation dengan tingkat pertumbuhan usaha dari usaha kecil pada industri

kreatif yang dikelola atau didirikan oleh alumni Universitas Kristen Petra di

Jawa Timur?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukannya penelitian ini antara lain:

1. Mendeskripsikan aspek demografis dan latar belakang karyawan usaha

kecil pada industri kreatif yang dikelola oleh alumni Universitas Kristen

Petra di Jawa Timur.

6
2. Mendeskripsikan entrepreneurial orientation dari usaha kecil pada

industri kreatif yang didirikan oleh alumni Universitas Kristen Petra di Jawa

Timur.

3. Mendeskripsikan pertumbuhan usaha kecil pada industri kreatif yang

dikelola atau didirikan oleh alumni Universitas Kristen Petra di Jawa Timur.

4. Mendeskripsikan hubungan antara tingkat entrepreneurial orientation

dengan tingkat pertumbuhan usaha dari usaha kecil pada industri kreatif

yang dikelola atau didirikan oleh alumni Universitas Kristen Petra di Jawa

Timur.

1.4 Batasan Penelitian

Demi menjaga agar penelitian ini tidak bias dan tetap fokus pada objek

yang diteliti, maka dibuat beberapa batasan penelitian antara lain:

1. Industri kreatif yang dimaksud adalah industri kecil yang bergerak di bidang

jasa atau barang dengan spesifikasi khusus dan mengandalkan keahlian,

yang berada di kawasan Jawa Timur.

2. Entrepreneur atau pemilik usaha yang usahanya dijadikan objek penelitian

adalah alumni Universitas Kristen Petra Surabaya yang lulus sebelum tahun

2008.

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian diharapkan dapat memberi manfaat kepada berbagai pihak,

antara lain:

7
1. Manfaat Akademis

a. Bagi Institusi Pendidikan

Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya perbendaharaan

kepustakaan, khususnya bagi ilmu kewirausahaan, dan dapat menjadi

masukan bagi peneliti selanjutnya terhadap masalah yang terkait di masa

mendatang.

b. Bagi Penulis

Penelitian ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar

sarjana ekonomi strata satu. Selain itu dapat menambah wawasan dan

pengalaman penulis tentang entrepreneurial orientation.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi kalangan entrepreneur, penelitian ini diharapkan dapat memberi

masukan berkenaan dengan pengembangan industri kreatif, sehingga

nantinya dapat diimplementasikan melalui strategi bisnis pada usahanya

masing-masing.

b. Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat memberi wawasan

bagi masyarakat luas, khususnya berkaitan dengan isu entrepreneurial

orientation.

8
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Entrepreneurial Orientation

2.1.1 Pengertian Entrepreneurial Orientation (Orientasi Kewirausahaan)

Timmons dan Spinelli (2007) mendefinisikan entrepreneurial

orientation (orientasi kewirausahaan) sebagai berikut: “entrepreneurial

orientation refers to the set of personal psychological traits, values,

attributes, and attitudes strongly associated with a motivation to engage in

entrepreneurial activities”. Dalam arti kata entrepreneurial orientation

adalah suatu perangkat yang meliputi sifat psikologis personalia, nilai, atribut

dan moral yang tinggi yang dimotivasi menjadi satu untuk terlibat dalam suatu

kegiatan kewirausahaan.

Menurut Lumpkin and Dess (2006), “entrepreneurial orientation is

a process construct and concerns the methods, practices, and decision making

styles managers use”. Dalam arti kata entrepreneurial orientation adalah

suatu proses membangun dan memberi perhatian penuh pada model metode,

praktik dan pengambilan keputusan yang dikembangkan oleh seorang

manajer.

Sedangkan menurut Hamid (2007), entrepreneurial orientation

adalah suatu orientasi yang mengedepankan kepekaan dan upaya bagaimana

memanfaatkan peluang untuk melakukan social improvement dengan

memanfaatkan hasil-hasil inovasi dan penemuan yang ada.

9
2.1.2 Dimensi-Dimensi Entrepreneurial Orientation

Menurut Thornberry (2006) perusahaan perlu memberikan penilaian

pada beberapa dimensi guna menentukan tingkat entrepreneurial orientation,

dimensi tersebut meliputi :

1. Kondisi Umum Perusahaan

Kondisi umum perusahaan dapat tercermin dari kebijakan keuangan

perusahaan tersebut. Sebuah perusahaan yang mengedepankan

entrepreneurial orientation akan selalu menekankan efisiensi, namun

membuka peluang yang luas untuk mengalokasikan dana terhadap

investasi yang dianggap profitable.

2. Rencana Strategis

Rencana strategis dalam suatu perusahaan harus jelas, terarah, tetapi

fleksibel. Perencanaan tersebut tidak cenderung formal tetapi aplikatif

untuk diterapkan pada kegiatan teknis.

3. Hubungan Cross Fungsional

Sebuah perusahaan yang memiliki entrepreneurial orientation akan

memiliki kerjasama yang baik antar bagian/fungsi yang ada dalam

perusahaan tersebut. Masing-masing divisi bersedia membagi ide dan

informasi satu sama lain. Apabila ada masalah selalu ada kegiatan diskusi

antar departemen. Sedangkan dari pihak pimpinan memberikan dukungan

penuh terciptanya hubungan cross fungsional, misalnya dengan

memberikan penghargaan terhadap kerjasama antar divisi.

1
4. Dukungan / Aspirasi Karyawan

Inti dari entrepreneurial orientation adalah adanya inovasi produk,

dimana hal ini dapat tercapai dengan baik apabila seluruh elemen

diberikan kesempatan dan dukungan untuk menyalurkan aspirasi, ide, dan

sumbang saran demi kemajuan perusahaan baik secara formal maupun

informal. Pimpinan tidak segan-segan menerima masukan dari bawahan

untuk mengubah cara-cara lama yang dianggap sudah tidak relevan.

5. Intelijen Pasar

Untuk memberikan yang terbaik kepada pelanggan maka perusahaan

harus aktif melakukan penelitian pasar, misalnya dengan melakukan

survey kepuasan konsumen. Para karyawan juga diberikan informasi yang

luas mengenai kondisi pasar, keberadaan para pesaing dan strategi

pemasaran yang akan diambil.

6. Pengambilan Risiko

Pengambilan risiko adalah kunci entrepreneurial orientation dimana

perusahaan harus menyukai perubahan, melakukan investasi dan

perhitungan risiko yang seksama dan berani untuk mencoba hal-hal baru.

7. Kecepatan dalam Mengatasi Masalah

Apabila ada keluhan-keluhan konsumen terhadap produk atau pelayanan

perusahaan, maka hal ini segera ditangani secara tepat dan efisien. Untuk

itu beberapa karyawan diberi kewenangan yang lebih besar untuk

mengambil keputusan.

1
8. Fleksibilitas

Kelangsungan hidup perusahaan tidak bergantung pada orang-orang

tertentu, tetapi semua elemen dilatih untuk menguasai pekerjaan antar

divisi. Oleh karena itu dimungkinkan adanya rolling orang-orang ke

fungsi dan divisi yang berbeda.

9. Fokus

Entrepreneur sebagai seorang pemimpin harus memiliki visi yang jelas

dalam menentukan arah tujuan perusahaan. Visi tersebut juga harus di

sosialisasikan secara efektif kepada seluruh elemen organisasi.

10. Masa Depan

Entrepreneurial orientation dalam sebuah perusahaan tidak berdasarkan

pada letupan-letupan sesaat, melainkan memiliki suatu perencanaan

jangka panjang yang terus berkesinambungan dan dapat diperbarui. Untuk

itu harus dibentuk divisi research and development guna mempersiapkan

pengembangan sistem dan produk di masa depan.

11. Orientasi Individu Karyawan

Setiap individu dalam organisasi memiliki jiwa intrapreneurship, artinya

mereka merasa turut memiliki perusahaan dan termotivasi untuk

membangun perusahaan melalui potensi-potensi yang ada di dalam

dirinya.

1
2.1.3 Peranan Entrepreneurial Orientation

Menurut Timmons dan Spinelli (2007) entrepreneurial orientation

berperan bagi owner atau entrepreneur untuk membentuk semangat kerja

yang agresif bagi anggota organisasi untuk memberi pelayanan yang terbaik

kepada pelanggan, kreatif dalam menciptakan inovasi produk baru yang

diminati pasar, mengalahkan para pesaing yang ada, dan membangun kerja

sama yang solid di antara semua elemen organisasi. Menurut Cooper, dkk

(2006), penerapan entrepreneurial orientation dapat diimplementasikan

melalui metode, praktik, dan kebijakan entrepreneur baik dalam perencanaan

strategis maupun operasional.

2.1.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Entrepreneurial Orientation

Menurut Minniti (2007) terdapat beberapa faktor yang

mempengaruhi terciptanya entrepreneurial orientation dalam sebuah

organisasi, antara lain:

1. Tim Manajemen Puncak

Tim manajemen puncak adalah pengambil keputusan dan pembuat

kebijakan yang secara langsung dapat mempengaruhi budaya kerja dalam

suatu organisasi. Suprayitno (2005) dalam penelitiannya menyatakan

bahwa keputusan-keputusan yang diambil oleh seorang manajer puncak

membawa pengaruh yang signifikan terhadap budaya kerja dan

pertumbuhan perusahaan, khususnya pada masa-masa krisis bisnis.

1
2. Struktur Organisasi

Struktur organisasi merupakan gambaran cara kerja sistem dalam suatu

perusahaan. Struktur yang baik menurut Suaedi (2005) struktur organisasi

yang lebih organis, lebih fleksibel, yang memberikan ruang lebih besar

untuk terjadinya interaksi, partisipasi dengan membentuk tim kerja lintas

fungsi, dan program multiskilling (misalnya), yang memungkinkan

terjadinya proses belajar dan empowerment akan menghasilkan situasi

yang kondusif untuk timbulnya kreatifitas dan kepuasan kerja sehingga

hal demikian dapat dipakai sebagai instrumen untuk mendukung

keberhasilan implementasi strategi perusahaan yang dinamis dan juga

meningkatkan entrepreneurial orientation. Suaedi (2005) dalam

penelitiannya menyatakan ada pengaruh yang signifikan antara struktur

organisasi dalam membentuk budaya kerja dan dampaknya terhadap

kinerja organisasi.

3. Budaya Organisasi

Budaya organisasi merupakan gambaran etos kerja perusahaan. Hal ini

berpengaruh pada bagaimana cara memandang, menilai dan mengatasi

suatu masalah. Menurut Suaedi (2005) perusahaan harus mengubah,

mendorong dan mendayagunakan budaya organisasi agar lebih

mempunyai nilai-nilai adaptif terhadap perubahan, karena hanya dengan

budaya organisasi yang adaptif terhadap perubahan, budaya tersebut akan

mendorong anggota organisasi untuk selalu belajar dengan nilai -nilai

baru, kreatif, partisipatif sehingga budaya organisasi akan mendukung

1
entrepreneurial orientation implementasi strategi dan meningkatkan

kinerja organisasi. Misalnya anggota organisasi memiliki budaya yang

toleran terhadap perbedaan pendapat. Perubahan strategi yang tidak sesuai

dan tidak didukung oleh budaya organisasi akan menimbulkan cultural

shock dan pembakangan. Suaedi (2005) dalam penelitiannya menyatakan

ada pengaruh yang signifikan antara budaya organisasi terhadap

entrepreneurial orientation dan secara menyeluruh terhadap kinerja

organisasi.

4. Lingkungan

Faktor lingkungan adalah faktor-faktor eksternal seperti kondisi sosial,

ekonomi, politik dan demografi, yang secara langsung maupun tidak

langsung akan mempengaruhi kehidupan perusahaan. Berkaitan dengan

lingkungan eksternal, Muafi (2007) dalam penelitiannya menyatakan

bahwa lingkungan eksternal mengacu pada tipologi lingkungan hostile dan

benign. Tipologi ini memiliki dua kontinum yang sangat berlawanan. Ciri

lingkungan hostile: seting industri rawan, intensitas persaingan yang ketat,

iklim bisnis yang ketat dan keras, kurangnya peluang yang bisa

dieksploitasi, penuh resiko, tekanan dan dominasi. Sedangkan lingkungan

ramah/benign dicirikan: seting aman bagi operasional bisnis karena

lingkungan memiliki banyak peluang investasi dan pemasaran, aman,

munificent dan manipulatable Dikaitkan dengan orientasi strategi,

menurut Muafi (2007) lingkungan hostile ini lebih sesuai untuk orientasi

1
strategi entrepreneurial orinetation dan lingkungan benign lebih sesuai

untuk orientasi strategi konservatif.

5. Budaya Nasional

Budaya setempat harus dipahami dan dibuat penyesuaiannya melalui

strategi bisnis. Budaya nasional suatu masyarakat sangat menentukan

kinerja karyawan dan perilaku pelanggan. Menurut Susanto (2007), salah

satu sumber utama yang sangat mempengaruhi budaya organisasi adalah

budaya masyarakat atau budaya nasional di mana organisasi berada secara

fisik. Budaya organisasi dipengaruhi oleh budaya setempat tempatnya

berada, karena organisasi adalah sebuah sistem yang terbuka, yang selalu

berdaptasi dengan lingkungan agar dapat meraih tujuannya.

2.1.5 Pengukuran Tingkat Entrepreneurial Orientation

Untuk mengukur tingkat entrepreneurial orientation dalam

organisasi dapat dilakukan dengan membuat perbandingan antara kondisi

ideal dengan faktual. Dalam hal ini diimplementasikan dalam perbandingan

antara penilaian dengan sikap para anggota organisasi atas dimensi-dimensi

entrepreneurial orientation.

2.2 Pertumbuhan Perusahaan

2.2.1 Pengertian Pertumbuhan Perusahaan

Menurut Drucker (sebagaimana dikutip dalam Jurnal Manajemen

Prasetya Mulya Vol.12 No.2 November 2007), pertumbuhan perusahaan

1
adalah hasil yang sukses, yang menawarkan apa yang diinginkan pasar,

menggunakan sumber daya secara ekonomis dan efektif, dan membentuk

profit untuk ekspansi dan penangan risiko di masa yang akan datang.

Menurut Suprapto (2009) pertumbuhan perusahaan adalah

peningkatan ukuran usaha dan adanya ekspansi operasi perusahaan melalui

pengelolaan kekuatan yang ada dalam perusahaan dalam kurun waktu

tertentu. Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa sebuah perusahaan

dikatakan bertumbuh bilamana dalam kurun waktu tertentu, misalnya dua atau

tiga tahun, terlihat adanya peningkatan ukuran usaha secara fisik dan atau

adanya ekspansi usaha tersebut dalam bentuk cabang-cabang usaha baru atau

jaringan pemasaran yang lebih luas.

Menurut Handrimurtjahjo, dkk (2008), agar dapat dapat disusun

strategi dan rekomendasi kebijakan yang tepat untuk mendorong pertumbuhan

perusahaan, maka diperlukan analisa faktor yang menjadi penentu

pertumbuhan usaha tersebut. Pertumbuhan usaha yang berkelanjutan dapat

mendorong kemampuan daya saing.

2.2.2 Dimensi-Dimensi Pertumbuhan Perusahaan

Dimensi pertumbuhan perusahaan pada hakikatnya tercermin dalam

Compound Annual Growth Rate (CAGR). Menurut Santosa (2009) dalam

artikel ”Capital Market Trends 2008/2009”, CAGR adalah tingkat

pertumbuhan investasi dari tahun ke tahun dalam kurun waktu tertentu.

Sedangkan menurut Wikipedia, the free encyclopedia (2009) dalam situs

1
http://en.wikipedia.org/wiki/compound_annual_growth_rate, definisi CAGR

adalah tingkat pertumbuhan tahunan dari suatu bisnis dan investasi dalam

kurun waktu tertentu yang menunjukkan keuntungan tahunan yang diperoleh.

Menurut Santosa (2009), CAGR bersifat fleksibel untuk dapat

diimplementasikan ke dalam beberapa elemen, antara lain:

1. CAGR Sales, merupakan tingkat pertumbuhan usaha

yang didasarkan atas omzet penjualan atau pendapatan perusahaan

tahunan.

2. CAGR Operating Profit, merupakan tingkat

pertumbuhan usaha yang didasarkan atas perhitungan laba operasional

atau laba usaha tahunan.

3. CAGR Net Income, merupakan tingkat pertumbuhan

usaha yang didasarkan atas perhitungan laba bersih perusahaan tahunan.

4. CAGR Total Assets, merupakan tingkat pertumbuhan

usaha yang didasarkan atas perhitungan nilai aset total perusahaan

tahunan.

5. CAGR Total Equity, merupakan tingkat pertumbuhan

usaha yang didasarkan atas perhitungan total nilai ekuitas tahunan.

Sedangkan menurut Purwanto (2004), pertumbuhan perusahaan

merupakan gambaran kinerja perusahaan yang dapat dijabarkan dengan

analisis balanced score card meliputi dimensi-dimensi sebagai berikut:

1. Aspek Keuangan

1
Gambaran kinerja keuangan perusahaan yang tercermin dari rasio

keuangan, seperti nilai laba bersih dan Rate of Investment

2. Aspek Pemasaran

Gambaran kinerja pemasaran yang tercermin dari tingkat kepuasan

pelanggan, loyalitas pelanggan, pangsa pasar, dan porsi saham

3. Aspek Produksi

Gambaran kinerja produksi yang tercermin dari tingkat kualitas produk,

waktu respon, biaya produksi, dan pengenalan produk baru (inovasi).

4. Aspek SDM

Gambaran kinerja SDM yang tercermin dari tingkat kepuasan karyawan

dan ketersediaan sistem informasi

2.2.3 Pengukuran Pertumbuhan Perusahaan

Untuk mengukur tingkat pertumbuhan perusahaan dapat dilakukan

dengan mengacu pada CAGR. Formula umum CAGR adalah sebagai berikut:

Keterangan :

V(t0) : Nilai Awal

V(tn) : Nilai Akhir

tn − t0 : angka tahun.

1
Dalam konteks usaha skala kecil dalam penelitian ini, maka penulis

menentukan elemen pertumbuhan usaha yang akan diukur dengan formula

CAGR meliputi:

- Penjualan / Omzet

- Modal Kerja,

- Nilai Aset Tetap

- Jumlah Produksi

- Pertumbuhan Pemasaran

- Sumber Daya Manusia

Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya bahwa penerapan

formula CAGR ini bersifat fleksibel untuk mengukur aspek-aspek

pertumbuhan usaha tahunan. Menurut artikel Investopedia (2009) dalam situs

http://www.investopedia.com/terms/c/cagr.asp, nilai CAGR yang dihasilkan

dari perhitungan tahun-tahun berjalan dapat dipakai sebagai alat estimasi atau

ramalan pertumbuhan di masa yang akan datang. Hal yang perlu diperhatikan

adalah bahwa nilai CAGR bukanlah nilai riil, karena hanya sebagai tolok ukur

peramalan pertumbuhan dengan asumsi cateris paribus (faktor-faktor lain

dianggap konstan atau diabaikan). Seorang investor dapat mempertimbangkan

nilai CAGR suatu perusahaan untuk memutuskan apakah melakukan investasi

pada perusahaan tersebut cukup menguntungkan atau tidak.

Setidaknya menurut Santosa (2009), analisis CAGR cukup efektif

bila diterapkan untuk periode lima tahunan. Dengan melihat pertumbuhan

2
usaha selama lima tahun berjalan, maka hal itu dapat menjadi pertimbangan

yang cukup untuk menentukan bahwa suatu perusahaan atau proyek benar-

benar memiliki pertumbuhan yang baik.

2.3 Industri Kreatif

2.3.1 Definisi dan Perkembangan Industri Kreatif

Menurut Simatupang (2008), industri kreatif adalah kegiatan usaha

yang bersumber dari kreativitas, keahlian, dan talenta individu yang

berpeluang meningkatkan kesejahteraan dan lapangan kerja melalui

penciptaan dan komersialisasi kekayaan intelektual. Sedangkan menurut

Willem (2008), industri kreatif adalah industri yang nilai dari produk ataupun

kegiatan yang dihasilkan lebih ditentukan oleh kreativitas penciptanya.

Howkins dalam Jurnal The Creative Economy (2004) menemukan

kehadiran gelombang ekonomi kreatif sejak tahun 1996 melalui data karya hak

cipta Amerika Serikat yang mempunyai nilai penjualan ekspor sebesar 60,18

miliar dolar (sekitar 600 triliun rupiah) yang jauh melampaui ekspor sektor

lainnya seperti otomotif, pertanian, dan pesawat. Howkins (2004) membuat

kategori industri kreatif, meliputi: periklanan, arsitektur, seni rupa, kerajinan

atau kriya, desain, desain fashion, film, musik, seni pertunjukan, penerbitan,

riset dan pengembangan, piranti lunak, mainan dan permainan, TV dan Radio,

dan permainan video. Nilai pasar sektor industri kreatif tersebut dalam pasar

global telah mencapai nilai sebesar US$ 2,2 triliun pada tahun 1999 dan

2
diprediksikan mencapai US$ 6,1 triliun pada tahun 2020 (Sumber: Howkins

dalam Jurnal The Creative Economy, 2004).

Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu dalam Acara Launching

Tahun Indonesia Kreatif 2009 yang diselenggarakan pada tanggal 22 Desember

2008 (http://www.designer-republic.com/), menyatakan bahwa salah satu

peluang yang sangat potensial untuk kaum entrepreneur di tahun 2009 ini

adalah sektor industri kreatif. Jenis industri ini memberikan fleksibilitas kerja

yang lebih tinggi dibanding cara-cara kerja konvensional, karena pelakunya

tidak lagi harus terpaku bekerja di kantor atau pabrik-pabrik, tetapi dapat

melakukan pekerjaan mereka di manapun, termasuk di rumah. Hal yang

menarik pada pidato Mari Elka Pangestu adalah dinyatakan bahwa industri

kreatif merupakan salah satu industri yang paling banyak meneyarap menyerap

tenaga kerja wanita. Dengan demikian pemberdayaan wanita Indonesia dapat

lebih ditingkatkan melalui pengembangan potensi industri kreatif di tanah air.

Mari Elka Pangestu (dalam Simatupang, 2008) mengatakan bahwa

sumbangan ekonomi kreatif sekitar 4,75% pada PDB 2006 (sekitar Rp 170

triliun rupiah) dan 7% dari total ekspor pada 2006. Pertumbuhan ekonomi

kreatif mencapai 7,3% pada 2006, atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi

nasional sebesar 5,6%. Sektor ekonomi itu juga mampu menyerap sekitar 3,7

juta tenaga kerja setara 4,7% total penyerapan tenaga kerja baru. Kontributor

tujuh terbesar adalah (1) fesyen dengan kontribusi sebesar 29,85%, (2)

Kerajinan dengan kontribusi sebesar 18,38%, dan (3) periklanan dengan

kontribusi sebesar 18,38%, (4) televisi dan radio, (5) arsitektur, (6) musik, dan

2
(7) penerbitan dan percetakan. Sedangkan dari data Riset Studi Indonesia

tercatat bahwa pada tahun 2008 kontribusi ekonomi dari industri-industri kreatif

di Indonesia adalah 6,3% dari GDP nasional (Sumber: Jurnal Riset Studi

Indonesia Kreatif versi Final tahun 2008 dalam situs Departemen Perdagangan:

http://industrikreatif-depdag. blogspot.com/).

Di kawasan Jawa Timur saat ini mulai banyak bermunculan usaha-

usaha kecil sejenis industri kreatif, khususnya di Kota Surabaya, Malang, Kediri

dan beberapa kota besar lainnya. Hal ini dibuktikan dari data presentase

penyerapan tenaga kerja pada tahun 2001 sampai 2005, industri desain fashion

yaitu sekitar 59%, industri kerajinan menyerap tenaga kerja sebanyak 29%,

sedangkan industri radio dan televisi serta industri penerbitan, percetakan,dan

media rekaman menyerap tenaga kerja masing-masing 11% dan 1 % (Sumber:

Data Survey Angkatan Kerja Nasional oleh Biro Pusat Statistik sebagaimana

dikutip dalam Simatupang, 2008)

2.3.2 Ciri-ciri Industri Kreatif

Menurut Simatupang (2008) industri kreatif memiliki ciri-ciri

produk sebagai berikut:

1. Siklus hidup yang singkat

2. Memiliki risiko kegagalan yang tinggi

3. Dapat menghasilkan margin keuntungan yang tinggi

4. Memiliki keanekaragaman yang tinggi

5. Iklim persaingan bisnis yang tinggi

2
6. Produk mudah ditiru oleh pesaing lain

2.3.3 Bidang Usaha Industri Kreatif

Bidang-bidang usaha dalam industri kreatif menurut Howkins (2004)

meliputi: periklanan, arsitektur, seni rupa, kerajinan atau kriya, desain, desain

fashion, film, musik, seni pertunjukan, penerbitan, riset dan pengembangan,

piranti lunak, mainan dan permainan, TV dan Radio, dan permainan video.

Secara lebih rinci bidang usaha industri kreatif dirumuskan oleh

Departemen Perdagangan Republik Indonesia dalam Rencana Pengembangan

Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2015 (sebagaimana dipublikasikan dalam

Buku Studi Industri Kreatif Indonesia oleh Departemen Perdagangan RI

2008), bidang-bidang usaha industri kreatif meliputi:

1. Periklanan

Kegiatan kreatif yang berkaitan jasa periklanan (komunikasi satu arah

dengan menggunakan medium tertentu), yang meliputi proses kreasi,

produksi dan distribusi dari iklan yang dihasilkan, misalnya riset pasar,

perencanaan komunikasi iklan, iklan luar ruang, produksi material iklan,

promosi, kampanye relasi publik, tampilan iklan di media cetak (surat

kabar, majalah) dan elektronik (televisi dan radio), pemasangan berbagai

poster dan gambar, penyebaran selebaran, pamflet, edaran, brosur dan

reklame sejenis, distribusi dan delivery advertising materials atau samples

serta penyewaan kolom untuk iklan.

2. Arsitektur

2
Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan jasa desain bangunan,

perencanaan biaya konstruksi, konservasi bangunan warisan, pengawasan

konstruksi baik secara menyeluruh dari level makro (town planning,

urban design, landscape architecture) sampai dengan level mikro (detail

konstruksi, misalnya: arsitektur taman, desain interior).

3. Pasar Barang Seni

Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan perdagangan barang-barang asli,

unik,dan langkah serta memiliki nilai estetika seni yang tinggi melalui

lelang galeri, toko, pasar swalayan, dan internet, misalnya alat musik,

percetakan, kerajinan, automobile, film, seni, rupa dan lukisan.

4. Kerajinan

Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi dan distribusi

produk yang dibuat dihasilkan oleh tenaga pengrajin yang berawal dari

desain awal sampai dengan proses penyelesaian produksnya, antara lain

meliputi barang kerajinan yang terbuat dari: batu berharga, serat alam

maupun buatan, kulit, rotan, bambu, kayu, logam (emas, perak, tembaga,

perunggu, besi), kayu, kaca, porselin, kain, marmer, tanah liat, dan kapur.

Produk kerajinan pada umumnya hanya diproduksi dalam jumlah yang

relatif kecil (bukan produksi massal).

5. Desain

Kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain grafis, desain interior,

desain produk, desain industri, konsultasi identitas perusahaan dan jasa

riset pemasaran serta produksi kemasan dan jasa pengepakan.

2
6. Desain Fesyen

Kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain pakaian, desain alas

kaki, dan desain aksesoris mode lainnya, produksi pakaian mode dan

aksesorisnya, konsultasi lini produk fesyen, serta distribusi produk fesyen.

7. Video, Film dan Fotografi

Kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi produksi video, film,dan jasa

fotografi, serta distribusi rekaman video dan film. Termasuk di dalamnya

penulisan skrip, dubbing film, sinematografi, sinetron, dan eksibisi film.

8. Permainan Interaktif

Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi dan distribusi

permainan komputer dan video yang bersifat hiburan, ketangkasan, dan

edukasi. Sub sektor permainaninteraktif bukan didominasi sebagai hiburan

semata-mata tetapi juga sebagai alat bantu pembelajaran atau edukasi.

9. Musik

Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi/komposisi, pertunjukan,

reproduksi, dan distribusi dari rekaman suara.

10. Seni Pertunjukan

Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan usaha pengembangan konten,

produksi pertunjukan (misal: pertunjukan balet, tarian tradisional, tarian

kontemporer, drama, musik tradisional, musik teater, opera, termasuk tur

musik etnik), desain dan pembuatan busana pertunjukan, tata panggung

dan tata pencahayaan.

2
11. Penerbitan dan Percetakan

Kegiatan kreatif yang terkait dengan penulisan konten dan penerbitan

buku, jurnal, koran, majalah, tabloid, dan konten digital serta kegiatan

kantor berita dan pencari berita. Sub sektor ini juga mencakup penerbitan

perangko, meterai, uang kertas, blanko cek, giro, surat andil, obligasi surat

saham, surat berharga lainnya, passport, tiket pesawat terbang, dan

terbitan khusus lainnya. Juga mencakup penerbitan foto-foto, grafir

(engraving) dan kartu pos, formulir, poster, reproduksi, percetakan

lukisan, dan barang cetakan lainnya, termasuk rekaman mikro film.

12. Layanan Komputer dan Piranti Lunak

Kegiatan kreatif yang terkait dengan pengembangan teknologi informasi

termasuk jasa layanan komputer, pengolahan data, pengembangan

database, pengembangan piranti lunak, integrasi sistem, desain dan

analisis sistem, desain arsitektur piranti lunak, dasain prasarana piranti

lunak dan piranti keras, serta desain portal termasuk perawatannya.

13. Televisi dan Radio

Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan usaha kreasi, produksi dan

pengemasan acara televisi (seperti games, kuis, reality show, infotainment,

dan lainnya), penyiaran dan transmisi konten acara televisi dan radio,

termasuk kegiatan station relay (pemancar kembali) siaran radio dan

televisi.

14. Riset dan Pengembangan

2
Kegiatan kreatif yang terkait dengan usaha inovatif yang menawarkan

penemuan ilmu dan teknologi dan penerapan ilmu dan pengetahuan

tersebut untuk perbaikan produk dan kreasi produk baru, proses baru,

material baru, alat baru, metode baru, dan teknologi baru yang dapat

memenuhi kebutuhan pasar; termasuk yang berkaitan dengan humaniora

seperti penelitian dan pengembangan bahasa, sastra, dan seni serta jasa

konsultasi bisnis dan manajemen.

2.3.4 Tantangan Pertumbuhan Industri Kreatif di Indonesia

Menurut Taufik (2008) dalam Workshop Pengembangan Telecenter

dalam Rangka E-Development di Pekalongan, 22-24 Juli 2008, dirumuskan

beberapa tantangan pertumbuhan industri kreatif di Indonesia, antara lain:

1. Relatif baru dan belum diakui sebagai penggerak roda pembangunan

2. Tidak ada data nilai ekonomi dan perkembangan industri kreatif.

3. Tidak ada kebijakan yang mendukung iklim kreatif: perijinan,

investasi, dan perlindungan hak cipta.

4. Kegiatan kreatif masih terkontak-kotak dan belum ada kajian rantai

nilai yang utuh mulai dari kegiatan kreasi, produksi, dan distribusi.

5. Pengembangan sumberdaya manusia di perguruan tinggi tidak

memberdayakan industri kreatif.

6. Belum ada perumusan sistem karir yang unik untuk para pekerja

kreatif.

2
7. Peluang kerja belum sepenuhnya bebas gender baik dalam proses

rekrutmen, penggajian, promosi, dan pengakuan.

8. Tidak ada penanganan yang sistematik untuk meningkatkan peluang

bisnis kreatif.

2
2.4 Kerangka Pemikiran
INDUSTRI KREATIF

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
1. Tim Manajemen Puncak
2. Struktur Organisasi
3. Budaya Organisasi
4. Lingkungan
5. Budaya Nasional
(Sumber: Minniti, 2007)

SIKAP PENILAIAN

ENTREPRENEURIAL ORIENTATION :
1. Kondisi Umum Perusahaan
2. Rencana Strategis
3. Hubungan Cross Fungsional
4. Dukungan / Aspirasi Karyawan
5. Intelijen Pasar
6. Pengambilan Risiko
7. Kecepatan dalam Mengatasi Masalah
8. Fleksibilitas
9. Fokus
10. Masa Depan
11. Orientasi Individu Karyawan
(Sumber: Thornberry, 2006)

PERTUMBUHAN PERUSAHAAN :
1. Penjualan / Omzet
2. Modal Kerja,
3. Nilai Aset Tetap
4. Jumlah Produksi
5. Pertumbuhan Pemasaran
6. Sumber Daya Manusia
(Sumber : Santosa (2009) yang diolah kembali)

: Garis hubungan korelasional atau sebab akibat
: Garis hubungan perbandingan antara sikap dengan penilaian

3
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. (2004). Prosedur Penelitian. PT. Rineka Cipta. Jakarta

Cooper, Arnold, dkk. (2006). Entrepreneurial Strategies. Wiley-Blackwell. United
States of America.

Davidsson, P., Kirchhoff, B., Hatemi-J, A., dan Gustavsson, H., (2002), Empirical of
Business Growth Factors Using Swedish Data. Journal of Small Business
Management. Sweeden.

Glendoh (2001). Jurnal Manajemen & Kewirausahaan Vol. 3, No. 1, edisi Maret
2001. Universitas Kristen Petra. Surabaya.

Hamid, Sujarno Abdul, (2007). Seminar dan Lokakarya (SEMILOKA):
Penyelenggaraan Pemerintahan Berjiwa Wirausaha. Universitas Brawijaya.
Malang

Handrimurtjahyo, A. Dedy, Y. Sri Susilo, Amiluhur Soeroso. (2007). Faktor-Faktor
Penentu Pertumbuhan Usaha Industri Kecil. Seminar Parallel Session IIIA:
Agriculture & Rural Economy. 13 Desember 2007. Fakultas Ekonomi
Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Howkins, John. (2004). Management Journal: The Creative Economy.
http://bandungcreativecityblog.files.wordpress.com/2008/03/.pdf

Investopedia (2009) dalam situs http://www.investopedia.com/terms/c/cagr.asp

Jurnal Riset Studi Indonesia Kreatif versi Final tahun 2008. (2008).
http://industrikreatif-depdag. blogspot.com/

Kasali, Rhenald. (2008). Seminar: DNA Entrepreneurs: Be Entrepreneur, Be Wealthy
http://abgnet.blogspot.com/2008/01/dna-entrepreneurs-be-entrepreneur-be_
24.html

Kuratko, Donald F. and Richard M. Hodgetts. (2004). Entrepreneurship: Theory,
Process, Practice. Thompson Learning South-Western. New York.

Lumpkin, G.T. and Gregory G..Dess. (2006). “Clarifying the Entrepreneurial
Orientation Construct and Linking It to Performance” Academy of
Management Vol. 21.

Minniti, Maria. (2007). Entrepreneurship: The Engine of Growth. Greenwood
Publishing Group. United States of America.

3
Muafi. (2007). Pengaruh Derajat Kesesuaian Orientasi Strategi, Lingkungan
Eksternal, Struktur Saluran Ekspor, Budaya Organisasi dan Kinerja
Ekspor. Penerbit: Program Magister Manajemen UPN
”Veteran”.Yogyakarta.

Muhardi (2008). Jurnal Fakultas Ekonomi Unisba: Wirausaha dan Usaha Kecil
http://fe.unisba.ac.id/index_files/artikel/makalah_4.pdf.

Mulya, Prasetya (2007). Jurnal Manajemen Prasetya Mulya. Vol.12 No.2 November
2007

Pangestu, Mari Elka. (2008). Pidato Menteri Perdagangan (Mendag) dalam Acara
Launching Tahun Indonesia Kreatif 2009 dan Peringatan Hari Ibu ke-80 di
Jakarta, 22 Desember 2008. http://www.designer-republic.com/.

Purwanto, Djoko. (2004). Komunikasi Bisnis. Edisi-3. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Santosa, Perdana Wahyu. (2009). Capital Market Trends 2008 / 2009. Capital Price.
Artikel. Bisnis Indonesia edisi 01/2009.

Simatupang, Togar M. (2008). Jurnal Sekolah Bisnis dan Manajemen:
Perkembangan Industri Kreatif. Penerbit: ITB. Bandung.

Studi Industri Kreatif Indonesia. (2008). Penerbit: Departemen Perdagangan Republik
Indonesia.

Suaedi, Falih. (2005). Pengaruh Struktur Organisasi, Budaya Organisasi,
Kepemimpinan, Aliansi Strategis terhadap Inovasi Organisasi dan Kinerja
Organisasi Hotel Bintang Tiga di Jawa Timur. Penerbit: Jurusan Ilmu
Administrasi Negara FISIP Unair. Surabaya.

Suprapto, (2008). Pertumbuhan Industri. Pusat Pengembangan Bahan Ajar-UMB.

Suprayitno, G. (2005). Pengaruh Perilaku Kepemimpinan dan Iklim Kerja
Transformasional terhadap Keberhasilan Perusahaan Publik dalam Situasi
Krisis di Indonesia. Kumpulan Abstrak Tesis – Disertasi Doktor 2005.
ITB. Bandung.

Susanto, A.B. (2007), Kepemimpinan Dan Budaya Organisasi, www.warta
ekonomi.com.

Taufiq, Tatang. (2008). Workshop Pengembangan Telecenter dalam Rangka E-
Development tanggal 22-24 Juli http://www.slideshare.net/tatang.
taufik/telecenter-kota-pekalongan- tatang-taufik-presentation

3
Timmons, Jeffry and Stephen Spinelli. (2007). New Venture Creation,
Entrepreneurship for the 21st Century.7th ed., McGraw-Hill Education,
International.

Thornberry, Neal. (2006). Lead Like An Entrepreneurship. The McGraw-Hill
Companies. United States of America.

Umar, Husein. (2005). Evaluasi Kinerja Perusahaan, PT. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta

Wardhanu, Adha Panca. (2009). Artikel: Peran dan Potensi Usaha Kecil
dan Menengah. http://apwardhanu.wordpress.com/2009/07/31/peran-dan-
potensi- usaha- kecil-dan-menengah/

Webster, J. P. G. and N. T. Williams. (1988). Changes in Cereal Production and
Yield Variability on Farms in South East England. J. of Agr. Econ., 39(3):
324-336.

Wikipedia, the free encyclopedia (2009) dalam situs http://en.wikipedia.org/
wiki/compound_annual_growth_rate.

Willem, Richard Karel. (2008). Membangun Industri Kreatif Indonesia. Mengko
Staf Ahli Menteri Negara Ristek Bidang Teknologi Pertahanan Dan
Keamanan.

Winarto, Paulus. (2004). First Step To Be An Entrepreneur. PT. Elex Media
Komputindo. Jakarta.

Wirasasmita, Yuyun. (2004) Pendidikan Kewirausahaan Koperasi: Journal of
Indonesian Cooperative Studies Tahun IX - No. 2 – 1993. Institut
Manajemen Koperasi Indonesia (IKOPIN). Bandung.

Wismu Murti, Zuprizal, Ismoyo. (2000). Kajian Pengembangan Pola Industri
Pedesaan Melalui Koperasi dan Usaha Kecil. LPM UGM dan Balitbang
Departemen Koperasi & PPK. Yogyakarta.

3
Posted by :
Home Statistics
Jl. AR. Saleh Nganjuk
0358 – 7683708 / 7633979
Melayani :
- Olah dan analisis data SPSS / manual
- Konsultan penelitian, makalah, skripsi dan tesis
- Penyusunan macam-macam makalah, skripsi, tesis, RPP, Askep, jurnal KTI, dll
- Desain kuesioner dan metodologi riset
- Tim surveyor dan intelijen pasar
- Desain sistem informasi dan database
- Audit laporan keuangan
- Pembuatan buku profil (personal, perusahaan dan region)
- Terjemahan Inggris untuk Pendidikan, Ekonomi dan Kedokteran (non transtool).

3