You are on page 1of 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Peningkatan sumber daya manusia dalam era globalisaso, merupakan suatu hal yang
perlu dilakukan terutama bagi suatu bangsa yang sedang membangun, sementara itu ilmu
pengetahuan dan teknologi memainkan peranan penting dalam upaya pembangunan suatu
bangsa sehingga mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Salah satu upaya yang bisa
dilakukan untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas adalah dengan
meningkatkan kualitas pendidikan.
Dalam upaya pembangunan manusia seutuhnya, matematika memegang peranan yang
sangat penting. Matematika dari bentuknya yang sederhana sampai yang paling kompleks
memberikan sumbangan dalam pembangunan ilmu pengetahuan lainnya, serta dalam
kehidupan sehari-hari. Demikian juga matematika sebagai proses yang aktif, dinamik, dan
generatif melalui kegiatan matematika memberikan sumbangan yang penting bagi siswa
dalam pengembangan nalar, berfikir logis, sistimatis, kritis, dan cermat, serta bersifat objektif
dan terbuka dalam menghadapi berbagai masalah.
Namun, pada kenyataannya pendidikan matematika yang terjadi belum menunjukan
peningkatan yang berarti. Pada tingkat pendidikan dasar kekurangmampuan siswa SMP dalam
memecahkan permasalahan matematika menjadi masalah dalam ketercapain hasil belajar
matematika di sekolah. Permasalahan ini terjadi, diantaranya karena guru matematika dalam
kegiatan pembelajaran berkonsentrasi untuk mengejar Nilai Ebtanas Murni (NEM)
matematika siswa tinggi.
Menurut Sukiman (dalam Wahyar, 2003) bahwa instrumen evaluasi yang digunakan
untuk memperoleh NEM berbentuk Tes Objektif hanya memantingkan hasil akhir, tanpa
memperhatikan proses untuk memperoleh hasil akhir, sehingga letak kesulitandan tingkat
kemampuan siswa tidak dapat dideteksi. Selain itu juga soal-soal dalam EBTANAS
kebanyakan bukan soal non rutin yang menyebabkan anak tidak dituntut untuk melatih
kemampuan berfikir logis, sistematis, dan kreatif sehingga tidak mampu menghadapu
berbagai tantangan kehidupan secara mandiri dan percaya diri.
Salah satu penyebab rendahnya pemahaman siswa terhadap matematika adalah dalam
pembelajaran matematika guru terlalu berkonsentrasi pada hal-hal yang prosedural dan
mekanistik, seperti pembelajaran berpusat pada guru dan siswa tidak terlibat aktif dalam

1
Laporan Hasil Penelitian Strategi Belajar Mengajar
Metode Pembelajaran Inkuiri
pembelajaran. Suasana pembelajaran seperti ini sangatlah penting untuk segera diubah ke arak
ketercapainya kualitas pemahaman matematika siswa yang maksimal.
Salah satu kecenderungan sejumlah siswa gagal menguasai dengan baik pokok-pokok
bahasan dalam matematika yaitu siswa kurang menggunakan nalar yang logis dalam
menyelesaikan soal atau persoalan matematika yang diberikan. Keadaan ini sangatlah
memprihatinkan karena akan menyebabkan lemahnya kualitas sumber daya manusia,
sehingga tidak mampu bersaing untuk memperoleh kesempatan dalamberbagai hal yang
terjadi secara lokal, nasional, dan internasiaonal. Akibatnya akan semakin banyaknya lulusan-
lulusan sekolah yang menjadi pengangguran.
Oleh karena matematika tergolong mata pelajaran yang sukar, maka bila seseorang
akan mempelajarinya harus dimulai dan didasari dengan apa yang telah diketahui sebelumnya
sehingga diharapkan akan terasa menjadi mudah. Misalnya bila seseorang akan mempelajari
perkalian, maka ia sebelumnya harus mengerti dahulu penjumlahan. Hudoyo (dalam Kartiwa
1990 : 5) mengatakan “Untuk mempelajarimateri matematika, maka pengalaman belajar yang
lalu akan mempengaruhi terjadinya proses belajar materi matematika tersebut”.
Salah satu faktor yang penting dalam pembelajaran adalah pemilihan metode mengajar
yang dapat merangsang, mengarahkan, membentuk siswa belajar aktif, kreatif dan bersikap
positif terhadap matematika, sehingga kualitas pengajaran dapat tercapai, karena kulaitas
pengajaran sangat menentukan keberhasilan siswa. Kualitas pengajaran tergantung pada
banyak cara yang harus dimiliki guru agar siswa dapat berhasil dalam belajar, salah satu cara
tersebut dengan menciptakan atau menerapkan metode mengajar dengan
pendekatankontekstual {Contexual Teaching and Learning (CTL)}, yang merupakan bagian
dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Kurikulum 2006).
Seperti yang dikemukakan oleh Winarti (2002 : 1) dalam pengajaran berbasis
Contexual Teaching and Learning (CTL) terdapat tujuh istilah yaitu Learning Community
(masyarakat belajar), Constructivism (kontruktivisme), Inquiry (inkuiri), Questioning
(bertanya), Authentic Assesment (penilaian autentik), Reflection (refleksi), Modelling
(pemodelan).
Menemukan (inkuiri) merupakan bagian inti dari pembelajaran berbasis CTL.
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat
seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang
kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkan.
Seperti yang dikemukakan oleh Murtadho dan tambunan (1987 : 6.39) matode inquiri
adalah proses menyelidiki dan memeriksa suatu situasi dengan maksud mencari informasi dan

2
Laporan Hasil Penelitian Strategi Belajar Mengajar
Metode Pembelajaran Inkuiri
kebenaran (merupakan cara belajar aktif, dan memcakup proses keterampilan). Proses ini
digunakan dalam ilmu dan matematika untuk mengembangkan dan menyusun pengetahuan.
Ada empat tahap Inquiri (penelitian) terhadap satu Situasi:
1. Merumuskan suatu pertanyaan, menghadapi problem yang sulit, paradoks atau hal-hal
yang tidak konsisten, atau mengusahakan menyusun fakta-fakta, konsep-konsep dan
prinsip-prinsip menjadi prinsip umum atau prinsip yang luas.
2. Mengembangkan prosedur dan mengumpulkan informasi yang berguna menerangkan
situasi yang sedang dihadapi.
3. Menggunakan prosedur dan informasi dari langkah untuk mengatur kembali dan
memperluas pengetahuan yang ada.
4. Menganalisis dan mengevaluasi proses inquiri itu sendiri dengan mengembangkan proses
umum (luas) untuk penelitian situasi-situasi lain.
Proses inquiri adalah suatu teknik khusus untuk meluaskan (mengembangkan)
pengetahuan melalui penelitian. Oleh karena itu metode inquiri kadang-kadang disebut juga
metode ilmiahnya penelitian. Metode inquiri adalah metode belajar dengan inisiatif sendiri
yang dapat dilaksanakan secara individu atau dalam kelompok (grup) kecil. Situasi inquiri
yang ideal dalam kelas matematika terjadi, apabila murid-murid merumuskan prinsip
matematika baru melalui bekerja bsendiri atau dalam grup kecil dengan pengarahan minimal
dari guru. Peran utama guru dalam pembelajaran inquiri adalah sebagai moderator.
Berdasarkan temuan dan berbagai teori yang telah dikemukakan serta sebagai tuntutan
memenuhi tugas akhir smester pada mata kuliah Strategi Belajar Mengajar Matematika,
penulis diharuskan untuk melakukan penelitian “Bagaimana Tingkat Keberhasilan
Penerapan Metode Inquiri dalam Pencapaian Hasil Belajar Matematika”.

A. Rumusan Masalah Dan Pembatasan Masalah
Berdasarkan Latar belakang yang telah dipaparkan, dibuat rumusan masalah yaitu :
1. Apakah penggunaan metode inkuiri pada pembelajaran Lingkaran dapat meningkatkan
hasil belajar siswa ?
2. Bagaimana aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri ?
3. Bagaimana pengaruh metode inkuiri terhadap ranah afektif siswa/sikap siswa ?
Untuk menghindari terlampau luasnya permasalahan di atas, maka penelitian ini
dibatasi pada hal-hal berikut :

3
Laporan Hasil Penelitian Strategi Belajar Mengajar
Metode Pembelajaran Inkuiri
1. Penelitia dilaksanakan di SMP Negeri 1 Cililin Kabupaten Bandung di Kelas 8 C pada
smester genap tahun ajaran 2007-2008. Pokok bahasan yang dibahas dalam penelitian ini
adalah Lingkaran.
2. Pembelajaran Lingkaran difokuskan pada sub pokok bahasan Mengidentifikasi Lingkaran
dan Menentukan Besaran-Besaran Terkait.

A. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan dan pembatasan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai
dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui efektifitas penggunaan metode inkuiri pada pembelajaran Lingkaran
dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
2. Untuk mengetahui aktivitas siswa dalam pembelajaran Lingkaran dengan menggunakan
metode inkuiri.
3. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode inkuiri dalam pembelajaran lingkaran
terhadap ranah afektif siswa/sikap siswa.

B. Manfaat Penelitian
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi atau masukan yang berarti
bagi guru terutama rekan-rekan selaku calon guru mata pelajaran matematika untuk
mengetahui dan memahami peran pengajaran dengan metode Inkuiri dalam meningkatkan
prestasi belajai siswa.
2. Diharapkan pula siswa dapat memiliki keilmuan sesuai dengan kadar kemampuan masing-
masing, sehingga proses pembelajaran tidak terkesan memaksakan siswa demi hasil yang
terbaik tanpa adanya pemahaman pengalaman untuk aplikasi dari hasil belajar itu sendiri.

C. Kerangka Pemikiran
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pendidikan merupakan tahapan pengubahan
sikap dan tingkah laku manusia baik sebagai individu maupun sebagai kelompok melalui
ikhtiar pengajaran dan pelatihan. Benyamin Bloom mengklasifikasikan hasil belajar menjadi
tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotoris. Ketiga ranah tersebut
menjadi objek penilaian hasil belajar. (Nana Sudjana, 1991: 22). Diantara ketiga ranah ini,
ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh guru karena berkaitan dengan kemampuan
para siswa dalam menguasai isi bahan pembelajaran.

4
Laporan Hasil Penelitian Strategi Belajar Mengajar
Metode Pembelajaran Inkuiri
Sudjana (2002 : 28), mengatakan “Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan
adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahyan sebagai hasil proses belajar dapat
ditentukan dalam berbagai bentuk, seperti perubahan pengetahuanya, pemahamannya, sikap
dan tingkah lakunya, dan lain-lain”.
Belakar yang baik adalah belajar yang aktif, tetapi belajar tidak bisa dipaksakan oleh
orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Dengan kata lain belajar
mengharuskan sesorang (siswa) untuk melakukan dan menemukanya, yang berarti dia harus
berlaku sebagai subjek bukan objek. Untuk memotivasi siswa aktif mengalami belajar sendiri
diperlukan suatu proses. Proses tersebut adalah pembelajaran.
Pengajaran matematika akan berjalan dengan baik apabila menggunakan
model/metode pembelajaran yang tepat. Sedangkan pembelajaran sekolah pada umumnya
masih terfokus pada guru, diantaranya pembelajaran konvensional, yaitu guru berdiri didepan
kelas, sedangkan siswa duduk rapi di tempat masing-masing.
Metode inkuiri (penemuan) sebagai salah satu metode yang menempatkan siswa
sebagai subjek yang mampu merangsang, mengarahkan, membentuk siswa belajar aktif,
kreatif dan bersikap positif terhadap matematika dengan melakukan penelitian sendiri sebagai
pengalaman belajar, merupakan metode yang pantas digunakan demi tercapainya hasil belajar
yang maksimal.

BAB II
STUDI PUSTAKA

5
Laporan Hasil Penelitian Strategi Belajar Mengajar
Metode Pembelajaran Inkuiri
A. Teori Belajar
Memahami teori tentang bagaimana orang belajar serta kemampuan menerapkanya
dalam pengajaran matematika merupakan persyratan penting untuk menciptakan proses
pengajaran yang efektif. Berbagai studi tentang perkembangan intelektual manusia telah
menghasilkan sejumlah teori belajar yang sangat bervariasi.
Menurut Ausubel (dalam Ismail 2002 : 4.17) belajar menjadi bermakna (meaningful)
jika informasi yang hendak dipelajari siswa disusun dengan struktur kognitif yang telah
dimiliki siswa, dengan demikian anak akan menghubungkan informasi baru tersebut dengan
informasi yang telah dimilikinya. Seorang pakar aliran psikologi, yaitu Brownell (dalam
Ismail 2002 : 4.21) berpendapat bahwa “Dalam pengajaran harus dititikberatkan pada
pengertian dan belajar bermakna”. Demikian juga Thordike (dalam Ismail 2002 : 4.21) yang
terkenal dengan aliran pengaitanya berpendapat bahwa “Konsep baru yang dipelajari siswa
harus dikaitkan dengan konsep yang sudah dikenalnya”.
Brownell (dalam Ismai 2002 : 3.15) mengungkapkan bahwa “Belajar matematika
adalah belajar mengenai konsep-konsep dan stuktur-struktur matematika yang terdapat di
dalam materi yang dipelajari mencari hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur
matematika itu”.
Menurut Gagne (dalam Ruseffendi 1988 : 165), belajar matematika ada dua objek
yang dapat diperoleh siswa, objek langsung ialah fakta, keterampilan, konsep adan aturan
(principle) dan objek tidak langsung antara lain ialah : kemampuan menyelidiki dan
memecahkan masalah, mandiri (belajar, bekerja dan lain-lain) bersikap positif terhadapa
matematika, mengetahui bagaimana semestinya belajar.
Penulis berpendapat bahwa matematika dapat dipandang sebagai suatu sistem yang
terdiri atas ide, prinsip, dan proses sehingga keterkaitan antara aspek-aspek tersebut harus
dibangun dengan penekanan bukan pada memori atau hapalan malaiankan pada aspek
penalaran atau intelegensi anak dan pengalaman belajar matematika anak itu sendiri.
Belajar harus bisa merefleksikan suatu proses sosial yang di dalamnya anak terlibat
langsung dalam dialog dan diskusi baik dengan diri mereka sendiri maupun orang lain,
termasuk guru, sehingga mereka berkembang secara intelektual. Diskusi yang dilakukan
antara guru dan siswa dalam pembelajaran, mengilustrasikan bahwa interaksi sosial yang
berupa diskusi ternyata mampu memberikan kesempatan pada siswa untuk mengoptimalkan
proses belajarnya. Interaksi itu memungkinkan guru dan siswa untuk berbagi dan

6
Laporan Hasil Penelitian Strategi Belajar Mengajar
Metode Pembelajaran Inkuiri
mengkonstruksi cara berfikir masing-masing, selain itu terdapat kemungkinan menangkap
pola pikir siswa lainnya.

B. Hasil Belajar
Pengertian hasil belajar tidak dapat dipisahkan dari apa yang terjadi dalam kegiatan
belajar baik di kelas, di sekolah maupun di luar sekolah. Hasil belajar di sini tidaksaja
merupakan sesuatu yang bersifatnya kualitas yang harus dimiliki siswa dalam jangka waktu
tertentu tatapi juga bersifat proses atau cara yang harus dikuasai siswa sepanjang kegiatan
belajar tertentu.
Menurut pengertian secara psikologis, setiawan dan usman (1993 : 5) mendefinisikan
“Belajar adalah suatu proses usaha untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang terjadi
karena adanya interaksi baik antara individu dengan individu, maupun antara individu dengan
lingkungannya”. Perubahan tingkah laku tersebut meliputi perubashan dalam kebiasaan
(habbit), kecapan-kecakapan (skills), ataupun dalam tiga aspek yaitu pengetahuan (kognitif),
sikap (affektif), dan keterampilan (psikomotor).
Menurut Thorndike (dalam Suherman dan Winataputra 1994 : 154) :

Belajar akan lebih berhasil bila respon murid terhadap suatu stimulus segera diikuti
dengan rasa senang atau kepuasan. Rasa senang atau kepuasan ini bisa timbul sebagai
akibat anak mendapatkan pujian atau ganjaran lainya. Stimulus ini termasuk
penguatan. Setelah anak berhasil melaksanakan tugasnya dengan tepat dan cepat, pada
diri anak muncul kepuasan diri sebagai akibat sukses yang yang diraihnya. Anak
memperoleh suatu kesuksesan yang pada giliranya akan mengantarkan dirinya ke
jenjang kesuksesan berikutnya.

Menurut Rusian (dalam Riandani 2002 : 9), belajar bukan suatu tujuan melainkan
suatu proses pencapaian tujuan. Pengertian proses lebih bersifat ‘cara’ mencapai tujuan, jadi
merupakan langkah-langkah atau prosedur yang ditempuh.
Belajar itu merupakan suatu pengalaman, serta pengalaman dipeolehberkat adanya
interaksi antara individu dengan lingkungannya. Setiawati dan Usman (1993 : 7) menganggap
bahwa setiap guru memiliki pandangan sendiri mengenai keberhasilan suatu proses belajar
mengajar sesuai dengan filosifi masing-masing. Namun demikian, untuk menyamakan
persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat iniyang telah
disempurnakan antara lain bahwa “suatu proses belajar mengajar tentang suatu bhan mengajar
dinyatakan berhasil apabila tujuan instruksional khusus (TIK) tersebut dapat dicapai”.
Untuk mengetahui tercapai tidaknya TIK, guru perlu mengadakan Tes Formatif setiap
selesai penyajian satu bahasan kepada siswa. Penilaian formatif ini dilakukan untuk

7
Laporan Hasil Penelitian Strategi Belajar Mengajar
Metode Pembelajaran Inkuiri
mengetahui sejauh mana siswa telah menguasai TIK yang ingin dicapai dan berfungsi juga
untuk memberikan umpan balik kepada guru dalam rangka memperbaiki proses belajar
mengajar.
Untuk mengetahui sampai dimana tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar
yang telah dilakukan dan sekaligus juga untuk mengetahui keberhasilan mengajar guru,
menurut Setiawati dan Usman (1993 : 8), kita dapat menggunakan acuan sebagai berikut ;
1. Siswa dapat menguasai seluruh bahan pelajaran yang kita ajarkan disebut
‘Istimewa/Maksimal’.
2. Siswa hanya dapat menguasai 85% - 94% bahan pelajaran disebut ‘Baik sekali/Optimal’.
3. Siswa hanya dapat menguasai 75% - 84% bahan pelajaran disebut ‘Baik/Minimal’.
4. Siswa hanya dapat menguasai < 75% disebut ‘Kurang’.
Setiawati dan Usman (1993 : 9) mengatakan bahwa prestasi belajar siswa banyak
dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik berasal dari dirinya (internal) maupun dari luar dirinya
(eksternal). Prestasi belajar yang dicapai siswa pada hakekatnya merupakan hasil interaksi
antara berbagai faktor tersebut. Oleh karena itu, pengenalan guru terhadap faktor yang dapat
mempengaruhi prestasi belajar siswa penting sekali artinya dalam rangka membentu siswa
mencapai prestasi belajar seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Adapun faktor yang dimaksud meliputi hal-hal sebagi berikut :
1. Faktor berasal dari diri sendiri (internal)
a. Faktor jasmaniah (fsiologi) baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh. Yang
termasuk faktor ini ialah panca ndera yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya,
seperti mengalami sakit, cacat tubuh atau perkembangan yang tidak sempurna,
berfungsinya kelenjar tubuh yang membawa kelaianan tingkah laku.
b. Faktor Psikologis, baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh terdiri atas ;
• Faktor intelektif yang meliputi faktor potensial, yaitu keceerdasan dan bakat serta
kecakapan nyata, yaitu prestasi yang dimiliki.
• Faktor non intelektif yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap,
kebiasaan, minat kebutuhan, motivasi, emosi,dan penyesuaian diri.
a. Faktor kematangan fisik maupun psikis
1. Faktor yang berasal dari luar diri (eksternal), yaitu faktor sosial yang terdiri atas :
a. Lingkungan keluarga
b. Lingkungan sekolah
c. Lingkungan masyarakat
d. Lingkungan kelompok

8
Laporan Hasil Penelitian Strategi Belajar Mengajar
Metode Pembelajaran Inkuiri
A. Pembelajaran Matematika
Dalam kegiatan belajar mengajar (pembelajaran) selain terjadi proses belajar, juga
terjadi prose mengajar. Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak dapat
dipisahkan satu sama lain. Dua konsep tersebut terpadu dalam satu kegiatan yang mencakup
interaksi antara guru-siswa, siswa-siswa, pada saat proses pembelajaran berlangsung. Pada
hakekatnya belajar menunjukan pada apa yang baru dilakukan seseorang sebagai subjek yang
menerima pembelajaran, sedangkan mengajar menunjukan pada apa yang harus dilakukan
seorang guru sebagai pengajar.
Suherman dan Winataputra (1994 : 241) mengemukakan bahwa “Matematika diakui
penting, tetapi sulit dipelajari. Maka tidak jarang murid yang asalnya menyenangi pelajaran
matematika, beberapa bulan kemudian menjadi tidak acuh sikapnya. Mungkin, salah satu
penyebabnya adalah cara mengajar guru tidak cocok baginya. Guru hanya mengajar dengan
satu metode yang kebetulan tidak cocok dan sukar dimengerti”.
Setiawati dan Usman (1993 : 6) menyatakan “mengajar adalah membimbing siswa
dalam kegiatan belajar mengajar atau suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam
hubungnan dengan anak didik dan bahan pengajaran sehingga menimbulkan terjadinya proses
belajar pada diri siswa”.
Selanjutnya Bruner (Setiawati dan Usman, 1993 : 6) berpendapat bahwa “Guru perlu
sekali menganalisisi benar-benar bahan pelajaran yang harus dipelajari siswa, menentukan
tingkat kesukaranya, dan menentukan cara penyajian yang tepat sesuai dengan
tingkatperkembangan kejiwaan anak yang akan mempelajarinya”.
Seperti pernah diungkapkan oleh Zympher (Rosita dan Winataputra, 1996 : 140)
“Guru yang profesional harus memiliki schemme of Theaching, adapun tentang yang
dimaksud schemme of Theaching adalah kerangka nerfikir guru tentang bagaimana
menciptakan terjadinya proses dalam diri pelajar/siswa dan mengapa kita melakukan hal itu”.
Seorang guru yang profesiaonal memiliki kemampuan-kemampuan tertentu yang
diperlukan dalam membantu siswa belajar. Keberhasilan siswa belajar akan banyak
dipengaruhi oleh kemampuan (kompetensi) guru dalammembimbing dan mengarahkan siswa
belajar. Kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru menurut Ruseffendi (1998 : 18)
salah satunya adalah mampu mendemonstrasikan dalam penerapan macam-macam metode
dan teknik mengajar dalam bidang studi yang diajarkan.
Dalam mempelajari dan mengajari matematika terdapat kendala yang akan dihadapi
baik oleh pendidik maupun siswa. Kendala tersebut jika dikelompokan terdapat tiga jenis,

9
Laporan Hasil Penelitian Strategi Belajar Mengajar
Metode Pembelajaran Inkuiri
yaitu kendala dari karakteristik matematika itu sendiri, kendala dari guru dan kendala dari
siswa.
Berdasarkan kendala-kendala di atas maka tidaklah mutlak penyebab kesulitan siswa
hanya terletak di tanganguru atau siswa, namun masih ada faktor lain yang menghambat siswa
dalam belajar. Hal ini sesuai dengan pendapat Ruseffenedi (1998 ; 7), yang mengemukakan
bahwa terdapat sepuluh faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan siswa belajar, yaitu :
1. Faktor dalam (internal) terdiri dari :
a. Kecerdasan anak
b. Kesiapan anak
c. Bakat anak
d. Kemampuan anak
e. Minat anak
1. Faktor luat (eksternal) terdiri dari :
a. Metode penyajian materi mengajar
b. Pribadi dan cara guru mengajar
c. Suasana belajar
d. Kompetensi guru
e. Kondisi masyarakat luas
Namun lepas dari beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan siswa, tetap
selaku pengajar setiap guru harus bertanggungjawab atas ketidakberhasilan siswa dalam
belajar.

A. Metode Pembelajaran Inkuiri
Dengan metode baru kita mengubah situasi guru mengajar kepada situasi siswa belajar,
dari pengalaman guru kepada murid. Mengorganisis kelas bukan untuk guru mengajar tenati
untuk siswa belajar. Hal itu bisa dilanjutkan dengan mengarahkan proses belajar siswa,
menempatkan siswa kepada pusat kegiatan belajar, membantu dan mendorong siswa untuk
bagaimana menyusun pertanyaan, bagaimana membicarakan dan menemukan jawaban-
jawaban persoalan dengan tujuan agar siswa dapat belajar, aktif dan kreatif.
Bagian terbesar dari matematika yang dipelajari siswa di sekolah tidak diperoleh dari
penemuan tetapi diperoleh melalui pemberitahuan dengan cara ceramah, kuliah, ekpositori,
bacaan, meniru, melihat, mengamati dan semacamnya. Namun bila siswa belajar menemukan
sesuatu , dikatakan ia belajar melaui penemuan, bila guru mengajar siswa tidak dengan

10
Laporan Hasil Penelitian Strategi Belajar Mengajar
Metode Pembelajaran Inkuiri
memberi tahu tetapi memberi kesempatan atau berdialog dengan siswa agar ia menemukan
sendiri, cara guru mengajar demikian disebut metode Inkuiri.
Pada awalnya metode Inquiri berkembang dari Jhon Dewey pada tahun 1913 yang terkenal
dengan problem solving method atau metode pemecahan masalah. Inquiri itu sendiri berarti
penyelidikan, dengan melalui penyelidikan siswa akhirnya dapat memperoleh suatu penemuan.
Menurut Yusuf dkk (1993 : 81) Inquiri selain metode belajar ialah suatu cara belajar
atau penelaahan sesuatu yang bersifat mencari secara kritis , analitis, dan argumentatis dengan
menggunakan langkah-langkah tertentu menuju suatu kesimpulan yang meyakinkan, karena
didukung oleh data , fakta, atau argumentasi. Sedangkan Ahmad dan Prasetyo dalam bukunya
(1997:23) mendefinisikan metode inquiri sebagai teknik penyajian bahan pelajaran dalam
bentuk tidak final, tetapi peserta didik diberi peluang untuk mencari dan menemukan sendiri.
Sudjana (2002:154) menambahkan bahwa metode inquiri merupakan metode mengajar yang
berusaha meletakan dasar dan mengembangkan cara berfikir ilmiah.
Jadi metode inquiri ini adalah suatu teknik atau cara penyampaian pelajaran melalui
penyelidikan bahan pelajaran oleh siswa. Dalam hal ini guru harus menempatkan siswa
sebagai subjek dalam setiap pembelajaran,namun tetap tidak lepas dari pengamata dan
pengarahan guru agar siswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Dan memberikan peluang
yang besar kepada siswa untuk mengemukakan pendapatnya, serta guru harus memberikan
kepercayaan bahwa siswa mampu memahami dan mengaplikasikan sendiri apa yang mereka
pelajari atau amati, karena siswa adalah individu yang mampu berfikir kritis, analitis dan
argumentatif.
Belajar melalui penemuan itu penting sebab :
1. Pada kenyataannya ilmu-ilmu itu diperoleh melalui penemuan
2. Matematika adalah bahasa yang abstrak, sehingga konsep dan lainya akan lebih melekat
bila melalui penemuan, yaitu dengan jalan memanipulasi dan berpengalaman dengan
benda-benda konkrit.
3. Generalisai itu penting, melaui penemuan generalisasi yang diperoleh akan lebih mantap.
4. Dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, karena telah berpengalaman dan
memahami konsep dasarnya melalui penemuan sendiri.
5. Menemukan sesuatu sendiri dapat menumbuhkan percaya diri, dapat meningkatkan
motivasi, melakukan pengkajian lebih lanjut, dapat menumbuhkan sikap posotip terhadap
matematika.
Pada metode inkuiri, konsep, dalil, prosedur, algoritma dan semacamnya yang
dipelajari siswa merupakan hal baru dan belum diketahui sebelumnya, tetapi guru sendiri tahu

11
Laporan Hasil Penelitian Strategi Belajar Mengajar
Metode Pembelajaran Inkuiri
apa yang akan ditemukan. Dengan metode inisiswa melakukan terkaan, mengira-ngira, coba-
coba sesuai dengan pengalamanya untuk sampai kepada konsep yang harus ditemukan.
Ruseffendi (1998 : 355), sejalan dengan suherman dan Winataputra (1994 : 257)
menyatakan bahwa “Tujuan dari belajar melalui metode inkuiri adalah agar siswa belajar
metode ilmiah dengan metode inkuiri dan mampu menerapkanya dalam situasi lain. Metode
ini terdiri dari empat tahap :
1. Siswa dirangsang oleh guru dengan permasalahan, pertanyaan, permainan, teka-
teki,dan lain-lain.
2. Atas rangsangan itu siswa menentukan prosedur, mencari, dan mengumpulkan
informasi yang diperlukan untuk memecahkan permmasalahan, pernyataan, dan
lain-lain. Siswa bekerja sendiri atau berkelompok.
3. Siswa menghayati tentang pengetahuan yang diperolehnya dengan cara inkuiri
yang baru saja dilakukan.
4. Mereka mengadakan penganalisisan metode inkuiri dan prosedur yang ditemukan
untuk dujadikan metode umum yang dapat diaplikasikan pada suasana baru”.
Dalam metode inkuiri siswa terlibat langsung pada setiap permasalahan yang
diberikan. Keterlibatan siswa dalam dunia nyata akan mempermudah pembelajaran
matematika dipahami oleh siswa sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.
Pengembangan situasi dan kondisi yang terbuka, penumbuh kembangan minat dan
motivasi berprestasi, serta menciptakan komunikasi yang baik harus diarahkan kepada tiga
kegiatan dalam pengajaran yaitu pada saat memberi penjelasan, mengajukan pertanyaan, dan
memberi umpan balik.
Dalam penggunaan metode inkuiri guru harus melaksanakan fungsinya sebagai
“teacher and educator” secara baik. Sikap saling menghargai antara pendidik dengan peserta
didik, serta penerapan pada pengajaran yang demokratis, adalah merupakan bentuk implikasi
terhadap hasil belajar siswa.

BAB III
ISTRUMEN PEMBELAJARAN

A. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
12
Laporan Hasil Penelitian Strategi Belajar Mengajar
Metode Pembelajaran Inkuiri
Satuan Pendidikan : SMP Negeri 1 Cililin
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas / Semester : VIII C / II
Standar Kompetensi : Mengidentifikasi Lingkaran serta
Menentukan Besaran-Besaran Terkait
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit

1. Kompetensi Dasar
Menghitumg besaran-besaran Pada Lingkaran

2. Indikator
a. Menentukan rumus luas lingkaran melalui percobaan dengan
pendekatan luas persegi panjang.
b. Menghitung luas bidang lingkaran

3. Tujuan Pembelajaran
a. Menemukan rumus luas bidang lingkaran πr2 melalui percobaan
dengan pendekatan luas persegi panjang
b. Memahami pengertian luas suatu bidang (lingkaran)
c. Menghitung luas bidang lingkaran jika diketahui kelilingnya.
d. Menghitung besarnya perubahan luas jika ukuran jari-jari
diperbesar atau diperkecil.

4. Sumber/ Alat dan Bahan
Sumber :
a. Buku Peket Matematika Kelas VIII smester 2
b. LKS (Lembar Kerja Siswa)

Alat dan Bahan :
a. Jangka d. Lem
b. Penggaris e. Kertas warna-warni
c. Gunting f. Karton

1. Kegiatan Belajar Mengajar
Model Pembelajaran : Pembelajaran Inkuiri

13
Laporan Hasil Penelitian Strategi Belajar Mengajar
Metode Pembelajaran Inkuiri
Metode : Tanya jawab, Pemberian tugas, dan Diskusi
kelompok

a. Pendahuluan
2. Untuk mengukur kemampuan dasar siswa, guru memberikan
Free Tes sebelum memulai pembelajaran.
3. Guru memotivasi siswa dengan mengajukan pertanyaan-
pertanyaan dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan
dengan luas lingkaran.
4. Guru mengingatkan kembali pada siswa tentang menggambar
sudut dengan bantuan busur derajat.
5. Guru menyampaikan indikator pencapaian hasil belajar.
6. Guru menginformasikan model pembelajaran yang akan
digunakan untuk pembelajaran Luas lingkaran melalui
pendekatan luas persegi panjang.

b. Kegiatan Inti
1. Guru membagi siswa kedalam beberapa kelompok yang
beranggotakan masing-masing 5-10 orang.
2. Siswa diminta mendiskusikan dan melakukan percobaan yang
terdapat pada soal no.1 pada LKS dengan teman satu
kelompoknya. Guru mementau jalannya diskusi dan
memberikan pengarahan serta bantuan secukupnya pada
kelompok yang mengalami kesulitan.
3. Beberapa siswa dari masing-masing kelompok diminta
mempersentasikan hasil percobaan dan kelopoknya, kemudian
ditanggapi oleh siswa yang lain. Guru membimbing siswa
menuju kesimpulan yang benar dari percobaan yang telah
dilakukan.
4. Secara berkelompok siswa diminta mendiskusikan soal no. 2
dan 3 pada LKS. Guru mementau jalannya diskusi dan
memberikan pengarahan serta bantuan secukupnya pada
kelompok yang mengalami kesulitan.

14
Laporan Hasil Penelitian Strategi Belajar Mengajar
Metode Pembelajaran Inkuiri
5. Beberapa siswa diminta mempersentasikan hasil diskusinya
dan ditanggapi oleh siswa yang lain. Guru membimbing siswa
menuju jawaban yang benar.
6. Untuk mengecek pemahaman siswa secara acak guru
meminta beberapa siswa untuk mengerjakan soal no. 4 dan 5
didepan kelas. Guru membimbing siswa menuju jawaban yang
benar, serta mengarahkan siswa bila mengalami kesulitan.
b. Penutup
1. Guru bertanya kepada siswa apakah masih ada materi yang
masih belum jelas dan membutuhkan penjelasan kembali.
2. Guru membimbing siswa untuk merangkum materi yang telah
dipelajari.
3. Sebagai tolak ukur pemahaman siswa terhadap materi yang
telah dipelajari, guru kembali memberikan tes berupa Post Tes
dengan soal yang sama pada saat Free Tes, yang bertujuan
agar guru dapat membandingkan hasil belajar sebelum dan
sesudah.
b. Penilaian
1. Jenis tagihan : Free Tes dan Post Tes
2. Bentuk tagihan : Tes uraian

A. LKS Dan Soal Tes

LEMBAR KERJA SISWA (LKS)

1. Tujuan : menentukan rumus luas bidang lingkaran.

 Buatlah model lingkaran dari kertas dengan jari-jari 10 cm. Setelah itu,
buatlah juring-juring dengan sudutnya masing-masing sebesar 22,5⁰.
Denga demikian, terdapat enam juring yang luas daerahnya masing-
masing sama besar. Mengapa ada 16 juring? Jelaskanlah.

 Buatlah salah satu juring menjadi dua bagian yang sama besar.

 Warnailah separuh dari lingkaran tersebut (lihat gambar 4.6 (a))

15
Laporan Hasil Penelitian Strategi Belajar Mengajar
Metode Pembelajaran Inkuiri
 Potonglah juring-juring menurut kelilingnya, kemudian letakan juring-
juring tersebut sedenikian rupa sehingga bentuknya menyerupai
(mendekati) “persegi panjang” (lihat gambar 4,6 (b))

Gambar 4.6 (a) Gambar 4.6 (b)

 Perhatikan “persegi panjang” yang diperoleh

Panjang = ½ x keliling lingkaran = π x r

Lebar = jari-jari lingkaran = r

Luas daerah “persegi panjang” tersebut adalah

L = panjang x lebar = .......... x ......... = .......

Oleh karena d = 2r atau r = ½ d maka

L = ...... x ...... = ....... x ....... = .......

1. Kerjakan soal-soal berikut dalam buku latihanmu

1) Jika π = 3, 14 hitunglah luas bidang lingkaran dengan ukuran.

a. Diameternya 9 cm.

b. Jari-jarinya 6 cm.

16
Laporan Hasil Penelitian Strategi Belajar Mengajar
Metode Pembelajaran Inkuiri
1) Hitunglah luas bidang lingkaran, jika kelilingnya 176 cm dan π = .

1. Kerjakan soal-soal berikut dalam buku latihanmu

Jika π = , tentukan luas daerah yang diarsir

2. Stadion Gwangju dibangun khusus untuk piala dunia 2002 di korea. Gambar
sketsa kasar stadion tersebut sebagai berikut:

400 m

1.000 m

Berapa m2 luas tanah yang dibutuhkan untuk membangun stadion itu ?

3. Kerjakan soal berikut dalam buku latihanmu

pada gambar di samping, titik A, B, C dan D pada
lingkaran. Sdemikian sehingga bangun ABCD
merupakan persegi dengan panjang sisi adalah 8
cm. Tentukan luas yang diarsir.

17
Laporan Hasil Penelitian Strategi Belajar Mengajar
Metode Pembelajaran Inkuiri
SOAL POST TEST

Nama : ................................................................

Kelas : ...............................................................

1. Jika diketahui jari-jari suatu lingkaran adalah a dan diameter lingkaran itu 2a,
maka luas lingkaran tersebut?

2. Hitung lingkaran jika kelilingnya 176 cm dan π =

3. Tentukan luas daerah yang diarsir pada gambar-gambar berikut?

1.

2.

1. Diketahui lingkaran yang kelilingnya 88 cm jika jari-jarinya diperbesar
menjkadi 3/2 kali jari-jari semula tentukan luas lingkaran yang baru?

Selamat Mengerjakan !!!

BAB IV

18
Laporan Hasil Penelitian Strategi Belajar Mengajar
Metode Pembelajaran Inkuiri
PENUTUP

Berdasarkan hasil temuan, analisis data, dan pembahasan, dapat dikemukakan
kesimpulan dan saran-saran yang terkait dengan penelitian ini.
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas tentang bagaimana pengaruh penggunaan
metode inkuiri terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran sub pokok bahasan luas bidang
lingkaran, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Dengan menggunakan metode inkuiri menunjukan peningkatan hasil belajar siswa, hal
ini terlihat dari peningkatan pengusaan siswa terhadap materi. Data memperlihatkan
bahwa adanya peningkatan yang cukup berarti dari hasil Free tes dan Post Tes.
2. Metode pembelajaran dengan menggunakan inkuiri dapat membantu siswa dalam
memahami konsep matematika dengan menemukan sendiri konsep matematika
tersebut, sehingga siswa lebih termotivasi, kreatif, dan aktif dalam proses
pembelajaran. Hal ini terlihat dari antusiasme siswa dalam mengikuti setiap tahap
pembelajaran dan siswa lebih pariatif dalam menyelesaikan masalah.
3. Dalam penggunaan metode ini terdapat beberapa kendala seperti, terkadang pada saat
diskusi kelompok terdapat beberapa siswa yang kurang aktif, acuh, bahkan sibuk
sendiri dengan aktivitasnya. Dalam hal ini mambutuhkan kemampuan dan kretifitas
guru untuk membawa suasana belajar agar lebih hidup, tidak membosankan, sehingga
siswa merasa tertarik dan tidak terjebak dalam suasana belajar yang membosankan.
Kendala lain yang cukup berarti adalah ketidak siapan siswa untuk menerima materi
pengajaran karene beberapa materi pra syarat masih belum terpenuhi, sehingga
menuntut kemampuan guru untuk merangsang kembali ingatan siswa terhadap materi
sebelumnya.
4. Terlihat bahwa metode pembelajaran dengan menggunakan inkuiri ini merupakan
salah satu metode yang pantas dipergunkan guna meningkatkan hasil belajar siswa
pada pokok bahasan lingkaran. Namun dalam pencapaiannya tergantung dari
bagaimana seorang guru itu sendri untuk bisa mengemas metode ini menjadi kreatif
dan menarik, sehingga tujuan dari metode inkuiri sebagai suatu metode yang mampu
membentuk siswa yang mampu berfikir secara kritis , analitis, dan argumentatis,
sehingga dapat membangun ranah kognitif dan afektif siswa.
A. Saran

19
Laporan Hasil Penelitian Strategi Belajar Mengajar
Metode Pembelajaran Inkuiri
1. Penggunaan metode inkuiri dalam pembelajaran matematika pada pokok bahasab
Lingkaran dapat dijadikan alternatif yang perlu dikembangkan, kerena dengan
menggunakan metode semacam ini siswa dapat terlibat secara aktif dan dapat
menimbulkan motivasi belajar sehingga siswa dapat memahami konsep matematika.
2. Penelitin ini agar dilakukan pada kelas dan konsep yang berbeda terutama kelas 7
supaya dari awal siswa sudah dibiasakan mandiri, aktif serta kreatif sebagai bekal
untuk jenjang berikutnya (kelas 8 dan 9). Kemandirian, keaktifan, dan kekretifan ini
dapat dijadikan bekal dan pengalaman cukup berati bagi siswa.
3. Penelitin semacam ini idealnya dilakukan dengan waktu yang utuh, tidak terganggu
oleh kegiatan di luar proses belajar.

20
Laporan Hasil Penelitian Strategi Belajar Mengajar
Metode Pembelajaran Inkuiri
LAMPIRAN – LAMPIRAN

21
Laporan Hasil Penelitian Strategi Belajar Mengajar
Metode Pembelajaran Inkuiri