You are on page 1of 10

SISTEM PERKEMIHAN

_ Pd TM I, ukuran uterus yg menyebabkan smkn besar mengakibatkan
sering kencing krn uterus menekan kandung kemih.
_ Pd TM II akan menghilang, krn uterus gravidus telah keluar dr rongga
panggul shg uterus tdk terlalu menekan kandung kemih.
_ Uterus yg bertambah bersama dgn hiperemia yg mempengaruhi organ2
pelvis & hyperplasia otot3 & jaringan penyambung, mengangkat
trigonum kandung kemih & menyebabkan penebalan margo
posteriornya atau intra ureteric.
Retensi akut
→komplikasi yg jarang tjd pd kehamilan.
Kadang2 timbul pd kira2 mgg ke 12 kehamilan apabila uterus dlm posisi
retroversi.
• Uterus tdk dpt muncul ke atas melampaui lengkung sacrum pd saat
vesica urinaria penuh→uterus tergencet.
• Tdp Circulus Visiosus (lingkaran setan) : uterus hny dpt muncul ke atas
kalau vesica urinaria kosong, ttp VU terjepit antara symphisis pubis &
uterus yg membesar.
• Pengobatannya : pemasangan kateter urine &
pengosongan VU perlahan2.
Stlh itu jarang tjd komplikasi lg krn uterus kmd dpt berdiri tegak &
menonjol ke atas keluar dr cavitas pelvis.
Inkontinesia Stress
• Urine kadang2 keluar scr tdk sadar (involunter) menjelang akhir
kehamilan apabila kepala fetus turun sngt dlm pd pelvis.
• Bila bumil tsb batuk, bersin / tertawa, urine akan keluar sdkt.
Infeksi Perkemihan
Tjd krn : pengaruh P yg mana peristaltic pd ureter mjd
terhambat→bertambah
panjang shg akan berkelok2
→residu akan menyebabkan sumbatan pd lekukan ureter yg mana di dlm
residu
tsb terkumpul mikroorganisme →tjd infeksi.
• Ureter Ka & Ki membesar→pengaruh P
• Ureter Ka > Ureter Ki krn mengalami > tekanan dibandingkan ureter Ki.
Hal ini disebabkan krn uterus lebih sering tangan kanannya / oleh letak
kolon & sigmoid yg berada di blkng kiri uterus.
• Akibat tekanan pd ureter Ka tsb lebih sering dijumpai hidroureter
dekstra & pielitis ekstra.
• Tekanan rahim pd ureter Ka dpt menyebabkan Infeksi pielonefritis
ginjal kanan.
• Tjd juga Poliuria→oleh adanya pe↑ sirkulasi darah di ginjal pd
kehamilan, shg filtrasi di glomerulus me↑ sampai 69%.
• Reabsorpsi di tubulus tdk berubah shg > byk dikeluarkan urea, asam
urik, glukosa, asam amino, asam folik dlm kehamilan.
• Mendekati akhir kehamilan, khususnya nullipara, dimana bag.
Presentasinya sering engage sblm tjd persalinan, slrh basis VU terdorong
ke dpn & ke atas shg mengubah permukaan N yg cembung mjd cekung.
• Tekanan bag. Presentasi tsb mengganggu drainase darah dlm limfe dr
basis VU,
sering membtk area edematus, mudah cedera &lebih peka thdp infeksi.
Baik tekanan maupun panjang uretra telah diperlihatkan berkurang pd
bumil / ibu tsb stlh kelahiran vaginal ttp tdk pd kehamilan abdominal.
• Kelemahan mekanisme sfingter uretra yg disebabkan oleh kehamilan &
persalinan mgkn memainkan peranan dlm fotogenesis, inkontinesa, stress
berkemih.
• Normalnya hny tdpt sdkt urin residual pd nullipara ttp kadang timbul pd
multipara dgn dinding vagina yg rileks & sistokel.
• Inkompetensi katub uterofesikal dpt tjd tumpang tindih dgn konsekuensi
kemungkinan refluk urin VU

TRAKTUS URINARIUS

Pada akhir kehamilan, kepala janin mulai tuun ke PAP, keluhan sering kencing dan
timbul lagi karena kandung kencing mulai tertekan kembali. Disamping itu, terdapat
pula poliuri. Poliuri disebabkan oleh adanya peningkatan sirkulasi darah di ginjal
pada kehamilan sehingga laju filtrasi glomerulus juga meningkat sampai 69%.
Reabsorbsi tubulus tidak berubah, sehingga produk-produk eksresi seperti urea, uric
acid, glukosa, asam amino, asam folik lebih banyak yang dikeluarkan.

Traktus urinarius

Ureter membesar, tonus otot-otot saluran kemih menururn akibat pengaruh
estrogen dan progesteron. Kencing lebih sering (poliuria), laju filtrasi meningkat
sampai 60%-150%. Dinding saluran kemih dapat tertekan oleh perbesaran uterus,
menyebabkan hidroureter dan mungkin hidronefrosis sementara.Kadar kreatinin,
urea dan asam urat dalam darah mungkin menurun namun hal ini dianggap normal.

PERUBAHAN SISTEM RENAL

Author: Bambang Widjanarko | Posted at: 08:32 | Filed Under: Fisiologi Maternal
Keluhan sering buang air kecil merupakan keluhan yang sering terjadi pada awal
kehamilan dan berulang lagi pada akhir kehamilan. Hal ini disebabkan oleh
perubahan anatomi dan merupakan hal yang wajar selama kehamilan.

Pada kehamilan dini : uterus membesar meski masih dalam panggul sehingga
menimbulkan tekanan pada kandung kemih dan akibatnya adalah pasien sering
buang air kecil

Pada pertengahan kehamilan : uterus sudah keluar dari panggul sehingga proses
miksi berlangsung normal

Pada akhir kehamilan : Terjadi desensus kepala kedalam panggul ssehingga
keluhan sering bang air kecil terulang kembali.

Perubahan anatomis pada ginjal dan ureter terlihat nyata.

Terjadi hidronefrosis dan hidroureter ringan. Keadaan ini disebabkan oleh
penurunan tonus otot polos akibat hormon progesteron yang diperberat oleh
tekanan mekanis dari uterus pada pintu panggul

Terjadi pula refluk vesico ureteric
Perubahan – perubahan diatas merupakan predisposisi terjadinya infeksi saluran air
kemih. Gambaran ini menjadi lebih baik pada kehamilan lanjut oleh karena
pertumbuhan uterus diatas pintu panggul dan peningkatan kadar estrogen yang
menyebabkan hipertrofi otot ureter.

SISTEM RENAL

Output urine dengan asupan cairan normal cenderung semakin terbatas. Keadaan
ini bertentangan dengan meningkatnya aliran darah ginjal. Namun harus diingat
bahwa terjadi peningkatan reabsorbsi air dan elektrolit tubuler .

Glikosuria yang sering terjadi akibat peningkatan GFR – glomerular filtration rate
berada di tubulus dengan gula yang tak dapat diabsorbsi secara sempurna
Sebagai akibatnya, jumlah cairan yang di filtrasi dari plasma melalui glomerulus
juga meningkat dan beratus ratus liter cairan melintasi tubulus renalis setiap
harinya. Meski demikian output urine tidak bertambah dan hal ini jelas oleh karena
adanya reabsorbsi oleh tubulus renalis. Diperkirakan terjadi peningkatan cairan
ekstraselusebanyak 6 – 7 liter selama kehamilan. Bersama dengan air, natrium dan
elektrolit lain mengalami reabsorbsi oleh tubulus untuk mempertahankan
osmolaritas . Pasien hamil meng eksresikan 80% dari dari bahan bahan yang
dijumpai dalam urine ibu yang tidak hamil.

Glikosuria derajat rendah terjadi pada 35 – 50% ibu hamil. Kenaikan GFR
menyebabkan meningkatnya gula yang sampai di tubulus dan kemudian
direabsorbsi kembali. Dengan demikian maka glikosuria terjadi pada kadar gula
yang rendah dibandingkan dengan yang dijumpai pada wanita tidak hamil. Terjadi
penurunan ambang batas renal.

Infeksi Traktus Urinarius adalah bila ada pemeriksaan urine ditemukan bakteri yang
jumlahnya lebih dari 10.000 per ml. urine yang diperiksa harus bersih, segar dan di
ambil dari aliran tengah (midstream) atau diambil dengan pungsi suprasimpisis.
Ditemukan bakteri yang jumlahnya lebih dari 10.000 per ml ini disebut dengan
istilah bakteriuria. Bakteriuria ini mungkin tidak disertai gejala, disebut bakteriuria
asimptomatik dan mungkin disertai dengan gejala-gejala yang disebut bakteriuria
simptomatik (Sarwono, 2005).

Infeksi saluran kencing merupakan komplikasi medik utama pada wanita hamil.
Sekitar 15% wanita, mengalami satu kali serangan akut infeksi saluran kencing
selama hidupnya. Infeksi saluran kencing dapat mempengaruhi keadaan ibu dan
janin, dampak yang ditimbulkan antara lain anemia, hipertensi, kelahiran prematur
dan bayi berat lahir rendah (BBLR).

2.2 Etiologi

Infeksi saluran kencing merupakan jenis infeksi nosokomial yang paling sering
terjadi sekitar 40% dari seluruh infeksi pada Rumah Sakit setiap tahunnya. (Burke
dan Zavarsky, 1999). Organisme yang menyerang bagian tertentu sistem urine
menyebabkan infeksi pada saluran kencing yaitu ginjal (Pielonefritis), kandung
kemih (Sistitis), atau urine (Bakteriuria). Salah satu penyebaran organismenya
dapat melalui penggunaan kateter dalam jangka pendek.. Resiko yang lebih besar
lagi bisa terjadi pada penggunaan kateter yang lebih lama, apabila urine dibiarkan
mengalir ke tempat atau kantong pengumpulan yang terbuka., seluruh pasien akan
menyebarkan bakteri dalam 4 hari (dengan gejala atau tanpa gejala).

Walaupun infeksi dapat terjadi karena penyebaran kuman melalui pembuluh darah
dan limfe, akan tetapi yang terbanyak dan tersering adalah kuman-kuman naik ke
atas melalui uretra, ke dalam kandung kemih dan
saurian
Kemah yang labia
atas. Organisme penyebab infeksi ini berasal dari flora normal. Sekitar 90% dari
strain E.coli yang menyebabkan pyelonefritis nonobstuktif, di samping kemungkinan
kuman-kuman lain Enterobacter aerogenes, klebsiella, pseudomonas dan lain-
lain.Walaupun kehamilan tidak meningkatkan virulensi dari bakterinya, tetapi stasis
urin dan refluk vesikoureteral dapat menjadi predisposisi infeksi pada infeksi pada
traktus urinarius atas.

2.3 Patogenesis

Kebanyakan infeksi traktus urinarius disebabkan oleh bakteri gram-negatif,
terutama Eskerisia koli, spesies pseudomonas dan organisme yang berasal dari
kelompok Enterobakter. Jumlah seluruhnya mencapai lebih dari 80% kultur positif
infeksi saluran kencing (Haley, 1985). Sementara kebanyakan organisme organisme
tersebut adalah Eskerisia koli, infeksi jamur, misalnya spesies kandida, yang
meningkat bersamaan dengan munculnya HIV/AIDS dan penyebarannya
menggunakan antibiotika berspektrum luas.

2.4 Klasifikasi

2.4.1 Bakteriuria Asimptomatik

Tidak ada gejala yang timbul dihubungkan dengan infeksi ini, yang dialami 11%
dalam kehamilan. Ada peningkatan penderita bakteriuria tanpa gejala pada wanita
yang pernah menderita infeksi saluran kemih, diabetes dan wanita dengan gejala
sel sabit. Bakteriuria asimptomatik diasosiasikan dengan phielonefritis, melahirkan
dini dan BBLR. Beberapa peneliti mendapatkan adanya hubungan kejadian
bakteriuria ini dengan peningkatan kejadian anemia dalam kehamilan, persalinan
prematur, gangguan pertumbuhan janin dan pre eklampsia. Oleh karena itu pada
wanita hamil dengan bakteriuria harus diobati dengan seksama sampai air kemih
bebas dari bakteri yang dibuktikan dengan pemeriksaan beberapa kali.

Pemeriksaan Laboratorium :

Semua wanita hamil sebaiknya dilakukan pemeriksaan Laboratorium urin secara
mikroskopik, tampak peningkatan jumlah leukosit, sejumlah eritrosit, Bakteri dan
spesimen urine. Untuk menghindari kontaminasi, spesimen urine diambil dari aliran
tengah (mid-stream) setelah daerah genitalia eksterna dicuci terlebih dahulu. Kultur
bakteri dan tes kepekaan antibiotika bila dimungkinkan sebaiknya diperiksa.

Penanganan :

1. Para ahli menganjurkan untuk memberikan terapi antibiotika. Beberapa kajian
terapi antibiotika untuk bakteriuria asimptomatik.

Nama obat Dosis Angka keberhasilan

a. amoksilain + asam klavulanat 3x500 mg/hari 92%

Amoksilin 4x250 mg/hari 80%

Nitrofurantoin 4x50-100 mg/hari 72%

2. Terapi Antibiotika untuk pengobatan bakteriuria asimptomatik, biasanya
diberikan untuk jangka 5-7 hari secara oral. Sebagai kontrol hasil pengobatan,
dapat dilakukan pemeriksaan ulangan biakan bakteriologik air kemih.

Bakteriuria Simptomatik

a. Systitis

Sistitis merupakan peradangan kandung kemih tanpa disertai radang pada bagian
saluran kemih, biasanya inflamasi akibat bakteri. Sistem ini sukup sering dijumpai
dalam kehamilan dan nifas. Kuman penyebab utamanya adalah E.coli, disamping
dapat oleh kuman-kuman lain. Predisposisi lain adalah karena uretra wanita yang
pendek, sistokel, adanya sisa air kemih yang tertinggal, disamping penggunaan
kateter untuk usaha pengeluaran urin pada pemeriksaan ginekologik atau
pesalinan. Penggunaan kateter ini dapat mendorong kuman-kuman yang ada di
uretra distal untuk masuk ke kandung kemih.

Tanda dan Gejala :

a. Hampir 95 % mengeluh nyeri pada derah supra simpisis atau nyeri saat
berkemih.

b. Frekuensi berkemih meningkat tetapi jumlahnya sedikit sehingga menimbulkan
rasa tidak puas dan tuntas.

c. Air kencing kadang terasa panas.

d. Air kencing berwarna lebih gelap dan pada serangan akut kadang-kadang
berwarna kemerahan.

Pemeriksaan Laboratorium :

Secara mikroskopik, tampak peningkatan jumlah leukosit, sejumlah eritrosit, bakteri
pada spesimen urin. Untuk menghindari kontaminasi, spesimen urin diambil dari
aliran tengah setelah daerah genitalia eksterna dicuci terlebih dahulu. Hasil biakan
bakteriologis air kemih, umumnya memberikan hasil yang positif. Seringkali
dijumpai piuria atau hematuria (gross hematuria).

Penanganan :

1. Umumnya dilakukan pengobatan rawat jalan dan pasien dianjurkan untuk banyak
minum.

2. Atur frekuensi berkemih untuk mengurangi sensasi nyeri, spasme dan
rangsangan untuk selalu berkemih (tetapi dengan jumlah urine yang minimal).
Makin sering berkemih, nyeri dan spasme akan makin bertambah.

3. Hanya Ibu hamil yang mengeluh nyeri hebat disertai dengan hematuria,
memerlukan perawatan dan observasi ketat.

4. Terapi antibiotika yang dipilih, mirip dengan pengobatan bakteriuria
asimptomatik. Apabila antibiotika tunggal kurang memberikan manfat, berikan
antibiotika kombinasi. Kombinasi tersebut dapat berupa jenis obatnya ataupun cara
pemberiannya, misal: amoksillin 4x250 mg per oral., digabung dengan Gentamisin
2x80 mg secara intramuskular selama 10-14 hari. Dua hingga 4 minggu kemudian
dilakukan penilaian laboratorium untuk evaluasi pengobatan.

5. Hampir 25% pasien pernah mengalami sistitis, akan mengalami infeksi ulangan
sehingga perlu diberikan konseling untuk upaya profilaksis dan kunjungan ulang
apabila timbul kembali tanda sistitis. Untuk pencegahan infeksi berulang berikan
nitrofurantoin 100 mg/hari setiap malam sampai sesudah 2 minggu post partum.
6. Dalam asuhan antenatal yang terjadwal, sebaiknya dilakukan pemeriksaan air
kemih, sebagai langkah antisipatif terhadap infeksi ulang.

b. Pielonefritis Akuta

Pielonefritis akuta merupakan salah satu komplikasi yang sering dijumpai dalam
kehamilan dan frekuensinya kira-kira 2%, terutama pada kehamilan terakhir dan
permulaan masa nifas. Infeksi ini biasanya disebabkan oleh Escherichia koli dan
dapat pula oleh kuman-kuman lain seperti stafilokokkus aureus, basillus proteus
dan pseudomonas aerugenosa. Kuman dapat menyebar secara hematogen atau
limfogen, akan tetapi terbanyak dari kandung kemih.

Predisposisi

Penggunaan kateter untuk mengekuarkan urine waktu persalinan atau kehamilan,
air kemih yang tertahan sebab perasaan sakit waktu berkemih karena trauma
persalinan atau luka pada jalan lahir.

Sekitar 1%-2% wanita hamil, mengalami pielonefritis akuta. Kondisi ini merupakan
masalah utama saluran kemih pada wanita hamil. Duapertiga kasus pielonefritis
akut, didahului oleh bakteriuria asimptomatik. Pielonefritis sangat berkaitan dengan
stasis aliran air kencing akibat perubahan-perubahan sistem.

Gejala dan tanda yang penting untuk diperhatikan :

a. Pielonefritis akuta ditandai dengan gejala demam, menggigil, mual dan muntah,
nyeri pada daerah kostovertebra atau pnggang. Sekitar 85% kasus, suhu tubuh
melebihi 38ºC dan sekitar 12%, suhu tubuhnya mencapai 40ºC.

b. Sering disertai mual, muntah dan anoreksia.

c. Kadang-kadang diare

d. Dapat juga jumlah urine berkurang

e. Pemeriksaan air kemih menunjukan banyak sel-sel leukosit dan bakteri. Hasil
biakan menunjukan banyak koloni mikroorganisme patogen.

Penanganan :

1. wanita hamil dengan pielonefritis akut, harus dirawatinapkan. Karena penderita
sering mengalami mual dan muntah, mereka umumnya datang dengan keadaan
dehidrasi.
2. Bila penderita dalam keadaan syok, lakukan tindakan yang sesuai untuk
mengatasi syok tersebut. Segera lakukan pemasangan infus untuk restorasi cairan
dan pemberian medikamentosa. Pantau tanda vital dan diuresis secara berkala.

3. Bila terjadi ancaman partus prematurus, lakukan pemberian antibiotika seperti
yang telah diuraikan di atas dan penatalaksanaan partus prematurus.

4. Lakukan pemeriksaan urinalisis dan biakan ulangan.

5. Terapi antibiotika sebaiknya diberikan secara intravena. Ampisilin bukan
merupakan pilihan utama karena sebagian besar mikroorganisme penyebab
terbukti resisten terhadap antibiotika jenis ini.

6. Walaupun golongan aminoglikosida cukup efektif tetapi pemberiannya harus
dengan memperhatikan kemampuan ekskresi kreatinin karena pada pielonefritis
akut, sering terjadi gangguan fungsi ginjal secara temporer.

7. Terapi kombinasi antibiotika yang efektif adalah gabungan sefoksitin 1-2 gram
intravena setiap 6 jam dengan gentamisin 80 mg intravena setiap 12 jam. Ampisilin
2 gram/siproksin 2 gram intravena dan gentamisin 2x80 mg.

8. Bila setelah penanganan yang adekuat dalam 48 jam pertama, ternyata debagian
gejala masih ada, pertimbangkan kemungkinan mikroorganisme resisten terhadap
antibiotika yang diberikan, nefrolitiasis, abses perinefrik atau obstruksi sekunder
akibat kehamilan.

Prognosis

Bagi ibu umumnya cukup baik bila pengobatan cepat dan tepat diberikan,
sedangkan pada hasil konsepsi sering kali menimbulkan keguguran atau persalinan
prematur.