You are on page 1of 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sumber daya alam dan lingkungan hidup merupakan sumber yang penting
bagi kehidupan umat manusia dan makhluk hidup lainnya. Eksploitasi sumber
daya alam yang hanya berorientasi ekonomi hanya membawa efek negatif bagi
kelangsungan kehidupan umat manusia. Oleh karena itu pembangunan tidak
hanya memperhatikan aspek ekonomi tetapi juga memperhatikan aspek sosial
yang berkaitan dengan kelestarian serta kemampuan dan daya dukung sumber
daya alam.
Kontrol masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian
fungsi lingkungan hidup merupakan hal yang penting. Kemiskinan akibat krisis
ekonomi juga perlu mendapat perhatian karena dapat berpotensi mempercepat
terjadinya kerusakan sumber daya alam, termasuk kerusakan hutan lindung,
pencemaran udara, hilangnya keanekaragaman hayati, kerusakan konservasi alam,
dan sebagainya. Meningkatnya intensitas kegiatan penduduk dan industri perlu
dikendalikan untuk mengurangi kadar kerusakan lingkungan di banyak tempat
yang antara lain berupa pencemaran industri, pembuangan limbah yang tidak
memenuhi persyaratan teknis dan kesehatan, penggunaan bahan bakar yang tidak
aman bagi lingkungan, kegiatan pertanian, penangkapan ikan, dan eksploitasi
hutan lindung yang mengabaikan daya dukung dan daya tampung lingkungan.
Hal ini mungkin tidak terjadi pada negara – negara maju yang menetapkan
standar pelestarian alam yang cukup tinggi. Namun tidak begitu dengan Amerika
Serikat yang merupakan negara penyumbang emisi gas rumah kaca tertinggi tetapi
tidak mau ikut berpartisipasi untuk perbaikan alam.
Sungguh ironis, Amerika tidak hanya menjadi penyumbang emisi gas
rumah kaca terbesar, tapi juga pengeksploitasi terbesar negara – negara dunia
ketiga dengan ideologi liberalisnya yang membuat seluruh dunia terancam
dampak dari pemanasan global.

B. Rumusan Masalah

1
1. Apa yang membuat Amerika menjadi salah satu penyebab pemanasan global
dan pengrusakan lingkungan terbesar di dunia?

C. Tujuan
Makalah ini dibuat dengan maksud agar masyarakat dunia khususnya negara –
negara dunia berkembang agar dapat meningkatkan kesadarannya dalam
mengelola sumber daya alam yang kaya untuk keberlangsungan hidup manusia di
dunia dan juga menjadi investasi untuk masa depan. Karena alam merupakan aset
terpenting untuk menyelamatkan seluruh kehidupan di muka bumi.

BAB II
PEMBAHASAN

2
Pada pertengahan tahun 2007 lalu negara-negara industri maju menggelar
sebuah pertemuan penting yang membahas masalah Perubahan Iklim dan
fenomena yang disebut "Pemanasan Bumi." Jelas bahwa semua dampak
perubahan iklim dunia dan pemanasan bumi dihasilkan oleh karena sikap serakah
manusia yang konsumtif.
Dalam pertemuan tingkat tinggi tersebut, kita melihat sikap sombong AS yang
diikuti Australia dalam menolak menjalankan peraturan Protokol Kyoto yang
mengatur tentang penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.
Satu pesan jelas terlihat, ditengah ujian maha besar bagi umat manusia dalam
mengurangi sifat komsumtifnya yang cenderung merusak alam, AS sebagai salah
satu konsumen energi terbesar dunia dengan kesombongannya, mengambil sebuah
tindakan politik yang tidak mempedulikan manusia dan kemanusiaan.
Padahal, saat ini dunia dihadapkan pada satu pilihan mutlak, mengurangi
konsumtif kita dalam penggunaan energi fosil yang merusak Ozon atau tetap
menggunakan energi fosil dengan konsukuensi pemanasan bumi menjadi ancaman
hilangnya peradaban umat manusia.
Amerika Serikat dikenal sebagai negara pengguna energi fosil terbesar di
dunia. Kurang lebih 40% penggunaan energi dunia dimonopoli oleh Amerika
Serikat, dengan demikian terlihat jelas jika pada KTT G8 di Jerman pada Juni
2007 lalu, AS dengan tegas menolak meratifikasi Protokol Kyoto.1
Pada faktanya, beberapa tahun ini sudah memperlihatkan kecenderungan
meningkatnya proses degradasi lingkungan, seperti meningkatnya emisi gas
rumah kaca, penggundulan hutan serta hilangnya sejumlah keanekaragaman
hayati. Kehilangan sumberdaya alam sebagai bahan mentah akan mempengaruhi
secara langsung kelancaran produksi industri pertambangan.
Beberapa bentuk kerusakan lingkungan dimotori oleh peningkatan aktivitas
perekonomian yang mana industri berbasis PMA (Penanaman Modal Asing)
adalah kontributor utamanya. Bahkan diperkirakan bahwa aliran investasi dan
kebutuhan komoditas sumberdaya alam akan terus berlanjut bahkan meningkat
lebih cepat daripada pertumbuhan kas ekonomi dalam negerinya. Oleh karena itu
1 http://www.kabarpapua.com/online/modules.php?name=News&file=article&sid=717, di akses
pada tanggal 27 April 2008.

3
perlu dipikirkan segera dampak lingkungan dari masuknya industri berbasis
PMA.2
Pada saat ini, topik yang masih ramai diperdebatkan seputar PMA dan dampak
lingkungannya adalah julukan "surga polusi" yang melekat pada negara
berkembang. Mengapa dikatakan demikian? Yang menjadi sorotan adalah
aktivitas sebagian perusahaan asing dengan kapitalisasi besar yang mengalihkan
operasionalnya ke negara-negara berkembang yang mempunyai regulasi bidang
lingkungan yang lemah. Perusahaan asing tersebut dengan leluasa memanfaatkan
celah hukum yang ada untuk membuang limbahnya dengan tak terkontrol
sehingga dapat menekan biaya produksi dan biaya pengolahan limbah.3
Hal ini ini didukung oleh Pemerintah negara berkembang itu sendiri yang
kurang memperhatikan lemahnya pengelolaan mereka dan justru memakainya
sebagai alat untuk menarik investor asing menanamkan modalnya ke dalam
negeri. Akibatnya, pembangunan mengalami peningkatan tetapi kualitas
lingkungan mengalami penurunan yang drastis.
Sebagian besar konsentrasi industri berbasis PMA di negara berkembang ada
pada bidang SDA. Industri PMA tersebut harus menjalankan operasinya di dalam
lingkup pembangunan berkelanjutan sehingga tidak sampai mengganggu fungsi
vital ekosistem kawasannya. Bukti menunjukkan bahwa industri PMA yang
berpotensi besar sebagai penghasil polusi akan memberikan dampak negatif
terhadap sumberdaya alam yang ada di sekitarnya, di mana daerah tempat
berdirinya industri tersebut memiliki kelemahan regulasi di bidang pengelolaan
lingkungan. Sehingga terdapat hubungan keterkaitan antara SDA yang melimpah,
pengelolaan yang lemah dan kehadiran PMA dengan kerusakan lingkungan yang
semakin lama semakin parah.
Di berbagai eksploitasi SDA dan lingkungan, di balik itu semua Amerika
Serikat memegang peranan penting untuk memenuhi kegiatan industri dan
ekonomi yang berbasis pada liberalis kapitalis, yang mengakibatkan dampak
pengrusakan lingkungan.

2 http://www.mail-archive.com/exbhp@googlegroups.com/msg00054.html, di akses pada tanggal
27 April 2008.
3 Idem, di akses pada tanggal 27 April 2008.

4
Globalisasi adalah cara yang paling ampuh untuk lebih mengesploitasi SDA di
negara – negara berkembang. Sejarah perkembangan manusia pada masa awal
perkembangan peradaban, manusia yang satu dan manusia yang lain melakukan
hubungan sosial - ekonomi dengan cara melakukan barter.
Kompetisi dimulai pada waktu manusia sudah tidak lagi memakai cara barter
dalam pertukaran barang. Pada masa perbudakan, manusia satu mengeksploitasi
manusia lain yang lebih lemah untuk mengambil untung dari situasi ini. Alat tukar
yang digunakan sudah bukan lagi barter seperti pada jaman komunal.
Kita beranjak pada masa feodalisme, struktur dagang sudah lebih mapan
dengan pola pemberian upeti oleh negara-negara atau wilayah bahawan kepada
induk feodal. Masa feodialisme memunculkan suatu metode baru yang mutakhir
dalam proses ekploitasi manusia.
Kecenderungan konsumtif pada masa ini sudah sangat tersistem dengan model
eksploitasi Petani dan petani penggarap ditindas melalui metode sewa tanah atau
pengendalian pasar yang dilakukan oleh kaum feodal.
Pada masa kapitalisme merkantilis berkembang, metode eksploitasi yang
digunakan adalah metode eksploitasi feodal yang dikombinasi dengan sedikit pola
kapitalis. Pada masa kolonial, Belanda merupakan salah satu negara kapitalis yang
menggunakan metode eksploitasi kapitalisme merkantilis.
Pada masa Kapitalisme dimunculkan oleh penemuan mesin uap di Inggris
yang mendorong proses industrialisasi secara besar-besaran. Ketika mesin-mesin
industri di Eropa Barat berkembang dengan sangat cepat, terjadilah sebuah proses
eksploitasi besar-besaran dalam sejarah peradaban manusia melalui proses
kolonisai.
Pada masa sekarang, metodologi penjajahan sudah tidak dilakukan dengan
menggunakan model fisik seperti pada jaman kolonialisme. Dalam
perkembangannya, kapitalisme menggunakan model yang lebih halus dengan
didukung oleh institusi atau instrumen eksploitasi yang lebih rapi, tersistem
dengan menggunakan aturan hukum yang fleksibel berdasarkan kemauan para
kapitalis.
Bank Dunia, WTO dan IMF, adalah alat-alat yang dimiliki oleh negara-negara
industri maju untuk mendikte negara berkembang dan miskin untuk mengikuti

5
pola konsumtif mereka yang tidak terkontrol. Proses eksploitasi sumber daya alam
yang tak terkontrol didasari oleh industrialisasi modern di negara-negara maju
menghasilkan kemiskinan bagi pemilik sumber daya alam negara berkembang dan
maju dan kerusakan bumi akibat sikap serakah eksploitasi pemilik modal besar
yang dimiliki negara-negara industri maju.
Dampaknya jelas, kehancuran Bumi berakibat kehadiran fenomena baru
Pemanasan Bumi yang oleh banyak ahli diprediksi akan menghancurkan
kemapanan sistem sosial yang sudah terbentuk akibat bencana alam seperti badai,
gempa bumi, tsunami dan banjir.
Bahkan para ahli memprediksi, akibat pemanasan bumi, proses migrasi akan
terjadi. Bencana alam yang merusak bagian lain Bumi akan menghadirkan proses
migrasi dari wilayah-wilayah dimana bencana terjadi. Migrasi adalah reaksi alami
yang dimiliki manusia untuk menyelamatkan diri ke wilayah yang lebih aman.
Tetapi bukan tanpa masalah, proses migrasi kelompok manusia ke wilayah lain
yang lebih aman diperkirakan akan memunculkan konflijk perebutan lahan,
konflik perebutan lahan memunculkan peristiwa politik yang kita kenal sebagai
perang.
Fenomena pasar bebas saat ini adalah fenomena konsumtif yang sudah tak
terbendung lagi. Kemewahan membutuhkan kenyamanan yang hanya diperoleh
dengan jalan mengkonsumsi hasil produksi barang industri.
Pemenuhan kebutuhan energi AS yang besar membutuhkan pola atau sistem
pendukung eksploitasi yang ampuh sesuai kebutuhan jaman. Prosesi perang Irak,
kontrol minyak Timur Tengah, penguasaan pasar minyak dunia dan rencana atau
kebijakan perang terhadap Iran yang dilakukan Amerika Serikat adalah untuk
memenuhi kebutuhan pasar domestiknya akan energi fosil.
Penduduk AS yang konsumtif, tidak menghiraukan dampak sosial dan
kemanusiaan yang ditimbulkan pemerintahannya akibat proses eksploitasi Multi
National Corporation AS di negara-negara berkembang dan miskin untuk
mendapatkan energi fosil.
Apapun yang terjadi di AS adalah untuk dicermati sebagai kilas balik yang
penting akan betapa pentingnya mendahulukan kemanusiaan daripada sekedar
mengejar pemenuhan konsumsi minyak bumi semata.

6
Makin maju sebuah negara, bukannya makin bijak pada kasus Amerika
Serikat meskipun penduduknya hanya 4 persen dari jumlah penduduk dunia, ia
menyumbang 35 persen emisi karbon, penyebab utama pemanasan global dan
perubahan iklim.
Itu menggambarkan keseharian kita sebenarnya. Makin kaya seseorang, ia tak
makin bijak. Ia boros, menghabiskan kayu, minyak sawit, bahan tambang dan
bahan bakar fosil lebih banyak dari kelompok lainnya.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Amerika Serikat menjadi penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca, yang
dampaknya menyebar keseluruh dunia. Diprediksikan oleh para ahli perubahan
lingkungan akibat eksploitasi SDA dan lingkungan hidup yang dilakukan oleh

7
negara – negara industri besar ini akan mengakibatkan hilangnya suatu peradaban
dari manusia.
Hal ini disebabkan oleh masyarakat negara, maju yang konsumtif yang di
dukung oleh konsep kapitalisme yang mengeksploitasi SDA dan lingkungan hidup
di negara – negara dunia ketiga. Terutama negara – negara yang mempuyai
pengelolaan yang lemah.

B. Saran
Amerika merupakan dalang dari kegagalan protokol kyoto yang dilakukan 10
tahun yang lalu, dilanjutkan pada konferensi perubahan iklim di Bali yang tidak
kunjung ditandatangani oleh AS. Untuk itu negara – negara dunia ketiga yang
menjadi sasaran eksploitasi SDA dan lingkungan hidup oleh AS, perlu untuk
bersikap tegas dan berani menolak modal – modal yang mengucur dari PMA.
Walaupun hal ini menguntungkan dalam bidang ekonomi, namun bagi
keberlangsungan umat manusia di dunia perlu dipikirkan lagi dampak yang akan
terjadi di masa mendatang yang akan menghantui generasi selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.kabarpapua.com/online/modules.php?
name=News&file=article&sid=717, diakses pada tanggal 27 April 2008.

http://www.mail-archive.com/exbhp@googlegroups.com/msg00054.html, diakses
pada tanggal 27 April 2008.

8
http://africa.oneworld.net/external/?url=http%3A%2F%2Fcsoforum.net
%2FArtikel%2FAmerika-Tetap-Keras-Kepala-Pada-Protokol-Kyoto.html, di akses
pada tanggal 19 Desember 2007.

http://africa.oneworld.net/external/?url=http%3A%2F%2Fwww.ymp.or.id
%2Fcontent%2Fview%2F198%2F1%2F, di akses pada tanggal 27 April 2008.

http://www.kabarpapua.com/online/modules.php?
name=News&file=article&sid=717, di akses pada tanggal 20 April 2008.

9