You are on page 1of 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Berbagai penyakit infeksi pada anak antara lain poliomelitis, campak, difteri,
pertusis, tetanus dan tubercolusis (TBC) dapat dicegah dengan pemberian imunisasi pada
bayi. Pemberian imunisasi pada anak sangat penting untuk mengurangi mortalitas dan
morbiditas terdapat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi1.
Pada umumnya imunisasi yang memerlukan pemberian ulangan seperti DPT
mempunyai angka cakupan yang relatif rendah. Hal ini terlihat dengan adanya drop out
sasaran yang berkisar antara 32 60%. Laporan hasil survei tim WHO (1982) menyebutkan
bahwa terjadinya drop out karena ketidaktahuan dan kurangnya informasi tentang imunisasi1.
Reaksi lokal maupun sistemik yang tidak diinginkan dapat terjadi pasca imunisasi.
Sebagian besar hanya ringan seperti demam dan bisa hilang dengan sendirinya. Demam yang
tinggi sering membuat ibu khawatir. Apalagi pada bayi bila kenaikan suhu tubuh terjadi
secara tiba tiba bisa menimbulkan komplikasi berupa kejang. Reaksi yang berat bisa terjadi
meskipun jarang. Umumnya reaksi terjadi segera setelah dilakukan vaksinasi, namun bisa
juga reaksi tersebut muncul kemudian. Cody dan kawan kawan melaporkan bahwa kejang
yang timbul setelah imunisasi dengan pertusis insidennya adalah 1 : 1750 imunisasi.
Dikatakan bahwa kejang yang paling sederhana (simple) yang mengikuti imunisasi pertusis
adalah kejang deman (febrile convulsion)1,2.
Menurut data di atas, terlihat bahwa ketakutan ibu terhadap reaksi yang di timbulkan
setelah imunisasi dapat menyebabkan anak tidak mendapat imunisasi dengan lengkap. Hal ini
tidak akan terjadi bila ibu memiliki pengetahuan yang baik tentang reaksi samping
imunisasi2.
Agar imunisasi dapat menjangkau semua lapisan masyarakat, maka sasaran yang
ditujukan ialah orang tua. Khususnya pada ibu atau calon ibu untuk diberikan penyuluhan
tentang pentingnya imunisasi bagi anak, menganjurkan agar ibu membawa anaknya ke
Posyandu. Adapun faktor faktor yang mempengaruhi hal tersebut yakni faktor pendidikan
(pengetahuan), usia, dan penyuluhan oleh bidan dan perawat setempat3.
Pada saat ini imunisasi sendiri sudah berkembang cukup pesat ini terbukti dengan
menurunya angka kesakitan dan angka kematian bayi. Angka kesakitan bayi menurun 10%
1

dari angka sebelumnya, sedangkan angka kematian bayi menurun 5% dari angka sebelumnya
menjadi 1,7 juta kematian setiap tahunnya di Indonesia2,4.
Keberhasilan imunisasi ini tidak lepas dari peran serta petugas kesehatan baik di
posyandu maupun puskesmas. Peran orangtua tentunya memegang peranan utama dalam
terlaksananya program imunisasi dasar. Maka dari itu, penulis merasa perlu mengkaji lebih
lanjut mengenai hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan keterlibatan anak dalam
imunisasi dasar5.
1.2.Rumusan Masalah
Gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar di Puskesmas Perumnas,
Kecamatan Curup
1.3.Tujuan Penelitian
Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar di Puskesmas
Perumnas, Kecamatan Curup
1.4.Manfaat Penelitian
a.)Manfaat teoritis
Dapat memperkaya konsep/teori yang menyokong perkembangan ilmu pengetahuan
khususnya yang terkait dengan tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar lengkap pada
bayi.
b). Manfaat praktis
Dapat memberikan masukkan yang berarti bagi ibu dalam meningkatkan pengetahuan
tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi khususnya melalui perspektif motivasi.
c).Manfaat bagi peneliti
Untuk menambah pengetahuan dan pengalaman dalam membuat karya tulis ilmiah
(KTI) .
d).Manfaat bagi puskesmas
Untuk memberi tambahan informasi sebagai bahan acuan dalam melaksanakan
penyuluhan maupun pendidikan kepada masyarakat mengenai imunisasi dasar selanjutnya.
2

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Konsep Dasar Pengetahuan
2.1.1.Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil tahu dan hal ini muncul setelah orang melakukan
pengindraan obyek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yakni melalui
indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba yang sebagian besar pengetahuan
manusia melalui mata dan telinga6.
Pada bagian lain pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting
untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behavior), karena dari pengalaman dan
penelitian ternyata perilaku akan lebih langgeng dari perilaku yang tidak didasari oleh
pengetahuan6.
Benyamin Bloom (1980) seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku
manusia ke dalam 3 (tiga) domain, ranah atau kawasan yakni a) kognitif (cognitive), b)
afektif (affective) dan c) psikomotor (psychomotor)6.
2.1.2.Tingkat Pengetahuan6,7
Setelah ada beberapa definisi pengetahuan yang telah diuraikan di atas, pengetahuan
yang dicakup kognitif mempunyai 6 tingkatan yakni :
A).Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai pengikat suatu materi yang sah dipelajari sebelumnya,
termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengikat kembali (recall) terhadap suatu
spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima, oleh suatu
sebab itu tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
B).Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara besar tentang
obyek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar,
menyebarkan contoh, menyimpulkan dan meramalkan obyek yang dipelajari tersebut.

C).Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi dan kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi dapat diartikan sebagai
penggunaan hukum, rumus, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau sisi lain.
D).Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke
dalam komponen komponen, tetapi masih di dalam suatu organisasi tersebut dan masih ada
kaitannya satu sama lain.
E).Sintesis (syntesis)
Sintesis

menunjukkan

pada

suatu

kemampuan

untuk

meletakkan

atau

menghubungkan bagian bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata
lain sintesis adalah kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang ada.
F).Evaluasi (evaluation)
Berkenaan dengan kemampuan menggunakan pengetahuan untuk membantu
penilaian terhadap sesuatu berdasarkan maksud atau kriteria tertentu.
2.1.3.Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Seseorang
Menurut Notoadmojo6, faktor - faktor yang mempengaruhi terbentuknya
pengetahuan yaitu :
A).Kecerdasan
Intelegensi (kecerdasan) merupakan kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang
memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu. Orang berpikir menggunakan
inteleknya atau pikirannya, cepat atau tidaknya dan terpecahkan tidaknya suatu masalah
tergantung kemampuan intelegensinya. Salah satu faktor yang mempengaruhi penerimaan
pesan dalam suatu komunikasi adalah taraf intelegensi seseorang. Secara common sense dapat
dikatakan bahwa orang orang yang lebih intelegen akan lebih mudah menerima suatu
pesan. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa orang yang mempunyai taraf intelegensi
tinggi akan mempunyai pengetahuan yang baik dan sebaliknya.

B).Pendidikan
Tugas dari pendidikan adalah memberikan atau meningkatkan pengetahuan,
menimbulkan sifat positif serta memberkan atau meningkatkan ketrampilan masyarakat atau
individu tentang aspek aspek yang bersangkutan, sehingga dicapai suatu masyarakat yang
berkembang. Pendidikan dapat berupa pendidikan formal dan non-formal. Sistem pendidikan
yang berjenjang diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan melalui pola tertentu. Jadi
tingkat pengetahuan seseorang terhadap suatu obyek sangat ditentukan oleh tingkat
pendidikannya.
C).Pengalaman
Menurut teori determinan perilaku yang disampaikan WHO (World Health
Organitation), menganalisa bahwa yang menyebabkan seseorang itu berperilaku tertentu
salah satunya disebabkan karena adanya pemikiran dan perasaan dalam diri seseorang yang
terbentuk dalam pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan kepercayaan dan penilaian
penilaian seseorang terhadap obyek tersebut, dimana seseorang dapat mendapatkan
pengetahuan baik dari pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain.
D).Informasi
Teori depensi mengenai efek komunikasi massa, disebutkan bahwa media massa
dianggap sebagai informasi yang memiliki peranan penting dalam proses pemeliharaan,
perubahan dan konflik dalam tatanan masyarakat, kelompok atau individu dalam aktivitas
sosial dimana media massa ini nantinya akan mempengaruhi fungsi cognitive, afective dan
behavior. Pada fungsi kognitif diantaranya adalah berfungsi untuk menciptakan atau
menghilangkan ambiguitas, pembentukan sikap, perluasan sistem, keyakinan ambiguitas,
pembentukan sikap, perluasan sistem, keyakinan masyarakat dan penegasan atau penjelasan
nilai nilai tertentu.
Media ini meliputi tiga yaitu media cetak yang meliputi booklet, leaflet, rubik yang
terdapat pada surat kabar atau majalah dan poster. Kemudian media elektronik yang meliputi
televisi, radio, video, slide dan film serta papan (bilboard).
E).Kepercayaan
Komponen kognitif berisi kepercayaan seseorang mengenai arah yang berlagu bagi
obyek sikap, sekali kepercayaan itu telah terbentuk, maka ia akan menjadi dasar pengetahuan
seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari obyek tertentu.
5

2.1.4.Kriteria Penilaian Pengetahuan7-9


Untuk mengukur pengetahuan menggunakan rumus :
P

SP
x 100 %
SM

Keterangan :
P

= Nilai pencapaian (%)

SP

= Skor yang didapat

SM

= Skor maksimal semua pertanyaan yang di bawah ini dijawab benar


Dalam pemberian skor untuk pertanyaan karakteristik tidak berarti skor, sedangkan

jawaban pertanyaan pengetahuan diberi skor 1 untuk jawaban yang benar dan jawaban yang
salah diberi skor 0.
Berdasarkan hasil pertimbangan kemudian hasilnya di interprestasikan pada kriteria :
A).Pengetahuan baik

= 76 100%

B).Pengetahuan cukup

= 56 75 %

C).Pengetahuan kurang

= 40 55 %

D).Pengetahuan tidak baik

= < 40%

(Arikunto, 1998).
2.2.Konsep Dasar Imunisasi
2.2.1.Pengertian Imunisasi
Imunisasi merupakan suatu usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak
terhadap penyakit tertentu1,3,10. Sedangkan menurut Permenkes No. 42 201311, Imunisasi
adalah suatu upaya untuk menimbulkan/ meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif
terhadap suatu penyakit, sehingga bila saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit
atau hanya mengalami sakit ringan.
2.2.2.Kekebalan pada Tubuh1,3,10,11
2.2.2.1.Kekebalan Aktif
Kekebalan aktif adalah kekebalan yang dibuat sendiri oleh tubuh untuk menolak
terhadap penyakit tertentu dimana prosesnya lambat tetapi dapat bertahan lama. Kekebalan
aktif dibagi dalam 2 kategori :

A).Kekebalan aktif alamiah


Merupakan kekebalan yang dibuat oleh tubuh anak dengan sendiri setelah
mengalami atau sembuh dari suatu penyakit.
B).Kekebalan aktif buatan
Merupakan kekebalan yang dibuat tubuh setelah mendapat vaksin (imunisasi).
2.2.2.2.Kekebalan Pasif
Kekebalan pasif adalah kekebalan yang dibuat oleh tubuh anak tetapi tidak membuat
zat anti bodi sendiri tetapi kekebalan tersebut diperoleh dari luar setelah memperoleh zat
pendek, sehingga proses cepat tetapi tidak bertahan lama. Kekebalan pasif dibagi dalam dua
jenis :
A).Kekebalan pasif alamiah
Merupakan kekebalan yang diperoleh bayi sejak lahir dari ibunya.
B).Kekebalan pasif buatan
Merupakan kekebalan yang diperoleh setelah mendapat suntikan zat penolak.
2.2.3.Tujuan Program Imunisasi dan Pemberian Imunisasi
2.2.3.1 Tujuan Program Imunisasi
Program imunisasi bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian dari
penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Pada saat ini penyakit penyakit tersebut
adalah difteri, tetanus, batuk rejan (pertusius), campak (measles), polio dan tuberkulosis6.
Sedangkan menurut Permenkes No. 42 Tahun 2013 11, tujuan imunisasi terbagi menjadi tujuan
umum dan khusus, yaitu:
1. Tujuan umum
Turunnya angka kesakitan, kecacatan dan kematian akibat Penyakit yang Dapat
Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).
2. Tujuan khusus
a)

Tercapainya target Universal Child Immunization (UCI) yaitu cakupan imunisasi


lengkap minimal 80% secara merata pada bayi di seluruh desa/kelurahan pada tahun
2014.

b) Tervalidasinya Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal (insiden di bawah 1 per


1.000 kelahiran hidup dalam satu tahun) pada tahun 2013.
c)

Global eradikasi polio pada tahun 2018.


7

d) Tercapainya eliminasi campak pada tahun 2015 dan pengendalian penyakit rubella
2020.
e)

Terselenggaranya pemberian imunisasi yang aman serta pengelolaan limbah medis


(safety injection practise and waste disposal management).

2.2.3.2 Tujuan Pemberian Imunisasi1


A). Untuk mencegah terjadinya penyakit infeksi tertentu
B). Mencegah gejala yang dapat menimbulkan cacat atau kematian.
2.2.4. Pemberian Imunisasi12,13
A.) Tata cara pemberian
Sebelum melakukan vaksinasi, dianjurkan mengikuti tata cara sebagai berikut:

Memberitahukan secara rinci tentang risiko imunisasi dan risiko apabila tidak
divaksinasi.

Periksa kembali persiapan untuk melakukan pelayanan secepatnya bila terjadi


reaksi ikutan yang tidak diharapkan.

Baca dengan teliti informasi tentang produk (vaksin) yang akan diberikan dan
jangan lupa mendapat persetujuan orang tua. Melakukan tanya jawab dengan
orang tua atau pengasuhnya sebelum melakukan imunisasi.

Tinjau kembali apakah ada kontraindikasi terhadap vaksin yang diberikan.

Periksa identitas penerima vaksin dan berikan antipiretik bila diperlukan.

Periksa jenis vaksin dan yakin bahwa vaksin tersebut telah disimpan dengan
baik.

Periksa vaksin yang akan diberikan apakah tampak tanda tanda perubahan.
Periksa tanggal kadarluwarsa dan catat hal hal istimewa, misalnya adanya
perubahan warna yang menunjukkan adanya kerusakan.

Yakin bahwa vaksin yang akan diberikan sesuai jadwal dan ditawarkan pula
vaksin lain untuk mengejar imunisasi yang tertinggal (catch-up vaccination)
bila diperlukan.

Berikan vaksin dengan teknik yang benar. Lihat uraian mengenai pemilihan
jarum suntik, sudut arah jarum suntik, lokasi suntikan, dan posisi bayi/anak
penerima vaksin.

Setelah pemberian vaksin, kerjakan hal-hal sebagai berikut :


8

-Berilah petunjuk (sebaiknya tertulis) kepada orang tua atau pengasuh apa yang
harus dikerjakan dalam kejadian reaksi yang biasa atau reaksi ikutan yang
lebih berat.
-Catat imuniasi dalam rekam medis pribadi dan dalam catatan klinis.
-Catatan imunisasi secar rinci harus disampaikan kepada Dinas Kesehatan
bidang Pemberantasan Penyakit Menular.
-Periksa status imunisasi anggota keluarga lainnya dan tawarkan vaksinasi
untuk mengejar ketinggalan, bila diperlukan.
Aturan umum untuk sebagian besar vaksin, Bahwa vaksin harus didinginkan pada
temperatur 2 - 8C dan tidak membeku. Sejumlah vaksin (DPT, Hib, hepatitis B, dan hepatitis
A) menjadi tidak aktif bila beku.
Untuk teknik penyuntikkan, jarum suntik harus disuntikan dengan sudut 450 - 600 ke
dalam otot vastus lateralis atau otot deltoid. Untuk suntikan otot vastus lateralis, jarum
diarahkan ke arah lutut sedangkan untuk suntikan pada deltoid jarum diarahkan ke pundak.
Kerusakan saraf dan pembuluh vaskular dapat terjadi apabila suntikan diarahkan pada sudut
900.
Paha anterolateral adalah bagian tubuh yang dianjurkan untuk vaksinasi pada bayi dan
anak umur di bawah 12 bulan. Vaksin harus disuntikkan ke dalam batas antara sepertiga otot
bagian tengah yang merupakan bagian yang paling tebal dan padat. Regio deltoid adalah
alternatif untuk vaksinasi pada anak yang lebih besar (mereka yang telah dapat berjalan) dan
orang dewasa.
Alasan memilih otot vastus lateralis pada bayi dan anak umur dibawah 12 bulan adalah:

Menghindari risiko kerusakan saraf iskiadika pada suntikan daerah gluteal.

Daerah deltoid pada bayi dianggap tidak cukup tebal untuk menyerap suntikan
secara adekuat.

Imunogenitas vaksin hepatitis B dan rabies akan berkurang apabila disuntikkan di


daerah gluteal

Menghindari risiko reaksi lokal dan terbentuknya nodulus di tempat suntikan yang
menahun.

Menghindari lapisan lemak subkutan yang tebal pada paha bagian anterior.

Gambar 1. Lokasi Penyuntikan intramuscular Pada Bayi (a) dan Anak Besar (b)
a) Cara Penyuntikkan Vaksin Secara Subkutan
-

Contoh penyuntikan subkutan diperuntukan imunisasi MMR, varisela,


meningitis

Perhatikan rekomendasi untuk umur anak


Tabel 1. Cara Pemberian Imunisasi Secara Subkutan

Umur

Tempat

Ukuran jarum

Insersi jarum

Bayi (lahir s/d12


bulan)

Paha
anterolateral

Jarum 5/8-3/4
Spuit no 23-25

Arah jarum 45o


Terhadap kulit

1-3 tahun

paha
anterolateral/
Lateral lengan
atas

Jarum 5/8-3/4
Spuit no 23-25

Cubit tebal untuk


suntikan subkutan

10

Anak > 3 tahun

Lateral lengan
atas

Jarum 5/8-3/4
Spuit no 23-25

Aspirasi spuit
sebelum disuntikan
Untuk suntikan
multipel diberikan
pada ekstremitas
berbeda

b) Cara Penyuntikkan Vaksin Secara Intramuskular


-

Diperuntukan Imunisasi DPT, DT,TT, Hib, Hepatitis A & B, Influenza.

Perhatikan rekomendasi untuk umur anak

Tabel 2. Cara Pemberian Imunisasi Secara Intramuskular


Umur

Tempat

Ukuran jarum

Bayi (lahir s/d 12


bulan

Otot vastus
lateralis pada
paha daerah
anterolateral

Jarum 7/8-1
Spuit n0 22-25

1-3 tahun

Otot vastus
lateralis pada
paha daerah
anterolateral
sampai masa otot
deltoid cukup
besar (pada
umumnya umur 3
tahun

Jarum 5/8-1
(5/8 untuk suntikan
di deltoid umur 1215 bulan
Spuit no 22-25

Anak > 3 tahun

Otot deltoid, di
bawah akromion

Jarum 1-1
Spuit no 22-25

11

Insersi jarum
1. Pakai jarum
yang cukup
panjang untuk
mencapai otot
2. Suntik dengan
arah jarum 80-90o.
lakukan dengan
cepat
1. Tekan kulit
sekitar tepat
suntikan dengan
ibu jari dan
telunjuk saat jarum
ditusukan
2. Aspirasi spuit
sblm vaksin
disuntikan, untuk
meyakinkan tidak
masuk ke dalam
vena. Apa bila
terdapat darah,
buang dang ulangi
dengan suntik yang
baru.
3. Untuk suntikan
multipel diberikan
pada bagian
sekstremitas
berbeda

B.) Keadaan Bayi atau Anak sebelum Imunisasi


Orangtua

atau

pengantar

bayi/anak

dianjurkan

mengingat

dan

memberitahukan secara lisan atau melalui dafatr isian tentang hal hal yang berkaitan
dengan indikasi kontra atau risiko kejadian ikutan pasca imunisasi tersebut di bawah
ini :

Pernah mengalami kejadian ikutan pasca imunisasi yang berat (memerlukan


pengobatan khusus atau perlu perawatan di rumah sakit).

Alergi terhadap bahan yang juga terdapat di dalam vaksin (misalnya


neomisin).

Sedang mendapat pengobatan Steroid jangka panjang, radioterapi, atau


kemoterapi.

Tinggal serumah dengan orang lain yang imunitasnya menurun (leukimia,


kanker, HIV/AIDS).

Tinggal serumah dengan orang lain dalam pengobatan yang menurunkan


imunitas (radioterapi, kemoterapi, atau terapi steroid).

Pada bulan lalu mendapat imunisasi yang berisi vaksin virus hidup (vaksin
campak, poliomielitis, rubela).

Pada 3 bulan yang lalu mendapat imunoglobulin atau tranfusi darah.

Menderita penyakit susunan syaraf pusat.

C.) Pencatatan Imunisasi dan Kartu Imunisasi


Setiap bayi/anak sebaiknya mempunyai dokumentasi imunisasi seperti kartu
imunisasi yang dipegang oleh orangtua atau pengasuhnya. Setiap dokter atau tenaga
paramedis yang memberikan imunisasi harus mencatat semua data data yang
relevan pada kartu imunisasi tersebut. Orangtua/pengasuh yang membawa anak ke
tenaga medis atau paramedis untuk imunisasi diharapkan senantiasa membawa kartu
imunisasi tersebut.
Data yang harus dicatat pada kartu imunisasi adalah sebagai berikut :
-

Jenis vaksin yang diberikan, termasuk nomor batch dan nama dagang

Tanggal melakukan vaksinasi

Efek samping bila ada

Tanggal vaksinasi berikutnya

Nama tenaga medis/paramedis yang memberikan vaksin


12

2.2.5. Jenis - jenis Imunisasi1,11,12


Pemberian imunisasi kepada resepien adalah dengan menggunakan vaksin. Vaksin
adalah antigen berupa mikroorganisme yang sudah mati, masih hidup tapi dilemahkan, masih
utuh atau bagiannya, yang telah diolah, berupa toksin mikroorganisme yang telah diolah
menjadi toksoid, protein rekombinan yang bila diberikan kepada seseorang akan
menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit infeksi tertentu 1,3. Di
Indonesia terdapat imunisasi wajib yang rutin diberikan sebagai imunisasi dasar dan juga
lanjutan yang tentunya harus diberikan secara berkala dan lengkap. Imunisasi wajib tersebut
terdiri dari imunisasi BCG, Polio, Hepatitis B, HIB (Haemophilllus influenzae tipe B), DPT
(Difteri Pertusis dan Tetanus) dan campak11.
2.2.5.1.Vaksin BCG

Gambar 2.
Vaksin BCG & pelarut

Pemberian

imunisasi

BCG

bertujuan

untuk

menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit Tuberkulosis


(TBC). Vaksin BCG mengandung kuman BCG (Bacilus
Calmette Guerin) yang masih hidup (A.H. Markum, 1997 : 15).
Pemberian imunisasi BCG sebenarnya dilakukan
ketika bayi baru lahir sampai berumur 12 bulan, tetapi
sebaiknya pada umur 0 2 bulan. Imunisasi yang diberikan
pada usia di atas 2 bulan harus dilakukan tes dengan mauntok
terlebih dahulu, untuk mengetahui apakah anak sudah terjangkit
penyakit TBC atau tidak. Apabila hasilnya positif (+) tidak
perlu diberikan imunisasi.

Biasanya setelah suntikan BCG bayi tidak akan menderita demam, bila ia demam
setelah imunisasi BCG umumnya disebabkan keadaan lain. Kekebalan yang diperoleh
tindakan mutlak 100%. Efek samping pada dasarnya tidak ada, tetapi reaksi secara normal
akan timbul selama 1 minggu, seperti pembengkakan kecil, merah pada tempat penyuntikan
yang kemudian akan menjadi pus kecil dengan garis tengah 10 mm. Luka ini akan sembuh
sendiri dan meninggalkan jaringan perut (scar) bergaris 3 7 mm. Tidak ada larangan untuk
melakukan imunisasi BCG, kecuali pada anak yang berpenyakit TBC atau menunjukkan uji
mantoux positif.
13

Cara pemberian imunisasi adalah dengan tempat penyuntikan 1/3 bagian lengan kanan atas
(inertio musculus deltoideus) dilakukan dengna suntikan di dalam kulit (intra cutan) dengan
dosis 0,05 cc.
2.2.5.2.Vaksin DPT (Difteria, Pertitis, Tetanus)

Gambar 3.
Vaksin DPT

Manfaat

pemberian

informasi

ini

ialah

untuk

menimbulkan kekebalan aktif dalam waktu yang bersamaan


terhadap penyakit difteria, pertusis (batuk rejan) dan tetanus
(A.H. Markum, 2002).
Difteria adalah suatu penyakit yang bersifat toxin
mediated disease dan disebabkan oleh kuman Corynebacterium
dipteriae. Termasuk suatu hasil gram positif. Pada dasarnya
semua komplikasi difteria, beratnya penyakit dan komplikasi
biasanya tergantung dari luasnya kelainan lokal angka kematian
difteria masih sangat tinggi dan kelompok usia di bawah lima
tahun

merupakan

kelompok

terbesar

yang

mengalami

kematian.
Pertusis atau batuk rejan atau batuk seratus hari adalah
suatu penyakit akut yang disebabkan oleh bakteri Bordetella
pertusis. Pertusis juga merupakan penyakit yang bersifat toxinmedicated dan toksin yang dihasilkan kuman (melekat pada bulu getar saluran nafas atas)
akan melumpuhkan bulu getar tersebut sehingga menyebabkan gangguan aliran secret saluran
pernafasan, dan berpotensi menyebabkan pneumonia.
Tetanus adalah suatu penyakit akut yang besifat fatal yang disebabkan oleh oksitosin
produksi kuman Clostridium tetanus, kuman tersebut berbentuk batang dan bersifat
anaerobik, gram positif yang mampu menghasilkan spora dengan berbentuk drumstick,
tetanus selain dapat ditemukan pada anak anak juga dijumpai kasus tetanus neonatal yang
cukup fatal. Komplikasi tetanus yang sering terjadi antara lain: laringospasme, infeksi
nosokomial dan preumonia ortotastik. Pada anak besar sering terjadi hiperpireksi yang juga
merupakan tanda tetanus berat.
Imunisasi dasar DPT diberikan 3 kali, sejak bayi berumur 2 11 bulan dengan selang
waktu antara dua penyuntikan minimal 4 minggu. Imunisasi ulang lainnya diberkan setelah
14

umur 11/2 2 tahun. Diulang kembali dengan vaksin DT pada usia 5 6 tahun dan diulang
lagi pada umur 10 tahun.
Reaksi yang mungkin terjadi biasanya demam ringan, pembengkakan dan rasa nyeri
ditempat suntikan selama 1 2 hari. Kekebalan yang diperoleh dari vaksin DPT yaitu: vaksin
dipteri 80 95%, pertusis 50 60%, dan tetanus 90 95%.
Kadang kadang terdapat akibat efek samping yang lebih berat, seperti demam
tinggi atau kejang, yang biasanya disebabkan oleh vaksin pertusisnya.
Imunisasi DPT tidak boleh diberikan kepada anak yang sakit parah dan anak anak
yang menderita penyakit kejang, demam kompleks, juga tidak boleh diberikan kepada anak
batuk yang diduga mungkin sedang menderita batuk rejan dalam tahap awal atau pada
penyakit gangguan kekebalan (defisiensi imunisasi). Juga tidak boleh diberikan bila sakit
batuk, pilek, demam atau diare yang sifatnya ringan bukan merupakan indikasi kontra yang
mutlak.
Pemberian tiga kali dengan dosis 0,5 cc dengan interval 4 minggu secara IM.
2.2.5.3.Vaksin Poliomyelitis
Gambar 4.
Vaksin Polio

Imunisasi diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap


penyakit poliomyelitis. Vaksin polio mempunyai 2 kemasan yaitu
vaksin yang mengandung virus polio yang sudah dilemahkan (vaksin
salk) dan vaksin yang mengandung virus polio masih hidup yang telah
dilemahkan (virus sabin).
Imunisasi diberikan sejak anak baru lahir atau beberapa hari
dengan interval 4 minggu, pemberian ulangan pada umur 1 - 2 tahun.

Biasanya tidak ada reaksi, namun dapat terjadi berak-berak ringan kekebalan yang
akan diperoleh sebesar 95 100%. Pada imunisasi polio hampir tidak terdapat efek samping
bila ada mungkin berupa kelumpuhan anggota gerak pada penyakit polio sebenarnya.
Pemberian vaksin polio tidak boleh diberikan pada anak dengan diare berat, anak sakit parah
dan anak penderita kekebalan. Diberikan dengan cara diteteskan banyak 2 tetes 3 kali
pemberian dengan selama 4 minggu.

15

2.2.5.4.Vaksin Campak
Imunisasi diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap
Gambar 5.
Vaksin Campak
dan Pelarut

penyakit campak secara aktif. Vaksin campak mengandung virus


campak hidup yang telah dilemahkan.
Diberikan pada bayi umur 9 11 bulan dengan satu kali
pemberian. Biasanya tidak terdapat reaksi akibat imunisasi mungkin
terjadi demam ringan dan tampak sedikit bercak merah pada pipi di
bawah telinga. Pada hari ke 7 8 setelah penyuntikan mungkin pula
terdapat pembengkakan pada tempat suntikan, pada tempat suntikan
kekebalan yang memperoleh yaitu 96 99%.
Sangat jarang mungkin dapat terjadi kejang yang ringan dan
tidak berbahaya pada hari ke 10 12 setelah penyuntikan. Selain itu
dapat terjadi radang otak berupa ensefalitis atau ensepalopati dalam
waktu 30 hari setelah imunisasi.

Anak yang sakit parah, penderita TBC tanpa pengobatan, difisiensi gizi dalam
derajat berat, difisiensi kekebalan, demam yang lebih 38 0C dan riwayat kejang. Di suntikkan
1/3 bagian lengan atas lengan kiri dengan dosis 0,5 cc.
2.2.5.5.Vaksin hepatitis B
Vaksinasi dimaksudkan untuk mendapat kekebalan
Gambar 6.
Kemasan Vaksin
Hep B

aktif terhadap penyakit hepatitisB.


Vaksinasi awal, diberkan 3 kali, jarak antara suntikan 1
ke II 1 2 bulan, sedangkan suntikan ke III diberikan 6 bulan
dari suntikan I, imunisasi ulang diberikan 5 tahun setelah
imunisasi dasar.
Reaksi imunisasi yang terjadi biasanya berupa nyeri
pada tempat suntikan, yang mungkin disertai dengan timbulnya

rasa panas atau pembengkakan, reaksi ini akan menghilang dalam waktu 2 hari. Reaksi lain
yang mungkin terjadi ialah demam ringan. Kekebalan yang diperoleh cukup tinggi, berkisar
antara 94 96%.
Selama pemakaian 10 tahun ini tidak dilaporkan adanya efek samping yang berarti,
berbagai suara di masyarakat tentang kemungkinan terjangkit oleh penyakit AIDS akibat
pemberian vaksin hepatitis B yang berasal dari plasma.
16

Imunisasi tidak dapat diberkan kepada anak yang menderita sakit berat. Vaksinasi
hepatitis B dapat diberikan kepada ibu hamil dengan aman dan tidak akan membayangkan
janin. Bahkan akan memberkan perlindungan kepada janin selama dalam kandungan ibu
maupun kepada bayi selama beberapa bulan terakhir lahir.
Penyuntikan diberikan intra muscular, dilakukan di daerah deltoid atau paha
antrolateral dengan dosis Hevac B dewasa 5mg, anak 2,5 mg, hepaccine deweasa 3 mg, anak
1,5 mg, anak 1,5 mg, B hepavac II dewasa 10 mg dan engerix-B dewasa 20 mg, anak 10 mg
dan engerix-B dewasa 20 mg, anak 10 mg.
2.2.5.6.Vaksin Haemophilllus influenzae tipe B (Hib)
Vaksin Hib adalah vaksin polisakarida
konyugasi dalam bentuk liquid, yang dapat
diberikan tersendiri atau dikombinasikan dengan
vaksin

DPaT

(tetravalent)

atau

DpaT/HB

(pentavalent) atau DpaT/HB/IPV (heksavalent).


Kontra Indikasi:
Gambar 7. Kemasan Vaksin
Kombinasi DPT dan HIB

Vaksin tidak boleh diberikan sebelum


bayi berumur 2 bulan karena bayi tersebut belum
dapat membentuk antibodi

Dosis dan Jadwal:


a. Vaksin Hib diberikan sejak umur 2 bulan, diberikan sebanyak 3 kali dengan jarak
waktu 2 bulan.
b. Dosis ulangan umumnya diberikan 1 tahun setelah suntikan terakhir.
2.2.6. Jadwal Pemberian Imunisasi
Disini penulis mendapatkan 2 jadwal pemberian imunisasi, yaitu berdasarkan jadwal
pemberian imunisasi menurut rekmendasi IDAI 2011 2012 dan jadwal pemberian imunisasi
menurut Permenkes No. 42 Tahun 2013.

17

2.2.6.1 Jadwal Pemberian Imunisasi menurut rekomendasi IDAI 2011 201212,13

Tabel 3. Jadwal Pemberian Imunisasi menurut rekomendasi IDAI 2011 2012


Keterangan :

BCG diberikan pada umur 0 1 bulan

Hepatitis B diberikan pada umur 0-6 bulan

DPT diberikan pada umur 2 6 bulan

Polio diberikan pada umur 0 6 bulan

Campak diberikan pada umur 9 bulan

18

2.2.6.2 Jadwal Pemberian Imunisasi Menurut Permenkes No. 42 Tahun 201311


1. Imunisasi Rutin
a. Imunisasi dasar
Tabel 4. Jadwal pemberian imunisasi dasar

Catatan:

Bayi lahir di Institusi Rumah Sakit, Klinik dan Bidan Praktik Swasta,
imunisasi BCG dan Polio 1 diberikan sebelum dipulangkan.

Bayi yang telah mendapatkan imunisasi dasar DPT-HB-Hib 1, DPT-HBHib 2, dan DPT-HB-Hib 3, dinyatakan mempunyai status imunisasi T2.

b. Imunisasi Lanjutan
Imunisasi lanjutan merupakan kegiatan yang bertujuan untuk
melengkapi imunisasi dasar pada bayi yang diberikan kepada anak Batita, anak
usia sekolah, dan wanita usia subur (WUS) termasuk ibu hamil.
Imunisasi lanjutan pada WUS salah satunya dilaksanakan pada waktu
melakukan pelayanan antenatal.
Tabel 5. Jadwal imunisasi lanjutan pada anak bawah tiga tahun

Tabel 6. Jadwal imunisasi lanjutan pada anak usia sekolah dasar

19

Catatan:

Batita yang telah mendapatkan imunisasi lanjutan DPT-HB-Hib


dinyatakan mempunyai status imunisasi T3.

Anak usia sekolah dasar yang telah mendapatkan imunisasi DT dan Td


dinyatakan mempunyai status imunisasi T4 dan T5
Tabel 7. Imunisasi Lanjutan Pada Wanita Usia Subur (WUS)

Catatan:

Sebelum imunisasi, dilakukan penentuan status imunisasi T (screening)


terlebih dahulu, terutama pada saat pelayanan antenatal.

Pemberian imunisasi TT tidak perlu diberikan, apabila pemberian


imunisasi TT sudah lengkap (status T5) yang harus dibuktikan dengan
buku Kesehatan Ibu dan Anak, rekam medis, dan/atau kohort.

2.2.7 KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi)11-13


Setiap tindakan medis apapun bisa menimbulkan risiko bagi pasien si penerima
layanan baik dalam skala ringan maupun berat. Demikian halnya dengan pemberian
vaksinasi, reaksi yang timbul setelah pemberian vaksinasi disebut kejadian ikutan pasca
imunisasi (KIPI) atau adverse following immunization (AEFI). Dengan semakin canggihnya
teknologi pembuatan vaksin dan semakin meningkatnya teknik pemberian vaksinasi, maka
reaksi KIPI dapat diminimalisasi. Meskipun risikonya sangat kecil, reaksi KIPI berat dapat
saja terjadi. Oleh karena itu, petugas imunisasi atau dokter mempunyai kewajiban untuk
menjelaskan kemungkinan reaksi KIPI apa saja yang dapat terjadi. Dan bagi orang yang
hendak menerima vaksinasi mempunyai hak untuk bertanya dan mengetahui apa saja reaksi
KIPI yang dapat terjadi.

20

Secara khusus KIPI dapat didefinisikan sebagai kejadian medik yang berhubungan
dengan imunisasi, baik oleh karena efek vaksin maupun efek samping, toksisitas, reaksi
sensitivitas, efek farmakologis, kesalahan program, reaksi suntikan, atau penyebab lain yang
tidak dapat ditentukan.
Mengingat hampir setiap vaksin mempunyai potensi memberikakn reaksi efek
samping atau KIPI, maka sebaiknya bertanya terlebih dahulu kepada petugas gejala apa saja
yang dapat terjadi setelah vaksinasi. Bila keluhan KIPI bersifat ringan, misalnya demam,
nyeri tempat suntikan, atau bengkak maka dapat dilakukan pengobatan sederhana, misalnya
dengan minum obat antipiretik saja. Tetapi bila kejadian pasca imunisasi bersifat serius, maka
harus secepat mungkin dibawa kerumah sakit. Setiap pelayanan kesehatan yang melakukan
pemberian vaksinasi mempunyai kewajiban untuk melaporkan KIPI ke Dinas Kesehatan
Tingkat Kabupaten, dengan tembusan ke Sekretariat KOMDA PP KIPI yang berkedudukan di
setiap provinsi. Secara umum, reaksi KIPI dapat dikategorikan sebagai akibat kesalahan
program, reaksi suntikan, dan reaksi vaksin serta akan diberikan penjelasan contoh KIPI pada
pelaksanaan pemberian vaksin wajib.
2.2.7.1 Kategori Penyebab Terjadinya Reaksi KIPI
A. Kesalahan program.
Sebagian besar kasus KIPI berhubungan dengan kesalahan teknik pelaksanaan
vaksinasi, misalnya kelebihan dosis, kesalahan memilih lokasi dan cara menyuntik,
sterilitas, dan penyimpanan vaksin. Dengan semakin membaiknya pengelolaan
vaksin, pengetahuan, dan ketrampilan petugas pemberi vaksinasi, maka kesalahan
tersebut dapat diminimalisasi.
B. Reaksi suntikan.
Reaksi suntikan tidak berhubungan dengan kandungan vaksin, tetapi lebih
karena trauma akibat tusukan jarum, misalnya bengkak, nyeri, dan kemerahan di
tempat suntikan. Selain itu, reaksi suntikan dapat terjadi bukan akibat dari trauma
suntikan melainkan karena kecemasan, pusing, atau pingsan karena takut terhadap
jarum suntik. Reaksi suntikan dapat dihindari dengan melakukan teknik penyuntikan
secara benar.

21

C. Reaksi vaksin.
Gejala yang muncul pada reaksi vaksin sudah bisa diprediksi terlebih dahulu,
karena umumnya perusahaan vaksin telah mencantumkan reaksi efek samping yang
terjadi setelah pemberian vaksinasi. Keluhan yang muncul umumnya bersifat ringan
(demam, bercak merah, nyeri sendi, pusing, nyeri otot). Meskipun hal ini jarang
terjadi, namun reaksi vaksin dapat bersifat berat, misalnya reaksi anafilaksis dan
kejang. Untunglah bahwa reaksi alergi serius relatif jarang terjadi, misalnya reaksi
alergi serius akibat campak kemungkinan kejadiannya hanya 1/1000.000 dosis.
2.2.7.2 Contoh KIPI Pada Pemberian Vaksin Yang Dianjurkan (Vaksin Wajib)
A. Vaksin BCG
KIPI yang didapat setelah vaksinasi BCG adalah papul merah yang kecil
timbul dalam waktu 1 3 minggu. Papul ini akan semakin lunak, hancur, dan
menimbulkan parut. Luka ini mungkin memakan waktu sampai 3 bulan untuk
sembuh. Biarkan vaksinasi sembuh sendiri dan pastikan agar tetap bersih dan kering.
B. Vaksin Hepatitis B.
Reaksi KIPI yang sering terjadi umumnya berupa reaksi lokal yang ringan dan
bersifat sementara, terkadang dapat menimbulkan demam ringan untuk 1-2 hari.
Sampai saat ini tidak ada kontraindikasi absolut pemberian vaksin Hepatitis B.
Kehamilan dan laktasi bukan kontraindikasi vaksin Hepatitis B.
C. Vaksin DPT
Reaksi KIPI dari vaksin DPT adalah terjadinya demam ringan dan reaksi lokal
berupa kemerahan, bengkak, dan nyeri pada lokasi suntikan. Demam yang timbul
dapat mengakibatkan kejang demam (sekitar 0,06%).
Vaksin DPT tidak boleh diberikan pada anak dengan riwayat alergi dan kejang
pada pemberian vaksin yang pertama.
D. Vaksin Pertusis
Demam ringan dengan reaksi lokal berupa kemerahan, bengkak, dan nyeri
pada lokasi suntikan. Demam yang timbul dapat mengakibatkan kejang demam
(0,06%), anak gelisah dan menangis terus menerus selama beberapa jam pasca
22

suntikan (inconsolable crying). KIPI yang berat dapat terjadi ensefalopati akut atau
reaksi alergi berat (anafilaksis).
Vaksin tidak boleh diberikan pada anak dengan riwayat alergi berat dan
ensefalopati pada pemberian vaksin sebelumnya. Keadaan lain yang perlu
mendapatkan perhatian khusus adalah bila pada pemberian pertama dijumpai riwayat
demam tinggi, respon dan gerak yang kurang (hipotonik - hiporesponsif) dalam 48
jam, anak menangis terus menerus selama 2 jam, dan riwayat kejang dalam 3 hari
sesudah imunisasi DPT.
E. Vaksin Tetanus
KIPI pemberian vaksinasi tetanus biasanya bersifat ringan, berupa rasa nyeri,
warna kemerahan dan bengkak di tempat penyuntikan, dan demam.
Jika anak mengalami reaksi alergi terhadap vaksin pertusis, maka sebaiknya
diberikan DT, bukan DPT. Jika anak menderita penyakit yang lebih serius dari flu
ringan, imunisasi DPT bisa ditunda sampai anak sehat. Jika ada riwayat kejang,
penyakit otak atau perkembangannya abnormal, penyuntikan DPT sering ditunda
sampai kondisinya membaik atau kejangnya bisa dikendalikan.
F. Vaksin Polio
Pernah dilaporkan bahwa penyakit poliomielitis terjadi setelah pemberian
vaksin polio. Vaksin polio pada sebagian kecil orang dapat menimbulkan gejala
pusing, diare ringan, dan nyeri otot. Vaksinasi polio tidak dianjurkan diberikan ketika
seseoarang sedang demam, muntah, diare, sedang dalam pengobatan radioterapi atau
obat penurun daya tahan tubuh, kanker, penderita HIV, dan alergi pada vaksin polio.
OPV (oral polio vaccine) tidak diberikan pada bayi yang masih dirumah sakit
karena OPV berisi virus polio yang dilemahkan dan vaksin jenis ini bisa
diekskresikan melalui tinja selama 6 minggu, sehingga bisa membahayakan bayi lain.
Untuk bayi yang dirawat dirumah sakit, disarankan pemberian IPV (inactivated polio
vaccine)
G. Vaksin Campak
-

Demam lebih dari 39,50C yang terjadi pada 5%-15% kasus, demam dijumpai
pada hari ke-5 sampai ke-6 sesudah imunisasi dan berlangsung selama 2 hari

Kejang demam
23

Ruam timbul pada hari ke-7 sampai ke-10 sesudah imunisasi dan berlangsung
selama 2-4 hari

Reaksi KIPI yang berat dapat menyerang sistem saraf, yang reaksinya
diperkirakan muncul pada hari ke-30 sesudah imunisasi.

H. Vaksinasi Hib (Haemophilus influenza tipe b)


Reaksi KIPI setelah pemberian vaksinasi Hib, 5 30 % anak memperoleh
vaksinasi bisa mengalami demam, bengkak kemerahan, dan nyeri pada tempat
suntikan selama 1 3 hari. Vaksin Hib tidak direkomendasikan diberikan bila
seseorang sedang demam, mengalami infeksi akut, dan orang dengan riwayat alergi
yang mengancam jiwa.

24